News Komoditi & Global ( Selasa, 6 Januari 2026 )
News Komoditi & Global ( Selasa, 6 Januari 2026 )
Harga Emas Global Menguat di Tengah Kekacauan Venezuela
Harga Emas (XAU/USD) naik ke sekitar $4.440 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Selasa. Logam mulia ini melanjutkan rally-nya dan mencapai level tertinggi satu minggu di tengah permintaan safe-haven, saat krisis Venezuela menyuntikkan ketidakpastian geopolitik. Para pedagang akan memantau dengan cermat data ekonomi AS yang penting pada hari Jumat, termasuk Nonfarm Payrolls (NFP), untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang prospek kebijakan moneter.
Ketegangan antara AS dan Venezuela telah meningkat ke tingkat baru setelah serangan Pasukan Delta Angkatan Darat AS di Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya pada hari Sabtu. Pada hari Senin, Maduro mengaku tidak bersalah atas tuduhan AS dalam kasus narco-terorisme terhadapnya, memulai pertarungan hukum luar biasa dengan dampak geopolitik yang besar, menurut Bloomberg. Ketegangan geopolitik yang meningkat dan ketidakpastian di wilayah ini memicu permintaan aset-aset safe-haven tradisional seperti Emas.
"Situasi di sekitar Venezuela jelas telah mengaktifkan kembali permintaan safe-haven, tetapi ini juga muncul di atas kekhawatiran yang sudah ada dalam geopolitik, pasokan energi, dan kebijakan moneter," kata Alexander Zumpfe, seorang pedagang logam mulia di Heraeus Metals Jerman.
Ekspektasi dovish pada Federal Reserve (The Fed) AS berkontribusi pada kenaikan logam kuning ini. Risalah Rapat terbaru dari Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed melihat pengurangan suku bunga lebih lanjut sebagai langkah yang tepat selama inflasi menurun seiring waktu, meskipun mereka tetap terpecah tentang kapan dan seberapa jauh akan memotong. Suku bunga yang lebih rendah dapat mengurangi biaya peluang untuk memegang Emas, mendukung logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini.
Semua perhatian akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS bulan Desember pada hari Jumat. Ekonomi AS diprakirakan akan melihat penambahan 55.000 pekerjaan di bulan Desember, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan akan turun menjadi 4,5% selama periode yang sama. Jika laporan menunjukkan hasil yang lebih kuat dari prakiraan, hal ini dapat mendukung Dolar AS (USD) dan melemahkan harga komoditas berdenominasi USD dalam waktu dekat.
Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Pertimbangkan Dampak Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS
Harga minyak dunia bergerak ke zona hijau pagi ini, Senin, 5 Januari 2025 pukul 08.27 WIB setelah fluktuatif seiring pasar menimbang dampak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat terhadap pasokan minyak global dan stabilitas sektor energi negara tersebut. Pada awal perdagangan, harga minyak Brent sempat turun sekitar 1,2% sebelum berbalik pulih dan diperdagangkan di kisaran 61 dollar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar 57 dollar AS per barel. Sementara pada pukul 08.27 WIB, harga Brent menguat ke US$61,12 atau melonjak 0.59%. Sementara itu, minyak WTI jadi US$57,60 alias menguat 0,49%. Bloomberg melaporkan meskipun gejolak politik terjadi di Venezuela, kontribusi negara anggota OPEC tersebut terhadap pasokan global kini relatif kecil. Produksi minyak Venezuela telah merosot dalam dua dekade terakhir dan kini mewakili kurang dari 1% dari suplai global, dengan sebagian besar diekspor ke China. Pasar minyak saat ini juga masih menghadapi surplus pasokan akibat peningkatan produksi dari sejumlah negara di tengah melemahnya permintaan. Dalam catatan risetnya, Capital Economics menilai gangguan jangka pendek pada produksi Venezuela berpotensi mudah diimbangi dari peningkatan produksi negara lain. Pertumbuhan pasokan global selama setahun ke depan bahkan diperkirakan dapat menekan harga minyak menuju US$50 dollar AS per barel. Di sisi kebijakan, OPEC+ tetap pada rencana menghentikan sementara penambahan pasokan pada kuartal pertama tahun ini. Kelompok yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia tersebut tidak secara khusus membahas situasi Venezuela, karena dinilai masih terlalu dini untuk menentukan respons. BACA JUGA Harga Emas Antam Hari Ini 5 Januari 2026 di Pegadaian Grafik Pergerakan IHSG Hari Ini Senin, 5 Januari 2026 Pajak Kendaraan Jawa Barat (Jabar) 2026, KDM Bedakan Perlakuan Mobil Penumpang dan Pribadi Meski terjadi serangan AS, infrastruktur utama migas Venezuela termasuk pelabuhan Jose, kilang Amuay, dan area produksi Sabuk Orinoco dilaporkan tidak terdampak. Namun tekanan AS, termasuk penyitaan kapal tanker, telah memaksa penghentian sementara sejumlah sumur. Sanksi terhadap industri minyak Venezuela dinyatakan tetap berlaku, sementara rencana keterlibatan perusahaan AS untuk membantu pemulihan dinilai membutuhkan proses panjang. Sejumlah analis menilai, faktor surplus pasokan masih menjadi penentu utama pergerakan harga minyak dibandingkan risiko geopolitik. Sementara itu, ketegangan diplomatik berlanjut setelah Amerika Serikat menyatakan akan menggunakan pengaruhnya untuk mendorong perubahan lebih lanjut di Venezuela, yang memicu respons keras dari pemerintah Caracas.
Wall Street: Dow Jones Cetak Rekor, Saham Energi Naik Pasca AS Menyerang Venezuela
Indeks Utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (5/1/2026). Lonjakan saham keuangan mengantar Dow Jones Industrial Average ke rekor tertinggi sepanjang masa. Sementara saham perusahaan energi melonjak pasca serangan militer AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 naik 0,64% ke level 6.902,05. Indeks Nasdaq naik 0,69% ke level 23.395,82, sementara Dow naik 1,23% ke level 48.977,18.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 19,1 miliar saham, dengan rata-rata 15,9 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.
Investor bertaruh bahwa langkah Washington terhadap kepemimpinan Venezuela akan memungkinkan perusahaan-perusahaan AS mengakses cadangan minyak terbesar di dunia.
Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana untuk bertemu dengan para eksekutif dari perusahaan-perusahaan minyak AS minggu ini untuk membahas peningkatan produksi Venezuela.
Indeks energi S&P 500 naik 2,7% ke level tertinggi sejak Maret 2025, dengan saham-saham unggulan seperti Exxon Mobil dan Chevron melonjak.
Produsen senjata juga naik setelah aksi militer Washington. Saham Lockheed Martin dan General Dynamics naik, sementara indeks kedirgantaraan dan pertahanan S&P 500 naik ke rekor tertinggi.
"Saham-saham energi benar-benar diuntungkan dari ekspektasi bahwa Presiden Trump bermaksud mengirim mereka untuk melakukan lebih banyak investasi di Venezuela dan pada akhirnya menghasilkan lebih banyak uang untuk diri mereka sendiri," kata Rob Haworth, ahli strategi investasi senior di U.S. Bank Wealth Management di Seattle.
"Kurangnya kehadiran pasukan tetap di lapangan, fakta bahwa kita tidak terlibat secara permanen, berarti pasar ekuitas yang lebih luas mampu mengesampingkan kekhawatiran akan keterlibatan yang berkepanjangan," kata Haworth.
Saham Tesla naik 3,1% setelah tujuh sesi berturut-turut mengalami kerugian. Saham Nvidia turun 0,4% dan saham Apple turun 1,4%.
Indeks keuangan S&P 500 melonjak 2,2% karena investor menantikan laporan triwulanan yang akan datang. Analis rata-rata memperkirakan perusahaan keuangan S&P 500 akan meningkatkan pendapatan mereka sebesar 6,7% dari tahun ke tahun pada kuartal Desember.
Saham Goldman Sachs dan JPMorgan Chase naik lebih dari 3% dan mencapai rekor tertinggi.
"Suasana pasar cenderung mendukung saham keuangan dalam beberapa hari terakhir dan karena orang-orang melihat di luar sektor teknologi, ini adalah sektor yang banyak dipilih untuk diperhatikan," kata Steve Sosnick, kepala analis pasar di Interactive Brokers.
Indeks utama Wall Street mencatatkan kenaikan dua digit pada tahun 2025 untuk tahun ketiga berturut-turut, tren yang terakhir terlihat pada tahun 2021. Data menunjukkan sektor manufaktur AS mengalami kontraksi lebih besar dari yang diperkirakan pada bulan Desember, memperpanjang penurunan selama 10 bulan.
Perhatian kini akan tertuju pada data penggajian non-pertanian bulanan pada hari Jumat, yang dapat memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve pada tahun 2026.
Pasar memperkirakan penurunan suku bunga sekitar 60 basis poin tahun ini, menurut LSEG.
Saham yang terkait dengan mata uang kripto naik karena bitcoin mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu. Saham Strategy, yang sebelumnya bernama MicroStrategy, naik hampir 5% dan Coinbase naik 7,8%. Goldman Sachs meningkatkan peringkat Coinbase menjadi "beli" dari "netral".
China Kecam Penangkapan Maduro, Tolak Negara Bertindak sebagai Hakim Dunia
Pemerintah China menegaskan penolakannya terhadap praktik negara mana pun yang bertindak sebagai “hakim dunia”, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan pernyataan tersebut saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar di Beijing pada Minggu (4/1/2026).
Meski tidak menyebut Amerika Serikat secara langsung, Wang merujuk pada “perkembangan mendadak di Venezuela”.
“Kami tidak pernah percaya bahwa ada negara yang bisa bertindak sebagai polisi dunia, dan kami juga tidak menerima klaim negara mana pun sebagai hakim dunia,” ujar Wang Yi.
Ia menambahkan bahwa “kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi sepenuhnya berdasarkan hukum internasional.”
Pernyataan ini menjadi komentar resmi pertama Beijing sejak beredarnya gambar Maduro dalam kondisi diborgol dan ditutup matanya yang mengejutkan publik Venezuela pada Sabtu lalu.
Maduro kini ditahan di pusat penahanan New York dan dijadwalkan menghadapi sidang pengadilan pada Senin terkait tuduhan narkotika.
China dalam beberapa tahun terakhir berambisi memperkuat perannya sebagai kekuatan diplomatik global.
Ambisi tersebut terlihat jelas ketika Beijing berhasil memediasi rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Iran pada 2023, sekaligus berjanji memainkan “peran konstruktif dalam isu-isu global yang menjadi titik panas”.
Kepercayaan diri China juga meningkat seiring keberhasilannya menghadapi Amerika Serikat dalam negosiasi perdagangan, menurut para analis.
Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Washington akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu menjadi ujian serius bagi kemitraan strategis komprehensif segala cuaca antara China dan Venezuela yang disepakati pada 2023, bertepatan dengan hampir 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
“Itu pukulan besar bagi China. Kami ingin tampil sebagai sahabat yang dapat diandalkan bagi Venezuela,” kata seorang pejabat pemerintah China yang mengetahui pertemuan antara Maduro dan utusan khusus China untuk Amerika Latin dan Karibia, Qiu Xiaoqi, beberapa jam sebelum penangkapan tersebut.
Pejabat itu juga menyebutkan bahwa putra Maduro sempat mengunjungi Universitas Peking pada 2024, tempat ia pertama kali mendaftar pada 2016.
Namun, mereka mengaku belum yakin apakah ia akan kembali ke China, meskipun Beijing telah menjalin keterlibatan diplomatik jangka panjang dengan Caracas, termasuk di bidang pendidikan.
Sebagai ekonomi terbesar kedua dunia, China telah menjadi penopang ekonomi penting bagi Venezuela sejak Amerika Serikat dan sekutunya memperketat sanksi pada 2017. Pada 2024, China tercatat membeli barang senilai sekitar US$1,6 miliar dari Venezuela, berdasarkan data tahunan terbaru.
Hampir separuh pembelian tersebut berupa minyak mentah, menurut data bea cukai. Selain itu, perusahaan minyak milik negara China telah menanamkan investasi sekitar US$4,6 miliar di Venezuela hingga 2018, berdasarkan data lembaga pemikir American Enterprise Institute yang memantau investasi korporasi China di luar negeri.
Trump Ancam Serangan Kedua ke Venezuela Jika Pemerintah Tak Kooperatif
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington tidak menutup kemungkinan melancarkan serangan militer kedua ke Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro, jika sisa pemerintahan di Caracas tidak bekerja sama dengan upaya AS untuk “membereskan” negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pada Minggu (4/1/2026), dan membuka peluang eskalasi intervensi militer AS di Amerika Latin.
Maduro saat ini ditahan di New York dan dijadwalkan menjalani sidang pada Senin atas tuduhan perdagangan narkoba.
Penangkapannya oleh AS memicu ketidakpastian besar terkait masa depan negara kaya minyak tersebut.
Trump mengatakan pemerintahannya akan bekerja sama dengan pejabat yang masih tersisa dari rezim Maduro untuk memberantas perdagangan narkoba dan merombak industri minyak, alih-alih mendorong pemilu cepat untuk membentuk pemerintahan baru.
Namun, ia juga memperluas ancaman ke negara lain. Trump menyebut Kolombia dan Meksiko berpotensi menghadapi tindakan militer jika tidak menekan arus narkoba ke Amerika Serikat.
“Operation Colombia sounds good to me,” ujar Trump.
Ia juga menyebut Kuba, sekutu dekat Venezuela, tampak “siap jatuh dengan sendirinya” tanpa intervensi militer AS.
Pejabat tinggi Venezuela mengecam penahanan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, sebagai tindakan penculikan. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello menegaskan Maduro tetap presiden yang sah.
“Di sini hanya ada satu presiden, Nicolas Maduro Moros,” kata Cabello dalam rekaman audio yang dirilis partai berkuasa PSUV.
Menteri Pertahanan Jenderal Vladimir Padrino mengatakan serangan AS menewaskan tentara, warga sipil, dan sebagian besar pengawal presiden.
Kuba juga menyebut 32 warganya tewas dalam operasi tersebut.
Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang juga menjabat Menteri Perminyakan, kini mengambil alih sebagai pemimpin sementara dengan dukungan Mahkamah Agung Venezuela.
Ia membantah klaim Trump bahwa dirinya bersedia bekerja sama dengan AS.
Trump bahkan memperingatkan Rodriguez bisa menghadapi “harga yang lebih mahal” jika tidak “melakukan hal yang benar,” menurut wawancara Trump dengan The Atlantic.
Meski AS menyebut penangkapan Maduro sebagai operasi penegakan hukum atas dakwaan tahun 2020, Trump secara terbuka menyatakan bahwa akses penuh perusahaan minyak AS ke cadangan Venezuela menjadi kepentingan utama.
Ia juga menuding Maduro mengirim jutaan migran, termasuk narapidana dan pelaku kejahatan, ke AS.
Pemerintah Venezuela membantah tudingan tersebut dan menilai AS hanya mengincar sumber daya alam negara itu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pemimpin Venezuela berikutnya harus menjaga industri minyak dari pengaruh musuh AS dan menghentikan perdagangan narkoba. Ia juga menyebut blokade tanker masih berlangsung.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan untuk membahas operasi tersebut. Rusia dan China, dua sekutu utama Venezuela, telah mengecam tindakan AS dan mempertanyakan legalitas penangkapan kepala negara asing.
Di dalam negeri AS, Pemimpin Mayoritas Demokrat di Senat Chuck Schumer memperingatkan risiko perang tanpa batas waktu, yang justru bertentangan dengan janji kampanye Trump.
Di jalanan Venezuela, situasi relatif tenang namun diliputi kecemasan. Sejumlah warga mulai menimbun kebutuhan pokok, sementara aktivitas ekonomi terbatas masih berjalan.
Hubungan dengan China Tegang, Trump Undang PM Jepang ke AS
Presiden AS Donald Trump mengundang Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi untuk berkunjung ke Amerika Serikat tahun ini. Hal itu diutarakan Trump dalam percakapan telepon pada Jumat (2/1/2026). Demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Jepang.
Jika terealisasi, kunjungan ini akan menjadi lawatan pertama pemimpin ultrakonservatif tersebut ke AS sejak menjabat pada Oktober lalu.
AP melaporkan, Gedung Putih belum mengonfirmasi percakapan maupun undangan tersebut. Undangan ini muncul di tengah hubungan Jepang–China yang tengah menegang dan meningkatkan ketegangan kawasan. Amerika Serikat, sebagai sekutu dekat Jepang, berupaya memperkuat hubungan dengan Tokyo sekaligus menstabilkan relasinya dengan Beijing, menjelang rencana kunjungan Trump ke China pada April mendatang.
China pekan ini menggelar latihan militer selama dua hari di perairan sekitar Taiwan. Takaichi, perdana menteri perempuan pertama Jepang, memicu kemarahan Beijing akhir tahun lalu setelah menyatakan bahwa aksi militer China terhadap Taiwan dapat menjadi dasar respons militer Jepang, meninggalkan sikap ambigu strategis yang selama ini dianut para pemimpin Jepang sebelumnya.
Dalam pernyataan Jumat, Kementerian Luar Negeri Jepang menyebut Takaichi dan Trump sepakat mengoordinasikan kunjungan tersebut agar berlangsung pada musim semi. Kantor berita Kyodo melaporkan bahwa kunjungan itu berpotensi bertepatan dengan festival bunga sakura tahunan di Washington.
Kedua pemimpin menegaskan komitmen untuk “membuka babak baru dalam sejarah aliansi Jepang–AS” pada tahun peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat, serta “memperdalam hubungan persahabatan,” termasuk di bidang ekonomi dan keamanan.
Takaichi dan Trump juga sepakat mendorong kerja sama dengan mitra yang memiliki pandangan sejalan, termasuk kemitraan Jepang–AS–Korea Selatan, serta mendukung Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
Kementerian Luar Negeri Jepang menyebut kedua pemimpin bertukar pandangan terutama mengenai kawasan Indo-Pasifik, tanpa merinci apakah mereka membahas langkah terbaru Beijing.
Latihan militer China di sekitar Taiwan berlangsung setelah pemerintahan Trump mengumumkan paket penjualan senjata ke Taiwan senilai lebih dari US$ 11 miliar. Jika disetujui Kongres, paket tersebut akan menjadi bantuan militer terbesar AS ke Taiwan, dan menuai kritik keras dari Beijing.
China mengklaim kedaulatan atas Taiwan dan berjanji merebutnya, dengan kekuatan militer bila perlu. AS, berdasarkan hukum domestiknya, berkewajiban membantu Taiwan dengan persenjataan yang cukup untuk mencegah serangan dari China daratan.
Trump pada Senin mengatakan ia tidak diberi tahu sebelumnya mengenai latihan militer China tersebut, namun tetap menonjolkan hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping.
Trump sebelumnya bertemu Takaichi di Tokyo pada Oktober, tak lama setelah ia menjabat. Keduanya saling bertukar pernyataan hangat, dan Trump mengajak Takaichi saat ia berpidato di hadapan pasukan AS di atas kapal induk Amerika di Jepang.
Undangan Trump kepada Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mencerminkan upaya Amerika Serikat memperkuat poros aliansi Indo-Pasifik di tengah meningkatnya ketegangan dengan China, terutama terkait Taiwan, sekaligus menunjukkan dilema strategis Washington yang ingin menekan Beijing namun tetap menjaga stabilitas hubungan bilateral. Langkah ini juga menandai pergeseran Jepang dari ambiguitas strategis menuju sikap keamanan yang lebih terbuka dan berisiko memicu eskalasi geopolitik kawasan.
BOJ Siap Naikkan Suku Bunga Jika Inflasi dan Ekonomi Sesuai Proyeksi
Gubernur Bank Sentral Jepang Kazuo Ueda mengatakan bahwa bank sentral akan terus menaikkan suku bunga jika perkembangan ekonomi dan inflasi bergerak sesuai dengan perkiraannya.
Mengutip Reuters, Senin (5/1/2026), Ueda dalam pidato yang disampaikan di hadapan lobi perbankan Jepang mengatakan bahwa ekonomi Jepang mempertahankan pemulihan moderat tahun lalu meskipun terjadi penurunan laba perusahaan akibat tarif AS yang lebih tinggi.
“Upah dan inflasi kemungkinan besar akan naik bersamaan secara moderat,” kata Ueda.
Ia menambahkan bahwa penyesuaian tingkat dukungan moneter akan membantu perekonomian mencapai pertumbuhan berkelanjutan.
Bank Sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga kebijakannya ke level tertinggi dalam 30 tahun, yaitu 0,75% dari 0,5% bulan lalu, mengambil langkah penting lainnya dalam mengakhiri puluhan tahun dukungan moneter besar-besaran dan biaya pinjaman mendekati nol.
Meskipun demikian, biaya pinjaman riil Jepang tetap sangat negatif dengan inflasi konsumen melebihi target BOJ sebesar 2% selama hampir empat tahun.
Pasar berfokus pada laporan prospek triwulanan BOJ yang akan dirilis pada pertemuan kebijakan tanggal 22-23 Januari, untuk mendapatkan petunjuk tentang bagaimana dewan tersebut memandang dampak inflasi dari penurunan yen baru-baru ini.
Melemahnya yen telah mendorong kenaikan biaya impor dan inflasi secara lebih luas, sehingga beberapa anggota dewan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut dan bertahap.
Dolar AS naik 0,2% menjadi 157,08 yen pada hari Senin setelah mencapai 157,255 untuk pertama kalinya sejak 22 Desember.
Ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga BOJ lebih lanjut telah mendorong kenaikan imbal hasil, dengan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 10 tahun acuan sempat mencapai level tertinggi 27 tahun di 2,125% pada hari Senin.
Berbicara di hadapan lobi perbankan yang sama, Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan Jepang berada pada tahap kritis dalam peralihan menuju ekonomi yang didorong pertumbuhan, dari ekonomi yang terperangkap dalam deflasi.
Korea Utara Sebut Serangan AS ke Venezuela Tindakan Biadab
Korea Utara pada Ahad (4/1/2026) mengecam keras serangan terbaru Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang menyebabkan penangkapan presiden negara tersebut.
Pyongyang menyebut tindakan Washington sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan contoh lain dari sifat jahat dan biadabnya.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengatakan Pyongyang memahami beratnya situasi yang saat ini dihadapi Venezuela, yang menurutnya disebabkan oleh tindakan paksaan Amerika Serikat. Juru bicara tersebut memperingatkan meningkatnya ketidakstabilan akan semakin memperburuk situasi regional yang sudah rapuh.
“Insiden ini menjadi contoh lain dari sifat jahat dan biadab Amerika Serikat, sifat yang telah disaksikan komunitas internasional berkali-kali selama bertahun-tahun,” kata kementerian tersebut dilaporkan kantor berita resmi Korea Utara, KCNA.
Korea Utara menggambarkan tindakan AS sebagai bentuk hegemoni dan pelanggaran kedaulatan yang paling serius. Pyongyang menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional. Prinsip dasarnya meliputi penghormatan terhadap kedaulatan, nonintervensi dalam urusan internal, serta integritas wilayah.
Pyongyang mendesak komunitas internasional menyuarakan protes terhadap Amerika Serikat dan menanggapi krisis Venezuela secara serius. Korea Utara juga memperingatkan bahwa krisis tersebut telah membawa konsekuensi buruk bagi stabilitas regional dan hubungan internasional.
Pemerintah Venezuela pada Sabtu pagi (3/1/2026) menyatakan Amerika Serikat menyerang instalasi sipil dan militer di sejumlah negara bagian, sebelum kemudian menetapkan status darurat nasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi serangan berskala besar tersebut. Ia menyatakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Keduanya disebut telah dibawa ke pusat penahanan di New York.
Serangan itu terjadi setelah berbulan-bulan tekanan Amerika Serikat terhadap Maduro, yang dituduh Washington terlibat dalam perdagangan narkoba. Tuduhan tersebut dibantah oleh pemimpin Venezuela itu. Maduro menyatakan kesiapan untuk berdialog.
Respons Serangan Amerika, Kim Jong Un Luncurkan Dua Rudal Balistik Sekaligus
Hanya beberapa jam setelah serangan kilat Amerika Serikat mengguncang Caracas dan berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, dunia kembali dikejutkan oleh reaksi keras dari belahan bumi lain.
Pyongyang, yang tampaknya melihat peristiwa di Venezuela sebagai cermin ancaman bagi rezimnya sendiri, langsung membalas dengan peluncuran rudal balistik. Langkah provokatif ini bukan sekadar uji coba militer biasa, melainkan sebuah pesan peringatan dini dari Kim Jong Un, sebuah pernyataan bahwa Pyongyang siap melawan sebelum skenario serupa menyentuh tanah mereka.
Korea Utara meluncurkan setidaknya dua rudal balistik pada hari Ahad (4 Januari 2026), bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung ke China, sekutu utama Pyongyang. Peluncuran ini, yang merupakan yang pertama dalam dua bulan terakhir, semakin memperhebat ketegangan global pasca-serangan AS di Venezuela yang mengakibatkan penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Rudal yang baru saja diluncurkan oleh Korea Utara diidentifikasi sebagai jenis Rudal Balistik Jarak Menengah (IRBM) dan Rudal Balistik Antarbenua (ICBM). Salah satu yang paling menonjol adalah Hwasong-18, sebuah rudal ICBM berbahan bakar padat yang menjadi andalan baru rezim Kim Jong Un. Penggunaan bahan bakar padat ini merupakan lompatan teknologi krusial karena memungkinkan rudal diluncurkan dengan waktu persiapan yang sangat singkat dan sulit dideteksi oleh sistem radar peringatan dini milik Amerika Serikat maupun sekutunya.
Selain ICBM, militer Korea Selatan juga mendeteksi peluncuran rudal balistik taktis jarak pendek yang dikenal sebagai KN-23 (Hwasong-11A). Rudal ini memiliki karakteristik terbang rendah dan mampu bermanuver di udara untuk menghindari sistem pertahanan udara musuh. Kehadiran kedua jenis rudal ini dalam waktu yang berdekatan bertujuan untuk memamerkan kapasitas serangan ganda Pyongyang: baik serangan taktis di kawasan Semenanjung Korea maupun serangan strategis yang mampu menjangkau wilayah daratan Amerika Serikat sebagai bentuk "pencegahan agresif" atas peristiwa di Venezuela.
Korea Utara dengan tegas mengecam tindakan AS, menyatakan bahwa Washington "secara terang-terangan melanggar kedaulatan Venezuela" dan menunjukkan "sifat jahat serta brutal" Amerika Serikat, sebagaimana diberitakan Reuters.
Peluncuran rudal dari ibu kota Pyongyang menuju laut antara Semenanjung Korea dan Jepang dilakukan beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung memulai kunjungan kenegaraannya ke China. Kunjungan itu bertujuan mempromosikan perdamaian di Semenanjung Korea melalui pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping.
Menurut Lim Eul-chul, profesor di Institut Studi Asia Timur di Seoul, peluncuran ini merupakan "pesan kepada China untuk mencegah hubungan lebih dekat dengan Korea Selatan serta melawan sikap China terhadap denuklirisasi". Ia menambahkan, Korea Utara juga ingin menyampaikan bahwa "kami berbeda dari Venezuela", sebagai kekuatan nuklir dan militer yang siap merespons dengan "pencegahan agresif".
Merujuk pada pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Bong Young-shik, profesor tamu di Universitas Yonsei, menyatakan: "Setelah melihat apa yang terjadi di Venezuela saat ini, orang yang paling takut adalah Kim Jong Un."
Seoul dan Tokyo langsung mengkritik peluncuran rudal tersebut. Kantor Kepresidenan Korea Selatan menggelar pertemuan keamanan darurat dan mendesak Korea Utara menghentikan "tindakan provokatif yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB".
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan bahwa peluncuran itu mengancam perdamaian serta keamanan kawasan dan komunitas internasional. "Pemerintah kami menyampaikan protes keras kepada Korea Utara dan mengutuknya dengan tegas," ujar Koizumi dalam pernyataannya.
Pasukan AS untuk Indo-Pasifik menyatakan bahwa "peristiwa ini tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel atau wilayah AS, maupun terhadap sekutu kami", sambil menambahkan bahwa AS sedang berkonsultasi erat dengan sekutu dan mitranya.
Rudal-rudal tersebut, yang diluncurkan sekitar pukul 07.50 pagi (2250 GMT hari Sabtu), terbang sejauh sekitar 900 km, menurut militer Korea Selatan. Jepang menyebut ada setidaknya dua rudal yang terbang sekitar 900 km dan 950 km. Peluncuran rudal balistik terakhir Pyongyang terjadi pada 7 November lalu.
Pada hari Sabtu, Kim Jong Un menyerukan peningkatan lebih dari dua kali lipat kapasitas produksi senjata berpemandu taktis selama kunjungan ke sebuah pabrik amunisi, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Korea Utara.
Dalam beberapa minggu terakhir, Kim telah melakukan serangkaian kunjungan ke pabrik-pabrik senjata, termasuk ke kapal selam bertenaga nuklir, serta mengawasi uji coba rudal menjelang Kongres Partai Buruh Kesembilan tahun ini yang akan menetapkan tujuan kebijakan utama.
Korea Selatan mengharapkan Beijing berperan dalam mempromosikan perdamaian di Semenanjung Korea, kata Wi Sung-lac, penasihat keamanan Presiden Lee, tanpa merinci agenda KTT tersebut. Para ahli menyebut agenda Lee dengan Xi mencakup upaya membujuk China memfasilitasi dialog dengan Korea Utara, di saat Pyongyang menolak tawaran dari Lee yang baru menjabat tujuh bulan.
Pengembangan teknologi rudal balistik Korea Utara merupakan salah satu transformasi militer paling signifikan di abad ke-21, yang berawal dari rekayasa terbalik (reverse engineering) teknologi Uni Soviet. Pada dekade 1980-an, Pyongyang mulai memodifikasi rudal taktis jarak pendek seri Scud-B yang diperoleh dari Mesir. Proyek yang kemudian melahirkan rudal Hwasong-5 ini menjadi fondasi awal bagi para ilmuwan lokal untuk memahami mekanika pendorong roket dan sistem pemandu dasar yang menjadi cikal bakal kekuatan strategis mereka.
Memasuki era 1990-an hingga awal 2000-an, Korea Utara mulai mengembangkan mesin yang lebih bertenaga, yang dikenal sebagai mesin Nodong. Keberhasilan ini memungkinkan mereka menciptakan rudal jarak menengah yang mampu menjangkau seluruh wilayah Jepang. Pada fase ini, Pyongyang tidak lagi sekadar meniru, tetapi mulai melakukan modifikasi desain secara mandiri. Mereka memanfaatkan celah pasar gelap teknologi sisa Perang Dingin untuk memperoleh komponen-komponen vital seperti mesin roket RD-250 dari wilayah bekas Uni Soviet.
Percepatan teknologi yang luar biasa terjadi di bawah kepemimpinan Kim Jong Un sejak 2011. Fokus utama dialihkan pada pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu mencapai daratan Amerika Serikat. Melalui seri Hwasong-14 dan Hwasong-15, Korea Utara berhasil menguji coba rudal dengan lintasan lofted (menukik tinggi) untuk membuktikan kemampuan mesin dan ketahanan material re-entry vehicle saat menembus kembali atmosfer bumi dengan panas yang ekstrem.
Salah satu lompatan teknologi paling krusial yang dicapai Pyongyang dalam beberapa tahun terakhir adalah transisi dari bahan bakar cair ke bahan bakar padat. Rudal seperti Hwasong-18 menggunakan bahan bakar padat yang memungkinkannya disimpan dalam kondisi siap tembak tanpa perlu pengisian bahan bakar yang memakan waktu lama di lapangan. Inovasi ini secara drastis meningkatkan daya tahan rudal terhadap serangan dini (preemptive strike) karena proses peluncurannya menjadi jauh lebih cepat dan sulit dideteksi oleh satelit mata-mata musuh.
Selain hulu ledak tunggal, Korea Utara kini mulai mengembangkan teknologi Multiple Independently Targetable Reentry Vehicle (MIRV). Teknologi ini memungkinkan satu rudal balistik membawa beberapa hulu ledak sekaligus yang dapat menyerang target berbeda secara terpisah. Pengembangan ini bertujuan untuk membingungkan dan melampaui kapasitas sistem pertahanan rudal Amerika Serikat yang ada saat ini, sehingga memastikan setidaknya satu hulu ledak tetap dapat menembus sasaran meskipun ada upaya intersepsi.
Hingga Januari 2026, pengembangan ini juga mencakup integrasi teknologi kendaraan peluncur yang semakin canggih, seperti penggunaan peluncur seluler (Transporter Erector Launcher atau TEL) yang diproduksi secara mandiri. Dengan mobilitas yang tinggi di kawasan pegunungan dan penggunaan bunker bawah tanah, teknologi rudal Korea Utara telah berevolusi dari sekadar ancaman regional menjadi kekuatan pencegah nuklir yang matang dan sulit untuk dilumpuhkan secara total oleh kekuatan militer mana pun di dunia.
Ada Mossad di Balik Kerusuhan di Iran?
Kerusuhan menyusul aksi unjuk rasa memrotes kondisi ekonomi di Iran terus meningkat belakangan. Apakah aksi tersebut murni keresahan warga Iran atau ada tangan-tangan asing bermain di belakangnya?
Apa yang awalnya merupakan serangkaian protes murni, yang berasal dari keluhan ekonomi Iran, menurut the Palestine Chronicles, telah berubah menjadi operasi intelijen Israel yang berupaya untuk menggoyahkan Iran. Bkan suatu kebetulan jika pada hari keberangkatan PM Israel dari Amerika Serikat, Presiden Trump mengeluarkan ancaman untuk melakukan intervensi militer.
Aksi di Iran bermula pada 28 Desember, saat para pemilik toko turun ke jalan di berbagai lokasi di Iran. Mereka memprotes kesalahan manajemen pemerintah yang telah memperburuk krisis inflasi di negara tersebut, yang awalnya dipicu oleh sanksi ekonomi Barat.
Selama beberapa hari pertama demonstrasi, tidak ada kejadian luar biasa yang terjadi, kecuali beberapa kejadian yang terisolasi. Faktanya, ketika unsur-unsur permusuhan muncul dalam aksi protes, terdapat beberapa contoh rekaman dimana mereka diusir oleh massa sendiri dan dituduh sebagai agen.
Protes sering terjadi di Iran karena berbagai alasan dan berakhir tanpa kekerasan. Misalnya, sebuah protes terjadi pada awal bulan Desember, di mana sekitar 5.000 orang diduga melakukan demonstrasi di fasilitas minyak South Pars, yang merupakan aksi protes terbesar sepanjang tahun. Namun, di media sosial, video-video lama dari tahun 2022 dan 2019 beredar bersama dengan klip dan foto yang dibuat oleh AI, yang menggambarkan revolusi nasional.
Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett kemudian menerbitkan pesan video yang menegaskan solidaritasnya terhadap dugaan revolusi yang disebut-sebut sedang terjadi. Pada titik ini, tidak ada hal besar yang terjadi di Iran. Namun pesannya jelas: Israel akan meningkatkan ketegangan.
Belakangan, keturunan Shah Iran yang digulingkan ikut serta dalam aksi tersebut, dan mengklaim untuk kesekian kalinya tahun ini bahwa “rezim telah jatuh” dan bahwa ia akan “kembali.” Reza Pahlavi, yang oleh Israel dijuluki sebagai “Putra Mahkota” sejak kunjungannya ke Tel Aviv pada 2023, ingin memulihkan monarki turun-temurun, sekaligus mendukung sistem yang berlawanan, yaitu demokrasi.
Pada Hari Tahun Baru, agen intelijen bekerja keras, mengoordinasikan kerusuhan dan serangan bersenjata melalui kelompok Telegram, menembaki pasukan keamanan, merobohkan patung dan poster, membakar toko, mobil, dan bahkan petugas polisi.
Semuanya seiring dengan meluasnya kampanye propaganda terkoordinasi Israel secara online. Akun Israel berbahasa Persia di X bahkan menerbitkan gambar polisi Iran yang dibuat dengan AI menggunakan meriam air terhadap seorang pengunjuk rasa.
Media oposisi Iran bahkan mulai menyatakan bahwa kota-kota telah “jatuh ke tangan revolusi,” bahwa pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sedang melarikan diri, dan bahwa Ayatollah Khamenei telah melarikan diri dari Teheran, namun ternyata tidak ada satupun yang benar.
Kemudian datatiba nglah mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, yang berkomentar, "Selamat Tahun Baru untuk setiap warga Iran di jalanan. Juga untuk setiap agen Mossad yang berjalan di samping mereka...".
Selama protes 2022, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini Kurdi-Iran dalam tahanan polisi, terbukti terdapat pengaruh terhadap gerakan ini dari badan intelijen dan media asing yang berupaya mencapai perubahan rezim. Namun, protes ini jelas mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat Iran, yang semuanya mendukung bendera “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan”.
Pada tahun 2022, seperti halnya protes besar di masa lalu ketika kerusuhan besar terjadi, elemen kerakyatan terlihat jelas; ada banyak sekali pernyataan yang dikeluarkan secara publik dan protes yang diorganisir secara publik pada waktu dan lokasi yang berbeda.
Kali ini, tulis Palestine Chronicles justru sebaliknya. Entah dari mana, seorang pria bertopeng, sekelompok kecil bersenjata yang membawa senjata, atau sekelompok preman akan muncul untuk menyerang pasukan keamanan, menyerbu kantor polisi, membakar bisnis atau mobil, dan sebagainya. Semua serikat pekerja besar di Iran, yang awalnya mendukung protes pemilik toko, kini juga mengutuk kerusuhan yang sedang berlangsung.
Tidak adanya slogan pemersatu, tidak adanya penyebab nyata, dan keluhan ekonomi bukanlah penyebab terjadinya insiden kekerasan. Kekerasan tampaknya paling banyak terjadi di Iran bagian barat dan di kalangan kelompok minoritas, dan kemudian, secara tiba-tiba, insiden kekerasan terjadi di wilayah terpencil di seluruh negeri. Sebuah kelompok militan bersenjata bahkan berusaha menerobos perbatasan provinsi Sistan dan Baluchistan di Iran.
Dalam dua hari pertama kekerasan di tahun baru, berbagai upaya dilakukan untuk menyerbu kantor polisi, gedung pemerintah, dan gudang senjata, namun semuanya tampaknya gagal. Namun pada 1 Januari, dua petugas polisi Iran dibunuh, satu orang juga mengalami koma setelah para perusuh memukul dan menikamnya, dan tiga perusuh ditembak mati.
Seorang anggota pasukan paramiliter sukarelawan Basij Iran dieksekusi oleh enam preman bertopeng saat dia beroperasi dalam kapasitas sipil, tanpa senjata. Keluarga pria berusia 22 tahun itu bahkan terpaksa berbohong bahwa dia adalah anggota Basij setelah ada ancaman untuk menyerang pemakamannya.
Di Qom, pada 2 Januari, seorang pria yang membawa bahan peledak rakitan ditembak mati ketika dia mencoba melemparkan alat tersebut ke arah pasukan keamanan. Ambulans bahkan dilempari batu di dekat ibu kota Iran.
Dalam reaksi publik pertamanya terhadap protes yang sedang berlangsung di seluruh negeri, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari Sabtu mengatakan kekhawatiran para pedagang adalah wajar, namun memperingatkan bahwa ada “tangan musuh” di balik fluktuasi mata uang baru-baru ini.
Berbicara pada sebuah pertemuan di Teheran, pemimpin Iran tersebut mengatakan bahwa kelas pedagang dan pemilik toko adalah salah satu “segmen negara yang paling loyal terhadap sistem Islam.”
Dia mencatat bahwa protes baru-baru ini sebagian besar dipimpin oleh para pemilik toko, dan kekhawatiran mereka terhadap fluktuasi konstan dalam mata uang nasional, real, adalah benar.
“Ketika seorang pedagang pasar melihat situasi moneter suatu negara, penurunan nilai mata uang nasional dan ketidakstabilan harga mata uang, dalam dan luar negeri, yang menyebabkan lingkungan bisnis kurang stabil, dia berkata 'Saya tidak bisa berbisnis.' Dia mengatakan yang sebenarnya,” kata Khamenei, menyatakan dukungannya kepada para pedagang.
Ia dengan cepat menambahkan bahwa para pejabat pemerintah “berusaha untuk menyelesaikan masalah ini,” dan menyimpulkan bahwa ada juga “tangan musuh” di balik perkembangan terakhir ini.
Khamenei mengatakan lonjakan dan kenaikan harga mata uang asing yang tidak terkendali, serta ketidakstabilannya—yang membuat para pemilik toko tidak yakin akan masa depan mereka—adalah hal yang “tidak wajar.”
"Ini adalah pekerjaan musuh. Tentu saja, ini harus dihentikan. Dengan berbagai tindakan, baik presiden dan pimpinan cabang lainnya, serta pejabat lainnya, berusaha untuk memperbaiki keadaan. Oleh karena itu, protes kaum bazaar terhadap masalah ini adalah sah," kata Khamenei.
“Yang penting adalah sekelompok agen tentara bayaran musuh yang terprovokasi berdiri di belakang pasar dan meneriakkan slogan-slogan melawan Islam, melawan Iran, dan melawan Republik Islam.”
Ia mengatakan protes adalah hal yang wajar, namun menekankan bahwa protes tersebut “berbeda dengan kerusuhan,” dan bahwa para pejabat harus berbicara dengan para pengunjuk rasa, bukan dengan para perusuh.
Pemimpin Iran tersebut mengatakan beberapa individu, yang bertindak dengan maksud untuk membuat negara tidak aman, “mengeksploitasi protes para pedagang dan menciptakan kerusuhan,” dan menggambarkan tindakan tersebut sebagai “tidak dapat diterima.”
"Kita harus mengenali tindakan musuh, musuh tidak tinggal diam dan memanfaatkan setiap peluang. Di sini mereka melihat peluang dan ingin memanfaatkannya," ujarnya.
Miliarder Ini Terkejut AS Tangkap Maduro: Apa Hak Amerika Menyerang Negara Berdaulat?
Seorang miliarder Dubai mengatakan dia terkejut oleh serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela dan penangkapan presidennya, Nicolas Maduro, pada Sabtu pekan lalu. Dia pun bertanya "Siapa yang memberikan izin Amerika?" dan "Apa hak Amerika untuk menyerang negara berdaulat". Khalaf Al Habtoor, miliarder yang juga ketua konglomerat Al Habtoor Group yang berbasis di Dubai, heran dengan logika Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan penangkapan Maduro dan kemudian mengambil alih negara Venezuela. Baca Juga: Mengapa Militer Venezuela Diam Saja saat Militer AS Mengacak-acak dan Menculik Maduro? "Apa yang terjadi di dunia kita saat ini? Dengan logika apa kita bisa mendengar pernyataan dari Trump yang dengan mudah mengumumkan bahwa 'Kami telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan kami akan memerintah Venezuela sampai pemerintahan transisi dibentuk'. Bagaimana mungkin sebuah negara dengan 30 juta penduduk dikuasai oleh sebuah keputusan dan nasib seluruh rakyat ditentukan dengan begitu mudahnya?" kata miliarder tersebut, sebagaimana dikutip dari Khaleej Times, Senin (5/1/2026). Pada hari Sabtu, Trump mengumumkan bahwa AS akan mengelola Venezuela setelah penangkapan Maduro dan akan mengambil kembali minyak Venezuela, dengan alasan bahwa minyak tersebut harus digunakan untuk mengganti pengeluaran Washington di masa lalu. “Saya terkejut! Saya tidak mengerti bagaimana pernyataan ini dapat diucapkan secara terbuka, seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Apakah kedaulatan negara telah menjadi hal yang sepele? Apakah sudah dapat diterima jika satu pihak memutuskan siapa yang memerintah, kapan, bagaimana, dan dalam kondisi apa?”, kata Khalaf Al Habtoor di platform media sosial. “Ini bukan perselisihan politik, atau perselisihan diplomatik. Ini adalah pertanyaan etika dan kemanusiaan sebelum menjadi pertanyaan politik: Siapa yang memberikan hak ini, dan siapa yang membiarkan sebuah negara dijadikan sandera? Bagaimana sikap komunitas internasional dan PBB mengenai apa yang telah terjadi?” paparnya. Dia memperingatkan bahwa hal yang paling berbahaya adalah pelanggaran kedaulatan ini telah membuka pintu, dan tidak ada yang tahu ke mana hal itu akan membawa dunia. Miliarder Dubai yang dikenal sebagai filantropis ini cukup terbuka tentang isu-isu politik, sosial, dan moral lokal dan global. Dia juga secara rutin mengadakan pertemuan di Dubai untuk membahas isu-isu sosial dan budaya terkini. Pada Oktober 2025, Al Hatboor menulis surat terbuka kepada Presiden AS dengan proposal rencana rekonstruksi Gaza yang mencakup pembangunan rumah dan lapangan kerja bagi masyarakat di Gaza. Baru-baru ini, dia mendesak warga Emirat muda untuk menikah dan menyerukan agar undang-undang diberlakukan untuk mendorong warga lokal menikah sebelum usia 30 tahun. Dia menambahkan bahwa warga negara muda yang menahan diri untuk menikah tanpa alasan yang sah harus "dimintai pertanggungjawaban", karena ini adalah masalah kelangsungan hidup dan kohesi masyarakat.