News Komoditi & Global ( Kamis, 7 Mei 2026 )
News Komoditi & Global
( Kamis, 7 Mei 2026 )
Harga Emas Global Naik Tipis di Tengah Harapan Perdamaian AS-Iran
Harga Emas (XAU/USD) mendapatkan momentum ke level tertinggi satu minggu di dekat $4.700 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Kamis. Logam mulia ini melanjutkan rally saat optimisme atas kesepakatan damai AS-Iran yang meredakan kekhawatiran terhadap inflasi.
Bloomberg melaporkan pada hari Rabu bahwa AS dan Iran sedang mengkaji proposal baru untuk mengakhiri perang, sementara Presiden AS, Donald Trump, mencari jalan keluar dari konflik yang telah mendorong harga energi naik dan merusak posisi politiknya. Trump menambahkan bahwa perang ini memiliki "peluang sangat baik untuk berakhir" dan ada kemungkinan hal itu terjadi sebelum perjalanannya ke Beijing minggu depan.
Meredanya kekhawatiran terhadap tekanan harga dapat meyakinkan Federal Reserve (The Fed) AS untuk menurunkan suku bunga daripada mempertahankan kebijakan yang ketat untuk waktu yang lebih lama. Hal ini, pada gilirannya, dapat memberikan dukungan bagi logam kuning karena menandakan penurunan biaya peluang memegang logam tersebut.
"Optimisme terhadap kesepakatan akhir antara AS dan Iran telah menyebabkan setidaknya sedikit kelegaan jangka pendek pada emas," kata Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals. Namun, ia juga memperingatkan bahwa pasar masih dapat "berubah arah berdasarkan berita Timur Tengah."
Para pedagang bersiap menghadapi data laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan April pada hari Jumat nanti, karena data tersebut mungkin menentukan langkah The Fed berikutnya terkait suku bunga. Setiap tanda perbaikan di pasar tenaga kerja AS dapat mengangkat Dolar AS (USD) dan membebani harga komoditas berdenominasi USD dalam jangka pendek.
Harga Minyak Dunia Anjlok Menyusul Laporan AS dan Iran Hampir Capai Kesepakatan Damai
Harga minyak jatuh tajam ke level terendah dalam dua minggu karena optimisme meningkat tentang kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah, dengan laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai awal.
Rabu (6/5/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 ditutup turun US$ 8,60 atau 7,83% menjadi US$ 101,27 per barel, setelah sebelumnya turun di bawah US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 22 April.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 ditutup anjlok US$ 7,19 atau 7,03% ke US$ 95,08 per barel.
Sebuah sumber dari mediator Pakistan mengatakan Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan mengenai nota kesepahaman satu halaman.
Iran mengatakan pada hari Rabu (6/5/2026) bahwa mereka sedang meninjau proposal baru AS. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, yang dikutip oleh kantor berita ISNA Iran, mengatakan Iran akan segera menyampaikan tanggapannya melalui Pakistan.
Iran sebelumnya mengatakan bahwa mereka hanya akan menerima kesepakatan yang adil dan komprehensif.
Media AS, Axios, melaporkan bahwa AS mengharapkan tanggapan Iran mengenai beberapa poin penting dalam 48 jam ke depan, mengutip sumber yang mengatakan bahwa ini adalah kesepakatan terdekat yang pernah dicapai kedua pihak sejak perang dimulai.
"Ada perasaan yang berkembang bahwa peluang Selat Hormuz dibuka kembali lebih besar, terlepas dari apakah kita mendapatkan kesepakatan perdamaian yang langgeng dengan Iran atau tidak," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
Kedua kontrak minyak mentah mencapai titik terendah dalam dua minggu, dengan Brent mencapai titik terendah intra-sesi di US$ 96,75 sebelum mengurangi kerugian setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa "terlalu dini" untuk mempertimbangkan pembicaraan tatap muka dengan Teheran, dan ketika seorang anggota parlemen senior Iran mengatakan "proposal AS lebih merupakan daftar keinginan daripada kenyataan."
Militer AS mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah menghancurkan beberapa kapal kecil Iran sebagai bagian dari upaya untuk membantu kapal-kapal yang terdampar keluar dari Selat Hormuz.
“Pengumuman kesepakatan akan segera mendorong harga minyak berjangka lebih jauh, bahkan potensi kesepakatan saja sudah memicu penurunan harga minyak,” kata kepala analis minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu.
Namun, aliran minyak global akan membutuhkan waktu untuk kembali normal meskipun selat tersebut dipulihkan. “Jeda enam hingga delapan minggu antara kondisi akses yang kredibel dan normalisasi aliran yang sebenarnya bukanlah perkiraan konservatif, melainkan fitur struktural dari cara kerja pasar pelayaran,” tambah Rodriguez-Masiu.
Kehilangan pasokan minyak mentah akibat terhentinya lalu lintas maritim melalui selat sejak perang dimulai pada bulan Februari telah mendorong kenaikan harga, dengan Brent diperdagangkan minggu lalu pada level tertinggi sejak Maret 2022.
Penutupan Selat Hormuz telah mengakibatkan penurunan persediaan minyak dan bahan bakar global karena kilang-kilang berusaha untuk mengimbangi kekurangan produksi.
“Kesepakatan parsial mungkin cukup untuk Selat Hormuz…” "Pengiriman melalui Selat Hormuz akan secara bertahap kembali normal," kata analis Raymond James, Pavel Molchanov, menambahkan bahwa jika penurunan ini berlanjut, harga bensin di SPBU dapat turun dalam satu hingga dua minggu ke depan untuk konsumen AS.
Persediaan minyak mentah dan bahan bakar AS terus menurun pekan lalu, kata Badan Informasi Energi (EIA) pada hari Rabu, karena negara-negara di seluruh dunia berupaya mengisi kesenjangan pasokan yang disebabkan oleh gangguan dari konflik di Timur Tengah.
Stok minyak mentah turun 2,3 juta barel menjadi 457,2 juta barel pekan lalu, kata EIA, dibandingkan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters untuk penurunan sebesar 3,3 juta barel.
Wall Street Melonjak: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Lagi!
Wall Street kembali reli dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq melonjak ke penutupan tertinggi sepanjang masa, didorong oleh tanda-tanda penyelesaian konflik Timur Tengah. Sementara, kinerja pendapatan yang kuat dari Advanced Micro Devices memicu reli pada produsen chip dan saham terkait AI lainnya.
Rabu (6/5/2026), indeks S&P 500 ditutup naik 1,46% menjadi 7.365,09, indeks Nasdaq Composite melonjak 2,03% ke 25.838,94 dan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,24% ke 49.910,59 poin.
Volume perdagangan di bursa AS tinggi, dengan 18,8 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata 17,6 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya.
Sembilan dari 11 sektor pada indeks S&P 500 naik, dipimpin oleh sektor industri yang melesat 2,6%, diikuti oleh kenaikan 2,56% di sektor teknologi informasi.
Hingga saat ini, indeks S&P 500 telah naik hampir 8%, dan indeks Nasdaq telah naik 11%.
Pada sesi tersebut, saham Advanced Micro Devices melonjak hampir 19% ke level tertinggi sepanjang masa setelah memperkirakan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi karena permintaan yang kuat untuk chip pusat datanya.
Saham pesaingnya, Intel, juga menguat 4,5%, dan indeks chip PHLX naik 4,5%, sehingga kenaikan tahun 2026 mencapai 62%.
Saham global melonjak dan harga minyak merosot setelah Iran mengatakan sedang meninjau proposal baru AS, sementara sumber mengatakan Washington dan Teheran hampir mencapai memorandum satu halaman untuk mengakhiri perang, sambil menunda isu-isu rumit seperti program nuklir Iran untuk nanti.
Harga minyak mentah Brent turun sekitar 8% menjadi US$ 101 per barel, membantu meredakan kekhawatiran tentang tekanan inflasi.
Wall Street telah melonjak dalam beberapa minggu terakhir, dengan investor mengalihkan perhatian dari konflik Timur Tengah dan lebih fokus pada musim pendapatan kuartal pertama yang kuat yang didorong oleh perusahaan-perusahaan terkait AI.
Perusahaan-perusahaan pada indeks S&P 500 berada di jalur untuk pertumbuhan laba terkuat dalam lebih dari empat tahun. Lebih dari 80% perusahaan S&P 500 yang melaporkan hingga 1 Mei telah melampaui perkiraan laba analis, menurut data LSEG I/B/E/S.
"Ekonomi berjalan dengan baik. Tidak ada tanda-tanda bahaya nyata yang mendekati penurunan. Dan dengan latar belakang itu, Anda harus memiliki saham," kata Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments.
Corning melonjak setelah mengatakan akan bermitra dengan Nvidia untuk memperluas produksi produk konektivitas optik di AS yang digunakan di pusat data AI. Nvidia naik 5,7%.
Saham Hut 8 melonjak 35% setelah pengembang pusat data AI tersebut menandatangani kontrak sewa 15 tahun senilai $9,8 miliar untuk kampus pusat data Beacon Point di Texas.
Data penggajian swasta AS mencatatkan peningkatan terbesar dalam 15 bulan pada bulan April, menunjukkan stabilitas pasar tenaga kerja yang berkelanjutan meskipun konflik dengan Iran membayangi prospek ekonomi.
Investor menantikan laporan penggajian non-pertanian yang lebih komprehensif pada hari Jumat, dengan lapangan kerja AS diperkirakan meningkat sebesar 62.000 pada bulan April setelah pulih sebesar 178.000 pada bulan Maret, menurut survei Reuters terhadap para ekonom.
Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan risiko terhadap kebijakan moneter telah bergeser ke arah inflasi yang lebih tinggi, yang mungkin mengharuskan suku bunga untuk tetap stabil untuk beberapa waktu di tengah pasar kerja yang tampaknya stabil.
Saham Walt Disney naik 7,5% setelah perusahaan hiburan tersebut melampaui perkiraan untuk hasil kuartal kedua dan karena investor mendapatkan gambaran sekilas tentang strategi pertumbuhan CEO Josh D'Amaro untuk perusahaan tersebut.
Saham Uber Technologies juga menguat 8,5% setelah platform transportasi dan pengiriman tersebut memperkirakan pemesanan yang kuat pada kuartal kedua.
Super Micro melonjak 24,5% setelah perkiraan pendapatan dan laba yang disesuaikan untuk kuartal keempat lebih kuat dari yang diharapkan.
Inflasi AS Terancam Panas Lagi, The Fed Mulai Bahas Peluang Kenaikan Suku Bunga
Pejabat Federal Reserve (The Fed) mengatakan pada Rabu (6/5/2026) bahwa perang yang didukung Amerika Serikat melawan Iran meningkatkan risiko terjadinya guncangan inflasi yang berkepanjangan. Kondisi ini didorong oleh harga minyak yang tetap tinggi serta kekhawatiran baru mengenai gangguan rantai pasok global.
Mengutip Reuters, Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan para eksekutif bisnis menyampaikan kepadanya tak lama setelah konflik pecah pada 28 Februari bahwa kenaikan harga minyak dalam jangka pendek tidak akan menjadi masalah besar. Namun, jika harga minyak tinggi berlangsung berbulan-bulan, tekanan rantai pasok akan semakin berat, mirip dengan kondisi yang mendorong lonjakan inflasi saat pandemi Covid-19.
“Kalau ini terjadi bulan demi bulan dengan harga minyak tinggi yang berkepanjangan, mereka akan mulai merasakan tekanan yang cukup intens pada rantai pasok,” kata Goolsbee dalam panggilan video dengan jurnalis setelah menghadiri konferensi Milken Institute di Los Angeles.
Goolsbee mengatakan, tanda-tanda masalah tersebut mulai muncul. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar gangguan yang akan terjadi karena perusahaan mulai menghabiskan stok bahan baku yang mereka miliki, termasuk bahan kimia industri dan input lainnya yang distribusinya terganggu. Selain itu, harga bahan bakar yang tinggi terus mendorong kenaikan biaya pengiriman dan biaya logistik lain.
Meski sempat ada kekhawatiran perang akan menekan pertumbuhan lapangan kerja dan permintaan AS sekaligus menaikkan harga, menurut Goolsbee, dampaknya belum mengarah ke stagflasi.
“Ini belum menjadi guncangan yang bersifat stagflasi. Ini baru menjadi guncangan inflasi. Dan semakin lama kondisi ini berlangsung, semakin membuat saya gelisah,” ujarnya.
Dengan inflasi masih bertahan sekitar satu poin persentase di atas target The Fed sebesar 2%, serta ekspektasi inflasi yang bisa naik lagi, investor kini melihat peluang kecil The Fed memangkas suku bunga setidaknya selama satu tahun ke depan atau lebih.
Secara terpisah, Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan risiko kebijakan moneter kini bergeser ke arah inflasi yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat membuat suku bunga bertahan di level tinggi “untuk beberapa waktu”, bahkan mungkin perlu dinaikkan.
“Inflasi berjalan jauh di atas target kita,” kata Musalem dalam acara Mississippi Bankers Association di Fairhope, Alabama. Ia menyebut risiko kini muncul baik dari sisi tenaga kerja maupun inflasi, tetapi menurutnya kecenderungan risiko lebih condong ke arah inflasi. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed setidaknya akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Musalem mengatakan masih ada skenario masuk akal di mana The Fed dapat memangkas suku bunga, misalnya jika permintaan melemah dan pengangguran naik. Namun pada saat yang sama, ia menilai ada kemungkinan pula bank sentral harus menaikkan biaya pinjaman.
“Ada banyak ketidakpastian saat ini, dan penting untuk melihat bagaimana situasi berkembang,” kata Musalem. Ia menambahkan tekanan inflasi mulai meluas melampaui dampak tarif dan harga minyak tinggi akibat perang Timur Tengah.
Di Internal The Fed, Muncul Pembahasan Kemungkinan Kenaikan Suku Bunga
Harga minyak bergerak volatil, naik turun seiring laporan mengenai kemajuan atau kegagalan upaya mengakhiri konflik. Harga minyak acuan global sempat turun tajam semalam setelah muncul kabar potensi kesepakatan, namun kemudian kembali naik ke atas US$ 100 per barel.
Harga rata-rata bensin di AS naik dari sekitar US$ 3 menjadi lebih dari US$ 4,50 per galon, menurut kelompok advokasi pengendara AAA.
Sementara itu, indikator tekanan rantai pasok global milik The Fed New York melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2022, ketika rantai manufaktur masih terganggu akibat pandemi dan dunia menghadapi lonjakan inflasi sistemik.
“Ini juga merupakan inflasi inti yang harus kita khawatirkan,” kata Musalem. Ia menambahkan bahwa pelaku usaha menyampaikan kenaikan harga aluminium, helium, solar, serta input industri lain akan bersifat mengganggu. Ada pula efek psikologis yang dapat menekan perekrutan tenaga kerja meskipun risiko kenaikan harga tetap meningkat.
Bagi The Fed, dampaknya dapat berupa jeda panjang dalam perubahan kebijakan suku bunga yang saat ini berada pada kisaran 3,50%-3,75% sejak Desember. Hal ini menghentikan ekspektasi pelonggaran moneter lanjutan, sekaligus menyulitkan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, untuk menurunkan suku bunga seperti yang diharapkan Presiden Donald Trump.
Meski Musalem dan Goolsbee saat ini bukan anggota pemungutan suara di komite kebijakan suku bunga, komentar mereka menunjukkan adanya pergeseran pemikiran di “pusat” The Fed menuju kemungkinan bahwa kenaikan suku bunga bisa diperlukan untuk meredam risiko inflasi, sebagaimana disampaikan Ketua The Fed Jerome Powell.
Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi acuan target inflasi The Fed, naik menjadi 3,5% pada Maret dari 2,8% pada bulan sebelumnya. Sementara inflasi inti (core) naik menjadi 3,2% dari 3,0% pada Februari.
Indeks harga konsumen (CPI) untuk April yang akan dirilis pekan depan diperkirakan menunjukkan percepatan lebih lanjut.
Laporan ketenagakerjaan AS untuk April yang dijadwalkan rilis Jumat diperkirakan menunjukkan tingkat pengangguran tetap 4,3%, berdasarkan konsensus ekonom dalam survei Reuters.
Tabel 2: Faktor Pemicu Kekhawatiran Inflasi AS Menurut The Fed
|
Pemicu |
Dampak |
Penjelasan |
|
Harga minyak tinggi & volatil |
Inflasi naik |
Menaikkan biaya energi, logistik, pengiriman |
|
Gangguan rantai pasok global |
Inflasi naik |
Distribusi bahan kimia industri & input terganggu |
|
Biaya input industri naik |
Inflasi naik |
Aluminium, helium, diesel meningkat |
|
Efek psikologis dunia usaha |
Campuran |
Bisa tekan perekrutan, tapi harga tetap naik |
|
Konflik berkepanjangan |
Inflasi makin bandel |
Risiko berbulan-bulan seperti saat pandemi |
Tabel 3: Arah Kebijakan The Fed (Menurut Pernyataan Pejabat)
|
Kebijakan The Fed |
Peluang |
Pemicu |
|
Suku bunga tetap (hold) |
Tinggi |
Inflasi masih jauh di atas target |
|
Pemangkasan suku bunga |
Rendah |
Butuh demand melemah & pengangguran naik |
|
Kenaikan suku bunga |
Mulai dibahas |
Tak Gubris Ancaman AS, Iran Buat Aturan Baru Melintas di Selat Hormuz, Begini Rancangannya
Tak menggubris ancaman AS, Iran secara resmi telah meluncurkan mekanisme baru untuk mengatur lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz. Demikian dilaporkan media Iran, Press TV.
Di bawah sistem yang baru diterapkan ini, semua kapal yang bermaksud melintasi Selat akan menerima email atau surat elektronik dari alamat resmi info@PGSA.ir. Surat itu akan menguraikan aturan dan peraturan untuk melintasi selat tersebut.
Kapal-kapal diharuskan untuk menyesuaikan operasi mereka sesuai dengan kerangka kerja ini dan memperoleh izin transit sebelum melintasi Selat Hormuz, salah satu titik rawan pengiriman minyak paling penting di dunia.
Inisiatif yang digambarkan sebagai sistem pemerintahan berdaulat akan beroperasi di Selat Hormuz yang dilalui oleh sekitar 20% dari seluruh minyak diperdagangkan secara internasional.
Dilaporkan Aljazirah, Iran juga membentuk badan baru yang akan mengatur dan mengorganisir lalu lintas kapal, baik militer maupun komersial. Mereka menyebut badan baru ini sebagai "Otoritas Selat Teluk Persia".
Menurut pengumuman tersebut, setiap kapal komersial atau militer yang ingin melewati Selat Hormuz harus berkoordinasi penuh dengan angkatan bersenjata Iran.
Seperti diketahui, angkatan bersenjata Iran telah menempatkan Selat Hormuz di bawah kendali ketat, memblokir semua kapal yang terkait dengan AS dan Israel setelah peluncuran perang agresi mereka terhadap Republik Islam pada 28 Februari.
Teheran telah memberi sinyal kesediaan untuk membuka kembali Selat setelah AS dan Israel setuju untuk memasukkan Lebanon dalam perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Namun, otoritas Iran menyatakan jalur air tersebut ditutup kembali karena Washington dan Tel Aviv terus melanggar ketentuan gencatan senjata.
Rancangan undang-undang yang sekarang sedang dibahas di Parlemen Iran akan memberlakukan larangan total terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel. Sementara kapal-kapal yang terkait dengan AS dan negara-negara musuh lainnya akan menghadapi pembatasan yang ketat.
Undang-undang tersebut juga menetapkan sistem pungutan buat jalur kapal-kapal nonmusuh.
Ketegangan meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir setelah Amerika Serikat melancarkan operasi pada Ahad yang bertujuan untuk mematahkan kendali Iran atas Selat tersebut.
Pasukan Iran telah berulang kali memperingatkan kapal perang AS agar tidak mendekati jalur air strategis tersebut.
Pada Senin, angkatan laut Iran menembakkan rudal dan drone di dekat kapal perusak AS yang mengabaikan seruan berulang kali untuk menjauhi Selat tersebut.
Para pejabat Iran telah bersumpah untuk mempertahankan kedaulatan mereka atas jalur sempit tersebut, memperingatkan bahwa setiap upaya untuk menantang kendali mereka akan ditanggapi dengan kekuatan.
Di Hadapan Araqchi, China Tegaskan Bela Iran, Serangan AS Ilegal
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu dengan diplomat tertinggi China di Beijing pada Rabu. Pertemuan ini menggarisbawahi hubungan erat antara kedua negara.
Kunjungan Araqchi yang diumumkan oleh kantor berita negara Xinhua, adalah perjalanan pertama sang menteri ke China sejak perang AS-Israel di Iran.
Serangan itu memicu guncangan pasokan minyak global paling parah dalam sejarah dan merusak keamanan energi China, importir minyak mentah terbesar di dunia.
Dalam pertemuan itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menilai aksi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai "tidak sah".
Wang menyatakan bahwa Timur Tengah berada pada titik nadir yang menentukan. "Gencatan senjata komprehensif sangat diperlukan untuk stabilitas regional," ujarnya.
Ia juga menegaskan kembali komitmen Beijing terhadap upaya de-eskalasi.Dialog langsung antara kedua pihak dinilai sangat penting.
Menteri Luar Negeri Araghchi pun menyampaikan apresiasi atas sikap tegas China, dalam mengutuk perang AS-Israel. Ia mengatakan kerja sama antara Teheran dan Beijing akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Awal pekan ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak China untuk mengintensifkan upaya diplomatik untuk membujuk Iran agar membuka Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Bessent mengatakan Preside AS Trump dan Xi akan bertukar pandangan tentang Iran secara langsung selama pembicaraan mereka pada 14 hingga 15 Mei di Beijing.
Dia menambahkan bahwa keduanya akan berupaya menjaga hubungan AS-China yang stabil tetap berjalan sesuai rencana setelah gencatan senjata perdagangan pada Oktober.
Bessent mendesak China untuk bergabung dengan AS dalam operasi internasional untuk membuka Selat Hormuz. Namun tidak merinci tindakan apa yang harus diambil Beijing.
Dia menambahkan bahwa China dan Rusia harus berhenti memblokir inisiatif di Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk resolusi yang mendorong langkah-langkah untuk melindungi pelayaran komersial di selat tersebut.
Awal pekan ini, AS dan Iran melancarkan serangan baru di Teluk saat mereka berebut kendali atas Hormuz. Keduanya saling melakukan blokade maritim yang berlawan dan mengancam gencatan senjata yang sudah rapuh.
Trump kemudian mengatakan Angkatan Laut AS akan membantu kapal-kapal melewati selat tersebut. Namun operasi itu dihentikan setelah Trump pada Selasa mengatakan telah ada 'kemajuan besar' yang dicapai menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan Teheran sedang mempertimbangkan permintaan Trump untuk negosiasi. Ini menunjukkan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis tersebut.
"China telah terlibat dalam serangkaian aktivitas diplomatik dan menahan diri dari kritik keras terhadap perilaku AS dalam perang sehingga KTT, yang telah ditunda sekali karena konflik, dapat berjalan lancar," kata para analis kepada Reuters.
China telah berulang kali mendesak AS dan Iran untuk mempertahankan gencatan senjata dan mencabut pembatasan di selat tersebut. Trump juga memuji Beijing karena membantu Iran untuk menghadiri pembicaraan perdamaian bulan lalu di Pakistan.
Pendukung Presiden AS Pecah, Pengamat Amerika: Mereka Merasa Dikhianati Donald Trump
Retaknya soliditas gerakan Make America Great Again (MAGA) mulai terlihat seiring meningkatnya kritik terhadap Presiden AS Donald Trump terkait kebijakan militernya terhadap Iran.
Sejumlah tokoh berpengaruh yang selama ini menjadi pilar dukungan Trump kini berbalik arah dan menilai langkah tersebut sebagai pengkhianatan terhadap janji kampanye.
Tokoh konservatif terkemuka Tucker Carlson secara terbuka menyatakan penyesalannya telah mendukung Trump. Dalam pernyataannya pada 20 April, ia mengaku telah “menyesatkan publik” dan menilai perang terhadap Iran tidak memberikan manfaat bagi keamanan Amerika Serikat, melainkan lebih mencerminkan kepentingan sekutu Washington, khususnya Israel.
Kritik serupa juga datang dari figur MAGA lainnya, seperti Megyn Kelly dan Candace Owens. Keduanya menilai kebijakan Trump telah menyimpang dari janji kampanye yang selama ini menjadi basis dukungan politiknya, terutama komitmen untuk menghindari keterlibatan dalam konflik luar negeri.
Hal ini pergeseran sikap ini menunjukkan adanya friksi serius di dalam kubu pendukung Trump. Peneliti senior di Brookings Institution, Darrell West, menyebut presiden kini menghadapi tekanan dari tokoh-tokoh yang sebelumnya menjadi mesin penggerak dukungan pada Pemilu 2024.
“Trump memiliki masalah besar dengan sejumlah influencer yang dahulu mendukungnya, tetapi kini merasa dikhianati. Ia berjanji mengakhiri perang luar negeri, namun justru terlibat dalam operasi militer di berbagai kawasan,” ujar West.
Meski demikian, dukungan terhadap kebijakan militer tersebut tidak sepenuhnya runtuh. Jajak pendapat ABC News/The Washington Post/Ipsos menunjukkan mayoritas pemilih Republikan yang terafiliasi dengan MAGA masih mendukung aksi militer terhadap Iran. Namun secara nasional, sekitar 61 persen warga Amerika menilai kebijakan tersebut sebagai kesalahan.
Di tingkat akar rumput, sikap pendukung Trump menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Sebagian tetap mendukung presiden, tetapi tidak sedikit yang mempertanyakan urgensi keterlibatan militer di luar negeri, terutama di tengah persoalan domestik yang belum terselesaikan.
Sejumlah analis menilai perpecahan ini berpotensi berdampak pada kinerja Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu mendatang. Profesor ilmu politik di Saint Anselm College, Christopher Galdieri, memperingatkan bahwa kekecewaan di kalangan pemilih dapat menurunkan partisipasi, meskipun mereka tidak serta-merta beralih ke Partai Demokrat.
“Pemilih mungkin tidak memilih lawan, tetapi mereka bisa memilih untuk tidak datang ke TPS. Itu cukup untuk mengubah peta politik secara signifikan,” ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, Trump juga menghadapi sorotan dari sisi hukum. Pemerintahannya mengakhiri operasi militer terhadap Iran setelah mencapai batas waktu 60 hari sesuai War Powers Resolution, yang mengharuskan presiden menghentikan aksi militer tanpa persetujuan Kongres.
Dalam surat kepada parlemen, Trump menyatakan operasi telah “berakhir”, namun menegaskan bahwa ancaman dari Iran masih signifikan. Washington disebut akan tetap menyesuaikan postur militernya untuk merespons perkembangan situasi.
Perkembangan ini menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Trump tidak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga mengguncang basis politik domestiknya sendiri, membuka potensi fragmentasi dalam gerakan yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatannya.
Perkembangan terbaru dalam dinamika politik Amerika Serikat menunjukkan bahwa basis pendukung Make America Great Again (MAGA) tidak lagi sepenuhnya solid. Jika sebelumnya gerakan ini dikenal dengan loyalitas tinggi terhadap Donald Trump, kini mulai terlihat pergeseran sikap di kalangan pemilih akar rumput yang semakin kritis terhadap kebijakan presiden, khususnya dalam isu perang dengan Iran.
Di tingkat elite, perbedaan pandangan sudah terlihat jelas melalui kritik terbuka dari sejumlah tokoh berpengaruh. Namun yang lebih signifikan adalah gejala di lapisan bawah, pemilih biasa yang selama ini menjadi tulang punggung MAGA mulai mempertanyakan arah kebijakan Trump. Bagi sebagian dari mereka, keterlibatan dalam konflik luar negeri dinilai bertentangan dengan janji utama kampanye: mengakhiri perang yang dianggap tidak perlu.
Perubahan ini menandai transisi dari basis loyal menuju basis yang lebih reflektif. Pemilih tidak lagi sekadar mengikuti figur, tetapi mulai menilai konsistensi antara janji politik dan implementasi kebijakan. Dalam konteks ini, perang dengan Iran menjadi titik uji yang memperlihatkan batas kesabaran dan kepercayaan sebagian pendukung.
Fokus pemilih juga terlihat mulai bergeser kembali ke isu domestik. Persoalan ekonomi, lapangan kerja, dan stabilitas sosial dinilai lebih mendesak dibanding keterlibatan militer di luar negeri. Bagi banyak pendukung MAGA, prioritas “America First” semestinya tercermin dalam kebijakan yang langsung berdampak pada kehidupan sehari-hari di dalam negeri, bukan dalam eskalasi konflik global.
Di sisi lain, munculnya perbedaan sikap ini memperlihatkan adanya polarisasi internal dalam gerakan MAGA itu sendiri. Sebagian tetap mendukung kebijakan Trump dengan alasan keamanan nasional dan kepentingan strategis, sementara sebagian lain melihatnya sebagai penyimpangan dari arah awal gerakan.
Polarisasi ini tidak selalu menghasilkan pergeseran pilihan politik secara langsung, tetapi berpotensi menurunkan tingkat partisipasi. Pemilih yang kecewa mungkin tidak beralih ke kubu lawan, namun memilih untuk tidak terlibat aktif dalam proses politik. Dalam sistem demokrasi, kondisi ini bisa berdampak signifikan terhadap hasil pemilu.
Dalam jangka panjang, dinamika ini membuka kemungkinan fragmentasi dalam basis pendukung Trump. Jika perbedaan pandangan terus melebar tanpa ada upaya konsolidasi, MAGA berisiko kehilangan karakter sebagai gerakan politik yang solid dan terpusat.
Namun, situasi ini juga menunjukkan kedewasaan politik di kalangan pemilih. Loyalitas yang sebelumnya bersifat personal mulai bergeser menjadi lebih rasional dan berbasis evaluasi kebijakan. Ini mencerminkan transformasi dari politik figur ke politik isu, di mana dukungan tidak lagi bersifat mutlak.
Perubahan wajah pemilih MAGA ini menjadi indikator penting dalam membaca arah politik Amerika Serikat ke depan. Ia menunjukkan bahwa bahkan basis yang paling loyal sekalipun tidak kebal terhadap perubahan, terutama ketika dihadapkan pada kebijakan yang menyentuh isu sensitif seperti perang.
Dalam konteks yang lebih luas, dinamika ini menegaskan bahwa stabilitas politik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan elite, tetapi juga oleh persepsi dan respons pemilih di tingkat akar rumput. Ketika kepercayaan mulai bergeser, arah politik pun ikut berubah, perlahan, namun pasti.
PBB Desak Israel Bebaskan Aktivis Global Sumud Flotilla
PBB telah meminta Israel untuk segera membebaskan dua aktivis yang diculik dari armada Global Sumud. Mereka menuntut penyelidikan atas “laporan yang meresahkan” bahwa para aktivis telah dianiaya dengan kejam.
Warga negara Spanyol Saif Abu Keshek dan aktivis Brasil Thiago Avila termasuk di antara puluhan aktivis dalam armada yang berusaha mengangkut bantuan ke Gaza ketika armada itu dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional dekat Kreta Kamis lalu. Kedua pria tersebut ditahan di sebuah penjara di Ashkelon di Israel selatan.
“Israel harus segera dan tanpa syarat membebaskan anggota Global Sumud Flotilla Saif Abu Keshek dan Thiago Avila, yang ditahan di perairan internasional dan dibawa ke Israel di mana mereka terus ditahan tanpa tuduhan,” kata juru bicara kantor hak asasi manusia PBB Thameen Al-Kheetan dalam sebuah pernyataan.
“Menunjukkan solidaritas dan upaya memberikan bantuan kemanusiaan kepada penduduk Palestina di Gaza, yang sangat membutuhkannya bukanlah suatu kejahatan.”
Kapal armada tersebut berlayar dari Perancis, Spanyol dan Italia dengan tujuan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Perwakilan Avila dan Abu Keshek menuduh pemerintah Israel menganiaya kedua pria tersebut, yang telah melakukan mogok makan selama enam hari terakhir.
Kheetan mengecam “laporan yang meresahkan mengenai penganiayaan parah”, menyerukan penyelidikan dan bersikeras “mereka yang bertanggung jawab harus diadili”.
“Kami menyerukan diakhirinya penggunaan penahanan sewenang-wenang oleh Israel dan undang-undang terorisme yang didefinisikan secara luas dan samar-samar, yang tidak sejalan dengan hukum hak asasi manusia internasional,” katanya.
“Israel juga harus mengakhiri blokadenya terhadap Gaza, dan mengizinkan serta memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina yang terkepung, dalam jumlah yang cukup.”
Zionis Paksakan Dakwaan Terorisme pada Pimpinan Armada Sumud Flotilla
Pengadilan rendah penjajahan Zionis Israel di Ashkelon memperpanjang penahanan dua pemimpin pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla (GSF) Thiago Avila dan Seif Abukeshek selama enam hari sampai Ahad (10/5/2026) mendatang. Penuntut umum pada otoritas penjajahan di Tanah Palestina itu menuduh kedua aktivis kemanusian itu dengan beragam sangkaan terkait dengan terorisme.
Tim Advokasi Adalah menyampaikan, jaksa Israel pada persidangan sebelumnya menyampaikan di pengadilan, tentang Thiago dan Seif membantu orang-orang di Gaza, Palestina yang dianggap sebagai musuh zionis. " Jaksa penuntut umum Israel menyampaikan daftar dugaan pelanggaran (kepada Thiago dan Seif) termasuk membantu musuh selama masa perang, berhubungan dengan agen asing, menjadi anggota dan memberikan layanan kepada organisasi teroris, dan mentransfer properti untuk organisasi teroris," begitu dalam siaran pers Adalah yang diterima Republika di Marmaris, Turki, Selasa (5/5/2026).
Anggota Pengacara Adalah, Hadeel Abu Salih dan Lubna Tuma menegaskan, tak ada penjelasan tentang organisasi terorisme seperti apa yang dituduhkan oleh jaksa zionis terhadap Thiago dan Seif. Adalah juga membantah keras tudingan zionis terhadap Thiago dan Seif yang terkait dengan terorisme. Adalah menegaskan, aktivitas Thiago dan Seif yang kini membuat keduanya menjadi tahanan zionis, hanya terkait dengan kegiatan kemanusian bersama ribuan relawan lainnya untuk membantu penduduk sipil yang kelaparan, dan kesusahan di Gaza.
Kegiatan kemanusian tersebut, Thiago dan Seif lakoni bersama ribuan aktivis dari seluruh dunia melalui pelayaran kemanusian melalui perairan laut internasional menuju Gaza. "Bahwa tidak ada hubungan antara memberikan bantuan kemanusian kepada penduduk sipil di Gaza melalui armada kemanusiaan dengan organisasi teroris mana pun," tegas Adalah.
Justeru, menurut Adalah, tentara zionis yang melanggar ketentuan hukum internasional, dengan melakukan pembajakan kapal-kapal dan penculikan para peserta pelayaran. Tindakan ilegal tentara penjajahan itu, yang berujung pada penangkapan Thiago dan Seif di perairan internasional saat memimpin 56 armada kemanusian di perairan internasional dekat Yunani, atau berjarak sekitar 1.000 Kilometer (Km) dari pantai Gaza, pada Rabu (29/4/2026) lalu.
Terlepas dari argumen-argumen tim advokasi tersebut, Hakim Pengadilan Rendah Zionis, Yaniv Ben Haroush tetap menyetujui desakan otoritas penjajahan untuk perpanjangan penahanan terhadap Thiago dan Seif. Hakim zionis itu juga menyetujui permintaan jaksa dari otoritas penjajahan yang tak perlu membeberkan bukti-bukti awal terkait tuduhan keterlibatan Thiago dan Seif dengan terorisme. Hakim juga menolak permintaan tim pengacara Adalah, agar jaksa dari pihak zionis menyampaikan bukti-bukti atas dugaan keterlibatan Thiago dan Seif dengan aktivitas terorisme dengan alasan rahasia.
Karena itu, tim pengacara Adalah, mengajukan banding atas putusan awal dari hakim rendah tersebut. "Keputusan pengadilan rendah untuk memperpanjang penahanan para aktivis kemanusiaan (Thiago dan Seif) yang diculik di perairan internasional sama dengan pengesahan yudisial atas pelanggaran hukum negara. Tim Adalah akan segera mengajukan banding ke Pengadilan Negeri untuk menantang keputusan ini dan menuntut pembebasan segera dan tanpa syarat Thiago dan Saif," begitu tegas Adalah.
Di Pelabuhan Marmaris, Turki, pantaun Republika terkait persiapan kelanjutan pelayaran Global Sumud Flotilla terdapat sekitar 12 kapal yang tetap bersiap melanjutkan misi kemanusian menembus blokade Gaza. Pada Selasa (5/5/2026) ratusan partisipan dari banyak negara yang akan melanjutkan pelayaran, mulai memasukkan logistik, dan bantuan-bantuan kemanusian yang akan dibawa seluruh armada ke daratan Gaza. Bantuan kemanusian itu, berupa bahan makanan berat dan ringan, air bersih, obat-obatan, susu bayi, dan perlengkapan untuk anak-anak serta perempuan.
Kapal-kapal kemanusian yang bersiap berlayar ini, masih menunggu keputusan final dari Steering Committee Global Sumud Flotilla untuk melanjutkan pelayaran ke Gaza atau tidak. Belum diketahui pasti kapan keputusan tersebut akan disampaikan. Namun, sekitar 32 kapal Global Sumud Flotilla lainnya, sudah enam hari menunggu di perairan Yunani untuk melanjutkan pelayaran bersama armada yang bersiap di Turki. 32 kapal yang menunggu di perairan Yunani itu, merupakan armada sisa dari 56 kapal yang diserang oleh tentara laut Zionis Israel di perairan internasional dekat Yunani, pada Rabu (29/4/2026).
Republika juga mendapatkan informasi terkait dengan patroli tentara laut Zionis Israel yang mengerahkan kapal-kapal serangnya di perairan internasional antara Turki dan Yunani. Patroli ilegal itu, dikabarkan untuk menghalau bersatunya armada Global Sumud Flotilla yang menunggu pelayaran dari Turki, dengan kapal-kapal kemanusian yang sudah satu pekan berada di perairan Yunani.
Gagal Terobos Selat Hormuz, AS Dilaporkan Siap Sepakati Gencatan Senjata
Iran dan Amerika Serikat dilaporkan mendekati kesepakatan gencatan senjata komprehensif. Kabar soal kesepakatan ini setelah AS gagal menjalankan Operasi Project Freedom untuk menerobos Selat Hormuz.
Kabar itu dilansir situs berita Axios mengutip para pejabat AS dan dua sumber yang mengetahui masalah tersebut. Mereka melaporkan pada Rabu bahwa Gedung Putih yakin pihaknya hampir mencapai kesepakatan dengan Iran mengenai nota kesepahaman satu halaman untuk mengakhiri perang dan menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi yang lebih rinci mengenai program nuklir.
Situs web tersebut melaporkan bahwa Amerika Serikat memperkirakan tanggapan Iran terhadap beberapa poin penting dalam waktu 48 jam. Laporan tersebut mencatat bahwa kedua belah pihak belum benar-benar menyepakati apapun, namun mengatakan bahwa ini adalah kesepakatan terdekat yang dicapai kedua pihak sejak awal perang.
Situs web Axios mengatakan perjanjian tersebut, yang mencakup ketentuan-ketentuan lain, akan mencakup komitmen Iran terhadap penghentian sementara pengayaan uranium, persetujuan Amerika Serikat untuk mencabut sanksi-sanksinya dan mencairkan dana Iran senilai miliaran dolar, dan kedua belah pihak mencabut pembatasan perjalanan melalui Selat Hormuz.
Laporan itu menambahkan bahwa nota kesepahaman setebal satu halaman berisi 14 poin sedang dinegosiasikan antara utusan AS Steve Wittkopf dan Jared Kushner dan sejumlah pejabat Iran, baik secara langsung maupun melalui perantara.
Dia mengindikasikan bahwa memorandum tersebut, dalam bentuknya yang sekarang, akan menyatakan berakhirnya perang di kawasan dan dimulainya periode 30 hari perundingan mengenai perjanjian rinci untuk membuka selat, membatasi program nuklir Iran, dan mencabut sanksi AS.
Axios, mengutip seorang pejabat AS, mengatakan bahwa pembatasan Iran terhadap navigasi melalui selat tersebut dan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan dicabut secara bertahap dalam jangka waktu 30 hari.
Pejabat tersebut mengindikasikan bahwa pasukan AS akan dapat menerapkan kembali blokade atau melanjutkan operasi militer jika negosiasi gagal. Di sisi lain, kantor berita Reuters mengutip sumber Pakistan yang mengetahui negosiasi tersebut yang mengonfirmasi bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai nota kesepahaman.
Iran Tegaskan Hanya Mau Kesepakatan Komprehensif dengan AS
Iran menegaskan hanya akan menerima “kesepakatan yang adil dan komprehensif” dalam negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, di tengah klaim Presiden AS Donald Trump soal kemajuan signifikan dalam proses perundingan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan, Teheran akan tetap mempertahankan kepentingan nasionalnya dalam setiap pembicaraan dengan Washington.
“Kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi hak dan kepentingan sah kami dalam negosiasi. Kami hanya menerima kesepakatan yang adil dan komprehensif,” ujar Araqchi di Beijing, Rabu (6/5/2026), usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dilansir dari Reuters.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump menyebut telah terjadi “kemajuan besar” menuju kesepakatan final antara kedua negara.
Bahkan, Trump sempat mengumumkan jeda sementara operasi pengawalan kapal oleh militer AS di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mendorong tercapainya perjanjian.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu, ketika serangan udara AS dan Israel terhadap Iran memicu eskalasi.
Jalur tersebut nyaris tertutup, menghambat sekitar 20% pasokan minyak global dan memicu krisis energi dunia.
Meski demikian, Araqchi tidak secara langsung menanggapi tawaran jeda operasi tersebut. Ia justru menekankan bahwa kesepakatan damai harus memenuhi prinsip keadilan dan mencakup seluruh aspek yang menjadi kepentingan Iran.
Di sisi lain, harga minyak dunia mulai mereda seiring harapan tercapainya kesepakatan. Kontrak berjangka Brent turun sekitar 1,2% ke level US$ 108,60 per barel, setelah sebelumnya juga melemah signifikan pada sesi perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi ke kisaran US$ 101,06 per barel.
Gedung Putih belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai progres negosiasi maupun durasi jeda operasi militer tersebut.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan itu meningkat setelah Iran mengancam menutup jalur tersebut menggunakan ranjau laut, drone, dan rudal, sementara AS merespons dengan blokade pelabuhan Iran serta pengawalan kapal komersial.
Meski sempat terjadi bentrokan, gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung selama empat pekan masih bertahan hingga kini.
Trump juga menyatakan bahwa Iran menunjukkan keinginan untuk berdamai, meskipun retorika publik dari Teheran masih terkesan keras.
Konflik ini telah menelan ribuan korban jiwa dan meluas ke wilayah Lebanon serta negara-negara Teluk, sekaligus mengguncang perekonomian global.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan dampak ekonomi dari konflik ini masih akan terasa hingga tiga sampai empat bulan ke depan, bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat.
Namun hingga saat ini, upaya diplomatik belum menghasilkan kesepakatan konkret. Meski kedua pihak telah melakukan satu putaran perundingan langsung, pembahasan lanjutan masih belum menemukan titik temu.
Menlu China Bertemu Menlu Iran di Beijing, Bahas Konflik Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri China Wang Yi memulai pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di Beijing pada Rabu (6/5/2026), menurut laporan kantor berita Xinhua.
Melansir Reuters, kunjungan singkat Araqchi ke China berlangsung hanya sepekan sebelum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan melakukan lawatan ke Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada 14–15 Mei mendatang.
Pertemuan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, di mana Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz.
Situasi tersebut mengancam gencatan senjata yang sebelumnya sudah rapuh.
Trump sebelumnya menyatakan Angkatan Laut AS akan membantu kapal-kapal komersial melintasi selat tersebut.
Namun, operasi itu kemudian dihentikan sementara setelah Washington mengklaim adanya kemajuan signifikan menuju kesepakatan komprehensif dengan Teheran.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Iran terkait perkembangan tersebut.
Araqchi sebelumnya menegaskan bahwa serangan yang terjadi pada awal pekan ini menunjukkan tidak adanya solusi militer atas konflik yang berlangsung.
Pernyataan itu disampaikan di tengah upaya Iran mempertimbangkan tawaran negosiasi dari pihak AS.
Sementara itu, China tetap mengambil posisi relatif netral dalam konflik, namun menentang serangan terhadap kedaulatan Iran serta aktif mendorong upaya mediasi.
Beijing juga berulang kali menyerukan kepada AS dan Iran untuk menjaga gencatan senjata serta mencabut pembatasan di Selat Hormuz demi menjaga stabilitas perdagangan dan pasokan energi global.