News Komoditi & Global ( Senin, 15 Juni 2026 )
News Komoditi & Global
( Senin, 15 Juni 2026 )
Harga Emas Global Melonjak saat AS dan Iran Sepakati Kesepakatan Damai untuk Akhiri Perang
Harga Emas (XAU/USD) naik ke level tertinggi mingguan selama perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Logam mulia ini rebound setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik mereka, meredakan kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi.
Washington dan Tehran mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah mencapai kesepakatan yang akan mulai berlaku pada hari Jumat. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa AS mencabut blokade angkatan lautnya pada pelabuhan-pelabuhan Iran dan Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah kesepakatan ditandatangani.
Trump menambahkan bahwa kesepakatan yang dicapainya dengan Iran pada akhirnya akan memastikan bahwa Selat Hormuz "bebas tol secara permanen," menurut New York Times. Inggris (UK), Prancis, Jerman dan Italia mengatakan bahwa negara-negara tersebut siap untuk mencabut sanksi terhadap Iran sebagai respons terhadap langkah-langkah pada program nuklirnya setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang mereka. Harapan kerangka perdamaian untuk kesepakatan mengakhiri perang AS-Iran memberikan dukungan pada logam kuning.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan pada hari Minggu bahwa negosiasi 60 hari antara AS dan Iran akan bergantung pada AS memenuhi tiga komitmen. Komitmen-komitmen tersebut meliputi "mencabut dan mengakhiri blokade angkatan laut," "mengakhiri status perang dan operasi militer," serta "melepaskan dana Iran yang dibekukan."
Tanda-tanda pembaruan ketegangan di Timur Tengah dapat menyebabkan kenaikan harga minyak mentah, memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi suku bunga tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama. Perlu dicatat bahwa Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik saat suku bunga tinggi.
Pasar telah memperhitungkan probabilitas hampir 64% kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) AS pada bulan Desember tahun ini setelah kesepakatan perdamaian, turun dari 69% minggu lalu, menurut CME FedWatch tool.
Harga MInyak Dunia Anjlok ke Terendah Dua Bulan di Tengah Kesepakatan AS-Iran
West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di sekitar $79,40 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Harga WTI jatuh ke level terendah dua bulan setelah laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan kesepakatan damai untuk mengakhiri perang mereka yang hampir berlangsung selama empat bulan.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengatakan pada hari Minggu bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati kesepakatan damai, dengan kedua belah pihak menyatakan penghentian operasi militer segera dan permanen di semua front, termasuk di Lebanon, menurut CNBC. Trump kemudian mengatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka pada hari Jumat.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai," tulis Presiden AS, Donald Trump, di Truth Social. "Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan bebas biaya Selat Hormuz, dan, bersamaan dengan ini, mengizinkan penghapusan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat," tambah Trump.
Selat Hormuz secara efektif telah ditutup sejak tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Perkembangan positif seputar kesepakatan damai AS-Iran menarik harga WTI turun.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi karena Trump menegaskan bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, ia akan melanjutkan serangan militer ke Teheran. Jika gangguan minyak berlangsung lama, hal ini dapat mendorong harga WTI naik dalam jangka pendek.
Laporan mingguan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) akan diterbitkan pada hari Selasa nanti. Penurunan stok minyak mentah yang lebih besar dari prakiraan mengindikasikan permintaan lebih kuat dan dapat mengangkat harga WTI, sementara peningkatan stok yang lebih besar dari estimasi menandakan permintaan yang lebih lemah atau kelebihan pasokan, yang mungkin melemahkan harga WTI.
Trump Umumkan Kesepakatan AS-Iran Tercapai, Selat Hormuz Dibuka
Presiden AS Donald Trump menyatakan di platform Truth Social-nya bahwa kesepakatan antara AS dan Iran telah tercapai. Ia mengeklaim bahwa Selat Hormuz bakal kembali dibuka menyusul kesepakatan itu.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump. "Selamat kepada semuanya! Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz bebas tol, dan, bersamaan dengan ini, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal Dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!”
Belum diketahui secara pasti bagaimana isi kesepakatan tersebut. Namun dalam bocoran draf yang dilansir media Iran, kesepakatan mencakupi penghentian agresi di semua wilayah Timur Tengah, utamanya Lebanon; perginya pasukan AS dari sekitar Iran; pembukaan kembali Selat Hormuz dengan kendali Iran; skema ganti rugi bagi Iran atas serangan AS-Israel; pencairan dana Iran yang dibekukan sanksi AS; dan kerangka kesepakatan nuklir.
TV pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran “memaksa” AS untuk menerima perjanjian perdamaiannya. Kantor Berita Fars Iran melaporkan bahwa pernyataan resmi dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi akan segera dikeluarkan mengenai perjanjian gencatan senjata dengan AS.
Mereka menambahkan bahwa telah diputuskan bahwa lalu lintas laut melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz akan diatur oleh Iran melalui koordinasi dengan Oman.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang jadi negosiator juga mengumumkan telah tercapainya kesepakatan. “Setelah pembicaraan intensif, kami dengan bangga mengumumkan bahwa Kesepakatan Damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah TERCAPAI,” tulisnya di X.
“Kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.” Dia menambahkan upacara penandatanganan resmi akan dilakukan pada hari Jumat, 19 Juni di Swiss.
"Dengan kesepakatan yang sudah ada, mediator akan memfasilitasi serangkaian pertemuan minggu ini. Diskusi pra-implementasi ini akan menjadi landasan bagi pembicaraan teknis dan upacara penandatanganan resmi.”
Menurut pernyataan yang disampaikan oleh kantor berita Tasnim, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan negosiasi untuk kesepakatan akhir akan diadakan dalam jangka waktu 60 hari. Ini setelah mereka memverifikasi bahwa AS menerapkan komitmennya berdasarkan kesepakatan tersebut, termasuk mengakhiri permusuhan, mencabut blokade, dan melepaskan aset.
Gharibabadi mengatakan bahwa pada Jumat, tanggal yang ditetapkan untuk upacara resmi, kedua delegasi akan mengadakan pembicaraan untuk menentukan pengaturan negosiasi di masa depan. Dia juga mengatakan bahwa Iran memasukkan semua “posisi penting” dalam rancangan nota kesepahaman tersebut.
Ia menambahkan bahwa teks tersebut akan dipublikasikan setelah upacara resmi yang dijadwalkan pada Jumat. “Nota kesepahaman ini tidak berarti mempercayai musuh,” kata Gharibabadi dalam sambutannya yang disiarkan kantor berita Tasnim. “Kami akan memantau implementasi komitmen AS,” katanya.
Eskalasi di Teluk dimulai serangan besar-besaran AS- Israel ke Iran pada Februari lalu. Alasan AS terkait serangan itu berubah-ubah. Terungkap belakangan, Trump terbujuk rayuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa serangan ke Iran dan pembunuhan pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei akan menjatuhkan rezim.
Prediksi itu keliru. Meski Ayatullah Khamenei bersama keluarganya syahid, warga Iran tak turun ke jalan menggulingkan pemerintahan. Tampuk kepemimpinan langsung diserahkan ke Mojtaba Khamenei putra Ali Khamenei yang aelamat dari serangan AS.
Iran juga menyerang pangkalan-pangkalan AS di Teluk yang digunakan dalam serangan AS-Israel. Lebih dari 20 pangkalan AS porak poranda, menguak janji palsu bahwa AS bisa membawa keamanan di kawasan itu. Drone sederhana Iran juga menguras habis persediaan pencegat mahal buatan AS di kawasan.
Senjata paling dahsyat Iran kemudian adalah kendali atas Selat Hormuz yang sebelum serangan bebas mutlak dilintasi kapal dagang. Blokade Iran atas jalur minyak krusial itu membuat ekonomi dunia terpuruk. Banyak negara di tubir krisis ekonomi dengan harga BBM yang melonjak.
Akibat tekanan Iran tersebut, AS menyepakati gencatan sementara pada April. Namun, AS dan Iran masih beberapa kali saling serang. Israe jugal terus melakukan pelanggaran dengan menyerang selatan Lebanon yang jadi markas kelompok Hizbullah. Kelompok Syiah itu kembali aktif menyerang Israel selepas terbunuhnya Ayatullah Khamenei.
Pekan lalu, Iran menyerang Israel sebagai balasan atas aksi Zionis di Lebanon di tengah upaya gencatan senjata. Balasan Iran itu tak diduga dan diyakini memicu kian lekasnya tanggapan AS menyepakati gencatan.
Serangan AS dan Israel ke Iran sejak Februari lalu menewaskan lebih dari 3.000 warga Iran. Jumlah kematian serupa juga di Lebanon. Banyak dari korban adalah warga sipil. Ribuan bangunan sipil di Iran termasuk rumah sakit, sekolah, kampus, pembangkit listrik, fasilitas migas, fasilitas air bersih dan situs cagar budaya dihancurkan AS-Israel.
Donald Trump sempat terpaksa menyerukan pengendalian diri pada hari Ahad setelah Israel melancarkan serangan udara baru di Beirut ketika para mediator berusaha untuk menyelesaikan negosiasi mengenai perjanjian perdamaian awal antara Iran dan AS yang akan mengakhiri perang tiga bulan di Timur Tengah secara definitif.
Trump meremehkan serangan baru Israel tetapi mengatakan “semua pihak harus mundur”. "Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan yang akan membawa perdamaian di kawasan ini, termasuk Lebanon... Seharusnya tidak ada lagi serangan Israel di mana pun di Lebanon, tapi juga tidak boleh ada lagi serangan oleh pihak lain, termasuk Hizbullah, terhadap Israel. Ini bisa menjadi awal dari perdamaian yang panjang dan indah – Jangan sampai kita gagal!"
Presiden AS memposting ke situs media sosialnya. Trump sebelumnya telah menyarankan AS untuk menandatangani perjanjian dengan Iran pada Ahad, namun ketika situasi di Timur Tengah tiba, tidak ada tanda-tanda terobosan.
Sebaliknya, para pejabat Iran mengancam akan melakukan respons militer terhadap serangan Israel di Beirut, yang menghancurkan sebuah bangunan di pinggiran selatan ibu kota Lebanon, menewaskan tiga orang dan melukai enam lainnya.
Trump mengatakan kepada situs berita Axios bahwa serangan Israel telah “menunda penandatanganan beberapa jam” dan, dengan menggunakan sumpah serapah, mengatakan bahwa dia telah mengatakan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahwa dia tidak memiliki penilaian apa pun.
Israel mengatakan pihaknya menargetkan komandan senior Hizbullah setelah organisasi Islam militan – yang memiliki hubungan dekat dengan Teheran – meluncurkan tiga proyektil ke Israel utara. Serangan pasukan Israel di Beirut seminggu yang lalu memicu babak baru pertempuran singkat namun intens antara Iran dan Israel, yang untuk sesaat mengganggu stabilitas negosiasi antara Teheran dan Washington.
Ali Akbar Velayati, penasihat pemimpin tertinggi Iran, mengatakan dalam sebuah pernyataan di X bahwa “waktu nol telah tiba”. “Kesalahan perhitungan di Beirut menghabiskan kesabaran, dan perintah pun dikeluarkan,” tulisnya.
“Nol jam telah tiba, dan peluncur sedang bersiap.” “Jika api kejahatan di Lebanon tidak dipadamkan, dua kekuatan geografis yang kuat – Hormuz dan Bab al-Mandab – akan menekan jalur kehidupan ekonomi Anda hingga ke titik tercekiknya strategi,” tambahnya.
Media-media Iran melansir rancangan memorandum berisi 14 poin yang dilaporkan telah disepakati Iran dan Amerika Serikat. Rancangan tersebut dilaporkan mencakup penghentian permusuhan secara permanen, termasuk di Lebanon, dan pencabutan pembatasan ekonomi terhadap Iran secara bertahap.
Menurut Kantor Berita Iran, Mehr, sumber yang dekat dengan tim perunding Iran mengungkapkan rincian usulan memorandum 14 poin yang saat ini sedang dibahas antara Teheran dan Washington. Rancangan laporan tersebut dimulai dengan komitmen terhadap penghentian permusuhan secara permanen dan segera di semua lini, termasuk Lebanon.
Perjanjian ini juga mencakup ketentuan yang mengharuskan Amerika Serikat untuk menghormati kedaulatan Iran dan menahan diri dari campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran.
Berdasarkan proposal tersebut, blokade laut yang diberlakukan terhadap Iran akan dicabut dalam waktu 30 hari, sementara Selat Hormuz akan dibuka kembali berdasarkan pengaturan Iran pada periode yang sama.
Rancangan tersebut selanjutnya menyerukan penarikan pasukan Amerika yang dikerahkan di sekitar Iran dan penangguhan sanksi yang menargetkan ekspor minyak Iran, sektor petrokimia dan akses terhadap sumber daya keuangan. Salah satu ketentuan paling penting dilaporkan mengharuskan Amerika Serikat dan sekutunya untuk menyajikan rencana rekonstruksi Iran senilai tidak kurang dari 300 miliar dolar AS.
Memorandum tersebut juga mengusulkan periode negosiasi 60 hari yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan akhir yang berfokus pada masalah nuklir dan pencabutan sanksi AS, internasional, dan PBB secara komprehensif, menurut Mehr.
Menurut teks yang dilaporkan, Iran akan menegaskan kembali komitmennya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Rancangan tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa Washington akan menahan diri untuk tidak menjatuhkan sanksi baru atau meningkatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut selama perundingan.
Ketentuan lain dilaporkan mengharuskan pencairan aset Iran yang diblokir sebesar 24 miliar dolar AS selama periode negosiasi, dengan setengah dari dana tersebut harus disediakan sebelum pembicaraan akhir secara resmi dimulai.
Rancangan tersebut juga menetapkan mekanisme pemantauan pelaksanaan dan memberikan persetujuan akhir melalui resolusi Dewan Keamanan PBB. Khususnya, diskusi mengenai program rudal Iran dan dukungan terhadap gerakan perlawanan regional dilaporkan telah dihapus seluruhnya dari agenda perundingan akhir.
Menyusul beredarnya dokumen itu. Presiden AS Donald Trump meradang di media sosial. Ia menyebut laporan-laporan media Iran itu sebagai berita palsu.
Kemarahan Trump bisa dilihat dari konteks tak ada tujuan serangan ilegal AS dan Israel yang tercapai dalam draf tersebut. Alih-alih, kesepakatan dilebarkan ke Lebanon dan AS harus membayar kompensasi serangan.
Selain itu, syarat mundurnya pasukan AS dari sekitar Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan otorisasi Iran adalah perkembangan yang lebih merugikan bagi AS ketimbang posisi sebelum perang.
Iran: Selamat Datang di Era Baru Timur Tengah
Indikator awal muncul tentang bagaimana Iran memandang kesepakatan tentatif yang diumumkan oleh Pakistan dan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan antara AS dan Iran. Agresi AS dan Israel yang berhasil dihalau Iran dan kesepakatan mendatang disebut akan membawa era baru bagi kawasan.
“Selamat datang di era baru Timur Tengah,” tulis Kedutaan Besar Iran di Turki selepas pengumuman kesepakatan awal oleh Trump. Bendera Iran tampak terkibar di seberang Selat Hormuz.
AS selama ini dinilai sebagai pemegang hegemoni di kawasan. Sejak 1990-an, berbagai aksi militer AS telah memorak-porandakan wilayah itu. Dukungan luas AS juga memungkinkan Israel terus melanjutkan penjajahan di Palestina dan serangan ke negara-negara sekitarnya.
Petualangan AS di kawasan ditopang perjanjian dagang dengan negara Teluk yang memungkinkan juga berdirinya berbagai pangkalan militer AS di berbagai negara.
Aksi balasan Iran atas pangkalan-pangkalan itu menunjukkan bahwa klaim perlindungan oleh AS ternyata omong kosong. Alih-alih dilindungi, negara-negara Teluk justru habis amunisi pencegatnya untuk mencegah kehancuran total pangkalan-pangkalan AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi hari Ahad menegaskan bahwa negara-negara di kawasan secara bertahap mulai menyadari bahwa keamanan berkelanjutan, pembangunan ekonomi, dan stabilitas regional hanya dapat dicapai melalui kerja sama di antara semua negara di kawasan dan saling menghormati kepentingan mereka.
Berbicara pada pertemuan dengan pejabat lokal dan aktivis demonstrasi populer, Araghchi mengatakan, “Pengalaman perang baru-baru ini telah membuktikan bahwa keamanan regional tidak dapat dibangun dengan mengecualikan atau meminggirkan Iran,” dan menambahkan bahwa setiap arsitektur keamanan baru di kawasan memerlukan “partisipasi penuh dan kerja sama dari semua negara.”
Dia menekankan bahwa “rakyat Iran menggagalkan skema musuh melalui ketabahan mereka dalam menghadapi tekanan dan ancaman,” mengirimkan pesan yang jelas kepada dunia, dan “berhasil mencapai keuntungan strategis yang dampaknya kini terasa di seluruh kawasan dan global.”
Araghchi menegaskan bahwa “kohesi nasional, perlawanan rakyat, dan kehadiran mereka di lapangan publik merupakan pilar utama kekuatan diplomatik Iran,” dan mengatakan bahwa ketabahan Iran telah mengungkap realitas kekuatannya dan menghancurkan narasi musuh tentang kemundurannya.
Dia lebih lanjut mengatakan bahwa Iran telah bangkit dari perang dengan lebih kuat dan lebih bersatu, sebuah hasil dari ketabahan dan solidaritas rakyat serta kemampuan pertahanannya.
Araghchi sebelumnya mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa Teheran mencapai keuntungan strategis melalui perang tersebut, dan menekankan bahwa arsitektur keamanan kawasan harus dibangun oleh negaranya sendiri, bebas dari campur tangan AS dan pangkalan militer.
Wakil Presiden AS JD Vance, pendukung utama perjanjian untuk mengakhiri perang terhadap Iran, mengatakan bahwa perjanjian gencatan senjata yang diumumkan dapat berarti “era baru” di Timur Tengah, dan ia memuji upaya Trump dengan negara-negara Teluk dan sekutu regional untuk mengamankan perjanjian tersebut.
“Apa yang telah dilakukan presiden adalah menciptakan ruang nyata untuk mentransformasi kawasan tersebut,” katanya kepada Fox News. “Dan sekarang, semoga ada era baru bagi Iran.”
“Saya pikir kita dapat dengan aman mengatakan, dengan keyakinan, bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya juga yang merupakan posisi penting bagi AS.
“Ini merupakan hal yang luar biasa bagi rakyat Amerika,” kata Vance, mengungkapkan harapan bahwa harga energi kini akan turun. Ia mengatakan rencananya akan hadir pada upacara penandatanganan minggu depan, dan kemungkinan Trump juga akan hadir di sana.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, membenarkan bahwa kesepakatan telah dicapai untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Republik Islam. Perundingan 60 hari akan dilakukan selekasnya.
Misi diplomatik Iran di India mengutip Gharibabadi yang mengumumkan bahwa “Diakhirinya perang dan semua operasi militer di berbagai bidang, termasuk #Lebanon, akan diumumkan mulai malam ini.” Postingan di X menambahkan, “Akhir dari blokade laut AS terhadap Iran akan dimulai malam ini.”
Dia mengatakan kepada TV pemerintah Iran bahwa kesepakatan itu mencakup gencatan senjata dalam konflik di Lebanon antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, yang juga dikatakan oleh perdana menteri Pakistan dalam sebuah pernyataan.
Gharibabadi menambahkan dalam sambutannya kepada media pemerintah bahwa negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir akan diadakan selama periode 60 hari, dan menambahkan bahwa Teheran akan mengambil tindakan sendiri jika terjadi “pelanggaran dari pihak lain.”
"Ketika negosiasi dimulai dalam waktu 60 hari dengan tujuan mencapai kesepakatan akhir, jika kesepakatan akhir tersebut pada akhirnya tercapai, maka isu utama bagi kami tentu saja adalah penerapan ketentuan-ketentuannya,” katanya.
Pernyataan Gharibabadi muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan antara kedua negara telah “selesai” dan bahwa ia telah “mengizinkan” pembukaan Selat Hormuz, yang telah diblokir oleh Iran, dan penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran secara bersamaan. Postingan dari Iran tidak merujuk pada Selat Hormuz.
Israel tidak diikutsertakan dalam perundingan mengenai perjanjian tersebut, yang persyaratannya dilaporkan telah menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pejabat Israel. Kesepakatan tersebut dilaporkan gagal mencapai salah satu tujuan perang yang ditetapkan oleh AS dan Israel, termasuk menghilangkan program senjata nuklir Iran, menghabiskan persediaan rudal balistiknya, mengakhiri dukungannya terhadap proksi, dan menciptakan kondisi untuk jatuhnya rezim tersebut.
Perang antara Iran di satu sisi melawan Israel dan Amerika Serikat di sisi lain dinilai telah mengubah banyak asumsi lama mengenai keamanan kawasan Timur Tengah. Bagi Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, konflik tersebut bukan hanya memunculkan pertanyaan mengenai masa depan hubungan negara-negara Arab dengan Amerika Serikat dan Israel, tetapi juga membuka diskusi baru mengenai perlunya mekanisme pertahanan bersama di dunia Islam.
Dalam wawancara dengan Republika, Boroujerdi menilai perang telah memperlihatkan rapuhnya sistem hukum internasional dan menurunnya kredibilitas berbagai organisasi global yang selama ini menjadi rujukan penyelesaian konflik. Menurut dia, selama perang berlangsung, berbagai prinsip yang selama ini menjadi fondasi tata dunia internasional justru dilanggar oleh pihak-pihak yang mengaku sebagai penjaga ketertiban global.
"Saya berpendapat bahwa Israel, Amerika, dan para komandannya telah melanggar seluruh aturan, hukum, norma, dan etika internasional. Serangan terhadap Iran bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun tetap dilakukan," kata Boroujerdi.
Ia menuding berbagai fasilitas sipil menjadi sasaran serangan selama perang. Menurut dia, sekolah, universitas, masjid, rumah sakit, pusat kesehatan, infrastruktur energi hingga situs-situs bersejarah turut terdampak serangan.
Boroujerdi bahkan menyebut sebuah sekolah di Kota Minab menjadi sasaran dua rudal Tomahawk pada hari pertama perang. Ia mengklaim serangan itu menewaskan 175 orang, termasuk 168 siswi.
Bagi Teheran, kata dia, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa hukum internasional tidak lagi diterapkan secara setara.
"Setelah perang ini, benar-benar hukum internasional perlu ditinjau kembali. Jika hukum hanya untuk mereka dan kita yang harus mematuhinya, saya tidak berpikir ada negara lain yang akan menerima hal ini," ujarnya.
Tidak hanya hukum internasional, Boroujerdi juga menilai kredibilitas organisasi-organisasi internasional mengalami kemunduran serius. Ia menyoroti ketidakmampuan Dewan Keamanan PBB menghentikan konflik maupun mencegah eskalasi sejak awal perang.
Menurut dia, standar ganda juga terlihat dalam respons terhadap tindakan Iran. Ketika Iran diserang, kata Boroujerdi, tidak ada kecaman yang berarti dari komunitas internasional. Namun ketika Iran melakukan serangan balasan yang disebutnya sebagai hak membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, kecaman justru diarahkan kepada Teheran.
"Organisasi-organisasi internasional ini tidak lagi memiliki kredibilitas. Organisasi yang mengeluarkan resolusi atas luka satu perempuan atau anak di suatu negara, tetapi diam terhadap pembantaian ratusan dan ribuan perempuan dan anak di Gaza, Lebanon, dan Iran, telah kehilangan kredibilitasnya," ujarnya.
Boroujerdi juga berpendapat bahwa perang telah menggerus posisi Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan kawasan. Menurut dia, banyak negara Arab mulai mempertanyakan efektivitas hubungan keamanan yang selama ini dibangun dengan Washington.
Ia menilai negara-negara Arab dan Islam kini tengah meninjau ulang hubungan mereka, baik terkait normalisasi dengan Israel maupun kerja sama strategis dengan Amerika Serikat. "Negara-negara Arab kini memahami bahwa pangkalan Amerika bukan untuk melindungi mereka, melainkan mereka yang justru melindungi pangkalan tersebut," kata dia.
Perubahan cara pandang tersebut, lanjut Boroujerdi, berpotensi mendorong lahirnya gagasan baru mengenai arsitektur keamanan kawasan yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada kekuatan eksternal.
Dalam konteks itu, muncul pula pembicaraan mengenai kemungkinan terbentuknya mekanisme pertahanan bersama negara-negara Islam yang kerap disebut sebagai "NATO Islam". Meski demikian, menurut Boroujerdi, konsep tersebut masih jauh dari bentuk yang konkret.
"Gagasan seperti NATO Islam mungkin belum jelas bentuknya, namun yang pasti banyak negara Islam mulai memikirkan pakta pertahanan di dalam kawasan dan dunia Islam," ujarnya.
Menurut dia, dampak terpenting dari perang bukan semata-mata perubahan peta politik regional, melainkan meningkatnya kesadaran di kalangan negara-negara Islam mengenai pentingnya membangun sistem keamanan kolektif mereka sendiri. "Jika hasil dari perang ini adalah meningkatnya kesadaran Islam, maka itu tentu merupakan hasil yang baik," kata Boroujerdi.
Iran dan AS Sepakati MoU: Selat Hormuz Dibuka, Blokade Maritim Dicabut
Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi pada Senin (15/6/2026) pagi mengatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah difinalisasi dan akan resmi ditandatangani pada Jumat (19/6/2026). Menurut laporan Mehr News dilansir Anadolu, penandatanganan MoU akan digelar di Genewa, Swiss.
Menurutnya, pencabutan blokade maritim akan mulai dilaksanakan pada Ahad malam waktu AS. Gharibabadi menggambarkan MoU sebagai hasil tidak hanya dari diplomasi tapi juga pencapaian militer Iran selama konflik berlangsung.
"Musuh yang melancarkan serangan gagal di semua tujuan jahatnya, dan Republik Islam mencapai kemenangan besar dalam perang," ujarnya.
Dia menambahkan, bahwa Iran telah menambahkan semua posisi-posisi kuncinya dan teks penuh dari MoU akan dipublikasikan setelah resmi ditandatangani. Menurut Gharibabadi, pejabat Iran juga akan menjelasakan beragam dimensi dan pencapaian dari itu melalui publik figur sebelum acara penandatanganan MoU.
Presiden AS Donald Trump pun sudah mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan Iran telah sepenuhnya tercapai dan mengumumkan pembukaan Selat Hormuz bersamaan dengan pencabutan blokade maritim AS.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang komplet," kata Trump lewat unggahan di Truth Social.
Dia menambahkan bahwa dia telah mengautorisasi "pembukaan Selat Hormuz tanpa tol" bersamaan dengan "pencabutan segera" blokade maritim AS.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump disebut telah menyetujui pencairan aset Iran senilai 24 miliar dolar AS (sekitar Rp428,64 triliun) yang selama ini dibekukan, meski belum mengonfirmasinya secara terbuka, menurut seorang pejabat senior Iran. Pernyataan itu disampaikan penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Mohsen Rezaei, dalam sebuah upacara peringatan di Kota Dezful, Iran barat daya, sebagaimana dilaporkan kantor berita Fars News Agency pada Jumat (12/6/2026).
Menurut Rezaei, konflik yang baru-baru ini dialami Iran telah meningkatkan posisi negara itu di tingkat global dan memperkuat kemampuan penangkalnya. Ia mengeklaim kemampuan tersebut telah berkembang hingga membuat Trump, yang ia sebut sebagai “penjudi”, kini khawatir untuk bernegosiasi dengan Teheran.
Rezaei juga menuduh kebijakan Amerika Serikat semakin dipengaruhi oleh Israel. Menurut dia, lobi yang dilakukan dalam lingkaran pengambilan keputusan AS telah membuat negara itu pada praktiknya menjadi “koloni” dari rezim Zionis.
Pernyataan Rezaei muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa nota kesepahaman yang diusulkan dengan Amerika Serikat akan mengakhiri konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon, serta membuka jalan bagi perundingan mengenai pencabutan sanksi.
Wamenlu Iran: Semua Perang Selesai Malam Ini
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, membenarkan bahwa kesepakatan telah dicapai untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Republik Islam. Perundingan 60 hari akan dilakukan selekasnya.
Misi diplomatik Iran di India mengutip Gharibabadi yang mengumumkan bahwa “Diakhirinya perang dan semua operasi militer di berbagai bidang, termasuk #Lebanon, akan diumumkan mulai malam ini.” Postingan di X menambahkan, “Akhir dari blokade laut AS terhadap Iran akan dimulai malam ini.”
Dia mengatakan kepada TV pemerintah Iran bahwa kesepakatan itu mencakup gencatan senjata dalam konflik di Lebanon antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, yang juga dikatakan oleh perdana menteri Pakistan dalam sebuah pernyataan.
Gharibabadi menambahkan dalam sambutannya kepada media pemerintah bahwa negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir akan diadakan selama periode 60 hari, dan menambahkan bahwa Teheran akan mengambil tindakan sendiri jika terjadi “pelanggaran dari pihak lain.”
"Ketika negosiasi dimulai dalam waktu 60 hari dengan tujuan mencapai kesepakatan akhir, jika kesepakatan akhir tersebut pada akhirnya tercapai, maka isu utama bagi kami tentu saja adalah penerapan ketentuan-ketentuannya,” katanya.
Pernyataan Gharibabadi muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan antara kedua negara telah “selesai” dan bahwa ia telah “mengizinkan” pembukaan Selat Hormuz, yang telah diblokir oleh Iran, dan penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran secara bersamaan. Postingan dari Iran tidak merujuk pada Selat Hormuz.
Israel tidak diikutsertakan dalam perundingan mengenai perjanjian tersebut, yang persyaratannya dilaporkan telah menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pejabat Israel. Kesepakatan tersebut dilaporkan gagal mencapai salah satu tujuan perang yang ditetapkan oleh AS dan Israel, termasuk menghilangkan program senjata nuklir Iran, menghabiskan persediaan rudal balistiknya, mengakhiri dukungannya terhadap proksi, dan menciptakan kondisi untuk jatuhnya rezim tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan di platform Truth Social-nya bahwa kesepakatan antara AS dan Iran telah tercapai. Ia mengeklaim bahwa Selat Hormuz bakal kembali dibuka menyusul kesepakatan itu.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump. "Selamat kepada semuanya! Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz bebas tol, dan, bersamaan dengan ini, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal Dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!”
Belum diketahui secara pasti bagaimana isi kesepakatan tersebut. Namun dalam bocoran draf yang dilansir media Iran, kesepakatan mencakupi penghentian agresi di semua wilayah Timur Tengah, utamanya Lebanon; perginya pasukan AS dari sekitar Iran; pembukaan kembali Selat Hormuz dengan kendali Iran; skema ganti rugi bagi Iran atas serangan AS-Israel; pencairan dana Iran yang dibekukan sanksi AS; dan kerangka kesepakatan nuklir.
TV pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran “memaksa” AS untuk menerima perjanjian perdamaiannya. Kantor Berita Fars Iran melaporkan bahwa pernyataan resmi dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi akan segera dikeluarkan mengenai perjanjian gencatan senjata dengan AS.
Mereka menambahkan bahwa telah diputuskan bahwa lalu lintas laut melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz akan diatur oleh Iran melalui koordinasi dengan Oman.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang jadi negosiator juga mengumumkan telah tercapainya kesepakatan. “Setelah pembicaraan intensif, kami dengan bangga mengumumkan bahwa Kesepakatan Damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah TERCAPAI,” tulisnya di X.
“Kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.” Dia menambahkan upacara penandatanganan resmi akan dilakukan pada hari Jumat, 19 Juni di Swiss.
"Dengan kesepakatan yang sudah ada, mediator akan memfasilitasi serangkaian pertemuan minggu ini. Diskusi pra-implementasi ini akan menjadi landasan bagi pembicaraan teknis dan upacara penandatanganan resmi.”
Eskalasi di Teluk dimulai serangan besar-besaran AS- Israel ke Iran pada Februari lalu. Alasan AS terkait serangan itu berubah-ubah. Terungkap belakangan, Trump terbujuk rayuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa serangan ke Iran dan pembunuhan pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei akan menjatuhkan rezim.
Prediksi itu keliru. Meski Ayatullah Khamenei bersama keluarganya syahid, warga Iran tak turun ke jalan menggulingkan pemerintahan. Tampuk kepemimpinan langsung diserahkan ke Mojtaba Khamenei putra Ali Khamenei yang selamat dari serangan AS.
Iran juga menyerang pangkalan-pangkalan AS di Teluk yang digunakan dalam serangan AS-Israel. Lebih dari 20 pangkalan AS porak poranda, menguak janji palsu bahwa AS bisa membawa keamanan di kawasan itu. Drone sederhana Iran juga menguras habis persediaan pencegat mahal buatan AS di kawasan.
Senjata paling dahsyat Iran kemudian adalah kendali atas Selat Hormuz yang sebelum serangan bebas mutlak dilintasi kapal dagang. Blokade Iran atas jalur minyak krusial itu membuat ekonomi dunia terpuruk. Banyak negara di tubir krisis ekonomi dengan harga BBM yang melonjak.
Langgar Gencatan Senjata Lagi, Israel Serang Beirut
Militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut pada Ahad (14/6/2026). Hal itu dilakukan di tengah gencatan senjata antara kedua pihak masih berlangsung.
Menurut koresponden Anadolu, pesawat tempur Israel membombardir kawasan Dahiyeh tanpa peringatan sebelumnya. Dua ledakan terdengar di kawasan tersebut, sementara kepulan asap terlihat membumbung dari lokasi yang menjadi sasaran serangan.
Dalam pernyataannya, militer Israel mengeklaim, serangan itu menyasar sebuah lokasi yang disebut terkait dengan kelompok Hizbullah di kawasan tersebut. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Kepala Otoritas Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir dan Kepala Otoritas Keuangan Bezalel Smotrich menyerukan serangan udara terhadap Dahiyeh.
Hal itu setelah dua pesawat nirawak Hizbullah menyerang wilayah utara Israel. Seruan pejabat Zionis tersebut juga tetap disampaikan meskipun gencatan senjata, yang dimulai 17 April 2026, masih berlaku.
Militer Israel memang terus melanjutkan serangan bom di Lebanon sejak 2 Maret 2026, dan masih menduduki sejumlah wilayah di bagian selatan negara tersebut. Menurut data otoritas Lebanon, serangan Israel menyebabkan lebih dari 3.700 orang tewas, hampir 11.500 orang terluka, serta memaksa lebih dari 1,5 juta warga mengungsi.
Israel Kembali Bom Beirut, Upaya Netanyahu Sabotase Kesepakatan Damai AS-Iran yang Semakin Dekat?
Israel pada Ahad (14/6/2026) melancarkan serangan udara terbaru ke daerah pinggiran selatan Beirut, Lebanon bersamaan dengan serangkaian serangan dan pengusiran paksa warga Lebanon di sepanjang kawasan selatan Lebanon. Menurut laporan the Cradle, tayangan klip video dan foto-foto menggambarkan kepulan asap raksasa di area yang menjadi target di wilayah permukiman Ghobeiri.
Dalam pernyataan resminya, angkatan bersenjata Israel mengatakan bahwa serangan itu "menargetkan infrastruktur Hizbullah" di Beirut.
Serangan ke pinggiran Beirut itu setelah Hizbullah melancarkan operasi serangan drone ke situs-situ militer Israel di Galilee, yang direspons oleh IDF dengan langkah pengusiran paksa warga dan serangan udara ke wilayah selatan Lebanon. Tel Aviv menyebut, serangan drone Hizbullah terhadap markas militer di perbatasan sebagai pelanggaran berat dari gencatan senjata.
"Hizbullah melancarkan serangan drone berbahaya menuju kota-kota di utara Israel," ujar juru bicara militer Israel, Avichay Adraee lewat akun X-nya.
Adraee mengatakan bahwa drone Hizbullah menghantam kawasan Shomera dan Shlomi, dan juga dua drone lainnya jatuh di daerah Galilee sepanjang akhir pekan ini. Adraee juga mengancam bahwa Tel Aviv akan "melanjutkan oeprasi" di Lebanon, beberapa jam setelah mengeluarkan perintah pengusiran paksa terhadap warga di 29 kota dan desa di selatan Lebanon, termasuk di Jbaa, Ain Qana, Ansar, Kfar Sir, dan Kawthariyet al-Riz.
Perintah pengusiran paksa ini berdampak pada terusirnya ribuan warga selatan Lebonon. Adapun, serangan drone Lebanon dilaporkan fokus menyasar pada pasukan pendudukan di dalam selatan Lebanon.
Pejabat Israel menuntut Tel Aviv untuk merspons setiap serangan drone Hizbullah dengan serangan udara terhadap ibu kota Lebanon, Beirut.
"Serangan terhadap warga pendudukan di utara, adalah sebuah ujian bagi 'Doktrin Dahiye' yang dideklarasikan oleh Perdana Menteri. Saya meminta dia untuk mengimplementasikannya dengan determinasi dan kekuatan dan penghancuran gedung-gedung di Dahiye," kata Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich pada Sabtu (13/6/2026).
Iran pada Senin (8/6/2026) seperti dikutip India Today, mengingatkan, bahwa serangan lanjutan Israel termasuk terhadap Lebanon selatan akan mendapatkan balasan yang lebih kuat dari militer Iran. Pengumuman ini muncul setelah satu hari pertukaran serangan antara Iran dan Israel untuk kali pertama sejak gencatan senjata berlaku pada 8 April 2026.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis media Iran, komandan militer Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, mendeklarasikan bahwa "Penghentian operasi angkatan bersenjata dengan ini diumumkan".
Sebelumnya Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin, mengumumkan dimulainya kampanye militer bernama 'Operasi Nasr', sebagai respons atas agresi Israel. Menurut pernyatan resmi IRGC dikutip Pakistan Observer, Angkatan Udara IRGC menargetkan sejumlah fasilitas kunci di pangkalan udara Nevatim dan Tel Nof, dua markas udara penting Israel.
Operasi Nasr digelar pada Senin pagi sebagai jawaban atas Israel yang melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran termasuk instalasi radar di beberapa tempat. "Gelombang rudal dan drone akan terus diluncurkan untuk 7 hari ke depan hingga musuh ditangkal dan berhenti melaksanakan kejahatannya," demikian peringatan dari IRGC.
Serangan terbaru Israel ke Beirut, Lebanon bisa menggagalkan rencana penandatangan nota kesepahaman damai antara AS dan Iran. Diketahui, Iran secara tegas berulang kali mengingatkan bahwa kesepakatan pengakhiran perang termasuk penghentian agresi di semua front termasuk di Lebanon dan Gaza.
Pada Sabtu (14/6/2026), melalui Truth Social, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran akan ditandatangani dalam waktu dekat. Sebelumnya Perdana Menteri Pakistan Sebaz Sharif juga telah menginformasikan hal yang sama.
"Kesepakatan tersebut dijadwalkan untuk ditandatangani besok (hari ini WIB)," kata Trump.
Adapun terkait Selat Hormuz, jalur laut tersebut akan segera dibuka begitu kesepakatan damai diteken, ujarnya.
“Faktanya, mereka (Iran) tidak lagi menginginkan senjata nuklir, dan mereka juga tidak akan memilikinya, baik melalui pembelian, pengembangan, maupun cara perolehan lainnya,” ujar Trump.
Ia menambahkan bahwa hubungan antara kedua negara kini “jauh berbeda dan lebih baik” dibandingkan pada masa pemerintahan Amerika Serikat sebelumnya.