News Forex, Index, Komoditi ( Senin, 27 November 2023 )

Saham Asia Pasifik Mayoritas Menguat Tipis di Tengah Awal Pekan nan Positif

Hari Senin dimulai dengan pasar Asia Pasifik, termasuk KOSPI 200, ASX 200 dan Nikkei 225, dibuka di wilayah positif, menyusul kenaikan moderat di Wall Street di seluruh indeks utama setelah libur Thanksgiving.

Pasar saham AS mengakhiri sesi perdagangan yang terpotong dengan pergerakan kecil yang dipimpin oleh naiknya Dow Industrials, menandai penguatan empat minggu berturut-turut. Untuk seminggu, Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan NASDAQ Composite mengalami kenaikan masing-masing sebesar 1,3%, 1%, dan 0,9%.

Healthcare muncul sebagai sektor berkinerja terbaik di S&P 500 pada hari Jumat, naik 0,5%. Sementara itu, jasa komunikasi turun 0,7%, pelemahan terbesar hari itu. CF Industries, produsen pupuk, menjadi saham teratas dalam indeks, naik 2,6%.

Di pasar komoditas, minyak Brent turun 1,0% ke US$80,58 per barel, sedangkan emas naik 0,4% menjadi US$2.000,82.

Di pasar obligasi lokal, yield obligasi pemerintah Australia 2 tahun naik menjadi 4,24%, sementara yield 10 tahun juga naik ke 4,54%. Obligasi pemerintah AS naik, dengan yield 2 tahun di 4,95% dan yield 10 tahun di 4,47%.

Saham-saham China ditutup turun, meskipun ada langkah-langkah stimulus baru-baru ini di sektor properti oleh pemerintah China. Perusahaan-perusahaan perangkat lunak memimpin kerugian, sementara saham-saham ritel makanan naik. Indeks Shanghai Composite Index ditutup melemah 0,7%.

Saham-saham Hong Kong ditutup lebih rendah, dengan penurunan yang meluas. Perusahaan-perusahaan properti termasuk di antara yang berkinerja terburuk, sementara Sinopharm Group termasuk di antara sedikit yang menguat. Indeks Hang Seng jatuh 2,0% menjadi 17.559,42.

Nikkei Stock Average naik 0,5% dan ditutup ke 33.625,53, didukung oleh CPI inti Jepang bulan Oktober yang lebih lemah dan juga turunnya JPY.

Saham-saham India berakhir sedikit melemah, di mana lemahnya saham-saham teknologi mengimbangi penguatan saham-saham perbankan. Indeks Sensex ditutup 0,1% lebih rendah, menutup minggu lalu turun 0,3%.

Saham-saham Eropa ditutup positif, dengan pan-European Stoxx Europe 600 naik 0,3% di 459,98. Indeks Dax Jerman dan CAC 40 di Prancis ditutup naik 0,2%.

Indeks bluechip London mengakhiri minggu ini sedikit melemah setelah sesi yang tenang dengan volatilitas yang rendah. Indeks FTSE 100 ditutup naik 0,06% pada hari Jumat.

 

 

 

 

 

Eks Intelijen AS: Hamas Menang Perang Gaza, Israel Dikalahkan Secara Memalukan

 

Scott Ritter, mantan perwira intelijen militer Amrerika Serikat, menggambarkan gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang dimulai Jumat (24/11/2023) sebagai berkah bagi Palestina. Gencatan senjata ini akan memungkinkan pertukaran tahanan, masuknya bantuan kemanusiaan, dan ketenangan konflik. "Gencatan senjata, yang dinegosiasikan antara Israel dan Hamas dan dimediasi oleh Qatar, disepakati bersama antara kedua pihak, dan tidak seorang pun boleh tertipu dengan berpikir bahwa ini hanyalah kemenangan bagi Hamas. Israel telah mengambil sikap yang sangat agresif dan, mengingat tujuannya untuk menghancurkan Hamas sebagai sebuah organisasi, Israel tidak akan menyetujui gencatan senjata dalam keadaan apa pun," papar Ritter, seperti dikutip Al-Quds. Baca Juga Pengungkapan Eks Intelijen AS Menampar Zionis: Hamas Menang Besar atas Militer Israel Ritter melanjutkan, “Di sisi lain, Hamas telah menjadikan salah satu tujuan utamanya sebagai awal dari putaran pertempuran melawan Israel saat ini, dengan membebaskan tahanan Palestina, terutama perempuan dan anak-anak, yang ditahan oleh Israel. Mengingat hal ini, gencatan senjata merupakan kemenangan penting bagi Hamas, dan kekalahan yang memalukan bagi Israel.” Menurutnya, kesediaan Israel untuk gencatan senjata menjadi tanda ada yang tidak beres dengan operasi militernya di Gaza. "Penandatanganan gencatan senjata oleh Israel merupakan indikasi paling pasti sejauh ini bahwa segala sesuatunya tidak berjalan baik sehubungan dengan serangannya terhadap Hamas," kata Ritter. Dia memahami bahwa perang Gaza kali ini benar-benar disiapkan Hamas dengan sangat baik. "Hasil ini seharusnya tidak mengejutkan siapa pun. Ketika Hamas melancarkan serangannya terhadap Israel, pada tanggal 7 Oktober, Hamas mulai melaksanakan rencana yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun. Perhatian yang cermat terhadap detail, seperti yang terlihat dalam operasi Hamas, menggarisbawahi fakta bahwa gerakan tersebut sedang mempelajari intelijen Israel dan kekuatan militer yang menentangnya, dan mengungkap kelemahan yang kemudian dieksploitasi," jelas Ritter. Sebelumnya, Ritter—yang juga mantan inspektur senjata Komisi Khusus PBB—menuliskan analisis yang mengejutkan tentang serangan Hamas pada 7 Oktober ke Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang dan ratusan lainnya disandera. Ketika Israel dan para pemimpin Barat menggambarkan serangan Hamas itu sebagai serangan teroris, Ritter tidak setuju. Menurutnya, itu adalah serangan militer yang menumbangkan kesombongan militer dan intelijen Israel. "Hamas telah mencapai kemenangan besar atas militer Israel," tulis Ritter dalam sebuah artikel yang dia beri judul: “The most successful military raid of this century: the October 7 Hamas assault on Israel (Serangan militer paling sukses abad ini: serangan Hamas 7 Oktober terhadap Israel)". Ritter menawarkan analisis unik mengenai apa yang terjadi pada 7 Oktober antara milisi Hamas dan militer Israel di Israel selatan. "Israel telah menggolongkan serangan yang dilakukan oleh Hamas terhadap berbagai pangkalan militer dan pemukiman militer Israel sebagai tindakan terorisme besar-besaran, menyamakannya dengan serangan teror 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat," tulis Ritter. “Masalah dengan klaim Israel adalah bahwa klaim tersebut terbukti salah atau menyesatkan,” lanjut dia yang mengkritik klaim pencapaian militer Israel dalam perang melawan Hamas. “Hampir sepertiga dari korban Israel terdiri dari petugas militer, keamanan, dan polisi. Terlebih lagi, ternyata pembunuh nomor satu warga Israel pada 7 Oktober bukanlah Hamas atau faksi Palestina lainnya, melainkan militer Israel sendiri. Video yang baru-baru ini dirilis menunjukkan helikopter Apache Israel tanpa pandang bulu menembaki warga sipil Israel yang mencoba melarikan diri dari Supernova Sukkot Gathering yang diadakan di gurun terbuka dekat Kibbutz Re’im, pilotnya tidak dapat membedakan antara warga sipil dan pejuang Hamas. Banyak kendaraan yang pemerintah Israel tunjukkan sebagai contoh kedurhakaan Hamas dihancurkan oleh helikopter Apache Israel," paparnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran: Israel Gagal Lenyapkan Hamas, Palestina Pemenang Perang Gaza

 

Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan Israel telah gagal mencapai tujuannya dalam perang Gaza, yakni melenyapkan Hamas. Menurutnya, kesepakatan gencatan sementara ini jelas merupakan kemenangan bagi Palestina. “Rezim Zionis belum mampu mencapai tujuannya; mereka ingin menetralisir perlawanan [Palestina], tapi mereka tidak mampu,” kata Raisi, mengacu pada kelompok Hamas dan Jihad Islam Palestina yang berbasis di Gaza, seperti dikutip dari IRNA, Jumat (24/11/2023). Raisi mengatakan tindakan Israel di Gaza hanya menimbulkan kebencian global terhadap negara Yahudi tersebut. Mengomentari kesepakatan gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas, presiden Iran berkata: “Sekarang setelah gencatan senjata diumumkan, kita dapat mengatakan bahwa Palestina jelas merupakan pemenang konflik ini.” Baca Juga Jubir al-Qassam Abu Ubaidah: Kepemimpinan Israel Gemetar, Ini Jihad, Menang atau Syahid Pada hari Rabu, Israel dan Hamas mencapai kesepakatan untuk gencatan senjata di Gaza yang berlangsung setidaknya empat hari dan dimulai hari Jumat mulai pukul 07.00 waktu setempat. Berdasarkan perjanjian tersebut, kelompok militan Palestina akan membebaskan sedikitnya 50 sandera yang mereka tawan dalam serangan 7 Oktober. Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan sedikitnya 150 tahanan Palestina dan mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Israel telah berjanji untuk melenyapkan Hamas, yang menguasai Gaza, sebagai pembalasan atas serangannya pada 7 Oktober--yang diberi nama Operasi Badai al-Aqsa. Para pejabat Israel mengatakan serangan Hamas tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang dan sekitar 240 orang lainnya disandera. Sedangkan pengeboman dari udara dan serangan darat Israel telah menewaskan lebih dari 14.000 orang di Gaza, termasuk ribuan anak-anak. Iran, sumber utama dukungan finansial dan militer bagi Hamas, memuji serangan 7 Oktober tersebut namun menyangkal keterlibatannya dalam perencanaan atau pelaksanaan serangan itu. Teheran menolak mengakui Negara Israel dan menjadikan dukungan terhadap perjuangan Palestina sebagai komponen fundamental kebijakan luar negerinya sejak Revolusi Islam tahun 1979.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Organisasi HAM Eropa Desak PBB Tetapkan Israel Lakukan Genosida di Gaza

 

 

Organisasi pemantau Hak Asasi Manusia Eropa, Euro-Med, telah meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk secara resmi mengakui serangan Israel ke Gaza sebagai genosida. Ini disampaikan lembaga hak asasi manusia itu dalam sebuah surat terbuka pada hari Rabu (22/11/2023).

Menurut organisasi ini, anak-anak mewakili hampir setengah dari seluruh populasi Gaza, banyak dari mereka yang berjuang melawan depresi dan gangguan stres pascatrauma perang dan gempuran rudal Israel.

Surat terbuka itu ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang mencatat bahwa "niat genosida Israel telah didokumentasikan dengan baik." Bahkan dalam pernyataan para pejabat Israel dan juga pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh para jurnalis dan pasukan pendudukan. Seperti wartawan BBC yang menuduh penyiar televisinya bias dalam liputan Israel-Gaza.

"Beberapa lagu pop Israel baru-baru ini dirilis yang secara eksplisit menyerukan genosida, yang semakin menormalkan pergeseran budaya yang berbahaya di antara sebagian besar penduduk Israel," kata laporan itu.

Surat itu datang lebih dari sebulan sejak Israel melancarkan perang mematikan di Jalur Gaza pada 7 Oktober lalu, merenggut lebih dari 14.500 nyawa warga Palestina, termasuk lebih dari 5.840 anak-anak.

Namun, Euro-Med memperkirakan bahwa 17.144 warga Palestina, termasuk 7.208 anak-anak, telah gugur di Gaza dan lebih dari 33.830 orang lainnya terluka. Jumlah keseluruhan masih diperdebatkan karena banyak warga Palestina yang masih terjebak di bawah reruntuhan.

Euro-Med menguraikan definisi PBB tentang "genosida", yang mengacu pada "tindakan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan, baik secara keseluruhan maupun sebagian, suatu kelompok bangsa, etnis, ras, atau agama".

"Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Gaza sesuai dengan kriteria yang diuraikan dalam Konvensi dan mengindikasikan adanya kebutuhan mendesak bagi komunitas internasional untuk segera mengatasi krisis ini," surat tersebut menekankan.

Surat itu menambahkan bahwa "Jalur Gaza sedang menyaksikan genosida yang sedang berlangsung, sebuah kesimpulan yang ditegaskan oleh puluhan pelapor khusus PBB dalam sebuah pernyataan tertanggal 16 November 2023."

Pasukan pendudukan Israel (IOF) telah meratakan seluruh lingkungan di Gaza dan secara paksa memindahkan ratusan orang ke selatan Jalur Gaza. Badan yang berbasis di Jenewa tersebut mengatakan bahwa Israel telah menghancurkan 56.450 unit rumah di Jalur Gaza dan merusak sebagian dari 162.950 unit rumah lainnya.

'Pekerjaan kami belum selesai': Juru runding utama Qatar menyebutkan 'tujuan yang lebih besar' dalam perundingan Gaza

"Ini berarti bahwa lebih dari 45 persen dari total unit rumah di Jalur Gaza saat ini tidak layak huni, yang mengakibatkan satu juta orang Palestina yang saat ini tidak memiliki tempat tinggal," katanya.

Tindakan Israel di lapangan di Gaza sejalan dengan setidaknya dua kriteria di bawah Pasal II Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida, kata Euro-Med.

"Yang pertama adalah menyebabkan kerugian fisik atau mental yang serius terhadap anggota kelompok" dan yang kedua adalah "dengan sengaja menimbulkan kondisi kehidupan kelompok yang diperhitungkan akan mengakibatkan kehancuran fisik secara keseluruhan atau sebagian".

Anak-anak mewakili hampir setengah dari seluruh populasi Gaza, banyak di antaranya yang berjuang melawan depresi dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Bahkan sebelum agresi Israel, 91 persen anak-anak Gaza telah menunjukkan gejala PTSD, dan 71 persen menunjukkan tanda-tanda depresi, kata Euro-Med.

"Genosida Israel akan menyebabkan kerugian psikologis yang sangat besar bagi penduduk Gaza yang masih hidup, terutama anak-anak yang mengalami trauma. Trauma ini merupakan akibat langsung dari pemboman yang belum pernah terjadi sebelumnya, sewenang-wenang, dan tidak proporsional serta pemusnahan seluruh lingkungan," demikian pernyataan Euro-Med.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Presiden Kuba Pimpin Aksi Pro-Palestina di Havana

 

 

Puluhan ribu rakyat Kuba menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Havana. Rakyat Kuba menilai Israel melakukan genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Aksi yang dipimpin Presiden Miguel Diaz-Canel itu bergerak di sepanjang di sepanjang jalan tepi laut Havana, Malecon yang menjadi lokasi markas besar diplomatik AS. Aksi pertama rakyat Kuba terhadap pemerintah AS dalam lebih dari satu dekade.

Mantan pemimpin Kuba, Fidel Castro, yang kini telah tiada, terkenal dengan aksi demonstrasi serupa, tetapi jauh lebih besar untuk memprotes sanksi dan campur tangan AS dalam urusan Kuba.

Para demonstran yang membawa bendera dan spanduk Palestina meneriakkan "merdeka, merdeka Palestina, Israel adalah genosida" dan "berdiri bersama kemerdekaan Palestina" saat mereka berbaris di dekat gedung tersebut dan berunjuk rasa di dekatnya.

Kuba yang dikuasai pemerintah komunis menjadi pendukung kuat perjuangan Palestina selama beberapa dekade dan melatih lebih dari 200 dokter Palestina. Kuba tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

"Kami berada di sini dan bukan suatu kebetulan bahwa kami berbaris di depan kedutaan besar Amerika Serikat," kata Anet Rodríguez, seorang profesor di sebuah universitas, Kamis (23/11/2023).

"Amerika Serikat salah satu pihak yang paling bertanggung jawab dalam mendukung Negara Israel, negara ini mendukung pembantaian terhadap rakyat Palestina dan pelanggaran hukum-hukum internasional," tambahnya.

Israel melancarkan invasinya ke Gaza sebagai balasan serangan mendadak Hamas. Israel mengklaim dalam serangan 7 Oktober tersebut Hamas membunuh 1.200 orang dan menyandera sekitar 240 orang.

Otoritas Kesehatan Palestina mengatakan serangan Israel ke Gaza sudah menewaskan 14.800 orang. Sekitar 40 persennya adalah anak-anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Isi Perjanjian Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

 

 

Qatar telah mengumumkan bahwa gencatan senjata selama empat hari antara Israel dan kelompok Palestina Hamas,akan dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat pada Jumat (24/11/2023). Penghentian singkat pertempuran yang telah berlangsung sejak 7 Oktober disambut baik setelah berminggu-minggu pemboman intensif dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza.

Apa isi perjanjian ini, bagaimana kelanjutannya, dan apa yang bisa diharapkan di masa depan? Berikut ini penjelasannya dikutip dari Aljazirah.

Kapan gencatan senjata dimulai?

Juru bicara Kementerian Luar Negeri di Qatar Majed al-Ansari mengatakan pada Kamis (23/11/2023), bahwa gencatan senjata akan mulai berlaku pada hari Jumat (24/11/2023) pukul 07.00 waktu setempat. Sedangkan pada pukul 16.00, 13 sandera yang ditahan oleh Hamas di Gaza akan dibebaskan.

Apa saja yang termasuk dalam kesepakatan itu?

Komponen utama adalah jeda dalam pertempuran dan pertukaran tawanan Hamas dengan warga Palestina yang ditahan di penjara Israel. Kemudian penghentian lalu lintas udara di Gaza utara pada jam-jam tertentu dan seluruh Gaza selatan.

Bagaimana cara para sandera dan tahanan dibebaskan?

Selama empat hari, Hamas akan membebaskan 50 perempuan dan anak-anak, dari sekitar 240 orang yang ditawan oleh kelompok tersebut selama serangannya di Israel selatan pada 7 Oktober. Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan 150 perempuan dan anak-anak Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Mereka adalah korban pendudukan Israel yang memasukkan ke dalam penjara tanpa proses hukum yang layak.

Israel telah memberikan daftar sekitar 300 tahanan Palestina yang mungkin dibebaskan. Dari daftar itu tidak satupun dari mereka dituduh melakukan pembunuhan dan banyak dari mereka ditahan secara sewenang-wenang tanpa diadili. Israel mengatakan pasukannya akan melarang perayaan pembebasan itu.

Laporan Army Radio mengatakan, bahwa gelombang pertama yang terdiri dari 39 tahanan Palestina akan dibebaskan sekitar pukul 20.00 pada Jumat. Pembebasan hanya akan terjadi jika sandera yang ditahan di Gaza sudah berada di wilayah Israel.

Israel mengatakan, jeda akan diperpanjang satu hari untuk setiap 10 sandera tambahan yang dibebaskan. Qatar juga menyatakan bahwa Komite Palang Merah Internasional (ICRC) akan bekerja di Gaza untuk membantu memfasilitasi proses pembebasan tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada Kamis, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, Israel telah menerima daftar orang-orang yang dibebaskan dan telah memberi tahu keluarga mereka. Perkembangan ini membawa kelegaan bagi sebagian orang, tetapi menimbulkan keputusasaan bagi sebagian lainnya.

Bagaimana dengan aktivitas bersenjata?

Ketika ditanya tentang status aktivitas bersenjata berdasarkan perjanjian tersebut, kepala perundingan Qatar Mohammed Al-Khulaifi mengatakan, tidak ada serangan apa pun yang akan terjadi. “Tidak ada gerakan militer, tidak ada ekspansi, tidak ada apa-apa,” katanya.

Hamas mengatakan, Israel setuju untuk menghentikan lalu lintas udara di Gaza utara dan selatan mulai pukul 10.00 hingga pukul 16:00 setiap hari. Kelompok tersebut menjelaskan, Israel setuju untuk tidak menyerang atau menangkap siapa pun di Gaza.

Kesepakatan ini akan membuat orang-orang dapat bergerak bebas di sepanjang Jalan Salah al-Din, jalan utama dengan banyak warga Palestina meninggalkan Gaza utara, tempat Israel melancarkan invasi darat. Hamas juga mengatakan, bahwa sayap bersenjatanya dan semua faksi Palestina lainnya akan menghentikan semua aktivitas militer ketika gencatan senjata mulai berlaku.

Kelompok yang memimpin wilayah Gaza ini mengatakan, bahwa 200 truk bantuan dan empat truk bahan bakar akan diizinkan masuk ke Gaza setiap hari. Pengiriman itu sangat berarti bagi warga sipil Palestina terhuyung-huyung dari krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh pemboman Israel selama berminggu-minggu dan pembatasan keras terhadap akses terhadap makanan, bahan bakar, listrik dan air.

Apakah ini akhir dari pertarungan?

Mungkin tidak. Meskipun negara-negara seperti Qatar, kelompok kemanusiaan, dan para pemimpin dunia telah menyatakan harapan bahwa gencatan senjata tersebut dapat membuka jalan bagi gencatan senjata jangka panjang. Namun Israel maupun Hamas telah menyatakan niatan untuk terus melanjutkan konflik tersebut.

Juru bicara sayap bersenjata Hamas Abu Obeida mengatakan pada Kamis, bahwa pejuang Palestina tetap siap menghadapi pasukan Israel selama perang berlanjut. Dia menyerukan perlawanan terhadap pasukan Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Sedangkan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menyebut jeda yang akan datang sebagai jeda singkat. "Pada akhirnya pertempuran akan terus berlanjut secara intens, dan kami akan menciptakan tekanan untuk membawa kembali lebih banyak sandera,” ujarnya dalam wawancara dengan unit operasi khusus angkatan laut pada Kamis.

“Setidaknya dua bulan lagi pertempuran diperkirakan akan terjadi,” katanya.

Pekan ini, Netanyahu juga menegaskan kesepakatan itu merupakan jeda, bukannya akhir perang. “Kami sedang berperang, dan kami akan melanjutkan perang. Kami akan melanjutkannya sampai kami mencapai semua tujuan kami," ujarnya.

 

 

 

Muncul Dugaan Pencurian Organ Jasad Warga Palestina oleh Militer Israel

 

 

 Beredar kabar tentara Israel mengambil jenazah warga Palestina saat mengepung Rumah Sakit Al-Shifa beberapa hari lalu. Tuduhan ini semakin kuat saat militer menghindari pembahasan masalah tersebut.

Juru Bicara IDF Laksamana Muda Daniel Hagari menghindari pertanyaan wartawan, yang menyatakan IDF mengambil jenazah dari Rumah Sakit Al-Shifa Kota Gaza selama operasi penyerbuan pada 16 November 2023.

Sebelum itu, Direktur Al-Shifa Muhammad Abu Salmiya dan otoritas kesehatan Hamas di Gaza mengklaim dalam sebuah wawancara dengan AlJazirah, bahwa IDF mengeluarkan banyak jenazah dari kamar mayat rumah sakit.

“Kami bekerja di Rumah Sakit Shifa selama 48 jam. Ini adalah operasi yang rumit. Ini adalah kompleks yang besar," ujar Hagari menghindari pernyataan soal kabar tersebut dikutip Times of Israel.

“Ini adalah operasi yang terfokus dan akurat… dalam operasi tersebut, kami menemukan [infrastruktur] bawah tanah, senjata, dan kami menemukan informasi terkait para sandera, dan di samping rumah sakit kami menemukan Yehudit Weiss,” katanya.

Selain itu, dikabarkan tentara Israel menghalangi tenaga medis melakukan proses evakuasi mayat-mayat yang ada di halaman Rumah Sakit tersebut dan Rumah Sakit Indonesia. Kondisi ini semakin memunculkan pertanyaan.

Dugaan itu pun disinggung oleh laporan surat kabar nasional harian Yordania Al Ghad. Laporan itu menyatakan otoritas pendudukan Israel telah mencuri organ dari mayat warga Palestina. Praktik kriminal keji ini telah terungkap dalam beberapa laporan dan melalui kesaksian para dokter Israel yang berpartisipasi dalam praktik yang melanggar etika profesional dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Fasilitas yang disoroti adalah bank kulit terbesar di dunia yang ada di Israel. Bank ini didirikan pada tahun 1986 di bawah pengawasan sektor medis militer tentara pendudukan, yang menyediakan layanannya secara internasional, terutama atas permintaan negara-negara Barat.

Bank kulit Israel ini berbeda dari bank-bank lain di seluruh dunia karena pasokan organ-organ vitalnya tidak hanya berasal dari donor sukarela. Sebaliknya, kasus-kasus pencurian kulit dari tubuh warga Palestina yang terdokumentasi.

"Bahkan media Israel mengakui bahwa ini adalah proses pengambilan organ tanpa sepengetahuan keluarga orang yang meninggal," ujar Pakar urusan Israel Anas Abu Arqoub dikutip dari jordannews.

Dugaan tindakan ilegal ini bermula ada 2001 ketika jurnalis investigasi Swedia Donald Bostrom menerbitkan investigasi yang mengungkap pencurian organ dari tubuh para martir Palestina dan perdagangan mereka oleh entitas Israel. Ini adalah pertama kalinya kejahatan ini terungkap ke publik internasional.

Bostrom tidak berhenti pada titik ini tetapi menerbitkan penyelidikan lain mengenai subjek yang sama pada 2009 di halaman majalah Swedia Aftonbladet. Penyelidikan menyebutkan, bahwa Kementerian Kesehatan Israel meluncurkan kampanye nasional untuk mendorong donasi organ pada 1992. Namun, meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan yang signifikan antara permintaan dan pasokan donasi.

Bertepatan dengan kampanye tersebut, kasus hilangnya beberapa pemuda Palestina dimulai. Mereka kemudian kembali lagi dalam peti mati yang tertutup. Pihak berwenang Israel memaksa keluarga untuk menguburkan mereka pada malam hari tanpa pemakaman.

"Saya berada di wilayah tersebut pada saat itu, dan pada beberapa kesempatan, pegawai PBB menghubungi saya karena prihatin dengan perkembangan tersebut. Orang-orang yang menghubungi saya mengatakan bahwa pencurian organ memang terjadi, namun mereka dilarang melakukan apa pun mengenai hal tersebut," ujar Bostrom.

Israel pun telah mengakui bahwa para ahli patologi mengambil organ dari orang-orang Palestina yang meninggal, tanpa persetujuan keluarga mereka. "Kami mulai memanen kornea mata... apa pun yang dilakukan sangat informal. Tidak ada izin yang diminta dari keluarga," ujar mantan kepala lembaga forensik Israel  Dr Yehuda Hiss dikutip dari The Guardian.

Channel 2 TV melaporkan, bahwa pada 1990-an, para dokter spesialis patologi di Abu Kabir mengambil kulit, kornea mata, katup jantung, dan tulang dari tubuh tentara Israel, warga negara Israel, warga Palestina, dan pekerja asing. Tindakan ini seringkali tanpa izin dari kerabat.

Militer Israel mengonfirmasi kepada program tersebut bahwa praktik tersebut memang benar terjadi. "Kegiatan ini telah berakhir satu dekade lalu dan tidak akan terjadi lagi," ujar keterangan itu pada Desember 2009.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WHO Meminta China Memberi Rincian Informasi Terkait Wabah Pneumonia Misterius

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta Beijing untuk memberikan informasi lebih lanjut terkait wabah pneumonia misterius di Tiongkok utara yang tampaknya sebagian besar menyerang anak-anak.

WHO mengajukan permintaan resmi untuk informasi rinci mengenai peningkatan penyakit pernafasan dan laporan kelompok pneumonia pada anak-anak, kata badan kesehatan PBB itu dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

Tiongkok telah mengalami peningkatan kasus penyakit mirip influenza dibandingkan dengan periode yang sama pada tiga tahun sebelumnya ketika tindakan ketat diberlakukan sebagai bagian dari strategi nol-COVID.

Kebijakan itu tiba-tiba ditinggalkan pada Desember 2022.

WHO mencatat Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengatakan pada konferensi pers awal bulan ini bahwa telah terjadi peningkatan kejadian penyakit pernafasan, hal ini disebabkan oleh pencabutan tindakan pencegahan COVID-19 dan penyebaran tidak hanya COVID-19 tetapi juga patogen seperti seperti influenza, mycoplasma pneumoniae (infeksi bakteri umum yang biasanya menyerang anak kecil), dan virus pernapasan syncytial (RSV).

Awal pekan ini, ProMED, sebuah komunitas medis online yang pada akhir tahun 2019 mengajukan pertanyaan tentang penyakit tak dikenal yang beredar di Wuhan yang kemudian menjadi COVID-19, mencatat semakin banyak laporan media mengenai kelompok pneumonia yang tidak terdiagnosis di antara anak-anak di Tiongkok utara.

FTV News, kantor media Taiwan, melaporkan bahwa rumah sakit anak-anak di Beijing, Liaoning dan tempat-tempat lain di utara kebanjiran pasien anak-anak yang sakit dan para orang tua mempertanyakan apakah pihak berwenang menutupi epidemi.

ProMED mengatakan informasi yang lebih pasti mengenai penyakit tersebut diperlukan.

Mengingat masih belum jelas apakah wabah di Tiongkok utara dan peningkatan infeksi pernafasan secara keseluruhan yang sebelumnya dilaporkan oleh otoritas Tiongkok ada kaitannya, WHO mengatakan telah meminta Beijing untuk memberikan informasi lebih rinci mengenai situasi tersebut.

“WHO meminta informasi epidemiologi dan klinis tambahan, serta hasil laboratorium dari kelompok anak-anak yang dilaporkan ini, melalui mekanisme Peraturan Kesehatan Internasional,” kata pernyataan itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Boikot Produk Pro Israel Meluas Di Arab & Afrika, Di Indonesia Juga Makin Masif

 

Aksi boikot produk pro Israel meluas. Setelah Turkiye, banyak negara-negara islam di Arab dan Afrika yang boikot produk Israel. Di Indonesia, aksi boikot produk Israel juga semakin masif.

Diberitakan Kompas.com, pada suatu malam di Kairo baru-baru ini, seorang pekerja membersihkan meja-meja di sebuah restoran McDonald's yang kosong. Cabang-cabang jaringan restoran cepat saji Barat lainnya di ibu kota Mesir itu juga tampak sepi.

Semua terkena dampak kampanye boikot yang sebagian besar spontan dan dilakukan oleh akar rumput. Hal ini dipengaruhi serangan militer Israel di Jalur Gaza, yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober.

Menurut Reuters, merek-merek Barat merasakan dampaknya di Mesir dan Yordania. Ada tanda-tanda bahwa kampanye ini menyebar di beberapa negara Arab lainnya termasuk Kuwait dan Maroko.

Partisipasi tidak merata dan hanya efek kecil yang terlihat di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Beberapa perusahaan yang menjadi sasaran kampanye boikot ini dianggap telah mengambil sikap pro-Israel, dan beberapa di antaranya diduga memiliki hubungan keuangan dengan Israel atau investasi di sana.

Seiring dengan meluasnya kampanye ini, seruan boikot yang beredar di media sosial telah meluas hingga mencakup puluhan perusahaan dan produk, yang mendorong para pembeli untuk beralih ke produk lokal. Di Mesir, di mana hanya ada sedikit kesempatan bagi masyarakat untuk turun ke jalan karena pembatasan keamanan, beberapa orang melihat boikot sebagai cara terbaik atau satu-satunya cara untuk membuat suara mereka didengar.

"Saya merasa bahwa meskipun saya tahu ini tidak akan berdampak besar pada perang, namun ini adalah hal yang paling tidak bisa kita lakukan sebagai warga negara yang berbeda sehingga kita tidak merasa tangan kita berlumuran darah," ujar Reham Hamed, 31 tahun, seorang warga Kairo, yang memboikot jaringan makanan cepat saji asal Amerika dan beberapa produk pembersih.

Di Yordania, warga yang pro boikot terkadang memasuki cabang-cabang McDonald's dan Starbucks. Hal ini mendorong para pelanggan yang jarang datang untuk mengalihkan bisnis mereka ke tempat lain.

Video-video yang beredar menunjukkan apa yang tampak seperti tentara Israel sedang mencuci pakaian dengan merek-merek deterjen terkenal, dan para pemirsa diminta untuk memboikotnya.

Turkiye boikot produk pendukung Israel

Diberitakan Kompas.com, Parlemen Turkiye melarang produk Coca-Cola dan Nestle dari restoran-restorannya pada Selasa (7/11/2023) atas dugaan dukungan mereka terhadap Israel di tengah konflik di Gaza. "Produk dari perusahaan yang mendukung Israel tidak akan dijual di restoran, kafetaria, dan kedai teh di dalam kampus parlemen," ujar Grand National Assembly Turkiye, tanpa menyebutkan nama perusahaan tersebut.

Ketua Parlemen Numan Kurtulmus membuat keputusan tersebut dalam rangka mendukung kepekaan publik terkait pemboikotan produk-produk perusahaan yang secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kejahatan perang Israel dan pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa di Gaza.

Dilansir dari CNA, sebuah sumber di parlemen mengatakan bahwa minuman Coca-Cola dan kopi instan Nestle adalah satu-satunya merek yang dihilangkan dari menu. Sumber menambahkan bahwa keputusan tersebut dimaksudkan untuk menanggapi protes besar publik terhadap perusahaan-perusahaan ini karena mendukung Israel.

Fatwa haram MUI atas produk pro Israel

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram membeli produk dari produsen yang mendukung agresi Israel di Palestina.

Fatwa haram untuk produk pendukung Israel itu adalah Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Fatwa haram untuk pembelian produk pendukung Isratel resmi keluar pada Rabu 8 November 2023.

Diberitakan Kompas.com, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh menyampaikan, fatwa haram mengenai membeli produk dari pendukung agresi Israel merupakan komitmen mendukung kemerdekaan Palestina. Saat ini rakyat Palestina, khususnya di Gaza, sedang berjuang di tengah gempuran Israel yang membombardir wilayahnya sejak Sabtu (7/10/2023).

"Mendukung pihak yang diketahui mendukung agresi Israel, baik langsung maupun tidak langsung, seperti dengan membeli produk dari produsen yang secara nyata mendukung agresi Israel hukumnya haram," ujar Niam dikutip dari Kompas TV, Jumat (10/11/2023).

Selain itu, Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) Indonesia terhadap Israel menyerukan kepada publik untuk menghentikan pembelian produk dari sejumlah perusahaan besar yang terlibat dalam mendukung serangan Israel ke Palestina. Gerakan ini merupakan bagian dari Palestinian BDS National Committee (BNC).
 
Gerakan BDS Indonesia merilis daftar brand yang menjadi target boikot utama dan brand yang memerlukan tekanan sosial agar tidak mendukung Israel. Brand-brand itu terdiri dari AXA, Puma, Hewlett Packard (HP), dan Siemens. Kemudian ada Domino’s Pizza, Starbucks, Burger King, Papa John’s, Pizza Hut, Mcdonalds, Carrefour,d an WIX.

Produk Danone tidak ada dalam daftar boikot BDS Indonesia. Danone berpusat di Perancis dan beroperasi di 120 negara termasuk di negara negara Islam seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Turki, Iran dan Tunisia.  Perusahaan ini tidak memiliki pabrik di Israel.

M. Syauqi Faiz, Co-Inisiator BDS Israel di Indonesia, mengatakan ajakan aksi boikot ini intinya didasari karena Israel itu telah melakukan pelanggaran hukum internasional.

“Jadi, tujuan kita sebenarnya adalah menghentikan pihak-pihak seluruh dunia dan termasuk Indonesia untuk terlibat di dalam pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel,” ujar dia dalam keterangannya, dilansir Jumat (18/11).

Dalam melakukan aksi boikot terhadap produk-produk sekutu Israel itu ada klasifikasi brandnya. “Ada klasifikasi brand mana saja yang akan kita boikot itu. Karena kita berbicara terkait keterlibatan dalam kejahatan pelanggaran hukum internasional, dan keterlibatan itu memang ada level-levelnya,” tambahnya.

Share this Post