News Komoditi & Global ( Senin, 29 Juni 2026 )

News  Komoditi  &  Global

                                     (  Senin,   29  Juni  2026  )

 

Harga Emas Global Naik Terdukung Isu Terkini AS-Iran Dan Inflasi PCE AS

 

Harga emas spot menguat 1.62% ke $4,091.36, sedangkan harga emas ANTAM stagnan di Rp2,655 juta per gram. Harga emas naik dari level rendah tiga bulan di tengah pantauan ketat pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Kabar terbaru menyebutkan bahwa sebuah kapal kargo melaporkan adanya serangan yang terjadi di dekat Selat Hormuz yang hari ini baru saja dibuka. Kabar ini menghidupkan fungsi emas sebagai safe haven. Selain itu, data Inflasi PCE AS yang dirilis kemarin malam sedikit membebani Dolar AS dan yield obligasi sehingga turut menguatkan harga emas. Indeks Inflasi PC–indikator inflasi yang menjadi referensi data The Fed–tercatat naik 4.1% pada bulan Mei dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi angka Inflasi AS tertinggi untuk pertama kalinya sejak tahun 2023. Kenaikan inflasi AS telah menjadi sorotan The Fed dalam beberapa waktu terakhir. Penyebabnya jelas dari kenaikan harga energi semenjak konflik berkepanjangan antara AS dengan Iran. Ketua The Fed Kevin Warsh telah menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi. Dari situ, pasar mengekspektasikan kemungkinan sebesar 63% akan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September. Potensi Fed Rate Hike umumnya dapat menjadi penghambat kenaikan harga emas di masa depan. TD Securities menyatakan dalam analisanya bahwa mengingat hubungan terbalik antara harga emas dengan harga minyak yang lebih tinggi dan dolar AS yang lebih kuat, maka kekuatan berkelanjutan di pasar energi dapat memberikan tekanan penurunan lebih lanjut pada logam mulia tersebut dalam beberapa bulan mendatang. Sebaliknya, penurunan harga minyak yang berkelanjutan dan yield obligasi yang lebih rendah pada akhirnya dapat mengurangi tekanan pada Federal Reserve untuk memperketat moneter lebih lanjut sehingga berpotensi memperkuat harga emas. Sejumlah komoditas logam selain emas hari ini juga mengalami kenaikan. Platinum naik 0.7% menjadi $1,612.62, dan paladium naik hampir 2% menjadi $1.207,96. Namun, harga perak spot turun 0,01% menjadi $57.86 per ons. Para analis memperkirakan bahwa semua logam diperkirakan akan mengalami penurunan mingguan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Jatuh saat AS dan Iran Sepakat untuk Hentikan Serangan, Memperbarui Perundingan

 

West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di sekitar $69,60 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Harga WTI turun setelah laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran telah sepakat untuk menghentikan serangan dan merencanakan perundingan di Qatar pada hari Selasa.

Washington dan Tehran telah sepakat untuk mengakhiri lebih dari tiga hari serangan balasan di sekitar Selat Hormuz dan melakukan perundingan teknis lebih lanjut pada hari Selasa di Qatar, menurut laporan Axios yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Tindakan ini terjadi setelah perundingan AS-Iran selama akhir pekan dilaporkan tertunda setelah AS menyerang target-target militer Iran sebagai balasan atas serangan terbaru Tehran terhadap kapal-kapal pengangkut di Selat Hormuz. Korps Pengawal Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) mengatakan pasukannya telah menghancurkan delapan situs militer AS di Kuwait dan Bahrain, dengan serangan tersebut digambarkan sebagai balasan atas serangan AS baru-baru ini terhadap fasilitas-fasilitas Iran.

Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar perundingan AS-Iran. Setiap kemajuan dalam negosiasi dapat memulihkan aliran minyak melalui Selat Hormuz, yang menyumbang seperlima aliran pasokan dunia. Hal ini, pada gilirannya, dapat menekan harga WTI lebih rendah. Di sisi lain, setiap tanda ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dapat menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dan mendorong harga emas hitam dalam jangka pendek.

Laporan mingguan minyak mentah American Petroleum Institute (API) akan dirilis pada hari Selasa. Penurunan persediaan minyak mentah yang lebih besar dari prakiraan mengindikasikan permintaan yang lebih kuat dan dapat mengangkat harga WTI, sementara peningkatan persediaan yang lebih besar dari prakiraan menandakan permintaan lebih lemah atau kelebihan pasokan, yang mungkin melemahkan harga WTI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Futures Wall Street  naik setelah AS dan Iran sepakat hentikan serangan

 

Futures indeks saham AS naik pada Senin malam setelah investor mencermati laporan bahwa Washington dan Teheran telah sepakat untuk menghentikan permusuhan terbaru di sekitar Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan, sehingga meredakan kekhawatiran atas gangguan yang lebih luas.

Futures S&P 500 naik 0,5% ke 7.435,0 poin, sementara Futures Nasdaq 100 juga naik 0,5% ke 29.514,75 poin pada pukul 07:16. Futures Dow Jones diperdagangkan lebih tinggi 0,3% di 52.369,0 poin.

Sentimen investor membaik setelah laporan Axios menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah sepakat untuk menghentikan pertempuran di jalur perairan strategis tersebut dan memulai kembali negosiasi di Doha, sehingga mengurangi kekhawatiran langsung atas konflik yang lebih luas.

Selama akhir pekan, pasukan AS melancarkan serangan baru terhadap fasilitas militer dan pengawasan Iran setelah sebuah kapal tanker diserang di Selat Hormuz dan pengiriman komersial kembali mendapat tekanan.

Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Washington bisa terpaksa "menyelesaikan pekerjaan secara militer" jika serangan terus berlanjut.

Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan instalasi militer AS di Bahrain dan Kuwait, menurut laporan, sekaligus mengancam akan menangguhkan negosiasi jika serangan AS lebih lanjut terjadi.

Kedua pihak berencana bertemu pada hari Selasa di Qatar, demikian laporan Axios.

Upaya diplomatik terbaru ini dibangun di atas perjanjian perdamaian sementara pada 17 Juni antara kedua negara yang mengakhiri beberapa minggu konflik yang terus meningkat di Teluk.

Pekan lalu, Wall Street tertekan karena investor beralih dari saham-saham teknologi berpertumbuhan tinggi di tengah kekhawatiran atas valuasi yang terlalu tinggi dan melambatnya momentum saham-saham terkait kecerdasan buatan. Indeks acuan S&P 500 turun 2,0%, sementara NASDAQ Composite anjlok 4,6%, mencatatkan kinerja mingguan terburuknya dalam lebih dari setahun.

Pekan lalu, sentimen semakin tertekan setelah Apple (NASDAQ:AAPL) menaikkan harga beberapa model MacBook dan iPad, dengan alasan lonjakan biaya chip memori yang didorong oleh permintaan yang melonjak dari pusat data kecerdasan buatan.

Para pelaku pasar kini mengalihkan perhatian mereka ke pekan yang padat, termasuk data pasar tenaga kerja AS dan laporan kuartal kedua dari perusahaan-perusahaan besar.

Dengan mendekatnya libur Hari Kemerdekaan AS, volume perdagangan mungkin tetap lebih rendah dari biasanya, meskipun perkembangan geopolitik di Timur Tengah kemungkinan akan tetap menjadi pendorong utama sentimen risiko di pasar global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pangkalan Militer Dihancurkan Iran, AS akan Pindahkan Markas dari Saudi?

 

Amerika Serikat sedang mengevaluasi kembali postur militernya di Timur Tengah. Demikian menurut sebuah laporan di the Wall Street Journal (WSJ) mengutip citra satelit.

Hasil Citra Satelit mengungkapkan kerusakan jauh lebih luas di pangkalan angkatan laut utama di Bahrain daripada yang telah diakui AS secara publik.

Laporan tersebut mengatakan AS sedang mempertimbangkan untuk melengkapi kembali pangkalan di Bahrain sambil mengurangi jejak militernya di Kuwait dan Arab Saudi.

Sebagai gantinya, mereka akan memindahkan pangkalan dan operasi ke arah barat di mana AS akan lebih jauh dari rudal dan drone Iran.

"Salah satu lokasi di mana beberapa pangkalan dapat dipindahkan adalah Israel," demikian menurut dua pejabat yang dikutip dalam laporan tersebut kepada Journal.

Menurut laporan WSJ, serangan rudal dan drone Iran menyebabkan kerusakan signifikan pada pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain selama serangan yang dilakukan antara akhir Februari dan Juni.

Selain citra satelit, WSJ juga mengutip video media sosial, gambar, dan wawancara dengan anggota militer yang masih aktif dan mantan anggota militer.

Saksi-saksi melaporkan bahwa serangan tersebut merusak markas komando, setidaknya selusin bangunan lain, dan dua terminal komunikasi satelit di Naval Support Activity (NSA) Bahrain, markas besar Armada Kelima AS. Pentagon belum secara terbuka mengakui sejauh mana kerusakan tersebut.

Militer AS tetap menyatakan bahwa tidak ada personel yang tewas dalam serangan tersebut dan operasi di pangkalan itu tidak terpengaruh secara signifikan. Sebagian besar personel dievakuasi, meskipun sebagian kecil masih ditempatkan di sana.

“Komando Pusat AS dengan tepat memprioritaskan perlindungan orang daripada bangunan, dan strategi kami untuk melindungi orang berhasil,” kata Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, kepada media tersebut.

Ia menambahkan bahwa Iran meluncurkan lebih dari 8.000 rudal dan drone selama konflik dan hanya dua serangan yang mengakibatkan korban jiwa dari pihak Amerika.

Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran Esmaeil Baqaei memperingatkan Amerika Serikat atas pernyataan dan interpretasi yang kontradiktif terhadap Nota Kesepahaman (MoU) pengakhiran perang.

Dalam cuitan di media sosial X pada Rabu malam (24/6), Baqaei menegaskan pernyataan tersebut hanya memperkuat ketidakpercayaan pemerintah Teheran terhadap pemerintahan Washington.

Baqaei mengatakan, kepemimpinan AS tidak pernah memperlihatkan ketulusan dalam perjanjiannya kepada bangsa Iran.

Menurut Baqaei, kendati Teheran memiliki alasan kuat untuk skeptis, tetapi Iran tetap mengikuti proses diplomatik dengan yakin dan telah menandatangani MoU yang bertujuan untuk menyudahi konflik.

Baqaei menegaskan bangsa Iran memahami ancaman kepada negaranya tidak hilang begitu saja dengan penandatanganan satu perjanjian.

Teheran, kata Jubir Kemlu, akan mengambil langkah di masa yang akan datang secara waspada dengan berkaca kepada pengalaman selama 50 tahun ke belakang, khususnya perkembangan dalam 18 bulan terakhir.

Iran mengatakan pernyataan dari pejabat AS yang bertentangan dengan isi MoU tidak membantu mengurangi rasa ketidakpercayaan yang telah berurat-akar di masyarakat Iran, dan tetap menjadi pengingat atas ketidakpatuhan sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menlu Italia Bantah Sekjen NATO Soal Ikut Serang Iran

 

Menteri Luar Negeri (Menlu) sekaligus Wakil Perdana Menteri (PM) Italia Antonio Tajani menegaskan kepada Menlu Iran Abbas Araghchi bahwa negaranya tidak terlibat dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Republik Islam Iran. Adapun AS bersama Israel membombardir Iran sejak hari pertama penyerangan udara.

"Italia tidak pernah mengambil bagian dalam inisiatif militer apa pun dan tidak pernah mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk aksi militer terhadap Iran, sesuai dengan perjanjian yang berlaku dengan Amerika Serikat," tulis Tajani melalui akun X pada Kamis (25/6/2026).

Pernyataan tersebut menanggapi pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO Mark Rutte pada Rabu (24/6/2026), yang mengatakan kepada Fox News bahwa AS melaksanakan 500 kali penerbangan dari wilayah Italia untuk mendukung operasi terhadap Iran. Italia pun buru-buru membantah pernyataan itu.

Meski begitu, Wakil Perdana Menteri Italia itu meminta Menlu Araghchi untuk memulihkan sepenuhnya kebebasan pelayaran di Selat Hormuz guna menjamin kelancaran perjalanan kapal-kapal kargo Italia. Tajani menjelaskan, pembukaan kembali Kedutaan Besar Italia di Teheran merupakan sinyal penting bagi dialog serta pemulihan hubungan ekonomi dan budaya antara kedua negara.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, Italia dan Rumania disebut-sebut oleh Rutte sebagai peserta dalam “agresi terhadap Iran.” Baghaei menyatakan, kedua negara tersebut, bersama negara-negara Eropa lain yang mendukung tindakan AS dan Israel terhadap Iran, harus memberikan penjelasan kepada warga negaranya serta komunitas internasional mengenai alasan di balik sikap tersebut

Sementara Kementerian Pertahanan Italia menyebut pernyataan Mark Rutte sebagai informasi yang menyesatkan. Kementerian menjelaskan bahwa selama operasi terhadap Iran, yang diizinkan dari pangkalan militer AS di Italia hanya penerbangan teknis dan logistik, sebagaimana laporan Sputnik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Krisis Teluk Sulap Pipa Gas Rusia-China Jadi Makin Strategis, Potensinya Rp326 Triliun

 

Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali mengangkat nilai strategis proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang menghubungkan Rusia dan China. Ketidakpastian pasokan energi global akibat meningkatnya risiko di jalur pelayaran, termasuk kawasan sekitar Selat Hormuz, membuat jalur pipa darat kembali dipandang sebagai alternatif yang lebih aman untuk menjamin keamanan energi jangka panjang.

Di tengah situasi tersebut, Rusia terus mendorong percepatan pembangunan Power of Siberia 2 yang dirancang mengalirkan lebih dari 50 miliar meter kubik (bcm) gas alam setiap tahun dari ladang gas di Siberia Barat menuju China. Potensinya sekitar 20 miliar Dolar AS atau sekitar Rp326 triliun.

Proyek yang telah dinegosiasikan selama lebih dari dua dekade itu dinilai berpotensi mengubah peta perdagangan energi dunia sekaligus memperkuat hubungan strategis Moskow dan Beijing.

Bagi Rusia, proyek tersebut menjadi jalur penting untuk mengalihkan ekspor gas yang sebelumnya banyak bergantung pada pasar Eropa. Sementara bagi China, pasokan energi melalui jalur darat dipandang sebagai salah satu cara untuk mengurangi risiko terhadap gangguan distribusi energi yang bergantung pada jalur laut.

Optimisme Rusia terhadap proyek ini kembali menguat setelah pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping di Beijing pada 20 Mei 2026. Seusai pertemuan itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Presiden Putin menilai Rusia dan China pada dasarnya telah memiliki pemahaman bersama mengenai parameter utama proyek Power of Siberia 2, meski sejumlah rincian teknis dan komersial masih harus diselesaikan, sebagaimana dilaporkan sejumlah kantor berita Barat.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama energi kedua negara. "Rusia dan China memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari petualangan-petualangan agresif semacam itu yang merusak ekonomi global dan sektor energi," kata Lavrov

Pernyataan Lavrov tersebut dikutip The Moscow Times dalam laporan mengenai kerja sama energi Rusia-China, termasuk pembahasan proyek Power of Siberia 2. Namun, Lavrov tidak secara khusus menyebut nama proyek tersebut dalam kutipannya.

Meski hubungan politik kedua negara terus menghangat, sikap Rusia dan China terhadap proyek tersebut belum sepenuhnya sejalan. Moskow terus mendorong realisasi pembangunan, sedangkan Beijing masih berhitung secara komersial sebelum memberikan persetujuan akhir.

Analis dari Tony Blair Institute for Global Change, Daniel Sleat, mengatakan hambatan utama proyek tersebut hingga kini belum berhasil diatasi.

"Perbedaan mendasar mengenai harga, pembiayaan, dan ketentuan kontrak tampaknya masih belum berhasil diselesaikan."

Sebagaimana dikutip Reuters, Sleat menilai belum tercapainya kesepakatan mengenai harga gas, skema pembiayaan, dan ketentuan kontrak menjadi faktor utama yang membuat pembangunan Power of Siberia 2 terus tertunda.

Selain persoalan tersebut, kedua negara juga masih membahas volume pembelian gas oleh China, mekanisme investasi, serta peran Mongolia sebagai negara transit. Karena itu, meskipun krisis Timur Tengah membuat proyek ini semakin strategis dari sisi geopolitik dan keamanan energi, keputusan akhir mengenai pembangunan Power of Siberia 2 masih bergantung pada tercapainya kesepakatan bisnis antara Moskow dan Beijing.

Nasib proyek tersebut diperkirakan tidak hanya akan menentukan masa depan kerja sama energi Rusia-China, tetapi juga berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar energi dan geopolitik global dalam beberapa dekade mendatang.

Bagi Rusia, Power of Siberia 2 bukan sekadar proyek infrastruktur energi, melainkan bagian dari strategi besar mengalihkan orientasi ekspor gas dari Eropa ke Asia. Sebelum perang Ukraina pecah pada 2022, Uni Eropa merupakan pasar utama gas alam Rusia. Namun, sanksi Barat, pengurangan impor energi Rusia, serta rusaknya jaringan Nord Stream membuat ekspor gas Rusia ke Eropa merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut memaksa Moskow mencari pasar baru yang mampu menyerap volume gas dalam jumlah besar. China menjadi tujuan paling realistis karena merupakan konsumen energi terbesar di dunia dengan kebutuhan gas alam yang terus meningkat. Jika Power of Siberia 2 beroperasi sesuai kapasitas penuh, pipa ini diproyeksikan mampu mengalirkan lebih dari 50 miliar meter kubik (bcm) gas alam setiap tahun. Dengan asumsi harga gas internasional saat ini, nilai perdagangan yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar US$20 miliar atau sekitar Rp326 triliun per tahun, menjadikannya salah satu proyek energi paling bernilai di Eurasia.

Bagi Kremlin, proyek ini juga memiliki arti strategis karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar Eropa yang kini semakin tertutup bagi energi Rusia. Selain menciptakan sumber pendapatan baru, kerja sama jangka panjang dengan Beijing akan memperkuat hubungan ekonomi kedua negara sekaligus mempercepat pergeseran pusat perdagangan energi dunia ke kawasan Asia.

Sementara itu, bagi Eropa, keberhasilan proyek tersebut dapat menjadi tantangan baru. Semakin banyak gas Rusia yang mengalir ke China, semakin kecil peluang negara-negara Eropa untuk kembali memperoleh pasokan gas Rusia dalam jumlah besar seperti sebelum perang Ukraina. Akibatnya, Uni Eropa diperkirakan akan semakin bergantung pada impor gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat, Qatar, Norwegia, dan pemasok lainnya, yang umumnya memiliki biaya lebih tinggi dibandingkan pasokan melalui jaringan pipa.

Meski demikian, sejumlah analis menilai Eropa kemungkinan tidak akan mengubah arah kebijakannya dalam waktu dekat. Sejak krisis energi 2022, banyak negara anggota Uni Eropa telah mempercepat diversifikasi sumber energi, memperluas terminal LNG, meningkatkan penggunaan energi terbarukan, serta memperkuat pasokan dari Norwegia dan Afrika Utara.

Dengan demikian, apabila Power of Siberia 2 benar-benar terealisasi, dampak terbesarnya bukan sekadar pada perdagangan gas, melainkan mempertegas terbentuknya dua poros energi baru: Rusia yang semakin berorientasi ke Asia dan Eropa yang semakin mengurangi ketergantungannya pada energi Rusia.

Salah satu hambatan terbesar adalah harga gas. Beijing dilaporkan menginginkan harga yang jauh lebih kompetitif, bahkan mendekati harga gas domestik Rusia. Selain itu, China juga masih berupaya memperoleh syarat kontrak yang lebih menguntungkan, termasuk mengenai skema pembiayaan, volume pembelian, serta jangka waktu kontrak. Perbedaan pandangan tersebut membuat negosiasi yang telah berlangsung lebih dari dua dekade belum mencapai kesepakatan akhir.

Di sisi lain, posisi tawar China saat ini dinilai jauh lebih kuat dibandingkan Rusia. Setelah kehilangan sebagian besar pasar gas di Eropa akibat perang Ukraina dan sanksi Barat, Rusia semakin membutuhkan pasar alternatif untuk menyerap produksi gasnya. Kondisi tersebut memberi ruang bagi Beijing untuk menekan harga sekaligus memperoleh konsesi yang lebih besar dalam proses perundingan.

Selain faktor harga, China juga belum ingin bergantung pada satu pemasok energi. Selama ini Beijing terus menjalankan strategi diversifikasi dengan mengimpor gas dari berbagai negara, termasuk Turkmenistan melalui jaringan pipa Asia Tengah, serta membeli gas alam cair (LNG) dari Qatar, Australia, Malaysia, hingga Amerika Serikat ketika kondisi pasar memungkinkan. Dengan banyaknya pilihan pasokan, China tidak berada dalam posisi yang harus segera menyetujui proyek Power of Siberia 2.

Apabila Power of Siberia 2 berhasil direalisasikan, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh Rusia dan China, tetapi juga berpotensi mengubah keseimbangan pasar energi global. Dengan kapasitas lebih dari 50 miliar meter kubik (bcm) gas alam per tahun, pipa tersebut akan menjadi salah satu jalur distribusi gas terbesar di dunia dan mempercepat pergeseran arus perdagangan energi dari Eropa menuju Asia.

Bagi Rusia, keberadaan pipa tersebut akan membuka pasar baru yang mampu menggantikan sebagian ekspor gas ke Eropa yang terus menurun sejak perang Ukraina dan penerapan sanksi Barat. Di sisi lain, China memperoleh akses terhadap pasokan gas jangka panjang melalui jalur darat yang relatif lebih stabil dibandingkan pengiriman gas alam cair (LNG) melalui laut, terutama ketika kawasan Timur Tengah menghadapi ketidakpastian keamanan.

Perubahan itu juga berpotensi memengaruhi perdagangan LNG dunia. Jika sebagian kebutuhan gas China dipenuhi melalui Power of Siberia 2, permintaan impor LNG dari negara tersebut dapat berkurang. Kondisi ini dapat meningkatkan persaingan di pasar ekspor bagi pemasok utama seperti Qatar, Australia, Amerika Serikat, hingga Malaysia, sekaligus memengaruhi dinamika harga gas internasional.

Dari sisi geopolitik, proyek tersebut memperlihatkan semakin kuatnya orientasi perdagangan energi Eurasia. Rusia akan semakin bergantung pada pasar Asia, sementara China memperoleh posisi tawar yang lebih besar karena memiliki beragam sumber pasokan energi, mulai dari Rusia, Asia Tengah, hingga LNG dari berbagai negara. Pergeseran ini juga dapat mempercepat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi energi antara Moskow dan Beijing, sejalan dengan upaya kedua negara mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan bilateral.

Meski demikian, sejumlah analis menilai dampak Power of Siberia 2 tidak akan langsung mengubah peta energi dunia dalam waktu singkat. Uni Eropa telah mempercepat diversifikasi pasokan sejak krisis energi 2022 dengan meningkatkan impor LNG serta memperluas kerja sama energi dengan Norwegia, Qatar, dan negara-negara Afrika Utara. Karena itu, pengaruh terbesar proyek ini kemungkinan bukan pada kembalinya dominasi gas Rusia di Eropa, melainkan lahirnya arsitektur perdagangan energi baru yang semakin berpusat di Asia dan ditopang oleh hubungan strategis Rusia-China.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uskup Agung Gereja Inggris Janji Bantu Palestina Merdeka

 

Uskup Agung Canterbury berjanji untuk membantu warga Palestina meraih "kedamaian yang Anda dambakan dan kebebasan yang layak Anda dapatkan." Ia juga memuji "perlawanan yang penuh keteguhan" warga Palestina dalam kunjungan ke Tepi Barat yang diduduki.

Dilansir Middle East Eye, Dame Sarah Mullally, pemimpin Gereja Inggris (Church of England), menyampaikan pernyataan tersebut pada Ahad lalu dalam sebuah khotbah di St Peter's, sebuah gereja Anglikan di kota Kristen Palestina, Birzeit.

Ia mengatakan kepada jemaat bahwa "perlawanan Anda yang penuh keteguhan dan harapan juga terlihat saat para ayah dan ibu harus melewati jaringan pos pemeriksaan setiap hari demi mencari nafkah bagi keluarga, atau mengantar anak-anak ke sekolah demi masa depan mereka, ataupun saat Anda berkumpul untuk memecahkan roti bersama dari minggu ke minggu di gereja ini.

"Segala tindakan perlawanan yang penuh keteguhan ini mengarah pada harapan kita kepada Yesus Kristus dan mencerminkan perjuangan Anda yang terus berlanjut demi kebebasan dan martabat."

Sang Uskup Agung menambahkan bahwa ia menyadari dirinya menikmati kebebasan tertentu yang tidak dimiliki warga Palestina, seperti "kemampuan untuk melintasi perbatasan dan pos pemeriksaan, menghabiskan waktu di komunitas tetangga, serta pergi ke Yerusalem".

"Saya akan menggunakan peran saya sebagai uskup agung untuk mengupayakan perdamaian yang Anda dambakan dan kebebasan yang layak Anda dapatkan," ujarnya.'

"Saya berharap, melalui kunjungan ini, Anda juga mengetahui bahwa Anda tidak dilupakan oleh komunitas umat Kristiani yang lebih luas.

"Gereja dipanggil untuk bersukacita bersama mereka yang bersukacita dan menangis bersama mereka yang menangis. Gereja mendukung Anda dalam hak Anda untuk hidup dalam kebebasan dan martabat."

Dalam perjalanannya, Mullally bertemu dengan Layan Nasir, seorang perempuan Kristen Palestina berusia 26 tahun yang telah tiga kali ditahan oleh Israel dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

"Saya berterima kasih kepada keluarga Layan atas keramahan mereka saat menyambut saya di rumah mereka," kata Mullally.

"Saya akan mendoakan mereka, serta memohon berkat dan kesembuhan dari Tuhan bagi Layan setelah cobaan berat akibat penahanannya. Saya berdoa demi pembebasan semua orang yang dipenjara secara tidak adil, baik di sini—di Palestina dan Israel—maupun di seluruh dunia."

Sang uskup agung juga mengunjungi Yerusalem, Nazaret, dan Betlehem. Ia melakukan perjalanan bersama Uskup Agung Hosam Naoum, uskup agung Anglikan di Yerusalem.

Mullally berkata: "Kunjungan ini merupakan kesempatan untuk mendengarkan harapan dan ketakutan mereka, sukacita serta tantangan berat yang mereka hadapi, dan untuk berdoa bersama mereka demi keadilan dan perdamaian yang akan membawa pemulihan bagi kehidupan mereka dan tanah ini."

Tahun lalu, empat uskup senior Gereja Inggris mendesak pemerintah Inggris untuk mengambil tindakan segera terhadap kekerasan oleh pemukim Israel yang kian meningkat; mereka memperingatkan bahwa hal itu merusak kehidupan warga Palestina dan mengancam keberadaan umat Kristen di Tanah Suci.

"Di tengah berlanjutnya perang di Gaza, situasi di Tepi Barat memburuk dengan cepat," tulis mereka, seraya menyoroti "meningkatnya tingkat kekerasan dan intimidasi oleh pemukim"—termasuk serangan terhadap lahan dan gereja di Taybeh, sebuah kota dengan mayoritas penduduk Kristen di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Pada bulan Desember 2025, Stephen Cottrell, Uskup Agung York, mengatakan dalam sebuah khotbah bahwa ia sempat dihentikan di pos pemeriksaan dan diberitahu oleh pihak "milisi" bahwa ia tidak diizinkan mengunjungi keluarga-keluarga Palestina di Tepi Barat.

"Sungguh menyadarkan bagi saya untuk melihat tembok ini secara langsung saat berkunjung ke Tanah Suci; kami dihentikan di berbagai pos pemeriksaan dan diintimidasi oleh milisi Israel yang mengatakan bahwa kami tidak boleh mengunjungi keluarga-keluarga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat," ujarnya.

 

Bulan lalu, sebuah delegasi dari Komite Tinggi Kepresidenan untuk Urusan Gereja di Palestina memperingatkan para pejabat Uni Eropa bahwa kebijakan Israel menimbulkan ancaman serius terhadap kelangsungan keberadaan komunitas Kristen Palestina yang bersejarah di wilayah tersebut.

 

 

 

Data Lalu Lintas Selat Hormuz pada Jumat Usai Kapal Singapura Alami Serangan Proyektil

 

Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dilaporkan terus berlanjut di kedua arah, Jumat (26/6/2026), meski terjadi serangan terhadap kapal kontainer yang mendorong beberapa pemilik kapal untuk mempertimbangkan kembali rencana transit melalui jalur energi utama tersebut. Serangan terhadap kapal Ever Lovely pada Kamis (25/6/2026), insiden pertama sejak kesepakatan perdamaian sementara AS-Iran ditandatangani, menyebabkan beberapa pemilik dan kapten kapal menunda atau meninjau kembali rencana keluar dari Teluk.

Setidaknya satu perusahaan yang berbasis di Asia dilaporkan memberi tahu staf bahwa kapal-kapal di Teluk harus tetap berada di tempatnya sementara para eksekutif menilai kembali opsi transit. Namun data pelacakan kapal menunjukkan bahwa insiden tersebut tidak menghentikan pemulihan bertahap lalu lintas melalui selat tersebut.

Dua kapal tanker yang penuh muatan terlihat menuju keluar dari Teluk pada Jumat, sementara empat kapal tanker minyak mentah super besar (VLCC) kosong termasuk di antara kapal-kapal yang berlayar masuk di sepanjang pantai Oman. Rute selatan dikelola oleh Oman dan dikoordinasikan oleh AS.

Lalu lintas keluar di sepanjang rute Oman termasuk kapal tanker Aframax yang menuju India dan sebuah kapal tanker kecil yang dikenai sanksi AS. Sebuah VLCC bermuatan minyak mentah dari Uni Emirat Arab (UAE) juga memasuki selat tersebut, bersama dengan sebuah kapal tanker produk yang bermuatan dari eksportir yang sama.

Di arah sebaliknya, sebuah VLCC kosong yang menuju Basrah, Irak, memasuki jalur air tersebut, bersama dengan tiga kapal lainnya yang terkait dengan UAE. Sebuah kapal pengangkut gas alam cair di lepas pantai Khor Fakkan juga tampak mencoba untuk melintasi selat tersebut.

Beberapa kapal menggunakan rute utara dekat Iran, yang diakui oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO), yang termasuk sebuah kapal tanker produk berbendera Korea Selatan, sebuah kapal tanker produk lain yang menuju Indonesia, dan sebuah kapal pengangkut curah.

Pengelolaan Hormuz tetap menjadi titik gesekan antara Washington dan Teheran. AS mengatakan Iran harus menjaga agar selat tersebut bebas biaya tol dan mencegah pengenaan biaya pada pengiriman jika ingin mencapai kesepakatan perdamaian permanen.

Data Windward juga menunjukkan bahwa 62 kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni, termasuk 21 kapal yang masuk dan 41 kapal yang keluar. Lima transit "gelap" tercatat, dengan dua masuk dan tiga keluar, merujuk pada kapal yang bergerak dengan visibilitas AIS terbatas atau tidak tersedia.

Lalu lintas keluar terkonsentrasi di koridor selatan, dengan 26 dari 41 kapal yang keluar menggunakan rute tersebut, sementara koridor utara tetap menjadi jalur utama yang berdekatan dengan Iran untuk lalu lintas masuk.

Data juga menunjukkan dua VLCC berukuran 333 meter meninggalkan koridor selatan dalam waktu satu menit satu sama lain, sementara sebuah VLCC berbendera Korea Selatan yang telah ditahan di Teluk sejak Februari telah berangkat, menunjukkan bahwa lalu lintas Teluk yang tertahan mulai berkurang.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, selama kunjungan ke negara-negara Arab Teluk, memperingatkan bahwa sistem pengenaan tol apa pun dapat mendorong pemerintah lain untuk mengenakan biaya di titik-titik rawan maritim, menciptakan "kekacauan." AS juga mendesak Oman untuk tidak membentuk mekanisme pengenaan tol bersama dengan Iran.

Sebelumnya, Oman dan Iran mengatakan mereka akan membahas administrasi lalu lintas dan biaya terkait di selat tersebut, sementara Rubio kemudian mengatakan Muscat telah meyakinkan AS bahwa mereka tidak mendukung pungutan tol.

Sementara itu, kapal tanker LNG kosong mulai berbaris di lepas pantai Qatar karena negara tersebut bersiap untuk meningkatkan ekspor dari Ras Laffan, salah satu pusat produksi LNG terbesar di dunia. Setidaknya delapan kapal pengangkut LNG kosong terlihat meninggalkan fasilitas Ras Laffan, sebagian besar telah melintasi Hormuz selama seminggu terakhir.

Satu kapal tanker lainnya menuju ke pabrik, sementara dua kapal lainnya mendekati pintu masuk timur selat, menurut data pelacakan kapal. Penumpukan itu menunjukkan Qatar sedang bersiap untuk meningkatkan muatan LNG karena lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz secara bertahap kembali normal setelah berbulan-bulan mengalami gangguan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pada Kamis menyatakan bahwa pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz hanya dapat dilakukan melalui jalur yang disetujui Teheran. IRGC memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan jalur pelayaran baru yang diumumkan tanpa koordinasi dengan Republik Islam Iran.

Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita resmi IRNA, Angkatan Laut IRGC menyebut setiap jalur baru yang diumumkan untuk melintasi perairan strategis tersebut tanpa sepengetahuan atau koordinasi dengan Iran sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima” dan “sangat berbahaya”.

“Satu-satunya jalur yang diizinkan untuk melintas melalui Selat Hormuz adalah jalur yang diumumkan oleh Republik Islam Iran,” demikian pernyataan tersebut.

IRGC juga menegaskan bahwa koordinasi dengan angkatan laut Iran melalui kanal maritim internasional Channel 16 bersifat wajib bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Pelanggaran terhadap ketentuan itu, menurut IRGC, akan menghadapi tindakan dari pihak berwenang Iran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berawal dari Konsep Siluman AS, Seberapa Canggih J-20 China hingga Sulit Dideteksi Radar?

 

 

Teknologi pesawat tempur siluman modern pertama kali dikembangkan Amerika Serikat melalui program seperti F-117 Nighthawk, kemudian disempurnakan pada B-2 Spirit, F-22 Raptor, hingga F-35 Lightning II. Kini, prinsip yang sama diterapkan China pada J-20 Mighty Dragon, pesawat tempur generasi kelima yang dirancang untuk memperkecil peluang terdeteksi radar dan meningkatkan kemampuan bertahan di wilayah pertahanan lawan.

Meski sering disebut sebagai salah satu pesawat tempur siluman tercanggih di dunia, hingga kini pemerintah China tidak pernah memublikasikan secara resmi nilai radar cross-section (RCS) atau luas penampang radar J-20. Karena itu, seluruh angka mengenai tingkat siluman pesawat tersebut yang beredar di ruang publik merupakan estimasi dari lembaga seperti Janes, Center for Strategic and International Studies (CSIS), maupun penilaian Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), bukan spesifikasi resmi yang dirilis Beijing.

Pada dasarnya, J-20 tidak menggunakan konsep siluman yang benar-benar baru. Para analis pertahanan menilai pesawat ini mengadopsi prinsip low observable yang juga digunakan F-22 dan F-35, yakni meminimalkan pantulan gelombang radar melalui kombinasi desain aerodinamis, material khusus, serta penempatan persenjataan di dalam badan pesawat.

Desain badan J-20 dibuat dengan sudut-sudut tertentu sehingga gelombang radar dipantulkan ke arah lain, bukan kembali ke antena radar. Badannya juga dilapisi radar-absorbent material (RAM) atau material penyerap gelombang radar yang membantu mengurangi pantulan sinyal. Selain itu, rudal dan persenjataan utama ditempatkan di dalam ruang senjata internal, bukan digantung di bawah sayap, sehingga jejak radar tetap kecil selama menjalankan misi. Konsep tersebut mengikuti filosofi desain yang sama dengan pesawat siluman generasi kelima milik Amerika Serikat.

Teknologi siluman dirancang untuk mengurangi peluang deteksi, memperkecil jarak deteksi, serta memperlambat proses penguncian sasaran, bukan menghilangkan jejak radar sepenuhnya. Kemampuan mendeteksi pesawat siluman juga sangat bergantung pada jenis radar, frekuensi yang digunakan, hingga integrasi jaringan sensor.

Sebagai contoh, pesawat peringatan dini E-3 Sentry milik Amerika Serikat masih menggunakan radar AN/APY-1 atau AN/APY-2 yang dikembangkan sejak era Perang Dingin. Sementara itu, pesawat tempur F-35 Lightning II telah dibekali radar AN/APG-81 Active Electronically Scanned Array (AESA) yang jauh lebih modern dan memiliki kemampuan lebih baik dalam mendeteksi sasaran berpenampang radar kecil. Karena itu, kemampuan radar Amerika Serikat tidak dapat digeneralisasi hanya berdasarkan satu sistem radar tertentu.

Dalam beberapa analisis, radar AESA terbaru China yang dipasang pada pesawat seperti J-15B dan J-16 juga dinilai mengalami kemajuan pesat. Namun, sejumlah analis Barat menyebut kemampuan sensor fusion, pemrosesan data, dan integrasi sistem pada F-35 masih menjadi salah satu standar tertinggi dalam teknologi tempur udara modern.

Dari sisi performa, J-20 diperkirakan mampu melesat hingga sekitar Mach 2, sebagaimana dilaporkan CSIS dan sejumlah publikasi pertahanan Barat. Pesawat ini saat ini diyakini menggunakan mesin WS-10C, sedangkan mesin WS-15 tengah dipersiapkan untuk memberikan kemampuan supercruise, yaitu terbang melampaui kecepatan suara tanpa menggunakan afterburner.

Produksi J-20 juga terus meningkat. Menurut Janes, jumlah J-20 yang telah beroperasi diperkirakan mencapai sekitar 195 unit hingga 2024. Sementara Military Watch Magazine memperkirakan China kini mampu memproduksi sekitar 100 hingga 120 unit J-20 setiap tahun, menjadikannya salah satu program pesawat tempur generasi kelima dengan laju produksi tercepat di dunia.

Meski kemampuan J-20 terus berkembang, sejumlah analis Barat mengingatkan bahwa efektivitas teknologi siluman tidak hanya ditentukan oleh bentuk badan pesawat. Tingkat kematangan radar-absorbent material (RAM), desain saluran masuk udara (engine inlet), kualitas manufaktur, hingga integrasi perangkat lunak masih menjadi faktor penting yang membedakan J-20 dengan F-22 maupun F-35.

Sejumlah laporan US Naval Institute, RAND Corporation, dan CSIS menyebut J-20 telah berkembang menjadi ancaman serius bagi kekuatan udara Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. Namun hingga kini belum ada bukti terbuka yang menunjukkan kemampuan silumannya telah melampaui F-22 Raptor maupun F-35 Lightning II.

Dengan kata lain, J-20 menandai keberhasilan China menguasai teknologi pesawat tempur siluman generasi kelima. Namun, karena sebagian besar data teknisnya masih dirahasiakan Beijing, tingkat kemampuan sebenarnya masih menjadi bahan kajian dan perdebatan di kalangan analis pertahanan dunia.

Salah satu perbedaan paling mencolok antara J-20 Mighty Dragon dan F-22 Raptor adalah penggunaan canard, yakni sepasang sayap kecil yang dipasang di bagian depan sayap utama. Berbeda dengan F-22 maupun F-35 yang tidak menggunakan canard demi memaksimalkan karakteristik siluman, China justru mempertahankan konfigurasi tersebut pada J-20.

Pilihan desain itu bukan tanpa alasan. Sejumlah analis pertahanan menilai canard memberikan keuntungan dalam meningkatkan daya angkat, stabilitas, serta kemampuan bermanuver, terutama saat pesawat terbang pada kecepatan tinggi atau membawa beban persenjataan yang lebih besar. Selain itu, desain tersebut dinilai membantu J-20 menjalankan peran sebagai pesawat tempur jarak jauh yang mampu melakukan patroli maupun intersepsi di kawasan Indo-Pasifik, sebagaimana diulas The Aviationist dan Air & Space Forces Magazine.

Namun, penggunaan canard juga memunculkan perdebatan. Dalam teori teknologi siluman, permukaan tambahan di bagian depan pesawat berpotensi meningkatkan pantulan gelombang radar apabila tidak dirancang secara cermat. Karena itu, banyak pesawat siluman Barat, termasuk F-22 dan F-35, menghindari konfigurasi tersebut untuk mempertahankan nilai radar cross-section (RCS) serendah mungkin.

Meski demikian, sejumlah pakar menilai perkembangan desain aerodinamika dan material penyerap radar memungkinkan kelemahan tersebut dikurangi. Justin Bronk, peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), menilai konfigurasi canard pada J-20 menunjukkan bahwa insinyur China kemungkinan memilih kompromi antara karakteristik siluman dan kebutuhan performa aerodinamis, bukan semata-mata mengejar nilai radar cross-section (RCS) serendah mungkin.

Pandangan serupa juga muncul dari sejumlah analis RAND Corporation dan Center for Strategic and International Studies (CSIS). Menurut mereka, J-20 tidak dirancang sebagai salinan F-22, melainkan dikembangkan berdasarkan kebutuhan operasional Angkatan Udara China. Dengan jangkauan terbang yang lebih jauh dan ruang internal yang besar untuk membawa rudal jarak jauh, J-20 diperkirakan lebih difokuskan sebagai pesawat penguasaan udara dan pencegat jarak jauh dibandingkan pesawat dogfight klasik.

Karena itu, banyak analis Barat menilai perbandingan langsung antara J-20 dan F-22 tidak selalu tepat. F-22 lebih menekankan dominasi udara dengan karakteristik siluman yang sangat tinggi, sedangkan J-20 mencoba menyeimbangkan kemampuan siluman, jangkauan operasi, kapasitas persenjataan, dan performa aerodinamis. Perbedaan filosofi desain inilah yang membuat kedua pesawat memiliki karakter dan peran operasional yang berbeda, meskipun sama-sama masuk kategori pesawat tempur generasi kelima.

 

 

Jelang Pemilu Israel, Gadi Eisenkot Berpeluang Gulingkan Benjamin Netanyahu

 

Mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot, muncul sebagai penantang utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan paling lambat berlangsung pada akhir Oktober 2026. Sejumlah survei menunjukkan partai baru yang dipimpin Eisenkot, Yashar, mengalami kenaikan dukungan dan berpotensi mengakhiri dominasi politik Netanyahu yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Baca Juga: Harga Tembaga Menguat ke US$ 13.308 Jumat (26/6), Ditopang Pelemahan Dolar Meski Partai Likud yang dipimpin Netanyahu masih diproyeksikan menjadi peraih kursi terbanyak di parlemen, hasil jajak pendapat menunjukkan baik Likud maupun Yashar belum mampu meraih mayoritas sehingga pembentukan koalisi diperkirakan menjadi penentu pemerintahan berikutnya. Partai Yashar, yang dalam bahasa Ibrani berarti "lurus" atau "jujur", dinilai memiliki peluang lebih besar membangun koalisi karena lebih terbuka bekerja sama dengan berbagai partai di spektrum politik Israel. Pemilu mendatang akan menjadi pemungutan suara nasional pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang berkepanjangan di Gaza, Lebanon, dan Iran. Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terjun Bebas: Ambles 9% di Pekan Ini Tetap mengusung pendekatan keamanan yang keras Meski menjadi rival politik Netanyahu, Eisenkot tidak dipandang akan membawa perubahan besar terhadap kebijakan keamanan Israel. Mantan anggota kabinet perang tersebut dikenal memiliki pandangan keamanan yang tegas. Ia pernah mengkritik Netanyahu karena dinilai terlalu cepat menyetujui gencatan senjata di Lebanon atas dorongan Amerika Serikat. Eisenkot juga menolak pembentukan negara Palestina dalam kondisi saat ini dan menilai isu tersebut tidak lagi relevan. Saat memimpin operasi militer dalam perang Israel-Hezbollah pada 2006, Eisenkot memperkenalkan strategi yang kemudian dikenal sebagai "Doktrin Dahiyeh", yakni penggunaan kekuatan militer secara besar-besaran terhadap wilayah yang menjadi basis kelompok bersenjata, termasuk dengan menghancurkan infrastruktur sipil yang dianggap mendukung operasi militan. Dalam sebuah konferensi pekan ini, Eisenkot mengatakan strategi tersebut diterapkan melalui serangan yang disebutnya sendiri sebagai "tidak proporsional" terhadap kawasan Dahiyeh di Beirut selatan, yang merupakan basis Hezbollah. Ia juga menilai militer Israel seharusnya memiliki keleluasaan menyerang Hezbollah di seluruh wilayah Lebanon dan menyebut gencatan senjata yang didorong Presiden AS Donald Trump telah membatasi ruang gerak militer Israel. Baca Juga: Swatch Gugat Samsung US$ 170 Juta, Diduga Langgar Merek Dagang Jam Tangan Latar belakang sederhana menjadi modal politik Eisenkot, 66 tahun, merupakan putra imigran Yahudi asal Maroko dan tumbuh dari keluarga sederhana. Latar belakang tersebut membuatnya mulai mendapat dukungan dari komunitas Yahudi Mizrahi, kelompok keturunan Timur Tengah dan Afrika Utara yang selama ini menjadi basis utama pemilih Netanyahu. Karier militernya berlangsung lebih dari tiga dekade hingga menjabat Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel pada periode 2015–2019. Popularitas Eisenkot juga meningkat setelah putranya, Gal Meir Eisenkot, gugur saat bertugas di Gaza pada Desember 2023. Dua keponakannya juga tewas dalam konflik tersebut, menjadikan pengorbanan keluarganya sebagai simbol yang mendapat simpati luas di tengah masyarakat Israel. Pengamat politik dari Bar-Ilan University Eitan Shamir menilai, Eisenkot dipandang sebagai sosok yang sederhana dan mudah diterima publik. "Ia terlihat sebagai sosok yang tulus, bukan politisi profesional. Banyak orang merasa ia seperti tetangga atau rekan kerja mereka sendiri," ujarnya. Baca Juga: Iran Bersikeras Kuasai Selat Hormuz, Pasar Minyak Tetap Waspadai Risiko Baru Meski demikian, kubu Netanyahu mempertanyakan kemampuan diplomasi Eisenkot, termasuk penguasaan bahasa Inggris yang dinilai penting untuk menjaga hubungan strategis Israel dengan negara-negara Barat. Di tengah meningkatnya dukungan terhadap Eisenkot, sejumlah analis mengingatkan bahwa Netanyahu masih memiliki peluang mempertahankan kekuasaan. Peneliti senior Israel Democracy Institute, Tamar Hermann, menyebut Netanyahu sebagai "pesulap politik" yang berkali-kali mampu keluar dari situasi sulit dan membalikkan keadaan menjelang pemilu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Kim Jong Un Pantau Uji Coba Senjata untuk Tingkatkan Daya Tembak di Perbatasan

 

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengawasi uji coba senjata utama sebagai bagian dari tujuan negara untuk memodernisasi program rudalnya dan meningkatkan daya tembak di sepanjang perbatasan selatan dengan Korea Selatan. Mnurut laporan media pemerintah KCNA yang dilansir Reuters, Jumat (26/6/2026), uji coba tersebut, yang dilakukan pada peringatan pecahnya Perang Korea 1950-1953, melibatkan versi yang ditingkatkan dari sistem peluncur roket multi-laras 240 mm dengan 24 tabung, rudal balistik taktis, dan howitzer swa-gerak 155 mm. Peluncur roket yang ditingkatkan tersebut dilengkapi dengan sistem panduan presisi otonom, dengan jangkauan tembak yang diperpanjang hingga 90 kilometer (56 mil), menurut laporan media tersebut. Baca Juga: Korea Selatan Siapkan 500.000 Prajurit Drone, Perkuat Pertahanan Hadapi Korea Utara Kim, yang menyatakan kepuasannya atas hasil uji coba tersebut, mengatakan Pyongyang sedang mengejar otomatisasi, kemampuan jarak jauh, dan presisi ultra dalam program senjatanya. Tujuannya adalah untuk pertahanannya di sepanjang perbatasan selatannya, kata Kim, yang secara efektif merujuk pada perbatasan dengan Korea Selatan. Pada bulan Mei, Korea Utara mengatakan telah menguji campuran rudal balistik taktis, roket artileri — dan rudal jelajah presisi yang dipandu AI yang dirancang untuk peperangan modern. Pyongyang terus meningkatkan persenjataan taktis dan konvensionalnya, berjanji untuk mengerahkan senjata di dekat perbatasan dengan Korea Selatan. Lim Eul-chul, seorang profesor di Institut Studi Timur Jauh Universitas Kyungnam, mengatakan langkah-langkah tersebut menunjukkan percepatan upaya untuk memperkuat perbatasan selatan dan mengintegrasikan kekuatan nuklir dan konvensional saat Korea Utara memperkuat apa yang disebutnya sebagai hubungan dua negara yang bermusuhan. Baca Juga: Bursa Asia Rontok Jumat (26/6), Apple Pangkas Optimisme AI Setelah Naikkan Harga Mac “Tujuannya pada akhirnya adalah untuk sepenuhnya membangun kemampuan serangan nuklir taktis dan presisi di unit-unit terdepan, menempatkan seluruh Korea Selatan dalam jangkauan,” kata Lim. Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan uji coba tersebut tampaknya merupakan bagian dari “rencana pengembangan pertahanan lima tahun” Korea Utara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post