News Komoditi & Global ( Jumat, 10 Juli 2026 )
News Komoditi & Global
( Jum’at, 10 Juli 2026 )
Harga Emas Global Naik, Dibayangi Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Harga emas menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (9/7/2026), didorong aksi beli saat harga murah (bargain hunting) setelah logam mulia tersebut sempat menyentuh level terendah dalam sepekan. Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi arah pasar. Baca Juga: Mbappe Bawa Prancis Singkirkan Maroko 2-0, Les Bleus Melaju ke Semifinal Piala Dunia Harga emas spot naik 1,3% menjadi US$ 4.130,58 per ons troi pada pukul 14.05 EDT (18.05 GMT), setelah sehari sebelumnya sempat turun ke level terendah sejak 1 Juli. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup naik 1,4% ke US$ 4.140,80 per ons troi. "Ada aksi bargain hunting setelah penurunan harga kemarin. Dalam jangka pendek, penggerak utama harga emas tetap kebijakan Federal Reserve (The Fed)," ujar Bob Haberkorn, Senior Market Strategist StoneX. Menurut Haberkorn, apabila The Fed mengambil sikap yang lebih dovish terhadap suku bunga, harga emas dan perak berpotensi melanjutkan kenaikan. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup Anjlok 2% Kamis (9/7), di Tengah Kekhawatiran Inflasi Sebaliknya, jika bank sentral kembali memberi sinyal perlunya kenaikan suku bunga, kedua logam mulia tersebut kemungkinan akan berada di bawah tekanan. Dari sisi geopolitik, ketegangan kembali meningkat setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Peristiwa tersebut memperburuk gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan. Konflik tersebut juga memicu kekhawatiran kenaikan harga energi yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong bank-bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil. Baca Juga: IMF Sambut Evaluasi Strategi Komunikasi Kebijakan Moneter The Fed Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 62% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Sementara itu, risalah rapat Federal Reserve pada Juni menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat bank sentral terhadap inflasi. Sejumlah pembuat kebijakan bahkan menilai terdapat alasan yang cukup untuk menaikkan suku bunga sebelum akhirnya memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Investor kini menantikan data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan depan serta kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter. Di sisi lain, HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 dan 2027. Bank tersebut kini memperkirakan harga emas rata-rata mencapai US$ 4.560 per ons troi pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya US$ 4.864. Baca Juga: Turki dan Irak Segera Teken Perjanjian Baru Saluran Pipa Minyak Untuk 2027, proyeksi diturunkan menjadi US$ 4.925 per ons troi dari sebelumnya US$ 5.000. Adapun logam mulia lainnya juga ditutup menguat. Harga perak spot naik 3,4% menjadi US$ 60,25 per ons troi, platinum menguat 2,3% menjadi US$ 1.615,25 per ons troi, sedangkan paladium naik 3,3% ke US$ 1.253,25 per ons troi.
Harga Minyak Dunia Anjlok di Tengah Kekhawatiran Inflasi
Harga minyak dunia ditutup melemah lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Kekhawatiran bahwa inflasi yang masih tinggi dan perlambatan ekonomi akan menekan permintaan energi mengalahkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Baca Juga: IMF Sambut Evaluasi Strategi Komunikasi Kebijakan Moneter The Fed Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 1,92 atau 2,5% menjadi US$ 76,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$ 1,61 atau 2,2% menjadi US$ 71,91 per barel. Sehari sebelumnya, Brent ditutup pada level tertinggi sejak 19 Juni, sedangkan WTI mencapai level penutupan tertinggi sejak 22 Juni. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk pada Kamis (9/7). Serangan tersebut merupakan balasan atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran sehari sebelumnya, sekaligus memperburuk gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga pekan. Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat, Saham Chip Redam Kekhawatiran Konflik AS-Iran Serangan itu terjadi bertepatan dengan pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad. Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari lalu. Meski demikian, analis menilai eskalasi konflik kemungkinan tidak akan berlangsung lama. "Kami memperkirakan ketegangan baru di Timur Tengah antara AS dan Iran akan relatif singkat karena kedua negara sama-sama dibatasi oleh realitas ekonomi dan politik," kata Vikas Dwivedi, Global Energy Strategist Macquarie Group. Sementara itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan AS serta intervensi terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz telah menghambat proses pembukaan kembali jalur tersebut. Baca Juga: Bandara Palm Beach Resmi Berganti Nama Menjadi Donald J. Trump Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz. Analis Goldman Sachs memperkirakan arus pengiriman minyak dari Teluk Persia sempat pulih hingga lebih dari 80% dibandingkan kondisi sebelum perang dalam 10 hari pertama setelah Selat Hormuz kembali dibuka. Namun, setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker, arus tersebut kembali turun ke kisaran lebih dari 70% dari kondisi normal. Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan jumlah klaim baru tunjangan pengangguran turun pada pekan lalu. Kondisi ini mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup stabil meskipun pertumbuhan lapangan kerja melambat pada Juni. Risalah rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni juga menunjukkan para pejabat bank sentral semakin mencemaskan tekanan inflasi. Baca Juga: El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancam Produksi Pangan dan Picu Cuaca Ekstrem Global Mereka secara umum memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja tetap stabil dalam waktu dekat dengan tingkat pengangguran yang tidak jauh berbeda dari posisi saat ini. Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan dirinya tidak memperkirakan kenaikan harga energi akan berlangsung lama meski konflik di Timur Tengah kembali memanas. Namun, ia belum memberikan sinyal mengenai keputusan suku bunga pada pertemuan The Fed akhir bulan ini. Kenaikan suku bunga oleh The Fed untuk menekan inflasi berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi sehingga dapat mengurangi permintaan minyak. Dari Asia, tekanan juga datang dari China. Inflasi harga produsen (producer price inflation) pada Juni melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini semakin menekan margin keuntungan sektor manufaktur di tengah lemahnya permintaan domestik. Selain itu, China dan Taiwan bersiap menghadapi Topan Bavi yang diperkirakan menjadi salah satu badai paling merusak dalam beberapa tahun terakhir. Badai tersebut membawa kecepatan angin hingga hampir 200 kilometer per jam, sementara sebagian wilayah China masih dalam tahap pemulihan setelah diterjang Topan Maysak. Di Eropa, militer Ukraina menyatakan drone mereka menyerang belasan kapal tanker Rusia di Laut Azov pada Kamis. Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis, Pasar Tunggu Kepastian Perdamaian AS dan Iran Serangan itu merupakan bagian dari upaya mengganggu pasokan bahan bakar bagi pasukan Rusia dan mengisolasi wilayah Krimea yang diduduki Moskow. Sebelumnya, kontrak berjangka diesel AS melonjak tajam setelah Rusia mengumumkan larangan ekspor diesel, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Di sisi lain, prospek tercapainya penyelesaian perang Ukraina juga menjadi perhatian pasar. Jika konflik berakhir dan sebagian sanksi terhadap Rusia dicabut, Moskow berpotensi meningkatkan ekspor minyaknya ke pasar global. Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi pada 2025. Sementara itu, Komisi Eropa tengah menyiapkan serangkaian kebijakan dan skema pendanaan untuk mempercepat transisi penggunaan listrik menggantikan minyak dan gas di kawasan Uni Eropa. Jika berhasil diterapkan, kebijakan tersebut berpotensi menurunkan permintaan minyak di Eropa dalam jangka panjang.
Wall Street Ditutup Naik, Lonjakan Saham Semikonduktor Angkat Nasdaq 1,3%
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada Kamis (9/7/2026), dipimpin lonjakan indeks Nasdaq seiring reli saham-saham semikonduktor yang berhasil menutupi kekhawatiran investor terhadap meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Melansir Reuters, indeks Nasdaq menguat 1,30% ke level 26.206,89. Sementara itu, S&P 500 naik 0,81% menjadi 7.543,66 dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,27% ke 52.487,41. Baca Juga: Perdagangan Perdana Saham RANS Di BEI Dimulai Hari Ini, Cek Simulasi ARA & ARB Sentimen pasar sempat dibayangi perkembangan geopolitik setelah Teheran menyatakan telah menyerang target-target militer AS di Kuwait, Qatar, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan udara AS terhadap Iran sehari sebelumnya. Meski demikian, sektor teknologi, khususnya saham-saham semikonduktor, menjadi penopang utama penguatan Wall Street. Indeks semikonduktor PHLX melonjak 3,06% dan mencatat kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Saham Micron Technology melesat 4,5% setelah perusahaan mengumumkan rencana investasi lebih dari US$ 250 miliar di Amerika Serikat hingga 2035. Investasi tersebut ditujukan untuk memenuhi lonjakan permintaan chip memori yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Baca Juga: IHSG Rebound ke 5.912, Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing, Kamis (9/7) Saham Applied Materials naik 3,2%, sedangkan Sandisk melesat 7,6%. Reli saham AI kembali menguat setelah dalam beberapa waktu terakhir bergerak fluktuatif akibat kekhawatiran investor mengenai keberlanjutan penguatan sektor tersebut yang telah membawa Wall Street mencetak rekor tertinggi sepanjang 2026. "Ini masih merupakan pasar bullish yang didorong AI. Sempat terlihat reli mulai meluas ke sektor lain, tetapi itu bergantung pada harga minyak dan suku bunga yang tetap stabil. Dengan memanasnya konflik di Timur Tengah, prospek reli yang lebih luas menjadi dipertanyakan," ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, Louisville, Kentucky. Sementara itu, saham Meta Platforms ikut menguat setelah Reuters melaporkan perusahaan tersebut berencana mulai memproduksi chip AI pada September mendatang. Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sebanyak tujuh sektor ditutup di zona hijau. Sektor teknologi informasi memimpin kenaikan dengan penguatan 1,65%, disusul sektor consumer discretionary yang naik 1,46%. Baca Juga: Pelemahan Rupiah Pangkas Margin Kalbe Farma (KLBF), Cek Rekomendasi Analis Sepanjang tahun 2026, indeks S&P 500 telah menguat sekitar 10% dan kini hanya terpaut kurang dari 1% dari rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada 2 Juni lalu. Pelaku pasar juga mulai mengalihkan perhatian pada musim laporan keuangan kuartalan. Berdasarkan data LSEG I/B/E/S, laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh rata-rata 24% secara tahunan, dengan perusahaan teknologi menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan tersebut. Saat ini, valuasi S&P 500 diperdagangkan sekitar 20 kali proyeksi laba, turun dari sekitar 21 kali sebulan sebelumnya. Di sisi makroekonomi, jumlah klaim baru tunjangan pengangguran di Amerika Serikat turun pada pekan lalu. Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif stabil meskipun pertumbuhan lapangan kerja melambat pada Juni. Baca Juga: Bidik Dana Kelolaan Rp 67 Triliun Hingga Akhir Tahun, Simak Strategi Sinarmas AM Di sisi kebijakan moneter, risalah rapat Federal Reserve menunjukkan bank sentral mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni di bawah Ketua Fed Kevin Warsh. Meski demikian, beberapa pejabat sempat mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebelum akhirnya sepakat mempertahankan kebijakan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang terbesar adalah kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember. Di luar sektor teknologi, saham PepsiCo turun 3,3% meski perusahaan berhasil melampaui estimasi pendapatan kuartal II. Sementara itu, saham Costco Wholesale merosot 4,2% ke level terendah dalam enam bulan setelah peritel tersebut melaporkan perlambatan pertumbuhan penjualan toko yang telah beroperasi (comparable sales) selama Juni.
Iran Klaim Serang Fasilitas Militer AS di Kawasan Teluk, Ketegangan Kembali Memanas
Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk pada Kamis (9/7/2026). Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran sehari sebelumnya, sehingga semakin memperburuk gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan.
Media Iran juga melaporkan terjadi sejumlah ledakan di wilayah selatan negara itu, termasuk di Bushehr yang menjadi lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Konarak, Choghadak, dan Bandar Abbas. Seorang pejabat AS mengatakan tidak ada serangan udara Amerika dalam beberapa jam terakhir. Eskalasi terbaru terjadi ketika Iran menggelar pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di kota suci Mashhad. Prosesi tersebut menutup rangkaian upacara dan aksi berkabung yang berlangsung selama sepekan. Menurut narasi Reuters dalam skenario ini, Khamenei tewas dalam serangan udara pada hari pertama perang, 28 Februari, yang memicu konflik berkepanjangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang serta mengganggu pasokan energi global. Gencatan senjata yang sempat tercapai kembali runtuh setelah awal pekan ini terjadi serangan terhadap kapal-kapal milik Qatar dan Arab Saudi. Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata telah "berakhir". Meski demikian, seorang pejabat AS lainnya mengatakan Washington masih berkomitmen mencari penyelesaian diplomatik dengan Iran dan pembicaraan teknis antara kedua pihak masih terus berlangsung. Di tengah prosesi pemakaman Khamenei, ribuan pelayat memadati kompleks makam di Mashhad. Sebagian peserta membawa spanduk yang mengecam Presiden Trump. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup Anjlok 2% Kamis (9/7), di Tengah Kekhawatiran Inflasi Selat Hormuz kembali menjadi pusat ketegangan Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan AS serta intervensi terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz telah menghambat proses pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Iran mengklaim jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz di bawah pengawasannya kini telah pulih menjadi sekitar 50% dibandingkan sebelum perang. Namun, izin melintas hanya diberikan kepada kapal yang menggunakan jalur pelayaran yang ditetapkan Teheran. Garda Revolusi juga memperingatkan setiap intervensi militer AS berikutnya akan dibalas dengan respons yang "menghancurkan". Baca Juga: IMF Sambut Evaluasi Strategi Komunikasi Kebijakan Moneter The Fed Di sisi lain, militer AS menyatakan operasi mereka bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka setelah menuduh pasukan Iran menyerang tiga kapal tanker di kawasan tersebut. Militer AS mengklaim telah membantu pengawalan lebih dari 800 kapal niaga dan sekitar 380 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz sejak awal Mei. Washington juga menegaskan Iran tidak menguasai jalur pelayaran internasional tersebut. Meski konflik meningkat, harga minyak dunia justru turun pada Kamis setelah sebelumnya sempat melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan global. Iran klaim serang fasilitas militer AS Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) sebelumnya menyatakan telah menyerang sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pesisir, serta gudang rudal dan drone. Presiden Donald Trump mengatakan serangan tersebut merupakan balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan. Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat, Saham Chip Redam Kekhawatiran Konflik AS-Iran "Ini adalah pembalasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, responsnya akan jauh lebih keras," tulis Trump melalui platform Truth Social. Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS pada 8-9 Juli menewaskan 14 orang dan melukai 78 lainnya di lima provinsi. Kantor berita Fars menyebut salah satu serangan menghantam jembatan rel kereta yang digunakan untuk perdagangan dengan Rusia dan China. Seorang pejabat setempat juga mengatakan sebuah proyektil AS menghantam area perimeter fasilitas nuklir Bushehr, meskipun tidak disebutkan adanya kerusakan pada instalasi utama. Sebagai balasan, militer Iran mengklaim telah menyerang sistem pertahanan udara Patriot milik AS di Kuwait, fasilitas peringatan dini di Qatar, serta depot bahan bakar militer AS di Bahrain. Pemerintah Kuwait menyatakan pasukannya berhasil mencegat satu rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan 10 drone yang memasuki wilayah udaranya. Satu orang dilaporkan mengalami luka akibat serpihan rudal. Sirene peringatan juga berbunyi di Yordania setelah rudal yang diluncurkan Iran terdeteksi memasuki wilayah udara negara tersebut. Otoritas Yordania mengatakan delapan rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan. Garda Revolusi Iran kemudian mengklaim telah menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania yang digunakan pasukan AS, serta ke pusat komando militer AS di Timur Tengah. Baca Juga: Bandara Palm Beach Resmi Berganti Nama Menjadi Donald J. Trump Seruan kembali ke jalur diplomasi Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer terbesar AS di kawasan, mengecam serangan terhadap kapal-kapal komersial sekaligus menyerukan semua pihak kembali ke jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Turki dan Oman juga menyampaikan pentingnya menghindari eskalasi militer lebih lanjut dalam pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Dalam percakapan dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Araqchi mengecam kebijakan yang disebutnya sebagai "politik penghasut perang" Amerika Serikat. Baca Juga: El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancam Produksi Pangan dan Picu Cuaca Ekstrem Global Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jalur pelayaran itu kini kembali menjadi titik krusial dalam ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali sesuai pengaturan Iran, bukan melalui tekanan dari Amerika Serikat.
IMF Sambut Evaluasi Strategi Komunikasi Kebijakan Moneter The Fed
Dana Moneter Internasional (IMF) menyambut baik rencana bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mengevaluasi strategi komunikasi kebijakan moneternya, termasuk penggunaan forward guidance atau panduan mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Juru Bicara IMF Julie Kozack mengatakan lembaganya siap berdiskusi dengan The Fed setelah hasil evaluasi tersebut rampung. Menurutnya, peninjauan strategi komunikasi merupakan langkah yang wajar seiring berubahnya kondisi kebijakan moneter global. IMF Nilai Ekonomi AS Tetap Kuat, Dukung The Fed Pertahankan Suku Bunga Sebelumnya, pejabat senior IMF menilai forward guidance terbukti menjadi instrumen yang efektif bagi bank sentral, terutama ketika suku bunga berada di level mendekati nol. Namun, dengan suku bunga yang kini sudah meningkat, pendekatan tersebut dinilai perlu ditinjau kembali agar tetap relevan dengan kondisi ekonomi saat ini. The Fed diketahui telah membentuk satuan tugas (task force) untuk mengkaji cara bank sentral menyampaikan arah kebijakan moneternya kepada pelaku pasar dan publik. Evaluasi tersebut mencakup efektivitas komunikasi serta kemungkinan penyesuaian strategi forward guidance di masa mendatang. Ini Warisan Jerome Powell Selama Menjabat Ketua The Fed "Kami sangat menantikan untuk berdiskusi dengan The Fed mengenai temuan dari task force tersebut dan pandangan mereka tentang bagaimana strategi komunikasi dapat disesuaikan," ujar Julie Kozack dalam konferensi pers rutin IMF, Kamis (9/7). Langkah evaluasi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena cara The Fed mengomunikasikan kebijakan moneternya memiliki pengaruh besar terhadap ekspektasi investor, pergerakan pasar keuangan, serta arah perekonomian global.
Iran Sebut Serangan AS di Lima Provinsi Tewaskan 14 Orang
Kementerian Kesehatan Iran menyatakan serangan Amerika Serikat (AS) di lima provinsi selama dua hari terakhir menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 78 lainnya. Kepala Pusat Hubungan Masyarakat dan Informasi Kementerian Kesehatan Iran Hossein Kermanpour mengatakan AS melancarkan serangan ke lima provinsi di Iran pada Rabu (8/7) dan Kamis (9/7).
"Amerika Serikat menargetkan lima provinsi di Iran dengan serangan pada 8 dan 9 Juli," tulis Kermanpour melalui akun X, Kamis.
Menurut dia, hingga kini serangan tersebut mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan 78 lainnya mengalami luka-luka.
Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan sebanyak 47 korban luka masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, korban lainnya telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.
Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengutip Wakil Gubernur Provinsi Khuzestan Bidang Keamanan Valiollah Hayati yang melaporkan tiga orang tewas akibat serangan di dekat Kota Ahvaz, Iran barat daya.
Data korban terbaru itu muncul di tengah kembali meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran setelah gencatan senjata yang rapuh, yang disepakati bulan lalu, dinyatakan berakhir.
Peningkatan ketegangan bermula setelah AS menuduh Iran menyerang tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Tuduhan tersebut mendorong Washington melancarkan gelombang serangan terhadap sasaran militer Iran di sepanjang pesisir selatan negara itu.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) menyatakan operasi tersebut menargetkan lebih dari 170 lokasi militer dalam waktu dua hari, termasuk sistem pertahanan udara, aset pengawasan pesisir, infrastruktur rudal dan pesawat nirawak, kemampuan angkatan laut, serta fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC).
Menurut CENTCOM, serangan tersebut bertujuan mencegah serangan lanjutan terhadap pelayaran internasional.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak yang disebut menyasar fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Iran dan AS sebelumnya mencapai nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada 17 Juni untuk mengakhiri konflik militer sekaligus membuka jalan menuju kesepakatan damai jangka panjang.
Namun, pada Rabu (8/7), Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman tersebut telah "berakhir", yang secara efektif mengakhiri kesepakatan itu dan memicu babak baru konfrontasi militer.
Ledakan di Iran Selatan, Israel Kembali Serang Iran
Sejumlah ledakan kembali terdengar di sejumlah wilayah di selatan Iran. Israel disebut mendalangi ledakan-ledakan itu setelah pihak Amerika Serikat menyangkal melakukan serangan.
Surat kabar lokal Mehr News melaporkan terjadinya tiga ledakan di Konarak, wilayah selatan Iran (provinsi Sistan-Baluchistan), yang merupakan lokasi pelabuhan strategis yang menghadap ke Teluk Oman. Ledakan-ledakan ini terjadi menyusul serangkaian serangan terkini yang menyasar sejumlah lokasi di Iran selatan, termasuk bandara, jaringan logistik, serta reaktor nuklir Bushehr.
Infrastruktur sipil, seperti jalur kereta api, juga menjadi sasaran serangan di Iran bagian utara. Serangan-serangan ini terjadi setelah adanya ancaman dari Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap para pejabat Iran guna memaksa mereka kembali ke meja perundingan.
Namun, para pejabat Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan paksaan AS. Sebelumnya, serangan juga terjadi di Ahvaz, provinsi Khuzestan, Iran selatan.
Serangan-serangan tersebut juga bertepatan dengan prosesi pemakaman mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akibat tindakan AS dan Israel pada bulan Februari.
Menurut Gubernur Mohammad Younes Haqqani sebagaimana dilaporkan kantor berita IRNA, jet-jet tempur menyasar zona militer angkatan laut di kota Konarak, Iran selatan, dalam dua gelombang serangan. Dalam keterangannya kepada IRNA, Haqqani mengatakan bahwa dua ledakan terdengar di kawasan militer angkatan laut tersebut dan menyatakan bahwa "area ini disasar oleh jet tempur musuh dalam dua gelombang".
Ia menambahkan bahwa tim penyelamat, aparat keamanan, dan instansi terkait lainnya segera dikerahkan ke lokasi kejadian, serta menyebutkan bahwa penyelidikan mengenai serangan dan rinciannya sedang berlangsung.
Belum ada kabar dari Gedung Putih maupun pernyataan dari Pentagon terkait pengumuman operasional mengenai ledakan yang dilaporkan terjadi di Iran. Laporan dari sejumlah media di Amerika Serikat—yang mengutip seorang pejabat AS—bahwa AS tidak terlibat.
Seorang pejabat pertahanan AS telah mengonfirmasi kepada Aljazirah bahwa militer tidak melancarkan serangan di Iran dalam beberapa jam terakhir. Pejabat AS tersebut tidak mengungkapkan kepada kami mengenai dugaan militer AS terkait penyebab ledakan-ledakan di Iran itu. Pihaknya hanya menegaskan bahwa AS tidak terlibat.
Mantan perwira Korps Marinir AS Dan Grazier mengatakan kepada Aljazirah bahwa "sangat mungkin" Israel pelaku serangan terkini di Iran. "Sangat mungkin Israel berada di balik tindakan militer apa pun yang sedang berlangsung saat ini," ujarnya.
"Saya rasa kita harus menunggu konfirmasi dari mereka. Menurut saya, Amerika Serikat—khususnya Donald Trump—akan mengakui tanggung jawab jika pelakunya adalah Amerika Serikat. Namun sejauh ini, Israel dan Amerika Serikat telah bekerja sama erat sepanjang konflik ini, sejak akhir Februari lalu. Sangat mungkin pihak Israel bertanggung jawab atas apa yang terjadi hari ini."
Saat membahas serangan terhadap Iran pekan ini, Grazier mengatakan bahwa serangan tersebut tampaknya bertujuan membatasi kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. "Mereka tampaknya menyerang target-target yang dapat digunakan untuk pertahanan terhadap serangan udara lanjutan, jadi mereka menyasar aset pertahanan udara. Namun, mereka juga mengincar kapal-kapal cepat berukuran kecil dan lokasi peluncuran rudal yang selama ini digunakan untuk mengganggu lalu lintas pelayaran.”
Israel Bombardir Gaza, Korban Terus Berjatuhan
Militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza pada Kamis waktu setempat. Pelanggaran dilakukan melalui serangan artileri, tembakan senjata, serta operasi penghancuran bangunan di sejumlah wilayah kantong Palestina tersebut, sembari memperluas zona penyangga di bagian timur Kota Gaza.
Dua orang syahid dan beberapa lainnya terluka ketika sebuah pesawat nirawak Israel menghantam kamp Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada hari Kamis, menurut keterangan Pertahanan Sipil Gaza. Empat orang lainnya syahid dalam serangan di lokasi lain di wilayah tersebut.
Rumah sakit di Gaza mengonfirmasi telah menerima jenazah enam orang yang syahid. Dua di antaranya tewas ketika sebuah pesawat nirawak (drone) Israel menghantam halaman sebuah rumah di kawasan Batn as-Sameen, Khan Younis, di wilayah selatan Gaza; demikian disampaikan sumber medis kepada kantor berita Anadolu. Jenazah para korban dibawa ke Rumah Sakit Nasser.
Serangan Israel lainnya menghantam sebuah jalan yang ramai di Kota Gaza pada hari Kamis, menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya, tambah sumber tersebut.
Sebelumnya pada hari yang sama, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa setidaknya delapan orang tewas dalam kurun waktu 24 jam, sementara 17 orang lainnya terluka. Pihak kementerian tidak memberikan informasi tambahan mengenai kronologi jatuhnya korban.
Pada Rabu, serangan Israel terhadap kendaraan bantuan kemanusiaan yang mengangkut barang dari perlintasan Karem Abu Salem (yang dikenal sebagai Kerem Shalom oleh pihak Israel) menuju sebuah gudang di Gaza menewaskan satu orang. World Central Kitchen (WCK), salah satu organisasi utama yang menyalurkan makanan bagi warga Palestina yang membutuhkan, menyatakan bahwa pengemudi kendaraan tersebut—yang diidentifikasi sebagai Ahmad Nasser Saleem—gugur.
"Pengiriman bantuan kemanusiaan tidak boleh menjadi sasaran serangan," ujar WCK dalam sebuah pernyataan. Mereka menambahkan bahwa pihaknya telah menghubungi keluarga korban dan menyampaikan belasungkawa, serta menuntut pertanggungjawaban penuh dari Israel atas serangan tersebut.
Palestine Chronicle mengutip sumber-sumber lokal menyebutkan, drone quadcopter dan kendaraan militer Israel melepaskan tembakan intensif ke lingkungan Al-Tuffah. Pada saat yang sama, artileri Israel membombardir kawasan timur Kota Gaza disertai operasi pembongkaran dan penghancuran bangunan.
Sumber yang sama mengatakan, pasukan Israel memperluas wilayah yang mereka tetapkan sebagai "zona kuning" di Al-Tuffah di bawah gempuran tembakan. Langkah itu menyebabkan sejumlah keluarga Palestina terjebak di dalam kawasan tersebut.
Di Gaza bagian tengah, tank-tank Israel melepaskan tembakan secara intensif ke arah timur laut Kamp Pengungsi Al-Bureij. Sementara itu, kapal perang Israel menembaki kawasan pesisir di sebelah barat Khan Younis, Jalur Gaza selatan.
Meski gencatan senjata masih berlaku, militer Israel terus melanjutkan operasi militernya melalui serangan udara, tembakan artileri, penghancuran bangunan, serta serangan ke wilayah-wilayah yang menjadi tempat perlindungan warga Palestina yang mengungsi.
Pembatasan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan, barang-barang komersial, serta perjalanan warga sipil juga masih diberlakukan.
Kementerian Kesehatan Gaza pada Rabu menyatakan, rumah-rumah sakit di seluruh Jalur Gaza menerima jenazah delapan warga Palestina dan merawat 17 korban luka dalam 24 jam terakhir.
Kementerian menambahkan, masih ada korban yang terjebak di bawah reruntuhan maupun berada di lokasi yang tidak dapat dijangkau oleh ambulans dan tim pertahanan sipil.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober, sebanyak 1.084 warga Palestina terbunuh dan 3.491 lainnya terluka. Sementara itu, 799 korban dilaporkan telah pulih dari luka-lukanya.
Secara keseluruhan, jumlah korban tewas akibat agresi militer Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 73.110 orang. Adapun jumlah korban luka mencapai 173.599 orang.
Turki Kejutkan NATO, Rudal Hipersonik TAYFUN Hantam Kapal Bergerak di Laut
Turki mengumumkan keberhasilan uji coba rudal balistik TAYFUN Block-3 yang mampu menghantam sasaran bergerak di laut. Keberhasilan ini dinilai sebagai lompatan penting dalam pengembangan rudal balistik anti-kapal (anti-ship ballistic missile/ASBM) dan berpotensi menjadikan Turki sebagai negara anggota NATO pertama yang mendemonstrasikan kemampuan tersebut.
Uji coba dilakukan di lapangan tembak Sinop, di pesisir Laut Hitam, dan diumumkan pada 4 Juli 2026 oleh Kepala Kepresidenan Industri Pertahanan Turki, Prof. Dr. Haluk Gorgun. Dalam pernyataannya, Görgün menyebut rudal berhasil mengenai target maritim yang sedang bergerak dengan tingkat akurasi tinggi. Video yang dirilis pemerintah Turki memperlihatkan sasaran berhasil dihantam secara presisi.
Meski demikian, pemerintah Turki belum mengungkap rincian teknis pengujian tersebut, termasuk jarak tembak, kecepatan sasaran, maupun sistem pemandu terminal yang digunakan untuk mengunci target.
TAYFUN merupakan rudal balistik buatan perusahaan pertahanan Turki, Roketsan, yang saat ini menjadi rudal dengan jangkauan terjauh yang dikembangkan secara domestik. Program ini pertama kali diuji pada 2022 dan terus mengalami pengembangan melalui berbagai varian. Pada ajang pameran pertahanan IDEF 2025, Turki juga memperkenalkan varian hipersonik TAYFUN Block-4.
Dalam pengujian terbaru, TAYFUN Block-3 dilaporkan berhasil menghantam sasaran maritim bergerak berukuran sekitar tujuh meter. Di kalangan analis pertahanan, kemampuan mengenai target sekecil itu menggunakan rudal balistik dinilai menunjukkan kemajuan signifikan pada sistem pemandu terminal dan akurasi serangan fase akhir.
Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi demonstrasi publik pertama Turki menggunakan rudal balistik untuk menyerang sasaran di laut. Apabila kemampuan ini nantinya benar-benar dioperasikan secara penuh, Turki diperkirakan menjadi negara NATO pertama yang memiliki kemampuan rudal balistik anti-kapal.
Meski demikian, otoritas Ankara belum mengonfirmasi status operasional TAYFUN Block-3 maupun doktrin penggunaannya dalam operasi angkatan laut.
Sejauh ini pemerintah Turki juga belum memublikasikan data mengenai profil penerbangan, jangkauan pengujian, maupun parameter performa rudal selama uji coba berlangsung.
Berdasarkan pernyataan resmi dan penilaian sejumlah analis pertahanan, TAYFUN Block-3 melesat dengan kecepatan hipersonik atau lebih dari Mach 5 pada fase terminal sebelum menghantam sasaran. Kemampuan mempertahankan kecepatan tersebut sambil mengunci target laut yang bergerak dinilai membutuhkan sistem pencari (terminal seeker) yang mampu bekerja dalam kondisi panas ekstrem akibat gesekan udara dan gangguan plasma.
Versi awal TAYFUN Block-1 sebelumnya telah membuktikan jangkauan uji sejauh 561 kilometer saat debutnya pada 2022. Jangkauan operasional rudal itu diperkirakan mencapai sekitar 800 kilometer.
Analis pertahanan memperkirakan TAYFUN Block-3 masih mempertahankan jangkauan operasional antara 500 hingga 800 kilometer. Dengan radius tersebut, rudal ini secara teoritis mampu menjangkau seluruh kawasan Laut Hitam serta sebagian besar Mediterania Timur jika diluncurkan dari wilayah daratan Turki.
Kemampuan menyerang sasaran bergerak pada jarak sejauh itu umumnya memerlukan dukungan sistem penargetan di luar cakrawala (over-the-horizon targeting), baik melalui radar jarak jauh, pesawat nirawak, maupun jaringan pengintaian lainnya. Hingga kini, Ankara belum menjelaskan sistem pendukung yang digunakan dalam pengujian TAYFUN Block-3.
Fase Baru Industri Pertahanan Turki
Keberhasilan TAYFUN Block-3 menghantam target laut yang bergerak tidak sekadar menjadi pencapaian dalam uji coba rudal, tetapi juga menandai fase baru perkembangan industri pertahanan Turki. Jika varian sebelumnya lebih berorientasi pada serangan terhadap sasaran darat yang bersifat statis, Block-3 dirancang untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks: mengenai target berukuran kecil yang terus bergerak di tengah lingkungan laut yang dinamis.
Perbedaan paling mencolok dibanding TAYFUN Block-1 terletak pada misi operasionalnya. Block-1, yang pertama kali diuji pada 2022, difokuskan sebagai rudal balistik jarak menengah untuk menyerang sasaran darat dengan jangkauan uji hingga 561 kilometer dan estimasi jangkauan operasional sekitar 800 kilometer. Pada tahap tersebut, tantangan utamanya adalah menjaga akurasi terhadap target yang telah diketahui koordinatnya.
Sementara itu, TAYFUN Block-3 membawa kemampuan baru berupa serangan terhadap target maritim yang bergerak. Dalam uji coba terbaru, rudal tersebut dilaporkan berhasil menghantam sasaran sepanjang sekitar tujuh meter. Bagi rudal balistik, kemampuan mengenai objek sekecil itu di laut merupakan tantangan teknis yang jauh lebih besar dibanding menyerang fasilitas darat, karena sasaran terus berpindah posisi selama rudal melaju menuju target.
Kemampuan tersebut mengindikasikan adanya peningkatan signifikan pada sistem terminal seeker, yakni perangkat pencari sasaran yang bekerja pada fase akhir penerbangan rudal. Berbeda dengan rudal balistik konvensional yang hanya mengandalkan koordinat awal, rudal anti-kapal harus mampu memperbarui posisi target dan melakukan koreksi lintasan sesaat sebelum menghantam sasaran. Tanpa sistem pencari yang canggih, peluang mengenai kapal yang terus bermanuver akan sangat kecil.
Tantangan lain muncul karena TAYFUN Block-3 disebut melesat dengan kecepatan hipersonik atau di atas Mach 5 saat memasuki fase terminal. Pada kecepatan tersebut, gesekan dengan atmosfer menghasilkan panas ekstrem dan membentuk lapisan plasma di sekitar rudal. Kondisi ini dapat mengganggu kerja sensor dan komunikasi dengan sistem pemandu. Karena itu, keberhasilan menghantam target bergerak mengindikasikan bahwa Turki telah mengembangkan teknologi sensor, material pelindung, dan algoritma kendali yang lebih maju dibanding generasi sebelumnya.
Meski demikian, Ankara belum memublikasikan spesifikasi teknis terminal seeker maupun metode penargetan yang digunakan. Para analis memperkirakan kemampuan tersebut didukung jaringan penargetan di luar cakrawala (over-the-horizon targeting), baik melalui radar jarak jauh, pesawat nirawak, maupun platform intelijen lainnya yang terus memperbarui posisi target selama rudal berada dalam penerbangan.
Apabila kemampuan ini nantinya dikonfirmasi telah memasuki tahap operasional, TAYFUN Block-3 tidak hanya meningkatkan daya tangkal militer Turki, tetapi juga menunjukkan bahwa industri pertahanan nasional negara itu mulai menguasai salah satu teknologi rudal paling kompleks di dunia. Bagi Ankara, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa investasi jangka panjang dalam riset dan pengembangan pertahanan mulai menghasilkan sistem senjata yang mampu bersaing di level internasional.
Untuk Serang Kapal
Rudal balistik anti-kapal atau anti-ship ballistic missile (ASBM) adalah rudal balistik yang dirancang untuk menyerang kapal perang di laut. Berbeda dengan rudal balistik konvensional yang umumnya diarahkan ke sasaran darat dengan koordinat tetap, ASBM harus mampu mengejar target yang terus bergerak, berubah arah, dan berada di lingkungan laut yang penuh gangguan.
Kesulitannya terletak pada sifat target itu sendiri. Kapal perang bukan bangunan, pangkalan, atau landasan pacu yang posisinya tetap. Ia dapat bermanuver, mengubah kecepatan, memakai sistem pengecoh, serta bergerak menjauh dari titik awal yang sudah terdeteksi. Karena itu, rudal tidak cukup hanya diberi koordinat peluncuran. Ia membutuhkan pembaruan data target selama penerbangan.
Di sinilah tantangan ASBM menjadi sangat kompleks. Rudal harus mendapatkan informasi awal dari radar, pesawat intai, satelit, kapal, atau drone. Setelah diluncurkan, posisi target harus terus diperbarui secara real time atau mendekati real time. Tanpa jaringan sensor yang kuat, rudal dapat tiba di titik yang benar menurut data lama, tetapi kapal target sudah bergerak ke posisi lain.
Masalah berikutnya muncul pada fase terminal, yakni detik-detik terakhir sebelum rudal menghantam sasaran. Pada fase ini, rudal balistik biasanya meluncur sangat cepat dari ketinggian menuju target. Jika kecepatannya mencapai hipersonik, waktu untuk melakukan koreksi lintasan menjadi sangat singkat. Sistem pencari sasaran atau *terminal seeker* harus mampu mengenali kapal, membedakannya dari gelombang laut, umpan pengecoh, dan objek lain, lalu mengarahkan rudal ke titik benturan dengan presisi tinggi.
Karena itulah tidak banyak negara yang menguasai ASBM. Teknologi ini bukan hanya soal membuat rudal yang dapat terbang jauh dan cepat. Negara pengembang juga harus memiliki ekosistem lengkap: sensor jarak jauh, sistem komando-kendali, komunikasi data yang aman, algoritma pemandu, material tahan panas, serta kemampuan mengintegrasikan semua unsur itu dalam satu rantai serangan.
Bagi angkatan laut lawan, ASBM menjadi ancaman serius karena dapat memaksa kapal perang besar beroperasi lebih jauh dari garis pantai. Kapal induk, kapal perusak, atau kapal amfibi tidak lagi bebas mendekat jika wilayah pesisir lawan dilindungi rudal balistik anti-kapal jarak jauh. Inilah yang membuat ASBM sering dikaitkan dengan strategi anti-access/area denial atau A2/AD, yakni upaya mencegah musuh memasuki dan menguasai kawasan tertentu.
Dalam konteks TAYFUN Block-3, kemampuan menghantam target maritim bergerak menjadi penting karena menunjukkan Turki tidak hanya mengembangkan rudal balistik jarak jauh, tetapi mulai memasuki wilayah teknologi yang jauh lebih rumit. Jika kemampuan ini benar-benar matang secara operasional, Ankara akan memiliki instrumen baru untuk memperkuat daya tangkalnya di Laut Hitam, Laut Aegea, dan Mediterania Timur.
Setelah 1.000 Hari Perang, Genosida Ekologis Mengancam Kehidupan Warga Gaza
Memasuki hari ke-1.000 perang di Jalur Gaza, dampak kehancuran tidak lagi terbatas pada bangunan yang hancur dan infrastruktur yang lumpuh. Kerusakan tersebut telah berkembang menjadi bencana lingkungan dan kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengancam kehidupan lebih dari dua juta penduduk serta memperumit upaya pemulihan dan rekonstruksi di masa depan.
Kerusakan besar-besaran terhadap rumah, fasilitas umum, dan layanan dasar telah menyebabkan penumpukan puing dalam jumlah sangat besar yang bercampur dengan limbah perang, bahan berbahaya, dan amunisi yang belum meledak. Kondisi ini menjadikan banyak wilayah di Gaza tidak lagi aman untuk dihuni serta menciptakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Sektor air bersih dan sanitasi menjadi salah satu yang paling terdampak. Kerusakan pada sumur, jaringan distribusi, stasiun pemompaan, dan instalasi pengolahan limbah menyebabkan layanan dasar menurun drastis. Di saat yang sama, pencemaran air tanah oleh limbah domestik meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air.
Meningkatnya pencemaran tanah dan laut turut memperburuk kondisi lingkungan, sementara keterbatasan air bersih yang aman semakin meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat.
Sampah, Hama, dan Laut yang Tercemar
Runtuhnya sistem pengelolaan sampah menyebabkan limbah rumah tangga, medis, dan limbah berbahaya menumpuk di kawasan permukiman serta tempat-tempat pengungsian. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi berkembangnya tikus, serangga, dan berbagai vektor penyakit.
Di sisi lain, pembuangan air limbah yang tidak diolah langsung ke laut mempercepat kerusakan ekosistem pesisir dan mengancam sumber daya perikanan, sekaligus menambah risiko kesehatan bagi masyarakat yang bergantung pada laut.
Ageesi Israel juga menghancurkan sektor pertanian. Lahan pertanian, kebun, dan berbagai sumber daya alam mengalami kerusakan serta penggusuran dalam skala luas. Dampaknya tidak hanya dirasakan terhadap produksi pangan, tetapi juga terhadap perekonomian lokal dan mata pencaharian ribuan keluarga Palestina.
Kondisi tersebut semakin memperburuk krisis ketahanan pangan di Gaza, yang telah lama menghadapi keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Amunisi yang Belum Meledak Menghambat Pemulihan
Selain pencemaran lingkungan, keberadaan amunisi yang belum meledak dan sisa-sisa bahan peledak masih menjadi ancaman langsung bagi warga sipil. Bahaya ini menghambat proses pembersihan puing, memperlambat rekonstruksi, dan meningkatkan risiko kecelakaan di berbagai wilayah.
Puing-puing yang mengandung bahan berbahaya, termasuk asbes, juga memerlukan penanganan khusus agar tidak menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.
Upaya memulihkan kondisi lingkungan di Gaza memerlukan langkah-langkah mendesak, mulai dari pembersihan puing dan amunisi, pemulihan sistem air dan sanitasi, pengelolaan limbah, rehabilitasi lahan pertanian, hingga pengendalian pencemaran dan wabah penyakit.
Namun, keberhasilan proses tersebut bergantung pada tersedianya akses bagi alat berat, bahan bangunan, bahan bakar, serta dukungan pendanaan internasional yang memadai untuk membangun kembali infrastruktur dan memulihkan layanan dasar.
Setelah 1.000 hari perang, krisis lingkungan telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Gaza. Upaya menyelamatkan lingkungan kini tidak hanya menjadi bagian dari proses rekonstruksi, tetapi juga merupakan syarat utama untuk melindungi kesehatan masyarakat dan memastikan kehidupan yang layak bagi penduduk di masa depan.