News Komoditi& Global ( Senin, 18 Mei 2026 )
News Komoditi& Global
( Senin, 18 Mei 2026 )
Harga Emas Global Turun di Tengah Meningkatnya Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas (XAU/USD) turun ke sekitar $4.535 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Logam mulia ini tetap berada dalam posisi defensif karena meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi, akibat konflik di Timur Tengah, memperkuat prakiraan suku bunga lebih tinggi.
Presiden AS, Donald Trump, pada hari Minggu mengancam Iran untuk "bertindak," atau tampaknya menghadapi konsekuensi baru. Ia meninggalkan Tiongkok tanpa terobosan besar dalam perdagangan atau bantuan nyata untuk mengakhiri perang.
"Tiongkok benar-benar tidak menawarkan banyak bantuan dalam menyelesaikan konflik, dan kita melihat harga minyak mentah naik, yang memperkuat narasi inflasi, dan itu sangat bearish untuk logam-logam," kata Edward Meir, seorang analis di Marex.
CNBC melaporkan bahwa AS menuntut Iran untuk meninggalkan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz. Sementara itu, kantor berita Mehr mengatakan Washington menawarkan "tidak ada konsesi nyata" sambil berusaha "mendapatkan konsesi yang gagal diperoleh selama perang, yang akan menyebabkan kebuntuan dalam negosiasi."
Para pedagang sebagian besar telah mengesampingkan penurunan suku bunga AS tahun ini sementara ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga meningkat, menurut CME FedWatch Tool. Perlu dicatat bahwa Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Serangan Drone ke PLTN UEA
Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin (18/5/2026), dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Barakah di Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan diserang drone.
Kekhawatiran pasar semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan akan membahas opsi militer terhadap Iran pekan ini.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai untuk meredakan konflik antara AS, Israel, dan Iran yang selama ini mengganggu jalur energi global.
Harga minyak Brent tercatat naik US$ 1,44 atau 1,32% menjadi US$ 110,70 per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak US$1,84 atau 1,75% ke level US$107,26 per barel.
Kedua kontrak bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Sepanjang pekan lalu, harga minyak sudah melonjak lebih dari 7% seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia.
Ketegangan terbaru dipicu laporan serangan drone ke PLTN Barakah di UEA. Pemerintah Emirat menyatakan tengah menyelidiki sumber serangan tersebut dan menegaskan memiliki hak penuh untuk merespons aksi yang disebut sebagai serangan teroris.
Di saat bersamaan, Arab Saudi juga mengumumkan berhasil mencegat tiga drone yang masuk dari wilayah udara Irak. Riyadh menegaskan akan mengambil langkah operasional yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan negaranya.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai serangan drone tersebut menjadi sinyal meningkatnya risiko konflik di kawasan Teluk.
"Serangan drone ini menjadi peringatan keras bahwa aksi militer baru terhadap Iran bisa memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk," ujar Sycamore.
Pasar juga mencermati langkah Washington setelah laporan Axios menyebut Trump akan bertemu penasihat keamanan nasional AS pada Selasa untuk membahas berbagai opsi terkait Iran, termasuk kemungkinan tindakan militer.
Situasi ini membuat pelaku pasar semakin khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Apalagi, upaya diplomasi sebelumnya belum menunjukkan hasil berarti.
Pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan lalu juga belum menghasilkan sinyal dukungan dari China untuk membantu meredakan konflik.
Kondisi tersebut membuat investor kembali memburu aset energi karena khawatir eskalasi konflik akan mengganggu distribusi minyak dari Timur Tengah, wilayah pemasok energi terbesar dunia.
Rilis Kinerja Nvidia dan Walmart Jadi Penentu Arah Wall Street Pekan Depan
Dua tema utama yang memengaruhi pasar saham Amerika Serikat, yakni ledakan industri kecerdasan buatan (AI) dan tekanan inflasi terhadap belanja konsumen, akan menjadi perhatian investor pekan depan melalui laporan keuangan sejumlah perusahaan besar, termasuk Nvidia dan Walmart.
Indeks saham utama Wall Street terus menguat dalam beberapa pekan terakhir. Indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi kini mendekati rekor tertinggi baru.
Manajer portofolio Jensen Investment Management, Allen Bond, mengatakan pergerakan pasar saat ini dipengaruhi oleh dua narasi besar yang berjalan hampir bersamaan, yakni perkembangan teknologi AI dan lonjakan harga energi akibat perang di Iran.
“Perkembangan dari dua faktor ini bisa sangat memengaruhi arah pasar dari hari ke hari,” kata Bond.
Meski demikian, saham-saham di Wall Street sempat melemah pada Jumat setelah kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong kenaikan tajam imbal hasil obligasi.
Sejak menyentuh titik terendah pada akhir Maret, indeks S&P 500 telah melonjak hampir 17% dan kini mencatat kenaikan lebih dari 8% sepanjang 2026.
Namun, sejumlah investor menilai reli pasar mulai kehilangan tenaga. Mereka menyoroti bahwa kenaikan indeks hanya ditopang oleh sedikit saham berkapitalisasi besar, sehingga reli dianggap kurang sehat.
Data LSEG menunjukkan hanya sekitar seperlima komponen S&P 500 yang mampu mengungguli indeks sejak 30 Maret.
“Sekali lagi hanya sejumlah kecil saham yang mendorong kenaikan indeks secara keseluruhan,” ujar Kepala Strategi Investasi Madison Investments, Patrick Ryan. “Pasar tidak terlalu sehat ketika begitu banyak saham tertinggal.”
Perhatian investor akan tertuju pada laporan keuangan perusahaan semikonduktor raksasa Nvidia yang dijadwalkan rilis pada Rabu mendatang.
Saham Nvidia dan sektor chip lainnya menjadi motor utama penguatan pasar berkat tingginya permintaan chip AI untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan.
Sejak titik terendah pasar pada Maret, saham Nvidia telah naik sekitar 36%, sementara indeks semikonduktor Philadelphia SE melonjak lebih dari 60%.
Bahkan, sejak pasar bullish dimulai pada Oktober 2022, saham Nvidia telah meroket lebih dari 1.800%.
Investor kini menunggu apakah hasil kinerja Nvidia mampu membenarkan lonjakan harga saham tersebut sekaligus mempertahankan dominasinya di industri AI di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Kami ingin melihat bukti bahwa Nvidia benar-benar mendapatkan manfaat dari lonjakan belanja pusat data,” kata Bond.
Sementara itu, Kepala Strategi Investasi PNC Financial Services Group, Yung-Yu Ma, menilai pasar juga akan mencermati apakah para pesaing mulai menggerus pangsa pasar Nvidia.
“Pertanyaannya sekarang adalah apakah Nvidia masih mampu mempertahankan posisi kepemimpinannya seperti beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Selain sektor teknologi, investor juga menantikan laporan dari perusahaan ritel besar seperti Walmart, Home Depot, Target, dan TJX Companies.
Walmart, peritel terbesar di dunia, dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan pada Kamis.
Pasar khawatir inflasi yang dipicu perang dan kenaikan harga energi mulai menekan belanja masyarakat Amerika, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS.
Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen dan produsen di AS mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, harga rata-rata bensin nasional di AS telah melampaui US$ 4,50 per galon untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun terakhir.
Investor berharap laporan para peritel dapat memberikan gambaran terbaru mengenai pola belanja masyarakat dan seberapa kuat daya tahan konsumen menghadapi tekanan harga.
“Pada akhirnya biaya hidup yang tinggi akan mulai membebani konsumen dan memperlambat pengeluaran mereka,” kata Ma. “Itulah yang menjadi pertaruhan utama dalam laporan sektor ritel: seberapa tangguh konsumen saat ini.”
Rupanya Bukan Dollar AS, Ini Mata Uang Terkuat Dunia Mei 2026
Dollar Amerika Serikat (AS) selama ini dikenal sebagai mata uang paling dominan di dunia. Mata uang tersebut digunakan dalam perdagangan internasional, cadangan devisa global, hingga transaksi lintas negara.
Namun, dominasi tersebut ternyata tidak membuat dollar AS menjadi mata uang paling kuat di dunia.
Dalam daftar mata uang terkuat dunia versi Forbes Advisor 2026 yang dirilis pada awal Mei 2026, posisi teratas justru ditempati dinar Kuwait atau Kuwaiti dinar (KWD). Nilai satu dinar Kuwait bahkan lebih tinggi dibandingkan satu dollar AS.
Kekuatan mata uang biasanya diukur dari nilai tukarnya terhadap dollar AS. Artinya, semakin besar nilai satu unit mata uang dibandingkan dollar AS, maka semakin kuat mata uang tersebut secara nominal.
Negara-negara Timur Tengah mendominasi daftar mata uang terkuat di dunia. Pendapatan besar dari ekspor minyak dan gas membuat negara-negara tersebut memiliki cadangan devisa kuat serta sistem moneter yang relatif stabil.
Daftar 10 mata uang terkuat di dunia
Berikut daftar mata uang terkuat dunia versi Forbes Advisor.
1. Dinar Kuwait (KWD)
Dinar Kuwait menempati posisi mata uang terkuat di dunia. Mata uang ini diperkenalkan pada 1960-an dan sempat dipatok terhadap poundsterling sebelum kemudian dihubungkan dengan sekeranjang mata uang internasional.
Kuwait dikenal sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Pendapatan dari sektor energi menjadi penopang utama kekuatan ekonomi negara tersebut.
2. Dinar Bahrain (BHD)
Posisi kedua ditempati dinar Bahrain. Negara kepulauan di Teluk Persia tersebut memperoleh banyak pemasukan dari ekspor minyak dan gas.
Dinar Bahrain mulai digunakan pada 1965 dan dipatok terhadap dollar AS sehingga nilainya relatif stabil.
3. Rial Oman (OMR)
Rial Oman berada di posisi ketiga mata uang terkuat dunia. Oman juga merupakan negara eksportir minyak dan gas utama di kawasan Timur Tengah.
Mata uang ini diperkenalkan pada 1970-an dan dipatok terhadap dollar AS.
4. Dinar Yordania (JOD)
Dinar Yordania berada di posisi keempat. Berbeda dengan negara Teluk lainnya, Yordania tidak terlalu bergantung pada ekspor minyak dan gas.
Meski demikian, negara tersebut mampu menjaga kestabilan mata uang melalui pengendalian moneter yang ketat. Dinar Yordania telah digunakan sejak 1950 dan dipatok terhadap dollar AS.
5. Poundsterling Inggris (GBP)
Poundsterling menjadi salah satu mata uang tertua yang masih digunakan hingga sekarang. Forbes Advisor mencatat mata uang Inggris tersebut sudah dipakai sejak abad ke-15.
Berbeda dengan sejumlah mata uang Timur Tengah, poundsterling tidak dipatok terhadap mata uang lain dan bergerak mengikuti mekanisme pasar.
6. Gibraltar pound (GIP)
Gibraltar pound juga masuk dalam daftar mata uang terkuat dunia. Mata uang ini dipatok tetap terhadap poundsterling, sehingga nilainya bergerak sejalan dengan mata uang Inggris tersebut.
Gibraltar sendiri merupakan wilayah Britania Raya yang berada di ujung selatan Spanyol.
7. Dollar Kepulauan Cayman (KYD)
Dollar Kepulauan Cayman dikenal sebagai salah satu mata uang kuat karena didukung sektor jasa keuangan offshore yang besar.
Mata uang ini dipatok terhadap dolar AS sehingga memiliki kestabilan tinggi.
8. Franc Swiss (CHF)
Franc Swiss selama ini dikenal sebagai safe haven currency atau mata uang aman bagi investor global. Stabilitas ekonomi Swiss serta tingkat kepercayaan investor yang tinggi membuat franc Swiss tetap kuat di tengah ketidakpastian global.
9. Euro (EUR)
Euro menjadi mata uang resmi di banyak negara kawasan Uni Eropa. Mata uang ini didukung kekuatan ekonomi negara-negara anggota Uni Eropa.
Euro juga menjadi salah satu mata uang cadangan utama dunia setelah dollar AS.
10. Dollar AS (USD)
Meski bukan mata uang terkuat secara nominal, dollar AS tetap menjadi mata uang paling dominan di dunia. Dollar AS digunakan dalam perdagangan internasional, transaksi energi global, hingga cadangan devisa berbagai negara.
Tabel: Daftar 10 Mata Uang Terkuat Dunia Versi Forbes Advisor (Mei 2026)
|
Peringkat |
Mata Uang |
Kode |
|
1 |
Dinar Kuwait |
KWD |
|
2 |
Dinar Bahrain |
BHD |
|
3 |
Rial Oman |
OMR |
|
4 |
Dinar Yordania |
JOD |
|
5 |
Poundsterling Inggris |
GBP |
|
6 |
Gibraltar Pound |
GIP |
|
7 |
Dollar Kepulauan Cayman |
KYD |
|
8 |
Franc Swiss |
CHF |
|
9 |
Euro |
EUR |
|
10 |
Dollar AS |
USD |
Kenapa nilai mata uang bisa kuat?
Dikutip dari Investopedia, kekuatan mata uang tidak hanya dipengaruhi besar kecilnya nilai tukar terhadap dollar AS. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan kurs suatu negara.
1. Inflasi
Negara dengan inflasi rendah cenderung memiliki mata uang lebih kuat karena daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebaliknya, inflasi tinggi dapat mengurangi nilai mata uang karena harga barang dan jasa meningkat lebih cepat dibandingkan negara lain.
2. Suku bunga
Kenaikan suku bunga biasanya menarik arus modal asing karena investor mencari imbal hasil lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap mata uang negara terkait sehingga nilainya menguat.
Namun, dampak positif suku bunga bisa berkurang apabila inflasi ikut meningkat.
3. Neraca transaksi berjalan
Defisit transaksi berjalan terjadi ketika impor suatu negara lebih besar dibandingkan ekspornya. Dalam kondisi tersebut, permintaan terhadap mata uang asing meningkat sehingga dapat menekan nilai mata uang domestik.
4. Utang pemerintah
Negara dengan utang pemerintah tinggi dinilai memiliki risiko inflasi atau gagal bayar lebih besar. Risiko tersebut dapat mengurangi minat investor terhadap aset negara terkait dan menekan nilai tukar mata uangnya.
5. Stabilitas politik dan ekonomi
Stabilitas politik dan kondisi ekonomi juga menjadi faktor penting dalam menentukan daya tarik suatu mata uang.
Negara dengan pemerintahan stabil dan pertumbuhan ekonomi kuat umumnya lebih dipercaya investor global.
Meski bukan mata uang paling kuat secara nominal, dollar AS tetap mendominasi sistem keuangan global. Forbes Advisor menyebut dollar AS merupakan mata uang cadangan devisa utama dunia dan menjadi acuan perdagangan internasional.
Selain itu, sebagian besar perdagangan minyak dunia juga menggunakan dollar AS. Hal tersebut membuat permintaan terhadap greenback tetap tinggi.
Di sisi lain, bank sentral berbagai negara masih menyimpan cadangan devisa dalam bentuk dollar AS karena dianggap stabil dan likuid.
Dalam beberapa tahun terakhir, faktor geopolitik dan ketidakpastian global juga makin memengaruhi pasar valuta asing. Ketegangan perdagangan internasional, perang, hingga perubahan arus investasi global dapat memicu volatilitas nilai tukar di berbagai negara.
Kondisi tersebut membuat mata uang negara dengan fundamental ekonomi kuat cenderung lebih diminati investor global.
G7 Cari Solusi Redam Ketegangan Dagang dan Risiko Ekonomi Global
Menteri keuangan negara-negara G7 dijadwalkan akan berkumpul di Paris, Prancis, Senin (18/5/2026), untuk mencari titik temu dalam meredam ketegangan ekonomi global dan memperkuat koordinasi pasokan mineral kritis.
Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya friksi perdagangan dunia dan perbedaan pandangan antaranggota, terutama dengan Amerika Serikat (AS).
Agenda utama pertemuan dua hari tersebut adalah membahas ketidakseimbangan ekonomi global yang dinilai semakin memperburuk gesekan perdagangan dan berpotensi memicu gejolak di pasar keuangan dunia.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure mengatakan pola pertumbuhan ekonomi global saat ini sudah tidak sehat dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. "Cara ekonomi global berkembang selama 10 tahun terakhir jelas tidak berkelanjutan,: ujar Lescure.
Menurut dia, ketimpangan terlihat dari pola konsumsi dan investasi global, di mana China dinilai terlalu rendah dalam konsumsi domestik, Amerika Serikat terlalu tinggi dalam konsumsi, sementara Eropa masih tertinggal dalam investasi.
Pertemuan G7 kali ini juga menjadi forum penting setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing yang belum menghasilkan terobosan ekonomi signifikan.
Meski kedua negara menunjukkan hubungan diplomatik yang lebih hangat, ketegangan terkait perdagangan dan Taiwan masih membayangi hubungan dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Lescure mengakui pembahasan antarnegara G7 tidak akan mudah karena adanya perbedaan kepentingan, terutama dengan Washington. "Kami tidak sepakat dalam segala hal, terutama dengan mitra kami dari Amerika," katanya.
Selain hubungan AS-China, para menteri keuangan juga akan membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global, termasuk volatilitas pasar obligasi dan ancaman gangguan rantai pasok energi dunia.
Isu Selat Hormuz menjadi perhatian khusus setelah pemerintah AS membiarkan pengecualian sanksi untuk minyak Rusia yang diangkut lewat laut berakhir pada Sabtu lalu. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran energi global.
Inggris mendorong langkah bersama untuk menekan inflasi dan mengurangi tekanan rantai pasok.
Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves juga disebut akan menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta mengurangi hambatan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa.
Di sisi lain, negara-negara G7 juga mempercepat upaya mengurangi ketergantungan terhadap China dalam pasokan mineral kritis dan rare earth. China saat ini masih mendominasi rantai pasok bahan baku penting untuk kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri pertahanan.
Lescure mengatakan G7 ingin membangun koordinasi yang lebih kuat untuk memantau pasar, mengantisipasi gangguan pasokan, dan mengembangkan sumber alternatif melalui proyek bersama antarnegara sekutu.
"Tidak boleh ada lagi satu negara yang memonopoli bahan baku strategis seperti ini," tegasnya.
Negara-negara G7 kini tengah membahas berbagai instrumen untuk menstabilkan pasar mineral kritis, mulai dari pembelian bersama, tarif, hingga skema perlindungan harga bagi produsen domestik.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai upaya tersebut masih berada pada tahap awal dan belum ada kesepakatan strategi yang benar-benar solid, bahkan di internal pemerintah AS sendiri.
Direktur Program Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philip Luck mengatakan pembentukan strategi bersama soal mineral kritis masih membutuhkan waktu panjang.
WHO Deklarasikan Wabah Ebola di Kongo-Uganda sebagai Darurat Global
Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (public health emergency of international concern/PHEIC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setelah terdapat 80 kematian yang diduga terkait.
Melansir Reuters, WHO menyatakan wabah yang disebabkan oleh virus Bundibugyo tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai keadaan darurat pandemi, namun negara-negara yang berbatasan darat dengan DRC berada dalam risiko tinggi terhadap penyebaran lebih lanjut.
Dalam pernyataan pada Minggu, badan kesehatan PBB tersebut mengatakan bahwa hingga Sabtu telah dilaporkan 80 kematian yang dicurigai, delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, dan 246 kasus suspek di provinsi Ituri, DRC, yang tersebar di sedikitnya tiga zona kesehatan, termasuk Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.
Satu kasus juga dikonfirmasi di kota Goma di bagian timur Kongo, menurut pernyataan kelompok pemberontak M23.
Laporan STAT News menyebut sejumlah warga Amerika di DRC diyakini telah terpapar kasus suspek di negara tersebut, dengan beberapa paparan dinilai berisiko tinggi, termasuk satu orang yang kemungkinan telah menunjukkan gejala. Reuters belum dapat segera memverifikasi laporan tersebut.
Pejabat dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan pada Minggu bahwa lembaga tersebut telah mengaktifkan pusat tanggap darurat untuk wabah ini dan berencana mengirim lebih banyak personel ke kantor mereka di DRC dan Uganda. Satish Pillai, manajer tanggap darurat Ebola CDC, menolak menjelaskan apakah ada warga Amerika yang terinfeksi, namun menegaskan bahwa risiko terhadap Amerika Serikat masih rendah.
WHO: Penyebaran lintas negara sudah terjadi
Kementerian Kesehatan DRC pada Jumat menyebut 80 orang telah meninggal dalam wabah baru di provinsi timur tersebut.
WHO mengatakan wabah ini, yang merupakan wabah Ebola ke-17 di negara tersebut (tempat Ebola pertama kali diidentifikasi pada 1976), kemungkinan sebenarnya jauh lebih besar mengingat tingginya tingkat hasil positif pada sampel awal serta meningkatnya jumlah kasus suspek yang dilaporkan.
WHO menyebut wabah ini “luar biasa” karena tidak ada obat terapi maupun vaksin yang disetujui khusus untuk virus Bundibugyo, berbeda dengan strain Ebola-Zaire. Hampir semua wabah Ebola sebelumnya di DRC disebabkan oleh strain Zaire.
WHO juga menilai wabah DRC-Uganda menimbulkan risiko kesehatan masyarakat bagi negara lain, dengan beberapa kasus penyebaran internasional sudah terdokumentasi. WHO meminta negara-negara mengaktifkan mekanisme manajemen bencana dan kedaruratan nasional serta melakukan skrining lintas perbatasan, termasuk di jalan-jalan utama di dalam negeri.
Di ibu kota Uganda, Kampala, dua kasus terkonfirmasi laboratorium yang tampaknya tidak terkait, termasuk satu kematian, dilaporkan pada Jumat dan Sabtu. Kedua kasus tersebut berasal dari orang yang bepergian dari DRC, kata WHO.
WHO juga menyatakan bahwa satu kasus terkonfirmasi yang sebelumnya dilaporkan di Kinshasa, ibu kota DRC, ternyata negatif setelah dilakukan pengujian ulang.
WHO menegaskan orang yang menjadi kontak atau kasus penyakit virus Bundibugyo tidak boleh melakukan perjalanan internasional, kecuali untuk evakuasi medis.
WHO menyarankan agar kasus terkonfirmasi segera diisolasi dan kontak dipantau setiap hari, dengan pembatasan perjalanan nasional serta larangan perjalanan internasional hingga 21 hari setelah paparan.
Namun, WHO juga mendesak negara-negara agar tidak menutup perbatasan atau membatasi perjalanan dan perdagangan karena ketakutan, karena hal itu dapat memicu pergerakan orang dan barang melalui jalur perbatasan informal yang tidak terpantau.
WHO menyebut hutan tropis lebat di DRC merupakan reservoir alami virus Ebola.
Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention, mengatakan dalam pernyataan bahwa ia telah meminta panduan teknis dan rekomendasi terkait perlunya menyatakan wabah ini sebagai darurat kesehatan yang mengancam keamanan benua Afrika.
Virus ini, yang sering kali berujung fatal dan menyebabkan demam, nyeri tubuh, muntah, serta diare, menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, material yang terkontaminasi, atau orang yang meninggal akibat penyakit tersebut, menurut Africa CDC.
Tabel 1: Ringkasan Data Kasus Ebola di DRC (Ituri)
|
Indikator |
Data WHO (hingga Sabtu) |
|
Kematian suspek |
80 orang |
|
Kasus terkonfirmasi lab |
8 kasus |
|
Kasus suspek |
246 kasus |
|
Provinsi terdampak |
Ituri |
|
Zona kesehatan terdampak |
Bunia, Rwampara, Mongbwalu |
Tabel 2: Perkembangan Penyebaran Ebola Bundibugyo
|
Negara/Wilayah |
Status Kasus |
Catatan |
|
DRC (Ituri) |
Wabah utama |
Pusat laporan kasus dan kematian |
|
DRC (Goma) |
1 kasus terkonfirmasi |
Disebut oleh M23 |
|
Uganda (Kampala) |
2 kasus terkonfirmasi |
Termasuk 1 kematian, pelaku perjalanan dari DRC |
|
DRC (Kinshasa) |
Negatif setelah uji ulang |
China Ingin Selat Hormuz Dibuka Tanpa Pembatasan
Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) Jamieson Greer mengatakan pada Jumat (15/5/2026) bahwa para pejabat China menegaskan dalam pertemuan puncak AS-China bahwa Beijing ingin Selat Hormuz dibuka kembali tanpa pembatasan maupun pungutan.
Reuters melaporkan, Greer juga mengatakan China akan bersikap pragmatis untuk membatasi dukungan militer terhadap Iran.
“Yang sangat penting bagi China adalah Selat Hormuz tetap terbuka, tidak ada pungutan, tidak ada kontrol militer, dan itu jelas dari pertemuan tersebut. Jadi kami menyambut baik hal itu,” kata Greer kepada Bloomberg Television dalam wawancara langsung dari Beijing, tempat ia ikut serta dalam pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
“Terkait keterlibatan China dengan Iran, pandangan kami adalah China bersikap sangat pragmatis, dan mereka tidak ingin berada di sisi yang salah dalam situasi ini,” tambah Greer.
Dia menambahkan, “Mereka ingin melihat perdamaian di kawasan itu. Presiden Trump ingin melihat perdamaian di kawasan itu. Jadi kami cukup yakin mereka akan melakukan apa yang mereka bisa untuk membatasi segala bentuk dukungan material terhadap Iran.”
AS Targetkan Kesepakatan Pertanian Puluhan Miliar Dolar Usai Pertemuan Trump–Xi
Amerika Serikat (AS) memperkirakan China akan menyepakati pembelian produk pertanian AS senilai “double-digit billions” atau puluhan miliar dolar setelah pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Hal tersebut disampaikan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Jumat (15/5/2026) dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
Greer menyebut kesepakatan baru ini diperkirakan mencakup pembelian produk pertanian AS dalam jumlah besar selama tiga tahun ke depan, dengan nilai mencapai puluhan miliar dolar per tahun.
“Anda akan melihat kesepakatan pembelian pertanian bernilai puluhan miliar dolar per tahun selama tiga tahun ke depan dari kunjungan ini,” ujar Greer.
Ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bersifat agregat dan tidak hanya mencakup kedelai, tetapi juga berbagai komoditas pertanian lainnya.
Kedelai masih menjadi komoditas utama ekspor pertanian AS ke China, yang merupakan pembeli terbesar di dunia.
Komoditas ini telah lama menjadi elemen penting dalam negosiasi dagang antara kedua negara, termasuk pada masa pemerintahan Trump sebelumnya.
Greer juga merujuk pada kesepakatan sebelumnya yang mencakup target pembelian 25 juta metrik ton kedelai per tahun yang disepakati pada Oktober lalu.
Menjelang pertemuan puncak tersebut, pelaku pasar tidak memperkirakan adanya peningkatan signifikan atas target pembelian kedelai China di atas level 25 juta ton.
Ekspektasi tersebut diperkuat oleh pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya yang menilai kesepakatan yang sudah ada telah cukup untuk menutup isu utama perdagangan kedelai.
Dengan demikian, fokus pasar kini tertuju pada detail implementasi kesepakatan serta dampaknya terhadap hubungan dagang AS–China ke depan.
Trump Minta China Tekan Iran, Xi Balas dengan Peringatan Taiwan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu kembali pada Jumat (waktu setempat) untuk menutup kunjungan kenegaraan selama dua hari. Pertemuan ini diwarnai seremoni besar dan kesepakatan bisnis, namun juga disertai peringatan keras dari Xi bahwa penanganan isu Taiwan yang keliru dapat mendorong hubungan AS-China menuju “situasi yang sangat berbahaya”.
Reuters melaporkan, Trump menjalani kunjungan pertamanya ke China sebagai presiden AS sejak kunjungan terakhir pada 2017 di masa jabatan pertamanya. Dalam kunjungan ini, Trump berharap memperoleh hasil nyata yang dapat membantu memperbaiki tingkat persetujuan publik yang menurun menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections) yang krusial.
Kedua pemimpin dijadwalkan minum teh dan makan siang bersama sebelum Trump kembali terbang ke Amerika Serikat.
Pertemuan puncak ini bertujuan mempertahankan gencatan senjata dagang yang rapuh, yang disepakati saat Trump dan Xi terakhir bertemu pada Oktober lalu. Saat itu, Trump menangguhkan tarif impor tiga digit terhadap barang-barang China, sementara Xi menarik langkah yang berpotensi menghambat pasokan global logam tanah jarang (rare earth) yang vital.
Trump juga diperkirakan akan mendesak China untuk membujuk Iran agar mencapai kesepakatan dengan Washington guna mengakhiri perang yang tidak populer di mata pemilih AS.
Namun, Trump datang ke Beijing dengan posisi tawar yang melemah setelah pengadilan AS membatasi kewenangannya untuk menerapkan tarif secara sepihak. Selain itu, kenaikan harga akibat perang Iran juga membuat Trump rentan secara politik di dalam negeri.
Ringkasan singkat dari pihak AS mengenai pembicaraan hari Kamis menyoroti apa yang disebut Gedung Putih sebagai keinginan bersama untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz di dekat Iran. Selat tersebut dalam kondisi normal menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Dalam ringkasan tersebut, Xi juga disebut tertarik membeli minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan China pada pasokan dari Timur Tengah.
Trump mengatakan kepada Fox News Channel dalam wawancara dengan Sean Hannity bahwa China telah sepakat memesan 200 pesawat Boeing, yang menjadi pembelian pertama jet komersial buatan AS oleh China dalam hampir satu dekade.
Namun jumlah itu jauh lebih kecil dari perkiraan pasar. Sejumlah laporan media sebelumnya menyebut Boeing hampir mencapai kesepakatan penjualan 500 pesawat atau lebih kepada China. Saham Boeing turun lebih dari 4% setelah komentar Trump ditayangkan.
Pernyataan Xi mengenai Taiwan, pulau demokratis yang diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya, menjadi peringatan tajam meskipun pertemuan berlangsung dalam suasana ramah dan santai.
Kementerian Luar Negeri China mengatakan peringatan tersebut disampaikan dalam pertemuan tertutup yang berlangsung lebih dari dua jam.
Taiwan, yang berjarak sekitar 50 mil (80 km) dari pesisir China, telah lama menjadi titik rawan dalam hubungan AS-China. Beijing tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau itu, sementara AS terikat undang-undang untuk membantu Taiwan memiliki kemampuan mempertahankan diri.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang mendampingi Trump di China, mengatakan kepada NBC News bahwa isu Taiwan memang dibahas. Ia menyebut pihak China “selalu mengangkatnya” dan AS selalu menegaskan posisinya sebelum beralih ke topik lain.
“Kebijakan AS terkait Taiwan tidak berubah sampai hari ini,” kata Rubio.
Trump, yang dikenal menikmati acara-acara besar, terlihat nyaman dalam berbagai rangkaian seremoni publik.
Ia tidak menjawab pertanyaan wartawan apakah isu Taiwan dibahas ketika ia berpose bersama Xi untuk foto di Temple of Heaven, situs warisan dunia UNESCO.
“Ada yang mengatakan ini mungkin pertemuan puncak terbesar sepanjang masa,” ujar Trump sebelumnya di Great Hall of the People, setelah seremoni yang melibatkan pasukan kehormatan dan kerumunan anak-anak yang melambaikan bunga serta bendera.
Dalam jamuan kenegaraan mewah, Xi menyebut hubungan China-AS sebagai yang paling penting di dunia dan menambahkan, “Kita harus membuatnya berhasil dan tidak pernah mengacaukannya.”
Kementerian Luar Negeri China mengatakan Xi juga menyampaikan kepada Trump bahwa negosiasi awal antara tim perdagangan kedua negara pada Rabu menghasilkan “outcome yang seimbang dan positif”.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang memimpin pembicaraan perdagangan tersebut, mengatakan ia memperkirakan ada kemajuan dalam pembentukan mekanisme untuk mendukung perdagangan dan investasi bilateral ke depan, serta kemungkinan pengumuman terkait pesanan besar pesawat Boeing oleh China.
Tabel: Poin-Poin Kunci Pertemuan Trump-Xi
|
Isu Utama |
Detail |
|
Agenda pertemuan |
Hari kedua kunjungan kenegaraan Trump di China |
|
Taiwan |
Xi memperingatkan salah langkah soal Taiwan bisa membawa hubungan ke “situasi sangat berbahaya” |
|
Perdagangan |
Menjaga gencatan senjata dagang, AS menangguhkan tarif tinggi, China mengendurkan pembatasan rare earth |
|
Iran & Selat Hormuz |
AS ingin China membantu membuka kembali Selat Hormuz dan menekan Iran agar berdamai |
|
Energi |
Xi disebut tertarik membeli minyak AS untuk mengurangi ketergantungan dari Timur Tengah |
|
Boeing |
Trump klaim China akan membeli 200 pesawat Boeing, tapi pasar sebelumnya berharap 500+ |
|
Dampak pasar |
Saham Boeing turun >4% setelah pernyataan Trump |