News Komoditi & Global ( Rabu, 17 Juni 2026 )

News  Komoditi  &  Global

                                     (  Rabu,   17  Juni  2026  )

 

Harga Emas Global Melonjak, Pasar Pangkas Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

 

Harga emas dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (16/6/2026) seiring meredanya kekhawatiran inflasi setelah muncul optimisme atas kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sentimen tersebut turut mendorong penurunan harga minyak dan mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.338,86 per ons troi pada akhir perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup menguat tipis 0,1% ke level US$ 4.354,40 per ons troi. Baca Juga: Harga Emas Melemah, Tertekan Dolar AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Penguatan emas didorong oleh perkembangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan sementara dengan Iran yang memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi strategis yang sempat terganggu akibat konflik. Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan, prospek tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang menopang harga emas dalam dua hari terakhir. “Penurunan suku bunga jangka pendek dan harga energi membuat kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga tahun ini menjadi lebih kecil,” ujarnya.  Meredanya ketegangan di Timur Tengah langsung menekan harga minyak. Kontrak Brent bahkan turun di bawah US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Maret, setelah anjlok hampir 5% sehari sebelumnya. Penurunan harga energi membuat pasar mulai mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Powell: Inflasi Masih Tinggi tapi Terkendali Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember kini turun menjadi sekitar 60%, dari sekitar 70% pada pekan lalu. Sebelumnya, lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Israel dan Iran sempat membebani pasar emas karena memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia tersebut cenderung kurang menarik ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil. Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan Rabu waktu setempat. Pertemuan tersebut menjadi sorotan karena merupakan keputusan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Baca Juga: Ketidakpastian Tinggi, Institusi Keuangan Global Sulit Prediksi Arah Bunga The Fed Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,3% menjadi US$70,22 per ons troi. Platinum melesat 2,8% ke US$1.816,65 per ons troi, sementara paladium menguat 0,7% menjadi US$1.358,06 per ons troi.

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Anjlok, Pasar Optimistis Selat Hormuz Segera Dibuka

 

Harga minyak dunia kembali tertekan tajam dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah serta membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Pada perdagangan Selasa (16/6/2026), minyak mentah Brent ditutup turun US$ 4,21 atau 5,1% ke level US$ 78,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot US$ 4,70 atau 5,8% menjadi US$76,05 per barel. Penurunan ini memperpanjang pelemahan sehari sebelumnya dan membawa harga ke posisi terendah sejak awal Maret. Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Senin (25/5) Pagi, Dipicu Kabar Kesepakatan AS-Iran Makin Dekat Sentimen pasar membaik setelah rincian kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai terungkap. Kesepakatan tersebut disebut akan memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April selama 60 hari serta membuka kembali Selat Hormuz yang selama konflik menjadi titik hambatan utama distribusi energi global. Selain itu, seorang pejabat AS menyebut kesepakatan tersebut juga memungkinkan Iran kembali menjual minyak setelah penandatanganan dilakukan. Prospek bertambahnya pasokan dari Iran membuat pelaku pasar memperkirakan risiko gangguan suplai global akan berkurang secara signifikan. “Pasar minyak turun cepat karena asumsi Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger. Baca Juga: Harga Minyak Anjlok pada Senin (15/6) Pagi, Dipicu Kabar Kesepakatan Damai AS-Iran Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, setiap perkembangan yang mengarah pada normalisasi jalur tersebut langsung memengaruhi ekspektasi pasokan dan harga energi global. Meski demikian, sejumlah analis menilai optimisme pasar masih terlalu dini. Mereka mengingatkan pemulihan aktivitas pelayaran dan ekspor energi kemungkinan membutuhkan waktu beberapa pekan. Selain itu, sejumlah isu penting seperti kompensasi finansial, sanksi ekonomi, dan penyelesaian program nuklir Iran masih menjadi tantangan dalam proses negosiasi. Meredanya kekhawatiran geopolitik juga mendorong sejumlah bank investasi global, termasuk Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi, memangkas proyeksi harga minyak mereka. Dari sisi fundamental, harga minyak turut tertekan oleh kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China. Aktivitas pengolahan minyak mentah negara tersebut pada Mei tercatat turun 9,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi yang terendah dalam hampir empat tahun terakhir. Sentimen negatif juga datang dari prospek suku bunga global yang tetap tinggi. Di Amerika Serikat, mayoritas pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga sepanjang 2026. Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pengiriman Via Selat Hormuz Tersendat Meski Ada Negosiasi AS-Iran Sementara itu, Bank of Japan baru saja menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Suku bunga yang tinggi berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan konsumsi energi, sehingga mengurangi permintaan minyak dunia. Di sisi lain, pasar juga mencermati peluang tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Jika konflik tersebut mereda dan sebagian sanksi terhadap Rusia dicabut, pasokan minyak dari salah satu produsen terbesar dunia itu berpotensi meningkat dan menambah tekanan terhadap harga. Sementara itu, pelaku pasar menunggu data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Analis memperkirakan stok minyak AS turun sekitar 4,6 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni. Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Melonjak 6%: Selat Hormuz Kembali Membara Jika terealisasi, penurunan tersebut akan menjadi pengurangan persediaan selama delapan pekan berturut-turut, yang dapat memberikan sedikit penopang bagi harga minyak dalam jangka pendek.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup Beragam, Dow Jones Cetak Rekor Baru Saat Saham Teknologi Tertekan

 

 Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Indeks Dow Jones kembali mencetak rekor penutupan tertinggi untuk dua hari beruntun, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi akibat tekanan pada saham-saham teknologi setelah reli tajam sehari sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 328,64 poin atau 0,64% ke level 51.999,67. Sebaliknya, S&P 500 turun 0,57% menjadi 7.511,35 dan Nasdaq Composite melemah 1,15% ke posisi 26.376,34. Pergerakan tersebut mencerminkan aksi ambil untung investor pada sektor teknologi setelah pasar melonjak kuat pada awal pekan. Pada Senin (15/6), S&P 500 menguat 1,65% dan Nasdaq melesat lebih dari 3% seiring optimisme atas prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Baca Juga: Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham Teknologi dan Data Tenaga Kerja AS Jadi Pendorong Kepala Strategi Investasi Janney Montgomery Scott, Mark Luschini, menilai investor memilih menahan diri setelah kenaikan besar yang terjadi sebelumnya sekaligus menunggu hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). "Pasar mengalami kenaikan besar kemarin. Saat ini investor sedang mencerna kenaikan tersebut dan biasanya menjelang rapat The Fed sentimen menjadi lebih berhati-hati," ujar Luschini. Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi. Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, tujuh sektor berhasil ditutup di zona hijau. Sektor keuangan memimpin kenaikan dengan penguatan 1,5%, disusul sektor industri yang naik 0,7%. Sebaliknya, sektor teknologi menjadi pemberat utama dengan penurunan 2,3%. Saham-saham semikonduktor juga terkoreksi tajam setelah mencatat reli kuat dalam tiga sesi sebelumnya. Indeks Philadelphia Semiconductor anjlok 5,7%. Di sisi lain, penurunan harga minyak turut menopang sentimen pasar. Harga minyak mentah AS ditutup turun 5,8% setelah muncul rincian kesepakatan sementara AS-Iran yang diperkirakan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya terganggu akibat konflik. Baca Juga: Wall Street Reli: Indeks Dow Capai Rekor Tertinggi, S&P 500 Melaju 8 Minggu Beruntun Turunnya harga energi meredakan kekhawatiran inflasi yang sempat meningkat sejak pecahnya konflik pada Februari lalu. Meski demikian, fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga The Fed dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi, pasar tenaga kerja, serta prospek ekonomi AS. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, investor tetap mencermati sinyal arah kebijakan berikutnya. Berdasarkan FedWatch CME Group, pasar masih memperhitungkan peluang sekitar 43% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Di tengah tekanan sektor teknologi, saham SpaceX justru menjadi sorotan. Saham perusahaan antariksa dan kecerdasan buatan tersebut melonjak 4,8% ke US$201,80 setelah sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 225,64. Kenaikan itu membuat kapitalisasi pasar SpaceX melampaui Amazon dan menjadikannya salah satu perusahaan paling bernilai di Amerika Serikat. Pada perdagangan individual, saham Olin merosot 5,9% setelah mengumumkan akuisisi Huntsman senilai US$2,43 miliar melalui skema pertukaran saham. Sementara itu, saham Huntsman anjlok 17% karena nilai penawaran dinilai berada di bawah harga pasar sebelumnya. Baca Juga: Wall Street Menghijau Ditopang Harapan Redanya Perang Iran, Saham Teknologi Memimpin Adapun saham Yum Brands menguat 1,9% setelah perusahaan mengumumkan rencana penjualan jaringan Pizza Hut senilai US$2,7 miliar sebagai bagian dari strategi menghadapi persaingan yang semakin ketat dan perlambatan belanja konsumen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Media Israel: Tel Aviv Frustrasi Melihat Kenyataan AS Tunduk pada Tuntutan Iran

 

Media-media Israel melaporkan kefrustrasian yang meningkat di kalangan kepemimpinan politik di Tel Aviv menyusul pengumuman nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri perang. Beberapa pejabat seperti dilansir Al Mayadeen, Selasa (16/6/2026), mengungkap krisis dengan Washington dan menudur AS tunduk pada tuntutan-tuntutan Iran.

Menurut laporan i24NEWS, kekhawatiran yang memalukan bagi Israel dalah dimasukkannya lebanon dalam MoU. Seorang pejabat Israel mengatakan masalah terkait Lebanon memicu "ketegangan sangat tinggi" antara Tel Aviv dan Washington di mana ketidaksetujuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump terungkap ke publik.

Laporan i24NEWS menyebutkan, saat para elite politik di Israel menegaskan bahwa Israel tak akan menarik diri dari selatan Lebanon pada tahap sekrang, pertanyaan-pertanyaan signifikan tetap hadir terkait kebebasan agresi militer Israel pada masa depan. Seorang sumber mengekspresikan harapan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran akan runtuh, "Seperti perjanjian Obama, ini bukan ujung dari jalan. Iran tak akan mematuhinya, dan operasi di masa depan untuk mengeliminasi proyek nuklir dan menyerang rudal-rudal mereka hanyalah soal waktu."

Sementara, koran Yedioth Ahronoth secara tajam mengkritik bagaimana Washington melakoni negosiasi dengan Teheran. Koran itu berargumen, saat koordinasi dengan AS tetap penting, meningkatnya ketergantungan Israel kepada Washington sebagai sesuatu yang "berbahaya dan tidak bertanggung jawab".

Yedioth Ahronoth, melaporkan bahwa menimbang apa yang digambarkan sebagai manajemen negosiasi yang ceroboh oleh pemerintahan AS. Israel telah kembali kepada sebuah realitas kebebasan aksi agresif lebih dibatasi dan kapabilitasnya telah dilemahkan, terutama karena memburuknya hubungan antara Trump dan Netanyahu.

Pada Ahad (14/6/2026), Yedioth Ahronoth mengutip seorang pejabat senior Israel uga menggambarkan kesepakatan antara AS dan Iran merusak kepentingan Israel dan bukti bahwa pengaruh Israel terhadap Washington dalam pengambilan keputusan telah sirna. Menurut pejabat itu, kesepakatan antara AS dan Israel "bukan suatu kesepakatan yang baik" dan mengingatkan implikasi strategisnya terhadap Israel.

"Ini bukan sebuah kesepakatan yang baik. Tidak ada yang puas dengan itu. Semua paham bahwa kesepakatan ini tidak baik untuk kami dan mengganggu kepentingan Israel," ujar pejabat senior Israel itu.

"Yang mengkhawatirkan adalah Israel tidak bisa mempengaruhi, dan suaranya tidak didengar," tambahnya.

Para pejabat senior Israel juga dikabarkan frustrasi terhadap pendekatan Presiden AS Donald Trump dalam proses negosiasi dengan Iran, sambil mengeklaim bahwa Israel telah dipinggirkan dari perkembangan utama negosiasi. "Trump menipu kami, dan kami menelan konsekuensinya," ujat pejabat itu.

"Kami tidak lagi menjadi bagian dari proses dan tidak secara efektif mampu mempengaruhi mereka."

Pejabat senior Israel itu mengungkapkan bahwa mereka 'syok' atas laporan yang menyebut AS dan Iran segera menandatangani nota kesepahaman mengakhiri perang. Dia menilai, Iran akan berada dalam posisi lebih kuat usai kesepakatan itu diteken.

"Mereka menyiram Iran dengan uang, dan mereka mendapatkan apa yang mereka minta. Mereka akan membangun kekuatan rudal, dan akan berinvestasi dalam jumlah besar di bidang intersep rudal."

Media Iran pada Senin (15/6/2026), menerbitkan rincian draf nota kesepahaman berisi 14 poin antara Iran dan AS yang menjabarkan usulan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan bergerak menuju kesepakatan akhir. Kantor berita semi-resmi Mehr mengatakan draf tersebut menyerukan penghentian perang segera dan permanen di semua front, termasuk Lebanon, pencabutan blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan periode negosiasi selama 60 hari yang mencakup masalah nuklir serta pencabutan sanksi.

Draf itu muncul setelah Iran mengatakan nota kesepahaman telah diselesaikan dan akan ditandatangani secara resmi pada Jumat (19/6/2026) di Jenewa, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran telah selesai dan mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan "pencabutan segera" blokade Angkatan Laut AS.

Trump pada Senin, mengatakan pihaknya telah menandatangani kesepakatan awal soal perdamaian dengan Iran. Ia pun berharap Selat Hormuz akan kembali dibuka "sepenuhnya" untuk pelayaran komersial mulai Jumat (19/6/2026).

"Saya kira banyak hal luar biasa yang akan terjadi di kawasan Timur Tengah; yang paling penting adalah harga minyak turun signifikan dan pasar saham melesat naik seperti roket hari ini," kata Trump saat duduk bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron saat pertemuan bilateral mereka sebelum Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok Tujuh (KTT G7) dimulai di Evian-les-Bains, Prancis, Senin (15/6/2026).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dolar AS Stabil di Titik Terendah 10 Hari, Investor Wait and See Damai AS-Iran

 

Nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak stabil di dekat posisi terendah 10 hari pada perdagangan awal pekan. Ini seiring meningkatnya selera risiko investor setelah muncul kabar kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena detail dan keberlanjutan kesepakatan tersebut belum sepenuhnya jelas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin menyebut bahwa kesepakatan awal untuk mengakhiri perang di Timur Tengah telah ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Iran. Namun, sejumlah keraguan masih membayangi pasar, terutama terkait implementasi dan stabilitas kesepakatan, termasuk pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang dapat memakan waktu berminggu-minggu untuk kembali normal. Baca Juga: Tata Motors Pasang Target Pangsa Pasar Mencapai 20%, Siap Dominasi India! Di tengah perkembangan geopolitik tersebut, perhatian investor juga tertuju pada rangkaian keputusan bank sentral global yang berlangsung pekan ini. Salah satunya adalah keputusan Bank of Japan yang menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun, sesuai ekspektasi pasar, sebagai upaya meredam tekanan inflasi yang masih muncul akibat ketidakpastian global. Meski kenaikan suku bunga telah diperkirakan sebelumnya, suara dalam dewan kebijakan yang berakhir dengan voting 7-1 menjadi sorotan pasar karena mencerminkan masih adanya perbedaan pandangan mengenai waktu pengetatan berikutnya. Wakil Gubernur Bank of Japan Shinichi Uchida menegaskan bahwa bank sentral akan terus memantau perkembangan ekonomi, inflasi, dan risiko geopolitik, khususnya di Timur Tengah. “Kami akan melihat perkembangan ekonomi, harga, dan kondisi keuangan, terutama terkait situasi Timur Tengah. Kami juga akan memastikan inflasi bergerak sesuai proyeksi dan tidak tertinggal dari kurva,” ujarnya. Komentar tersebut dinilai sejumlah analis cenderung hawkish, menandakan Bank of Japan masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan apabila inflasi terus mendekati target 2%. Di pasar valuta asing, yen Jepang bergerak stabil di kisaran 160,26 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku pasar karena memicu kekhawatiran intervensi otoritas Jepang untuk menahan pelemahan mata uang. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat stabil di level 99,62, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan moneter global. Euro naik tipis ke 1,16 dolar AS, sementara poundsterling bertahan di 1,3418 dolar AS. Di kawasan lain, Reserve Bank of Australia memutuskan untuk menahan suku bunga setelah tiga kali kenaikan berturut-turut, meski inflasi di negara tersebut masih berada pada level tinggi. Dolar Australia melemah tipis 0,1% ke level 0,706 dolar AS. Dalam waktu dekat, pasar juga menantikan keputusan suku bunga dari Bank of England dan Federal Reserve, yang diperkirakan akan kembali menjadi penentu arah sentimen global. Baca Juga: Kapitalisasi Pasar Saham SpaceX Berpotensi Melesat Melewati Amazon.com Meski kabar kesepakatan damai Iran–AS sempat mendorong optimisme pasar, sejumlah analis menilai respons pasar masih terbatas karena ketidakpastian implementasi masih tinggi. Mereka juga memperingatkan bahwa normalisasi kembali jalur perdagangan, khususnya di Selat Hormuz, akan menjadi kunci stabilitas harga energi dan inflasi global ke depan.
Ekonomi China Terancam: Produksi Melonjak, Konsumsi Malah Anjlok!

 

 Permintaan dan pasokan di China bergerak tidak seimbang. Data terbaru menunjukkan, produksi meningkat, sementara penjualan ritel malah merosot. Reuters memberitakan, mengutip data National Bureau of Statistics (NBS) China yang dipublikasikan Selasa (16/6/2026), penjualan ritel turun 0,6% di Mei. Data penjualan ritel ini merupakan salah satu indikator utama konsumsi. Sekadar membandingkan, di April, penjualan ritel China masih naik 0,2%. Penurunan tersebut merupakan penurunan pertama sejak Desember 2022. Realisasi data Mei tersebut juga di bawah konsensus proyeksi ekonom, yang memprediksi penjualan ritel stagnan. Baca Juga: Bursa Asia Menguat Terbatas, Fokus Bergeser ke Keputusan Bank Sentral Jepang Bahkan libur Hari Buruh selama lima hari gagal mengangkat minat belanja konsumen. Dampak kebijakan skema tukar tambah barang konsumsi pemerintah juga mulai memudar. Basis yang tinggi dari Mei tahun lalu juga berkontribusi pada penurunan tersebut. "Data penjualan ritel yang lemah memberi tekanan pada pemerintah untuk mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan guna menstabilkan konsumsi. Saya masih memperkirakan penyesuaian kebijakan akan dilakukan pada Juli setelah data PDB kuartal kedua dirilis," kata Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, seperti dikutip Reuters, Selasa (16/6/2026). Sebaliknya, NBS mengumumkan produksi industri naik 4,5% di Mei dibandingkan tahun sebelumnya, meningkat dari pertumbuhan 4,1% pada April. Angka tersebut melampaui konsensus proyeksi ekonom yang memprediksi kenaikan 4,3%. Baca Juga: Bank Sentral Jepang BOJ Bersiap Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 31 Tahun Kenaikan produksi tersebut didorong lonjakan investasi akal imitasi (AI) global dan permintaan teknologi terkait AI. Kebanyakan hasil produksi disalurkan ke pasar ekspor. Tetapi peningkatan ekspor sebesar 19,4% belum berdampak pada konsumsi domestik. Sejumlah sektor bisnis masih belum menunjukkan prospek positif. Salah satunya di sektor otomotif. Penurunan penjualan mobil domestik berlanjut hingga bulan kedelapan berturut-turut pada Mei. Tekanan kemungkinan akan berlanjut hingga akhir tahun. “Beberapa perbedaan menunjukkan karakter baru perekonomian China. Ad perbedaan antara permintaan domestik dan eksternal, perbedaan antara AI dan industri tradisional, dan perbedaan antara ritel barang dan konsumsi jasa,” kata Xu Tianchen, Ekonom Senior Economist Intelligence Unit. Baca Juga: IMF: Ekonomi Global Tetap Tangguh Meski Diguncang Perang Timur Tengah Xu memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua akan melambat menjadi 4,5% dari 5% pada kuartal pertama. “Untuk tahun penuh 2026, mencapai target pertumbuhan 4,5-5% tidak akan sulit, tetapi permintaan domestik yang lemah masih memerlukan intervensi kebijakan pada paruh kedua,” tutur dia. Data investasi juga jauh lebih lemah dari yang diperkirakan. Investasi aset tetap turun 4,1% dalam lima bulan pertama tahun 2026, setelah penurunan 1,6% pada Januari-April. Konsensus proyeksi analis memperkirakan investasi aset tetap cuma turun sebesar 2%. Juru bicara NBS Fu Linghui mengatakan, penurunan tersebut sebagian disebabkan oleh suhu tinggi dan hujan lebat di beberapa wilayah serta transisi dari pendorong pertumbuhan lama ke pendorong pertumbuhan baru. Pelayaran Global Masih Waspada Lewati Selat Hormuz Meski AS dan Iran Sepakat Berdamai Fu menuturkan, China masih memiliki ruang yang cukup untuk investasi di masa depan, dengan urbanisasi baru, revitalisasi pedesaan, pengembangan kekuatan produktif berkualitas baru dan peningkatan layanan publik, yang semuanya membutuhkan dukungan. Investasi properti melanjutkan penurunannya dalam lima bulan pertama, turun 16,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu setelah turun 13,7% pada Januari-April. Penjualan properti dan konstruksi baru juga turun lebih tajam. Data pinjaman rumah tangga yang lemah yang dirilis minggu lalu menunjukkan bahwa masyarakat tetap waspada untuk meminjam uang untuk membeli rumah di tengah pertumbuhan pendapatan yang lambat dan ketidakamanan pekerjaan. Baca Juga: Saham SpaceX Terbang Lagi, Valuasi Tembus US$ 2 Triliun Pasca IPO Pasar tenaga kerja masih berada di bawah tekanan dengan sekitar 12,7 juta lulusan meninggalkan sekolah selama musim panas. Sementara kekhawatiran akan penggantian tenaga kerja oleh AI menyebabkan kecemasan pekerja. Namun, angka pengangguran di Mei, berdasarkan survei nasional, turun menjadi 5,1% dari 5,2% pada April.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pesawat Pengebom AS Jatuh Meledak, Kolonel Amerika: Ini Tragis, tak Mungkin Ada yang Selamat

 

Delapan awak pesawat tewas dalam kecelakaan pesawat pengebom B-52 tak lama setelah lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards, timur laut Los Angeles, pada Senin pagi.

Seperti dilansir CNN, ini adalah kecelakaan paling mematikan yang melibatkan pesawat pengebom B-52 sejak tahun 1982. Saat itu, sembilan awak pesawat tewas dalam pelatihan uji coba di Pangkalan Angkatan Udara Mather dekat Sacramento.

Pejabat AS mengatakan, pesawat B-52 Stratofortress tengah dalam misi uji coba rutin dan lepas landas pukul 11:20 pagi waktu setempat di pangkalan udara terpencil tersebut.

“Ini tragis dan tidak mungkin selamat,” kata Kolonel James Hayes dalam konferensi pers.

Usai terjatuh, pesawat meninggalkan kepulan asap hitam yang menjulang tinggi. Tim penyelamat langsung ke lokasi untuk melihat kemungkinan apakah ada korban selamat. Nahasnya, awak pesawat dilaporkan tewas.

"Tim sedang berupaya memberi tahu keluarga tentang kematian tersebut dalam beberapa jam ke depan," kata Kepala Sersan Mayor Joshua T. Skarloken.

Awak pesawat terdiri dari campuran pejabat militer, pegawai sipil pemerintah, dan kontraktor pemerintah.

Boeing, produsen pesawat tersebut, mengatakan dua karyawannya berada di penerbangan itu. “Kami sedang berhubungan dengan keluarga mereka dan menawarkan dukungan,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan.

Sekretaris Angkatan Udara Troy E. Meink dan Ketua DPR Mike Johnson sama-sama menyampaikan belasungkawa mereka di media sosial atas korban jiwa.

Gubernur California Gavin Newsom juga menyampaikan simpati kepada “seluruh komunitas Pangkalan Angkatan Udara Edwards dan berterima kasih kepada para petugas tanggap darurat.

"Pesawat pembom B-52 tersebut sedang melakukan uji coba untuk mendukung program modernisasi radar," kata para pejabat Angkatan Udara.

Landasan pacu pangkalan tersebut meninggalkan bekas hangus yang besar di landasan berpasir, serta beberapa sisa asap. Sulit untuk melihat bagian-bagian puing yang sudah hangus terbakar.

Para pejabat militer akan mulai menyelidiki apa yang terjadi. "Tetapi detail pastinya tidak akan tersedia untuk publik selama sekitar enam bulan," kata Hayes.

Pangkalan yang dikenal untuk uji penerbangan

Pangkalan Angkatan Udara Edwards secara historis digunakan sebagai lokasi pengujian, tidak hanya untuk pesawat Angkatan Udara, tetapi juga untuk pesawat lain, helikopter, drone — dan bahkan pesawat ulang-alik — karena landasan pacunya yang panjang.

“Jika itu terbang, itu diuji di Pangkalan Angkatan Udara Edwards,” kata Richard Kolko, seorang komandan Angkatan Laut AS yang sudah pensiun dan pilot P-3.

“Pangkalan ini memiliki beberapa pilot uji dan insinyur terbaik di luar sana.”

Uji penerbangan biasanya dilakukan dengan beberapa pilot dan awak pesawat yang paling berpengalaman.  "Dan tergantung pada apa yang sedang diuji, insinyur sipil atau personel manufaktur juga," kata Kolko.

Pangkalan tersebut juga memiliki tim tanggap darurat yang kuat untuk menangani setiap kecelakaan.

Sekarang, para pejabat akan ditugaskan untuk mengamankan lokasi kecelakaan, mengumpulkan sisa-sisa dan bukti yang mungkin ada. Mereka akan menarik catatan perawatan, dan meninjau semuanya untuk menentukan apa yang dapat diketahui tentang kecelakaan tersebut.

Pesawat B-52 adalah andalan dalam operasi militer.

Pesawat B-52, pesawat yang menjadi pusat kecelakaan pada Senin, adalah salah satu pesawat tertua Angkatan Udara. Pesawat pertama kali beroperasi pada tahun 1955.

Pesawat pengebom berat jarak jauh ini, yang biasanya membawa awak lima orang, dapat membawa hingga 70 ribu pon bom dan amunisi lainnya.

Versi yang saat ini masih beroperasi, B-52H, masih memainkan peran utama dalam persenjataan Angkatan Udara, yang mencakup 76 pesawat sebelum kecelakaan tersebut.

Pesawat ini digunakan dalam misi pengeboman selama konflik antara AS dan Iran saat ini. B-52H juga dapat membawa bom nuklir dan rudal jelajah yang dilengkapi senjata nuklir.

Sebelum kecelakaan hari Senin, kecelakaan fatal terakhir yang melibatkan pesawat ini terjadi pada tahun 2008, ketika enam personel Angkatan Udara tewas setelah B-52 mereka jatuh ke Samudra Pasifik di lepas pantai Guam saat bersiap untuk penerbangan parade.

Pesawat buatan Boeing ini telah berhenti diproduksi sejak tahun 1962, meskipun beberapa inisiatif perpanjangan usia pakai telah memodernisasi badan pesawat dan membuatnya tetap dapat terbang.

"Angkatan Udara baru-baru ini meluncurkan inisiatif peningkatan B-52 lainnya yang berpusat pada perancangan mesin baru dengan total perkiraan biaya sebesar $48,6 miliar," demikian menurut Defense News.

Karena pesawat tersebut sudah tidak diproduksi lagi, penggantinya harus diperoleh dari kerangka pesawat yang telah dibongkar dan disimpan di tempat yang disebut "Boneyard" di Pangkalan Angkatan Udara Davis-Monthan, Arizona

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran

 

 

Italia, Prancis, Jerman, dan Inggris mengatakan pada Senin pagi bahwa mereka siap mencabut sanksi terhadap Iran menyusul kesepakatan antara Teheran dan Washington. Ini akan menjadi kabar baik bagi Iran karena negara itu sudah mendapat banyak sanksi internasional. Pernyataan itu mengatakan, “Kami menyambut dengan hangat pengumuman nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.”

Ditambahkan, “Iran tidak boleh pernah memperoleh senjata nuklir. Kami siap bekerja sama dengan Amerika Serikat, Iran, dan IAEA untuk tujuan ini.” Keempat negara itu juga mengatakan mereka siap mencabut sanksi sebagai tanggapan atas langkah-langkah “jelas dan dapat diverifikasi” oleh Iran terkait program nuklirnya. Sebelumnya pada hari Senin, televisi pemerintah Iran secara resmi mengumumkan kesepakatan damai telah tercapai dengan Amerika Serikat. Televisi pemerintah Iran mengatakan Amerika Serikat telah menerima pengakhiran perang. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menepis laporan Washington akan membayar Teheran USD300 juta (Rp5 triliun) sebagai berita palsu. Kabar itu muncul seiring proses penandatanganan nota kesepahaman antara kedua negara. "Berita bahwa AS membayar Iran 300 juta dolar adalah berita palsu," katanya di Truth Social.

Trump sendiri tidak menyebutkan USD300 juta mana yang ia maksud. Ia mungkin salah bicara, karena Financial Times sebelumnya melaporkan kemungkinan pembentukan dana investasi USD300 miliar, yang dapat diakses Iran jika memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian dengan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mengkonfirmasi nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran telah ditandatangani. "Saya sangat senang mengatakan ... semua kesepakatan telah ditandatangani, dan Selat [Hormuz] sudah sebagian dibuka," Trump mengkonfirmasi selama konferensi pers bersama dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, dari Evian, Prancis. Pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengkonfirmasi finalisasi nota kesepahaman, yang akan ditandatangani secara fisik di Swiss pada 19 Juni. Penandatanganan digital dilakukan pada hari Minggu, kata Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya pada hari Senin. Trump, Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menandatangani nota kesepahaman secara digital, media melaporkan pada hari Senin, mengutip seorang pejabat AS. Rincian nota kesepahaman yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran akan dipublikasikan dalam dua hari ke depan, media melaporkan pada hari Senin, mengutip seorang pejabat senior AS. Vance lebih lanjut mengatakan Washington berharap merilis isi perjanjian tersebut pada pekan ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu

 

Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) J.D. Vance pada hari Senin mengatakan Iran bisa mengakses dana rekonstruksi sebesar USD300 miliar (lebih dari Rp5.312 triliun) berdasarkan kesepakatan damai dengan AS jika Teheran memenuhi kewajibannya yang diuraikan dalam kesepakatan tersebut. Dana itu akan berasal dari negara-negara Teluk. Dalam wawancara dengan Ed O’Keefe dari CBS News, Vance berkata, “Nah, Ed, itu adalah hal yang bisa mereka akses, didanai oleh Koalisi Pantai Teluk, selama mereka menghormati bagian kewajiban mereka.” AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Jadi Sasaran Kemarahan Warga Israel “Saya pikir salah satu hal yang akan Anda lihat, Ed—dan orang-orang harus skeptis terhadap hal ini—adalah bahwa kelompok garis keras dalam sistem Iran akan terlalu menekankan manfaat yang diperoleh Iran, sementara meremehkan semua hal yang harus mereka konsesikan, dan semua hal yang harus mereka berikan, untuk mendapatkan manfaat tersebut,” ujar Vance. Syarat-syarat kesepakatan damai belum dirilis, tetapi detail tentang memorandum tersebut akan dikeluarkan pada hari Selasa atau Rabu, menurut pejabat senior AS. Pemerintahan Presiden Donald Trump juga mengatakan akan menerbitkan teks lengkap kesepakatan tersebut pada hari Jumat, dengan menyoroti konsesi yang dibuat oleh mitra-mitranya di luar negeri. Vance mengatakan bahwa Iran setuju untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya, mengizinkan inspeksi rutin fasilitasnya, dan tidak mengejar pembuatan atau pembelian senjata nuklir. Sementara itu, Presiden Donald Trump ragu Iran akan mendapatkan dana rekonstruksi USD300 miliar. Sebaliknya, lanjut dia, Iran telah setuju untuk tidak akan pernah memperoleh senjata nuklir. "Iran telah setuju untuk tidak pernah memiliki senjata nuklir! Selain itu, cerita bahwa AS membayar Iran 300 juta dolar adalah berita palsu, yang disebarkan oleh kaum Demokrat," tulis Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya, Selasa (16/6/2026). Rincian yang tersedia mengenai nota kesepahaman (MoU) yang dicapai antara Washington dan Teheran menunjukkan bahwa hal itu mencakup kemungkinan pencairan dana beku Iran, keringanan sanksi, dan dana USD300 miliar untuk membantu membangun kembali Iran jika Teheran memenuhi kriteria tertentu. Mantan Presiden AS Barack Obama, yang mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran pada tahun 2015 yang kemudian dibatalkan oleh Presiden Trump, mengatakan bahwa dia ragu bahwa kesepakatan baru tersebut secara signifikan berbeda dari ketentuan sebelumnya yang disetujui Teheran. Senator Lindsey Graham menyampaikan kekhawatiran tentang kesepakatan tersebut. "Pandangan Iran tentang perjanjian tersebut tampaknya berbeda dari apa yang diklaim oleh tim negosiasi Amerika," katanya. Para pejabat AS mengatakan Iran setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz secara permanen tanpa biaya tol, sementara Teheran mengatakan perjanjian tersebut adalah untuk memungkinkan jalur bebas selama 60 hari ke depan selama periode negosiasi lain yang dipimpin oleh Vance.

 

 

 

 

 

Kesepakatan Damai AS dan Iran Simbol Kekalahan Fatal PM Netanyahu

 

Gideon Levy, seorang komentator politik Israel , mengatakan pengumuman kesepakatan antara AS dan Iran dipandang di Israel sebagai “kekalahan Israel dan kekalahan pribadi Netanyahu”. Kesepakatan Damai AS dan Iran Simbol Kekalahan Fatal PM Netanyahu, Ini 3 Alasannya 1. Iran Adalah Proyek Hidup Netanyahu Iran adalah “proyek hidup” Netanyahu, dan sekarang Israel telah “sepenuhnya dikeluarkan dari negosiasi” dan hanya dapat melakukan sabotase, kata Levy kepada Al Jazeera.

Sabotase tersebut termasuk apa yang disebutnya sebagai “serangan konyol dan kekanak-kanakan” yang dilancarkan Israel di pinggiran selatan Beirut pada hari Minggu. Tetapi sekarang, “sangat jelas bahwa Israel hanya kalah dalam permainan ini,” katanya. 2. Netanyahu Masih Memegang Lebanon Jadi Kunci Lainnya Levy menambahkan bahwa ujian komitmen Trump untuk mengendalikan Israel “masih akan datang” karena Netanyahu akan tetap bersemangat untuk menggagalkan gencatan senjata yang gagal mencapai prioritas utama Israel. “Ini sangat, sangat rapuh. Dan saya pikir salah satu tantangan terbesar dari kesepakatan dengan Iran adalah situasi di Lebanon,” katanya. “Karena Iran berhasil menciptakan keterkaitan total antara Lebanon dan perjanjian tersebut, dan sekarang, sungguh, saya tidak melihat bagaimana itu akan berhasil karena Israel masih berada di Lebanon, tidak berniat untuk menarik diri dari Lebanon dan, selama pasukan masih ada di sana, tidak akan ada ‘gencatan senjata total’ karena akan selalu ada perlawanan terhadap pendudukan Israel di Lebanon.” 3. Netanyahu Sulit Dikendalikan Presiden AS, berbicara dengan The New York Times setelah mengumumkan kesepakatan dengan Iran, mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena meningkatkan serangan terhadap Lebanon, yang hampir menggagalkan kesepakatan akhir. “Dia orang yang sangat sulit,” kata Trump tentang Netanyahu. “Dan sejujurnya, dia seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena telah melakukan ini. Karena jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan selama dua jam.” Ia juga mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan akhir mengenai program nuklir Teheran. Menurut NYT, Trump bersikeras bahwa serangan rudal dan bom terhadap Iran-lah yang membuat Teheran menyetujui kesepakatan tersebut. “Mereka tidak menginginkan serangan ketiga,” katanya. “Mereka peduli dengan kelangsungan hidup mereka.” “Intinya adalah serangan-serangan yang kita lakukan itu berdampak besar pada mereka. Dengan tercapainya kesepakatan ini, dampaknya sangat besar.”

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post