News Komoditi & Global ( Rabu, 26 November 2025 )
News Komoditi & Global ( Rabu, 26 November 2025 )
Harga Emas Global Naik seiring Inflasi yang Terhenti dan Pengeluaran yang Lemah Mendorong Taruhan Penurunan Suku Bunga The Fed di Desember
Emas (XAU/USD) naik lebih dari 0,14% pada hari Selasa setelah data ekonomi AS meningkatkan spekulasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan 9-10 Desember. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menurun dan Dolar AS yang lebih lemah menjaga XAU/USD diperdagangkan di $4.141 setelah mencapai level terendah harian di $4.109.
XAU/USD naik di tengah turunnya imbal hasil, Dolar yang lemah
Inflasi AS dan Penjualan Ritel menunjukkan bahwa kenaikan harga tampaknya terhenti, sementara rumah tangga mengurangi konsumsi mereka pada bulan September, dua bulan menjelang musim Natal. Selain itu, Kepercayaan Konsumen Conference Board (CB) turun pada bulan November karena masyarakat Amerika tetap tidak pasti tentang lapangan pekerjaan, pendapatan, dan situasi keuangan mereka, akibat penutupan pemerintah.
Dengan latar belakang ini, pasar uang mematok peluang 82% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan berikutnya, naik dari peluang 50% minggu lalu.
Pada hari Senin, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan bahwa "ada kasus penggunaan nyata untuk AI, tetapi tidak untuk kripto, menambahkan orang-orang merasakan kesulitan akibat inflasi," menegaskan sikap hawkish-nya, di tengah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang terpecah.
Menjelang minggu ini, agenda ekonomi AS akan menampilkan Pesanan Barang Tahan Lama dan Klaim Tunjangan Pengangguran Awal pada hari Rabu, yang dapat mempersiapkan panggung sebelum pejabat Fed memasuki periode blackout mereka.
Penggerak pasar harian: Pembacaan inflasi AS yang lebih rendah, untuk mengukuhkan pemangkasan Fed pada bulan Desember
Indeks Harga Produsen (PPI) naik 2,7% YoY pada bulan September, sesuai dengan prakiraan dan pembacaan bulan Agustus, menandakan bahwa tekanan harga telah stabil. PPI inti turun menjadi 2,6% dari 2,9%, di bawah ekspektasi 2,7%.
Penjualan Ritel meningkat 0,2% MoM pada bulan September, turun dari kenaikan 0,6% pada bulan Agustus, menunjukkan belanja konsumen yang lebih lemah. Sementara itu, Conference Board melaporkan bahwa sentimen rumah tangga memburuk pada bulan November, dengan Kepercayaan Konsumen turun 6,8 poin menjadi 88,7 dari 95,5 pada bulan Oktober.
Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak kinerja Dolar terhadap enam mata uang, merosot 0,50% di bawah level 100,00 di 99,69. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun AS turun tiga basis poin menjadi 4,00%. Imbal hasil riil AS, yang berkorelasi terbalik dengan harga Emas, juga turun tiga basis poin menjadi 1,80%.
Harga Minyak Dunia Merosot, Diplomasi AS–Ukraina Picu Harapan Damai
Harga minyak dunia turun lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (25/11/2025), setelah Ukraina memberi sinyal mendukung kerangka kesepakatan damai yang tengah didorong intensif oleh pemerintahan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Potensi berakhirnya perang Ukraina membuka peluang pencabutan sanksi Barat terhadap perdagangan energi Rusia.
Hal ini berpotensi menambah pasokan minyak ke pasar global di tengah kekhawatiran terhadap kelebihan suplai pada 2026, yang saat ini menekan harga komoditas energi.
Melansir Reuters, kontrak minyak Brent turun US$1,03 (1,6%) ke US$62,34 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 99 sen (1,7%) menjadi US$57,85 per barel pada pukul 13.30 waktu New York.
Kepala Keamanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov, mengatakan Presiden Volodymyr Zelenskiy dapat mengunjungi AS dalam beberapa hari ke depan untuk merampungkan kesepakatan dengan Presiden Donald Trump guna mengakhiri perang.
Namun, Rusia menegaskan tidak akan menerima kesepakatan yang jauh dari tujuan militernya, sebuah sikap yang membatasi penurunan harga minyak.
“Posisi Rusia menimbulkan keraguan apakah kesepakatan formal dapat tercapai,” kata Ed Hayden-Briffett, analis minyak di Onyx Capital Group.
Keraguan tersebut makin kuat setelah Rusia kembali menggempur Kyiv dengan rudal pada Selasa. Serangan itu menewaskan enam orang, melukai 13 lainnya, dan mengganggu sistem listrik serta pemanas kota.
“Kesepakatan butuh persetujuan dua pihak, dan belum jelas apakah Rusia siap menerima,” ujar analis UBS Giovanni Staunovo.
Sejumlah analis memperkirakan pertumbuhan pasokan minyak pada 2026 akan melampaui permintaan. Deutsche Bank memproyeksikan surplus minimal 2 juta barel per hari tahun depan dan belum melihat jalan kembali ke defisit hingga setidaknya 2027.
Kesepakatan damai juga berpotensi membuat Rusia meningkatkan produksi menuju kuota OPEC+, menurut analis Commerzbank Research.
Saat ini, sanksi Barat terhadap raksasa minyak Rusia seperti Rosneft dan Lukoil, serta larangan menjual produk minyak yang diolah dari crude Rusia ke Eropa, telah membuat beberapa kilang India mengurangi pembelian minyak Rusia.
Akibatnya, ekspor minyak Rusia turun dan volume crude yang tersimpan di tanker meningkat.
Stok minyak tersebut berpotensi mengalir ke pasar jika sanksi dicabut, kata Commerzbank. Rusia juga disebut sedang mencari cara memperluas ekspor ke China, ujar Wakil Perdana Menteri Alexander Novak.
Wall Street Ditutup Naik , Ekspektasi Suku Bunga The Fed Makin Kokoh
Wall Street kembali melanjutkan reli pada perdagangan Selasa (25/11/2025) waktu setempat.
Serangkaian rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve akan melakukan pemangkasan suku bunga ketiga sekaligus terakhir di tahun 2025 pada pertemuan Desember mendatang.
Ketiga indeks saham utama AS kompak menguat, dipimpin oleh Dow Jones. Namun, tekanan dari saham raksasa kecerdasan buatan, Nvidia, menahan pergerakan Nasdaq.
Melansir Reuters, Dow Jones naik 664,18 poin (1,43%) ke 47.112,45. S&P 500 menguat 60,77 poin (0.91%) ke 6.765,89, dan Nasdaq Composite naik 153,59 poin (0,67%) ke 23.025,59.
Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor kesehatan memimpin penguatan, sementara energi mengalami pelemahan terdalam.
Meski demikian, pelemahan saham teknologi membuat kenaikan indeks Nasdaq terbatas.
Saham Nvidia turun 2,6%, sementara indeks semikonduktor Philadelphia SE hanya mampu menguat tipis 0,2%.
Gelombang data ekonomi yang dirilis sebagian tertunda akibat penutupan pemerintahan AS beberapa waktu lalu menunjukkan pelemahan konsumsi dan inflasi yang terus mendingin.
Departemen Perdagangan dan Departemen Tenaga Kerja merilis data September mengenai penjualan ritel serta harga produsen yang menggambarkan belanja konsumen melemah dan tekanan harga terus mereda.
Sinyyal lebih mutakhir datang dari Conference Board, yang melaporkan penurunan kepercayaan konsumen jauh lebih buruk dari ekspektasi. Ekspektasi jangka pendek anjlok hampir 12%.
“Pada pertemuan terakhir, Powell menyiratkan The Fed akan menahan diri karena kurangnya data ekonomi,” ujar Paul Nolte, analis pasar di Murphy & Sylvest, Illinois.
“Namun setelah beberapa pejabat The Fed berbicara, pasar berubah dari ‘tidak ada tindakan di Desember’ menjadi ‘harus memotong bunga Desember karena pasar tenaga kerja semakin melemah.’”
Saat ini, pasar memprakirakan 84,7% probabilitas bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin bulan depan melonjak dari 50,1% sepekan sebelumnya.
Ekspektasi itu menguat setelah komentar dovish dari Presiden The Fed New York John Williams serta Gubernur Christopher Waller.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut ada peluang Presiden Donald Trump akan mengumumkan calon pengganti Jerome Powell sebelum Natal. Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett disebut sebagai kandidat terkuat dan dinilai memiliki kecenderungan dovish.
“Kita semakin punya gambaran siapa ketua The Fed berikutnya, dan dia cenderung dovish,” tambah Nolte.
“Pasar merasa cukup nyaman bahwa suku bunga akan turun sepanjang 2026.”
Di tengah kekhawatiran atas melemahnya penjualan ritel dan turunnya kepercayaan konsumen, sentimen pasar terbantu oleh laporan kinerja ritel yang positif.
Indeks ritel S&P 500 naik 2%. Kohl's melonjak 42,5% dan Abercrombie & Fitch terbang 37,5% setelah menaikkan proyeksi laba tahunannya.
Sebaliknya, Burlington Stores anjlok 12,2% setelah pendapatan kuartalannya meleset dari estimasi.
Di sektor teknologi, Alphabet menguat 1,5% setelah laporan The Information menyebut Meta Platforms tengah menjajaki penggunaan chip AI Google di pusat datanya mulai 2027, serta menyewa chip Google Cloud tahun depan. Saham Meta ikut naik 3,8%.
Sementara itu, saham Alibaba yang tercatat di AS turun 2,3% meski perusahaan e-commerce asal China itu membukukan pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi.
China Kirim Pesan Keras ke Jepang: “Kami Siap Perang”
Situasi regional Kembali panas setelah militer China merilis video propaganda bernada ancaman. Yakni dengan menyatakan bahwa mereka siap menghadapi perang kapan saja. Video tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Jepang.
Telegraph melaporkan, video itu berjudul “Jika perang pecah hari ini, inilah jawabanku.” Materi tersebut dibuat oleh Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat—unit militer yang mengendalikan seluruh misil di China. Tayangan itu menampilkan cuplikan dramatis jet tempur, kapal perang, dan peluncuran rudal.
Video tersebut dirilis hanya dua minggu setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa serangan militer China terhadap Taiwan dapat memicu respons militer Jepang.
Tak lama setelah pernyataan itu, seorang diplomat China menyiratkan bahwa Takaichi pantas dipenggal. Pernyataan tersebut memicu krisis diplomatik terburuk antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade.
China berulang kali menuntut Takaichi menarik ucapannya, namun ia tetap bertahan. Takaichi, yang kerap menyebut Margaret Thatcher sebagai panutannya, menolak mundur satu langkah pun.
Minggu lalu, Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, menegaskan bahwa Jepang tetap melanjutkan rencana menempatkan rudal di Pulau Yonaguni untuk “mengurangi kemungkinan serangan bersenjata.”
Yonaguni adalah titik terdekat Jepang dengan Taiwan, hanya sekitar 108 kilometer. Menurut laporan Kyodo News, Jepang berencana menempatkan unit bersenjata rudal permukaan-ke-udara Type-03, yang bisa menjatuhkan pesawat maupun rudal balistik.
China menuduh langkah tersebut sebagai upaya menciptakan ketegangan di kawasan dan memprovokasi konfrontasi militer.
Selain ancaman militer, Beijing juga membatalkan penerbangan antarnegara, mengeluarkan larangan wisata, dan memanggil duta besar Jepang. Namun sejauh ini, tidak ada tanda-tanda Jepang akan mundur.
“Kelompok sayap kanan di Jepang sedang menyeret Jepang dan kawasan menuju bencana,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning.
Walaupun video itu tidak menyebut Jepang secara langsung, isinya secara luas dianggap sebagai pesan intimidasi.
Video tersebut dirilis pada hari yang sama ketika Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menanggapi pernyataan Takaichi, menjadikannya pejabat paling senior di China yang ikut masuk ke perdebatan ini.
Ia menyebut komentar Takaichi sebagai “garis merah yang tidak seharusnya disentuh.” Wang menambahkan:
“China harus membalas tegas—bukan hanya demi mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah kami, tetapi juga demi menjaga pencapaian pascaperang yang diperoleh dengan darah dan pengorbanan.”
Video propaganda itu diberi subtitle bahasa Inggris dan disebarkan melalui media pemerintah berbahasa Inggris, menandakan bahwa pesan tersebut memang ditujukan ke dunia internasional—bukan hanya konsumsi domestik.
Sesuai gaya khas propaganda PLA, video itu lebih mirip trailer film aksi Hollywood daripada penjelasan kemampuan militer. Cuplikan peluncuran rudal bercampur dengan rekaman parade militer besar September lalu, semuanya dibalut lagu militer berjudul “Jika perang pecah hari ini.” Lagu itu pernah digunakan sebelumnya dalam materi propaganda Pasukan Roket.
China memang kerap merilis video propaganda semacam ini ketika ingin mengirim pesan tertentu.
Saat mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi Taiwan pada 2022, PLA juga merilis video serupa sehari sebelum kedatangannya. Setelah Pelosi mendarat, sebagai pejabat tertinggi AS yang mengunjungi Taiwan dalam 25 tahun, China merespons dengan kecaman keras dan meningkatkan latihan militer mengelilingi Taiwan.
Trump dan Xi Jinping Gelar Pembicaraan Telepon, Sepakati Pertemuan Timbal Balik pada 2026
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden China Xi Jinping pada Senin (24/11/2025) pagi waktu Washington.
Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi percakapan tersebut kepada CNBC, meski tidak merinci alasan penjadwalannya maupun pihak yang meminta kontak tersebut.
Trump kemudian mengonfirmasi panggilan itu melalui unggahan di platform Truth Social.
Ia menyebut bahwa percakapan mencakup berbagai isu strategis, mulai dari konflik Ukraina–Rusia, peredaran fentanyl, hingga perdagangan produk pertanian seperti kedelai.
“Kami telah membuat kesepakatan yang baik dan sangat penting untuk para petani besar kita dan kesepakatan itu akan terus membaik,” tulis Trump, sembari menegaskan bahwa hubungan AS–China saat ini “sangat kuat”.
Kedua pemimpin juga sepakat untuk menggelar pertemuan tatap muka secara bergiliran. Trump menyatakan pertemuan pertama akan berlangsung di Beijing pada April mendatang, disusul kunjungan kenegaraan Xi ke AS pada paruh akhir tahun.
“Kami sepakat penting untuk sering berkomunikasi, dan saya menantikan itu,” tulis Trump.
Dari pihak Beijing, Kementerian Luar Negeri China dalam pernyataannya menegaskan bahwa kedua negara tengah mengimplementasikan seluruh kesepakatan yang dicapai saat pertemuan Trump–Xi di Busan, Korea Selatan, akhir bulan lalu.
Paket konsensus itu mencakup penurunan tarif impor AS terhadap barang-barang China dan penghentian rencana Beijing untuk memberlakukan kontrol ekspor baru atas mineral tanah jarang, langkah-langkah yang menurunkan tensi dalam perang dagang berkepanjangan kedua negara.
“Hubungan China–AS secara umum tetap berada pada jalur yang stabil dan positif,” tulis Beijing dalam pernyataan yang diterjemahkan NBC News.
Di luar agenda ekonomi, kedua pemimpin juga membahas perkembangan konflik Ukraina. Pemerintahan Trump diketahui tengah menekan Kyiv agar menyetujui kerangka rencana perdamaian sebelum Hari Thanksgiving.
Menurut pernyataan Beijing, Xi kembali menegaskan dukungan China terhadap “semua upaya yang kondusif bagi terciptanya perdamaian”.
Isu Taiwan turut muncul dalam pembicaraan. Xi menyampaikan kembali posisi China bahwa Taiwan “harus kembali” ke dalam wilayahnya.
Pernyataan Beijing menyebut Trump memahami sensitivitas tinggi isu tersebut bagi China.
Trump bahkan memuji Xi sebagai “seorang pemimpin hebat”, menurut catatan resmi dari kementerian.
Rudal Jepang Dekat Taiwan Bikin China Murka: Asia Menuju Krisis Baru?
Beijing mengecam keras langkah Jepang yang menempatkan sistem rudal di sebuah pulau yang jaraknya hanya sekitar 110 kilometer dari Taiwan. China menyebut langkah itu “sangat berbahaya” karena dinilai memperburuk ketegangan dan memicu perlombaan militer di kawasan—di tengah hubungan kedua negara yang semakin memburuk.
Namun, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi punya pandangan berbeda. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Minggu, ia mengatakan penempatan rudal di Pulau Yonaguni justru diperlukan untuk mencegah potensi serangan terhadap Jepang.
Melansir South China Morning Post, dalam kunjungannya ke Yonaguni pada Sabtu, Koizumi menegaskan bahwa persiapan penempatan rudal permukaan-ke-udara jarak menengah berjalan sesuai rencana. Yonaguni—pulau kecil yang berpenduduk sekitar 1.700 orang—adalah titik terdekat Jepang ke Taiwan, sekaligus lokasi pangkalan Pasukan Bela Diri Jepang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang memperkuat pertahanan wilayah ini karena khawatir dengan semakin agresifnya langkah militer China di kawasan.
Pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan langkah Tokyo tersebut “secara sengaja memperburuk ketegangan regional dan memicu konfrontasi militer.” Ia juga menyebutnya selaras dengan pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tentang kemungkinan campur tangan militer Jepang jika Taiwan diserang.
Komentar Koizumi muncul di tengah hubungan yang semakin memburuk, menyusul pernyataan Takaichi awal bulan ini bahwa serangan China ke Taiwan dapat menjadi “situasi yang mengancam keberlangsungan Jepang.” Dengan begitu, Jepang berpotensi menurunkan pasukan militer bersama Amerika Serikat.
Meski China berulang kali memprotes, Takaichi menolak menarik ucapannya.
Sebagai respons, Beijing menghentikan rencana pembukaan kembali impor seafood Jepang, membatasi kerja sama antar pemerintah, memperingatkan warganya untuk tidak belajar atau bepergian ke Jepang, dan memperingatkan bahwa China akan membalas jika Tokyo ikut campur dalam konflik Taiwan.
Bagi China, Taiwan adalah bagian dari wilayahnya dan dapat “dipersatukan kembali dengan kekuatan bila diperlukan”. Sebagian besar negara—termasuk Jepang dan Amerika Serikat—tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Namun AS menentang setiap upaya pengambilalihan Taiwan dengan kekuatan dan berkomitmen memasok senjata ke Taipei.
Mao juga menuduh bahwa “kekuatan sayap kanan Jepang” tengah berusaha keluar dari batasan konstitusi damai negara itu dan “mendorong Jepang dan kawasan ke arah bencana.”
Ia menambahkan: “China tidak akan pernah membiarkan militerisme Jepang bangkit kembali. Kami punya tekad dan kemampuan untuk mempertahankan kedaulatan teritorial kami.”
Di saat yang sama, Beijing meningkatkan aktivitas militernya. Angkatan Laut PLA dari Komando Teater Timur melakukan latihan pada Sabtu, sementara latihan lain di Laut Kuning yang dimulai pertengahan November masih berlangsung hingga 7 Desember.
Terkait penempatan rudal di Yonaguni, Koizumi menolak anggapan bahwa langkah itu memperburuk situasi, dan menyebut narasi tersebut “tidak akurat.”
Ia menolak menjawab pertanyaan apakah Yonaguni akan menjadi bagian dari strategi pertahanan Jepang jika konflik Taiwan pecah, dengan alasan pertanyaan itu masih “teoretis”.
Media lokal Jepang melaporkan bahwa Tokyo berencana membangun bunker untuk sekitar 200 orang di bawah balai kota Yonaguni dan mengubah ruang parkir bawah tanah di Miyakojima sebagai tempat perlindungan bagi hingga 500 orang. Miyakojima juga menjadi pusat fasilitas militer, termasuk penyimpanan amunisi. Sementara Camp Ishigaki, kurang dari 300 km dari Taiwan, sudah dilengkapi rudal anti-kapal.
Baik Jepang maupun AS telah lama memiliki pangkalan besar di pulau Okinawa, lebih ke utara.
Yonaguni merupakan titik terakhir dari rantai Kepulauan Ryukyu, yang membentang sekitar 1.200 km dari daratan Jepang.
Selama dua bulan terakhir, Korps Marinir AS mengirim bantuan medis dan peralatan mitigasi bencana ke Yonaguni. Menurut laporan Naval News pekan lalu, langkah itu bagian dari strategi “first island chain” yang bertujuan membendung pengaruh militer China di wilayah Pasifik Barat.
Seorang analis militer China menilai Jepang kini telah meningkatkan risiko konflik langsung.
“Ketika PLA melakukan latihan pengepungan di sekitar Taiwan, kapal dan pesawat kami pasti akan melewati dekat Yonaguni,” kata Fu Qianshao, analis militer dan mantan anggota Angkatan Udara PLA.
Ia menambahkan, “Jika Jepang menggunakan kekuatan militer untuk ikut campur dalam urusan Taiwan, pangkalan dan sistem pertahanan mereka akan menjadi target serangan pertama kami.”
Dolar AS Tak Goyah, Meski Ekspektasi Suku Bunga The Fed Menguat
Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada Selasa (25/11/2025), ketika investor menimbang peluang Federal Reserve memangkas suku bunga pada bulan depan setelah sejumlah komentar dovish dari para pejabat bank sentral.
Sementara itu, yen Jepang tetap tertekan dan berada dalam sorotan potensi intervensi.
Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan kondisi pasar tenaga kerja cukup lemah untuk mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember.
Namun, keputusan setelah itu masih bergantung pada banyak data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintah AS.
Komentar Waller sejalan dengan pernyataan Presiden The Fed New York John Williams pada Jumat lalu, sehingga memicu kenaikan ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan 81% peluang pemangkasan suku bunga pada Desember, melonjak dari 42% sepekan lalu.
“Ada fokus intens pada sikap setiap voter The Fed dan pandangan mereka terkait pemangkasan suku bunga Desember,” ujar Chris Weston, Head of Research Pepperstone.
Menurutnya, ketidakpastian semakin besar karena The Fed belum menerima data ekonomi lengkap yang biasanya menjadi dasar keputusan kebijakan.
“Mungkin yang paling tidak diketahui adalah pandangan Ketua The Fed Jerome Powell. Namun secara keseimbangan, Powell bisa saja mendukung pemangkasan Desember,” lanjut Weston.
Dolar stabil, euro dan sterling menguat tipis
Pergeseran ekspektasi suku bunga membuat dolar sedikit melemah. Euro diperdagangkan di level US$ 1,1522, sementara poundsterling berada di US$ 1,3103. Indeks dolar bergerak di kisaran 100,2 pada awal perdagangan.
Pejabat The Fed sendiri masih terbelah mengenai langkah selanjutnya, apalagi bank sentral belum memperoleh data lengkap setelah lembaga statistik AS mengejar ketertinggalan pasca-penutupan pemerintah selama 43 hari yang berakhir 14 November.
Weston menilai, mempertahankan suku bunga pada Desember bisa menjadi sinyal yang tidak selaras dengan kondisi pasar tenaga kerja yang rapuh dan ekspektasi inflasi AS yang cenderung menurun.
Hubungan AS–China mencair
Sentimen investor turut didukung oleh tanda-tanda membaiknya hubungan AS–China. Presiden AS Donald Trump menyebut hubungan dengan China “sangat kuat” setelah melakukan panggilan telepon dengan Presiden Cina, Xi Jinping.
Panggilan tersebut tidak dijadwalkan sebelumnya dan terjadi hanya beberapa minggu setelah keduanya bertemu di Korea Selatan, di mana mereka sepakat pada kerangka dasar perjanjian dagang yang masih menunggu finalisasi.
Yen melemah, pasar menunggu intervensi
Meski dolar melemah, yen Jepang justru tetap tertekan dan diperdagangkan di sekitar 156,95 per dolar, mendekati level terendah 10 bulan di 157,90.
Pelaku pasar menunggu potensi intervensi pemerintah Jepang setelah nilai tukar yen telah melemah sekitar 10 yen sejak awal Oktober, bersamaan dengan kebijakan fiskal dovish di bawah Perdana Menteri baru, Sanae Takaichi.
Analis memperkirakan intervensi bisa terjadi ketika yen bergerak di rentang 158–162 per dolar, meskipun efektivitasnya diragukan.
“Kami menilai level 160 yen per dolar dapat menjadi batas yang memicu intervensi,” ujar Matthew Ryan, Kepala Strategi Pasar Ebury.
Dolar Australia dan Selandia Baru stabil, Bitcoin masih tertekan
Dolar Selandia Baru bergerak di US$ 0,5607, setelah turun lebih dari 2% sepanjang bulan ini menjelang keputusan suku bunga bank sentral Selandia Baru pada Rabu, yang diekspektasikan memangkas suku bunga.
Dolar Australia berada di level US$ 0,6461 pada awal perdagangan.
Di pasar kripto, Bitcoin masih tertekan dan terakhir turun 0,8% di US$ 88.085, atau sudah melemah hampir 20% sepanjang bulan ini.
Siap-Siap! Elon Musk Ramalkan Pekerjaan Akan Punah dalam 20 Tahun
Elon Musk membayangkan masa depan di mana pekerjaan bukan lagi kewajiban. Berbicara di US-Saudi Investment Forum di Washington D.C., Musk mengatakan bahwa dalam 10–20 tahun ke depan, bekerja akan menjadi pilihan. Hal ini mirip hobi berkebun sayur di halaman rumah: lebih rumit, tapi dilakukan karena suka.
“Kalau kamu ingin bekerja, itu seperti memilih menanam sayur sendiri meski kamu bisa membelinya di toko,” kata Musk. “Kerja akan seperti main game atau olahraga—opsional.”
Mengutip Fortune, menurut Musk, perubahan ini akan terjadi berkat jutaan robot yang akan mengisi dunia kerja dan menciptakan efisiensi besar-besaran. Ia bahkan membayangkan 80% valuasi Tesla suatu hari nanti berasal dari robot humanoid Optimus, meski hingga kini produksinya masih tertunda.
Namun pandangan futuristik ini tidak disambut semua orang dengan optimisme. Banyak ekonom dan pengamat melihat tanda-tanda bahwa otomatisasi justru mulai menghapus pekerjaan level pemula dan memperburuk ketimpangan. Ini terutama bagi Generasi Z yang sudah menghadapi pasar kerja sulit serta stagnasi pendapatan.
Musk mengutip inspirasi dari novel fiksi ilmiah karya Iain M. Banks tentang masyarakat pascakemiskinan yang hidup tanpa uang dan tanpa pekerjaan tradisional. Ia percaya, jika AI dan robot terus berkembang, uang suatu hari “tidak lagi relevan.” Tahun lalu, Musk bahkan menyebut ide universal high income sebagai mekanisme untuk menopang masyarakat tanpa pekerjaan wajib, mirip dengan gagasan universal basic income yang didorong Sam Altman.
Namun para ekonom meragukan timeline Musk. Kendati AI berkembang cepat, adopsi robot fisik masih lambat karena mahal dan sulit diproduksi dalam skala besar. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa sejak ChatGPT dirilis 2022, dampak otomatisasi terhadap pasar tenaga kerja global belum terlalu besar.
Ada juga tantangan sosial: jika miliaran orang tidak lagi bekerja, siapa yang akan membayar mereka? Dan lebih jauh lagi, apa yang memberi hidup makna ketika pekerjaan bukan lagi bagian dari identitas?
Peneliti mengingatkan bahwa pekerjaan bukan sekadar soal uang. Banyak hubungan sosial, struktur hidup, dan rasa tujuan muncul dari rutinitas kerja. Musk sendiri mengakui ada dilema eksistensial di masa depan:
“Kalau robot bisa melakukan segalanya lebih baik dari manusia, apakah hidup kita masih punya makna?”
Xi JInping Warning Trump: Isu Taiwan Tak Bisa Ditawar
Presiden China, Xi Jinping, kembali menekan isu sensitif Taiwan dalam sambungan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (224/11/2025). Dalam percakapan itu, Xi juga menekankan pentingnya menjaga momentum gencatan dagang yang rapuh antara kedua negara.
Mengutip AFP, Kementerian Luar Negeri China menyebutkan bahwa selain Taiwan, percakapan juga menyentuh isu Ukraina. Namun, Taiwan menjadi fokus utama, terutama karena China tengah berseteru dengan Jepang, sekutu utama AS, dalam beberapa pekan terakhir terkait pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut.
China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Xi mengatakan kepada Trump bahwa “kembalinya Taiwan” merupakan bagian penting dari tatanan dunia pascaperang, yang menurutnya terbentuk dari perjuangan bersama China dan Amerika melawan “fasisme dan militerisme”.
“Melihat perkembangan situasi saat ini, semakin penting bagi kita untuk bersama-sama menjaga kemenangan Perang Dunia II,” kata Xi.
Ketegangan diplomatik antara Beijing dan Tokyo bermula setelah Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, menyatakan Jepang bisa saja terlibat secara militer jika China menyerang Taiwan.
AS memang tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat, namun Washington menjadi mitra utama sekaligus pemasok senjata terbesar Taiwan.
Trump, dalam unggahan media sosial setelah panggilan telepon itu, memuji hubungan AS–China yang dinilainya “sangat kuat”, namun ia tidak menyinggung soal Taiwan.
Menurut Kementerian Luar Negeri China, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat “memahami betapa pentingnya isu Taiwan bagi China”.
Trump juga memastikan akan berkunjung ke China pada April mendatang, sementara Xi dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Washington pada 2026.
Arah Pembicaraan Dagang
Panggilan telepon ini dilakukan setelah keduanya bertemu pada akhir Oktober—pertemuan pertama sejak 2019—yang banyak dibahas publik karena berkaitan dengan negosiasi dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Pertikaian dagang Washington–Beijing mencakup segala hal mulai dari rare earth (logam tanah jarang), kedelai, hingga tarif pelabuhan, dan telah mengganggu pasar serta rantai pasokan global selama berbulan-bulan.
Dalam pertemuan di Korea Selatan, keduanya mencapai kesepakatan sementara: Beijing akan menangguhkan pembatasan ekspor mineral penting selama satu tahun.
China memiliki posisi dominan dalam penambangan dan pemrosesan logam tanah jarang—komponen penting dalam industri elektronik, otomotif, hingga pertahanan.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan menurunkan tarif barang dari China, sementara Beijing berjanji membeli setidaknya 12 juta ton kedelai AS hingga akhir tahun ini, dan 25 juta ton pada 2026.
Dalam percakapan Senin itu, Xi mengatakan kerja sama ekonomi AS–China harus “tetap berlanjut”. Ia menyebut pertemuan di Korea Selatan sebagai momen penting yang “mengoreksi arah kapal besar hubungan China–AS agar tetap stabil.”
Sejak pertemuan itu, kata Xi, hubungan kedua negara menunjukkan arah yang “lebih stabil dan positif” dan itu diapresiasi baik oleh kedua negara maupun komunitas internasional.
Trump pun menunjukkan nada optimistis.
“Sejak pertemuan di Korea, kemajuan yang signifikan telah dicapai. Sekarang kita bisa fokus pada gambaran yang lebih besar,” katanya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan Washington berharap bisa merampungkan kesepakatan pasokan mineral penting dengan China sebelum libur Thanksgiving minggu ini.
Selain isu Taiwan dan perdagangan, perang Ukraina juga menjadi agenda penting. Trump tengah mengupayakan kesepakatan damai baru—yang dikritik sebagian pihak karena dianggap terlalu mengakomodasi kepentingan Rusia dan mengorbankan Ukraina.
China tetap mempertahankan posisi sebagai pihak netral. Dalam panggilan telepon itu, Xi kembali menyatakan dukungan pada upaya mengakhiri perang.
Menurut Beijing, Xi berharap pihak-pihak terkait bisa mempersempit perbedaan, mencapai kesepakatan damai yang “adil, tahan lama, dan mengikat”, serta menyelesaikan akar penyebab konflik.
Analis Wall Street: Investor Sedang Mabuk AI — dan Ini Bisa Berakhir Tragis
Albert Edwards, Global Strategist dari Société Générale, memberi peringatan keras soal kondisi pasar saham Amerika saat ini. Menurutnya, reli pasar yang sebagian besar digerakkan oleh saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) sedang menciptakan sebuah gelembung berbahaya yang bisa berakhir buruk.
Mengutip Benzinga, Edwards, yang dikenal sebagai analis dengan pandangan bearish, membandingkan kondisi saat ini dengan gelembung dot-com akhir 1990-an. Dalam wawancaranya dengan Fortune, ia menunjuk valuasi perusahaan teknologi yang melambung, bahkan ada yang diperdagangkan lebih dari 30 kali proyeksi laba ke depan, sebagai alarm paling jelas bahwa pasar sedang berada dalam gelembung.
Namun, menurut Edwards, ada perbedaan besar dibanding gelembung sebelumnya: ekonomi saat ini sangat bergantung pada narasi AI, bukan hanya dalam investasi korporasi, tetapi juga dalam belanja konsumen.
Belanja itu sebagian besar didorong oleh kelompok kaya, yakni sekitar 20% populasi teratas, yang belanjanya jauh melebihi kondisi normal. Ini, katanya, membuat ekonomi lebih rapuh dibanding era gelembung sebelumnya.
Edwards mengakui reputasinya sebagai pemberi alarm kadang benar, kadang meleset. Akan tetapi ia tetap yakin kondisi kali ini patut diwaspadai. Ia menegaskan bahwa AS belum mengalami resesi sejak 2008, dan tekanan dari ekspansi panjang itu justru memperkuat kecemasannya.
“Biasanya ketika pasar sedang digerakkan gelembung, orang tidak mau mendengar karena mereka sedang menghasilkan banyak uang,” ujar Edwards.
Peringatan Edwards muncul saat semakin banyak suara yang mempertanyakan reli pasar saham AS yang ditopang sektor teknologi dan AI. Investor dan penulis Ruchir Sharma baru-baru ini mengatakan bahwa ketergantungan ekonomi AS pada AI bisa berujung pecahnya gelembung AI.
Selama lima hari perdagangan terakhir, indeks S&P 500 turun 1,65%, sementara NASDAQ turun 2,26%, tergelincir karena aksi jual saham teknologi, meskipun Nvidia mencatatkan kinerja yang luar biasa.
Dalam periode yang sama, saham Nvidia turun 3,90%, dan CEO Jensen Huang dikabarkan kecewa dengan respons pasar yang dianggap tidak sebanding dengan hasil perusahaan.
Di sisi lain, Bill Gates mengakui bahwa ada elemen gelembung di sektor AI, tetapi menurutnya kondisinya belum sebanding dengan gelembung besar dalam sejarah. Sementara itu analis Wedbush, Dan Ives, menegaskan:
“Ini bukan gelembung AI. Kinerja Nvidia yang luar biasa dan permintaan besar untuk Blackwell/Rubin menjadi fokus utama kami, bukan aksi jual ini.”
Kanada Dekat Finalisasi Kontrak Ekspor Uranium US$2,8 Miliar ke India
Kanada dan India dilaporkan hampir mencapai kesepakatan ekspor uranium senilai sekitar US$2,8 miliar, menurut laporan Globe and Mail pada Senin (24/11/2025), mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Apabila disepakati, kontrak itu akan berlaku selama 10 tahun, dengan pasokan uranium akan disediakan oleh perusahaan energi nuklir Kanada, Cameco Corp.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kerja sama ini kemungkinan menjadi bagian dari kemitraan nuklir yang lebih luas antara kedua negara.
Baik pemerintah India, Kementerian Perdagangan India, pemerintah Kanada, maupun Kementerian Perdagangan Kanada belum memberikan komentar atas permintaan klarifikasi dari Reuters.
Reuters juga belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Pertemuan bilateral terbaru antara kedua negara terjadi pada Minggu di sela-sela KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, ketika Perdana Menteri Kanada Mark Carney bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi.
Pemerintah India pada hari yang sama menyatakan bahwa kedua negara sepakat untuk menghidupkan kembali perundingan perjanjian dagang yang sempat terhenti selama dua tahun akibat ketegangan diplomatik.
“Para pemimpin sepakat memulai kembali negosiasi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang berambisi tinggi, dengan target melipatgandakan perdagangan bilateral menjadi US$50 miliar pada 2030,” demikian pernyataan Kantor Perdana Menteri India.
Krisis Chip Murah dari Tiongkok Kacaukan Industri Mobil Dunia
Sebuah pabrik kecil di kawasan industri selatan Tiongkok mendadak menjadi titik krusial yang mengguncang industri otomotif global. Pabrik milik produsen chip Belanda, Nexperia, itu memicu kekacauan baru pada pasokan semikonduktor. Padahal para produsen mobil sebelumnya bersumpah tidak akan lagi terjebak dalam krisis seperti era pandemi.
Setelah kekacauan chip pada 2020 dan kebakaran pabrik di Jepang setahun kemudian, banyak produsen mobil mengklaim telah memperkuat rantai pasok mereka. Tetapi mereka tidak pernah membayangkan bahwa chip sederhana—yang harganya hanya sebagian kecil dari satu sen, bisa berubah menjadi senjata geopolitik.
“Tidak ada yang bersiap menghadapi gangguan geopolitik. Bahkan sekarang, sebagian besar masih belum siap,” kata Ambrose Conroy, CEO Seraph Consulting yang selama ini menangani klien pabrikan otomotif kepada Reuters.
Masalah bermula ketika pemerintah Belanda mengambil alih kendali Nexperia pada akhir September karena khawatir teknologi perusahaan tersebut bisa dialihkan ke pemiliknya dari Tiongkok, Wingtech. Beijing langsung merespons keras: ekspor chip dari pabrik Nexperia di Dongguan dihentikan total.
Belanda akhirnya melunak pekan lalu—tanda bahwa ada negosiasi atau solusi baru yang sedang berjalan.
Chip-chip dari pabrik Dongguan itu dipakai untuk berbagai fungsi dasar pada mobil modern, mulai dari sistem rem hingga tombol jendela elektrik. Meski nilainya sangat kecil, kekurangannya memaksa Nissan dan Honda memangkas produksi, sementara Bosch terpaksa memotong jam kerja di beberapa pabriknya.
Wawancara dengan sejumlah eksekutif dan pelaku industri menunjukkan pola yang sama: stok chip tipis, pemasok sangat terbatas, dan rantai pasok belum benar-benar diversifikasi setelah krisis chip sebelumnya.
Seorang akademisi Tiongkok bahkan menyindir langkah Belanda: “Mereka pikir sudah mengambil alih Nexperia. Padahal yang mereka kuasai hanya gedung kantor. Operasionalnya tetap di tangan Tiongkok,” kata Li Xing dari Guangdong Institute for International Strategies.
Artinya jelas: bahkan pada chip kelas menengah dan murah, industri global masih sangat bergantung pada Tiongkok.
Wingtech membantah bahwa langkah pemerintah Belanda diperlukan dan menyebut krisis ini justru bukti bahwa memecah perusahaan multinasional hanya akan memperburuk rantai pasok global.
Sebagian produsen chip domestik baru menerima pasokan lagi pada akhir Oktober, itupun dengan syarat baru: pembayaran harus dilakukan dalam yuan. Itu perubahan besar karena sebelumnya transaksi dilakukan menggunakan dolar atau euro.
Akibatnya, chip yang sudah selesai diproduksi sempat menumpuk di pabrik karena sistem pembayaran belum siap.
Situasinya mulai membaik baru-baru ini, terutama setelah pertemuan Trump dan Xi Jinping di Seoul. Setelah itu, Tiongkok membuka sebagian izin ekspor chip Nexperia, tepat ketika beberapa pemasok Eropa nyaris menghentikan produksi karena kehabisan stok.
Tidak semua pabrikan kelabakan. Toyota, misalnya, sudah menerapkan kebijakan stok chip beberapa bulan sejak bencana gempa Jepang 2011. Dan itu terbukti menyelamatkan mereka.
Banyak orang mengira chip bisa dengan mudah diganti dengan produk serupa dari pemasok lain. Kenyataannya jauh lebih rumit. Chip Nexperia dipasang permanen dalam modul listrik, sehingga mengganti komponen berarti uji sertifikasi ulang yang bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga satu tahun.
Hella, salah satu pemasok besar komponen elektronik otomotif, mengaku sedang mencari pemasok alternatif. Namun proses sertifikasi jauh lebih lama dari perkiraan awal.
Banyak analis menilai industri mobil sudah lupa pelajaran dari pandemi: rantai pasok yang terlalu ramping dan sangat bergantung pada satu wilayah membuat industri ini rapuh. Tetapi memperbaikinya juga bukan hal sederhana. Biaya untuk membangun pasokan alternatif sangat besar, baik dari sisi finansial maupun waktu.
Atau seperti yang dikatakan seorang analis:
“Semua orang akan mulai bicara lagi soal diversifikasi dan ketahanan. Sampai mereka sadar betapa mahalnya itu semua.”