News Komoditi & Global ( Selasa, 10 Februari 2026 )

News  Komoditi & Global

                                  (  Selasa,   10  Februari  2026  )

 

Harga Emas Global Jatuh saat Pedagang Menunggu Data Tenaga Kerja AS

 

Harga Emas (XAU/USD) menarik beberapa penjual di dekat $5.035 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Selasa. Logam mulia ini sedikit turun di tengah sentimen risiko yang membaik dan beberapa aksi profit taking. Para pedagang bersiap untuk menghadapi data ekonomi AS yang penting pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan dan inflasi yang sebelumnya tertunda.

Logam kuning ini mundur setelah naik selama dua hari sebelumnya, saat para pedagang kembali ke ekuitas dengan sentimen risiko yang membaik. S&P 500 melanjutkan rally ke dekat level tertinggi sepanjang masa setelah minggu yang volatil. Selain itu, harapan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat melemahkan aset-aset tradisional seperti Emas. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menggambarkan perundingan nuklir pada hari Jumat dengan AS sebagai "sebuah kemajuan," meskipun ia menolak segala upaya intimidasi.

Potensi penurunan harga Emas mungkin terbatas karena tanda-tanda permintaan yang kuat. Data akhir pekan menunjukkan bahwa Bank Rakyat Tiongkok (People Bank of China's atau PBOC) melanjutkan pembelian cadangan Emasnya selama 15 bulan berturut-turut pada bulan Januari. Kepemilikan Emas bank sentral Tiongkok meningkat menjadi 74,19 juta ons troy fine pada akhir Januari, naik dari 74,15 juta bulan sebelumnya.

Semua perhatian akan tertuju pada data tenaga kerja AS bulan Januari pada hari Rabu, karena ini dapat memberikan kejelasan lebih lanjut tentang arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) AS. Ekonomi AS diprakirakan akan menambah 70.000 lapangan pekerjaan pada bulan Januari, sementara Tingkat Pengangguran diprakirakan akan tetap di 4,4%. Pada hari Jumat, data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS akan menjadi sorotan. Tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja AS atau meredanya inflasi dapat menyeret Dolar AS (USD) lebih rendah dan mendukung harga komoditas berdenominasi USD dalam waktu dekat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasar Fokus ke Konflik Timur Tengah, Harga Minyak Dunia  Memanas

 

Harga minyak mentah dunia menguat dua hari beruntun seiring dengan kenaikan tensi di kawasan Timur Tengah, yang berpusat pada Iran. Sebagai informasi, Iran merupakan anggota OPEC atau organisasi negara produsen utama minyak. Hal ini pun menambah premi risiko pada harga. Dilansir Bloomberg pada Selasa (10/2/2026), minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$64 per barel setelah naik 1,7% selama dua sesi sebelumnya, sementara Brent berakhir di atas US$69. Lebih rinci, harga minyak WTI untuk pengiriman Maret berada di level US$64,35 per barel pada pukul 07.24 pagi di Singapura, sedangkan minyak Brent untuk penutupan kontrak April naik 1,5% ke level US$69,04 per barel. Amerika Serikat menyatakan dalam sebuah peringatan pada Senin kemarin bahwa kapal-kapal berbendera AS harus menjauhi perairan Iran sejauh mungkin saat melewati Selat Hormuz. Peringatan ini dikeluarkan meskipun ada tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran. Selat Hormuz adalah jalur perdagangan penting untuk pengiriman energi Timur Tengah yang menghubungkan sejumlah produsen ke pasar global, terutama di Asia. BACA JUGA Harga Emas Dunia Hari Ini 10 Februari 2026 Alami Penurunan Trump Ancam Terapkan Tarif Impor bagi Negara yang Berdagang dengan Iran Tensi AS-Iran Memanas, Trump Klaim Teheran Pilih Negosiasi Teheran telah mengancam akan menutup jalur maritim tersebut selama periode ketegangan geopolitik, meskipun ancaman tersebut belum pernah benar-benar ditindaklanjuti. Harga minyak mentah mengalami kenaikan pada tahun ini karena ketegangan geopolitik yang berulang menutupi kekhawatiran bahwa surplus global akan meningkatkan persediaan dan menekan harga. Serangkaian data minggu ini akan memberikan wawasan baru kepada para pedagang tentang kondisi pasar, dimulai dengan pembaruan dari lembaga resmi AS pada Selasa sore waktu setempat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Reli: Indeks S&P 500 dan Nasdaq Ditopang Sektor Teknologi yang Bangkit

 

Wall Street kembali reli dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq tampil solid setelah awal yang goyah pada perdagangan awal pekan ini. Sementara, investor menunggu data ekonomi penting yang dapat memberikan gambaran tentang arah suku bunga Federal Reserve.

Senin (9/2/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat tipis 20,20 poin atau 0,04% menjadi 50.135,87, indeks S&P 500 naik 32,52 poin atau 0,47% ke 6.964,82 dan indeks Nasdaq Composite menguat 207,46 poin atau 0,90% ke 23.238,67.

Indeks Nasdaq ditutup 3% di bawah rekor penutupan tertinggi terakhirnya, yang dicapai pada bulan November 2025 dengan S&P 500 hampir mencapai rekor penutupan terakhirnya di level 6.978,60 yang dicapai pada 27 Januari.

Sektor material yang naik 1,4%, menunjukkan kenaikan terbesar kedua di antara 11 indeks industri utama pada indeks S&P 500, karena reli emas dan perak mendorong sektor pertambangan.

Sektor barang konsumsi pokok, yang diuntungkan selama aksi jual sektor teknologi, mengalami penurunan paling tajam hari itu, sama-sama turun 0,86%.

Sektor kesehatan yang paling merugi adalah Waters, yang sahamnya anjlok 13,9% setelah produsen peralatan laboratorium tersebut memproyeksikan laba kuartal pertama di bawah perkiraan Wall Street. Investor juga mempertimbangkan kelemahan pada unit Becton Dickinson yang diakuisisi tahun lalu.

Sektor teknologi S&P 500 ditutup naik 1,6% untuk memperpanjang kenaikan hari Jumat setelah penurunan tajam minggu lalu. Sektor Layanan Perangkat Lunak pada indeks S&P 500 berakhir menguat 2,9% karena berhasil memulihkan sebagian kerugian untuk hari kedua setelah tujuh hari mengalami kerugian yang dipicu oleh kekhawatiran bahwa AI dapat meningkatkan persaingan.

Salah satu saham yang mengalami kenaikan besar di sektor perangkat lunak adalah Oracle, yang naik 9,6% setelah D.A. Davidson meningkatkan rekomendasi sahamnya menjadi "beli" dari "netral."

Bersamaan dengan peningkatan peringkat, Keith Lerner, kepala bagian investasi di Truist Advisory Services, mengatakan bahwa dukungan lain untuk saham teknologi datang dari komentar yang dikutip CNBC dari Sam Altman, CEO OpenAI yang didukung Microsoft.

Altman mengatakan kepada karyawan bahwa chatbot kecerdasan buatan perusahaan rintisan tersebut, ChatGPT, kembali melampaui pertumbuhan bulanan 10%, menurut laporan CNBC yang tidak dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.

"Anda memiliki pasar yang sangat jenuh jual di mana sedikit kabar baik dapat memberikan dampak besar," kata Lerner, menambahkan bahwa "tali karet telah diregangkan terlalu jauh untuk teknologi dan perangkat lunak" dalam aksi jual minggu lalu.

Meskipun indeks perangkat lunak masih hampir 13% di bawah level perdagangannya tepat sebelum eksodus yang dimulai pada akhir Januari, sektor teknologi yang lebih luas kurang dari 3% di bawah level sebelum aksi jual.

Sementara itu, Indeks Semikonduktor SE Philadelphia naik 1,4%. Di antara anggotanya, saham Nvidia bertambah 2,5%, memberikan dorongan terbesar bagi S&P 500, tetapi para pedagang harus menunggu hingga akhir bulan ini untuk hasil dari pemimpin chip AI tersebut.

Yang akan segera dirilis adalah laporan penggajian non-pertanian Januari yang akan dirilis pada hari Rabu, yang ditunda karena penutupan sebagian pemerintah, dan Indeks Harga Konsumen Januari yang ditunggu-tunggu pada hari Jumat.

Pasar saat ini memperkirakan penurunan suku bunga pertama tahun ini pada bulan Juni, menurut alat FedWatch dari CME Group, yang mungkin terjadi ketika calon ketua Federal Reserve (The Fed) pilihan Presiden AS Donald Trump, Kevin Warsh, mengambil alih jabatan.

Di antara pergerakan saham individual, Hims & Hers Health anjlok 16% untuk kerugian harian ketujuh berturut-turut. Novo Nordisk menggugat perusahaan telehealth tersebut atas pelanggaran paten setelah perusahaan AS tersebut meluncurkan, kemudian membatalkan, salinan pil penurun berat badan Wegovy seharga US$ 49 milik produsen obat Denmark tersebut setelah mendapat kecaman dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).

Saham Workday merosot 5% setelah penyedia perangkat lunak sumber daya manusia tersebut mengumumkan bahwa salah satu pendirinya, Aneel Bhusri, akan kembali sebagai CEO.

Saham Kyndryl anjlok 54,9% setelah penyedia layanan TI tersebut menunda pengajuan laporan triwulanan dan menunjukkan kelemahan material dalam pelaporan keuangannya.

Di saat yang sama, saham Kroger naik 3,9% setelah raksasa ritel bahan makanan itu menunjuk mantan eksekutif Walmart, Greg Foran, sebagai kepala eksekutifnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dokumen Baru Kuatkan Dugaan Epstein Mata-Mata Israel

 

 

Dokumen FBI tahun 2020 yang disertakan dalam file Epstein kembali mengungkapkan indikasi bahwa miliarder pedofil Jeffrey Epstein “dilatih sebagai mata-mata” di bawah mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Ini menguatkan tudingan yang sudah beredar luas tersebut.

Dokumen tersebut, yang ditandai oleh badan Amerika sebagai laporan sumber rahasia (CHS), berisi informasi intelijen tentang “pengaruh domestik atau asing yang tidak tepat terhadap proses pemilu di AS”.

Menurut dokumen tersebut, sumber tersebut “berbagi panggilan telepon antara [profesor hukum Harvard Alan] Dershowitz dan Epstein di mana dia membuat catatan”. Rincian panggilan telepon tersebut kemudian akan diteruskan ke badan intelijen luar negeri Israel, Mossad.

Dilansir Middle East Eye, Informan yang menyampaikan informasi intelijen pada 16 Oktober 2020 tersebut menuduh Barak menganggap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai “penjahat” dan mendengar banyak perbincangan tentang Epstein sebelum mereka “yakin bahwa Epstein adalah Agen Mossad yang dikooptasi”.

Sumber tersebut juga mengingat Dershowitz mengatakan kepada pengacara AS lainnya bahwa “Epstein adalah anggota badan intelijen AS dan sekutunya”. Sumber yang tidak disebutkan namanya, yang hanya muncul satu kali dalam file Epstein dengan ID sumber yang ditentukan, juga melaporkan klaim lain, termasuk bahwa Dershowitz sendiri telah dikooptasi oleh Mossad.

Dershowitz, seorang tokoh kontroversial dan merupakan teman lama serta penasihat Netanyahu, telah terlibat dalam pembelaan beberapa kasus penting di AS, termasuk kasus Epstein, Harvey Weinstein, dan Donald Trump. Sumber tersebut menambahkan bahwa mereka yakin perusahaan modal ventura “Day One Ventures berada di Silicon Valley untuk mencuri teknologi”.

Perusahaan itu didirikan oleh mantan humas Epstein, Masha Bucher, yang menurut sumber tersebut adalah “kontak utama Vladimir Putin dalam gerakan Pemuda Rusia”. Sumber tersebut selanjutnya menyatakan adanya hubungan jangka panjang antara keluarga Jared Kushner, menantu Trump yang juga pernah menjadi ajudannya, dan Israel.

Sumber tersebut juga menyebutkan ayah Jared, Charles Kushner, dan “hubungan mendalam yang dimiliki keluarga Kushner dengan Israel dan sejarah praktik bisnis korup mereka”. Sumber tersebut tidak merinci dugaan praktik bisnis korup tersebut.

File lain yang baru-baru ini dirilis mengungkapkan bahwa Epstein dan Barak, yang juga menjabat sebagai menteri pertahanan antara tahun 2007 dan 2013, memiliki hubungan jangka panjang.

Dokumen menunjukkan bahwa Epstein menasihati Barak di perusahaan teknologi Palantir, meminta mantan pemimpin Israel untuk memberikan pekerjaan kepada mantan menteri Inggris Lord Peter Mandelson di sebuah perusahaan energi dan membahas biaya konsultasi “besar” yang harus dibayarkan kepada mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Pada Jumat, Netanyahu memposting di X: “Hubungan dekat Jeffrey Epstein yang tidak biasa dengan Ehud Barak tidak menunjukkan bahwa Epstein bekerja untuk Israel. Ini membuktikan sebaliknya.

"Barak selama bertahun-tahun secara obsesif berusaha melemahkan demokrasi Israel dengan bekerja sama dengan kelompok kiri radikal anti-Zionis dalam upayanya yang gagal untuk menggulingkan pemerintahan terpilih Israel. Keterikatan pribadi Barak membuatnya terlibat dalam aktivitas publik dan di belakang layar untuk melemahkan pemerintah Israel.”

Sebelumnya, rekaman dari dokumen terkait predator seksual Jeffrey Epstein mengungkapkan rencana mantan perdana menteri Israel Ehud Barak menerima sejuta warga berbahasa Rusia ke Israel. Rencana itu bagian dari upaya rasis mengimbangi imigran Yahudi dari Timur Tengah.

Dalam rekaman suara tersebut, Barak mengatakan banyak yang akan mengajukan permohonan dan beradaptasi di bawah “tekanan sosial,” dan menambahkan bahwa pihak berwenang bisa lebih “selektif” dibandingkan gelombang aliyah sebelumnya. "(Dulu) mereka menerima siapapun yang datang hanya untuk menyelamatkan orang. Sekarang kita bisa selektif," katanya dilansir Jerusalem Post, Rabu.

Barak menyatakan bahwa Israel dapat “mengendalikan kualitas” pendatang baru dengan lebih efektif dibandingkan dekade-dekade sebelumnya dan berpendapat bahwa kebutuhan dapat menciptakan “fleksibilitas.”

Rekaman tak bertanggal tersebut mengungkapkan bahwa Barak berbicara terus terang kepada Epstein tentang kebutuhan Israel akan “satu juta orang Rusia tambahan untuk membawa perubahan dalam struktur negara.”

Barak berpendapat bahwa jumlah ini akan membawa perubahan yang “sangat dramatis” di Israel, tidak hanya secara demografis, tetapi juga dalam struktur ekonomi dan budaya masyarakat Israel.

Berdasarkan bocoran tersebut, Barak menekankan selama pembicaraan bahwa Israel dapat menyerap jumlah ini dengan “mudah”. Namun ia menekankan perlunya pihak berwenang untuk “lebih selektif” dibandingkan pada gelombang imigrasi sebelumnya, dan mencatat bahwa keadaan saat ini sangat berbeda dari gelombang imigrasi sebelumnya.

Barak menambahkan, Israel, tidak seperti dulu ketika tujuan mendatangkan imigran adalah untuk “menyelamatkan orang” dan menerima semua orang yang datang, kini bisa lebih selektif dan mengontrol apa yang disebutnya “kualitas” imigran baru.

Rekaman yang bocor mengungkapkan bahwa Barak mengatakan kepada Epstein bahwa kebutuhan demografi Israel dapat menciptakan “fleksibilitas” dalam standar penentuan siapa yang bisa menjadi warga Israel. Selama ini, negara apartheid itu hanya menerima imigran yang bisa membuktikan memiliki darah Yahudi sebagai warga negaranya.

Menurut rekaman yang bocor tersebut, Barak mengatakan bahwa “tekanan sosial akan mempercepat integrasi para imigran ini,” dan menekankan perlunya menunjukkan lebih banyak toleransi dalam mendefinisikan siapa seorang Yahudi.

Barak mengisyaratkan perlunya memperluas kriteria afiliasi keagamaan untuk memfasilitasi asimilasi massa manusia ini, bahkan jika hal itu memerlukan perpindahan agama ke Yudaisme, dengan mengutip tokoh-tokoh Alkitab untuk membenarkan usulan ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rusia Sebut Skandal Jeffrey Epstein Menyingkap Wajah Asli Elite Barat

 

 

 Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan berkas-berkas yang dipublikasikan dalam kasus mendiang taipan keuangan ternama Jeffrey Epstein telah membuka apa yang dia sebut sebagai “wajah asli” elite Barat. Dalam pernyataannya pada Ahad(8/2/2026), Lavrov menilai dokumen tersebut memperlihatkan praktik yang melampaui nalar manusia dan menggambarkan kemerosotan moral di kalangan elite negara-negara Barat.

Komentar itu disampaikan Lavrov di tengah meningkatnya ketegangan politik antara Rusia dan negara-negara Barat, serta perdebatan global mengenai transparansi, akuntabilitas, dan pengaruh elite dalam sistem internasional.

Berbicara kepada stasiun televisi Rusia, NTV, Lavrov menyebut isu berkas Epstein sebagai bukti keberadaan apa yang ia gambarkan sebagai “Barat kolektif” dan struktur kekuasaan tersembunyi yang berupaya mengendalikan negara-negara Barat dan dunia secara lebih luas.

Ia menggunakan istilah “deep state”, atau yang menurutnya lebih tepat disebut sebagai “deep union”, untuk merujuk pada jaringan kekuasaan tersebut.

“Topik ini adalah tentang mengungkap wajah sebenarnya dari apa yang disebut Barat kolektif, yang mencoba memerintah seluruh dunia,” kata Lavrov.

Ia menambahkan bahwa apa yang terungkap dalam dokumen tersebut, menurut pandangannya, berada di luar logika manusia dan merupakan bentuk “satanisme murni”.

Pada 2019, Jeffrey Epstein didakwa di pengadilan Amerika Serikat atas kasus perdagangan seks anak di bawah umur serta konspirasi untuk melakukan kejahatan tersebut. Ia terancam menghadapi hukuman penjara lebih dari 40 tahun.

Menurut pihak penuntut, sejak 2002 hingga 2005, Epstein melakukan hubungan seksual dengan puluhan gadis di bawah umur yang ia terima di kediamannya di New York dan Florida. Epstein membayar mereka secara tunai dan kemudian menugaskan beberapa korban untuk merekrut gadis-gadis baru. Beberapa di antaranya bahkan berusia 14 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Ancang-Ancang Serang Iran Jelang Kunjungan Netanyahu ke Washington

 

Pejabat pertahanan Israel, menurut laporan Jerusalem Post, Ahad (8/2/2026), memberitahukan kepada Amerika Serikat bahwa program rudal balistik Iran menghadirkan ancaman eksistensial. Israel pun dilaporkan tengah bersiap melancarkan serangan sepihak terhadap Iran di tengah perundingan nuklir yang masih dijalani oleh Washington dan Teheran.

Menurut sumber-sumber di lingkungan pejabat pertahanan, niat Israel untuk melucuti kemampuan Iran di bidang rudal termasuk infrastruktur produksinya menjadi pembahasan utama di Tel Aviv beberapa pekan terakhir. Pejabat militer Israel menyinggung konsep operasi militer dengan tujuan melemahkan program rudal Iran termasuk serangan ke pabrik-pabriknya.

"Kami memberi tahu Amerika kami akan menyerang sendiri jika Iran melewati garis merah yang telah kami tetapkan terkait rudal balistik," ujar sumber itu.

Namun, masih menurut sumber itu, Israel hingga kini belum menetapkan ambang batas sambil terus memantau perkembangan di dalam negeri Iran. Pejabat itu menekankan bahwa Israel memiliki kebebasan untuk bertindak dan menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Iran menyimpan sistem persenjataan strategis dalam skala yang mengancam eksistensi Israel.

Seorang pejabat militer lain menggambarkan saat ini sebagai sebuah "kesempatan bersejarah" untuk menghadirkan hantaman signifikan terhadap infrastruktur rudal Iran dan menetralisis ancaman aktif terhadap Israel dan negara-negara di kawasan.

Di kalangan kepemimpinan militer Israel dilaporkan muncul kekhawatiran bahwa Presiden AS Donald Trump mungkin saja mengadopsi model serangan terbatas, sama dengan diterapkan terhadap militan Houthi di Yaman, yang mereka khawatirkan akan membuat kemampuan kritis pertahanan Iran tak tersentuh.

"Kekhawatiran adalah mungkin dia (Trump) akan memilih beberapa target, mendeklarasikan keberhasilan serangan, dan meninggalkan Israel berurusan dengan dampak buruk, seperti yang terjadi dengan Houthi," kata sumber itu.

Di dalam IDF, Brigadir Jenderal Omer Tishler, yang akan menjabat komandan Angkatan Udara Israel, dijadwalkan akan menemani Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke Washington pada pekan ini. Pertemuan dijadwalkan berlangsung pada Rabu (11/2/2026).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pada Rabu (11/2/2026) pekan depan. Netanyahu dan Trump dilaporkan akan mendiskusikan perundingan nuklir dengan Iran.

"Perdana Menteri meyakini negosiasi apapun harus termasuk pembatasan rudal balistik dan pencegahan dukungan terhadap poros Iran," demikian keterangan resmi Perdana Menteri Israel, lewat akun media sosial X, Sabtu (7/2/2026).

Iran dan AS pada Jumat (6/2/2026) melanjutkan perundingan nuklir di Muscat, Oman setelah beberapa pekan diwarnai ketegangan yang dipicu oleh ancaman militer dari Trump terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggambarkan perundingan di Muscat sebagai "awal baik", dengan mengatakan bahwa kedua negara bisa melanjutkan perundingan jika atmosfer rasa tidak saling percaya bisa teratasi.

Araghchi bilang bahwa kedua belah pihak setuju untuk melanjutkan perundingan di Muscat pada tanggal yang lain. Menurut Araghchi, program rudal balistik tidak menjadi subjek negosiasi saat ini dan masa depan, dengan menggambarkan program itu sebagai sebuah "masalah pertahanan".

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasar Global Menguat Senin (9/2), Saham Teknologi Bangkit & Fokus Beralih ke Data AS

 

 Pasar saham global menguat pada perdagangan Senin (9/2/2026), didorong rebound saham-saham sektor semikonduktor AS serta aset-aset yang sebelumnya tertekan, di tengah fokus investor terhadap rilis data ekonomi penting Amerika Serikat (AS) pekan ini.

Sentimen positif juga datang dari Jepang, setelah kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu mendorong indeks Nikkei melonjak 3,9% dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa.

Aksi berburu saham murah (bargain hunting) terjadi pada sejumlah aset yang sempat terjual besar-besaran pekan lalu, seperti saham teknologi, perak, dan bitcoin.

Ekspektasi meningkatnya peluang pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve turut menopang sentimen, sekaligus menekan dolar AS.

Pasar kini menilai pemangkasan suku bunga pada Juni sebagai skenario yang paling mungkin terjadi.

Sejumlah data ekonomi AS terkait tenaga kerja, inflasi, dan belanja konsumen yang akan dirilis pekan ini diperkirakan memperkuat ekspektasi stimulus tersebut.

Tekanan tambahan terhadap dolar muncul setelah laporan Bloomberg News, yang mengutip sumber anonim, menyebutkan China mendorong perbankannya untuk mengurangi eksposur terhadap surat utang pemerintah AS. Kondisi ini mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS naik tipis.

Di kawasan Asia, reli pasar Jepang dipicu keyakinan bahwa kemenangan mayoritas Partai Demokrat Liberal (LDP) akan membuka ruang bagi kebijakan belanja fiskal dan pemangkasan pajak. Meski demikian, penguatan yen juga terlihat signifikan, terutama terhadap dolar AS.

 “Fokus utama investor adalah skala ekspansi fiskal. Terutama perkembangan rencana pemangkasan pajak pangan sementara yang dijanjikan selama kampanye,” kata Sree Kochugovindan, ekonom riset senior Aberdeen dilansir dari Reuters.

Ia menambahkan, meski LDP menang besar, Takaichi tidak sepenuhnya bebas memperbesar belanja.

“LDP dikenal cukup konservatif secara fiskal dan Takaichi juga sangat mempertimbangkan respons pasar obligasi,” ujarnya.

Prospek peningkatan penerbitan utang mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor dua tahun naik ke level tertinggi sejak 1996 di kisaran 1,3%.

Di Eropa, indeks STOXX 600 menguat tipis 0,2% mendekati rekor tertinggi. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq cenderung stagnan, setelah melonjak lebih dari 2% pada Jumat lalu dan mengakhiri tren pelemahan tajam.

Meski sentimen membaik, kekhawatiran terkait besarnya belanja investasi kecerdasan buatan (AI) masih membayangi.

Empat raksasa teknologi AS diperkirakan menggelontorkan belanja modal hingga US$650 miliar sepanjang tahun ini, memunculkan pertanyaan soal potensi imbal hasil jangka panjang.

Rilis data ekonomi AS dalam beberapa hari ke depan dipandang krusial dalam membentuk ekspektasi kebijakan moneter.

Data tersebut diharapkan cukup moderat untuk menjaga peluang pemangkasan suku bunga, namun tidak terlalu lemah hingga mengancam konsumsi dan laba perusahaan.

Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama. Dolar turun 0,45% terhadap yen ke level 156,57, sementara euro menguat 0,4% ke US$1,1865.

Poundsterling melemah terhadap euro, seiring meningkatnya ketidakpastian politik di Inggris terkait masa depan Perdana Menteri Keir Starmer. Euro naik 0,5% terhadap pound ke level 87,22 pence.

 “Jika Starmer digantikan, imbal hasil obligasi Inggris cenderung naik dan pound melemah,” kata Wakil Kepala Ekonom Inggris Capital Economics, Ruth Gregory.

Di pasar komoditas, harga perak melonjak 4,5% ke US$81,44 per ons troi, setelah berfluktuasi tajam dari penurunan 15% hingga berakhir naik 9% pada Jumat.

Sementara itu, harga emas naik 1,1% ke US$5.015 per ons troi, dari posisi terendah pekan lalu di US$4.403.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kremlin Ingatkan Krisis BBM di Kuba Kritis, Tekanan AS Dinilai Perparah Situasi

 

Kremlin menyatakan kondisi pasokan bahan bakar di Kuba berada pada titik kritis.

Pemerintah Rusia menilai tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap ekonomi Kuba, termasuk upaya membatasi pasokan minyak, telah memperparah krisis di negara Karibia tersebut.

Pernyataan itu disampaikan setelah pemerintah Kuba mengumumkan langkah darurat untuk melindungi layanan esensial dan menerapkan pembatasan penggunaan bahan bakar.

Kebijakan tersebut diambil seiring memburuknya situasi ekonomi dan energi di negara yang dipimpin pemerintahan komunis itu.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia memantau perkembangan di Kuba dan terus menjalin komunikasi intensif melalui jalur diplomatik.

“Situasi di Kuba memang kritis. Kami mengetahui hal ini dan terus berkoordinasi dengan mitra Kuba,” ujarnya.

Menurut Kremlin, kebijakan AS yang dinilai mencekik ekonomi Kuba telah menimbulkan banyak kesulitan.

Rusia, kata Peskov, sedang membahas berbagai opsi untuk membantu mengatasi masalah tersebut atau setidaknya memberikan dukungan semaksimal mungkin.

Di sisi lain, Moskow tengah berupaya memperbaiki hubungannya dengan Washington di tengah upaya Presiden AS Donald Trump mendorong kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Namun, Kremlin menegaskan ketidakpuasannya atas perlakuan AS terhadap Kuba, yang disebut sebagai sekutu lama Rusia.

Isu kelangkaan bahan bakar juga memicu kekhawatiran terkait pasokan avtur yang berpotensi berdampak pada wisatawan Rusia di Kuba.

Menanggapi hal itu, Duta Besar Rusia untuk Kuba Viktor Coronelli menyatakan Moskow telah berulang kali memasok minyak ke Kuba dalam beberapa tahun terakhir dan akan terus melakukannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Eropa Harus Bersiap Ambil Peran Lebih Besar sebagai Safe Haven Global

 

 Eropa perlu bersiap memainkan peran yang lebih besar sebagai safe haven global seiring melemahnya dominasi dolar AS.

Untuk itu, kawasan ini harus memperkuat arsitektur keuangannya agar euro mampu mengambil porsi pasar yang lebih besar di kancah internasional.

Hal tersebut disampaikan anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) sekaligus Gubernur Bank Sentral Austria, Martin Kocher.

ECB pekan lalu mengumumkan rencana memperluas akses backstop likuiditas euro guna meningkatkan posisi global mata uang tersebut.

ECB juga akan menyerahkan daftar tugas kepada para pemimpin Uni Eropa, dengan harapan reformasi keuangan yang lama dibahas dapat segera dipercepat.

Langkah ini muncul di tengah hubungan Eropa–Amerika Serikat yang kian bergejolak serta meningkatnya persaingan ekonomi dari China, yang mendorong Eropa meninjau ulang perannya di panggung global.

Kocher menilai minat terhadap euro terus menguat dan mendorong mata uang itu semakin dipandang sebagai aset aman.

Euro tercatat menguat sekitar 14% terhadap dolar AS dibandingkan setahun lalu, dipicu melemahnya kepercayaan terhadap kebijakan perdagangan AS yang dinilai tidak konsisten serta meningkatnya keyakinan pasar terhadap belanja pertahanan dan infrastruktur di Eropa.

Meski lebih dari separuh cadangan devisa global masih disimpan dalam dolar AS, porsinya terus menyusut selama satu dekade terakhir. Pergeseran ini diperkirakan memberi keuntungan bagi euro yang saat ini menguasai sekitar 20% pangsa cadangan global.

Kocher menekankan, meskipun bukan tujuan utama, Eropa bisa saja “terpaksa” memainkan peran yang lebih besar secara internasional sehingga kesiapan menjadi krusial.

Sebagai bagian dari persiapan, ECB membahas berbagai instrumen stabilisasi sistem keuangan internasional, termasuk repo internasional dan swap.

Rincian fasilitas backstop euro yang diperbarui, dikenal sebagai repo lines. dijadwalkan diumumkan Presiden ECB Christine Lagarde dalam waktu dekat.

Kocher juga menyinggung sikap pemerintah AS terhadap pelemahan dolar yang dinilai tidak mengindikasikan perubahan kebijakan. Menurutnya, jika AS tidak khawatir, kecil kemungkinan akan ada langkah penyeimbang terhadap depresiasi dolar.

Terkait kebijakan moneter zona euro, Kocher menyatakan nyaman dengan sikap steady-hand ECB. Ia menilai diperlukan perubahan lingkungan yang material sebelum ECB mempertimbangkan penyesuaian kebijakan.

ECB sendiri mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhir, dan pandangan yang seimbang membuat investor memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga sepanjang tahun ini.

Kocher menyebut risiko kini relatif seimbang, baik dari sisi inflasi maupun prospek ekonomi. Penguatan euro memang menekan inflasi, namun pergerakan nilai tukar tersebut terjadi pada paruh pertama 2025 dan telah sepenuhnya tercermin dalam proyeksi ECB.

Ia menegaskan nilai tukar baru menjadi perhatian serius jika menyimpang jauh dari target inflasi hingga memengaruhi ekspektasi jangka panjang, sesuatu yang saat ini belum terlihat.

 

 

 

 

 

Kemenangan Telak Takaichi Angkat Bursa Jepang, Pasar Jadi Penentu Arah Kebijakan

 

Kemenangan telak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam pemilu parlemen membuka jalan lebar bagi agenda pemulihan ekonomi yang lebih agresif.

Namun di balik mandat politik terkuat dalam sejarah Jepang pascaperang, pelaku pasar menilai ruang gerak pemerintah tetap dibatasi oleh sensitivitas pasar obligasi dan nilai tukar yen.

Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi berhasil menguasai lebih dari dua pertiga kursi majelis rendah parlemen.

Hasil ini memberi keleluasaan penuh bagi pemerintah untuk meloloskan kebijakan tanpa perlu berkompromi dengan partai oposisi maupun majelis tinggi.

Respons pasar saham langsung positif. Indeks Nikkei dan Topix masing-masing melonjak ke level tertinggi sepanjang masa, ditopang ekspektasi stimulus fiskal yang mengalir ke rumah tangga dan sektor korporasi.

Pada perdagangan Senin, Nikkei melonjak 3,9% sementara Topix naik 2,3%.

Sebaliknya, pasar obligasi dan nilai tukar bergerak lebih hati-hati. Yen yang sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir relatif stabil di kisaran 156,35 per dolar AS. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun naik terbatas ke 2,28%, kembali ke level dua pekan lalu.

Pelaku pasar menilai fokus utama kini bukan lagi hasil pemilu, melainkan detail kebijakan fiskal yang akan diambil pemerintah. Jepang saat ini memikul rasio utang tertinggi di antara negara maju, sehingga tambahan belanja berisiko memicu tekanan baru di pasar keuangan.

“Kebijakan fiskal akan menjadi batas utama bagi pemerintah,” kata ekonom HSBC Fred Neumann, menegaskan pasar akan sangat sensitif terhadap sinyal pelebaran defisit, pelemahan yen, maupun respons kebijakan moneter terhadap inflasi.

Kekhawatiran itu muncul seiring rencana ekspansif Takaichi, termasuk janji menangguhkan pajak konsumsi 8% untuk bahan pangan. Kebijakan tersebut diperkirakan memangkas penerimaan negara hingga 5 triliun yen per tahun, memunculkan tanda tanya besar soal sumber pendanaannya.

Di sisi lain, stabilitas politik justru membuka ruang bagi Bank of Japan (BOJ) untuk lebih fleksibel dalam kebijakan suku bunga.

Sejumlah pelaku pasar mulai meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga, meski tetap berhati-hati mengingat reputasi awal Takaichi yang dinilai cenderung menekan bank sentral agar menahan normalisasi kebijakan.

Tekanan eksternal juga menjadi faktor penting. Pemerintah Amerika Serikat disebut mendorong Jepang untuk menstabilkan pasar obligasi dan memperkuat yen. Pelemahan mata uang Jepang selama ini telah memperparah inflasi impor dan biaya hidup domestik.

Meski pasar untuk sementara menyambut kemenangan politik Takaichi, arah jangka menengah yen dan obligasi dinilai masih rapuh. Investor menilai tren pelemahan yen dan kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi berlanjut jika kebijakan fiskal dinilai tidak disiplin.

Ujian awal bagi pemerintahan baru akan terlihat dari bagaimana rencana pemotongan pajak konsumsi dijalankan, bagaimana pembiayaannya dijelaskan, dan seberapa meyakinkan narasi fiskal pemerintah di mata pasar.

Ketidakpastian kebijakan fiskal diperkirakan masih akan membayangi, meski Jepang kini memasuki fase stabilitas politik yang jarang terjadi dalam satu dekade terakhir.

 

 

 

 

 

Elon Musk Fokus Bangun “Kota Mandiri” di Bulan dalam Kurun Waktu Kurang dari 10 Tahun

 

CEO SpaceX, Elon Musk, menyatakan bahwa perusahaannya kini memprioritaskan pembangunan “kota yang mampu tumbuh sendiri” di Bulan, dengan target pencapaian dalam waktu kurang dari 10 tahun.

“Meski begitu, SpaceX juga akan berupaya membangun kota di Mars dan memulai langkah tersebut dalam 5 hingga 7 tahun mendatang, tetapi prioritas utama tetap memastikan masa depan peradaban, dan Bulan lebih cepat dicapai,” tulis Musk melalui akun X pada Minggu (2/2/2026).

Pernyataan Musk sejalan dengan laporan Wall Street Journal pada Jumat lalu yang menyebutkan bahwa SpaceX telah memberi tahu para investor bahwa fokus utama perusahaan adalah misi ke Bulan terlebih dahulu, sementara perjalanan ke Mars akan dilakukan kemudian. SpaceX menargetkan pendaratan tanpa awak di Bulan pada Maret 2027.

Tahun lalu, Musk juga sempat menyampaikan rencananya untuk mengirim misi tak berawak ke Mars pada akhir 2026. Langkah ini dilakukan di tengah persaingan ketat Amerika Serikat dengan China dalam upaya mengirim astronot kembali ke Bulan, yang terakhir kali dikunjungi manusia melalui misi Apollo pada 1972.

Selain itu, komentar Musk muncul setelah SpaceX menyepakati akuisisi xAI. Dalam kesepakatan tersebut, nilai SpaceX ditaksir mencapai US$ 1 triliun, sementara perusahaan kecerdasan buatan xAI memiliki valuasi US$ 250 miliar.

Langkah ambisius ini menegaskan fokus SpaceX untuk memperluas kehadirannya di luar Bumi, sekaligus menjadi pionir dalam pengembangan pemukiman manusia di luar planet kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post