News Komoditi & Global ( Selasa, 7 April 2026 )
News Komoditi & Global
( Selasa, 7 April 2026 )
Harga Emas Global Rebound saat Pedagang Mengamati Tenggat Waktu Trump untuk Iran
Harga Emas (XAU/USD) pulih ke dekat $4.660 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Selasa. Logam mulia ini bergerak naik saat para pedagang mengamati tenggat waktu Presiden AS, Donald Trump, pada hari Selasa untuk melakukan serangan militer terhadap infrastruktur Iran setelah penutupan Selat Hormuz.
Trump mengatakan pada hari Senin bahwa proposal terbaru untuk gencatan senjata AS dengan Iran "tidak cukup baik," menjelang tenggat waktu yang semakin dekat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan besar pada infrastruktur sipilnya.
Presiden AS menegaskan kembali ancamannya untuk menyerang infrastruktur energi dan transportasi Iran pada hari Selasa pukul 20.00 ET jika selat tersebut tidak dibuka kembali. Namun, kenaikan harga minyak mentah akibat kekhawatiran pasokan yang terkait dengan Selat Hormuz dapat meningkatkan kekhawatiran inflasi. Hal ini dapat menggeser ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan membebani aset-aset yang tidak berimbal hasil. Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik saat suku bunga tinggi.
Kontrak berjangka menunjukkan hampir tidak ada peluang perubahan pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) tanggal 28-29 April dan probabilitas 77,5% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun, menurut CME FedWatch tool.
Harga Minyak Dunia Lanjut Reli, Donald Trump Mempertajam Retorika Terhadap Iran
Harga minyak terus meroket karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan retorikanya terhadap Iran, mengancam tindakan yang lebih keras jika negara tersebut gagal membuka kembali Selat Hormuz, jalur transit minyak global yang penting.
Selasa (7/4/2026) pukul 07.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2026 naik 57 sen atau 0,5% menjadi US$ 110,34 per barel.
Sementara, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2026 menguat US$ 1,26 atau 1,1% ke US$ 113,67 per barel.
Sokongan bagi harga minyak datang setelah Trump mengancam akan "menghujani Teheran dengan neraka" jika gagal mematuhi tenggat waktu pukul 8 malam EDT hari ini (7/4/2026) untuk membuka kembali selat tersebut.
"Mereka bisa disingkirkan," Trump memperingatkan, dan berjanji akan mengambil tindakan lebih lanjut jika kesepakatan tidak tercapai.
Menanggapi proposal AS melalui mediator Pakistan, Teheran menolak gencatan senjata dan mengatakan bahwa pengakhiran permanen perang diperlukan, dan menolak tekanan untuk membuka kembali selat tersebut.
Pasukan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz setelah serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, mengganggu jalur air yang biasanya membawa sekitar 20% aliran minyak global.
"Pengamatan waktu kini memainkan peran yang hampir sama besarnya di pasar minyak seperti fundamental itu sendiri menjelang tenggat waktu ultimatum Trump," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
"Potensi kesepakatan gencatan senjata menawarkan penyeimbang dan dapat memicu penurunan harga jika mendapat daya tarik, tetapi kekhawatiran pasokan yang terus-menerus dari titik hambatan Hormuz dan fasilitas energi yang rusak menjaga harga tetap rendah."
Pada hari Senin (6/4/2026), Garda Revolusi Iran menghentikan dua kapal tanker gas alam cair Qatar dan memerintahkan mereka untuk tetap di posisi tanpa memberikan penjelasan, menurut sumber yang dikutip Reuters.
Namun, data pelayaran menunjukkan pergerakan kapal yang terbatas melalui selat tersebut sejak Kamis lalu.
Dewan Keamanan PBB diperkirakan akan melakukan pemungutan suara (voting) pada hari ini mengenai resolusi untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz, tetapi dalam bentuk yang jauh lebih lunak setelah China yang memiliki hak veto menentang otorisasi penggunaan kekuatan, kata para diplomat.
Serangan di wilayah tersebut berlanjut ketika ledakan terdengar di ibu kota Suriah, Damaskus, dan daerah sekitarnya pada hari Selasa yang disebabkan oleh pencegatan rudal Iran oleh Israel, lapor televisi pemerintah Suriah.
Di sisi lain, Arab Saudi mengatakan telah mencegat dan menghancurkan tujuh rudal balistik yang diluncurkan ke arah wilayah timurnya pada hari ini (7/4/2026). Di mana, puing-puing jatuh di dekat fasilitas energi, menurut kementerian pertahanan.
Konflik tersebut telah menekan pasar minyak mentah global, dengan premi spot untuk minyak mentah WTI AS melonjak ke rekor tertinggi karena kilang-kilang di Asia dan Eropa berebut untuk mengamankan pasokan pengganti di tengah terganggunya aliran minyak dari Timur Tengah.
Perusahaan minyak negara Arab Saudi, Aramco, menaikkan harga jual resmi minyak mentah Arab Light ke Asia untuk pengiriman Mei, menetapkan premi rekor sebesar $19,50 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai.
Menambah kekhawatiran pasokan, Rusia pada hari Senin mengatakan drone Ukraina menyerang terminal Caspian Pipeline Consortium di Laut Hitam, yang menangani 1,5% pasokan minyak global. Rusia melaporkan kerusakan pada infrastruktur pemuatan dan tangki penyimpanan.
OPEC+ sepakat pada hari Minggu untuk menaikkan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari pada bulan Mei, meskipun peningkatan tersebut sebagian besar bersifat nominal karena anggota-anggota kunci tidak dapat meningkatkan produksi akibat penutupan selat yang membatasi ekspor.
Wall Street Ditutup Menguat: Investor Analisis Negosiasi dan Ancaman Antara AS-Iran
Wall Street ditutup menguat di awal pekan ini karena investor mencari tanda-tanda kemajuan menuju kesepakatan gencatan senjata Amerika Serikat (AS)-Iran dan mengevaluasi pernyataan Presiden Donald Trump yang semakin memanas Ancaman eskalasi jika Iran gagal membuka kembali Selat Hormuz.
Senin (6/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 165,21 poin atau 0,36% menjadi 46.669,88, indeks S&P 500 menguat 29,33 poin atau 0,45% ke 6.612,02 dan indeks Nasdaq Composite menguat 117,16 poin atau 0,54% ke 21.996,34.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor layanan komunikasi mencatatkan kenaikan persentase terbesar. Sementara, sektor utilitas menjadi sektor yang paling tertinggal.
Saham sektor perjalanan/rekreasi, kedirgantaraan & pertahanan, dan pembangunan rumah menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik.
Dengan posisi kali ini, indeks S&P 500 dan Nasdaq berada di jalur untuk kenaikan hari keempat berturut-turut, rentetan kemenangan terpanjang mereka sejak Januari.
Iran telah menolak proposal AS untuk gencatan senjata segera, dan bersikeras untuk mengakhiri perang secara permanen, menurut Kantor Berita Republik Islam (IRNA).
Penolakan tersebut menyusul ultimatum Trump yang semakin agresif, yang bersumpah akan "menghujani Iran dengan neraka" jika jalur penting Selat Hormuz tetap tertutup bagi lalu lintas kapal tanker minyak.
Para investor mendapat sedikit kepastian dari sebuah laporan yang menunjukkan bahwa AS, Iran, dan sekelompok mediator regional terus membahas syarat-syarat gencatan senjata potensial.
"Kenyataannya adalah kita semakin mendekati, mudah-mudahan, semacam resolusi," kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha.
"Sayangnya, itu tidak akan terjadi hari ini. Tetapi saya pikir investor merasa bahwa kita melihat lebih banyak pembicaraan dari masing-masing pihak."
"Volatilitas dan berita harian bisa sangat menjengkelkan," tambah Detrick. "Tetapi ada rasa optimisme di udara dengan musim pendapatan yang akan datang, yang akan segera dimulai, bahwa perusahaan-perusahaan Amerika sekali lagi akan menunjukkan kinerja yang solid dan kemungkinan membenarkan apa yang masih kita anggap sebagai pasar bullish."
Perang AS-Israel di Iran telah mengguncang pasar selama lebih dari sebulan. Lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi, dan saham-saham telah jatuh.
Meskipun indeks S&P berada di jalur untuk sesi kenaikan keempat berturut-turut, indeks acuan tersebut tetap turun 3,9% sejak konflik dimulai.
Data ekonomi pada hari Senin menunjukkan sektor jasa AS berekspansi lebih lambat dari perkiraan pada bulan Maret, meskipun lapangan kerja di sektor tersebut mengalami kontraksi dan harga yang dibayarkan, sebagai indikator inflasi, melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022.
Laporan pekerjaan bulan Maret yang sangat dinantikan, yang dirilis pada hari libur pasar Jumat Agung, menunjukkan ekonomi AS menambah 178.000 pekerjaan bulan lalu, hampir tiga kali lipat dari konsensus 60.000, sebuah kejutan positif yang diredam oleh revisi kehilangan pekerjaan bulan Februari, menjadi 133.000 dari 92.000.
Saham Soleno Therapeutics melonjak 32,3% setelah Neurocrine Biosciences setuju untuk mengakuisisi perusahaan obat penyakit langka tersebut dengan nilai $2,9 miliar secara tunai.
Kenaikan harga Bitcoin membantu saham-saham perusahaan yang terkait dengan mata uang kripto yang terdaftar di AS, Coinbase dan Strategy, naik masing-masing 1,9% dan 6,6%.
Iran Siapkan Tatanan Baru Teluk Persia, Selat Hormuz tak akan Kembali Seperti Semula
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Ahad (5/4/2026) menyatakan Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya, khususnya bagi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Peringatan itu seiring langkah Teheran menerapkan pengaturan keamanan baru di Teluk Persia yang bertujuan mengecualikan pihak-pihak yang dianggap bermusuhan.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi semula, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel,” demikian pernyataan tersebut dalam unggahan di platform media sosial X.
Pernyataan itu menambahkan bahwa Angkatan Laut IRGC Iran berada pada tahap akhir persiapan operasional untuk apa yang disebut para pejabat Iran sebagai “tatanan baru untuk Teluk Persia.”
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa hari setelah parlemen Iran menyetujui di tingkat komite rancangan undang-undang yang akan mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Media Iran melaporkan bahwa usulan tersebut mencakup kewajiban pembayaran biaya lintasan dalam mata uang nasional Iran, rial, larangan transit bagi AS dan Israel, serta pembatasan terhadap negara-negara yang terlibat dalam sanksi sepihak terhadap Iran.
Rancangan tersebut juga memuat ketentuan terkait kedaulatan Iran atas selat, kewenangan angkatan bersenjata, keamanan maritim, isu lingkungan, serta kerja sama hukum dengan Oman.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS sebagai bentuk pertahanan diri, yang menyebabkan korban dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Pada Sabtu (4/4/2026) lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran memiliki waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan atau membuka kembali Selat Hormuz. Tenggat dari Trump ini akan berakhir pada Selasa pagi waktu AS.
"Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz," kata Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, Sabtu.
"Waktu hampir habis — 48 jam sebelum neraka menimpa mereka," ujarnya.
Pada 26 Maret, Trump mengatakan ia memperpanjang tenggat negosiasi nuklir menjadi 10 hari setelah Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melewati Selat Hormuz. Hingga Jumat pekan lalu, sebanyak 220 kapal melintasi Selat Hormuz yang dikuasai Iran pada Maret, dengan kapal tanker pengangkut cairan menyumbang lebih dari setengah dari total penyeberangan, menurut data yang dibagikan oleh MarineTraffic dan Kpler.
MarineTraffic mengatakan di akun X bahwa 111 penyeberangan, atau 51 persen dari total bulanan, dilakukan oleh kapal tanker pengangkut cairan, diikuti oleh 82 kapal kargo curah kering, atau 37 persen, dan 27 kapal pengangkut LPG, atau 12 persen. Tidak ada penyeberangan kapal yang memuat LNG yang tercatat selama bulan tersebut, menurut data itu.
Lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap sangat condong ke arah pergerakan barat-timur dari Teluk, yang berjumlah 149 penyeberangan, atau 68 persen dari volume bulanan. Transit timur-barat ke Teluk berjumlah 71, atau 32 persen, menunjukkan arus lalu lintas yang tidak merata melalui salah satu titik strategis maritim paling penting di dunia.
Angka-angka tersebut muncul di tengah meningkatnya pengawasan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, di mana pergerakan kapal tetap jauh di bawah tingkat normal sejak dimulainya konflik yang melibatkan Iran pada 28 Februari.
AS dan Iran Terima Proposal Akhiri Konflik, Gencatan Senjata Segera Dibahas
Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menerima sebuah proposal untuk mengakhiri konflik yang berpotensi mulai berlaku secepatnya pada Senin (6/4/2026), sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Melansir Reuters, hal ini disampaikan oleh sumber yang mengetahui langsung pembahasan tersebut.
Menurut sumber tersebut, kerangka untuk mengakhiri permusuhan telah disusun oleh Pakistan dan dibagikan kepada Iran serta AS. Proposal ini mencakup pendekatan dua tahap, yakni gencatan senjata segera diikuti dengan kesepakatan komprehensif.
“Semua elemen harus disepakati hari ini,” ujar sumber tersebut.
Ia menambahkan bahwa kesepahaman awal akan dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) yang difinalisasi secara elektronik melalui Pakistan, yang menjadi satu-satunya jalur komunikasi dalam pembicaraan ini.
Sebelumnya, laporan Axios menyebutkan bahwa AS, Iran, dan mediator regional tengah membahas kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari sebagai bagian dari kesepakatan dua fase yang dapat mengarah pada berakhirnya perang secara permanen.
Sumber Reuters juga mengungkapkan bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir telah berkomunikasi intensif sepanjang malam dengan Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Dalam proposal tersebut, gencatan senjata akan segera diberlakukan dan diikuti pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selanjutnya, akan diberikan waktu sekitar 15 hingga 20 hari untuk merampungkan kesepakatan yang lebih luas.
Kesepakatan yang sementara disebut sebagai “Islamabad Accord” itu juga mencakup kerangka kerja regional terkait pengelolaan Selat Hormuz, dengan rencana perundingan tatap muka lanjutan di Islamabad.
Namun hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak AS maupun Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan juga menolak memberikan komentar.
Sebelumnya, pejabat Iran menyatakan bahwa Teheran menginginkan gencatan senjata permanen dengan jaminan tidak akan kembali diserang oleh AS dan Israel.
Iran juga diketahui telah menerima pesan dari sejumlah mediator, termasuk Pakistan, Turki, dan Mesir.
Kesepakatan akhir nantinya diperkirakan mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi dan pencairan aset yang dibekukan.
Meski demikian, dua sumber dari Pakistan menyebut Iran belum memberikan komitmen terhadap proposal tersebut, meskipun upaya diplomasi sipil dan militer terus ditingkatkan.
“Iran belum merespons,” kata salah satu sumber.
Upaya diplomasi terbaru ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik yang memicu kekhawatiran gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak global.
Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari terakhir juga terus menekan agar konflik segera diakhiri, seraya memperingatkan konsekuensi jika gencatan senjata tidak segera tercapai.
Ketegangan ini turut memicu volatilitas di pasar energi global, dengan pelaku pasar mencermati perkembangan yang dapat memengaruhi arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
PM Italia Ingatkan Krisis Energi, Bandara Sudah Batasi Jatah Avtur
Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni mengakui, jika situasi di Timur Tengah memburuk, negaranya dapat menghadapi kekurangan energi. Harian Corriere della Sera pada Sabtu (4/4/2026), melaporkan penerapan pembatasan awal bahan bakar jet di empat bandara Italia, yakni di Milan, Venesia, Treviso, dan Bologna.
"Ketika ketidakstabilan meningkat di negara-negara Teluk, hal itu berdampak pada biaya energi, dunia usaha, lapangan kerja, dan pada akhirnya daya beli keluarga," kata Meloni dalam video yang diunggah di media sosialnya.
Negara-negara Teluk memainkan peran penting dalam pasar energi global. Jika produksi di kawasan tersebut berkurang atau terhenti, harga energi akan meningkat bagi semua pihak, demikian menurut Meloni.
"Dan jika situasi memburuk, kita bisa menghadapi kondisi di mana kita tidak memiliki seluruh energi yang kita butuhkan, bahkan di Italia," ujarnya.
Pada Jumat dan Sabtu, Meloni mengunjungi negara-negara Teluk yang memasok sekitar 15 persen kebutuhan minyak Italia. "Saya membahas dengan mereka bagaimana memperkuat kerja sama, membantu menghentikan eskalasi, dan segera memulihkan kebebasan navigasi di jalur yang menjadi sandaran energi, perdagangan, dan stabilitas, dimulai dari Selat Hormuz," jelasnya.
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap target di Iran, khususnya Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Peningkatan ketegangan di kawasan Teluk Persia hampir menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting pasokan minyak dan gas alam cair global. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara.
Pemasok utama bahan bakar penerbangan mengeluarkan pemberitahuan kepada sejumlah maskapai penerbangan pada akhir pekan bahwa distribusi avtur akan dijatah hingga 9 April 2026 di sejumlah bandara Italia. Hal itu di tengah lonjakan trafik liburan Paskah dan ketegangan di wilayah Teluk.
Air BP mengumumkan pembatasan pengisian bahan bakar di empat bandara, yakni Bologna, Milan Linate, Treviso, dan Venesia, menurut laporan kantor berita ANSA.
Disebutkan bahwa prioritas pengisian bahan bakar akan diberikan kepada penerbangan ambulans udara, penerbangan negara, serta penerbangan dengan durasi lebih dari tiga jam. Sementara untuk penerbangan lainnya distribusi akan dijatah setidaknya hingga 9 April 3036.
Presiden Otoritas Penerbangan Sipil Italia ENAC, Pierluigi Di Palma, mengatakan, kesulitan pasokan bahan bakar “terkait dengan periode Paskah yang padat, bukan akibat penutupan Selat Hormuz.” "Jika konflik berlanjut, akan ada konsekuensi," kata Palma.
Iran Bantah Trump: Operasi Penyelamatan Pilot AS Gagal, Dua Helikopter Black Hawk Ikut Dibom IRGC
Juru Bicara Khatam al-Anbiya Kolonel Ebrahim Zolfaghari mengumumkan pada Ahad (5/4/2026) bahwa upaya penyelamatan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap pilot mereka yang jet tempur ditembak jatuh IRGC berakhir pada kegagalan. Sebelumnya pada Sabtu (4/3/2026), pihak AS mengonfirmasi jet tempurnya ditembak jatuh di Iran dan pilotnya dalam perburuan.
Zolfaghari mengatakan bahwa, berdasarkan informasi intelijen dan asesmen lanjutan, terkonfirmasi bahwa dua pesawat transport militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk yang dikerahkan dalam operasi pencarian pilot AS berhasil dihancurkan oleh IRGC. Zolfaghari menggambarkan itu sebagai hasil dari "janji dan dukungan ilahi" dan "pengorbanan suci dari pasukan Iran, yang membuat kegagalan berulang dari militer AS."
Juru bicara IRGC itu menegaskan bahwa insiden dihancurkannya dua pewasat C-130 dan dua heli Black Hawk membuktukan "militer AS yang lemah dan terkalahkan bukan kekuatan dominan dalam perang jika berhadapan dengan determinan angkatan bersenjata Iran."
Menurut Zolfaghari, menyusul "operasi kemenangan dan membanggakan" Presiden AS meresponsnya dengan perang psikologis dan kebohongan dalam upaya untuk mengalihkan isu kekalahan, yang ia gambarkan sebagai retorika tanpa dasar meski realitas di medan perang mengindikasikan keunggulan Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kopilot pesawat jet F-15E, yang ditembak jatuh di Iran, dalam kondisi selamat. Sehingga menurutnya, itu menjadi salah satu operasi pencarian dan penyelamatan paling berani dalam sejarah Amerika yang telah dilakukan untuk menyelamatkannya.
Sebelumnya, CBS mengklaim, dengan mengutip sumber, bahwa salah satu pilot telah diselamatkan dan dievakuasi oleh dua helikopter militer Amerika Serikat.
"Saudara-saudaraku warga Amerika, dalam beberapa jam terakhir, militer Amerika Serikat telah melakukan salah satu Operasi Pencarian dan Penyelamatan yang paling berani dalam sejarah AS untuk salah satu perwira kru kita yang luar biasa, dan juga kebetulan merupakan seorang kolonel yang amat dihormati; dan dengan senang hati saya beritahukan kepada Anda bahwa ia sekarang selamat dan sehat!" kata Trump di media sosial TruthSocial.
Trump menambahkan bahwa militer Amerika terus memonitor lokasi sang pilot selama 24 jam. Meskipun mengalami luka, katanya, sang pilot dalam keadaan baik.
"Atas instruksi saya, militer AS mengerahkan puluhan pesawatnya yang dilengkapi dengan senjata paling mematikan di dunia untuk menyelamatkannya. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah militer bahwa dua pilot AS telah diselamatkan, secara terpisah, meskipun mereka berada jauh di dalam wilayah musuh," ujar Trump.
Menurut Washington Post, pesawat tempur Amerika yang jatuh di Iran itu diyakini merupakan jet tempur dan pengebom F-15 E, dengan kru berjumlah dua orang.
Kantor Berita Tasnim sebelumnya melaporkan pihak militer Iran telah menangkap pilot AS tersebut usai berhasil menyelamatkan diri setelah pesawatnya ditembak sistem pertahanan udara Iran.
UEA: Akses Selat Hormuz Harus Dijamin dalam Kesepakatan AS-Iran
Uni Emirat Arab (UEA) menegaskan bahwa setiap penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran harus menjamin akses bebas melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.
Melansir Reuters pada Senin (6/4/2026),penasihat diplomatik Presiden UEA Anwar Gargash mengatakan, Selat Hormuz tidak boleh dijadikan alat tekanan politik.
Menurutnya, keamanan jalur tersebut bukan sekadar kepentingan regional, melainkan kebutuhan ekonomi global.
“Selat Hormuz tidak boleh disandera oleh negara mana pun. Kebebasan navigasi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap penyelesaian konflik,” ujar Gargash dalam pengarahan akhir pekan.
Ia juga memperingatkan bahwa kesepakatan yang tidak menyentuh akar masalah seperti program nuklir Iran serta pengembangan rudal dan drone berisiko menciptakan kawasan Timur Tengah yang lebih berbahaya dan tidak stabil.
UEA, lanjut Gargash, menginginkan perang segera berakhir, tetapi menolak gencatan senjata yang hanya bersifat sementara tanpa solusi menyeluruh.
“Kami tidak ingin eskalasi terus berlanjut, tetapi kami juga tidak ingin gencatan senjata yang mengabaikan isu-isu utama,” tegasnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menyerang infrastruktur Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari lima minggu ini telah mengganggu arus perdagangan energi global.
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia biasanya melintasi Selat Hormuz setiap hari, namun kini lalu lintasnya sangat terbatas akibat serangan dan ketegangan militer.
Gargash menyatakan, UEA siap bergabung dalam upaya internasional yang dipimpin AS untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut.
Ia juga mengakui bahwa negaranya termasuk yang paling terdampak serangan Iran di kawasan Teluk.
Meski menghadapi tekanan, Gargash menilai kondisi ekonomi UEA tetap kuat dan memiliki ketahanan untuk pulih. Namun, ia memperkirakan konflik ini justru akan memperkuat aliansi keamanan negara-negara Teluk dengan Amerika Serikat, sekaligus memperbesar peran militer AS di kawasan.
UEA, katanya, tetap tidak menginginkan permusuhan dengan Iran, tetapi menilai sulit membangun kepercayaan selama kebijakan pemerintah Teheran saat ini tidak berubah.
Iran Peringatkan Dampak Serangan AS dan Israel ke PLTN Bushehr Bisa Hancurkan Negara Teluk
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa dampak radioaktif dari serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr berpotensi menghancurkan kehidupan di ibu kota negara-negara kawasan Teluk Persia. Ia menegaskan, ancaman tersebut justru tidak akan memengaruhi Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi pada Sabtu (4/4), menyusul laporan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel. “Dampak radiasi akan mengakhiri kehidupan di ibu kota negara-negara GCC, bukan Teheran,” ujar Araghchi melalui media sosial X.
Sebelumnya, Organisasi Energi Atom Iran melaporkan bahwa PLTN Bushehr menjadi sasaran serangan yang menyebabkan satu pekerja tewas. Serangan tersebut disebut terjadi dalam beberapa gelombang, termasuk pada 17, 24, dan 27 Maret.
Selain Bushehr, Iran juga melaporkan serangan terhadap sejumlah fasilitas nuklir lain, seperti Natanz pada 1 dan 21 Maret, fasilitas air berat di Khondab pada 27 Maret, serta pabrik konsentrat uranium di Ardakan. Teheran menuding Washington dan Tel Aviv berada di balik rangkaian serangan tersebut.
Ketegangan meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang mengakibatkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran atas eskalasi ini juga datang dari Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan negaranya semakin cemas dengan laporan serangan terbaru terhadap PLTN Bushehr.
“Kami mengecam keras aksi yang menyebabkan korban jiwa ini,” kata Zakharova. Ia menambahkan, Rusia tengah mempelajari informasi yang berkembang dan mendesak agar serangan terhadap fasilitas nuklir Iran segera dihentikan guna mencegah dampak yang lebih buruk.
Rusia juga menyerukan perhatian komunitas internasional terhadap situasi di PLTN Bushehr yang dinilai semakin berbahaya, seiring meningkatnya intensitas serangan di kawasan tersebut.
Cara China Bantu Iran: Sodorkan Citra Satelit AI yang Ungkap Pangkalan AS di Timur Tengah
Komunitas intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkap cara China membantu Iran dalam perang yang sedang berlangsung saat ini. Caranya adalah perusahaan Beijing menyodorkan citra satelit yang di-upgrade dengan aritificial intelligence (AI), yang menampilkan pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah untuk memudahkan identifikasi target. ABC News telah diberi pengarahan tentang intelijen ini oleh sumber di internal pertahanan AS, yang mengatakan bahwa citra-citra tersebut membahayakan nyawa personel militer Amerika. Baca Juga: Rudal Iran Tembus Iron Dome dan Gempur Gedung 7 Lantai Israel, 3 Orang Hilang Perusahaan AI dan perangkat lunak geospasial China, MizarVision, yang sebagian kecil sahamnya dimiliki oleh pemerintah China, telah menerbitkan citra satelit terperinci dengan data penandaan dari beberapa situs militer AS menjelang dan selama perang Iran. Citra tersebut menunjukkan alat AI yang mengidentifikasi dan menandai pasukan militer di wilayah yang luas, kemampuan yang dulunya membutuhkan sumber daya dari badan intelijen nasional. Pentagon percaya bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menggunakan citra satelit yang di-upgrade dengan AI untuk membantu menargetkan situs, menurut seorang sumber di Badan Intelijen Pertahanan (DIA), cabang intelijen militer Amerika. "Ini adalah contoh perusahaan China, yang kami yakini dengan niat jahat, menyediakan intelijen pada platform sumber terbuka yang memberikan informasi tentang protokol penargetan rudal dan pesawat tanpa awak [drone]," kata sumber DIA kepada ABC News, Senin (6/4/2026). "Ini membahayakan nyawa warga Amerika, dan secara tidak langsung sekutu kami." Australia memiliki tentara yang ditempatkan di Timur Tengah, termasuk di fasilitas Australia yang rusak akibat serangan Iran terhadap pangkalan udara Timur Tengah di Uni Emirat Arab, yang dihantam oleh proyektil Iran pada 18 Maret. Seorang sumber pemerintah AS yang berbasis di Australia secara terpisah telah mengonfirmasi penilaian rahasia tersebut. Perusahaan China tersebut telah menggunakan perangkat lunak tersebut untuk mengidentifikasi berbagai kemampuan militer, termasuk jenis pesawat tertentu, lokasi kapal angkatan laut, penempatan sistem pertahanan udara, dan radar. Komite Pilihan bipartisan tentang Partai Komunis China, yang terdiri dari anggota Kongres AS, mengatakan bahwa intelijen China merupakan ancaman bagi pasukan Amerika yang memerangi Iran. "Perusahaan yang terkait dengan Partai Komunis China (CCP) mengubah AI menjadi alat pengawasan medan perang melawan Amerika," kata komite itu dalam sebuah pernyataan di halaman Facebook resminya bulan lalu. "Ancaman dari ekosistem teknologi China bukanlah teori, tetapi ancaman yang nyata." Pada akhir pekan, perusahaan satelit Planet Labs mengatakan pemerintah AS telah meminta semua penyedia citra satelit untuk menahan citra wilayah konflik tanpa batas waktu. "Ada kekhawatiran yang nyata tentang penggunaan data Planet di Iran, serta periode risiko yang lebih panjang untuk citra terbaru," kata juru bicara perusahaan kepada ABC News sebelum pengumuman tersebut. MizarVision tidak menanggapi permintaan berulang dari ABC News untuk memberikan komentar. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri China mengatakan perusahaan-perusahaan China selalu diharuskan "untuk menjalankan bisnis mereka sesuai dengan hukum dan peraturan". "Dipahami bahwa citra satelit yang dirilis oleh perusahaan-perusahaan terkait diperoleh dari saluran sumber terbuka dan merupakan praktik pasar rutin," katanya kepada ABC News dalam sebuah pernyataan. "Sejak pecahnya permusuhan di Iran, entitas-entitas tertentu telah berupaya untuk secara jahat menghubungkan konflik tersebut dengan China untuk tujuan sensasionalis, sebuah praktik yang ditentang keras oleh China," imbuh kementerian tersebut. Citra Sensitif Disodorkan Jelang Perang Menjelang perang Iran, MizarVision semakin fokus pada aset militer AS di Timur Tengah. Sebagai contoh, perusahaan tersebut mempublikasikan gambar Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi di akun Weibo-nya, dengan analisis yang mengidentifikasi aset-aset penting, setidaknya setengah lusin kali dalam seminggu sebelum perang dimulai. Pada 24 Februari, perusahaan tersebut mempublikasikan citra yang menunjukkan lokasi sistem pertahanan udara Patriot di pangkalan tersebut. Mereka mempublikasikan gambar lebih lanjut dari pangkalan tersebut yang menunjukkan lokasi puluhan pesawat pada 27 Februari, sehari sebelum perang dimulai. Kurang dari 48 jam setelah unggahan tersebut, pembalasan Iran menargetkan pangkalan tersebut, melukai seorang anggota militer AS secara serius, yang kemudian meninggal di rumah sakit. Michael Dahm, pakar dari Program Studi Kebijakan Keamanan di Elliott School of International Affairs, belum melihat informasi intelijen dari DIA tersebut. Namun, dia mengatakan bahwa fakta bahwa MizarVision telah merilis gambar-gambarnya secara gratis untuk waktu yang lama membuat perilaku tersebut tampak mencurigakan. “Perusahaan-perusahaan ini berbisnis untuk menghasilkan uang, dan memberikan sesuatu secara gratis adalah model bisnis yang buruk,” katanya. “Jika pemberian citra secara gratis terus berlanjut untuk jangka waktu tertentu, saya menduga ada pihak yang membiayai terus berlanjutnya rilis publik tersebut," paparnya. “Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa pemerintah atau militer China berada di balik rilis publik citra satelit komersial, untuk membentuk narasi strategis dalam konflik dan berpotensi menghambat pengerahan pasukan.” China memiliki kepentingan strategis yang kuat di Iran. Sebelum perang, China membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang diekspor, yang berada di bawah sanksi internasional. Ini setara dengan sekitar 1,38 juta barel per hari, atau sekitar 13,4 persen dari total impor minyak China melalui laut. Sumber intelijen DIA mengatakan bahwa publikasi data penandaan mengancam pasukan AS. "Kami tahu bahwa materi tersebut dipantau oleh musuh kami di dalam IRGC, dan ini akan membantu prioritas berbasis aset mereka untuk sistem rudal dan drone," kata sumber tersebut. Prioritas berbasis aset adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan protokol yang digunakan pasukan militer untuk menilai urutan kepentingan suatu target. "Bukannya hanya sejumlah pangkalan AS yang kemudian menjadi sasaran setelah materi itu dipublikasikan, tetapi kemampuan spesifik yang diidentifikasi [kemudian] jelas menjadi target," kata sumber DIA. Intelijen Satelit Jadi Masalah bagi Militer AS Dahm, seorang peneliti senior di bidang kedirgantaraan dan studi China, mengatakan bahwa publikasi citra sensitif merupakan masalah yang semakin meningkat. “Masalahnya adalah ketika citra satelit jatuh ke tangan seseorang yang dekat dengan pangkalan, [di mana] mereka dapat bertindak cepat berdasarkan intelijen citra komersial,” katanya. Namun, ada beberapa contoh baru-baru ini di mana komunitas intelijen AS telah menggunakan taktik serupa untuk mengecoh musuh, menurut Dahm. “AS mengirimkan banyak citra satelit komersial kepada militer Ukraina secara real-time. Itu jelas memengaruhi hasil pertempuran dengan cara yang buruk bagi Rusia,” katanya. Menjelang invasi Rusia ke Ukraina, citra satelit menunjukkan Ukraina dikepung, memperlihatkan persiapan Rusia, termasuk lokasi pasukan dan tank. Menurut daftar bisnis, MizarVision adalah perusahaan swasta yang didirikan pada tahun 2021 dan memiliki 5,5 persen kepemilikan pemerintah China. Menurut situs web MizarVision, misi perusahaan adalah untuk menurunkan “hambatan terhadap penemuan dan analisis intelijen geospasial sehingga tidak lagi menjadi kemampuan eksklusif beberapa organisasi”. "Kami percaya bahwa kekuatan sumber terbuka dapat mendemokratisasi dan menguniversalkan intelijen geospasial," demikian pernyataan di situs webnya. Bethany Allen, kepala investigasi dan analisis China di Australian Strategic Policy Institute, mengatakan bahwa 5,5 persen adalah jumlah kepemilikan pemerintah yang kecil menurut standar China. "Dalam 15 tahun terakhir, pemerintah China telah mengejar kebijakan untuk menciptakan banyak sekali saluran bagi uang pemerintah untuk masuk ke dalam kendaraan investasi, mengaburkan batas antara apa yang dimiliki dan tidak dimiliki negara," katanya kepada ABC News. "Banyak sekali perusahaan sekarang memiliki persentase investasi dari kendaraan investasi milik negara, atau dari kendaraan investasi swasta yang memperoleh sebagian modalnya dari pendanaan pemerintah." Selama beberapa tahun terakhir, Presiden China Xi Jinping dan pemerintahannya telah mendorong industri-industri baru seperti AI sebagai pilar utama kemakmuran masa depan negara tersebut. Perusahaan tersebut juga telah memposting gambar posisi pertahanan udara Israel selama perang. Pada 13 Maret, perusahaan tersebut merayakan ulang tahun kelimanya, dengan mengatakan, "Untuk pertama kalinya, satelit China telah menangkap gambar jet tempur F-22 Angkatan Udara AS yang diparkir di pangkalan angkatan udara Israel. Sungguh menakjubkan!" Perusahaan tersebut berulang kali memposting gambar yang merinci pesawat dan kapal di pulau Diego Garcia di Samudra Hindia, tempat AS dan Inggris memiliki pangkalan militer bersama. Perusahaan tersebut juga membagikan gambar kapal induk drone Iran IRIS Shahid Bagheri, tanpa menyebutkan lokasinya, pada 2 Februari, dan gambar drone Iran lainnya di Teluk Oman pada hari yang sama.
Rudal Iran Gempur Gedung Haifa: 2 Tewas Terkubur, Israel Heran Iron Dome Gagal Mencegat
Dua orang tewas terkubur di bawah reruntuhan gedung tujuh lantai di Haifa, Israel, setelah digempur rudal Iran pada hari Minggu. Dua orang lagi masih dalam pencarian. Sebelumnya, pihak berwenang Israel melaporkan tiga orang hilang dalam serangan di Haifa. Namun, kemudian memperbarui informasi bahwa jumlah orang yang hilang adalah empat orang. Baca Juga: Rudal Iran Tembus Iron Dome dan Gempur Gedung 7 Lantai Israel, 3 Orang Hilang Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Israel mengonfirmasi penemuan dua jenazah di bawah reruntuhan gedung di Haifa. Dinas itu mengatakan sudah berjam-jam melakukan pencarian korban bersama Komando Pertahanan Dalam Negeri. "Pasukan mengevakuasi dua orang yang terjebak, yang ditemukan di bawah reruntuhan tanpa tanda-tanda kehidupan," kata dinas tersebut, seperti dikutip Times of Israel, Senin (6/4/2026). "Operasi dan upaya penyelamatan masih berlangsung saat ini dalam upaya untuk menjangkau dua orang tambahan yang terjebak/belum ditemukan," imbuh dinas tersebut. Sementara itu, militer Zionis Israel atau IDF merasa heran dengan kegagalan sistem pertahanan berlapis, termasuk Iron Dome, dalam mencegat rudal Iran tersebut. Penyelidikan pun diluncurkan untuk mengetahui penyebabnya. Menurut Angkatan Udara Israel, upaya untuk mencegat rudal Iran telah dilakukan, tetapi pertahanan udara gagal menjatuhkan proyektil tersebut. "Pasukan penyelamat menggunakan peralatan penyelamatan canggih dan berbagai sarana teknologi untuk menemukan individu yang terjebak secepat mungkin," kata IDF. Serangan rudal itu terjadi beberapa menit setelah IDF memperingatkan telah mendeteksi serangkaian rudal baru yang ditembakkan dari Iran sekitar pukul 15.00 GMT. "Gedung itu terkena dampak langsung rudal," kata militer Israel kepada AFP, membenarkan bahwa rudal itu ditembakkan dari Iran. Layanan darurat Israel, Magen David Adom (MDA), dalam laporan awal mengatakan empat orang terluka ketika gedung itu terkena serangan langsung. Rekaman AFP menunjukkan petugas penyelamat menggunakan senter untuk mencari para korban di antara puing-puing gedung dan blok beton yang berserakan. Korban luka termasuk seorang pria berusia 82 tahun, kata MDA, menambahkan bahwa dia dalam "kondisi serius". Pihak rumah sakit kemudian mengatakan kondisinya stabil. "Dia terluka akibat benda berat dan ledakan,” kata MDA, menambahkan bahwa tiga lainnya menderita luka akibat pecahan peluru dan ledakan. Gambar dan rekaman yang diterbitkan oleh MDA menunjukkan asap mengepul dari reruntuhan bangunan yang rata di daerah padat penduduk, dan tandu diletakkan di jalan oleh petugas penyelamat untuk para korban. Paramedis MDA Shevach Rothenshtrych mengutip pernyataan warga yang mengatakan bahwa ada korban yang terjebak di bawah reruntuhan di lantai bawah, dan pria berusia 82 tahun itu diselamatkan setelah petugas pertolongan pertama berhasil memindahkan potongan-potongan besar beton. Rekannya, Tal Shustak, mengatakan bahwa ketika panggilan darurat diterima, “kami dikirim dalam jumlah besar ke lokasi kejadian dan melihat kerusakan yang luas, termasuk pecahan kaca, asap, dan beton yang berserakan di tanah.” Pada hari Minggu, IDF mendeteksi lima gelombang rudal yang ditembakkan dari Iran. Mereka mengeklaim sistem pertahanan telah beroperasi untuk mencegat ancaman tersebut. Iran telah menembakkan rudal nyaris setiap hari ke Israel sejak 28 Februari, sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Israel terhadap negara Islam tersebut yang telah menewaskan beberapa pemimpin tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi saat itu; Ayatollah Ali Khamenei. Sejak awal konflik, serangan udara Israel dan AS telah menyerang sejumlah lokasi produksi rudal Iran dan juga fasilitas nuklir.
Intelijen AS Heran, Kemampuan Rudal Iran Tetap Utuh Meski Dihantam 11.000 Serangan
Penilaian intelijen Amerika Serikat (AS) menunjukkan Iran telah mempertahankan sebagian besar kemampuan rudalnya, meskipun telah dihantam serangan AS dan Israel selama berminggu-minggu. Penilaian itu dilaporkan New York Times pada hari Sabtu (4/4/2026). Menurut para pejabat AS yang diberi pengarahan tentang intelijen rahasia, para pelaku Iran telah dengan cepat memulihkan bunker dan silo rudal bawah tanah setelah terkena serangan, memungkinkan peluncur kembali beroperasi dalam hitungan jam. Laporan tersebut menyatakan Iran juga mempertahankan sejumlah besar rudal dan platform peluncuran bergerak, yang melemahkan klaim bahwa kemampuannya telah menurun secara signifikan. Hal ini terjadi ketika Pentagon dan Gedung Putih terus menekankan skala kampanye mereka. Para pejabat AS mengatakan sekitar 11.000 target telah dihantam di seluruh Iran dalam lima minggu perang. Kesenjangan antara Klaim dan Intelijen Pesan publik dari Washington telah menekankan kemajuan. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan, “Berikut fakta-faktanya: serangan rudal balistik dan drone Iran turun 90%, angkatan laut mereka hancur, dua pertiga fasilitas produksi mereka rusak atau hancur, dan Amerika Serikat dan Israel memiliki dominasi udara yang luar biasa atas Iran.” Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga menyoroti penurunan tingkat peluncuran, dengan menyatakan, “Ya, mereka masih akan menembakkan beberapa rudal, tetapi kami akan menembak jatuh mereka.” Ia menambahkan, “Perlu dicatat, 24 jam terakhir menunjukkan jumlah rudal dan drone musuh yang ditembakkan Iran paling rendah. Mereka akan bersembunyi di bawah tanah, tetapi kami akan menemukannya.” Namun, badan intelijen AS telah memperingatkan penurunan tingkat peluncuran Iran tidak selalu menunjukkan keruntuhan kemampuan. Sebaliknya, para pejabat percaya Iran sedang menyesuaikan strateginya: melestarikan aset, menyebar peluncur, dan lebih mengandalkan infrastruktur bawah tanah yang diperkuat. Strategi Bawah Tanah dan Pemulihan Cepat Laporan tersebut menyoroti peningkatan ketergantungan Iran pada bunker, gua, dan silo bawah tanah untuk melindungi pasukan rudalnya. Bahkan ketika situs-situs ini tampak rusak, tim Iran dilaporkan mampu menggali dan mengaktifkan kembali sistem peluncuran dengan cepat. Surat kabar Israel Haaretz melaporkan Iran telah menggunakan buldoser untuk menggali peluncur rudal yang telah terkubur atau "ditutup" setelah serangan udara, memperkuat penilaian intelijen tentang pemulihan yang cepat. Para pejabat AS mengatakan Iran sengaja menghemat kapasitas yang tersisa untuk mempertahankan tekanan dari waktu ke waktu atau mempertahankan pencegahan setelah perang. Meskipun volume menurun, operasi rudal Iran terus berlanjut. Menurut para pejabat AS dan Barat yang dikutip dalam laporan tersebut, Iran telah meluncurkan sekitar 15 hingga 30 rudal balistik dan 50 hingga 100 drone setiap hari, seringkali dalam gelombang yang lebih kecil dan bertahap daripada serangan besar-besaran. Perkiraan lain menunjukkan sekitar 20 rudal per hari, biasanya ditembakkan dalam jumlah terbatas pada satu waktu. Para pejabat percaya ini mencerminkan kendala operasional serta perhitungan strategis, termasuk tantangan koordinasi internal dalam struktur komando Iran.