News Komoditi & Global ( Selasa, 3 Maret 2026 )
News Komoditi & Global
( Selasa, 3 Maret 2026 )
Harga Emas Global Menguat di Tengah Kekhawatiran Konflik Berkepanjangan di Timur Tengah
Harga emas menguat pada perdagangan Senin (2/3/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Ketegangan geopolitik tersebut kembali mendorong minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe-haven).
Mengutip laporan Reuters, harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 5.297,31 per ons pada pukul 18.31 Waktu setempat.
Kenaikan ini sempat terpangkas akibat aksi ambil untung, setelah sebelumnya harga emas melonjak lebih dari 2% dalam satu sesi. Emas juga masih berada dekat rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 5.594,82 yang tercatat pada 29 Januari.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 1,2% di level US$ 5.311,60 per ons. Di sisi lain, indeks dolar AS naik sekitar 1%, sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, David Meger, menilai pasar masih diliputi ketidakpastian terkait kelanjutan serangan di kawasan tersebut.
Menurutnya, ketidakjelasan arah konflik dalam beberapa pekan ke depan berpotensi terus menopang harga emas.
Ketegangan meningkat setelah perang udara AS-Israel terhadap Iran meluas. Israel dilaporkan menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk.
Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut akan ada gelombang besar serangan lanjutan, meski tanpa merinci waktu dan sasarannya.
Dampak konflik juga terasa di pasar energi. Harga minyak dan gas melonjak setelah sejumlah fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah ditutup, serta terganggunya pengiriman melalui Selat Hormuz yang strategis.
Analis di SP Angel menyebut meningkatnya fragmentasi geopolitik mendorong bank sentral negara-negara BRIC mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar AS dan beralih ke emas.
Tren ini diperkirakan akan berlanjut. Senada, BNP Paribas memproyeksikan permintaan investasi emas fisik akan menjadi pendorong utama pasar emas sepanjang tahun ini.
Sepanjang tahun berjalan, harga emas telah melonjak hampir 23%, melanjutkan reli kuat setelah naik 64% pada 2025.
Kenaikan tersebut didorong oleh pembelian agresif bank sentral, arus masuk besar ke dana yang diperdagangkan di bursa (ETF), serta ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih longgar.
Dari sisi pasokan fisik, arus emas masuk dan keluar dari pusat perdagangan emas batangan Dubai diperkirakan akan sangat terbatas dalam beberapa hari ke depan.
Pembatasan ini terjadi setelah sejumlah maskapai membatalkan penerbangan akibat aksi pemogokan, menurut sumber industri logam.
Pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi AS pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, serta data penggajian non-pertanian.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya cenderung melemah. Harga perak spot turun tajam 5,7% menjadi US$88,46 per ons setelah menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari.
Harga platinum spot merosot 2,7% ke US$2.300,50 per ons, sedangkan paladium turun 0,9% menjadi US$1.770,66 per ons.
Harga Minyak Dunia Melonjak, Perang Iran Ganggu Produksi dan Pelayaran Energi
Harga minyak dan gas melonjak tajam pada perdagangan Senin (3/3/2036) setelah serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dibalas Teheran, memicu penutupan fasilitas energi di Timur Tengah serta mengganggu pelayaran di Selat Hormuz yang krusial bagi pasokan global.
Harga minyak mentah Brent sempat melesat hingga 13% ke level tertinggi sejak Januari 2025 sebelum ditutup naik 6,7% menjadi US$ 77,74 per barel.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 6,3% ke US$ 71,23 per barel. Lonjakan berlanjut pada perdagangan pasca-penutupan setelah Garda Revolusi Iran menyatakan akan membakar kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Kekhawatiran pasar meningkat karena konflik berpotensi berkepanjangan. Serangan balasan Iran ke negara-negara produsen energi utama seperti Arab Saudi dan Qatar memicu risiko gangguan pasokan lanjutan.
"Pertanyaan kuncinya adalah berapa banyak pasokan yang akan hilang, berapa lama, dan bagaimana kekuatan-kekuatan besar bereaksi," ujar Daniel Yergin, wakil ketua di S&P Global.
Di lapangan, Arab Saudi menutup kilang minyak domestik terbesarnya setelah serangan pesawat nirawak. Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG), sementara perusahaan milik negara QatarEnergy menyatakan akan menerapkan keadaan kahar (force majeure) pada pengiriman LNG.
Konflik yang meluas juga membuat sekitar 150 kapal terdampar di sekitar Selat Hormuz setelah seorang pelaut tewas dan sedikitnya tiga kapal tanker rusak.
Pada hari normal, kapal yang mengangkut minyak mentah setara sekitar seperlima permintaan global melintasi Selat Hormuz, termasuk pengiriman solar, bensin, dan bahan bakar lain ke pasar utama Asia seperti Tiongkok dan India. Jalur ini juga dilalui sekitar 20% pasokan LNG dunia.
JPMorgan memperkirakan penyempitan lalu lintas di Selat Hormuz selama tiga hingga empat pekan dapat memaksa produsen Teluk menghentikan produksi dan mendorong harga Brent menembus US$ 100 per barel.
Sementara itu, Kenny Zhu dari Global X menilai kompleks energi Amerika Utara relatif lebih terlindungi jika gangguan berlangsung lama.
Perbedaan respons terlihat di pasar gas. Kontrak berjangka gas alam AS bulan depan naik 3,5% menjadi US$2,96 per juta British thermal units (mmBtu). Sebaliknya, patokan gas Eropa melonjak lebih dari 40%, dengan kontrak TTF Belanda ditutup di 44,51 euro per megawatt jam. Harga LNG Asia juga melonjak hampir 39%, dengan patokan JKM berada di US$15,068 per mmBtu.
Ketegangan global telah mendorong harga Brent naik 19% sepanjang tahun ini dan WTI sekitar 17%. Meski demikian, Badan Energi Internasional dan sejumlah analis menilai pasar masih memiliki pasokan yang memadai, dengan tambahan produksi dari Amerika Serikat, Guyana, dan OPEC+ diperkirakan melampaui pertumbuhan permintaan tahun ini.
OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi 206.000 barel per hari pada April. Analis RBC Capital menyebut hampir semua produsen OPEC+ berproduksi mendekati kapasitas penuh, kecuali Arab Saudi.
Secara global, persediaan minyak yang terlihat berada di 7,827 juta barel—cukup untuk memenuhi permintaan selama 74 hari, mendekati median historis, menurut catatan Goldman Sachs.
Di sisi konsumen, harga rata-rata bensin ritel AS menembus US$ 3 per galon untuk pertama kalinya sejak November, sementara harga diesel ultra-rendah sulfur mencapai level tertinggi dua tahun dan bensin berjangka naik sekitar 4%.
“Meskipun kita belum tahu ke mana gangguan ini akan berakhir atau bagaimana konflik akan terselesaikan, dampak jangka pendeknya kemungkinan berupa lonjakan volatilitas pasar energi global dan potensi pengalihan rute kargo minyak dan gas,” ujar Zhu.
Wall Street Berakhir Bervariasi, Pasar Bergejolak Usai Serangan Udara di Iran
Busa Saham Amerika Serikat (AS) ditutup sedikit bervariasi pada perdagangan Senin (2/3/2026), setelah sesi yang bergejolak menyusul serangan udara terkoordinasi AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan.
Pasar sempat tertekan di awal perdagangan, namun berangsur pulih seiring aksi beli investor yang memanfaatkan penurunan harga.
Di Wall Street, tekanan awal muncul setelah serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Teheran dan mengguncang pasar global.
Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran eskalasi konflik membuat sejumlah bursa saham dunia ditutup melemah. Namun di AS, investor kembali masuk pasar dengan keyakinan dampak konflik akan terbatas.
“Pelaku pasar menilai ini hanya sementara dan persoalan di sektor minyak akan mereda,” ujar Bill Smead, pendiri dan ketua Smead Capital Management.
Berdasarkan data awal, S&P 500 naik tipis 0,01% ke level 6.879,42. Nasdaq Composite menguat 0,32% menjadi 22.740,61, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,18% ke 48.891,03.
Konflik di Timur Tengah sempat mendorong saham sektor pertahanan dan energi, namun menekan sektor pariwisata serta saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga.
Seiring berjalannya perdagangan, investor beralih kembali ke saham teknologi dan mempertimbangkan dampak konflik terhadap inflasi serta arah kebijakan Federal Reserve.
Menurut Smead, investor kembali ke saham-saham yang sudah akrab dan berkinerja tinggi seperti Nvidia, kelompok tujuh saham teknologi utama, serta sektor pertahanan.
“Saat orang merasa takut, mereka kembali ke hal yang terasa aman,” ujarnya.
Di pasar global, tekanan masih terasa. Bursa saham di Prancis dan Jerman masing-masing turun lebih dari 1%. Di Asia, indeks Nikkei 225 merosot 1,73% setelah sempat anjlok hingga 2% pada pembukaan.
Saham perusahaan energi tampil lebih baik seiring kenaikan harga minyak, sementara saham maskapai penerbangan dan perusahaan perjalanan tertekan akibat pembatalan penerbangan, lonjakan biaya bahan bakar jet, serta penutupan wilayah udara di Timur Tengah.
Sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan tersebut dilaporkan menghentikan produksi. Harga minyak mentah AS ditutup melonjak 6% ke level US$71,23 per barel.
Saham sektor pertahanan juga menguat, tercermin dari kenaikan Dow Jones U.S. Defense Index.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengatakan kepada CNN bahwa “gelombang besar” masih akan datang, meskipun sejumlah negara Timur Tengah melobi sekutu AS agar perang segera diakhiri.
Di tingkat korporasi, saham AES Corp melemah setelah konsorsium yang dipimpin unit infrastruktur BlackRock, bersama perusahaan ekuitas EQT AB, sepakat mengakuisisi perusahaan utilitas tersebut senilai US$33,4 miliar, dengan harga di bawah penutupan saham sebelumnya.
555 Orang Iran Tewas Akibat Invasi Israel dan AS
Sebanyak 555 orang telah tewas di seluruh Iran dalam serangan AS dan Israel yang dimulai dua hari lalu. Demikian diungkapkan Bulan Sabit Merah Iran. “Menyusul serangan teroris Zionis-Amerika yang dilakukan di berbagai wilayah negara kita, 131 kota telah terdampak hingga saat ini dan, sayangnya, 555 warga negara kita telah tewas,” kata kelompok itu dalam sebuah unggahan di Telegram, dilansir Al Jazeera. Angka-angka tersebut tidak membedakan antara militer, pemimpin, dan warga sipil di tengah serangan yang ditargetkan. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Israel melaporkan bahwa sejak dimulainya Operasi Singa Mengaum pada hari Sabtu, 777 orang telah dievakuasi ke rumah sakit, di mana 86 orang saat ini dirawat di rumah sakit atau di ruang gawat darurat. Empat orang dalam kondisi serius; dua dari kasus tersebut bukan akibat langsung dari serangan rudal. Dua puluh orang dalam kondisi sedang dan 58 orang dalam kondisi baik. Empat orang lainnya sedang menjalani evaluasi medis. Puluhan orang terluka dalam kecelakaan saat berlari menuju tempat penampungan. Sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengatakan mereka melancarkan serangan rudal ke kompleks pemerintahan di Tel Aviv serta pusat keamanan dan militer di Haifa dan serangan ke Yerusalem Timur. “Di antara target gelombang kesepuluh ini adalah serangan yang ditargetkan pada kompleks pemerintahan rezim Zionis di Tel Aviv, serangan terhadap pusat militer dan keamanan di Haifa, dan serangan ke Yerusalem Timur,” kata pernyataan Garda yang disiarkan oleh TV pemerintah. Yerusalem Timur adalah wilayah yang mayoritas penduduknya Arab yang diklaim oleh Palestina sebagai ibu kota negara masa depan mereka. Iran mengatakan rudal balistik Kheibar digunakan dalam serangan tersebut.
Ini 3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada hari Sabtu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pejabat senior, Teheran bergerak cepat untuk merespons. Iran mengatakan pembalasannya menargetkan Israel dan situs militer yang terkait dengan AS di seluruh wilayah, termasuk di negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pasukan AS. Pertukaran awal telah mempertajam pertanyaan utama bagi ibu kota regional dan pasar global: Akankah ini tetap menjadi siklus serangan timbal balik, atau akankah berkembang menjadi kampanye yang lebih panjang yang dibentuk oleh jangkauan serangan Iran, pasukan sekutu, dan tekanan pada infrastruktur pelayaran dan energi? Inti dari pertanyaan ini adalah persenjataan rudal Iran dan platform serta alat lain yang dimilikinya untuk menimbulkan kerugian pada AS dan negara lain. Tidak seperti perang 12 hari yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada Juni 2025, pembunuhan Khamenei tampaknya telah meyakinkan Teheran bahwa bentrokan ini adalah pertempuran untuk kelangsungan hidup Republik Islam itu sendiri. Dalam narasi Teheran, pembalasan yang tertunda atau terkendali berisiko dianggap sebagai kelemahan dan undangan untuk serangan lebih lanjut. Pada hari Minggu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa membalas dendam atas pembunuhan Khamenei dan pejabat senior lainnya adalah "kewajiban dan hak sah" negara. Kekuatan rudal Iran sangat penting dalam cara mereka berperang dan memberi sinyal. Analis pertahanan menggambarkannya sebagai yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, mencakup rudal balistik dan jelajah, dan dirancang untuk memberi Teheran jangkauan bahkan tanpa angkatan udara modern. Pejabat Iran menganggap program rudal negara itu sebagai tulang punggung pencegahan, sebagian karena angkatan udara bergantung pada pesawat yang sudah tua. Pemerintah Barat berpendapat bahwa rudal Iran memicu ketidakstabilan regional dan dapat mendukung peran pengiriman nuklir di masa depan – klaim yang ditolak Teheran. Rudal balistik Iran dengan jangkauan terjauh dapat menempuh jarak antara 2.000 km (1.243 mil) dan 2.500 km (1.553 mil). Itu berarti rudal-rudal ini dapat mencapai Israel, pangkalan-pangkalan yang terkait dengan AS di seluruh Teluk dan sebagian besar wilayah yang lebih luas — tetapi bertentangan dengan klaim Trump dan beberapa orang di sekitarnya, rudal-rudal ini tidak dapat mendekati AS. Ini 3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel 1. Rudal jarak pendek: 'Pukulan pertama' Melansir Al Jazeera, rudal balistik jarak pendek – sekitar 150-800 km (93-500 mil) – dirancang untuk target militer terdekat dan serangan regional yang cepat. Sistem inti termasuk varian Fateh: Zolfaghar, Qiam-1 dan rudal Shahab-1/2 yang lebih tua. Jangkauan yang lebih pendek dapat menjadi keuntungan dalam krisis. Rudal-rudal ini dapat diluncurkan secara beruntun, memperpendek waktu peringatan dan mempersulit serangan pendahuluan. Iran menggunakan taktik ini pada Januari 2020, menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara Ain al-Assad di Irak setelah AS membunuh Qassem Soleimani, jenderal paling terkenal di negara itu. Serangan itu merusak infrastruktur dan menyebabkan lebih dari 100 personel AS mengalami cedera otak traumatis, menunjukkan bahwa Iran dapat menimbulkan kerugian besar tanpa harus menandingi kekuatan udara AS. 2. Rudal jarak menengah: Mengubah peta Jika rudal jarak pendek adalah jawaban cepat Iran, rudal balistik jarak menengah – sekitar 1.500-2.000 km (900-1.200 mil) – adalah yang mengubah pembalasan menjadi persamaan regional. Sistem seperti Shahab-3, Emad, Ghadr-1, varian Khorramshahr, dan Sejjil mendukung kemampuan Iran untuk menyerang lebih jauh, bersama dengan desain yang lebih baru seperti Kheibar Shekan dan Haj Qassem. Sejjil menonjol sebagai sistem berbahan bakar padat, yang umumnya memungkinkan kesiapan peluncuran lebih cepat daripada rudal berbahan bakar cair – sebuah keuntungan jika Iran memperkirakan serangan yang akan datang dan membutuhkan opsi yang dapat bertahan dan responsif. Secara keseluruhan, rudal jarak menengah ini menempatkan Israel dan sejumlah besar fasilitas yang terkait dengan AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dalam jangkauan, memperluas daftar target Iran dan paparan kawasan tersebut. Baca Juga: Perlawanan Iran Sangat Berani! Trump: Durasi Perang Jadi 5 Minggu 3. Rudal jelajah dan drone: Masalah terbang rendah Rudal jelajah terbang rendah, dapat mengikuti kontur medan, dan seringkali lebih sulit dideteksi dan dilacak – terutama ketika diluncurkan bersamaan dengan drone atau salvo balistik yang dirancang untuk membebani pertahanan udara. Iran secara luas dinilai memiliki rudal jelajah serang darat dan anti-kapal, seperti Soumar, Ya-Ali, varian Quds, Hoveyzeh, Paveh, dan Ra’ad. Soumar memiliki jangkauan 2.500 km (1.553 mil). Drone menambah lapisan tekanan lain. Lebih lambat daripada rudal tetapi lebih murah dan lebih mudah diluncurkan dalam jumlah besar, drone serang satu arah dapat digunakan dalam gelombang berulang untuk melemahkan pertahanan udara dan membuat bandara, pelabuhan, dan lokasi energi dalam keadaan siaga terus-menerus selama berjam-jam, bukan menit. Analis mengatakan taktik saturasi ini kemungkinan akan lebih menonjol jika konfrontasi semakin dalam.
Pentagon: Tidak Ada Laporan Intelijen kalau Iran Akan Menyerang Daratan AS
Para pejabat pemerintahan AS Donald Trump telah mengatakan kepada Kongres AS bahwa tidak ada tanda-tanda Iran berencana menyerang AS sebelum serangan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Seperti dilaporkan Reuters, dalam pengarahan tertutup, para pejabat Pentagon mengatakan kepada staf kongres bahwa rudal balistik Iran dan pasukan proksinya menimbulkan ancaman langsung terhadap kepentingan AS, tetapi mereka mengakui bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan bahwa Teheran berencana menyerang pasukan AS terlebih dahulu, menurut kantor berita tersebut, yang mengutip dua orang yang mengetahui masalah tersebut. Laporan tersebut menimbulkan keraguan atas klaim sebelumnya oleh para pejabat pemerintahan Trump bahwa ada indikasi bahwa Teheran dapat menyerang pasukan AS secara "preemptif". Baca Juga: Perlawanan Iran Sangat Berani! Trump: Durasi Perang Jadi 5 Minggu Sementara iutu, Yassamin Ansari, salah satu dari dua anggota Kongres AS keturunan Iran Iran, telah menyatakan keprihatinannya tentang rencana Presiden Trump untuk Teheran. Melalui unggahan di media sosial, Ansari, seorang Demokrat yang mewakili sebuah distrik di Arizona, mengatakan bahwa ia tidak percaya Trump memiliki "niat baik atau rencana" untuk masa depan negara. “Keyakinan ini berakar pada fakta bahwa Donald Trump telah menunjukkan kurangnya niat baik atau rencana terkait masa depan Amerika Serikat. Saya sungguh berharap saya salah,” kata Ansari, yang orang tuanya melarikan diri dari Iran setelah revolusi Islam 1979, di X. “90 juta warga Iran layak mendapatkan masa depan yang lebih baik, dan nyawa warga Amerika dipertaruhkan.”
Meski Khamenei Tewas, 3 Alasan Iran Tak Akan Tunduk pada AS dan Israel
Iran tidak akan tunduk pada AS dan Israel setelah kematian pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran tetap akan berhaluan keras dan melawan dominasi AS dan Israel. Meski Khamenei Tewas, 3 Alasan Iran Tak Akan Tunduk pada AS dan Israel 1. Pusat Kekuasaan Iran Tersebar di Kalangan Ulama, Militer hingga IRGC Michael Mulroy, mantan wakil asisten menteri pertahanan AS, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa meskipun pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei akan menandai upaya penggulingan rezim kedua oleh AS setelah Venezuela, skenario Iran adalah "situasi yang berbeda". Baca Juga : Balas Dendam! Iran Tutup Selat Hormuz, Larang Kapal Apa pun Melintas “Rezim di Venezuela benar-benar dipertahankan oleh [Presiden Nicolas] Maduro, dengan beberapa bawahan yang sangat lemah. Di Iran, Anda memiliki Pemimpin Tertinggi, tentu saja, tetapi ada banyak pusat kekuasaan yang berbeda di kalangan ulama, militer, IRGC, dan dinas intelijen,” katanya. 2. Akan Terjadi Perang Habis-Habisan Mengomentari kemungkinan reaksi Iran, Mulroy mengatakan negara itu kemungkinan besar tidak akan "mematuhi" tuntutan AS bahkan setelah pemimpin tertinggi disingkirkan. “Berdasarkan semua yang mereka katakan saat ini, termasuk pernyataan baru-baru ini, mereka cenderung akan meningkatkan eskalasi dan pada dasarnya mengubah kawasan ini menjadi perang habis-habisan, menyebabkan penderitaan yang besar tidak hanya bagi Amerika Serikat tetapi juga bagi negara-negara Teluk di kawasan tersebut,” kata Mulroy. 3. Iran Memiliki Drone yang Sudah Terbukti “Yang mereka [Iran] miliki adalah drone, yang Anda lihat menyerang banyak gedung di Dubai dan Bahrain, misalnya. Mereka dapat memproduksinya secara massal, dan itulah cara mereka memasoknya ke Rusia selama bertahun-tahun. Jadi, itu adalah masalah,” katanya. “Tentu saja, drone umumnya cukup mudah ditembak jatuh, tetapi kita telah melihat banyak yang lolos. Saya tidak tahu apakah itu karena mereka menyamarkannya, dalam arti bahwa mereka mengirim begitu banyak drone sehingga sulit untuk menanganinya sekaligus. Itulah yang terdengar di UEA, dan itu mungkin ancaman terbesar mereka,” kata Mulroy.
Arab Saudi Bantah Tudingan Diam-diam Melobi Trump untuk Menyerang Iran
Kedutaan Besar Saudi di Washington membantah laporan Washington Post baru-baru ini yang mengklaim Kerajaan tersebut secara diam-diam melobi Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Iran dalam beberapa minggu dan bulan terakhir. “Kerajaan #ArabSaudi konsisten dalam mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran,” kata Fahad Nazer, juru bicara Kedutaan Besar Saudi di Washington, dilansir Al Arabiya. “Tidak pernah dalam semua komunikasi kami dengan Pemerintahan Trump, kami melobi Presiden untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda,” tambahnya dalam sebuah unggahan di X. Arab Saudi termasuk di antara negara-negara Teluk yang berupaya mencegah konfrontasi militer di kawasan tersebut dan secara terbuka mengatakan bahwa mereka tidak akan menjadi bagian dari potensi perang apa pun. Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengatakan kepada presiden Iran selama panggilan telepon pada 26 Januari bahwa Kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau wilayahnya digunakan untuk serangan militer apa pun terhadap Iran. Namun, setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, Iran mulai menembaki negara-negara tetangganya tanpa pandang bulu. Iran menargetkan dan menyerang setiap negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dalam waktu 24 jam setelah apa yang disebut AS sebagai Operasi Epic Fury. Operasi AS-Israel sejauh ini telah menewaskan puluhan pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertingginya yang telah lama berkuasa, Ali Khamenei. Baca Juga: Iran Klaim 4 Rudalnya Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln, Ini Respons Amerika AS, Arab Saudi, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan UEA menandatangani pernyataan bersama pada Minggu malam yang mengecam Iran karena menargetkan negara-negara dan warga sipil di kawasan tersebut. Sementara itu, AS dan beberapa negara Teluk, termasuk Arab Saudi, mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu malam yang mengecam Iran karena menargetkan negara dan warga sipil di kawasan tersebut. “Serangan yang tidak beralasan ini menargetkan wilayah kedaulatan, membahayakan penduduk sipil, dan merusak infrastruktur sipil,” bunyi pernyataan bersama tersebut. Selain AS dan Arab Saudi, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan UEA juga menandatangani pernyataan tersebut. “Tindakan Republik Islam merupakan eskalasi berbahaya yang melanggar kedaulatan banyak negara dan mengancam stabilitas regional. Penargetan warga sipil dan negara-negara yang tidak terlibat dalam permusuhan adalah perilaku sembrono dan destabilisasi,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Negara-negara tersebut menegaskan bahwa mereka bersatu dalam membela warga negara, kedaulatan, dan wilayah mereka, “dan menegaskan kembali hak kami untuk membela diri dalam menghadapi serangan-serangan ini.” Mereka juga memperkuat komitmen mereka terhadap keamanan regional dan memuji “kerja sama pertahanan udara dan rudal yang efektif yang telah mencegah hilangnya nyawa dan kerusakan yang jauh lebih besar.”
Satu Rudal Iran Tembus Iron Dome, Tewaskan 9 Warga Israel, 11 Hilang
Sebuah rudal balistik Iran berhasil menembus sistem pertahanan Iron Dome Israel pada hari Minggu. Serangan ini menewaskan sembilan orang, beberapa di antaranya berada di tempat perlindungan bom di Beit Shemesh. Serangan misil Teheran ini juga menyebabkan 11 orang lainnya hilang serta melukai puluhan orang, termasuk beberapa anak. Baca Juga: Perang Memanas, Serangan Rudal Iran Tewaskan 3 Tentara AS, 5 Lainnya Luka Parah Terdapat juga beberapa serangan kecil lainnya di bagian lain negara Yahudi itu, dan bersama dengan seorang wanita yang meninggal pada Minggu pagi. Mengutip laporan The Jerusalem Post, Senin (2/3/2026), jumlah warga Israel yang tewas akibat tembakan rudal Iran telah meningkat menjadi 10 orang, bersama dengan hampir 500 orang yang terluka, meskipun sebagian besar dengan luka ringan. Hingga delapan rumah dan tempat perlindungan bom hancur dalam serangan Iran, dengan sekitar setengah dari mereka yang tewas berada di tempat perlindungan ketika atapnya runtuh dan setengah lainnya tewas di luar tempat perlindungan. Meskipun ada korban jiwa di tempat perlindungan bom, Kepala Komando Pertahanan Dalam Negeri Militer Israel (IDF), Mayor Jenderal Shai Kleper, mendesak semua warga Israel untuk terus pergi ke tempat perlindungan bom dan ruang aman karena, kecuali terkena serangan langsung, tempat-tempat tersebut memberikan perlindungan yang menyelamatkan nyawa. Sekitar 30 ambulans dari Magen David Adom dikirim ke lokasi kejadian di Beit Shemesh, sementara IDF mengatakan bahwa tim Pencarian dan Penyelamatan Komando Pertahanan Dalam Negeri, dikombinasikan dengan banyak pasukan medis dan sebuah helikopter untuk mengevakuasi korban luka, sedang beroperasi di lokasi kejadian. Pusat Medis Universitas Hadassah mengatakan bahwa 18 korban luka, termasuk tiga anak, dievakuasi ke kampusnya di Ein Kerem, Yerusalem. 17 lainnya, termasuk empat anak, dievakuasi ke kampusnya di Gunung Scopus. IDF juga mengatakan bahwa sistem peringatan dini berfungsi sesuai rencana dan diaktifkan di area dampak sementara situasi sedang diselidiki. Semua ini terjadi ketika Iran meningkatkan volume dan kecepatan serangan rudal balistiknya ke arah Israel pada Minggu pagi, dengan beberapa putaran peringatan sirene berbunyi di seluruh negeri satu demi satu sebagai tanggapan atas pengakuan Republik Islam tentang kematian pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei. Meskipun Khamenei tewas pada saat-saat awal perang akibat sekitar 30 bom sekitar pukul 08.00 pagi hari Sabtu, respons yang lebih intens baru datang kemudian. Republik Islam Iran baru mengakui kematiannya setelah pukul 03.00 pagi hari Minggu, dan tampaknya membutuhkan beberapa jam lagi untuk mengorganisir respons terkoordinasi penuh. Meskipun IDF masih belum mengonfirmasi jumlah serangan rudal Iran, secara anekdot, kecepatan salvo dan volume ledakan pada Minggu pagi belum pernah terjadi sebelumnya untuk putaran pertempuran ini dan lebih sebanding dengan putaran serangan besar terburuk pada Juni 2025, beberapa di antaranya melibatkan hingga 200 rudal balistik. Sebaliknya, pada hari Sabtu, jika sekitar 150 rudal mungkin telah ditembakkan ke Israel sepanjang hari, salvo tampaknya terbatas pada selusin atau paling banyak beberapa lusin rudal per salvo, tersebar di sekitar 10 salvo selama 24 jam. Secara total, Teheran memasuki babak konflik terbaru ini dengan sekitar 2.500 rudal balistik.
Hizbullah Gabung Perang Iran, Tembakkan Rudal ke Israel
Kelompok Hizbullah Lebanon resmi bergabung dalam perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kelompok milisi itu menembakkan sejumlah rudal dan drone ke Israel pada Minggu malam sebagai pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Militer Israel dengan cepat melancarkan serangan terhadap basis-basis Hizbullah di seluruh Lebanon, termasuk di pinggiran selatan Beirut. Baca Juga: Perang Memanas, Serangan Rudal Iran Tewaskan 3 Tentara AS, 5 Lainnya Luka Parah "Ini sebagai pembalasan atas darah murni Ali Khamenei, untuk membela Lebanon dan rakyatnya, dan sebagai tanggapan atas serangan Israel yang berulang," kata Hizbullah dalam sebuah pernyataan, yang dikutip Reuters, Senin (2/3/2026). Serangan rudal dan drone Hizbullah yang diluncurkan dari Lebanon mengakibatkan sirene berbunyi di beberapa daerah di Israel utara. Ini merupakan serangan pertama dari wilayah Lebanon sejak dimulainya serangan AS dan Israel terhadap Iran. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan peluncuran proyektil dari Lebanon selatan adalah "tidak bertanggung jawab" dan "tindakan mencurigakan" yang membahayakan keamanan Lebanon. Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata yang dimediasi AS pada tahun 2024, mengakhiri pertempuran selama lebih dari setahun antara Israel dan Hizbullah, yang memuncak dalam serangan Israel yang sangat melemahkan kelompok yang didukung Iran tersebut. Sejak itu, kedua pihak saling tuding atas pelanggaran gencatan senjata. Kelompok milisi Muslim Syiah tersebut, yang sejak lama menjadi salah satu sekutu utama Teheran di Timur Tengah, menyatakan solidaritas dengan Iran pada hari Sabtu tetapi tidak mengatakan apakah mereka akan terlibat dalam perang kali ini. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perang Amerika bersama Israel melawan Iran akan terus berlanjut hingga semua tujuan Washington tercapai. Trump, dalam sebuah video yang diunggah di Truth Social, juga mengonfirmasi bahwa tiga tentara militer AS telah tewas dalam serangan rudal Iran. Dia mengatakan kemungkinan akan ada lebih banyak korban, sembari bersumpah akan membalaskan kematian para tentara Amerika. "Operasi tempur terus berlanjut saat ini dengan kekuatan penuh, dan akan terus berlanjut sampai semua tujuan kita tercapai. Kita memiliki tujuan yang sangat kuat," kata Trump. Trump mengatakan kepada NBC News dalam sebuah wawancara pada hari Minggu, “Kami memperkirakan akan ada korban jiwa dalam situasi seperti ini.” “Kami memiliki tiga korban, tetapi kami memperkirakan akan ada korban jiwa,” katanya. “Tetapi pada akhirnya ini akan menjadi hal yang hebat bagi dunia.”
Surati PBB, Iran Ancam Konsekuensi Luas Atas Kematian Khamenei
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengirimkan surat kepada Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan para anggota Dewan Keamanan PBB, menyusul wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat dan Israel. Dia mengancam "konsekuensi yang mendalam dan luas" bagi mereka yang bertanggung jawab.
Dalam surat yang dikirim pada hari Senin (2/3), Menlu Iran itu menekankan kedudukan Khamenei dan skala serangan yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran tersebut.
"Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, bukan hanya otoritas resmi tertinggi negara, tetapi juga tokoh agama yang dihormati oleh puluhan juta umat Muslim di seluruh kawasan dan dunia," tulis Araghchi dalam surat tersebut, dilansir media Iran, Press TV, Senin (2/3/2026).
Araghchi menggarisbawahi sifat "mengerikan dan kriminal" dari kekejaman yang "dilakukan terhadap bangsa besar Iran."
Ia menekankan bahwa Israel dan AS telah menargetkan Republik Islam itu dalam "serangkaian tindakan agresif, terencana, dan sama sekali tidak dapat dibenarkan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial" bangsa tersebut.
Menurut pejabat Iran tersebut, agresi yang ditujukan terhadap Pemimpin Tertinggi menunjukkan bahwa sekutu "dengan sengaja menargetkan otoritas resmi tertinggi dari Negara Anggota PBB yang independen."
Menyebut serangan itu sebagai "tindakan teroris pengecut," Araghchi mengatakan bahwa serangan itu dilakukan "dengan pelanggaran terang-terangan terhadap Pasal 2(4) Piagam PBB dan merupakan serangan langsung terhadap prinsip-prinsip paling mendasar dari hukum internasional, termasuk larangan penggunaan kekerasan, prinsip kesetaraan kedaulatan negara, dan kekebalan kepala negara."
Ia berpendapat bahwa tindakan tersebut "menetapkan preseden berbahaya yang menyerang norma-norma inti yang mengatur kedaulatan negara dan perilaku beradab antar bangsa."
Kepala negara, tegas Araghchi, "tidak dapat diganggu gugat, harus dihormati, dan kebal, sebuah prinsip yang penting untuk pelaksanaan tugas resmi mereka secara independen."
Oleh karena itu, serangan yang disengaja terhadap pejabat tertinggi Iran merupakan pelanggaran berat dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap norma-norma paling mendasar yang mengatur hubungan antar negara," tegas Menlu Iran tersebut.
Larijani: Iran tak Akan Bernegosiasi dengan AS
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani pada hari Senin membantah klaim bahwa Teheran telah berusaha untuk memulai kembali perundingan dengan Washington. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan terlibat dalam perundingan dengan AS.
Larijani, melalui perusahaan media sosial AS di X, menanggapi laporan yang menunjukkan bahwa Iran telah membuat inisiatif baru untuk bernegosiasi dengan AS. Ia merujuk pada laporan Al Jazeera, mengutip The Wall Street Journal, yang mengklaim Larijani berupaya melanjutkan negosiasi dengan Washington melalui Oman.
“Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS,” Larijani menegaskan.
Dalam postingan terpisah, Larijani juga menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang Iran. Ia mengkritik Trump karena memimpin kawasan ini ke dalam kekacauan dengan “ilusi kosong,”
“Dia sekarang khawatir akan kehilangan lebih banyak tentara Amerika. Dengan khayalannya sendiri, dia telah mengubah slogan 'Amerika Pertama' menjadi 'Israel Pertama' dan mengorbankan pasukan Amerika demi nafsu Israel akan kekuasaan."
Dia lebih lanjut menuduh Trump “membuat tentara Amerika dan keluarga mereka menanggung akibatnya dengan “kebohongan baru.”
Kampanye militer gabungan AS-Israel yang diluncurkan pada hari Sabtu telah menewaskan beberapa pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan negara-negara Teluk. Tiga anggota militer AS tewas dan lima lainnya luka parah.
Ketika ditanya apakah Iran akan mencoba hubungan diplomatik, juru bicara Kementerian Luar Negeri mengatakan kepada Aljazirah bahwa Iran telah mencoba hubungan diplomatik dua kali: pertama dengan perundingan pada tahun 2025 yang terganggu oleh serangan AS-Israel, dan sekarang, negara tersebut kembali diserang ketika negara tersebut sedang menunggu dua putaran perundingan baru dengan Amerika dan IAEA.