News Komoditi & Global ( Jumat, 2 Januari 2026 )
News Komoditi & Global
( Jum’at, 2 Januari 2026 )
Harga Emas Global Menguat di Tengah Taruhan Penurunan Suku Bunga The Fed dan Risiko Geopolitik
Harga Emas (XAU/USD) naik mendekati $4.345 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Emas mengakhiri tahun 2025 dengan rally yang signifikan, mencapai kenaikan tahunan sekitar 65%, kenaikan tahunan terbesar sejak 1979. Rally logam mulia ini didorong oleh prospek penurunan suku bunga AS lebih lanjut pada tahun 2026 dan aliran safe-haven.
Federal Reserve AS (The Fed) memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan kebijakan bulan Desember, membawa suku bunga federal funds ke kisaran target 3,50%–3,75%. Mereka yang mendukung mencatat meningkatnya risiko penurunan pada ketenagakerjaan dan meredanya tekanan inflasi. Gubernur The Fed, Stephen Miran, memberikan suara menentang tindakan tersebut demi mendukung pemangkasan suku bunga yang lebih besar, sementara Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, dan Jeff Schmid dari The Fed Kansas City memberikan suara menentang dan mendukung mempertahankan suku bunga tidak berubah.
Risalah dari rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) pada 9-10 Desember menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed memandang pengurangan suku bunga lebih lanjut sebagai langkah yang tepat, asalkan inflasi menurun seiring waktu, meskipun mereka tetap terpecah mengenai kapan dan seberapa besar pemotongannya. Suku bunga yang lebih rendah dapat mengurangi biaya peluang memegang Emas, mendukung logam mulia yang tidak berimbal hasil.
Selain itu, konflik yang terus berlanjut antara Israel dan Iran serta ketegangan AS-Venezuela dapat mendorong harga Emas. Perlu dicatat bahwa para pedagang mencari aset-aset yang dapat mempertahankan nilai selama periode ketidakpastian, yang mendukung aset safe-haven tradisional seperti Emas.
Di sisi lain, para pedagang dapat melakukan profit taking atau menyeimbangkan portofolio mereka, yang mungkin membatasi kenaikan logam kuning ini. Chicago Mercantile Exchange (CME) Group, salah satu floor perdagangan terbesar di dunia untuk komoditas, telah meningkatkan persyaratan margin untuk Emas, Perak, dan logam-logam lainnya. Pemberitahuan ini mengharuskan para pedagang untuk menyediakan lebih banyak uang tunai pada taruhan mereka untuk mengasuransikan kemungkinan bahwa pedagang akan gagal bayar saat mereka mengambil pengiriman kontrak.
Saham Wall Street Anjlok Saat Hari Terakhir 2025
Bursa Saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup melemah pada perdagangan di Rabu (31/12). Hal ini terjadi seiring pergerakan pasar global yang serupa dan aktivitas perdagangan yang tipis pada akhir tahun dari 2025.
Dilansir dari Reuters, Jumat (2/1), Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,63% ke 48.063,29. Indeks S&P 500 melemah 0,74% ke 6.845,50. Sementara Nasdaq Composite turun 0,76% ke 23.241,99.
Ketiga indeks utama mengakhiri sesi dalam zona merah, namun tetap menutup tahun dengan kenaikan tahunan dua digit yang solid.
“Ini adalah tahun yang cukup melelahkan jika dilihat ke belakang, dan perang tarif terasa seperti sudah terjadi sangat lama,” kata Kepala Investasi Horizon, Scott Ladner.
Ia menambahkan bahwa sulit menemukan kelas aset yang berkinerja buruk sepanjang tahun, kecuali dolar.
Pergerakan moderat pada sesi kali ini menutup tahun yang penuh volatilitas, ditandai dengan ketegangan geopolitik, ancaman tarif yang datang dan pergi, pelemahan dolar, serta euforia berkelanjutan seputar perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Menurut Ladner, fokus investor ke depan akan bergeser dari pembangunan teknologi akal imitasi menuju pemanfaatannya secara luas dalam perekonomian.
“Dua tahun ke depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana kemampuan akal imitasi menyebar ke seluruh ekonomi,” ujarnya.
Memasuki tahun mendatang, perhatian investor akan tertuju pada arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed). Hal ini terjadi seiring kembalinya aliran data ekonomi ke kondisi normal setelah penutupan pemerintahan federal terpanjang dalam sejarah AS.
Pasar juga bersiap menghadapi perubahan kepemimpinan dalam bank sentral yang diperkirakan akan lebih dovish menyusul penggantian sosok dari Jerome Powell.
Dolar AS Lesu di Awal 2026 Usai Catat Penurunan Terdalam dalam Delapan Tahun
Dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan kinerja lemah pada Jumat (2/1/2026), setelah sepanjang tahun lalu tertekan terhadap mayoritas mata uang dunia.
Sementara itu, yen Jepang bergerak stabil di dekat level terendah 10 bulan, seiring pelaku pasar menanti rilis data ekonomi untuk membaca arah kebijakan suku bunga ke depan.
Menyempitnya selisih suku bunga antara AS dan negara-negara lain membayangi pasar valuta asing.
Kondisi ini mendorong sebagian besar mata uang menguat signifikan terhadap dolar sepanjang 2025, dengan yen menjadi pengecualian.
Melansir Reuters, Euro tercatat stabil di level US$1,1752 pada awal perdagangan Asia, setelah melonjak 13,5% sepanjang 2025.
Sementara pound sterling diperdagangkan di US$1,3474, menyusul kenaikan tahunan sebesar 7,7% tahun lalu. Keduanya mencatat penguatan tahunan terbesar sejak 2017.
Yen Jepang terakhir berada di posisi 156,74 per dolar AS. Sepanjang 2025, yen hanya menguat kurang dari 1% terhadap dolar dan masih bergerak dekat level terendah 10 bulan di 157,90 yang sempat tercapai pada November lalu, memicu kekhawatiran potensi intervensi dari otoritas Tokyo.
Peringatan verbal yang cukup keras dari pemerintah Jepang sepanjang Desember berhasil mendorong yen menjauh dari zona intervensi, meski kekhawatiran tersebut belum sepenuhnya hilang.
Dengan pasar Jepang dan China tutup, volume transaksi diperkirakan tipis dan pergerakan mata uang cenderung terbatas selama sesi Asia.
Chief Investment Strategist Pinnacle Investment Management Anthony Doyle menilai, perekonomian global memasuki 2026 dengan momentum yang relatif solid dan risiko resesi masih rendah.
“Di luar Amerika Serikat, dorongan pemangkasan suku bunga bank sentral mulai memudar. Ini bukan kelemahan, justru mengurangi kejutan kebijakan dan pergerakan satu arah di pasar, serta meningkatkan pentingnya seleksi antarwilayah, faktor, dan kelas aset,” ujar Doyle.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, berada di level 98,243. Sepanjang 2025, indeks ini anjlok 9,4%, menjadi penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun terakhir.
Tekanan tersebut dipicu oleh pemangkasan suku bunga, kebijakan perdagangan yang tidak konsisten, serta kekhawatiran atas independensi The Federal Reserve di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls dan klaim pengangguran, dijadwalkan rilis pekan depan.
Data ini akan menjadi petunjuk penting mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah suku bunga AS sepanjang tahun ini.
Perhatian pasar di awal tahun juga tertuju pada sosok yang akan dipilih Presiden Donald Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya, mengingat masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang.
Investor memperkirakan kandidat pilihan Trump cenderung lebih dovish, sejalan dengan kritik Trump sebelumnya terhadap The Fed dan Powell yang dinilai terlalu lambat memangkas suku bunga.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga AS sepanjang 2026, lebih banyak dibandingkan proyeksi satu kali pemangkasan dari The Fed yang masih terbelah pandangannya.
“Kami memperkirakan kekhawatiran terkait independensi bank sentral akan berlanjut hingga 2026. Pergantian kepemimpinan The Fed menjadi salah satu faktor yang membuat risiko proyeksi suku bunga kami condong ke arah dovish,” tulis analis Goldman Sachs.
Di sisi lain, dolar Australia dan dolar Selandia Baru mengawali tahun dengan sentimen positif.
Dolar Australia menguat 0,1% ke level US$0,66805, setelah mencatat kenaikan hampir 8% sepanjang 2025, menjadi kinerja tahunan terbaik sejak 2020.
Sementara itu, dolar Selandia Baru (kiwi) berhasil memutus tren penurunan tiga tahun berturut-turut dengan kenaikan hampir 3% tahun lalu. Pada Jumat, kiwi diperdagangkan relatif stabil di level US$0,5755.
Xi Jinping Optimistis China Tembus Pertumbuhan 5% di 2025, Ini Tantangan Besarnya
Presiden China Xi Jinping menyatakan perekonomian negaranya berada di jalur yang tepat untuk mencapai target pertumbuhan sekitar 5% pada 2025. Ia menyebut 2025 sebagai tahun yang “luar biasa” bagi China.
Menurut Bloomberg yang mengutip kantor berita resmi Xinhua, Xi menyampaikan bahwa produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan tumbuh sekitar 5% tahun ini. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan tahunan lembaga penasihat politik tertinggi China.
“Perekonomian China terus melaju di bawah tekanan, bergerak menuju inovasi dan kualitas, serta menunjukkan ketahanan dan vitalitas yang kuat,” ujar Xi dalam pertemuan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China.
“Laju pertumbuhan diperkirakan mencapai sekitar 5%, dan tetap termasuk yang tertinggi di antara ekonomi besar dunia,” tambahnya.
Dalam pernyataan sebelumnya, Xi juga menyebut China telah mencapai target ekonomi dan pembangunan, meski tidak merinci target yang dimaksud.
Sepanjang 2025, ekonomi China dinilai tampil cukup solid. Lonjakan ekspor membantu menjaga pertumbuhan tanpa perlu stimulus besar tambahan. Industri manufaktur pun mulai naik kelas dengan memproduksi barang bernilai tambah lebih tinggi.
Namun, sejumlah tantangan masih membayangi. Investasi diperkirakan mengalami kontraksi tahunan pertama sejak 1998. Pertumbuhan penjualan ritel melambat ke level terburuk di luar masa pandemi, sementara harga rumah baru kembali turun pada November akibat krisis sektor properti.
Xi sebelumnya telah memberi sinyal bahwa pemerintah siap menerima pertumbuhan yang lebih lambat di beberapa wilayah. Ia bahkan menegaskan perlunya menindak proyek-proyek yang dianggap “ceroboh”, menandakan fokus pemerintah kini lebih menekankan kualitas pertumbuhan dibanding sekadar kecepatan.
China optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% pada 2025, ditopang kinerja ekspor dan transformasi industri. Namun di balik optimisme itu, tekanan struktural masih kuat, terutama dari sektor properti, investasi, dan konsumsi domestik yang melemah. Arah kebijakan Xi Jinping menunjukkan China kini lebih memilih pertumbuhan yang stabil dan berkualitas, meski harus mengorbankan laju pertumbuhan yang lebih cepat.
Taiwan Tegang, Roket China Jatuh di Zona Lautnya
Presiden Taiwan Lai Ching-te pada Rabu memperingatkan bahwa latihan militer China di sekitar Taiwan bukanlah kejadian terpisah, melainkan bagian dari pola yang lebih besar dan menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan.
“Belakangan ini, mulai dari wilayah sekitar Jepang hingga Laut China Selatan, dan kini lewat berbagai pelanggaran yang menyasar Taiwan, ekspansi otoriter dan tekanan militer China telah menciptakan ketidakpastian dan risiko besar bagi stabilitas kawasan, serta berdampak pada pelayaran global, perdagangan, dan perdamaian,” ujar Lai dalam upacara kenaikan pangkat perwira militer.
Mengutip DPA International, Lai mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, China menggelar latihan militer di laut dan wilayah udara sekitar Taiwan. Ia menambahkan bahwa angkatan bersenjata Taiwan merespons dengan cepat, menunjukkan kemampuan reaksi cepat, taktik fleksibel, serta kemampuan menghadapi potensi blokade.
Militer China, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), pada Senin meluncurkan latihan militer mendadak bertajuk “Justice Mission 2025” di sekitar Taiwan. Meski menuai kritik internasional, latihan tersebut berlanjut hingga Selasa, dengan sebagian dari 27 roket uji yang ditembakkan jatuh di dalam zona tambahan Taiwan sejauh 24 mil laut (sekitar 44 kilometer).
Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa pada Selasa pihaknya mendeteksi 77 sorti pesawat militer PLA dan 17 kapal perang China beroperasi di sekitar wilayah Taiwan.
Pejabat senior PLA dari Komando Teater Timur, Kapten Senior Li Xi, menyatakan bahwa latihan “Justice Mission 2025” telah berhasil diselesaikan dan sepenuhnya menguji kemampuan operasi gabungan terpadu pasukan China.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Taiwan menegaskan bahwa provokasi militer China yang agresif dan bernuansa perang telah merusak perdamaian serta stabilitas kawasan, dan memicu kecaman dari negara-negara demokratis mitra internasional.
“Kami akan terus merespons secara tenang, terukur, tertib, dan terkendali, sembari menjaga kedaulatan nasional, kebebasan demokrasi, serta keselamatan rakyat dan harta benda mereka,” tegas kementerian tersebut.
Kementerian Luar Negeri Taiwan juga menyampaikan terima kasih kepada Uni Eropa, Inggris, Prancis, Jerman, Australia, Selandia Baru, Jepang, serta negara-negara mitra lain yang menyatakan keprihatinan serius atas latihan militer China yang dinilai meningkatkan ketegangan di Selat Taiwan secara sepihak.
Di Taiwan, Direktur Jenderal German Institute Taipei, Karsten Tietz, menyatakan bahwa latihan militer China telah meningkatkan ketegangan dan merusak stabilitas di Selat Taiwan.
“Setiap perubahan status quo hanya boleh terjadi secara damai dan melalui kesepakatan bersama. Pemerintah federal Jerman menyerukan pengendalian diri dan dialog,” ujarnya.
China memutus seluruh komunikasi resmi dengan Taiwan sejak Juni 2016, sebulan setelah mantan Presiden Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik yang cenderung pro-kemerdekaan menjabat. Sejak menjabat pada 2024, Presiden Lai tetap menyatakan keterbukaan untuk memperluas dialog dengan China, meski ketegangan lintas selat terus berlangsung.
Taiwan, negara demokratis dengan 23,4 juta penduduk, telah menjalankan pemerintahan sendiri sejak 1949. Namun, China memandang pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya dan berulang kali mengancam akan mencaploknya.
Latihan militer besar-besaran China di sekitar Taiwan kembali meningkatkan ketegangan kawasan dan memicu kekhawatiran internasional. Taiwan menilai langkah tersebut sebagai bagian dari strategi tekanan jangka panjang Beijing yang mengancam stabilitas regional, perdagangan global, dan perdamaian, meski Taipei menegaskan tetap merespons secara terukur sambil membuka ruang dialog.
China Kenakan Tarif Tinggi Impor Daging Sapi, Ini Tujuannya
Pemerintah China akan memberlakukan pembatasan impor daging sapi dengan mengenakan tarif tambahan sebesar 55% untuk volume impor yang melebihi kuota. Kebijakan ini ditujukan untuk melindungi industri peternakan sapi domestik yang tertekan oleh membanjirnya daging sapi impor.
Data Reuters menunjukkan, Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa total kuota impor daging sapi pada 2026 ditetapkan sebesar 2,7 juta ton metrik. Angka ini relatif sejalan dengan total impor China pada 2024 yang mencapai rekor 2,87 juta ton. Kebijakan pengamanan (safeguard measures) ini berlaku untuk pemasok utama seperti Brasil, Australia, Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan Selandia Baru.
Namun, kuota baru tersebut lebih rendah dibandingkan volume impor aktual pada 11 bulan pertama 2025, khususnya dari Brasil dan Australia. Menurut Kementerian Perdagangan China, lonjakan impor daging sapi telah “secara serius merugikan industri domestik”.
Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Januari 2026 dan akan berlangsung selama tiga tahun, dengan kuota impor yang meningkat secara bertahap setiap tahunnya.
Data menunjukkan impor daging sapi China turun tipis 0,3% pada 11 bulan pertama 2025 menjadi 2,59 juta ton. Meski begitu, analis senior Beijing Orient Agribusiness Consultants, Hongzhi Xu, memperkirakan impor daging sapi China akan menurun lebih jauh pada 2026 akibat kebijakan baru ini.
Ia menilai peternakan sapi di China masih kalah bersaing dibanding negara produsen besar seperti Brasil dan Argentina, dan kondisi tersebut tidak bisa dibenahi dalam jangka pendek hanya dengan teknologi atau reformasi kelembagaan.
Berdasarkan rincian kuota, Brasil tetap menjadi pemasok terbesar dengan kuota 1,1 juta ton pada 2026, meski angka ini lebih rendah dari ekspor aktual Brasil ke China sepanjang Januari–November 2025 yang mencapai 1,33 juta ton. Australia juga menghadapi pembatasan serupa, meskipun pengirimannya ke China melonjak tajam tahun ini setelah ekspor daging sapi AS tertekan akibat perang tarif dan pembatasan izin rumah potong hewan AS.
Menanggapi kebijakan tersebut, Menteri Perdagangan Australia Don Farrell menyebut keputusan China “mengecewakan” dan menegaskan bahwa daging sapi Australia tidak mengancam sektor sapi China. Pemerintah Australia kini tengah mengkaji dampak kebijakan tersebut bersama industri.
Di Brasil, pemerintah menyatakan tidak perlu panik dan membuka peluang negosiasi kompensasi dengan China. Namun, kelompok industri daging sapi Brasil menyampaikan kekhawatiran serius. Asosiasi Abiec menyebut hampir separuh ekspor daging sapi Brasil bergantung pada pasar China.
Asosiasi Abrafrigo bahkan memperkirakan kebijakan ini berpotensi memangkas pendapatan ekspor daging sapi Brasil hingga 3 miliar dollar AS pada 2026.
Kebijakan China ini muncul di tengah kelangkaan daging sapi global yang mendorong kenaikan harga di banyak negara, termasuk Amerika Serikat. Di sisi domestik, otoritas China menilai tarif tambahan ini akan membantu menahan penurunan populasi sapi indukan dan memberi waktu bagi industri dalam negeri untuk berbenah. Pemerintah China juga mengklaim sektor peternakan sapi telah mencatat keuntungan selama tujuh bulan berturut-turut hingga akhir 2025.
China resmi memperketat impor daging sapi dengan tarif tambahan 55% untuk volume di luar kuota mulai 2026 demi melindungi industri peternakan domestik. Kebijakan ini berpotensi menekan ekspor negara pemasok utama seperti Brasil, Australia, dan AS, sekaligus memicu pergeseran arus perdagangan global di tengah kondisi pasokan daging sapi dunia yang sedang ketat.
Putri Kim Jong Un, Kim Ju Ae, Tampil di Acara Resmi, Spekulasi Penerus Menguat
Putri Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Ju Ae, kembali tampil di publik dalam agenda resmi yang semakin menegaskan posisinya sebagai calon penerus kepemimpinan.
Ia mendampingi kedua orang tuanya dalam kunjungan ke Mausoleum Kumsusan untuk menghormati para pemimpin pendahulu, menurut foto yang dipublikasikan media pemerintah pada Jumat (2/1/2026).
Kehadiran Ju Ae dalam berbagai acara kenegaraan dalam tiga tahun terakhir terus menarik perhatian.
Analis serta badan intelijen Korea Selatan menilai, peningkatan eksposur itu menjadi sinyal kuat bahwa ia tengah dipersiapkan sebagai generasi keempat pemimpin dinasti Kim.
Dalam kunjungan pada 1 Januari tersebut, Ju Ae tampak berjalan di antara Kim Jong Un dan ibunya, Ri Sol Ju, di aula utama Istana Kumsusan.
Sejumlah pejabat senior juga hadir mendampingi dalam penghormatan kepada Kim Il Sung dan Kim Jong Il, kakek dan ayah Kim Jong Un yang merupakan pendiri rezim Korea Utara.
Ju Ae yang diyakini lahir pada awal 2010-an itu juga terlihat mengikuti perayaan Tahun Baru, sebagaimana diberitakan pada Kamis (31/12/2025).
Pada September lalu, ia turut menemani ayahnya dalam perjalanan resmi ke Beijing, menjadi penampilan publik pertamanya di luar negeri.
Meski kerap muncul dalam pemberitaan, pemerintah Korea Utara belum pernah mengonfirmasi usia pasti Kim Ju Ae. Namun, semakin seringnya ia tampil di panggung politik negara tertutup itu memperkuat spekulasi bahwa perannya akan makin besar di masa mendatang.
Xi Jinping Akan Jamu Presiden Korea Selatan di Tengah Ketegangan dengan Jepang
Presiden China Xi Jinping akan menjamu Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, dalam kunjungan kenegaraan mulai Minggu (4/1/2026), di tengah meningkatnya ketegangan Beijing–Tokyo terkait isu Taiwan.
Pertemuan ini menjadi yang kedua dalam dua bulan terakhir, sinyal kuat bahwa China ingin mempererat hubungan dengan Seoul dan mendorong kerja sama ekonomi serta pariwisata.
Langkah tersebut dipandang sebagai strategi China untuk menegaskan kedekatan dengan Korea Selatan sebelum Seoul kembali menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Jepang.
“China ingin menegaskan posisi penting Korea Selatan lebih dari sebelumnya,” ujar Kang Jun-young, pakar ekonomi politik dari Hankuk University of Foreign Studies. Ia menilai Beijing sengaja mengatur pertemuan ini sebelum Seoul melanjutkan dialog dengan Tokyo.
Hubungan Korea Selatan dan China sebelumnya merenggang pada era Presiden Yoon Suk Yeol yang lebih dekat dengan Washington dan Tokyo, serta kritis terhadap kebijakan China di Taiwan.
Kini, pemerintahan Lee ingin “memulihkan” hubungan dengan Beijing karena China merupakan mitra dagang terbesar Korea Selatan. Lee juga menegaskan bahwa Seoul tak akan berpihak dalam perselisihan diplomatik China–Jepang.
Meski begitu, hubungan Beijing–Seoul tetap diwarnai tantangan. China adalah pendukung utama Korea Utara, sementara Korea Selatan merupakan sekutu kunci Amerika Serikat yang menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Semenanjung Korea.
AS sudah memberi sinyal akan membuat pasukannya di Korea Selatan lebih fleksibel untuk menghadapi ancaman kawasan seperti Taiwan dan perluasan militer China.
Xi dan Lee diperkirakan akan membahas modernisasi aliansi Korea Selatan–AS yang dinilai Beijing sebagai upaya menekan pengaruh China, serta dorongan Seoul agar China membantu membuka dialog kembali dengan Korea Utara. Namun Pyongyang justru mengecam Lee sebagai “munafik” dan “maniak konfrontatif”.
China dan Korea Utara sendiri terlihat makin kompak setelah Kim Jong Un menghadiri parade militer bersama Xi pada September lalu.
Kunjungan Lee ke Beijing juga akan membahas pasokan mineral kritis, rantai pasok, dan industri hijau.
Hampir 50% mineral tanah jarang Korea Selatan, penting untuk produksi semikonduktor, berasal dari China. Selain itu, sepertiga ekspor chip Korea Selatan masih bergantung pada pasar China.
Bulan lalu, kedua negara sepakat memperkuat pasokan mineral langka melalui kesepakatan tingkat menteri.
Kerja sama teknologi juga menjadi fokus. Huawei berencana memasarkan chip kecerdasan buatan Ascend 950 di Korea Selatan tahun depan sebagai alternatif Nvidia.
Di sisi budaya, ada peluang mencairnya sanksi informal China terhadap K-pop yang terjadi sejak pemasangan sistem antimisil THAAD pada 2017. CEO SM Entertainment dilaporkan masuk dalam rombongan bisnis yang mendampingi Lee.
Aturan Imigrasi Baru Trump Resmi Berlaku Per 1 Januari 2026, Ini Bunyinya
Pemerintahan Presiden Donald Trump mulai memberlakukan pembatasan imigrasi baru per 1 Januari 2026. Berdasarkan panduan terbaru Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) yang diperoleh ABC News, warga dari tujuh negara tidak lagi diperbolehkan masuk ke Amerika Serikat mulai Kamis (1/1/2026).
Tujuh negara tersebut adalah Burkina Faso, Laos, Mali, Niger, Sierra Leone, Sudan Selatan, dan Suriah. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif yang ditandatangani Trump awal tahun ini dan berlaku bagi pendatang imigran maupun non-imigran, sebagaimana tercantum dalam dokumen CBP tertanggal 29 Desember.
Gedung Putih menyatakan pembatasan ini diterapkan demi alasan keamanan nasional dan keselamatan publik. Namun, kelompok pembela imigran menilai kebijakan tersebut secara tidak langsung menargetkan negara-negara Afrika dan mayoritas Muslim.
Selain tujuh negara baru tersebut, larangan perjalanan juga masih berlaku bagi warga dari Afghanistan, Myanmar, Chad, Republik Kongo, Guinea Khatulistiwa, Eritrea, Haiti, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman. Sementara itu, pembatasan perjalanan bersifat parsial diterapkan untuk warga Venezuela dan Kuba.
Kebijakan ini muncul bersamaan dengan pengetatan aturan visa kerja H-1B yang mulai berlaku awal pekan ini. Program visa H-1B memungkinkan perusahaan di AS merekrut tenaga kerja asing dengan keahlian khusus. Sebelumnya, seleksi penerima visa dilakukan secara acak melalui sistem undian.
Kini, pemerintah AS mengubah sistem tersebut menjadi seleksi berbobot, yang memprioritaskan pekerja asing dengan upah lebih tinggi. Juru bicara Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS (USCIS), Matthew Tragesser, mengatakan sistem lama kerap disalahgunakan oleh perusahaan yang ingin mempekerjakan tenaga asing dengan upah lebih murah dibanding pekerja lokal.
“Sistem seleksi berbobot yang baru akan lebih sejalan dengan tujuan Kongres dan memperkuat daya saing Amerika dengan mendorong perusahaan merekrut tenaga asing berkeahlian tinggi dan bergaji tinggi,” ujar Tragesser.
Namun, pengacara imigrasi Rosanna Beradi menilai kebijakan ini justru akan mempersempit peluang pelamar. Ia mengatakan perubahan tersebut akan menyulitkan mahasiswa internasional untuk menetap dan bekerja di AS setelah lulus, serta berpotensi memperparah fenomena brain drain.
“Aturan baru ini pada dasarnya menghapus sistem undian dan hanya memprioritaskan mereka yang berpenghasilan tinggi,” kata Beradi.
Saat ini, kuota tahunan visa H-1B dibatasi sebanyak 85.000 aplikasi. Pengetatan ini menjadi bagian dari agenda pemerintahan Trump untuk memperketat kebijakan visa dan imigrasi secara lebih luas.
Pemerintahan Trump kembali memperketat kebijakan imigrasi dengan memberlakukan larangan masuk bagi warga dari sejumlah negara mulai 1 Januari, sekaligus mengubah sistem seleksi visa kerja H-1B. Langkah ini dinilai memperkuat agenda keamanan dan proteksi tenaga kerja domestik, namun berpotensi membatasi arus talenta global serta mempersempit peluang mahasiswa dan pekerja asing untuk menetap di Amerika Serikat.
Rusia Tuduh Ukraina Tewaskan 24 Warga Sipil dalam Serangan Drone Tahun Baru
Rusia menuduh Ukraina menewaskan sedikitnya 24 orang, termasuk seorang anak, dalam serangan drone saat perayaan Tahun Baru di wilayah Kherson selatan yang dikuasai Rusia.
Dalam laporan Reuters, serangan tersebut disebut menyasar sebuah hotel dan kafe di Desa Khorly, kawasan pesisir Laut Hitam, tempat warga sipil tengah merayakan pergantian tahun. Otoritas Rusia menyebut serangan itu dilakukan menggunakan tiga unit drone.
Gubernur Kherson versi Rusia Vladimir Saldo menyatakan, serangan tersebut merupakan aksi yang disengaja terhadap warga sipil. Ia mengklaim banyak korban tewas akibat terbakar di lokasi kejadian.
“Ini adalah serangan terencana yang secara sengaja menargetkan warga sipil yang sedang merayakan Tahun Baru,” ujar Saldo dalam pernyataan resminya, Kamis (1/1/2026).
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut sedikitnya 24 orang tewas dan sekitar 50 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk enam anak-anak yang saat ini dirawat di rumah sakit.
Moskow menilai serangan tersebut sebagai kejahatan perang dan menyebutnya sebagai aksi terorisme.
Namun, Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen foto-foto maupun klaim korban yang disampaikan oleh otoritas Rusia.
Sejumlah gambar yang dirilis menunjukkan satu jenazah tertutup kain putih, bangunan yang hangus terbakar, serta dugaan noda darah di sekitar lokasi.
Hingga berita ini diturunkan, militer Ukraina belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.
Sebelumnya, Ukraina juga kerap menuduh Rusia melakukan serangan terhadap warga sipil di sejumlah kota Ukraina.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengatakan Moskow akan membalas serangan tersebut di medan perang.
Ia menegaskan pihak yang bertanggung jawab, termasuk para komandan, akan menjadi target balasan Rusia.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyalahkan negara-negara Barat yang mendukung Ukraina.
Sejumlah pejabat tinggi Rusia, termasuk pimpinan dua kamar parlemen, turut mengecam Kyiv atas insiden tersebut.
Sebagai informasi, Kherson merupakan satu dari empat wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia pada 2022.
Langkah tersebut ditolak oleh Ukraina dan sebagian besar negara Barat yang menilai aneksasi itu melanggar hukum internasional.
Dollar AS Alami Tahun Terburuk Sejak 2017, Ini Biang Keroknya
Nilai tukar dollar AS menutup tahun 2025 dengan penurunan terdalam sejak 2017. Pelemahan ini diperkirakan masih akan berlanjut jika ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya memilih memangkas suku bunga lebih agresif, seperti yang saat ini diantisipasi pasar.
Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat turun sekitar 8% sepanjang 2025. Para pelaku pasar bahkan mulai memasang taruhan bahwa tekanan terhadap dollar belum akan berakhir. Setelah sempat anjlok pasca pengumuman tarif impor oleh Presiden Donald Trump pada April lalu, dollar gagal bangkit signifikan.
Mengutip Bloomberg, salah satu penyebabnya adalah ekspektasi bahwa Trump akan menunjuk pengganti Ketua The Fed Jerome Powell yang cenderung lebih “dovish” atau pro-pelonggaran kebijakan moneter. Masa jabatan Powell sendiri akan berakhir tahun depan.
“Faktor terbesar yang memengaruhi dollar pada kuartal pertama adalah The Fed,” ujar Yusuke Miyairi, analis valuta asing Nomura. “Bukan hanya soal rapat The Fed Januari dan Maret, tetapi juga siapa yang akan menggantikan Jerome Powell.”
Pasar saat ini telah memperhitungkan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun depan. Arah kebijakan ini membuat AS berbeda dengan sejumlah negara maju lain, sehingga daya tarik dollar ikut berkurang.
Data Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan posisi taruhan terhadap pelemahan dollar meningkat hingga pekan yang berakhir 23 Desember. Pasar opsi juga mengindikasikan dollar masih berpotensi melemah pada Januari, meski tekanan diperkirakan mereda di bulan-bulan berikutnya.
Di sisi lain, euro justru menguat terhadap dollar. Inflasi yang relatif terkendali serta rencana peningkatan belanja pertahanan di Eropa membuat peluang pemangkasan suku bunga di kawasan euro nyaris nol. Sementara itu, di Kanada, Swedia, dan Australia, pelaku pasar justru berspekulasi akan ada kenaikan suku bunga.
Pada perdagangan Rabu, indeks dollar relatif stabil setelah sempat naik tipis 0,2%. Kenaikan ini didorong data Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan klaim pengangguran turun ke salah satu level terendah tahun ini. Meski demikian, secara bulanan, indeks dollar tetap turun 1,2% pada Desember.
Trump sebelumnya mengisyaratkan sudah memiliki kandidat favorit untuk menggantikan Powell, meski belum terburu-buru mengumumkannya. Ia juga sempat melontarkan wacana pemecatan Powell.
Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett disebut-sebut sebagai kandidat terkuat. Selain itu, Trump juga melirik mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh. Nama lain yang masuk bursa calon adalah Gubernur The Fed Christopher Waller dan Michelle Bowman, serta Rick Rieder dari BlackRock.
“Hassett pada dasarnya sudah diperhitungkan pasar karena sejak lama menjadi kandidat terdepan. Namun jika yang terpilih Warsh atau Waller, mereka cenderung tidak secepat memangkas suku bunga, dan itu justru lebih baik bagi dollar,” kata Andrew Hazlett, trader valuta asing Monex Inc.
Dollar AS menutup 2025 dengan pelemahan terdalam dalam delapan tahun terakhir dan masih berisiko tertekan pada 2026. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed serta potensi penunjukan ketua bank sentral yang lebih dovish menjadi faktor utama. Sementara itu, kebijakan moneter yang lebih ketat di Eropa dan sejumlah negara maju lain membuat investor mulai mengalihkan perhatian dari dollar ke mata uang lain.