News Komoditi & Global ( Kamis, 12 Maret 2026 )
News Komoditi & Global
( Kamis, 12 Maret 2026 )
Harga Emas Global Turun saat Dolar AS dan Imbal Hasil Naik di Tengah Kekhawatiran Inflasi yang Dipicu Minyak
Harga Emas (XAU/USD) sedikit menurun pada hari Rabu di tengah penguatan Dolar AS (USD) yang luas setelah rilis data inflasi AS, yang mempertahankan status quo. Permusuhan antara AS, Israel, dan Iran dilanjutkan selama dua belas hari berturut-turut, memperkuat spekulasi harga Minyak lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di $5.170, turun 0,37%.
XAU/USD Tertekan di Tengah Ketegangan Geopolitik, Harga Energi yang Lebih Tinggi
Geopolitik adalah penggerak utama harga Minyak, yang telah meningkat tajam. Dolar AS tetap berkorelasi dengan harga Minyak dalam jangka pendek, saat negara-negara berusaha membeli Greenback untuk membayar harga bensin yang tinggi. Pada saat berita ini ditulis, WTI diperdagangkan naik 4,76% di $87,36.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja dolar terhadap sekumpulan enam mata uang, naik 0,32% ke 99,22, menjadi hambatan bagi harga Emas.
Emas, yang biasanya menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan inflasi, berada di bawah tekanan dari imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang tinggi. Rilis laporan inflasi terbaru di Amerika Serikat bersifat jinak, tetapi perang di Timur Tengah dan lonjakan harga bensin memaksa para pedagang untuk menentang prospek pemotongan suku bunga Federal Reserve.
Pasar uang telah memprakirakan pelonggaran 30 basis poin menjelang akhir tahun, menurut data Prime Market Terminal.
Sebelumnya, inflasi konsumen di AS tetap secara umum tidak berubah. Indeks Harga Konsumen (IHK) sesuai dengan estimasi dan angka Januari di 2,4% YoY pada bulan Februari. IHK inti naik 2,5%, seperti yang diprakirakan, untuk periode yang sama.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat karena para investor tampaknya khawatir terhadap harga bensin yang tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak lebih dari 6 basis poin ke 4,218%.
Untuk meredakan harga Minyak Mentah yang tinggi, International Energy Agency (IEA) setuju untuk merilis lebih dari 400 juta barel untuk meredakan tekanan harga yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz.
Namun, Iran mengatakan bahwa dunia harus siap untuk menghadapi harga Minyak mencapai $200 per barel, karena terus menyerang kapal-kapal yang berlayar melalui Selat Hormuz.
Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Ketakutan Gangguan Pasokan, Gejolak Geopolitik
West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di sekitar $92,65 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Kamis. Harga WTI naik lebih dari 6,5% pada hari ini saat serangan baru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz memperburuk kekhawatiran gangguan pasokan.
Perang antara tetangganya Iran, dan AS serta Israel meningkat, mendorong harga minyak. Reuters melaporkan bahwa tiga kapal lagi telah terkena proyektil di Selat Hormuz. Hal ini membuat jumlah kapal yang diserang di wilayah tersebut menjadi setidaknya 14 sejak perang Iran dimulai.
Para analis mengatakan bahwa proposal International Energy Agency (IEA) untuk merilis cadangan minyak terbesar dalam sejarahnya tidak memadai untuk meredakan kekhawatiran tersebut. IEA pada hari Rabu mengumumkan rilis 400 juta barel minyak, terbesar dalam sejarahnya, untuk mencoba menahan harga energi. Kerangka waktu untuk rilis akan ditentukan pada waktunya.
Selain itu, Presiden AS, Donald Trump, berencana untuk merilis 172 juta barel dari cadangan minyak darurat AS sebagai bagian dari upaya terkoordinasi oleh negara-negara di seluruh dunia untuk meredakan lonjakan harga minyak mentah dan bensin di tengah perang Iran.
Wall Street Bergejolak: S&P 500, Dow Ditutup Melemah Terseret Eskalasi Perang Iran
Wall Street ditutup melemah karena pasar sebagian besar mengabaikan laporan inflasi yang tenang, dan lebih fokus pada meningkatnya permusuhan dan dampak yang semakin besar terkait perang AS-Israel terhadap Iran.
Rabu (11/3/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 289,24 poin atau 0,61% menjadi 47.417,27, indeks S&P 500 turun 5,68 poin atau 0,08% ke 6.775,80 dan indeks Nasdaq Composite naik 19,03 poin atau 0,08% ke 22.716,14.
Di antara 11 sektor utama pada indeks S&P 500, sektor barang konsumsi pokok mencatat penurunan persentase terbesar. Sementara, sektor energi menjadi sektoral dengan kinerja terbaik, naik 2,5% karena kenaikan harga minyak mentah.
Asal tahu saja, harga minyak mentah berjangka WTI dan Brent untuk kontrak bulan depan masing-masing ditutup naik 4,6% dan 4,8%.
Sektor teknologi juga sedikit menguat, didorong oleh Oracle, yang memberikan panduan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan karena ekspektasi bahwa lonjakan pengeluaran terkait kecerdasan buatan akan berlanjut hingga tahun 2027. Saham Oracle melonjak 9,2%.
Perdagangan di pasar saham Amerika Serikat (AS) ini bergejolak sepanjang sesi karena investor terjebak dalam tarik-menarik terkait kekhawatiran pasokan minyak.
Iran terus menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz yang diblokade, tetapi OPEC meyakinkan pasar bahwa Arab Saudi telah meningkatkan produksi dan Badan Energi Internasional (IEA) setuju untuk melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.
Dow mencatat penurunan persentase paling tajam di antara tiga indeks ekuitas utama AS, sementara produsen chip mengangkat Nasdaq yang didominasi teknologi ke kenaikan tipis di akhir sesi.
Di sisi lain, Indeks Harga Konsumen (CPI) Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa inflasi tetap moderat bulan lalu, sesuai dengan ekspektasi analis.
Pertumbuhan CPI tahunan sekarang berada dalam setengah poin persentase dari target 2% Federal Reserve AS.
Namun, pasar mengabaikan laporan tersebut, karena laporan itu muncul sebelum perang di Iran, yang telah menyebabkan harga minyak mentah melonjak dan dapat memicu inflasi.
Kekhawatiran inflasi meningkat setelah komando militer Iran mengatakan dunia harus bersiap untuk harga minyak mentah mencapai $200 per barel, lebih dari dua kali lipat level saat ini.
"Dalam lingkungan yang tidak pasti seperti itu, pasar dan investor sangat membutuhkan sinyal apa pun, ke satu arah atau arah lain," kata Matthew Keator, mitra pengelola di Keator Group, sebuah perusahaan manajemen kekayaan di Lenox, Massachusetts.
"Ada laporan-laporan yang salah atau tidak akurat, dan pasar berfluktuasi berdasarkan berita semacam itu."
"Semuanya tentang konsumen, dan bagaimana guncangan akibat kenaikan harga minyak yang berkelanjutan akan memengaruhi keuangan konsumen dan kebiasaan belanja mereka," tambah Keator.
Federal Reserve secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan mendatang, di mana para pembuat kebijakan kemungkinan akan mempertimbangkan kemungkinan lonjakan harga terhadap tanda-tanda melambatnya pasar kerja, kombinasi yang menimbulkan kekhawatiran tentang potensi stagflasi.
"Saya pikir kata 'sementara' mungkin akan kembali," kata Chuck Carlson, kepala eksekutif di Horizon Investment Services di Hammond, Indiana. "Saya pikir mereka mungkin lebih khawatir tentang lapangan kerja daripada inflasi saat ini, terlepas dari lonjakan harga minyak."
Di sisi lain, JPMorgan Chase menurunkan nilai pinjaman tertentu yang dipegang oleh kelompok kredit swasta dan memperketat pinjamannya ke sektor tersebut, menurut sebuah laporan.
Saham Ares Management merosot 4,8% dan Apollo Global turun 1,9%. Campbell's anjlok 7,1% setelah perusahaan makanan kemasan tersebut memangkas perkiraan tahunannya dan memperingatkan peningkatan tekanan pada paruh kedua akibat revisi tarif AS.
Sedangkan saham Perusahaan pertahanan AeroVironment turun 6,3% setelah memperkirakan laba yang disesuaikan untuk tahun 2026 di bawah perkiraan.
Trump dan Iran Sinyalkan Perang Belum Akan Berakhir, Tanker Terbakar di Perairan Irak
Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan tanda-tanda belum akan segera berakhir. Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi militer harus dilanjutkan hingga tujuan tercapai, sementara Iran memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi harga minyak hingga US$200 per barel.
Ketegangan meningkat setelah serangan terhadap kapal tanker di perairan Irak serta kapal-kapal lain di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak global.
Perang yang dipicu oleh serangan udara gabungan AS dan Israel hampir dua pekan lalu telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sebagian besar warga Iran dan Lebanon, serta meluas hingga wilayah Lebanon.
Konflik tersebut juga mengguncang pasar energi global dan sistem transportasi internasional.
Menurut UNICEF, lebih dari 1.100 anak dilaporkan tewas atau terluka akibat konflik tersebut.
Dalam sebuah rapat umum di negara bagian Kentucky menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang, Trump menyatakan Amerika Serikat telah memenangkan perang, tetapi tetap perlu menuntaskan operasi militer.
“Kita tidak ingin pergi terlalu cepat, bukan? Kita harus menyelesaikan tugas ini,” kata Trump.
Harga minyak yang sebelumnya melonjak hingga mendekati US$120 per barel sempat turun ke sekitar US$90, namun kembali naik hampir 5% pada Rabu (11/3) dan terus menguat pada perdagangan Asia Kamis (12/3) akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Serangan terbaru menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan untuk membalas meskipun Pentagon menyebut operasi udara yang dilakukan merupakan yang paling intens sejak awal konflik.
Perahu bermuatan bahan peledak yang diduga milik Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak hingga terbakar dan menewaskan satu awak kapal. Sebelumnya, tiga kapal juga dilaporkan terkena proyektil di perairan Teluk.
Analis pasar dari IG Tony Sycamore menilai, serangan tersebut kemungkinan merupakan respons Iran terhadap langkah negara-negara konsumen energi untuk menurunkan harga minyak.
“Ini tampaknya merupakan respons langsung dan tegas dari Iran terhadap pengumuman IEA mengenai pelepasan besar-besaran cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga,” ujarnya.
International Energy Agency (IEA) sebelumnya merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global guna meredam salah satu guncangan harga energi terbesar sejak 1970-an.
Trump mengatakan langkah tersebut akan membantu menekan harga energi.
“Keputusan IEA ini akan secara signifikan menurunkan harga minyak seiring kami mengakhiri ancaman terhadap Amerika dan dunia,” ujarnya.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, Trump telah mengizinkan pelepasan 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve mulai pekan depan.
Namun hingga kini belum ada kepastian kapal dapat berlayar dengan aman melalui Selat Hormuz, jalur yang menjadi rute sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Seorang juru bicara militer Iran bahkan menyatakan selat tersebut kini berada di bawah kendali negaranya.
Negara-negara G7 yang terdiri dari AS, Kanada, Jepang, Italia, Inggris, Jerman, dan Prancis tengah mempertimbangkan opsi pengawalan kapal untuk menjaga kebebasan navigasi di kawasan Teluk.
Trump mengklaim militer AS telah menghancurkan 58 kapal angkatan laut Iran dan menyebut kemampuan militer Teheran semakin melemah.
Di sisi lain, Iran memperingatkan konflik dapat memicu guncangan ekonomi global yang lebih besar.
“Bersiaplah menghadapi harga minyak US$200 per barel, karena harga minyak sangat bergantung pada keamanan kawasan yang kini telah Anda destabilkan,” kata juru bicara militer Iran.
Iran juga memperingatkan bahwa pusat-pusat ekonomi dan perdagangan di kawasan dapat menjadi target sah jika fasilitas pelabuhan negaranya diserang.
Konflik ini semakin memperbesar risiko lonjakan harga energi global dan menambah ketidakpastian bagi perekonomian dunia.
Selat Hormuz Memanas: Iran Pasang Selusin Ranjau, Harga Minyak Melonjak
Iran telah memasang sekitar selusin ranjau di Selat Hormuz, kata dua sumber yang mengetahui masalah tersebut, sebuah langkah yang kemungkinan akan mempersulit pembukaan kembali jalur air sempit tersebut, jalur penting untuk pengiriman minyak dan gas alam cair.
Ekspor minyak dan LNG melalui jalur strategis di sepanjang pantai Iran secara efektif telah dihentikan oleh perang yang dilancarkan 12 hari lalu oleh Amerika Serikat dan Israel, yang turut mendorong lonjakan harga energi dunia.
Komando militer Iran pada hari Rabu (11/3/2026) mengatakan dunia harus bersiap menghadapi harga minyak yang mencapai US$ 200 per barel.
Satu sumber mengatakan, ranjau-ranjau tersebut ditempatkan "dalam beberapa hari terakhir" dan sebagian besar lokasinya telah diketahui. Namun sumber tersebut menolak untuk mengatakan bagaimana AS berencana untuk menanganinya.
CNN pertama kali melaporkan pemasangan ranjau di selat tersebut pada hari Selasa (10/3/2026).
Iran telah lama mengancam akan membalas setiap serangan militer dengan memasang ranjau di selat tersebut. Sekitar seperlima dari minyak dan LNG global biasanya melewati selat tersebut, dan kemampuan Teheran untuk menghentikan pengiriman melalui selat tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap AS dan sekutunya.
Militer AS mengatakan telah menargetkan kapal-kapal penebar ranjau Iran, dan telah menghancurkan 16 di antaranya pada hari Selasa. Namun, Angkatan Laut AS sejauh ini menolak untuk memberikan pengawal perlindungan kepada kapal-kapal komersial yang melewati selat tersebut.
Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menuntut agar Iran segera menyingkirkan ranjau apa pun yang ditempatkan di selat tersebut dan ia mengatakan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi militer yang tidak ditentukan jika gagal melakukannya.
Di mana, Harga minyak ditutup naik hampir 5% karena serangan baru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz memperburuk kekhawatiran akan gangguan pasokan, dan analis mengatakan proposal Badan Energi Internasional (IEA) untuk pelepasan cadangan minyak dalam jumlah rekor tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran tersebut.
Rabu (11/3/2026), harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 ditutup naik US$ 4,18, atau 4,8% ke US$ 91,98 per barel.
Sejalan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 juga ditutup naik US$ 3,80 atau 4,6% ke US$ 87,25 per barel.
Sebelumnya, tiga kapal lagi telah terkena proyektil di Selat Hormuz, kata perusahaan keamanan maritim dan risiko pada hari Rabu. Itu menjadikan jumlah kapal yang terkena di wilayah tersebut menjadi setidaknya 14 sejak perang Iran dimulai.
Sementara itu, IEA merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak, langkah terbesar dalam sejarahnya, untuk mencoba mengendalikan harga energi, yang sekarang naik lebih dari 25% sejak perang dimulai.
Kerangka waktu untuk pelepasan tersebut akan diputuskan pada waktunya, kata IEA. Volume yang diusulkan lebih dari dua kali lipat dari 182 juta barel yang dilepaskan pada tahun 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina, tetapi para analis mengatakan bahwa pada akhirnya jumlah tersebut tidak cukup untuk mengatasi kehilangan pasokan akibat perang berkepanjangan di Timur Tengah.
Intelijen AS: Pemerintah Iran Masih Kuat Meski Digempur Habis-habisan 2 Pekan
Laporan intelijen Amerika Serikat menunjukkan kepemimpinan Iran masih relatif utuh dan belum menghadapi ancaman runtuh dalam waktu dekat, meskipun negara itu telah menghadapi hampir dua pekan serangan udara intensif dari Amerika Serikat dan Israel.
Tiga sumber Reuters yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan berbagai analisis menunjukkan pemerintahan Iran masih mampu mempertahankan kendali atas negara dan masyarakatnya.
“Sejumlah laporan intelijen memberikan analisis yang konsisten bahwa rezim tidak berada dalam bahaya runtuh dan masih mempertahankan kontrol atas publik Iran,” ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Laporan intelijen terbaru disebut selesai disusun dalam beberapa hari terakhir.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap Presiden AS Donald Trump akibat melonjaknya harga minyak global. Trump sebelumnya mengisyaratkan bahwa operasi militer terbesar AS sejak 2003 itu kemungkinan akan segera diakhiri.
Namun mencari jalan keluar dari konflik diperkirakan tidak mudah jika kepemimpinan garis keras di Iran tetap bertahan kuat.
Laporan intelijen juga menyoroti soliditas kepemimpinan ulama di Iran meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas pada 28 Februari, hari pertama serangan gabungan AS dan Israel.
Seorang pejabat senior Israel mengatakan dalam diskusi internal pemerintahnya juga tidak ada kepastian bahwa perang ini akan menyebabkan runtuhnya pemerintahan ulama di Iran.
Meski demikian, para sumber menegaskan situasi di lapangan masih sangat dinamis dan perkembangan politik di dalam negeri Iran dapat berubah sewaktu-waktu.
Kantor Office of the Director of National Intelligence dan Central Intelligence Agency (CIA) menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut. Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan resmi.
Sejak perang dimulai, AS dan Israel telah menyerang berbagai target di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas nuklir, serta sejumlah tokoh senior pemerintah dan militer.
Pada awal operasi militer, Trump sempat menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka. Namun sejumlah pejabat tinggi AS kemudian menegaskan bahwa tujuan utama operasi bukan untuk menggulingkan pemerintah Iran.
Serangan tersebut telah menewaskan puluhan pejabat tinggi Iran dan sejumlah komandan penting dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan elite yang memiliki pengaruh besar dalam militer dan ekonomi Iran.
Meski demikian, laporan intelijen AS menyebut IRGC serta kepemimpinan sementara yang mengambil alih kekuasaan setelah kematian Khamenei masih mampu mengendalikan negara.
Awal pekan ini, Assembly of Experts, lembaga ulama senior Syiah, menetapkan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.
Sumber lain yang mengetahui situasi tersebut mengatakan Israel tidak berniat membiarkan sisa-sisa pemerintahan lama tetap bertahan.
Namun hingga kini belum jelas bagaimana kampanye militer AS-Israel saat ini dapat benar-benar menggulingkan pemerintahan Iran.
Menurut salah satu sumber, kemungkinan besar dibutuhkan operasi darat yang memungkinkan masyarakat Iran melakukan protes secara aman di jalanan.
Pemerintahan Trump sendiri belum menutup kemungkinan mengirim pasukan darat AS ke Iran.
Pekan lalu, Reuters melaporkan bahwa milisi Kurdi Iran yang berbasis di wilayah Kurdistan Irak sempat berdiskusi dengan pihak AS mengenai kemungkinan menyerang pasukan keamanan Iran di wilayah barat negara tersebut.
Serangan semacam itu dinilai dapat memberi tekanan pada aparat keamanan Iran dan membuka peluang bagi warga untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah.
Namun laporan intelijen terbaru AS meragukan kemampuan kelompok Kurdi Iran untuk mempertahankan pertempuran melawan aparat keamanan Iran.
Dua sumber yang mengetahui laporan tersebut mengatakan kelompok-kelompok itu kekurangan jumlah pasukan dan persenjataan yang memadai.
Pemimpin Komala Party of Iranian Kurdistan, Abdullah Mohtadi, sebelumnya mengatakan puluhan ribu pemuda siap mengangkat senjata melawan pemerintah jika mendapatkan dukungan dari AS.
Ia juga mengklaim sejumlah unit IRGC dan aparat keamanan telah meninggalkan pangkalan mereka di wilayah Kurdi karena khawatir terhadap serangan udara AS dan Israel.
Namun intelijen AS menilai klaim tersebut belum cukup menunjukkan bahwa kelompok Kurdi memiliki kemampuan militer untuk melawan pemerintah Iran secara efektif.
Kelompok Kurdi Iran dilaporkan juga telah meminta bantuan senjata dan kendaraan lapis baja kepada pejabat tinggi di Washington serta anggota Kongres AS.
Meski demikian, Presiden Trump pada Sabtu lalu menyatakan tidak akan mengizinkan kelompok Kurdi Iran untuk memasuki wilayah Iran dalam operasi militer tersebut.
Terungkap! 6 Hari Perang Lawan Iran, AS Habiskan US$ 11,3 Miliar
Para pejabat dari pemerintahan Presiden Donald Trump memperkirakan selama pengarahan kongres minggu ini bahwa enam hari pertama perang melawan Iran telah menelan biaya setidaknya US$ 11,3 miliar bagi Amerika Serikat, kata sebuah sumber yang mengetahui masalah tersebut pada hari Rabu (11/3/2026).
Angka tersebut, yang diperoleh dari pengarahan tertutup untuk para senator pada hari Selasa, tidak mencakup seluruh biaya perang, tetapi diberikan kepada para anggota parlemen karena mereka telah menuntut lebih banyak informasi tentang konflik tersebut.
Beberapa ajudan kongres mengatakan mereka memperkirakan Gedung Putih akan segera mengajukan permintaan kepada Kongres untuk pendanaan tambahan bagi perang tersebut. Beberapa pejabat mengatakan permintaan tersebut bisa mencapai US$ 50 miliar, sementara yang lain mengatakan perkiraan tersebut tampaknya terlalu rendah.
Pemerintahan belum memberikan penilaian publik tentang biaya konflik atau gambaran yang jelas tentang perkiraan durasinya. Trump mengatakan selama kunjungannya ke Kentucky pada hari Rabu bahwa "kita menang" dalam perang tersebut tetapi Amerika Serikat akan tetap berjuang untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Angka US$ 11,3 miliar pertama kali dilaporkan pada hari Rabu oleh New York Times.
Kampanye melawan Iran dimulai pada 28 Februari dengan serangan udara AS dan Israel dan sejauh ini telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sebagian besar warga Iran dan Lebanon, karena konflik telah menyebar ke Lebanon dan menyebabkan kekacauan di pasar energi global dan transportasi.
Para pejabat pemerintah juga telah memberi tahu anggota parlemen bahwa amunisi senilai US$ 5,6 miliar telah digunakan selama dua hari pertama serangan.
Anggota Kongres, yang mungkin segera harus menyetujui pendanaan tambahan untuk perang tersebut, telah menyatakan kekhawatiran bahwa konflik tersebut akan menguras persediaan militer AS pada saat industri pertahanan sudah berjuang untuk memenuhi permintaan.
Trump bertemu dengan para eksekutif dari tujuh kontraktor pertahanan minggu lalu saat Pentagon berupaya untuk mengisi kembali persediaan.
Para anggota parlemen dari Partai Demokrat telah menuntut kesaksian publik di bawah sumpah dari para pejabat pemerintahan tentang rencana presiden dari Partai Republik untuk perang tersebut, termasuk berapa lama perang itu mungkin berlangsung dan apa rencananya untuk Iran setelah pertempuran berhenti.
UNESCO Khawatir Situs Sejarah Iran Rusak Akibat Perang
UNESCO menyatakan keprihatinannya atas nasib situs warisan dunia di Iran dan wilayah sekitarnya, setelah beberapa bangunan bersejarah mengalami kerusakan akibat konflik.
Golestan Palace di Tehran, yang kerap dibandingkan dengan Istana Versailles di Prancis, serta sebuah masjid dan istana kuno di Isfahan, dilaporkan rusak dalam perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"UNESCO sangat prihatin atas dampak awal yang ditimbulkan oleh permusuhan terhadap banyak situs warisan dunia," ujar Lazare Eloundou Assomo, Direktur World Heritage Centre UNESCO.
Ia menambahkan kekhawatiran serupa untuk situs-situs di Israel, Lebanon, dan wilayah Timur Tengah lainnya.
Golestan Palace menjadi saksi kemegahan peradaban Iran abad ke-19. Istana ini dipilih sebagai kediaman kerajaan oleh keluarga Qajar dan mencerminkan pengaruh seni Eropa dalam kebudayaan Persia.
Shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi, bahkan menggelar upacara penobatannya di sini pada 1969.
"Kadang kita membandingkannya dengan Istana Versailles di Prancis, dan sayangnya istana ini mengalami beberapa kerusakan. Dari gambar yang kami terima, dapat dipastikan bangunan ini terdampak," kata Eloundou Assomo.
Foto-foto interior menunjukkan pecahan kaca, kayu hancur, dan perabotan rusak berserakan.
Isfahan, kota penting di Asia Tengah dan jalur perdagangan Jalur Sutra, juga terdampak. Masjid Jameh di Isfahan, berusia lebih dari 1.000 tahun, yang mencerminkan perkembangan seni Islam selama 12 abad, turut mengalami kerusakan.
UNESCO juga mencatat bangunan dekat zona penyangga situs prasejarah Lembah Khorramabad mengalami kerusakan.
UNESCO telah membagikan koordinat situs-situs penting ini kepada semua pihak terkait dan terus memantau situasi. "Kami menyerukan perlindungan semua situs budaya ... semua yang menceritakan sejarah peradaban di 18 negara di kawasan ini," tegas Eloundou Assomo.
Tiga Kapal Diserang di Selat Hormuz, Sehingga Total Ada 14 Kapal Sejak Konflik
Ada tiga kapal lagi diserang oleh proyektil tak dikenal di Strait of Hormuz, menurut perusahaan keamanan maritim. Sehingga total kapal yang terkena sejak konflik Iran dimulai mencapai 14 kapal.
Sejak Donald Trump dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari, pelayaran di selat sempit ini nyaris terhenti. Gangguan tersebut menahan ekspor sekitar seperlima pasokan minyak dunia, mendorong harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak 2022.
Kapal Mayuree Naree terkena dua proyektil saat melintasi selat pada Rabu (11/3/2026), menyebabkan kebakaran dan kerusakan ruang mesin, menurut operator kapal Precious Shipping. Tiga awak dilaporkan hilang dan diyakini terjebak di ruang mesin, sementara 20 kru lainnya berhasil dievakuasi ke Oman.
Gambar yang disediakan oleh angkatan laut Thailand menunjukkan asap keluar dari bagian belakang kapal. Sementara itu, Pengawal Revolusi Iran menyatakan kapal tersebut ditembak oleh unit mereka, menandai dugaan keterlibatan langsung pertama mereka dengan kapal.
Kapal kontainer berbendera Jepang ONE Majesty mengalami kerusakan ringan 46 km barat laut Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab, saat berlabuh di Teluk. Semua kru selamat, dan kapal tetap beroperasi normal.
Kapal bulk carrier berbendera Marshall Islands Star Gwyneth juga terkena proyektil di wilayah sekitar 50 mil barat laut Dubai, merusak lambung kapal namun tanpa korban awak.
Sejak konflik dimulai, Angkatan Laut AS menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan militer rutin melalui Selat Hormuz karena risiko serangan terlalu tinggi, meskipun Trump menyatakan kesiapan untuk mengawal kapal tanker jika diperlukan.
Insiden ini menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global dan risiko kenaikan harga lebih lanjut, seiring konflik AS-Israel dengan Iran terus berlanjut dan mengancam jalur ekspor energi utama dunia.
Dua Drone Jatuh Dekat Dubai Airport, Lalu Lintas Udara Terganggu
Dua drone jatuh di dekat Dubai International Airport pada Rabu (11/3/2026), sementara Bahrain mengevakuasi beberapa pesawat. Ini karena serangan infrastruktur terus mengganggu lalu lintas udara di Teluk.
Konflik AS-Israel terhadap Iran memasuki hari ke-12, menyebabkan puluhan ribu pembatalan penerbangan, pengalihan rute, dan perubahan jadwal di seluruh dunia, termasuk penutupan sebagian besar ruang udara Timur Tengah, termasuk Qatar, akibat ancaman misil dan drone.
Krisis ini telah menjadi yang terburuk bagi industri penerbangan sejak pandemi, karena Dubai International Airport, hub tersibuk untuk penumpang global, dan bandara regional lain adalah titik transit penting untuk perjalanan jarak jauh.
Konflik juga mengganggu jalur ekspor minyak utama, mendorong harga jet fuel naik, memicu kenaikan tarif beberapa rute, dan menimbulkan kekhawatiran terhadap permintaan perjalanan secara lebih luas. Kargo udara yang sensitif terhadap waktu juga terdampak parah. Pemerintah Vietnam memperingatkan maskapai domestiknya bisa menghadapi kekurangan bahan bakar mulai bulan depan.
Otoritas Penerbangan Sipil Bahrain memindahkan beberapa pesawat Gulf Air tanpa penumpang dan beberapa pesawat kargo ke bandara alternatif untuk “memastikan kelangsungan dan efisiensi operasi udara” selama krisis.
Data dari FlightRadar24 menunjukkan beberapa jet penumpang mengalihkan rute ke lokasi di Arab Saudi dalam 24 jam terakhir. Kantor media Dubai mengonfirmasi dua drone jatuh dekat bandara, namun lalu lintas udara tetap berjalan normal. Tidak ada kerusakan terlihat di bandara, meski empat orang mengalami luka-luka. Serangan ini menandai ancaman baru setelah bandara DXB sempat mengalami kerusakan pada hari pertama konflik, bersama bandara internasional Abu Dhabi dan Kuwait.
Maskapai regional seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways telah melanjutkan beberapa penerbangan, namun operasi masih jauh di bawah kapasitas normal. Data FlightRadar24 menunjukkan penerbangan harian oleh maskapai utama Uni Emirat Arab sempat mencapai lebih dari 600 selama akhir pekan, namun menurun sedikit pada Selasa.
Belanda Batalkan Pembatasan Penerbangan Tahunan di Bandara Schiphol
Supreme Court of the Netherlands pada Rabu membatalkan keputusan pemerintah yang sebelumnya membatasi jumlah penerbangan di Amsterdam Airport Schiphol, salah satu bandara tersibuk di Eropa.
Pengadilan menyatakan kebijakan pemerintah tahun 2024 yang menetapkan batas 478.000 penerbangan per tahun sebagai upaya mengurangi polusi kebisingan tidak memiliki dasar alasan yang cukup kuat.
Pemerintah Belanda mengatakan putusan tersebut menegaskan perlunya regulasi baru yang saat ini sedang disusun untuk memperkuat dasar hukum kebijakan lalu lintas udara mereka.
Kebijakan pembatasan penerbangan sebelumnya mendapat tantangan hukum dari maskapai penerbangan, yang menilai aturan itu terlalu ketat. Di sisi lain, aktivis iklim dan warga yang tinggal di sekitar bandara justru menuntut langkah yang lebih tegas untuk mengurangi kebisingan dan dampak lingkungan.
Dalam putusannya, pengadilan menyatakan pemerintah tidak mempertimbangkan perbedaan tingkat kebisingan dari berbagai jenis pesawat, sehingga batasan umum terhadap jumlah penerbangan dinilai tidak tepat.
Selain itu, pengadilan juga menilai belum jelas apakah pembatasan jumlah penerbangan tersebut benar-benar akan menurunkan tingkat kebisingan seperti yang diharapkan.
Meski membatalkan batas total penerbangan tahunan, pengadilan tetap mengizinkan pengurangan jumlah penerbangan pada malam hari, karena tidak ada pihak yang mengajukan banding terhadap bagian kebijakan tersebut.
Bandara Schiphol sendiri merupakan salah satu pusat penerbangan utama di Eropa yang melayani ratusan ribu penerbangan setiap tahun serta menjadi hub penting bagi perjalanan internasional.