News Komoditi & Global ( Jumat, 3 Juli 2026 )
News Komoditi & Global
( Jum’at, 3 Juli 2026 )
Harga Emas Global Menguat Usai Data Tenaga Kerja AS Lesu
Harga emas dunia menguat setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan yang memicu surutnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta menekan dolar AS. Melansir Kitco, Jumat (3/7/2026), harga emas di pasar spot naik 0,06% ke level US$4.124,2 per troy ounce setelah ditutup menguat 2,28% pada Kamis (2/7) dan sempat menyentuh level tertinggi sepekan di US$4.143,60 per troy ounce. Kenaikan tersebut membuat harga emas naik 2,32% dalam sepekan, sekaligus memutus tren pelemahan harga emas selama empat pekan berturut-turut dan menjadi penguatan mingguan terbesar sejak akhir Mei. Penguatan harga emas terjadi setelah data nonfarm payroll Amerika Serikat hanya bertambah 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran bertahan di kisaran 4,2%. Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan mendorong pelemahan dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi itu meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Sebelumnya, harga emas sempat tertekan hingga menyentuh titik terendah mingguan US$3.941,87 per troy ounce setelah pelaku pasar masih mempertimbangkan peluang The Fed mempertahankan sikap hawkish menyusul data pembukaan lapangan kerja (JOLTS) dan aktivitas manufaktur yang relatif stabil. Pasar Tenaga Kerja AS Melambat, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Surut Ramalan Harga Emas Bank Sentral 12 Bulan ke Depan Ramalan Harga Emas Reli Lagi Semester II ke Level US$4.800 di Akhir Tahun Namun, sentimen berbalik setelah laporan tenaga kerja swasta ADP menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang lebih rendah dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai tidak memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga berikutnya. Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski mengatakan pelemahan data ketenagakerjaan Amerika Serikat membuka ruang koreksi dolar AS sehingga memberikan dorongan jangka pendek bagi harga emas. “Meski meredanya ketegangan di kawasan Teluk masih menjadi sentimen negatif bagi logam mulia, dalam jangka pendek kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga AS mulai berkurang. Kondisi tersebut didukung oleh penurunan harga energi serta data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah pada pekan ini,” jelasnya seperti dikutip Kitco, Jumat (3/7/2026). Menurutnya, kombinasi turunnya harga energi dan berkurangnya kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga membuat harga emas berpeluang melanjutkan penguatan. Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day juga menilai laporan ekonomi Amerika Serikat terbaru serta meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi katalis positif bagi logam mulia. Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral masih terus berlangsung. Survei mingguan Kitco News turut menunjukkan optimisme kembali menguat. Sebanyak 69% analis Wall Street memperkirakan harga emas masih akan naik dalam sepekan ke depan, sedangkan 54% investor ritel juga berpandangan serupa setelah emas kembali menembus level psikologis US$4.100 per troy ounce. Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) serta data klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat untuk mencari petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Jelang Hari Libur Kemerdekaan AS
Harga minyak mentah acuan naik sedikit karena pembeli berusaha untuk memastikan pasokan selama libur panjang Hari Kemerdekaan AS. Kamis (2/7/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 ditutup naik 23 sen atau 0,32% ke US$ 71,80 per barel Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 ditutup naik 11 sen atau 0,16% menjadi US$ 68,69 per barel. "Kita melihat sedikit aksi menutup posisi short di sini," kata John Kilduff, mitra di Again Capital. Baca Juga: Tinggalkan Pesawat AWACS yang Menua, NATO Beralih ke Jet Pengintai Saab GlobalEye "Fokusnya telah bergeser dari berapa banyak pasokan yang akan kita hilangkan ke berapa banyak pasokan yang akan kita lihat di pasar." Selama sesi perdagangan, kedua patokan harga tersebut mencapai level terendah sejak sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari. Dengan posisi penutupan tersebut, harga minyak Brent turun 0,60%, sementara WTI turun 0,78% sepanjang pekan ini. Sentimen bagi harga minyak datang setelah mediator Qatar mengatakan AS dan Iran telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan menuju perjanjian perdamaian permanen yang mengakhiri perang empat bulan yang menutup jalur pengiriman minyak utama melalui Selat Hormuz. Pembicaraan tersebut mencapai "kemajuan positif" dalam hal-hal yang berkaitan dengan memorandum yang menghentikan perang pada bulan Juni, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar dalam sebuah unggahan di X. Belum ada tanda-tanda bahwa kedua pihak telah mencapai kemajuan menuju perdamaian yang langgeng. Pertemuan selanjutnya antara negosiator Iran dan AS akan berlangsung setelah prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 9 Juli, tambah kementerian Qatar. "Minyak telah mengalir keluar dari Selat Hormuz, sementara pada saat yang sama kita juga membuang minyak dari cadangan strategis. Dan di atas itu, pembelian minyak mentah dari China dan permintaan minyak belum benar-benar pulih," kata Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB. "Ini bisa jadi semacam 'gambaran dinamis harga yang turun tajam dan kemudian pulih kembali pada suatu titik.'" Setidaknya lima kapal tanker super yang membawa total 10 juta barel minyak Saudi yang dimuat dari Ras Tanura telah keluar dari Selat Hormuz, dengan Saudi Aramco beralih ke penetapan harga spot untuk mempercepat penjualan di Asia, menurut sumber perdagangan dan data pengiriman. "Tampaknya kilang dapat memperoleh minyak sebanyak yang mereka butuhkan, tetapi mengeluarkannya dari kilang lebih sulit," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. Baca Juga: Penyerapan Tenaga Kerja Swasta AS Melambat, Angkatan Kerja Turun ke Level Terendah "Pasar berpikir situasi Iran membaik tetapi akan ada pasang surut, tetapi situasinya membaik." Stok minyak mentah AS turun ke level terendah pekan lalu sejak 2018 karena permintaan kilang domestik meningkat, sementara persediaan bensin juga menurun, kata Badan Informasi Energi pada hari Rabu. UBS memangkas perkiraan Brent-nya, dengan alasan peningkatan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, di mana 20% minyak dunia diangkut oleh kapal tanker. UBS menurunkan perkiraan harga minyak mentah Brent. UBS memangkas estimasi kuartal ketiga sebesar $25 per barel menjadi $80 dan mengurangi perkiraan kuartal keempat sebesar $10 per barel menjadi $80. UBS juga memangkas prospek tahun 2027 sebesar $10 per barel menjadi $75. Analis di HSBC memperkirakan pasar "akan menyerap kembalinya minyak mentah Timur Tengah melalui pengisian kembali secara bertahap, bersamaan dengan berakhirnya pelepasan stok strategis IEA pada bulan Juli". "Seiring meredanya 'kelebihan pasokan' jangka pendek, Brent dapat kembali bergerak menuju $80/b atau lebih tinggi," kata catatan HSBC. Baca Juga: Microsoft Gelontorkan US$2,5 Miliar untuk Dirikan Microsoft Frontier Company Sementara itu, Nigeria telah menjadi anggota OPEC pertama yang bergabung dengan Badan Energi Internasional sebagai anggota asosiasi, sebuah langkah yang memperdalam hubungan antara pengawas energi global dan produsen minyak terbesar di Afrika. Di tempat lain, pasukan Ukraina menyerang kilang minyak Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia, kata Staf Umum Ukraina pada hari Kamis.
Wall Street: Dow Melonjak ke Rekor Penutupan Tertinggi, Nasdaq Terseret Saham Chip
Wall Street bervariasi dengan indeks Dow Jones naik lebih dari 1% ke rekor penutupan tertinggi jelang libur panjang akhir pekan karena laporan pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan meredakan kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga. Di sisi lain, penurunan tajam lainnya pada saham produsen chip membebani indeks Nasdaq dengan indeks S&P 500 berakhir datar. Kamis (2/7/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 594,83 poin atau 1,14%, menjadi 52.900,07, indeks S&P 500 menguat tipis 0,01 poin ke 7.483,24 dan indeks Nasdaq Composite turun 207,36 poin atau 0,80% ke 25.832,67. Indeks Dow Jones mencatat kenaikan selama empat minggu berturut-turut, rentetan terpanjang sejak Oktober 2024. Baca Juga: Harga Emas Antam (2/7) Naik Rp 15.000, Investor Jangka Pendek Masih Potensi Rugi Dengan posisi ini, maka indeks Dow naik sekitar 2%, S&P 500 naik 1,8%, dan Nasdaq naik 2,1% di pekan ini. Pasar AS akan tutup pada hari Jumat untuk memperingati Hari Kemerdekaan AS. Laporan penggajian non-pertanian AS menunjukkan ekonomi menambah 57.000 pekerjaan bulan lalu, jauh di bawah perkiraan ekonom yang memperkirakan kenaikan sebesar 110.000. Tingkat pengangguran adalah 4,2%, sesuai dengan ekspektasi 4,3%. Laporan ketenagakerjaan ini mengikuti serangkaian peningkatan lapangan kerja yang kuat baru-baru ini. Ekspektasi kenaikan suku bunga dari Federal Reserve menurun setelah laporan tersebut, menurut CME FedWatch. Untuk pertemuan September, ekspektasi kenaikan suku bunga meredup menjadi 55% dari 64,1%. Laporan pekerjaan "tidak berarti kekhawatiran inflasi telah berakhir," kata Adam Sarhan, kepala eksekutif di 50 Park Investments di New York. "Ini hanya mengurangi tekanan pada Fed untuk menaikkan suku bunga dalam jangka pendek." Investor telah khawatir tentang inflasi terutama mengingat kenaikan tajam harga minyak pada awal perang Iran. Saham Apple melonjak 4,8% dan membantu menopang ketiga indeks utama. Nikkei Asia melaporkan bahwa Apple berencana meluncurkan lima model iPhone baru. Baca Juga: Bangun Infrastruktur Kendaraan Listrik, Petrosea (PTRO) Gandeng Anak Usaha CDIA Di sisi lain, indeks semikonduktor berakhir 5,4% lebih rendah pada hari Kamis, jatuh tajam untuk hari kedua berturut-turut. Saham Nvidia turun 1,4% sementara SanDisk turun 14,1%. Investor kemungkinan mengambil keuntungan dari saham chip setelah kenaikan yang kuat tahun ini, kata Bruce Zaro, direktur pelaksana di Granite Wealth Management di Plymouth, Massachusetts. Indeks semikonduktor tetap naik sekitar 78% untuk tahun ini hingga saat ini. Pada sesi ini, saham Tesla turun 7,5% meskipun produsen mobil listrik tersebut membukukan pengiriman kuartal kedua di atas perkiraan. Saham Tesla telah naik tajam minggu ini menjelang laporan tersebut. Di antara saham-saham yang mengalami penurunan lainnya, Bending Spoons turun 11,3%, sehari setelah pemilik Vimeo tersebut naik 40% pada debutnya di Nasdaq.
Seribu Hari Genosida di Gaza, Berikut Kehancuran yang Ditimbulkan Israel
Kantor Media Pemerintah Gaza merilis laporan statistik terbaru bertepatan dengan genap 1.000 hari sejak dimulainya perang di Jalur Gaza, Kamis (2/7/2026). Laporan itu menggambarkan besarnya korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta dampak kemanusiaan yang ditimbulkan selama konflik berlangsung.
Dalam laporannya, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut sekitar 2,4 juta penduduk Jalur Gaza terdampak perang, kelaparan, dan pengungsian. Lembaga itu juga menyatakan lebih dari 90 persen wilayah Gaza mengalami kehancuran, sementara lebih dari 80 persen wilayahnya telah dikuasai melalui operasi militer dan pengusiran paksa.
Laporan tersebut juga menyebut kawasan Al-Mawasi yang sebelumnya diklaim sebagai zona kemanusiaan yang aman telah dibombardir sebanyak 241 kali. Selain itu, lebih dari 223 ribu ton bahan peledak disebut telah dijatuhkan di wilayah Gaza selama perang.
Dari sisi korban jiwa, Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat sebanyak 73.066 warga Palestina syahid dan telah tercatat di rumah sakit sejak perang dimulai. Sebanyak 9.500 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk mereka yang diduga tertimbun reruntuhan.
Korban meninggal disebut didominasi kelompok rentan. Lebih dari 21.500 anak dan 12.500 perempuan dilaporkan syahid. Selain itu, sekitar 9.000 ibu, 22.500 ayah, lebih dari 1.022 bayi berusia di bawah satu tahun, serta lebih dari 520 bayi yang lahir selama perang juga termasuk dalam daftar korban.
Laporan itu turut mencatat 1.700 tenaga kesehatan, 145 personel pertahanan sipil, 262 jurnalis, lebih dari 194 pegawai pemerintah daerah termasuk empat wali kota, serta lebih dari 2.800 personel kepolisian dan pengamanan bantuan kemanusiaan meninggal dunia. Sebanyak lebih dari 928 atlet dan tokoh olahraga juga disebut menjadi korban.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, lebih dari 39 ribu keluarga mengalami pembantaian. Sebanyak lebih dari 2.700 keluarga dilaporkan kehilangan seluruh anggotanya sehingga dihapus dari catatan sipil, sedangkan lebih dari 6.000 keluarga hanya memiliki satu anggota yang masih hidup. Lembaga itu menyebut sekitar 55 persen korban meninggal merupakan anak-anak, perempuan, dan lanjut usia.
Dampak krisis pangan juga disebut semakin memburuk. Sedikitnya 460 orang meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi, termasuk 164 anak. Sebanyak 43 persen pasien gagal ginjal dilaporkan meninggal akibat kekurangan makanan dan layanan kesehatan. Selain itu, lebih dari 12 ribu kasus keguguran terjadi pada ibu hamil akibat memburuknya kondisi kesehatan dan gizi.
Di sektor kesehatan, laporan itu mencatat 173.514 korban luka telah dirawat di rumah sakit. Lebih dari 19 ribu di antaranya membutuhkan rehabilitasi jangka panjang, sementara lebih dari 5.400 orang mengalami amputasi, termasuk sekitar 18 persen anak-anak.
Selain itu, terdapat sekitar 1.500 kasus kelumpuhan dan 1.200 kasus kehilangan penglihatan. Sebanyak 433 jurnalis dilaporkan mengalami luka-luka. Kantor Media Pemerintah Gaza juga menyebut 362 tenaga kesehatan ditangkap dan 83 di antaranya masih ditahan.
Laporan tersebut mencatat 26.370 perempuan menjadi janda akibat perang. Sebanyak 58.800 anak menjadi yatim, terdiri atas sekitar 2.700 anak yang kehilangan kedua orang tua, 6.100 kehilangan ibu, dan 50 ribu kehilangan ayah.
Krisis kesehatan masyarakat juga terus memburuk. Tercatat lebih dari 2,1 juta kasus penyakit menular akibat pengungsian paksa serta lebih dari 71 ribu kasus hepatitis.
Di sektor kesehatan, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan 38 rumah sakit dan 96 pusat layanan kesehatan dibom, dihancurkan, atau dipaksa berhenti beroperasi. Sebanyak 197 ambulans menjadi sasaran serangan, sementara 788 serangan disebut menyasar sistem layanan kesehatan, termasuk fasilitas, tenaga medis, kendaraan, dan rantai pasokan. Sebanyak 16 pusat pertahanan sipil juga dilaporkan hancur.
Tentara Israel menghancurkan seluruh blok pemukiman di kamp Jabalia, sebelah utara Jalur Gaza, akhir Agustus 2025.
Kerusakan juga terjadi di sektor pendidikan. Menurut laporan tersebut, seluruh sekolah di Jalur Gaza mengalami kerusakan akibat pemboman. Sekitar 81 persen bangunan sekolah memerlukan pembangunan kembali atau rehabilitasi besar, sedangkan 80 sekolah disebut menjadi sasaran serangan langsung.
Sebanyak 17 perguruan tinggi dilaporkan hancur sebagian maupun seluruhnya. Lebih dari 20 ribu pelajar dan mahasiswa meninggal dunia, sementara hampir 20 ribu lainnya meninggalkan Gaza selama perang. Laporan itu juga menyebut lebih dari 620 ribu anak kehilangan akses pendidikan dan lebih dari 90 ribu mahasiswa kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi. Selain itu, lebih dari 830 guru dan tenaga kependidikan serta 194 akademisi dan peneliti dilaporkan meninggal dunia.
Di sektor keagamaan, Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat 1.047 dari total 1.275 masjid di Gaza hancur total, sedangkan 210 lainnya mengalami kerusakan. Tiga gereja juga disebut menjadi sasaran serangan lebih dari satu kali. Sebanyak 40 dari total 60 kompleks pemakaman mengalami kerusakan, sementara tujuh kuburan massal ditemukan di kompleks rumah sakit.
Kerusakan juga meluas ke sektor perumahan. Laporan itu menyebut sebanyak 510 ribu unit rumah mengalami kerusakan, dengan 335 ribu di antaranya hancur total. Lebih dari dua juta warga Palestina disebut mengalami pengungsian akibat perpindahan paksa, sementara sekitar 350 ribu keluarga masih membutuhkan tempat tinggal. Sebanyak 346 lokasi penampungan pengungsi juga dilaporkan menjadi sasaran pemboman.
Kantor Media Pemerintah Gaza juga menyoroti situasi kelaparan akibat terbatasnya akses bantuan kemanusiaan. Laporan itu menyebut seluruh perlintasan menuju Gaza telah ditutup selama lebih dari 650 hari sehingga lebih dari 390 ribu truk bantuan dan bahan bakar tidak dapat masuk.
Sebanyak 48 dapur umum dan 64 pusat distribusi bantuan dilaporkan menjadi sasaran serangan. Sebanyak 556 relawan kemanusiaan meninggal dunia, sementara 128 konvoi bantuan juga disebut diserang.
Menurut laporan tersebut, sekitar 2.605 warga meninggal dan lebih dari 19 ribu lainnya terluka di lokasi distribusi bantuan yang oleh Kantor Media Pemerintah Gaza disebut sebagai "jebakan maut". Selain itu, sekitar 650 ribu anak menghadapi ancaman kelaparan, 40 ribu bayi terancam akibat kekurangan susu, lebih dari 22 ribu pasien membutuhkan pengobatan di luar negeri namun belum memperoleh izin keluar, dan sekitar 12.500 pasien kanker menghadapi ancaman kematian akibat terbatasnya layanan kesehatan.
Pada sektor infrastruktur, sebanyak 725 sumur air utama, 134 proyek penyediaan air bersih, lebih dari 5.000 kilometer jaringan listrik, lebih dari 700 ribu meter jaringan pipa air, serta lebih dari tiga juta meter jalan dilaporkan mengalami kerusakan. Sebanyak 253 gedung pemerintahan, 292 fasilitas olahraga, dan 208 situs sejarah serta warisan budaya juga disebut menjadi sasaran serangan.
Sektor pertanian mengalami kerusakan berat. Lebih dari 87 persen lahan pertanian hancur, 8.700 sumur pertanian tidak lagi berfungsi, hampir 7.800 peternakan rusak, dan 99 persen sektor perikanan terdampak. Produksi sayur dan buah turun dari sekitar 524 ribu ton per tahun menjadi hanya sekitar 20 ribu ton.
Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan total kerugian langsung awal pada 15 sektor vital mencapai sekitar 80 miliar dolar AS. Kerugian terbesar berada pada sektor perumahan yang mencapai sekitar 34 miliar dolar AS, disusul sektor kesehatan dan layanan publik masing-masing sekitar 6 miliar dolar AS, perdagangan sekitar 5 miliar dolar AS, serta pendidikan dan pertanian masing-masing sekitar 4 miliar dolar AS.
Militer Turki Terbesar Kedua NATO, Erdogan: Kami Terkadang Diabaikan
Saat Eropa berlomba memperkuat pertahanan menghadapi ancaman Rusia dan ketidakpastian komitmen Amerika Serikat terhadap keamanan benua itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengajukan tuntutan strategis yang berpotensi mengubah arsitektur pertahanan Eropa. Ankara meminta dilibatkan dalam seluruh struktur pertahanan dan keamanan Uni Eropa, termasuk skema pendanaan pertahanan SAFE senilai 150 miliar euro, menjelang KTT NATO pada 7-8 Juli.
Permintaan itu datang bukan dari negara biasa. Turki merupakan pemilik kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat, sekaligus negara yang menguasai salah satu posisi geopolitik paling menentukan di dunia. Dari Selat Bosporus dan Dardanelles, Ankara mengendalikan pintu keluar-masuk Laut Hitam menuju Laut Mediterania, jalur yang menjadi semakin vital sejak perang Rusia-Ukraina pecah.
Berbicara di hadapan delegasi parlemen dari 32 negara anggota NATO di Istanbul, Senin (30/6/2026), Erdogan mengatakan kontribusi Turki terhadap keamanan Eropa selama ini belum memperoleh pengakuan yang semestinya.
"Kontribusi Turki yang sangat penting bagi keamanan Eropa terkadang diabaikan," kata Erdogan kepada delegasi parlemen dari seluruh 32 negara anggota NATO di Istanbul, seraya mengatakan bahwa Turki ingin “berpartisipasi dalam semua inisiatif pertahanan dan keamanan” di benua itu, sebagaimana diberitakan sejumlah media Timur Tengah dan Eropa.
Ia meminta dukungan seluruh anggota NATO agar Turki dilibatkan dalam seluruh inisiatif pertahanan dan keamanan Uni Eropa.
"Kami mengharapkan dukungan Anda untuk dimasukkannya Turki dalam inisiatif pertahanan dan keamanan yang diumumkan Uni Eropa," ujarnya.
Pernyataan itu muncul ketika Uni Eropa sedang membangun kembali kemampuan militernya melalui program Security Action for Europe atau SAFE senilai 150 miliar euro. Dana tersebut disiapkan untuk mempercepat produksi senjata, memperkuat industri pertahanan, serta mengurangi ketergantungan Eropa terhadap pemasok di luar kawasan.
Bagi Ankara, momentum tersebut menjadi peluang sekaligus pengakuan atas transformasi besar yang telah dilakukan dalam dua dekade terakhir. Turki bukan lagi sekadar penyumbang pasukan NATO, tetapi telah menjelma menjadi salah satu kekuatan industri pertahanan yang paling berkembang di dunia.
Selain memiliki personel militer terbesar kedua di NATO, Turki kini menjadi salah satu eksportir utama drone tempur global melalui Baykar. Negara itu juga mengembangkan jet tempur generasi kelima KAAN, pesawat tempur nirawak Kizilelma, kapal induk drone TCG Anadolu, rudal, sistem pertahanan udara, kendaraan lapis baja, hingga berbagai kapal perang yang mulai diminati banyak negara.
Keunggulan lain Ankara dibandingkan banyak anggota NATO adalah pengalaman operasionalnya. Peralatan tempur Turki telah digunakan dalam berbagai konflik modern, mulai dari Suriah, Libya, Nagorno-Karabakh, hingga Ukraina. Pengalaman tersebut membuat industri pertahanan Turki dinilai mampu menghasilkan sistem persenjataan yang relatif lebih murah, cepat diproduksi, sekaligus telah teruji di medan tempur.
Meski secara teknis memenuhi syarat untuk bergabung dalam skema SAFE, akses Turki tetap membutuhkan persetujuan seluruh 27 negara anggota Uni Eropa. Yunani menjadi negara yang paling keras menolak karena sengketa wilayah yang telah berlangsung lama dengan Ankara di Laut Aegea dan Mediterania Timur.
Erdogan juga mendesak NATO menghapus berbagai hambatan perdagangan industri pertahanan di antara negara-negara anggota aliansi. Menurutnya, peningkatan kemampuan militer NATO tidak akan tercapai apabila masih terdapat pembatasan ekspor teknologi dan perlengkapan pertahanan antarsekutu.
"Jika kita ingin mengatasi tantangan yang kita hadapi, kita perlu menghilangkan hambatan terhadap perdagangan industri pertahanan sambil memastikan pembagian beban yang seimbang dan adil di antara sekutu," kata Erdogan.
Pernyataan Erdogan mencerminkan perubahan posisi Turki dalam geopolitik global. Jika dahulu Ankara lebih banyak bergantung pada industri pertahanan Barat, kini banyak negara Eropa justru mulai membutuhkan teknologi militer Turki. Paradoks inilah yang membuat Uni Eropa menghadapi dilema: secara politik hubungan dengan Ankara masih diwarnai berbagai perselisihan, tetapi secara militer Turki semakin sulit dikesampingkan dalam upaya membangun pertahanan Eropa pascaperang Ukraina.
Eropa Butuh Senjata Cepat, Turki Punya Jawabannya
Posisi tawar Turki dalam percaturan pertahanan Eropa terus menguat seiring pesatnya perkembangan industri pertahanan nasionalnya. Jika dua dekade lalu Ankara masih bergantung pada pemasok senjata Barat, kini Turki justru menjelma menjadi salah satu produsen persenjataan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Keunggulan tersebut menjadi semakin penting ketika negara-negara Eropa berlomba meningkatkan kapasitas militernya sebagai respons terhadap perang Rusia-Ukraina. Uni Eropa membutuhkan pasokan persenjataan dalam jumlah besar dengan waktu produksi yang relatif singkat, sementara banyak produsen pertahanan Eropa masih menghadapi keterbatasan kapasitas manufaktur.
Turki menawarkan alternatif yang sulit diabaikan. Industri pertahanannya telah mampu memproduksi berbagai sistem persenjataan secara mandiri, mulai dari drone tempur Bayraktar TB2 dan Akinci, pesawat tempur nirawak Kizilelma, jet tempur generasi kelima KAAN, kapal induk drone TCG Anadolu, kapal perang, kendaraan lapis baja, rudal, hingga sistem pertahanan udara.
Produk-produk tersebut tidak hanya digunakan oleh angkatan bersenjata Turki, tetapi juga telah diekspor ke puluhan negara di Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga Asia. Keunggulan utama industri pertahanan Turki terletak pada biaya produksi yang relatif lebih kompetitif, proses pengembangan yang lebih cepat, serta teknologi yang telah teruji dalam berbagai konflik modern seperti Suriah, Libya, Nagorno-Karabakh, dan Ukraina.
Kombinasi kapasitas produksi, pengalaman tempur, serta kemampuan inovasi itulah yang membuat banyak pengamat menilai Turki dapat menjadi salah satu mitra paling penting bagi program penguatan pertahanan Eropa. Karena itu, dorongan Presiden Recep Tayyip Erdogan agar Ankara dilibatkan dalam seluruh inisiatif pertahanan Uni Eropa bukan hanya memiliki dimensi politik, tetapi juga didukung oleh kemampuan industri pertahanan yang kini semakin diperhitungkan di tingkat global.
SAFE 150 Miliar Euro, Pintu Masuk Turki ke Pertahanan Eropa?
Salah satu alasan Erdogan mendesak Turki dilibatkan dalam struktur pertahanan Eropa adalah keberadaan skema Security Action for Europe atau SAFE. Program senilai 150 miliar euro itu disiapkan Uni Eropa untuk mempercepat penguatan industri pertahanan, memperbesar produksi senjata, dan membantu negara-negara anggota membangun kembali kemampuan militernya setelah perang Rusia-Ukraina mengubah lanskap keamanan benua tersebut.
Bagi Uni Eropa, SAFE merupakan bagian dari strategi besar untuk mengurangi ketergantungan pertahanan kepada Amerika Serikat. Eropa ingin memiliki kapasitas produksi senjata yang lebih kuat, lebih cepat, dan lebih mandiri. Namun, ambisi itu membutuhkan mitra industri yang sudah memiliki kapasitas produksi besar, pengalaman operasional, serta kemampuan memasok sistem tempur dalam waktu relatif singkat.
Di titik inilah Turki melihat peluang. Ankara menilai dirinya bukan sekadar mitra pinggiran NATO, melainkan kekuatan militer besar dengan industri pertahanan yang terus berkembang. Turki memiliki drone tempur, kapal perang, kendaraan lapis baja, rudal, sistem nirawak, hingga proyek jet tempur KAAN yang dapat melengkapi kebutuhan Eropa saat benua itu sedang mempercepat rearmament.
Namun, jalan Turki untuk masuk ke SAFE tidak mudah. Meski secara teknis memenuhi syarat, partisipasi Ankara tetap membutuhkan persetujuan seluruh 27 negara anggota Uni Eropa. Hambatan terbesar datang dari Yunani, yang berulang kali berselisih dengan Turki terkait Laut Aegea, Siprus, dan Mediterania Timur.
Karena itu, SAFE bukan hanya soal uang pertahanan. Skema ini menjadi ujian politik bagi hubungan Turki dan Uni Eropa. Jika Ankara berhasil masuk, Turki akan memperoleh akses lebih besar ke rantai pasok, kontrak, dan proyek pertahanan Eropa. Namun jika tertahan, Eropa akan kembali berhadapan dengan paradoks yang sama: membutuhkan kapasitas militer Turki, tetapi masih ragu memberi Ankara tempat penuh dalam arsitektur pertahanannya.
Paradoks Eropa: Butuh Turki, tetapi Tak Sepenuhnya Percaya Ankara
Inilah dilema terbesar Eropa dalam menghadapi Turki. Secara militer, Ankara terlalu penting untuk diabaikan. Namun secara politik, Turki masih dipandang sebagai sekutu yang sulit sepenuhnya dirangkul.
Eropa membutuhkan kapasitas pertahanan Turki karena perang Rusia-Ukraina memperlihatkan kelemahan serius industri militer benua tersebut. Produksi amunisi lambat, stok senjata menipis, dan kebutuhan terhadap sistem tempur murah serta cepat dikirim terus meningkat. Dalam situasi seperti itu, Turki hadir dengan kemampuan yang makin menonjol: militer besar, industri drone kuat, pengalaman tempur, dan posisi geografis vital di Laut Hitam.
Namun, hubungan Ankara dengan Uni Eropa tetap penuh ganjalan. Sejumlah negara Eropa masih mempersoalkan kebijakan luar negeri Turki yang dianggap terlalu mandiri, hubungan Ankara dengan Rusia, sengketa dengan Yunani dan Siprus, serta ketegangan di Laut Aegea dan Mediterania Timur. Faktor-faktor itu membuat Turki kerap diperlakukan sebagai mitra penting, tetapi belum sepenuhnya dipercaya sebagai bagian dari inti pertahanan Eropa.
Paradoks itu terlihat jelas dalam skema SAFE senilai 150 miliar euro. Di satu sisi, Eropa membutuhkan kapasitas produksi dan teknologi pertahanan Turki untuk mempercepat rearmament. Di sisi lain, akses Ankara ke program tersebut masih dapat terganjal keberatan politik dari negara anggota Uni Eropa, terutama Yunani.
Bagi Erdogan, situasi ini menunjukkan standar ganda dalam tubuh Barat. Turki diminta menjaga sayap tenggara NATO, menahan pengaruh Rusia di Laut Hitam, menjadi basis penting aliansi, dan menyediakan kekuatan militer besar. Namun ketika Eropa membangun struktur pertahanannya sendiri, Ankara merasa kontribusinya belum diberi tempat yang sepadan.
Karena itu, tuntutan Erdogan bukan hanya soal akses pada dana dan proyek pertahanan Uni Eropa. Lebih jauh, itu adalah tuntutan pengakuan politik. Turki ingin diperlakukan bukan sebagai sekutu pinggiran, melainkan sebagai salah satu pilar utama keamanan Eropa.
AS Gelontorkan Rp48 Triliun untuk Radar Sentinel A4, Hadapi Ancaman Rudal dan Pesawat China
Amerika Serikat menggelontorkan hampir 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp48 triliun untuk memperkuat pertahanan udaranya di tengah meningkatnya kemampuan rudal, drone, dan pesawat tempur China. Dana tersebut diberikan kepada Lockheed Martin untuk memproduksi radar pertahanan udara generasi terbaru Sentinel A4, yang dirancang menghadapi ancaman udara modern yang semakin kompleks.
Menurut pengumuman kontrak Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada 30 Juni 2026, Lockheed Martin memperoleh kontrak senilai 2,998 miliar dolar AS dalam skema harga tetap dan biaya tetap untuk memproduksi radar Sentinel A4 beserta layanan rekayasa teknisnya. Kontrak tersebut ditargetkan rampung pada Juni 2031.
Dalam pengumuman itu disebutkan bahwa lokasi pekerjaan dan besaran anggaran untuk setiap pesanan akan ditetapkan secara bertahap sesuai kebutuhan operasional Angkatan Darat AS.
Sentinel A4 merupakan radar pertahanan udara generasi baru yang akan menggantikan radar AN/MPQ-64 Sentinel A3. Sistem ini dikembangkan menggunakan teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) berbasis gallium nitride (GaN) yang memiliki sensitivitas lebih tinggi, jangkauan deteksi lebih luas, serta kemampuan memproses banyak sasaran secara bersamaan dibandingkan generasi sebelumnya.
Radar tersebut mampu melakukan pengawasan 360 derajat dan secara simultan mendeteksi, melacak, serta mengidentifikasi berbagai ancaman udara, mulai dari rudal jelajah, pesawat tempur, helikopter, drone, roket, peluru artileri, hingga mortir. Sentinel A4 juga dirancang bekerja sebagai bagian dari Integrated Battle Command System (IBCS) sehingga dapat berbagi data secara real time dengan sistem pertahanan udara lain milik Angkatan Darat Amerika Serikat.
Menurut Lockheed Martin, penggunaan teknologi AESA digital berbasis GaN meningkatkan kemampuan radar dalam mendeteksi sasaran yang memiliki jejak radar kecil sekaligus memperkuat ketahanannya terhadap gangguan peperangan elektronik. Dibandingkan Sentinel A3, radar baru ini memiliki peningkatan jangkauan deteksi dan sensitivitas yang signifikan sehingga mampu menghadapi ancaman udara yang berkembang pesat.
Merespons Modernisasi Militer China
Kontrak hampir Rp48 triliun tersebut muncul ketika Washington terus mempercepat modernisasi sistem pertahanan udaranya di tengah meningkatnya kemampuan militer China. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing mengembangkan berbagai sistem persenjataan baru, mulai dari rudal hipersonik, rudal jelajah jarak jauh, drone tempur, hingga pesawat tempur siluman seperti J-20 Mighty Dragon dan J-35.
Perkembangan tersebut mendorong Amerika Serikat memperkuat kemampuan deteksi dini terhadap berbagai ancaman udara yang semakin beragam. Dalam doktrin pertahanan modern, radar berperan sebagai sensor utama yang memberikan peringatan dini sekaligus data penargetan bagi sistem pertahanan udara seperti Patriot, Indirect Fire Protection Capability (IFPC), maupun jaringan pertahanan rudal lainnya.
Selain meningkatkan kemampuan menghadapi pesawat tempur dan rudal jelajah, Sentinel A4 juga dirancang untuk mengatasi pola serangan modern yang menggabungkan peluncuran drone, roket, artileri, dan mortir secara bersamaan. Kemampuan melacak banyak sasaran dalam waktu yang sama menjadi salah satu keunggulan utama radar ini dibandingkan sistem generasi sebelumnya.
Modernisasi Sentinel A4 menjadi bagian dari upaya Washington mempertahankan keunggulan teknologi militernya di tengah kompetisi strategis yang semakin ketat dengan China, terutama di kawasan Indo-Pasifik. Meski demikian, hingga kini Departemen Pertahanan AS maupun Lockheed Martin tidak menyatakan bahwa Sentinel A4 dikembangkan secara khusus untuk mendeteksi pesawat siluman China, melainkan sebagai radar pertahanan udara generasi baru yang mampu menghadapi spektrum ancaman udara modern yang terus berkembang.
Keunggulan Sentinel A4 Dibanding Radar Generasi Lama
Dibandingkan radar AN/MPQ-64 Sentinel A3 yang telah digunakan Angkatan Darat Amerika Serikat selama bertahun-tahun, Sentinel A4 hadir dengan lompatan teknologi yang dirancang untuk menghadapi ancaman udara modern yang jauh lebih kompleks. Radar ini tidak hanya memiliki jangkauan deteksi yang lebih luas, tetapi juga mampu memproses lebih banyak sasaran secara bersamaan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.
Salah satu pembaruan terbesarnya adalah penggunaan teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) berbasis gallium nitride (GaN). Dibandingkan modul radar berbahan gallium arsenide (GaAs) pada generasi sebelumnya, semikonduktor GaN mampu menghasilkan daya pancar lebih besar, efisiensi energi lebih tinggi, serta ketahanan panas yang lebih baik. Teknologi tersebut memungkinkan radar mendeteksi sasaran yang memiliki jejak radar kecil sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap gangguan cuaca maupun peperangan elektronik.
Sentinel A4 juga mengadopsi digital beamforming, yaitu teknologi yang memungkinkan radar membentuk dan mengarahkan banyak berkas sinyal (beam) secara elektronik tanpa harus menggerakkan antena secara mekanis. Kemampuan ini mempercepat proses pencarian sasaran, meningkatkan akurasi pelacakan, serta memungkinkan radar merespons ancaman yang muncul dari berbagai arah hampir secara bersamaan.
Keunggulan lain terletak pada kemampuan tracking simultan. Sentinel A4 mampu mendeteksi, melacak, mengidentifikasi, dan memperbarui posisi banyak sasaran udara dalam waktu yang sama, mulai dari rudal jelajah, drone, pesawat tempur, helikopter, hingga roket, peluru artileri, dan mortir. Kapabilitas ini menjadi sangat penting menghadapi pola serangan modern yang kerap menggunakan berbagai jenis senjata secara serempak untuk membanjiri sistem pertahanan lawan.
Radar generasi baru tersebut juga memiliki cakupan pengawasan 360 derajat, sehingga tidak menyisakan titik buta (blind spot) di sekeliling area operasi. Dengan pengamatan penuh ke segala arah, Sentinel A4 dapat memberikan peringatan dini terhadap ancaman yang datang dari berbagai sudut tanpa harus mengubah orientasi radar.
Selain itu, Sentinel A4 dirancang terintegrasi dengan Integrated Battle Command System (IBCS) milik Angkatan Darat AS. Melalui jaringan tersebut, radar dapat berbagi data secara real time dengan sistem pertahanan udara lain seperti Patriot, Indirect Fire Protection Capability (IFPC), maupun sensor dan peluncur rudal lain. Integrasi ini memungkinkan setiap sistem menggunakan informasi dari sensor terbaik yang tersedia untuk mempercepat proses identifikasi ancaman dan pengambilan keputusan.
Keunggulan penting lainnya adalah ketahanannya terhadap electronic warfare atau peperangan elektronik. Sentinel A4 dirancang tetap mampu beroperasi ketika menghadapi upaya musuh untuk mengganggu radar melalui jamming, spoofing, maupun serangan elektromagnetik lainnya. Kemampuan tersebut dinilai semakin penting mengingat negara-negara besar seperti China dan Rusia terus mengembangkan teknologi peperangan elektronik sebagai bagian dari strategi untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara lawan sebelum melancarkan serangan utama.
Balas Serangan Ukraina, Rusia Ngamuk, Hujani Kiev dengan Rudal dan Drone
Rusia melancarkan serangan terbesar yang pernah ada ke Kota Kiev, Ukraina, pada Kamis (2/7/2026) pagi. Serangan drone dan rudal itu menghancurkan gedung-gedung apartemen.
Serangan berlangsung selama berjam-jam dan menewaskan sedikitnya 17 orang. Gempuran rudal Moskow ini digelar tak lama setelah Kiev melancarkan serangan lebih mendalam dan menghancurkan infrastruktur Rusia, termasuk satelit terbesar.
Kremlin telah bersumpah untuk meningkatkan tekanan lebih lanjut terhadap Kiev.
Wartawan AFP di Kyiv tengah dan timur mendengar lebih dari 12 ledakan dan melihat penduduk – beberapa di antaranya bersama anak-anak dan hewan peliharaan – bergegas mencari perlindungan di stasiun metro.
Penduduk setempat berdiri di atas reruntuhan blok apartemen yang hancur, terkoyak oleh serangan gencar. Sementara asap mengepul di atas cakrawala Kyiv.
Di satu tempat, seorang ibu menangis sambil memeluk putranya di depan puing-puing yang masih berasap.
Dilansir laman Al Arabiya, ledakan mulai bergema pada Rabu malam. Serangan berlangsung hingga Kamis dini hari ketika rudal dan drone Rusia menghujani daerah pemukiman di pusat kota.
Wali Kota Vitali Klitschko menggambarkan gempuran itu sebagai serangan paling besar musuh terhadap ibu kota. Ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Lembaga pelayanan darurat mengatakan setidaknya 17 orang tewas.
Kyiv mendesak sekutunya untuk mengirimkan lebih banyak pertahanan udara. “Pasokan pertahanan udara untuk Ukraina adalah prioritas mutlak dan sangat penting,” kata Zelenskyy dalam sebuah unggahan di Facebook.
“Kami juga sangat mengandalkan keputusan Amerika Serikat mengenai lisensi untuk Patriot,” tambahnya.
Ukraina berupaya memproduksi amunisi untuk sistem pencegat rudal buatan AS, salah satu dari sedikit cara mereka untuk bertahan melawan rudal balistik Rusia. Meskipun para ahli pertahanan mengatakan akan membutuhkan waktu untuk membangun produksi di dalam negeri.
Angkatan Udara Ukraina mengatakan Rusia menembakkan 496 drone dan 74 rudal – termasuk proyektil balistik yang sulit dicegat.
Angkatan Udara Ukraina mengatakan telah menembak jatuh 48 rudal dan 476 drone.
Wartawan AFP bertemu beberapa warga Kyiv di luar gedung apartemen yang sebagian besar hancur akibat serangan itu.
“Setengah bangunan telah hancur. Atapnya hilang,” kata Sabina Mambetova, seorang pekerja pabrik berusia 32 tahun, berdiri di luar reruntuhan rumahnya di distrik Darnytskyi timur.
“Saya kehilangan tempat tinggal, sendirian dengan anak saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa sekarang.”
Sekitar 52.000 orang, termasuk 4.500 anak-anak, berdesakan di stasiun bawah tanah untuk berlindung dari gempuran – jumlah tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menurut metro Kyiv.
Warga yang lain berlindung di ruang bawah tanah atau koridor sepanjang malam saat ledakan mengguncang gedung-gedung di seluruh kota.
“Ini sulit. Anak saya terbiasa tidur dalam keheningan dan kegelapan total,” kata dokter berusia 32 tahun, Kateryna Kucheryava, kepada AFP dari dalam metro saat serangan itu terjadi.
“Saya mengangkatnya dan membawanya turun. Dia terbangun dan sekarang dia tidak tidur lagi.”
Di sepanjang peron stasiun, warga setempat mendirikan tenda, berbaring di kasur angin dan kursi lipat. Sementara para ibu mencoba tidur sambil memeluk bayi mereka.
Diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan ia akan mengusulkan sanksi baru terhadap Moskow atas serangan tersebut.
Namun Kremlin tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur, lebih dari empat tahun setelah invasi yang telah menewaskan ratusan ribu orang.
“Rusia akan terus meningkatkan tekanan pada rezim Kyiv untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan menanggapi pertanyaan dari AFP.
Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Zelenskyy mempersingkat kunjungannya ke Dublin pada Rabu, dengan alasan laporan intelijen tentang serangan Rusia yang akan segera terjadi.
“Saya mendesak rakyat kita untuk sangat berhati-hati, untuk melindungi diri mereka sendiri, anak-anak mereka, dan tentu saja, keluarga mereka; untuk menggunakan tempat perlindungan dan memperhatikan peringatan serangan udara di Ukraina. Ini sangat penting,” katanya dalam konferensi pers.
Ia mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin telah mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap Ukraina ini sejak beberapa waktu lalu.
Ukraina telah meningkatkan serangan drone jarak jauh di dalam Rusia dalam beberapa pekan terakhir, menargetkan infrastruktur energi dan target militer.
Para pejabat Rusia telah melaporkan serangan berulang kali di wilayah perbatasan, sementara Moskow mengatakan pertahanan udaranya telah mencegat ratusan drone dari Ukraina dalam beberapa hari terakhir.
Upaya AS untuk menengahi penyelesaian konflik sejauh ini telah gagal.
Serikat Pekerja Pelayaran Masih Tetapkan Selat Hormuz Sebagai Zona Perang
Serikat pekerja dan perusahaan pelayaran menyatakan akan tetap menetapkan Selat Hormuz sebagai zona perang. Keputusan ini diambil setelah dua kapal kembali menjadi sasaran serangan pada pekan lalu, meskipun gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah disepakati.
“Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan risiko terhadap keselamatan jiwa yang masih terus berlanjut dan signifikan, serta situasi di kawasan tersebut yang berubah dengan sangat cepat,” demikian bunyi pernyataan bersama dari serikat Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITWF) dan Joint Negotiating Group, sebuah organisasi payung yang mewakili para pemilik kapal dagang, seperti dilansir dari Al Jazeera, Rabu(1/7/2026).
Selat Hormuz pertama kali ditetapkan sebagai "wilayah operasi serupa perang" pada 5 Maret lalu, setelah sejumlah kapal yang mencoba melintasi jalur perairan vital tersebut dihantam bom. Status tersebut kini diperpanjang setidaknya hingga 9 Juli mendatang dan akan dievaluasi kembali setiap pekan.
Di bawah penetapan status zona perang ini, para pelaut berhak mendapatkan upah ganda serta tunjangan lainnya. Kebijakan ini otomatis meningkatkan beban biaya operasional bagi perusahaan-perusahaan pelayaran. Sedikitnya 14 pelaut telah tewas dan lebih dari 40 kapal menjadi sasaran serangan sejak perang AS-Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari lalu.
Terdapat ratusan ranjau yang ditanam di Selat Hormuz selama perang Iran. Setidaknya, perlu dua bulan untuk membersihkan jalur vital strategis bagi distribusi pasokan minyak global tersebut, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Italia, Rabu.
"Diperkirakan terdapat puluhan ranjau di Selat Hormuz, yang memerlukan waktu sekitar dua bulan untuk penanganannya. Ranjau-ranjau itu bersifat canggih dan modern, yang memerlukan kemampuan serta keahlian yang tidak dimiliki oleh semua negara," kata Komandan Komando Operasi Gabungan (COVI), Giovanni Maria Iannucci, di hadapan Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan DPR dan Senat Italia.
Menurut Iannucci gagasan mengenai misi multinasional untuk pembersihan Selat Hormuz itu juga membuka peluang bagi berbagai pihak di luar Eropa maupun aktor regional untuk ikut berpartisipasi.
Komandan COVI tersebut menambahkan kapal-kapal penyapu ranjau Italia saat ini sedang berada di Djibouti. Djibouti merupakan negara di kawasan Tanduk Afrika, yang terletak di pesisir Laut Merah bagian selatan, tepat di dekat Selat Bab el-Mandeb.
Sementara itu, Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu berada jauh di sebelah timur dari negara tersebut.
Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance mengungkapkan dalam beberapa hari AS mencatat volume pengiriman minyak yang melintasi Selat Hormuz lebih tinggi daripada sebelum konflik dengan Iran.
"Selat tersebut (Hormuz) tetap terbuka dalam arti bahwa lalu lintas minyak dapat melintas di sana. Kami justru melihat lebih banyak minyak yang keluar dari Selat Hormuz. Bahkan, pada hari-hari tertentu, jumlahnya melebihi volume daripada sebelum perang dimulai," kata Vance dalam wawancara bersama komentator politik Michael Knowles yang dirilis Selasa.
Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Konflik tersebut juga hampir menghentikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Pada Kamis (18/6/2026) dini hari, Iran dan AS menandatangani memorandum secara jarak jauh yang mengatur pengakhiran konflik militer tersebut.
Memorandum itu juga menetapkan tenggat waktu bagi AS untuk mencabut blokade angkatan lautnya dan bagi Iran untuk memulihkan pengiriman melalui Selat tersebut.
AS-Iran Akhiri Perundingan Doha, Belum Ada Terobosan Damai Permanen
Iran dan Amerika Serikat (AS) mengakhiri putaran terbaru perundingan tidak langsung di Doha, Qatar, pada Rabu (2/7/2026), tanpa menunjukkan adanya kemajuan berarti menuju kesepakatan damai permanen. Pembahasan kedua negara lebih berfokus pada implementasi sejumlah poin yang telah disepakati dalam perjanjian sementara yang diumumkan dua pekan lalu. Sejumlah sumber yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan, negosiator Iran dan AS menghabiskan dua hari membahas kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz serta pencairan kembali dana milik Iran yang sebelumnya dibekukan. Kedua isu tersebut merupakan bagian penting dari kesepakatan awal yang dicapai setelah konflik bersenjata pada Juni lalu. Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan putaran perundingan berikutnya akan digelar setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dijadwalkan dimakamkan pada 9 Juli. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan pembahasan di Doha menghasilkan "kemajuan yang positif" terkait implementasi nota kesepahaman yang mengakhiri perang pada Juni lalu dan merupakan "kelanjutan dari hasil-hasil yang dicapai" dalam pertemuan tingkat tinggi di Swiss. Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv, 10 Tewas dan Puluhan Terluka dalam Serangan Balasan Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan optimisme terkait perkembangan hubungan kedua negara. Menurutnya, terdapat kemajuan dalam pembahasan mengenai kemungkinan pembatasan program nuklir Iran, yang menjadi alasan utama AS bersama Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Februari lalu. Fokus nuklir belum dibahas Trump mengatakan, "Proses denuklirisasi Iran berjalan dengan baik. Mereka telah mengadakan pertemuan yang sangat baik, dan kita akan lihat hasilnya." Namun, sejumlah sumber yang mengetahui isi pembicaraan menyebutkan bahwa isu program nuklir sama sekali tidak dibahas dalam pertemuan di Doha. Negosiasi kali ini bersifat teknis dan hanya difokuskan pada implementasi kesepakatan sementara. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembahasan mengenai program nuklir akan dilakukan pada tahap berikutnya. "Jelas kami tetap khawatir mengenai isu nuklir, dan kami akan mulai membahasnya," ujarnya kepada wartawan. Kementerian Luar Negeri Qatar menjelaskan bahwa negosiator Amerika dan Iran melakukan pertemuan secara terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan. Sementara itu, menantu Donald Trump, Jared Kushner, serta utusan khusus AS Steve Witkoff yang sebelumnya disebut Gedung Putih akan memimpin perundingan tingkat tinggi, tidak menghadiri pembicaraan tersebut, menurut sumber yang mengetahui agenda pertemuan. Delegasi Iran dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi. Meski perundingan telah selesai, kedua pihak tidak memberikan keterangan apakah perbedaan utama di antara mereka berhasil dipersempit. Status Selat Hormuz Masih Menjadi Sorotan Kesepakatan awal antara Iran dan AS mengatur pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Walaupun aktivitas pelayaran mulai kembali berjalan, status keamanan Selat Hormuz masih belum sepenuhnya jelas. Akhir pekan lalu, Iran dan AS kembali saling melancarkan serangan setelah sebuah kapal kargo diserang oleh Iran. Dua sumber senior Iran mengatakan pemerintah Iran bertekad memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz, bahkan jika harus ditempuh melalui kekuatan militer. Iran juga berulang kali menyatakan akan mulai mengenakan tarif bagi kapal yang melintas mulai pertengahan Agustus, setelah masa bebas tarif yang diatur dalam kesepakatan sementara berakhir. Baca Juga: Aluminium Rebound, Sektor Manufaktur China hingga AS Beri Sentimen Positif Meski demikian, Trump meredam kekhawatiran mengenai kemungkinan pecahnya kembali perang berskala penuh. "Saya pikir mereka telah mencapai kemajuan yang sangat jauh," kata Trump. Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pasar energi. Harga minyak dunia turun ke level terendah dalam empat bulan terakhir, sementara sejumlah analis memangkas proyeksi harga minyak untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai. Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan sebuah kapal kontainer asing kandas di perairan dangkal di luar jalur pelayaran yang telah ditetapkan otoritas Iran. Pendiri lembaga analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan kondisi pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari normal. "Selat Hormuz terus dibuka kembali, tetapi prosesnya masih tidak merata, sulit diprediksi, dan belum sepenuhnya transparan," ujarnya. Sejumlah negara Eropa telah menawarkan bantuan untuk membersihkan ranjau laut di kawasan Selat Hormuz. Namun, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan negaranya tidak memperkirakan akan ikut berpartisipasi karena Iran dinilai tidak menunjukkan kemauan untuk bekerja sama dengan negara-negara lain.
Iran Ancam AS dan Israel Jelang Pemakaman Ali Khamenei
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah seorang komandan militer Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel agar tidak melancarkan serangan terhadap negaranya menjelang prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peringatan tersebut disampaikan ketika Iran bersiap menggelar rangkaian upacara kenegaraan untuk Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara pada hari pertama perang. Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ali Abdollahi, menegaskan bahwa Teheran siap memberikan respons keras terhadap setiap bentuk ancaman maupun agresi dari pihak luar. "Kami memperingatkan musuh-musuh Iran, terutama Amerika Serikat dan rezim Zionis (Israel), agar tidak melakukan salah perhitungan dan mempertimbangkan dengan matang pembalasan keras yang akan dilakukan angkatan bersenjata kami terhadap setiap ancaman dan agresi terhadap negara kami," ujar Ali Abdollahi dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran, Kamis (2/7/2026). Baca Juga: DBS Singapura dan Samsung Securities Kerjasama Kembangkan Wealth Management Pemerintah Iran menjadwalkan prosesi pemakaman Ali Khamenei dimulai pada 4 Juli di Teheran. Rangkaian upacara tersebut akan berlangsung hingga 9 Juli dan ditutup dengan prosesi pemakaman di kota kelahirannya, Mashhad. Selain itu, sejumlah upacara penghormatan juga akan digelar di Kota Qom serta di Irak. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga telah menyampaikan peringatan serupa. Pada Rabu (1/7/2026), ia menegaskan bahwa Teheran akan memberikan respons yang cepat dan kuat terhadap setiap ancaman yang ditujukan kepada rakyat maupun kepemimpinan Iran. Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, telah menjadi "target untuk dibunuh." "Kami akan memberikan respons yang segera dan kuat terhadap setiap ancaman yang ditujukan kepada rakyat maupun kepemimpinan Iran," tegas Abbas Araqchi. Baca Juga: SK Hynix Gelontorkan Investasi 100 Triliun Won untuk Bangun Pabrik Cip Di tengah meningkatnya ketegangan, media Iran melaporkan bahwa pemerintah telah memperketat pengamanan selama periode pemakaman. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman keamanan selama berlangsungnya prosesi kenegaraan. Selain pengamanan di darat, Kepala Organisasi Penerbangan Sipil Iran pada Rabu (1/7/2026) juga mengumumkan penerapan pembatasan sementara wilayah udara di sejumlah kota, termasuk Teheran dan Mashhad, selama rangkaian prosesi pemakaman berlangsung. Pembatasan ruang udara tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah Iran untuk menjaga keamanan nasional di tengah meningkatnya risiko eskalasi konflik dengan Israel dan Amerika Serikat.