News Komoditi & Global ( Selasa, 26 Mei 2026 )

News  Komoditi  &  Global

                                     (  Selasa,   26  Mei  2026  )

Harga Emas Global  Menguat saat Taruhan Kesepakatan Hormuz Menekan Dolar AS

 

Harga Emas (XAU/USD) naik lebih dari 1,30% pada hari Senin di tengah perdagangan yang tipis akibat libur Memorial Day AS, namun sentimen tetap positif karena kontrak berjangka ekuitas AS naik ke tertinggi baru sepanjang masa, sementara Dolar AS melemah. Pasangan aset XAU/USD diperdagangkan di $4.570 setelah memantul dari level terendah harian di $4.519.

Berita geopolitik menekan Greenback karena korelasi positifnya dengan harga Minyak, dengan Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,32%. DXY, yang mengukur kinerja mata uang Amerika terhadap enam mata uang lainnya, turun ke dekat 99,00. Patokan minyak mentah AS, WTI, turun lebih dari 6% ke $91,00 per barel, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran "berjalan dengan baik."

Negosiasi antara AS dan Iran berlanjut, dan Nikkei melaporkan bahwa Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, setelah Washington dan Tehran mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, menunggu persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Dalam kesepakatan tersebut, Iran akan membersihkan ranjau dari Selat Hormuz dalam 30 hari, memulihkan jalur bagi semua kapal, dan mengakhiri biaya transit. Pembicaraan nuklir akan dilanjutkan selama gencatan senjata 60 hari, sementara Washington secara bertahap akan melonggarkan sanksi terhadap aset Iran.

Berita terbaru mengurangi kemungkinan Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada 2026, meskipun sebagian besar anggota dewan mengatakan mereka cenderung mempertahankan atau menaikkan suku bunga di tengah tekanan inflasi dari konflik Timur Tengah.

Probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada Desember adalah 50%, menurut data Prime Terminal.

Jumat lalu, Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan dia tidak mendukung perubahan suku bunga saat ini tetapi ingin menghilangkan bias pelonggaran dari pernyataan resmi. Dia menambahkan bahwa jika ekspektasi inflasi menjauh dari target, dia "tidak akan ragu" mendukung kenaikan suku bunga, menyebut pembicaraan pemotongan suku bunga sebagai "gila."

Minggu ini, kalender ekonomi AS menyoroti data perumahan, Pesanan Barang Tahan Lama, estimasi kedua PDB Kuartal I 2026, data lapangan pekerjaan, dan pengukur inflasi pilihan The Fed, Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Core Personal Consumption Expenditures/PCE).

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Anjlok di Tengah Harapan Damai AS-Iran   

 

Harga minyak dunia anjlok hampir 7% pada perdagangan Senin (25/5/2026) seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.  Pasar menilai kesepakatan itu berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global yang selama tiga bulan terakhir terganggu akibat konflik di Timur Tengah. Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun US$ 7,24 atau hampir 7% ke level US $96,30 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 6,30 atau 6,5% menjadi US$ 90,88 per barel. Penurunan tajam harga minyak terjadi setelah negosiator utama Iran dan Menteri Luar Negeri Iran melakukan pembicaraan di Doha, Qatar, terkait kemungkinan kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Baca Juga: Minyak Dunia Jatuh Hampir 5%, Kesepakatan Damai AS-Iran Bikin Pasar Lega Kedua pihak disebut telah membuat kemajuan dalam penyusunan nota kesepahaman yang dapat menghentikan konflik dan memberi waktu 60 hari bagi negosiator untuk mencapai kesepakatan final. Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengatakan pasar mulai melihat peluang kembalinya pasokan minyak dari kawasan Teluk. "Meski belum final, pasar mulai berharap distribusi minyak melalui Selat Hormuz bisa kembali berjalan," ujarnya. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah itu selama beberapa bulan terakhir sempat memicu lonjakan harga energi global akibat kekhawatiran pasokan. Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan pasar agar tidak terlalu cepat bereuforia. Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, menilai negosiasi AS-Iran sebelumnya juga beberapa kali hampir mencapai titik temu sebelum akhirnya gagal di tahap akhir. "Kami sudah beberapa kali melihat negosiasi mendekati kesepakatan lalu runtuh di detail terakhir, sementara Selat Hormuz tetap tertutup," kata Johnston. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Kembali Memanasnya Konflik AS–Iran Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di Truth Social menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan baik. Namun, ia juga memperingatkan kemungkinan serangan baru jika negosiasi gagal tercapai. Trump juga mendorong lebih banyak negara Arab dan mayoritas Muslim bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel yang dimediasi AS pada masa jabatan pertamanya. Menurut Flynn, jika kesepakatan damai benar-benar tercapai dan ketegangan geopolitik mereda, premi risiko di pasar minyak Timur Tengah dapat turun signifikan. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan pembahasan saat ini fokus pada penghentian perang dan belum menyentuh isu nuklir. Meski prospek perdamaian mulai terlihat, analis memperkirakan pemulihan pasokan minyak global tidak akan berlangsung cepat. Infrastruktur energi di kawasan dinilai masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal. Analis Sparta Commodities, June Goh, mengatakan defisit pasokan minyak global sekitar 10 juta hingga 11 juta barel per hari belum akan langsung hilang meski kesepakatan damai tercapai. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 2% di Tengah Kabar Iran Tinjau Proposal Damai AS "Pasar masih akan mengandalkan cadangan minyak hingga produksi Timur Tengah benar-benar pulih, dan itu bisa memakan waktu berbulan-bulan," ujarnya. Senada, analis UBS Giovanni Staunovo menilai pasar tetap harus fokus pada kondisi arus fisik minyak di lapangan karena distribusi melalui Selat Hormuz sejauh ini masih terbatas. Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal tanker gas alam cair mulai melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir menuju Pakistan, China, dan India. Selain itu, sebuah supertanker pengangkut minyak mentah Irak tujuan China juga dilaporkan berhasil keluar setelah tertahan hampir tiga bulan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump dan Mojtaba Khamenei Dilaporkan Belum Setujui Kesepakatan Damai Kedua Negara

 

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei belum menyelesaikan persetujuan akhir atas kesepakatan kerangka kerja antara kedua negara. Perkembangan tersebut dilaporkan surat kabar The Telegraph pada Senin (25/5/2026).

Meskipun kerangka umum kesepakatan telah disusun, persetujuan akhir masih diperlukan dari Trump dan Mojtaba Khamenei, menurut laporan tersebut yang mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Sementara itu, seorang sumber di kawasan Teluk Persia mengatakan kepada The Telegraph bahwa para pemimpin regional telah mendesak Trump untuk menerima proposal gencatan senjata guna menstabilkan situasi di kawasan.

Sebelumnya pada Ahad (24/5/2026), Fox News melaporkan bahwa kesepakatan kerangka kerja AS-Iran telah 95 persen selesai, meskipun perundingan masih memperdebatkan pemilihan kata terkait Selat Hormuz dan persediaan material nuklir Teheran.

Adapun pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap target-target di Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Kemudian pada 8 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.

Namun, perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil yang jelas. Meski tidak ada pengumuman dimulainya kembali konflik, AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, kesepakatan dengan Iran pada dasarnya telah disetujui dan rincian akhir masih dibahas sebelum diumumkan.

Kantor berita Tasnim pada Ahad (24/5/2026) melaporkan, potensi perjanjian damai antara Iran dan AS mencakup penghentian perang di semua lini. Selain untuk menghentikan serangan Israel di Lebanon, AS juga disebut akan berkomitmen untuk mencabut sanksi terhadap minyak Iran selama negosiasi.

Jika kesepakatan tercapai, Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya kembali ke status sebelum perang. Namun sebaliknya, jumlah kapal yang diizinkan untuk melewati jalur perairan strategis itu akan dipulihkan ke kondisi sebelum perang dalam waktu 30 hari, menurut Tasnim.

Iran, kata kantor berita itu, menekankan penegakan hak kedaulatannya atas Selat Hormuz melalui berbagai cara, yang rinciannya akan diumumkan kemudian. Sementara itu, Iran bersikeras setidaknya pelepasan sebagian asetnya yang dibekukan, dan kesepakatan potensial juga akan mencakup jendela negosiasi 60 hari tentang program nuklir Teheran.

Teheran juga menyerukan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan alasan bahwa tidak akan ada perubahan pengaturan di Selat Hormuz jika blokade tetap diberlakukan. Setiap perubahan pada navigasi dan transit melalui selat tersebut akan bergantung pada implementasi komitmen AS lainnya dalam nota kesepahaman, menurut laporan tersebut.

Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (23/5/2026) mengatakan bahwa kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang 'sebagian besar telah dinegosiasikan' dan sedang menunggu finalisasi.

Terobosan tersebut muncul setelah kunjungan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir ke Teheran, yang merupakan kunjungan keduanya dalam beberapa pekan terakhir. Gencatan senjata dalam perang AS-Iran yang dimulai pada 28 Februari pertama kali dimediasi oleh Pakistan pada 8 April.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ahmad Vahidi, Jenderal Garis Keras yang Berani Tantang Trump 'Silakan Jika Ingin Lanjutkan Perang'

 

 

Tetap menutup Selat Hormuz, menyerang negara-negara tetangga di sekitar Teluk Persia, dan menolak tuntutan Amerika Serikat agar menyerah tak lagi memperkaya uranium adalah sebagian dari sikap teguh Iran selama masa gencatan senjata. Semua itu seperti diyakini ahli geopolitik dikutip Sweden Herald, Senin (25/5/2026), adalah hasil dari kepimpinan tegas Jenderal Ahmad Vahidi, kepala Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat ini.

Sudah tiga bulan terakhir, Vahidi tak terlihat di publik dan diyakini di antara satu dari sedikit orang yang bisa berkomunikasi langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Ahmad Vahidi dikenal lama sebagai tokoh sentral di lingkungan kekuasaan politik dan militer Iran dan telah menjabat baik sebagai menteri pertahanan dan menteri dalam negeri Iran.

Pada Maret 2026, Vahidi ditunjuk menjadi kepala IRGC setelah pendahulunya Jenderal Mohammad Pakpour terbunuh dalam serangan pada awal perang melawan AS-Israel. Ketika Vahidi mengambil alih kepemimpinan IRGC, seperti pernah dilaporkan New York Times (NYT), Iran mengadopsi sebuah sikap yang lebih keras dalam berkomunikasi secara tidak langsung dengan Presiden AS Donald Trump.

NYT, koran yang dikenal relatif bersahabat dengan Trump, menyebut sang jenderal sebagai "penghalang utama Trump menuju perdamaian." Menurut sebuah lembaga pemikir berbasis di Washington, ISW, Ahmad Vahidi dan orang-orang terdekatnya saat ini tidak hanya mengontrol operasi militer Iran tapi juga kebijakan negosiasi Iran.

Sebuah sumber dengan pengetahuan terkait negosiasi antara AS dan Iran kepada Associated Press mengatakan bahwa, peran Vahidi menjadi sangat besar setelah proses perundingan digelar di Pakistan pada April lalu tak menghasilkan kesepakatan apapun.

Di antara keputusan krusial Vahidi pada masa perang adalah strategi Iran terus menutup Selat Hormuz, memotong akses pasar energi fosil di Teluk Persia, yang berkontribusi pada krisis energi global yang telah dikhawatirkan dunia sejak perang pecah. Selain itu, IRGC lewat kepemimpinan Vahidi menyerang fasilitas-fasilitas minyak, hotel, dan infrastruktur negara-negara Arab yang menciptakan instabilitas di kawasan.

"Dia berpengaruh, dan dia bagian dari sebuah sistem," ujar Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group dikutip CNN, Ahad (24/5/2026).

"Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan sebuah cara konsensus dan tidak diragukan Vahidi memiliki suara yang sangat keras dalam ruang rapat," kata Vaez, menambahkan.

Untuk menggambarkan betapa 'garis keras' latar belakang Vahidi, sejak 2007, Vahidi menjadi buruan Interpol. Ia dituduh berperan besar dalam aksi pengeboman sebuah pusat komunitas Yahudi di Argentina pada 1994 di mana 85 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Kemunculan Vahidi yang kemudian menjadi pengambil keputusan elite menunjukkan bahwa strategi AS dan Israel membunuhi pucuk pimpinan politik dan militer Iran dalam operasi militer tidak berbuah pada terpilihnya eselon kepemimpinan yang moderat. Menurut Danny Citrinowicz, mantan kepala intelijen militer Israel, Vahidi "sangat dominan" dan "radikal", seorang yang sangat berkomitmen pada prinsip-prinsip Revolusi Islam.

"Anda tidak bisa setuju pada sesuatu tanpa melalui persetujuan dia," kata Citrinowicz.

Usai akhir pekan lalu menyeruak optimisme akan tercapainya sebuah kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran, surat kabar The Telegraph pada Senin melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei belum menyelesaikan persetujuan akhir atas kesepakatan kerangka kerja antara kedua negara. Meskipun kerangka umum kesepakatan telah disusun, persetujuan akhir masih diperlukan dari Trump dan Khamenei, menurut laporan tersebut yang mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Sementara itu, seorang sumber di kawasan Teluk Persia mengatakan kepada The Telegraph bahwa para pemimpin regional telah mendesak Trump untuk menerima proposal gencatan senjata guna menstabilkan situasi di kawasan. Sebelumnya pada Ahad (24/5/2026), Fox News melaporkan bahwa kesepakatan kerangka kerja AS-Iran telah “95 persen selesai”, meskipun perundingan masih memperdebatkan pemilihan kata terkait Selat Hormuz dan persediaan material nuklir Teheran.

Sebelumnya pada Sabtu pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa sebuah kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran "sebagian besar telah dinegosiasikan" dan akan segera dilakukan finalisasi.

"Sebuah kesepakatan sebagian besarnya telah dinegosiasikan, tetapi masih perlu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan sejumlah negara lain," kata Trump melalui platform Truth Social, Sabtu.

Trump mengatakan telah membahas rancangan kesepakatan tersebut melalui komunikasi "yang sangat baik" dengan sejumlah pemimpin kawasan. Ia mengaku juga sudah berkomunikasi via telepon dengan pemimpin rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu.

"Aspek-aspek akhir serta rincian dari kesepakatan tersebut saat ini tengah didiskusikan dan akan diumumkan dalam waktu dekat," kata dia.

"Di samping berbagai elemen lain dalam kesepakatan, Selat Hormuz juga akan dibuka," ucap Trump.

Kantor berita Tasnim pada Ahad (24/5/2026) melaporkan, potensi perjanjian damai antara Iran dan AS kemungkinan akan mencakup penghentian perang di semua front. Selain untuk menghentikan serangan Israel di Lebanon, AS juga disebut akan berkomitmen untuk mencabut sanksi terhadap minyak Iran selama negosiasi.

Jika kesepakatan tercapai, Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya kembali ke status sebelum perang. Namun sebaliknya, jumlah kapal yang diizinkan untuk melewati jalur perairan strategis itu akan dipulihkan ke kondisi sebelum perang dalam waktu 30 hari, menurut Tasnim.

Iran, kata kantor berita itu, menekankan penegakan hak kedaulatannya atas Selat Hormuz melalui berbagai cara, yang rinciannya akan diumumkan kemudian. Sementara itu, Iran bersikeras setidaknya pelepasan sebagian asetnya yang dibekukan, dan kesepakatan potensial juga akan mencakup jendela negosiasi 60 hari tentang program nuklir Teheran.

Teheran juga menyerukan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan alasan bahwa tidak akan ada perubahan pengaturan di Selat Hormuz jika blokade tetap diberlakukan. Setiap perubahan pada navigasi dan transit melalui selat tersebut akan bergantung pada implementasi komitmen AS lainnya dalam nota kesepahaman, menurut laporan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akankah Perlawanan Iran Bawa Perdamaian ke Timur Tengah?

 

 

Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran memunculkan proyeksi baru tentang tatanan keamanan kawasan Teluk dan Timur Tengah. Sejumlah pejabat dan analis menilai konflik ini bukan hanya mengubah hubungan Iran dengan negara-negara Arab Teluk, tetapi juga membuka peluang lahirnya arsitektur regional yang lebih mandiri tanpa dominasi Washington.

Amerika Serikat sejak lama terlibat erat dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Pakar Timur Tengah dari the George Washington University menuliskan dalam bukunya “America’s Middle East: The Ruination of a Region, AS mula-mula masuk ke Timur Tengah untuk mengadang Uni Soviet dan ideologi komunisnya di wilayah itu pada 1950-an.

Sejak itu, AS selalu campur tangan dalam urusan keamanan, politik dan ekonomi Timur Tengah. Alih-alih membawa kemakmuran, aksi berulang AS itu meluluhlantakkan wilayah tersebut melalui berbagai perang dan sanksi ekonomi.

Meski mendaku sebagai jawara demokrasi, AS tak ragu mendukung rezim otokratik demi kepentingan mereka. Saat ini, tak ada satupun negara Timur Tengah dan Teluk yang nasibnya lepas dari pengaruh AS.

Namun serangan AS ke Iran dan perlawanan republik Iran disebut jadi titik balik pengaruh itu. Terlebih, AS ternyata tak berdaya melindungi negara-negara kliennya dari serangan balasan Iran ke pangkalan-pangkalan AS di wilayah mereka.

Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohsen Rezaei, bahkan menyebut perang tersebut sebagai tanda “kemunduran Amerika di Timur Tengah”. Dalam wawancaranya dengan kantor berita semi-resmi Tasnim, Rezaei mengatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, kekuatan super Amerika mengalami kemunduran besar.

 “Amerika tidak akan kembali menjadi Amerika seperti masa lalu,” ujar Rezaei yang kini menjadi anggota Dewan Kebijaksanaan Iran sekaligus penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Ia juga memuji para negosiator Teheran yang disebut terus memperjuangkan hak-hak rakyat Iran, meski militer Iran dan IRGC masih berada dalam posisi siaga penuh.

Optimisme serupa disampaikan Duta Besar Iran untuk Arab Saudi, Alireza Enayati. Dalam unggahannya di platform X, Enayati menilai kawasan kini memiliki momentum untuk bersatu membangun kembali Timur Tengah melalui kerja sama regional.

Menurut dia, Iran merupakan bangsa yang tangguh menghadapi tekanan dan memiliki peluang menjadi “kesempatan baru” bagi kawasan untuk meninggalkan pola konflik lama serta mulai memikirkan masa depan bersama.

Namun, jalan menuju rekonsiliasi regional diperkirakan tidak mudah. Perang telah memperdalam krisis kepercayaan antara Iran dan negara-negara Teluk.

Asisten Profesor Hubungan Internasional Universitas Qatar, Abdulla Banndar Al-Etaibi, mengatakan hubungan tersebut pada akhirnya tetap harus dipulihkan karena negara-negara di kawasan berbagi kepentingan geografis dan stabilitas yang sama.

“Ada persoalan besar terkait kepercayaan, tetapi pada akhirnya kita hidup di kawasan yang sama. Stabilitas dan deeskalasi tetap menjadi kebutuhan bersama,” kata Al-Etaibi kepada Aljazirah.

Ia menambahkan, negara-negara Teluk sejatinya memiliki tujuan yang sama meski menggunakan pendekatan berbeda. Sebagian memilih jalur Dewan Keamanan PBB, sebagian menempuh mediasi, sementara yang lain cenderung menunggu perkembangan situasi.

“Metodenya berbeda, tetapi tujuannya sama, yakni menjaga stabilitas kawasan,” ujarnya.

Sementara itu, profesor ilmu politik Universitas Kuwait, Abdullah Alshayji, menilai perang ini sejak awal lebih merupakan “perang pilihan” dibanding perang yang tak terhindarkan.

Menurut dia, Presiden AS Donald Trump sempat meyakini Iran berada di titik lemah dan rezim di Teheran dapat dijatuhkan. Namun perhitungan itu dinilai keliru.

 “Pada akhirnya itu menjadi salah kalkulasi besar,” ujar Alshayji dalam program Inside Story Al Jazeera.

Ia mengatakan Iran kini memanfaatkan tekanan domestik di AS, termasuk kenaikan harga energi dan bahan bakar, untuk memperkuat posisi tawarnya dalam negosiasi.

“Karena konflik ini, kawasan kami ikut menanggung dampaknya. Bahkan dunia menghadapi krisis energi paling serius dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.

Di sisi lain, Israel disebut mulai khawatir tersisih dari tahap akhir pembicaraan kesepakatan potensial antara Teheran dan Washington.

Koresponden Aljairah di Ramallah, Nida Ibrahim, melaporkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya meredam spekulasi bahwa hubungan Israel-AS sedang terganggu. Netanyahu menegaskan relasi kedua negara tetap kuat.

Meski demikian, muncul keraguan di internal Israel mengenai kemampuan Netanyahu mengamankan kepentingan strategis negaranya dalam kesepakatan tersebut.

Pejabat Israel disebut tidak puas dengan rancangan awal perjanjian karena belum menyentuh isu utama bagi Tel Aviv, terutama soal uranium Iran yang diperkaya tingkat tinggi dan masa depan program nuklir Teheran.

“Suasana di Israel saat ini adalah kekhawatiran,” kata Ibrahim.

Kekhawatiran juga muncul terkait Lebanon. Laporan Channel 12 menyebut militer Israel cemas jika kesepakatan damai nantinya membatasi ruang gerak operasi mereka di wilayah Lebanon.

Analis Iran, Esfandyar Batmanghelidj, memandang komunikasi bersama para pemimpin Timur Tengah dengan Donald Trump sebagai “titik balik historis” dalam pola keamanan kawasan.

Dalam unggahannya di X, ia menyebut dinamika baru mulai terlihat ketika negara-negara regional memilih membangun kesepakatan melalui mediasi dan negosiasi antar-kekuatan kawasan, bukan lagi sepenuhnya bergantung pada AS.

“Ini menunjukkan pendewasaan diplomasi regional yang telah dibangun bertahun-tahun dan kini menghadapi ujian terbesar pascaperang Iran,” tulisnya.

Batmanghelidj menilai pertanyaan penting ke depan adalah apakah pengalaman ini dapat dikonsolidasikan menjadi tatanan baru Timur Tengah pascaperang.

“Jika itu berhasil, maka masa depan paling cerah kawasan ini mungkin justru ada di depan mata,” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

PM Israel Netanyahu Akui Sulit Pengaruhi Trump soal Negosiasi Iran

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan mengakui secara pribadi bahwa negaranya memiliki kemampuan terbatas untuk memengaruhi keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait negosiasi dengan Iran. Pengakuan tersebut disampaikan Netanyahu dalam percakapan tertutup dengan sejumlah orang kepercayaannya, menurut dua pejabat Israel yang mengetahui langsung pembicaraan tersebut. Baca Juga: Ferrari Luncurkan Mobil Listrik Pertama “Luce”, Taruhan Baru di Era EV Premium Komentar Netanyahu muncul di tengah minimnya keterlibatan Israel dalam proses negosiasi awal antara AS dan Iran guna menghentikan konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan. Konflik tersebut bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Baik Washington maupun Teheran sejauh ini sama-sama meredam ekspektasi tercapainya terobosan cepat dalam perundingan. Kedua negara masih berselisih mengenai sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran, tuntutan pencabutan sanksi ekonomi, hingga konflik Israel dengan kelompok Hezbollah di Lebanon. Netanyahu juga disebut tetap menuntut hak Israel untuk melanjutkan operasi militer terhadap ancaman yang dianggap membahayakan keamanan negaranya, termasuk di Lebanon. Baca Juga: Hadapi Efek Krisis Timur Tengah, Jepang Siapkan Anggaran Tambahan 3 Triliun Yen Sikap tersebut dinilai berpotensi menghambat kesepakatan jika Iran meminta penghentian penuh operasi militer Israel di Lebanon selatan. Salah satu pejabat Israel mengatakan Netanyahu secara pribadi menyampaikan kekhawatiran terhadap memorandum of understanding (MoU) yang tengah dinegosiasikan AS dan Iran. Berdasarkan rancangan kesepakatan tersebut, Iran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade laut AS terhadap kapal-kapal Iran. Setelah itu, negosiasi lanjutan mengenai isu nuklir akan dilakukan melalui mediasi Pakistan. Baca Juga: Iran dan AS Kompak Redam Ekspektasi Kesepakatan Damai dalam Waktu Dekat Sumber Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa pada tahap selanjutnya dimungkinkan adanya “formula yang realistis” untuk menyelesaikan sengketa stok uranium Iran yang diperkaya tinggi, termasuk melalui pengenceran material di bawah pengawasan badan nuklir PBB. Meski isu utama terkait program nuklir Iran belum sepenuhnya terjawab, Netanyahu disebut menyadari bahwa Israel “tidak memiliki ruang manuver untuk memengaruhi presiden AS saat ini”. Kantor Netanyahu belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut. Dalam sepekan terakhir, Trump dan Netanyahu diketahui telah berbicara melalui sambungan telepon sedikitnya tiga kali. Baca Juga: UPDATE-Dolar AS Melemah di Tengah Optimisme Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz Pada periode yang sama, pejabat Israel menyebut negaranya juga sempat mempersiapkan kemungkinan serangan udara lanjutan bersama AS terhadap Iran, khususnya yang menyasar infrastruktur energi. Usai percakapan pertama pada Selasa malam, Trump bahkan sempat melontarkan komentar kepada wartawan terkait Netanyahu. “Dia orang yang sangat baik, dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” ujar Trump. Trump dan Netanyahu kembali berbicara pada Jumat malam dan Sabtu, setelah Trump melakukan pembicaraan bersama para pemimpin negara Teluk, Turki, dan Pakistan terkait perkembangan negosiasi Iran. Baca Juga: Nikkei Cetak Rekor di 65.000, Optimisme Damai Iran Bawa Lonjakan Saham Jepang Setelah percakapan terakhir tersebut, Netanyahu akhirnya menyatakan secara terbuka bahwa dirinya dan Trump membahas memorandum pembukaan kembali Selat Hormuz serta negosiasi menuju kesepakatan final terkait program nuklir Iran. Netanyahu mengatakan dirinya dan Trump sepakat bahwa setiap kesepakatan akhir harus mencakup pembongkaran fasilitas pengayaan uranium Iran dan pengeluaran material uranium yang diperkaya dari wilayah Iran. Ia juga menyebut Trump kembali menegaskan hak Israel untuk mempertahankan diri terhadap ancaman di berbagai front, termasuk Lebanon. Kesepakatan potensial ini muncul di tengah tekanan politik terhadap Netanyahu menjelang pemilu nasional Israel yang diperkirakan sulit dimenangkannya. Lawan politiknya menilai Netanyahu gagal mencapai target perang yang sebelumnya diumumkan pemerintah Israel. Baca Juga: Bank Sentral Singapura Gandeng Industri, Permudah Aplikasi Rekening Bank Swasta Pada awal konflik 28 Februari lalu, Netanyahu menyatakan Israel menargetkan penggulingan pemerintahan Iran, penghancuran kemampuan nuklir dan rudal balistik Iran, serta melemahkan pengaruh Teheran di kawasan. Namun, sejak itu fokus AS dan Israel mulai berbeda. Washington kini lebih menitikberatkan pada pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Dalam wawancara dengan CBS awal bulan ini, Netanyahu menegaskan masih banyak hal yang harus dilakukan untuk memastikan uranium Iran keluar dari negara tersebut serta menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan.

 

 

 

 

 

 

 

Iran dan AS Kompak Redam Ekspektasi Kesepakatan Damai dalam Waktu Dekat

 

Iran dan Amerika Serikat (AS) sama-sama meredam ekspektasi tercapainya terobosan cepat dalam konflik yang telah berlangsung tiga bulan terakhir. Kedua pihak menegaskan bahwa peluang kesepakatan damai dalam waktu dekat masih belum pasti. Baca Juga: UPDATE-Dolar AS Melemah di Tengah Optimisme Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, Washington akan memberikan ruang sepenuhnya bagi diplomasi untuk bekerja, sebelum mempertimbangkan opsi lain jika perundingan gagal. “Akan ada kesepakatan yang baik, atau kami akan menangani situasi ini dengan cara lain,” ujar Rubio kepada wartawan di New Delhi dilansir. Ia menambahkan bahwa AS tetap membuka peluang perundingan, namun tidak akan terburu-buru mengambil keputusan. Rubio juga menyebut terdapat “kerangka awal yang cukup solid” terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz serta dimulainya negosiasi terbatas mengenai isu nuklir Iran. Baca Juga: Nikkei Cetak Rekor di 65.000, Optimisme Damai Iran Bawa Lonjakan Saham Jepang Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Teheran saat ini tengah membahas upaya mengakhiri konflik, namun belum memasuki pembahasan detail terkait program nuklir. Juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa meskipun sebuah kerangka kesepakatan telah dibahas, belum ada tanda bahwa kesepakatan final akan segera tercapai. Ia juga menegaskan bahwa dokumen awal tersebut tidak memuat rincian spesifik mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa blokade AS terhadap kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap diberlakukan hingga kesepakatan resmi dicapai dan ditandatangani. Ia juga meminta kedua pihak untuk tidak tergesa-gesa dalam proses negosiasi. Baca Juga: Bank Sentral Singapura Gandeng Industri, Permudah Aplikasi Rekening Bank Swasta Sementara itu, harga minyak dunia sempat turun sekitar 5% ke level terendah dalam dua minggu, dipicu optimisme bahwa kedua negara semakin dekat dengan kesepakatan damai yang dapat meredakan ketegangan di kawasan. Namun demikian, sejumlah isu utama masih menjadi ganjalan, termasuk program nuklir Iran, konflik Israel di Lebanon, serta tuntutan Iran terkait pencabutan sanksi dan pembebasan aset minyak yang dibekukan di luar negeri. Seorang pejabat senior pemerintahan AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa Iran disebut telah menyetujui secara prinsip pembukaan Selat Hormuz dengan imbalan pencabutan blokade laut oleh AS serta pengelolaan stok uranium yang diperkaya. Pejabat tersebut juga menyebut bahwa kerangka perjanjian memberikan waktu sekitar 60 hari bagi negosiator untuk mencapai kesepakatan final. Baca Juga: Tiga Kapal Tanker Timur Tengah Keluar dari Selat Hormuz Menuju Pakistan dan China Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tidak berniat mengenakan biaya tol untuk jalur pelayaran di Selat Hormuz, meski tetap membuka kemungkinan adanya biaya layanan navigasi. Iran selama ini membantah tuduhan AS dan Israel terkait pengembangan senjata nuklir, dan menegaskan bahwa program pengayaan uraniumnya ditujukan untuk tujuan sipil. Presiden Trump sebelumnya juga kembali menegaskan sikapnya, bahwa kesepakatan dengan Iran harus “baik dan tepat”, sembari menyindir kritik terhadap proses negosiasi yang sedang berlangsung. Ketegangan antara kedua negara masih berpotensi memengaruhi pasar energi global, yang dalam beberapa bulan terakhir terdampak lonjakan harga bahan bakar, pupuk, dan pangan akibat konflik berkepanjangan.

 

Hadapi Efek Krisis Timur Tengah, Jepang Siapkan Anggaran Tambahan 3 Triliun Yen

 

Pemerintah Jepang akan menyiapkan anggaran tambahan sekitar ¥ 3 triliun, atau sekitar Rp 334,70 triliun. Rencana ini menimbulkan kekhawatiran ekspansi fiskal tersebut dapat semakin memperberat keuangan negara, yang saat ini sudah makin tertekan. Reuters melaporkan, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan rencana penambahan anggaran tersebut, Senin (25/5/2026). Takaichi mengatakan anggaran tambahan akan dibiayai oleh obligasi pembiayaan defisit baru. Tapi ia juga menyebut, langkah tersebut dapat diimplementasikan tanpa memengaruhi pasar obligasi. Pemerintah Jepang juga memastikan jadwal rencana penerbitan obligasi pemerintah tidak berubah. Takaichi menuturkan, pendapatan pajak yang lebih kuat, pendapatan non-pajak, dan perkiraan pengeluaran yang lebih rendah kemungkinan akan menutup kebutuhan sekitar ¥ 3 triliun dari defisit penerbitan obligasi yang telah dijadwalkan untuk diterbitkan hingga Juni. Baca Juga: UPDATE-Dolar AS Melemah di Tengah Optimisme Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz Rencana Jepang menambah anggaran tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan sebelumnya yang menolak perlunya anggaran tambahan. Selain itu, Jepang juga memperpanjang subsidi untuk menjaga harga bensin tetap stabil. Langkah tersebut dengan cepat menghabiskan cadangan daruratnya karena harga minyak tetap tinggi. Sebelumnya, pemerintah Jepang juga memutuskan menggunakan sekitar setengah dari cadangan daruratnya, sebesar ¥ 1 triliun, untuk mendanai subsidi yang bertujuan untuk menekan tagihan utilitas, meningkatkan kebutuhan untuk mengisi kembali cadangan di tengah risiko krisis Timur Tengah yang berkepanjangan. Kabar pemerintah Jepang kemungkinan akan menerbitkan utang baru sebagai bagian dari pendanaan untuk anggaran tambahan tersebut membantu mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun acuan menjadi 2,8% pekan lalu. Ini level tertinggi sejak Oktober 1996.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kapal Pengangkut Minyak dan LNG Tinggalkan Hormuz, Berlayar ke Pakistan dan China

 

 Dua kapal tanker gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dilaporkan meninggalkan Selat Hormuz pada hari Senin, masing-masing menuju Pakistan dan China. Pada saat yang sama, sebuah supertanker yang membawa minyak mentah Irak untuk China juga telah keluar dari Teluk setelah sempat terdampar hampir tiga bulan, menurut data pelayaran yang dikutip Reuters. Perkembangan ini terjadi di tengah konflik bersenjata antara Amerika Serikat–Israel dan Iran yang dimulai pada 28 Februari, yang telah secara signifikan mengganggu aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur strategis ini biasanya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan LNG global. Jalur energi global terganggu Data pelayaran menunjukkan bahwa kapal-kapal besar kini harus mengikuti rute transit alternatif yang disebut telah ditetapkan oleh Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa Very Large Crude Carrier (VLCC) juga berhasil membawa sekitar 6 juta barel minyak mentah menuju China dan Korea Selatan. Baca Juga: Harga Batubara Kokas Melonjak Pasca Bencana Tambang Batubara di China Aktivitas ini menunjukkan adanya upaya terbatas untuk tetap menjaga arus perdagangan energi, meskipun risiko keamanan di kawasan tetap tinggi. Pergerakan kapal LNG dari Qatar Salah satu kapal LNG, Fuwairit, dilaporkan sedang melintasi Selat Hormuz pada Senin dan diperkirakan akan menurunkan muatannya di Pakistan pada hari Selasa. Kapal berbendera Bahama tersebut sebelumnya memuat LNG di terminal Ras Laffan, Qatar, sekitar 28 Maret. Perusahaan pelayaran Jepang Mitsui O.S.K. Lines (MOL), pemilik kapal tersebut, belum memberikan komentar resmi terkait kondisi terbaru. Sementara itu, kapal LNG lainnya, Al Rayyan, juga telah keluar dari Selat Hormuz. Kapal ini sebelumnya mengangkut kargo dari Ras Laffan dan terakhir terpantau berada di luar selat antara Iran dan Oman. Kapal tersebut diperkirakan akan tiba di China untuk pembongkaran muatan pada 27 Juni. QatarEnergy, pemilik kapal Al Rayyan, juga belum memberikan tanggapan resmi di luar jam kerja. Pengiriman minyak Irak ke China Di sisi lain, supertanker Eagle Verona yang berbendera Singapura dan disewa oleh Unipec—unit perdagangan dari Sinopec, salah satu kilang terbesar di Asia—telah keluar dari Selat Hormuz pada Sabtu. Baca Juga: Harga Emas Naik Dipicu Pelemahan Dolar AS, Investor Menimbang Kesepakatan AS-Iran Kapal tersebut membawa hampir 2 juta barel minyak mentah Basrah yang dimuat pada akhir Februari. Berdasarkan data pelayaran, kapal itu diperkirakan tiba di pelabuhan Ningbo, China bagian timur, pada 12 Juni untuk melakukan pembongkaran. Sumber pelayaran juga menyebutkan bahwa kapal tersebut merupakan salah satu dari beberapa kapal yang sebelumnya meminta izin transit kepada Iran. Dampak terhadap lalu lintas Selat Hormuz Sebelum konflik terjadi, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mencapai rata-rata 125 hingga 140 lintasan per hari. Namun, sejak eskalasi konflik, arus pelayaran menurun drastis dan menimbulkan dampak serius terhadap rantai pasok energi global. Diperkirakan masih ada sekitar 20.000 pelaut yang terjebak di kawasan Teluk di atas ratusan kapal, akibat ketidakpastian keamanan dan pembatasan jalur pelayaran.

 

 

UPDATE-Dolar AS Melemah di Tengah Optimisme Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz

 

Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Senin (25/5/2026), seiring meningkatnya optimisme kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang menekan harga minyak dunia di bawah US$100 per barel. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran masih meredam ekspektasi tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Baca Juga: Nikkei Cetak Rekor di 65.000, Optimisme Damai Iran Bawa Lonjakan Saham Jepang Selain faktor geopolitik, pasar global juga bergerak dalam kondisi likuiditas tipis karena sejumlah bursa utama, termasuk di Amerika Serikat, Hong Kong, Inggris, dan sebagian besar Eropa, tutup karena hari libur. Melansir Reuters, terhadap yen Jepang, dolar AS melemah 0,2% menjadi 158,94 yen. Euro naik 0,31% ke posisi US$1,11639, sementara pound sterling menguat 0,42% ke US$1,34865. Dolar Australia menguat 0,5% menjadi US$0,7162, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,37% ke US$0,58685. Indeks dolar AS juga turun sekitar 0,2% ke level 99,059. Baca Juga: Bank Sentral Singapura Gandeng Industri, Permudah Aplikasi Rekening Bank Swasta Di tengah proses diplomasi untuk mencari solusi atas konflik Iran, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa hanya ada dua kemungkinan hasil: kesepakatan yang baik atau langkah lain dari Washington terhadap Iran. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut bahwa banyak isu dalam pembahasan kerangka kesepakatan telah mencapai titik temu, meski belum berarti kesepakatan final akan segera tercapai. Di pasar energi, harga minyak kembali tertekan. Brent turun 4,5% menjadi US$98,9 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 4,4% ke US$88,98 per barel. Sentimen pasar dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pada Sabtu bahwa kerangka kesepakatan damai dengan Iran telah “hampir rampung” dan mendapat kemajuan dari mediator di Pakistan. Baca Juga: Tiga Kapal Tanker Timur Tengah Keluar dari Selat Hormuz Menuju Pakistan dan China Namun sehari kemudian, Trump menegaskan bahwa blokade AS terhadap kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap berlaku hingga kesepakatan final ditandatangani. “Pasar sudah terbiasa bersabar terhadap terobosan nyata, tetapi skenario dasar tetap mengarah pada tercapainya kesepakatan. Berita akhir pekan memberikan keyakinan tambahan, meski waktu pastinya masih belum jelas,” ujar Chris Weston, Head of Research Pepperstone Group Ltd di Melbourne. Ia menambahkan, jika harga Brent turun menuju US$90, maka aset berisiko berpotensi kembali menguat karena ekspektasi inflasi jangka pendek menurun dan spekulasi kenaikan suku bunga di masa depan ikut mereda. Dari kawasan Eropa, pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) Yiannis Stournaras mengatakan bahwa jika inflasi zona euro melampaui target secara sementara namun signifikan, maka kebijakan moneter perlu disesuaikan ke arah yang lebih ketat secara hati-hati. Baca Juga: Tokoh Pendiri 7-Eleven Toshifumi Suzuki Wafat pada Usia 93 Tahun Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data penting pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP Amerika Serikat pada Selasa serta survei kepercayaan konsumen zona euro pada Kamis. Di pasar aset digital, bitcoin naik 0,9% menjadi US$77.307,01, sementara ether menguat 1% ke US$2.111,44.

 

 

 

Share this Post