News Komoditi & Global ( Senin, 13 April 2026 )
News Komoditi & Global
( Senin, 13 April 2026 )
Harga Emas Global Melemah saat Minyak Melonjak, Ketegangan AS–Iran Redam Harapan Pemotongan Suku Bunga The Fed
Harga Emas (XAU/USD) bergerak sedikit setelah dibuka dengan gap bawah, melayang di sekitar $4.670 per troy ons selama perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Logam yang tidak berimbal hasil ini kesulitan karena kenaikan harga energi memicu risiko inflasi, mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) AS dan bank-bank sentral besar lainnya.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) membuka minggu ini dengan gap bullish, naik sekitar 8,5%, dan diperdagangkan di sekitar $98,00 per barel pada saat berita ini ditulis. Lonjakan terbaru harga minyak ini terutama didorong oleh eskalasi ulang konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan Washington akan mulai memblokade semua kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz setelah pengumuman kegagalan perundingan damai AS-Iran di Islamabad. Selain itu, Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS mengatakan pasukan akan mulai memblokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada pukul 10 pagi ET (14:00 GMT/21:00 WIB) hari Senin.
Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang panas pada hari Jumat memperkuat sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama. Bureau of Labor Statistics (BLS) AS melaporkan bahwa IHK tahunan naik menjadi 3,3% pada bulan Maret dari 2,4% pada bulan Februari, sesuai dengan ekspektasi. Pada basis bulanan, IHK naik 0,9% setelah sebelumnya 0,3%. Sementara itu, IHK inti naik 0,2% bulan-ke-bulan dan 2,6% tahun-ke-tahun.
Harga Minyak Dunia Melonjak Dipicu Blokade Hormuz
Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level US$100 per barel pada perdagangan awal pekan, Senin (13/4/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kenaikan ini dipicu rencana blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS) setelah perundingan damai dengan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan, Angkatan Laut AS akan mulai melakukan blokade di jalur strategis tersebut, yang selama ini menjadi rute sekitar 20% pasokan energi global.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat naik US$7,60 atau 7,98% menjadi US$102,80 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$8,31 atau 8,61% ke level US$104,88 per barel.
Analis menilai pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, bahkan dengan risiko yang lebih besar.
“Pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, dengan tambahan risiko karena AS akan memblokir aliran minyak Iran hingga sekitar 2 juta barel per hari melalui Selat Hormuz,” ujar Saul Kavonic, analis MST Marquee.
Langkah blokade ini dinilai berpotensi memperparah gangguan pasokan minyak global. Selain membatasi ekspor Iran, kebijakan tersebut juga dapat menghambat distribusi minyak dari produsen kawasan Teluk Persia.
Analis ANZ Brian Martin dan Daniel Hynes menyebut, situasi ini akan memperburuk disrupsi pasokan yang sudah terjadi di pasar.
Di sisi lain, analis IG Tony Sycamore menilai langkah AS dapat menekan aliran minyak Iran secara signifikan dan memaksa negara-negara mitra Teheran untuk mendorong pembukaan kembali jalur tersebut.
Ketegangan meningkat setelah Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.
Meski demikian, data pelayaran menunjukkan tiga supertanker bermuatan penuh sempat melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, menjadi kapal pertama yang keluar dari kawasan Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan.
Namun, pada Senin, aktivitas pelayaran terlihat sangat minim, dengan hanya satu kapal berbendera Iran yang terpantau berada di area tersebut.
Di tengah situasi ini, Arab Saudi menyatakan telah memulihkan kapasitas penuh penyaluran minyak melalui pipa East-West hingga sekitar 7 juta barel per hari, setelah sebelumnya terdampak serangan dalam konflik Iran.
Lonjakan harga minyak ini meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global serta potensi perlambatan ekonomi jika gangguan pasokan berlanjut.
Blokade AS terhadap Iran Berisiko Picu Eskalasi Militer Baru
Rencana Amerika Serikat (AS) untuk memblokade Iran dinilai sebagai operasi militer besar yang berpotensi memicu aksi balasan dari Teheran dan menekan gencatan senjata yang sudah rapuh, menurut para analis.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokade seluruh kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz, setelah perundingan damai di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Namun, United States Central Command (CENTCOM) kemudian menyatakan bahwa blokade hanya berlaku untuk kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran, termasuk di Teluk Persia dan Teluk Oman.
Melansir Reuters, operasi ini dijadwalkan mulai berlaku pada Senin pukul 10.00 waktu Washington (14.00 GMT).
Trump juga menegaskan bahwa kapal yang membayar biaya kepada Iran tetap bisa menjadi target, bahkan jika berada di perairan internasional.
Langkah ini bertujuan menekan Iran agar menghentikan pembatasan akses di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Meski demikian, para ahli menilai blokade tersebut pada dasarnya merupakan tindakan perang yang membutuhkan komitmen besar dalam jangka panjang.
“Ini bukan solusi cepat. Operasi seperti ini sulit dijalankan sendiri dan berpotensi tidak berkelanjutan dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Dana Stroul, mantan pejabat senior Pentagon.
Sejauh ini, militer AS belum merinci jumlah kapal perang yang akan dikerahkan atau apakah akan melibatkan pesawat tempur serta dukungan sekutu di kawasan Teluk.
Analis menilai, dengan kekuatan armada yang cukup, AS memang dapat menghalangi kapal tanker yang mengangkut minyak Iran.
Namun, muncul pertanyaan krusial: apakah AS siap menyita atau bahkan menenggelamkan kapal yang melanggar blokade, termasuk jika membawa minyak untuk negara besar seperti China atau mitra strategis seperti India dan Korea Selatan?
Laksamana purnawirawan Gary Roughead memperingatkan bahwa Iran berpotensi merespons dengan menyerang kapal di Teluk atau infrastruktur energi negara-negara yang menjadi tuan rumah pasukan AS.
“Saya yakin Iran akan memberikan respons jika ini benar-benar dilakukan,” ujarnya.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, ancaman terhadap jalur pelayaran telah mendorong harga minyak global melonjak sekitar 50%.
Trump sendiri mengakui bahwa harga minyak dan bahan bakar kemungkinan tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu di AS pada November mendatang. Kondisi ini berisiko menekan dukungan publik terhadap pemerintahannya.
Di sisi lain, sejumlah politisi AS mempertanyakan efektivitas strategi tersebut. Senator Mark Warner menilai Iran masih bisa mengganggu jalur pelayaran dengan kapal cepat atau ranjau laut.
“Bagaimana langkah ini bisa menurunkan harga bahan bakar?” ujarnya.
Trump juga membuka kemungkinan melanjutkan serangan militer ke wilayah Iran, termasuk menargetkan fasilitas produksi rudal.
Meski serangan militer AS dan sekutunya telah melemahkan kekuatan Iran, analis menilai Teheran tetap menjadi tantangan besar dengan kepemimpinan yang semakin keras dan cadangan uranium yang signifikan.
Trump memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kapal AS atau kapal sipil akan dibalas keras.
Sebaliknya, Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa kehadiran kapal militer di sekitar Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak tegas.
Para ahli menilai, krisis ini tidak bisa diselesaikan hanya melalui tekanan militer.
“Dalam jangka panjang, solusi tetap harus melalui diplomasi dan kemauan politik internasional,” kata Stroul.
Trump Blokade Selat Hormuz, Jalur Utama Ekspor Minyak Iran Terancam Terputus
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa AS akan memblokade Selat Hormuz setelah negosiasi damai dengan Iran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Langkah ini berpotensi memperparah kekurangan pasokan minyak dan bahan bakar global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor energi dunia.
“Mulai berlaku segera, Angkatan Laut AS akan memulai proses blokade terhadap seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di media sosial dilansir dari laman Bloomberg Senin (13/4/2026).
Kebijakan ini secara efektif akan memutus jalur utama ekspor minyak Iran.
Negosiasi selama 21 jam antara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan pejabat tinggi Iran, yang dimediasi Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung enam pekan.
Kegagalan tersebut membuat gencatan senjata yang baru disepakati pekan lalu menjadi tidak pasti, sekaligus meningkatkan risiko eskalasi konflik.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling vital di dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global melewati wilayah tersebut.
Blokade penuh akan semakin menekan pasar minyak global dengan membatasi sisa pengiriman yang masih berlangsung.
Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi memutus sumber pendapatan utama Iran dari ekspor minyak, yang selama ini tetap berjalan relatif stabil meskipun konflik berlangsung dan justru diuntungkan oleh lonjakan harga minyak.
Harga minyak global telah naik sekitar 30% sejak konflik dimulai, bahkan beberapa kargo fisik diperdagangkan di atas US$ 140 per barel akibat terbatasnya pasokan.
Trump menyebut blokade ini pada akhirnya bertujuan untuk memulihkan arus pelayaran normal di Selat Hormuz.
“Ini soal semua atau tidak sama sekali. Akan ada waktu ketika semuanya kembali berjalan normal,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Ia juga mengindikasikan bahwa sekutu AS dapat ikut terlibat dalam operasi ini, termasuk Inggris yang disebut akan mengirim kapal penyapu ranjau.
Namun, laporan menyebutkan Inggris belum berencana terlibat langsung dalam blokade tersebut.
Di sisi lain, Iran menyebut tuntutan AS dalam negosiasi terlalu berlebihan. Meski demikian, Teheran masih membuka peluang untuk melanjutkan pembicaraan di masa mendatang.
Sejumlah analis menilai blokade ini sebagai strategi untuk menekan pendapatan Iran tanpa harus melakukan operasi militer langsung yang berisiko tinggi, seperti merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Namun, langkah tersebut tetap mengandung risiko besar, terutama jika dilakukan langsung di Selat Hormuz yang berada dalam jangkauan militer Iran.
Sejak konflik dimulai, Iran menjadi satu-satunya negara Teluk yang masih mampu mengekspor minyak mendekati level sebelum perang, dengan volume sekitar 1,7 juta barel per hari pada Maret.
Trump juga menuding praktik pungutan yang dilakukan Iran terhadap kapal sebagai bentuk “pemerasan global” dan menegaskan bahwa kapal yang membayar biaya tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan di perairan internasional.
Dolar AS Menguat di Tengah Gagalnya Negosiasi, Blokade Pelabuhan Iran Mulai Berlaku
Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam sepekan pada awal perdagangan Asia, Senin (13/4/2026), seiring meningkatnya sentimen risk-off setelah negosiasi damai antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Penguatan dolar juga dipicu rencana militer AS untuk memulai blokade terhadap pelabuhan Iran, yang meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Melansir Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik hingga 0,5% ke level 99,187. Angka ini merupakan posisi tertinggi sejak 7 April lalu.
Di sisi lain, mata uang utama lainnya melemah terhadap dolar. Euro turun 0,5% ke level US$ 1,1667, sementara poundsterling Inggris terkoreksi 0,6% ke US$ 1,3383.
Mata uang berbasis komoditas juga tertekan, dengan dolar Australia melemah 0,8% ke US$ 0,7014 dan dolar Selandia Baru turun 0,7% ke US$ 0,5798.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu (12/4) menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memberlakukan blokade di Selat Hormuz setelah pembicaraan panjang dengan Iran gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Langkah tersebut berpotensi mengganggu gencatan senjata sementara yang baru berlangsung dua pekan.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyebutkan bahwa implementasi blokade akan dimulai pukul 10.00 waktu setempat (14.00 GMT) pada Senin, dengan sasaran seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.
Analis Westpac dalam catatannya menyebut, kondisi pasar valuta asing pada awal perdagangan menunjukkan sentimen penghindaran risiko (risk-off).
“Perdagangan yang masih tipis di awal sesi Asia mencerminkan suasana risk-off, dengan penguatan dolar AS secara luas sebagai respons,” tulis mereka.
Perundingan Damai AS-Iran Gagal, Delegasi Tinggalkan Islamabad Tanpa Kesepakatan
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari enam minggu berakhir tanpa kesepakatan.
Pembicaraan maraton selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (12/4/2026) gagal menghasilkan solusi, sehingga mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh.
Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan negosiasi yang bertujuan menghentikan perang yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu lonjakan harga minyak global.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi negaranya, menyatakan bahwa tidak tercapainya kesepakatan merupakan kabar buruk, terutama bagi Iran. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menyampaikan “garis merah” yang jelas dalam perundingan tersebut.
Menurut Vance, Iran menolak memenuhi tuntutan utama AS, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Ia menekankan bahwa tujuan utama Presiden Donald Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir dalam waktu singkat.
Di sisi lain, media Iran menyebut tuntutan AS sebagai “berlebihan”. Sejumlah isu memang sempat mencapai titik temu, namun perbedaan utama tetap berkisar pada program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembicaraan berlangsung dalam suasana saling tidak percaya. Ia menilai tidak realistis mengharapkan kesepakatan dalam satu putaran negosiasi.
Selain isu nuklir, Teheran juga menuntut pencabutan pembekuan aset di luar negeri, pembayaran reparasi perang, serta kontrol atas Selat Hormuz, termasuk hak memungut biaya transit. Namun, pejabat AS membantah telah menyetujui pencairan aset Iran yang dibekukan.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menegaskan pentingnya mempertahankan gencatan senjata dua pekan yang telah disepakati sebelumnya guna meredakan konflik yang dimulai sejak 28 Februari.
Sementara itu, pejabat keamanan Israel Zeev Elkin menyebut peluang negosiasi lanjutan masih terbuka, namun memperingatkan bahwa Iran “sedang bermain api”.
Meskipun negosiasi gagal, sejumlah aktivitas pelayaran mulai terlihat. Data pengiriman menunjukkan tiga kapal tanker besar bermuatan penuh berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak gencatan senjata diberlakukan.
Namun, ratusan kapal tanker lainnya masih tertahan dan menunggu kepastian keamanan untuk melanjutkan perjalanan. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global, sehingga gangguan di kawasan ini berdampak langsung pada pasar energi dunia.
Di tengah berlangsungnya negosiasi, Presiden Trump menyampaikan pernyataan yang terkesan kontradiktif. Ia menyebut kesepakatan bukanlah hal yang mutlak karena Amerika Serikat telah “menang”.
Delegasi AS dalam perundingan ini juga melibatkan utusan khusus Steve Witkoff serta penasihat senior Jared Kushner. Sementara dari pihak Iran hadir Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Di tengah kebuntuan diplomatik, konflik di kawasan tetap berlanjut. Israel terus melancarkan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon, yang didukung Iran. Serangan udara dilaporkan menghantam peluncur roket di wilayah selatan Beirut.
Di sisi lain, sirene peringatan serangan udara kembali terdengar di wilayah perbatasan Israel akibat peluncuran roket dari Lebanon.
Dengan kegagalan negosiasi ini, prospek perdamaian masih belum jelas. Ketidakpastian di Selat Hormuz dan eskalasi konflik regional berpotensi terus menekan pasar energi global serta meningkatkan risiko geopolitik dalam waktu dekat.
AS-Iran Gagal Damai, Dolar Melonjak dan Pasar Global Kian Bergejolak
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada awal perdagangan Asia, Senin (12/4/2026), seiring meningkatnya permintaan aset safe haven setelah perundingan damai antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Melansir Reuters, penguatan dolar dipicu meningkatnya ketidakpastian global, yang kini memasuki pekan ketujuh sejak konflik memanas.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global.
Penutupan jalur ini oleh Iran sejak awal konflik telah mendorong harga minyak melonjak lebih dari 30% dan memicu kekhawatiran lonjakan inflasi global.
Di pasar valuta asing, euro tercatat melemah 0,53% ke level US$ 1,1663, sementara dolar AS juga menguat 0,1% terhadap yen Jepang ke level 159,43.
Di sisi lain, kontrak berjangka saham AS turun lebih dari 1% pada perdagangan akhir pekan, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik.
Sebelumnya, pasar sempat optimistis setelah pengumuman gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran pada 7 April.
Sentimen tersebut mendorong indeks S&P 500 pulih dan memangkas hampir seluruh kerugian sejak awal konflik.
Namun, rapuhnya kesepakatan tersebut membuat investor kembali menarik dana dari aset berisiko dan beralih ke dolar serta minyak.
Analis senior City Index Fiona Cincotta mengatakan, pasar saat ini tengah mengalami pembalikan sentimen secara cepat.
“Optimisme menjelang perundingan damai kini berbalik menjadi aksi berburu aset aman seperti dolar, sementara harga minyak melonjak dan aset lain tertekan,” ujarnya.
Mata uang berisiko seperti dolar Australia dan poundsterling turut tertekan, masing-masing turun 1,1% dan 0,5%.
Seiring meningkatnya ekspektasi inflasi, pelaku pasar mulai memperkirakan bank sentral global seperti European Central Bank dan Bank of England berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini, berbanding terbalik dengan ekspektasi sebelum konflik yang memperkirakan suku bunga tetap atau turun.
Sementara itu, pasar saham global yang sempat menguat pekan lalu masih berada sekitar 2% di bawah level sebelum perang pecah.
Menariknya, harga emas justru turun sekitar 10% sejak akhir Februari, karena investor saat ini lebih memilih dolar sebagai aset lindung nilai utama.
Analis MST Marquee Saul Kavonic menilai, pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, dengan tambahan risiko baru dari potensi blokade AS terhadap aliran minyak terkait Iran.
“Pertanyaan utama saat ini adalah apakah AS akan kembali melancarkan serangan ke Iran, yang dapat memperluas dampak terhadap infrastruktur energi kawasan,” ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, Trump juga mengakui harga minyak dan bensin kemungkinan akan tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu November mendatang, menandakan dampak ekonomi konflik yang masih akan berlanjut.
IMF dan Bank Dunia Waspadai Dampak Perang Iran, Ekonomi Global Tertekan
Para pejabat keuangan global akan berkumpul di Washington pekan ini di tengah meningkatnya kekhawatiran atas dampak perang di Timur Tengah, yang kini menjadi guncangan besar ketiga bagi ekonomi dunia setelah pandemi COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Situasi geopolitik yang dipicu konflik antara Iran dan Israel telah mendorong lembaga keuangan internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank untuk merevisi proyeksi pertumbuhan global ke bawah sekaligus menaikkan perkiraan inflasi, terutama akibat lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok.
Sebelum perang pecah pada 28 Februari, IMF dan World Bank sempat memperkirakan pemulihan ekonomi global akan menguat, bahkan di tengah kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak tahun lalu. Namun, eskalasi konflik terbaru telah mengubah prospek tersebut secara signifikan.
Bank Dunia kini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara berkembang hanya mencapai 3,65% pada 2026, turun dari estimasi sebelumnya sebesar 4%. Dalam skenario terburuk jika perang berlanjut, pertumbuhan bahkan dapat merosot hingga 2,6%.
Sementara itu, inflasi di negara berkembang diperkirakan naik menjadi 4,9% pada 2026, jauh lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 3%, dan dapat melonjak hingga 6,7% dalam kondisi ekstrem.
International Monetary Fund juga memperingatkan bahwa sekitar 45 juta orang tambahan berpotensi mengalami kerawanan pangan akut jika perang terus mengganggu distribusi pupuk dan rantai pasokan pangan global.
Di sisi lain, negara berkembang menghadapi tekanan berat akibat tingginya beban utang. IMF memperkirakan kebutuhan bantuan darurat jangka pendek dapat mencapai US$20 miliar hingga US$50 miliar, terutama untuk negara berpendapatan rendah dan negara pengimpor energi.
Sementara itu, World Bank menyatakan dapat memobilisasi hingga US$25 miliar dalam jangka pendek melalui instrumen krisis, dan hingga US$70 miliar dalam enam bulan jika diperlukan.
Presiden World Bank Ajay Banga menyebut kondisi saat ini sebagai “guncangan terhadap sistem” yang membutuhkan kepemimpinan kuat. Ia menegaskan bahwa dunia sebenarnya telah memiliki pengalaman menghadapi krisis besar sebelumnya, namun tekanan kali ini berbeda karena kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi.
Sementara itu, ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia—Amerika Serikat dan Tiongkok—serta melemahnya koordinasi dalam Group of Twenty semakin menyulitkan respons global terhadap krisis ini. Bahkan, perbedaan sikap antaranggota G20 membuat konsensus kebijakan semakin sulit dicapai.
Para ekonom menilai pernyataan kesiapan IMF dan World Bank untuk mendukung negara terdampak juga bertujuan menenangkan pasar dan mencegah arus keluar modal dari negara-negara berkembang.
Sejumlah analis menilai negara berkembang kini menghadapi kondisi yang lebih rapuh dibanding beberapa tahun lalu, dengan tingkat utang yang tinggi, cadangan devisa terbatas, dan ruang fiskal yang sempit.
Krisis ini dikhawatirkan dapat menjebak banyak negara dalam siklus utang jangka panjang, di mana pendapatan negara lebih banyak terserap untuk pembayaran utang dibandingkan investasi di sektor pendidikan, kesehatan, dan pembangunan.
Perdana Menteri Kanada Stop Setoran 70% Anggaran Militer ke Amerika Serikat
Pemerintah Kanada mengambil langkah drastis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan pertahanan nasionalnya. Dalam sebuah pidato krusial, ditegaskan bahwa era di mana militer Kanada mengirimkan 70 persen dari setiap dolar anggaran pertahanan ke Amerika Serikat (AS) telah resmi berakhir.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengungkapkan hal ini dalam pidato Konvensi Nasional Liberal 2026, pada 12 April 2026, yang diunggah di akun youtube pribadinya. Sebagai gantinya, pemerintah Kanada akan menerapkan kebijakan "Beli Produk Kanada" secara otomatis untuk setiap pengeluaran anggaran federal.
"Kami akan membangun Kanada yang kuat dengan baja Kanada, aluminium Kanada, kayu Kanada, dan yang terpenting, pekerja Kanada," tegas Carney dalam pidato tersebut.
Langkah ini merupakan respons pragmatis di tengah tatanan internasional yang mulai runtuh dan ancaman kebijakan tarif luar negeri yang diterapkan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
Tidak tanggung-tanggung, PM Carney mengklaim Kanada telah mengumumkan 14 inisiatif pembangunan bangsa yang didukung oleh investasi baru dengan nilai melampaui US$ 100 miliar atau setara dengan Rp 1.570 triliun.
Proyek ini diproyeksikan bakal menyerap lebih dari setengah juta lapangan kerja. Selain itu, strategi industri pertahanan baru diharapkan mampu mengkatalisasi investasi hingga setengah triliun dolar atau US$ 500 miliar, yang akan memperkuat sektor kedirgantaraan hingga pengembangan Kecerdasan Buatan (AI), sekaligus menciptakan 125.000 lapangan kerja baru.
Di sektor perdagangan, PM Kanada menyatakan, pihaknya menargetkan diversifikasi pasar dengan ambisi menggandakan ekspor non-AS dalam satu dekade ke depan. Nilainya mencapai US$ 300 miliar dalam bentuk pesanan baru untuk sumber daya dan barang-barang manufaktur Kanada.
Guna mendanai ambisi besar ini, pemerintah melakukan penghematan anggaran pembayar pajak sebesar $60 miliar melalui peningkatan produktivitas birokrasi.
Di saat yang sama, beban masyarakat kelas menengah diringankan melalui pemotongan pajak bagi 22 juta warga dan peluncuran Program Bantuan Bahan Makanan untuk 12 juta warga yang paling terdampak inflasi.
Sektor pariwisata domestik juga melaporkan performa gemilang dengan rekor baru:
Pertama, Peningkatan 50.000 perjalanan kereta api. Kedua, Kenaikan kunjungan taman nasional sebesar 13%. Ketiga Lonjakan kunjungan museum nasional hingga 15%.
Menghadapi transformasi teknologi, Kanada berkomitmen untuk mengelola AI agar tidak hanya menguntungkan segelintir pihak.
Fokus utamanya adalah penerapan AI dalam layanan kesehatan untuk memangkas waktu tunggu, serta efisiensi di sektor pemerintahan.
Langkah berani ini menandai kembalinya semangat ambisius Kanada untuk memetakan jalur mandiri—dari pembangunan koridor perdagangan baru di McKenzie Valley hingga misi ruang angkasa ke bulan.
"Kita tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan nilai-nilai kita. Kita juga membangun nilai dari kekuatan kita," pungkas nya.
Trump Serang Paus Leo, Kritik Keras Soal Kejahatan dan Kebijakan Luar Negeri
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo pada Minggu (12/4/2026), menyusul perbedaan pandangan terkait kebijakan luar negeri dan imigrasi.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut Paus Leo “lemah dalam menangani kejahatan” serta “buruk dalam kebijakan luar negeri”.
Serangan tersebut muncul setelah Paus Leo, yang dikenal berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan publik, mengkritik sejumlah kebijakan Trump, termasuk terkait perang antara AS-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Paus Leo menilai, ancaman Trump untuk “menghancurkan peradaban Iran” sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.
Selain itu, ia juga menyerukan perlunya refleksi mendalam terhadap kebijakan penanganan migran di AS di bawah pemerintahan Trump.
Menanggapi kritik tersebut, Trump meminta Paus Leo untuk “membenahi diri sebagai pemimpin Gereja”, dan dalam pernyataan kepada wartawan menyebut dirinya bukan penggemar pemimpin Vatikan tersebut.
Pernyataan saling kritik ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara pemimpin politik dan tokoh agama di tengah dinamika geopolitik global yang memanas.
Iran tak Gentar Diancam Trump dengan Blokade Selat Hormuz
Iran menyatakan tak akan tunduk pada gertakan Presiden AS Donald Trump memblokade Selat Hormuz. Perunding utama negara itu, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan AS sedari awal memang telah mencoba menggagalkan kesepakatan.
“Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun,” kata Qalibaf dilaporkan media pemerintah. Ia menyatakan Iran mempunyai inisiatif yang sangat baik untuk menunjukkan niat baik dalam perundingan dengan AS sehingga menghasilkan kemajuan dalam perundingan.
Qalibaf mengatakan ancaman baru Donald Trump tidak akan berdampak pada bangsa Iran. "Kalau AS melawan ya kami lawan, dan kalau maju dengan logika, kami hadapi dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apapun, biarkan mereka menguji kemauan kami sekali lagi agar kita bisa memberikan pelajaran yang lebih besar kepada mereka," ujarnya.
Ghalibaf yang juga ketua Parlemen Iran, juga mengingatkan Gedung Putih tentang kenaikan harga minyak di AS. “Nikmati angka di pom bensin saat ini,” tulisnya. “Dengan apa yang disebut ‘blokade’, Anda akan segera merindukan gas senilai 4–5 dolar AS.”
Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa perundingan kemarin antara AS dan Iran sebenarnya hampir mencapai kesepakatan pada beberapa titik, namun akhirnya gagal karena AS “menggeser tujuan.”
“Dalam pembicaraan intensif pada tingkat tertinggi dalam 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan itikad baik untuk mengakhiri perang,” tulisnya. "Tetapi ketika hanya beberapa senti saja dari 'MoU Islamabad', kami dihadapkan sikap maksimalisme, pergeseran tujuan, dan blokade. Tidak ada pelajaran yang diambil AS. Niat baik menghasilkan niat baik. Permusuhan menimbulkan permusuhan."
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa kesepakatan dengan AS dapat dicapai jika “pemerintah Amerika meninggalkan totalitarianismenya.” “Jika pemerintah Amerika meninggalkan totalitarianismenya dan menghormati hak-hak bangsa Iran, pasti akan ada cara untuk mencapai kesepakatan,” tulis Pezeshkian.
Pernyataannya menyusul percakapan telepon sebelumnya yang dilakukan Pezeshkian dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Ahad, di mana ia dilaporkan mengatakan bahwa Teheran siap mencapai kesepakatan untuk menjamin “perdamaian regional yang abadi”, asalkan kepentingan nasional Iran dihormati.
Donald Trump mengatakan AS akan mulai memblokir Selat Hormuz dalam upaya untuk mengambil kendali jalur air strategis dari Iran setelah kegagalan negosiasi perdamaian antara negara-negara di Pakistan. Presiden AS juga mengancam akan mengebom fasilitas pengolahan air serta pembangkit listrik dan jembatan Iran, mengulangi ancaman sebelumnya, jika Teheran tidak setuju untuk meninggalkan program nuklirnya.
Pengumuman Trump yang mengejutkan mengenai blokade terjadi setelah perundingan perdamaian tatap muka selama 21 jam antara AS dan Iran di Islamabad gagal pada Ahad pagi. JD Vance, wakil presiden dan ketua tim AS, mengatakan Iran menolak melepaskan kemungkinan mengembangkan senjata nuklir, sementara delegasi Iran mengatakan Washington perlu berbuat lebih banyak untuk mendapatkan kepercayaan mereka.
Militer Amerika Serikat menyatakan akan mulai menutup Selat Hormuz seperti yang diancam Trump pada Senin pagi waktu AS.
Komando Pusat militer AS (CENTCOM) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan mulai menerapkan blokade “semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran” pada 13 April, mulai pukul 10.00 waktu AS bagian timur EST atau pukul 21.00 WIB. “Ini sesuai dengan pernyataan Presiden”.
“Blokade akan diberlakukan secara tidak memihak terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” kata CENTCOM.
“Pasukan CENTCOM tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal yang transit di Selat Hormuz ke dan dari pelabuhan non-Iran,” bunyi pernyataan itu.