News Komoditi & Global ( Jumat, 8 Mei 2026 )

News  Komoditi & Global

                                     ( Jum’at,   8  Mei  2026  )

Harga Emas Global Melemah  saat Pedagang Menantikan Laporan Tenaga Kerja AS dan Potensi Kesepakatan Damai AS-Iran

 

 

 

Harga Emas (XAU/USD) bertahan stabil di dekat $4.685 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Para pedagang lebih memilih untuk absen menjelang data ketenagakerjaan AS untuk bulan April yang akan dirilis hari ini.

Para ekonom memprakirakan penambahan 62.000 lapangan pekerjaan untuk bulan April, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3%. Laporan ini mungkin akan menentukan langkah Federal Reserve (The Fed) selanjutnya terkait suku bunga. Setiap tanda perbaikan di pasar tenaga kerja AS dapat mengangkat Dolar AS (USD) dan membebani harga komoditas berdenominasi USD dalam waktu dekat.

Di sisi lain, optimisme atas kesepakatan damai AS-Iran telah menyebabkan penurunan tajam harga minyak dan meredakan kekhawatiran terhadap inflasi. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah menunggu Iran merespons proposalnya untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang.

Para pemimpin Iran belum menunjukkan apakah mereka akan menerima syarat-syarat kesepakatan tersebut, meskipun sebelumnya mereka menunjukkan sedikit tanda-tanda menyerah pada program nuklir mereka dan menerima moratorium pengayaan uranium.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Menguat  Dipicu Bentrokan Pasukan AS dengan Iran


Harga minyak rebound pada perdagangan Jumat (8/5/2026) pagi, setelah turun tiga hari berturut-turut.

Mengutip Bloomberg, Jumat (8/5/2026) pukul 07.36 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 97,10 per barel, naik 2,42% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 94,81 per barel.

Harga minyak melonjak menyusul bentrokan yang Kembali terjadi antara pasukan AS dan Iran, membahayakan prospek kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran.

Mengutip Bloomberg, komando pasukan AS mengatakan, pasukan AS mencegat pengiriman minyak tanpa provokasi, dan membalas dengan serangan pertahanan diri saat kapal perusak rudal melintasi Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, ketiga kapal perang tersebut berhasil keluar dari jalur perairan dan tidak mengalami kerusakan setelah serangan tersebut.

"Kita akan menghancurkan mereka dengan cara yang jauh lebih keras dan lebih brutal di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan itu!" tulis Trump di unggahan media social.

Fokus pasar minyak global tetap tertuju pada ketegangan di Selat Hormuz yang telah ditutup sejak perang dimulai akhir Febduari.

"Reaksi harga yang lebih terkendali menunjukkan bahwa pasar masih menganggap ini dapat dikelola untuk saat ini," kata Haris Khurshid, kepala investasi di Karobaar Capital LP di Chicago.

"Pada awal konflik, setip eskalasi memicu penyesuaian harga yang cukup besar."

Sementara itu, Kepala Badan Energi Internasional memperingatkan bahwa dunia kehilangan 14 juta barel minyak per hari karena perang, dan peningkatan produksi setelah konflik akan dilakukan secara bertahap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup Melemah, S&P 500 Turun Dipicu Koreksi Saham-Saham Chip


 

Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (7/5/2026). Indeks S&P 500 ditutup turun, dipicu koreksi saham Intel dan saham-saham chip lainnya setelah reli baru-baru ini, sementara ketidakpastian seputar pembicaraan perdamaian AS-Iran membebani pasar yang lebih luas.

Mengutip Reuters, indeks S&P 500 turun 0,38% ke level 7.337,11. Indeks Nasdaq turun 0,13% menjadi 25.806,20, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,63% menjadi 49.596,97.

Sembilan dari 11 indeks sektor S&P 500 turun, dipimpin oleh sektor material yang turun 1,83%, diikuti oleh penurunan 1,78% di sektor energi.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 18,3 miliar saham, dengan rata-rata 17,5 miliar saham selama 20 sesi terakhir.

Saham Arm Holdings yang terdaftar di bursa AS anjlok karena kekhawatiran tentang kemampuan perusahaan untuk mengamankan pasokan yang cukup untuk chip AI barunya menutupi perkiraan pendapatan yang kuat.

Intel dan Advanced Micro Devices keduanya turun sekitar 3%, mengembalikan sebagian dari keuntungan mereka dari awal pekan ini.

Indeks chip PHLX turun 2,7%, memangkas kenaikannya sejauh kuartal ini menjadi 47%.

Amerika Serikat dan Iran sedang menuju kesepakatan sementara untuk menghentikan perang mereka, kata sumber dan pejabat, dengan Teheran meninjau proposal yang akan menghentikan pertempuran tetapi membiarkan isu-isu yang paling kontroversial tidak terselesaikan.

"Anda bisa mengalami serangkaian hari seperti ini, dan itu tidak akan mengurangi fakta bahwa ini merupakan kuartal pemulihan yang luar biasa, didorong oleh fundamental," kata Mike Dickson, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments di Charlotte, North Carolina.

Harga minyak sedikit turun, diperdagangkan sekitar US$ 100 per barel.

Saham Nvidia dan Microsoft naik hampir 2%, menggarisbawahi kepercayaan investor pada perusahaan AI kelas berat Wall Street.

Reli yang tak henti-hentinya di saham teknologi dan AI telah membantu mendorong saham AS ke rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir karena investor menyambut baik tanda-tanda permintaan yang kuat untuk kecerdasan buatan dan musim pendapatan yang kuat. Perusahaan-perusahaan S&P 500 berada di jalur untuk pertumbuhan laba terkuat mereka dalam lebih dari empat tahun.

Informasi ekonomi yang optimis dalam beberapa minggu terakhir juga membantu meredakan kekhawatiran tentang perekonomian.

Dengan penurunan pada hari Kamis, indeks S&P 500 masih tercatat naik 7% sepanjang tahun 2026 berjalan.

Data menunjukkan jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran meningkat kurang dari yang diperkirakan minggu lalu.

Setelah laporan penggajian swasta yang kuat pada hari Rabu, investor menunggu data penggajian non-pertanian yang lebih komprehensif pada hari Jumat, dengan lapangan kerja diperkirakan meningkat sebesar 62.000 pada bulan April setelah pulih sebesar 178.000 pada bulan Maret, menurut jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.

Para pedagang terus bertaruh bahwa Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga tetap stabil hingga akhir tahun karena pasar tenaga kerja yang tangguh dan harga energi yang tinggi.

Presiden Cleveland Fed, Beth Hammack, mengatakan dia memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil hingga masa mendatang karena menghadapi iklim ketidakpastian yang cukup besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran dan AS Kembali Baku Tembak di Selat Hormuz

 

 

Militer Iran dan Amerika Serikat kembali saling balas serangan di Selat Hormuz. Hal ini terjadi di tengah upaya mencapai gencatan senjata permanen menyusul agresi AS dan sekutunya Israel terhadap Iran.

Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya Iran mengatakan AS telah melanggar gencatan senjata dengan menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran yang bergerak dari perairan pesisir Iran di wilayah Jask menuju Selat Hormuz, serta kapal lain yang memasuki Selat Hormuz di seberang pelabuhan Fujairah UEA, menurut penyiar IRIB Iran.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara tersebut mengatakan AS juga “melakukan serangan udara di wilayah sipil bekerja sama dengan beberapa negara di wilayah pesisir Khamir, Sirik dan Pulau Qeshm”.

“Militer Iran segera dan sebagai pembalasan menyerang kapal militer Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan signifikan pada kapal tersebut,” bunyi pernyataan itu.

Juru bicara tersebut memperingatkan AS dan sekutunya bahwa Iran “akan memberikan respons yang menghancurkan terhadap agresi apa pun… tanpa ragu sedikit pun”.

Komando Pusat AS (CENTCOM) berdalih pasukan Amerika mencegat “serangan Iran yang tidak beralasan” dan merespons dengan “serangan pertahanan diri” ketika kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS transit di Selat Hormuz menuju Teluk Oman pada 7 Mei.

Menurut pernyataan CENTCOM, pasukan Iran melancarkan serangan terkoordinasi yang melibatkan “beberapa rudal, drone, dan perahu kecil” sementara USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87) sedang menavigasi jalur laut internasional. Para pejabat AS mengeklaim “tidak ada aset AS yang diserang” selama keterlibatan tersebut.

Menanggapi “agresi tersebut”, Komando Pusat AS mengatakan pihaknya “menghilangkan ancaman masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran yang bertanggung jawab menyerang pasukan AS.”

Serangan-serangan ini mengenai beberapa sasaran utama, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, lokasi komando dan kendali, pusat intelijen, pengawasan, dan pengintaian, katanya. “CENTCOM tidak mengupayakan eskalasi tetapi tetap pada posisi dan siap melindungi pasukan Amerika,” tambah pernyataan itu.

Serangan di Selat Hormuz itu terjadi di tengah harapan selesainya perang dalam perkembangan terkini. Iran mengatakan saat ini mereka sedang meninjau proposal perdamaian Amerika Serikat yang menurut sumber akan secara resmi mengakhiri perang, sementara tuntutan utama Amerika agar Iran menghentikan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz masih belum terselesaikan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang dikutip oleh kantor berita ISNA Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa Teheran akan menyampaikan tanggapannya. Presiden AS Donald Trump mengatakan dia yakin Iran menginginkan kesepakatan.

"Mereka ingin membuat kesepakatan. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan membuat kesepakatan," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Rabu.

Sehari sebelumnya, Trump menghentikan “Project Freedom” untuk membuka kembali selat yang diblokade tersebut, dengan alasan kemajuan dalam pembicaraan damai. Blokade jalur air secara de facto mengancam menyebabkan resesi global. Iran telah mendesak agar Hormuz tetap berada di bawah kendalinya, yang merupakan jalur distribusi seperlima pasokan minyak dan gas global.

Media Amerika, Axios, mengatakan kedua belah pihak “semakin dekat” mencapai kesepakatan mengenai dokumen berisi 14 poin. Berdasarkan memorandum tersebut, Iran setuju untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan menghentikan pengayaan uranium setidaknya selama 12 tahun, katanya.

AS akan mencabut sanksi dan melepaskan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan, dan kedua belah pihak, yang telah saling memberlakukan blokade di Selat Hormuz, akan membuka kembali jalur air penting tersebut dalam waktu 30 hari setelah penandatanganan.

Iran telah berada di bawah sanksi AS selama beberapa dekade, dan pencabutan beberapa sanksi berdasarkan perjanjian nuklir tahun 2015 dibatalkan setelah Trump keluar dari perjanjian penting yang ditandatangani di bawah pendahulunya, Presiden Barack Obama. Miliaran dolar aset Iran tetap dibekukan di bank asing karena sanksi tersebut.

Tidak jelas apa perbedaan antara memorandum ini dengan rencana 14 poin yang diusulkan Iran pekan lalu. Kantor berita Reuters melaporkan pada hari Kamis, mengutip sumber yang mengetahui tentang mediasi, bahwa negosiasi AS dipimpin oleh utusan Trump Steve Witkoff dan menantu laki-laki Jared Kushner.

Jika kedua belah pihak menyepakati kesepakatan awal, hal itu akan memulai perundingan terperinci selama 30 hari untuk mencapai kesepakatan penuh. Perjanjian penuh tersebut akan mengakhiri persaingan blokade AS dan Iran di selat tersebut, mencabut sanksi AS dan melepaskan dana Iran yang dibekukan.

Perjanjian ini juga mencakup pembatasan tertentu terhadap program nuklir Iran, yang diizinkan oleh pengawas nuklir PBB. Meskipun sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa memorandum tersebut pada awalnya tidak memerlukan konsesi dari kedua belah pihak, mereka tidak menyebutkan beberapa tuntutan utama yang pernah dibuat Washington di masa lalu, namun ditolak oleh Iran, seperti pembatasan program rudal Iran dan diakhirinya dukungannya terhadap kelompok proksi bersenjata di Timur Tengah.

 

 

 

 

 

Saudi-Kuwait Tutup Akses Pangkalan AS, Trump Hentikan Operasi di Selat Hormuz

 

 

Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tiba-tiba menghentikan rencana operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz disebut dipicu penolakan sejumlah sekutu utama AS di kawasan Teluk. Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan menangguhkan akses militer AS terhadap pangkalan dan wilayah udara mereka untuk mendukung operasi tersebut.

Laporan NBC News menyebutkan, Trump mengejutkan sekutu-sekutu Teluk setelah mengumumkan operasi bertajuk Project Freedom melalui media sosial pada Ahad sore waktu setempat. Langkah itu disebut memicu ketidakpuasan para pemimpin Arab Saudi.

Menurut dua pejabat AS, Riyadh kemudian memberi tahu Washington bahwa mereka tidak akan mengizinkan pesawat militer AS terbang dari Pangkalan Udara Pangeran Sultan di tenggara Riyadh maupun melintasi wilayah udara Saudi untuk mendukung operasi tersebut.

Upaya komunikasi antara Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan belum membuahkan hasil. Kondisi itu disebut memaksa Trump menghentikan sementara Project Freedom guna memulihkan akses militer AS di kawasan.

Selain Saudi, sejumlah sekutu dekat AS di Teluk juga disebut terkejut atas pengumuman operasi tersebut. Trump dilaporkan baru berbicara dengan para pemimpin Qatar setelah operasi diumumkan.

Sumber Saudi kepada NBC News mengatakan Trump dan Mohammed bin Salman tetap menjalin komunikasi intensif. Pejabat Saudi juga disebut menghubungi Trump, Wakil Presiden JD Vance, Komando Pusat AS (CENTCOM), dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Saat ditanya apakah pengumuman Project Freedom mengejutkan Riyadh, sumber Saudi itu mengatakan situasi berkembang sangat cepat dan berlangsung secara real time. Ia menambahkan, Arab Saudi mendukung upaya diplomatik Pakistan untuk memediasi kesepakatan antara Iran dan AS guna mengakhiri konflik.

Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih membantah adanya unsur kejutan terhadap sekutu regional. Menurut dia, negara-negara mitra di kawasan telah diberi informasi sebelumnya terkait operasi tersebut.

Seorang diplomat Timur Tengah mengatakan koordinasi AS dengan Oman baru dilakukan setelah Trump mengumumkan operasi itu. “AS lebih dulu mengumumkan, kemudian baru melakukan koordinasi dengan kami,” ujarnya.

Trump sebelumnya mengeklaim Project Freedom sebagai langkah membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz yang terganggu akibat ancaman Iran. Namun, sekitar 36 jam setelah diumumkan, operasi itu mendadak dihentikan.

Seorang pejabat AS mengatakan militer Negeri Paman Sam sebenarnya telah menyiapkan kapal tambahan di kawasan Teluk untuk mendukung operasi tersebut. Komando Pusat AS sebelumnya juga menyatakan dua kapal berbendera AS berhasil melintasi Selat Hormuz dalam rangkaian operasi itu.

Dalam unggahan terbarunya, Trump mengatakan Project Freedom “dijeda sementara” untuk melihat peluang tercapainya perjanjian damai guna mengakhiri perang.

Militer AS selama ini menempatkan pesawat tempur, tanker pengisi bahan bakar, dan sistem pertahanan udara di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi. Dukungan akses wilayah udara dari negara-negara Teluk dinilai sangat penting bagi operasi militer AS di kawasan.

 “Karena faktor geografis, AS membutuhkan kerja sama negara mitra untuk menggunakan wilayah udara mereka,” kata seorang pejabat AS.

Dalam istilah militer AS, izin penggunaan wilayah negara lain dikenal sebagai access, basing, and overflight (ABO). Arab Saudi dan Yordania dinilai penting untuk penempatan pesawat, Kuwait krusial untuk akses penerbangan, sedangkan Oman berperan dalam dukungan logistik udara dan laut.

Trump juga dilaporkan menelepon Emir Qatar setelah operasi dimulai. Seorang pejabat Qatar mengatakan pembicaraan mencakup isu gencatan senjata dan dampaknya terhadap keamanan maritim serta rantai pasok global. Qatar disebut menekankan pentingnya deeskalasi.

Meski operasi dihentikan, militer AS tetap mempertahankan kekuatan signifikan di kawasan Teluk. Pentagon disebut masih menempatkan dua kelompok kapal induk serta menambah dukungan logistik dan persenjataan di wilayah tersebut.

Project Freedom dirancang untuk memberikan perlindungan militer terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz di tengah ancaman Iran. Operasi itu disebut terpisah dari kampanye pengeboman AS yang dimulai sejak 28 Februari dan diberi nama Epic Fury.

Di sisi lain, pemerintahan Trump terus mendorong tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Teheran sedang meninjau proposal perdamaian terbaru dari AS.

Menurut dia, setelah proses peninjauan selesai, Iran akan mendiskusikan proposal tersebut bersama Pakistan yang bertindak sebagai mediator. Laporan mengenai rincian proposal damai itu pertama kali diungkap Axios.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Survei: 58 Persen Warga AS tak Puas dengan Kebijakan Ekonomi Trump

 

 

Hampir 60 persen warga Amerika Serikat tidak menyetujui kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump, menurut survei Forbes/HarrisX yang dirilis Rabu (6/5/2026). Survei menunjukkan 58 persen responden tidak puas dengan kebijakan ekonomi Trump, sementara hanya 37 persen yang menyetujuinya.

Sebanyak 56 persen menolak kebijakan tarif dan perdagangan, sedangkan 37 persen mendukung. Secara keseluruhan, tingkat persetujuan Trump berada di angka 41 persen, dengan 55 persen menyatakan tidak setuju. Survei itu juga mendapati hanya 37 persen responden mendukung operasi militer terhadap Iran.

Survei dilakukan terhadap 2.512 orang dewasa di AS dengan margin kesalahan sekitar 1,95 persen. Sebelumnya, Axios melaporkan bahwa Gedung Putih memperkirakan Washington dan Teheran dapat segera menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik. Namun, Trump menegaskan masih “terlalu dini” untuk berbicara mengenai negosiasi langsung dengan Iran.

Sebelumnya pada 1 Mei, jajak pendapat Washington Post-ABC News-Ipsos menunjukkan lebih dari 60 persen warga AS menilai operasi militer terhadap Iran adalah sebuah kesalahan. Konflik memanas sejak 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil.

Sementara pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata dua pekan. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, sehingga Trump memperpanjang penghentian serangan untuk memberi waktu Iran menyusun “proposal bersama.”

Eskalasi konflik juga hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global, yang memicu kenaikan harga bahan bakar di banyak negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UEA Diam-Diam Ekspor Minyak Lewat Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah


 

Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan tetap mengekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz meski ketegangan konflik Timur Tengah meningkat tajam. Langkah ini dilakukan dengan metode berisiko tinggi, termasuk mematikan sistem pelacak kapal guna menghindari potensi serangan Iran.

Berdasarkan laporan Reuters pada 7 Mei, sejumlah tanker yang membawa minyak mentah milik UEA berlayar melalui Selat Hormuz dengan sistem pelacakan otomatis atau Automatic Identification System (AIS) dimatikan. Strategi tersebut dilakukan untuk mengurangi kemungkinan kapal terdeteksi oleh pasukan Iran.

Langkah ini menunjukkan besarnya risiko yang bersedia diambil produsen minyak dan pembeli untuk menjaga kelancaran penjualan minyak di tengah gangguan distribusi energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Data pelacakan kapal dan sumber industri menyebutkan bahwa pada April lalu, perusahaan energi nasional Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC), berhasil mengekspor sedikitnya 4 juta barel minyak mentah Upper Zakum dan 2 juta barel minyak Das menggunakan empat kapal tanker dari terminal di kawasan Teluk.

Minyak tersebut kemudian dikirim melalui berbagai skema distribusi, termasuk transfer kapal-ke-kapal atau ship-to-ship (STS), penyimpanan di Oman, hingga pengiriman langsung ke kilang di Korea Selatan dan Asia Tenggara.

Reuters menyebut, ini menjadi pertama kalinya pola ekspor minyak ADNOC melalui metode tersebut terungkap ke publik. Namun, ADNOC menolak memberikan komentar terkait pengiriman tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Teheran merespons serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari dengan secara efektif menutup akses ekspor melalui Selat Hormuz bagi negara lain selain Iran.

Situasi tersebut membuat sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global tertahan di kawasan Teluk. Penutupan jalur tersebut, ditambah blokade Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Iran, mendorong harga minyak dunia melonjak hingga di atas US$ 100 per barel.

Akibat konflik ini, ekspor minyak ADNOC juga mengalami penurunan signifikan. Data Kpler menunjukkan ADNOC memangkas ekspor lebih dari 1 juta barel per hari sejak perang dimulai, dibandingkan rata-rata pengiriman 3,1 juta barel per hari tahun lalu.

Sebagian besar ekspor ADNOC berasal dari minyak jenis Murban yang dikirim melalui jaringan pipa menuju terminal Fujairah di luar kawasan Teluk Persia.

Risiko keamanan terhadap pengiriman minyak UEA semakin nyata setelah pemerintah UEA menuduh Iran menggunakan drone untuk menyerang kapal tanker kosong ADNOC bernama Barakah yang melintas di Selat Hormuz pada Senin lalu.

Untuk menghindari deteksi, kapal-kapal tanker ADNOC beroperasi dengan mematikan transponder AIS. Taktik serupa selama ini juga sering digunakan Iran untuk menghindari sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor minyaknya.

Namun, langkah tersebut membuat volume ekspor ADNOC sulit dipantau secara akurat melalui data pelayaran internasional. Karena itu, volume ekspor aktual dari kawasan Teluk kemungkinan lebih besar dari yang terdata.

Salah satu kapal tanker jenis VLCC, Hafeet, tercatat memuat 2 juta barel minyak Upper Zakum pada 7 April sebelum keluar dari Selat Hormuz pada 15 April.

Muatan tersebut kemudian dipindahkan ke kapal tanker berbendera Yunani Olympic Luck melalui transfer STS dan dikirim ke kilang Pengerang di Malaysia, yang merupakan proyek patungan antara perusahaan energi nasional Malaysia Petronas dan Saudi Aramco.

Strategi pemecahan muatan melalui transfer STS memungkinkan ADNOC menjual kargo dalam ukuran lebih kecil sekaligus mempercepat rotasi kapal tanker kembali ke kawasan Teluk untuk memuat minyak baru.

Menurut salah satu sumber Reuters, sebagian minyak Upper Zakum bahkan berhasil dijual ke kilang Asia Timur Laut dengan premi mencapai US$ 20 per barel di atas harga resmi jual ADNOC.

Meski risiko keamanan meningkat, ADNOC disebut tetap berencana melanjutkan ekspor minyak dari kawasan Teluk melalui skema transfer STS di pelabuhan luar Teluk seperti Fujairah dan Sohar di Oman.

Perusahaan juga tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah kilang Asia untuk penjualan muatan minyak Das dan Upper Zakum untuk pengiriman Mei.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kapal Tanker China Diserang di Dekat Selat Hormuz, Ketegangan Jalur Energi Memanas


 

Sebuah kapal tanker pengangkut produk minyak olahan milik perusahaan pelayaran China dilaporkan diserang di dekat Pelabuhan Al Jeer, Uni Emirat Arab (UEA), pada 4 Mei lalu. Insiden ini terjadi di pintu masuk Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.

Mengutip laporan media China, Caixin, serangan tersebut menyebabkan bagian dek kapal terbakar. Pada badan kapal juga terlihat tulisan “CHINA OWNER & CREW”, yang menunjukkan identitas kepemilikan dan awak kapal berasal dari China.

Peristiwa ini menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan pelayaran di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.

Menurut sumber yang mengetahui situasi di perusahaan pemilik kapal, insiden tersebut disebut sebagai pertama kalinya kapal tanker minyak China menjadi target serangan di kawasan tersebut.

Sumber tersebut mengatakan kepada Caixin bahwa kejadian ini “psychologically very hard to accept” atau secara psikologis sangat sulit diterima.

Hingga kini belum ada informasi lebih lanjut mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut maupun tingkat kerusakan kapal dan kondisi awak kapal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AS dan Iran Selangkah Lebih Dekat Menuju Kesepakatan Mengakhiri Perang

 

 Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut semakin dekat menuju kesepakatan jangka pendek untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Meski demikian, sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, masih belum menemukan titik temu.

Mengutip Reuters, Kamis (7/5/2026), sumber dan pejabat yang mengetahui proses negosiasi menyebut kedua negara tengah membahas memorandum sementara, bukan perjanjian damai komprehensif.

Skema ini dirancang untuk menghentikan pertempuran dalam jangka pendek sembari membuka ruang perundingan lanjutan.

Harapan terhadap tercapainya kesepakatan tersebut langsung memengaruhi pasar global.

Bursa saham Asia menguat ke level rekor tertinggi dan harga minyak dunia sempat merosot tajam karena pelaku pasar memperkirakan gangguan pasokan energi dapat mereda jika Selat Hormuz kembali dibuka.

Namun, pembicaraan sejauh ini masih menyisakan banyak perbedaan mendasar, terutama terkait program nuklir Iran.

Negosiasi belum menyentuh penyelesaian atas stok uranium Iran yang diperkaya mendekati level senjata maupun durasi penghentian aktivitas nuklir Teheran.

Seorang pejabat senior Pakistan yang terlibat dalam mediasi mengatakan fokus utama saat ini adalah memastikan penghentian perang secara permanen terlebih dahulu.

 “Prioritas kami adalah mereka mengumumkan berakhirnya perang secara permanen. Isu lainnya bisa dibahas setelah kedua pihak kembali ke meja perundingan langsung,” ujarnya kepada Reuters.

Berdasarkan rancangan yang dibahas, kesepakatan akan berjalan dalam tiga tahap, yakni penghentian resmi perang, penyelesaian krisis Selat Hormuz, dan pembukaan jendela negosiasi selama 30 hari untuk membahas kesepakatan yang lebih luas.

Sumber dari Pakistan dan pihak lain yang mengetahui proses mediasi menyebut memorandum satu halaman untuk mengakhiri konflik secara resmi sudah mendekati final, meski masih ada sejumlah perbedaan pandangan antara kedua pihak.

Presiden AS Donald Trump kembali menunjukkan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan.

Ia menyebut Iran ingin mencapai kompromi dan konflik bisa segera berakhir.

“Mereka ingin membuat kesepakatan. Itu sangat mungkin terjadi,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Meski begitu, pejabat Iran merespons lebih hati-hati. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Teheran akan memberikan jawaban pada waktunya.

Sementara anggota parlemen Iran Ebrahim Rezaei menyebut proposal AS lebih menyerupai “daftar keinginan Amerika” dibanding kesepakatan realistis.

Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan menyindir laporan mengenai kemajuan negosiasi dengan menyebut “Operation Trust Me Bro failed”, yang menggambarkan skeptisisme Iran terhadap klaim AS.

Laporan mengenai potensi kesepakatan sempat membuat harga minyak dunia anjlok hingga menyentuh level terendah dua pekan pada Rabu (6/5).

Harga minyak Brent turun sekitar 11% hingga sempat berada di kisaran US$ 98 per barel sebelum kembali bergerak di atas US$ 100 per barel.

Pasar saham global juga melonjak, sementara imbal hasil obligasi turun seiring meningkatnya optimisme bahwa perang yang mengganggu pasokan energi dunia dapat segera mereda.

Senior Portfolio Manager GCI Asset Management Takamasa Ikeda mengatakan, pasar melihat peluang berkurangnya eskalasi militer meskipun isi proposal perdamaian masih sangat terbatas.

“Isi proposal perdamaian AS-Iran memang masih tipis, tetapi pasar berharap tidak akan ada aksi militer lanjutan,” ujarnya.

Di sisi lain, Trump pada Selasa (5/5) juga menghentikan sementara misi angkatan laut AS yang sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Langkah itu diambil setelah muncul kemajuan dalam negosiasi.

NBC News melaporkan, keputusan tersebut juga dipengaruhi sikap Arab Saudi yang disebut menolak penggunaan pangkalan militernya untuk operasi AS di kawasan.

Meski pembahasan terus berlangsung, memorandum sementara ini belum mencakup sejumlah tuntutan utama AS yang selama ini ditolak Iran, seperti pembatasan program rudal balistik dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di Timur Tengah.

Selain itu, rancangan kesepakatan juga belum membahas stok uranium Iran lebih dari 400 kilogram yang telah diperkaya mendekati level senjata nuklir, salah satu isu utama yang menjadi perhatian Washington.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China Minta Bank Hentikan Pinjaman Baru ke Kilang yang Disanksi AS

 

Regulator keuangan China dilaporkan meminta bank-bank besar di negara tersebut untuk sementara menghentikan penyaluran pinjaman baru kepada lima kilang minyak yang baru saja dikenai sanksi oleh Amerika Serikat (AS) terkait hubungan mereka dengan minyak Iran.

Laporan tersebut pertama kali diberitakan Bloomberg News pada Rabu (6/5/2026), mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut. Reuters menyebut belum dapat memverifikasi laporan itu secara independen.

Menurut laporan Bloomberg, National Financial Regulatory Administration (NFRA) secara lisan telah mengarahkan perbankan agar tidak memberikan pinjaman baru dalam denominasi yuan kepada perusahaan-perusahaan kilang terkait.

Namun, bank diminta untuk tidak menarik fasilitas kredit yang sudah berjalan.

Bank-bank tersebut juga diminta meninjau hubungan bisnis mereka dengan sejumlah perusahaan, termasuk kilang swasta terbesar China, Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery.

Baik NFRA maupun Hengli Petrochemical belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Arahan regulator tersebut disebut telah diberikan sebelum 1 Mei 2026. Langkah ini dinilai bertolak belakang dengan sikap Kementerian Perdagangan China yang pada 2 Mei lalu justru meminta perusahaan domestik mengabaikan sanksi AS.

Seruan untuk mengabaikan sanksi tersebut menjadi pertama kalinya China menggunakan mekanisme “blocking measures” yang diperkenalkan pada 2021 guna melindungi perusahaan China dari intervensi asing yang dianggap tidak wajar.

Pada April lalu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical dengan tuduhan membeli minyak Iran senilai miliaran dolar AS.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Washington membatasi pendapatan minyak Teheran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bulan lalu juga menyatakan bahwa AS telah memperingatkan dua bank China bahwa mereka dapat dikenai sanksi sekunder apabila terbukti memproses transaksi yang berkaitan dengan Iran.

Namun, Bessent tidak mengungkap identitas bank tersebut.

Sanksi AS tersebut dilaporkan mulai menimbulkan hambatan bagi operasional kilang China, termasuk kesulitan menerima pasokan minyak mentah dan keharusan menjual produk olahan dengan nama berbeda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KTT ASEAN: Negara Asia Tenggara Mulai Berebut Pasokan Minyak


 

Konflik di luar kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan mendominasi pembahasan para pemimpin ASEAN yang menggelar pertemuan di Filipina, terutama karena krisis Timur Tengah menimbulkan tantangan besar bagi negara-negara ASEAN yang bergantung pada impor energi.

Pertemuan di Pulau Cebu pada Kamis dan Jumat itu dihadiri para pemimpin, menteri luar negeri, dan menteri ekonomi dari 11 negara anggota ASEAN.

Mengutip Reuters, keamanan pasokan energi dan pangan menjadi prioritas utama bagi kawasan yang dihuni hampir 700 juta penduduk tersebut.

Konflik Timur Tengah membuat banyak negara Asia berlomba mencari pasokan minyak alternatif. Para menteri ASEAN bahkan telah menggelar pertemuan khusus menjelang KTT, sementara Filipina berharap kerangka kerja sama berbagi minyak (oil-sharing framework agreement) dapat segera diratifikasi.

Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro mengatakan krisis Timur Tengah menunjukkan bahwa perkembangan di luar kawasan dapat memberikan dampak langsung terhadap ASEAN.

“Krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan dampaknya yang luas, termasuk gangguan aliran energi, jalur perdagangan, rantai pasok pangan, serta kesejahteraan warga negara kami, mengingatkan bahwa perkembangan di luar kawasan dapat memberi dampak langsung dan mendalam terhadap ASEAN,” ujar Lazaro saat membuka pertemuan menteri luar negeri ASEAN.

Menurutnya, ASEAN perlu memperkuat koordinasi krisis dan kesiapan institusional menghadapi situasi darurat.

Para diplomat dan analis menilai isu krisis energi akan menjadi ujian besar bagi kepemimpinan Filipina sebagai ketua ASEAN tahun ini.

Filipina dinilai harus mampu mengoordinasikan respons regional tanpa mengesampingkan konflik internal ASEAN seperti perang saudara Myanmar dan sengketa perbatasan Thailand-Kamboja yang hingga kini belum selesai.

“Perencanaan untuk meredam dampak ekonomi kemungkinan akan lebih diprioritaskan dibanding isu regional lain yang mendesak,” kata analis geopolitik De La Salle University Manila, Don McLain Gill.

Ia menambahkan, isu Myanmar dan Laut China Selatan tetap akan dibahas, namun peluang terciptanya terobosan besar dinilai kecil.

ASEAN yang memiliki produk domestik bruto (PDB) gabungan sekitar US$ 3,8 triliun selama ini dinilai kesulitan menyusun respons krisis yang terkoordinasi.

Banyak pertemuan ASEAN berakhir hanya dengan kesepakatan kerja sama tanpa strategi jelas maupun komitmen konkret.

Namun, mantan diplomat Filipina Laura del Rosario menilai besarnya guncangan pasokan energi kali ini dapat memaksa ASEAN bergerak lebih nyata, bukan sekadar retorika.

Agenda Utama KTT ASEAN 2026

Isu

Fokus Pembahasan

Krisis energi

Pasokan minyak dan energi

Ketahanan pangan

Gangguan rantai pasok

Myanmar

Rekonsiliasi dan hubungan ASEAN

Laut China Selatan

Penyelesaian kode etik

Rivalitas AS-China

Pengaruh geopolitik di ASEAN

Para analis juga menilai konflik Timur Tengah semakin mempertajam rivalitas Amerika Serikat dan China di Asia Tenggara.

Amerika Serikat dinilai sibuk menghadapi berbagai konflik global, sementara China berupaya memosisikan diri sebagai mitra yang lebih stabil dan dapat diandalkan.

“AS akan dipandang sebagai kekuatan yang menciptakan ketidakstabilan, sementara China dipersepsikan sebagai kekuatan penstabil,” kata peneliti S. Rajaratnam School of International Studies Singapura, Collin Koh.

Menurutnya, China kini memegang posisi penting sebagai pemasok bahan baku dan kebutuhan terkait energi.

Myanmar Ingin Kembali Dekat dengan ASEAN

Krisis Myanmar juga akan menjadi salah satu agenda utama pembahasan.

Pemerintahan sipil baru Myanmar yang didukung militer disebut ingin kembali menjalin hubungan lebih erat dengan ASEAN setelah lima tahun terpinggirkan sejak kudeta 2021.

ASEAN hingga kini belum mengakui hasil pemilu Myanmar maupun memberi sinyal kapan pemimpin Myanmar dapat kembali hadir penuh dalam forum KTT ASEAN.

Pemerintah Myanmar dinilai perlu meyakinkan negara-negara ASEAN bahwa mereka serius menghentikan konflik dan membuka dialog dengan kelompok pemberontak.

Langkah rekonsiliasi yang dilakukan Myanmar antara lain pemberian amnesti serta pengurangan hukuman dan pemindahan pemimpin terguling Aung San Suu Kyi ke tahanan rumah.

Para pemimpin ASEAN juga diperkirakan kembali menyerukan penyelesaian kode etik Laut China Selatan antara ASEAN dan China.

Target penyelesaian pada 2026 dinilai sulit tercapai karena benturan kepentingan dan ketergantungan ekonomi negara-negara ASEAN terhadap China.

Meski China tidak ikut dalam pertemuan ASEAN kali ini, Beijing tetap menjadi mitra eksternal utama bagi blok tersebut.

China sendiri mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, termasuk sebagian zona ekonomi eksklusif milik beberapa negara ASEAN.

Tantangan ASEAN Saat Ini

Tantangan

Status

Krisis energi

Memburuk

Konflik Myanmar

Belum selesai

Sengketa Thailand-Kamboja

Masih berlangsung

Laut China Selatan

Negosiasi alot

Ketahanan pangan

Risiko meningkat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post