News Komoditi & Global ( Jumat, 13 Februari 2026 )
News Komoditi & Global ( Jumat, 13 Februari 2026 )
Harga Emas Global Anjlok di Tengah Permintaan Dolar AS yang Mendadak
Harga Emas tetap lesu sepanjang paruh pertama hari Kamis, tetapi permintaan Dolar AS (USD) yang tiba-tiba di perdagangan sesi Amerika membuat pasangan ini terjun ke $4.878,71, terendah minggu ini.
Keruntuhan Wall Street sebagian menjelaskan penguatan USD, dengan semua indeks utama AS berbalik menjadi negatif di tengah pembaruan kekhawatiran terhadap saham-saham teknologi yang dinilai terlalu tinggi. Sektor real estat juga menderita setelah beberapa komentar dari Elon Musk tentang mengirimnya ke luar angkasa.
Selain itu, sebuah memo Rusia mengisyaratkan lebih banyak kolaborasi antara negara tersebut dan AS terkait energi dan mineral, bahkan kemungkinan Rusia kembali ke sistem USD.
Terakhir, laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang solid kembali berperan. Data yang optimis secara temporer mendorong USD, tetapi tanpa bantuan tambahan, Greenback tidak memiliki ruang untuk bergerak. Katalis terbaru yang menambah kasus bullish USD dipicu pada hari Rabu oleh laporan NFP.
Para pelaku pasar juga menunggu rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk bulan Januari. Inflasi diprakirakan beragam, dengan ekspektasi inflasi bulanan stabil di 0,3% dan penurunan tahunan yang moderat, yang tidak dapat mempengaruhi keputusan-keputusan Federal Reserve di masa depan.
Kembali ke Emas, logam mulia ini tidak mampu mendapatkan keuntungan dari lingkungan yang menghindari risiko; namun, volatilitas di sekitar logam mulia ini tinggi, dengan harga sekarang diperdagangkan lebih dari $70,00 di atas terendah dalam perdagangan harian.
Harga Minyak Dunia Turun, Pasokan Diproyeksi Naik di Tengah Meredanya Risiko Geopolitik
Harga minyak turun pada Kamis (13/2/2026) karena penurunan permintaan, meredanya kekhawatiran akan konflik Timur Tengah yang kembali terjadi, dan perkiraan peningkatan pasokan.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup pada US$ 67,52 per barel, turun US$ 1,88, atau 2,71%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada harga US$ 62,84 per barel, turun US$ 1,79, atau 2,77%.
Badan Energi Internasional (IEA)mengatakan, permintaan minyak global akan meningkat lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya tahun ini. IEA juga memproyeksikan surplus yang cukup besar meskipun terjadi gangguan yang mengurangi pasokan pada bulan Januari.
Harga acuan Brent dan WTI membalikkan kenaikan menjadi negatif setelah laporan bulanan IEA, setelah sebelumnya mendapat dukungan dari kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat meninggalkan Washington mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tampaknya sedang merumuskan solusi untuk konflik dengan Iran terkait senjata nuklir.
"Fakta bahwa Presiden Trump terus bernegosiasi dengan Iran akan menyebabkan pengurangan risiko geopolitik," kata Andrew Lipow, presiden perusahaan konsultan Lipow Oil Associates.
Perkiraan IEA menawarkan pengurangan permintaan yang "cukup signifikan" untuk tahun 2026, kata Lipow.
"Pasar ini mengantisipasi peningkatan pasokan dari Venezuela," katanya.
Pada hari Rabu, Trump mengatakan setelah pembicaraan dengan Netanyahu bahwa mereka belum mencapai kesepakatan pasti tentang bagaimana melanjutkan dengan Iran, tetapi negosiasi dengan Teheran akan berlanjut.
Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa ia mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan tidak tercapai dengan Iran. Tanggal dan tempat putaran pembicaraan berikutnya belum diumumkan. Peningkatan persediaan minyak mentah AS yang besar telah membatasi kenaikan harga awal. Persediaan minyak mentah AS meningkat sebesar 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pekan lalu, menurut Badan Informasi Energi (EIA), jauh melebihi peningkatan 793.000 barel yang diperkirakan oleh analis dalam jajak pendapat Reuters.
Tingkat pemanfaatan kilang AS turun sebesar 1,1 poin persentase dalam pekan tersebut menjadi 89,4%, menurut data EIA.
Dari sisi pasokan, ekspor produk minyak Rusia melalui jalur laut pada bulan Januari meningkat sebesar 0,7% dari bulan Desember menjadi 9,12 juta metrik ton karena produksi bahan bakar yang tinggi dan penurunan musiman dalam permintaan domestik, menurut data dari sumber industri dan perhitungan Reuters.
Wall Street Menguat Tipis, Data Tenaga Kerja Redam Kekhawatiran Ekonomi AS
Indeks utama Wall Street dibuka menguat tipis pada perdagangan Kamis (12/2/2026), setelah data tenaga kerja Amerika Serikat yang solid meredakan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi Negeri Paman Sam.
Perhatian investor kini beralih ke rilis kinerja keuangan sejumlah perusahaan besar.
Pada awal perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 48,9 poin atau 0,10% ke level 50.170,27. Indeks S&P 500 menguat 0,23% ke posisi 6.957,54, sementara Nasdaq Composite naik 0,33% ke level 23.142,87.
Penguatan ini terjadi sehari setelah laporan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih baik dari perkiraan serta penurunan tingkat pengangguran. Data tersebut memberi sinyal bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh.
Pelaku pasar merasa lebih tenang, meski ekspektasi penurunan suku bunga mulai dikoreksi.
Berdasarkan FedWatch CME Group, peluang bank sentral AS memangkas suku bunga setidaknya sekali pada Juni masih terbuka, namun kemungkinan The Fed menahan suku bunga kini naik mendekati 40%.
Klaim tunjangan pengangguran mingguan juga turun, meski penurunannya tidak sedalam yang diharapkan pasar.
Fokus berikutnya tertuju pada data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) Januari yang akan dirilis Jumat, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.
“Inflasi yang berpotensi melandai akan menjaga The Fed tetap pada jalur pelonggaran,” tulis UBS Global Wealth Management. Mereka menilai pemangkasan suku bunga di luar masa resesi “positif bagi pasar saham”.
Di sisi lain, pasar masih sensitif terhadap dampak disrupsi kecerdasan buatan (AI). Saham sektor perangkat lunak kembali tertekan, sementara saham perusahaan pialang memperpanjang pelemahan.
Saham AppLovin anjlok 7,2% setelah merilis kinerja kuartal IV. Sepanjang enam pekan awal tahun, nilai saham perusahaan ini sudah merosot hampir 30% akibat persaingan yang makin ketat.
Saham produsen komputer pribadi juga melemah setelah Lenovo memperingatkan tekanan pengiriman akibat kelangkaan chip memori. Saham HP dan Dell masing-masing turun sekitar 4%.
Di tengah tekanan tersebut, laporan kinerja emiten tetap menjadi penggerak pasar. Saham Howmet Aerospace naik 4,8% di perdagangan prapasar setelah memproyeksikan laba kuartal I di atas ekspektasi.
Sebaliknya, saham Cisco jatuh sekitar 6% usai mencatat margin kotor yang lebih rendah dari perkiraan.
Pasar juga menanti pernyataan pejabat The Fed, termasuk Presiden The Fed Dallas Lorie Logan dan Gubernur Stephen Miran.
Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan China dilaporkan berpeluang memperpanjang gencatan dagang hingga satu tahun. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut akan bertemu di Beijing pada awal April.
Sementara itu, DPR AS secara tipis menyetujui langkah untuk membatalkan tarif terhadap Kanada, dengan menghentikan status darurat nasional yang selama ini menjadi dasar kebijakan tarif tersebut.
Defisit Anggaran AS Terus Membengkak di Era Trump, Tembus 6,7% PDB pada 2036
Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) diproyeksikan terus melebar dalam satu dekade ke depan di tengah kebijakan pemotongan pajak dan tarif Presiden Donald Trump, menurut proyeksi terbaru Congressional Budget Office (CBO).
Melansir Reuters Kamis (12/2/2026), CBO memperkirakan defisit fiskal tahun 2026 tahun fiskal penuh pertama Trump mencapai US$1,853 triliun atau sekitar 5,8% dari produk domestik bruto (PDB), sedikit lebih tinggi dibandingkan defisit 2025 sebesar US$1,775 triliun.
Dalam jangka panjang, rasio defisit terhadap PDB diperkirakan rata-rata 6,1% selama 10 tahun ke depan dan meningkat menjadi 6,7% pada 2036.
Angka tersebut jauh di atas target Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang ingin menekan rasio defisit ke sekitar 3% PDB.
“Defisit besar yang berkelanjutan seperti ini secara historis tidak lazim, apalagi ketika tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di bawah 5%,” kata Direktur CBO Phillip Swagel.
Gedung Putih membantah proyeksi tersebut. Juru bicara Gedung Putih Kush Desai menilai CBO kerap meremehkan pertumbuhan ekonomi dan menegaskan kebijakan Trump justru akan memperkecil rasio defisit terhadap PDB.
Perbedaan utama terletak pada asumsi pertumbuhan ekonomi. CBO memproyeksikan pertumbuhan riil PDB 2026 sebesar 2,2% (basis kuartal IV) dan rata-rata 1,8% untuk sisa dekade.
Sebaliknya, pemerintahan Trump mematok pertumbuhan 3–4% pada 2026, bahkan memperkirakan kuartal I bisa melampaui 6% berkat lonjakan investasi pabrik dan pusat data kecerdasan buatan (AI).
Namun, CBO hanya memperkirakan dorongan nominal dari produktivitas AI sekitar 10 basis poin per tahun, lebih kecil dari ekspektasi pemerintah.
CBO menyebut paket kebijakan fiskal Trump yang memperpanjang pemotongan pajak 2017 dan memangkas belanja program sosial seperti Medicaid akan menambah defisit sebesar US$4,7 triliun dalam 10 tahun.
Penurunan imigrasi juga diperkirakan menambah beban defisit US$500 miliar karena memperlambat pertumbuhan angkatan kerja.
Di sisi lain, pendapatan tambahan dari tarif impor diproyeksikan memangkas defisit sekitar US$3 triliun, termasuk efek ekonomi dan pengurangan pembayaran bunga utang.
Secara kumulatif, defisit periode 2026–2035 diperkirakan US$1,4 triliun lebih besar dibandingkan proyeksi CBO pada Januari 2025.
Meski terdapat penghematan belanja diskresioner termasuk dari program efisiensi pemerintahan penurunan ini relatif kecil dibandingkan lonjakan biaya bunga utang.
Biaya bunga bersih diproyeksikan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$2 triliun pada 2035, dari US$970 miliar pada 2025.
Total utang publik AS diperkirakan naik menjadi US$56,15 triliun atau 120% PDB pada 2036, dibandingkan US$30,17 triliun atau 99% PDB pada 2025.
Pada 2030, rasio utang terhadap PDB akan melampaui rekor 106% yang tercapai pada 1946 setelah Perang Dunia II.
“Tidak ada cara untuk mempermanisnya: kesehatan fiskal Amerika semakin mengkhawatirkan,” ujar Jonathan Burks dari Bipartisan Policy Center.
“Defisit sebesar ini belum pernah terjadi pada ekonomi yang sedang tumbuh dan dalam kondisi damai.”
Ini Kata Orang Pintar Soal Langkah China Kurangi Kepemilikan Utang AS
China dikabarkan menginstruksikan bank-banknya untuk mengurangi kepemilikan surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) pekan ini. Langkah tersebut langsung memicu kembali perbincangan soal narasi “Sell America” di pasar global.
Melansir Business Insider, regulator China menyebut kebijakan ini berkaitan dengan risiko volatilitas dan konsentrasi pada aset utang AS. Secara resmi, langkah tersebut tidak secara langsung ditujukan sebagai kritik terhadap sistem keuangan global berbasis dolar.
Namun, para pengamat pasar melihat kebijakan ini sebagai bagian dari dinamika geopolitik yang semakin memengaruhi pergerakan pasar dalam setahun terakhir.
Bloomberg melaporkan bahwa bank-bank China secara kolektif memegang sekitar US$ 298 miliar obligasi berdenominasi dolar AS. Meski begitu, belum diketahui secara pasti berapa porsi yang benar-benar merupakan US Treasury, dibandingkan dengan obligasi korporasi AS atau instrumen lainnya.
Sejauh ini, dampaknya terhadap imbal hasil (yield) US Treasury masih terbatas. Namun, para ekonom dan pelaku pasar menilai kebijakan ini bisa menimbulkan efek lanjutan di masa depan.
Berikut pandangan para pakar:
Peneliti senior di lembaga pemikir kebijakan ekonomi ini menyatakan kekhawatiran besar terhadap dampak keputusan China bagi Amerika Serikat, terutama karena negara lain juga mulai mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar.
Menurutnya, AS sangat bergantung pada investor asing untuk terus membeli US Treasury guna membiayai kebutuhan fiskal.
“Amerika sangat membutuhkan pembelian US Treasury oleh investor asing. Hal terakhir yang dibutuhkan adalah mereka mulai menjual obligasi pemerintah AS,” ujarnya kepada Business Insider.
Ia menambahkan, investor asing memegang sekitar 30% dari total US Treasury yang beredar.
“Jika pembelian obligasi pemerintah oleh asing mengering, hal itu bisa memicu krisis pasar obligasi dan dolar AS.”
Setser menilai dampak kebijakan China ini tidak sebesar yang dikhawatirkan sebagian pihak. Ia melihat keputusan tersebut lebih sebagai bagian dari upaya China menstabilkan ekonominya sendiri dan melindungi diri dari volatilitas global.
Menurutnya, investor global seharusnya lebih memperhatikan arus dana yang terkait dengan manajemen nilai tukar yuan.
“Meskipun ada peringatan ini, saya menduga institusi negara China akan kesulitan mencari alternatif yang benar-benar sebanding dengan pasar US Treasury, terutama jika mereka perlu membeli hingga US$ 50 miliar per bulan untuk mengendalikan apresiasi yuan,” katanya.
Ekonom dari Cato Institute ini juga menilai keputusan China tidak perlu dilihat sebagai ancaman geopolitik besar bagi AS.
Ia menilai banyak pihak terlalu melebih-lebihkan seberapa besar kepemilikan utang AS oleh China.
“Orang-orang terlalu melebih-lebihkan seberapa besar nilai utang pemerintah AS yang benar-benar dimiliki China. Jumlahnya tidak cukup besar untuk menjatuhkan pasar AS,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa jika terjadi aksi jual besar-besaran, dampak ke pasar tetap akan terasa. Namun, menurutnya, skenario tersebut kecil kemungkinan terjadi.
Ren melihat langkah China ini lebih bernuansa geopolitik dibandingkan pendapat para analis lainnya.
“Langkah ini sebagian besar bersifat geopolitik, sementara faktor keuangan menjadi sekunder,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa China masih menggunakan US Treasury sebagai bagian dari manajemen nilai tukar, sehingga likuidasi besar-besaran dalam waktu dekat kecil kemungkinannya.
Namun, ia menilai persiapan menghadapi potensi konflik regional, termasuk di sekitar Jepang atau Selat Taiwan, mendorong kedua negara untuk mengurangi ketergantungan finansial satu sama lain.
Menurut Ren, China kemungkinan tidak akan kembali menjadi pembeli bersih utang pemerintah AS sampai tercapai keseimbangan baru dalam hubungan kedua negara.
Kepala strategi China di Alpine Macro menilai kebijakan ini terutama terkait dengan manajemen risiko, meskipun faktor geopolitik juga berperan.
“China telah mengurangi kepemilikan aset AS, khususnya US Treasury, dalam beberapa tahun terakhir, dan lajunya meningkat tajam sejak invasi Rusia ke Ukraina,” ujarnya.
Menurut Wang, tujuan strategis utama Beijing adalah mengurangi kerentanan terhadap potensi sanksi AS dalam kondisi tekanan geopolitik yang ekstrem.
Ia memperkirakan China akan terus mengurangi kepemilikan utang pemerintah AS. Saat ini, US Treasury diperkirakan mencakup sekitar 20% dari cadangan devisa China, angka yang dinilai sudah berada di atas tingkat kenyamanan pemerintah China.
Israel Gabung “Board of Peace” Inisiatif Trump, Netanyahu Teken Aksesi di Washington
Israel akan bergabung dalam inisiatif “Board of Peace” yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Rabu (11/2/2026) saat kunjungannya ke Washington.
Setelah bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Netanyahu menyatakan melalui platform X bahwa ia telah menandatangani aksesi Israel sebagai anggota “Board of Peace”.
Netanyahu berada di Washington untuk membahas isu Iran bersama Presiden Trump.
Resolusi Dewan Keamanan PBB yang diadopsi pertengahan November lalu memberi mandat kepada dewan tersebut dan negara-negara yang bekerja sama dengannya untuk membentuk pasukan stabilisasi internasional di Gaza.
Gencatan senjata yang rapuh di wilayah itu dimulai pada Oktober berdasarkan rencana Trump yang disetujui Israel dan kelompok militan Palestina Hamas.
Dalam rencana awal untuk Gaza, dewan tersebut ditujukan untuk mengawasi pemerintahan sementara wilayah itu. Namun kemudian Trump menyatakan dewan dengan dirinya sebagai ketua akan diperluas untuk menangani konflik global.
Dewan dijadwalkan menggelar pertemuan perdana pada 19 Februari di Washington untuk membahas rekonstruksi Gaza.
Sejumlah pakar hak asasi manusia menilai langkah Trump memimpin dewan yang mengawasi urusan wilayah asing menyerupai struktur kolonial.
Keterlibatan Israel diperkirakan akan memicu kritik tambahan, mengingat tidak ada perwakilan Palestina dalam susunan dewan tersebut.
Respons internasional terhadap undangan Trump untuk bergabung dalam dewan yang diluncurkan akhir Januari itu cenderung hati-hati.
Sejumlah analis khawatir inisiatif tersebut berpotensi melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sebagian sekutu AS di Timur Tengah telah bergabung, namun banyak sekutu tradisional Barat memilih untuk tidak ikut serta.
Gencatan senjata di Gaza telah berulang kali dilaporkan dilanggar. Pejabat kesehatan Gaza menyebut sedikitnya 580 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata dimulai Oktober lalu, sementara empat tentara Israel dilaporkan tewas dalam periode yang sama.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dalam serangan Israel, yang juga memicu krisis kelaparan dan membuat seluruh populasi Gaza mengungsi secara internal.
Sejumlah pakar hak asasi, akademisi, dan sebuah penyelidikan PBB menyebut operasi tersebut sebagai genosida.
Israel menolak tudingan itu dan menyatakan tindakannya merupakan bentuk pembelaan diri setelah serangan kelompok militan yang dipimpin Hamas pada akhir 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang.
Gubernur RBA: Bank Sentral Bakal Kerek Suku Bunga Lagi Jika Inflasi Memanas
Gubernur bank sentral Australia mengatakan pada hari Kamis bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga lagi jika inflasi semakin mengakar. Hal itu diungkapkan setelah Reserve Bank of Australia (RBA) baru saja mengerek suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir pada pekan lalu.
Gubernur Bank Sentral Australia (RBA), Michele Bullock, mengatakan bahwa saat ini belum jelas apakah menurunkan inflasi akan memerlukan kenaikan suku bunga lebih lanjut, dan para pembuat kebijakan akan memantau data dengan cermat.
"Jika kita perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut karena inflasi sudah mengakar, dewan akan melakukannya karena itu adalah mandat utamanya," kata Bullock ketika ditanya oleh anggota parlemen.
RBA menaikkan suku bunga acuannya pekan lalu sebesar seperempat poin menjadi 3,85%, membalikkan salah satu dari tiga pemotongan yang dilakukan tahun lalu.
Inflasi inti meningkat menjadi 3,4% pada kuartal lalu, laju tercepat dalam lebih dari setahun, dan diperkirakan akan mencapai 3,7% tahun ini, berdasarkan perkiraan RBA sendiri.
Perkiraan tersebut berpusat pada asumsi teknis pengetatan tambahan sedikit lebih dari satu kenaikan suku bunga lagi tahun ini. Bullock mengatakan tidak jelas apakah kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan mengingat ketidakpastian dalam perkiraan.
Pasar mengimplikasikan sekitar 75% kemungkinan suku bunga akan naik menjadi 4,10% pada pertemuan RBA bulan Mei, setelah rilis angka inflasi kuartal pertama.
Laba ANZ Melonjak 17%, Saham Cetak Rekor Usai Program Efisiensi
Saham ANZ Group melonjak ke level tertinggi sepanjang masa pada Kamis (12/2/2026) setelah laba tunai kuartal pertama bank tersebut melampaui ekspektasi pasar, didorong percepatan program pemangkasan biaya di bawah kepemimpinan CEO baru Nuno Matos.
Melansir Reuters, laba tunai untuk tiga bulan hingga 31 Desember tercatat sebesar A$1,94 miliar (US$1,38 miliar), naik 17% dibandingkan rata-rata kuartalan semester II 2025. Sementara laba bersih secara statutory mencapai A$1,87 miliar.
Return on tangible equity (ROTE) meningkat 173 basis poin menjadi 11,7%, mencerminkan efisiensi bank dalam mengonversi modal menjadi laba.
ANZ menyebut sekitar 60% dari total rencana pemangkasan 3.500 karyawan telah direalisasikan hingga akhir 2025.
Langkah tersebut berkontribusi pada penurunan beban operasional sebesar 8% pada kuartal berjalan.
“Program produktivitas kami yang bertujuan menghilangkan duplikasi dan menyederhanakan bank sudah berjalan baik, menghasilkan penurunan biaya signifikan sekaligus mendorong pertumbuhan pendapatan,” ujar Matos dalam pernyataan resminya.
Saham ANZ sempat melonjak hingga 7,9% ke rekor A$40,14 pada awal perdagangan sebelum sedikit terkoreksi ke A$39,80. Sebagai perbandingan, indeks S&P/ASX200 naik 0,3%.
Kinerja laba ANZ tercatat 6% di atas proyeksi Citigroup, sementara pendapatan sebesar A$5,7 miliar sesuai ekspektasi analis.
Analis Citigroup Thomas Strong mengatakan kejutan positif terutama berasal dari percepatan efisiensi biaya, dengan realisasi biaya sekitar 3% lebih rendah dari perkiraan.
Program restrukturisasi yang diluncurkan Matos sejak pertengahan tahun lalu mencakup pemutusan 3.500 karyawan, pengurangan 1.000 kontraktor, serta beban restrukturisasi sebesar A$560 juta.
Sejumlah proyek yang tidak selaras dengan prioritas strategis juga dihentikan.
Dari sisi permodalan, rasio common equity tier 1 (CET1) naik tipis menjadi 12,15% per 31 Desember dari 12,03% pada akhir September.
Rasio cost-to-income turun menjadi 49,5%, seiring penurunan beban operasional 21% dibandingkan rata-rata kuartalan semester sebelumnya.
Pendapatan kuartalan naik 1% (di luar pos signifikan), dengan net interest margin (NIM) meningkat 2 basis poin menjadi 1,56%.
Perubahan komposisi pendanaan membantu mengimbangi tekanan pemangkasan suku bunga bank sentral dan ketatnya persaingan kredit.
ANZ juga menyatakan kualitas kredit tetap tangguh, ditandai dengan penurunan kredit pemilikan rumah di Australia yang menunggak lebih dari 90 hari.
Penjahat Perang Benjamin Netanyahu Resmi Gabung Board of Peace
Israel secara resmi bergabung dengan Dewan Perdamaian pada hari Rabu menjelang pertemuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih.
Netanyahu menandatangani dokumen tersebut di hadapan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sesaat sebelum jadwal pembicaraannya dengan Presiden AS Donald Trump. Ini menandai langkah diplomatik ketika kedua pemimpin bersiap untuk membahas langkah terkini di Timur Tengah.
Perdana Menteri yang diburu Mahkamah Pidana Internasional (ICJ) atas kejahatan perang tersebut mengatakan pada X bahwa meskipun perundingan tersebut akan mencakup beberapa isu, termasuk Gaza, perundingan tersebut “pertama dan terpenting” akan berpusat pada perundingan dengan Iran.
Para pemimpin dari 17 negara berpartisipasi dalam upacara penandatanganan piagam Dewan Perdamaian Gaza di Davos, Swiss, pada akhir Januari. Anggotanya termasuk presiden dan pejabat senior pemerintah dari negara-negara Muslim termasuk Presiden RI Prabowo Subianto.
Netanyahu tidak hadir pada upacara tersebut, di mana para pemimpin dunia menandatangani piagam pendirian bersama Trump, yang duduk di tengah panggung.
Namun, kantornya sebelumnya mengatakan bahwa dia akan menerima undangan Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian. Ini setelah Israel sempat menolak menyusul kekhawatiran sebelumnya yang dia kemukakan mengenai susunan dewan eksekutif Gaza, khususnya peran Qatar dan Turki.
Resolusi Dewan Keamanan PBB, yang diadopsi pada pertengahan bulan November, memberi wewenang kepada dewan tersebut dan negara-negara yang bekerja dengannya untuk membentuk kekuatan stabilisasi internasional di Gaza, tempat gencatan senjata yang rapuh dimulai pada bulan Oktober berdasarkan rencana Trump yang ditandatangani oleh Israel dan kelompok pejuang Palestina, Hamas.
Berdasarkan rencana Trump di Gaza, dewan tersebut dimaksudkan untuk mengawasi pemerintahan sementara di Gaza. Trump kemudian mengatakan dewan tersebut, dengan dia sebagai ketuanya, akan diperluas untuk mengatasi konflik global. Dewan tersebut akan mengadakan pertemuan pertamanya pada 19 Februari di Washington untuk membahas rekonstruksi Gaza.
Banyak pakar hak asasi manusia mengatakan bahwa Trump yang mengawasi dewan yang mengawasi urusan wilayah asing mirip dengan struktur kolonial. Kehadiran Israel di dewan tersebut diperkirakan akan menimbulkan kritik lebih lanjut karena dewan tersebut tidak menyertakan warga Palestina.
Negara-negara bereaksi dengan hati-hati terhadap undangan Trump untuk bergabung dengan dewan yang diluncurkan pada akhir Januari. Banyak ahli khawatir bahwa dewan tersebut dapat melemahkan PBB. Meskipun beberapa sekutu Washington di Timur Tengah telah bergabung, banyak sekutu tradisional Barat yang menjauh.
Gencatan senjata di Gaza telah berulang kali dilanggar, dengan setidaknya 580 warga Palestina syahid, kata pejabat kesehatan Gaza, dan empat tentara Israel dilaporkan tewas sejak gencatan senjata dimulai pada bulan Oktober.
Serangan brutal Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan Gaza, dan menyebabkan krisis kelaparan dan membuat seluruh penduduk Gaza mengungsi.
Berbagai pakar hak asasi manusia, cendekiawan, dan penyelidikan PBB mengatakan hal ini sama dengan genosida. Israel menyebut tindakannya sebagai pembelaan diri setelah pejuang Palestina menyerang Israel pada 7 Oktober 2023 dalam upaya membebaskan Aza dari blokade tak manusiawi selama puluhan tahun.
Serangan itu diklaim Israel menewaskan 1.200 orang meski banyak investigasi belakangan menyimpulkan sebagian dibunuh pasukan Israel sendiri sebagai bagian dari protokol Hanibal.
Prancis Kutuk Upaya Israel Perluas Penjajahan di Tepi Barat, Dinilai Hambat Upaya Solusi Dua Negara
Pemerintah Prancis mengutuk kebijakan terbaru Israel yang bertujuan memperluas kontrol mereka atas wilayah Tepi Barat. Paris menilai, hal itu menjadi pukulan serius yang berisiko semakin mengancam solusi dua negara.
"Prancis mengutuk keras keputusan-keputusan terbaru oleh kabinet keamanan Israel yang bertujuan untuk memperluas kendali Israel atas Tepi Barat, termasuk Area A dan B. Keputusan-keputusan ini bertentangan dengan hukum internasional dan merupakan tantangan berbahaya bagi Kesepakatan Oslo dan Protokol Hebron," kata Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Prancis, Selasa (10/2/2026), dikutip dari laman Anadolu Agency.
Menurut Prancis, kebijakan terbaru Israel akan berkontribusi pada kemajuan "logika aneksasi Tepi Barat" dan pukulan serius bagi prospek solusi dua negara. Prancis pun menyinggung tentang upaya yang kini tengah berjalan terkait pelaksanaan rencama perdamaian di Jalur Gaza.
"Pada saat upaya internasional difokuskan pada implementasi fase kedua rencana perdamaian Gaza, keputusan-keputusan ini merusak upaya perdamaian yang sedang berlangsung dan berisiko memicu ketegangan. Kami menyerukan kepada Israel untuk segera membatalkan keputusan-keputusan ini dan menegaskan kembali penentangan tegas kami terhadap segala bentuk aneksasi," kata Kemenlu Prancis.
Pada Ahad (8/2/2026) lalu, kabinet keamanan Israel menyetujui sejumlah aturan baru yang bertujuan mengubah kerangka hukum dan sipil di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Salah satunya meniadakan larangan warga Yahudi Israel membeli tanah di Tepi Barat.
Selain itu, aturan baru termasuk memberi wewenang kepada otoritas Israel untuk mengelola beberapa situs keagamaan dan peningkatan pengawasan serta penegakan hukum Israel di wilayah yang dikelola Otoritas Palestina.
Berdasarkan Kesepakatan Oslo tahun 1995, wilayah dan kewenangan Israel-Palestina atas Tepi Barat dibagi menjadi tiga, yakni area A, B, dan C. Area A adalah wilayah yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Palestina. Sementara Area B merupakan wilayah yang dikendalikan Otoritas Palestina, tapi sektor keamanannya dikontrol Israel.
Sedangkan Area C adalah wilayah yang sepenuhnya dikuasai Israel. Namun pembagian wilayah itu dianggap tak adil. Pasalnya, Area C merupakan wilayah pertanian dan sumber air utama Tepi Barat. Dari waktu ke waktu, otoritas Israel kerap merintangi upaya kepemilikan tanah, bahkan merobohkan bangunan milik warga Palestina di Area C.
Otoritas Palestina, pada Ahad pekan lalu, mengkritik tajam aturan-aturan baru yang disetujui kabinet keamanan Israel. Palestina mengatakan bahwa keputusan tersebut berbahaya dan membuka pintu bagi Israel untuk melegalkan perluasan permukiman ilegalnya di wilayah Tepi Barat.
Israel Gunakan Bom Terlarang Uapkan Ribuan Warga Gaza tanpa Jejak
Israel dilaporkan menggunakan sejumlah bom terlarang buatan Amerika Serikat di Jalur Gaza. Bom itu menguapkan ribuan syuhada di Jalur Gaza menjadi abu nyaris tanpa sisa..
Menurut investigasi Aljazirah Arab, tim Pertahanan Sipil di Gaza telah mendokumentasikan 2.842 warga Palestina yang telah “menguap” sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Para korban tidak meninggalkan sisa selain cipratan darah atau potongan kecil daging.
Para ahli dan saksi mengaitkan fenomena ini dengan penggunaan sistematis senjata termal dan termobarik oleh Israel. Senjata yang dilarang secara internasional itu sering disebut sebagai bom vakum atau aerosol, yang mampu menghasilkan suhu melebihi 3.500 derajat Celcius.
Yasmin Mahani warga Gaza menjadi saksi penggunaan bom itu di sekolah al-Tabi'in di Kota Gaza saat fajar tanggal 10 Agustus 2024. Ia kala itu mencari putranya Saad. Mahani menemukan suaminya berteriak kesakitan, tapi Saad tidak ada jejaknya.
“Saya masuk ke masjid dan menginjak daging dan darah,” kata Mahani kepada Aljazirah Arab pada Senin. Dia mencari jenazah anaknya di rumah sakit dan kamar mayat selama berhari-hari. "Kami tidak menemukan apa pun tentang Saad. Bahkan tidak ada jenazah yang bisa dikuburkan."
Jumlah 2.842 orang tersebut bukanlah perkiraan, namun merupakan hasil perhitungan forensik yang suram oleh Pertahanan Sipil Gaza. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza Mahmoud Basal menjelaskan bahwa tim menggunakan “metode eliminasi” di lokasi serangan.
“Kami memasuki rumah yang menjadi target dan melakukan referensi silang terhadap jumlah penghuni yang diketahui bagian dari jenazah yang ditemukan,” kata Basal.
“Jika sebuah keluarga memberi tahu kami bahwa ada lima orang di dalam, dan kami hanya menemukan tiga jenazah utuh, kami menganggap dua jenazah lainnya ‘menguap’ hanya setelah pencarian menyeluruh tidak menghasilkan apapun selain jejak biologis—cipratan darah ke dinding atau pecahan kecil seperti kulit kepala,” tambahnya.
Investigasi tersebut merinci bagaimana komposisi kimia tertentu dalam amunisi Israel mengubah tubuh manusia menjadi abu dalam hitungan detik.
Vasily Fatigarov, pakar militer Rusia, menjelaskan bahwa senjata termobarik tidak hanya membunuh; mereka melenyapkan materi. Tidak seperti bahan peledak konvensional, senjata ini menyebarkan awan bahan bakar yang terbakar sehingga menciptakan bola api yang sangat besar dan efek vakum.
“Untuk memperpanjang waktu pembakaran, bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan ke dalam campuran kimia,” kata Fatigarov. “Hal ini meningkatkan suhu ledakan menjadi antara 2.500 dan 3.000 derajat Celcius.”
Menurut penyelidikan, panas yang hebat sering kali dihasilkan oleh tritonal, campuran TNT dan bubuk aluminium yang digunakan dalam bom buatan Amerika Serikat seperti MK-84.
Dr Munir al-Bursh, direktur jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, menjelaskan dampak biologis dari panas ekstrem terhadap tubuh manusia, yang sekitar 80 persennya terdiri dari air.
“Titik didih air adalah 100 derajat Celcius,” kata al-Bursh. "Ketika tubuh terkena energi melebihi 3.000 derajat yang dikombinasikan dengan tekanan besar dan oksidasi, cairan akan langsung mendidih. Jaringan akan menguap dan berubah menjadi abu. Hal ini tidak dapat dihindari secara kimiawi."
Investigasi tersebut mengidentifikasi amunisi spesifik buatan AS yang digunakan di Gaza yang terkait dengan penghilangan tersebut.
Diantaranya adalah MK-84 ‘Hammer’, bom terarah seberat 900 kg yang dikemas dengan tritonal ini menghasilkan panas hingga 3.500 celcius.
Selain itu ada penghancur bunker BLU-109, digunakan dalam serangan di al-Mawasi, wilayah yang Israel nyatakan sebagai “zona aman” bagi pengungsi Palestina pada September 2024. Bom ini menguapkan 22 orang.
Ia memiliki casing baja dan sekring tertunda, mengubur dirinya sendiri sebelum meledakkan campuran bahan peledak PBXN-109. Hal ini menciptakan bola api besar di dalam ruang tertutup, membakar segala sesuatu yang berada dalam jangkauannya.
Selanjutnya da GBU-39. Bom luncur presisi ini digunakan dalam serangan sekolah al-Tabi’in. Ia menggunakan bahan peledak AFX-757. “GBU-39 dirancang untuk menjaga struktur bangunan tetap utuh sekaligus menghancurkan segala sesuatu di dalamnya,” kata Fatigarov.
“Bom ini membunuh melalui gelombang tekanan yang menghancurkan paru-paru dan gelombang panas yang membakar jaringan lunak.” Badan Pertahanan Sipil mengkonfirmasi temuan pecahan sayap GBU-39 di lokasi hilangnya mayat.
Pakar hukum mengatakan penggunaan senjata sembarangan ini tidak hanya berdampak pada Israel tetapi juga pemasoknya di Barat. “Ini adalah genosida global, bukan hanya dilakukan di Israel,” kata pengacara Diana Buttu, dosen di Universitas Georgetown di Qatar.
Berbicara di Forum Aljazirah di Doha, Buttu berpendapat bahwa rantai pasokan adalah bukti keterlibatan. "Kami melihat aliran senjata-senjata ini terus menerus dari Amerika Serikat dan Eropa. Mereka tahu bahwa senjata-senjata ini tidak membedakan antara pejuang dan anak-anak, namun mereka terus mengirimkannya."
Buttu menegaskan, berdasarkan hukum internasional, penggunaan senjata yang tidak dapat membedakan antara kombatan dan nonkombatan merupakan kejahatan perang.
“Dunia tahu Israel memiliki dan menggunakan senjata terlarang ini,” kata Buttu. “Pertanyaannya adalah mengapa Israel dibiarkan tanpa dihukum.”
Menlu Rusia: Board of Peace yang Dibentuk Amerika tak Bisa Gantikan PBB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Rabu mengatakan bahwa Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump untuk menyelesaikan situasi di Gaza tidak dapat menggantikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut Lavrov, AS tak menyukai PBB karena harus membujuk banyak pihak untuk kompromi.
"Tidak. Ini cerita yang berbeda," kata Lavrov dalam menanggapi pertanyaan tentang apakah Dewan Perdamaian (Board of Peace) dapat menggantikan PBB.
"Mereka ingin agar mekanisme itu menyerupai dewan perdamaian. Mereka akan berkata, 'Kami akan mengelolanya,' mereka akan memutuskan, dan Anda berkumpul di sana dan mencari solusi," katanya.
Sebelumnya pada Januari, Trump mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian dan mengundang para pemimpin dari sekitar 50 negara untuk bergabung.
Rusia menyatakan telah siap mengirimkan dana sebesar 1 miliar dolar AS (hampir Rp17 triliun) yang berasal dari aset Rusia yang sebelumnya dibekukan Amerika Serikat untuk mendukung Dewan Perdamaian, kata Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Kita bisa mentransfer 1 miliar dolar AS dari aset Rusia yang dibekukan di bawah pemerintahan AS sebelumnya ke Dewan Perdamaian," kata Putin dalam pertemuan dengan anggota tetap Dewan Keamanan Rusia pada Rabu (21/1).
Ia mengatakan Rusia akan menanggapi usulan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian setelah kementerian luar negerinya mempelajari beberapa dokumen dan berkonsultasi dengan mitra-mitra strategis Rusia.
Putin menambahkan bahwa Rusia selalu mendukung dan terus mendukung setiap upaya untuk memperkuat stabilitas internasional.
Netanyahu Lapor Trump, Siapkan Serangan Besar-Besaran ke Gaza
Kunjungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke AS untuk menemui Presiden AS Donald Trump dilaporkan untuk menyampaikan rencana serangan besar ke Gaza. Netanyahu disebut akan memberitahu Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan mereka pada Rabu bahwa fase kedua gencatan senjata di Gaza “tidak berjalan lancar.”
Hal ini dilaporkan Times of Israel mengutip sumber yang mengetahui rincian kunjungan Netanyahu pada Selasa ketika pesawat perdana menteri sedang dalam perjalanan ke Washington.
Rencana gencatan senjata yang ditengahi AS yang dicapai pada bulan Oktober membayangkan demiliterisasi Gaza dan pelucutan senjata Hamas, serta penarikan pasukan Israel dari wilayah kantong tersebut. Namun Hamas belum setuju untuk menyerahkan senjatanya, suatu hal yang dianggap tidak dapat dinegosiasikan oleh Israel dan AS.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sumber tersebut mengatakan bahwa Israel telah memberi tahu AS bahwa operasi militer Israel lainnya diperlukan untuk mencapai visi Trump mengenai Jalur Gaza yang dilanda perang.
Sentimen Netanyahu tampaknya juga dimiliki oleh Pasukan Pertahanan Israel. Media-media Israel melaporkan pada Rabu bahwa militer sedang menyusun rencana serangan baru untuk melucuti senjata Hamas dengan paksa. Sementara itu, Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG), komite teknokratis Palestina yang dibentuk untuk memerintah Gaza, belum memasuki Jalur Gaza dan memulai operasi di sana.
Empat bulan setelah gencatan senjata dengan Hamas, militer Israel mulai menyusun rencana serangan baru di Jalur Gaza untuk melucuti senjata kelompok Hamas dengan paksa, menurut laporan The Times of Israel.
Jika serangan besar-besaran kembali terjadi, pertempuran kemungkinan akan menjadi lebih intens dan meluas dibandingkan konflik sebelumnya. Hal ini karena pasukan Israel tidak lagi terkendala oleh kehadiran sandera di wilayah Gaza.
Dalam beberapa minggu terakhir, Komando Selatan IDF telah menyusun rencana untuk serangkaian operasi potensial di Jalur Gaza jika kepemimpinan politik menginstruksikan militer untuk melucuti senjata Hamas dengan paksa.
Mengisyaratkan rencana serangan militer, Menteri Pertahanan Israel Katz bulan ini mengatakan bahwa Israel “bertekad” untuk melucuti senjata Hamas. Ia mengancam akan “membubarkan” kelompok tersebut jika tidak setuju untuk meletakkan senjatanya.
“Setelah kami menyelesaikan tujuan membawa kembali semua sandera kami, kami bertekad untuk menyelesaikan pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi penuh di Gaza,” kata Katz. “Jika Hamas tidak melucuti senjatanya sesuai dengan kerangka yang disepakati, kami akan membongkar Hamas dan seluruh kemampuannya.”
Serangan yang bertujuan untuk melucuti senjata Hamas – jika terus berlanjut – bisa jauh lebih intens daripada operasi IDF di Jalur Gaza selama dua tahun perang genosidal yang dimulai pada tanggal 7 Oktober 2023. Militer telah menekankan selama perang bahwa mereka merencanakan operasinya di Gaza dengan mempertimbangkan para sandera, meskipun beberapa di antaranya masih dirugikan oleh tindakan Israel.
IDF juga diperkirakan akan beroperasi di wilayah Gaza di mana pasukan darat belum menginjakkan kaki di tengah perang, termasuk Deir al-Balah di pusat Jalur Gaza dan wilayah Mawasi di pantai selatan.
Pasukan penjajah tidak beroperasi di wilayah tersebut terutama karena potensi risiko bagi para sandera, serta banyaknya warga Palestina di sana yang mengikuti perintah evakuasi Israel dari wilayah lain di Jalur Gaza.
Namun Israel masih bisa dibatasi oleh pemerintahan Trump, yang menjadikan gencatan senjata di Gaza sebagai inti dari inisiatif Dewan Perdamaiannya. Setiap kembalinya pertempuran skala besar dapat menggagalkan rencana Trump di Gaza dan mengancam dukungan para pendukung internasional.
Pada bulan Oktober, Trump mengindikasikan bahwa ia akan mengizinkan Israel melanjutkan pertempuran di Gaza jika Hamas tidak menepati ketentuan perjanjian penyanderaan. Namun, dengan kembalinya semua sandera, tidak jelas apakah Trump masih memegang posisi tersebut dan akan mengizinkan Israel melakukan serangan besar-besaran terhadap Hamas.
Sejauh ini, Israel terus melakukan serangan yang melanggar gencatan senjata sejak Oktober 2025. Sedikitnya 1.500 serangan telah dilakukan sejak saat itu, mengakibatkan lebih dari 500 orang syahid.
Pada Selasa, Palestine Chronicle melaporkan dua warga Palestina syahid ketika pesawat tak berawak Israel menargetkan sepeda listrik di dekat desa al-Masdar di Jalur Gaza tengah. Seorang wanita juga tewas akibat tembakan dari drone quadcopter Israel di daerah yang sama.
Pada saat yang sama, Rumah Sakit Martir Al-Aqsa mengonfirmasi dua kematian akibat penembakan Israel di sepanjang Jalan Salah al-Din, sementara sumber lokal melaporkan tambahan korban luka di beberapa lokasi.
Di Kota Gaza, orang-orang terluka akibat tembakan Israel di luar zona penempatan Israel di lingkungan Zeitoun, menurut Rumah Sakit Al-Shifa. Korban luka lebih lanjut dilaporkan setelah tembakan artileri Israel menghantam Beit Lahia di Jalur Gaza utara.
Tentara Israel mengatakan mereka telah melenyapkan “seorang militan yang melintasi garis kuning dan menimbulkan ancaman” di Gaza utara.