News Komoditi & Global ( Kamis, 16 Oktober 2025 )
Harga Emas Global Makin Menguat karena Harapan Penurunan Suku Bunga dan Aliran Safe-Haven
Harga Emas (XAU/USD) menarik beberapa pembeli ke sekitar $4.210 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Kamis. Logam mulia ini naik mendekati level tertinggi baru sepanjang masa karena ekspektasi pemangkasan suku bunga AS dan ketegangan perdagangan terus meningkatkan permintaan aset-aset safe-haven. Para pedagang akan mengambil lebih banyak isyarat dari pernyataan The Fed nanti pada hari Kamis. Para pengambil kebijakan Federal Reserve (The Fed), Michael Barr, Stephen Miran, Christopher Waller, dan Michelle Bowman, dijadwalkan untuk berbicara.
Ketua The Fed, Powell, mengatakan pada hari Selasa bahwa perlambatan tajam dalam perekrutan menimbulkan risiko yang semakin besar bagi ekonomi AS, mengindikasikan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan memangkas suku bunga utama dua kali lagi tahun ini. Prospek pemangkasan suku bunga The Fed dapat memberikan dukungan bagi logam kuning ini. Suku bunga yang lebih rendah dapat mengurangi biaya peluang untuk memegang Emas, mendukung logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini.
Pasar saat ini memprediksi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan The Fed bulan Oktober dan satu lagi pada pertemuan berikutnya di bulan Desember, diikuti oleh tiga pemangkasan lagi tahun depan, menurut data LSEG.
Ketegangan perdagangan yang meningkat antara AS dan Tiongkok mungkin berkontribusi pada kenaikan harga Emas. Kedua negara akan memberlakukan biaya pelabuhan tambahan pada kapal-kapal yang mengangkut kargo di antara mereka. Kebijakan ini kemungkinan akan meningkatkan biaya perdagangan dan mengganggu aliran pengiriman. AS dijadwalkan mulai memungut biaya pada 14 Oktober.
"Dengan ketegangan perdagangan AS-Tiongkok yang kembali memanas dalam beberapa hari terakhir, para investor memiliki lebih banyak alasan untuk melindungi taruhan ekuitas beli mereka dengan mendiversifikasi ke dalam Emas," kata Fawad Razaqzada, seorang analis di City Index dan FOREX.com, kepada Reuters.
Para pedagang bersiap untuk menghadapi pernyataan pejabat The Fed nanti pada hari Kamis untuk mencari beberapa petunjuk tentang jalur suku bunga AS. Setiap pernyataan hawkish yang mengejutkan dari para pejabat The Fed dapat mengangkat Dolar AS (USD) dan melemahkan harga komoditas berdenominasi USD dalam jangka pendek.
Perang Dagang AS-China Seret Harga Minyak Dunia Turun ke Level Terendah Lima Bulan
Harga minyak dunia turun ke level terendah lima bulan akibat perang dagang AS-China dan surplus pasokan global. Ketegangan ini memicu risiko ekonomi global.
Harga minyak dunia anjlok ke level terendah dalam lima bulan terakhir tertekan oleh memanasnya perang dagang AS-China dan proyeksi surplus pasokan global dari Badan Energi Internasional (IEA). Mengutip Reuters pada Kamis (16/10/2025), harga minyak mentah jenis Brent turun 48 sen atau 0,8% menjadi US$61,91 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melemah 43 sen atau 0,7% ke US$58,27 per barel. Kedua harga minyak acuan tersebut mencatatkan level penutupan terendah sejak 7 Mei selama dua hari beruntun. Bank of America memperingatkan harga Brent bisa turun di bawah US$50 per barel jika ketegangan dagang antara AS dan China semakin memanas, sementara produksi dari kelompok OPEC+ terus meningkat. Dua negara konsumen minyak terbesar di dunia itu kembali terseret dalam perang dagang setelah saling memberlakukan biaya tambahan di pelabuhan bagi kapal pengangkut barang. Langkah saling balas tersebut berpotensi mengganggu arus perdagangan global. Pekan lalu, China mengumumkan pengetatan ekspor logam tanah jarang (rare earth), sementara Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif atas barang asal China hingga 100% serta memperketat pembatasan ekspor perangkat lunak mulai 1 November.
Makin Panas, Trump Ancam Hentikan Perdagangan Minyak Goreng dengan China China Mau Setop Beli Kedelai AS, Trump Ancam Blokir Minyak Goreng Harga Minyak Global Anjlok Tertekan Prospek Surplus Pasokan Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan Washington tidak berniat memperuncing konflik dagang tersebut, seraya menyebut Trump siap bertemu Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan akhir bulan ini. Dari sisi ekonomi, tekanan deflasi masih membayangi China, dengan harga konsumen dan produsen kembali turun pada September. Lesunya sektor properti dan ketegangan dagang turut memperberat prospek ekonomi negara tersebut. Gubernur The Federal Reserve Stephen Miran menyebut meningkatnya ketegangan perdagangan menimbulkan risiko penurunan signifikan terhadap prospek ekonomi global. Ia menilai kondisi tersebut menambah urgensi bagi The Fed untuk memangkas suku bunga acuannya guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak. Sementara itu, data Federal Reserve Chicago menunjukkan penjualan ritel AS (tidak termasuk kendaraan dan suku cadang) kemungkinan masih meningkat pada September, meski sebagian kenaikan tersebut diperkirakan disebabkan oleh harga yang lebih tinggi. Sehari sebelumnya, IEA memperkirakan pasar minyak global dapat mengalami surplus hingga 4 juta barel per hari pada tahun depan—lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya—karena peningkatan produksi dari OPEC+ dan lemahnya pertumbuhan permintaan. OPEC+ mencakup negara-negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta mitra seperti Rusia dan Azerbaijan. Di sisi lain, Inggris pada Rabu (15/10/2025) memberlakukan sanksi baru terhadap dua raksasa minyak Rusia, Lukoil dan Rosneft, serta 51 kapal tanker “shadow fleet” dalam upaya memperketat embargo energi dan menekan pendapatan Rusia. Menurut data energi AS, Rusia menjadi produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah AS pada 2024. Peningkatan sanksi akibat perang Rusia–Ukraina berpotensi menahan lebih banyak pasokan minyak Rusia keluar dari pasar global. Dari Azerbaijan, Kementerian Energi melaporkan produksi minyak negara tersebut turun 4,2% menjadi 20,7 juta ton selama Januari–September 2025, dibandingkan 21,6 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun, Asosiasi Perminyakan Amerika (API) dan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) dijadwalkan merilis data persediaan minyak mingguan pada Rabu dan Kamis, mundur satu hari karena libur nasional Columbus Day pada Senin lalu. Analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS naik sekitar 0,3 juta barel pekan lalu. Jika perkiraan ini akurat, itu akan menjadi kali pertama dalam tiga pekan berturut-turut perusahaan energi menambah stok minyak—tren yang terakhir terjadi pada April. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, stok minyak AS turun 2,2 juta barel, sementara rata-rata peningkatan dalam lima tahun terakhir (2020–2024) tercatat sebesar 1,1 juta barel.
Wall Street Mixed, S&P 500 Menguat Didukung Kenaikan Laba Bank dan Reli Saham Chip
Indeks utama Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Rabu (15/10/2025). Indeks S&P 500 ditutup menguat, didukung kenaikan saham Morgan Stanley dan Bank of America setelah hasil kuartalan yang solid, sementara investor tetap fokus pada peningkatan ketegangan perdagangan China-AS baru-baru ini.
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 naik 0,40% dan ditutup pada level 6.671,06. Nasdaq menguat 0,66% ke level 22.670,08, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,04% ke level 46.253,31.
Tujuh dari 11 indeks sektor S&P 500 menguat, dipimpin oleh real estat, yang naik 1,5%, diikuti oleh sektor utilitas dengan kenaikan 1,29%.
Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 21,5 miliar saham dengan rata-rata 20,4 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Saham Morgan Stanley melonjak 4,7% ke rekor tertinggi, sementara saham Bank of America naik 4,4% setelah laba kuartal ketika kedua bank terkemuka tersebut melampaui estimasi Wall Street.
Indeks perbankan S&P 500 naik 1,2% dalam tiga hari beruntun pertamanya dalam lebih dari tiga minggu. Sehari sebelumnya, Goldman Sachs dan JPMorgan Chase melaporkan kinerja yang solid di sektor perbankan investasi dan memprediksi bahwa bisnis tersebut akan terus berkembang pesat.
Laporan keuangan bank minggu ini menunjukkan kekuatan bagi perusahaan-perusahaan besar AS seiring dimulainya musim laporan keuangan kuartal ketiga, dan juga memberikan petunjuk tentang kesehatan ekonomi sementara banyak laporan ekonomi makro masih tertunda karena penutupan pemerintah.
"Orang-orang berbelanja, dan konsumen tampaknya baik-baik saja. Itulah salah satu pesan dari laporan keuangan bank," kata Thomas Martin, manajer portofolio senior di GLOBALT di Atlanta.
"Ketenagakerjaan tidak turun drastis. Baik inflasi maupun ketenagakerjaan berada dalam kisaran yang pada dasarnya wajar."
Indeks Philadelphia Semiconductor melonjak 3% setelah ASML melaporkan pesanan kuartal ketiga dan pendapatan operasional di atas ekspektasi pasar, didorong oleh lonjakan investasi AI.
Saham ASML melonjak 2,7%. Sebuah konsorsium investasi yang terdiri dari BlackRock, Microsoft, dan Nvidia akan mengakuisisi salah satu operator pusat data terbesar di dunia dalam kesepakatan senilai $40 miliar. Saham-saham perusahaan pusat data menguat, dengan Applied Digital melonjak.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa Washington tidak ingin meningkatkan konflik perdagangan dengan China, dan menekankan bahwa Presiden Donald Trump siap bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan akhir bulan ini.
Pada hari Selasa, Trump mengatakan Washington sedang mempertimbangkan untuk memutus beberapa hubungan dagang dengan China, termasuk yang berkaitan dengan minyak goreng. Kedua negara minggu ini mulai memberlakukan biaya pelabuhan.
Bessent juga mengatakan ia berencana untuk mengajukan tiga atau empat kandidat ketua Federal Reserve kepada Trump untuk diwawancarainya setelah libur Thanksgiving AS.
Gubernur Fed Stephen Miran dalam sebuah acara CNBC mengatakan "dua pemangkasan suku bunga lagi tahun ini terdengar realistis," seraya mencatat bahwa pasar tenaga kerja jelas telah melemah.
Ketua Fed Jerome Powell pada hari Selasa juga membuka peluang untuk pemangkasan suku bunga. The Fed menyatakan dalam laporan Beige Book terbarunya yang disusun hingga 6 Oktober bahwa beberapa perusahaan melaporkan PHK akibat ketidakpastian ekonomi, dan dalam beberapa kasus, akibat peningkatan investasi di bidang AI.
Laporan tersebut juga menunjukkan pasokan tenaga kerja di sektor perhotelan, pertanian, konstruksi, dan manufaktur tertekan akibat tindakan keras pemerintahan Trump terhadap imigrasi ilegal.
IMF Optimistis Ekonomi Global Tumbuh 3,2% di 2025, tapi Trump Kembali Guncang Pasar
Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2025 setelah guncangan tarif dan kondisi keuangan global ternyata lebih ringan dari perkiraan.
Namun, lembaga itu mengingatkan bahwa ancaman perang dagang baru antara Amerika Serikat dan China dapat menekan output dunia secara signifikan.
Dalam laporan World Economic Outlook dikutip Reuters Selasa (14/10/2025), IMF menyebut sejumlah kesepakatan dagang antara AS dan mitra utamanya berhasil meredam dampak tarif yang lebih luas serta meminimalkan aksi balasan.
Kondisi ini mendorong IMF untuk kembali menaikkan proyeksi pertumbuhan global, kedua kalinya sejak April lalu.
IMF kini memperkirakan pertumbuhan PDB riil global mencapai 3,2% pada 2025, naik dari proyeksi Juli sebesar 3,0% dan jauh lebih baik dibandingkan proyeksi April sebesar 2,8% yang dibuat setelah pemerintahan Trump memberlakukan tarif global “resiprokal”.
Untuk 2026, pertumbuhan global diperkirakan stabil di 3,1%, tidak berubah dari proyeksi Juli.
Menurut Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas, pertumbuhan global juga didorong oleh sektor swasta yang tanggap mempercepat impor dan mengalihkan rantai pasok, pelemahan dolar AS, stimulus fiskal di Eropa dan China, serta ledakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).
“Kesimpulannya: tidak seburuk yang kami takutkan, tapi lebih buruk dari yang kami harapkan setahun lalu, dan masih di bawah yang dibutuhkan,” ujar Gourinchas menjelang pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pekan ini.
Namun, stabilitas pasar kembali terguncang pada Jumat lalu ketika Presiden Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% terhadap barang-barang asal China, di atas tarif rata-rata yang kini mencapai 55%, sebagai balasan atas perluasan kontrol ekspor China terhadap logam tanah jarang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Senin bahwa pembicaraan sedang dilakukan untuk meredakan eskalasi ini.
“Jika itu benar-benar terjadi, dampaknya akan sangat besar bagi ekonomi global,” kata Gourinchas kepada Reuters.
Ia menambahkan, peningkatan ketegangan dapat memangkas pertumbuhan dan memperburuk ketidakpastian yang sudah menekan investasi dan konsumsi.
Dalam skenario risiko negatif, IMF memodelkan dampak kenaikan tarif sebesar 30 poin persentase untuk barang dari China dan 10 poin untuk Jepang, kawasan euro, dan pasar negara berkembang Asia.
Hasilnya, pertumbuhan global pada 2026 bisa turun 0,3 poin persentase, dan efek negatif meningkat menjadi lebih dari 0,6 poin hingga 2028.
Jika dikombinasikan dengan dampak tambahan seperti inflasi yang lebih tinggi, kenaikan suku bunga, dan turunnya permintaan terhadap aset AS, penurunan PDB global dapat mencapai 1,2 poin persentase pada 2026 dan 1,8 poin pada 2027.
AS Tetap Tangguh, China Masih Rentan
Dalam skenario dasar IMF, ekonomi AS tetap tangguh dengan pertumbuhan 2,0% pada 2025, sedikit naik dari proyeksi Juli (1,9%), dan 2,1% pada 2026.
Meski demikian, angka itu masih di bawah pertumbuhan kuat 2,8% pada 2024.
IMF menyebut kenaikan tersebut didorong oleh tarif yang lebih rendah dari perkiraan, dorongan fiskal dari rancangan undang-undang pajak Partai Republik, serta ledakan investasi AI.
Zona euro juga mengalami sedikit peningkatan proyeksi pertumbuhan menjadi 1,2% pada 2025, naik dari 1,0% di Juli, ditopang ekspansi fiskal Jerman dan momentum kuat di Spanyol.
Sementara itu, Jepang mendapat revisi naik signifikan menjadi 1,1% dari 0,7%, berkat peningkatan konsumsi domestik dan upah yang lebih tinggi.
Namun pertumbuhan diperkirakan melambat kembali ke 0,6% pada 2026, meski tetap lebih baik dari proyeksi sebelumnya.
Untuk kawasan Amerika Latin dan Karibia, proyeksi 2025 naik menjadi 2,4% dari 2,2%, sebagian besar karena revisi naik untuk Meksiko menjadi 1,0%.
IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan China pada 4,8% untuk 2025 dan 4,2% untuk 2026, dengan catatan bahwa peningkatan ekspor belakangan ini kemungkinan tidak berkelanjutan.
“Prospek China masih mengkhawatirkan. Sektor properti masih rapuh empat tahun setelah gelembungnya pecah,” tulis Gourinchas dalam blognya.
“Risiko stabilitas keuangan meningkat karena investasi real estat terus menyusut, permintaan kredit lemah, dan ekonomi berada di ambang jebakan deflasi utang.”
IMF juga mempertahankan proyeksi inflasi global pada 4,2% untuk 2025 dan 3,7% untuk 2026.
Namun, terjadi perbedaan tren antarnegara: inflasi AS cenderung naik karena perusahaan mulai menyalurkan biaya tarif ke konsumen, sedangkan inflasi di Asia termasuk China, India, dan Thailand direvisi turun seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Saling Balas Biaya Pelabuhan, Ketegangan AS-China Ancam Jalur Perdagangan Global
Amerika Serikat (AS) dan China resmi saling mengenakan biaya tambahan di pelabuhan terhadap perusahaan pelayaran yang mengangkut berbagai komoditas mulai dari mainan hingga minyak mentah.
Langkah saling balas ini menandai babak baru dalam perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, menjadikan lautan sebagai medan konfrontasi terbaru.
Ketegangan meningkat setelah China pekan lalu memperluas kendali ekspor terhadap mineral tanah jarang, sementara Presiden Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor produk asal China hingga tiga digit.
Namun, setelah akhir pekan, kedua negara berupaya meredakan kekhawatiran pasar dengan menyatakan masih membuka ruang negosiasi.
China mulai memberlakukan biaya khusus terhadap kapal yang dimiliki, dioperasikan, dibangun, atau berbendera AS.
Namun, kapal buatan China dikecualikan dari kebijakan tersebut.
Menurut siaran CCTV, pengecualian juga berlaku untuk kapal kosong yang masuk ke galangan kapal China untuk perbaikan.
Kebijakan baru ini menyerupai rencana AS yang lebih dulu mengenakan biaya serupa terhadap kapal terkait China.
Biaya akan ditarik di pelabuhan pertama yang disinggahi, berlaku untuk satu perjalanan atau hingga lima pelayaran pertama dalam satu tahun.
“Simetri kebijakan saling balas ini mengunci kedua ekonomi dalam spiral pajak maritim yang berisiko mendistorsi arus perdagangan global,” tulis Xclusiv Shipbrokers yang berbasis di Athena dalam catatannya, Selasa (14/10/2025).
Awal tahun ini, pemerintahan Trump mengumumkan rencana mengenakan biaya terhadap kapal terkait China untuk mengurangi dominasi Negeri Tirai Bambu di industri maritim global sekaligus memperkuat kapasitas galangan kapal AS.
Investigasi di era Presiden Joe Biden sebelumnya menyimpulkan bahwa China menggunakan kebijakan tidak adil untuk menguasai sektor pelayaran dan logistik dunia membuka jalan bagi pemberlakuan sanksi tersebut.
Menanggapi itu, Beijing pekan lalu mengumumkan akan menerapkan biaya pelabuhan serupa bagi kapal terkait AS, efektif pada hari yang sama dengan penerapan kebijakan di AS.
“Kami berada di fase paling sibuk dari disrupsi ini, di mana semua pihak berusaha mencari cara untuk mengakali situasi,” kata analis pelayaran independen Ed Finley-Richardson. Ia menambahkan, beberapa pemilik kapal AS bahkan berupaya menjual kargo mereka ke negara lain saat masih dalam pelayaran untuk menghindari pelabuhan China.
Analis memperkirakan COSCO, perusahaan pelayaran milik negara China, akan menjadi pihak paling terdampak oleh biaya pelabuhan AS, menanggung hampir separuh dari beban biaya yang diproyeksikan mencapai US$3,2 miliar pada 2026.
Sementara itu, operator besar seperti Maersk, Hapag-Lloyd, dan CMA CGM telah mengurangi eksposur mereka dengan mengganti kapal terkait China dari rute pelayaran ke AS.
Departemen Perdagangan AS (USTR) belum memberikan komentar resmi.
Namun, Kementerian Perdagangan China menegaskan, “Jika AS memilih konfrontasi, China akan meladeni hingga akhir. Namun, jika AS memilih dialog, pintu China tetap terbuka.”
Sanksi Baru dan Dampak ke Industri Kapal
Dalam langkah terpisah, China juga menjatuhkan sanksi kepada lima anak usaha perusahaan galangan kapal Korea Selatan Hanwha Ocean yang dianggap “mendukung” investigasi AS terhadap praktik perdagangan China.
Hanwha, yang memiliki Philly Shipyard di AS dan mengerjakan proyek perbaikan kapal Angkatan Laut AS, menyatakan akan terus memantau dampak kebijakan tersebut.
Saham Hanwha Ocean langsung anjlok hampir 6% di bursa Seoul setelah pengumuman sanksi tersebut.
Sementara itu, China juga memulai investigasi sendiri terhadap dampak penyelidikan AS terhadap industri pelayaran dan perkapalannya.
Pelayaran Global Mencari Jalan Keluar
Seorang konsultan perdagangan di Shanghai menilai, kebijakan biaya baru ini tidak akan sepenuhnya melumpuhkan aktivitas perdagangan.
“Apakah kita akan berhenti mengirim barang? Perdagangan dengan AS memang sudah terganggu, tapi perusahaan akan selalu menemukan cara,” ujarnya.
Pemerintah AS juga memberikan pengecualian sementara bagi kapal pengangkut etana dan LPG yang dioperasikan oleh China dengan kontrak jangka panjang, menunda pemberlakuan biaya pelabuhan hingga 10 Desember.
Data Vortexa menunjukkan sekitar 45 kapal LPG raksasa atau sekitar 11% dari total armada global akan terdampak oleh kebijakan China ini.
Sementara itu, Clarksons Research memperkirakan biaya baru tersebut bisa mempengaruhi kapal tanker minyak yang mewakili 15% kapasitas global.
Analis Jefferies, Omar Nokta, menaksir 13% kapal tanker minyak mentah dan 11% kapal peti kemas dunia akan terkena imbas langsung.
Dari Perdagangan ke Kebijakan Iklim
Sebagai balasan atas pembatasan ekspor mineral penting oleh China, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif tambahan hingga 100% terhadap produk asal China dan memberlakukan kontrol ekspor baru terhadap “seluruh perangkat lunak penting” mulai 1 November.
Tak hanya itu, Washington memperingatkan bahwa negara-negara yang mendukung rencana Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk menekan emisi gas rumah kaca dari kapal laut berisiko dikenakan sanksi atau larangan berlabuh di pelabuhan AS. China secara terbuka mendukung rencana IMO tersebut.
“Senjata perdagangan dan kebijakan lingkungan kini telah menyatu, menjadikan industri pelayaran bukan lagi sekadar sarana perdagangan global, melainkan instrumen politik antarnegara,” tulis Xclusiv.
Saham COSCO sempat naik lebih dari 2% di bursa Shanghai pada Selasa pagi.
Perusahaan itu menyatakan telah menyetujui rencana pembelian kembali saham senilai hingga 1,5 miliar yuan (sekitar US$210 juta) dalam tiga bulan ke depan untuk menjaga nilai perusahaan dan melindungi kepentingan pemegang saham.
Krisis Rare Earth Dunia: Uni Eropa Cari Sekutu Hadapi China
Uni Eropa (UE) berupaya membangun aliansi dengan Amerika Serikat dan negara-negara G7 lainnya untuk merespons langkah China yang semakin memperketat ekspor mineral tanah jarang (rare earth) — bahan vital bagi teknologi tinggi seperti semikonduktor, mobil listrik, dan senjata canggih.
Langkah ini disampaikan oleh sejumlah menteri perdagangan dan pejabat Uni Eropa pada Selasa (14/10/2025).
Reuters memberitakan, China, yang merupakan produsen rare earth terbesar di dunia, pekan lalu memperluas pengendalian ekspornya secara signifikan.
Beijing menambahkan unsur baru dalam daftar larangan, memperketat teknologi pemurnian, dan memberlakukan pengawasan tambahan bagi industri semikonduktor — hanya beberapa hari sebelum dijadwalkannya pertemuan Presiden Donald Trump dan Xi Jinping.
UE: Langkah China Tidak Beralasan
Komisioner Perdagangan Eropa, Maros Sefcovic, menyebut kebijakan China tersebut “tidak beralasan” dan mengatakan bahwa para menteri perdagangan UE yang berkumpul di Denmark telah menyepakati bahwa langkah Beijing merupakan “keprihatinan kritis.”
Sefcovic menegaskan bahwa para menteri keuangan G7 kemungkinan akan membahas opsi tanggapan pada Rabu (15/10/2025).
Ia menambahkan telah berdiskusi dengan Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengenai potensi langkah bersama.
“Kami berdiskusi kemarin, dan tampaknya bijak untuk segera mengadakan panggilan video G7 setelah pertemuan pertama ini,” ujar Sefcovic sebelum pertemuan para menteri UE dimulai.
Ia juga menyebut berencana berbicara dengan mitranya dari China awal pekan depan.
Denmark: UE Harus Tegas Tapi Realistis
Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Rasmussen, mengatakan UE perlu memberikan respon yang tegas dan terkoordinasi, seraya menunjukkan kekuatan blok tersebut sebagai “kekuatan perdagangan terbesar di dunia.”
Namun Rasmussen juga menekankan pentingnya kerja sama dengan Amerika Serikat.
“Kita harus realistis. Ini sebenarnya area kepentingan bersama dengan teman-teman kita di AS. Jika kita bersatu, kita bisa menekan China agar bertindak lebih adil,” katanya.
Dampak Global: Pasar Tertekan, Trump Ancam Tarif 100%
Langkah China ini memicu kepanikan di pasar global. Sebelumnya, pengendalian ekspor yang diumumkan Beijing pada April lalu sempat menyebabkan kelangkaan pasokan di sektor otomotif, sebelum serangkaian kesepakatan antara Eropa dan AS berhasil meredakan krisis tersebut.
Kali ini, Presiden Donald Trump langsung merespons dengan ancaman tarif 100% terhadap produk China, yang sontak mengguncang pasar saham Wall Street.
Meski begitu, Rasmussen menolak opsi tarif balasan dan menilai dialog terbuka dengan Beijing adalah pendekatan yang lebih konstruktif.
Sefcovic menambahkan, koordinasi G7 dapat meluas ke inisiatif diversifikasi sumber pasokan, termasuk proyek bersama untuk menambang dan memproses mineral kritis.
“Proyek-proyek ini memang memerlukan waktu, tetapi dengan sinyal yang kita dapat dari China, jelas kita harus mempercepat proses ini secepat mungkin,” ujarnya.
Skandal Kripto Raksasa: AS Sita Bitcoin Rp224 Triliun, Taipan Kamboja Jadi Tersangka
Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menyita lebih dari US$14 miliar (sekitar Rp224 triliun) dalam bentuk bitcoin dan mendakwa pendiri sebuah konglomerat asal Kamboja dalam kasus penipuan kripto berskala besar.
Melansir Channelnewsasia Rabu (15/10/2025), Chen Zhi, Ketua Prince Holding Group dituduh memimpin jaringan penipuan investasi yang memanfaatkan buruh paksa untuk menipu para korban di seluruh dunia.
Jaksa penuntut menuding Chen dan kaki tangannya menggunakan hasil kejahatan tersebut untuk membeli yacht, jet pribadi, jam tangan mewah, hingga lukisan Picasso.
Dalam dakwaan yang dibuka pada Selasa (14/10), Kejaksaan Federal Brooklyn menjerat Chen dengan konspirasi penipuan wire fraud dan pencucian uang.
Pada saat yang sama, otoritas AS dan Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap Prince Holding Group, yang dinyatakan sebagai organisasi kriminal transnasional oleh Departemen Keuangan AS.
Chen, 38 tahun, disebut telah mengizinkan tindak kekerasan terhadap para pekerja, menyuap pejabat asing, dan menggunakan bisnis lain seperti perjudian daring dan penambangan kripto untuk mencuci uang hasil kejahatan.
“Chen adalah dalang di balik kerajaan kejahatan siber berskala global,” kata Asisten Jaksa Agung AS, John Eisenberg.
Sementara Jaksa AS Joseph Nocella menyebutnya sebagai “salah satu operasi penipuan investasi terbesar dalam sejarah.”
Menurut jaksa, Chen bahkan sempat membual bahwa skema yang dijalankannya dikenal sebagai “pig butchering scam” menghasilkan US$30 juta per hari.
Skema Kripto dan Buruh Paksa di Asia Tenggara
Departemen Keuangan AS mencatat, warga Amerika kehilangan lebih dari US$10 miliar akibat skema penipuan siber yang berbasis di Asia Tenggara pada tahun lalu meningkat 66% dibandingkan 2023.
Dalam laporan itu, Prince Holding Group disebut sebagai “pemain dominan” dalam ekosistem kejahatan siber tersebut.
Chen, yang juga dikenal dengan nama Vincent, kini masih buron. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman hingga 40 tahun penjara.
AS berencana menggunakan 127.271 bitcoin yang disita untuk mengganti kerugian para korban, tergantung izin pengadilan.
Seorang ahli kejahatan lintas negara dari Universitas Harvard, Jacob Daniel Sims, menyebut Prince Holding Group sebagai “bagian penting dari infrastruktur yang memungkinkan industri penipuan global berkembang,” dengan Chen sebagai “pilar utama ekonomi kriminal yang terkait dengan rezim Kamboja.”
Chen diketahui memiliki hubungan dekat dengan elite politik Kamboja, termasuk Perdana Menteri Hun Manet dan ayahnya, mantan PM Hun Sen.
Ia bahkan menerima gelar kehormatan “neak oknha”, yang setara dengan gelar bangsawan di Inggris.
“Indictment ini memang tidak langsung membongkar seluruh jaringan, tapi mengubah kalkulasi risiko,” ujar Sims.
“Sekarang setiap bank global, perusahaan properti, dan investor akan berpikir dua kali sebelum menyentuh uang para elite Kamboja.”
Kamp Buruh dan Kekerasan
Menurut dakwaan, Prince Holding Group membangun setidaknya 10 kompleks tertutup di Kamboja.
Di sana, para pekerja kebanyakan migran ditahan dan dipaksa bekerja untuk mengoperasikan ribuan akun media sosial palsu, menjalin hubungan dengan calon korban, dan membujuk mereka menginvestasikan uang dalam aset kripto palsu.
Uang hasil penipuan kemudian dialirkan ke berbagai anak usaha dan perusahaan cangkang, digunakan untuk membeli barang mewah seperti jam Rolex, properti, hingga karya seni langka. Salah satu korban dilaporkan kehilangan lebih dari US$400.000.
Kompleks-kompleks tersebut beroperasi seperti kamp kerja paksa, dikelilingi tembok tinggi dan kawat berduri, dilengkapi pusat panggilan otomatis dengan ratusan ponsel yang mengendalikan puluhan ribu akun media sosial palsu.
Salah satu lokasi disebut terkait dengan Hotel Jinbei Casino, sedangkan lainnya dikenal sebagai Golden Fortune.
Departemen Keuangan AS juga merilis foto-foto yang menunjukkan kekerasan terhadap pekerja: seseorang dengan luka parah di wajah, puluhan orang duduk di tanah dengan tangan terikat, dan seorang pria dengan bekas cambukan di tubuhnya.
Chen disebut menyetujui setidaknya satu pemukulan, namun memerintahkan agar korban tidak “dipukuli sampai mati”. Beberapa saksi melaporkan melihat pekerja yang kabur dari Golden Fortune “dipukuli hingga nyaris tewas”.
Fenomena Regional
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, pada 2023 terdapat sekitar 100.000 orang yang dipaksa menjalankan operasi penipuan daring di Kamboja, 120.000 di Myanmar, serta puluhan ribu lainnya di Thailand, Laos, dan Filipina.
“Tindakan ini tidak akan mengakhiri ekonomi penipuan dalam semalam,” kata Sims.
“Namun langkah ini mengurangi suplai oksigen mereka dan memberi pesan tegas bahwa menjadikan kejahatan elite sebagai strategi politik adalah pedang bermata dua.”
CEO Pfizer: Industri Farmasi AS Perlu Bekerja Sama dengan China
Chief Executive Officer (CEO) Pfizer Inc., Albert Bourla, mengatakan bahwa industri farmasi Amerika Serikat (AS) perlu meningkatkan kerja sama dengan China.
Menurutnya, kecepatan dan skala pengembangan obat di China telah mengubah peta persaingan global dalam satu dekade terakhir.
“Dalam biopharma, kecepatan, biaya, dan skala yang dramatis dari China telah memicu pergeseran besar dalam lanskap kompetitif global,” ujar Bourla dalam pidatonya di acara National Committee on U.S.-China Relations Gala di New York, Selasa (14/10/2025).
Bourla mengungkapkan, China kini memiliki sekitar 1.200 kandidat obat baru, jauh meningkat dibandingkan hanya sekitar 60 kandidat sepuluh tahun lalu.
China Jadi Pusat Inovasi Baru
Dalam sepuluh tahun terakhir, China berhasil membangun posisi dominan di bidang riset dan pengembangan obat-obatan, dengan kontribusi mencapai 30% dari total riset global.
Kecepatan proses uji klinis dan efisiensi biaya menjadi faktor utama yang menarik perhatian perusahaan farmasi internasional.
Bourla menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara diperlukan agar inovasi farmasi global dapat berkembang lebih cepat.
Ia mencontohkan bahwa perusahaan bioteknologi China mampu merekrut pasien uji klinis dua hingga lima kali lebih cepat dibandingkan perusahaan AS.
“Perusahaan biotek China kini menyumbang hampir sepertiga dari seluruh kesepakatan lisensi obat besar tahun lalu — ini adalah perubahan besar dalam sumber inovasi global,” katanya.
Ketegangan Dagang Tak Halangi Kerja Sama
Pernyataan Bourla muncul di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara AS dan China.
Presiden Donald Trump baru-baru ini memberlakukan serangkaian tarif baru terhadap produk impor dari China, dengan alasan untuk mempersempit defisit perdagangan dan menekan peredaran fentanyl.
Selain itu, DPR AS juga sempat meloloskan rancangan undang-undang untuk membatasi kerja sama bisnis dengan perusahaan farmasi China.
Namun, rancangan tersebut gagal di Senat dan kemudian diajukan ulang dalam versi baru tahun ini.
Meski demikian, Bourla menegaskan bahwa perusahaan farmasi global tidak bisa sepenuhnya mengabaikan peran China dalam rantai inovasi kesehatan dunia.
Sejumlah perusahaan besar, termasuk Pfizer, tetap menjalin kemitraan strategis dengan mitra lokal di tengah perang dagang yang masih berlangsung.
Pfizer Gandeng Perusahaan Biotek China
Awal tahun ini, Pfizer menandatangani perjanjian lisensi dengan perusahaan bioteknologi asal China, 3SBio Inc., untuk mengembangkan obat kanker eksperimental.
Dalam kesepakatan tersebut, Pfizer membayar US$1,25 miliar di muka dan akan menambah hingga US$4,8 miliar jika target pengembangan obat terpenuhi.
Kesepakatan ini menunjukkan bahwa perusahaan farmasi global masih melihat China sebagai mitra strategis dalam riset bioteknologi, meskipun hubungan ekonomi kedua negara tengah memanas.
JP Morgan Peringatkan AS Sedang Bangkrut Pelan-Pelan di Tengah Lonjakan Utang
Ekonom J.P. Morgan Asset Management, David Kelly, memperingatkan bahwa Amerika Serikat sedang “bangkrut pelan-pelan”. Namun, laju yang lambat membuat pasar belum menunjukkan tanda-tanda panik.
Dalam catatannya pekan ini, Kelly menyoroti utang nasional AS yang telah menembus US$ 37,8 triliun dengan pembayaran bunga mencapai US$ 1,2 triliun.
“Pertanyaan yang paling sering saya terima adalah: kapan utang federal akan meledak di hadapan kita semua? Jawaban saya: kita memang sedang bangkrut, tapi pelan-pelan,” tulis Kelly seperti dilansir dari Forbes, Rabu (15/10/2025).
Ia menilai pasar obligasi global masih percaya pemerintah AS memiliki ruang untuk terus berutang, terlihat dari imbal hasil obligasi 30 tahun yang masih berada di sekitar 4,6%.
Namun, di balik ketenangan pasar, Kelly menilai kondisi fiskal AS semakin genting. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kini hampir menyentuh 100%, dan berpotensi naik menjadi 102% pada tahun depan jika pertumbuhan ekonomi melambat.
Ia menghitung, bila pertumbuhan nominal PDB hanya 4,5% sementara defisit tetap di atas angka itu, maka rasio utang terhadap PDB akan terus meningkat.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump berupaya menekan defisit melalui kebijakan tarif impor dan pembentukan Department of Government Efficiency (DOGE) yang sempat melibatkan CEO Tesla, Elon Musk.
Namun kerja sama itu berakhir setelah keduanya berselisih mengenai One Big Beautiful Bill Act kebijakan yang justru berpotensi menambah utang US$ 3,4 triliun dalam satu dekade.
Pemerintah mengklaim pendapatan dari tarif akan menutup defisit, tetapi para analis meragukan efektivitasnya.
Data Gedung Putih mencatat pendapatan tarif mencapai US$ 31 miliar pada Agustus, sementara proyeksi Congressional Budget Office (CBO) dan Committee for a Responsible Federal Budget memperkirakan defisit tahun fiskal 2025 mencapai 6% dari PDB, sedikit turun dari 6,3% tahun sebelumnya.
Meski demikian, Kelly menilai penurunan ini bersifat sementara dan sangat bergantung pada asumsi ekonomi tanpa resesi maupun lonjakan belanja baru.
Selain itu, kebijakan tarif Trump berpotensi terganjal di Mahkamah Agung. Jika dibatalkan, pemerintah bisa diwajibkan mengembalikan dana tarif yang sudah dipungut dan mencari dasar hukum baru untuk menerapkannya kembali. Hal ini dapat memperburuk posisi fiskal negara.
Kelly memperingatkan bahwa defisit bisa mencapai 6,7% dari PDB, lebih tinggi dari perkiraan resmi. Ia menilai ada risiko nyata bahwa keputusan politik atau perlambatan ekonomi dapat mempercepat krisis utang Amerika.
Bagi investor, pesan Kelly jelas: bersiaplah. Ia menyarankan diversifikasi portofolio dengan menambah aset alternatif dan saham internasional untuk mengantisipasi kemungkinan Amerika “bangkrut cepat” setelah lama “bangkrut pelan-pelan.”
India Pangkas Impor Minyak Sawit ke Level Terendah, Beralih ke Minyak Kedelai
Impor minyak sawit India pada September 2025 turun ke level terendah sejak Mei, seiring para penyuling (refiners) beralih ke minyak kedelai (soyoil) yang harganya lebih murah.
Menurut data terbaru dari Solvent Extractors’ Association of India (SEA), penurunan ini berpotensi menekan harga futures minyak sawit Malaysia, sementara futures minyak kedelai AS mendapat dukungan dari peningkatan permintaan.
Impor Minyak Sawit Turun 16,3%
SEA melaporkan bahwa impor minyak sawit India pada September mencapai 829.017 ton metrik, turun 16,3% dibanding bulan sebelumnya, dan menjadi volume terendah sejak Mei 2025.
Sebaliknya, impor minyak kedelai melonjak 36,8% menjadi 503.240 ton, tertinggi sejak Juli 2022. Sementara itu, impor minyak bunga matahari naik sekitar 6% menjadi 272.386 ton, tertinggi sejak Januari.
Secara total, impor minyak nabati India pada September turun 1% secara bulanan menjadi 1,60 juta ton.
Pergeseran ke Minyak Kedelai karena Faktor Harga
Penurunan impor minyak sawit disebabkan oleh pergeseran preferensi industri ke minyak kedelai yang lebih kompetitif secara harga.
Seorang pedagang berbasis di Mumbai menyebutkan, impor minyak sawit pada Oktober kemungkinan turun menjadi sekitar 600.000 ton, sedangkan impor minyak kedelai diperkirakan melampaui 450.000 ton.
India umumnya mengimpor minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia, sementara minyak kedelai dan bunga matahari diperoleh dari Argentina, Brasil, Rusia, dan Ukraina.
Pembelian Rekor dari Argentina
Dalam dua hari pada 23–24 September, India tercatat membeli 300.000 ton minyak kedelai dari Argentina — pembelian terbesar yang pernah terjadi dalam periode dua hari.
Transaksi besar ini terjadi setelah pemerintah Argentina menghapus pajak ekspor untuk kedelai dan produk turunannya, termasuk minyak nabati dan pangan olahan, sehingga membuat harga menjadi jauh lebih menarik bagi importir India.
Tren Musiman dan Dampak Pasar
Permintaan minyak nabati di India, terutama minyak sawit, biasanya meningkat selama musim festival, ketika konsumsi makanan manis dan gorengan melonjak tajam. Namun, kombinasi faktor harga, kebijakan ekspor Argentina, dan pergeseran strategi pembelian menyebabkan pola impor India berubah signifikan tahun ini.
Penurunan permintaan sawit dari negara pembeli terbesar di dunia ini diperkirakan akan menekan harga minyak sawit mentah di Malaysia dan Indonesia, sementara harga minyak kedelai di pasar global berpotensi menguat seiring lonjakan permintaan dari India.
CEO Klarna Peringatkan Dampak AI terhadap Pekerjaan Lebih Besar dari yang Dikira
Gelombang peringatan tentang ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja semakin meluas.
Dari CEO Ford, Jim Farley, hingga bos Anthropic, Dario Amodei, banyak eksekutif mulai terbuka bahwa teknologi ini berpotensi menggantikan jutaan pekerjaan di seluruh dunia.
Namun, CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, menilai sebagian besar petinggi teknologi masih menutupi kenyataan pahit di balik kemajuan AI.
“Saya merasa banyak ‘tech bros’ terlalu berputar-putar soal topik ini,” ujarnya kepada Bloomberg, dikutip dari Fortune, Rabu (15/10/2025).
“Akan ada pergeseran besar pada pekerjaan berbasis pengetahuan, bukan hanya di sektor perbankan, tapi di seluruh masyarakat,” sambungnya.
Menurut miliarder berusia 44 tahun itu, keyakinan bahwa AI akan menciptakan lapangan kerja baru memang benar, namun terlalu optimistis untuk jangka pendek.
Ia mencontohkan ribuan penerjemah di Brussel yang kini posisinya dapat digantikan AI. “Kita mungkin akan menciptakan pekerjaan baru, tapi dalam waktu dekat, hal itu tidak membantu penerjemah yang kehilangan pekerjaan hari ini,” ujarnya.
Klarna sendiri menjadi contoh nyata bagaimana adopsi AI bisa membawa dampak besar. Sejak 2023, Siemiatkowski menyatakan ingin menjadikan Klarna sebagai “kelinci percobaan favorit ChatGPT.”
Awal 2024, perusahaan fintech asal Swedia itu meluncurkan chatbot layanan pelanggan berbasis OpenAI yang mampu menangani beban kerja setara 800 pegawai penuh waktu.
Namun, eksperimen itu tidak tanpa masalah. Sejumlah pelanggan mengeluhkan hilangnya sentuhan manusia dalam layanan Klarna, memaksa perusahaan meninjau ulang strategi “AI-first” yang terlalu berfokus pada efisiensi biaya.
Siemiatkowski pun mengakui bahwa keseimbangan antara efisiensi dan kualitas menjadi kunci. Ia menyebut, investasi pada layanan manusia tetap penting agar pengalaman pelanggan tidak menurun.
Meski demikian, dampak efisiensi AI terhadap tenaga kerja tetap terasa. Klarna memperlambat perekrutan dan memangkas jumlah karyawan dari 7.400 menjadi sekitar 3.000 orang.
Di sisi lain, strategi teknologi tinggi ini meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Klarna mencatat pertumbuhan pendapatan di AS sebesar 38% secara tahunan, dengan profit yang ikut naik.
Performa itu mengantarkan Klarna melantai di bursa pada September lalu, dengan valuasi menembus US$ 15 miliar.
Siemiatkowski juga menunjukkan komitmennya terhadap penerapan AI secara langsung. Dalam konferensi keuangan Mei lalu, ia bahkan tampil dalam bentuk video replika dirinya sendiri berbasis AI lengkap dengan suara dan wajah yang identik.
Klarna pun meluncurkan “AI CEO Hotline,” fitur tanya jawab 24 jam yang meniru gaya bicaranya dalam bahasa Inggris dan Swedia.
Meski hidupnya kini dikelilingi teknologi, Siemiatkowski mengaku masih punya semangat pribadi yang kuat terhadap pemrograman.
“Istri saya sering protes karena begitu anak-anak tidur, saya bilang, ‘Boleh ya, aku mau coding sebentar,’” ujarnya sambil tertawa. Ia menegaskan, teknologi seharusnya tidak ditakuti, melainkan dipelajari dan dimanfaatkan secara bijak.
“Teknologi ini benar-benar menarik dan luar biasa untuk dipelajari. Orang seharusnya tidak takut pada teknologi,” tutupnya.
CEO Pfizer: Industri Farmasi AS Perlu Bekerja Sama dengan China
Chief Executive Officer (CEO) Pfizer Inc., Albert Bourla, mengatakan bahwa industri farmasi Amerika Serikat (AS) perlu meningkatkan kerja sama dengan China.
Menurutnya, kecepatan dan skala pengembangan obat di China telah mengubah peta persaingan global dalam satu dekade terakhir.
“Dalam biopharma, kecepatan, biaya, dan skala yang dramatis dari China telah memicu pergeseran besar dalam lanskap kompetitif global,” ujar Bourla dalam pidatonya di acara National Committee on U.S.-China Relations Gala di New York, Selasa (14/10/2025).
Bourla mengungkapkan, China kini memiliki sekitar 1.200 kandidat obat baru, jauh meningkat dibandingkan hanya sekitar 60 kandidat sepuluh tahun lalu.
China Jadi Pusat Inovasi Baru
Dalam sepuluh tahun terakhir, China berhasil membangun posisi dominan di bidang riset dan pengembangan obat-obatan, dengan kontribusi mencapai 30% dari total riset global.
Kecepatan proses uji klinis dan efisiensi biaya menjadi faktor utama yang menarik perhatian perusahaan farmasi internasional.
Bourla menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara diperlukan agar inovasi farmasi global dapat berkembang lebih cepat.
Ia mencontohkan bahwa perusahaan bioteknologi China mampu merekrut pasien uji klinis dua hingga lima kali lebih cepat dibandingkan perusahaan AS.
“Perusahaan biotek China kini menyumbang hampir sepertiga dari seluruh kesepakatan lisensi obat besar tahun lalu — ini adalah perubahan besar dalam sumber inovasi global,” katanya.
Ketegangan Dagang Tak Halangi Kerja Sama
Pernyataan Bourla muncul di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara AS dan China.
Presiden Donald Trump baru-baru ini memberlakukan serangkaian tarif baru terhadap produk impor dari China, dengan alasan untuk mempersempit defisit perdagangan dan menekan peredaran fentanyl.
Selain itu, DPR AS juga sempat meloloskan rancangan undang-undang untuk membatasi kerja sama bisnis dengan perusahaan farmasi China.
Namun, rancangan tersebut gagal di Senat dan kemudian diajukan ulang dalam versi baru tahun ini.
Meski demikian, Bourla menegaskan bahwa perusahaan farmasi global tidak bisa sepenuhnya mengabaikan peran China dalam rantai inovasi kesehatan dunia.
Sejumlah perusahaan besar, termasuk Pfizer, tetap menjalin kemitraan strategis dengan mitra lokal di tengah perang dagang yang masih berlangsung.
Pfizer Gandeng Perusahaan Biotek China
Awal tahun ini, Pfizer menandatangani perjanjian lisensi dengan perusahaan bioteknologi asal China, 3SBio Inc., untuk mengembangkan obat kanker eksperimental.
Dalam kesepakatan tersebut, Pfizer membayar US$1,25 miliar di muka dan akan menambah hingga US$4,8 miliar jika target pengembangan obat terpenuhi.
Kesepakatan ini menunjukkan bahwa perusahaan farmasi global masih melihat China sebagai mitra strategis dalam riset bioteknologi, meskipun hubungan ekonomi kedua negara tengah memanas.
Trump Umumkan Fase Dua Gencatan Senjata Gaza Setelah Pembebasan 20 Sandera
Presiden AS Donald Trump mengumumkan dimulainya “fase dua” dari perjanjian gencatan senjata Gaza setelah 20 sandera Israel dibebaskan dalam tahap pertama kesepakatan yang dimediasi oleh Turki, Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir. Sandera kembali dalam kondisi yang baik.
“Seluruh dua puluh sandera telah kembali dan perasaan adalah sebaik yang diharapkan,” tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Selasa (14/10).
“Sebuah beban besar telah terangkat, tetapi pekerjaan belum selesai. Mereka yang tewas belum dipulangkan, seperti yang dijanjikan! Fase dua dimulai sekarang juga!” tambahnya.
Hamas dan Israel melakukan pertukaran sandera-tahanan yang membebaskan ratusan tahanan Palestina dari penjara militer Ofer yang terkenal kejam di Israel, serta dari fasilitas penahanan lainnya di Gurun Negev. Semua 20 sandera Israel yang masih hidup juga dibebaskan.
Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengadakan pertemuan tingkat tinggi pada Senin di kota resor Mesir, Sharm el-Sheikh. Pertemuan itu mempertemukan para pemimpin dunia untuk menggalang dukungan internasional terhadap rencana gencatan senjata Trump di Gaza.
Fase dua dari kesepakatan Amerika Serikat tersebut menyerukan pembentukan mekanisme pemerintahan baru di Gaza, pembentukan pasukan multinasional, serta perlucutan senjata Hamas.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 67 ribu warga Palestina di Gaza—sebagian besar perempuan dan anak-anak—meninggalkan wilayah kantong tersebut hampir tidak layak huni.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan situasi kesehatan yang semakin memburuk di Jalur Gaza, di mana lebih dari 15.600 pasien membutuhkan evakuasi medis segera.
Disebutkan, lebih dari 15.000 orang harus diamputasi akibat perang baru-baru ini.
Organisasi di bawah PBB itu juga menyerukan pemantauan ketat terhadap wabah virus dan penyakit yang berpotensi menyebar akibat situasi kesehatan yang memburuk dan infrastruktur yang hancur.
WHO juga menekankan pentingnya membuka kembali koridor medis ke luar Jalur Gaza guna memastikan pasien mendapat akses ke perawatan khusus dan layanan medis darurat.
Mereka memperingatkan bahwa krisis kesehatan dan kemanusiaan di wilayah kantong Palestina itu akan semakin parah jika penutupan dan keterlambatan dalam penyediaan bantuan medis terus berlanjut.
Trump Sebut Erdogan Dihormati Putin, Bisa Bantu Akhiri Perang Rusia-Ukraina
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dapat berperan dalam mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina. Pernyataan tersebut ia berikan ketika ditanya apakah para pemimpin dunia dapat membantu mengakhiri perang.
“Erdogan bisa,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One dalam perjalanan menuju Gedung Putih dari Mesir dikutip dari Anadolu pada Selasa (14/10/2025).
Trump menjawab demikian karena menurutnya Erdogan dihormati oleh Rusia dan Putin. “Ia dihormati oleh Rusia. Untuk Ukraina, saya tidak bisa memastikan, tetapi ia dihormati oleh (Presiden Rusia Vladimir) Putin,” tambahnya.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menggelar pertemuan di kota resor Sharm el-Sheikh, Mesir. Pertemuan tersebut dihadiri lebih dari 20 pemimpin dunia, termasuk Erdogan.
Trump mengatakan bahwa dirinya bisa bergaul dengan orang-orang yang keras, yaitu Erdogan.
Turki terus berupaya mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina yang terjadi selama tiga tahun, yang dimulai pada Februari 2022.
Ankara terus mendesak Kiev dan Moskow untuk mengakhiri pertempuran melalui jalur negosiasi. Turki menyatakan siap mengambil inisiatif apa pun, termasuk menjadi mediator, guna membuka jalan bagi terciptanya perdamaian.