News Komoditi & Global ( Kamis, 5 Maret 2026 )
News Komoditi & Global
( Kamis, 5 Maret 2026 )
Harga Emas Dunia Naik Tipis pada Hari Keenam
Perang Iran vs AS-Israel
Harga emas dunia naik tipis di tengah konflik Iran vs AS-Israel dan kekhawatiran inflasi AS, mencapai US$5.154,66 per ounce pada 5 Maret 2026. Harga emas dunia hari ini kembali naik saat konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian pada hari keenam. Selain itu, harga logam mulia ini juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terkait inflasi AS. Dilansir Bloomberg, Kamis (5/3/2026), harga emas batangan mendekati US$5.150 per ounce pada awal perdagangan usai naik 1% pada sesi sebelumnya. Harga emas di pasar spot naik 0,3% ke US$5.154,66 per ounce pada pukul 7.19 pagi waktu Singapura. Sementara perak menguat 0,1% ke US$8367. Para investor sedang mencari aset yang lebih aman karena pasukan AS dan Israel terus membombardir Iran. Negara Republik Islam itu pun menembakkan rudal ke beberapa negara di Kawasan Timur Tengah dan menyerang infrastruktur energi yang penting. Presiden Donald Trump menyatakan keyakinannya pada kampanye militer Amerika dan AS menenggelamkan kapal perang Iran di perairan internasional. Teheran menolak laporan bahwa Kementerian Intelijennya telah menghubungi Washington untuk menegosiasikan pengakhiran konflik sebagai kebohongan belaka.
AS Hancurkan Kapal Perang Iran di Lepas Pantai Sri Lanka, "Dekat Indonesia" China Amankan Cadangan Minyak di Tengah Perang AS-Iran, Hingga 1,5 miliar Barel! Sementara itu, kekhawatiran tentang inflasi sebagian diredakan oleh data yang menunjukkan bahwa ekonomi jasa AS berkembang dengan laju tercepat sejak pertengahan 2022, didorong oleh pertumbuhan pesanan yang kuat dan aktivitas bisnis.
Harga Minyak Global Bertahan di Level Tinggi Seiring Meningkatnya Krisis Iran
Harga minyak ditutup stagnan pada Rabu (4/3/2026), karena meningkatnya serangan AS dan Israel terhadap Iran memperluas ketegangan regional dan melumpuhkan pengiriman melalui Selat Hormuz untuk hari kelima, mengganggu aliran minyak dan gas vital di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup pada US$ 81,40 per barel, stabil dibandingkan penutupan Selasa dan berada di level tertinggi sejak Januari 2025.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup 10 sen, atau 0,1%, lebih tinggi pada US$ 74,66, ditutup di level tertinggi sejak Juni untuk hari kedua berturut-turut.
"Harga minyak tetap tinggi karena pasar bergulat dengan prospek perang yang berkepanjangan dan gangguan pasokan yang masih ada," kata Nikos Tzabouras, Analis Pasar Senior di Tradu.com.
“AS telah memberi sinyal kampanye selama empat hingga lima minggu, Iran berupaya untuk meregionalisasi konflik dan jalur penting Selat Hormuz secara efektif tertutup. Perkembangan ini dapat membalikkan dinamika penawaran-permintaan yang sebelumnya tidak menguntungkan, mendorong harga minyak mentah lebih tinggi dan membawa ‘ambang batas $100’ ke dalam pandangan,” tambah Tzabouras.
Patokan Brent telah naik lebih dari US$ 3 menjadi US$ 84,48 dalam perdagangan pagi, mendekati level tertinggi multi-bulan, tetapi diperdagangkan lebih rendah setelah New York Times melaporkan bahwa agen dari Kementerian Intelijen Iran memberi sinyal keterbukaan kepada Badan Intelijen Pusat AS untuk pembicaraan tentang mengakhiri perang, mengutip pejabat yang diberi pengarahan tentang masalah tersebut.
Pada hari Rabu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan AS memenangkan perang melawan Iran dan bahwa militer AS dapat berperang selama diperlukan. Pasukan Israel dan AS telah menyerang target di seluruh Iran, yang memicu serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi di wilayah yang menyumbang hampir sepertiga dari produksi minyak global.
Irak, produsen minyak mentah terbesar kedua di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), telah memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari karena keterbatasan penyimpanan dan kurangnya jalur ekspor, kata para pejabat kepada Reuters.
Mereka mengatakan negara itu mungkin harus menutup hampir 3 juta barel per hari produksi dalam beberapa hari jika ekspor tidak dilanjutkan. Lalu lintas melalui Selat juga tetap tertutup secara efektif.
Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa mengatakan Angkatan Laut AS dapat mulai mengawal kapal tanker minyak melalui selat tersebut jika perlu, menambahkan bahwa ia telah memerintahkan International Development Finance Corporation (IDFC) AS untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan untuk perdagangan maritim di Teluk.
Pentagon dan Departemen Energi AS sedang mengerjakan rencana untuk mengamankan Selat Hormuz guna memastikan keselamatan kapal tanker minyak di tengah perang melawan Iran, kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada hari Rabu, menambahkan bahwa Trump dan para penasihatnya juga sedang membahas peran apa yang dapat dimainkan AS di Iran setelah kampanye militer.
Sementara itu, berbagai negara dan perusahaan telah mulai mencari rute alternatif dan pasokan minyak mentah. India dan india mengatakan mereka sedang mencari pasokan lain, sementara beberapa kilang minyak Tiongkok menutup atau mempercepat rencana pemeliharaan.
Di AS, stok minyak mentah naik 3,5 juta barel dalam seminggu terakhir ke level tertinggi dalam tiga setengah tahun, menurut Badan Informasi Energi, dibandingkan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan 2,3 juta barel. Stok bensin AS turun 1,7 juta barel, sementara stok distilat, yang meliputi solar dan minyak pemanas, naik 429.000 barel dalam seminggu.
"Pasokan global tetap melimpah dengan tingkat penyimpanan tanker 'di atas air' yang mendekati rekor. Namun, sampai minyak tersebut dapat menemukan tempat yang aman, perkirakan volatilitas harga akan terus berlanjut," kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial.
Wall Street Naik Ditopang Harapan Diplomasi Iran, Sektor Teknologi Memimpin Rebound
Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (4/3/2026), setelah ada kabar bahwa Iran memberi sinyal keterbukaan untuk berunding. Janji Presiden AS Donald Trump untuk menstabilkan pasar minyak juga meredakan kecemasan investor tentang konflik Timur Tengah.
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 238,14 poin, atau 0,49% ke level 48.739,41, S&P 500 naik 52,87 poin, atau 0,78% ke level 6.869,50 dan Nasdaq Composite naik 290,79 poin, atau 1,29%, menjadi 22.807,48.
Investor kembali berbondong-bondong membeli saham teknologi, mengangkat Nasdaq sebesar 1,29% dan menjaga indeks yang didominasi teknologi tersebut tetap positif sejak serangan AS-Israel terhadap Iran yang memicu konflik di Timur Tengah.
S&P 500 tetap mendekati rekor penutupan tertinggi sepanjang masa pada bulan Januari, juga dibantu oleh laporan positif tentang ekonomi AS.
Sebuah laporan New York Times mengatakan bahwa agen intelijen Iran secara tidak langsung menghubungi CIA sehari setelah serangan tersebut, tetapi para pejabat AS tetap skeptis bahwa pemerintahan Trump atau Iran siap untuk de-eskalasi dalam waktu dekat.
Pengumuman Trump tentang pengawalan angkatan laut AS untuk kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dan asuransi risiko politik juga membawa sedikit kelegaan.
Pengumuman Gedung Putih mengurangi kekhawatiran akan gangguan besar di pasar minyak yang dapat menaikkan harga energi dan menekan inflasi, kata Jim Awad, direktur pelaksana senior di Clearstead Advisors LLC di New York.
Menurutnya, kabar baik ini memberi investor kepercayaan untuk membeli saham-saham terkait teknologi yang mengalami penurunan tajam pada bulan Februari dan harganya murah dibandingkan beberapa minggu lalu.
"Kombinasi itu memberi pasar optimisme, yang akan diuji dalam beberapa minggu mendatang," kata Awad.
"Saatnya untuk bersikap realistis dan tidak terbawa suasana, baik terlalu optimis maupun terlalu pesimis."
Richard Bernstein, kepala eksekutif Richard Bernstein Advisors mengatakan, prospek perang yang memicu inflasi tambahan adalah salah satu alasan utama volatilitas pasar di masa mendatang.
"Jika orang berpikir perang akan berlangsung singkat atau 'bukan masalah' bagi ekonomi AS, maka pasar saham kemungkinan akan menguat," katanya.
"Sebaliknya juga tampaknya benar. Perang yang berlangsung lama dan berdampak pada ekonomi AS dapat berarti volatilitas yang lebih besar."
Indeks VIX — 'pengukur ketakutan' Wall Street, yang melacak volatilitas pasar saham yang diharapkan — turun menjadi sekitar 21, turun sekitar 10% pada hari itu, menandakan bahwa para pedagang memperkirakan gejolak jangka pendek yang lebih sedikit meskipun ada konflik.
Sejak serangan udara akhir pekan lalu, Nasdaq naik 0,61% dan indeks saham perusahaan kecil Russell '2000 naik 0,42%. S&P 500 turun 0,14% dan Dow Jones turun -0,49% minggu ini.
Sektor energi memimpin penurunan pada S&P 500 pada hari Rabu karena saham-saham yang telah naik dalam beberapa hari terakhir karena kekhawatiran kenaikan harga minyak berbalik arah. Saham Exxon Mobil ditutup turun 1,3% dan saham ConocoPhillips turun 2,42%.
Beberapa negara Timur Tengah telah menghentikan sementara produksi minyak dan gas dan AS berupaya memperluas kampanyenya di Iran.
Harga minyak tetap tidak berubah pada hari Rabu di akhir sesi perdagangan yang bergejolak. Minyak mentah Brent ditutup pada $81,40 per barel, stabil dibandingkan penutupan Selasa dan berada pada level tertinggi sejak Januari 2025.
Aktivitas ekonomi AS sedikit meningkat, harga terus naik, dan tingkat pekerjaan stabil dalam beberapa minggu terakhir, kata Federal Reserve pada hari Rabu dalam sebuah laporan, yang juga menunjukkan ekspektasi ekonomi optimis.
Sementara itu, survei swasta menunjukkan penggajian swasta meningkat lebih dari yang diperkirakan pada bulan Februari, sementara laporan terpisah menunjukkan aktivitas jasa yang kuat.
Saham perusahaan farmasi Moderna naik 16% setelah setuju untuk membayar hingga $ 2,25 miliar untuk menyelesaikan perselisihan hukum yang berkepanjangan atas paten vaksin COVID-19.
Menebak Arah Suku Bunga The Fed, Hawkish atau Dovish?
Para pembuat kebijakan di Federal Reserve diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuan pada pertemuan 17–18 Maret mendatang, sama seperti keputusan yang diambil pada Januari lalu.
Saat ini, suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat berada pada kisaran 3,50%–3,75%.
Para pejabat The Fed memiliki pandangan yang berbeda terkait arah kebijakan moneter ke depan. Dalam istilah kebijakan moneter, mereka sering dikelompokkan menjadi “dove” dan “hawk”.
Kelompok dove cenderung lebih khawatir terhadap risiko pelemahan pasar tenaga kerja dan biasanya lebih terbuka terhadap pemangkasan suku bunga lebih cepat.
Sebaliknya, kelompok hawk lebih fokus pada ancaman inflasi dan cenderung berhati-hati terhadap penurunan suku bunga.
Mengutip Reuters, Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan risiko penurunan inflasi dan pelemahan pasar tenaga kerja masih perlu diperhatikan.
Menurutnya, meski kondisi ekonomi saat ini relatif stabil, potensi risiko tersebut masih tetap ada.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menilai kebijakan moneter saat ini sudah berada di posisi yang tepat.
Ia mengatakan inflasi memang masih menjadi perhatian, namun kebijakan yang ada dinilai sudah cukup untuk menghadapinya.
Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia, Patrick Harker, juga menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menunggu dan melihat perkembangan ekonomi sebelum mengambil langkah lanjutan.
Beberapa pejabat lain mengambil sikap yang lebih berhati-hati.
Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan masih terlalu dini untuk menyatakan kemenangan dalam mengendalikan inflasi.
Ia menilai kebijakan moneter perlu tetap fokus menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan kondisi ketenagakerjaan tetap kuat.
Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, menilai suku bunga kemungkinan masih perlu dipertahankan pada level saat ini untuk beberapa waktu.
Sementara Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan pemangkasan suku bunga pada 2026 masih mungkin terjadi, tetapi sebaiknya tidak dilakukan terlalu cepat sebelum ada bukti jelas inflasi menuju target.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa bank sentral masih menunggu data ekonomi tambahan sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Ia mengatakan inflasi masih berada di atas target The Fed, sehingga bank sentral perlu berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan.
Sementara itu, Gubernur The Fed Michael Barr menilai perkembangan inflasi saat ini akan sangat memengaruhi arah inflasi di masa depan.
Dalam proyeksi yang dirilis pada Desember lalu, median perkiraan pejabat The Fed menunjukkan kemungkinan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase hingga akhir 2026.
Struktur pemungutan suara di Federal Open Market Committee (FOMC) juga turut memengaruhi arah kebijakan.
Tujuh gubernur The Fed, termasuk ketua dan wakil ketua, memiliki hak suara permanen pada setiap rapat FOMC yang digelar delapan kali dalam setahun.
Sementara itu, 12 presiden bank sentral regional ikut berdiskusi dalam rapat, tetapi hanya lima yang memiliki hak suara setiap tahun, termasuk presiden Federal Reserve Bank of New York dan empat presiden lainnya yang bergantian.
Ke depan, dinamika pandangan antara pejabat yang cenderung dovish dan hawkish akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah suku bunga Amerika Serikat.
Trump Ancam Embargo Spanyol, Imbas Penolakan Pangkalan Militernya untuk Perang Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (3/3/2026) mengancam akan memberlakukan embargo perdagangan penuh terhadap Spanyol setelah negara sekutu Uni Eropa dan NATO itu menolak mengizinkan militer AS menggunakan pangkalannya untuk misi terkait serangan terhadap Iran.
“Spanyol sangat buruk,” kata Trump kepada wartawan saat pertemuan dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Ia menambahkan telah meminta Menteri Keuangan Scott Bessent untuk “menghentikan semua hubungan dagang” dengan Spanyol.
“Kami akan memutus seluruh perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin berurusan dengan Spanyol,” ujarnya.
AS sebelumnya memindahkan 15 pesawat, termasuk pesawat tanker pengisian bahan bakar, dari pangkalan militer Rota dan Moron di Spanyol selatan setelah pemerintah Sosialis negara itu menegaskan tidak akan mengizinkan pangkalan tersebut digunakan untuk menyerang Iran.
Trump kembali menyinggung penolakan Spanyol untuk memenuhi desakan AS agar seluruh anggota NATO meningkatkan belanja pertahanan hingga 5% dari produk domestik bruto (PDB).
Ia juga menyatakan, “Spanyol sama sekali tidak memiliki apa pun yang kami butuhkan.”
“Saya punya hak untuk menghentikan seluruh bisnis yang berkaitan dengan Spanyol. Embargo melakukan apa pun yang saya inginkan dan kami mungkin akan melakukannya,” kata Trump, seraya kembali menyuarakan kekecewaannya terhadap putusan Mahkamah Agung bulan lalu yang menyatakan tarif global luasnya melanggar hukum darurat nasional.
Merz mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan bahwa ia telah menyampaikan secara pribadi kepada Trump bahwa Spanyol tidak dapat dikecualikan dari kesepakatan dagang yang dicapai antara Brussel dan Washington tahun lalu.
“Saya katakan bahwa Spanyol adalah anggota Uni Eropa dan kami bernegosiasi soal tarif dengan Amerika Serikat hanya bersama-sama atau tidak sama sekali,” ujarnya.
“Tidak ada cara untuk memperlakukan Spanyol secara khusus lebih buruk.”
Trump secara terbuka meminta pendapat Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer terkait kemungkinan penghentian perdagangan dengan Spanyol.
Bessent menyatakan Mahkamah Agung telah menegaskan kewenangan embargo presiden berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA), dan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) serta Departemen Perdagangan akan mulai menyelidiki opsi sanksi lain di bawah undang-undang perdagangan.
Namun, Jennifer Hillman, profesor hukum perdagangan di Georgetown University, mengatakan Mahkamah Agung tidak secara langsung membahas kewenangan presiden untuk memberlakukan embargo perdagangan berdasarkan IEEPA.
Trump memang dapat melakukannya, tetapi harus terlebih dahulu mendeklarasikan keadaan darurat nasional atas Spanyol sebagai ancaman “tidak biasa dan luar biasa” bagi AS.
Peter Shane, profesor hukum di New York University, menilai sulit membenarkan bahwa penolakan Spanyol mengizinkan penggunaan pangkalan udara untuk menyerang Iran dapat dianggap sebagai ancaman luar biasa terhadap keamanan nasional atau kebijakan luar negeri AS.
Pemerintah Spanyol menyatakan dalam pernyataan resmi bahwa AS harus menghormati otonomi bisnis swasta, hukum internasional, serta perjanjian perdagangan bilateral antara AS dan Uni Eropa.
Madrid menegaskan memiliki sumber daya yang cukup untuk meredam dampak potensi embargo dan mendukung sektor-sektor terdampak, namun tetap akan mendorong perdagangan bebas dan kerja sama ekonomi dengan mitra internasionalnya.
Spanyol merupakan eksportir minyak zaitun terbesar di dunia serta menjual suku cadang otomotif, baja, dan bahan kimia ke AS.
Meski demikian, negara itu dinilai relatif kurang rentan terhadap ancaman hukuman ekonomi Trump dibanding sejumlah negara Eropa lainnya.
Data Biro Sensus AS menunjukkan AS mencatat surplus perdagangan dengan Spanyol selama empat tahun berturut-turut hingga 2025, sebesar US$4,8 miliar, dengan ekspor AS mencapai US$26,1 miliar dan impor US$21,3 miliar.
Ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) AS ke Spanyol juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Merz mengatakan tekanan dari dalam Eropa terus diberikan kepada Spanyol untuk meningkatkan belanja pertahanan.
“Kami berusaha meyakinkan Spanyol agar menyusul ke level 3% atau 3,5% seperti yang telah disepakati di NATO,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa isu belanja pertahanan tidak terkait langsung dengan negosiasi perdagangan.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, salah satu dari sedikit pemimpin berhaluan kiri yang tersisa di Eropa, sebelumnya juga memicu kemarahan Trump melalui sejumlah kebijakan, termasuk menolak mengizinkan kapal pengangkut senjata ke Israel berlabuh di Spanyol.
Perang Iran Lumpuhkan 21.300 Penerbangan, Industri Aviasi Rugi Miliaran Dolar
Industri penerbangan dan pariwisata global kelimpungan menghadapi dampak konflik udara yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Lebih dari 20.000 penerbangan dibatalkan dalam beberapa hari terakhir, sementara pemerintah berbagai negara bergegas mengevakuasi warganya dari kawasan Timur Tengah.
Sejumlah hub penerbangan utama di Teluk, termasuk Dubai International Airport bandara internasional tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional masih ditutup atau beroperasi secara sangat terbatas selama empat hari berturut-turut.
Data Flightradar24 menunjukkan sekitar 21.300 penerbangan dibatalkan di tujuh bandara utama, termasuk Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, sejak serangan dimulai.
Situasi ini mengacaukan perjalanan di kawasan yang selama ini berkembang sebagai pusat bisnis global dan tengah berupaya melakukan diversifikasi ekonomi dari ketergantungan pada minyak.
Konflik tersebut juga mempersempit koridor penerbangan jarak jauh antara Eropa dan Asia, sehingga mempersulit operasional maskapai global.
Maskapai-maskapai Teluk seperti Emirates, flydubai, dan Etihad Airways mulai mengoperasikan penerbangan terbatas sejak awal pekan ini, terutama untuk memulangkan penumpang yang terdampar.
Di Amerika Serikat, Delta Air Lines menghentikan sementara rute New York–Tel Aviv hingga 22 Maret dan menawarkan opsi penjadwalan ulang bagi pelanggan terdampak hingga 31 Maret.
Sementara itu, perusahaan kargo FedEx menyatakan menerapkan langkah kontinjensi untuk operasionalnya di Timur Tengah.
Pemerintah Uni Emirat Arab menyebutkan sebanyak 60 penerbangan telah diberangkatkan melalui koridor udara darurat, dengan rencana menambah lebih dari 80 penerbangan pada tahap berikutnya.
Amerika Serikat juga menyiapkan penerbangan militer dan charter untuk mengevakuasi warganya.
Gejolak ini turut mengguncang pasar saham. Di Eropa, saham maskapai seperti Lufthansa dan Air France-KLM ditutup melemah 5% hingga 8%.
Di Asia, saham Japan Airlines anjlok 6,4%, sementara Korean Air merosot 10,3%, penurunan terbesar sejak Maret 2020.
Lonjakan harga minyak akibat konflik semakin menekan sektor ini. Harga minyak acuan global telah naik sekitar 30% sepanjang tahun ini, berpotensi meningkatkan biaya avtur yang merupakan komponen biaya terbesar kedua maskapai setelah tenaga kerja.
Sebagian besar maskapai AS sudah lama tidak melakukan lindung nilai (hedging) bahan bakar.
Dalam laporan tahunannya, Delta menyebutkan bahwa setiap kenaikan satu sen harga avtur per galon dapat menambah beban biaya tahunan sekitar US$40 juta.
Kenaikan 10% harga avtur diperkirakan bisa menambah biaya hingga US$1 miliar pada 2026.
Meski demikian, beberapa maskapai memiliki strategi lindung nilai yang lebih kuat. CEO Ryanair menyatakan perusahaannya telah melakukan hedging untuk 12 bulan ke depan pada kisaran US$67 per barel, sehingga fluktuasi harga minyak terbaru dinilai tidak akan berdampak signifikan pada kinerja perusahaan.
Selain penerbangan penumpang, gangguan juga menjalar ke sektor kargo udara karena banyak maskapai penumpang mengangkut barang di ruang kargo pesawat mereka.
Analis memperkirakan jika konflik berlarut-larut, kawasan Timur Tengah berpotensi kehilangan miliaran dolar dari sektor pariwisata.
Permintaan terhadap rute alternatif melonjak, dengan harga tiket naik signifikan untuk jalur seperti Hong Kong–London.
Ketidakpastian ini memperlihatkan betapa rentannya industri aviasi global terhadap ketegangan geopolitik di kawasan yang menjadi simpul utama konektivitas dunia.
Perang Iran Jadi Ujian Baru Ketahanan Ekonomi Amerika Serikat (AS)
Ekonomi Amerika Serikat (AS) yang selama setahun terakhir mampu bertahan dari guncangan perdagangan, imigrasi, dan berbagai tekanan lain kini menghadapi ujian baru.
Keputusan Presiden Donald Trump melancarkan serangan terbuka tanpa batas waktu terhadap Iran, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Islamis yang telah lama berkuasa di negara itu, meningkatkan ketidakpastian global.
Serangan balasan mulai terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah. Trump menyebut konflik ini bisa berlangsung setidaknya beberapa pekan.
Melansir Reuters Selasa (3/3/2026), para analis kini mencermati berbagai kemungkinan dampak, mulai dari lonjakan harga minyak hingga gangguan jalur pelayaran global.
Harga minyak sempat melonjak dari kisaran US$70 menjadi hampir US$80 per barel pada akhir pekan sebelum kembali sedikit melemah.
Aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital distribusi energi dunia mulai terganggu.
Meski AS relatif lebih terlindungi dari guncangan energi dibanding banyak negara maju lain berkat produksi minyak dan gas domestik, dampak global terhadap perdagangan, harga, dan investasi berpotensi kembali menekan prospek pertumbuhan yang sebelumnya cukup optimistis untuk tahun ini.
Survei terbaru Conference Board menunjukkan kepercayaan CEO terhadap prospek ekonomi AS dan sektor masing-masing meningkat.
Namun hampir 60% responden menilai ketegangan geopolitik sebagai risiko besar yang dapat mengganggu stabilitas.
Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya menggambarkan prospek ekonomi AS sebagai “kuat”, namun penilaian itu kini diuji oleh konflik tak terduga di kawasan produsen minyak utama dunia.
Joseph Lupton, ekonom JPMorgan menilai, pemulihan yang mulai terlihat di awal tahun kini berada dalam risiko.
“Salah satu pilar proyeksi 2026 kami adalah memudarnya kehati-hatian terhadap kebijakan AS. Data awal tahun menunjukkan bisnis mulai kembali merekrut dan meningkatkan belanja modal non-teknologi. Pemulihan awal ini kini terancam,” tulisnya.
Menurutnya, perang militer yang terjadi bersamaan dengan “perang dagang” AS dapat kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas global.
Dampak terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) akan sangat bergantung pada sejauh mana konflik mendorong kenaikan harga minyak dan apakah konflik meluas secara regional atau berubah menjadi konflik internal di Iran, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara.
Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memberikan preseden serupa. Saat itu, respons awal bank sentral AS cenderung dovish sebelum akhirnya kembali agresif menaikkan suku bunga akibat lonjakan inflasi.
Tim Duy, kepala ekonom AS di SGH Macro Advisors, menyebut konflik Iran sebagai “wild card”. Menurutnya, pasar bisa cepat kehilangan perhatian jika konflik berubah menjadi persoalan internal Iran.
Namun Presiden dan CEO SGH Sassan Ghahramani memperingatkan, kemungkinan perang saudara di Iran atau eskalasi taktis yang menyasar pusat-pusat sipil untuk menekan ekonomi global.
Dampak awal ke pasar relatif terbatas. Kontrak berjangka suku bunga masih menunjukkan ekspektasi dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, dengan pemangkasan pertama diperkirakan pada pertemuan The Fed 28–29 Juli.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sempat turun reaksi umum saat krisis global karena investor mencari aset aman.
Namun pada Senin, imbal hasil kembali naik, mencerminkan kekhawatiran inflasi dan risiko global.
Dolar AS juga menguat terhadap mata uang utama dunia. Indeks saham utama AS bergerak campuran, dengan Dow Jones dan S&P 500 sedikit melemah.
Analis Citi menjelaskan, perkembangan geopolitik kemungkinan tidak akan secara signifikan mengubah rencana suku bunga The Fed.
Risiko inflasi yang sedikit meningkat dinilai akan diimbangi oleh kondisi keuangan yang kurang mendukung dan fokus pada data domestik.
Mereka memperkirakan laporan tenaga kerja AS pekan ini akan menunjukkan penambahan 55.000 lapangan kerja dengan tingkat pengangguran 4,4%.
Namun mantan Ketua The Fed Janet Yellen, seperti dilaporkan Bloomberg, memperingatkan perang berisiko memicu inflasi lebih tinggi sekaligus memperlambat pertumbuhan, sehingga membuat The Fed semakin berhati-hati untuk memangkas suku bunga.
Christopher Hodge, kepala ekonom AS di Natixis CIB Americas menyebut, risiko ekstrem meningkat.
Dalam skenario terbaik, rezim Iran yang tersisa memiliki kemampuan militer terbatas sehingga dampak harga minyak cepat mereda dan gangguan ekonomi minimal.
Sebaliknya, dalam skenario terburuk, konflik meluas secara regional, mengganggu jalur perdagangan dan rantai pasok global di luar sektor energi.
Harga minyak bisa bertahan di atas US$120 per barel, jalur pelayaran terganggu, biaya asuransi melonjak, dan jaringan produksi global terhambat.
Dalam kondisi itu, pertumbuhan AS berpotensi negatif, pengangguran naik, defisit melebar, dan The Fed terpaksa memangkas suku bunga lebih cepat untuk mencegah resesi.
James Stavridis dan Jeff Currie dari Carlyle memperkirakan peluang keberhasilan Trump mengganti rezim Iran hanya sekitar 30%.
Mereka melihat probabilitas 70% atau lebih untuk kampanye asimetris berkepanjangan, termasuk serangan siber, terorisme, dan penggunaan pasukan proksi yang dapat meluas hingga Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC.
Drone Iran dilaporkan telah menyerang fasilitas gas alam di Qatar, memaksa penghentian produksi LNG dari fasilitas yang bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Hal ini menunjukkan konflik berpotensi melampaui titik-titik kritis tradisional dan memperluas dampaknya ke rantai energi global.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, arah konflik Iran kini menjadi faktor kunci yang dapat menentukan apakah ketahanan ekonomi AS tetap terjaga atau justru goyah di tengah tekanan geopolitik global yang meningkat.
Pentagon Umumkan Empat Tentara AS Tewas Pertama dalam Perang Iran
Militer Amerika Serikat pada Selasa (3/3/2026) mengumumkan identitas empat tentara AS pertama yang tewas dalam perang melawan Iran.
Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi menimbulkan lebih banyak korban dari pihak AS.
Dari total enam personel militer AS yang dilaporkan tewas sejauh ini, empat di antaranya merupakan anggota unit Cadangan Angkatan Darat AS (U.S. Army Reserve) asal Iowa.
Mereka gugur pada Minggu (2/3) setelah sebuah drone menghantam fasilitas militer AS di Port Shuaiba, Kuwait.
Pentagon menyatakan keempat prajurit tersebut berusia antara 20 hingga 42 tahun dan bertugas di 103rd Sustainment Command yang bermarkas di Des Moines, Iowa.
Unit ini merupakan bagian dari operasi logistik dan pasokan global Angkatan Darat AS.
Militer mengidentifikasi keempat korban sebagai berikut:
Kapten Cody A. Khork (35), asal Winter Haven, Florida
Sersan Satu Noah L. Tietjens (42), asal Bellevue, Nebraska
Sersan Satu Nicole M. Amor (39), asal White Bear Lake, Minnesota
Sersan Declan J. Coady (20), asal West Des Moines, Iowa
Mayor Jenderal Todd Erskine, yang memimpin 79th Theater Sustainment Command, menyampaikan belasungkawa mendalam dan penghormatan kepada keluarga serta rekan satuan para korban.
Komando Pusat Militer AS menyatakan Iran telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone dalam serangan balasan di berbagai wilayah Timur Tengah sejak konflik meletus.
Risiko terhadap pasukan AS di kawasan tersebut menjadi salah satu topik dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen AS pada Selasa.
Dalam pertemuan itu hadir Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Senator Partai Demokrat Chris Murphy mengatakan para pejabat menyampaikan kemungkinan akan ada lebih banyak korban dari pihak AS karena sulit menghentikan serangan drone yang terus dilancarkan.
Menurut dua pejabat yang berbicara kepada Reuters, fasilitas di Kuwait tempat insiden terjadi dilindungi dinding beton penahan ledakan, namun tidak memiliki atap yang diperkuat.
Belum jelas apakah sistem pertahanan udara aktif saat drone mendekat, dan disebutkan tidak ada alarm yang berbunyi sebelum serangan terjadi.
Konflik yang terus memanas meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut serta potensi korban tambahan di pihak militer AS.
CEO Goldman Sachs Nilai Pasar Butuh “Beberapa Pekan” Cerna Dampak Perang Iran
CEO Goldman Sachs David Solomon menilai pasar keuangan global kemungkinan membutuhkan “beberapa pekan” untuk benar-benar mencerna dampak perang di Timur Tengah terhadap perekonomian.
Berbicara dalam forum bisnis di Sydney, Rabu (4/3/2026), Solomon mengaku terkejut dengan reaksi pasar yang relatif tenang (benign) terhadap konflik tersebut.
“Melihat reaksi pasar, saya justru terkejut karena responsnya lebih jinak dari yang mungkin dibayangkan, mengingat besarnya peristiwa ini,” ujarnya.
Menurut Solomon, pasar biasanya merespons peristiwa geopolitik secara terbatas, kecuali jika dampaknya langsung terasa terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Ada efek kumulatif dari semua yang terjadi dan itu bisa memicu reaksi yang jauh lebih keras. Sejauh ini, kita belum melihat efek kumulatif tersebut,” katanya.
Namun ia menekankan masih terlalu dini untuk berspekulasi karena banyak ketidakpastian.
Ia memperkirakan pasar memerlukan beberapa minggu untuk benar-benar memahami implikasi jangka pendek dan menengah dari konflik tersebut.
Lonjakan harga minyak akibat meluasnya konflik telah meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan dan memperburuk kecemasan investor terhadap inflasi.
Indeks saham global melemah, sementara dolar AS menguat karena investor melepas aset berisiko dan beralih ke aset safe haven tradisional.
Meski demikian, penurunan di Wall Street tergolong moderat. Indeks S&P 500 tercatat turun kurang dari 1% sepanjang pekan ini, setelah memangkas kerugian pada akhir sesi perdagangan dalam dua hari terakhir.
Solomon menambahkan, kombinasi sejumlah factor termasuk siklus pelonggaran moneter dan pelonggaran regulasi yang signifikan telah membantu menjaga ekonomi Amerika Serikat tetap solid.
“Terlepas dari situasi di Timur Tengah saat ini, ada konvergensi faktor makro yang kuat yang membuat prospek pertumbuhan ekonomi AS cukup menarik,” ujarnya.
Langkah Agresif Trump: Angkatan Laut AS Siap Kawal Tanker di Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa (3/3/2026) mengatakan bahwa ia telah memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan bagi perdagangan maritim yang melintasi kawasan Teluk.
Trump juga menyebut Angkatan Laut AS dapat mulai mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz jika kondisi keamanan memburuk.
Seperti yang dilansir dari Reuters, langkah ini menjadi salah satu kebijakan paling agresif yang diambil pemerintah AS sejauh ini untuk menahan lonjakan harga energi global dan menenangkan pasar minyak di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran energi dunia.
Trump menjadikan harga bahan bakar yang lebih murah bagi warga Amerika sebagai bagian penting dari pesan ekonominya. Kebijakan ini menunjukkan kesiapan pemerintah AS untuk menggunakan instrumen keuangan maupun kekuatan militer guna mencegah gangguan pasokan minyak dunia.
“Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan aliran energi ke dunia tetap lancar,” tulis Trump dalam unggahan di media sosial.
Ia juga mengisyaratkan akan ada langkah tambahan dalam waktu dekat. Harga minyak dunia memang melonjak tajam sejak pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu, yang kemudian memicu pertempuran dan mengganggu pengiriman tanker minyak dari Timur Tengah.
Menurut dua sumber Reuters yang mengetahui rencana tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Menteri Energi Chris Wright dijadwalkan bertemu Trump pada Selasa sore untuk menyampaikan sejumlah opsi kebijakan guna merespons lonjakan harga energi.
Trump mengakui bahwa masyarakat Amerika mungkin harus menghadapi harga minyak yang lebih tinggi untuk sementara waktu. Namun ia optimistis harga energi akan kembali turun setelah konflik mereda.
“Begitu situasi ini berakhir, saya percaya harga minyak akan turun lagi, bahkan lebih rendah dari sebelumnya,” ujar Trump.
Namun jika harga energi tinggi bertahan lama, kondisi tersebut berpotensi mengganggu peluang Partai Republik untuk mempertahankan kekuasaan dalam pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November mendatang.
Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz saat ini sebagian besar terhambat. Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan, sementara kapal lain terpaksa berhenti berlayar. Perusahaan pelayaran dan perusahaan asuransi kini mulai mengevaluasi kembali risiko operasi mereka di kawasan tersebut.
Premi asuransi risiko perang melonjak tajam, bahkan beberapa perusahaan asuransi mulai mengurangi atau menghentikan perlindungan mereka. Akibatnya, biaya pengiriman minyak menjadi jauh lebih mahal bagi kapal tanker yang masih berani melintasi jalur tersebut.
Langkah pemerintah AS untuk mendukung asuransi tanker sebenarnya bukan hal baru. Saat konflik Iran–Irak pada 1980-an, Washington pernah mengubah bendera kapal tanker dan memberikan pengawalan militer setelah perusahaan asuransi swasta menarik perlindungan mereka.
Setelah serangan Serangan 11 September 2001, pemerintah AS juga mengeluarkan kebijakan serupa untuk menjaga kelancaran perdagangan global di tengah meningkatnya premi risiko perang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin (2/3) mengatakan bahwa pemerintah telah memiliki program khusus untuk menahan lonjakan harga energi, yang akan dijalankan oleh Menteri Energi dan Menteri Keuangan.
“Mulai besok Anda akan melihat kami menjalankan beberapa tahap kebijakan untuk meredam dampaknya,” kata Rubio, tanpa merinci langkah yang dimaksud.
Pemerintah AS selama ini juga masih berhati-hati untuk menggunakan cadangan minyak strategis nasional. Namun para pejabat disebut dapat segera memberi sinyal bahwa cadangan tersebut siap dilepas ke pasar jika harga minyak terus melonjak.
Menhan Pakistan: Zionisme adalah Ancaman bagi Kemanusiaan
Menteri Pertahanan (Menhan) Pakistan, Khawaja Asif, menilai zionisme sebagai ideologi yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Lebih lanjut, ia memandang paham yang mewujud "negara Yahudi" Israel itu sebagai faktor pendorong konflik-konflik yang melanda dunia Islam.
Terbaru, Asif mengatakan, zionisme menyeret Iran ke dalam pusaran perang. Kondisi ini seketika mengguncang kawasan Asia Barat dan situasi global pada umumnya.
“Sejak berdirinya Israel di tanah Palestina hingga hari ini, setiap bencana yang menimpa dunia Islam, setiap perang yang dipaksakan kepada mereka, menunjukkan adanya campur tangan langsung maupun tidak langsung dari ideologi zionis,” ujar Asif dalam unggahan di akun media sosialnya, dilansir Aljazirah pada Selasa (3/3/2026).
Pakistan memiliki kekuatan nuklir yang menjadi "perisai" untuk menghadapi pelbagai ancaman dari luar. Menurut Asif, perang yang "dipaksakan" terjadinya pada Iran berpotensi menjadi ancaman keamanan bagi negaranya. Padahal, ia menilai, Teheran telah menunjukkan kesiapan untuk mencapai kesepakatan dalam perundingan dengan AS.
Terpisah, Pemerintah China mengecam serangan AS terhadap Iran. Beijing juga mendesak agar perundingan terkait program nuklir Teheran segera dilanjutkan. Bagaimanapun, pihaknya menghormati “hak sah Iran" untuk menggunakan energi nuklir secara damai.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China, Mao Ning, menyatakan, serangan AS yang dilakukan di tengah berlangsungnya proses negosiasi merupakan pelanggaran hukum internasional. Aksi militer Washington, yang didukung Israel, juga telah mencederai prinsip-prinsip dasar hubungan internasional.
“Isu nuklir Iran pada akhirnya harus kembali ke jalur penyelesaian politik dan diplomatik,” ujar Mao, dilansir Aljazirah, Selasa (3/3/2026).
Jumlah korban jiwa akibat serangan militer gabungan AS dan Israel telah meningkat menjadi 787 orang. Demikian laporan Aljazirah, mengutip data yang disampaikan Bulan Sabit Merah Iran pada Selasa (3/3/2026).
Militer Israel dan AS mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu. Operasi ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa di sejumlah wilayah Iran. Pemimpin tertinggi negara republik Islam tersebut, Ayatullah Ali Khamenei, juga dilaporkan syahid usai kediamannya di Teheran menjadi sasaran serangan udara AS-Israel.
Sebelumnya, serangan gabungan Washington dan Tel Aviv pada Sabtu (28/2/2026) lalu menarget sebuah sekolah putri Shadjareh Tayebeh di Iran selatan. Menurut keterangan media setempat, sebanyak 165 orang kehilangan nyawa akibat serangan tersebut.
The Guardian melansir, video dan foto-foto setelah kejadian tersebut, yang telah diverifikasi keasliannya dan memiliki geolokasi ke lokasi tersebut, menunjukkan ratusan orang berkumpul di sekitar bangunan yang sebagian runtuh dan berasap, dengan puing-puing berserakan di jalan dan para lelaki menggali di dalamnya untuk mencari korban. Jeritan terdengar di latar belakang.
Dalam beberapa gambar, tas sekolah dan buku pelajaran ditarik dari puing-puing. Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, mengatakan AS "mengetahui laporan mengenai kerugian warga sipil akibat operasi militer yang sedang berlangsung. Kami menanggapi laporan ini dengan serius dan sedang menyelidikinya."
Laporan Media AS: Serangan Balasan Iran Hancurkan Markas CIA di Arab Saudi
Serangan pesawat tak berawak Iran berhasil menghancurkan Markas Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) yang berada di Riyadh, Arab Saudi.
Washington Post mengabarkan, serangan tersebut bagian dari rangkaian balasan Iran atas serangan yang berasal dari pangkalan militer di Arab Saudi. Iran menggunakan drone-drone penyerbu membombardir kompleks Kedutaan AS di Riyadh, pada Senin (2/3/2026) kemarin.
“Serangan pesawat tak berawak Iran yang menghantam Stasiun CIA di Kedutaan AS di Arab Saudi, akan menjadi kemenangan simbolis bagi Republik Islam (Iran) saat mereka menyerang target dan personel AS di seluruh Timur Tengah (Timteng),” begitu laporan Washington Post, Rabu (4/4/2026) dini hari.
Washington Post menyampaikan, pemerintah AS, dan Arab Saudi mengkonfirmasi tentang dua pesawat nirawak yang menyerang Kedutaan Besar AS di Riyadh, pada Senin (2/3/2026) waktu setempat.
Akan tetapi, kata Washington Post dalam penyampaian resmi oleh AS, pun otoritas pemerintahan di Arab Saudi tak menyebutkan Markas CIA berada dalam Kompleks Kedutaan Besar AS itu turut hancur dalam serangan itu.
Washington Post juga melaporkan, penyampaian internal dari Departemen Luar Negeri AS yang memastikan serangan Iran ke Gedung Kedutaan AS di Riyadh telah menghancurkan bagian atap bangunan, yang membuat runtuhnya gedung tersebut.
Militer Iran melakukan penyerangan balasan ke wilayah Arab Saudi sebagai respons dan balasan atas serangan terbuka yang dilakukan AS bersama penjajah Zionis Israel sejak Sabtu (28/2/2026).
Agresi AS-Zionis itu memicu perang terbuka yang membuat Iran melakukan perlawanan dengan membalas serangan menggunakan misil dan drone serbu ke wilayah pendudukan penjajah Israel di Bumi Palestina. Perlawanan balasan Iran itu juga menyasar ke negara-negara Teluk Arab yang dijadikan basis pangkalan militer AS untuk menyerang Iran.
Sejak Senin (2/3/2026) perlawanan balasan Iran, menyasar ke Uni Emirate Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, juga Yordania, sampai ke Arab Saudi. Kemarin perlawanan balasan Iran, juga menargetkan aset-aset AS yang berada di Arab Saudi dan menyasar ke kompleks eksplorasi minyak bersama Aramco.