News Komoditi & Global ( Kamis, 28 Agustus 2025 )
News Komoditi & Global ( Kamis, 28 Agustus 2025 )
Harga Emas Global Menguat Jelang Rilis Data Inflasi AS
Harga emas naik tipis jelang rilis data inflasi AS, yang bisa mempengaruhi kebijakan suku bunga The Fed. Pasar menanti data PCE untuk petunjuk lebih lanjut.
Harga emas menguat tipis seiring dengan sikap investor yang menanti data inflasi AS untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga. Pelaku pasar juga masih mencermati isu independensi Federal Reserve (The Fed) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya mencopot seorang gubernur The Fed. Melansir Reuters pada Kamis (28/8/2025) harga emas di pasar spot naik 0,1% menjadi US$3.394,49 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka AS pengiriman Desember naik 0,5% ke level US$3.448,6. Data Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, dijadwalkan rilis pada Jumat (29/8/2025) dan diperkirakan menjadi acuan arah suku bunga. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan indeks harga PCE naik 2,6% pada Juli, sama seperti bulan sebelumnya. “Jika data PCE meleset dan menunjukkan inflasi lebih kuat, itu bisa memunculkan keraguan apakah The Fed tetap akan memangkas suku bunga pada September,” ujar analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff. Meski demikian, dia menilai perlu ada angka inflasi yang sangat tinggi untuk menggagalkan rencana pemangkasan suku bunga tersebut.
Vietnam Cabut Monopoli Emas, Bank dan Perusahaan Bisa Masuk Pasar Geliat United Tractors (UNTR) Pacu Diversifikasi ke Bisnis Emas hingga Nikel Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, biasanya menguat dalam lingkungan suku bunga rendah dan kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian. Saat ini pasar memperkirakan lebih dari 87% kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat kebijakan bulan depan, berdasarkan CME FedWatch Tool. Awal pekan ini, Trump menyatakan dirinya mencopot Gubernur The Fed Lisa Cook dari jajaran dewan direksi bank sentral. Namun, pengacara Cook menegaskan akan mengajukan gugatan hukum untuk menggagalkan langkah Trump, yang berpotensi memicu pertarungan hukum berkepanjangan. Harga emas sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua pekan pada Selasa (26/8/2025), setelah kabar Trump berupaya memecat Cook. “Tindakan Trump yang mengancam memecat anggota dewan The Fed sangat negatif bagi perekonomian, suku bunga, dan dolar AS. Itu sebabnya harga emas masih bergerak dalam kisaran sempit karena pelaku pasar menimbang dampaknya bagi ekonomi,” kata managing partner CPM Group, Jeffrey Christian. Di pasar logam lainnya, harga perak spot turun 0,1% menjadi US$38,57 per ounce, platinum melemah 0,2% ke US$1.345,66, dan paladium terkoreksi 0,3% ke US$1.091,01.
Harga Minyak Duia Melemah Seiring Investor Menimbang Prospek Permintaan Bahan Bakar Amerika Serikat
Harga minyak melemah pada perdagangan Kamis (28/8/2025), seiring investor menimbang prospek permintaan bahan bakar Amerika Serikat (AS) menjelang berakhirnya musim mengemudi musim panas.
Sekaligus mencermati potensi pergeseran pasokan akibat tekanan AS terhadap India terkait pembelian minyak Rusia.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka Brent terkoreksi 0,46% atau 31 sen menjadi US$67,74 per barel pada pukul 00.27 GMT.
Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,56% atau 36 sen menjadi US$63,79 per barel, setelah sempat menguat lebih dari 1% pada sesi sebelumnya.
Data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS mencatat persediaan minyak mentah turun 2,4 juta barel pada pekan yang berakhir 22 Agustus, lebih besar dari ekspektasi penurunan 1,9 juta barel dalam survei Reuters.
Penurunan ini mencerminkan permintaan yang kuat menjelang libur panjang Hari Buruh (Labor Day) akhir pekan ini.
Namun, analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai momentum tersebut bisa bersifat musiman.
“Hari Buruh biasanya menandai berakhirnya musim mengemudi musim panas dan awal periode permintaan yang lebih rendah di AS,” ujarnya.
Secara teknikal, harga WTI menghadapi resistensi di kisaran US$64–65 per barel, dengan potensi uji support di level US$60.
Dari sisi geopolitik, pelaku pasar menunggu langkah India merespons tekanan Washington. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (27/8) menggandakan tarif impor dari India hingga 50%, menyasar pembelian minyak mentah Rusia oleh New Delhi.
Meski demikian, menurut Sycamore, India kemungkinan tetap melanjutkan impor minyak Rusia dalam jangka pendek sehingga dampaknya terhadap pasokan global relatif terbatas.
Faktor lain yang menopang harga minyak minggu ini adalah eskalasi serangan Rusia dan Ukraina terhadap infrastruktur energi masing-masing.
Rusia meluncurkan serangan drone besar-besaran ke fasilitas energi dan transportasi gas di enam wilayah Ukraina, yang menyebabkan lebih dari 100.000 warga mengalami pemadaman listrik.
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan AS juga turut mendukung harga minyak.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyatakan, suku bunga kemungkinan akan dipangkas dalam waktu dekat, meski keputusan final akan menunggu rilis data ekonomi jelang rapat FOMC pada 16–17 September.
Wall Street Reli: S&P 500 Catat Rekor Penutupan Tertinggi Lagi
Wall Street ditutup menguat dengan indeks S&P 500 catat rekor penutupan tertinggi menjelang hasil kinerja kuartalan dari Nvidia, acara yang paling banyak diamati di Wall Street pada minggu ini, yang akan menguji reli yang telah mendorong valuasi perusahaan terkait AI ke level yang dianggap terlalu tinggi oleh beberapa investor.
Rabu (27/8/2025), indeks S&P 500 ditutup menguat 0,24% ke level 6.481,40 poin, indeks Nasdaq Composite naik 0,21% menjadi 21.590,14 dan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,32% menjadi 45.565,23.
Delapan dari 11 indeks sektoral pada S&P 500 menguat. Dipimpin oleh sektor energi yang naik 1,15%, diikuti oleh kenaikan 0,48% pada sektor teknologi informasi.
Saham Nvidia, perusahaan paling berharga di dunia dan pemasok terkemuka prosesor AI mutakhir, berfluktuasi antara naik dan turun sebelum ditutup turun 0,1% menjelang laporan kinerja yang akan dirilis setelah pasar tutup.
Dengan Nvidia menguasai sekitar 8% dari indeks S&P 500, hasil keuangannya memengaruhi banyak orang Amerika yang menggunakan dana investasi indeks untuk menabung masa pensiun.
"Nvidia akan menghasilkan keuntungan pendapatan yang sangat besar selama sembilan bulan ke depan, di atas basis pendapatan yang sudah sangat besar," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital.
"Investor harus mempersiapkan diri untuk dunia di mana Nvidia memiliki persentase dua digit dari S&P 500."
Saham-saham raksasa teknologi dan AI tampil beragam di sesi ini, dengan Microsoft naik hampir 1% dan Meta Platforms turun hampir 1%. Mereka, bersama dengan Alphabet dan Amazon, termasuk di antara pelanggan terbesar Nvidia.
Antusiasme terhadap perusahaan yang terkait dengan AI telah memicu kenaikan besar pada saham teknologi. S&P 500 kini diperdagangkan dengan rasio harga terhadap pendapatan yang lebih dari 22 kali lipat dari perkiraan, rasio harga terhadap pendapatan tertinggi dalam empat tahun, menurut LSEG.
Kekhawatiran mengenai laju reli AI meningkat di pekan lalu setelah CEO OpenAI, Sam Altman, memperingatkan potensi gelembung AI.
Opsi Nvidia menyiratkan fluktuasi sekitar 6% untuk saham di kedua arah setelah hasil tersebut.
Investor akan mencermati dampak perang dagang Tiongkok-AS terhadap bisnis Nvidia di Tiongkok awal tahun ini, beserta dampaknya terhadap proyeksi dari kesepakatan bagi hasil terbarunya dengan pemerintah AS.
Investor juga mencermati perkembangan terkait upaya Presiden AS Donald Trump untuk memecat Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, sebuah langkah yang kemungkinan akan menghadapi gugatan hukum.
Jika Trump berhasil, ia akan mencalonkan pengganti untuk dewan bank sentral yang diharapkan akan mendukung preferensi kebijakannya, menantang independensi bank sentral.
Investor memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September, menurut data yang dikumpulkan oleh LSEG, dengan sebagian besar perusahaan pialang besar juga condong ke arah tersebut.
Presiden Bank Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan kepada CNBC bahwa kemungkinan suku bunga dapat turun di beberapa titik, tetapi para pembuat kebijakan perlu melihat data ekonomi mendatang untuk memutuskan apakah penurunan suku bunga tepat pada pertemuan Fed bulan September.
Pada sesi kali ini, saham MongoDB melonjak 38% setelah produsen perangkat lunak tersebut menaikkan proyeksi laba tahunannya.
Di tempat berbeda, saham J.M. Smucker turun 4,4% setelah produsen selai kacang Jif tersebut gagal mencapai estimasi laba kuartal pertama.
Dipecat Trump, Gubernur The Fed Lisa Cook Ajukan Gugatan untuk Pertahankan Jabatan
Gubernur Federal Reserve Lisa Cook akan mengajukan gugatan untuk mencegah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memecatnya.
Seorang pengacara mengatakan bahwa pejabat bank sentral tersebut sedang berjuang dan memulai apa yang bisa menjadi pertarungan hukum yang berlarut-larut atas upaya Gedung Putih untuk menyetir kebijakan moneter AS.
"Upayanya untuk memecatnya, yang semata-mata berdasarkan surat rujukan, tidak memiliki dasar fakta atau hukum. Kami akan mengajukan gugatan yang menentang tindakan ilegal ini," kata Abbe Lowell seorang pengacara terkemuka Washington yang menjadi pengacara Cook, dalam sebuah pernyataan.
Pernyataan itu dikeluarkan sehari setelah Trump mengatakan akan memecat Cook, yang merupakan perempuan kulit hitam pertama yang menjabat di The Fed, atas tuduhan "perilaku curang dan berpotensi kriminal" terkait hipotek yang diambilnya pada tahun 2021.
Upaya Trump untuk memecatnya, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 111 tahun sejarah The Fed yang secara nominal independen, konsisten dengan gayanya yang melanggar norma dan mendorong para lawan untuk menantangnya di pengadilan.
Ini menyusul upaya-upaya lain yang sebagian besar berhasil untuk membawa elemen-elemen lain dari pemerintahan AS di bawah kendali langsungnya.
Sejak kembali menjabat pada bulan Januari, Trump telah mengawasi kepergian ratusan ribu pegawai negeri sipil, membubarkan beberapa lembaga, dan menahan miliaran dolar pengeluaran yang disahkan oleh Kongres.
"Kita membutuhkan orang-orang yang 100% transparan dan sepertinya dia tidak," kata Trump kepada wartawan dalam sebuah pertemuan.
Ia mengatakan, telah mempertimbangkan beberapa "orang baik" untuk menggantikan Cook, tetapi akan mematuhi keputusan pengadilan apa pun yang mempertahankan Cook.
Trump menekan, The Fed untuk menurunkan suku bunga selama masa jabatan pertamanya di Gedung Putih dan ia telah meningkatkan kampanye tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Presiden telah menuntut agar suku bunga dipotong beberapa poin persentase dan mengancam akan memecat Ketua The Fed Jerome Powell, meskipun ia baru-baru ini menarik kembali tuntutannya.
Kepergian Cook akan memungkinkan Trump untuk memilih mayoritas dari tujuh anggota dewan The Fed, termasuk dua petahana dan nominasi ekonom Gedung Putih Stephen Miran yang tertunda.
Trump mengatakan, ia mungkin mempertimbangkan Miran, yang ia nominasikan untuk kursi sementara di dewan The Fed yang akan berakhir pada Januari 2026, untuk menggantikan Cook jika kursi tersebut kosong.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa mantan Presiden Grup Bank Dunia, David Malpass, yang merupakan sekutu lama Trump, juga dibahas untuk posisi tersebut.
The Fed mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Cook dan anggota dewan lainnya menjabat selama 14 tahun dan tidak dapat dicopot dengan mudah dari jabatannya, untuk memastikan bahwa keputusan kebijakan moneter didasarkan pada data ekonomi dan "kepentingan jangka panjang rakyat Amerika."
Meskipun Trump pada hari Senin mengatakan pemecatan Cook "berlaku segera," pernyataan The Fed menunjukkan bahwa mereka melihat status Cook tidak berubah.
Bank sentral selanjutnya akan bertemu untuk menetapkan suku bunga pada 16-17 September, dan berdasarkan pernyataan The Fed, tampaknya perlu putusan pengadilan antara saat ini dan saat itu agar Cook dilarang berpartisipasi.
Upaya untuk memengaruhi kebijakan moneter AS telah mengguncang kepercayaan terhadap dolar dan utang negara AS serta memicu kekhawatiran akan gejolak keuangan global.
Wall Street ditutup sedikit menguat pada hari Selasa (26/8/2025), sementara dolar melemah.
Kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS menanjak pada hari Selasa karena upaya Trump untuk memecat Cook menimbulkan kekhawatiran tentang independensi bank sentral AS dan prospek komposisi pembuat kebijakan The Fed yang berpotensi lebih dovish.
Trump mengatakan dalam suratnya kepada Cook pada hari Senin bahwa ia memiliki "alasan yang cukup" untuk memecatnya karena Cook telah mencantumkan properti terpisah di Michigan dan Georgia sebagai tempat tinggal utama dalam aplikasi hipotek sebelum ia bergabung dengan The Fed pada tahun 2022.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump telah memecat beberapa perempuan kulit hitam yang memegang posisi senior di pemerintahan, termasuk kepala Perpustakaan Kongres dan ketua Dewan Hubungan Perburuhan Nasional.
Sambut Putin dan Modi, Ini Aksi Solidaritas di Era Donald Trump ala Xi Jinping
Presiden China Xi Jinping akan mengumpulkan lebih dari 20 pemimpin dunia dalam sebuah forum keamanan regional di Tiongkok minggu depan.
Ini merupakan aksi solidaritas yang kuat dengan negara-negara Selatan di era Donald Trump, sekaligus membantu Rusia yang saat ini tengah dikenakan sanksi internasional.
Melansir Reuters, selain Presiden Rusia Vladimir Putin, para pemimpin dari Asia Tengah, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara telah diundang ke KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), yang akan diselenggarakan di kota pelabuhan utara Tianjin dari 31 Agustus hingga 1 September.
KTT ini akan menampilkan kunjungan pertama Perdana Menteri India Narendra Modi ke Tiongkok dalam lebih dari tujuh tahun. Kedua negara tetangga tersebut saat ini memang tengah berupaya meredakan ketegangan yang dipicu oleh bentrokan mematikan di perbatasan pada tahun 2020.
Modi terakhir kali berbagi panggung yang sama dengan Xi dan Putin pada KTT BRICS tahun lalu di Kazan, Rusia, bahkan ketika para pemimpin Barat mengabaikan pemimpin Rusia tersebut di tengah perang di Ukraina.
Para pejabat kedutaan Rusia di New Delhi pekan lalu mengatakan Moskow berharap perundingan trilateral dengan Tiongkok dan India akan segera berlangsung.
"Xi ingin memanfaatkan KTT ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan seperti apa tatanan internasional pasca-Amerika dan bahwa semua upaya Gedung Putih sejak Januari untuk melawan Tiongkok, Iran, Rusia, dan sekarang India belum membuahkan hasil yang diharapkan," jelas Eric Olander, pemimpin redaksi The China-Global South Project, sebuah lembaga penelitian.
Dia lantas menambahkan, "Lihat saja betapa BRICS telah mengguncang (Presiden AS) Donald Trump, yang memang dirancang untuk dilakukan oleh kelompok-kelompok ini."
Sementara itu, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Tiongkok pekan lalu mengatakan, KTT tahun ini akan menjadi yang terbesar sejak SCO didirikan pada tahun 2001. Dia menyebut blok tersebut sebagai kekuatan penting dalam membangun jenis hubungan internasional baru.
Blok yang berfokus pada keamanan ini, yang awalnya merupakan kelompok yang terdiri dari enam negara Eurasia, telah berkembang menjadi 10 anggota tetap dan 16 negara dialog dan pengamat dalam beberapa tahun terakhir. Cakupannya juga sudah meluas dari keamanan dan kontraterorisme menjadi kerja sama ekonomi dan militer.
Para analis mengatakan, ekspansi menjadi agenda utama bagi banyak negara yang hadir. Akan tetapi mereka sepakat bahwa blok tersebut belum memberikan hasil kerja sama yang substansial selama bertahun-tahun. Selain itu, Tiongkok menghargai solidaritas negara-negara Selatan atas aksi Amerika Serikat di tengah ketidakpastian pembuatan kebijakan dan fluktuasi geopolitik.
"Visi pasti yang diwakili oleh SCO dan implementasi praktisnya masih agak kabur. SCO adalah platform yang memiliki daya pertemuan yang semakin meningkat, yang membantu dalam proyeksi naratif," kata Manoj Kewalramani, ketua Program Penelitian Indo-Pasifik di lembaga pemikir Takshashila Institution di Bangalore.
"Namun, efektivitas SCO dalam menangani masalah keamanan substansial masih sangat terbatas," tambahnya.
Perselisihan masih terjadi antara anggota inti, India dan Pakistan. Pertemuan para menteri pertahanan SCO pada bulan Juni tidak dapat menghasilkan pernyataan bersama setelah India mengajukan keberatan, dengan mengatakan bahwa India tidak menyebutkan serangan mematikan pada 22 April terhadap turis Hindu di Kashmir, India, yang menyebabkan pertempuran terburuk dalam beberapa dekade antara India dan Pakistan.
New Delhi juga menolak untuk bergabung dalam kecaman SCO atas serangan Israel terhadap Iran, salah satu negara anggota, pada awal Juni.
Namun, perkembangan terbaru antara India dan Tiongkok setelah lima tahun ketegangan perbatasan yang meningkat, serta tekanan tarif baru terhadap New Delhi dari pemerintahan Trump, mendorong ekspektasi akan pertemuan positif antara Xi dan Modi di sela-sela KTT.
"Kemungkinan besar (New Delhi) akan menelan harga diri mereka dan melupakan masalah SCO tahun ini demi mempertahankan momentum dalam detente dengan Tiongkok, yang merupakan prioritas utama Modi saat ini," kata Olander.
"Prioritas India di SCO meliputi perdagangan, konektivitas, penghormatan terhadap kedaulatan, dan integritas teritorial," kata pejabat Kementerian Luar Negeri India, Tanmaya Lal. Modi juga kemungkinan akan mengadakan pertemuan bilateral di sela-sela KTT.
Para analis memperkirakan India dan Tiongkok akan mengumumkan langkah-langkah perbatasan tambahan lebih lanjut seperti penarikan pasukan, pelonggaran pembatasan perdagangan dan visa, kerja sama di bidang-bidang baru termasuk iklim, serta keterlibatan pemerintah dan masyarakat yang lebih luas.
Meskipun tidak ada pengumuman kebijakan substantif yang diharapkan pada KTT tersebut, para ahli memperingatkan bahwa daya tarik blok tersebut bagi negara-negara Selatan Global tidak boleh diremehkan.
"KTT ini tentang optik, optik yang sangat kuat," tambah Olander.
Modi diperkirakan akan meninggalkan Tiongkok setelah KTT. Sementara, Putin akan tetap berada di sana untuk menghadiri parade militer Perang Dunia II di Beijing akhir pekan depan. Ini akan menjadi periode yang luar biasa lama bagi Putin berada di luar Rusia.
Kurva Imbal Hasil Obligasi AS Menanjak, Usai Trump Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook
Kurva imbal hasil (yield curve) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mengalami penajakan (steepening) pada Selasa (26/8).
Pergerakan ini dipicu oleh upaya Presiden AS Donald Trump untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook, yang memunculkan kekhawatiran mengenai independensi bank sentral.
Trump pada Senin (25/8) mengumumkan pemecatan Cook dengan tuduhan adanya pelanggaran terkait pinjaman hipotek.
Namun, Cook menegaskan Trump tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikannya dari jabatan, dan menyatakan dirinya tidak akan mengundurkan diri.
Kabar tersebut membuat imbal hasil tenor panjang naik. Sementara tenor pendek justru turun, sehingga kurva imbal hasil semakin menanjak.
“Ini tidak serta merta berarti biaya pinjaman di perekonomian riil akan turun,” ujar Zachary Griffiths, Head of Investment-Grade and Macro Strategy di CreditSights, Charlotte, North Carolina.
“Namun, ada potensi tren jangka panjang terhadap kurva yang lebih curam apabila independensi The Fed benar-benar tergerus.”
Jika The Fed dianggap terlalu dipengaruhi politik dan menahan suku bunga lebih rendah dari seharusnya, hal ini bisa meningkatkan kekhawatiran inflasi sekaligus mengurangi minat investor asing terhadap obligasi AS karena persoalan kredibilitas.
Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga tercatat turun 2,4 basis poin menjadi 3,706%.
Sementara imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun naik 1,2 basis poin ke level 4,287%.
Selisih imbal hasil (spread) antara tenor 2 tahun dan 10 tahun berada di 58 bps, sempat menyentuh 59,8 bps, tertinggi sejak 16 Juli.
Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan 16–17 September mendatang.
Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell pekan lalu terdengar lebih dovish dari perkiraan.
Keputusan pemangkasan akan sangat dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan dan inflasi Agustus.
Namun Griffiths menilai kondisi pasar tenaga kerja saat ini tampak lebih lemah dibanding September 2024, ketika The Fed memangkas suku bunga sebesar 50 bps.
“Dengan menimbang risiko dan dinamika pasar tenaga kerja, The Fed kemungkinan dapat membenarkan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga dari level saat ini,” kata Griffiths.
Trump sendiri sudah berulang kali mengkritik Powell karena dianggap lamban menurunkan suku bunga. Ia diperkirakan akan mengganti Powell dengan sosok yang lebih dovish ketika masa jabatan sang ketua berakhir pada Mei mendatang.
Meski begitu, Powell masih berpeluang bertahan sebagai salah satu gubernur The Fed, yang dapat membatasi jumlah posisi baru yang bisa diisi Trump.
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS minggu ini melelang obligasi senilai US$ 183 miliar.
Pada Selasa (26/8), akan diterbitkan obligasi tenor 2 tahun senilai US$ 69 miliar, disusul tenor 5 tahun sebesar US$ 70 miliar pada Rabu, dan tenor 7 tahun senilai US$ 44 miliar pada Kamis.
Mengekor Google dan Samsung, Apple Bakal Akusisi Startup AI Prancis, Mistral
Tampaknya hal ini dilakukan sebagai upaya mengekor saingannya Google dan Samsung yang sudah lebih dulu meluncurkan fitur AI di perangkatnya.
Sebenarnya, CEO Tim Cook mengisyaratkan bulan lalu bahwa Apple terbuka untuk akuisisi terkait AI yang lebih besar untuk mempercepat peta jalannya. Ini dilakukan untuk menggeser konsep yang selama ini konservatif.
Sayangnya, Reuters tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut. Apple, Mistral dan Perplexity tidak segera menanggapi permintaan pertanyaan.
Mistral yang didukung Nvidia bernilai lebih dari US$ 6 miliar miliar setelah putaran pendanaan Seri B tahun lalu. Bulan lalu, Financial Times melaporkan bahwa perusahaan Prancis itu dalam pembicaraan untuk mengumpulkan US$ 1 miliar dengan valuasi US$ 10 miliar.
BlackRock Hentikan Sementara Penggalangan Dana Kredit Swasta Asia
BlackRock Inc. menghentikan sementara penggalangan dana untuk strategi kredit swasta terbaru di Asia pada awal 2025, seiring proses merger dengan HPS Investment Partners.
Informasi ini disampaikan oleh sejumlah sumber yang mengetahui hal tersebut, namun enggan disebutkan namanya karena bersifat pribadi seperti dilansir dari The Economic Times, Rabu (27/8/2025).
Penggalangan dana untuk dana kredit swasta Asia-Pasifik ketiga milik BlackRock terhenti setelah pada Desember 2024 perusahaan mengumumkan rencana akuisisi HPS.
Akuisisi tersebut resmi selesai pada 1 Juli 2025.
Penghentian ini menambah daftar tantangan yang dihadapi BlackRock. Sebelumnya, Arch Capital Group, salah satu investor utama dana swasta BlackRock, dilaporkan tengah menjajaki penjualan kepemilikan senilai sedikitnya US$ 350 juta.
Langkah itu dilakukan menyusul kinerja yang mengecewakan pada sejumlah dana serta keluarnya beberapa eksekutif senior. Selain itu, BlackRock Asia-Pacific Private Credit Opportunities Fund II hanya mampu menghimpun kurang dari setengah target US$ 1 miliar.
Pada Juni lalu, BlackRock dan dana kekayaan negara Abu Dhabi, Mubadala Investment Co., juga sepakat untuk mengakhiri kemitraan mereka di bidang kredit swasta karena kesulitan mendapatkan peluang investasi.
Situasi tersebut menyoroti tantangan yang lebih luas dalam pasar kredit swasta global yang bernilai US$ 1,7 triliun.
Menurut data JPMorgan Chase & Co., hingga 22 Juli 2025 penggalangan dana untuk kelas aset ini hanya mencapai US$70 miliar, atau sekitar sepersepuluh dari total arus masuk aset alternatif.
Angka ini merupakan porsi terkecil sejak setidaknya 2015. Selain itu, dana kredit swasta juga terdampak oleh minimnya transaksi serta pengaruh tarif perdagangan Amerika Serikat.
JPMorgan mencatat tingkat gagal bayar untuk transaksi kredit swasta mencapai 5,4% bila memasukkan pinjaman non-akrual, yakni pinjaman yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi pemberi pinjaman.
Angka ini setara dengan tingkat gagal bayar di pasar pinjaman sindikasi, dan mulai menimbulkan kekhawatiran di Wall Street terkait risiko tersembunyi dalam kelas aset tersebut.
BlackRock sejatinya menargetkan penggalangan dana sekitar US$ 1 miliar untuk dana kredit swasta Asia-Pasifik ketiga yang dimulai pada kuartal IV-2023.
Namun, arah penggalangan dana selanjutnya masih menunggu pembahasan internal dengan eksekutif HPS. Hingga kini, BlackRock menolak memberikan komentar.
Merger BlackRock dengan HPS merupakan bagian dari strategi jangka panjang yang dipimpin salah satu pendirinya, Larry Fink, untuk memperkuat posisi di pasar swasta.
Perusahaan manajer aset tersebut juga telah menetapkan target penggalangan dana pasar swasta secara global sebesar US$ 400 miliar pada 2030.
Iran Ingatkan Bahaya Agenda 'Israel Raya', Serukan Negara Muslim Bersatu Melawan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengingatkan bahaya agenda penjajahan Israel yang mengancam eksisten dunia Islam dan perdamaian dunia. Oleh karena itu, ia mendesak adanya aksi kolektif dari negara-negara Muslim.
Dalam artikel opini yang dipublikasikan Asharq Al-Awsat jelang pertemuan dararuta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah, Araghchi mengutuk "genosida dan pembersihan etnis terorganisasi" oleh Israel di Gaza. Ia pun menuduh negara Barat mendukung "kejahatan yang belum pernah terjadi" itu.
"Rezim Zionis telah mengubah Gaza menjadi bumi yang hangus, menggunakan kelaparan sebagai senjata dan menjadikan titik distribusi makanan sebagai perangkap kematian bagi warga sipil tak bersalah," kata Araghchi dilansir Iran Front Page.
Araghchi mengatakan, aksi Israel di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Suriah, dan Yaman merefleksikan strategi agresif degan tujuan untuk mendominasi kawasan di bawah gagasan yang mereka sebut 'Israel Raya'. Dia mendesak pertemuan tingkat tinggi OKI untuk beraksi lebih dari sekadar pernyataan simbolis dan mengadopsi "langkah-langkah terkoordinasi yang menentukan", termasuk tekanan diplomatik, langkah hukum internasional, dan sanksi ekonimi dan militer terhadap Israel.
Araghchi juga menyerukan pembentukan segera sebuah koridor kemanusian yang disupervisi oleh PBB dan OKI untuk mengirim bantuan ke Gaza. Ia menambahkan, persatuan di antara negara-negara Islam terbilang krusial untuk menjaga keamanan kawasan dan memberikan kemajuan terwujudnya sebuah negara merdeka Palestina dengan Al-Aqsa sebagai ibu kotanya.
Mesir Tegas Tolak Wacana Israel Raya
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menegaskan penolakan tegas terhadap gagasan “Israel Raya” yang dilontarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Abdelatty menyebut wacana itu sebagai ilusi yang berbahaya bagi stabilitas kawasan.
“Menteri Abdelatty menegaskan penolakan mutlak Mesir terhadap pernyataan Israel baru-baru ini mengenai ilusi ‘Israel Raya’, yang tidak mencerminkan apa pun selain arogansi kekuasaan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir, Senin (25/8/2025).
Ia menegaskan Kairo tidak akan menerima maupun membiarkan gagasan tersebut terwujud.
Menurut Abdelatty, gagasan itu hanya akan menyulut konflik, memperluas eskalasi, dan mematikan prospek koeksistensi damai di Timur Tengah.
Sebelumnya, pada awal Agustus, Netanyahu menyebut dirinya berada dalam “misi historis dan spiritual” yang terhubung dengan visi “Israel Raya”.
Konsep “Israel Raya” merujuk pada perluasan wilayah Israel dengan mencaplok sebagian Suriah, Yordania, Lebanon, dan Mesir, serta seluruh wilayah Palestina termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
China-Rusia-India Pamer Kekuatan di KTT SCO, Tantang AS?
Presiden China Xi Jinping akan mengumpulkan lebih dari 20 pemimpin dunia di forum keamanan regional pekan depan. Tujuannya ditengarai untuk menunjukkan solidaritas negara-negara Selatan di era Donald Trump.
Selain Presiden Rusia Vladimir Putin, para pemimpin dari Asia Tengah, Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara telah diundang ke pertemuan puncak Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO). Acara itu akan diadakan di kota pelabuhan utara Tianjin dari tanggal 31 Agustus hingga 1 September.
KTT ini akan diwarnai kunjungan pertama Perdana Menteri India Narendra Modi ke China dalam lebih dari tujuh tahun ketika kedua tetangga berupaya meredakan ketegangan yang bergolak akibat bentrokan perbatasan yang mematikan pada 2020.
Modi terakhir kali berbagi panggung yang sama dengan Xi dan Putin pada KTT BRICS tahun lalu di Kazan, Rusia, bahkan ketika para pemimpin Barat mengabaikan pemimpin Rusia tersebut di tengah perang di Ukraina. Pejabat kedutaan Rusia di New Delhi pekan lalu mengatakan Moskow berharap pembicaraan trilateral dengan China dan India akan segera dilakukan.
Pertemuan di Tianjin dilakukan di tengah renggangnya hubungan India dengan Amerika Serikat sehubungan penerapan tarif oleh Donald Trump. Sementara Rusia saat ini tengah mendapat tekanan dari AS dan Eropa untuk menyudahi serangan ke Ukraina. Sementara Iran, anggota SCO lainnya, baru saja dibombardir Israel dengan bantuan AS.
“Xi ingin menggunakan KTT ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan seperti apa tatanan internasional pasca-dipimpin Amerika dan bahwa semua upaya Gedung Putih sejak Januari untuk melawan China, Iran, Rusia, dan sekarang India tidak membuahkan hasil yang diharapkan,” kata Eric Olander, pemimpin redaksi lembaga penelitian The China-Global South Project,dilansir Reuters.
“Lihat saja seberapa besar BRICS telah mengguncang (Presiden AS) Donald Trump, dan hal itulah yang memang dirancang untuk dilakukan oleh kelompok-kelompok ini.”
KTT tahun ini akan menjadi yang terbesar sejak SCO didirikan pada 2001, kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri China pekan lalu. Ia menyebut blok tersebut sebagai “kekuatan penting dalam membangun hubungan internasional jenis baru”.
10 organisasi internasional dijadwalkan ikut serta dalam pertemuan besar tersebut. Presiden Prabowo Subianto disebut nakal hadir dalam KTT tersebut meski belum ada konfirmasi resmi dari Istana Kepresidenan.
Blok yang berfokus pada keamanan, yang awalnya terdiri dari enam negara Eurasia, telah berkembang menjadi 10 anggota tetap dan 16 negara dialog dan pengamat dalam beberapa tahun terakhir. Kewenangannya juga diperluas dari keamanan dan kontra-terorisme hingga kerja sama ekonomi dan militer.
SCO saat ini merupakan salah satu organisasi negara-negara sewilayah terbesar di dunia. Wilayahnya mencakupi 60 persen Eurasia yang ditinggali populasi tiga miliar lebih. Negara-negara SCO juga meliputi seperempat ekonomi global.
Organisasi itu awalnya diprakarsai oleh China dan Rusia serta beberapa negara bekas pecahan Uni Soviet. Diantaranya Kazakhstan, Republik Kirgistan, dan Tajikistan. Pada 2001, setelah Uzbekistan bergabung, organisasi tersebut resmi dinamai Shanghai Cooperation Organisation (SCO).
Pada 2017, India dan Pakistan menjadi anggota penuh, kemudian disusul Iran pada 2023. Sejak 2008, sejumlah negara dirangkul sebagai mitra dialog. Diantaranya Azerbaijan, Armenia, Kamboja, Sri Lanka, Nepal, Mesir, Arab Saudi, Qatar, Maladewa, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Myanmar. Sedangkan tiga negara, Belarus, Mongolia, dan Afghanistan tengah mengajukan keanggotaan penuh.
Kekuatan Senjata Nuklir, Donald Trump: China Mengejar Kami
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa dirinya telah membahas pembatasan senjata nuklir dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, termasuk rencana untuk melibatkan China dalam upaya denuklirisasi.
“Kami sedang membahas mengenai pembatasan senjata nuklir. Kami akan melibatkan China dalam hal ini,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office, Senin (25/8)
“Kami memiliki senjata nuklir terbanyak. Rusia memiliki jumlah terbanyak kedua, dan China ketiga,” tambahnya.
Trump menyebut Beijing saat ini berada di belakang Washington dan Moskow, namun menggarisbawahi bahwa kemampuan nuklir China berkembang pesat.
“China memang jauh tertinggal jauh, tapi mereka akan mengejar kami (AS) dalam lima tahun,” ucapnya.
Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), Rusia dan AS bersama-sama memiliki sekitar 90 persen dari seluruh senjata nuklir di dunia.
SIPRI memperkirakan bahwa China saat ini memiliki setidaknya 600 hulu ledak nuklir.
“Saya pikir denuklirisasi adalah permainan yang sangat besar, tapi Rusia bersedia melakukannya, dan saya pikir China juga akan bersedia untuk melakukannya,” ujar Trump kepada wartawan dalam pernyataan terpisah saat menjamu Presiden baru Korea Selatan, Lee Jae-myung.
Menegaskan bahwa penyebaran senjata nuklir tidak boleh dibiarkan, Trump berkata: “Kita harus menghentikan senjata nuklir. Kekuatannya terlalu besar,” ucap dia.
Lebih lanjut, Trump menekankan bahwa kunjungan Putin ke Alaska pada 15 Agustus menunjukkan komitmennya terhadap proses negosiasi, merujuk pada konflik Rusia-Ukraina.
“Fakta bahwa ia datang ke Alaska, negara kita, saya pikir, merupakan pernyataan besar bahwa dia ingin menyelesaikan ini,” kata Trump.
Namun, ia juga menyampaikan kekesalannya terhadap serangan Rusia yang masih berlanjut di Ukraina.
“Setiap percakapan saya dengannya adalah percakapan yang baik. Lalu kemudian, sayangnya, sebuah bom dikirim ke Kiev… dan kemudian saya akan sangat marah,” ujarnya.
Australia Usir Dubes Iran, Hubungan Diplomatik Putus, Ini Gara-garanya
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menuduh Iran berada di balik dua serangan antisemit di Australia. Sebagai respons, Selasa lalu pemerintah mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Teheran.
Badan Intelijen Keamanan Australia (ASIO) menyimpulkan bahwa pemerintah Iran memprovokasi insiden pembakaran terhadap Lewis Continental Kitchen, perusahaan makanan kosher di Sydney pada Oktober 2023, serta Sinagog Adass Israel di Melbourne pada Desember 2023.
Iran belum memberikan tanggapan atas tuduhan ini. Sejak perang Israel-Hamas pecah pada 2023, insiden dinilai antisemit meningkat tajam di Sydney dan Melbourne.
Pihak berwenang Australia sebelumnya sudah menduga ada aktor asing yang membayar penjahat lokal untuk melancarkan serangan. Polisi telah menangkap setidaknya satu tersangka dalam kasus kebakaran kafe di Sydney, dan dua orang dalam kasus pembakaran sinagog di Melbourne.
“ASIO kini telah mengumpulkan cukup banyak informasi yang dapat dipercaya untuk sampai pada kesimpulan yang sangat mengkhawatirkan,” kata Albanese.
“Pemerintah Iran mengarahkan setidaknya dua serangan ini. Iran berusaha menutupi keterlibatannya, tetapi ASIO menilai Teheran berada di balik serangan itu.”
Albanese menyebut serangan itu sebagai tindakan agresi luar biasa dan berbahaya yang dilakukan negara asing di tanah Australia. Tindakan itu sebagai upaya merusak persatuan sosial.
Dubes diusir
Pemerintah Australia memanggil Duta Besar Iran untuk Australia, Ahmad Sadeghi, dan memberitahukan bahwa ia akan diusir. Australia juga menarik pulang para diplomatnya dari Teheran dan menempatkan mereka di negara ketiga.
Australia kemudian memperingatkan warganya di Iran untuk mempertimbangkan segera meninggalkan negara itu. Peringatan resmi juga dinaikkan ke level tertinggi. “Jangan bepergian” ke Iran.
“Warga asing di Iran, termasuk warga Australia dan mereka yang berkewarganegaraan ganda, sangat berisiko ditahan atau ditangkap secara sewenang-wenang,” bunyi peringatan itu.
Menteri Luar Negeri Penny Wong mengatakan, meski hubungan diplomatik diputus, Australia masih akan menjaga jalur komunikasi terbatas demi kepentingan nasional. Ia menambahkan, ini adalah pertama kalinya Australia mengusir seorang duta besar sejak Perang Dunia II.
Albanese juga mengumumkan bahwa pemerintahnya akan membuat aturan untuk menetapkan Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris.
Selama bertahun-tahun, Garda Revolusi dituduh Barat terlibat dalam berbagai serangan di luar negeri. Pasukan Quds, sayap operasi luar negeri IRGC, sering dituding menggunakan milisi lokal untuk menargetkan lawan politik dan orang Israel.
Dewan Eksekutif Komunitas Yahudi Australia menyambut keputusan ini. “Serangan-serangan ini jelas menargetkan komunitas Yahudi Australia, menghancurkan rumah ibadah, merugikan jutaan dolar, dan menebarkan ketakutan di tengah masyarakat kami,” kata dewan tersebut.
Ketegangan Australia – Israel – Iran
Langkah keras Australia terhadap Iran muncul sepekan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Albanese sebagai 'politikus lemah yang mengkhianati Israel' karena mengakui negara Palestina.
Pengumuman Australia pada 11 Agustus untuk mengakui Palestina akan diformalkan di Sidang Umum PBB pada September. Hal itu memicu saling pembatalan visa bagi pejabat Australia dan Israel.
ASIO tidak menjelaskan bukti rinci soal keterlibatan Iran. Namun Direktur ASIO, Mike Burgess, menegaskan bahwa tidak ada diplomat Iran di Australia yang terlibat langsung.
Menurut Burgess, serangan diarahkan oleh IRGC melalui jaringan perantara di luar negeri yang akhirnya menyewa orang Australia untuk melaksanakannya. Ia menilai Iran yang memulai eskalasi serangan antisemit di Australia sejak Oktober 2023, sehingga target bukan lagi sekadar simbol, tapi langsung menyasar orang, bisnis, dan tempat ibadah.
8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku
Bayangkan satu dunia di mana negara-negara besar di luar Barat—termasuk Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan sekutunya—mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rencana pembentukan mata uang bersama BRICS mulai muncul sebagai strategi de-dolarisasi. Jika diterapkan, implikasinya bisa mengguncang keseimbangan moneter global, menekan kekuatan ekonomi Amerika Serikat, serta meredefinisi pola perdagangan dan investasi dunia. Berikut adalah sejumlah efek krusial yang perlu dipahami tentang potensi dampak mata uang BRICS baru terhadap dolar AS.
1. Tergerusnya Dominasi Cadangan Dolar AS (De-Dolarisasi) BRICS tengah mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antaranggota sebagai alternatif terhadap dolar. Mata uang baru—yang direncanakan berbasis keranjang mata uang anggota dan cadangan emas—ditujukan sebagai alat untuk memperkuat kemerdekaan keuangan dan menekan volatilitas dolar. Gerakan ini bukan sekadar retorika; Rusia dan China sudah mulai memperluas penerimaan perdagangan dalam mata uang domestik mereka, bahkan Rusia kini menyelesaikan sekitar 90% perdagangan BRICS tanpa dolar. Demi menghadapi tekanan geopolitik dan sanksi finansial AS, langkah ini menjadi semakin mendesak. Akibatnya, akan terjadi penurunan permintaan dolar secara global. Jika mata uang BRICS nanti diadopsi sebagai cadangan oleh bank sentral global, tekanan terhadap posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama akan meningkat. Kajian Atlantic Council menyatakan saat ini dolar masih mendominasi cadangan dunia—sekitar 88% pertukaran valuta dan 59% cadangan internasional—namun tren de-dolarisasi terus meningkat.
2. Pengurangan Efektivitas Sanksi AS Dolar selama ini menjadi instrumen geopolitik kuat untuk menekan negara lain melalui sanksi finansial. Namun, jika BRICS memiliki sistem pembayaran alternatif — seperti BRICS Pay — dan mata uang bersamanya, efektivitas alat tersebut akan berkurang drastis. BRICS Pay adalah jaringan pembayaran independen yang memungkinkan transaksi lintas batas dengan mata uang lokal anggota, tanpa bergantung pada sistem SWIFT yang dikendalikan Barat. Adanya mata uang tunggal yang terintegrasi dalam sistem ini akan menjadikan pemblokiran finansial lebih sulit dilakukan oleh AS. Hal ini membuka peluang bagi negara-negara yang selama ini lemah terhadap tekanan finansial untuk tetap beroperasi secara multilateral tanpa dolar.
3. Tekanan Inflasi dan Krisis Nilai Tukar di Dalam Negeri AS Penurunan penggunaan dolar di pasar global dapat menurunkan permintaan terhadap mata uang ini. Jika kondisinya ekstrim—misalnya banyak negara menjauh dari dolar—harganya bisa jatuh. Dampaknya? Inflasi impor di AS bisa melesat karena perusahaan dan konsumen perlu membayar barang impor dengan dolar yang lemah. Beberapa analis memperingatkan pengembalian dolar dari pasar internasional setelah masa keemasan bisa memicu tsunami inflasi, merosotkan aset, dan menaikkan suku bunga. Jika hal ini terjadi, konsumen AS akan merasakan tekanan langsung—harga barang naik, biaya hidup membengkak, dan kebijakan moneter Federal Reserve menjadi semakin menantang.
4. Perubahan Struktur Perdagangan Global Dengan munculnya mata uang BRICS, hubungan ekonomi intra-BRICS dapat semakin terintegrasi, memanfaatkan mekanisme pembayaran bersama dan negosiasi perdagangan dalam mata uang alternatif. Hal ini diperkirakan memperkuat perdagangan regional BRICS dan mengurangi dominasi dolar dalam transaksi global. Lebih lagi, sistem seperti BRICS Pay dan BRICS Bridge (platform blockchain) akan memperlancar transaksi lintas negara BRICS tanpa perlu konversi ke dolar atau SWIFT, sehingga mengurangi biaya dan mempercepat aliran perdagangan. Ekonomi global mungkin berubah menjadi lebih multipolar, dengan blok-blok regional saling memperdagangkan satu sama lain dalam mata uang mereka sendiri.
5. Respon Amerika Serikat: Tekanan Ekonomi dan Politik Mengetahui potensi ancaman ini, AS sudah mulai merespons secara keras. Ancaman tarif hingga 50% atas negara-negara yang terlalu dekat dengan BRICS, serta ancaman tambahan tarif khusus terhadap negara pendukung kebijakan "anti-Amerika", menjadi langkah proteksionis pertama. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran Washington terhadap pelambatan pengaruh dolar. Dengan adanya mata uang BRICS, AS akan kehilangan leverage melalui sanksi dan tekanan keuangan—sehingga ia mengambil langkah defensif melalui kebijakan tarif untuk mempertahankan keunggulannya.
6. Dorongan Global ke Arah Sistem Moneter Multipolar Inisiatif BRICS memperkuat kecenderungan global ke arah sistem moneter yang lebih berimbang dan multipolar. Ratusan negara di Global South sekarang mulai membahas alternatif terhadap dolar—baik lewat penguatan mata uang lokal, sistem settlement regional, maupun cadangan emas. Pasar dunia, terutama ekonominya berkembang, makin tidak nyaman terhadap dominasi satu mata uang tunggal, karena bisa menjadi alat kekuatan politik. Jika BRICS berhasil dengan mata uangnya, akan menjadi preseden kuat bagi blok-blok regional lain seperti ASEAN, Afrika, atau Amerika Latin untuk mengeksplorasi solusi serupa.
7. Tantangan Internal BRICS Meskipun gagasannya ambisius, pembentukan mata uang bersama menghadapi banyak kendala dalam PR teknis dan politik. Variasi ekonomi yang drastis antar anggota—dari China yang besar hingga Afrika Selatan yang kecil—menyulitkan penyatuan kebijakan moneter. Ada juga risiko dominasi ekonomi oleh negara terbesar (China, terutama) yang bisa menimbulkan ketidakpercayaan dari anggota lainnya. Selain itu, belum ada kesepakatan waktu atau metodologi yang jelas untuk peluncuran currency bersama, sehingga banyak pengamat masih skeptis bahwa negara-negara BRICS bisa mencapai itu dalam jangka pendek.
8. Diversifikasi Sistem Perbankan Internasional Di samping mata uang baru, BRICS juga sedang membangun infrastruktur finansial yang mandiri, seperti Contingent Reserve Arrangement (CRA) yang menyediakan likuiditas dan jaring pengaman fiskal antar anggota BRICS. Selain itu, sistem SWIFT alternatif seperti BRICS Pay dan inisiatif blockchain (BRICS Bridge) mendukung interoperabilitas cross-border tanpa melalui lembaga Barat. Ini mencerminkan kemauan BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan global yang selama ini didominasi Amerika dan Eropa. Secara garis besar, dampak potensial dari mata uang baru BRICS terhadap dolar AS adalah nyata dan menantang: dari melemahnya status cadangan, berkurangnya efektivitas sanksi finansial, hingga tekanan domestik AS berupa inflasi dan gelombang proteksionisme. Namun, keberhasilan inisiatif ini bergantung pada sejauh mana BRICS bisa membangun kepercayaan internal, sistem infrastruktur keuangan yang solid, dan adopsi luas baik di dalam maupun luar blok. Ke depan, dunia mungkin bergerak menuju sistem moneter multipolar yang lebih adil dan terdiversifikasi—temu yang tidak bisa dibendung oleh satu ekonomi besar manapun. Namun, transisinya penuh risiko, ketidakseimbangan, dan ketegangan geopolitik, menjadikannya salah satu isu paling menarik dalam dinamika pasar global saat ini.