News Komoditi & Global ( Selasa, 5 Mei 2026 )

News  Komoditi & Global

                                     ( Selasa,   5 Mei  2026  )

Harga Emas Global  Turun saat Ketegangan Iran Mengangkat Dolar, Imbal Hasil Sekarang

 

 

Harga Emas jatuh lebih dari 2% pada hari Senin saat ketegangan di Timur Tengah mendorong Greenback menguat, sementara imbal hasil obligasi Pemerintah AS melonjak tajam saat para investor memprakirakan tidak ada pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun 2026. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di $4.521 setelah mencapai tertinggi harian $4.639.

Penghindaran risiko menguasai pasar keuangan menjelang berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran. Angkatan Laut AS memulai Operasi Kebebasan Trump untuk mengawal kapal-kapal dagang melewati Selat Hormuz. Tehran membalas dengan melancarkan serangan terhadap UEA dan mengirim kapal-kapal cepat untuk menghentikan pelayaran yang melewati Selat Hormuz.

Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan bahwa "kami telah menghentikan tujuh kapal kecil" yang bertujuan mengganggu pergerakan kapal. Sementara itu, CNN mengungkapkan bahwa AS dan Israel dapat melanjutkan serangan terhadap Iran dalam 24 jam ke depan.

Seiring memburuknya sentimen pasar, ekuitas AS turun, harga minyak naik, dan Dolar AS pulih, menguat lebih dari 0,25% pada Indeks Dolar AS (DXY). DXY, yang mengukur kinerja nilai dolar terhadap sekeranjang enam mata uang, memantul dari terendah harian 97,97 dan kini berada di 98,46.

Bullion turun di tengah penguatan Dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Surat utang Pemerintah AS bertenor 10 tahun naik enam basis poin ke 4,432%, menjadi hambatan bagi logam yang tidak berimbal hasil ini.

Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa kebijakan moneter "dalam posisi yang baik" untuk menghadapi ketidakpastian yang dihasilkan oleh guncangan eksternal, seperti konflik di Timur Tengah. Ia mengatakan masa depan tidak pasti dan "risiko di kedua sisi mandat kami meningkat." Saat ditanya tentang masa depan kebijakan moneter, ia mengatakan bahwa The Fed tidak dalam "posisi untuk memberikan panduan kuat tentang di mana suku bunga kemungkinan akan berada dalam beberapa pertemuan mendatang."

Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan 17 Juni mencapai 96%, menurut Prime Terminal, yang akan dipimpin oleh Ketua Federal Reserve yang baru ditunjuk, Kevin Warsh.

Dari sisi data, Pesanan Pabrik AS bulan Maret naik 1,5% MoM, melampaui prakiraan naik sebesar 0,5% dan naik dari 0,3% pada Februari.

Ke depan, agenda ekonomi AS akan menampilkan rilis PMI Jasa ISM pada hari Selasa, dengan perhatian tertuju pada data Nonfarm Payrolls AS.

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Naik : Selat Hormuz Kembali Membara


 

Harga minyak melonjak sekitar 6% di awal pekan karena Iran meningkatkan serangan terhadap Uni Emirat Arab dan kapal-kapal di Teluk Timur Tengah selama 24 jam terakhir, eskalasi paling serius sejak gencatan senjata AS-Iran mulai berlaku pada awal April.

Senin (4/5/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 ditutup naik US$ 6,27 atau 5,8% menjadi US$ 114,44 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 ditutup menguat US$ 4,48, atau 4,4% ke US$ 106,42.

Iran menyerang beberapa kapal di Selat Hormuz pada hari Senin (4/5/2026) dan membakar pelabuhan minyak UEA, ketika upaya Presiden Donald Trump untuk menggunakan Angkatan Laut AS untuk membebaskan jalur pelayaran memicu eskalasi terbesar perang sejak gencatan senjata diumumkan empat minggu lalu.

UEA mengatakan pertahanan udaranya sedang menghadapi ancaman rudal dan drone pada Senin (4/5/2026) malam ketika petugas pemadam kebakaran berjuang memadamkan api di zona industri minyak utama setelah serangan drone yang menurut pihak berwenang berasal dari Iran.

Di sisi lain, militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal kecil Iran dan mencegat rudal jelajah dan drone Iran yang ditembakkan oleh Teheran dalam upaya menggagalkan upaya angkatan laut AS yang baru untuk membuka jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengeluarkan peta yang menurut mereka memperluas wilayah yang dikuasai Iran di dekat Selat Hormuz hingga mencakup pelabuhan Fujairah dan Khorfakkan di UEA serta pantai emirat Umm Al Quwain di UEA, menurut kantor berita Iran.

Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global melewati selat tersebut sebelum AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.

"Harga minyak akan tetap di atas US$ 100 dan harga bensin AS akan mencapai US$ 5 per galon pada bulan Juni ... tanpa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz," kata analis dari perusahaan konsultan Eurasia Group dalam sebuah catatan.

Pengemudi di California sudah membayar US$ 6 per galon untuk bensin.

Sebelumnya pada hari itu, militer AS mengatakan dua kapal dagang AS telah berhasil melewati selat tersebut, tanpa menyebutkan kapan. Iran membantah telah terjadi penyeberangan apa pun.

Iran mungkin telah menyerang empat kapal di wilayah Teluk selama 24 jam terakhir, termasuk kapal dari Korea Selatan dan UEA.

Terjadi kebakaran dan ledakan di sebuah kapal yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran Korea Selatan HMM 011200.KS di Selat Hormuz pada hari Senin, kata kementerian luar negeri di Seoul.

UEA menuduh Iran menyerang sebuah kapal tanker minyak mentah kosong milik perusahaan minyak negara Abu Dhabi ADNOC dengan drone saat mencoba melintasi Selat tersebut.

Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengatakan telah menerima laporan insiden yang melibatkan kapal kargo sekitar 36 mil laut di utara Dubai.

UKMTO juga melaporkan insiden terpisah sebelumnya pada hari itu di dekat UEA.

Secara terpisah, menteri energi di UEA, yang meninggalkan OPEC pekan lalu, mengatakan negara itu berutang kepada mitra investasinya untuk memproduksi apa yang dibutuhkan pasar minyak global tanpa batasan, sambil bekerja sama dengan produsen minyak mentah lainnya.

OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, mengatakan mereka akan menaikkan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari pada bulan Juni untuk tujuh anggota, menandai peningkatan bulanan ketiga berturut-turut.

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Jatuh: S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Melemah dari Rekor Tertinggi

 

 Wall Street tersungkur dengan indeks S&P 500 mundur dari rekor tertinggi, setelah sebuah kapal Korea Selatan terkena ledakan di Selat Hormuz dan Teheran menunjukkan cengkeramannya pada minyak Timur Tengah, yang meredam optimisme tentang laporan pendapatan kuartal pertama yang kuat.

Senin (4/5/2026), indeks S&P 500 ditutup turun 0,41% menjadi 7.200,75, indeks Nasdaq melemah 0,19% ke 25.067,80 dan indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1,13% ke 48.941,90.

Sepuluh dari 11 sektoral pada indeks S&P 500 mengalami penurunan, dipimpin oleh sektor material yang turun 1,57%, diikuti oleh penurunan 1,17% di sektor industri. Sektor energi terlihat menguat 0,85% pada sesi ini.

Saham-saham sektor energi naik setelah laporan tentang konfrontasi terbaru. Sebuah ledakan yang dilaporkan terjadi di atas kapal dagang Korea Selatan tampaknya akan meyakinkan para pelaku bisnis pelayaran bahwa selat tersebut masih tidak aman setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan membukanya.

Teheran mengatakan, telah memaksa kapal perang AS untuk berbalik arah setelah mencoba memasuki selat tersebut. Sementara Uni Emirat Arab melaporkan kebakaran di instalasi minyak setelah serangan pesawat tak berawak Iran.

Kecemasan yang kembali muncul tentang konflik Timur Tengah ini terjadi setelah indeks S&P 500 dan Nasdaq mencapai rekor penutupan tertinggi pada Jumat (1/5/2026) lalu di tengah musim laporan kinerja kuartalan yang lebih kuat dari perkiraan.

"Dengan pasar yang berada di titik tertinggi sepanjang masa, tidak banyak ruang untuk kesalahan, dan tampaknya risiko asimetris besar masih mengarah ke penurunan, meskipun mungkin bukan hasil yang paling mungkin bahwa kita akan kembali ke perang pasar saham yang panas," kata Ross Mayfield, seorang ahli strategi investasi di Baird Private Wealth Management.

Perusahaan-perusahaan pada indeks S&P 500 diperkirakan akan membukukan rata-rata pertumbuhan pendapatan sebesar 28% secara tahunan untuk kuartal pertama, dua kali lipat dari ekspektasi 14% pada awal April, menurut LSEG.

Perusahaan-perusahaan besar di bidang AI di Wall Street menyumbang sebagian besar optimisme tersebut.

Di mana, Berkshire Hathaway melaporkan pada hari Sabtu bahwa mereka menjadi penjual bersih saham untuk kuartal ke-14 berturut-turut. Investor mengamati dengan cermat konglomerat ini, yang sering dianggap sebagai indikator ekonomi AS, untuk mendapatkan wawasan tentang valuasi dan kondisi pasar yang lebih luas.

Sementara itu, saham GameStop anjlok 10% dan eBay naik sekitar 5% setelah pengecer video game tersebut mengumumkan proposal untuk membeli pasar online tersebut senilai sekitar US$ 56 miliar dalam kesepakatan tunai dan saham. Nilai pasar saham GameStop sekitar US$ 11 miliar.

Saham perusahaan pengiriman FedEx turun 9,1% dan United Parcel Service turun 10,5% setelah Amazon.com mengumumkan peluncuran "Amazon Supply Chain Services," yang membuka jaringan logistiknya untuk digunakan oleh bisnis lain.

Penurunan saham FedEx dan UPS menyeret indeks Dow Jones Transportation Average turun 4,8% ke level terendah dalam hampir sebulan.

Di sisi lain, saham Palantir naik 1,4% menjelang laporan triwulanan perusahaan analitik data dan perangkat lunak pertahanan tersebut setelah penutupan pasar.

Saham operator kapal pesiar Norwegian turun 8,6% setelah memangkas perkiraan tahunannya karena biaya bahan bakar yang lebih tinggi terkait dengan konflik di Timur Tengah.

 

 

 

 

 

Kanselir Jerman: AS Mulai Kehabisan Rudal Tomahawk

 

 

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan menempatkan rudal jelajah Tomahawk di Jerman untuk saat ini. Menurutnya hal ini karena Amerika tak punya cukup rudal itu untuk mereka sendiri.

"Amerika tidak mempunyai cukup senjata untuk diri mereka sendiri saat ini. Secara obyektif, hampir tidak ada kemungkinan bagi Amerika untuk memasok sistem senjata semacam ini," kata Merz kepada lembaga penyiaran publik ARD, dilansir Senin.

Rudal tersebut, yang dijanjikan oleh mantan Presiden AS Joe Biden pada 2024, dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan pencegahan Jerman hingga Eropa mengembangkan sistemnya sendiri.

Merz kemudian menggambarkan pengumuman penarikan lebih dari 5.000 tentara AS dari Jerman sebagai “bukan hal baru”, dan mencatat bahwa kontingen tersebut ditempatkan sementara di bawah pemerintahan Biden dan penarikannya telah dibahas selama beberapa waktu.

Kanselir membantah adanya hubungan antara pengumuman Trump dan pernyataan kritisnya mengenai perang AS terhadap Iran, termasuk pernyataannya bahwa Iran telah “mempermalukan” AS di meja perundingan.

 “Tidak ada hubungannya,” kata Merz. “Saya juga tidak akan menyerah untuk bekerja sama dengan Donald Trump,” tambahnya.

Menyikapi pembagian nuklir AS di dalam NATO, Merz meyakinkan bahwa “sama sekali tidak ada kompromi” dan “tidak ada batasan terhadap komitmen AS terhadap pencegahan nuklir di wilayah NATO”.  Merz menegaskan kembali bahwa “Amerika adalah mitra terpenting kami dalam Aliansi Atlantik Utara”.

Media-media AS melaporkan, Militer AS telah secara signifikan menghabiskan persediaan rudal utamanya selama perang dengan Iran. Hal ini menciptakan “risiko jangka pendek” berupa kehabisan amunisi jika terjadi konflik dalam beberapa tahun ke depan.

CNN melansir laporan itu merujuk para ahli dan tiga orang yang mengetahui penilaian persediaan internal Departemen Pertahanan AS baru-baru ini.

Selama tujuh minggu terakhir perang, militer AS telah menghabiskan setidaknya 45 persen dari persediaan Rudal Serangan Presisinya; setidaknya setengah dari persediaan rudal THAAD, yang dirancang untuk mencegat rudal balistik; dan hampir 50 persen dari persediaan rudal pencegat pertahanan udara Patriot, menurut analisis baru yang dilakukan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional.

Militer AS juga telah menghabiskan sekitar 30 persen persediaan rudal Tomahawk; lebih dari 20 persen persediaan Rudal Jarak Jauh Gabungan Udara-ke-Permukaan; dan sekitar 20 persen dari rudal SM-3 dan SM-6, menurut analisis dan sumber. Diperlukan waktu sekitar empat hingga lima tahun untuk mengganti sistem tersebut.

Angka-angka tersebut selaras dengan data rahasia Pentagon mengenai cadangan senjata AS, menurut sumber yang mengetahui penilaian tersebut. Awal tahun ini Pentagon menandatangani serangkaian kontrak yang akan membantu memperluas produksi rudal, namun jangka waktu pengiriman untuk menggantikan sistem ini adalah tiga hingga lima tahun bahkan dengan peningkatan kapasitas, kata para ahli dan sumber CSIS.

Dalam jangka pendek, AS kemungkinan memiliki cukup bom dan rudal untuk melanjutkan operasi tempur melawan Iran, dalam skenario apapun, jika gencatan senjata gagal dilaksanakan. Namun jumlah amunisi penting yang tersisa di persediaan AS tidak lagi cukup untuk menghadapi musuh seperti China.

Kemungkinan pemenuhan pasokan amunisi AS  akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum persediaan senjata tersebut kembali ke tingkat sebelum perang, demikian kesimpulan analisis CSIS.

 

 

Selat Hormuz Kian Panas: AS Turun Tangan, Iran Siap Balas


 

Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak memasuki jalur pelayaran strategis tersebut.

Peringatan itu disampaikan militer Iran menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Washington akan membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk akibat konflik AS-Israel dengan Iran.

Trump mengatakan, AS akan mulai memandu kapal-kapal keluar dari perairan terbatas tersebut agar dapat kembali beroperasi secara normal. Namun, ia tidak merinci mekanisme operasi tersebut.

Menanggapi hal itu, komando gabungan angkatan bersenjata Iran menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di bawah kendali mereka.

“Kami memperingatkan bahwa setiap kekuatan militer asing, khususnya AS, akan diserang jika mencoba mendekati dan memasuki Selat Hormuz,” ujar Kepala Komando Gabungan Iran, Ali Abdollahi dilansir Reuters Senin (4/5/2026).

Iran juga meminta kapal dagang dan tanker minyak untuk tidak melakukan pelayaran tanpa koordinasi dengan militer setempat.

Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan akan mendukung operasi tersebut dengan pengerahan sekitar 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat, serta kapal perang dan drone.

Operasi ini diklaim bertujuan menjaga keamanan kawasan dan kelancaran perdagangan global.

Situasi di lapangan tetap memanas. Tak lama setelah pernyataan Trump, sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz. Meski demikian, seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan ini membuat Iran memblokir sebagian besar lalu lintas pelayaran di Teluk, kecuali untuk kapal mereka sendiri. Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga energi global.

Upaya diplomatik pun masih berlangsung. Iran menyatakan tengah meninjau respons AS terhadap proposal perdamaian yang diajukan sebelumnya melalui Pakistan. Namun, belum ada kepastian mengenai kelanjutan negosiasi.

Sementara itu, AS tetap menuntut pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran sebagai syarat utama penghentian konflik.

Di sisi lain, Iran mengusulkan agar pembahasan isu nuklir ditunda hingga perang berakhir dan blokade pelayaran dicabut.

Ketidakpastian ini membuat Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia tetap menjadi titik krusial bagi stabilitas energi dan ekonomi global.

 

 

 

 

Aturan Baru China: Perusahaan yang Patuhi Sanksi Amerika Serikat Akan Dihukum

 

 China makin terang-terangan mengabaikan sanksi Amerika Serikat (AS). Untuk pertama kalinya, China memberlakukan undang-undang yang menargetkan perusahaan-perusahaan yang mematuhi sanksi asing yang ditolak oleh pemerintah China.

Aturan tersebut menyatakan mengikuti sanksi dari asing dianggap melanggar hukum. Reuters melaporkan, penerapan aturan tersebut akan memungkinkan pemerintah China menghukum entitas yang memilih menegakkan sanksi dari asing.

Berdasarkan undang-undang yang diperkenalkan pada tahun 2021 silam dan terakhir direvisi pada April lalu, China dapat memberlakukan tindakan balasan terhadap perusahaan dan individu, termasuk pembatasan perdagangan dan investasi serta pembatasan masuk dan keluar.

Analis hukum mengatakan, undang-undang tersebut akan membuat pihak mitra dari perusahaan yang dikenai sanksi terjebak di antara yurisdiksi. Perusahaan tersebut berisiko melanggar hukum China jika mereka mematuhi sanksi asing. Tapi jika tidak mematuhi sanksi, perusahaan tersebut bisa dihukum di negara lain.

Layanan Komisioner Perdagangan Kanada juga telah memperingatkan perusahaan Kanada yang beroperasi di China pada Agustus lalu soal risiko ini. Perusahaan dapat terjepit di antara aturan AS, Uni Eropa, dan China karena undang-undang tersebut.

Harian resmi China, People's Daily, mengatakan, Minggu (3/5/2026), langkah tersebut menggunakan kekuatan supremasi hukum untuk secara tepat melawan yurisdiksi jarak jauh AS.

China menerapkan aturan tersebut kurang dari dua minggu sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing. Ini menegaskan kesiapan China menggunakan instrumen yang dimiliki untuk menjaga kepentingan dalam negeri, meskipun ada gencatan senjata perdagangan dengan Washington.

Sekadar mengingatkan, sebelumnya pemerintah China, lewat Kementerian Perdagangan, memerintahkan perusahaan-perusahaan kilang minyak yang terkena sanksi AS dan masuk daftar hitam AS karena membeli minyak mentah Iran, untuk tidak melaksanakan sanksi AS. Ada lima kilang minyak yang terkena sanksi AS. Termasuk di antaranya Hengli Petrochemical.

Hengli Petrochemical telah membantah tuduhan AS bahwa mereka berdagang dengan Iran. Kilang minyak independen di China tersebut sebelum ini adalah pembeli utama ekspor minyak Iran.

Tapi undang-undang tersebut juga memungkinkan perusahaan mengajukan permohonan pengecualian. Seorang pedagang di pihak lawan Hengli yang menolak disebutkan namanya mengatakan, perusahaan-perusahaan dengan bisnis besar di luar negeri seharusnya dapat mengajukan permohonan pengecualian kepada regulator China.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Timur Tengah Membara, Bos IMF Ingatkan Ekonomi Global Bisa Masuk Skenario Terburuk

 

 Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada Senin (4/5/2026) memperingatkan bahwa inflasi sudah mulai meningkat dan perekonomian global bisa menghadapi “hasil yang jauh lebih buruk” jika perang di Timur Tengah berlanjut hingga 2027 dan harga minyak mencapai sekitar US$ 125 per barel.

Melansir Reuters, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan kelanjutan perang tersebut berarti skenario IMF yang sebelumnya memperkirakan perlambatan kecil pertumbuhan global dan kenaikan harga yang ringan sudah tidak lagi memungkinkan.

Akibatnya, “skenario buruk” (adverse scenario) IMF kini sudah terjadi, katanya. Ia menambahkan, ekspektasi inflasi jangka panjang masih relatif terkendali dan kondisi keuangan belum mengalami pengetatan, tetapi situasi itu bisa berubah jika perang terus berlanjut.

Georgieva menyampaikan hal tersebut dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Milken Institute.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan operasi militer baru untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz, namun Iran merespons dengan serangan yang dilaporkan menghantam kapal-kapal komersial hingga memicu kebakaran di pelabuhan minyak Uni Emirat Arab (UEA).

Situasi ini membuat pasar energi global kembali siaga, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak dunia.

Reuters memberitakan, sejumlah kapal komersial dilaporkan terkena serangan dan sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab (UEA) terbakar akibat serangan Iran, setelah upaya Trump menggunakan Angkatan Laut AS untuk membuka jalur pelayaran memicu eskalasi terbesar dalam perang sejak gencatan senjata diumumkan empat minggu lalu. Amerika Serikat mengatakan pihaknya menghancurkan enam kapal kecil milik Iran.

Trump mengumumkan misi baru bernama “Project Freedom” melalui media sosial pada malam hari, dengan tujuan memungkinkan kapal-kapal yang terjebak dapat melintasi selat. Ini menjadi upaya pertama yang tampak jelas untuk menggunakan kekuatan angkatan laut guna membuka kembali jalur pengiriman energi terpenting di dunia.

Namun, langkah tersebut pada tahap awal tampaknya justru menjadi bumerang. Tidak terjadi lonjakan lalu lintas kapal dagang, sementara Iran menunjukkan kekuatan. Iran sebelumnya telah mengancam akan merespons setiap eskalasi dengan serangan baru terhadap negara-negara tetangganya.

Militer AS mengatakan dua kapal dagang AS berhasil melintasi selat, namun tidak menyebutkan kapan peristiwa itu terjadi. Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan tidak ada kapal yang melintas.

Komandan pasukan AS di kawasan itu mengatakan armadanya menghancurkan enam kapal kecil Iran, namun Iran juga membantah laporan tersebut. Laksamana Brad Cooper mengatakan ia “sangat menyarankan” pasukan Iran untuk menjauh dari aset militer AS yang menjalankan misi tersebut.

Otoritas Iran merilis peta wilayah laut yang mereka klaim kini berada di bawah kendalinya, diperluas jauh melampaui Selat Hormuz hingga mencakup garis pantai panjang milik Uni Emirat Arab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kapal Perang AS Dikabarkan Dihantam Rudal Iran di Selat Hormuz


 

Angkatan laut Iran mengklaim telah mencegah kapal perang Amerika Serikat (AS) memasuki Selat Hormuz, Senin (4/5/2026). Reuters melaporkan, mengutip pemberitaan kantor berita Fars, dua rudal telah menghantam kapal perang AS di dekat Jask, di Teluk Oman, setelah mengabaikan peringatan Iran.

Laporan tersebut menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa AS akan membimbing kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz untuk keluar. Iran telah memperingatkan pasukan AS pada hari Senin (4/5/2026) untuk tidak memasuki jalur air strategis tersebut.

Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen, dan tidak ada tanggapan langsung dari Amerika Serikat.

Namun Axios memberitakan, seorang pejabat senior AS menyangkal ada kapal perang AS yang terkena serangan rudal Iran.

Sebelumnya, Trump memberikan sedikit detail tentang rencana membantu kapal dan awaknya yang telah terkurung di jalur air vital tersebut. Para awak kapal dikabarkan kekurangan makanan serta persediaan lainnya, setelah lebih dari dua bulan konflik berlangsung.

"Kami telah memberi tahu negara-negara bahwa kami akan membimbing kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur air yang dibatasi ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka," kata Trump dalam unggahan di akun media sosial Truth Social miliknya,  Minggu (3/5/2026).

Sebagai tanggapan, komando gabungan Iran memerintahkan kapal-kapal komersial dan kapal tanker minyak untuk menahan diri dari pergerakan apa pun yang tidak dikoordinasikan dengan militer Iran.

"Kami telah berulang kali mengatakan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di tangan kami dan bahwa jalur aman kapal perlu dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata," kata Ali Abdollahi, Kepala Komando Gabungan Angkatan Bersenjata Iran dalam pernyataan resmi.

Abdollahi menuturkan, setiap angkatan bersenjata asing, terutama Angkatan Darat AS, akan diserang jika mendekati dan memasuki Selat Hormuz.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasokan Minyak Menyusut, CEO Chevron Sebut Dampaknya Bisa Seperti Era 1970-an


 

CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan bahwa kekurangan pasokan minyak secara fisik mulai muncul di berbagai belahan dunia menyusul penutupan Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak mentah global. Penutupan jalur ini akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengganggu distribusi energi secara signifikan.

Dalam forum yang diselenggarakan Milken Institute, Wirth mengatakan bahwa dampak gangguan pasokan mulai terasa nyata, seiring cadangan minyak yang tersedia di pasar komersial, kapal tanker “shadow fleet”, serta cadangan strategis negara mulai terkuras.

“Kita akan mulai melihat kekurangan fisik pasokan. Permintaan harus menyesuaikan dengan suplai, dan ekonomi akan melambat,” ujarnya dilansir dari Reuters.

Menurut Wirth, kawasan Asia akan menjadi yang paling terdampak lebih dulu karena ketergantungannya yang tinggi terhadap minyak dari kawasan Teluk.

Eropa diperkirakan menyusul, sementara AS yang merupakan eksportir bersih minyak relatif lebih tahan, meski tetap akan merasakan dampaknya dalam jangka waktu tertentu.

Ia juga mengungkapkan bahwa pengiriman minyak terakhir dari kawasan Teluk saat ini tengah dibongkar di Port of Long Beach, yang memasok kebutuhan energi untuk Los Angeles dan wilayah California selatan.

Lebih lanjut, Wirth menilai dampak penutupan Selat Hormuz berpotensi setara dengan krisis energi pada 1970-an, ketika gangguan pasokan besar memicu perlambatan ekonomi global, pembatasan bahan bakar, hingga antrean panjang di SPBU.

Sebagai gambaran dampak lanjutan, lonjakan harga bahan bakar jet akibat keterbatasan pasokan bahkan dilaporkan telah memicu kebangkrutan maskapai Spirit Airlines dalam beberapa hari terakhir.

Situasi ini menegaskan bahwa konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi faktor kunci yang membayangi stabilitas pasokan energi dan pertumbuhan ekonomi global.

 

 

 

 

IAEA: Serangan Drone Hantam Fasilitas Pemantauan di PLTN Terbesar Eropa

 

 Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) melaporkan bahwa peralatan pemantauan meteorologi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia Nuclear Power Plant di Ukraina mengalami kerusakan akibat serangan drone.

PLTN Zaporizhzhia, yang merupakan fasilitas nuklir terbesar di Eropa dengan enam reaktor, telah berada di bawah kendali Rusia sejak awal invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

Sejak saat itu, kedua pihak kerap saling menuduh melakukan aksi militer yang berpotensi membahayakan keselamatan fasilitas tersebut, yang berada dekat garis depan konflik.

Dalam pernyataannya yang dilansir Reuters Senin (4/5/2026), IAEA menyebut tim ahlinya telah mengunjungi Laboratorium Pengendalian Radiasi Eksternal (External Radiation Control Laboratory/ERCL) di lokasi tersebut, sehari setelah pihak pengelola yang ditunjuk Rusia melaporkan adanya serangan drone.

“Tim mengamati kerusakan pada sejumlah peralatan pemantauan meteorologi di laboratorium tersebut, yang kini tidak lagi beroperasi,” demikian pernyataan IAEA.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi, kembali menyerukan agar semua pihak menahan diri secara militer di sekitar fasilitas nuklir guna menghindari risiko keselamatan yang lebih besar.

Sejak konflik berlangsung, PLTN Zaporizhzhia yang saat ini tidak lagi memproduksi listrik telah beberapa kali menjadi sasaran serangan drone.

Namun, pihak pengelola menyatakan kerusakan yang terjadi relatif kecil dan tidak memengaruhi operasi utama.

Salah satu jalur pasokan listrik eksternal yang penting untuk menjaga pendinginan bahan bakar nuklir dilaporkan terputus sejak akhir Maret.

IAEA sebelumnya menyatakan tengah berupaya memfasilitasi gencatan senjata lokal guna memungkinkan perbaikan dilakukan.

Sebagai langkah pengawasan, IAEA telah menempatkan tim pengamat secara permanen di PLTN Zaporizhzhia serta di tiga pembangkit nuklir aktif lainnya di Ukraina.

 

 

 

Barclays Prediksi The Fed Tahan Suku Bunga Sepanjang 2026, Ini Pemicunya


 

Barclays menjadi salah satu lembaga keuangan terbaru yang memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve sepanjang 2026.

Proyeksi ini didorong oleh tingginya harga energi akibat konflik Iran yang berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi.

Mengutip Reuters, Senin (4/5/2026), sebelumnya Barclays memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026.

Namun, proyeksi tersebut kini direvisi. Meski begitu, Barclays masih mempertahankan perkiraan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret 2027.

Sejumlah broker global juga mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini.

Jika sebelumnya pasar memperkirakan dua kali pemangkasan pada 2026, kini proyeksi semakin terbelah antara skenario pelonggaran terbatas atau bahkan tanpa pemangkasan sama sekali.

Hal ini dipicu oleh risiko inflasi akibat konflik geopolitik yang membuat pembuat kebijakan lebih berhati-hati.

Pekan lalu, Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga dalam keputusan yang paling terpecah sejak 1992, di tengah kekhawatiran meningkatnya harga energi yang mulai merambat ke perekonomian.

Inflasi di Amerika Serikat (AS) sendiri masih berada jauh di atas target 2% bank sentral, seiring gangguan pasokan minyak global akibat konflik di Timur Tengah.

Analis Barclays menyebut, harga minyak yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama berpotensi mendorong inflasi, baik pada komponen utama maupun inti, serta menekan pertumbuhan ekonomi.

“Sebaliknya, jika tingkat pengangguran naik secara tiba-tiba, kami memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan memangkas suku bunga lebih cepat dan agresif,” tulis Barclays dalam risetnya.

Di sisi lain, kenaikan harga energi diperkirakan akan menekan konsumsi rumah tangga. Namun, dampak tersebut sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan investasi bisnis, terutama di sektor energi dan belanja terkait kecerdasan buatan (AI).

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 78,7% bahwa suku bunga AS tidak akan berubah hingga akhir tahun, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool.

 

 

 

Trump Siap Kawal Kapal Keluar Selat Hormuz, Iran Ancam AS

 

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran memperingatkan Amerika Serikat agar tidak memasuki Selat Hormuz. Peringatan ini muncul setelah Presiden Donald Trump menyatakan rencana untuk membantu kapal-kapal yang terjebak akibat konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan bahwa Washington akan mulai membantu kapal-kapal yang terblokir di jalur strategis tersebut, meskipun tidak merinci mekanisme operasinya. Ia menyebut banyak kapal dan awaknya telah “terkunci” selama lebih dari dua bulan, menghadapi kekurangan pasokan makanan dan kebutuhan logistik lainnya.

"Kami telah memberi tahu negara-negara tersebut bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka keluar dengan aman dari perairan terbatas ini, sehingga mereka dapat kembali menjalankan aktivitas bisnis mereka dengan bebas dan lancar," ujar Donald Trump melalui platform Truth Social.

Menanggapi hal tersebut, komando gabungan angkatan bersenjata Iran memperingatkan bahwa setiap kehadiran militer asing di Selat Hormuz akan dianggap sebagai ancaman serius. Mereka menegaskan siap memberikan respons keras terhadap setiap upaya intervensi.

Ali Abdollahi, kepala komando gabungan militer Iran, menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di tangan Iran dan setiap pelayaran harus dikoordinasikan dengan militer mereka. Ia juga memperingatkan bahwa pasukan asing, khususnya militer AS, akan diserang jika mencoba memasuki wilayah tersebut.

Iran bahkan meminta kapal komersial dan tanker minyak untuk tidak melakukan pergerakan tanpa koordinasi dengan otoritas militernya.

Di sisi lain, Komando Pusat AS atau United States Central Command (CENTCOM) menyatakan siap mendukung operasi tersebut dengan mengerahkan sekitar 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat, serta kapal perang dan drone.

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyebut dukungan ini penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan ekonomi global, di tengah upaya mempertahankan blokade laut yang sedang berlangsung.

Menurut International Maritime Organization (IMO), ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut tidak dapat melintasi Selat Hormuz sejak konflik berlangsung. Situasi ini memperparah gangguan pasokan energi global, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu arteri utama distribusi minyak dan gas dunia.

Laporan terbaru juga menyebutkan adanya insiden serangan terhadap kapal tanker di perairan tersebut, meskipun seluruh awak dilaporkan selamat.

Selama lebih dari dua bulan terakhir, Iran disebut telah membatasi hampir seluruh aktivitas pelayaran dari Teluk, kecuali untuk kapal-kapalnya sendiri. Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi global, dengan harga minyak sempat kembali menembus level US$100 per barel.

Pemerintahan Trump juga dilaporkan tengah berupaya membentuk koalisi internasional guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pendekatan ini menggabungkan langkah diplomatik dan koordinasi militer, meskipun belum jelas negara mana saja yang akan terlibat.

Trump bahkan memperingatkan bahwa setiap upaya mengganggu operasi AS akan ditindak tegas dengan kekuatan militer.

Di tengah eskalasi konflik, Iran menyatakan telah menerima respons dari AS terkait proposal perundingan damai. Proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan dan kini sedang ditinjau oleh Teheran.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa saat ini belum ada negosiasi nuklir yang berlangsung. Hal ini merujuk pada usulan Iran untuk menunda pembahasan isu nuklir hingga perang berakhir dan blokade pelayaran dicabut.

Di sisi lain, Washington tetap menuntut Iran untuk membatasi program nuklirnya, termasuk menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya tinggi. Iran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, meski membuka peluang diskusi terkait pembatasan tertentu jika sanksi dicabut.

Konflik ini turut memberikan tekanan domestik bagi Trump, terutama terkait lonjakan harga energi di dalam negeri. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global yang melewati Selat Hormuz kini terganggu, berdampak pada kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat.

Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, isu ekonomi dan harga energi berpotensi menjadi faktor krusial bagi Partai Republik.

Sementara itu, proposal Iran mencakup berbagai tuntutan, mulai dari penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan blokade, pelepasan aset yang dibekukan, hingga pembentukan mekanisme baru pengawasan Selat Hormuz.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara risiko terhadap stabilitas energi global tetap tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post