News Komoditi & Global ( Senin, 2 Maret 2026 )

News  Komoditi & Global

                                      (  Senin,   2 Maret 2026  )

Harga Emas Global Melonjak , Investor Menyerbu Aset Save Haven di Tengah Memanasnya Perang Iran

 

Harga emas melonjak pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/3/2026). Mengutip Bloomberg, pukul 07.41 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.377,20 per ons troi, naik 2,46% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 5.247,90 per ons troi.

Harga emas naik lantaran investor berbondong-bondong mencari aset safe haven di tengah guncangan pasar akibat perang di Timur Tengah.

Pada perdagangan pagi ini, harga emas naik lebih dari 2%, setelah naik lebih dari 3% pada pekan lalu seiring peningkatan jumlah pasukan AS di wilayah Timur Tengah.

Konflik menyebar pada akhir pekan setelah AS dan Israel menyerang Iran dan Teheran membalas dengan gelombang rudal ke target di berbagai negara.

Ketegangan geopolitik telah menjadi faktor kunci reli emas yang berkepanjangan, didukung pembelian oleh bank sentral dan pergeseran investor dari obligasi pemerintah dan mata uang ke emas.

"Kenaikan harga emas pada Senin ini merupakan indikasi awal investor mencari aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian regional," kata Ahmad Assiri, ahli strateg Pepperstone Group Ltd seperti dikutip Bloomberg.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Meroket, Selat Hormuz Jadi Perhatian Utama Pasar

 

Harga minyak melonjak tajam pada Senin (2/3/2026), sementara investor berbondong-bondong mencari aset aman seperti obligasi dan emas setelah konflik militer di Timur Tengah diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Situasi ini terjadi di tengah pasar global yang sebelumnya sudah diliputi kekhawatiran terkait sektor kecerdasan buatan (AI) dan perbankan.

Data Reuters menunjukkan, minyak mentah acuan global Brent Crude melonjak 9% menjadi US$ 79,42 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate naik 8,6% menjadi US$ 72,61 per barel.

Di sisi lain, harga emas juga meningkat sekitar 1,4% menjadi US$ 5.350 per ons.

Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran juga membalas dengan serangan rudal ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut, meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara-negara tetangga.

Presiden Donald Trump bahkan mengatakan kepada surat kabar Daily Mail bahwa konflik ini bisa berlangsung hingga empat minggu lagi. Ia juga menegaskan bahwa serangan akan terus berlanjut sampai tujuan militer Amerika Serikat tercapai.

Perhatian utama pasar global kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melalui laut serta sekitar 20% pasokan gas alam cair global.

Meskipun jalur tersebut belum sepenuhnya diblokir, sejumlah situs pelacakan kapal menunjukkan kapal tanker mulai menumpuk di kedua sisi selat. Banyak kapal menunggu karena khawatir terhadap risiko serangan atau kesulitan memperoleh asuransi pelayaran.

Kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan bahwa gangguan paling nyata bagi pasar minyak saat ini adalah terhentinya lalu lintas kapal secara efektif di Selat Hormuz.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menahan sekitar 15 juta barel minyak per hari untuk tidak sampai ke pasar global.

“Jika tidak ada sinyal de-eskalasi dalam waktu dekat, kami memperkirakan harga minyak akan mengalami penyesuaian naik secara signifikan,” ujarnya.

Lonjakan harga minyak yang berkepanjangan berpotensi memicu kembali tekanan inflasi global. Kenaikan harga energi juga bisa menjadi beban tambahan bagi dunia usaha dan konsumen sehingga berisiko menekan permintaan ekonomi.

Aliansi produsen minyak OPEC+ memang telah sepakat menaikkan produksi sekitar 206.000 barel per hari mulai April. Namun sebagian besar tambahan produksi tersebut tetap harus dikirim melalui tanker dari kawasan Timur Tengah.

SVP pasar minyak di Wood Mackenzie, Alan Gelder, menyebut situasi saat ini memiliki kemiripan dengan embargo minyak Timur Tengah pada era 1970-an.

Saat itu harga minyak melonjak hingga 300% menjadi sekitar US$ 12 per barel pada 1974.

Jika dikonversi dengan nilai saat ini, harga tersebut setara sekitar US$ 90 per barel pada tahun 2026. Dengan kekhawatiran gangguan pasokan besar seperti saat ini, harga minyak berpotensi melampaui level tersebut.

Kenaikan tajam harga energi akan menjadi kabar buruk bagi negara pengimpor minyak besar seperti Jepang yang mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya. Kondisi ini membuat kontrak berjangka indeks saham Nikkei 225 turun sekitar 1,1%.

Pasar saham dan mata uang ikut bergejolak

Di pasar saham Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 0,8%, sedangkan futures Nasdaq Composite melemah 0,9%.

Gejolak harga minyak juga memicu pergerakan di pasar mata uang. Dolar AS melemah sekitar 0,2% terhadap franc Swiss yang dikenal sebagai aset safe haven.

Namun dolar tetap mendapat dukungan karena Amerika Serikat merupakan eksportir energi bersih dan obligasi pemerintahnya masih dianggap sebagai aset likuid di tengah ketidakpastian global. Hal ini turut menekan euro sekitar 0,3% menjadi US$1,1780.

Sementara itu, yen Jepang yang biasanya juga menjadi aset lindung nilai tidak sepenuhnya menguat karena Jepang sangat bergantung pada impor minyak. Dolar justru naik sekitar 0,2% terhadap yen menjadi 156,31 yen.

Di pasar obligasi, kontrak berjangka obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menguat tipis setelah imbal hasilnya turun di bawah 4% pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak akhir November.

Permintaan terhadap obligasi meningkat setelah pemberi kredit perumahan Inggris MFS ditempatkan dalam proses administrasi akibat dugaan penyimpangan keuangan.

Kabar tersebut memicu kekhawatiran di sektor kredit karena sejumlah bank besar diketahui menjadi pemberi pinjaman bagi perusahaan tersebut, yang memiliki utang sekitar 2 miliar pound sterling.

Tekanan di sektor perbankan ini menambah kekhawatiran pasar yang sebelumnya sudah gelisah akibat volatilitas saham teknologi berbasis AI.

Selain konflik geopolitik, investor juga akan menghadapi rangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat pekan ini, termasuk survei manufaktur Institute for Supply Management, data penjualan ritel, serta laporan ketenagakerjaan bulanan yang sangat diperhatikan pasar.

Jika data ekonomi menunjukkan pelemahan, kepercayaan terhadap ekonomi AS bisa terguncang setelah kinerja yang mengecewakan pada kuartal keempat. Namun kondisi tersebut juga dapat meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Saat ini pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga pada Juni sekitar 53%, dengan total pemangkasan sekitar 60 basis poin sepanjang tahun ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemimpin Tertinggi Iran Tewas dalam Serangan AS dan Israel, Ini Reaksi Global

 

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan AS dan Israel di dilakukan pada pekan ini. Media pemerintah Iran pun akhirnya mengkonfirmasi hal tersebut saat gelombang serangan lain melanda negara itu pada Minggu (1/3/2026).

Berikut adalah reaksi internasional atas kematiannya:

Presiden Komisi Eropa Ursula Von Der Leyen

"Dengan kepergian Khamenei, ada harapan baru bagi rakyat Iran. Kita harus memastikan bahwa masa depan adalah milik mereka untuk diklaim dan dibentuk. Pada saat yang sama, momen ini membawa risiko nyata ketidakstabilan yang dapat mendorong kawasan ini ke dalam spiral kekerasan."

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani

"Untuk saat ini, Iran berada dalam fase transisi, dan masih harus dilihat berapa lama akan berlangsung dan apa dampak perang tersebut. Yang pasti adalah bahwa seorang pemimpin yang telah membimbing Iran selama beberapa dekade telah tiada, dan itu pasti akan memiliki konsekuensi, termasuk hilangnya otoritas pribadi Khamenei atas penduduk."

Baca Juga: Pasokan Energi Dunia Terancam: Selat Hormuz Ditutup Iran, Harga Gas Melonjak

Juru Bicara Pemerintah Prancis Maud Bregeon

"Dia bertanggung jawab atas kematian ribuan warga sipil di negaranya dan di kawasan itu, jadi kita hanya bisa menyambut kepergiannya. Sekarang terserah rakyat Iran untuk memilih takdir mereka sendiri."

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas

"Kematian Ali Khamenei adalah momen penting dalam sejarah Iran. Apa yang akan terjadi selanjutnya tidak pasti. Tetapi sekarang ada jalan terbuka menuju Iran yang berbeda, Iran yang mungkin memiliki kebebasan lebih besar bagi rakyatnya untuk membentuknya."

Presiden Rusia Vladimir Putin

"Mohon terima belasungkawa mendalam saya sehubungan dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Seyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya, yang dilakukan dengan pelanggaran sinis terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional."

Menteri Luar Negeri Swesia Maria Stenergard

"Ayatollah Ali Khamenei telah dipastikan meninggal dunia. Ini bisa membuka peluang. Namun masih banyak ketidakpastian yang tersisa.

"Masa depan Iran harus menjadi milik rakyat. Tetapi jalan menuju ke sana masih panjang." Risiko spiral kekerasan di Timur Tengah tetap besar.

Majelis Ulama Indonesia (MUI)

"Dewan Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan belasungkawa terdalam atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, akibat serangan Israel-Amerika pada 28 Februari.

"Amerika Serikat, yang memainkan peran sentral dalam mengelola konflik Palestina melalui BoP (Dewan Perdamaian), menghadapi pertanyaan besar: apakah strategi ini benar-benar bertujuan untuk perdamaian yang adil, atau justru memperkuat arsitektur keamanan yang tidak setara dan mengubur kemerdekaan Palestina? Oleh karena itu, MUI mendesak pemerintah Indonesia untuk mencabut keanggotaannya dari BoP."

 

 

China Kecam Serangan ke Iran, Desak Gencatan Senjata dan Dialog

 

 Pemerintah China mengecam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta menyerukan gencatan senjata segera guna mencegah konflik kawasan yang lebih luas.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut serangan tersebut “tidak dapat diterima”, termasuk apa yang ia sebut sebagai “pembunuhan terang-terangan terhadap pemimpin negara berdaulat” dan dorongan perubahan rezim.

Pernyataan itu disampaikan Wang dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua dilansir Reuters Minggu (1/3/2026).

Serangan AS dan Israel pada Sabtu dini hari dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Presiden AS Donald Trump disebut mendesak rakyat Iran untuk “mengambil alih” pemerintahan.

Wang Yi menegaskan China menginginkan penghentian segera aksi militer dan kembalinya dialog secepat mungkin.

Kedutaan Besar China di Israel menyarankan warganya untuk berpindah ke wilayah yang lebih aman atau meninggalkan negara itu melalui perbatasan Taba menuju Mesir.

Kementerian Luar Negeri China juga meminta warga negaranya di Iran untuk meninggalkan negara tersebut “secepat mungkin”, dengan menyebutkan empat jalur darat menuju Azerbaijan, Armenia, Turki, dan Irak.

Beberapa warga China dilaporkan terluka dan terjebak akibat serangan tersebut. Pemerintah Beijing juga memperingatkan warganya agar tidak bepergian ke kawasan tersebut untuk sementara waktu.

Dalam tajuk rencana yang diterbitkan Minggu, Xinhua menyebut serangan itu sebagai “agresi terang-terangan terhadap negara berdaulat” serta mencerminkan “politik kekuatan dan hegemoni”.

Kantor berita tersebut juga menilai penggunaan kekuatan militer oleh Washington sebagai pelanggaran terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan norma dasar hubungan internasional.

Konflik tersebut turut memicu gangguan penerbangan secara luas. Operator maskapai berbasis Hong Kong, Cathay Group, pada Sabtu menangguhkan operasi di Timur Tengah, termasuk penerbangan penumpang dari dan ke Dubai serta Riyadh, serta layanan kargo melalui Bandara Internasional Al Maktoum di Dubai.

Perusahaan induk Cathay Pacific Airways menyatakan sejumlah penerbangan dialihkan untuk menghindari wilayah terdampak konflik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Kembali Menyerang Teheran, Dewan Kepempimpinan Ambil Alih Kekuasaan

 

Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran pada Minggu (1/3/2026) dan Iran menanggapi dengan lebih banyak rentetan rudal, sehari setelah Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Mengutip Reuters, serangan AS dan Israel—dan pembalasan Iran—mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia melalui berbagai sektor, mulai dari pelayaran hingga perjalanan udara dan minyak, di tengah peringatan tentang kenaikan biaya energi dan gangguan bisnis di kawasan Teluk.

Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan itu dimaksudkan untuk memastikan Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir, untuk menahan program rudalnya, dan untuk menghilangkan ancaman terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.

Komando Pusat AS mengatakan, AS telah menyerang lebih dari 1.000 target Iran sejak awal kampanye.

Dalam pernyataan video yang diposting di situs Truth Social miliknya, Trump bersumpah serangan militer akan terus berlanjut—sampai "semua tujuan kita tercapai."

Dia mengatakan serangan itu telah melenyapkan komando militer Iran dan menghancurkan sembilan kapal angkatan laut Iran dan sebuah bangunan angkatan laut.

Trump mengatakan militer dan polisi Iran harus meletakkan senjata mereka, menjanjikan kekebalan bagi mereka yang menyerah dan mengancam kematian bagi mereka yang melawan. Ia mengulangi seruan kepada rakyat Iran untuk memberontak melawan pemerintah.

"Saya menyerukan kepada semua patriot Iran yang mendambakan kebebasan untuk memanfaatkan momen ini, untuk berani, tegas, heroik, dan merebut kembali negara Anda," kata Trump dalam video yang direkam sebelumnya. "Amerika bersama Anda."

Sebelumnya dalam sebuah wawancara dengan majalah Atlantic, Trump mengatakan kepemimpinan Iran ingin berbicara dengannya dan dia telah setuju.

Dalam wawancara terpisah dengan Daily Mail, ia mengatakan kampanye militer terhadap Iran dapat berlanjut selama empat minggu ke depan.

Namun, presiden dari Partai Republik itu belum menjabarkan tujuan jangka panjangnya di Iran, yang menghadapi kekosongan kekuasaan yang dapat menyebabkan kekacauan, dengan konsekuensi yang tak terduga bagi kawasan tersebut.

Korban pertama AS dalam kampanye ini, termasuk kematian tiga personel militer, dikonfirmasi pada hari Minggu. Trump memberikan penghormatan kepada ketiga korban tewas sebagai "patriot Amerika sejati" tetapi memperingatkan bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak korban. "Begitulah adanya," katanya.

Dengan Selat Hormuz yang vital ditutup dan kota-kota Teluk Dubai, Abu Dhabi, dan Doha dibombardir, skala risiko yang diambil Trump dalam menyerang Iran beberapa bulan sebelum pemilihan paruh waktu AS yang akan menentukan kendali Kongres menjadi semakin jelas.

Hanya sekitar satu dari empat warga Amerika yang menyetujui operasi tersebut, menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos pada hari Minggu. Dan jika Hormuz, yang menjadi jalur untuk sekitar 20% pasokan minyak dunia tetap ditutup selama lebih dari beberapa hari, konsumen AS akan mulai merasakan tekanan pada harga di SPBU.

Militer Israel mengatakan pada Minggu malam bahwa angkatan udaranya telah membangun superioritas udara di atas Teheran, dan bahwa gelombang serangan di seluruh ibu kota telah menargetkan pusat intelijen, keamanan, dan komando militer.

Fokus Israel saat ini adalah untuk melemahkan pemerintah Iran — sehingga runtuh, kata seorang pejabat Israel dengan syarat anonim, menambahkan bahwa Israel "bertindak dengan caranya sendiri" untuk membuat warga Iran turun ke jalan.

Garda Revolusi Iran mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah menyerang tiga kapal tanker minyak AS dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz, dan menyerang pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain dengan drone dan rudal.

Data pengiriman menunjukkan ratusan kapal termasuk kapal tanker minyak dan gas berlabuh di perairan terdekat dengan para pedagang memperkirakan lonjakan tajam harga minyak mentah pada hari Senin.

Perjalanan udara global juga sangat terganggu karena serangan udara yang terus berlanjut membuat bandara-bandara utama di Timur Tengah, termasuk Dubai - pusat internasional tersibuk di dunia - tetap ditutup, dalam salah satu gangguan penerbangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Di Iran, yang menghadapi tantangan eksistensial terbesar sejak perang 1980-1988 dengan Irak, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa dewan kepemimpinan yang terdiri dari dirinya sendiri, kepala peradilan, dan seorang anggota Dewan Penjaga yang berpengaruh telah sementara mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi.

Kementerian Luar Negeri Oman mengatakan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah mengindikasikan bahwa Teheran terbuka untuk de-eskalasi. Namun dalam sebuah unggahan di X, Araqchi menyatakan bahwa Iran siap untuk terus berperang.

"Kami telah memiliki waktu dua dekade untuk mempelajari kekalahan militer AS di sebelah timur dan barat kami," tulisnya. "Pemboman di ibu kota kami tidak berdampak pada kemampuan kami untuk berperang."

Masih belum jelas bagaimana prospek jangka panjang Iran untuk membangun kembali kepemimpinannya dan menggantikan Khamenei yang berusia 86 tahun, yang telah memegang kekuasaan sejak kematian pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam kematian Khamenei sebagai pembunuhan yang sinis — dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi menggambarkannya sebagai "pembunuhan terang-terangan".

Israel, yang telah mendesak pemerintahan AS berturut-turut untuk mengambil tindakan terhadap Iran, mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan Khamenei saat ia berada di kompleks kepemimpinan pusatnya di Teheran, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi serangannya.

"Kami memiliki kemampuan dan target untuk terus melanjutkan selama diperlukan," kata juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Nadav Shoshani.

Saat Iran kembali melancarkan serangan rudal di seluruh wilayah, sirene serangan udara berbunyi di seluruh Israel pada Minggu malam, memperingatkan serangan terbaru yang akan datang, termasuk di Tel Aviv, di mana proyektil terlihat melesat di langit malam.

Layanan ambulans Israel mengatakan sembilan orang tewas di kota Beit Shemesh, Uni Emirat Arab mengatakan serangan Iran menewaskan tiga orang, dan Kuwait melaporkan satu orang tewas.

Di dalam Iran, sebagian berduka atas kematian Khamenei, sementara yang lain merayakan kematiannya, mengungkap keretakan yang dalam di negara yang terguncang itu.

Ribuan warga Iran tewas dalam penindakan yang diizinkan oleh Khamenei terhadap protes anti-pemerintah pada bulan Januari, gelombang kerusuhan paling mematikan sejak Revolusi Islam tahun 1979.

Khamenei, yang membangun Iran menjadi kekuatan anti-AS yang kuat. Presiden Iran, yang selama 36 tahun memerintah dengan tangan besi dan memperkuat kekuasaannya di Timur Tengah, sedang bekerja di kantornya pada saat serangan hari Sabtu, menurut media pemerintah. Serangan itu juga menewaskan putrinya, cucunya, menantu perempuannya, dan menantu laki-lakinya.

Para ahli mengatakan bahwa meskipun kematiannya dan kematian para pemimpin Iran lainnya akan memberikan pukulan besar bagi Iran, hal itu belum tentu mengakhiri kekuasaan ulama yang mengakar di Iran atau pengaruh Garda Revolusi elit atas penduduk.

Kematiannya memicu protes di kalangan Syiah di negara tetangga Pakistan, di mana polisi bentrok dengan demonstran yang menerobos tembok luar konsulat AS di Karachi, menyebabkan sembilan orang tewas. Di Irak, polisi menembakkan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan ratusan demonstran yang berkumpul di luar Zona Hijau di Baghdad, tempat Kedutaan Besar AS berada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Serangan Balasan Iran Picu Gangguan Bisnis Terluas di Kawasan Teluk Sejak COVID-19

 

 Serangan balasan Iran di kawasan Teluk memicu gangguan bisnis paling luas di wilayah tersebut sejak pandemi COVID-19. Serangan itu memaksa sejumlah bandara ditutup, menghentikan operasi pelabuhan, serta mengguncang pasar keuangan regional.

Melansir Reuters, serangan tersebut dilancarkan sebagai respons atas serangan militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Rudal dan drone dilaporkan menghantam hampir seluruh negara utama di kawasan Teluk, wilayah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat bisnis paling stabil di dunia.

Sedikitnya tiga orang tewas di Uni Emirat Arab akibat serangan tersebut. Ledakan keras juga terdengar untuk hari kedua berturut-turut di Dubai dan Abu Dhabi pada Minggu.

Serangan ini dianggap sebagai eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Dubai, kota yang selama ini membangun identitas modernnya sebagai pusat bisnis global yang relatif aman dari konflik kawasan. Dari awalnya hanya desa nelayan kecil, emirat tersebut memanfaatkan pendapatan minyak yang terbatas untuk membangun pelabuhan, bandara, dan pusat perdagangan. Sejak 1990-an, Dubai kemudian beralih mengembangkan pariwisata mewah, properti, dan layanan keuangan.

Chief Investment Officer Century Financial, Vijay Valecha, mengatakan dampak konflik terhadap ekonomi negara-negara Teluk kemungkinan akan berbeda-beda.

Menurutnya, lonjakan harga minyak dapat menjadi bantalan fiskal bagi produsen energi seperti Arab Saudi dan Qatar, karena meningkatkan pendapatan dan likuiditas pemerintah. Namun sektor perdagangan, logistik, dan pariwisata, terutama di Uni Emirat Arab, berpotensi tertekan jika risiko pelayaran meningkat atau sentimen kawasan memburuk.

Pasar saham negara-negara Teluk langsung melemah tajam saat perdagangan dibuka pada Minggu. Indeks utama di Arab Saudi sempat anjlok lebih dari 4% di awal perdagangan dan akhirnya ditutup turun 2,2%.

Bursa saham Oman ditutup turun 1,4%, sementara pasar saham Mesir melemah 2,5%, meski keduanya sempat memangkas penurunan lebih dalam sebelumnya.

Sementara itu, Uni Emirat Arab (yang pasar sahamnya tidak beroperasi pada Minggu) mengambil langkah langka dengan menutup bursa pada Senin dan Selasa. Bursa Kuwait juga ditutup pada Minggu dan menangguhkan perdagangan hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Chief Executive Ghaf Benefits, Mohammed Ali Yasin, mengatakan pasar akan tetap rapuh dan volatil selama aksi militer masih berlangsung. Ia menilai dalam situasi seperti ini, investor institusi global biasanya menjadi pihak pertama yang melakukan aksi jual, sementara investor lokal cenderung mencoba menahan penurunan dengan membeli saham unggulan.

Bandara dan pelabuhan ikut terdampak

Serangan Iran dilaporkan menargetkan bandara, instalasi militer, pelabuhan, hingga hotel di kawasan Teluk.

Dubai International Airport dan Zayed International Airport di Abu Dhabi dilaporkan mengalami kerusakan. Satu warga sipil tewas dan 11 orang terluka akibat insiden di dua bandara tersebut.

Di sisi lain, salah satu dermaga di Jebel Ali Port di Dubai dilaporkan terbakar setelah sistem pertahanan udara mencegat serangan udara.

Beberapa perusahaan terbesar di Uni Emirat Arab antara lain pengembang properti Emaar Properties dan ritel Majid Al Futtaim. Negara tersebut juga menjadi magnet bagi hedge fund global dan bank internasional yang ingin dekat dengan dana kekayaan negara raksasa seperti Abu Dhabi Investment Authority dan Mubadala Investment Company.

Gangguan ini terjadi pada momen yang sangat penting dalam kalender bisnis kawasan Teluk, yakni selama bulan suci Ramadan.

Pada periode ini, acara buka puasa (iftar) dan sahur perusahaan biasanya menjadi ajang penting untuk membangun jaringan bisnis. Namun sejumlah acara yang diselenggarakan perusahaan besar seperti Emirates, perusahaan energi Masdar, Mubadala Investment Company, dan perusahaan pendidikan GEMS Education dilaporkan dibatalkan atau ditunda.

Bagi kawasan yang sangat bergantung pada relasi personal dalam transaksi bisnis, hilangnya musim networking selama Ramadan menjadi kerugian yang tidak terlihat namun signifikan.

Serangan juga menghantam kawasan permukiman di sekitar Dubai Marina dan Palm Jumeirah. Hotel Fairmont The Palm dilaporkan terbakar, sementara ikon pariwisata Burj Al Arab mengalami kerusakan.

Hotel Fairmont The Palm sebelumnya baru saja dijual seharga US$ 325 juta kepada Arzan Investment Management dari Kuwait, sebuah transaksi yang sempat dipandang sebagai simbol meningkatnya permintaan pariwisata di kawasan Teluk.

Pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa juga memperbarui peringatan perjalanan ke kawasan Teluk setelah serangan tersebut. Warga diminta berhati-hati dan menghindari perjalanan yang tidak mendesak.

Bandara transit utama seperti Dubai International Airport, Zayed International Airport, serta bandara di Doha sempat ditutup atau membatasi operasional karena sebagian besar wilayah udara regional ditutup.

Sementara itu, otoritas ketenagakerjaan federal Uni Emirat Arab meminta perusahaan menerapkan kebijakan kerja dari rumah hingga 3 Maret. Perusahaan juga diminta menjauhkan pekerja dari area terbuka, kecuali bagi pekerjaan penting yang memang membutuhkan kehadiran fisik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasokan Energi Dunia Terancam: Selat Hormuz Ditutup Iran, Harga Gas Melonjak

 

 Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang rantai pasok energi global. Sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan minyak raksasa, hingga rumah dagang komoditas menghentikan sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.

Situasi memanas setelah Teheran menyatakan menutup jalur pelayaran di selat strategis tersebut. Dampaknya, arus kapal energi global mulai tersendat.

Mengutip Bloomberg (1/3), sumber perdagangan menyebut sejumlah kapal memilih menahan posisi di perairan sekitar Teluk. “Kapal-kapal kami akan tetap berlabuh selama beberapa hari,” ujar seorang eksekutif senior di perusahaan perdagangan energi global.

Citra satelit pelacak kapal menunjukkan antrean tanker di dekat pelabuhan besar seperti Fujairah, Uni Emirat Arab. Beberapa kapal juga dilaporkan menerima transmisi radio dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz.

Namun Angkatan Laut Inggris menilai pernyataan tersebut tidak mengikat secara hukum dan meminta kapal tetap melintas dengan kewaspadaan tinggi. Meski lalu lintas belum sepenuhnya berhenti, perusahaan pialang kapal Poten & Partners mencatat gangguan meningkat cepat dan berpotensi meluas.

Asosiasi kapal tanker INTERTANKO bahkan menyebut Angkatan Laut AS memperingatkan risiko keamanan di seluruh kawasan Teluk, Teluk Oman, Laut Arab bagian utara, hingga Selat Hormuz, karena keselamatan pelayaran tak bisa dijamin.

Dari sisi pasokan, risiko yang dipertaruhkan tidak kecil. Sekitar 20% minyak global melewati Selat Hormuz, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran. Jalur ini juga menjadi arteri utama LNG Qatar, salah satu pemasok terbesar dunia.

Konsultan energi Kpler mencatat sedikitnya 14 kapal tanker LNG melambat, berbalik arah, atau berhenti di sekitar selat. Jika eskalasi berlanjut, gangguan terhadap ekspor LNG Qatar berpotensi menekan pasokan gas global dan memicu lonjakan harga energi.

Sejumlah perusahaan pelayaran besar mulai mengambil langkah antisipatif. Hapag-Lloyd menghentikan sementara seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Sementara Maersk menyatakan terus berkoordinasi dengan mitra keamanan untuk operasional di Laut Merah dan Teluk Aden, meski penerimaan kargo di Timur Tengah masih dibuka. CMA CGM juga menginstruksikan kapal yang berada di atau menuju kawasan Teluk untuk mencari tempat berlindung.

Pasar kini menanti respons lanjutan dari pelaku industri dan negara-negara produsen. Jika penutupan efektif terjadi dalam waktu lama, dampaknya bukan hanya pada harga minyak dan LNG, tetapi juga pada inflasi global dan stabilitas pasar keuangan. Selat Hormuz sekali lagi menjadi titik rawan yang menentukan arah energi dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OPEC+ Naikkan Produksi 206.000 Bph di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Konflik Iran

 

 OPEC+ menyepakati kenaikan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari (bph) pada Minggu (1/3/2026), di tengah gangguan arus pasokan akibat perang AS–Israel melawan Iran dan aksi balasan Teheran yang menghambat pengiriman minyak dari sejumlah anggota produsen di Timur Tengah.

OPEC+ memiliki rekam jejak meningkatkan produksi untuk meredam gangguan pasokan. Namun analis menilai saat ini kelompok tersebut memiliki kapasitas cadangan yang terbatas, kecuali pemimpinnya, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Keduanya pun diperkirakan tetap menghadapi kendala ekspor hingga pelayaran di Teluk kembali normal.

Sumber Reuters menyebut, Riyadh telah meningkatkan produksi dan ekspor dalam beberapa pekan terakhir sebagai antisipasi serangan AS terhadap Iran, anggota OPEC+.

Pengiriman minyak, gas, dan komoditas lain dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz terhenti sejak Sabtu setelah pemilik kapal menerima peringatan dari Iran bahwa wilayah tersebut ditutup untuk navigasi.

Ratusan kapal dilaporkan berlabuh dan tidak bergerak pada Minggu. Selat Hormuz merupakan jalur minyak terpenting dunia yang mencakup lebih dari 20% lalu lintas minyak global.

Dalam pernyataannya, OPEC+ menyebut produksi akan naik 206.000 bph mulai April.

Sebelumnya, kelompok itu mempertimbangkan opsi kenaikan antara 137.000 bph hingga 548.000 bph, menurut lima sumber yang enggan disebutkan namanya.

Kenaikan yang disepakati tersebut setara kurang dari 0,2% pasokan global.

Minyak mentah Brent melonjak ke US$73 per barel pada Jumat, level tertinggi sejak Juli, akibat kekhawatiran konflik Timur Tengah meluas.

Pada perdagangan over-the-counter Minggu, harga disebut naik 8%–10% ke kisaran US$80 per barel.

Sejumlah pemimpin Timur Tengah memperingatkan Washington bahwa perang terhadap Iran dapat mendorong harga minyak melampaui US$100 per barel, kata analis senior OPEC dari RBC, Helima Croft.

Analis Barclays juga memperkirakan harga berpotensi menembus US$100.

Croft menilai dampak kenaikan produksi OPEC terhadap pasar akan terbatas karena minimnya kapasitas produksi riil di luar Arab Saudi.

Pertemuan Minggu tersebut hanya melibatkan delapan anggota utama OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, UEA, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman.

OPEC+ merupakan aliansi yang menghimpun Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya seperti Rusia, namun sebagian besar penyesuaian produksi dalam beberapa tahun terakhir dilakukan oleh delapan negara tersebut.

Kedelapan anggota itu sebelumnya telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta bph sepanjang April–Desember 2025, setara sekitar 3% permintaan global, sebelum menghentikan kenaikan pada Januari–Maret 2026 karena lemahnya permintaan musiman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mantan Wapres AS Ungkap Kebohongan Donald Trump soal Iran

 

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris mengecam keputusan Presiden Donald Trump yang menyeret negara itu dalam peperangan dengan Republik Islam Iran. Harris mengatakan Trump adalah presiden penipu, dan pemimpin negara yang keputusannya ceroboh membahayakan pasukan AS ke dalam palagan perang besar di Timur Tengah (Timteng).

Harri meyakini, keputusan Trump ditentang oleh mayoritas warga AS, pun meyakini ambisi perang tersebut bertentangan dengan konstitusi Paman Sam.

Harris, wakil presiden di masa Joe Biden itu mengatakan, peperangan dengan Iran yang dipilih oleh Trump merupakan pertaruhan berbahaya bagi nasib para prajurit AS.

 

Harris menambahkan, pilihan Trump berperang dengan Iran, mengancam upaya perdamaian di kawasan Timteng, dan membahayakan stabilitas serta keamanan global. “Ini (perang dengan Iran) adalah pertaruhan berbahaya dan tidak perlu dengan menjadikan prajurit dan warga Amerika sebagai korban, juga membahayakan stabilitas di kawasan, dan kedudukan AS di dunia,” ujar Harris. “Apa yang kita saksikan saat ini, bukan kekuatan. Ini adalah kecerobohan yang disamarkan sebagai keyakinan,” sambung Harris.

Politikus perempuan dari Partai Demokrat AS itu mengakui, memang menjadi keharusan bagi AS untuk mengantisipasi bahaya Iran dalam ambisi memiliki senjata nuklir. Akan tetapi, bukan peperangan yang harus dikobarkan demi membawa Iran untuk tunduk pada kesepakatan penghentian pengembangan nuklir. “Saya sangat tahu ancaman yang ditimbulkan Iran, dan mereka memang tidak boleh diizinkan untuk memiliki senjata nuklir. Tetapi, bukan seperti ini (peperangan) caranya untuk menghancurkan ancaman (Iran memiliki senjata nuklir) itu,” ujar Harris.

Harris menambahkan, keputusan Trump menyeret AS ke dalam perang dengan Iran, pun merupakan fakta atas kebohongan presiden dari Partai Republik itu. Sebab dalam catatan Harris, selama kampanye, Trump selalu menggembar-gemborkan visi dan misi bagi AS untuk menarik diri dari peperangan. Kata Harris, juga Trump pada 2025 lalu, mengeklaim telah berhasil melucuti program nuklir Iran.

 

“Selama kampanye, Donald Trum berjanji untuk mengakhiri perang dari pada memulainya. Dan itu saat ini menjadi kebohongan yang besar. Kemudian tahun lalu, dia (Trump) mengatakan telah menghancurkan program nuklir Iran. Dan itu juga adalah kebohongan,” kata Harris. Dia pun melanjutkan, keputusan Trump membawa AS ke dalam perang dengan Iran merusak tatanan konstitusional. Sebab keputusan perang itu tak ada dasar persetujuan dari Kongres AS.

“Berdasarkan konstitusi Amerika Serikat, Presiden harus menerima otorisasi (persetujuan) dari Kongres untuk menyatakan, dan memasuki perang. Tetapi, jika itu (persetujuan Kongres) pun dia dapatkan, tetap tidak mengubah fakta, bahwa tindakan itu tidak bijaksana, dan tidak dapat dibenarkan,” ujar Harris.

Wali Kota New York Zohran Mamdani, pun sebelumnya menyampaikan kecaman terbuka atas keputusan Trump menyeret AS dalam peperangan dengan Iran. Kata Mamdani, agresi AS bersama Zionis Israel terhadap Teheran, tak ada dasar pembenarannya.

Mamdani mengatakan, penyerangan ilegal yang dilakukan Zionis bersama Paman Sam ke Teheran bakal menjadi bencana perang kawasan yang memicu eskalasi global. Mamdani pun meyakini, mayoritas warga AS tak setuju dengan ambisi perang terhadap Iran. “Serangan terhadap Iran adalah eskalasi bencana dan perang agresi ilegal,” kata Mamdani seperti dikutip dari Index Spectator, Ahad (1/3/2026). “Rakyat Amerika tidak menginginkan perang ini, dan tidak menginginkan perang lainnya dalam usaha penggulingan rezim (di Iran),” kata dia menambahkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Balik Perang AS-Israel versus Iran, Pakar: Trump Ingin Kuasai Akses Energi

 

Serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran tidak hanya berkaitan dengan geopolitik, melainkan juga ekonomi global. Pakar ekonomi politik internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof Muhammad Faris Al-Fadhat, mengingatkan, dampak operasi militer tersebut akan signifikan bagi pasar energi dunia.

"Kita harus melihat dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa ada perebutan sumber-sumber ekonomi yang jauh lebih besar sebenarnya daripada hanya sekadar menyerang Iran karena Iran dianggapnya (Israel-AS) sebagai musuh politiknya. Yang sebenarnya adalah, ada perebutan energi di sini," ujar Faris Al-Fadhat kepada Republika, kemarin.

Pada Sabtu (28/2/2026) pagi, AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke sejumlah wilayah Iran. Agresi tanpa provokasi itu dilakukan setelah perundingan Washington dengan Teheran soal program nuklir Iran dilaporkan mengalami kebuntuan.

Faris menjelaskan, Iran adalah negara dengan cadangan minyak terbesar nomor tiga di dunia. Pada awal Januari 2026 lalu, AS pun menyerang negara dengan cadangan minyak terbesar sedunia, yakni Venezuela. Negara Amerika Latin ini memiliki cadangan minyak mentah terbukti hingga 300 miliar barel, mengalahkan Arab Saudi dan Iran.

"Kalau kita lihat, cadangannya (minyak mentah) itu antara 200 sampai 209 miliar barel yang ada di Iran ini. Dan, ini setara 12 persen dari total cadangan minyak di dunia," ungkap Faris.

Perang Israel-AS versus Iran pun akan berimbas bagi China, negara rival terbesar secara ekonomi bagi Washington. Konflik tersebut berpotensi menekan ekonomi Negeri Tirai Bambu melalui kenaikan harga energi. Sebab, jelas Faris, selama ini sekira 80 persen minyak Iran dibeli oleh Beijing.

"Kalau kita lihat dengan adanya serangan (Israel ke Iran) ini, kondisi ekonomi dunia terganggu dengan suplai minyak dari Iran. Kita akan lihat rentetannya ke China, dan beberapa negara lain. Jadi, supply chain ini akan sedikit terganggu sehingga ekonomi dunia akan sedikit terganggu," kata dia.

Karena itu, menurut Faris, dalam jangka panjang seragan ke Iran akan menguntungkan AS. Sebagaimana yang berhasil dilakukan Washington pada Caracas, penggulingan rezim menjadi tujuannya di Iran.

"Persis seperti di Venezuela. Perubahan rezim akan menguntungkan AS jangka panjang karena memudahkan akses ekonomi lebih dominan di Iran dan Timur Tengah secara umum," tukas dia.

Dewan Tertinggi Keamanan Nasional mengkonfirmasi syahidnya Ayatollah Ali Khamenei, pada Ahad (1/3/2026), sebagaimana dilansir Aljazeera.

Fars News Agency, menyebutkan Khamenei syahid pada Sabtu (1/3/2026) pagi, saat menjalankan operasi perlawanan dari kantor kerjanya dan sedang memimpin jihad.

Sebelumnya, kantor berita ini mengutip sumber-sumber yang dekat dengan kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, melaporkan bawa putri Pemimpin Tertinggi Iran, menantu laki-lakinya, cucunya, dan istri anaknya gugur dalam serangan.

Namun, Fars juga membantah kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada Ahad bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan yang menargetkan Iran pada hari Sabtu, tanpa ada komentar resmi dari Iran hingga saat ini.

Trump mengatakan, kematian Khamenei tidak hanya adil bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua orang Amerika yang hebat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rusia Bela Iran, Sebut Amerika dan Israel Adalah Pengkhianat

 

Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB, Wakil Tetap Rusia Untuk PBB Vasily Nebenzya melontarkan kecaman keras terhadap tindakan militer Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan wilayah Iran. Nebenzya menyebut serangan tersebut sebagai pengkhianatan Amerika dan Israel pada piagam PBB.

"Ini adalah tikaman dari belakang terhadap diplomasi. Serangan dilakukan di tengah proses negosiasi aktif, membuktikan bahwa AS dan Israel tidak memiliki niat tulus untuk penyelesaian damai," tegas Nebenzya di hadapan anggota Dewan Keamanan.

Nebenzya menegaskan bahwa serangan bertajuk "Operasi Epic Fury" tersebut merupakan bentuk pengkhianatan terhadap proses perdamaian. Menurutnya, serangan itu terjadi justru saat Iran dan Amerika Serikat sedang berada di ambang kemajuan negosiasi diplomatik melalui mediasi Oman.

Rusia juga menyoroti dampak kemanusiaan yang menghancurkan. Nebenzya mengutip laporan jatuhnya ratusan korban jiwa, termasuk serangan yang menghantam sekolah anak perempuan di Minab yang menewaskan puluhan anak-anak.

Selain itu, Rusia memperingatkan risiko bencana nuklir global. Moskow menolak klaim Presiden Donald Trump bahwa serangan tersebut bertujuan menghentikan program senjata nuklir Iran. Nebenzya menyatakan bahwa fasilitas yang diserang berada di bawah pengawasan IAEA dan tidak ada bukti kuat Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.

"Tindakan Washington dan Yerusalem Barat tidak lain adalah tindakan agresi bersenjata yang tidak beralasan terhadap negara berdaulat anggota PBB," tambahnya.

Rusia mendesak agar Amerika Serikat dan Israel segera menghentikan aksi agresif mereka. Nebenzya memperingatkan bahwa eskalasi ini dapat memicu konflik regional yang tak terkendali dan merusak stabilitas energi serta ekonomi dunia. Rusia menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi dialog guna menarik kawasan tersebut kembali dari ambang peperangan besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekjen PBB: Serangan Militer Langgar Piagam PBB

 

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyampaikan peringatan keras dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB menyusul serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Dengan nada bicara yang berat, Guterres menyebut situasi saat ini telah membawa kawasan Timur Tengah ke ambang kehancuran yang tak terkendali.

"Saya berdiri di sini hari ini dengan perasaan duka yang mendalam. Pagi ini, dunia terbangun dengan berita serangan militer masif yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sasaran di seluruh Republik Islam Iran," ujar Guterres membuka narasinya di markas besar PBB, New York.

Guterres tidak hanya menyoroti satu pihak. Ia secara tegas mengutuk tindakan militer yang dilakukan kedua belah pihak sebagai pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB. Menurutnya, penggunaan kekerasan bersenjata untuk menyelesaikan perselisihan politik adalah kemunduran bagi peradaban hukum internasional.

"Saya mengutuk serangan militer masif ini. Di saat yang sama, saya juga mengutuk serangan balasan dari Iran yang telah melanggar kedaulatan dan integritas wilayah banyak negara tetangganya, termasuk Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab," tegasnya.

Ia mengingatkan seluruh anggota dewan bahwa Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB mewajibkan semua negara untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial negara mana pun. "Prinsip ini bukan sekadar saran, melainkan dasar dari perdamaian dunia," lanjut Guterres.

Guterres memaparkan data mengerikan mengenai dampak langsung dari serangan tersebut. Ia membawa narasi kemanusiaan ke tengah ruang sidang untuk mengingatkan para diplomat bahwa keputusan perang memiliki konsekuensi nyata bagi warga sipil.

"Laporan yang masuk sangat mengkhawatirkan. Sekitar 20 kota di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, Shiraz, dan Tabriz telah diserang. Namun yang paling menyayat hati adalah jatuhnya korban sipil yang signifikan," tutur Guterres dengan nada rendah.

Secara spesifik, ia menyinggung serangan yang menghantam fasilitas pendidikan. "Ada laporan mengenai serangan udara yang menewaskan sedikitnya 85 orang di sebuah sekolah anak perempuan di Provinsi Hormozgan. Anak-anak yang seharusnya belajar, justru menjadi korban dari konfrontasi yang mereka tidak pahami," tambahnya.

Ia mengungkapkan bahwa serangan ini terjadi justru di saat upaya damai hampir membuahkan hasil. Ia menyebut tindakan militer ini sebagai penghancuran atas "kesempatan emas" diplomasi.

"Sangat memilukan bahwa eskalasi ini terjadi tepat setelah adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran melalui mediasi di Oman. Sebuah jendela kesempatan untuk de-eskalasi kini telah tertutup paksa," sesalnya.

Di akhir pidatonya, ia memberikan satu kalimat pamungkas yang menjadi peringatan bagi seluruh dunia: "Kita harus menarik diri dari ambang jurang ini sebelum terlambat. Dunia tidak mampu, dan tidak akan sanggup, menanggung perang besar lainnya di wilayah paling tidak stabil di bumi ini" tegas Guterres.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pezeshkian: Pembalasan Kematian Khamenei Jadi Tugas dan Hak Sah Iran

 

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, aksi pembalasan atas terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei adalah tugas dan hak yang negaranya. Khamenei diketahui gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).

“Republik Islam Iran menganggapnya sebagai tugas dan hak yang sah untuk membalas para pelaku dan dalang kejahatan bersejarah ini,” kata Pezeshkian dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah, dikutip laman Al Arabiya, Ahad (1/3/2026).

Presiden AS Donald Trump mengeklaim, serangan negaranya telah menewaskan 48 pemimpin Iran. "Tidak ada yang percaya dengan keberhasilan yang kita raih, 48 pemimpin telah tewas dalam satu serangan. Dan ini berjalan dengan cepat," ujar Trump seperti dikutip dalam sebuah wawancara oleh Fox News.

Trump menyebut, selain menyisihkan para pemimpinnya, serangan yang diluncurkan negaranya pada Sabtu lalu juga bertujuan menghancurkan kemampuan militer Iran. "Kami melakukan pekerjaan kami bukan hanya untuk diri kami sendiri tetapi untuk dunia. Dan semuanya berjalan lebih cepat dari jadwal,” ucapnya dalam wawancara terpisah dengan CNBC.

“Saat ini semuanya berkembang dengan sangat positif, sangat positif,” katanya.

Kantor berita Fars News Agency melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur di kantornya saat tengah mengemban tugasnya. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa putri Khamenei, menantunya, serta seorang cucunya turut terbunuh dalam serangan udara gabungan AS-Israel.

Menyusul kematian Khamenei, Pemerintah Iran telah mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan tujuh hari libur nasional. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengumumkan bahwa dewan kepemimpinan akan mengambil alih tugas pemimpin tertinggi hingga pengganti almarhum Ayatollah Ali Khamenei terpilih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jajak Pendapat: Hanya 27 Persen Warga AS yang Dukung Serangan Militer ke Iran

 

Sebuah jajak pendapat terbaru dari Reuters/Ipsos menunjukkan hanya satu dari empat warga Amerika Serikat yang menyetujui serangan militer terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei. Temuan ini mencerminkan ketidaksetujuan publik yang cukup besar di AS terhadap kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Donald Trump.

Survei yang berakhir pada Ahad (1/3/2026) mencatat sekitar 27 persen responden menyatakan setuju dengan serangan tersebut, sementara 43 persen tidak setuju. Sesanya sebesar 29 persen menyatakan tidak yakin.

Sebagian besar peserta menyatakan telah mendengar setidaknya sedikit tentang serangan yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

Jajak pendapat ini juga mengungkap bahwa sekitar 56 persen warga Amerika berpandangan Presiden Trump terlalu cepat menggunakan kekuatan militer untuk memajukan kepentingan negara. Persepsi itu terutama kuat di kalangan Demokrat, di mana 87 persen responden memiliki pandangan tersebut, disusul 23 persen Republikan dan 60 persen independen.

Survei menyatakan, 55 persen Republikan menyetujui serangan, sementara 13 persen menentang. Namun, 42 persen dari yang setuju mengatakan dukungan mereka dapat berkurang jika konflik ini menyebabkan pasukan AS di Timur Tengah tewas atau terluka.

Serangan militer yang menewaskan Khamenei telah menimbulkan korban jiwa di pihak AS. Mahkamah militer mengumumkan tiga anggota angkatan bersenjata AS tewas dan lima lainnya luka serius sejak serangan ke Iran dimulai.

Warga Amerika juga mempertimbangkan dampak ekonomi dari konflik. Sekitar 45 persen responden, termasuk 34 persen Republikan dan 44 persen independen, menyatakan mereka akan cenderung tidak mendukung kampanye melawan Iran jika harga gas atau minyak naik di AS.

Harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar 80 dolar AS (sekitar Rp12,8 juta dengan kurs 1 dolar Rp 16.000) per barel, menurut para pedagang minyak. Analis memperkirakan harga dapat meningkat hingga 100 dolar AS (sekitar Rp16 juta) per barel seiring konflik yang terus berlangsung.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos ini mengumpulkan tanggapan dari 1.282 orang dewasa AS secara daring dengan margin kesalahan sekitar ±3 poin persentase.

Survei ini menggarisbawahi tantangan politik yang dihadapi pemerintahan Trump di dalam negeri saat konflik di Timur Tengah semakin mempengaruhi opini publik Amerika.

 

 

 

 

 

 

 

Sidang Darurat Keamanan PBB Memanas, Iran Beri Pesan Tajam ke AS: "Bersikaplah Sopan!"

 

Ruang sidang Dewan Keamanan PBB yang biasanya kaku dan penuh tata krama diplomatik berubah menjadi panggung konfrontasi terbuka yang mencekam. Di penghujung sesi darurat mengenai eskalasi militer di Timur Tengah, sebuah insiden "perang kata-kata" terjadi antara perwakilan Iran dan Amerika Serikat, mencerminkan dalamnya jurang permusuhan antara kedua negara.

Suasana mulai memanas ketika perwakilan Amerika Serikat, dalam hak jawabnya, melontarkan serangkaian tuduhan tajam terhadap rezim Teheran. Utusan Washington tersebut menyebut Iran sebagai "mesin radikalisme" dan mengklaim bahwa rakyat Iran sebenarnya tengah merayakan serangan AS-Israel di jalanan karena berharap akan kebebasan dari tirani.

Wakil Tetap Alternatif Amerika Serikat untuk Urusan Politik Khusus di PBB Robert Wood secara terbuka menyebut pemerintahan Iran bukan sebagai entitas politik yang sah, melainkan sebagai entitas kriminal yang berbahaya. Dengan nada bicara yang konfrontatif, Wood melontarkan tuduhan berat bahwa Teheran adalah dalang di balik berbagai tragedi yang menimpa warga Amerika di luar negeri.

"Rezim di Teheran telah memimpin serangan yang merenggut nyawa orang Amerika. Ini adalah rezim yang telah membunuh puluhan ribu rakyatnya sendiri dan memenjarakan lebih banyak lagi hanya karena mereka menginginkan kebebasan dari tirani Anda," tegas Wood.

Tak tanggung-tanggung, Wood juga melontarkan penghinaan tajam yang menusuk langsung ke jantung diplomasi Iran di panggung dunia. Secara terang-terangan, ia menyebut kehadiran delegasi Iran di kursi Dewan Keamanan PBB sebagai sebuah anomali yang memalukan bagi institusi internasional tersebut.

"Kehadiran rezim ini di sini, di Dewan ini, merupakan sebuah ejekan (mockery) terhadap badan ini," ujar Wood dengan nada sinis.

Pernyataan ini sontak memicu suasana tidak nyaman di ruang sidang, karena dianggap merendahkan martabat salah satu anggota PBB di forum tertinggi yang seharusnya menjunjung tinggi protokol kesetaraan berdaulat.

Mendengar pernyataan yang dianggap merendahkan kedaulatan negaranya, Wakil Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, tidak tinggal diam. Saat Ketua Sidang memberikan kesempatan terakhir, Iravani memilih untuk tidak memberikan pembelaan panjang lebar, melainkan memberikan teguran langsung yang menusuk.

"Saya hanya memiliki satu pesan. Saya menyarankan perwakilan Amerika Serikat untuk bersikap sopan. Itu akan jauh lebih baik bagi Anda dan negara yang Anda wakili," tegas Iravani.

Tidak terima dengan teguran tersebut, perwakilan Amerika Serikat kembali menyambar mikrofon. Ia menegaskan tidak akan menggubris saran Iravani, sembari kembali menekankan bahwa Teheran telah membunuh puluhan ribu rakyatnya sendiri.

"Saya tidak akan mendiskreditkan sidang ini dengan memberikan tanggapan lebih lanjut kepada perwakilan dari rezim yang memenjarakan rakyatnya sendiri hanya karena menginginkan kebebasan," balas utusan AS tersebut dengan nada bicara yang meninggi.

Iravani membantah keras klaim Wood bahwa rakyat Iran senang negaranya dibom. Ia menyebut narasi itu sebagai bentuk penghinaan terhadap kenyataan di lapangan.

"Sangat menggelikan mendengar perwakilan AS mengklaim rakyat Iran merayakan serangan ini. Rakyat kami sedang berduka atas jatuhnya korban sipil, termasuk anak-anak sekolah yang tewas akibat bom Anda," kata Irvani.

Ketegangan ini menjadi puncak dari sidang yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut. Di tengah dentuman bom yang dilaporkan masih terjadi di wilayah Iran, adu mulut di markas besar PBB ini menunjukkan bahwa jalur komunikasi diplomatik kedua negara telah mencapai titik nadir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post