News Komoditi & Global ( Selasa, 23 Juni 2026 )

News  Komoditi  &  Global

                                     (  Selasa,   23  Juni  2026  )

 

Harga Emas Global Masih Menguat, Peluang Kenaikan Bunga The Fed Meningkat

 

 

 

Harga emas dunia bergerak stabil pada perdagangan Selasa (23/6/2026), di tengah perhatian investor terhadap perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Di sisi lain, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada akhir tahun membatasi ruang penguatan logam mulia tersebut. Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Selasa (23/6), Investor Cermati Risiko Kenaikan Suku Bunga AS Mengutip Reuters, harga emas spot tercatat relatif tidak berubah di level US$ 4.191,09 per ons troi pada pukul 00.53 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 0,2% menjadi US$ 4.208,40 per ons troi. Sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh perkembangan hubungan AS dan Iran. Pemerintah AS memberikan keringanan sanksi terhadap Iran selama 60 hari mulai Senin (22/6), setelah berlangsungnya pertemuan awal dalam kerangka kesepakatan damai yang masih dalam tahap awal. Selain itu, sejumlah pejabat melaporkan berlanjutnya penurunan intensitas konflik di Lebanon sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengakhiri ketegangan di kawasan Timur Tengah. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa pembicaraan dengan pejabat Iran di Swiss telah menciptakan fondasi yang baik menuju kesepakatan damai final. Namun demikian, Iran membantah bahwa pembahasan mengenai program nuklirnya telah dimulai. Baca Juga: Prediksi Inggris vs Ghana: The Three Lions Diunggulkan Raih 3 Poin Pasar Perhitungkan Kenaikan Suku Bunga Dari sisi kebijakan moneter, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan kesaksian pertamanya mengenai kebijakan moneter di hadapan Kongres AS pada 14 Juli mendatang. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan fokus utama bank sentral saat ini adalah menilai apakah inflasi yang masih tinggi akan bertahan atau mulai mereda seiring memudarnya dampak tarif impor yang tinggi dan apabila konflik di Timur Tengah berhasil diselesaikan. Pelaku pasar kini semakin yakin bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 89%, meningkat signifikan dibandingkan 61% sebelum pertemuan The Fed pekan lalu. Kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi dan deposito, sekaligus memperkuat dolar AS. Meski demikian, minat spekulatif terhadap emas masih menunjukkan peningkatan. Data terbaru menunjukkan para spekulan menaikkan posisi beli bersih (net long position) sebanyak 9.258 kontrak menjadi 112.918 kontrak pada pekan yang berakhir 16 Juni. Baca Juga: Industri Manufaktur Jepang Kian Bergairah, Lonjakan Pesanan Baru Dorong PMI Juni 2026 Logam Mulia Lain Bergerak Variatif Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,4% menjadi US$ 64,92 per ons troi. Harga platinum juga melemah 0,4% ke level US$ 1.672,90 per ons troi. Sebaliknya, paladium naik tipis 0,1% menjadi US$ 1.266,35 per ons troi. Investor selanjutnya akan mencermati sejumlah data aktivitas bisnis (PMI) dari Jerman, kawasan euro, Inggris, dan Amerika Serikat yang dirilis hari ini untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga ke depan.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Turun Usai Kabar Kesepakatan AS–Iran Longgarkan Kekhawatiran Pasokan

 

 Harga minyak dunia melemah pada perdagangan awal pekan setelah pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss berakhir dengan sinyal pelonggaran ekspor energi Iran. Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global yang sebelumnya sempat mendorong harga naik. Sentimen pasar berubah cepat setelah Teheran menyebut telah memperoleh keringanan (waiver) untuk ekspor minyak dan petrokimia, yang membuka kembali sebagian aliran pasokan dari salah satu produsen utama dunia. Harga Brent dan WTI Kompak Terkoreksi Harga minyak mentah Brent tercatat turun 61 sen menjadi US$79,96 per barel pada pukul 08.15 GMT. Baca Juga: AS dan Iran Capai Kemajuan Awal, Namun Ketegangan Tetap Membayangi Sebelumnya, harga sempat melonjak hingga US$82,30 per barel pada awal perdagangan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk ancaman Presiden AS Donald Trump untuk kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran serta kabar penutupan Selat Hormuz oleh Teheran. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$77,20 per barel, naik 60 sen menjelang kedaluwarsa kontrak. Kontrak yang lebih aktif untuk pengiriman Agustus juga naik tipis 19 sen menjadi US$76,04 per barel. Kesepakatan AS–Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan Perubahan arah harga terutama dipicu oleh perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Menurut analis UBS Giovanni Staunovo kemajuan pembicaraan antara AS dan Iran di Swiss kemungkinan menjadi faktor utama yang menekan harga minyak hari ini. Kesepakatan tersebut dilaporkan mencakup keringanan ekspor minyak dan petrokimia Iran, pelepasan sebagian aset yang dibekukan, serta rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran. Baca Juga: Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri sebagai Perdana Menteri Inggris Pasokan Iran Kembali Mengalir ke Pasar Iran disebut kembali menyalurkan ekspor minyaknya yang sebelumnya sempat terhambat akibat pembatasan laut oleh AS. Menurut Staunovo, kembalinya volume tersebut menambah suplai baru ke pasar global. Pelepasan barel minyak tersebut merupakan tambahan pasokan bagi pasar. Data yang dikutip dari otoritas minyak Iran menyebutkan lebih dari 25 juta barel minyak telah melewati jalur blokade virtual sejak awal pekan. Selain Iran, beberapa negara produsen di kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak juga dilaporkan meningkatkan penawaran minyak ke pelanggan dalam sepekan terakhir. Proyeksi Pemulihan Pasokan Masih Tidak Stabil Meski pasokan mulai pulih, lembaga riset ANZ memperingatkan bahwa proses normalisasi produksi minyak global masih menghadapi tantangan besar. Irak, misalnya, berencana meningkatkan produksi minyak mentah secara bertahap ke kisaran 4,2 juta–4,3 juta barel per hari. ANZ memperkirakan sekitar 2 juta–3 juta barel per hari pasokan dapat kembali dalam empat minggu pertama, namun pemulihan penuh masih bergantung pada stabilitas geopolitik dan kondisi infrastruktur. Baca Juga: Jepang Ubah Strategi Komunikasi, Pasar Waspadai Intervensi Yen Mendadak Lebih lanjut, ANZ menyebut: Pemulihan tambahan 2 juta–3,5 juta bpd mungkin terjadi pada kuartal III 2026 jika kondisi stabil Namun 1 juta–2 juta bpd berpotensi hilang secara permanen atau semi-permanen Pemulihan awal lebih didorong oleh logistik (transportasi), bukan peningkatan produksi Kenaikan awal akan didorong oleh faktor logistik (pengiriman), bukan produksi. Kenaikan berikutnya akan bergantung pada pemulihan sektor hulu dan kilang. Pemulihan penuh kemungkinan tidak terjadi tahun ini. Risiko Geopolitik Masih Membayangi Pasar Energi Di tengah dinamika pasokan, risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama volatilitas harga minyak. Laporan juga menyebutkan bahwa serangan Israel di Lebanon menewaskan sedikitnya 20 orang, sehari setelah gencatan senjata dengan Hizbullah mulai berlaku, menurut kantor berita negara Lebanon NNA. Ketegangan di Timur Tengah, terutama terkait Iran dan konflik regional lainnya, masih menjadi variabel penting yang dapat kembali mendorong lonjakan harga minyak global jika eskalasi terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Mixed, S&P 500 dan Nasdaq Melemah Terseret Penurunan Saham Alphabet

 

 Indeks Utama Wall Street ditutup beragam, dengan S&P 500 dan Nasdaq turun, terseret oleh penurunan saham teknologi megacap, termasuk Alphabet. Sementara investor mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran. Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 148,01 poin, atau 0,29% ke level 51.712,71, S&P 500 turun 27,79 poin, atau -0,37%, menjadi 7.472,79 dan Nasdaq Composite turun 351,33 poin, atau 1,32%, menjadi 26.166,60.  Tujuh dari 11 sektor utama S&P ditutup naik, dipimpin oleh saham real estat dan energi. Sedangkan saham sektor Layanan Komunikasi turun 3,8%. Indeks Dow ditutup menguat, didorong oleh sektor perawatan kesehatan dan industri.  Baca Juga: Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Terkoreksi, Senin (22/6) Saham SpaceX anjlok 16,4%, penurunan harian terbesar, dan sangat membebani Nasdaq Composite. Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 22,97 miliar saham, dengan rata-rata 22,12 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. Saham Alphabet masih diperdagangkan di atas harga IPO-nya sebesar US$ 135 per saham. Perusahaan yang dipimpin Elon Musk ini meluncurkan penawaran utang pertamanya pada hari Senin dan mengatakan bahwa mereka memiliki sekitar US$ 100,8 miliar dalam bentuk kas dan setara kas per 19 Juni. Optimisme tentang kecerdasan buatan telah mendukung reli Wall Street baru-baru ini, tetapi analis mencatat bahwa semakin banyak investor yang mempertanyakan pengeluaran besar untuk ekspansi infrastruktur oleh perusahaan-perusahaan hyperscaler.  Saham Alphabet turun 5% sementara saham Meta, Amazon, dan Microsoft turun antara 2,3% dan 4,7%. "Ini adalah sektor yang sangat dipengaruhi sentimen dan kelompok ini cenderung diperdagangkan bersamaan setiap hari," kata Bill Northey, direktur investasi senior di US Bank. "Namun jika kita melihat ke belakang... beberapa fundamental terkuat berada di ruang pembangunan pusat data AI. Itu termasuk baik perusahaan hyperscaler maupun banyak komponen yang terlibat dalam pembangunan berkelanjutan tersebut." Uji coba selanjutnya untuk reli ini adalah hasil kuartalan Micron Technology pada hari Rabu. Saham pembuat chip memori ini naik hampir 300% tahun ini. Baca Juga: Wall Street Mixed Cenderung Naik Senin (22/6), Saham Teknologi Bikin Penopang Harga minyak turun karena Washington dan Teheran menyepakati peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.  Pejabat AS dan Iran membuat "kemajuan besar" pada putaran pertama pembicaraan mereka di Swiss yang berakhir pada Senin pagi, kata para mediator, meskipun ketegangan tetap ada terkait Lebanon dan Selat Hormuz. "Harga energi sedang turun, yang tentu saja menjadi katalis bagi konsumen maupun bisnis," kata Northey.  "Di sisi lain, kita melihat (Federal Reserve) yang sangat agresif di bawah Ketua baru Kevin Warsh, dan itu membuat pasar percaya bahwa akan ada fokus yang lebih diprioritaskan untuk kembali ke stabilitas harga dalam waktu dekat." Pandangan terhadap Fed ini telah menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menekan harga saham lebih rendah, katanya. Fokus pekan ini akan tertuju pada data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) hari Kamis, indikator pilihan Fed untuk inflasi inti.  Angka yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang ketat dari Federal Reserve, setelah Warsh menggarisbawahi perlunya menekan inflasi pada pertemuan pekan lalu. Pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dari Fed pada bulan September, menurut data LSEG. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Takut Diserang Iran, Eks Bos Badan Keamanan Shin Bet Israel Dievakuasi Mendadak dari UEA

 

 

Mantan kepala Shin Bet (Badan Keamanan Israel), Ronen Bar, dievakuasi secara tergesa-gesa dari Uni Emirat Arab (UEA). Evakuasi dilakukan menyusul peringatan kemungkinan serangan yang diarahkan Iran terhadap dirinya.

Bar berada di UEA bersama istrinya, Dafna Bar-Agassi, untuk menghadiri konferensi keamanan khusus yang diselenggarakan oleh Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed Al Nahyan (AbZ) beberapa waktu lalu.

Seperti dilansir media Israel, Jerusalem Post, konferensi tersebut dihadiri oleh para pejabat senior dari sistem keamanan, intelijen, dan pengambilan keputusan dari berbagai negara di seluruh dunia.

Selama Bar berada di UEA, sebuah peringatan keamanan yang tidak biasa diterima.

"Ini menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatannya dan kemungkinan serangan Iran yang menargetkannya," demikian menurut jurnalis Israel Michael Shemesh.

Menindaklanjuti peringatan tersebut, diputuskan untuk segera mengevakuasi Bar dan istrinya dari negara itu dan menerbangkan mereka kembali ke Israel.

Rincian peristiwa dan evakuasi tersebut dirahasiakan dengan sangat ketat dan belum terungkap hingga sekarang.

Sejak pensiun sebagai kepala Shin Bet, Bar terus terlibat dalam berbagai inisiatif publik.

Pada Februari, penyiar publik Israel KAN News melaporkan bahwa ia sedang berupaya mempromosikan pendirian sekolah kepemimpinan politik, sebuah langkah yang menimbulkan kritik dalam sistem politik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China Pukul Balik AS, 10 Perusahaan Strategis Diblokir dari Barang Dwiguna

 

 

China langsung menutup akses 10 entitas Amerika Serikat terhadap barang-barang dwiguna asal negaranya. Salah satunya Aveox, Inc., perusahaan yang masuk dalam daftar kontrol ekspor terbaru Beijing.

Keputusan itu diumumkan Kementerian Perdagangan China pada Senin. Beijing menyebut langkah tersebut diambil untuk melindungi keamanan dan kepentingan nasional, sekaligus menjalankan kewajiban internasional terkait non-proliferasi.

Namun, daftar yang dirilis China menunjukkan pesan yang lebih keras. Sejak pengumuman itu berlaku, operator ekspor dilarang mengirim barang-barang dwiguna kepada 10 entitas AS tersebut. Barang dwiguna adalah produk yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan militer atau teknologi strategis.

Daftarnya bukan perusahaan sembarangan. Selain Aveox, Inc., China juga memasukkan Red Cat Holdings, Inc., Teal Drones, Inc., IMSAR, Jaia Robotics, Inc., Ball Aerospace & Technologies Corp., Oshkosh Defense, L3Harris Maritime Services, Inc., MP Materials Corp., dan USA Rare Earth, Inc.

Sebagian nama itu berkaitan dengan drone, pertahanan, teknologi maritim, aerospace, hingga mineral strategis. Artinya, larangan ini tidak hanya menyasar perdagangan biasa, tetapi juga rantai pasok teknologi yang makin sensitif di tengah rivalitas Beijing dan Washington.

China tidak berhenti pada larangan ekspor langsung. Kementerian Perdagangan China juga menegaskan organisasi dan individu dari negara atau wilayah mana pun dilarang mentransfer atau menyediakan barang-barang dwiguna asal China kepada entitas-entitas AS yang telah masuk daftar tersebut.

Dengan kata lain, celah melalui pihak ketiga juga ditutup. Pernyataan kementerian menyebut seluruh kegiatan ekspor yang sedang berjalan dan berkaitan dengan 10 entitas itu harus segera dihentikan. Tidak ada masa transisi panjang. Tidak ada ruang abu-abu.

Keputusan ini memperlihatkan bagaimana perang teknologi antara dua kekuatan terbesar dunia semakin masuk ke wilayah yang sangat konkret: drone, radar, pertahanan, mineral langka, dan suplai industri strategis.

Bagi AS, daftar itu bisa menjadi pukulan pada perusahaan yang bergantung pada komponen atau material asal China. Bagi Beijing, ini adalah sinyal bahwa kontrol ekspor kini menjadi senjata balasan dalam pertarungan geopolitik.

Pesannya jelas. China tidak lagi hanya memprotes tekanan Amerika Serikat. Beijing mulai memotong jalur pasok yang dianggap menyentuh jantung keamanan nasionalnya.

Larangan ekspor China terhadap 10 entitas Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada transaksi dagang biasa. Yang lebih sensitif adalah potensi gangguan pada rantai pasok industri pertahanan Amerika, terutama bagi perusahaan yang bergerak di sektor drone, sistem maritim, aerospace, kendaraan militer, dan mineral strategis.

Di industri modern, satu komponen kecil bisa menentukan hidup-matinya sebuah sistem besar. Sebuah drone tak hanya membutuhkan desain dan perangkat lunak, tetapi juga sensor, chip, baterai, motor, material ringan, kamera, hingga komponen elektronik presisi. Jika sebagian pasokan itu tersendat, produksi bisa melambat. Inilah titik tekan Beijing.

Dengan memasukkan perusahaan seperti Teal Drones, Red Cat Holdings, Ball Aerospace, Oshkosh Defense, hingga L3Harris Maritime Services ke daftar kontrol ekspor, China mengirim pesan bahwa rantai pasok pertahanan Amerika tidak sepenuhnya kebal dari tekanan luar. Apalagi, selama bertahun-tahun, banyak industri teknologi tinggi dunia masih memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan basis manufaktur China.

Dampaknya bisa muncul dalam beberapa bentuk. Perusahaan yang terdampak harus mencari pemasok alternatif, memverifikasi ulang sumber material, menyesuaikan kontrak, hingga menanggung biaya produksi yang lebih mahal. Dalam proyek pertahanan, keterlambatan seperti ini tidak sekadar berarti rugi bisnis, tetapi juga bisa memengaruhi jadwal pengadaan dan kesiapan teknologi.

Sektor mineral langka menjadi bagian paling sensitif. Masuknya MP Materials Corp. dan USA Rare Earth, Inc. dalam daftar tersebut memperlihatkan bahwa Beijing memahami titik rawan Washington. Mineral strategis dibutuhkan untuk magnet permanen, baterai, sistem radar, kendaraan listrik, rudal, jet tempur, dan berbagai perangkat teknologi tinggi lainnya. Ketika akses terhadap rantai pasok itu terganggu, efeknya bisa menjalar jauh melampaui satu perusahaan.

Namun, langkah China juga membawa risiko bagi perekonomian global. Semakin sering Washington dan Beijing menggunakan kontrol ekspor sebagai senjata, semakin besar pula tekanan terhadap perusahaan di negara ketiga yang selama ini berada di tengah rantai pasok kedua raksasa tersebut.

Perang dagang lama berbicara soal tarif. Babak baru ini jauh lebih rumit: siapa yang menguasai komponen, mineral, teknologi, dan jalur pasok, dialah yang bisa menekan lawan tanpa harus menembakkan satu peluru pun.

Risiko Terbesar bagi Perusahaan AS

Risiko terbesar bagi perusahaan Amerika Serikat yang masuk daftar kontrol ekspor China bukan hanya kehilangan satu jalur pasokan. Yang lebih berat adalah ketidakpastian produksi.

Begitu larangan berlaku, perusahaan yang selama ini masih menggunakan barang dwiguna asal China harus menghentikan transaksi terkait. Pesanan yang sedang berjalan bisa tertahan. Kontrak yang sudah disusun bisa terganggu. Komponen yang semula tersedia dalam hitungan pekan bisa berubah menjadi barang langka yang harus dicari dari negara lain.

Dampaknya langsung terasa pada biaya. Mencari pemasok alternatif tidak selalu mudah, terutama untuk sektor strategis seperti drone, sistem radar, kendaraan militer, teknologi maritim, aerospace, dan mineral langka. Pemasok baru harus diuji, disertifikasi, dan dipastikan memenuhi standar pertahanan. Proses itu memakan waktu, tenaga, dan biaya tambahan.

Bagi perusahaan pertahanan, keterlambatan kecil bisa berubah menjadi persoalan besar. Satu sensor yang tertahan, satu material yang sulit diganti, atau satu komponen elektronik yang tidak tiba tepat waktu dapat menghambat penyelesaian proyek bernilai jutaan dolar.

Risiko reputasi juga tidak bisa diabaikan. Perusahaan yang gagal menjaga pasokan bisa dinilai tidak siap menghadapi tekanan geopolitik. Dalam industri pertahanan, kepercayaan pemerintah dan mitra strategis adalah aset besar. Sekali jadwal pengiriman terganggu, pertanyaan berikutnya akan muncul: apakah perusahaan itu masih layak memegang proyek sensitif?

Tekanan ini makin berat karena larangan China tidak hanya menyasar ekspor langsung. Beijing juga melarang organisasi dan individu dari negara atau wilayah mana pun untuk mentransfer barang dwiguna asal China kepada entitas AS yang diblokir. Artinya, jalur memutar lewat pihak ketiga pun ikut dipersempit.

Inilah yang membuat langkah China terasa lebih menekan. Bagi perusahaan AS, tantangannya bukan sekadar mencari barang pengganti. Mereka harus membangun ulang peta pasokan, menghitung ulang biaya produksi, dan memastikan proyek pertahanan tetap berjalan di tengah perang kontrol ekspor yang makin keras.

 

 

 

 

 

 

 

 

Rivalitas AS-China Makin Tegang, 46 Perusahaan Termasuk Lockheed Martin Diblokir

 

 

Ketegangan dagang dan teknologi antara China dan Amerika Serikat kembali memasuki babak baru. Pemerintah China resmi melarang produk dari 46 perusahaan AS tertentu dibeli dalam pengadaan pemerintah, termasuk raksasa industri pertahanan AS, Lockheed Martin dan Raytheon Missiles & Defense.

Kementerian Keuangan China pada Senin (22/6/2026) mengumumkan pemberitahuan yang mewajibkan seluruh entitas yang terlibat dalam pengadaan pemerintah untuk tidak membeli produk yang diproduksi perusahaan-perusahaan AS yang masuk dalam daftar tersebut.

Langkah itu langsung menyasar sejumlah perusahaan yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan sektor pertahanan dan keamanan Amerika Serikat. Di antara nama yang tercantum adalah Lockheed Martin Corporation, produsen jet tempur F-35, serta Raytheon Missiles & Defense yang dikenal sebagai pembuat sistem rudal Patriot dan berbagai teknologi militer canggih.

Dalam keterangannya, Kementerian Keuangan China menyatakan kebijakan tersebut disetujui berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku di negara itu. Pemerintah menegaskan pembatasan hanya berlaku untuk kegiatan pengadaan pemerintah dan mulai efektif sejak tanggal pengumuman diterbitkan.

Meski demikian, Beijing memberikan pengecualian penting. Larangan tersebut tidak berlaku bagi perusahaan yang menerima investasi AS namun beroperasi dan memproduksi barang di wilayah China.

Keputusan ini muncul di tengah hubungan China-AS yang masih dibayangi persaingan strategis di bidang perdagangan, teknologi, dan keamanan. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara saling menerapkan berbagai pembatasan terhadap perusahaan masing-masing, terutama yang dianggap terkait dengan sektor pertahanan atau kepentingan keamanan nasional.

Bagi China, kebijakan terbaru ini juga dapat dibaca sebagai upaya memperkuat rantai pasok domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk dari perusahaan-perusahaan Amerika yang dinilai sensitif secara strategis.

Langkah Beijing tersebut diperkirakan akan menambah tekanan dalam hubungan ekonomi dua negara terbesar dunia yang hingga kini masih berupaya mencari titik keseimbangan di tengah rivalitas yang terus meningkat.

Apakah Ini Balasan China terhadap Tekanan Washington?

Dalam banyak hal, keputusan Beijing melarang produk dari puluhan perusahaan AS dalam pengadaan pemerintah sulit dipisahkan dari pola saling balas tekanan yang terus berkembang antara dua ekonomi terbesar dunia. Selama beberapa tahun terakhir, Washington dan Beijing terlibat dalam persaingan yang semakin luas, mulai dari perdagangan, teknologi, hingga sektor pertahanan.

Amerika Serikat lebih dahulu menerapkan berbagai pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan China yang dianggap memiliki keterkaitan dengan kepentingan strategis Beijing. Sejumlah raksasa teknologi China, termasuk Huawei, menghadapi pembatasan akses terhadap teknologi dan komponen penting asal AS. Washington juga memperketat ekspor chip semikonduktor canggih, peralatan manufaktur chip, serta teknologi kecerdasan buatan yang dinilai dapat memperkuat kemampuan militer China.

Di sisi lain, Beijing tidak tinggal diam. Pemerintah China secara bertahap memperluas daftar perusahaan asing yang dianggap mengancam kepentingan nasionalnya. Beberapa perusahaan pertahanan AS sebelumnya telah dikenai sanksi terkait penjualan senjata ke Taiwan, wilayah yang diklaim China sebagai bagian tak terpisahkan dari kedaulatannya.

Larangan terbaru terhadap 46 perusahaan AS menunjukkan bahwa persaingan kedua negara kini tidak lagi terbatas pada tarif perdagangan atau perang dagang seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Donald Trump. Pertarungan telah bergeser ke sektor yang jauh lebih strategis, yakni teknologi tinggi, rantai pasok industri, keamanan nasional, dan industri pertahanan.

Bagi Beijing, langkah tersebut juga mengirim pesan bahwa China memiliki instrumen balasan terhadap berbagai pembatasan yang diterapkan Washington. Sementara bagi AS, kebijakan itu menjadi pengingat bahwa upaya menekan perkembangan teknologi dan industri China dapat memicu respons yang semakin luas dari pemerintah China.

Akibatnya, hubungan kedua negara kini semakin menyerupai kompetisi jangka panjang antara dua kekuatan besar dunia. Pertanyaannya bukan lagi apakah perang dagang akan berlanjut, melainkan seberapa jauh rivalitas AS-China akan membentuk ulang peta ekonomi, teknologi, dan geopolitik global pada dekade mendatang.

Rivalitas AS-China Masuk Babak Ekonomi

Jika pada dekade sebelumnya persaingan Amerika Serikat dan China identik dengan perang tarif dan sengketa perdagangan, kini medan pertarungannya telah berubah jauh lebih kompleks. Rivalitas kedua negara telah memasuki babak baru yang berpusat pada penguasaan teknologi, rantai pasok global, dan industri-industri strategis yang akan menentukan keseimbangan kekuatan dunia pada masa depan.

Perang dagang yang dimulai dengan saling mengenakan tarif impor kini hanya menjadi bagian kecil dari persaingan yang lebih besar. Washington tidak lagi sekadar berupaya mengurangi defisit perdagangan dengan China, tetapi juga berusaha membatasi akses Beijing terhadap teknologi yang dianggap memiliki nilai strategis tinggi. Semikonduktor canggih, kecerdasan buatan, komputasi kuantum, hingga teknologi pertahanan menjadi arena persaingan baru yang jauh lebih menentukan dibandingkan tarif bea masuk.

Di sisi lain, China mempercepat upaya membangun kemandirian teknologi nasional. Pemerintah Beijing menggelontorkan investasi besar untuk memperkuat industri chip, manufaktur berteknologi tinggi, energi baru, serta sektor-sektor yang selama ini masih bergantung pada pasokan teknologi Barat. Tujuannya jelas: mengurangi kerentanan terhadap tekanan eksternal dan memperkuat posisi China dalam rantai pasok global.

Persaingan tersebut juga mulai mengubah pola perdagangan dunia. Banyak perusahaan multinasional kini menghadapi tekanan untuk memilih lokasi produksi, sumber komponen, hingga mitra teknologi yang aman dari risiko geopolitik. Akibatnya, rantai pasok global yang selama puluhan tahun terintegrasi mulai mengalami fragmentasi dan penyesuaian.

Dalam konteks itulah, keputusan China membatasi produk puluhan perusahaan AS dalam pengadaan pemerintah dapat dipahami sebagai bagian dari persaingan yang lebih luas. Langkah tersebut bukan sekadar respons terhadap satu kebijakan tertentu, melainkan cerminan dari upaya kedua negara untuk mengurangi ketergantungan satu sama lain pada sektor-sektor yang dianggap strategis.

Bagi dunia, perkembangan ini menandai pergeseran penting. Jika abad ke-20 ditentukan oleh perlombaan militer dan ideologi, maka abad ke-21 semakin ditentukan oleh siapa yang menguasai teknologi, data, energi, dan rantai pasok global. Dan dalam perlombaan itu, Washington dan Beijing kini berada di garis depan pertarungan yang hasilnya akan memengaruhi perekonomian dunia selama bertahun-tahun ke depan.

Siapa yang Lebih Rugi Jika Perang Ekonomi Kian Meluas?

Pertanyaan tentang siapa yang akan lebih dirugikan dalam rivalitas ekonomi AS-China tidak memiliki jawaban sederhana. Sebab berbeda dengan Perang Dingin abad ke-20, ekonomi kedua negara saat ini terhubung sangat dalam melalui perdagangan, investasi, teknologi, dan rantai pasok global. Ketika salah satu pihak terkena dampak, pihak lain sering kali ikut merasakannya.

Bagi Amerika Serikat, meningkatnya pembatasan terhadap China berpotensi menambah biaya bagi industri yang selama ini mengandalkan manufaktur dan komponen dari Asia. Banyak perusahaan AS masih bergantung pada jaringan pemasok yang terkait dengan China, mulai dari elektronik konsumen hingga industri otomotif. Gangguan pada rantai pasok dapat meningkatkan biaya produksi dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui harga yang lebih tinggi.

Di sisi lain, China juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Meskipun berhasil memperkuat kapasitas industrinya dalam berbagai sektor, Beijing masih membutuhkan akses terhadap sejumlah teknologi canggih Barat, terutama di bidang semikonduktor mutakhir, perangkat lunak industri, dan peralatan manufaktur berteknologi tinggi. Pembatasan yang berkepanjangan dapat memperlambat laju modernisasi sejumlah sektor strategis China.

Namun dampak terbesar justru bisa dirasakan oleh dunia.

Ketika dua ekonomi terbesar dunia saling membatasi akses pasar dan teknologi, investor cenderung menjadi lebih berhati-hati. Ketidakpastian geopolitik dapat menahan investasi baru, mengganggu arus perdagangan internasional, dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. Negara-negara berkembang yang bergantung pada ekspor, investasi asing, dan stabilitas harga komoditas juga berisiko terkena imbasnya.

Sektor teknologi menjadi salah satu medan yang paling rentan. Jika dunia semakin terbelah ke dalam dua ekosistem teknologi yang berbeda—satu dipimpin Amerika Serikat dan satu lagi dipimpin China, perusahaan global dapat menghadapi biaya tambahan untuk menyesuaikan produk, standar, dan rantai pasok mereka. Efisiensi yang selama ini tercipta dari globalisasi pun berpotensi berkurang.

Meski demikian, kedua negara tampaknya menyadari bahwa pemutusan hubungan ekonomi secara total bukan pilihan yang realistis. Nilai perdagangan bilateral masih mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun, sementara banyak perusahaan di kedua negara tetap melihat satu sama lain sebagai pasar yang terlalu besar untuk diabaikan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat mungkin bukan siapa yang akan kalah. Jika rivalitas ekonomi terus meningkat tanpa kendali, risiko terbesar justru bukan ditanggung Washington atau Beijing semata, melainkan perekonomian global yang selama puluhan tahun dibangun di atas keterhubungan, keterbukaan, dan saling ketergantungan. Pada akhirnya, dalam perang ekonomi berkepanjangan, tidak ada pemenang yang benar-benar menang tanpa membayar harga yang mahal.

Siapa yang Lebih Rugi Jika Perang Ekonomi Kian Meluas?

Di atas kertas, baik Amerika Serikat maupun China memiliki kemampuan untuk menahan tekanan ekonomi dari rivalnya. Namun semakin panjang dan luas rivalitas berlangsung, semakin besar pula biaya yang harus dibayar kedua pihak. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang mampu menyerang lebih keras, melainkan siapa yang mampu bertahan lebih lama tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonominya sendiri.

Bagi Amerika Serikat, risiko terbesar terletak pada biaya ekonomi yang harus ditanggung industri domestik. Selama beberapa dekade, perusahaan-perusahaan AS membangun rantai pasok global yang terhubung erat dengan China. Mulai dari elektronik, otomotif, hingga barang konsumsi sehari-hari masih bergantung pada komponen dan manufaktur yang berbasis di Asia. Ketika hubungan kedua negara memburuk, biaya produksi berpotensi meningkat dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga.

China menghadapi tantangan yang berbeda.

Meskipun memiliki kapasitas manufaktur terbesar di dunia, sejumlah sektor strategis China masih membutuhkan akses terhadap teknologi Barat. Pembatasan ekspor chip canggih, perangkat lunak industri, dan peralatan manufaktur berteknologi tinggi dapat memperlambat pengembangan sektor-sektor yang menjadi prioritas Beijing, terutama kecerdasan buatan, komputasi mutakhir, dan industri semikonduktor.

Namun kerugian terbesar justru mungkin tidak berhenti pada dua negara tersebut.

Ketika Washington dan Beijing saling membatasi akses pasar, perdagangan global ikut terkena dampaknya. Perusahaan multinasional menjadi lebih berhati-hati menanamkan modal karena ketidakpastian meningkat. Arus investasi asing dapat melambat, sementara biaya relokasi pabrik dan diversifikasi rantai pasok terus bertambah.

Pasar keuangan dunia juga tidak kebal.

Setiap eskalasi baru dalam hubungan AS-China biasanya langsung direspons oleh investor global. Bursa saham, nilai tukar mata uang, hingga harga komoditas dapat berfluktuasi tajam ketika pelaku pasar menilai risiko geopolitik semakin tinggi. Dalam kondisi seperti ini, negara-negara berkembang sering kali menjadi pihak yang ikut merasakan tekanan meski tidak terlibat langsung dalam persaingan tersebut.

Dampaknya bahkan dapat menjalar hingga ke sektor energi, logistik, dan perdagangan internasional. Jika rantai pasok global semakin terfragmentasi, efisiensi yang selama ini menjadi fondasi globalisasi berisiko terkikis. Dunia mungkin akan menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, dan inflasi yang lebih sulit dikendalikan.

Karena itu, pertanyaan tentang siapa yang lebih rugi mungkin tidak memiliki jawaban tunggal. Amerika Serikat memiliki kekuatan teknologi dan pasar keuangan terbesar di dunia. China memiliki kapasitas manufaktur dan pasar domestik yang sangat besar. Keduanya memiliki keunggulan sekaligus kerentanan masing-masing.

Yang semakin jelas adalah bahwa semakin jauh perang ekonomi ini meluas, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung dunia. Dalam ekonomi global yang saling terhubung, kemenangan satu pihak tidak selalu berarti kekalahan pihak lain. Terkadang, ketika dua raksasa bertarung terlalu lama, justru seluruh sistem yang ikut menanggung biayanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Negosiator Iran Respons Keras Ancaman Trump, Tolak Lanjutkan Perundingan Segi Empat

 

 

Perundingan antara Iran dan AS di Swiss Kembali menemui batu sandungan. Kendati mediator menilai negosiasi berjalan mulus, namun pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kerap kontroversial membuat Iran geram.

Diplomat Iran Esmail Baghaei mengatakan kepada media Iran bahwa delegasi mereka menolak untuk melanjutkan pembicaraan segi empat dengan AS, Pakistan, dan Qatar di Swiss setelah Trump mengeluarkan 'pernyataan yang mengancam' selama diskusi tersebut.

 “Qatar dan Pakistan mencoba untuk melanjutkan pembicaraan, dan kami mengatakan bahwa itu bukan pertemuan segi empat,” katanya.

Presiden Trump mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut terhadap Iran sementara Wakil Presiden Vance menghadiri pembicaraan dengan pejabat Iran di Swiss pada hari Minggu.

"Iran harus segera menghentikan para proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, bahkan lebih keras lagi!!!" tulis Trump dalam sebuah unggahan di media sosial pada hari Ahad.

Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan di X bahwa angkatan bersenjata Iran siap untuk menanggapi ancaman. “Pandangan delegasi Iran adalah bahwa kita harus memaksa pihak lain untuk melaksanakan komitmennya,” tambahnya.

Meski perundingan terancam, mediator Qatar mengatakan bahwa perundingan telah menunjukkan hasil yang lebih maju.

Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, membagikan foto yang memperlihatkan dirinya bersama negosiator AS, JD Vance dan Jared Kushner. “Siaran langsung dari Lucerne, pekerjaan terus berlanjut,” tulis Sheikh Mohammed dalam sebuah unggahan di X.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah membagikan unggahan yang menanggapi pernyataan dari Pakistan dan Qatar. “Mediasi tanpa henti dari Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon,” tulisnya.

“Ekspor minyak dan [petrokimia] dibebaskan, blokade dicabut, beberapa aset yang dibekukan dilepaskan, dan rencana rekonstruksi dan pembangunan besar-besaran diluncurkan untuk Iran,” tambahnya.

Namun, ia menyimpulkan dengan mengatakan bahwa ujian nyata pertama akan terjadi pada “sel dekonflik Lebanon.”

 

 

 

 

 

 

Jepang Ubah Strategi Komunikasi, Pasar Waspadai Intervensi Yen Mendadak

 

Otoritas keuangan Jepang membuat pasar terus menebak-nebak kemungkinan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen yang terus melemah.  Berbeda dari biasanya, pemerintah kini dinilai sengaja mengurangi sinyal-sinyal tegas kepada pasar agar intervensi berikutnya bisa memberikan dampak yang lebih besar. Pada Senin (22/6/2026), Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama hanya menyatakan pemerintah akan merespons secara tepat setiap saat terhadap pergerakan nilai tukar.  Pernyataan tersebut tergolong normatif dan jauh lebih lunak dibandingkan sejumlah komentar sebelumnya yang secara terbuka mengisyaratkan kesiapan pemerintah untuk melakukan intervensi. Baca Juga: Pasar Akhir Tahun: Yen Bangkit, Bitcoin dan Ether Menguat Tipis Yen pada perdagangan Senin melemah ke level 161,7 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati titik terendah dalam dua tahun yang tercapai pekan lalu. Jika menembus level 161,96 per dolar AS, mata uang Jepang itu akan menyentuh posisi terlemahnya sejak 1986. Pelaku pasar kini menunggu apakah diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, akan memberikan komentar. Tidak seperti Menteri Keuangan yang rutin menggelar konferensi pers, pernyataan Mimura relatif jarang sehingga sering dianggap sebagai sinyal kebijakan yang lebih kuat. Mimura sendiri belum berbicara kepada publik sejak awal Mei, tak lama setelah Jepang melakukan intervensi dengan menjual dolar AS untuk mendukung yen, yang menjadi aksi pertama dalam hampir dua tahun terakhir.  Beberapa jam sebelum intervensi tersebut, Mimura sempat memperingatkan bahwa waktu untuk mengambil tindakan tegas sudah semakin dekat dan menyebutnya sebagai peringatan terakhir bagi pasar. Dua sumber pemerintah Jepang mengatakan peringatan yang disampaikan Mimura pada akhir April lalu masih berlaku hingga saat ini. Artinya, peluang intervensi mendadak tetap terbuka meskipun pejabat pemerintah tidak lagi memberikan peringatan keras kepada pasar. Baca Juga: IHSG Ambruk 22% Sejak Awal Tahun 2026, Saatnya Investor Ubah Strategi Portofolio Analis menilai perubahan pola komunikasi ini bukan tanpa alasan. Pada intervensi sebelumnya, sinyal yang terlalu jelas memberi kesempatan bagi spekulan untuk mengurangi posisi jual yen sebelum pemerintah bertindak, sehingga efektivitas intervensi menjadi berkurang. "Sebagian pelaku spekulatif kemungkinan berhasil keluar tanpa mengalami kerugian. Karena itu, intervensi berikutnya kemungkinan akan dilakukan semaksimal mungkin secara mengejutkan," kata Shota Ryu, strategist valuta asing di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities. Menurutnya, meski komentar pejabat pemerintah saat ini tidak menunjukkan urgensi tinggi, pasar tetap berhati-hati karena risiko intervensi sewaktu-waktu masih sangat besar. Data Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan posisi spekulatif net short terhadap yen meningkat menjadi 145.818 kontrak pada pekan lalu, tertinggi sejak Juli 2024. Kondisi ini mencerminkan semakin banyak investor yang bertaruh yen akan terus melemah. Baca Juga: Bitcoin Pernah Anjlok 30% Usai Intervensi Yen, Tapi Ada Polanya Yuji Saito, Executive Advisor SBI FX Trade, mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga AS serta meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik membuat investor semakin enggan melepas kepemilikan dolar AS. Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat memperbesar dampak intervensi pemerintah Jepang jika dilakukan dalam waktu dekat, karena posisi pasar saat ini sudah sangat condong terhadap penguatan dolar. Pekan lalu, yen sempat jatuh hingga 161,8 per dolar AS, level terendah sejak Juli 2024 dan menghapus seluruh penguatan yang sempat tercipta setelah intervensi pemerintah pada akhir April dan awal Mei. Dalam periode tersebut, Tokyo menggelontorkan dana rekor sebesar 11,7 triliun yen atau sekitar US$72,4 miliar untuk menstabilkan mata uangnya. Pelemahan yen yang berkepanjangan kini menjadi masalah serius bagi Jepang karena meningkatkan biaya impor dan memperkuat tekanan inflasi. Kenaikan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah juga memperburuk situasi. Wakil Gubernur Ryozo Himino mengatakan inflasi berpotensi melampaui target 2% yang ditetapkan Bank of Japan. Ia kembali mengingatkan risiko jika bank sentral terlambat menaikkan suku bunga di tengah tekanan harga yang terus meningkat. Kondisi tersebut membuat pasar kini tidak hanya memperhatikan arah kebijakan suku bunga Jepang, tetapi juga semakin waspada terhadap kemungkinan intervensi mendadak yang dapat mengguncang pasar valuta asing kapan saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AS dan Iran Merampungkan Pembicaraan Tingkat Tinggi di Swiss

 

Putaran pertama pembicaraan antara pejabat tinggi AS dan Iran di Swiss berakhir Senin, kata para mediator, setelah pembukaan yang tegang ditandai dengan pengumuman Teheran bahwa mereka telah kembali menutup Selat Å Selat Hormuz dan Presiden AS Donald Trump mengulangi ancamannya untuk melanjutkan serangan terhadap Iran. Melansir Reuters, Senin (22/6/2026), sebuah pernyataan bersama dari negara-negara mediator Qatar dan Pakistan mengatakan AS dan Iran sepakat untuk menyusun peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.  Pembicaraan teknis akan berlanjut hingga akhir pekan ini di resor pegunungan Swiss milik Qatar, Buergenstock, menurut pernyataan tersebut, yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Qatar. Baca Juga: PM Bangladesh Minta Malaysia Buka Kembali Pasar Tenaga Kerja Bagi Pekerja Bangladesh Para pihak sepakat untuk mekanisme mengakhiri pertempuran di Lebanon dan membuka jalur komunikasi untuk membantu memastikan jalur aman bagi kapal-kapal komersial melalui selat yang diperebutkan, kata pernyataan itu.  Wakil Presiden AS JD Vance memulai pembicaraan dengan para pejabat Iran pada hari Minggu berdasarkan nota kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh dari bulan April setidaknya selama 60 hari lagi. Diskusi berlanjut hingga dini hari Senin. Dalam sebuah unggahan di media sosial, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan negaranya mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, pembebasan beberapa aset yang dibekukan, dan peluncuran rencana rekonstruksi dan pembangunan untuk Iran.  Gedung Putih tidak memberikan komentar langsung ketika ditanya apakah pembicaraan tingkat tinggi telah berakhir untuk saat ini.  Tepat sebelum pembicaraan resmi dimulai pada hari Minggu, Fox News melaporkan bahwa Trump mengatakan dia memberi tahu para pejabat Iran "kalian tidak akan memiliki negara" jika mereka mencoba menutup selat itu lagi.  Trump juga mengulangi ancaman sebelumnya bahwa AS akan mengambil alih jalur air tersebut dan mungkin mengenakan biaya tol sendiri, kata Fox News. Trump mengatakan dia menyetujui nota kesepahaman pekan lalu untuk mencegah depresi ekonomi global akibat harga minyak yang tinggi yang disebabkan oleh penutupan selat tersebut.  Baca Juga: Perdana Menteri Inggris Starmer Dapat Menetapkan Jadwal Pengunduran Diri Pada Senin Harga minyak telah anjlok selama seminggu terakhir ke level yang belum pernah terlihat sejak perang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran. Setelah pernyataan bersama, harga minyak mentah Brent turun lebih jauh, anjlok lebih dari $1 menjadi $79,44 per barel. Sumber-sumber AS dan Iran memberikan keterangan terpisah tentang diskusi di Swiss. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengutip sumber yang mengetahui informasi tersebut, mengatakan bahwa setelah ancaman Trump dipublikasikan, delegasi Iran menolak untuk kembali ke ruangan tempat pembicaraan diadakan, meskipun pesan masih dipertukarkan melalui mediator Pakistan dan Qatar. Menurut sumber Tasnim, pihak Iran mengatakan bahwa "dimulainya negosiasi tentang masalah nuklir membutuhkan penyerahan bagian lain dari MOU, termasuk pelepasan aset yang dibekukan dan pengecualian AS yang mengizinkan ekspor minyak Iran." “Pihak Iran tidak pernah pergi dan masih di sini bertemu dan bernegosiasi hingga larut malam,” kata seorang diplomat AS yang terlibat dalam pembicaraan tersebut kepada Reuters. “Kami telah membahas Selat Hormuz, Lebanon, isu-isu nuklir, dan detail implementasi MOU, di antara topik-topik lainnya.” Perjanjian tersebut menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz, titik penting bagi pengiriman energi global, dan mengakhiri semua permusuhan, termasuk di Lebanon, di mana Israel terus melancarkan serangan mematikan sementara sekutu Iran, Hizbullah, menembaki target Israel. Iran, dengan alasan bahwa AS telah gagal memenuhi komitmennya untuk menghentikan pertempuran di Lebanon, mengatakan pada akhir pekan bahwa mereka telah kembali menghentikan lalu lintas maritim melalui selat tersebut dan bahwa pembicaraan hari Minggu tidak akan membahas isu-isu substantif seperti program nuklir Iran. Pada pembicaraan di Swiss, di mana para pejabat AS dan Iran bertemu di hadapan mediator Qatar, Vance meremehkan dampak kekerasan di Lebanon, dengan mengatakan bahwa kemajuan telah dicapai menuju pengakhiran permusuhan di sana. "Hal-hal ini selalu sedikit berantakan," katanya. Kembali di Amerika Serikat, Trump mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran jika negara itu tidak mengendalikan sekutunya. "Iran harus segera menghentikan PROKSI mereka yang dibayar mahal di Lebanon dari menimbulkan masalah," tulis Trump di media sosial, tampaknya merujuk pada Hizbullah. "Jika mereka tidak melakukannya, kita akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kita lakukan minggu lalu, hanya lebih keras!!!" Bahkan ketika Trump mengancam Iran, Vance mengatakan kepada wartawan bahwa presiden AS telah "meminta kita untuk memulai lembaran baru untuk mengubah hubungan kita dengan rakyat Iran."  Seorang diplomat AS pada Minggu malam mengatakan bahwa diskusi tersebut mencakup klarifikasi beberapa pesan yang membingungkan dari Iran mengenai Selat dan membangun mekanisme dekonflik untuk memastikan Selat tetap terbuka sepenuhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China Balas AS, Perketat Kontrol Ekspor dan Masukkan 10 Entitas ke Daftar Sanksi

 

Pemerintah China memasukkan 10 entitas asal Amerika Serikat (AS) ke dalam daftar kontrol ekspor sebagai bentuk balasan atas langkah Washington yang lebih dulu menjatuhkan pembatasan terhadap sejumlah perusahaan China. Langkah tersebut diumumkan Kementerian Perdagangan China pada Senin (22/6/2026), dengan menyebut bahwa perusahaan-perusahaan yang masuk daftar diduga memiliki keterkaitan dengan militer AS. Baca Juga: Nikkei Tembus 72.000 untuk Pertama Kalinya (22/6), Euforia AI Dongkrak Bursa Jepang Di antara perusahaan yang terdampak adalah Aveox, produsen motor khusus untuk aplikasi misi kritis, serta perusahaan rare earth MP Materials dan USA Rare Earth. Dengan masuknya dalam daftar tersebut, perusahaan China dilarang mengekspor barang dual-use (barang yang dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun militer) kepada entitas tersebut. Pemerintah China menyebut kebijakan ini sebagai respons atas “praktik berbahaya” pemerintah AS yang dinilai merugikan kepentingan nasional Beijing. Beijing juga menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menjaga keamanan nasional serta memenuhi kewajiban internasional, termasuk terkait non-proliferasi. “Seluruh aktivitas ekspor yang masih berjalan dengan perusahaan-perusahaan tersebut harus dihentikan segera,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China. Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Keuangan China juga mengumumkan sanksi terhadap 46 perusahaan AS lainnya. Baca Juga: AS-Iran Sepakat Roadmap 60 Hari, Nasib Selat Hormuz Mulai Temui Titik Terang Perusahaan-perusahaan tersebut dilarang membeli produk yang diproduksi oleh entitas yang masuk daftar hitam, meskipun perusahaan dengan kepemilikan AS yang beroperasi di China masih diperbolehkan melakukan transaksi. Ketegangan ini terjadi di tengah meningkatnya rivalitas teknologi dan industri strategis antara dua ekonomi terbesar dunia, khususnya pada sektor mineral penting seperti rare earth yang menjadi komponen vital dalam industri kendaraan listrik, semikonduktor, dan pertahanan. Sebelumnya, AS juga memasukkan sejumlah perusahaan besar China seperti Alibaba, Baidu, BYD, dan NIO ke dalam daftar entitas yang dianggap mendukung aktivitas militer Beijing. Langkah saling balas ini semakin memperpanjang daftar konflik dagang dan teknologi antara Washington dan Beijing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post