News Komoditi & Global ( Selasa, 13 Januari 2026 )

News  Komoditi & Global

                                 (  Selasa,   13 Januari  2026  )

 

Harga Emas Global Menguat di Tengah Ketidakpastian The Fed dan Aliran Safe-Haven

 

Harga Emas (XAU/USD) melompat mendekati $4.600 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Selasa. Logam mulia ini melanjutkan rally setelah mundur dari rekor tertinggi baru $4.630 di sesi sebelumnya di tengah ketidakpastian dan risiko geopolitik. Data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk bulan Desember akan menjadi pusat perhatian nanti pada hari Selasa.

Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, mengatakan pada hari Minggu bahwa dia sedang dalam penyelidikan kriminal, memicu krisis independensi dan memicu pelarian ke aset-aset safe haven di pasar global. Powell menyatakan bahwa Departemen Kehakiman AS telah mengeluarkan panggilan untuk bersaksi kepada bank sentral dan mengancam dengan dakwaan kriminal terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada bulan Juni 2025 mengenai renovasi senilai $2,5 miliar untuk markas The Fed di Washington, D.C. Powell menyebut ancaman tersebut sebagai "dalih" yang bertujuan untuk memberikan tekanan pada The Fed agar menurunkan suku bunga.

Selain itu, ketegangan antara Iran dan AS dapat mendorong aset-aset safe haven tradisional seperti Emas. Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan memberikan konsekuensi jika otoritas Iran menargetkan warga sipil, sementara Teheran memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan intervensi apa pun. Pada hari Senin, Trump mengumumkan bahwa negara mana pun yang berbisnis dengan Iran akan menghadapi tarif sebesar 25% pada setiap bisnis yang dilakukan dengan AS.

Para pedagang bersiap untuk menghadapi data inflasi IHK AS pada hari Selasa. IHK umum dan inti diprakirakan akan mengalami kenaikan sebesar 2,7% YoY di bulan Desember. Setiap tanda inflasi yang lebih tinggi di AS dapat mengangkat Dolar AS (USD) dan membebani harga komoditas berdenominasi USD dalam waktu dekat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dampak Protes Iran Jadi Pemicu Kenaikan Harga Minyak Dunia

 

Harga minyak mentah berjangka WTI memangkas kerugian sebelumnya dan ditutup 0,6% lebih tinggi di US$ 59,5 per barel pada hari Senin (12/1). Kenaikan ini didukung oleh ketegangan geopolitik di Iran dan potensi gangguan terhadap produksi sekitar 3,3 juta barel per hari.

Seperti dikutip Trading economics, Selasa (13/1), protes nasional di Iran telah menimbulkan salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, mendorong Presiden AS Donald Trump untuk mempertimbangkan "opsi kuat" saat AS memantau situasi tersebut.

Meskipun otoritas Iran mengklaim ketenangan telah dipulihkan, risiko pemogokan oleh pekerja minyak atau serangan terhadap infrastruktur energi regional membuat volatilitas tetap tinggi.

Kekhawatiran atas pasokan telah mengimbangi ekspektasi peningkatan produksi dari Venezuela, yang bersiap untuk melanjutkan ekspor setelah perubahan politik di Caracas.

Risiko tambahan berasal dari Rusia dan Azerbaijan, di mana gangguan dan sanksi dapat memengaruhi arus produksi OPEC+.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Reli: S&P 500, Dow Capai Rekor Penutupan Tertinggi Lagi, Walmart Perkasa

 

Wall Street perkasa dengan indeks S&P 500 dan Dow mencatat rekor penutupan tertinggi di awal pekan. Reli Wall Street terjadi dengan saham perusahaan teknologi dan pengecer Walmart yang menguat serta karena investor sebagian besar mengabaikan kekhawatiran tentang penyelidikan kriminal Departemen Kehakiman AS terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Senin (12/1/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 86,13 poin atau 0,17% menjadi 49.590,20, indeks S&P 500 menguat 10,99 poin atau 0,16% ke 6.977,27 dan indeks Nasdaq Composite menguat 62,56 poin atau 0,26% ke 23.733,90.

Pada sesi ini, saham Walmart menguat 3%, mendorong kenaikan pada indeks S&P 500 dan Nasdaq, tempat raksasa ritel itu memindahkan pencatatan sahamnya bulan lalu dari NYSE. Alhasil, sektor barang konsumsi pokok naik 1,4% dan memimpin kenaikan sektor, sementara sektor teknologi juga meningkat.

Walmart dijadwalkan bergabung dengan indeks Nasdaq-100 pada 20 Januari, sebuah perubahan yang dapat "menarik miliaran dolar" dari dana indeks pasif.

Padahal, pasar saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah karena "berita seputar Powell". Ancaman dakwaan dari Departemen Kehakiman, yang tampaknya berfokus pada komentar Powell kepada Kongres tentang proyek renovasi bangunan, meningkatkan kekhawatiran tentang independensi The Fed.

Powell menyebut langkah itu sebagai "dalih" untuk mendapatkan lebih banyak pengaruh atas suku bunga yang telah ditekan oleh Presiden Donald Trump untuk dipangkas tajam sejak ia menjabat pada Januari 2025.

"Berita bahwa Powell sedang diselidiki oleh Departemen Kehakiman pada dasarnya telah diisyaratkan oleh Trump, jadi saya pikir pasar menerimanya dengan tenang untuk saat ini," kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities di New York.

"Fakta bahwa mantan gubernur Fed mendukung Powell... juga menenangkan pasar," katanya.

Investor juga menantikan laporan musim pendapatan kuartal keempat AS, kata Cardillo.

Analis melihat sektor teknologi memimpin pertumbuhan pendapatan S&P 500 untuk kuartal ini, dengan kenaikan 26,5% secara tahunan, menurut data LSEG.

Para analis melihat, pendapatan perusahaan S&P 500 secara keseluruhan untuk kuartal IV-2025 naik 8,8% dari tahun sebelumnya. Periode pelaporan secara tidak resmi dimulai pada hari Selasa dengan hasil dari JPMorgan Chase dan bank-bank besar lainnya.

Saham-saham perusahaan pemberi pinjaman dan kartu kredit berada di bawah tekanan setelah Trump menyerukan pembatasan suku bunga kartu kredit selama satu tahun di angka 10% mulai 20 Januari.

Sektor keuangan turun 0,8% pada sesi ini dan memimpin penurunan sektoral di S&P 500.

Saham Citigroup anjlok 3%, sementara perusahaan kartu kredit American Express turun 4,3%. Perusahaan pembiayaan konsumen juga turun, termasuk Capital One, yang berakhir turun 6,4%.

Perusahaan beli-sekarang, bayar-nanti Affirm Holdings turun 6,6%.

Investor juga menunggu laporan indeks harga konsumen AS pada hari Selasa, yang dapat memengaruhi prospek penurunan suku bunga Fed. Untuk saat ini, pasar bertaruh setidaknya pada dua penurunan seperempat poin lagi sebelum akhir tahun, menurut data LSEG.

 

 

 

 

 

Kejaksaan AS Buka Penyelidikan Kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell

 

 Kantor Kejaksaan Amerika Serikat (AS) di Distrik Columbia membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, terkait renovasi gedung pusat The Fed di Washington dan dugaan bahwa Powell berbohong kepada Kongres mengenai cakupan proyek tersebut, lapor New York Times pada Minggu (11/1/2026).

Penyelidikan ini mencakup analisis atas pernyataan publik Powell serta pemeriksaan catatan pengeluaran terkait proyek renovasi.

Menurut NYT, penyelidikan ini disetujui pada November lalu oleh Jaksa Jeanine Pirro, berdasarkan sumber yang mengetahui situasi tersebut. Belum ada komentar resmi dari Powell maupun pihak Federal Reserve.

Langkah ini menandai eskalasi serius dalam sorotan publik terhadap pengelolaan The Fed dan bisa menambah tekanan politik terhadap Powell, yang sebelumnya sudah menjadi target kritik Presiden Donald Trump terkait kebijakan suku bunga dan pengelolaan bank sentral.

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell menyatakan bahwa pemerintahan Trump telah mengancamnya dengan tuduhan kriminal dan melayangkan surat panggilan grand jury terkait kesaksiannya di Senat musim panas lalu mengenai proyek renovasi gedung The Fed.

Powell menyebut tindakan ini sebagai “dalih” untuk memberi tekanan agar bank sentral menurunkan suku bunga.

“Pada Jumat lalu, Departemen Kehakiman melayangkan surat panggilan grand jury kepada Federal Reserve, mengancam tuduhan kriminal terkait kesaksian saya di Komite Perbankan Senat pada Juni lalu,” ujar Powell dalam pernyataan resmi yang dirilis Fed, Minggu malam.

“Saya memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap supremasi hukum dan akuntabilitas dalam demokrasi kita. Tidak ada orang—termasuk Ketua Federal Reserve—yang berada di atas hukum. Tetapi tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini harus dipahami dalam konteks lebih luas tentang ancaman dan tekanan berkelanjutan dari pemerintahan untuk menurunkan suku bunga,” tambah Powell.

Gedung Putih menolak memberikan komentar dan mengarahkan pertanyaan ke Departemen Kehakiman.

Sejak kembali menjabat, Trump menuntut The Fed memangkas suku bunga secara drastis, menyalahkan kebijakan bank sentral atas lambatnya pertumbuhan ekonomi, dan sesekali mempertimbangkan untuk memecat Powell, meski posisi Ketua Fed secara hukum dilindungi dari pemecatan terkait perbedaan kebijakan.

“Ancaman baru ini bukan tentang kesaksian saya pada Juni lalu atau proyek renovasi gedung The Fed. Ini hanyalah dalih. Ancaman tuduhan kriminal merupakan konsekuensi dari keputusan The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami untuk kepentingan publik, bukan mengikuti keinginan Presiden,” tegas Powell.

Panggilan grand jury dan pernyataan Powell ini menandai eskalasi signifikan dalam upaya Trump memengaruhi kebijakan The Fed.

Powell menuduh pemerintahan menggunakan sistem hukum untuk mendorong bank sentral menurunkan suku bunga lebih cepat dan lebih drastis daripada yang dianggap tepat oleh 19 anggota pembuat kebijakan Fed.

Pemerintahan Trump sebelumnya mengkritik proyek renovasi dua gedung Fed senilai US$2,5 miliar, menilai biayanya berlebihan dan terlalu mewah.

Beberapa analis menyebut kritik itu sebagai dalih untuk menekan Fed menurunkan suku bunga, namun Powell menolak, memberikan penjelasan rinci di situs Fed dan mengirim surat kepada anggota pemerintahan terkait latar belakang proyek.

Pada Juni lalu, Powell memberikan kesaksian rutin dua kali setahun mengenai kebijakan moneter di Kongres dan beberapa kali ditanya soal proyek renovasi gedung.

Ia menjelaskan pembaruan tersebut diperlukan untuk memperbarui infrastruktur yang sudah usang.

Pada Juli, Trump melakukan kunjungan langka ke lokasi tersebut, dan Powell memberi tur kepadanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran Siap Menyerang Jika AS Intervensi, Protes Masih Bergolak di Tehran

 

 Iran mengancam akan membalas jika Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer, dengan target mencakup basis AS dan sekutunya, Israel, yang kini berada dalam status siaga tinggi.

Ancaman itu muncul di tengah protes besar-besaran di Tehran, protes terbesar sejak 2022, yang dipicu kenaikan harga dan menuntut perubahan pemerintahan clerical.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan kemungkinan “salah perhitungan” jika AS menyerang.

 “Dalam kasus serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua basis dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).

Qalibaf adalah mantan komandan Revolutionary Guards Iran.

Protes yang dimulai pada 28 Desember semula menentang kenaikan harga, kini berfokus pada pemerintahan clerical yang berkuasa sejak Revolusi 1979.

Menurut HRANA, kelompok hak asasi di AS, 116 orang tewas, termasuk 37 aparat keamanan.

Namun, dengan internet diblokir, jumlah korban sebenarnya belum jelas.

Televisi pemerintah Iran menayangkan ratusan kantong jenazah, menyebut korban akibat “teroris bersenjata.”

Israel berada dalam status siaga tinggi, meski pejabat militer menekankan protes di Iran adalah urusan internal.

Namun, mereka siap merespons defensif jika diperlukan. Kunjungan terakhir Barnsley ke Anfield berakhir dengan kemenangan 2-1.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding AS dan Israel memicu kerusuhan, memasukkan “teroris” yang membakar masjid, menyerang bank, dan merusak fasilitas publik.

Ia meminta keluarga agar anak muda tidak ikut aksi kekerasan dan menegaskan pemerintah siap mendengarkan aspirasi rakyat dan menyelesaikan masalah ekonomi.

Mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan siap membantu: “Iran sedang melihat KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah sebelumnya. AS siap membantu!” Pembicaraan telepon antara PM Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas kemungkinan intervensi AS.

Sementara itu, Reza Pahlavi, putra eks-Syah Iran dan tokoh oposisi memuji keberanian rakyat Iran di jalanan.

Netanyahu juga menegaskan ada konsekuensi besar jika Iran menyerang Israel, tetapi mengatakan semua pihak sebaiknya menunggu perkembangan situasi di dalam Iran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Greenland Tolak Keras AS: Kami Tidak Ingin Menjadi Warga Amerika!

 

Para pemimpin Greenland menolak keras seruan Presiden AS Donald Trump yang kembali mendorong Amerika Serikat untuk mengambil alih pulau tersebut. Sejumlah pejabat pemerintahan Trump mendukung gagasan pengambilalihan Greenland, dengan alasan utama keamanan nasional.

“Kami tidak ingin menjadi warga Amerika, kami tidak ingin menjadi warga Denmark, kami ingin menjadi warga Greenland,” kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen bersama empat pemimpin partai dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam, sebagaimana dikutip The Associated Press.

Greenland, wilayah otonom Denmark dan sekutu lama Amerika Serikat, berulang kali menolak pernyataan Trump mengenai rencana AS untuk menguasai pulau tersebut.

Para pemimpin partai Greenland menegaskan kembali bahwa “masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri.”

“Sebagai para pemimpin partai Greenland, kami ingin kembali menegaskan harapan kami agar sikap tidak menghormati Amerika Serikat terhadap negara kami segera berakhir,” demikian isi pernyataan tersebut seperti yang dilansir Fox News.

Trump ditanya mengenai dorongan untuk mengakuisisi Greenland pada Jumat lalu dalam sebuah diskusi meja bundar dengan para eksekutif minyak. Presiden yang sejak lama menyatakan Greenland sangat penting bagi keamanan AS itu mengatakan langkah tersebut perlu dilakukan agar Amerika tidak kalah cepat dari para pesaingnya.

“Kami akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak,” ujar Trump pada Jumat. “Karena jika kami tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland, dan kami tidak akan membiarkan Rusia atau China menjadi tetangga kami.”

Trump pada Jumat juga menjamu hampir dua lusin eksekutif minyak di Gedung Putih untuk membahas investasi di Venezuela, menyusul penangkapan bersejarah Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari.

“Kami tidak ingin Rusia berada di sana,” kata Trump tentang Venezuela ketika ditanya apakah negara itu tampak sebagai sekutu AS. “Kami tidak ingin China berada di sana. Dan, omong-omong, kami juga tidak ingin Rusia atau China masuk ke Greenland, karena jika kami tidak mengambil Greenland, Rusia atau China bisa menjadi tetangga Anda. Itu tidak akan terjadi.”

Trump mengatakan Amerika Serikat kini mengendalikan Venezuela setelah penangkapan dan ekstradisi Maduro.

Sebelumnya, Nielsen menolak perbandingan antara Greenland dan Venezuela, dengan menyatakan bahwa Greenland justru ingin memperbaiki hubungannya dengan Amerika Serikat, menurut Reuters.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada Senin mengatakan bahwa ancaman Trump untuk mencaplok Greenland dapat berarti berakhirnya Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

“Saya juga ingin menegaskan bahwa jika Amerika Serikat memilih menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berhenti. Termasuk NATO kami dan dengan demikian sistem keamanan yang telah ada sejak berakhirnya Perang Dunia II,” ujar Frederiksen kepada stasiun televisi Denmark TV2.

Pada hari yang sama, Nielsen mengatakan dalam pernyataan yang diunggah di Facebook bahwa Greenland bukan objek retorika negara adidaya.

Wakil kepala staf Gedung Putih untuk kebijakan, Stephen Miller, memperkuat pernyataan Trump dengan mengatakan kepada CNN pada Senin bahwa Greenland “seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat.”

Pembawa acara CNN Jake Tapper menekan Miller dengan pertanyaan apakah pemerintahan Trump bisa mengesampingkan kemungkinan aksi militer terhadap pulau Arktik tersebut.

“Amerika Serikat adalah kekuatan utama NATO. Agar Amerika Serikat dapat mengamankan kawasan Arktik, melindungi dan mempertahankan NATO serta kepentingan NATO, maka jelas Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat,” kata Miller.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Siaga Tinggi, Antisipasi Intervensi Amerika Serikat di Iran

 

Israel meningkatkan status kewaspadaan menyusul kemungkinan intervensi Amerika Serikat (AS) di Iran, di tengah gelombang protes anti-pemerintah terbesar yang melanda negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip sumber-sumber Israel yang mengetahui situasi tersebut, kewaspadaan tinggi ini terkait dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mengancam akan melakukan intervensi dan memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran.

Pada Sabtu lalu, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat “siap membantu” Iran. Pernyataan tersebut memicu perhatian serius dari otoritas keamanan Israel.

Tiga sumber Israel yang hadir dalam konsultasi keamanan akhir pekan lalu mengatakan, Israel bersiap menghadapi berbagai kemungkinan, meski tidak merinci secara detail bentuk kesiagaan tersebut.

Sebelumnya, Israel dan Iran terlibat konflik bersenjata selama 12 hari pada Juni lalu, di mana Amerika Serikat turut mendukung Israel melalui serangan udara.

Dalam percakapan telepon pada Sabtu (10/1/2026), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas kemungkinan intervensi AS di Iran.

Seorang pejabat AS mengonfirmasi adanya pembicaraan tersebut, namun tidak mengungkapkan rincian topik yang dibahas.

Meski demikian, Israel belum menunjukkan sinyal akan melakukan intervensi langsung ke Iran di tengah gelombang demonstrasi yang sedang berlangsung.

Ketegangan antara kedua negara tetap tinggi, terutama terkait kekhawatiran Israel terhadap program nuklir dan rudal balistik Iran.

Dalam wawancara dengan majalah The Economist yang dipublikasikan Jumat lalu, Netanyahu memperingatkan akan adanya konsekuensi serius bagi Iran jika negara itu menyerang Israel.

Terkait situasi internal Iran, Netanyahu mengatakan dunia perlu mencermati perkembangan yang terjadi di dalam negeri Iran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rencana Penangkapan Vladimir Putin Ditolak Mentah-mentah oleh Trump

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang menyebut Amerika Serikat berpotensi menangkap Presiden Rusia Vladimir Putin, menyusul langkah Washington sebelumnya terhadap diktator Venezuela Nicolás Maduro.

Mengutip Fox News, Trump menolak gagasan operasi semacam itu, sembari meluapkan kekecewaannya atas perang yang terus berlarut-larut dan kegagalannya sejauh ini untuk mengakhirinya.

Selama masa kampanye, Trump berulang kali mengatakan bahwa ia bisa mengakhiri perang tersebut pada hari pertamanya kembali menjabat. Namun, meski telah bertemu baik dengan Zelenskyy maupun Putin, solusi konflik itu masih belum tercapai.

“Saya rasa itu tidak akan diperlukan,” kata Trump saat menjawab pertanyaan dari jurnalis Fox News, Peter Doocy, dalam pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak AS di Gedung Putih, Jumat.

Trump mengatakan ia selama ini memiliki hubungan yang sangat baik dengan Putin, meski kini merasa kecewa.

“Saya selalu punya hubungan yang hebat dengannya. Saya sangat kecewa,” ujar Trump. “Saya sudah menyelesaikan delapan perang. Saya kira yang satu ini akan berada di tengah-tengah atau bahkan termasuk yang lebih mudah.”

Trump menyebut konflik Rusia-Ukraina terus menimbulkan korban besar, terutama di pihak Rusia, dan mengklaim perekonomian Moskow tengah terpukul.

“Dalam satu bulan terakhir, mereka kehilangan 31.000 orang, sebagian besar tentara Rusia,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa ekonomi Rusia saat ini “sedang tidak baik-baik saja”.

“Saya pikir pada akhirnya kita akan bisa menyelesaikannya,” lanjut Trump. “Saya berharap ini bisa dilakukan lebih cepat, karena terlalu banyak orang yang meninggal.”

Trump juga menyoroti besarnya korban di kalangan militer.

“Sebagian besar yang terdampak adalah tentara,” katanya. “Ketika 30.000 hingga 31.000 tentara tewas dalam satu bulan, lalu 27.000 bulan sebelumnya, dan 26.000 pada bulan sebelumnya lagi. Itu sangat buruk.”

Selain itu, Trump mengkritik pemerintahan Presiden Joe Biden yang menurutnya telah mengirim dana hingga 350 miliar dollar AS ke Ukraina. Ia berpendapat Amerika Serikat seharusnya bisa mendapatkan kembali biaya tersebut melalui perjanjian mineral tanah jarang yang dikaitkan dengan dukungan lanjutan ke Ukraina.

Trump juga mengeklaim Amerika Serikat justru tidak merugi dalam konflik tersebut. Menurutnya, Washington diuntungkan melalui penjualan senjata ke negara-negara anggota NATO. Ia menyinggung komitmen NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan dan keamanan hingga mendekati 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2035, dari target lama sebesar 2 persen.

“Kami tidak kehilangan uang. Kami justru menghasilkan banyak uang,” kata Trump.

Pernyataan Zelenskyy sebelumnya disampaikan setelah Rusia mengklaim telah menembakkan rudal hipersonik baru berkemampuan nuklir Oreshnik dalam serangan besar-besaran semalam ke Ukraina, klaim yang dibantah Kyiv.

Pejabat Ukraina menyebut serangan tersebut melibatkan ratusan drone dan sejumlah rudal yang menghantam fasilitas energi serta infrastruktur sipil, menewaskan sedikitnya empat orang.

Zelenskyy pun menyerukan agar Amerika Serikat dan komunitas internasional memberikan respons tegas, menegaskan bahwa Rusia harus menghadapi konsekuensi atas serangan yang menyasar warga sipil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Drone Korsel Langgar Udara Korut, Adik Kim Jong Un Tuntut Penjelasan Resmi

 

Saudara perempuan pemimpin Korea utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong yang berpengaruh, mendesak Korea Selatan untuk menyelidiki insiden drone baru-baru ini untuk penjelasan rinci, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah KCNA pada hari Minggu (11/1/2025).

Kim mengatakan, dia secara pribadi menghargai Korea Selatan karena "membuat keputusan bijak" untuk mengumumkan "sikap resminya" bahwa mereka "tidak memiliki niat untuk melakukan provokasi," memperingatkan bahwa provokasi apa pun akan mengakibatkan situasi yang mengerikan.

Drone diterbangkan dari Korea Selatan ke Korea Utara pada awal bulan ini, setelah pelanggaran wilayah udara lainnya pada bulan September, kata militer Korea Utara pada hari Sabtu (10/1/2026), yang segera diikuti oleh tanggapan Korea Selatan bahwa drone tersebut tidak dioperasikan oleh militer.

Korea Selatan juga mengatakan akan ada penyelidikan menyeluruh terhadap kemungkinan warga sipil yang mengoperasikan drone tersebut, memperjelas pendiriannya bahwa mereka tidak memiliki niat untuk melakukan provokasi.

"Yang jelas adalah fakta bahwa drone dari ROK melanggar wilayah udara negara kami," kata Kim. ROK adalah singkatan dari Republik Korea, nama resmi Korea Selatan.

"Tidak peduli siapa pelakunya dan apakah itu perbuatan oleh organisasi atau individu sipil mana pun, pihak berwenang yang bertanggung jawab atas keamanan nasional tidak akan pernah bisa menghindari tanggung jawab mereka atas hal itu," katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump Berniat Hubungi Musk Terkait Pemulihan Layanan Internet di Iran

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa ia berencana untuk berbicara dengan miliarder Elon Musk tentang pemulihan internet di Iran. Hal itu dilakukan karena, pihak berwenang di Iran telah memutus layanan selama empat hari di tengah protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung.

"Dia sangat pandai dalam hal semacam itu, dia memiliki perusahaan yang sangat bagus," kata Trump kepada wartawan menanggapi pertanyaan tentang apakah dia akan terlibat dengan perusahaan SpaceX milik Musk, yang menawarkan layanan internet satelit bernama Starlink yang telah digunakan di Iran.

Musk dan SpaceX tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Arus informasi dari Iran terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis di tengah protes terbesar terhadap rezim ulama negara itu sejak 2022.

Musk dan Trump memiliki hubungan yang putus-nyambung setelah miliarder itu membantu mendanai kampanye presiden Trump yang menang dan kemudian mengatur pemotongan besar-besaran terhadap pemerintah federal.

Keduanya berselisih secara publik tahun lalu ketika Musk menentang RUU pajak andalan Trump, tetapi pengusaha itu tampaknya telah menghidupkan kembali hubungannya dengan pemerintahan Trump.

Musk dan Trump terlihat makan malam bersama di resor Mar-a-Lago milik Trump bulan ini, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dijadwalkan mengunjungi fasilitas SpaceX di Texas pada hari Senin.

Musk telah mendukung penyediaan Starlink kepada warga Iran untuk membantu mereka menghindari pembatasan pemerintah, termasuk di tengah protes sebelumnya pada tahun 2022.

Pada tahun itu, Gedung Putih Biden bekerja sama dengan Musk untuk mendirikan Starlink di Iran setelah negara itu dilanda protes menyusul kematian Mahsa Amini yang berusia 22 tahun dalam tahanan polisi.

Layanan satelit Starlink telah digunakan di wilayah lain yang ditandai dengan kerusuhan atau konflik seperti Ukraina, di mana Musk pada tahun 2022 memerintahkan penutupan Starlink selama "serangan" Ukraina yang penting, seperti yang dilaporkan Reuters.

Protes di Iran saat ini dimulai pada 28 Desember sebagai tanggapan terhadap kenaikan harga yang melonjak, sebelum berbalik melawan penguasa ulama yang telah memerintah sejak Revolusi Islam 1979.

Ratusan orang telah tewas sejak saat itu, menurut perkiraan kelompok hak asasi manusia.

Organisasi yang berbasis di AS, HRANA, mengatakan telah memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap dalam dua minggu kerusuhan. Iran belum memberikan jumlah korban resmi — dan Reuters tidak dapat memverifikasi jumlah korban secara independen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dolar AS Tergelincir di Tengah Investigasi Kriminal Ketua The Fed

 

 Dolar Amerika Serikat (AS) turun dari level tertinggi sebulan pada Senin (12/1/2026), setelah jaksa AS membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang menambah ketegangan dengan pemerintahan Trump.

Melansir Reuters, Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, terakhir tercatat melemah 0,3% ke level 98,899, menghentikan tren kenaikan lima hari berturut-turut.

Sementara itu, harga emas melonjak ke rekor US$4.563,61 per ons troi setelah laporan The New York Times mengenai penyelidikan tersebut, sementara Powell mengeluarkan pernyataan video yang membela independensi bank sentral.

“Powell tampaknya sudah cukup dengan kritik dari luar dan jelas mengambil sikap ofensif,” kata Ray Attrill, kepala strategi FX di National Australia Bank, Sydney.

“Konflik terbuka antara The Fed dan pemerintahan AS—dan jika komentar Powell dianggap serius—tentu bukan kabar baik untuk dolar AS.”

Dolar sempat menguat di perdagangan Asia awal pekan ini setelah laporan tenaga kerja AS Jumat lalu memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.

Selain itu, laporan ratusan kematian selama protes di Iran juga meningkatkan ketegangan geopolitik dan mendorong permintaan aset safe haven.

“Kondisi ini seharusnya positif untuk dolar AS, tapi kenaikannya belum terlihat,” kata Kyle Rodda, analis senior di Capital.com, Melbourne.

“Pertanyaannya sekarang adalah apakah momentum protes terus berlanjut, dan apakah rezim menindak lebih keras, membuka kemungkinan intervensi AS.”

Pasar keuangan bersiap menghadapi minggu data ekonomi yang padat, termasuk rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Desember pada Selasa, yang menjadi salah satu data penting sebelum rapat kebijakan moneter The Fed akhir Januari.

“Inflasi AS masih di atas target 2,0% The Fed, sehingga kemungkinan membatasi kemampuan FOMC untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut kecuali terjadi perlambatan signifikan ekonomi AS,” tulis analis Standard Chartered.

 “Pasar tenaga kerja tidak memburuk lebih jauh, yang memberi tekanan naik pada imbal hasil Treasury AS dan dolar.”

Selain itu, bank-bank besar mulai merilis laporan laba kuartal IV pekan ini, dengan pertumbuhan laba yang kuat menjadi sumber optimisme bagi investor saham.

Putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif darurat Trump juga bisa diumumkan pekan ini.

Di pasar mata uang, dolar melemah 0,2% terhadap yen Jepang ke level 157,56, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi satu tahun. Euro menguat 0,2% ke US$1,1664, rebound dari level terendah sebulan.

Dolar AS juga melemah 0,1% terhadap yuan Tiongkok offshore menjadi 6,968, sementara pound Inggris menguat 0,2% ke US$1,3433.

Dolar Australia menguat 0,2% ke US$0,6704, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,2% ke US$0,5746. Bitcoin terakhir diperdagangkan naik 1% ke US$91.533,13, dan ether naik 0,3% ke US$3.127,37.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BRICS Plus Mulai 'Permainan Perang', Ini Tiga Alasan India Menghindar

 

Latihan militer laut bersama yang melibatkan sejumlah negara anggota BRICS, termasuk China, Rusia, dan Iran, resmi dimulai di perairan dekat pesisir Afrika Selatan. Pemerintah Afrika Selatan menyebut manuver ini sebagai respons penting terhadap meningkatnya ketegangan maritim di berbagai belahan dunia.

Al Jazeera melaporkan, latihan bertajuk Will for Peace 2026 ini akan berlangsung selama sepekan dan dimulai pada Sabtu lalu. China memimpin latihan yang digelar di Simon’s Town, wilayah strategis tempat Samudra Hindia bertemu dengan Samudra Atlantik. Kementerian Pertahanan Nasional China menyebut latihan ini mencakup simulasi operasi penyelamatan, serangan maritim, serta pertukaran teknis antar angkatan laut.

Latihan yang melibatkan kapal perang dari negara-negara peserta ini berlangsung di tengah hubungan Afrika Selatan dan Amerika Serikat yang sedang memburuk. Washington memandang BRICS sebagai ancaman ekonomi.

Nama BRICS sendiri merupakan singkatan dari negara-negara pendirinya: Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, dengan Afrika Selatan saat ini menjabat sebagai ketua. Namun, dua anggota pendiri, India dan Brasil, memilih tidak ikut serta dalam latihan kali ini.

Lalu, mengapa latihan ini penting? Apa tujuannya? Dan mengapa ada negara anggota yang memilih absen?

China dan Iran mengirim kapal perusak, Rusia dan Uni Emirat Arab mengerahkan kapal korvet, sementara Afrika Selatan menurunkan satu fregat kelas menengah.

Dalam upacara pembukaan yang digelar di selatan Cape Town pada Sabtu, pejabat China menyebut Brasil, Mesir, Indonesia, dan Ethiopia ikut serta sebagai pengamat.

Komandan satuan tugas gabungan Afrika Selatan, Kapten Nndwakhulu Thomas Thamaha, mengatakan latihan ini bukan sekadar kegiatan militer, melainkan juga pernyataan sikap bersama negara-negara BRICS.

Sebagai tuan rumah, Afrika Selatan menyebut latihan ini sebagai operasi BRICS Plus, yang bertujuan menjamin “keamanan pelayaran dan aktivitas ekonomi maritim”. Konsep BRICS Plus memungkinkan blok ini melibatkan dan menjalin hubungan dengan negara-negara di luar anggota intinya.

Pejabat Afrika Selatan menegaskan bahwa seluruh anggota BRICS diundang untuk berpartisipasi.

Iran resmi bergabung dengan BRICS pada 2024. Pada saat yang sama, keanggotaan BRICS juga diperluas dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Afrika Selatan sebelumnya sudah pernah menggelar latihan laut bersama China dan Rusia.

“Ini adalah demonstrasi tekad bersama untuk bekerja sama,” kata Thamaha. “Dalam lingkungan maritim yang semakin kompleks, kerja sama seperti ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.”

Kementerian Pertahanan Afrika Selatan dalam pernyataannya menyebut latihan tahun ini mencerminkan komitmen kolektif seluruh angkatan laut peserta untuk melindungi jalur perdagangan laut, meningkatkan prosedur operasional bersama, dan memperdalam kerja sama demi keamanan maritim yang damai.

Latihan ini digelar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Manuver dimulai hanya tiga hari setelah Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker minyak Rusia yang terkait Venezuela di Atlantik Utara, dengan alasan kapal tersebut melanggar sanksi Barat.

Penyitaan itu terjadi setelah operasi militer AS yang menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari ibu kota Caracas, bersama istrinya Cilia Flores, disertai pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berjanji akan “mengelola” Venezuela dan memanfaatkan cadangan minyaknya yang sangat besar.

Pemerintahan Trump juga mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap negara-negara seperti Kuba, Kolombia, dan Iran, serta wilayah semi-otonom Greenland yang berada di bawah Denmark.

Trump menuduh beberapa anggota BRICS menjalankan kebijakan yang “anti-Amerika”.

Di tengah hubungan AS yang terus memburuk dengan China dan Rusia, Trump juga menyerang Iran serta menjatuhkan tarif tinggi terhadap India. Washington menuduh India mendanai perang Rusia di Ukraina melalui pembelian minyak Rusia.

Tak lama setelah kembali menjabat pada Januari 2025, Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap seluruh anggota BRICS.

“Saat saya mendengar soal kelompok bernama BRICS ini—enam negara, pada dasarnya—saya langsung menekan mereka sangat keras,” ujar Trump pada Juli lalu, menjelang KTT tahunan negara-negara berkembang. “Kalau mereka benar-benar terbentuk secara serius, itu akan cepat berakhir. Kita tidak boleh membiarkan siapa pun mempermainkan kita.”

Dalam pernyataan bersama pada Juli, para pemimpin BRICS mengambil sikap menantang dan menyoroti kekhawatiran global atas “meningkatnya tarif sepihak dan hambatan non-tarif”, tanpa menyebut AS secara langsung. Mereka juga mengecam serangan militer terhadap Iran.

Dua anggota pendiri BRICS, India dan Brasil, tidak ikut dalam latihan laut ini.

Brasil hadir hanya sebagai pengamat, sementara India sama sekali tidak berpartisipasi.

Sejak Trump kembali ke Gedung Putih, posisi India di Washington kian tertekan. Hubungan kedua negara memanas, terutama karena pembelian minyak Rusia oleh India, sementara negosiasi perjanjian dagang masih menggantung.

Menurut analis geopolitik Harsh Pant dari Observer Research Foundation di New Delhi, keputusan India untuk absen berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan hubungan dengan AS. “Lagipula, latihan perang semacam ini memang bukan mandat BRICS,” ujarnya.

BRICS pada dasarnya bukan aliansi militer, melainkan kemitraan antarpemerintah negara berkembang yang berfokus pada kerja sama ekonomi dan perdagangan, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada Barat.

Pant mengatakan bahwa bagi China, Rusia, Iran, dan sampai batas tertentu Afrika Selatan, latihan militer bersama ini membantu membangun narasi posisi mereka terhadap AS saat ini.

“India tidak ingin dicap sebagai bagian dari ‘permainan perang’ BRICS,” kata Pant. Ia menambahkan bahwa New Delhi juga tidak nyaman dengan pergeseran bertahap karakter dasar BRICS. “Ini bukan sesuatu yang bisa diterima India, baik secara pragmatis maupun normatif.”

Selain itu, menurut Pant, perbedaan kepentingan di antara negara-negara BRICS Plus, seperti antara Uni Emirat Arab dan Iran, atau Mesir dan Iran, menjadi hambatan besar bagi BRICS untuk berkembang menjadi aliansi militer yang solid.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post