News Komoditi & Global ( Rabu, 6 Agustus 2025 )

News  Komoditi & Global

                                   (  Rabu,   6  Agustus  2025  )

Harga Emas Global Mendekati Puncak 2 Pekan, Pasar Tunggu Keputusan Trump soal The Fed

 

Harga emas dunia menguat dan mendekati level tertingginya dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Selasa (5/8), didukung oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan AS serta ketidakpastian seputar penunjukan pejabat baru di bank sentral AS (The Fed).

Melansir Reuters, harga emas spot naik 0,2% menjadi US$ 3.380,20 per troi ons pada pukul 13.55 waktu New York (ET), setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli. Sementara itu, emas berjangka AS ditutup naik 0,2% ke US$ 3.434,70 per troi ons.

Penguatan harga emas turut didorong pelemahan dolar AS, yang membuat logam mulia berbasis dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Pasar kini memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga AS hingga akhir tahun, dimulai pada September, menyusul data ketenagakerjaan bulan Juni yang mengecewakan.

Data tersebut bahkan mendorong Presiden Donald Trump memecat Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pekan lalu.

“Pasar masih terguncang oleh serangkaian rilis data pekan lalu, ditambah keputusan pemerintahan Trump mengganti Kepala BLS,” kata Daniel Ghali, analis komoditas di TD Securities.

“Kondisi ini memperkuat posisi emas dan mendukung pandangan kami bahwa dolar AS mulai kehilangan fungsinya sebagai penyimpan nilai.”

Emas kerap diburu sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat, dan cenderung menguat di lingkungan suku bunga rendah karena tidak menawarkan imbal hasil.

Sementara itu, Trump mengatakan akan segera mengumumkan pengganti sementara Gubernur The Fed Adriana Kugler, yang mengundurkan diri Jumat lalu, serta nama calon Ketua The Fed selanjutnya.

Di antara logam mulia lainnya: Perak spot naik 1,2% ke US$ 37,85 per troi ons, tertinggi sejak 30 Juli.

“Saya lebih optimistis terhadap perak dibanding emas saat ini. Jika menembus US$ 40, target berikutnya bisa mencapai US$ 42,” ujar Bob Haberkorn, analis di RJO Futures.

Platinum turun 1% ke US$ 1.316,35 dan palladium merosot 2,1% ke US$ 1.181,21

Dalam perkembangan terkait, Sibanye-Stillwater, produsen logam asal Afrika Selatan, mengusulkan kepada pemerintah AS agar mengenakan tarif atas impor palladium dari Rusia guna mendukung keberlangsungan pasokan dalam negeri AS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Makin Melemah Tertekan oleh Kenaikan Pasokan dari OPEC+ dan Kekhawatiran akan Lemahnya Permintaan Global

 

Harga minyak dunia turun pada perdagangan Selasa (5/8) waktu setempat, tertekan oleh kenaikan pasokan dari OPEC+ dan kekhawatiran akan lemahnya permintaan global.

Meskipun pasar sempat diguncang oleh ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terhadap India atas impor minyak Rusia.

Melansir Reuters, kontrak Brent ditutup melemah US$ 1,12 atau 1,63% ke level US$ 67,64 per barel.

Sementara minyak WTI turun US$ 1,13 atau 1,7% ke US$ 65,16 per barel. Kedua harga acuan ini mencapai posisi penutupan terendah dalam lima pekan terakhir.

Penurunan ini terjadi setelah OPEC+ sepakat pada Minggu lalu untuk meningkatkan produksi sebesar 547.000 barel per hari (bph) mulai September, mempercepat berakhirnya pemangkasan produksi sebelumnya.

“Lonjakan signifikan pasokan dari OPEC membebani pasar,” ujar Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Tekanan tambahan datang dari data ekonomi AS, di mana aktivitas sektor jasa stagnan pada Juli.

Pesanan baru nyaris tak berubah dan lapangan kerja terus melemah, sementara biaya input melonjak paling tinggi dalam tiga tahun terakhir.

Hal ini mencerminkan ketidakpastian akibat kebijakan tarif pemerintahan Trump yang masih membayangi dunia usaha.

Lipow menambahkan, “Pasar kini menunggu apakah India dan China bersedia memangkas impor minyak Rusia secara signifikan dan mencari sumber pasokan lain.”

Trump kembali mengancam India dengan tarif lebih tinggi dalam 24 jam ke depan karena masih membeli minyak Rusia.

Ia juga menyatakan bahwa turunnya harga energi dapat menekan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan perang di Ukraina.

Namun, pemerintah India menyebut ancaman tersebut “tidak berdasar” dan berkomitmen untuk melindungi kepentingan ekonominya, memperdalam ketegangan perdagangan antara kedua negara.

John Evans dari PVM Oil Associates mengatakan, pergerakan harga minyak pasca-ancaman Trump menunjukkan bahwa pelaku pasar masih skeptis akan terjadinya gangguan pasokan.

“Saya menyebut pasar minyak saat ini relatif stabil,” kata Giovanni Staunovo, analis UBS. “Kemungkinan kondisi ini akan bertahan sampai ada kejelasan soal langkah Trump terhadap Rusia dan bagaimana reaksi para pembeli minyak.”

India merupakan importir terbesar minyak mentah Rusia via laut, dengan volume mencapai 1,75 juta barel per hari sepanjang Januari–Juni 2025, naik 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data perdagangan yang dikutip Reuters.

Sementara itu, sumber yang mengutip data American Petroleum Institute (API) menyebut bahwa stok minyak mentah AS turun 4,2 juta barel pada pekan lalu.

Data resmi dari U.S. Energy Information Administration (EIA) akan dirilis pada Rabu waktu setempat.

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup Turun, Cermati Dampak Tarif ke Kinerja dan Ekonomi

 

Indeks saham utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (5/8) waktu setempat, seiring investor menimbang dampak tarif impor terhadap kinerja emiten dan prospek ekonomi Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 61,90 poin atau 0,14% menjadi 44.111,74. Indeks S&P 500 melemah 30,75 poin atau 0,49% ke 6.299,19, sementara Nasdaq Composite merosot 137,03 poin atau 0,65% ke posisi 20.916,55.

Tekanan tarif terlihat dalam laporan keuangan sejumlah emiten. Saham Yum Brands, induk dari jaringan restoran cepat saji KFC, anjlok 5,1% setelah laba kuartal II di bawah ekspektasi akibat berkurangnya belanja konsumen yang dibebani tarif perdagangan.

Caterpillar juga memperingatkan bahwa tarif AS dapat menimbulkan tantangan signifikan pada paruh kedua 2025 dan menambah biaya hingga US$1,5 miliar. Meski demikian, saham perusahaan alat berat tersebut justru naik tipis 0,1%.

Di sisi makro, neraca perdagangan AS menunjukkan defisit yang menyempit pada Juni akibat penurunan tajam impor barang konsumsi. Defisit dagang dengan China tercatat turun ke level terendah dalam lebih dari 21 tahun.

Sementara itu, aktivitas sektor jasa AS pada Juli nyaris stagnan. Pelaku usaha menyebutkan bahwa tarif impor baru turut mendorong kenaikan biaya operasional.

 “Jika melihat hasil laporan keuangan, sebagian besar masih melampaui ekspektasi analis yang rendah,” ujar Terry Sandven, Chief Equity Strategist di U.S. Bank Wealth Management.

“Namun, dampak tarif masih terus berkembang. Meskipun belum terlihat pengaruh besar terhadap profitabilitas perusahaan, ancamannya tetap membayangi.”

Presiden AS Donald Trump kembali mengangkat isu tarif. Ia menyatakan bahwa pemerintah dapat memberlakukan “tarif kecil” atas impor farmasi sebelum menaikkan tarif lebih lanjut.

Trump juga mengisyaratkan akan mengumumkan tarif tambahan atas semikonduktor dan chip dalam “satu minggu ke depan.”

“Pergerakan pasar hari ini mencerminkan sikap investor yang sedang menahan diri,” tambah Sandven. “Namun secara keseluruhan, fundamental pasar saham tahun ini masih konstruktif.”

Meski pasar cenderung terkoreksi, indeks S&P 500 dan Nasdaq baru-baru ini mencatat serangkaian rekor tertinggi. S&P 500 sendiri masih membukukan kenaikan 7,1% secara year-to-date (YtD).

Di sektor lainnya, saham Marriott International naik tipis 0,2% meskipun perusahaan memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan dan laba setahun penuh, mengutip melemahnya permintaan perjalanan dan ketidakpastian ekonomi.

Dengan musim laporan keuangan kuartal II hampir berakhir, investor kini mengalihkan fokus pada laporan keuangan dari Walt Disney dan McDonald’s yang dijadwalkan rilis Rabu waktu setempat.

 

 

 

 

 

 

 

Pejabat The Fed: Pemangkasan Suku Bunga Semakin Dekat, Bisa Lebih dari Dua Kali

 

Gubernur The Fed Bank of San Francisco Mary Daly menyatakan bahwa waktu untuk memangkas suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) semakin dekat.

Hal ini menyusul sejumlah data yang menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja AS dan belum adanya tanda-tanda tekanan inflasi dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

“Saya bersedia menunggu satu siklus lagi, tetapi saya tidak bisa menunggu selamanya,” kata Daly, pada Senin (4/8/2025) merujuk pada keputusan The Fed pekan lalu yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%–4,50%, meski sebagian pejabat dan Presiden Trump mendorong penurunan.

Daly menegaskan bahwa meskipun pemangkasan pada pertemuan September belum dipastikan, setiap pertemuan kebijakan moneter ke depan kini menjadi "pertemuan yang layak dipertimbangkan untuk penyesuaian kebijakan".

Menurutnya, dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin seperti yang diproyeksikan para pejabat The Fed pada Juni lalu masih merupakan langkah yang tepat.

“Yang lebih penting bukan apakah itu terjadi pada September atau Desember, melainkan bahwa itu memang terjadi. Ada banyak kemungkinan jalur untuk mencapai dua kali pemangkasan,” ujarnya.

Namun, Daly juga membuka peluang bahwa The Fed dapat melakukan pemangkasan lebih dari dua kali, tergantung pada data ketenagakerjaan dan inflasi yang akan dirilis sebelum pertemuan FOMC berikutnya pada September.

 “Kami tentu bisa memangkas kurang dari dua kali jika inflasi kembali meningkat atau pasar tenaga kerja membaik,” jelasnya.

“Tetapi skenario yang lebih mungkin adalah kita perlu memangkas lebih dari dua kali jika pasar tenaga kerja memasuki periode pelemahan dan belum ada tekanan inflasi yang berarti.”

Data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan bahwa hanya 73.000 pekerjaan baru tercipta pada Juli 2025.

Bahkan, data bulan sebelumnya direvisi turun signifikan, menjadi hanya 33.000 pekerjaan dalam dua bulan.

Meski begitu, Daly tidak melihat pasar tenaga kerja dalam kondisi kritis. Menurutnya, di tengah ketidakpastian ekonomi, angka mentah seperti jumlah pekerjaan baru seringkali kurang informatif dibandingkan indikator seperti tingkat pengangguran, yang hanya naik 0,1 poin menjadi 4,2% pada Juli.

Namun ia mengakui bahwa berdasarkan berbagai indikator, pasar tenaga kerja kini jauh lebih lemah dibandingkan tahun lalu.

“Saya akan menganggap pelemahan lanjutan sebagai sinyal negatif,” katanya.

“Saya masih nyaman dengan keputusan Juli, tetapi saya semakin tidak nyaman jika harus terus mengambil keputusan yang sama ke depan.”

Terkait inflasi, Daly menegaskan belum ada bukti bahwa kenaikan harga akibat tarif mulai menyebar lebih luas.

Namun, ia memperingatkan bahwa jika The Fed menunggu terlalu lama untuk memastikan hal tersebut proses yang bisa memakan waktu enam bulan hingga setahun maka The Fed bisa terlambat mengambil tindakan.

“Kita kini berada pada titik di mana kebijakan moneter harus mempertimbangkan trade-off antara menekan inflasi dan memastikan keberlanjutan penciptaan lapangan kerja,” pungkas Daly.

“Itulah mengapa saya tidak melihat pemangkasan Juli sebagai hal yang mendesak, tetapi saya juga semakin yakin bahwa kebijakan saat ini mulai tidak sejalan dengan kondisi ekonomi.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Surat Terbuka 600 Mantan Pejabat Keamanan Israel, Tolak Sikap Netanyahu, Setop Perang di Gaza

 

Sekitar 600 mantan pejabat keamanan Israel, termasuk mantan kepala Mossad dan militer mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menekan Israel agar mengakhiri perang di Gaza. Sikap mereka bertolak belakang dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mempertimbangkan untuk memperluas konflik.

Dalam sebuah surat terbuka, para mantan pejabat tersebut mengatakan bahwa mengakhiri perang adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan para sandera yang masih ditawan Hamas.

 “Kredibilitas Anda di mata mayoritas rakyat Israel memperkuat kemampuan Anda untuk mendorong agar Perdana Menteri Netanyahu dan pemerintahannya ke arah yang benar, mengakhiri perang, kembalikan para sandera, hentikan penderitaan,” tulis mereka.

Eks militer itu menambahkan bahwa mereka menganggap Hamas tidak lagi menjadi ancaman strategis bagi Israel.

Surat itu muncul di tengah meningkatnya tekanan bagi otoritas Israel untuk mengakhiri perang, bahkan ketika Netanyahu mempertimbangkan untuk mengintensifkan serangan.

Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan di Israel selama akhir pekan setelah dua video yang memperlihatkan para sandera kurus kering yang ditawan di Gaza dirilis.

Satu video khususnya, yang menggambarkan Evyatar David yang kurus kering menggali apa yang disebutnya sebagai kuburannya sendiri. Ini memicu gelombang kemarahan di seluruh Israel.

Pada Ahad malam, markas besar Forum Sandera dan Keluarga Hilang merilis pernyataan yang menuduh Netanyahu mengarahkan Israel dan mereka yang diculik menuju ke kehancuran.

Netanyahu mengatakan pada Senin bahwa ia akan menggelar pertemuan kabinet keamanan minggu ini untuk membahas cara menginstruksikan militer agar dapat mencapai tujuan perangnya di Gaza.

Media Israel melaporkan bahwa Netanyahu cenderung ingin memperluas serangan dan merebut seluruh wilayah Palestina.

Menurut media Israel, Netanyahu ingin mencoba mendorong pembebasan para sandera melalui sebuah kemenangan militer.

Dengan mengintensifkan aktivitas militer di wilayah Palestina, Netanyahu akan menyenangkan para menteri sayap kanan dalam koalisi pemerintahan Netanyahu, yang secara konsisten menentang gencatan senjata.

Israel sedang menjajaki gagasan operasi militer yang lebih intensif karena negosiasi gencatan senjata tampaknya telah terhenti. AS dan Israel telah menarik negosiator mereka dari Doha 10 hari yang lalu dan mengatakan akan menjajaki 'opsi alternatif' untuk memulangkan para sandera.

Perluasan konflik berisiko memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah buruk di Gaza. Sebuah badan kemanusiaan yang berafiliasi dengan PBB mengatakan wilayah tersebut sedang mengalami kelaparan. Sekitar 2,1 juta orang yang tinggal di sana mengalami kelaparan massal.

Meskipun telah diumumkan perluasan langkah-langkah bantuan di Gaza, kelompok-kelompok kemanusiaan mengatakan Israel masih belum memberikan bantuan yang cukup ke wilayah tersebut. Israel membantah adanya kelaparan di Gaza dan menyalahkan PBB karena tidak mendistribusikan bantuan secara efisien.

Setidaknya 40 warga Palestina tewas akibat tembakan dan serangan udara Israel di Gaza pada Senin, di samping lima orang yang meninggal karena kelaparan, kata otoritas kesehatan.

Setidaknya 10 dari mereka yang tewas ditembak saat mengantre makanan di luar pusat distribusi yang dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) milik swasta AS.

Seorang perawat di rumah sakit al-Aqsa juga tewas ketika sebuah palet bantuan yang dijatuhkan dari udara jatuh menimpanya di Deir al-Balah, Gaza tengah. Seorang pria lainnya dibawa ke rumah sakit setelah sebuah peti bantuan jatuh menimpa tendanya.

Hampir 61.000 orang telah terbunuh di Gaza sejak perang dimulai. Israel melancarkan perang sebagai respons atas serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

Para mantan pejabat keamanan Israel juga memperingatkan agar tidak memperluas perang, dengan alasan bahwa Israel telah lama mencapai tujuan militernya di Gaza.

"Awalnya perang ini adalah perang yang adil, perang defensif, tetapi ketika kami mencapai semua tujuan militer, perang ini bukan lagi perang yang adil," kata Ami Ayalon, mantan kepala badan keamanan Shin Bet, dalam sebuah video pada Minggu malam. "[Perang] ini membawa Israel pada hilangnya rasa keamanan dan identitasnya."

Sementara itu sebuah demonstrasi juga digelar di luar kantor perdana menteri di Yerusalem sebagai protes terhadap rencana pemecatan Jaksa Agung Israel, Gali Baharav-Miara.

Pemerintah Netanyahu telah memberikan suara untuk pemecatannya pada Senin, meskipun Mahkamah Agung Israel menyatakan bahwa ia tidak boleh diganti sampai masa jabatannya berakhir.

Pada bulan Maret, Menteri Kehakiman Israel memulai proses pemecatan Jaksa Agung.

Baharav-Miara, yang ditunjuk oleh pemerintahan sebelumnya, telah berselisih dengan Netanyahu dalam sejumlah isu, termasuk dakwaannya atas tuduhan penyuapan dan penipuan.

Rezim Netanyahu menuduhnya sengaja menghalangi inisiatif kebijakan pemerintah. Para menteri Israel telah mengatakan bahwa mereka akan berhenti mengundang Baharav-Miara ke sidang dengar pendapat dan rapat komite, terlepas dari keputusan Mahkamah Agung.

Langkah untuk memberhentikan Jaksa Agung telah banyak dikritik oleh partai-partai oposisi dan pemantau hak asasi manusia. Ketua Partai Demokrat, Yair Golan, menuduh pemerintah berusaha memecat Baharav-Miara untuk melindungi kepentingan politik Netanyahu.

"Agenda pertemuan mendatang: peningkatan keamanan bagi Netanyahu dan keluarganya serta pemecatan jaksa agung," kata Golan dalam sebuah unggahan di X, menuduh perdana menteri tidak peduli dengan nyawa para sandera Israel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belasan Mantan Kepala Keamanan: Israel di Jurang Kekalahan

 

 

Setidaknya 18 mantan kepala badan keamanan Israel, termasuk Mossad, Shin Bet, tentara dan polisi Israel, menyerukan diakhirinya agresi di Gaza.Seruan ini di tengah menguatnya tekanan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di dalam negeri.

“Kita berada di jurang kekalahan,” kata Tamir Pardo, mantan kepala agen mata-mata Mossad. “Tidak peduli seberapa bagus tentaranya, perang tanpa tujuan politik adalah jaminan kekalahan.”

Dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial, para mantan pejabat senior mengatakan perang hanya menghasilkan keuntungan militer yang terbatas, dan gagal membawa pulang para tawanan yang tersisa. Mereka juga mengatakan perang selama 22 bulan telah menimbulkan kerusakan reputasi yang parah pada Israel dan bisa saja berakhir sejak lama.

"Perang ini tidak lagi menjadi perang yang adil. Hal ini menyebabkan negara Israel kehilangan keamanan dan identitasnya," kata Ami Ayalon, mantan kepala dinas intelijen dalam negeri Shin Bet.

“Sudah lebih dari setahun  kita melewati titik di mana kita bisa mengakhiri perang dengan pencapaian operasional yang memadai,” ujar Amos Malka, mantan kepala intelijen militer.

“Sebaliknya,  sekarang kita sebagian besar mencoba mengimbangi kerugian,” kata mantan direktur Shin Bet, Nadav Argaman.

Avigdor Lieberman, pemimpin partai ultranasionalis Israel Yisrael Beiteinu, juga melancarkan serangan pedas terhadap Benjamin Netanyahu. Ia menuduhnya membongkar fondasi demokrasi Israel dan mengisolasi negara tersebut di panggung dunia.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Israel Maariv, Lieberman mengatakan Netanyahu telah menyebabkan keruntuhan politik Israel di seluruh dunia. “Bagaimana perang yang adil bisa berubah menjadi perang di mana semua warga Israel menjadi orang buangan di dunia?”

Pernyataannya muncul ketika Netanyahu menghadapi meningkatnya keresahan dalam negeri atas cara dia menangani perang di Gaza, dan meningkatnya pengawasan internasional atas kejahatan perang dan hambatan bantuan ke wilayah kantong yang terkepung tersebut.

 “Ada upaya untuk mengubah negara Israel menjadi negara yang tidak demokratis,” Lieberman memperingatkan. Ia juga mempertanyakan kegagalan pemerintah mengembalikan tawanan yang ditahan di Gaza. “Ini benar-benar gila.”

Dia menuduh Netanyahu mengorbankan nilai-nilai nasional demi kelangsungan politik. “Perdana menteri… mengorbankan segalanya demi kelangsungan politiknya.”

Sementara, Benjamin Netanyahu  terus berupaya mendorong pembebasan para sandera “melalui kemenangan militer yang menentukan,” menurut sumber diplomatik yang dikutip Minggu oleh media Ibrani.

Komentar sumber tersebut muncul ketika kerabat para tawanan mengecam laporan rencana untuk memperluas pertempuran di Jalur Gaza. Mereka juga mengecam Netanyahu karena mengindikasikan, dalam sebuah pernyataan video tentang rekaman dua sandera yang mengerikan, bahwa tidak ada kesepakatan gencatan senjata dalam waktu dekat.

Pejabat Senior Trump: India Bantu Rusia Biayai Perang Lawan Ukraina

 

 

Seorang pejabat senior pemerintahan Trump pada Ahad (3/8) menuduh India telah membiayai Rusia dalam perang melawan Ukraina melalui pembelian komoditas minyak bumi dalam jumlah besar.

Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller, mengatakan kepada Fox News bahwa India menyaingi China dalam hal impor energi dari Rusia. Langkah New Delhi itu bertentangan dengan klaim bahwa mereka merupakan negara sahabat Washington.

 “Orang-orang akan terkejut mengetahui bahwa India pada dasarnya terikat dengan China dalam hal pembelian minyak dari Rusia. Apa yang Presiden Donald Trump katakan dengan sangat jelas adalah bahwa tidak dapat diterima bagi India untuk terus membiayai perang ini dengan membeli minyak dari Rusia,” kata Miller.

Miller mengulangi kritik Trump sebelumnya terhadap praktik perdagangan dan kebijakan imigrasi India, yang digambarkan sebagai hal merugikan pekerja Amerika.

Miller juga memperluas kritiknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga menyoroti tarif tinggi India terhadap produk-produk AS dan kebijakan imigrasi yang menurutnya berdampak buruk bagi tenaga kerja di Amerika.

“India menggambarkan dirinya sebagai salah satu sahabat terdekat kami di dunia, tetapi mereka tidak menerima produk kami,” ujarnya.

“Presiden Trump menginginkan hubungan yang luar biasa... tetapi kita perlu bersikap realistis dalam menangani pendanaan perang ini,” tambah Miller.

India tidak segera menanggapi memberikan tanggapan publik mengenai pernyataan Miller tersebut.

Sebelumnya, Trump telah mengumumkan tarif sebesar 25 persen untuk India mulai 1 Agustus, dengan alasan hambatan perdagangan yang tinggi serta hubungan India dengan Moskow.

Ia juga memperingatkan tarif 100 persen untuk negara-negara yang masih membeli minyak dari Rusia, kecuali Moskow mencapai kesepakatan damai terkait Ukraina.

Pada Jumat (1/8), Trump mengatakan bahwa ia mendengar India telah menghentikan pembelian minyak dari Rusia, yang ia gambarkan sebagai langkah baik.

Ketika ditanya tentang tenggat waktu 8 Agustus yang diberikan Trump bagi Rusia untuk mengakhiri perang? Miller menekankan kekuatan ekonomi Amerika Serikat melalui pemotongan pajak, ekspansi energi, dan kesepakatan perdagangan.

“Jadi sekarang kami berada dalam posisi yang kuat secara ekonomi untuk menghadapi Rusia dan menghadapi perang ini,” kata Miller.

“Semua opsi tersedia untuk mengatasi persoalan perang yang sedang berlangsung di Ukraina baik secara diplomatik, finansial, maupun lainnya,” ucapnya menambahkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pakistan Kecam Penggerudukan Terbaru Pejabat Israel Terhadap Masjid Al-Aqsa

 

 

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan negaranya mengecam keras penggerudukan terbaru ke Masjid Al-Aqsa oleh sejumlah pejabat Israel bersama kelompok pemukim di bawah perlindungan polisi. Aksi penyerbuan dan praktik peribadatan Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsa terjadi pada Ahad (3/8/2025).

"Penistaan terhadap salah satu situs suci Islam ini bukan hanya penghinaan bagi umat Islam di seluruh dunia, tetapi juga serangan langsung terhadap hukum internasional dan hati nurani seluruh umat manusia. Provokasi sistematis semacam itu oleh kekuatan pendudukan, ditambah dengan seruan sembrono untuk aneksasi, membahayakan prospek tersebut," tulis Sharif di X pada Senin.

Sharif menekankan bahwa tindakan tersebut adalah upaya Israel meningkatkan ketegangan di Palestina dan wilayah yang lebih luas. Aksi itu bisa memaksa Timur Tengah kembali ke keadaan tidak stabil dan penuh konflik.

"Pakistan menegaskan kembali seruannya yang mendesak untuk gencatan senjata segera, diakhirinya semua tindakan agresi, dan pemulihan proses perdamaian yang kredibel yang mengarah pada Negara Palestina yang merdeka dan layak, dengan Al-Quds Al-Sharif [Yerusalem] sebagai ibu kotanya, sesuai dengan hukum internasional dan resolusi PBB yang relevan," tegasnya.

Sejumlah laporan media menunjukkan bahwa pejabat dan pemukim sayap kanan Israel yang dipimpin oleh kepala keamanan nasional Itamar Ben-Gvir memaksa masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Ahad (3/8/2025) untuk berdoa di sana, sebuah aksi yang melanggar kesepakatan yang telah lama berlaku. Pengaturan yang telah berlaku selama beberapa dekade ini memungkinkan orang Yahudi untuk berkunjung, tetapi tidak untuk beribadah di sana.

Sementara itu, Ben-Gvir, sekutu ultranasionalis kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu, mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan dirinya berdiri di situs suci umat Islam tersebut, dikelilingi oleh para pemukim Yahudi dan polisi Israel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Turki, Yordania, Hingga Saudi Meradang Atas Serbuan Al-Aqsa Oleh Ekstremis Yahudi

 

Penyerbuan ke Masjid Al-Aqsa oleh para menteri Israel, yang didampingi oleh kelompok pemukim dan di bawah perlindungan polisi Israel telah menyulut kemaran negara-negara Islam.

Turki pada Ahad (3/7/2025) mengutuk dengan sangat keras. Dalam sebuah pernyataan tertulis di X, Kementerian Luar Negeri Turki menekankan menjaga kesucian Masjid Al-Aqsa dan melestarikan karakter suci Yerusalem bukan hanya masalah regional, tetapi juga merupakan tanggung jawab prioritas bagi "hati nurani kolektif umat manusia."

"Provokasi sistematis yang dilakukan oleh penjajah Israel, bersama dengan seruan aneksasi baru-baru ini, menargetkan fondasi solusi dua negara dan sangat merusak aspirasi perdamaian," kata pernyataan itu.

Kementerian tersebut sekali lagi menyerukan realisasi perdamaian yang adil dan langgeng berdasarkan solusi dua negara, mengingat tindakan destabilisasi Israel yang sedang berlangsung di Palestina dan wilayah yang lebih luas. Turki juga menegaskan kembali kebutuhan mendesak untuk gencatan senjata.

Sementara itu, Arab Saudi pada Ahad mengutuk keras provokasi Israel yang berulang kali terjadi di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki, menyusul penyusupan yang dilakukan oleh Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir ke lokasi yang sangat sensitif.

"Praktik-praktik provokatif yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah pendudukan Israel di Masjid Al Aqsa yang berulang-ulang ini hanya akan menyulut konflik di wilayah tersebut," dikutip dari Anadolu.

Kerajaan menekankan bahwa tindakan semacam itu melanggar hukum dan norma-norma internasional dan merusak upaya perdamaian.

Riyadh menegaskan kembali tuntutannya yang terus berlanjut agar masyarakat internasional menghentikan praktik-praktik pejabat pendudukan Israel dan menyerukan intervensi internasional yang mendesak.

Kecaman yang sama disampaikan Kerajaan Hashemite Yordania. Kerarjaan menegaskan pada Ahad bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas Masjid Al-Aqsa yang diberkati dan Tempat Suci yang Mulia (Al-Haram Al-Sharif).

Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Yordania mengutuk keras penyerbuan Masjid Al-Aqsa oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, penjahat ekstremis Itamar Ben-Gvir di bawah perlindungan polisi penjajah Israel, menurut Kantor Berita Yordania (Petra).

Dalam sebuah pernyataan resmi oleh Juru Bicara Kementerian, Dr Sufyan Al-Qudah, Kementerian menggambarkan serangan ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional, provokasi yang tidak dapat diterima, dan eskalasi yang patut dikutuk.

Al-Qudah menegaskan Masjid Al-Aqsa dengan seluruh area seluas 144 dunam adalah tempat ibadah khusus untuk umat Islam.

Dia menekankan Dewan Wakaf Quds dan Departemen Urusan Masjid Al-Aqsa di bawah Kementerian Wakaf, Urusan Islam, dan Tempat Suci Yordania, adalah satu-satunya otoritas hukum yang bertanggung jawab untuk mengelola urusan Masjid Al-Aqsa dan Tempat Suci Mulia, termasuk mengatur pintu masuk.

Yordania benar-benar menolak dan mengutuk keras serangan yang terus dilakukan oleh menteri kriminal ekstremis Ben-Gvir dan difasilitasi oleh polisi pendudukan Israel bersama para pemukim.

Tindakan-tindakan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap status quo historis dan hukum masjid dan tempat suci tersebut, sebuah upaya untuk memaksakan pembagian waktu dan ruang, dan penodaan terhadap kesuciannya.

Al-Qudah memperingatkan konsekuensi dari pelanggaran provokatif dan ilegal yang sedang berlangsung terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Al Quds.

Dia meminta Israel untuk menghentikan semua tindakan provokatif oleh menteri ekstremis Ben-Gvir yang mencerminkan kebijakan ekstremis berkelanjutan dari pemerintah Israel.

Provokasi bertujuan untuk meningkatkan ketegangan, memberlakukan langkah-langkah sepihak di Tepi Barat yang diduduki, dan melanggar kesucian situs-situs suci Islam dan Kristen di Al-Quds yang diduduki.

Sementara itu, Liga Muslim Dunia (MWL) pada Ahad mengutuk keras penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh ratusan pemukim dan pejabat Israel di bawah perlindungan pasukan keamanan Israel.

Dalam sebuah pernyataan, Sekretaris Jenderal MWL dan Ketua Organisasi Cendekiawan Muslim Syekh Dr Mohammad Al-Issa mengecam penyerbuan tersebut sebagai kejahatan keji yang melanggar kesucian tempat suci umat Islam.

Dia memperingatkan konsekuensi dari serangan pemerintah Israel yang terus berlanjut terhadap situs-situs ini dan provokasi terhadap umat Islam di seluruh dunia.

Front Populer untuk Pembebasan Palestina mengutuk penyerbuan Masjid Al-Aqsa yang dilakukan oleh apa yang disebut sebagai Menteri Keamanan Nasional dalam pemerintahan musuh fasis Zionis, Itamar Ben-Gvir, pada Ahad pagi, dan menganggapnya sebagai penumpahan bahan peledak.

Front menjelaskan dalam sebuah pernyataan bahwa penyerbuan ini bertepatan dengan kejahatan genosida dan kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Gaza, dan serangan yang sedang berlangsung di Tepi Barat.

Ditambahkan bahwa penyerbuan ini adalah terjemahan yang jelas dari ideologi rasis dan fasis yang dianut oleh para pemimpin entitas ini, dan sedang dilaksanakan di bawah sponsor langsung Amerika Serikat, sebagai bagian dari rencana komprehensif untuk menyelesaikan konflik melalui Yahudisasi, pemukiman, penindasan, pembantaian, dan pembersihan etnis.

Front menganggap penyerbuan Ben-Gvir, yang bertepatan dengan apa yang disebut sebagai "peringatan penghancuran Bait Suci," sebagai langkah agresif baru yang termasuk dalam rencana eskalasi berbahaya.

Melalui rencana ini, penjajah berusaha memotong kompas rencana pembagian wilayah dan spasial serta memaksakan kontrol penuh atas masjid dan Yahudisasi Al Quds, dengan memaksakan secara paksa fakta-fakta di lapangan sebagai bagian dari proyek pemukiman yang sistematis dan bertahap.

Front menegaskan, “Rakyat kami tidak akan berdiam diri dalam menghadapi kejahatan-kejahatan ini. Sebaliknya, mereka akan menghadapi mereka dengan segenap kekuatan, mempertahankan tanah dan tempat-tempat suci mereka, dan rencana pemisahan itu akan gagal, tidak peduli apapun pengorbanannya."

PIC menekankan bahwa respon yang harus dilakukan adalah persatuan yang lebih besar di lapangan dan meningkatkan semua bentuk perlawanan, terutama perlawanan bersenjata.

Front menyerukan, “Kepada massa rakyat kita di Quds, Tepi Barat, dan wilayah-wilayah yang diduduki untuk mengintensifkan pertemuan-pertemuan mereka di Masjid Al-Aqsa dan meningkatkan konfrontasi terbuka dengan penjajah dan para pemukimnya, dengan menganggap pembelaan terhadap Quds dan Al-Aqsa sebagai sebuah misi nasional yang suci.”

Front menyatakan bahwa agresi yang meningkat ini membutuhkan tindakan serius dan luas dari Arab dan internasional untuk menghentikan entitas kriminal Zionis ini.

Mereka menekankan bahwa kejahatannya telah mencapai titik di mana tidak dapat lagi diterima untuk mengabaikannya, tetap diam terhadapnya, atau membiarkan rakyat Palestina dalam konfrontasi mereka.

Menteri Keamanan Nasional Israel ekstremis sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, dan ribuan pemukim menyerbu Masjid Al-Aqsa dari Gerbang Maghribi.

Serbuan yang berlangsung Ahad (3/7/2025) pagi itu di bawah penjagaan ketat polisi Israel, untuk memperingati apa yang disebut sebagai hari "Penghancuran Bait Suci".

Penyerbuan ini dilakukan sebagai tanggapan atas seruan "Organisasi Bait Suci" untuk mengorganisasikan serbuan besar-besaran ke Masjid Al-Aqsha pada hari ini (Ahad) yang dikenal sebagai peringatan "Penghancuran Bait Suci", menurut Kantor Berita Safa Palestina, dikutip Senin (4/8/2025).

Seorang pegawai Al-Aqsa melaporkan ekstremis Ben-Gvir dan 3.022 pemukim menyerbu Masjid Al-Aqsha dan mengorganisasikan tur provokatif di halamannya.

Pegawai itu menjelaskan para penyusup melakukan ritual dan doa Talmud, "pemberkatan imam", dan "sujud epik" di dalam masjid dan di area timurnya, yang jelas-jelas merupakan pelanggaran terhadap kesucian masjid.

Dia menambahkan halaman barat Al-Aqsa, seperti halnya halaman timur, telah diubah menjadi panggung untuk nyanyian, doa, dan sujud umat Yahudi di dalam masjid.

Dia memperkirakan Masjid Al-Aqsa akan menyaksikan sejumlah besar pemukim menyerbu masjid dan provokasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di halamannya, dengan jam penyerbuan diperpanjang hingga pukul 15.00.

Dia menyatakan polisi penjajah telah memperketat tindakan mereka terhadap warga Palestina yang memasuki masjid yang diberkahi itu dan dikerahkan secara besar-besaran di Kota Tua dan sekitarnya.

Ben-Gvir mengatakan selama penyerbuannya ke Kota Tua, "Kami tidak puas dengan berkabung. Kami berpikir tentang membangun Bait Suci, tentang kedaulatan, dan tentang menegakkan pemerintahan. Kami telah melakukan hal ini di banyak tempat, dan kami akan melakukannya di Gaza juga."

Organisasi-organisasi ekstremis menyerukan penyerbuan besar-besaran ke Masjid Al-Aqsa pada Ahad, hari peringatan dalam Alkitab yang dikenal sebagai "Hari Peringatan Penghancuran Bait Suci."

Kanopi dipasang di halaman bawah di depan pintu masuk jembatan penjajah, sebagai persiapan untuk menerima kerumunan pemukim sementara mereka menunggu serbuan.

Mereka memandang peringatan ini sebagai hari untuk memperbarui ikrar untuk menghapus Al-Aqsa dari keberadaannya dan mendirikan Bait Suci, dan untuk mencapai langkah praktis menuju tujuan ini. Mereka berusaha untuk memaksakan jumlah penyusup terbesar setiap tahunnya.

Organisasi Temple Mount in Our Hands meluncurkan seruan provokatifnya dengan gambar Bait Suci yang didirikan di seluruh kompleks Masjid Al-Aqsa, dikelilingi oleh gambar tentara musuh dengan kalimat "Kemenangan penuh di Temple Mount belum tercapai."

Ungkapan yang jelas ini mencerminkan visi organisasi-organisasi ini, yang memandang Masjid Al-Aqsa sebagai front utama dalam perang, di mana penyelesaian yang lengkap harus dicapai, sejalan dengan strategi Zionis di semua lini.

Setiap tahun, organisasi-organisasi Bait Suci berusaha memecahkan rekor penyusup pada kesempatan ini, dan berusaha menjadikannya sebagai kesempatan untuk mengikrarkan dan mengukuhkan pendirian Bait Suci yang dituduhkan dengan mengerahkan penyusup dalam jumlah yang paling banyak.

Sebaliknya, badan-badan dan lembaga-lembaga Quds menyerukan kepada rakyat Palestina di Quds, wilayah-wilayah pendudukan, dan seluruh wilayah Tepi Barat untuk menuju ke Masjid Al-Aqsa esok hari untuk menghadapi penjajah Israel. Serbuan pemukim.

Masjid Al-Aqsa terus menerus mengalami serangan dan serbuan dari para pemukim dan polisi penjajah, dalam upaya untuk mengubah realitas agama dan sejarah serta memaksakan fakta-fakta Yahudisasi di dalamnya.

Dilansir dari Anadolu Agency, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina dalam laporan bulanannya yang dikeluarkan hari ini, Ahad, mengatakan para pemukim Zionis telah menyerbu Masjid Al-Aqsa sebanyak 27 kali selama bulan Juli lalu, sementara pasukan penjajah Zionis mencegah adzan dikumandangkan di Masjid Ibrahimi, Hebron, sebanyak 51 kali.

Hal ini terjadi ketika Menteri Keamanan Nasional pemerintah penjajah Zionis, Itamar Ben-Gvir, mengeluarkan instruksi resmi kepada polisi penjajah yang mengizinkan para pemukim menari dan bernyanyi di Masjid Al-Aqsha.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menambahkan bahwa tentara penjajah Zionis telah mencegah Adzan di Masjid Ibrahimi di Hebron sebanyak 51 kali dengan cara menunda masuknya muazin. Gerbang timur dan jendela masjid tetap ditutup selama lebih dari delapan bulan.

Kementerian itu menekankan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemukiman sistematis yang bertujuan untuk menghapus identitas Palestina dan memaksakan kedaulatan 'Israel' atas wilayah-wilayah yang diduduki.

Kementerian juga menyerukan kepada masyarakat internasional dan lembaga-lembaga hak asasi manusia untuk segera turun tangan untuk melindungi tempat-tempat suci Islam.

Kementerian tersebut mendesak pula warga Palestina untuk mempertahankan kehadiran mereka setiap hari di Masjid Al-Aqsa dan Masjid Ibrahimi melalui doa dan kehadiran setiap hari, yang digambarkan sebagai jaminan sejati terhadap upaya Yahudisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Netanyahu Rencanakan Pencaplokan Gaza Sepenuhnya

 

 

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan mengatakan kepada para menteri minggu ini bahwa ia akan mencari dukungan kabinet untuk rencana menduduki Jalur Gaza sepenuhnya. Hal ini ia usulkan meskipun ada keberatan dari Angkatan Pertahanan Israel.

Times of Israel melansir, beberapa menteri mengatakan Netanyahu menggunakan istilah “pendudukan Jalur Gaza” dalam percakapan pribadi yang menggambarkan visinya untuk perluasan operasi militer di Gaza. Ini ebuah perubahan nada yang penting ketika pemerintah bersiap untuk membahas masa depan kampanye Gaza.

Situs berita Ynet mengutip seorang pejabat senior yang dekat dengan perdana menteri yang mengatakan, “Keputusan sudah dikunci mati – kita akan melakukan pendudukan penuh di Jalur Gaza.”

"Akan ada operasi bahkan di daerah di mana para tawanan disandera. Jika kepala staf tidak setuju, dia harus mengundurkan diri," tambah mereka, merujuk pada Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir yang dilaporkan menentang usulan pendudukan di Gaza. IDF saat ini memegang kendali atas sekitar 75 persen Jalur Gaza. Berdasarkan rencana baru, militer diperkirakan akan menduduki wilayah yang tersisa juga – sehingga seluruh wilayah kantong tersebut berada di bawah kendali Israel.

Masih belum jelas apa arti tindakan tersebut bagi jutaan warga sipil di Jalur Gaza dan bagi kelompok kemanusiaan yang beroperasi di wilayah tersebut.

IDF mengatakan mereka menentang pengambilalihan seluruh Jalur Gaza, dan pihak militer memperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun untuk membersihkan seluruh infrastruktur Hamas. Hal ini juga dapat menempatkan para sandera dalam bahaya dieksekusi oleh penculiknya jika pasukan mendekat ke tempat mereka ditahan.

Netanyahu mengatakan pada Senin sebelumnya bahwa ia akan mengadakan rapat kabinet untuk memerintahkan IDF tentang bagaimana melanjutkan upaya perang. Pada Ahad, berita Channel 12 melaporkan bahwa perpecahan telah muncul di dalam kabinet keamanan mengenai potensi pendudukan Gaza, dan Perdana Menteri serta Menteri Pertahanan Israel Katz disebut masih ragu-ragu.

Tekanan dari dalam negeri terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menghentikan genosida di Gaza makin kencang. Setidaknya 18 mantan kepala badan keamanan Israel, termasuk Mossad, Shin Bet, tentara dan polisi Israel, meramalkan kehancuran Israel bila perang berlanjut.

“Kita berada di jurang kekalahan,” kata Tamir Pardo, mantan kepala agen mata-mata Mossad. “Tidak peduli seberapa bagus tentaranya, perang tanpa tujuan politik adalah jaminan kekalahan.”

Dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial, para mantan pejabat senior mengatakan perang hanya menghasilkan keuntungan militer yang terbatas, dan gagal membawa pulang para tawanan yang tersisa. Mereka juga mengatakan perang selama 22 bulan telah menimbulkan kerusakan reputasi yang parah pada Israel dan bisa saja berakhir sejak lama.

"Perang ini tidak lagi menjadi perang yang adil. Hal ini menyebabkan negara Israel kehilangan keamanan dan identitasnya," kata Ami Ayalon, mantan kepala dinas intelijen dalam negeri Shin Bet.

“Sudah lebih dari setahun kita melewati titik di mana kita bisa mengakhiri perang dengan pencapaian operasional yang memadai,” ujar Amos Malka, mantan kepala intelijen militer.

“Sebaliknya, sekarang kita sebagian besar mencoba mengimbangi kerugian,” kata mantan direktur Shin Bet, Nadav Argaman.

Avigdor Lieberman, pemimpin partai ultranasionalis Israel Yisrael Beiteinu, juga melancarkan serangan pedas terhadap Benjamin Netanyahu. Ia menuduhnya membongkar fondasi demokrasi Israel dan mengisolasi negara tersebut di panggung dunia.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Israel Maariv, Lieberman mengatakan Netanyahu telah menyebabkan keruntuhan politik Israel di seluruh dunia. “Bagaimana perang yang adil bisa berubah menjadi perang di mana semua warga Israel menjadi orang buangan di dunia?”

“Ada upaya untuk mengubah negara Israel menjadi negara yang tidak demokratis,” Lieberman memperingatkan. Ia juga mempertanyakan kegagalan pemerintah mengembalikan tawanan yang ditahan di Gaza. “Ini benar-benar gila.”

Dia menuduh Netanyahu mengorbankan nilai-nilai nasional demi kelangsungan politik. “Perdana menteri… mengorbankan segalanya demi kelangsungan politiknya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uni Eropa Tangguhkan Sementara Tindakan Balasan Tarif terhadap AS

 

Uni Eropa akan menangguhkan dua paket tindakan balasan terhadap tarif Amerika Serikat selama enam bulan.

Keputusan ini diambil setelah tercapainya kesepakatan dengan Presiden AS Donald Trump, menurut pernyataan juru bicara Komisi Eropa pada Senin (4/8/2025).

Kesepakatan antara Uni Eropa dan AS tersebut masih menyisakan sejumlah ketidakpastian, termasuk terkait tarif untuk minuman beralkohol.

Selain itu, perintah eksekutif Presiden Trump yang dikeluarkan pekan lalu menetapkan tarif sebesar 15% untuk sebagian besar produk asal Uni Eropa, namun belum mencakup pengecualian seperti mobil dan suku cadang kendaraan.

Pejabat Uni Eropa juga memperkirakan akan ada perintah eksekutif tambahan dari pemerintah AS dalam waktu dekat.

“Uni Eropa terus bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk menyelesaikan Pernyataan Bersama, sebagaimana telah disepakati pada 27 Juli,” ujar juru bicara Komisi Eropa.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Komisi Eropa akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menangguhkan penerapan tindakan balasan terhadap AS selama enam bulan. Tindakan ini sedianya akan mulai diberlakukan pada 7 Agustus.

Paket tarif balasan Uni Eropa terdiri dari dua bagian: yang pertama sebagai respons atas bea masuk baja dan aluminium dari AS, dan yang kedua terkait dengan tarif dasar serta tarif mobil yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minyak Rusia Picu Perseteruan Baru AS-India di Era Trump

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif tinggi terhadap India, menyusul pembelian minyak Rusia oleh negara tersebut.

Pemerintah India menyebut tuduhan Trump sebagai hal yang "tidak adil" dan menegaskan akan melindungi kepentingan ekonominya.

Dalam pernyataan di media sosial, Trump menulis, “India tidak hanya membeli minyak Rusia dalam jumlah besar, tetapi juga menjual kembali sebagian besar minyak tersebut ke pasar terbuka untuk keuntungan besar. Mereka tidak peduli berapa banyak warga Ukraina yang terbunuh akibat mesin perang Rusia."

"Karena itu, saya akan secara substansial menaikkan tarif yang dibayar India kepada AS," lanjutnya, Senin (4/8/2025).

Menanggapi hal itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri India mengatakan bahwa pihaknya akan “mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan ekonominya,” dan menyebut ancaman Trump “tidak berdasar dan tidak masuk akal.”

Trump sebelumnya telah mengumumkan tarif 25% atas produk impor dari India pada Juli lalu, dengan alasan beragam persoalan geopolitik yang menghambat tercapainya kesepakatan dagang bilateral.

Ia juga mengancam akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia serta negara-negara yang masih membeli energi dari Moskow, kecuali Presiden Vladimir Putin menunjukkan tanda-tanda menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun di Ukraina.

Hingga kini, tidak ada indikasi perubahan sikap dari pihak Kremlin.

India Tetap Beli Minyak Rusia

Meski mendapat tekanan dari Barat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022, India terus mempertahankan kerja sama energi dengan Moskow.

Dua sumber pemerintah India menyatakan kepada Reuters bahwa pembelian minyak dari Rusia akan tetap dilakukan, dengan alasan kebutuhan ekonomi dan harga yang kompetitif.

India tercatat sebagai pembeli terbesar minyak mentah Rusia via jalur laut, dengan rata-rata impor mencapai 1,75 juta barel per hari sepanjang Januari–Juni 2025. Volume ini naik 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut pemerintah India, keputusan untuk mengimpor minyak dari Rusia dilatarbelakangi oleh pengalihan pasokan global ke Eropa akibat konflik di Ukraina.

“Ini adalah kebutuhan yang didorong oleh situasi pasar global,” ujar juru bicara Kemenlu India.

Ia juga menyoroti sikap hipokrit negara-negara Barat, khususnya Uni Eropa, yang disebut masih menjalin perdagangan bilateral dengan Rusia.

"Sangat ironis bahwa negara-negara yang mengkritik India justru tetap berdagang dengan Rusia," katanya.

Namun, sumber pasar mengungkapkan bahwa sejumlah kilang minyak utama India menghentikan pembelian minyak Rusia pekan lalu. Pasalnya, ancaman tarif dari Trump membuat selisih harga dengan pemasok lain menyempit.

Kendati demikian, pejabat India membantah adanya perubahan kebijakan secara resmi.

Sumber Reuters menyebut Indian Oil Corp, perusahaan kilang terbesar di India, telah mengalihkan pembelian ke AS, Kanada, dan Timur Tengah, dengan total pembelian mencapai 7 juta barel.

Hubungan Memanas

Hubungan India-AS kian tegang sejak Trump mengklaim sebagai pihak yang berjasa dalam perjanjian gencatan senjata India-Pakistan pada Mei lalu, tanpa konsultasi dengan pemerintah India.

Ketidakpastian kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahan Trump menjadi tantangan tersendiri bagi India.

Richard Rossow, Direktur Program India di Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, menyebut ketergantungan India pada Rusia untuk energi dan pertahanan menjadi titik sensitif.

"India merasa kesulitan memprediksi arah kebijakan pemerintahan Trump terhadap Rusia dari bulan ke bulan," ujar Rossow.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post