News Komoditi & Global ( Rabu, 1 Juli 2026 )

News  Komoditi  &  Global

                                     (  Rabu,   1 Juli  2026  )

 

Harga Emas Global Diproyeksi Masih Tertekan pada Semester II/2026, Baru Pulih Tahun Depan

 

 Harga emas dunia diproyeksi masih berada dalam tekanan pada paruh kedua 2026, sebelum kembali pulih pada tahun 2027. Melansir Kitco, harga emas di pasar spot diperdagangkan di kisaran ditutup turun 0,22% pada perdagangan Selasa (30/6/2026) ke level US$4.006,70 per troy ounce. Sepanjang perdagangan, harga emas bergerak dalam rentang US$3.944,00 hingga US$4.064,10 per troy ounce. Posisi tersebut menunjukkan emas masih bertahan di atas level dukungan psikologis US$4.000 yang sempat diuji pekan lalu, tetapi belum mampu menembus area resistance yang dibutuhkan untuk mengonfirmasi pemulihan harga. Dalam riset terbarunya, Kepala Riset Komoditas TD Securities, Bart Melek, memperingatkan bahwa harga emas berpotensi turun hingga di bawah US$3.900 per troy ounce sebelum menemukan titik terendah dalam fase koreksi pasar bearish saat ini. Meski demikian, Melek menilai pelemahan harga emas akan menjadi peluang beli yang strategis bagi investor karena tren bullish jangka panjang logam mulia tersebut masih jauh dari berakhir. Menurut Melek, risiko terbesar bagi harga emas dalam jangka pendek tetap berasal dari pergerakan harga minyak, yang diperkirakan akan terus memicu tekanan inflasi.

Harga Emas Mendingin Sederet Alasan Harga Emas Terus Menurun, Hilangnya Peminat? “Dengan gangguan di Selat Hormuz yang menggerus persediaan ke level terendah dalam sejarah, risiko utamanya adalah pasar minyak mentah yang saat ini berada dalam kondisi oversold dapat mengalami rebound tajam,” kata Melek seperti dilansir Kitco, Rabu (1/7/2026). Dia memperkirakan harga minyak Brent masih berpotensi naik ke kisaran US$90 hingga US$110 per barel. Kondisi tersebut akan mendorong kenaikan ekspektasi inflasi dan memperkuat kecenderungan kebijakan moneter yang tetap ketat, sehingga meningkatkan biaya kepemilikan (carry cost) dan biaya peluang (opportunity cost) bagi investor emas. Meskipun pembicaraan damai telah dimulai, konflik di Timur Tengah dinilai masih jauh dari selesai. Iran dan Amerika Serikat masih saling melancarkan serangan balasan, sementara harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di atas US$73 per barel atau naik lebih dari 1% dalam sehari. Melek menambahkan bahwa sekalipun kesepakatan damai dapat dipertahankan dan distribusi minyak melalui Selat Hormuz kembali normal, pasar tetap membutuhkan waktu untuk menstabilkan kondisi dan membangun kembali tingkat persediaan guna memenuhi permintaan yang masih tinggi. “Dengan hubungan terbalik antara harga emas terhadap kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS, harga energi yang bertahan tinggi berpotensi mendorong pelemahan lanjutan pada harga emas dalam beberapa bulan mendatang,” ungkap Melek. Pasar bahkan dapat mulai memperhitungkan kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan bakar di berbagai belahan dunia. Sekalipun distribusi kembali normal hari ini, keterbatasan pasokan tersebut kemungkinan tetap akan muncul. Sementara itu, Head of Base and Precious Metals Strategy J.P. Morgan Gregory Shearer mengatakan perubahan komunikasi The Fed dalam pertemuan terakhir Federal Open Market Committee (FOMC) telah membuat pasar emas kehilangan momentum. Ancaman suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama membuat minat investor terhadap emas melemah. "The Fed yang hawkish telah mengubah jeda dalam tren bullish struktural emas menjadi pembekuan yang lebih dalam. Selama bayang-bayang kenaikan suku bunga masih menggantung, keterlibatan investor di pasar emas akan sangat terbatas," katanya. Pandangan serupa mengenai emas juga disampaikan Chief Market Strategist Asia Pacific JP Morgan Asset Management Tai Hui. Menurutnya, emas sebaiknya dipandang sebagai aset investasi untuk meningkatkan imbal hasil, bukan sebagai instrumen lindung nilai terhadap gejolak geopolitik. Penilaian tersebut muncul setelah kinerja emas selama konflik Iran dinilai tidak sesuai ekspektasi sebagian investor. "Emas tidak dapat menjadi asset lindung nilai dari ketegangan geopolitik," katanya. Proyeksi 2027 Meski masih menghadapi berbagai risiko penurunan dalam jangka pendek, Melek optimistis prospek emas akan kembali menguat menuju 2027. Dia memperkirakan harga emas pada akhirnya mampu menembus level US$5.300 per troy ounce. Meredanya hambatan ekonomi dan arus dana investasi yang dipicu oleh perang Iran pada akhirnya akan menjadi katalis positif bagi harga emas. Di saat yang sama, penurunan ekspektasi inflasi serta perubahan arah kebijakan The Fed yang kembali berfokus pada mandat penciptaan lapangan kerja maksimum, disertai kemungkinan injeksi likuiditas untuk mengimbangi dampak ekonomi akibat guncangan pasokan energi dan komoditas utama lainnya, akan mendukung harga emas mencetak rekor baru. “Dengan utang pemerintah AS yang diperkirakan mendekati US$40 triliun dan defisit anggaran yang tetap tinggi, kekhawatiran terhadap represi finansial (financial repression) serta pelemahan nilai mata uang (currency debasement) berpotensi kembali mengemuka,” tambahnya. Melek menilai, meskipun saat ini The Fed masih menunjukkan sikap tegas dalam mengendalikan inflasi, dia tidak melihat adanya figur seperti Paul Volcker di dalam komite yang bersedia mengambil langkah ekstrem untuk benar-benar menekan inflasi. Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat kembali meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

 

 

Harga Minyak Dunia Kian Tertekan: Brent & WTI Raih Penurunan Bulanan dan Kuartalan Terbesar

 

Harga minyak kembali ditutup melemah dan berada penurunan bulanan dan triwulanan terbesar sejak pandemi COVID-19 pada awal tahun 2020, dengan investor mengamati potensi perundingan AS-Iran di Doha di tengah ketegangan gencatan senjata sementara dalam perang yang telah berlangsung selama empat bulan. Selasa (30/6/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 ditutup melemah 23 sen, atau 0,3%, menjadi US$ 72,92 per barel. Sementara, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 juga ditutup turun US$ 1,25, atau 1,8% ke  US$ 69,50 per barel. Harga Brent berjangka untuk pengiriman Agustus berakhir pada hari Selasa dan akan digantikan oleh kontrak September, yang diperdagangkan sekitar US$ 73,31 per barel. Ledakan Utang AI, Raksasa Teknologi Buru Dana Jumbo di Pasar Global Kedua patokan minyak mentah tersebut mendekati harga perdagangannya pada 27 Februari, sehari sebelum dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran, ketika Brent ditutup pada US$ 72,48 per barel dan WTI ditutup pada US$ 67,02. “Saya tidak akan mengatakan bahwa pasar telah memperhitungkan premi risiko, namun kapal-kapal yang sebelumnya terdampar telah tersedia seiring dengan peningkatan kapal yang keluar dari Teluk, sehingga menciptakan gelombang pasokan baru untuk sementara,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo. Morgan Stanley mengatakan pihaknya kini memodelkan surplus pasar minyak global sebesar 4,8 juta barel per hari pada tahun 2027. Utusan utama AS yang tiba di Doha tidak akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Iran, kata seorang pejabat Qatar pada hari Selasa, sehingga menimbulkan keraguan terhadap kemajuan upaya untuk menghentikan perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat tersebut sebelum perang. Sebaliknya, akan ada pembicaraan teknis minggu ini mengenai isu-isu termasuk keamanan regional yang nantinya dapat diangkat ke tingkat senior, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari pada konferensi pers. Kedatangan menantu Presiden AS Donald Trump Jared Kushner dan utusan Steve Witkoff di Doha pada hari Selasa menyusul baku tembak pada akhir pekan yang menguji perjanjian sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni. Baca Juga: Gelombang Panas Prancis Picu Lonjakan Kematian, Rumah Duka Kewalahan Tampung Jenazah Perjanjian yang terdiri dari 14 poin ini memberikan waktu 60 hari bagi kedua belah pihak untuk merundingkan gencatan senjata permanen dan menyelesaikan masalah-masalah pelik termasuk masa depan program nuklir Iran. Kurangnya pergerakan harga pada hari Selasa membuat kedua patokan minyak mentah berada di wilayah oversold secara teknis dengan Brent selama 13 hari berturut-turut dan WTI selama 11 hari berturut-turut. Untuk bulan Juni, Brent turun sekitar 21% setelah turun sekitar 19% di bulan Mei. Itu merupakan penurunan bulanan terbesar sejak penurunan rekor sebesar 55% pada Maret 2020 akibat kehancuran permintaan akibat COVID. Brent turun sekitar 38% pada kuartal kedua setelah melonjak 94% pada kuartal pertama. Itu merupakan penurunan kuartalan terbesar sejak penurunan sebesar 66% pada kuartal pertama tahun 2020. Kenaikan 94% pada kuartal terakhir merupakan yang tertinggi sejak kontrak berjangka melonjak hingga rekor 142% pada kuartal ketiga tahun 1990. Pasokan lima jenis minyak mentah North Sea yang mendasari patokan Brent pada bulan Agustus tidak akan mencakup minyak mentah Brent untuk pertama kalinya sejak setidaknya 2021. Harga Rumah Australia Anjlok, Terparah Sejak Akhir 2022 Di AS, produksi minyak mentah naik ke rekor bulanan sebesar 13,93 juta barel per hari pada bulan April, data bulanan dari Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan pada hari Selasa, karena produsen meningkatkan produksi sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak akibat perang Iran. PERSEDIAAN MINYAK AS Pasar minyak menunggu laporan penyimpanan mingguan dari kelompok perdagangan American Petroleum Institute pada hari Selasa dan Badan Informasi Energi AS pada hari Rabu. Analis memperkirakan perusahaan-perusahaan energi menarik 4,5 juta barel minyak mentah dari penyimpanan selama pekan yang berakhir 26 Juni. Jika benar, ini adalah pertama kalinya perusahaan-perusahaan energi mengeluarkan minyak mentah dari penyimpanannya selama 10 minggu berturut-turut, menyamai rekor yang dicapai pada bulan Januari 2018. Angka ini dibandingkan dengan peningkatan sebesar 3,8 juta barel pada minggu yang sama tahun lalu, dan penurunan rata-rata sebesar 5,5 juta barel selama lima tahun terakhir (2021 hingga 2025).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Reli: Indeks Dow Cetak Penutupan Tertinggi

 

Wall Street reli dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq mengakhiri perdagangan bulan Juni dengan kenaikan kuartalan terbesar sejak 2020 karena investor tetap optimis tentang pertumbuhan ekonomi dan pendapatan bahkan di tengah konflik Timur Tengah. Sementara itu, indeks Dow mengalami lonjakan kuartalan terbesar sejak 2022. Selasa (30/6/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 136,46 poin, atau 0,26%, menjadi 52.319,20, indeks S&P 500 menguat 58,93 poin, atau 0,79% ke 7.499,36 dan indeks Nasdaq Composite menguat 393,58 poin, atau 1,52%, menjadi 26.213,72. Dengan posisi ini, indeks Dow mencatat penutupan tertinggi sepanjang masa untuk hari kedua berturut-turut. Secara kuartalan, indeks Dow naik sekitar 13%, S&P 500 menguat 14,9%, dan indeks Nasdaq melonjak 21,4%. Baca Juga: Asing Net Sell Rp 60,2 Triliun Sejak Awal 2026, Cermati Saham yang Banyak Dijual Pada perdagangan sesi ini, sektor teknologi memimpin kenaikan di antara sektor-sektor S&P 500, dan indeks saham semikonduktor melonjak 3,9%. Optimisme atas tanda-tanda kemajuan dalam upaya mengakhiri perang Iran secara permanen telah membantu pasar saham baru-baru ini meskipun ketegangan militer terus berlanjut. Iran dan AS pada 17 Juni menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat bulan. Namun, baku tembak selama akhir pekan telah menguji kesepakatan tersebut, dan seorang pejabat Qatar mengatakan pada hari Selasa bahwa utusan AS terkemuka yang telah tiba di Doha tidak akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Iran. "Kami telah menjalani paruh pertama tahun ini dengan sangat baik, tentu lebih baik dari yang diperkirakan kebanyakan orang," kata Oliver Pursche, wakil presiden senior dan penasihat untuk Wealthspire Advisors di Westport, Connecticut. "Terlepas dari semua hal geopolitik, ekonomi AS berkinerja baik dan pendapatan perusahaan kuat." Setelah musim pendapatan kuartal pertama yang kuat untuk perusahaan-perusahaan S&P 500, investor menantikan hasil kuartal kedua dalam beberapa minggu mendatang. Kenaikan tajam harga minyak di awal perang meningkatkan kekhawatiran tentang inflasi dan kenaikan suku bunga. Para pedagang memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada akhir tahun 2026, menurut data yang dikumpulkan oleh LSEG. Pelemahan saham-saham teknologi kelas berat telah membebani pasar dalam beberapa minggu terakhir, dan indeks S&P 500 serta Nasdaq sama-sama mencatat penurunan untuk bulan Juni. Baca Juga: OJK Targetkan Regulasi Demutualisasi Bursa Rampung dalam 3 Bulan Investor khawatir tentang valuasi yang tinggi di sektor teknologi dan pengeluaran besar-besaran yang terus berlanjut untuk AI oleh perusahaan-perusahaan teknologi. Para ahli strategi di BofA mengatakan sektor-sektor siklikal yang berorientasi pada nilai seperti energi dan keuangan bisa menjadi pilihan yang lebih baik menjelang paruh kedua tahun ini. Setelah penutupan pasar, saham Nike turun sekitar 2% setelah perusahaan merilis hasil kuartalannya.liar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

 

 

 

 

Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel

 

 Iran telah meluncurkan serangan siber besar-besaran terhadap Israel. Menurut rezim Zionis, jumlah serangan tersebut telah meningkat tiga kali lipat sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan agresi gabungan akhir Februari lalu. Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel, Yossi Karadi, mengatakan kepada surat kabar Jerman; Die Welt, bahwa pada Juni 2025 selama operasi militer Israel melawan Iran, otoritas Israel mencatat sekitar 1.600 insiden siber yang bermusuhan.

Ini Analisisnya Menurutnya, pada bulan yang sama di tahun 2026, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 4.800 insiden. "Beberapa kelompok sangat terampil," kata Karadi. "Kami dapat menanganinya, tetapi kami harus menanggapinya dengan serius. Tidak seperti di ranah kinetik, tidak ada gencatan senjata di dunia maya," paparnya, yang dikutip The New Arab, Selasa (30/6/2026). Karadi mengatakan serangan siber Iran ditujukan terhadap sistem yang digunakan oleh infrastruktur penting Israel, organisasi pusat, perusahaan kecil hingga menengah, dan masyarakat umum, dengan menyebutkan kantor hukum dan firma akuntansi sebagai beberapa perusahaan kecil yang terkena dampak. "Sejauh ini—dan semoga tetap seperti itu—kami telah berhasil menangkis serangan terhadap infrastruktur penting," klaim Karadi. Perusahaan yang lebih mudah ditembus seringkali berakhir dengan penghapusan data sistem komputer mereka, kata Karadi, tanpa menyebutkan nama. Iran biasanya menyangkal melakukan kampanye peretasan terhadap negara lain sambil melaporkan serangan terhadap dirinya sendiri. Ini termasuk serangan Israel, di mana Iran menyalahkan Israel atas serangan siber yang mengganggu layanan perbankan utama pada 23 Juni, serta serangan siber skala besar pada tahun 2021 dan 2023 terhadap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Iran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya

 

Ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengatakan pekan lalu bahwa program rudal Iran dan proksi regionalnya "pasti akan dibahas dalam perundingan ini" selama kunjungan tiga harinya ke Teluk, Teheran dengan cepat menepis. Republik Islam memperjelas bahwa program rudalnya tidak akan dibahas. Dalam konferensi pers, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa program rudal tersebut bukan bagian dari perundingan dengan Amerika Serikat, mengulangi pernyataan sebelumnya dari Presiden Masoud Pezeshkian dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, mediator kunci dalam negosiasi AS-Iran.

Ini Analisisnya Selama pertemuan mereka di Islamabad pekan lalu, keduanya mengklarifikasi bahwa program tersebut tidak termasuk dalam Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni. Presiden AS Donald Trump juga membela keputusan untuk tidak memasukkan program rudal Iran dalam negosiasi. Pada KTT G7 di Paris dua minggu lalu, Trump mengatakan, “Jika negara lain memilikinya, agak tidak adil jika mereka tidak memilikinya." Namun, ini bukan selalu posisi AS. Salah satu tujuan perang Trump adalah untuk menghancurkan kemampuan rudal Iran dan mencegahnya membangun kembali kemampuan tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga melobi pemerintahan Trump, dengan menyebut program rudal Iran sebagai pembenaran untuk tindakan militer. Gencatan senjata di Timur Tengah saat ini menghadapi tekanan baru. Pada akhir pekan, AS melancarkan serangan terhadap target Iran setelah pelanggaran gencatan senjata yang diperdebatkan, yang mendorong Iran untuk membalas dengan serangan drone dan rudal terhadap pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait. Eskalasi ini telah membahayakan negosiasi yang rapuh, dengan perselisihan mengenai kendali Selat Hormuz, sanksi, dan program nuklir Iran yang masih belum terselesaikan. Namun, tidak dimasukkannya program rudal Iran dalam MoU 14 poin, yang memberi kedua negara waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir, mempertahankan aset strategis yang telah dibangun Teheran dari waktu ke waktu, aset yang memberikan pencegahan, pertahanan, dan pengaruh sekaligus, dan yang kemungkinan besar tidak akan dilepaskan Iran. “Iran tidak pernah bersedia membahas program rudalnya, yang dianggapnya sebagai bagian penting dari pencegahan strategisnya terhadap Israel dan, sampai batas tertentu, Amerika Serikat,” kata mantan diplomat dan peneliti terkemuka Middle East Institute, Alan Eyre, kepada The New Arab, Senin (29/6/2026). Dia menambahkan bahwa Washington tidak memiliki pengaruh untuk memaksa Teheran melakukan perundingan tersebut, sehingga negosiasi mengenai rudal atau dukungan untuk proksi regional Iran menjadi tidak mungkin. Teheran menarik garis merah seputar program rudal Iran bahkan selama negosiasi tahun 2025 dengan pemerintahan Trump sebelum perang 12 hari, dan sekali lagi dalam putaran perundingan pada tahun 2026 sebelum agresi 28 Februari. “Sejak konfrontasi langsung dengan Israel pada tahun 2024, Iran menyadari bahwa rudalnya sangat penting bagi keamanannya karena dapat menimbulkan kerugian pada Israel dengan cara yang tidak lagi dapat dilakukan oleh mitra regional dan proksinya, sehingga ketergantungan pada kemampuan konvensionalnya sendiri menjadi fitur penting dari doktrin keamanan nasional barunya,” kata Ali Vaez, direktur proyek Iran International Crisis Group, kepada The New Arab. “Jika Iran sebelumnya enggan menerima batasan pada program rudal balistiknya, sekarang akan mustahil untuk memintanya melakukan hal itu," paparnya. Kebangkitan Program Rudal Iran Program rudal balistik Iran lahir selama perang Iran-Irak, ketika Teheran berupaya mengimbangi kelemahan militer konvensionalnya dan kurangnya kekuatan udara modern. Seiring waktu, Iran beralih dari sistem impor menuju kekuatan rudal jarak jauh yang sebagian besar buatan dalam negeri dan mengintegrasikan rudal, drone, dan jaringan proksi regional ke dalam doktrin "pertahanan maju" yang dirancang untuk memproyeksikan kekuatan dan mencegah musuh. Arsenal rudal balistik Iran dibangun di sekitar rudal balistik jarak pendek (SRBM), yang digunakan terhadap pangkalan AS, Irak, dan negara-negara Teluk, dan rudal balistik jarak menengah (MRBM) yang mampu mencapai Israel dari wilayah Iran. Persenjataan tersebut mencakup varian berbahan bakar cair dan padat. Selain rudal balistik, Teheran memiliki ribuan drone, termasuk UAV serang satu arah, bersenjata, dan pengintai, serta rudal jelajah serang darat dan anti-kapal. Tidak jelas berapa banyak rudal yang dimiliki Iran. Beberapa perkiraan menyebutkan jumlahnya lebih dari 3.000 rudal balistik berbagai jenis. Bahkan lebih tidak jelas berapa banyak yang tersisa setelah perang melawan AS dan Israel. Pada bulan Mei, The New York Times melaporkan bahwa penilaian intelijen AS yang dirahasiakan menemukan bahwa Iran masih memiliki sekitar 70% peluncur mobile yang beroperasi di seluruh negeri dan telah mempertahankan sekitar 70% dari persediaan rudal pra-perangnya. Jim Lamson, seorang peneliti senior di James Martin Center for Nonproliferation Studies dan peneliti tamu di King’s College London, mengatakan kepada The New Arab bahwa perkiraan intelijen tentang persediaan rudal Iran masuk akal, tetapi sulit untuk dikonfirmasi dengan yakin. “Serangan Israel dan AS sangat merusak infrastruktur rudal balistik Iran, menghantam lokasi produksi, rantai pasokan, dan pangkalan operasional,” katanya. Meskipun serangan tersebut menghancurkan sebagian besar infrastruktur di atas tanah, fasilitas rudal Iran di dalam terowongan lebih sulit untuk ditargetkan. Lamson mengatakan dia memperkirakan Iran akan mencoba membangun kembali dan meningkatkan kemampuan rudal balistiknya ke depannya, terutama karena laporan menunjukkan Teheran telah mulai memulihkan sebagian jaringan rudalnya. Doktrin Deterrence Baru Meskipun Iran telah keluar dari perang dengan pengaruh yang signifikan dan sikap yang lebih tegas, menggunakan tekanan diplomatik dan militer untuk memperkuat posisi negosiasinya, perang pada tahun 2025 dan 2026 telah mengungkap keterbatasan strategi pencegahan (deterrence) tradisional Teheran. Ketergantungannya pada kemampuan rudal dan jaringan proksi gagal mencegah serangan terhadap wilayah Iran, yang mendorong penilaian ulang tentang bagaimana Iran melindungi dirinya sendiri. “Saya pikir Iran sekarang sedang memikirkan kembali doktrin pertahanannya,” kata Vaez. “Teheran telah menemukan pencegahan baru dalam kendalinya atas Selat Hormuz, meskipun pertanyaannya adalah apakah Iran berisiko kehilangan pengaruh itu dengan menggunakannya secara berlebihan.” Eyre mengatakan bahwa bahkan jika AS mengajukan program rudal Teheran ke meja perundingan, Iran tidak akan membuat konsesi. "Akan sangat sulit untuk mendapatkan kesepakatan nuklir, jadi gagasan bahwa Iran akan menegosiasikan program rudalnya sama sekali tidak realistis," imbuh dia. Mereka yang paling khawatir tentang absennya program rudal Iran dari negosiasi adalah negara-negara Teluk. Balasan Iran terhadap negara-negara Teluk setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah menggoyahkan kawasan tersebut dan merusak rasa aman yang telah diproyeksikan oleh negara-negara Teluk selama bertahun-tahun. Iran telah meluncurkan ratusan hingga ribuan rudal dan drone, menghantam pangkalan AS dan target militer, energi, dan sipil lainnya di seluruh Teluk. Berbagai laporan menunjukkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) melakukan serangan balasan rahasia ke dalam wilayah Iran selama konflik yang lebih luas. Kekhawatiran negara-negara Teluk atas kemampuan rudal Iran kembali mencuat pekan lalu setelah pernyataan bersama AS-GCC [Dewan Kerja Sama Teluk] menyusul kunjungan Rubio ke UEA, Kuwait, dan Bahrain. Para menteri luar negeri GCC mengatakan keamanan regional membutuhkan penanganan rudal, drone, dan dukungan Iran terhadap proksi, sambil menegaskan kembali tujuan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menolak segala bentuk pungutan, biaya, atau upaya untuk mengendalikan Selat Hormuz. Iran mengutuk pernyataan tersebut sebagai "intervensionis, tidak bertanggung jawab, dan provokatif", dengan mengatakan bahwa pernyataan itu mendistorsi realitas regional dan menggemakan posisi AS dan Israel. “Rudal Iran menimbulkan ancaman nyata dan potensial bagi negara-negara Teluk,” kata Lamson. "Jika konflik berlanjut, Iran dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar pada infrastruktur keuangan, energi, dan infrastruktur penting lainnya. Ancaman untuk mengganggu Selat Hormuz akan tetap menjadi sumber pengaruh dan pencegahan utama, dengan kemampuan rudal dan drone-nya yang mengoperasionalkan ancaman tersebut," paparnya. Paling banter, program rudal Iran berpotensi menjadi bagian dari pembicaraan dengan negara-negara tetangganya sebagai bagian dari dialog keamanan regional baru. Vaez berpendapat bahwa MoU tersebut mencerminkan tekanan dari para mediator termasuk Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Mesir, yang telah menyimpulkan bahwa "baik strategi penahanan AS terhadap Iran maupun payung keamanannya tidak memberikan keamanan yang mereka inginkan", sehingga membutuhkan pendekatan regional baru yang mencakup Iran. "Saya pikir sejarah empat dekade terakhir, dan terutama tahun lalu, telah menunjukkan bahwa memoderasi perilaku Iran melalui keterlibatan adalah cara yang jauh lebih baik daripada penahanan dan konfrontasi," katanya. Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan pekan lalu bahwa dialog dengan Iran tetap penting untuk stabilitas regional, menambahkan bahwa Doha berharap untuk kerangka kerja keamanan regional baru. Namun keamanan di Timur Tengah tetap sulit dicapai. Gencatan senjata terus goyah, sementara perjanjian kerangka kerja Israel-Lebanon yang terpisah yang terkait dengan perlucutan senjata Hizbullah memicu ketegangan domestik dan regional. Kelompok yang didukung Iran itu telah menolakdan setiap perlucutan senjata yang terkait dengan penarikan Israel dan terus bergantung pada pengaruh Teheran dalam negosiasinya dengan AS, memperdalam ketidakpastian di seluruh kawasan.

 

 

 

 

 

Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza

 

Penyelidik dari sebuah komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza, hampir tiga tahun setelah rezim Zionis melancarkan kampanye penghancuran yang sebagian besar menargetkan warga sipil di wilayah kantong tersebut. Dalam laporannya pekan ini, penyelidik PBB menuduh Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina, yang merupakan faktor kunci dalam "genosida" di Gaza.

Dalam laporan pada Selasa (23/6/2026), Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB mengatakan telah menemukan bukti bahwa "anak-anak Palestina telah sengaja ditargetkan dan dibunuh oleh pasukan keamanan Israel". Hal ini, kata komisi tersebut, merupakan faktor kunci dalam menetapkan "niat genosida dari otoritas dan pasukan keamanan Israel untuk menghancurkan kelompok Palestina yang lebih besar di Gaza".

Tim investigasi beranggotakan tiga orang, yang tidak berbicara atas nama PBB sendiri, pertama kali menetapkan dalam sebuah laporan September lalu bahwa Israel telah melakukan "genosida" dalam perang di Gaza – sebuah temuan yang ditolak mentah-mentah oleh Israel.

Tuduhan Israel melakukan genosida di Gaza juga datang dari para ahli genosida terkemuka, kelompok hak asasi manusia, dan sedang diselidiki dalam kasus yang diajukan oleh Afrika Selatan di Mahkamah Internasional.

Dalam laporan lanjutannya pada Selasa, para penyelidik mengatakan bahwa skala intens dan sifat sistematis operasi militer Israel terus berlanjut, mengakibatkan kematian, cedera, dan trauma yang "belum pernah terjadi sebelumnya" pada anak-anak Palestina.

Ada "alasan yang masuk akal" untuk menyimpulkan bahwa otoritas dan pasukan keamanan Israel "terus melakukan kejahatan genosida" di Gaza, kata mereka.

Israel, yang telah lama mengkritik keras komisi tersebut, mengecam laporan itu sebagai "fitnah" dan "kebohongan yang memfitnah". Rezim Zionis menuduh para penyelidik mengabaikan "taktik brutal Hamas, yang tanpa ampun menyerang anak-anak Israel dan menggunakan anak-anak Palestina sebagai perisai manusia".

Masa Kanak-Kanak 'Terhapus' di Gaza

Komisi, yang dibentuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada tahun 2021, meneliti dalam laporan terbarunya kejahatan yang memengaruhi anak-anak Palestina, dan bagaimana kondisi kehidupan yang dipaksakan oleh Israel di Gaza "mengakibatkan kematian anak-anak yang sebenarnya dapat dicegah".

"Otoritas dan pasukan keamanan Israel telah dengan sengaja menargetkan anak-anak Palestina yang mengakibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Jalur Gaza, dan kejahatan perang di Tepi Barat," kata tim tersebut dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilansir New Arab.

Komisi tersebut mengatakan bahwa cedera fisik dan mental yang parah, trauma massal, yatim piatu, perpisahan, kecacatan, pengungsian berulang, kelaparan, dan runtuhnya pendidikan dan perawatan kesehatan telah "menghapus masa kanak-kanak" di Gaza dan akan terus memengaruhi anak-anak di wilayah tersebut sepanjang hidup mereka.

"Dengan menargetkan anak-anak, Israel menyerang kemampuan rakyat Palestina untuk eksis dan menentukan masa depan mereka," kata hakim India Srinivasan Muralidhar, yang memimpin penyelidikan tersebut.

"Bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak terus terbunuh dan terluka parah."

'Strategi untuk Menghancurkan'

Laporan ini muncul beberapa hari setelah badan anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan setidaknya 265 anak telah tewas dan ratusan lainnya terluka di Gaza sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku.

UNICEF mengatakan anak-anak telah ditembak, dibom, dan ditabrak oleh quadcopter, tewas di tenda, di sekolah, dan saat bermain sepak bola atau memancing.

Perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut.

Penyelidikan PBB menyatakan bahwa selama dua tahun pertama perang, setidaknya 20.179 anak tewas dan 44.143 terluka "sebagai akibat langsung dari permusuhan di Gaza".

Pembunuhan dan penganiayaan terhadap anak-anak Palestina "merupakan bagian dari strategi untuk menghancurkan kesinambungan biologis dan keberadaan masa depan kelompok Palestina di Gaza", kata laporan itu.

Disabilitas sebagai 'Realitas Demografis'

Dengan menargetkan anak-anak, laporan itu mengatakan, "Israel mengikis struktur dasar masyarakat Palestina, melemahkan vitalitas demografis".

Israel bertanggung jawab atas terjadinya "krisis anak yatim piatu yang parah", sementara anak-anak yang terluka "menghadapi disabilitas seumur hidup" – sekarang menjadi "realitas demografis yang menentukan" di antara anak-anak Gaza, kata laporan itu.

Pengepungan Gaza "secara langsung merusak kesehatan reproduksi dan bayi baru lahir", sementara runtuhnya program kesehatan masyarakat "mengikis kondisi yang diperlukan untuk generasi penerus yang sehat".

Laporan tersebut mencantumkan divisi, brigade, dan unit Israel yang mungkin bertanggung jawab atas pembunuhan anak-anak, dalam insiden spesifik di Gaza dan Tepi Barat.

Selain Gaza, komisi tersebut juga mendokumentasikan peningkatan tajam kekerasan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadap anak-anak Palestina di Tepi Barat, yang telah diduduki Israel sejak 1967.

Komisi tersebut mendesak semua negara anggota PBB, termasuk Israel, untuk memastikan pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina

 

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Moskow akan melanjutkan perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun di Ukraina, menolak usulan Kyiv untuk membatasi penggunaan rudal jarak jauh dan menghentikan permusuhan. Dalam sebuah wawancara dengan layanan televisi pemerintah Rusia pada hari Minggu, Putin mengatakan Ukraina telah mengusulkan penghentian bersama serangan jarak jauh sebagai langkah menuju perdamaian. Tetapi presiden Rusia menyarankan usulan ini dibuat karena pasukan Kyiv berada di bawah tekanan di sepanjang garis depan sepanjang 1.250 km (775 mil).

5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina 1. Ingin Menghancurkan Pemerintahan Ukraina “Jelas mengapa proposal ini diajukan karena serangan balasan kami jauh ke wilayah Ukraina jauh lebih kuat, memiliki dampak yang lebih besar dan, terus terang, lebih merusak,” kata Putin. “Mengingat kekurangan personel mereka yang sangat parah, angkatan bersenjata Ukraina tampaknya percaya ini bisa menjadi penyelamat mereka. Tetapi menyelamatkan rezim Kyiv bukanlah bagian dari rencana kami,” tambahnya. Para pejabat Ukraina belum berkomentar secara terbuka tentang pernyataan Putin — termasuk tentang klaim pemimpin Rusia bahwa Kyiv mengirimkan proposal untuk membatasi penggunaan rudal jarak jauh. Putin mengakui bahwa Rusia harus meningkatkan kapasitas pertahanan udaranya untuk melawan serangan drone Ukraina yang semakin intensif yang telah menargetkan industri minyak Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Apa yang ada di balik penolakan Putin terhadap proposal Kyiv yang dilaporkan, dan apa artinya ini bagi perundingan perdamaian? Putin menyampaikan komentarnya saat Ukraina terus mengintensifkan serangannya terhadap Rusia. 2. Ukraina Hancurkan Kilang Minyak Rusia Pada hari Minggu, Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan militer Ukraina telah menyerang kilang minyak Slavyansk dan Yaroslavl di Rusia semalam dengan drone jarak jauh, masing-masing sekitar 300 km dan 700 km (190 dan 435 mil) dari garis depan. Sebuah kebakaran terjadi di kilang minyak di Slavyansk-na-Kubani di wilayah Krasnodar Rusia, Gubernur Veniamin Kondratyev melaporkan di Telegram, dan beberapa rumah rusak akibat puing-puing. Ia mengatakan satu orang tewas di wilayah tepat di sebelah timur Semenanjung Krimea Ukraina yang diduduki Rusia. “Kami melanjutkan operasi kami yang melemahkan kemampuan Rusia untuk melancarkan perang ini,” tulis Zelenskyy di X pada hari Minggu, menambahkan bahwa setiap serangan “berarti berkurangnya sumber daya yang melayani mesin perang Rusia”. Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia adalah yang terbaru dalam kampanye melawan situs energi Rusia yang telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Minggu lalu, Ukraina menggunakan drone jarak jauh untuk menyerang dua fasilitas minyak di Kerch di Krimea dan Pelabuhan Kavkaz di Krasnodar. Keduanya digunakan untuk membawa bahan bakar ke garis depan Rusia. Mereka juga menyerang pembangkit listrik, yang menyebabkan penangguhan penjualan bahan bakar di Krimea. Pada hari Minggu, Gubernur Yaroslavl Mikhail Yevrayev juga melaporkan di Telegram bahwa wilayah timur laut Moskow telah diserang oleh drone Ukraina dan mengatakan bahwa jalan keluar dari ibu kotanya, yang juga bernama Yaroslavl, telah ditutup sementara. Sementara itu, di wilayah Belgorod, yang terletak di perbatasan timur laut Ukraina, satu orang lagi tewas di distrik Shebekinsky selama 64 serangan drone Ukraina dalam 24 jam, lapor kantor berita TASS Rusia. Rusia menembak jatuh “sebanyak 117 drone musuh berbagai jenis”, kata gubernur wilayah Kursk yang bertetangga, Alexander Khinshtein. “Drone menjatuhkan alat peledak di wilayah kami tujuh kali.” Serangan Rusia terhadap Ukraina menewaskan sedikitnya empat orang pada hari Minggu, kata pejabat setempat. Dua dari korban tewas berada di Zaporizhzhia, sebuah kota di tenggara. Dua korban tewas lainnya berada di Kharkiv di timur laut Ukraina. 3. Garis Pertahanan Rusia Makin Kuat Putin mengumumkan penolakannya karena Moskow dilaporkan terguncang oleh dampak serangan drone Ukraina terhadap sektor energinya. Namun, Putin meremehkan serangan tersebut pada hari Minggu. “Semua serangan, di mana pun mereka mengenai infrastruktur kami. Sama sekali tidak memengaruhi situasi di garis depan, di garis kontak pertempuran,” kata Putin. “Mereka berupaya mengganggu pasokan energi dan berdampak pada musim pariwisata – niat yang telah mereka sampaikan secara terbuka kepada kami melalui berbagai saluran,” tambahnya. Ia mengatakan tugas Rusia saat ini adalah “untuk dengan cepat dan signifikan meningkatkan produksi sistem pertahanan udara yang paling dibutuhkan”. 4. Rusia Mampu Melancarkan Serangan Jarak Jauh Faktanya, Rusia memiliki kapasitas yang jauh lebih besar untuk serangan jarak jauh, kata Ian Lesser, peneliti terkemuka di German Marshall Fund of the United States, kepada Al Jazeera. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Putin ingin mempertahankan keunggulan ini dan menghindari kompromi apa pun di bidang ini, setidaknya untuk saat ini, katanya. “Moskow pasti akan melihat kemampuan serangan jarak jauhnya sendiri sebagai pencegah, mungkin lebih signifikan lagi baginya [Putin] karena Ukraina memperluas kemampuannya sendiri untuk menyerang target di Rusia pada jarak yang lebih jauh,” tambah Lesser. Para pejabat Ukraina belum berkomentar tentang prospek pembatasan serangan jarak jauh, tetapi pada awal Juni, Zelenskyy Zelenskyy menulis surat terbuka kepada Putin dan mengusulkan pertemuan untuk membahas pengakhiran perang Moskow terhadap Kyiv. Dalam suratnya, Zelenskyy mengatakan kepada Putin bahwa ia telah menghabiskan hampir setengah dari 26 tahun kekuasaannya di Rusia "melancarkan perang melawan Ukraina" dan mengatakan bahwa bahkan warga Rusia pun kini semakin lelah dengan serangan rudal dan drone Ukraina, inflasi, dan kekurangan bahan bakar. Ia mencatat bahwa dengan fokus AS pada perang melawan Iran, "akan salah jika hanya menunggu sampai perang di Eropa kembali menjadi pusat perhatiannya" dan menyarankan jalan menuju perdamaian. "Ukraina mengusulkan untuk mengakhiri perang ini melalui keterlibatan langsung antara kita – dan Anda. Saya mengusulkan sebuah pertemuan." … Jika Anda sendiri tidak sampai pada kesimpulan bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri perang ini, Ukraina akan terus berjuang untuk mempertahankan eksistensinya,” tambahnya. Putin mengatakan dia telah menolak proposal tersebut. 5. Ukraian Dibantu NATO Apakah Rusia sebelumnya pernah menyerukan pembatasan rudal jarak jauh? Ya. Pada September 2024, Putin memperingatkan bahwa jika negara-negara Barat mengizinkan Ukraina menggunakan senjata jarak jauh mereka untuk menyerang di dalam Rusia, maka itu akan menandakan bahwa NATO juga “berperang” dengan negaranya. “Ini akan secara signifikan mengubah sifat dasar konflik itu sendiri.” “Itu berarti negara-negara NATO, AS, dan negara-negara Eropa sedang berperang dengan Rusia,” kata Putin kepada televisi pemerintah Rusia. Namun, pada November 2024, Kyiv mendapat lampu hijau dari AS dan NATO untuk mulai menembakkan rudal jarak jauh yang disediakan oleh negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan AS ke wilayah Rusia. Langkah ini terjadi ketika Moskow mengintensifkan serangannya terhadap Kyiv dan setelah pengerahan pasukan Korea Utara di wilayah Kursk Rusia, yang diserbu oleh pasukan Ukraina pada Agustus 2024. Mereka merebut sejumlah besar wilayah sebelum dipaksa mundur melintasi perbatasan pada tahun 2025. Meskipun Kyiv menggunakan rudal jarak jauh, Rusia belum menyatakan perang terhadap NATO.

 

 

 

 

 

 

China dan Uni Eropa Buka Jalur Baru, Empat Isu Sensitif Langsung Dibahas

 

China dan Uni Eropa (UE) resmi membentuk mekanisme konsultasi perdagangan dan investasi sebagai wadah baru untuk mengelola hubungan ekonomi kedua pihak, termasuk meredakan berbagai gesekan dagang yang selama ini muncul.

Kesepakatan tersebut diumumkan dalam pernyataan bersama yang dirilis Selasa (30/6) setelah pertemuan perdana mekanisme itu di Brussels.

Menteri Perdagangan China Wang Wentao bersama Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Uni Eropa Maros Šefčovič memimpin langsung pertemuan tersebut. Keduanya membahas berbagai isu strategis perdagangan dan investasi secara komprehensif, mendalam, dan konstruktif.

Dalam pernyataan bersama, China dan UE menetapkan empat bidang kerja prioritas dalam mekanisme baru tersebut, yakni penyeimbangan perdagangan dan investasi, pengendalian ekspor, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta reformasi World Trade Organization.

Kedua pihak juga sepakat membentuk mekanisme pemantauan bersama untuk saling bertukar data perdagangan, memantau arus barang, serta mendukung pembahasan teknis. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan transparansi, memperkuat kepercayaan, dan mengelola potensi sengketa perdagangan.

Selain itu, China dan UE menilai peningkatan akses pasar dapat membantu menciptakan hubungan perdagangan yang lebih seimbang. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak bertukar daftar hambatan akses pasar serta membahas kemungkinan penerapan berbagai langkah tarif maupun non-tarif guna mencapai keseimbangan perdagangan.

Keduanya sepakat melanjutkan konsultasi dalam kerangka mekanisme baru tersebut dengan target menghasilkan kemajuan konkret terhadap berbagai persoalan perdagangan yang masih dihadapi masing-masing pihak.

Pada sektor pengendalian ekspor, China dan UE mencatat hasil positif dialog mengenai unsur tanah jarang (rare earth), mineral kritis, dan bahan baku penting lainnya. Kedua pihak berkomitmen memperkuat komunikasi di bidang tersebut untuk menjaga stabilitas rantai pasok dan rantai industri global.

China dan UE juga menegaskan pentingnya mempererat kerja sama di WTO. Kedua pihak sepakat mendorong reformasi organisasi perdagangan dunia itu agar lebih efektif, berwibawa, dan mampu menjawab tantangan perdagangan global yang terus berkembang.

Empat Agenda yang Akan Menentukan Masa Depan Perdagangan China-Uni Eropa

Di balik pembentukan mekanisme konsultasi perdagangan dan investasi yang baru, China dan Uni Eropa (UE) sebenarnya tengah berupaya mencari titik temu atas empat isu yang selama beberapa tahun terakhir menjadi sumber utama ketegangan hubungan ekonomi mereka. Keempat agenda tersebut bukan sekadar pembahasan teknis, melainkan menyangkut kepentingan strategis kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Pertama, penyeimbangan perdagangan dan investasi. Selama bertahun-tahun, UE menyoroti besarnya defisit perdagangan dengan China serta menilai akses perusahaan Eropa ke pasar China belum sepenuhnya setara dengan akses yang dinikmati perusahaan China di Eropa. Sebaliknya, Beijing berpendapat bahwa ketidakseimbangan perdagangan dipengaruhi oleh struktur ekonomi kedua belah pihak, bukan semata-mata hambatan pasar. Karena itu, kedua pihak sepakat membahas peningkatan akses pasar, termasuk kemungkinan langkah tarif maupun non-tarif yang dapat menciptakan hubungan perdagangan yang lebih seimbang.

Kedua, pengendalian ekspor. Isu ini menjadi semakin sensitif setelah berbagai negara memperketat pembatasan ekspor terhadap teknologi canggih dan bahan baku strategis. Di sisi lain, China menguasai sebagian besar kapasitas pemrosesan unsur tanah jarang (rare earth) yang menjadi bahan penting bagi industri semikonduktor, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga pertahanan.

Bagi UE, menjaga kelancaran pasokan mineral kritis menjadi kebutuhan industri. Sementara bagi China, pengendalian ekspor merupakan instrumen strategis untuk melindungi kepentingan nasional sekaligus menjaga daya tawarnya dalam rantai pasok global.

Ketiga, perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Persoalan ini telah lama menjadi salah satu sumber perbedaan pandangan antara Beijing dan Brussel. Perusahaan-perusahaan Eropa selama ini mendorong perlindungan yang lebih kuat terhadap paten, merek dagang, hak cipta, serta rahasia dagang ketika beroperasi di pasar China. Sebaliknya, China menilai sistem perlindungan HKI di negaranya terus mengalami perbaikan seiring meningkatnya inovasi domestik. Melalui mekanisme baru ini, kedua pihak berupaya membangun dialog yang lebih intensif untuk mengurangi sengketa sekaligus meningkatkan kepastian hukum bagi dunia usaha.

Keempat, reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). China dan UE sama-sama menilai WTO tetap menjadi fondasi penting bagi sistem perdagangan internasional. Namun, keduanya juga mengakui bahwa organisasi tersebut memerlukan pembaruan agar mampu menjawab tantangan perdagangan modern, mulai dari ekonomi digital, subsidi industri, hingga meningkatnya penggunaan kebijakan perdagangan sebagai instrumen geopolitik. Dengan mendorong reformasi WTO, Beijing dan Brussel ingin memperkuat sistem perdagangan multilateral sekaligus mengurangi risiko fragmentasi ekonomi global.

Keempat agenda tersebut menunjukkan bahwa mekanisme konsultasi baru China-UE tidak hanya dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi juga menjadi forum strategis dalam membangun hubungan perdagangan yang lebih stabil di tengah meningkatnya persaingan ekonomi dan geopolitik global.

 

 

 

 

 

 

 

China Masukkan 20 Perusahaan Jepang dalam Daftar Hitam

 

 

Kementerian Perdagangan (Kemendag) China kembali mengumumkan 20 perusahaan Jepang yang masuk ke dalam daftar kendali ekspor. Dikutip dari The Japan Times, semua perusahaan itu masuk dalam daftar hitam karena memiliki fungsi ganda.

"Keputusan China untuk memasukkan entitas-entitas tersebut ke dalam daftar, diambil sesuai dengan hukum, dan hanya menyasar sejumlah kecil entitas Jepang. Langkah-langkah terkait hanya menargetkan barang-barang dengan kegunaan ganda (dual-use)," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun, di Beijing, Senin (29/6/2026).

Langkah Kemendag China mengumumkan 20 lembaga pemerintah dan perusahaan Jepang masuk ke dalam pengendali ekspor, karena memproduksi atau terkait dengan barang-barang yang bisa digunakan untuk sipil maupun militer (dual-use). Sehingga perusahaan-perusahaan China tidak boleh menjual barang atau jasa kepada institusi dalam daftar tersebut tanpa persetujuan.

"Langkah-langkah yang diambil China ini sepenuhnya dapat dibenarkan, sah, dan sesuai hukum, dengan tujuan membendung langkah-langkah neomiliterisme Jepang yang gegabah," kata Guo Jiakun.

Dia menyebut, China berharap dengan pembatasan tersebut, Jepang akan berbalik dari jalan yang salah. Guo Jiakun juga ingin Jepang memperbaiki kesalahannya, melakukan introspeksi mendalam, dan kembali ke jalur yang benar.

"Tindakan ini tidak akan mempengaruhi pertukaran bisnis normal antara China dan Jepang. Entitas Jepang tidak perlu khawatir selama mereka beroperasi dengan iktikad baik dan mematuhi hukum," ujarnya.

Berdasarkan Pengumuman Kemendag Nomor 28 Tahun 2026 tentang Pencantuman 20 Entitas Jepang ke dalam Daftar Pengawasan tertanggal 29 Juni 2026, disebutkan bahwa tindakan tersebut dilakukan karena pengguna akhir dan penggunaan akhir barang dari institusi-institusi tersebut tidak dapat diverifikasi.

"Pelaku usaha yang mengekspor barang guna ganda kepada entitas-entitas tersebut tidak diperkenankan mengajukan permohonan izin umum ataupun memperoleh dokumen ekspor melalui mekanisme pendaftaran dan pengisian informasi," demikian disebutkan dalam pengumuman Kemendag China.

Bila tetap ingin mengekspor barang ke perusahaan dan institusi Jepang tersebut, maka perusahaan China harus menyerahkan laporan penilaian risiko terhadap entitas yang tercantum dalam Daftar Pengawasan, serta memberikan komitmen tertulis bahwa barang tersebut tidak akan digunakan untuk segala tujuan yang dapat membantu meningkatkan kekuatan militer Jepang.

Adapun ke-20 institusi dan perusahaan Jepang tersebut adalah Mitsui E&S Co Ltd, Mitsui Bussan Aerospace Co Ltd. Maintenance Center, Terra Drone Corporation, ACSL Ltd, Mitsubishi Nuclear Fuel Co Ltd, Japan Nuclear Fuel Limited, Fujitsu Network Solutions Limited, Hitachi Advanced Systems Corporation, Komatsu Industries Corporation, serta Komatsu NTC Ltd.

Kemudian, OKI Electric Industry Co Ltd, OKI Com-Echoes Co Ltd, OKI Circuit Technology Co Ltd, OKI Nextech Co Ltd, OKI Engineering Co Ltd, YDK Technologies Co Ltd, ihon Denji Sokki Co Ltd, Howa Machinery Ltd, Hosoya Pyro-Engineering Co, dan The Fujikura Parachute Co Ltd.

Pemerintah China memasukkan semua perusahaan Jepang ke daftar larangan ekspor barang penggunaan ganda. Termasuk juga, untuk mendatangkan unsur tanah jarang dan mineral penting lain untuk teknologi pertahanan sejak Januari 2026.

Pada Februari lalu, China telah memasukkan lebih dulu 20 entitas lain ke dalam daftar tersebut termasuk IHI Corp, Kawasaki Heavy Industries, Subaru Corp, TDK Corp, dan FUJI Aerospace Technology. Hubungan Tokyo dan Beijing sudah tegang sejak 7 November 2025.

Hal itu terjadi saat Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan penggunaan kekuatan militer China terhadap Taiwan, dapat "menimbulkan situasi yang mengancam kelangsungan hidup bagi Jepang" masih menimbulkan ketegangan dalam hubungan China-Jepang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran Tolak Rencana Prancis Ikut Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz

 

 

Iran pada Senin (29/6/2026) menolak proposal yang didukung Prancis untuk bekerja sama dalam pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa berdasarkan nota kesepahaman Islamabad, operasi pembersihan ranjau di jalur air strategis tersebut akan dilakukan “sepenuhnya oleh Iran”, dan bukan oleh negara lain.

Gharibabadi mengatakan bahwa pengaturan paralel atau keterlibatan asing dalam operasi pembersihan ranjau tidak akan diizinkan, menekankan bahwa kondisi saat ini di selat tersebut masih “sensitif dan kompleks.”

 “Kami menyarankan Prancis untuk tidak memperumit situasi dengan provokasinya,” kata Gharibabadi di platform media sosial X.

Pernyataan tersebut disampaikan, setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dalam sebuah unggahan X bahwa Prancis dan Oman telah memutuskan untuk bekerja sama, berkoordinasi dengan para mitra, dalam upaya pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Pembersihan tersebut bertujuan mengamankan jalur maritim dan memastikan jalur pelayaran yang “bebas dan tanpa syarat” melalui selat tersebut.

Macron mengumumkan rencana itu setelah melakukan pembicaraan bilateral dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq, selama kunjungan resmi pertamanya ke Paris. Teheran telah berulang kali menegaskan bahwa pengelolaan navigasi, operasi pembersihan ranjau, dan pengaturan maritim sementara di Selat Hormuz, tetap berada di bawah koordinasi Iran sebagai negara pantai.

Ketetapan tersebut telah diatur berdasarkan Pasal 5 MoU Islamabad, yang ditandatangani secara daring oleh Teheran dan Washington pada 18 Juni lalu untuk memulihkan transit maritim dan menetapkan mekanisme navigasi sementara di jalur air strategis itu.

Selat Hormuz, salah satu titik krusial pelayaran minyak mentah dan gas alam cair global, masih menjadi pusat ketegangan regional sejak pecahnya konflik antara AS, Israel, dan Iran pada 28 Februari 2026.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan pada Senin bahwa Paris akan bekerja sama dengan Oman untuk mengupayakan de-eskalasi konflik di Timur Tengah. "Kami bekerja sama untuk de-eskalasi di Timur Tengah," tulis Macron di media sosial X.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuannya dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq di Paris.

"Kami telah memutuskan untuk bekerja sama, bersama dengan mitra kami, dalam pembersihan ranjau di selat untuk mengamankan jalur maritim dan memastikan jalur bebas dan tanpa syarat melalui Selat Hormuz," kata Macron.

Ia juga mengatakan bahwa Prancis dan Oman akan memperkuat kemitraan bilateral melalui perjanjian bersejarah di bidang ekonomi, ilmiah, budaya, dan industri.

 

 

 

Share this Post