News Komoditi & Global ( Rabu, 28 Januari 2026 )
News Komoditi & Global
( Rabu, 28 Januari 2026 )
Harga Emas Global Melonjak ke Rekor Tertinggi, Investor Berburu Aset Aman
Harga emas dunia melonjak lebih dari 3% dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa (27/1/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang mendorong investor beralih ke aset aman.
Emas spot sempat menyentuh level tertinggi di US$5.181,84 per ons pada pukul 15.57 waktu setempat.
Sehari sebelumnya, harga emas telah menembus batas psikologis US$5.000 per ons untuk pertama kalinya. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup relatif stabil di US$5.082,60 per ons.
Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik lebih dari 18%, melanjutkan reli kuat tahun lalu.
Kenaikan tersebut ditopang kombinasi faktor, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, hingga pembelian emas oleh bank sentral di tengah tren dedolarisasi global.
Analis Bank of America, Michael Widmer, menilai faktor pendorong reli emas belum mereda.
Kekhawatiran pasar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif baru atas impor dari Korea Selatan. Selain itu, risiko penutupan sebagian pemerintahan AS juga membayangi menjelang tenggat pendanaan pada 30 Januari.
Pelaku pasar kini mencermati rapat kebijakan dua hari bank sentral AS (The Fed) yang dimulai Selasa. Suku bunga diperkirakan tetap, namun perhatian tertuju pada konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell, di tengah kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.
Sejumlah bank besar, seperti Deutsche Bank dan Societe Generale, bahkan memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$6.000 per ons hingga akhir tahun.
Aktivitas perdagangan logam juga mencetak rekor. CME Group melaporkan kompleks logamnya mencapai rekor transaksi harian 3,34 juta kontrak pada 26 Januari, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Oktober 2025.
Tak hanya emas, perak juga melonjak tajam. Harga perak spot naik 7,7% ke US$111,84 per ons, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor US$117,69 per ons.
Tahun ini, harga perak telah melesat lebih dari 57%, setelah melonjak 146% sepanjang tahun lalu. Meski demikian, volatilitas tinggi masih membayangi pasar perak.
Sebaliknya, platinum turun 5,1% ke US$2.616,05 per ons setelah sebelumnya mencetak rekor, sementara paladium melemah 3,2% ke US$1.919,08 per ons.
Harga Minyak Dunia Naik Usai Badai Musim Dingin Ganggu Produksi AS
Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% pada perdagangan Selasa (27/1/2026), dipicu gangguan produksi minyak mentah Amerika Serikat (AS) akibat badai musim dingin yang melumpuhkan infrastruktur energi dan sempat menghentikan ekspor dari kawasan Teluk Meksiko.
Minyak mentah Brent ditutup menguat US$ 1,98 atau 3,02% ke level US$ 67,57 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,76 atau 2,9% menjadi US$ 62,39 per barel.
Analis dan pelaku pasar memperkirakan produsen minyak AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari sepanjang akhir pekan lalu, setara sekitar 15% dari total produksi nasional.
Badai dingin ekstrem yang melanda berbagai wilayah AS memberi tekanan besar pada jaringan energi dan kelistrikan.
Kondisi cuaca tersebut mendorong harga kontrak berjangka minyak karena meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan jangka pendek. Risiko pasar pun dinilai condong ke arah kenaikan selama ancaman gangguan pasokan masih berlanjut.
Selain menekan produksi, cuaca dingin juga membuat ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari pelabuhan Teluk AS sempat turun ke nol pada Minggu.
Namun, ekspor mulai pulih pada Senin seiring dibukanya kembali pelabuhan, bahkan tercatat di atas rata-rata musiman.
Dari sisi pasokan global, ladang minyak terbesar Kazakhstan, Tengiz, diperkirakan baru mampu memulihkan kurang dari separuh kapasitas normalnya hingga 7 Februari.
Pemulihan berjalan lambat akibat kebakaran dan pemadaman listrik sebelumnya, sehingga turut menjaga pasar minyak tetap ketat.
Meski demikian, operator pipa ekspor utama Kazakhstan menyatakan kapasitas pemuatan di terminal Laut Hitam Rusia telah kembali normal setelah perawatan selesai.
Faktor geopolitik juga memberi dukungan pada harga minyak. Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah kapal induk AS beserta armada pendukung tiba di kawasan tersebut, memperbesar kekhawatiran pasar akan potensi konflik dengan Iran.
Situasi ini menahan penurunan harga minyak dalam jangka pendek, ditambah belum adanya perkembangan berarti terkait perdamaian Rusia-Ukraina.
Di sisi lain, pasar juga mencermati sikap OPEC+. Kelompok produsen minyak tersebut diperkirakan tetap mempertahankan jeda kenaikan produksi pada Maret, dengan keputusan resmi akan dibahas dalam pertemuan awal Februari.
Wall Street Dibuka Mixed, Saham Asuransi Tertekan Isu Tarif Medicare
Indeks saham utama Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq, dibuka menguat pada perdagangan Selasa (27/1/2026), seiring pelaku pasar mencermati rilis kinerja keuangan emiten-emiten berkapitalisasi besar.
Namun, saham sektor asuransi kesehatan tertekan setelah proposal tarif pembayaran Medicare Advantage dari pemerintahan Presiden Donald Trump mengecewakan investor.
Melansir Reuters pada pembukaan pasar pukul 09.30 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 305,69 poin atau 0,62% ke level 49.106,71. Sementara itu, S&P 500 naik 13,94 poin atau 0,20% ke 6.964,17 dan Nasdaq Composite menguat 112,68 poin atau 0,48% ke 23.714,03.
Tekanan pada Dow dipicu anjloknya saham UnitedHealth hingga 15% setelah pemerintah AS mengusulkan kenaikan tarif pembayaran Medicare Advantage yang dinilai terlalu kecil.
Proposal tersebut membayangi proyeksi laba disesuaikan UnitedHealth untuk 2026, meskipun secara nominal berada di atas ekspektasi analis.
Tekanan juga menjalar ke saham asuransi kesehatan lainnya. Saham Humana merosot 15,6%, sementara CVS Health melemah 11,9%.
Di sisi lain, laporan kinerja sejumlah perusahaan besar mulai mengalir dan memberi sentimen beragam ke pasar.
Boeing membukukan laba pada kuartal IV, berbalik dari rugi sebelumnya, meski sahamnya masih turun 1,2%.
United Parcel Service (UPS) melonjak 3,4% setelah memproyeksikan pendapatan 2026 yang lebih tinggi.
Saham FedEx ikut menguat 0,4%. General Motors mencatat kenaikan 4,7% usai melaporkan laba inti kuartal IV yang lebih tinggi dari perkiraan.
Kinerja perusahaan jasa pengiriman kerap dipandang sebagai indikator kesehatan ekonomi Amerika Serikat.
Di sektor penerbangan, saham American Airlines naik 3,3% setelah perusahaan merilis proyeksi laba 2026 yang melampaui estimasi. Sebaliknya, JetBlue Airways turun 4,9% akibat mencatatkan rugi kuartalan yang lebih besar dari perkiraan.
Maskapai-maskapai AS juga tengah menghadapi gelombang pembatalan penerbangan akibat cuaca musim dingin ekstrem di wilayah Pantai Timur.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan emiten teknologi raksasa yang tergabung dalam kelompok “Magnificent Seven”.
Meta Platforms, Microsoft, dan Tesla dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Rabu (28/1), yang diperkirakan akan menguji keberlanjutan reli saham berbasis tema kecerdasan buatan (AI) di Wall Street.
Penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar sebelumnya telah mendorong S&P 500 dan Nasdaq mencetak level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada perdagangan Senin.
“Pandangan kami tahun ini, pendorong utama kenaikan pasar akan berasal dari pertumbuhan laba, bukan dari ekspansi valuasi,” ujar Charlie Ripley, Senior Investment Strategist di Allianz Investment Management.
Menurutnya, ekspektasi kinerja keuangan yang solid tercermin dari pergerakan saham yang kembali menguat.
Sebanyak 102 perusahaan anggota S&P 500 dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan pekan ini. Dari 64 perusahaan yang telah merilis laporan hingga Jumat lalu, sekitar 79,7% berhasil melampaui ekspektasi analis, berdasarkan data LSEG.
Sementara itu, kepadatan posisi pada saham-saham AI mendorong rotasi ke saham berkapitalisasi kecil dan saham undervalued.
Indeks Russell 2000 telah naik lebih dari 7% sepanjang bulan ini, sedangkan S&P 600 Small Cap menguat 6,5%, melampaui kenaikan S&P 500 yang hanya sekitar 1,5%.
Fokus pasar juga tertuju pada dimulainya rapat kebijakan Federal Reserve selama dua hari. Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga.
Namun, investor akan mencermati pernyataan dan panduan kebijakan The Fed, terutama terkait prospek kepemimpinan bank sentral.
Isu independensi The Fed kembali mencuat awal bulan ini setelah Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan yang melibatkan Ketua The Fed Jerome Powell.
Data kepercayaan konsumen AS untuk Januari dijadwalkan rilis pukul 10.00 waktu setempat dan diperkirakan naik menjadi 90,9 dari 89,1 pada Desember.
Di sisi lain, risiko penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown) juga membayangi pasar menjelang tenggat pendanaan pada 30 Januari, di tengah sorotan terhadap kebijakan imigrasi Trump menyusul insiden penembakan fatal kedua oleh agen federal di Minneapolis.
Sanksi AS Mulai Berdampak: Harga Minyak Urals Rusia Merosot, Siapa Paling Rugi?
Kargo minyak mentah Urals Rusia untuk pengiriman Februari diperdagangkan dengan diskon mendekati level terlebar sejak 2022 terhadap harga acuan Brent, khususnya di pelabuhan-pelabuhan India. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan sanksi Barat terhadap sektor energi Rusia, menurut dua sumber perdagangan Reuters.
Kedua sumber tersebut menyebutkan, kargo Urals untuk pasokan Februari diperdagangkan dengan diskon sekitar US$ 10 per barel dibandingkan Brent. Angka ini melebar US$ 3–5 per barel dibandingkan estimasi diskon untuk kargo yang dimuat pada musim gugur tahun lalu, sekaligus mendekati rekor diskon terlebar yang pernah terjadi.
Pada akhir 2025, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terkeras terhadap sektor energi Rusia, dengan menargetkan raksasa migas Lukoil dan Rosneft. Washington juga memberlakukan tarif impor tambahan 25% terhadap barang-barang asal India, yang dikaitkan dengan berlanjutnya impor minyak Rusia oleh New Delhi.
Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Jumat lalu memberi sinyal kemungkinan pencabutan tarif tambahan 25% tersebut, menyusul penurunan tajam impor minyak Rusia oleh India.
Dalam dua bulan terakhir, India memangkas pembelian minyak dari Rusia, sementara sanksi Barat mendorong semakin banyak minyak Rusia beralih ke pasar China.
"Diskon besar ini berpotensi menarik minat tambahan dari kilang-kilang India dan membantu menyalurkan lebih banyak barel Urals ke negara tersebut," ujar salah satu pedagang.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa India mulai mencari alternatif minyak selain Urals, seiring tekanan dari negara-negara Barat.
Menurut dua sumber perdagangan yang mengetahui transaksi tersebut, Indian Oil Corp, kilang terbesar di India, dilaporkan telah membeli sekitar 7 juta barel minyak untuk pengiriman Maret, termasuk dari Petrobras Brasil, guna menggantikan pasokan minyak Rusia.
Sejak 2023, minyak Urals menjadi bahan baku utama bagi kilang-kilang India, setelah Rusia mengalihkan ekspor energinya ke Asia menyusul pembatasan penggunaan energi Rusia oleh Uni Eropa.
Liburan Imlek China Berubah Arah: Jepang Dilarang, Seoul Dipilih!
Pemerintah China pada Senin (26/1/2026) memperingatkan warganya agar tidak bepergian ke Jepang selama libur Tahun Baru Imlek, periode libur tahunan terpanjang di China.
Peringatan ini muncul di tengah memanasnya hubungan Beijing–Tokyo, yang dipicu komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan pada awal November lalu.
Reuters melaporkan, Kementerian Luar Negeri China menyebut adanya lonjakan kejahatan yang menargetkan warga China serta risiko bencana gempa bumi. Dalam pernyataan resminya, Beijing menyatakan warga negaranya “menghadapi ancaman keamanan serius di Jepang”.
China sebelumnya juga pernah mengeluarkan peringatan serupa setelah pernyataan Takaichi yang menyebut bahwa serangan China ke Taiwan berpotensi memicu respons militer dari Jepang.
Komentar tersebut memicu kemarahan Beijing. China kemudian merespons dengan pembatasan ekspor, pembatalan penerbangan, serta pemberitaan keras di media pemerintah. Kementerian Pertahanan China bahkan memperingatkan Jepang akan menghadapi kekalahan militer yang menghancurkan jika ikut campur secara militer dalam isu Taiwan.
Maskapai besar China seperti Air China, China Eastern, dan China Southern Airlines pada Senin memperpanjang kebijakan perubahan dan pembatalan tiket gratis untuk penerbangan tujuan Jepang hingga 24 Oktober.
Kebijakan ini pertama kali diumumkan pada November setelah pernyataan Takaichi, lalu diperpanjang kembali bulan lalu hingga Maret.
Jumlah wisatawan China ke Jepang tercatat anjlok 45% pada Desember. Meski demikian, secara keseluruhan jumlah wisatawan ke Jepang justru mencapai rekor tertinggi, menurut Menteri Pariwisata Jepang pekan lalu.
Meski belum mencabut pernyataannya pada November, Takaichi berupaya meredam ketegangan dengan kembali menegaskan posisi Jepang yang mendukung kebijakan “Satu China”. Ia juga menyebut bahwa cara China menafsirkan ucapannya tidak sesuai dengan fakta.
Dalam konferensi pers pada 19 Januari saat mengumumkan pemilu dadakan, Takaichi menyatakan bahwa China telah melakukan latihan militer di sekitar Taiwan dan semakin sering menggunakan tekanan ekonomi melalui penguasaan bahan baku penting dalam rantai pasok global.
“Lingkungan keamanan internasional semakin memburuk,” ujarnya.
Di tengah peringatan bagi warganya untuk menghindari Jepang, Beijing justru menunjukkan sikap positif terhadap lonjakan pariwisata dengan Korea Selatan, seiring upaya memperkuat hubungan dengan Seoul setelah memburuknya relasi dengan Tokyo.
Didorong kebijakan bebas visa, jumlah wisatawan Korea Selatan ke China dan wisatawan China ke Korea Selatan terus meningkat.
“Ledakan pariwisata dua arah ini menjadi cerminan meningkatnya pertukaran ekonomi dan kerja sama antara China dan Korea Selatan,” tulis tabloid milik pemerintah China, Global Times, dalam editorial yang diterbitkan Minggu.
Gelombang Panas Terjang Australia, Melbourne Hadapi Hari Terpanas dalam 17 Tahun
Gelombang panas ekstrem melanda wilayah tenggara Australia dan meningkatkan risiko kebakaran hutan, dengan Melbourne diperkirakan mencatatkan hari terpanas dalam hampir 17 tahun pada Selasa (27/1/2026).
Biro Meteorologi Australia memperkirakan suhu di Melbourne bisa mencapai 45 derajat Celsius. Kondisi gelombang panas parah hingga ekstrem diperkirakan memuncak pada Selasa dan Rabu, sebelum perlahan mereda pada akhir pekan ini.
Cuaca panas tersebut turut meningkatkan tingkat bahaya kebakaran di negara bagian Victoria, wilayah terpadat kedua di Australia.
Sebuah kebakaran hutan yang bergerak cepat di kawasan Otways telah menghanguskan sekitar 10.000 hektare lahan.
Otoritas setempat memperingatkan bahwa angin kencang yang diperkirakan bertiup pada sore hari berpotensi memperparah penyebaran api dan mengancam permukiman warga.
“Perubahan kondisi sekitar pukul 5 sore dengan hembusan angin yang sangat kuat kemungkinan akan menjadi faktor paling merusak dan mendorong api menyebar lebih jauh,” ujar Kepala Petugas Country Fire Authority, Jason Heffernan, kepada ABC News.
Layanan darurat telah mendatangi sekitar 1.100 rumah secara langsung dan mengirim pesan singkat ke sekitar 10.000 ponsel untuk mendesak warga segera meninggalkan wilayah terdampak.
Pemerintah Victoria juga memberlakukan larangan total aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di seluruh wilayah negara bagian tersebut guna menekan risiko munculnya titik api baru.
Sementara itu, penyelenggara turnamen tenis Australian Open di Melbourne menyatakan pertandingan di lapangan terbuka dan pengoperasian atap stadion akan mengikuti protokol kondisi panas ekstrem.
Sejumlah pertandingan kursi roda ditunda hingga Rabu.
Di wilayah pedalaman, suhu diperkirakan menembus kisaran tinggi 40 derajat Celsius.
Kota Ouyen, yang berpenduduk sekitar 1.000 jiwa dan terletak 440 kilometer barat laut Melbourne, diprediksi mencatat suhu hingga 49 derajat Celsius.
Seorang tukang daging lokal Nathan Grayling mengatakan kepada ABC Radio bahwa ia akan menjaga tokonya tetap gelap dan sejuk, sementara sebagian besar warga memilih bertahan di dalam rumah.
“Kalau semua pekerjaan sudah selesai, mungkin kami pulang lebih awal dan mampir ke pub lokal untuk minum bir,” ujarnya.
Lingkaran Presiden AS Geger: Donald Trump Bahas Kematian & Warisan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan membuat orang-orang di lingkaran terdekatnya terkejut setelah dengan tenang meramalkan kapan dirinya akan meninggal, menurut sebuah laporan terbaru.
Presiden berusia 79 tahun itu disebut melontarkan pernyataan tersebut di Mar-a-Lago, saat layar televisi menayangkan peti jenazah Jimmy Carter yang disemayamkan di Gedung Capitol AS. Kepada orang-orang di ruangan itu, Trump berkata,
“Kalian tahu, dalam sepuluh tahun ke depan, itu akan menjadi saya,” kata Trump.
Mengutip The Daily Beast, ucapan tersebut, yang dikutip dari seseorang yang mengetahui langsung pernyataan Trump, dimuat dalam laporan panjang New York Magazine berjudul “The Superhuman President”, yang mengulas kondisi kesehatan dan psikologis Trump.
Episode ini menambah nuansa suram dalam cara Trump dan timnya kini membicarakan tahun politik 2028.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada New York Magazine bahwa “bayang-bayang kematian terkadang muncul dalam pembicaraan soal 2028”. Para ajudan disebut mulai memperhitungkan apakah Trump akan bersedia (atau bahkan mampu) maju lagi, ketika usianya sudah memasuki awal 80-an.
Di saat yang sama, Trump justru kerap menegaskan bahwa bertahan di kursi presiden adalah hal yang membuatnya tetap hidup.
Trump saat ini tercatat sebagai orang tertua yang pernah terpilih sebagai presiden AS.
Alih-alih membicarakan soal melambat atau pensiun, ia berulang kali menggoda publik dengan kemungkinan mencalonkan diri lagi, bahkan membanggakan diri bisa mengejar masa jabatan ketiga, atau secara praktis masa jabatan keempat, ketika usianya mencapai 86 tahun, meski para ahli hukum menegaskan adanya batas dua periode dalam konstitusi AS.
Pernyataan-pernyataan Trump itu berseberangan dengan meningkatnya kekhawatiran soal kesehatannya, yang sebelumnya banyak dilaporkan oleh The Daily Beast.
Dalam laporan New York Magazine, para ajudan dikabarkan cemas dengan tangan Trump yang sering memar, kebiasaannya tertidur di depan umum, serta kunjungan MRI misterius ke Walter Reed yang sulit dijelaskan oleh Gedung Putih.
Mantan pengacara Gedung Putih Ty Cobb bulan ini memperingatkan bahwa penurunan kognitif Trump sudah “terasa jelas”. Sementara itu, dokter ternama Dr. Bruce Davison mengatakan dalam podcast The Daily Beast bahwa dosis aspirin harian Trump sebesar 325 mg biasanya diberikan kepada pasien yang berisiko stroke.
Di lingkaran dalam Trump, situasinya disebut seperti realitas ganda yang aneh. Di satu sisi, Trump berbicara soal kematian, warisan, dan apa yang akan ia tinggalkan, mulai dari ballroom East Wing senilai US$ 400 juta hingga monumen “Arc de Trump” yang ingin ia bangun berhadapan dengan Lincoln Memorial.
Namun di sisi lain, ia tetap menampilkan dirinya sebagai sosok “manusia super” yang mampu bekerja lebih keras dari rival yang lebih muda dan menantang usia.
Seorang pejabat senior mengatakan kepada New York Magazine bahwa pembicaraan soal suksesi bukan hanya soal menerima fakta bahwa Trump tidak akan hidup selamanya, tetapi juga tentang bagaimana membuatnya “hidup abadi” melalui para penerus yang ia pilih.
The Daily Beast menyatakan telah menghubungi Gedung Putih untuk meminta tanggapan.
Penguatan Yen Akibat Risiko Intervensi Menahan Pergerakan Dolar
Nilai tukar yen Jepang bertahan kuat pada Selasa (27/1/2026) setelah mencatat dua sesi penguatan tajam berturut-turut.
Pasar masih waspada terhadap kemungkinan intervensi mata uang terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Jepang, yang membuat dolar AS tetap tertekan.
Penguatan yen turut membebani dolar, yang bergerak di dekat level terendah empat bulan.
Tekanan terhadap dolar juga datang dari faktor domestik AS, mulai dari ancaman penutupan pemerintahan hingga kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai tidak konsisten.
Perhatian pelaku pasar valas dalam beberapa waktu terakhir tertuju pada yen, yang menguat hingga sekitar 3% dalam dua sesi perdagangan terakhir.
Reli tersebut dipicu kabar adanya “rate checks” atau pengecekan nilai tukar oleh otoritas AS dan Jepang, yang kerap dipandang sebagai sinyal awal intervensi.
Seiring sentimen tersebut, yen bertahan di kisaran 153–154 per dolar AS. Pada perdagangan terakhir, yen berada di level 154,24 per dolar, jauh dari posisi terlemahnya pada Jumat lalu di 159,23 per dolar.
“Itu sangat efektif, dan memang tepat… langkah The Fed cukup tidak terduga,” ujar Chief Economist Asia-Pasifik Natixis, Alicia Garcia Herrero.
Sumber Reuters menyebutkan Federal Reserve Bank of New York telah melakukan pengecekan nilai tukar dolar/yen dengan pelaku pasar pada Jumat lalu.
Sementara itu, pejabat senior Jepang pada Senin menyatakan tengah menjalin koordinasi erat dengan AS terkait pergerakan nilai tukar.
Ancaman intervensi tersebut membuat investor enggan kembali menekan yen ke level yang lebih lemah, meskipun kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang masih membayangi.
Sejumlah analis menilai intervensi terkoordinasi memiliki ambang syarat yang tinggi dan belum tentu segera terjadi.
“Ini belum berakhir. Pasar memang lebih berhati-hati, tetapi jika tidak ada tindakan lanjutan, akan ada upaya baru untuk menguji ketegasan otoritas Jepang,” kata analis valas OCBC, Moh Siong Sim.
“Pada titik itulah, intervensi nyata bisa saja dilakukan untuk mengirim pesan yang lebih kuat.”
Data pasar uang Bank of Japan menunjukkan lonjakan nilai yen terhadap dolar pada Jumat lalu kemungkinan besar bukan disebabkan oleh intervensi langsung pemerintah Jepang.
Di pasar global, tekanan terhadap dolar membuat sebagian besar mata uang utama bertengger di dekat level tertinggi empat bulan.
Euro stabil di US$1,1878 setelah sempat menyentuh puncak US$1,19075 pada Senin. Pound sterling juga bertahan di US$1,3678, sedikit di bawah level tertingginya sehari sebelumnya.
Dolar Australia dan dolar Selandia Baru turut mempertahankan penguatan, masing-masing diperdagangkan di US$0,6914 dan US$0,5970.
Sepanjang awal 2026, dolar kembali berada di bawah tekanan akibat kombinasi berbagai faktor yang memicu perubahan pandangan investor terhadap stabilitas greenback.
Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar telah melemah lebih dari 1% sejak awal tahun dan terakhir berada di level 97,05, mendekati posisi terendah empat bulan di 96,808.
Fokus pasar kini juga tertuju pada pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve yang dimulai Selasa ini.
Agenda tersebut dibayangi oleh penyelidikan pidana pemerintahan Trump terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, upaya pemecatan Gubernur The Fed Lisa Cook, serta rencana penunjukan penerus Powell.
“Pasar kemungkinan lebih fokus pada isu independensi The Fed ketimbang arah suku bunga,” ujar analis mata uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong.
Menurutnya, jika Powell memilih mundur dari jabatannya sebagai gubernur setelah masa tugas ketua berakhir pada Mei mendatang, hal itu bisa memperkuat persepsi bahwa The Fed tunduk pada tekanan politik, yang pada akhirnya menjadi risiko negatif bagi dolar AS.
Trump akan Naikkan Tarif Impor Korea Selatan Jadi 25% Usai Negosiasi Dagang Mandek
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor atas sejumlah produk asal Korea Selatan menjadi 25%, menyusul mandeknya pengesahan kesepakatan dagang antara kedua negara di parlemen Korea Selatan.
Dalam unggahan di media sosial pada Senin (26/1/2026), Trump menuding legislatif Korea Selatan gagal memenuhi komitmen dalam perjanjian dagang dengan Washington.
Ia menegaskan tarif impor untuk sektor otomotif, kayu, farmasi, serta tarif resiprokal lainnya akan dinaikkan dari sebelumnya 15% menjadi 25%.
“Legislatif Korea Selatan tidak memenuhi kesepakatannya dengan Amerika Serikat,” tulis Trump.
“Karena kesepakatan dagang bersejarah kita belum diberlakukan, saya memutuskan menaikkan tarif impor Korea Selatan.”
Trump tidak menjelaskan secara rinci kapan kebijakan kenaikan tarif tersebut akan mulai berlaku maupun pemicu spesifik yang melatarbelakanginya.
Pasar keuangan Korea Selatan langsung bereaksi negatif. Indeks acuan KOSPI melemah 0,7% pada perdagangan awal Selasa, sementara nilai tukar won terdepresiasi sekitar 0,5% terhadap dolar AS.
Pihak Gedung Putih dan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump tersebut.
Sementara itu, Kantor Kepresidenan Korea Selatan (Blue House) menyatakan Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan, yang saat ini berada di Kanada, akan segera bertolak ke AS untuk bertemu Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick. Kunjungan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 28–31 Januari 2026.
Blue House mengaku belum menerima pemberitahuan resmi terkait kenaikan tarif, namun pemerintah akan menggelar rapat lintas kementerian untuk membahas langkah antisipasi.
Hingga kini, Partai Demokrat yang berkuasa di Korea Selatan juga belum memberikan pernyataan resmi.
Parlemen Korea Selatan dijadwalkan kembali menggelar sidang pembahasan undang-undang pada 3 Februari mendatang.
Pada 2025, total ekspor Korea Selatan mencapai rekor tertinggi sebesar US$709,4 miliar, naik 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun ekspor ke Amerika Serikat justru turun 3,8% menjadi US$122,9 miliar, meski tetap menjadi pasar terbesar kedua setelah China.
Ekspor otomotif ke AS tercatat sebesar US$30,2 miliar atau sekitar 25% dari total ekspor Korea Selatan ke Negeri Paman Sam, namun nilainya turun 13,2% dibandingkan 2024.
Dalam kesepakatan kerangka kerja yang dicapai tahun lalu, AS dan Korea Selatan sepakat memangkas tarif impor mobil dan suku cadang asal Korea Selatan menjadi 15% dari sebelumnya 25%, setara dengan tarif yang dikenakan pada produk Jepang. Tarif tersebut mulai berlaku pada 1 November 2025.
Jika kenaikan tarif benar-benar diterapkan, produsen otomotif seperti Hyundai Motor dan Kia diperkirakan akan terdampak signifikan. Saham Hyundai dan Kia masing-masing turun 3,5% dan 4,8% pada perdagangan awal Selasa.
General Motors, yang memproduksi sekitar 500.000 unit kendaraan per tahun di Korea Selatan dan sebagian besar diekspor ke AS, juga berpotensi terkena imbas.
Korea Selatan sebelumnya tengah berupaya merealisasikan paket investasi senilai US$350 miliar ke sektor strategis AS, termasuk pembayaran tunai US$200 miliar secara bertahap dengan batas maksimal US$20 miliar per tahun guna menjaga stabilitas nilai tukar won.
Namun Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun-cheol awal bulan ini mengatakan realisasi investasi tersebut kemungkinan tertunda hingga paruh kedua 2026, di tengah pelemahan nilai won dan ketidakpastian hukum terkait kebijakan tarif Trump.
Analis Daol Investment & Securities, Yoo Ji-woong, menilai pernyataan Koo tersebut bisa memicu reaksi keras Trump.
Ekonom Atlantic Council, Josh Lipsky, menyebut langkah Trump mencerminkan ketidaksabarannya terhadap lambannya implementasi kesepakatan dagang, sekaligus menegaskan bahwa volatilitas tarif masih akan berlanjut.
“Pasar terlalu cepat berharap pada stabilitas tarif di 2026. Volatilitas itu sendiri sudah menjadi biaya bagi perekonomian global,” ujar Lipsky.
Saham Otomotif Korea Selatan Tertekan Usai Trump Ancam Naikkan Tarif
Saham perusahaan otomotif Korea Selatan melemah pada perdagangan Selasa (27/1/2026), menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif impor produk asal Korea Selatan, termasuk mobil.
Mengutip Reuters, saham Hyundai Motor sempat anjlok hingga 4,8% pada perdagangan pagi di Bursa Seoul.
Tekanan juga menjalar ke saham perusahaan afiliasi, yakni Kia Corp yang turun hingga 6% serta Hyundai Mobis yang melemah sampai 5,7%.
Pelemahan ini jauh lebih dalam dibandingkan penurunan indeks acuan KOSPI yang hanya sekitar 1,2%.
Tekanan pasar dipicu unggahan Trump di media sosial pada Senin waktu setempat. Dalam pernyataannya, Trump menyebut akan menaikkan tarif impor barang Korea Selatan dari 15% menjadi 25%.
Kenaikan tarif tersebut disebut akan mencakup sektor otomotif, kayu, hingga farmasi.
Trump menuding parlemen Korea Selatan tidak menjalankan kesepakatan dagang dengan Washington sebagaimana mestinya.
Namun, hingga kini belum ada kejelasan kapan kebijakan kenaikan tarif itu akan mulai berlaku, serta faktor spesifik yang memicu keputusan tersebut.
Meski demikian, sejumlah analis menilai dampak kebijakan ini masih bersifat sementara.
Mereka menilai kesepakatan dagang antara Korea Selatan dan Amerika Serikat pada dasarnya telah disetujui di tingkat kepala negara, sehingga potensi eskalasi konflik tarif dinilai terbatas.
Analis senior Meritz Securities, Kim Joon-sung, menyatakan tarif ekspor mobil Korea Selatan ke Amerika Serikat pada akhirnya diperkirakan tetap berada di level 15%.
Menurutnya, negosiasi lanjutan hanya tinggal menunggu waktu untuk memastikan kembali kesepakatan yang sudah ada.
Pasar kini mencermati perkembangan komunikasi kedua negara, terutama terkait sektor otomotif yang menjadi salah satu penopang utama ekspor Korea Selatan ke Amerika Serikat.
Micron Siap Umumkan Investasi Pabrik Chip Memori di Singapura
Produsen chip memori asal Amerika Serikat (AS) Micron Technology bersiap mengumumkan investasi baru untuk menambah kapasitas manufaktur chip memori di Singapura.
Langkah ini dilakukan untuk memperluas produksi di tengah kelangkaan chip memori global yang semakin akut, menurut tiga sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Sumber menyebutkan pengumuman investasi itu bisa dilakukan paling cepat pada Selasa (27/1/2026).
Salah satu sumber mengatakan investasi tersebut akan difokuskan pada produksi memori flash NAND.
Ketiga sumber enggan disebutkan namanya karena tidak memiliki kewenangan untuk membahas rencana tersebut secara terbuka.
Hingga berita ini ditulis, Micron belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Investasi ini dilakukan saat berbagai industri, mulai dari elektronik konsumen hingga penyedia layanan kecerdasan buatan (AI), menghadapi kekurangan serius pada seluruh jenis chip memori.
Kelangkaan tersebut dipicu oleh percepatan pembangunan infrastruktur AI secara global.
Micron saat ini memiliki fasilitas manufaktur besar di Singapura, yang memproduksi sekitar 98% chip memori flash perusahaan.
Selain itu, Micron juga tengah membangun pabrik advanced packaging senilai US$7 miliar untuk memori bandwidth tinggi (high bandwidth memory/HBM) yang digunakan pada chip AI. Fasilitas tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027.
Micron bersama para pesaing utamanya, yakni Samsung Electronics dan SK Hynix dari Korea Selatan, telah mengumumkan penambahan jalur produksi baru serta mempercepat jadwal dimulainya produksi.
Meski demikian, para analis memperkirakan kekurangan pasokan chip memori masih berpotensi berlanjut hingga akhir 2027.
Pekan lalu, Micron juga menyatakan tengah menjajaki pembelian fasilitas fabrikasi dari Powerchip di Taiwan senilai US$1,8 miliar secara tunai. Akuisisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi wafer DRAM perusahaan.
Sementara itu, SK Hynix mengatakan kepada Reuters bulan ini bahwa mereka berencana mempercepat pembukaan pabrik baru hingga tiga bulan lebih awal dan mulai mengoperasikan fasilitas produksi lainnya pada Februari mendatang.
Laba Industri China Naik di 2025, Pertama dalam Empat Tahun
Laba industri China akhirnya kembali tumbuh pada 2025, menandai kenaikan tahunan pertama dalam empat tahun terakhir.
Data resmi pemerintah menunjukkan, perbaikan ini terjadi seiring meredanya perang harga di sejumlah sektor dan menguatnya kinerja ekspor di tengah lemahnya konsumsi domestik.
Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics/NBS) mencatat, laba perusahaan industri naik 0,6% sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Ini menjadi pembalikan arah setelah laba industri terus tertekan sejak 2021. Sebelumnya, hingga November 2025, pertumbuhan laba baru mencapai 0,1%.
Perbaikan kinerja terlihat jelas pada Desember 2025. Pada bulan tersebut, laba industri melonjak 5,3% secara tahunan, berbalik arah dari kontraksi tajam 13,1% pada November.
Kenaikan laba ini tak lepas dari intervensi pemerintah China yang menekan praktik persaingan berlebihan, terutama perang harga di sektor-sektor seperti otomotif dan panel surya.
Selama beberapa tahun terakhir, strategi mengejar pangsa pasar telah memangkas margin keuntungan perusahaan.
Meski tekanan deflasi di tingkat produsen belum sepenuhnya mereda, lonjakan ekspor membantu menopang kinerja industri.
Diversifikasi tujuan ekspor, terutama menjauh dari pasar Amerika Serikat, ikut meredam dampak tarif impor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap produk China.
Sektor otomotif menjadi salah satu contoh pemulihan. Sepanjang 2025, laba industri otomotif naik 0,6%, berbalik dari penurunan 8% pada tahun sebelumnya, berkat kuatnya permintaan ekspor.
Namun, otoritas statistik menilai tantangan struktural masih membayangi. “Dampak perubahan lingkungan eksternal semakin terasa,” ujar ahli statistik NBS Yu Weining.
Ia menegaskan bahwa proses transformasi dan peningkatan industri masih menimbulkan tekanan bagi pelaku usaha.
“Ada rasa sakit dalam transformasi industri, dan sebagian perusahaan masih menghadapi kesulitan dalam produksi dan operasional,” kata Yu.
Ke depan, pemerintah China berupaya mendorong konsumsi di sektor jasa untuk menyerap hasil produksi industri. Langkah ini ditujukan untuk mengatasi kelebihan kapasitas industri sekaligus mengurangi ketergantungan pada permintaan luar negeri.
Berdasarkan kepemilikan, laba perusahaan industri milik negara turun 3,9% sepanjang 2025. Sementara itu, laba perusahaan swasta relatif stagnan, dan perusahaan asing mencatat kenaikan laba sebesar 4,2%.
Data laba industri ini mencakup perusahaan dengan pendapatan tahunan minimal 20 juta yuan atau sekitar US$2,88 juta dari kegiatan usaha utama.
Diancam Trump, PM Kanada Batal Kerja Sama dengan China
Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney menyampaikan, negaranya 'tidak memiliki niat' untuk mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan China. Hal itu menyusul peringatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump terkait rencana penerapan tarif 100 persen terhadap ekspor Kanada jika kerja sama itu terwujud.
Carney menegaskan, Ottawa tetap berkomitmen pada kewajibannya dalam Perjanjian Kanada-Amerika Serikat-Meksiko (CUSMA). Dia memastikan, tidak akan melanjutkan kesepakatan perdagangan apa pun tanpa melalui proses konsultasi.
Dalam unggahan di Truth Social pada akhir pekan lalu, Trump menuduh Carney berupaya menjadikan Kanada sebagai "pelabuhan transit" bagi produk China. "Dia sangat keliru," tulis Trump.
Ketegangan meningkat setelah Trump mencabut undangan Ottawa untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace. Dia merujuk pada pidato Carney di World Economic Forum (WEF), Davos, Swiss yang memperingatkan bahaya pemaksaan ekonomi oleh negara-negara besar, sebagaimana dilaporkan Anadolu.
Meski sebelumnya Trump mendukung upaya Kanada untuk menjajaki hubungan dagang dengan China, pemerintahan AS kini memandang "kesepakatan awal" Ottawa dengan Beijing sebagai risiko terhadap keamanan perdagangan mereka. Kesepakatan yang diselesaikan pada 16 Januari 2026, memungkinkan masuknya 49 ribu kendaraan listrik buatan China ke Kanada setiap tahun dengan tarif sebesar 6,1 persen.
Sebagai imbalan, Beijing akan menurunkan tarif atas ekspor produk pertanian Kanada, termasuk minyak biji kanola, dari 85 persen menjadi 15 persen mulai 1 Maret 2026. Produk lainnya, seperti bungkil kanola, lobster, kepiting, dan kacang polong asal Kanada, akan dibebaskan dari tarif antidiskriminasi China setidaknya hingga akhir 2026.
"Kesepakatan ini memperbaiki sejumlah persoalan yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir,” kata Carney. "Kesepakatan ini sepenuhnya sejalan dengan CUSMA."
Media AS Prediksi Kapal Induk Abraham Lincoln Segera Serang Iran
Kapal induk USS Abraham Lincoln akan siap melakukan operasi melawan Iran dalam satu sampai dua hari, menurut laporan The New York Times pada Senin (26/1/2026). Pasukan Amerika Serikat (AS) juga dilaporkan telah mengirimkan belasan jet tempur tambahan untuk memperkuat kelompok penyerang mereka di wilayah tersebut.
Sebelumnya, dengan mengutip seorang pejabat AS, Fox News melaporkan bahwa kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah tanggung jawab CENTCOM di Samudra Hindia. Pada 22 Januari, Presiden AS Donald John Trump mengatakan, kapal-kapal Angkatan Laut AS bergerak menuju Iran "untuk berjaga-jaga."
Sebelumnya, Trump menolak memberikan jawaban pasti atas pertanyaan apakah opsi intervensi militer di Iran telah dihapus. Dia hanya mengatakan, tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi pada masa depan.
Sementara itu, Pemerintah Iran bersiap menghadapi serangan rudal baru dari AS dan Israel setelah diumumkan, kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln telah mengerahkan aset-aset penting ke wilayah tersebut, menurut para pengamat. Diperkirakan Washington memiliki daya tembak yang cukup, bersama dengan pesawat Israel, untuk melancarkan serangan yang dirancang untuk menggulingkan pemerintah Iran.
Armada AS, termasuk beberapa kapal perusak rudal berpemandu, belum berada di posisi akhir tetapi sudah berada dalam jangkauan serang Iran. Tidak ada kepastian bahwa serangan AS lebih lanjut terhadap Iran akan memicu kembali protes jalanan, karena banyak warga Iran yang menentang kepemimpinan ulama yang berkuasa sejak 1979 juga menentang perubahan rezim yang dipaksakan dari luar.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani mengeklaim, AS berusaha menghancurkan kohesi sosial Iran sebelum serangan. Dia mengatakan, upaya Donald Trump untuk menggambarkan "negara itu berada dalam keadaan darurat itu Presiden merupakan bentuk peperangan, dan inilah yang ingin dicapai musuh.
Dia menuding, para perusuh merupakan kelompok perkotaan dengan karakteristik seperti teroris. Ketika mereka bergegas menuju pusat militer dan polisi untuk mendapatkan senjata, itu menunjukkan bahwa mereka berusaha memprovokasi perang saudara. "Kali ini, taktik AS adalah pertama-tama menghancurkan kohesi publik dan baru kemudian melakukan serangan militer," ucap Ali dikutip dari The Guardian.
Jubir Kemenlu Iran, Esmail Baghaei, menjelaskan, adalah kebohongan menyatakan Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, telah berhubungan dengan Menlu Iran Abbas Araghchi, untuk membahas kemungkinan kesepakatan diplomatik. Witkoff baru-baru ini meningkatkan tuntutannya untuk mencakup kembalinya inspektur senjata PBB, penghapusan semua uranium yang diperkaya tinggi milik Iran, dan pembatasan program rudal Iran.