News Komoditi & Global ( Kamis, 2 April 2026 )
News Komoditi & Global
( Kamis, 2 April 2026 )
Harga Emas Global Naik di Tengah Dolar AS yang Melemah, Para Trader Menantikan Pidato Trump tentang Perang Iran
Harga Emas (XAU/USD) melanjutkan rally ke dekat $4.775 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Kamis. Logam mulia ini melonjak di tengah melemahnya Dolar AS (USD) dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun demikian, kenaikan logam kuning ini mungkin dibatasi karena perang AS-Iran telah mendorong ekspektasi inflasi dan suku bunga global lebih tinggi.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan dalam sebuah posting di Truth Social bahwa presiden Iran meminta gencatan senjata, tetapi juru bicara kementerian luar negeri Iran menyebut pernyataan itu salah dan tidak berdasar. Trump dijadwalkan menyampaikan pidato langka pada pukul 01:00 GMT (08:00 WIB) pada hari Kamis saat Selat Hormuz sebagian besar masih ditutup.
Lonjakan harga energi telah meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong pasar untuk menilai kembali ekspektasi suku bunga mereka. Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga stabil di kisaran target 3,50% hingga 3,75% setelah pertemuan 17-18 Maret 2026.
Proyeksi "dot plot" median masih menunjukkan satu pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) pada tahun 2026, meskipun beberapa pejabat kini memprakirakan tidak ada pemotongan sama sekali tahun ini. Emas sering digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, tetapi tidak memberikan bunga, sehingga kurang menarik saat suku bunga tinggi.
Serangkaian data ekonomi akan dirilis pekan ini, termasuk Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan dan Nonfarm Payrolls (NFP) AS. Jika hasilnya lebih lemah dari prakiraan, hal ini dapat menekan Greenback dan mengangkat harga komoditas berdenominasi USD dalam jangka pendek.
Petinggi The Fed: Kebijakan Moneter AS Tetap Tepat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem menyatakan bahwa bank sentral Amerika Serikat tidak melihat kebutuhan mendesak untuk mengubah suku bunga, meski ia memperingatkan risiko inflasi yang meningkat akibat perang di Timur Tengah.
“Kebijakan saat ini sudah tepat untuk menghadapi risiko terhadap kedua tujuan mandat ganda, dan saya memperkirakan tingkat suku bunga saat ini akan tetap sesuai untuk beberapa waktu ke depan,” kata Musalem dalam teks pidato yang disampaikan di American Enterprise Institute, Washington pada Rabu (1/4/2026) dilansir Reuters.
Ia menambahkan, “Prospek ekonomi sangat tidak pasti. Meskipun skenario dasar menunjukkan pertumbuhan yang layak, stabilitas tingkat pengangguran, dan moderasi inflasi lebih lanjut, ketidakpastian dari konflik Timur Tengah dan kebijakan tarif yang belum jelas bisa menekan pengeluaran konsumen dan bisnis pada paruh pertama tahun ini.”
Musalem juga menyebut bahwa harga bahan bakar, aluminium, dan pupuk yang meningkat dapat memberi tekanan tambahan pada ekonomi.
Dalam kondisi ini, risiko terhadap pasar tenaga kerja dan inflasi cenderung tidak menguntungkan, yaitu potensi pasar tenaga kerja melemah dan inflasi yang tetap tinggi.
Ia menjelaskan, selama ini Fed biasanya mengabaikan supply shock sementara sebagai penyebab sementara inflasi tinggi, namun situasi saat ini bisa berbeda.
“Sejarah menunjukkan kewaspadaan diperlukan, terutama ketika inflasi mendasar terus berada di atas target. Supply shock bisa berdampak persisten pada inflasi dan ekspektasi inflasi, mengingat sulitnya membedakan inflasi yang bersifat sementara atau akibat tekanan permintaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Bulan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan overnight di kisaran 3,50%-3,75% sambil menunggu data dampak perang AS-Israel dengan Iran, yang telah memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.
Dalam pertemuan kebijakan terbaru, pejabat The Fed tidak memberi sinyal kebutuhan segera untuk mengubah suku bunga.
Pasar keuangan masih berfluktuasi antara ekspektasi kenaikan dan penurunan suku bunga terkait prospek inflasi.
Musalem menekankan ada kondisi yang bisa mendorong penurunan maupun kenaikan suku bunga di masa depan. Ia bisa mendukung pelonggaran kebijakan jika risiko pelemahan pasar tenaga kerja semakin nyata, asalkan risiko inflasi tetap rendah.
Sebaliknya, kenaikan suku bunga bisa dipertimbangkan untuk menghindari pelonggaran nyata yang tidak disengaja jika inflasi inti atau ekspektasi inflasi jangka menengah-panjang bergerak naik secara persisten melewati target 2%.
Ia menambahkan, kondisi keuangan saat ini masih “secara luas akomodatif,” dan tekanan di pasar kredit swasta terbatas pada sektor tertentu, bukan tanda masalah yang lebih luas.
Wall Street Meroket! Saham Teknologi Pimpin Penguatan Bursa Saham AS
Wall Street ditutup menguat, dengan kenaikan yang kuat pada saham Alphabet dan saham-saham berkapitalisasi besar lainnya, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa berakhirnya konflik Timur Tengah mungkin sudah dekat.
Rabu (1/4/2026), indeks S&P 500 ditutup naik 0,72% ke 6.575,32, indeks Nasdaq Composite menguat 1,16% menjadi 21.840,95 dan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,48% ke 46.565,74.
Indeks Volatilitas CBOE, indikator ketakutan Wall Street, turun ke level terendah dalam lebih dari seminggu.
AS akan "keluar dari Iran dengan cukup cepat" dan dapat kembali untuk "serangan sporadis" jika diperlukan, kata Trump kepada Reuters, beberapa jam sebelum ia dijadwalkan untuk berpidato kepada bangsa tentang perang tersebut.
"Kita memiliki komentar Trump, yang cenderung sedikit berubah," kata Thomas Martin, manajer portofolio senior di Global Investments. "Semua orang mencoba menebak apa yang sebenarnya ia maksudkan dengan apa yang ia katakan. Pasar menginginkan hal itu positif, mereka ingin perang berakhir."
Saham-saham teknologi besar menguat, dengan saham Alphabet naik 3,4%, dan saham Meta Platforms serta Amazon masing-masing naik lebih dari 1%.
Wall Street telah menguat selama dua hari berturut-turut karena investor berspekulasi bahwa perang AS dan Israel terhadap Iran akan segera berakhir. Harga energi telah melonjak dalam sebulan terakhir, memicu kekhawatiran inflasi global, karena konflik tersebut menghambat aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Dengan kenaikan pada hari Rabu, S&P 500 tetap turun 4% sejauh ini pada tahun 2026. Indeks tersebut diperdagangkan di bawah 20 kali lipat dari perkiraan pendapatan, kelipatan pendapatan terendah dalam 10 bulan, menurut data LSEG.
Indeks chip PHLX melonjak 2,82%, naik untuk sesi kedua.
Di sisi lain, SpaceX secara rahasia mengajukan penawaran umum perdana (IPO), kata seseorang yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters, yang mendorong saham-saham sektor antariksa naik.
Saham Intuitive Machines naik 9%, Planet Labs melonjak 10%, dan Rocket Lab bertambah 2%. Dana investasi Destiny Tech100, yang memiliki saham SpaceX, melonjak 9,1%.
Sementara itu, Saham Eli Lilly naik 3,8% setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui pil penurun berat badan perusahaan tersebut, yang akan dijual dengan merek dagang Foundayo.
Saham Intel juga melonjak 8,8% setelah perusahaan tersebut menyatakan akan membeli kembali saham Apollo di pabriknya di Irlandia seharga $14,2 miliar.
Harga minyak turun tajam, dan indeks energi S&P 500 merosot 3,9% ke level terendah dalam lebih dari seminggu. Saham maskapai penerbangan melonjak, dengan sub-indeks S&P Composite Passenger Airlines naik 2,3%.
Saham Nike merosot 15,5% ke level terendah dalam satu dekade setelah raksasa pakaian olahraga itu memperkirakan penurunan penjualan kuartal keempat yang mengejutkan.
Laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan penggajian sektor swasta meningkat stabil pada bulan Maret, sementara penjualan ritel meningkat paling banyak dalam tujuh bulan pada bulan Februari. Aktivitas manufaktur AS meningkat bulan lalu, menurut indikator Institute for Supply Management.
Angka penggajian non-pertanian untuk bulan Maret akan menjadi fokus pada hari Jumat, meskipun pasar AS akan tutup untuk libur Jumat Agung.
Karena meningkatnya kekhawatiran inflasi, para pedagang sekarang percaya bahwa Federal Reserve lebih mungkin menaikkan suku bunga pada akhir tahun daripada menurunkan suku bunga.
Gejolak NATO: Trump Marah Besar, Kunjungan Sekjen NATO Jadi Penentu Nasib Aliansi
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan melakukan kunjungan ke Washington pekan depan. Seorang juru bicara aliansi militer tersebut menyebut kunjungan ini sebagai agenda yang “sudah direncanakan sejak lama”, meski dilakukan tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutu Eropa terkait perbedaan sikap dalam perang Iran.
“Saya dapat mengonfirmasi bahwa Sekretaris Jenderal akan berada di Washington DC pekan depan untuk kunjungan yang sudah lama direncanakan,” ujar juru bicara NATO Allison Hart seperti yang dilansir Reuters.
Seorang pejabat Gedung Putih juga mengonfirmasi kunjungan tersebut.
Namun, hingga kini belum ada rincian tambahan mengenai agenda perjalanan Rutte.
Trump sebelumnya mengatakan ia mempertimbangkan untuk menarik Amerika Serikat keluar dari aliansi militer Barat tersebut. Pernyataan itu muncul setelah negara-negara Eropa menolak mengirim kapal untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik.
Dalam pernyataan pada Rabu kepada para sekutu yang menghadiri jamuan makan siang Paskah di Gedung Putih, Trump juga mengkritik sejumlah negara sekutu, termasuk Prancis dan Inggris. Ia menyebut mereka sebagai “paper tiger” atau “macan kertas”, istilah yang merujuk pada kekuatan yang terlihat besar namun sebenarnya lemah.
NATO sendiri merupakan aliansi militer yang beranggotakan negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. NATO dibentuk pada 1949 dengan tujuan utama menghadapi ancaman serangan Uni Soviet dan sejak itu menjadi pilar utama keamanan negara-negara Barat.
“Kita punya beberapa sekutu yang sangat buruk di NATO,” kata Trump. “Mudah-mudahan kita tidak akan pernah membutuhkan mereka. Saya rasa kita tidak akan membutuhkan mereka.”
Bank of England: Perang Iran Tingkatkan Risiko Stabilitas Keuangan Global
Bank of England menyatakan perang Iran telah memberikan “guncangan pasokan negatif yang signifikan” terhadap ekonomi global, sekaligus meningkatkan risiko terhadap stabilitas sistem keuangan.
Dalam laporan kuartalannya dilansir Reuters Rabu (1/4/2026), Komite Kebijakan Keuangan BoE menilai kombinasi pertumbuhan yang melemah, inflasi yang meningkat, serta biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memicu risiko secara bersamaan di pasar utang pemerintah, kredit swasta, hingga valuasi saham teknologi AS.
“Konflik ini membuat lingkungan global menjadi jauh lebih tidak pasti, setelah sebelumnya risiko global sudah meningkat. Hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya guncangan besar yang berulang dan saling tumpang tindih,” tulis BoE.
Konflik yang dimulai sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, telah mengganggu pasokan energi global.
Penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia mendorong lonjakan harga energi.
Di Inggris, harga gas alam melonjak lebih dari 70%, sementara harga bensin naik sekitar 10%. Tagihan energi rumah tangga juga diperkirakan meningkat mulai Juli seiring penyesuaian tarif.
Biaya pinjaman ikut terdorong naik, dengan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) tenor dua tahun meningkat sekitar 90 basis poin dibanding sebelum perang. Bahkan, sekitar 21% produk KPR ditarik dari pasar.
BoE memperingatkan pasar obligasi pemerintah Inggris rentan terhadap gejolak, terutama akibat posisi besar yang diambil oleh hedge fund.
Volatilitas tinggi berpotensi memicu aksi jual tidak teratur dan penurunan likuiditas, termasuk dampak rambatan lintas negara.
Selain itu, koreksi tajam harga saham dapat mendorong investor melepas obligasi pemerintah (gilts), memperburuk tekanan pasar.
BoE juga menyoroti valuasi perusahaan teknologi besar AS yang dinilai semakin “mahal”, terutama yang berinvestasi besar di kecerdasan buatan (AI).
Kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok akibat perang memperbesar risiko terhadap sektor ini.
Meski risiko meningkat, BoE menilai kondisi rumah tangga, bisnis, dan perbankan Inggris masih relatif kuat.
Namun, jika suku bunga tetap tinggi, sekitar 58% peminjam KPR berpotensi menghadapi kenaikan cicilan hingga 2028.
BoE memperingatkan bahwa kenaikan berkelanjutan pada suku bunga dan harga energi dapat kembali menekan kondisi keuangan rumah tangga dalam jangka menengah.
ECB Sebut Eropa Berisiko Resesi Jika Harga Minyak Tembus US$150
Eropa berpotensi mengalami resesi jika konflik Iran berlarut-larut dan harga minyak melonjak di atas US$150 per barel.
“Saat ini tidak ada yang mengatakan kita akan resesi. Namun jika perang berlanjut dan harga minyak menembus US$150 per barel, tidak ada yang bisa dikesampingkan, termasuk resesi,” ujar pembuat kebijakan European Central Bank (ECB) Yannis Stournaras, dalam wawancara dengan radio Parapolitika yang dilansir Reuters Rabu (1/4/2026).
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi dunia.
Bank of England (BoE) sebelumnya menyebut perang Iran sebagai “guncangan pasokan negatif yang signifikan” bagi ekonomi global, yang meningkatkan risiko terhadap stabilitas keuangan.
Menurut BoE, kombinasi pertumbuhan yang melemah, inflasi yang meningkat, dan biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memicu tekanan bersamaan di berbagai sektor, mulai dari pasar obligasi pemerintah, kredit swasta, hingga valuasi saham teknologi AS.
“Konflik ini membuat lingkungan global jauh lebih tidak pasti dan meningkatkan potensi terjadinya guncangan besar yang saling tumpang tindih,” tulis Komite Kebijakan Keuangan BoE.
Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, gangguan di Selat Hormuz jalur utama sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia telah mendorong lonjakan harga energi.
Di Inggris, harga gas alam naik lebih dari 70%, sementara harga bensin meningkat sekitar 10%. Tagihan energi rumah tangga diperkirakan kembali naik mulai Juli.
Kenaikan harga energi juga mendorong biaya pinjaman. Suku bunga KPR tenor dua tahun meningkat sekitar 90 basis poin dibandingkan sebelum perang, dan sekitar 21% produk KPR ditarik dari pasar.
BoE memperingatkan pasar obligasi pemerintah Inggris rentan terhadap gejolak, terutama akibat posisi besar dari hedge fund yang berpotensi memicu aksi jual tidak teratur dan penurunan likuiditas.
Selain itu, valuasi perusahaan teknologi besar AS terutama yang berinvestasi besar di kecerdasan buatan (AI) dinilai semakin mahal dan rentan terhadap tekanan akibat kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok.
Meski demikian, BoE menilai kondisi rumah tangga, bisnis, dan perbankan Inggris masih relatif kuat.
Namun, jika suku bunga tetap tinggi, sekitar 58% peminjam KPR berpotensi menghadapi kenaikan cicilan hingga 2028.
BoE mengingatkan bahwa kenaikan berkelanjutan pada suku bunga dan harga energi dapat kembali menekan kondisi keuangan rumah tangga dalam jangka menengah.
AS Serang Iran, Kini Panik Hadapi Skenario Minyak 200 Dolar
Dampak perang di Timur Tengah kini berbalik menghantam Amerika Serikat. Harga minyak melonjak tajam, pasokan energi global terguncang, dan Gedung Putih terpaksa menghadapi krisis yang dipicu oleh eskalasi militernya sendiri terhadap Iran.
Sejak serangan yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel ke wilayah Iran, konflik berkembang cepat di luar kendali. Teheran merespons dengan mengganggu lalu lintas energi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap hari. Akibatnya, distribusi energi global tersendat dan harga langsung meroket.
Di internal Gedung Putih, kekhawatiran meningkat. Para pejabat kini membahas skenario terburuk: harga minyak bisa menembus 150 dolar bahkan hingga 200 dolar per barel. Angka tersebut jauh di atas level normal dan berpotensi mengguncang perekonomian global, sebagaimana diberitakan Politico.
Pemerintahan Donald Trump sebelumnya sempat meremehkan konflik ini sebagai perang singkat yang tidak akan berdampak panjang. Namun kenyataan di lapangan berkata sebaliknya. Lonjakan harga energi kini menjadi “bumerang” yang langsung dirasakan oleh masyarakat Amerika.
Harga bensin di dalam negeri telah mencapai rata-rata 4 dolar per galon. Beban biaya transportasi meningkat, harga barang ikut terdorong naik, dan tekanan ekonomi semakin terasa, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. Para pejabat bahkan mengakui kondisi ini berpotensi menjadi “pajak tak langsung” yang menyedot daya beli masyarakat.
Situasi ini juga diperparah oleh gangguan rantai pasokan global. Banyak pengiriman energi yang tertahan, sementara cadangan minyak yang sebelumnya masih mengalir ke pasar kini mulai habis. Para analis memperingatkan bahwa gelombang dampak sesungguhnya baru akan terasa dalam beberapa pekan ke depan, termasuk di Amerika Serikat.
Di tingkat global, dampaknya lebih luas. Laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut konflik ini berpotensi menghapus pertumbuhan ekonomi kawasan Arab hingga ratusan miliar dolar, meningkatkan pengangguran, dan mendorong jutaan orang ke dalam kemiskinan.
Meski Amerika merupakan salah satu produsen energi terbesar dunia, negara itu tidak kebal dari gejolak pasar global. Kenaikan harga solar, bahan bakar jet, hingga biaya logistik dipastikan akan menjalar ke berbagai sektor ekonomi.
Kini, pemerintah AS berupaya mencari berbagai cara untuk menekan harga energi, termasuk mempertimbangkan penggunaan kewenangan darurat. Namun langkah-langkah tersebut dinilai terlambat, mengingat akar masalah berasal dari eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Perang yang awalnya diklaim akan singkat, kini justru membuka babak krisis baru. Ketika keputusan militer diambil tanpa kalkulasi dampak jangka panjang, konsekuensinya tidak hanya dirasakan di medan perang, tetapi juga di dapur rakyat. Kali ini, Amerika tampaknya harus menanggung akibat dari kebijakannya sendiri.
Eskalasi militer di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan dampak ekonomi yang luas dan mengkhawatirkan. Laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut konflik yang terus memanas berpotensi memangkas perekonomian kawasan hingga 3,7–6 persen dari total produk domestik bruto (PDB) gabungan.
Kerugian tersebut diperkirakan mencapai 120 hingga 194 miliar dolar AS, bahkan melampaui proyeksi total pertumbuhan ekonomi kawasan pada 2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik bukan hanya menghambat pertumbuhan, tetapi juga berpotensi menghapus capaian ekonomi yang telah direncanakan sebelumnya, sebagaimana diberitakan Sputnikglobe.
Dampak sosial yang ditimbulkan tak kalah serius. Laporan tersebut memperkirakan tingkat pengangguran akan meningkat sekitar 4 persen, setara dengan hilangnya 3,6 juta lapangan pekerjaan. Angka ini bahkan melampaui jumlah pekerjaan baru yang diproyeksikan tercipta sepanjang tahun 2025.
Akibatnya, hingga 4 juta orang diperkirakan akan jatuh ke dalam kemiskinan. Peningkatan ini menambah tekanan sosial di kawasan yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan politik.
Namun, dampak krisis tidak merata di seluruh wilayah. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat kerugian terbesar terkonsentrasi di negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk dan kawasan Levant. Tingginya ketergantungan terhadap jalur perdagangan energi serta volatilitas pasar minyak menyebabkan penurunan tajam dalam produksi, investasi, dan aktivitas perdagangan.
Di kawasan Levant, krisis ini diperkirakan akan meningkatkan tingkat kemiskinan hingga 5 persen. Artinya, sekitar 2,85 hingga 3,30 juta orang tambahan akan hidup di bawah garis kemiskinan, menyumbang lebih dari 75 persen total peningkatan kemiskinan di seluruh kawasan.
Eskalasi ini dipicu oleh serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari terhadap sejumlah fasilitas di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil, serta memicu serangan balasan dari Iran terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Situasi semakin memburuk ketika jalur vital energi global di Selat Hormuz praktis terhenti. Gangguan di jalur ini berdampak langsung pada distribusi minyak dan gas alam cair dunia, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.
Krisis ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik di satu kawasan dapat dengan cepat menjalar menjadi tekanan ekonomi global. Ketika jalur energi terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga hingga ke pasar internasional dan kehidupan sehari-hari masyarakat dunia.
Israel Bom Destilasi Iran, Trump Marah, Arab Rugi 194 Miliar Dolar
Bayangkan satu jalur laut sempit, hanya selebar puluhan kilometer, tiba-tiba menjadi titik tekan geopolitik paling berbahaya di dunia. Di situlah Selat Hormuz, tempat hampir seperlima pasokan minyak global pernah mengalir, kini berubah menjadi medan ancaman terbuka antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat.
Pernyataan keras para pemimpin dunia bukan lagi sekadar retorika, melainkan sinyal bahwa konflik ini berpotensi menjalar ke krisis energi dan ekonomi global yang nyata.
Ketika Benjamin Netanyahu menyebut perang telah “lebih dari setengah jalan”, dan Donald Trump menantang negara lain untuk “mengambil sendiri minyak mereka”, dunia dihadapkan pada satu pertanyaan besar: apakah ini awal dari eskalasi yang lebih luas, atau justru tanda bahwa semua pihak sedang mencari jalan keluar dengan risiko minimum?
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran masih akan berlanjut tanpa batas waktu yang jelas. Dalam wawancara dengan Newsmax, sebagaimana diberitakan BBC, ia menyebut misi tempur Israel telah melewati “setengah jalan”, namun menekankan bahwa pernyataan itu tidak merujuk pada durasi perang secara keseluruhan.
Netanyahu juga mengklaim bahwa “ribuan” anggota Korps Garda Revolusi Islam telah tewas, serta menyatakan bahwa Israel, bersama Amerika Serikat, hampir menghancurkan kompleks industri militer Iran, termasuk fasilitas yang terkait dengan program nuklir.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa perubahan rezim bukanlah tujuan resmi, sembari memprediksi bahwa sistem politik Iran akan “runtuh dari dalam”.
Di lapangan, militer Israel terus meningkatkan tekanan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan serangkaian serangan baru yang menargetkan apa yang disebut sebagai “infrastruktur rezim teroris Iran” di Teheran.
Juru bicara IDF, Nadav Shoshani, menyatakan bahwa militer siap melanjutkan operasi selama beberapa minggu ke depan, dengan dukungan penuh logistik dan personel.
Sementara itu, eskalasi tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga merambah jalur energi global. Iran melalui komite parlemen telah menyetujui rencana untuk mengenakan biaya tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, bahkan melarang kapal Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara yang terlibat dalam sanksi terhadap Iran.
Langkah ini berpotensi menjadi titik balik besar dalam dinamika energi dunia. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen minyak global melewati Selat Hormuz. Kini, menurut data intelijen maritim, lalu lintas kapal di jalur tersebut anjlok hingga sekitar 95 persen, menandakan gangguan serius terhadap rantai pasok energi global.
Di tengah situasi tersebut, Donald Trump melontarkan pernyataan yang semakin memperkeruh keadaan. Ia mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan fasilitas minyak, jika kesepakatan tidak segera tercapai. Bahkan, ia mendorong negara-negara lain untuk “berjuang sendiri” dalam mengamankan pasokan energi mereka.
Pernyataan Trump langsung mengguncang pasar. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak di atas 118 dolar AS per barel sebelum turun kembali ke kisaran 104 dolar, tetap jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik meletus.
Di kawasan Teluk, dampak konflik mulai terasa nyata. Kebakaran dilaporkan terjadi di Dubai akibat serpihan amunisi yang dicegat, melukai empat orang. Di Sharjah, sebuah drone jatuh dan menabrak gedung perusahaan telekomunikasi Thuraya, meski tidak menimbulkan korban jiwa. Insiden-insiden ini menandakan bahwa konflik telah meluas secara geografis, tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel.
Di balik semua itu, Iran memegang salah satu kartu terkuat dalam geopolitik energi global: cadangan minyaknya yang sangat besar. Negara ini diperkirakan memiliki lebih dari 150 miliar barel cadangan minyak terbukti, menjadikannya salah satu dari lima negara dengan cadangan terbesar di dunia, sejajar dengan Arab Saudi, Venezuela, dan Kanada.
Cadangan tersebut sebagian besar berada di wilayah daratan seperti Khuzestan, serta ladang lepas pantai di Teluk Persia. Dengan kapasitas produksi yang secara teoritis bisa melampaui 4 juta barel per hari dalam kondisi normal, Iran memiliki potensi untuk kembali menjadi pemain dominan di pasar energi global, jika tidak terhambat oleh sanksi dan konflik.
Dari sisi kualitas, minyak Iran umumnya tergolong medium hingga heavy crude dengan kandungan sulfur yang relatif tinggi (sour crude). Ini membuatnya sedikit lebih mahal untuk diproses dibandingkan minyak ringan dan manis (light sweet crude) seperti yang dihasilkan di Amerika Serikat. Namun, minyak Iran tetap sangat diminati, terutama oleh kilang-kilang di Asia yang dirancang untuk mengolah jenis minyak berat, karena harganya biasanya lebih kompetitif.
Dengan kombinasi cadangan besar dan posisi geografis strategis di Selat Hormuz, Iran tidak hanya menjadi aktor regional, tetapi juga penentu keseimbangan energi global. Dalam konteks konflik saat ini, setiap langkah Teheran, baik militer maupun ekonomi, berpotensi mengguncang pasar dunia dan memicu efek domino yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump marah ketika Israel menyerang pabrik desalinasi di Iran beberapa minggu lalu, menurut laporan Axios pada Selasa, mengutip seorang pejabat senior AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshn, Iran, telah terkena serangan. "Dia ingin memastikan bahwa segala sesuatunya proporsional dalam perang ini. Itulah mengapa dia (Trump) marah ketika Bibi (Netanyahu) menyerang pabrik desalinasi di Iran beberapa minggu yang lalu," kata pejabat itu seperti dikutip oleh Axios.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan "pencegahan" mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran, tetapi mereka segera memperjelas bahwa mereka ingin membuat perubahan kekuasaan di Iran.
Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini tidak hanya menjadi persoalan keamanan kawasan, tetapi juga ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia Arab. Laporan terbaru United Nations Development Programme (UNDP) memperingatkan, bahkan eskalasi konflik dalam waktu singkat dapat memicu kontraksi ekonomi tajam dan mendorong jutaan orang jatuh ke jurang kemiskinan.
Dalam studi yang dirilis Selasa, UNDP memproyeksikan bahwa perang yang berlangsung selama empat pekan sejak akhir Februari 2026 berpotensi menyusutkan output ekonomi negara-negara Arab antara 3,7 hingga 6 persen. Kerugian tersebut setara dengan 120 miliar hingga 194 miliar dolar AS, terutama akibat terganggunya jalur perdagangan, energi, dan sistem keuangan regional.
Penurunan aktivitas ekonomi dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian yang menekan investasi, serta melemahnya ekspor dan impor akibat gangguan pengiriman dan melonjaknya biaya logistik. Negara-negara yang bergantung pada impor disebut paling rentan terhadap lonjakan inflasi sebagai dampak langsung dari krisis ini.
Dampak sosial dari konflik juga diperkirakan signifikan. UNDP mencatat hampir empat juta orang tambahan berpotensi jatuh ke dalam kemiskinan dalam skenario intensitas tinggi. Lonjakan kemiskinan paling tajam diprediksi terjadi di kawasan Levant dan negara-negara rentan seperti Sudan dan Yaman.
Di sektor ketenagakerjaan, tekanan juga tak kalah berat. Sekitar 2,5 hingga 3,5 juta orang diperkirakan kehilangan pekerjaan, dengan pekerja berkeahlian rendah menjadi kelompok yang paling terdampak. Tingkat pengangguran bahkan diproyeksikan meningkat hingga 4,5 poin persentase di sejumlah negara.
Secara geografis, kawasan Teluk dan Levant diprediksi menanggung kerugian ekonomi terbesar akibat kedekatannya dengan pusat konflik dan ketergantungan pada jalur perdagangan energi. Sementara itu, Afrika Utara menunjukkan dampak yang lebih beragam, di mana beberapa negara pengekspor minyak justru berpotensi memperoleh keuntungan dari lonjakan harga energi global.
Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa dampak konflik tidak hanya bersifat jangka pendek. Penurunan pendapatan negara dan pelebaran defisit fiskal berpotensi menghambat kemampuan pemerintah dalam merespons krisis, sekaligus mengancam capaian pembangunan manusia yang telah diraih. Di beberapa negara, kemajuan pembangunan bahkan diperkirakan mundur hingga satu tahun.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari itu telah menelan lebih dari 1.340 korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Serangan balasan Iran menggunakan drone dan rudal juga menyasar Israel serta sejumlah negara yang menjadi basis militer Amerika Serikat di kawasan, seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk.
Di sisi lain, langkah Iran menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya semakin memperburuk situasi. Sejumlah kapal tanker dilaporkan diserang saat mencoba melintasi jalur tersebut tanpa izin Teheran, memicu gangguan serius pada rantai pasok energi global.
Dengan eskalasi yang terus berlangsung, laporan UNDP menegaskan bahwa dampak konflik ini tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah menjelma menjadi krisis multidimensi yang mengancam stabilitas ekonomi, sosial, dan kemanusiaan di kawasan Arab secara luas.
Tak Didukung Serang Iran, Trump Ancam Keluar dari NATO
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia sangat mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) setelah aliansi tersebut menolak ikut berperang melawan Iran. Hal ini merupakan tanda terkuat bahwa Washington tidak lagi menganggap Eropa sebagai mitra pertahanan yang dapat diandalkan.
Berbicara kepada The Telegraph, Trump berkata, "Saya sangat mempertimbangkan untuk keluar dari NATO," dan menyebut aliansi transatlantik itu sebagai "macan kertas".
“Oh ya, menurut saya hal ini perlu dipertimbangkan lagi,” jawab Trump ketika ditanya apakah dia akan mempertimbangkan kembali keanggotaan AS, dan lebih lanjut menyerang blok tersebut. “Saya tidak pernah terpengaruh oleh NATO. Saya selalu tahu bahwa mereka adalah macan kertas, dan Putin (Presiden Rusia Vladimir Putin) juga mengetahui hal itu.”
Komentar Trump muncul setelah mitra NATO menolak mengirim kapal perang untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur aliran minyak dunia. Teheran secara efektif telah memblokir Selat tersebut selama berminggu-minggu bagi pihak-pihak yang bermusuhan menyusul agresi terhadap negara tersebut. Aksi itu membuat harga minyak dan gas global melonjak sekaligus mengancam resesi global.
NATO dibentuk menyusul berlangsungnya Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet selepas Perang Dunia II. Aliansi ini merupakan saingan dari Pakta Warsawa yang merupakan kumpulan negara-negara komunis Blok Timur. Artikel NATO mengatur bahwa anggotanya harus membantu jika wilayah rekannya diserang. Namun dalam konteks perang kali ini, AS yang lebih dulu menyerang Iran.
Sejauh ini seluruh sekutu AS anggota NATO di Eropa menolak ikut berperang. Jerman, Prancis, dan Inggris yang biasanya membersamai AS menolak terlibat dalam perang. Spanyol melarang wilayah udara mereka dipakai menyerang Iran. Yang terkini, Polandia menolak mengembalikan sistem pertahanan rudal Patriot kepada AS.
Para pimpinan di Eropa bersikeras bahwa serangan ilegal AS-Israel ke Iran bukan perang mereka. Jerman, sekutu dekat AS-Israel bahkan menyatakan bahwa serangan tersebut ilegal dan mengacaukan kondisi dunia.
Trump mengatakan, semestinya saat ia menyerang Iran dan Selat Hormuz ditutup, sekutu NATO otomatis membantu AS. "Kami berada di sana secara otomatis, termasuk saat Ukraina diserang. Ukraina bukanlah masalah kami. Itu adalah sebuah ujian, dan kami ada di sana untuk mereka, dan kami akan hadir untuk mereka. Tapi mereka tidak hadir untuk kami."
Trump sebelumnya juga mencak-mencak menyusul tak kunjung ada bantuan dari negara selain Israel menyerang Iran. Ia menyuruh negara-negara lain menjemput sendiri minyak bumi yang mereka butuhkan ke Selat Hormuz yang saat ini tengah diblokade Iran.
Dalam sebuah postingan di Truth Social, Presiden AS, Donald Trump, menyarankan agar negara-negara seperti Inggris harus membangun “keberanian” untuk pergi ke Selat Hormuz dan “mengambil” bahan bakar sendir.
“Kalian harus mulai belajar bagaimana berjuang untuk diri kalian sendiri, AS tidak akan berada di sana untuk membantu kalian lagi, sama seperti kalian tidak berada di sana untuk kami,” kata Trump ketika ia mengkritik negara-negara yang “menolak untuk terlibat dalam penghancuran Iran”.
Dia mengatakan negara-negara ini dapat membeli “bahan bakar jet” dari AS, yang jumlahnya “banyak”, jika persediaan mereka hampir habis. "Iran, pada dasarnya, telah hancur. Bagian tersulitnya sudah selesai. Ambil minyak kalian sendiri!" Trump mengakhiri postingan media sosialnya dengan mengatakan akan mengumumkan kelanjutan pernyataan itu dalam waktu dekat.
Sementara negara-negara Teluk yang jadi lokasi pangkalan militer AS juga belum bersedia terjun ke medan tempur meski wilayahnya dibombardir Iran. Pesan yang muncul belakangan, mereka juga seperti Iran adalah korban dari agresi impulsif AS dan Israel.
Sedangkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa akan ada tindakan terhadap sekutu AS di NATO terkait sikap mereka menolak ikut perang.
“Dan bagi NATO, keputusan itu diserahkan kepada presiden. Tapi saya hanya ingin mengatakan, banyak hal yang telah diungkapkan. Banyak hal telah ditunjukkan kepada dunia tentang apa yang sekutu kami bersedia lakukan untuk Amerika Serikat ketika kita melakukan upaya sebesar ini atas nama dunia bebas,” ujar Hegseth dalam konferensi pers pada Selasa.
Seperti lupa bahwa AS yang memulai perang, ia mengatakan sejauh ini sekutu-sekutu AS yang jadi sasaran rudal Iran. “Rudal-rudal itu bahkan tidak menjangkau Amerika Serikat. Mereka menyasar sekutu dan lainnya. Namun ketika kami meminta bantuan tambahan atau akses sederhana terhadap penerbangan, kami mendapatkan pertanyaan atau hambatan atau keragu-raguan.”
Mengenal Handala, Kelompok Peretas Iran yang Berhasil 'Telanjangi' Data Pribadi Direktur FBI
Kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran, dilaporkan berhasil membobol akun surat elektronik (email) pribadi Direktur FBI, Kash Patel. Para peretas memublikasikan sejumlah dokumen dan foto-foto pribadi sang bos biro penyelidik federal tersebut ke jejaring internet.
Kelompok peretas yang menamakan diri mereka 'Handala Hack Team' mengumumkan di situs mereka bahwa Patel kini masuk dalam daftar korban peretasan. Dilansir dari The Guardian, Handala mengunggah rangkaian foto pribadi Patel, dari saat ia menghisap cerutu, mengendarai mobil antik, hingga foto swafoto (selfie) di depan cermin dengan sebotol besar minuman anggur.
Pihak FBI telah mengonfirmasi bahwa email pribadi Patel memang menjadi sasaran peretasan. Juru bicara FBI, Ben Williamson, menyatakan pihaknya telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memitigasi risiko terkait aktivitas tersebut.
"Data yang terlibat bersifat historis dan tidak mengandung informasi rahasia pemerintah," tegas Williamson dalam pernyataan resminya, Jumat (27/3/2026) waktu setempat.
Meskipun FBI mengecilkan profil data tersebut, para peneliti keamanan Barat meyakini bahwa Handala hanyalah salah satu "persona" yang digunakan oleh unit intelijen siber pemerintah Iran. Kelompok ini sebelumnya juga mengeklaim telah membobol perusahaan perangkat medis Stryker pada 11 Maret lalu dan menghapus sejumlah besar data perusahaan.
Selain foto, peretas memublikasikan sampel lebih dari 300 email yang menunjukkan kombinasi antara korespondensi pribadi dan pekerjaan pada2010 hingga 2019. Alamat Gmail pribadi yang dibobol tersebut terkonfirmasi cocok dengan data kebocoran sebelumnya yang dilacak oleh firma intelijen dark web, District 4 Labs.
Gil Messing, kepala staf di perusahaan keamanan siber Israel, Check Point, menilai aksi ini sebagai bagian dari strategi Iran untuk mempermalukan pejabat AS. "Tujuannya adalah membuat mereka merasa rentan. Iran sedang menembakkan apa pun yang mereka miliki ke ruang siber," ujarnya.
Insiden ini menambah daftar panjang peretasan akun pribadi pejabat tinggi AS, serupa dengan pembobolan akun Gmail John Podesta pada Pilpres 2016 atau akun AOL Direktur CIA John Brennan pada 2015.
Pada awalnya, para peretas yang terkait dengan Iran, sempat menahan diri setelah serangan terkoordinasi AS-Israel ke Teheran bulan lalu. Kini, mereka mulai gencar memamerkan operasi siber mereka seiring dengan perang yang berlarut-larut.
Pada Kamis lalu, Handala juga mengeklaim telah memublikasikan data pribadi puluhan karyawan perusahaan pertahanan Lockheed Martin yang ditempatkan di Timur Tengah. Sementara itu, kelompok peretas lain dengan pseudonim "Robert" mengancam akan membocorkan 100 gigabyte data yang dicuri dari Susie Wiles, Kepala Staf Gedung Putih.
Laporan intelijen AS yang ditinjau pada 2 Maret lalu memang telah memperingatkan bahwa Iran dan proksinya kemungkinan besar akan merespons syahidnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan peretasan tingkat rendah terhadap jaringan digital AS. Meski dianggap "tidak canggih", dampak psikologis dan kebocoran privasi dari serangan semacam ini terbukti mampu mengguncang stabilitas psikologis para pengambil kebijakan di Washington.
Nama "Handala Hack Team" terbilang familiar di dunia peretasan. Muncul pertama kali pada akhir 2023, kelompok ini telah berevolusi dari sekadar kolektif peretas menjadi aktivis siber yang sangat terorganisir dan destruktif, dilansir dari laman terkait cybersecurity, cyble.com
Meskipun secara publik mengeklaim diri sebagai kelompok aktivis siber (hacktivist) pro-Palestina, berbagai penilaian intelijen internasional justru mengaitkan operasional mereka dengan Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS). Handala bukan sekadar peretas amatir; mereka adalah instrumen perang urat syaraf digital Teheran.
Berbeda dengan kelompok peretas komersial yang mencari keuntungan finansial melalui ransomware, Handala memiliki karakteristik unik yang jauh lebih berbahaya. Fokus utama mereka adalah disrupsi total dan kerusakan reputasi.
Ciri khas utama kelompok ini adalah penggunaan malware penghapus data (Wiper). Alih-alih mengunci data dan meminta tebusan, Handala masuk ke jaringan target untuk menghapus data secara permanen, melumpuhkan operasional organisasi, dan membocorkan informasi sensitif ke publik guna meningkatkan tekanan psikologis terhadap korban.
Sejak kemunculannya pada Desember 2023, Handala telah menunjukkan kemajuan teknis yang sangat pesat. Mereka tidak lagi hanya melakukan serangan acak, melainkan kampanye yang terkoordinasi secara matang dengan perkembangan geopolitik di Asia Barat.
Handala dilaporkan memiliki beberapa kemampuan menonjol seperti Akses Persisten (Kemampuan untuk tetap berada di dalam jaringan target dalam waktu lama tanpa terdeteksi), Serangan Bertahap (Melakukan pengintaian mendalam (reconnaissance) sebelum melakukan serangan penghancuran) hingga Sinkronisasi Geopolitik (Menyesuaikan serangan siber dengan momentum ketegangan militer di lapangan).
Salah satu contoh evolusi teknis mereka yang paling signifikan adalah operasi bertajuk “HamsaUpdate”. Dalam kampanye ini, mereka menyebarkan malware wiper yang menargetkan sistem Linux dengan menyamar sebagai pembaruan perangkat lunak resmi (software update). Hal ini membuktikan bahwa Handala memiliki kemampuan lintas platform yang mumpuni untuk menyerang infrastruktur server yang kompleks.
Handala sangat aktif memanfaatkan platform seperti Telegram, Tox, dan X (sebelumnya Twitter) untuk mengamplifikasi dampak serangan mereka. Begitu sebuah serangan berhasil dilakukan, mereka segera mengeklaim tanggung jawab dan menyebarkan bukti-bukti peretasan guna menciptakan efek kejut dan rasa rentan di pihak lawan.
Starlink hingga Mossad, Iran Klaim Bongkar Operasi Spionase Besar-Besaran
Kementerian Intelijen Iran mengumumkan penangkapan puluhan orang yang dituduh terlibat dalam jaringan spionase dan sabotase di sejumlah wilayah, ketika tekanan keamanan di dalam negeri meningkat di tengah perang dan kekhawatiran pemerintah terhadap gejolak pascakonflik.
Sebagaimana diberitakan Iranintl pada Selasa (31/6/2026), 41 orang dituduh mengirimkan lokasi pos pemeriksaan, pusat pertahanan, dan fasilitas sensitif di Teheran kepada media oposisi yang oleh Teheran disebut terkait dengan Israel.
Pemerintah Iran mengatakan para tersangka juga menandai kompleks permukiman sebagai lokasi militer agar dapat menjadi sasaran serangan. Dari penangkapan itu, aparat menyita tiga perangkat komunikasi, satu pistol, dan satu perangkat internet satelit Starlink.
Masih menurut Kementerian Intelijen Iran, lima anggota dari dua sel yang disebut teroris juga ditangkap di Provinsi Fars sebelum sempat melancarkan aksi. Aparat menyebut mereka menyimpan bom rakitan dan senjata tajam, serta mengirim video dan foto dari lokasi yang terkena serangan rudal dan bom ke jaringan media yang dipandang bermusuhan oleh Teheran.
Di Gilan dan Kermanshah, delapan orang lain yang disebut terkait dengan kelompok teroris pro-Amerika Serikat dan pro-Israel juga ditahan bersama dua pucuk pistol. Klaim-klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi dalam sebulan terakhir Reuters mencatat Iran telah menangkap lebih dari 1.000 orang atas tuduhan memotret lokasi sensitif, menyebarkan materi antigovernment, atau bekerja sama dengan “musuh”.
Gelombang penindakan ini juga membuat kembali mengemuka demonstrasi anti-pemerintah yang pecah pada akhir Desember 2025 dan berlanjut ke Januari 2026. Laporan Al Jazeera saat itu menggambarkan protes dipicu tekanan ekonomi, anjloknya mata uang, dan kenaikan harga yang memukul rumah tangga Iran.
Namun, di saat yang sama, media pemerintah dan aparat keamanan Iran menyatakan sebagian kerusuhan telah ditunggangi aktor asing dan jaringan intelijen yang berupaya mendorong perubahan rezim dari dalam.
Hubungan antara protes dan isu spionase itu kini menjadi bagian dari narasi utama keamanan Iran. Media Iran, termasuk Mehr, melaporkan bahwa pada Januari 2026 Kementerian Intelijen menahan operator yang disebut terkait Mossad dan CIA “selama kerusuhan”, sementara laporan lain menyebut ada jaringan yang berupaya membentuk narasi eksternal atas protes ekonomi di Iran.
Di sisi lain, Reuters melaporkan keresahan pemerintah Iran justru bertambah setelah perang, karena elite keamanan khawatir kerusakan ekonomi akan memicu gelombang penentangan baru begitu pengeboman mereda.
Sebelumnya, pada Juni 2025, Iran juga mengumumkan penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang dituduh terkait Israel. Reuters melaporkan tiga pria dieksekusi pada 25 Juni 2025 setelah dihukum karena bekerja sama dengan Mossad dan menyelundupkan peralatan yang digunakan dalam sebuah pembunuhan.
Pada hari yang sama, Reuters juga melaporkan media pemerintah Iran menyebut sekitar 700 orang ditangkap selama konflik 12 hari atas tuduhan memiliki kaitan dengan Israel.
Dalam pembacaan banyak laporan keamanan Iran dan media internasional, intelijen asing yang paling sering disebut beroperasi terhadap Iran adalah Mossad Israel dan CIA Amerika Serikat.
Penindakan terbaru Iran hampir selalu dikaitkan, secara resmi, dengan jaringan yang dituduhkan berafiliasi ke Israel atau Amerika Serikat. Nama MI6 Inggris kadang muncul dalam klaim resmi Iran, tetapi gelombang penangkapan terbaru paling dominan diarahkan pada orang-orang yang dituduh mengalirkan informasi kepada Israel, atau bekerja untuk kepentingan Washington dan Tel Aviv.
Kepentingan mereka pun berbeda, tetapi saling beririsan. Bagi Israel, fokus utamanya adalah memetakan fasilitas nuklir, jaringan rudal, struktur komando IRGC, dan pergerakan elite keamanan Iran. Bagi Amerika Serikat, sasaran yang lebih luas meliputi program nuklir, kemampuan misil, perilaku regional Iran, dan stabilitas rezim.
Washington Post melaporkan Mossad dan Unit 8200 Israel menjalankan operasi pengumpulan intelijen jangka panjang terhadap lokasi dan pergerakan elit Iran, sementara CIA dan NSA disebut telah lama bekerja sama dalam operasi rahasia terhadap Iran, termasuk dalam operasi siber seperti Stuxnet.
Kerja intelijen yang dilakukan juga tidak semata-mata berupa perekrutan agen klasik. Dalam beberapa tahun terakhir, spektrumnya melebar ke penyadapan digital, infiltrasi jaringan komunikasi, pengumpulan citra lokasi sensitif, pemetaan krisis command center, sampai pengiriman koordinat untuk kepentingan penargetan serangan.
Washington Post menggambarkan bagaimana penetrasi terhadap “sistem saraf digital” Iran, dari panggilan telepon hingga kamera lalu lintas dan sistem keamanan internal, menjadi bagian dari arsitektur intelijen yang menopang serangan presisi Israel.
Reuters, di sisi lain, mencatat banyak tersangka yang ditahan Iran dituduh mengirim lokasi aset militer dan keamanan ke Israel, atau mendokumentasikan area sensitif yang dapat membantu penargetan.
Cara kerja mereka, menurut tuduhan Iran, juga makin menyatu dengan perang informasi. Otoritas Iran kini memperlakukan pengiriman foto, video, dan materi daring tertentu sebagai bentuk “kerja sama intelijen”, bukan lagi sekadar pelanggaran media.
Reuters melaporkan hukum Iran yang diperketat kini memungkinkan hukuman berat, termasuk ancaman hukuman mati dan penyitaan aset, bagi mereka yang dianggap membantu negara bermusuhan. Dalam praktiknya, batas antara aktivitas propaganda, kebocoran informasi, dan spionase menjadi semakin tipis dalam definisi resmi Tehran.
Iran mengklaim keberhasilan membongkar jaringan-jaringan itu dicapai lewat kombinasi operasi teknis, pengawasan elektronik, patroli lapangan, dan penyergapan preventif. Reuters menyebut aparat Iran beberapa kali melaporkan penahanan tersangka di berbagai provinsi, termasuk mereka yang dituduh memantau infrastruktur ekonomi dan lokasi sensitif.
Di saat yang sama, Reuters pernah melaporkan secara investigatif bahwa pembongkaran jaringan mata-mata CIA di Iran pada masa lalu menjadi pukulan bagi kredibilitas operasi rahasia Amerika, menunjukkan bahwa kontraintelijen Iran memiliki kapasitas yang tidak bisa diremehkan.
Tetapi di balik semua itu, ada dimensi politik yang tak kalah penting. Pemerintah Iran melihat kombinasi antara protes domestik, operasi media, penetrasi digital, dan kebocoran lokasi sensitif sebagai satu spektrum ancaman yang mengarah pada tujuan yang sama: menghancurkan objek vital dan instabilitas.
Karena itu, narasi resmi Teheran tidak lagi memisahkan secara tegas antara pembangkangan politik, perang informasi, dan spionase. Bagi aparat keamanan Iran, semuanya telah bertemu dalam satu arena yang sama, menjaga stabilitas.
Akibatnya, respons negara pun bergerak ke arah yang semakin keras. Satu bulan setelah perang dengan Amerika Serikat dan Israel, Reuters melaporkan Iran memperluas penangkapan, pengerahan Basij di pos-pos pemeriksaan, serta penguatan keamanan terhadap kelompok yang dianggap dapat memicu kerusuhan baru.
Dengan ekonomi yang terpukul, infrastruktur rusak, dan memori protes akhir 2025 yang masih segar, penumpasan spionase asing kini bukan hanya dibaca sebagai urusan keamanan, tetapi juga sebagai upaya mencegah runtuhnya kendali politik di dalam negeri.