News Komoditi & Global ( Selasa, 14 April 2026 )
News Komoditi & Global
( Selasa, 14 April 2026 )
Harga Emas Global Menguat Ditopang Pelemahan Dolar AS & Harga Minyak
Harga emas berhasil rebound pada sesi perdagangan Asia, didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Selain itu, penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran atas inflasi dan prospek suku bunga AS tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Selasa (14/4/2026) pukul 08.15 WIB, harga emas spot naik 0,6% menjadi US$ 4.769,52 per ons troi. Sejalan, harga emas untuk kontrak pengiriman Juni 2026 juga naik 0,6% ke US$ 4.793,4 per ons troi.
Saat ini, dolar AS berada di dekat level terendahnya dalam lebih dari sebulan, membuat komoditas berdenominasi dolar, seperti emas batangan, lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
Sementara itu, harga minyak mentah turun di bawah US$ 100 per barel, meredakan kekhawatiran inflasi. Harga minyak mentah yang lebih tinggi memicu inflasi dengan menaikkan biaya transportasi dan produksi.
Militer AS memulai blokade pelabuhan Iran pada hari Senin, kata Presiden Donald Trump, dan Teheran mengancam akan membalas terhadap pelabuhan negara-negara tetangganya di Teluk setelah pembicaraan akhir pekan di Islamabad tentang mengakhiri perang gagal.
Namun, laporan bahwa Washington dan Teheran masih terbuka untuk pembicaraan setelah pertemuan tegang di Islamabad membantu meredakan kekhawatiran atas meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Para investor sekarang melihat peluang 29% untuk penurunan suku bunga AS sebesar 25 basis poin tahun ini, naik dari sekitar 12% minggu lalu.
Sebelum perang di Timur Tengah dimulai, ada ekspektasi dua kali pemotongan suku bunga Fed untuk tahun ini.
Meskipun inflasi biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai, suku bunga yang tinggi menekan permintaan logam yang tidak menghasilkan imbal hasil ini.
SPDR Gold Trust, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis emas terbesar di dunia, mengatakan kepemilikannya tetap stabil di 959,24 ton pada hari Jumat.
"Permintaan bank sentral (untuk emas), meskipun tidak merata dari bulan ke bulan, terus mencerminkan upaya diversifikasi yang lebih luas, dan peran emas sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan tetap relevan dalam portofolio yang terdiversifikasi," kata OCBC dalam sebuah catatan.
Harga Minyak Dunia Turun dengan Fokus pada Blokade AS-Iran
Harga minyak turun tajam pada awal perdagangan Asia hari Selasa saat pasar mengukur risiko pasokan dan potensi pembicaraan gencatan senjata lebih lanjut setelah AS mulai memblokade pelabuhan Iran untuk menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan perdamaian yang berkelanjutan.
Harga berjangka minyak mentah West Texas Intermediate turun 2,1% menjadi $90,98 per barel pada pukul 08:22 (waktu Indonesia bagian barat).
Harga minyak mentah telah naik tajam pada hari Senin, namun ditutup jauh di bawah level tertinggi intraday setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa 34 kapal telah melewati Hormuz sebelum blokade AS dimulai pada hari Senin– jumlah terbanyak sejak dimulainya perang Iran pada akhir Februari.
Data pelayaran dari MarineTraffic.com menunjukkan kapal-kapal sebagian besar menghindari penyeberangan tersebut pada hari Selasa pagi, meskipun beberapa kapal tanker minyak dan kapal kargo umum tampaknya telah melewati selama dua hari terakhir.
AS mulai memblokade kapal dan pelabuhan Iran sejak Senin pagi setelah pembicaraan gencatan senjata akhir pekan antara kedua negara tidak menghasilkan de-eskalasi. Kegiatan pengayaan nuklir Teheran dan pembukaan kembali penuh Hormuz tetap menjadi poin perselisihan utama, begitu juga dengan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok seperti Hezbollah.
Iran mengatakan tidak memiliki rencana untuk negosiasi di masa depan, sementara Trump mengatakan dia tidak peduli jika Teheran kembali ke meja perundingan. Namun sejumlah laporan menyebutkan bahwa negara-negara lain di Asia dan Timur Tengah berupaya memfasilitasi lebih banyak pembicaraan gencatan senjata.
Meski demikian, gencatan senjata sementara selama dua minggu antara AS dan Iran tampaknya masih bertahan hingga Selasa pagi, tanpa ada laporan serangan baru setidaknya sejak hari Minggu.
Harga minyak mencatat kenaikan bulanan rekor pada bulan Maret saat perang AS-Israel terhadap Iran mengganggu setidaknya 20% dari pasokan minyak dunia. Iran secara efektif menutup Hormuz– jalur pelayaran penting untuk minyak mentah– dan juga mulai menyerang infrastruktur energi di seluruh Timur Tengah, memicu penutupan produksi secara luas.
Wall Street Dibuka Melemah, Kegagalan Perundingan AS-Iran Mengguncang Investor
Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (13/4/2026), setelah pembicaraan antara AS dan Iran akhir pekan lalu gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Hal ini mengancam rebound di pasar saham dan berisiko memicu Kembali gejolak volatilitas.
Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 198,4 poin, atau 0,41%, ke level 47.718,21. Indeks S&P 500 turun 10,4 poin, atau 0,15%, ke level 6.806,47, sementara Indeks Nasdaq Composite turun 53,7 poin, atau 0,23% ke level 22.849,23.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa setiap keringanan dari gencatan senjata yang dicapai pekan lalu mungkin hanya sementara, menggarisbawahi risiko terlalu bergantung pada taruhan bullish ketika lingkungan geopolitik masih tidak pasti.
Indeks saham utama AS mencatat kenaikan untuk minggu kedua berturut-turut pada hari Jumat karena harapan bahwa pembicaraan damai di Pakistan akan membuahkan hasil.
Menambah keresahan, hanya beberapa jam lagi militer AS akan memulai blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, dalam langkah yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan pada Teheran.
Indeks Volatilitas Pasar CBOE, pengukur ketakutan pasar, naik menjadi 21,29 poin.
Pergeseran sentimen juga terlihat di kelas aset lainnya, dengan investor beralih ke dolar AS sebagai aset aman sambil mengurangi eksposur terhadap ekuitas di berbagai wilayah geografis.
Harga minyak melonjak kembali di atas US$ 100 per barel, memperburuk kekhawatiran inflasi setelah data pekan lalu menunjukkan bahwa lonjakan rekor biaya bensin dan solar memicu kenaikan harga konsumen AS terbesar dalam hampir empat tahun pada bulan Maret.
“Kita kembali berada dalam ranah berbagai kemungkinan hasil yang masuk akal, mulai dari putaran negosiasi lain selama gencatan senjata yang tidak merata... hingga dimulainya kembali permusuhan sepenuhnya,” kata Hasnain Malik, ahli strategi risiko geopolitik dan ekuitas pasar berkembang Tellimer.
Harapan akan perbaikan di bidang pendapatan pupus setelah saham Goldman Sachs turun 4,5% dalam perdagangan pre market, setelah hasil kuartalan bank tersebut.
Meskipun bank investasi tersebut melampaui perkiraan laba per saham, hal itu dilakukan dengan margin terkecil dalam hampir dua tahun.
"Kami tidak melihat pasar benar-benar terlalu memperhatikan hasil pendapatan yang melebihi ekspektasi. Dan itu semua karena prospek inflasi yang lebih tinggi, aktivitas ekonomi yang lebih lemah, dan The Fed yang mungkin terpaksa mempertahankan suku bunga tetap untuk waktu yang sangat lama," kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities.
Fokus investor sekarang beralih ke komentar dari para eksekutif Goldman, yang akan dianalisis untuk mencari petunjuk tentang bagaimana konflik Timur Tengah, yang sekarang memasuki minggu ketujuh, berdampak pada ekonomi dan pasar modal.
Saham pesaing Morgan Stanley, JPMorgan Chase, dan Citigroup masing-masing turun 2%, 1,9%, dan 1,8%.
Saham distributor perlengkapan industri Fastenal juga turun 3% setelah pengumuman pendapatan.
Saham-saham yang terkait dengan perjalanan turun, dengan maskapai penerbangan seperti Delta Air Lines dan JetBlue Airways masing-masing turun 2,7% dan 2,3%, karena kekhawatiran bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan biaya bahan bakar.
Saham-saham energi naik, dengan Chevron, Exxon Mobil, dan ConocoPhillips masing-masing naik 1,9%, 2%, dan 2,3%.
Saham Sandisk naik 1,5% sebelum pasar dibuka karena produsen chip memori tersebut berada di jalur untuk bergabung dengan indeks Nasdaq-100 pada 20 April.
IMF, Bank Dunia, dan IEA Desak Negara Dunia Tak Timbun Energi di Tengah Krisis Global
Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional (IEA) pada Senin (13/4) mendesak negara-negara agar tidak menimbun pasokan energi serta tidak menerapkan pembatasan ekspor yang dapat memperburuk guncangan pasar energi global.
Ketiga lembaga tersebut menyebut kondisi saat ini sebagai “guncangan terbesar yang pernah terjadi” terhadap pasar energi dunia.
Melansir Reuters, Kepala IEA Fatih Birol mengatakan beberapa negara saat ini menahan stok energi dan memberlakukan pembatasan ekspor. Ia meminta agar pasokan energi dapat mengalir ke pasar global. Namun, Birol tidak menyebut negara mana yang dimaksud.
“Jangan menambah masalah,” ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.
Georgieva menyebut dirinya sedang bertemu dengan sejumlah negara yang terdampak berat, terutama di Asia, Afrika Sub-Sahara, serta beberapa pulau di Pasifik Selatan yang khawatir soal pasokan energi.
“Prinsip pertama seharusnya: jangan menerapkan pembatasan ekspor yang hanya membuat ketidakseimbangan semakin buruk,” ujarnya.
Ia menambahkan, perang akan memberikan dampak lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi jika konflik berlangsung dalam waktu lama.
Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi konflik setelah militer Amerika Serikat memulai blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran pada Senin. Iran pun mengancam akan membalas dengan menyerang pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.
Harga minyak kembali melonjak ke atas US$ 100 per barel. Hingga kini belum terlihat tanda-tanda Selat Hormuz akan segera dibuka kembali.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia serta gas alam cair (LNG).
Birol mengatakan dalam sebuah acara Atlantic Council bahwa konflik ini telah memicu gangguan energi global terburuk yang pernah terjadi. Ia menyebut lebih dari 80 fasilitas minyak dan gas di kawasan Timur Tengah telah mengalami kerusakan sejauh ini.
Menurutnya, situasi sudah buruk sejak Maret, ketika beberapa kargo masih bisa dimuat, namun kondisi bisa memburuk pada bulan ini.
“Skala masalahnya sangat besar, dan negara-negara akan menderita karenanya, sebagian lebih berat dari yang lain. Tapi saya bisa katakan... tidak ada negara yang kebal,” ujar Birol.
Ketiga lembaga tersebut berkomitmen akan terus mengoordinasikan respons terhadap konflik di Timur Tengah, yang telah mendorong harga minyak naik sekitar 50% sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Guncangan ini juga mendorong kenaikan harga gas dan pupuk, sehingga memicu kekhawatiran mengenai ketahanan pangan serta potensi kehilangan lapangan kerja.
“Kami menyadari ketika bertindak bersama, dampaknya lebih besar. Kami lebih efisien dan membantu anggota kami secara maksimal,” kata Georgieva.
Dalam pernyataan bersama, ketiga lembaga menilai situasi masih sangat tidak pasti. Bahkan jika arus pelayaran normal kembali melalui Selat Hormuz, pemulihan pasokan global komoditas strategis diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali ke level sebelum konflik.
IMF dan Bank Dunia juga menyebut mereka akan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan menaikkan perkiraan inflasi akibat perang.
IMF dijadwalkan merilis proyeksi terbaru pada Selasa, sementara IEA akan menerbitkan laporan bulanan pasar minyak terbaru dalam waktu dekat.
Perang ini juga menjadi bayang-bayang besar dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia yang berlangsung di Washington pekan ini.
Birol menyebut IEA telah melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya dan siap mengambil langkah tambahan jika diperlukan.
“400 juta barel itu baru 20% dari cadangan kami. Kami masih memiliki 80% di tangan,” kata Birol.
“Kami menilai situasi, dan jika sudah waktunya, kami siap bertindak dan bertindak segera.”
Inilah Negara-negara NATO yang Menolak Ajakan Trump Blokade Selat Hormuz
Sejumlah sekutu NATO menolak terlibat dalam rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melakukan blokade Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Penolakan ini berpotensi memicu ketegangan baru dalam aliansi NATO, mengingat Trump sebelumnya mendorong negara-negara sekutu agar ikut terlibat dalam langkah militer tersebut.
Melansir Reuters, Trump menyampaikan bahwa militer AS akan bekerja sama dengan negara lain untuk memblokir lalu lintas maritim di Selat Hormuz, setelah perundingan akhir pekan gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik enam pekan dengan Iran.
Namun, militer AS kemudian menjelaskan bahwa blokade yang mulai berlaku pada Senin pukul 14.00 GMT itu hanya ditujukan bagi kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.
Sejak perang pecah pada 28 Februari, Iran disebut telah menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal asing, kecuali kapal-kapal miliknya sendiri. Iran juga disebut ingin mempermanenkan kendalinya atas selat tersebut, termasuk kemungkinan menarik pungutan bagi kapal yang melintas.
Inggris dan Prancis menolak ikut blokade
Dua negara NATO yang paling tegas menolak ikut blokade adalah Inggris dan Prancis.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan negaranya tidak akan mendukung blokade tersebut meski mendapat tekanan besar.
"Kami tidak mendukung blokade," kata Starmer kepada BBC.
Ia menegaskan Inggris tidak ingin terseret langsung dalam konflik militer.
"Kami tidak akan terseret ke dalam perang," ujarnya.
Sikap serupa juga disampaikan Prancis. Presiden Emmanuel Macron mengatakan Prancis akan menginisiasi konferensi bersama Inggris dan negara lain untuk membentuk misi multinasional yang bertujuan memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Macron menekankan misi tersebut bersifat defensif dan baru akan dikerahkan setelah situasi memungkinkan.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sebelumnya menyampaikan bahwa NATO dapat memainkan peran di Selat Hormuz jika seluruh 32 anggota sepakat membentuk misi khusus.
Namun beberapa negara Eropa menyatakan mereka hanya bersedia mengirim bantuan setelah ada penghentian konflik yang berkelanjutan dan adanya jaminan dari Iran bahwa kapal-kapal mereka tidak akan diserang.
Rencana misi alternatif ini disebut akan berfokus pada pengawalan kapal tanker serta penyusunan aturan jalur pelayaran aman di Selat Hormuz.
Sekitar 30 negara bakal terlibat misi pengamanan
Menurut sumber diplomatik Prancis, pertemuan untuk menyusun rencana misi tersebut dapat digelar paling cepat pada Kamis di Paris atau London.
Pertemuan ini disebut akan melibatkan sekitar 30 negara, termasuk negara-negara Teluk, India, Yunani, Spanyol, Italia, Belanda, dan Swedia.
Kapal-kapal perang yang dikerahkan nantinya bertujuan memberi rasa aman tanpa menjadi pihak yang berperang. Iran dan AS akan diinformasikan, namun tidak terlibat langsung.
Ada keraguan apakah Trump akan mendukung misi NATO
Meski demikian, seorang sumber diplomatik Eropa mempertanyakan apakah Trump akan menyambut misi multinasional tersebut, mengingat ia telah menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.
"Karena Trump sekarang menggunakan selat itu sebagai alat tekanannya sendiri, apakah dia masih menginginkan misi di sana?" kata sumber tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menilai Selat Hormuz seharusnya dibuka kembali lewat jalur diplomasi. Ia juga mengatakan pembentukan pasukan internasional untuk mengawasi jalur itu akan sangat rumit.
Sekutu NATO Menolak Bergabung dengan Trump untuk Memblokade Selat Hormuz
Sekutu NATO mengatakan bahwa mereka tidak akan terlibat dalam rencana Presiden AS Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz, dan malah mengusulkan untuk campur tangan – hanya setelah pertempuran berakhir. Langkah ini kemungkinan akan membuat Trump marah dan meningkatkan ketegangan dalam aliansi.
Trump mengatakan militer AS akan bekerja sama dengan negara lain untuk memblokir semua lalu lintas maritim di jalur perairan tersebut, setelah pembicaraan akhir pekan gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik enam minggu dengan Iran.
Militer AS kemudian menjelaskan bahwa blokade, yang seharusnya dimulai pada pukul 14.00 GMT pada hari Senin, hanya akan berlaku untuk kapal yang menuju atau dari pelabuhan Iran.
Sejak dimulainya perang pada 28 Februari, Iran sebagian besar telah memblokir selat tersebut untuk semua kapal selain kapal-kapalnya sendiri. Iran telah berupaya untuk menjadikan kendalinya atas selat tersebut permanen dan mungkin memungut pungutan dari kapal-kapal yang menggunakannya.
"Blokade akan segera dimulai. Negara-negara lain akan terlibat dalam blokade ini," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada hari Minggu.
Namun, sekutu NATO termasuk Inggris dan Prancis mengatakan mereka tidak akan terlibat dalam konflik dengan ikut serta dalam blokade tersebut, dan malah mengatakan mereka sedang mengerjakan inisiatif untuk membuka jalur air tersebut, tempat seperlima pasokan minyak global biasanya melewatinya.
Penolakan mereka untuk berpartisipasi merupakan poin gesekan lain dengan Trump, yang telah mengancam akan menarik diri dari aliansi militer dan sedang mempertimbangkan untuk menarik beberapa pasukan AS dari Eropa setelah beberapa negara menolak penggunaan wilayah udara mereka oleh pesawat militer AS untuk serangan terhadap Iran.
Tekanan yang Cukup Besar
"Kami tidak mendukung blokade," kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer kepada BBC.
"Keputusan saya sangat jelas — apa pun tekanannya, dan ada beberapa tekanan yang cukup besar, kami tidak akan terseret ke dalam perang," katanya.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan kepada pemerintah Eropa bahwa Trump menginginkan komitmen konkret dalam waktu dekat untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, kata para diplomat kepada Reuters pekan lalu.
NATO dapat memainkan peran di selat tersebut jika 32 anggotanya dapat menyepakati pembentukan misi, kata Rutte pada 9 April.
Beberapa negara Eropa telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantu di selat tersebut, tetapi hanya setelah ada penyelesaian yang berkelanjutan atas permusuhan dan kesepakatan dengan Iran bahwa kapal-kapal mereka tidak akan diserang.
Prancis akan menyelenggarakan konferensi dengan Inggris dan negara-negara lain untuk membentuk misi multinasional guna memulihkan navigasi di selat tersebut, kata Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Senin.
"Misi yang sepenuhnya defensif ini, yang berbeda dari pihak-pihak yang bertikai, akan dikerahkan segera setelah situasi memungkinkan," kata Macron.
Pertemuan untuk menyusun rencana misi tersebut dapat terjadi paling cepat pada hari Kamis di Paris atau London, kata seorang sumber diplomatik Prancis.
Inisiatif yang melibatkan sekitar 30 negara, termasuk negara-negara Teluk, India, Yunani, Spanyol, Italia, Belanda, dan Swedia, bertujuan untuk menetapkan aturan untuk jalur pelayaran yang aman dan koordinasi kapal militer untuk mengawal kapal tanker, kata sumber tersebut.
Kapal-kapal militer tersebut akan memberikan jaminan tanpa bersikap agresif, kata sumber tersebut, menambahkan bahwa Iran dan AS akan diberitahu tentang misi tersebut tetapi tidak akan berperan langsung.
Inggris sedang berupaya untuk mengurangi premi asuransi bagi kapal-kapal yang melewati selat tersebut setelah pertempuran berhenti, menurut seorang pejabat senior Eropa.
Selat Hormuz harus dibuka kembali melalui diplomasi, kata Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan pada hari Senin, menambahkan bahwa menciptakan pasukan internasional untuk mengawasinya akan rumit.
Ia menyerukan NATO untuk mengatur ulang hubungannya dengan Trump pada pertemuan puncak di Ankara pada bulan Juli.
Kronologi Perseteruan Trump Vs Paus Leo: Dari Perang Iran hingga Foto AI Mirip Yesus
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah gambar buatan kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus pada Minggu (13/4). Unggahan tersebut memicu kecaman luas, bahkan dari sebagian kalangan konservatif religius yang biasanya menjadi pendukungnya.
Unggahan di platform Truth Social itu kemudian dihapus pada Senin (14/4).
Berdasarkan laporan Reuters, kontroversi ini muncul di tengah memanasnya konflik Trump dengan Paus Leo, yang mengkritik perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sebagai tindakan tidak manusiawi.
Tak lama sebelum mengunggah gambar AI tersebut, Trump juga menyerang Paus Leo lewat unggahan panjang dan menyebut Paus “lemah dalam urusan kriminal dan buruk dalam kebijakan luar negeri.”
Paus Leo, yang merupakan Paus pertama kelahiran Amerika Serikat, merespons dengan menegaskan bahwa ia “tidak takut” terhadap pemerintahan Trump dan akan tetap bersuara.
Dalam pidato di Aljir pada Senin, Paus Leo mengecam kekuatan dunia “neo-kolonial” yang melanggar hukum internasional, meski tidak secara spesifik menyebut Amerika Serikat.
Trump: Itu bukan Yesus, saya digambarkan sebagai dokter
Dalam gambar yang menyerupai lukisan itu, Trump tampak mengenakan jubah putih dan menyentuh kepala seorang pria yang tampak terbaring, seolah sedang melakukan penyembuhan. Trump juga terlihat memegang bola bercahaya, dengan latar belakang Patung Liberty, kembang api, jet tempur, dan burung elang.
Trump membantah pada Senin bahwa gambar tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai figur mirip Yesus. Ia menyebut tuduhan itu sebagai berita bohong.
"Itu seharusnya menggambarkan saya sebagai dokter yang membuat orang lebih baik, dan saya memang membuat orang lebih baik," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, tak lama setelah unggahan tersebut dihapus.
Unggahan itu dinilai berpotensi menciptakan keretakan antara Trump dengan kelompok kanan religius, yang dukungannya sangat penting bagi kemenangan Trump dalam pemilu 2024.
Dikecam pendukung sendiri: “Penistaan yang menjijikkan”
Brilyn Hollyhand, mantan wakil ketua Dewan Penasihat Pemuda Komite Nasional Partai Republik (RNC), menilai unggahan tersebut sebagai bentuk penistaan.
"Ini penistaan yang menjijikkan. Iman bukan alat," tulis Hollyhand di X.
Sementara Riley Gaines, aktivis konservatif dan mantan perenang kampus yang sering tampil bersama Trump dalam kampanye, juga mempertanyakan unggahan itu.
"Apakah dia benar-benar percaya ini?" tulisnya. Ia menambahkan bahwa sedikit kerendahan hati akan bermanfaat dan “Tuhan tidak bisa dipermainkan.”
Bisa jadi titik balik dukungan Katolik?
Pemilih Kristen, termasuk Katolik, merupakan basis penting dalam dukungan politik Trump. Meski Trump diketahui tidak rutin menghadiri gereja, ia memenangkan mayoritas besar suara pemilih Kristen pada Pemilu 2024.
Setelah Trump selamat dari percobaan pembunuhan pada Juli 2024, sebagian pendukung evangelis bahkan menyebut peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa Trump “diberkati Tuhan.”
David Gibson, Direktur Center on Religion and Culture di Fordham University, mengatakan sulit memahami motif Trump menyerang Paus Leo dan mengunggah gambar kontroversial itu. Namun, ia juga menilai masih belum jelas apakah pemilih Katolik akan benar-benar meninggalkan Trump.
"Apakah ini akan melewati garis merah bagi mereka? Apakah mereka akhirnya akan menghukum Trump dan Partai Republik di kotak suara?" kata Gibson.
Ia menyebut situasi ini sebagai “momen penentu”, yang dapat membuat pemilih Katolik di AS memilih antara Paus atau Presiden.
Uskup Robert Barron, yang tergabung dalam komisi kebebasan beragama bentukan Trump, menyatakan di X bahwa Trump seharusnya meminta maaf kepada Paus Leo atas pernyataan yang ia sebut “tidak pantas.” Namun, Barron juga memuji Trump karena upayanya mendekati pemilih Katolik.
Trump menegaskan dirinya tidak merasa perlu meminta maaf.
"Saya tidak punya apa pun untuk dimintai maaf kepada Paus," kata Trump.
Paus Leo makin vokal soal perang Iran
Dalam beberapa pekan terakhir, Paus Leo menjadi salah satu pengkritik paling keras terhadap perang Iran. Ia bahkan melakukan seruan langsung yang jarang dilakukan, meminta Trump mencari “jalan keluar” untuk mengakhiri konflik.
Leo juga menegaskan bahwa Yesus tidak bisa digunakan untuk membenarkan perang dan bahwa Tuhan menolak doa dari pihak yang memulai konflik.
Komentar tersebut dipandang sebagai sindiran terhadap pejabat Trump seperti Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yang sebelumnya mengutip kitab suci untuk membenarkan penggunaan “kekerasan besar” terhadap musuh.
Trump sebelumnya juga pernah berseteru dengan pendahulu Paus Leo, Paus Fransiskus, yang mengecam kebijakan deportasi Trump sebagai tindakan yang tidak mencerminkan nilai Kristen.
Namun, Gibson menilai serangan Trump terhadap Paus Leo jauh melampaui konflik yang pernah terjadi dengan Paus Fransiskus.
"Presiden Amerika dan umat Katolik Amerika pernah berbeda pendapat dengan Paus di masa lalu. Tapi ini sudah masuk kategori tidak hormat. Tidak hormat itu berbeda jauh dari sekadar perbedaan pendapat," kata Gibson.
Saat ini, setidaknya delapan anggota kabinet Trump beragama Katolik, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Kim Jong Un Pamer Rudal Jelajah Akurat Ultra-Presisi dan Perkuat Kapal Perusak
Korea Utara melakukan uji tembak rudal jelajah strategis dan rudal anti-kapal perang lainnya pada Minggu (12/4/2026). Ini menjadi bagian dari uji efisiensi operasional kapal perusak Choe Hyon, kata media pemerintah KCNA pada Selasa (14/4/2026).
Pemimpin Kim Jong Un mengamati uji coba tersebut bersama para pejabat pertahanan senior dan komandan angkatan laut, kata laporan itu.
Lebih lanjut, KCNA menyebut, dua rudal jelajah strategis dan tiga rudal anti-kapal perang ditembakkan untuk memeriksa sistem komando senjata terpadu kapal perang, melatih awak kapal dalam prosedur peluncuran rudal, dan memverifikasi akurasi dan kinerja anti-gangguan dari sistem navigasi yang telah ditingkatkan.
Rudal jelajah tersebut terbang selama sekitar 7.869 hingga 7.920 detik dan rudal anti-kapal perang selama sekitar 1.960 hingga 1.973 detik di atas perairan lepas pantai barat Korea Utara, menghantam targetnya dengan apa yang digambarkan laporan tersebut sebagai akurasi ultra-presisi.
KCNA menambahkan, "Kim diberi pengarahan pada hari yang sama tentang rencana sistem senjata untuk dua kapal perusak tambahan yang sedang dibangun."
Kim mengatakan, penguatan apa yang disebutnya sebagai pencegah perang nuklir negara itu tetap menjadi prioritas utama, dan menyerukan peningkatan kemampuan serangan strategis dan taktis serta kesiapan respons cepat, menurut laporan tersebut.
Pyongyang pertama kali melakukan uji tembak senjata pada kapal perang kelas Choe Hyon seberat 5.000 ton pada April 2025, dan Kim secara pribadi mengawasi uji coba rudal dari kapal tersebut pada Maret lalu.
Blokade Selat Hormuz: China Beri Peringatan Keras ke AS
Rencana blokade Amerika Serikat (AS) terhadap Selat Hormuz mendapat kritik dari pemerintah China. Negeri asal panda ini mengatakan blokade Selat Hormuz akan bertentangan dengan kepentingan komunitas internasional dan mendesak ketenangan dan pengekangan dari semua pihak.
Sebelum perang, sebagian besar ekspor minyak Iran dikirim ke China, importir minyak mentah terbesar di dunia.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan kepada Khaldoon Khalifa Al Mubarak, utusan khusus Presiden UEA untuk China, Senin (13/4/2026), blokade Selat Hormuz tidak melayani kepentingan bersama komunitas internasional.
Wang mengatakan, China memahami kekhawatiran keamanan yang sah dari negara-negara Teluk Arab. Negara ini menegaskan, cara mendasar untuk menyelesaikan krisis adalah gencatan senjata yang komprehensif dan langgeng, yang dicapai melalui cara politik dan diplomatik.
"China berharap pihak-pihak terkait akan mematuhi pengaturan gencatan senjata sementara, tetap berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan melalui cara politik dan diplomatik, dan menghindari dimulainya kembali permusuhan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun, pada konferensi pers regular, Senin (13/4/2026).
Guo menyebut, China siap memainkan peran positif dan konstruktif dalam menyelesaikan krisis. Ia juga menyebut pembicaraan akhir pekan lalu di Pakistan merupakan langkah ke arah yang kondusif untuk meredakan ketegangan.
Militer AS akan memberlakukan blokade di Teluk Oman dan Laut Arab di sebelah timur Selat Hormuz. Blokade ini akan berlaku untuk semua lalu lintas kapal tanpa memandang bendera.
Rencana blokade tersebut terungkap dalam pesan kepada para pelaut dari Komando Pusat AS, yang dilihat Reuters, Senin (13/4/2026). Blokade akan dimulai pada pukul 14.00 GMT atau pukul 21.00 WIB.
"Setiap kapal yang memasuki atau meninggalkan area yang diblokade tanpa izin akan dikenakan tindakan pencegatan, pengalihan, dan penangkapan," kata catatan tersebut.
Blokade tersebut mencakup seluruh garis pantai Iran. Termasuk juga, tetapi tidak terbatas pada, pelabuhan dan terminal minyak. Pesan kepada pelaut tersebut juga menyebut pengiriman bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, persediaan medis, dan barang-barang penting lainnya, akan diizinkan, dengan syarat pemeriksaan.
Komando Pusat AS menegaskan, blokade tersebut tidak akan menghalangi jalur transit netral melalui Selat Hormuz ke atau dari tujuan non-Iran.
Teheran mengancam akan membalas blokade tersebut terhadap pelabuhan-pelabuhan negara-negara tetangga di Teluk.
Paus Leo Balas Trump: Saya Tidak Takut pada Pemerintahan Trump!
Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Paus Leo XIV memanas. Terlebih setelah Trump mengkritik Paus Leo dengan "sangat buruk" dalam serangan langsung yang jarang terjadi terhadap paus.
Terhadap kritik tersebut, Paus Leo menjawab bahwa dia tidak takut pada pemerintahan Gedung Putih dan akan terus mengecam kengerian perang.
Sebelumnya, komentar Trump muncul setelah Paus berbicara, dengan semakin lantang, menentang perang AS-Israel di Iran dan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump.
"Paus Leo LEMAH dalam hal kejahatan, dan buruk dalam Kebijakan Luar Negeri," tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Minggu (12/4/2026) malam.
Trump kemudian mengunggah gambar yang dihasilkan AI yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus, dengan bendera AS dan Patung Liberty di latar belakang.
'SESEORANG HARUS BERDIRI,' kata Paus Leo.
Paus Leo yang merupakan Paus pertama yang berasal dari AS, menanggapi pada hari ini (13/4/2026) dengan mengatakan bahwa ia akan terus menyuarakan penentangannya terhadap konflik. Paus juga menambahkan bahwa pesan Kristen, yang berakar pada keutamaan perdamaian, sedang "disalahgunakan".
Sangat tidak biasa bagi seorang Paus, yang memimpin umat Katolik di seluruh dunia, untuk menjawab pemimpin asing secara terbuka.
“Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mendorong dialog dan hubungan multilateral antar negara untuk mencari solusi yang adil bagi masalah-masalah,” kata Leo kepada Reuters di dalam penerbangan kepausan menuju Aljir, tempat ia memulai tur 10 hari ke empat negara Afrika.
“Terlalu banyak orang menderita di dunia saat ini,” katanya. “Terlalu banyak orang tak bersalah yang dibunuh. Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan mengatakan ada cara yang lebih baik.”
Berbicara kepada wartawan lain, Paus berkata: “Saya tidak takut pada pemerintahan Trump, atau bersuara lantang.”
Umat Katolik membela Paus
Umat Katolik di media sosial mengecam Trump karena menyerang pemimpin Gereja Katolik yang beranggotakan 1,4 miliar orang, yang mereka yakini sebagai penerus Santo Petrus, salah satu dari 12 rasul Yesus.
"Tidak ada keraguan lagi tentang situasi saat ini," kata Massimo Faggioli, seorang ahli kepausan, kepada Reuters.
Ia membandingkan komentar tersebut dengan upaya para pemimpin Jerman dan Italia selama Perang Dunia Kedua untuk menarik mendiang Paus Pius XII agar mendukung tujuan mereka.
"Bahkan Hitler atau Mussolini pun tidak menyerang Paus secara langsung dan terbuka seperti itu," kata Faggioli.
Uskup Agung Paul S. Coakley, presiden Konferensi Uskup Katolik AS, mengatakan ia merasa kecewa dengan komentar Trump.
“Paus Leo bukanlah saingannya; Paus juga bukan seorang politikus. Ia adalah Wakil Kristus yang berbicara dari kebenaran Injil dan untuk kepedulian terhadap jiwa-jiwa,” katanya dalam sebuah pernyataan.
TRUMP MENGATAKAN LEO HARUS 'MEMPERBAIKI DIRINYA'
Paus Leo, yang berasal dari Chicago, dikenal karena memilih kata-katanya dengan hati-hati. Ia telah muncul sebagai kritikus vokal terhadap konflik dengan Iran dalam beberapa minggu terakhir dan mengecam "kegilaan perang" dalam seruan perdamaian pada hari Sabtu.
Tahun lalu, ia mempertanyakan apakah kebijakan imigrasi garis keras pemerintahan Trump sejalan dengan ajaran pro-kehidupan Gereja, dan menyerukan "refleksi mendalam" tentang cara para migran diperlakukan di Amerika Serikat.
“Seseorang yang mengatakan, 'Saya menentang aborsi tetapi saya setuju dengan perlakuan tidak manusiawi terhadap imigran di Amerika Serikat', saya tidak tahu apakah itu “Pro-kehidupan,” kata Paus pada bulan September.
Trump menulis dalam unggahannya pada hari Minggu bahwa “Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus” dan “fokus untuk menjadi Paus yang Hebat, bukan seorang Politisi”.
Serangan Trump terhadap Leo juga menuduhnya “lemah dalam hal senjata nuklir”, beberapa hari setelah Paus mengatakan ancaman presiden AS untuk menghancurkan peradaban Iran “benar-benar tidak dapat diterima”.
Dalam pidato pada Minggu Palma bulan lalu di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, Paus mengatakan Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan “tangan mereka penuh dengan darah,” menyebut konflik di Iran “mengerikan”.
Leo juga telah meminta Trump untuk menemukan “jalan keluar” untuk mengakhiri konflik dan “mengurangi jumlah kekerasan”.
Dalam unggahannya, Trump menyarankan bahwa Paus Leo hanya terpilih untuk memimpin Gereja Katolik tahun lalu "karena dia orang Amerika, dan mereka pikir itu akan menjadi cara terbaik untuk berurusan dengan Presiden Donald J. Trump".
Sementara itu, Paus Leo mengatakan pada hari Senin bahwa dia bukan seorang politisi dan tidak ingin terlibat dalam perdebatan dengan Trump.
"Pesan Gereja, pesan saya, pesan Injil: Berbahagialah para Pembawa Damai. Saya tidak memandang peran saya sebagai seorang politikus," katanya.
Trump juga memiliki hubungan yang kurang baik dengan pendahulu Paus Leo, yakni Paus Fransiskus, yang mengkritiknya.
Usulan kebijakan imigrasi Trump ketika ia pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden dan menyatakan bahwa Trump "bukan seorang Kristen".
Trump menyebut Paus Fransiskus "memalukan" pada awal tahun 2016.
Menlu Fidan: Turki Sasaran Perang Israel Selanjutnya
Ketegangan antara Ankara dan Tel Aviv mencapai titik didih baru. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan memperingatkan pada Senin bahwa Israel mungkin memposisikan Ankara sebagai musuh berikutnya setelah Iran.
Dia mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak dapat mempertahankan dirinya secara politik tanpa musuh baru dan mencatat bahwa peran Turki di kawasan telah menjadikannya target tekanan Israel.
Fidan menyampaikan pernyataan tersebut kepada Anadolu Agency, menanggapi penargetan Netanyahu baru-baru ini terhadap Presiden Presiden Recep Tayyip Erdogan.
“Netanyahu memiliki sikap yang rumit terhadap Erdogan dan tidak dapat mencernanya. Upaya penyeimbangan yang dilakukan Turki membuat kawasan ini berada pada titik di mana Israel tidak dapat menjatuhkan Turki. Situasi ini mendorong mereka ke dalam ketidakstabilan,” kata Fidan.
Dia mengatakan kebijakan regional Israel sangat bertentangan dengan kebijakan Turki di berbagai bidang.
“Jika dilihat dari perspektif Suriah, Gaza, dan Lebanon, kebijakan ekstremis yang disebarkan Israel sangat bertentangan dengan Türkiye. Itu sebabnya mereka menyasar Turki. Kepemimpinan Erdogan dalam tatanan dunia dan lingkup pengaruh Turki menghalangi ilusi yang coba dibangun Israel,” katanya.
Fidan kemudian mengeluarkan peringatan paling tajamnya dengan menyatakan, "Setelah Iran, Israel tidak bisa hidup tanpa musuh. Kami melihat bahwa Netanyahu mungkin berusaha menetapkan Turki sebagai musuh baru."
Sementara, Kementerian Pertahanan Turki melansir foto kunjungan Presiden Erdogan ke fasilitas militer pada Senin. Foto itu dilansir di tengah memanasnya saling serang komentar pihak Turki dan Israel.
Kementerian tersebut melampirkan gambar tersebut ke dalam cuitan yang berbunyi, "Di sini, setiap orang punya suara sampai kami bersuara... dan sejarah adalah saksi terbaik."
Gambar tersebut menunjukkan Erdogan memimpin sekelompok pejabat sipil dan militer, sementara seorang tentara memberi hormat militer kepadanya. Adegan protokol tersebut mencerminkan simbolisme kepemimpinan dan disiplin dalam institusi militer Turki.
Publikasi foto tersebut bertepatan dengan meningkatnya ketegangan antara kedua negara, menyusul serangan verbal yang dilancarkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan beberapa menterinya terhadap Erdogan. Serangan itu sebagai tanggapan atas pengumuman Ankara untuk menyiapkan dakwaan terhadap 35 warga Israel, termasuk Netanyahu, sehubungan dengan penargetan "Armada Sumud Global" yang hendak mematahkan pengepungan di Jalur Gaza.
Sementara terkait ketegangan belakangan, Jerusalem Post, media sayap kanan Israel, melansir kabar bernada memanas-manasi soal kesiapan Erdogan menyerang Israel. Dalam berita tersebut Erdogan disebut mengancam akan menyerang Israel.
“Seandainya Pakistan tidak menjadi penengah dalam perang antara AS dan Iran, kami akan menunjukkan Israel tempat mereka,” kata Erdogan diklaim Jerusalem Post, “Sama seperti kita memasuki Libya dan Karabakh, kita juga bisa memasuki Israel,” kata Erdogan.
Akhir pekan lalu, Netanyahu mengecam Turki, dengan mengatakan Israel akan terus memerangi rezim Iran dan proksinya. “Tidak seperti Erdogan yang mengakomodasi mereka dan membantai warga Kurdi sendiri.” Menteri Pertahanan Israel Israel Katz juga menuduh Turki melakukan antisemitisme dan pengadilan palsu terhadap kepemimpinan politik dan militer Israel.
Menanggapi pernyataan Netanyahu yang menentang Erdogan, Kementerian Luar Negeri Turki menggambarkan PM Israel sebagai “Hitler di zaman ini” dan bahwa tujuannya adalah untuk “menyabotase” negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.
"Surat perintah penangkapan telah dikeluarkan terhadapnya oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Di bawah kepemimpinan Netanyahu, Israel diadili di Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Omer Celik, juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berorientasi Islam, mengatakan komentar Israel bertujuan untuk menyabotase perundingan damai di Pakistan, memicu kerusuhan di kalangan minoritas Kurdi dan mengadu Turki melawan Iran. Numan Kurtulmus, ketua parlemen Turki, menyebut Netanyahu sebagai “pemimpin teroris dalam jaringan pembantaian dan teror abad ke-21.”