News Komoditi & Global ( Senin, 11 Mei 2026 )

News  Komoditi & Global

                                     ( Senin,   11  Mei  2026  )

Harga Emas Global  Jatuh  di Tengah Penolakan Trump terhadap Proposal Perdamaian Iran

 

 

 

Harga Emas (XAU/USD) turun ke sekitar $4.690 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Logam mulia ini menarik beberapa penjual setelah Presiden AS, Donald Trump, menolak tawaran damai terbaru Iran untuk mengakhiri konflik selama 10 minggu yang menghambat Selat Hormuz, memicu kekhawatiran inflasi.

Trump dan Iran saling menolak proposal damai masing-masing untuk mengakhiri perang karena kedua pihak kesulitan mempertahankan gencatan senjata yang rapuh, menurut Bloomberg. Presiden AS menyebut respons Iran terhadap proposalnya untuk mengakhiri konflik sebagai "sama sekali tidak dapat diterima." Sementara itu, para pejabat Iran menegaskan bahwa AS perlu membayar kompensasi atas kerusakan perang, menambahkan bahwa Teheran akan menolak rencana AS yang akan memaksa negara tersebut tunduk pada tuntutan-tuntutan berlebihan Trump.

Konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran mungkin akan menjaga risiko inflasi tetap tinggi, serta ekspektasi suku bunga lebih tinggi, yang membebani bullion yang tidak berimbal hasil. Perlu dicatat bahwa Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi.

Nonfarm Payrolls (NFP) AS melampaui ekspektasi, meskipun pasar tenaga kerja AS yang lambat mengirimkan beberapa sinyal perlambatan potensial tahun ini. Ekonomi AS menambah 115 ribu lapangan pekerjaan di bulan April, dibandingkan dengan kenaikan 185 ribu (direvisi dari 178 ribu) di bulan Maret, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja pada hari Jumat. Angka ini melampaui estimasi 62 ribu dengan selisih yang cukup besar. Sementara itu, Tingkat Pengangguran bertahan di 4,3% pada bulan April, sesuai dengan konsensus pasar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Melonjak, AS dan Iran Gagal Capai Kesepakatan Damai


 

Harga minyak melonjak US$ 3 per barel di awal perdagangan sesi Asia karena Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan mengenai proposal perdamaian yang disusun oleh Washington. Di sisi lain, Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga pasokan energi global tetap ketat.

Senin (11/5/2026) pukul 05.15 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 naik US$ 3,21 atau 3,17% menjadi US$ 104,50 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 menguat US$ 3,06 atau 3,21% ke US$ 98,48 per barel.

Kesepakatan damai antara AS dan Iran gagal terjadi setelah Presiden Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk pembicaraan perdamaian pada Minggu (10/5/2026). Hal ini menghancurkan harapan akan segera berakhirnya krisis tersebut.

Konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu ini telah menyebabkan kerusakan luas di Iran dan Lebanon, melumpuhkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga energi global.

Beberapa hari setelah AS mengajukan tawaran dengan harapan dapat membuka kembali negosiasi, Iran pada hari Minggu (10/5/2026) merilis tanggapan yang berfokus pada pengakhiran perang di semua lini, terutama Lebanon, dan pada keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz yang diblokade.

Beberapa jam setelah proposal Iran dirilis, Trump menolaknya dengan sebuah unggahan di media sosial.

"Saya tidak menyukainya – SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA," tulis Trump di Truth Social, tanpa memberikan detail lebih lanjut.

Alhasil, harga minyak naik US$ 3 per barel setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan.

Proposal Iran mencakup tuntutan kompensasi atas kerusakan perang dan penekanan pada kedaulatan Iran atas selat tersebut, kata media pemerintah.

Laporan itu juga menyerukan AS untuk mengakhiri blokade angkatan lautnya, menjamin tidak akan ada serangan lebih lanjut, mencabut sanksi, dan mengakhiri larangan AS terhadap penjualan minyak Iran, kata kantor berita semi-resmi Tasnim.

AS telah mengusulkan penghentian pertempuran sebelum memulai pembicaraan tentang isu-isu yang lebih kontroversial, termasuk program nuklir Iran.

Wall Street Journal mengutip sumber anonim yang mengatakan Iran mengusulkan untuk mengurangi sebagian uranium yang sangat diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga.

Pakistan, yang telah menjadi mediator dalam pembicaraan mengenai perang tersebut, meneruskan tanggapan Iran kepada AS, kata seorang pejabat Pakistan.

Meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama sebulan dalam konflik tersebut dan setelah sekitar 48 jam relatif tenang, drone musuh terdeteksi di beberapa negara Teluk pada hari Minggu, yang menggarisbawahi ancaman yang masih dihadapi kawasan tersebut.

Namun, kapal pengangkut Al Kharaitiyat yang dioperasikan oleh QatarEnergy berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dalam perjalanan menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan, menurut data dari perusahaan analisis perkapalan Kpler. Ini adalah kapal Qatar pertama yang membawa gas alam cair yang melintasi selat tersebut sejak AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari.

Sumber-sumber sebelumnya mengatakan bahwa transfer tersebut, yang memberikan sedikit kelegaan bagi Pakistan setelah gelombang pemadaman listrik yang disebabkan oleh penghentian impor gas, telah disetujui oleh Iran untuk membangun kepercayaan dengan Pakistan dan dengan Qatar, mediator lainnya.

Selain itu, sebuah kapal pengangkut curah berbendera Panama yang menuju Brasil yang sebelumnya mencoba melintasi selat tersebut pada 4 Mei berhasil melewatinya, menggunakan rute yang ditentukan oleh angkatan bersenjata Iran, lapor Tasnim pada hari Minggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump Murka: Tolak Tanggapan Iran Terhadap Proposal Perdamaian AS


 

Kesepakatan damai antara AS dan Iran gagal terjadi setelah Presiden Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk pembicaraan perdamaian pada Minggu (10/5/2026). Hal ini menghancurkan harapan akan segera berakhirnya krisis tersebut.

Konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu ini telah menyebabkan kerusakan luas di Iran dan Lebanon, melumpuhkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga energi global.

Beberapa hari setelah AS mengajukan tawaran dengan harapan dapat membuka kembali negosiasi, Iran pada hari Minggu (10/5/2026) merilis tanggapan yang berfokus pada pengakhiran perang di semua lini, terutama Lebanon, dan pada keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz yang diblokade.

Beberapa jam setelah proposal Iran dirilis, Trump menolaknya dengan sebuah unggahan di media sosial.

"Saya tidak menyukainya – SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA," tulis Trump di Truth Social, tanpa memberikan detail lebih lanjut.

Alhasil, harga minyak naik US$ 3 per barel setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan.

Proposal Iran mencakup tuntutan kompensasi atas kerusakan perang dan penekanan pada kedaulatan Iran atas selat tersebut, kata media pemerintah.

Laporan itu juga menyerukan AS untuk mengakhiri blokade angkatan lautnya, menjamin tidak akan ada serangan lebih lanjut, mencabut sanksi, dan mengakhiri larangan AS terhadap penjualan minyak Iran, kata kantor berita semi-resmi Tasnim.

AS telah mengusulkan penghentian pertempuran sebelum memulai pembicaraan tentang isu-isu yang lebih kontroversial, termasuk program nuklir Iran.

Wall Street Journal mengutip sumber anonim yang mengatakan Iran mengusulkan untuk mengurangi sebagian uranium yang sangat diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga.

Pakistan, yang telah menjadi mediator dalam pembicaraan mengenai perang tersebut, meneruskan tanggapan Iran kepada AS, kata seorang pejabat Pakistan.

Meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama sebulan dalam konflik tersebut dan setelah sekitar 48 jam relatif tenang, drone musuh terdeteksi di beberapa negara Teluk pada hari Minggu, yang menggarisbawahi ancaman yang masih dihadapi kawasan tersebut.

Namun, kapal pengangkut Al Kharaitiyat yang dioperasikan oleh QatarEnergy berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dalam perjalanan menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan, menurut data dari perusahaan analisis perkapalan Kpler. Ini adalah kapal Qatar pertama yang membawa gas alam cair yang melintasi selat tersebut sejak AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari.

Sumber-sumber sebelumnya mengatakan bahwa transfer tersebut, yang memberikan sedikit kelegaan bagi Pakistan setelah gelombang pemadaman listrik yang disebabkan oleh penghentian impor gas, telah disetujui oleh Iran untuk membangun kepercayaan dengan Pakistan dan dengan Qatar, mediator lainnya.

Selain itu, sebuah kapal pengangkut curah berbendera Panama yang menuju Brasil yang sebelumnya mencoba melintasi selat tersebut pada 4 Mei berhasil melewatinya, menggunakan rute yang ditentukan oleh angkatan bersenjata Iran, lapor Tasnim pada hari Minggu.

TRUMP DI BAWAH TEKANAN UNTUK MENGAKHIRI PERANG MENJELANG KUNJUNGAN KE CHINA

Dengan kunjungan Trump ke China pada pekan ini, tekanan untuk mengakhiri perang telah meningkat, yang telah memicu krisis energi global dan menimbulkan ancaman yang semakin besar bagi perekonomian dunia.

Teheran sebagian besar telah memblokir pengiriman non-Iran melalui Selat Hormuz yang sempit, yang sebelum perang membawa seperlima pasokan minyak dunia dan telah muncul sebagai salah satu titik tekanan utama dalam perang.

Menanggapi pertanyaan apakah operasi tempur melawan Iran telah berakhir, Trump bilang dalam pernyataan yang disiarkan pada hari Minggu: "Mereka dikalahkan, tetapi itu tidak berarti mereka sudah selesai."

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang belum berakhir karena masih ada "pekerjaan yang harus dilakukan" untuk menghilangkan uranium yang diperkaya dari Iran, membongkar situs pengayaan, dan mengatasi proksi Iran dan kemampuan rudal balistiknya.

Cara terbaik untuk menghilangkan uranium yang diperkaya adalah melalui diplomasi, kata Netanyahu dalam sebuah wawancara dengan "60 Minutes" CBS News, tanpa mengesampingkan kemungkinan menghilangkannya dengan kekerasan.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa Iran "tidak akan pernah tunduk kepada musuh" dan akan "membela kepentingan nasional dengan kekuatan."

Meskipun ada upaya diplomatik untuk memecah kebuntuan, ancaman terhadap jalur pelayaran dan perekonomian kawasan tetap tinggi.

Beberapa hari terakhir telah terjadi peningkatan pertempuran terbesar di dalam dan sekitar selat sejak gencatan senjata dimulai.

Pada hari Minggu, Uni Emirat Arab mengatakan telah mencegat dua drone yang datang dari Iran, sementara Qatar mengutuk serangan drone yang menghantam kapal kargo yang datang dari Abu Dhabi di perairannya. Kuwait mengatakan pertahanan udaranya telah menangani drone musuh yang memasuki wilayah udaranya.

Bentrokan juga terus terjadi di Lebanon selatan antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran, meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS diumumkan pada 16 April.

Permusuhan antara Israel dan Hizbullah kembali berkobar pada 2 Maret ketika kelompok Lebanon itu melepaskan tembakan setelah Teheran diserang oleh AS-Israel. Pembicaraan terbaru antara Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai di Washington pada 14 Mei.

Survei menunjukkan perang tersebut tidak populer di kalangan pemilih AS yang menghadapi kenaikan tajam harga bensin kurang dari enam bulan sebelum pemilihan kongres.

AS juga hanya mendapat sedikit dukungan internasional, dengan sekutu NATO menolak seruan untuk mengirim kapal guna membuka Selat Hormuz tanpa kesepakatan damai penuh dan misi yang diamanatkan secara internasional.

Di dalam negeri, Trump harus menangkis upaya Demokrat di Kongres untuk memaksa diakhirinya perang melalui undang-undang War Powers Act.

“Situasi ini telah diperburuk oleh tindakan Donald Trump, dan sekarang dia sedang berjuang mencari cara untuk keluar dari situasi ini,” kata Senator AS Jack Reed, anggota senior Partai Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat, kepada acara “Sunday Morning Futures” Fox News.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jubir Militer Iran: AS akan Hadapi Metode Perang Baru Jika Berani Kembali Menyerang

 

 

 

Iran berjanji akan meningkatkan operasi tempur ke medan pertempuran baru jika Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan agresi militer terhadap Iran. Demikian ditegaskan juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia pada Ahad (10/5/2026).

“Jika musuh sekali lagi salah perhitungan dan memulai agresi terhadap Iran, mereka pasti akan menghadapi metode (perang) baru yang tidak terduga,” kata Akraminia seperti dikutip kantor berita Tasnim.

Juru bicara militer itu menjelaskan bahwa metode tersebut mencakup peralatan modern dan lebih canggih, model peperangan baru, dan yang terpenting, medan pertempuran anyar.

“Dengan kata lain, perang akan mencapai tempat-tempat yang tidak dapat diperkirakan atau diperhitungkan musuh dalam rencana mereka,” tambahnya.

Selama masa gencatan senjata dengan AS, Iran disebut bekerja untuk memperkuat kemampuan militernya, memperbarui daftar target, menyesuaikan pelatihan tempur dengan kondisi baru, memperbaiki persenjataan defensif dan ofensif, serta melakukan pengerahan ulang yang diperlukan, ucap juru bicara itu.

Sebelumnya pada hari yang sama, Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan Amerika Serikat mengenai kemungkinan serangan balasan terhadap kapal-kapal dan salah satu pusat militernya di kawasan.

“Setiap agresi terhadap kapal tanker minyak dan kapal dagang Iran akan dibalas dengan serangan kuat terhadap salah satu pusat AS di kawasan dan kapal-kapal musuh,” tulis Angkatan Laut IRGC dalam pernyataan di media sosial X.

Adapun pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang target-target di Iran. Kemudian pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.

Perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil, tanpa adanya laporan dimulainya kembali permusuhan, tetapi AS telah memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Para mediator saat ini berupaya mengatur putaran baru perundingan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran Siap Hadapi Kapal Prancis-Inggris di Selat Hormuz

 

 

 

Pemerintah Iran memperingatkan Prancis dan Inggris agar tak mengerahkan kapal perang mereka ke Selat Hormuz. Iran menekankan siap mengambil respons tegas dan segera jika terdapat kapal perang yang memasuki wilayah perairan selat tersebut.

"Kami mengingatkan mereka bahwa baik di masa perang maupun di masa damai, hanya Republik Islam Iran yang dapat menegakkan keamanan di selat ini dan tidak akan mengizinkan negara mana pun untuk ikut campur dalam masalah tersebut,” ungkap Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi lewat akun X-nya, Ahad (10/5/2026), dikutip laman Al Arabiya.

Prancis telah mengarahkan kapal induk Charles de Gaulle ke selatan Terusan Suez dan Laut Merah. Langkah tersebut sebagai persiapan kemungkinan misi yang bertujuan memulihkan kepercayaan para pemilik kapal komersial yang beroperasi di Selat Hormuz.

Inggris pun telah mengerahkan kapal perang HMS Dragon miliknya ke Timur Tengah. Kapal tersebut turut dipersiapkan untuk kemungkinan misi di Selat Hormuz.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memimpin misi multinasional untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Mereka mengeklaim, misi tersebut sepenuhnya defensif dan akan dilaksanakan hanya ketika Amerika Serikat (AS)-Iran mencapai kesepakatan damai.

Saat memberikan keterangan pers di Nairobi, Kenya, pada Ahad, Macron mengatakan, dia tak pernah memproyeksikan pengerahan Angkatan Laut Prancis ke Selat Hormuz. Dia mengungkapkan, misi yang hendak dilaksanakan Prancis di wilayah perairan tersebut akan tetap dikoordinasikan dengan Iran.

Sementara itu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, perang dengan Iran belum akan berakhir jika negara tersebut masih memiliki uranium yang diperkaya. “Ini belum berakhir, karena masih ada material nuklir—uranium yang diperkaya—yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada situs pengayaan yang harus dibongkar,” kata Netanyahu dalam cuplikan wawancara yang akan ditayangkan Ahad sore di program “60 Minutes” CBS.

Netanyanu pun sempat ditanya bagaimana cara merebut uranium milik Iran. "Anda masuk dan Anda mengambilnya,” ujarnya menjawab pertanyaan tersebut.

Netanyahu mengeklaim bahwa Presiden AS Donald Trump memiliki posisi serupa. “Saya tidak akan berbicara tentang cara militer, tetapi presiden, apa yang dikatakan Presiden Trump kepada saya—‘Saya ingin masuk ke sana'," ucapnya.

Sementara itu Trump tengah menghadapi gelombang tekanan domestik untuk mengakhiri perang dengan Iran. Dia mengeklaim bahwa program nuklir Iran telah terkendali.

Dalam sebuah rekaman wawancara yang ditayangkan pada Ahad, Trump mengatakan bahwa Iran telah "dikalahkan secara militer". Trump pun meyakinkan publik bahwa uranium milik Iran dapat dipindahkan kapanpun AS menghendaki.

"Kita akan mendapatkannya suatu saat nanti, kapan pun kita mau. Kita akan mengawasinya," katanya kepada jurnalis televisi independen Sharyl Attkisson.

"Kami mengawasinya dengan sangat baik. Jika ada yang mendekati tempat itu, kita akan mengetahuinya dan kita akan meledakkannya," tambah Trump.

 

 

 

Serangan Zionis ke Lebanon Kian Mirip Genosida di Gaza

 

 

Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel dalam 24 jam terakhir telah menewaskan 51 orang, termasuk dua pekerja medis. Sementara aksi pembantaian oleh Israel di Lebanon kian mirip dengan tindakan genosida di Gaza.

“Musuh Israel terus melanggar hukum internasional dan norma kemanusiaan, menambah lebih banyak kejahatan terhadap paramedis, karena mereka secara langsung menargetkan dua titik Otoritas Kesehatan di Qalawiya dan Tibnin, distrik Bint Jbeil, dalam dua penggerebekan,” kata kementerian tersebut.

Kementerian tersebut mengatakan 2.846 orang telah terbunuh di seluruh negeri sejak 2 Maret, ketika pasukan Israel memulai operasi militer baru. Sejak itu, PBB mengatakan setidaknya 103 pekerja medis Lebanon telah gugur dan 230 lainnya terluka dalam lebih dari 130 serangan Israel.

“Kami berada di bawah ancaman setiap detik, setiap hari,” Ali Safiuddin, kepala Pertahanan Sipil Lebanon di Tirus di Lebanon selatan, mengatakan kepada Aljazirah. "Kami bertanya-tanya apakah kami akan bertahan hidup atau mati, kami tahu kami sudah menyerahkan hidup kami dengan bekerja di sini. Kami telah kehilangan begitu banyak orang dan rasanya kami bakal pergi juga."

Hukum kemanusiaan internasional menegaskan, personel medis dan petugas pertolongan pertama, seperti Pertahanan Sipil Lebanon, harus dilindungi dalam konflik bersenjata.

Dr Tahir Mohammed, seorang ahli bedah perang, dan pekerja kemanusiaan yang bekerja di Gaza dan Lebanon, mengatakan kepada Aljazirah bahwa dia melihat kesamaan dalam tindakan Israel di kedua tempat tersebut.

"Kami biasa melihat rekan-rekan kami di Gaza datang ke sini sepanjang waktu. Saya pernah melihat rekan-rekan, perawat, mahasiswa kedokteran terbunuh oleh senjata Israel, dan melihat kebijakan yang sama yang menargetkan petugas kesehatan di Lebanon… kebijakan ini konsisten," katanya.

"Jika Israel punya kemauan, mereka pasti akan menduduki seluruh wilayah selatan Lebanon, dan mereka akan melakukannya besok. Mereka tidak peduli dengan kehidupan. Saya sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri," tambah Dr Mohammed.

Serangan Israel telah membuat lebih dari 1,2 juta warga Lebanon mengungsi sejak 2 Maret. Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 16 April, serangan justru meningkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Takut Digempur Rusia, Khawatir Ditinggal Amerika: Ke Mana Eropa Harus Berlindung?

 

 

 

Selama puluhan tahun, Eropa tidur dengan nyenyak. Amerika Serikat selalu ada di balik punggung mereka, siap melindungi jika ancaman datang. Namun kini, rasa aman itu mulai goyah, bukan hanya karena Rusia, tetapi juga karena Amerika sendiri. Itulah kegelisahan besar yang kini tengah melanda para pemimpin Eropa.

Sejak Perang Dunia II berakhir hampir 80 tahun lalu, Amerika Serikat menjadi tulang punggung keamanan Eropa melalui NATO, organisasi pertahanan bersama yang berdiri di atas satu keyakinan sederhana: jika salah satu anggota diserang, semua anggota akan membela.

Selama puluhan tahun, keyakinan itu tidak pernah diragukan. Namun di bawah Presiden Donald Trump, sesuatu mulai berubah. Washington mengambil langkah yang mengejutkan banyak pihak: menarik sekitar 5.000 tentara Amerika dari Jerman. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti urusan teknis militer biasa. Namun bagi para pemimpin Eropa, langkah itu adalah sinyal yang jauh lebih dalam, bahwa 'Paman Sam' mulai mengurangi keterlibatannya di Eropa.

Analis senior Paul Taylor dalam tulisannya di The Guardian menyebut para pemimpin Eropa kini mulai mempertanyakan sesuatu yang dulu tak pernah terlintas di pikiran mereka: bagaimana jika suatu hari Amerika benar-benar tidak lagi menjadi pelindung utama Eropa

Masalahnya, Eropa tidak bisa begitu saja berpaling dari Amerika. Ketergantungan itu sudah sangat dalam.

Dalam hal senjata nuklir, jaringan mata-mata, pengiriman logistik militer, hingga teknologi satelit, Eropa masih sangat mengandalkan Amerika. Membangun semua itu sendiri butuh waktu puluhan tahun dan biaya yang luar biasa besar.

Di saat yang sama, ancaman dari Rusia tidak menunggu. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, negara-negara Eropa yang berbatasan langsung dengan Rusia, seperti Polandia, Estonia, Latvia, dan Lithuania, hidup dalam kecemasan yang nyata. Mereka tahu betul apa artinya punya tetangga yang agresif dan bersenjata lengkap. Hasilnya, Eropa kini terjepit di antara dua ketakutan sekaligus: takut terhadap Rusia di timur, takut kehilangan Amerika di barat.

Kegelisahan itu mendorong perubahan besar yang bahkan beberapa tahun lalu sulit dibayangkan. Jerman, negara yang selama puluhan tahun sengaja membatasi kekuatan militernya sendiri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tragedi Perang Dunia II,  kini justru didorong untuk menjadi kekuatan pertahanan terbesar di Eropa.

Taylor mencatat bahwa Berlin menargetkan pembangunan angkatan darat konvensional terkuat di Eropa pada 2039. Sebuah pembalikan arah yang luar biasa dari negara yang selama hampir satu abad berusaha menjauh dari citra militer.

Negara-negara Eropa lainnya pun mulai menaikkan anggaran pertahanan mereka. Pabrik senjata beroperasi lebih cepat. Wajib militer yang sempat dihapus di beberapa negara mulai dipertimbangkan kembali.

Eropa, kawasan yang selama puluhan tahun bangga dengan pendekatan diplomasi dan perdamaian, kini terpaksa kembali berbicara tentang kekuatan militer.

Jika Jerman adalah kejutan terbesar dalam kebangkitan militer Eropa, maka Polandia adalah yang paling bersemangat. Negara yang pernah dihancurkan habis-habisan dalam Perang Dunia II ini kini justru menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan anggaran militer tertinggi di seluruh NATO.

Warsawa mengalokasikan hampir empat persen dari total ekonominya untuk pertahanan, jauh melampaui standar minimum NATO yang hanya dua persen. Bagi Polandia, ini bukan sekadar angka. Ini adalah pelajaran pahit dari sejarah: negara yang tidak siap berperang adalah negara yang paling mudah dihancurkan.

Tiga negara kecil di tepi Laut Baltik, Estonia, Latvia, dan Lithuania, mungkin adalah negara-negara yang paling memahami arti ancaman Rusia secara langsung. Ketiganya pernah berada di bawah kekuasaan Uni Soviet selama hampir setengah abad.

Ketika Rusia menyerbu Ukraina, reaksi mereka bukan terkejut, melainkan merasa bahwa ketakutan lama mereka akhirnya terbukti benar. Estonia kini mewajibkan seluruh warga laki-lakinya menjalani wajib militer. Latvia membangun bunker perlindungan sipil di kota-kota besar. Lithuania secara terbuka meminta NATO menempatkan lebih banyak pasukan permanen di wilayahnya. Bagi negara-negara Baltik, membangun pertahanan bukan pilihan, itu adalah soal kelangsungan hidup.

Di tengah kegalauan itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron justru melihat peluang. Sudah sejak lama Macron menyuarakan gagasan yang dulu sering dianggap terlalu ambisius: Eropa harus memiliki kekuatan pertahanan mandiri yang tidak bergantung sepenuhnya pada Amerika. Gagasan itu dulu disambut dingin oleh banyak negara Eropa yang merasa NATO sudah cukup.

Namun kini, setelah Washington mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian, suara Macron tiba-tiba terdengar jauh lebih relevan. Prancis sendiri memang satu-satunya negara di Eropa yang memiliki senjata nuklir sendiri, sebuah kemandirian strategis yang kini makin diperhitungkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perang Iran dan Kebijakan Trump Picu Kekhawatiran Sekutu AS

 

Kebijakan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kekhawatiran di kalangan sekutu tradisional Washington.

Mulai dari penarikan sebagian pasukan AS dari Jerman, ancaman pengurangan kekuatan militer di negara-negara Eropa lain, hingga respons yang dinilai meremehkan serangan Iran terhadap mitra penting di Teluk, langkah Trump dinilai memperdalam keretakan hubungan dengan sekutu utama AS.

Di tengah upaya AS dan Iran mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung selama 10 minggu, tindakan dan pernyataan Trump justru menimbulkan kekhawatiran baru di Eropa, Timur Tengah, hingga Indo-Pasifik terkait keandalan AS dalam menghadapi krisis di masa depan.

Sejumlah mitra tradisional AS kini mulai menyesuaikan strategi mereka untuk mengurangi ketergantungan terhadap Washington. Di saat yang sama, rival geopolitik seperti China dan Russia disebut tengah mencermati peluang strategis dari melemahnya hubungan AS dengan sekutunya.

Para analis menilai kebijakan Trump sejak kembali menjabat telah mengguncang tatanan global berbasis aturan dan berpotensi mempercepat erosi aliansi internasional AS, khususnya dengan NATO.

 “Kenekatan Trump terkait Iran memicu sejumlah perubahan besar,” kata Brett Bruen, mantan penasihat pemerintahan Obama yang kini memimpin konsultan strategis Situation Room. “Kredibilitas Amerika Serikat sedang dipertaruhkan.”

Ketegangan antara Trump dan negara-negara Eropa semakin meningkat setelah AS bergabung dengan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Trump menuduh Teheran hampir mengembangkan senjata nuklir, meski tanpa menyertakan bukti.

Sebagai balasan, Iran menutup Selat Hormuz yang memicu guncangan besar di pasar energi global. Negara-negara Eropa menjadi salah satu pihak yang paling terdampak secara ekonomi akibat lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok.

Sebelumnya, Trump juga telah membuat sekutu AS resah lewat kebijakan tarif impor besar-besaran, dorongan mengambil alih Greenland dari Denmark, hingga penghentian bantuan militer untuk Ukraina.

Hubungan semakin memburuk ketika Trump mengumumkan penarikan 5.000 personel dari total 36.400 tentara AS yang ditempatkan di Jerman. Keputusan itu muncul setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan secara terbuka bahwa Iran telah mempermalukan AS.

Tak hanya itu, Pentagon juga membatalkan rencana penempatan rudal jelajah Tomahawk di Jerman. Trump bahkan menyatakan tengah mempertimbangkan pengurangan pasukan AS di Italia dan Spanyol yang dinilai tidak sejalan dengan kebijakan perang terhadap Iran.

Trump, yang sejak lama mempertanyakan manfaat keberadaan AS di NATO, juga mengkritik sekutu-sekutu yang dianggap tidak cukup mendukung operasi militer AS. Ia bahkan memberi sinyal bahwa Washington mungkin tidak lagi sepenuhnya berkomitmen pada Pasal 5 NATO mengenai pertahanan bersama.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan Trump kecewa terhadap NATO dan sejumlah sekutu karena beberapa negara menolak penggunaan pangkalan militer di Eropa untuk mendukung operasi perang melawan Iran.

Meski demikian, Kelly menegaskan Trump telah memperkuat posisi AS di panggung global dan tidak akan membiarkan negaranya diperlakukan tidak adil oleh para sekutu.

Di Eropa, situasi ini mendorong negara-negara kawasan meningkatkan kerja sama pertahanan, memperbesar anggaran militer, dan mempercepat pengembangan sistem persenjataan bersama guna mengurangi ketergantungan terhadap AS.

Namun para analis menilai proses menuju kemandirian pertahanan Eropa masih akan memakan waktu panjang, mengingat ketergantungan strategis mereka terhadap perlindungan militer AS dari potensi ancaman Rusia.

Ketegangan aliansi AS tidak hanya terjadi di Eropa. Negara-negara Teluk juga mulai mempertanyakan komitmen Washington setelah Iran meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap Uni Emirat Arab, salah satu sekutu dekat AS.

Trump dinilai meremehkan serangan tersebut meskipun serangan itu memicu kebakaran di pelabuhan minyak Fujairah dan memaksa pemerintah setempat menutup sekolah.

Di kawasan Asia, sekutu seperti Jepang dan Korea Selatan juga mulai khawatir terhadap arah kebijakan luar negeri Trump. Selain terbebani tarif tinggi dari AS, negara-negara tersebut mempertanyakan konsistensi komitmen Washington dalam menghadapi potensi konflik dengan China, termasuk jika terjadi krisis di Taiwan.

Mantan Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya mengatakan kepercayaan dan harapan terhadap AS sebagai mitra utama Jepang terus menurun.

“Hal itu bisa menimbulkan dampak jangka panjang bagi seluruh kawasan,” ujarnya kepada Reuters

Sementara itu, China dan Rusia dinilai berupaya memanfaatkan situasi tersebut. Rusia diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan gas akibat perang Iran, sementara China melihat peluang untuk memperkuat citranya sebagai mitra global yang lebih stabil dibanding pemerintahan Trump yang dinilai tidak dapat diprediksi.

Meski demikian, Victoria Coates, mantan wakil penasihat keamanan nasional Trump periode pertama, menilai China tidak akan mudah memanfaatkan perang Iran untuk menggambarkan AS sebagai sumber destabilisasi global.

Menurutnya, Beijing juga tidak menunjukkan dukungan penuh terhadap Iran selama konflik berlangsung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump dan Xi Jinping Dijadwalkan Bertemu, Bahas Iran, Nuklir, Perdagangan dan AI

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan untuk bertemu dan membahas tentang Iran, Taiwan, kecerdasan buatan dan senjata nuklir. Di saat yang sama, pertemuan kedua pemimpin tersebut juga ajkan mempertimbangkan perpanjangan kesepakatan mineral penting.

Dalam pratinjau kunjungan dua hari Trump ke China di pekan ini, para pejabat AS bilang, Trump dan Xi Jinping akan mengadakan pembicaraan tatap muka pertama mereka dalam lebih dari enam bulan, dalam upaya menstabilkan hubungan yang tegang akibat perdagangan, perang AS dan Israel dengan Iran, dan area perselisihan lainnya.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada hari Rabu (13/5/2026), menjelang pembicaraan yang akan berlangsung pada hari Kamis (14/5/2026) dan Jumat (15/5/2026). Ini akan menjadi kunjungan pertama Trump ke China sejak 2017.

AS dan China diharapkan menyepakati forum untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi bersama, sementara China diharapkan mengumumkan pembelian terkait pesawat Boeing, pertanian dan energi Amerika, kata para pejabat.

Rencana pembentukan Dewan Perdagangan dan Dewan Investasi mungkin akan diumumkan secara resmi pada pertemuan tersebut, tetapi mekanisme tersebut mungkin memerlukan penyempurnaan lebih lanjut sebelum dapat diimplementasikan, kata salah satu pejabat.

Kedua negara juga akan membahas perpanjangan gencatan senjata dalam perang dagang yang memungkinkan mineral langka mengalir dari China ke AS, meskipun belum jelas apakah perjanjian tersebut akan diperpanjang minggu ini, kata pejabat tersebut.

Namun demikian, ia menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan tersebut, yang disepakati musim gugur lalu dan masih berlaku, pada akhirnya akan diperpanjang.

"Kesepakatan itu belum berakhir," kata pejabat itu kepada wartawan. "Saya yakin kami akan mengumumkan perpanjangan potensial pada waktu yang tepat."

Kedutaan Besar China di Washington menolak berkomentar.

Pembicaraan Trump-Xi juga diperkirakan akan beralih ke area yang telah lama menjadi sumber ketegangan AS-China, termasuk Iran, Taiwan, dan senjata nuklir.

China mempertahankan hubungan dengan Iran dan tetap menjadi konsumen utama ekspor minyaknya. Trump telah menekan China untuk menggunakan pengaruhnya guna mendorong Teheran untuk membuat kesepakatan dengan Washington dan mengakhiri konflik yang dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.

Pemerintahan Trump juga telah menekan China terkait hubungannya dengan Rusia.

"Presiden telah berbicara beberapa kali dengan Sekretaris Jenderal Xi Jinping tentang topik Iran dan tentang topik Rusia, termasuk pendapatan yang diberikan China kepada kedua rezim tersebut, serta barang, komponen, dan suku cadang yang memiliki fungsi ganda, belum lagi potensi ekspor senjata," kata salah satu pejabat. "Saya memperkirakan percakapan itu akan berlanjut."

Sementara itu, Xi Jinping merasa frustrasi dengan Washington terkait Taiwan. AS tetap menjadi pendukung internasional dan pemasok senjata terpenting bagi pulau yang diperintah secara demokratis tersebut, yang diklaim Beijing sebagai wilayah China sendiri.

China telah meningkatkan kehadiran militernya di dekat Taiwan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kebijakan AS tidak akan berubah, kata pejabat tersebut.

Para ajudan Trump menyatakan kekhawatiran yang semakin meningkat tentang model kecerdasan buatan canggih yang dikembangkan di China dan percaya bahwa kedua pihak membutuhkan "saluran komunikasi" untuk menghindari konflik yang timbul dari penggunaannya.

"Seperti apa bentuknya masih belum ditentukan, tetapi kami ingin mengambil kesempatan ini dengan pertemuan para pemimpin untuk membuka percakapan dan untuk melihat apakah kita harus membangun saluran komunikasi tentang masalah AI," kata salah satu pejabat.

Washington juga telah lama berharap untuk membuka pembicaraan dengan Beijing tentang senjata nuklir, meskipun China tetap enggan untuk membahas persenjataannya.

Pemerintah China secara pribadi telah mengatakan kepada AS bahwa "mereka tidak tertarik untuk duduk dan membahas segala bentuk pengendalian senjata nuklir atau hal-hal serupa saat ini," kata pejabat tersebut.

Pertemuan terakhir Trump dan Xi adalah pada bulan Oktober 2025 di Korea Selatan, sepakat untuk menghentikan sementara perang dagang yang sengit yang telah menyebabkan AS mengenakan tarif tiga digit pada barang-barang China dan Beijing mengancam untuk membatasi pasokan global logam tanah jarang.

Pada bulan Februari, Mahkamah Agung mengatakan Trump tidak memiliki wewenang untuk mengenakan banyak tarifnya pada impor di seluruh dunia. Ia telah berjanji untuk memberlakukan kembali beberapa bea masuk menggunakan jalur hukum lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Serangan Israel di Lebanon Selatan Menewaskan Tujuh Orang

 

Serangan Israel di kota Saksakiyeh, Lebanon Selatan, menewaskan sedikitnya tujuh orang, termasuk seorang anak, dan melukai 15 orang pada hari Sabtu (9/5), kata kementerian kesehatan Lebanon.

Militer Israel mengatakan telah menyerang militan Hizbullah di kota itu, menuduh mereka merencanakan serangan terhadap tentara Israel.

"IDF mengetahui laporan mengenai kerugian yang dialami warga sipil yang tidak terlibat di bangunan tempat teroris diserang. Rincian insiden tersebut sedang ditinjau," kata militer dalam sebuah pernyataan.

Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah terus saling baku tembak di Lebanon selatan, tempat Israel telah membentuk zona keamanan yang dideklarasikan sendiri, meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS diumumkan pada 16 April.

Israel juga mengatakan telah membunuh komandan pasukan elit Radwan Hizbullah pada hari Rabu dalam serangan pertamanya di pinggiran selatan Beirut sejak gencatan senjata diumumkan.

Sementara Israel dan Hizbullah berperang, Amerika Serikat telah menyelenggarakan dua putaran pembicaraan antara duta besar Lebanon dan Israel di Washington, kontak tingkat tertinggi antara perwakilan pemerintah Lebanon dan Israel dalam beberapa dekade.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan perwakilan Israel dan Lebanon akan mengadakan putaran pembicaraan ketiga di Washington pada hari Kamis dan Jumat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump ke China Pekan Ini, Negosiasi Rare Earth dan Taiwan Menghangat

 

 Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan membahas isu Iran, Taiwan, kecerdasan buatan (AI), dan senjata nuklir, sambil mempertimbangkan perpanjangan kesepakatan terkait mineral kritis. Hal itu diungkapkan oleh pejabat AS yang memberikan gambaran awal menjelang kunjungan Trump selama dua hari ke China pekan ini.

Mengutip Reuters, pemimpin dua ekonomi terbesar dunia itu akan melakukan pertemuan tatap muka pertama mereka dalam lebih dari enam bulan, dalam upaya menstabilkan hubungan yang memburuk akibat perang dagang, konflik AS dan Israel dengan Iran, serta berbagai perbedaan lain.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026), menjelang pertemuan yang akan berlangsung Kamis dan Jumat. Ini akan menjadi kunjungan pertama Trump ke China sejak 2017.

Amerika Serikat dan China diperkirakan akan menyepakati pembentukan forum untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi timbal balik. Sementara itu, China diperkirakan akan mengumumkan pembelian terkait pesawat Boeing, produk pertanian Amerika, serta energi, kata para pejabat tersebut.

Rencana pembentukan Dewan Perdagangan dan Dewan Investasi kemungkinan akan diumumkan secara resmi dalam pertemuan itu, “namun mekanisme tersebut masih memerlukan pekerjaan lanjutan sebelum dapat diimplementasikan,” kata salah satu pejabat.

Kedua negara juga akan membahas perpanjangan gencatan senjata dalam perang dagang yang memungkinkan mineral tanah jarang (rare earth) mengalir dari China ke AS. Namun belum jelas apakah kesepakatan itu akan diperpanjang pekan ini, kata pejabat tersebut.

Meski demikian, ia menyatakan yakin kesepakatan itu, yang dicapai pada musim gugur tahun lalu dan masih berlaku, pada akhirnya akan diperpanjang.

“Kesepakatan itu belum berakhir,” ujar pejabat tersebut kepada wartawan. “Saya yakin kami akan mengumumkan perpanjangan potensial pada waktu yang tepat.”

Kedutaan Besar China di Washington menolak memberikan komentar.

Pembicaraan Trump-Xi juga diperkirakan akan merambah isu-isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan AS-China, termasuk Iran, Taiwan, dan senjata nuklir.

China memiliki hubungan dengan Iran dan merupakan konsumen utama ekspor minyak Iran. Trump mendorong China untuk menggunakan pengaruhnya agar Teheran mau membuat kesepakatan dengan Washington dan mengakhiri konflik yang dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari.

Pemerintahan Trump juga menekan China terkait hubungan dagangnya dengan Rusia.

“Presiden telah beberapa kali berbicara dengan Sekretaris Jenderal Xi Jinping tentang Iran dan Rusia, termasuk pendapatan yang China berikan kepada kedua rezim tersebut, serta barang-barang dual-use, komponen dan suku cadang, belum lagi potensi ekspor senjata,” kata salah satu pejabat. “Saya memperkirakan pembicaraan itu akan berlanjut.”

Xi, di sisi lain, disebut frustrasi terhadap Washington terkait Taiwan. AS masih menjadi pendukung internasional paling penting dan pemasok senjata utama bagi Taiwan, pulau yang diperintah secara demokratis namun diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya.

 

 

 

Tabel 1: Agenda Utama Pertemuan Trump–Xi

Topik

Fokus Pembahasan

Kepentingan AS

Kepentingan China

Perdagangan & Investasi

Pembentukan forum perdagangan dan investasi

Dorong ekspor AS, tekan defisit dagang

Stabilkan akses pasar AS

Rare earth / mineral kritis

Perpanjangan gencatan perang dagang

Jamin pasokan industri AS

Pertahankan leverage strategis

Iran

Dorong China tekan Iran buat kesepakatan

Kurangi eskalasi konflik

Lindungi pasokan minyak Iran

Taiwan

Ketegangan militer dan dukungan AS

Pertahankan dukungan ke Taiwan

Tegaskan klaim wilayah

AI

Kanal komunikasi untuk cegah konflik AI

Batasi risiko AI China

Pertahankan kemajuan teknologi

Nuklir

Upaya dialog kontrol senjata

Transparansi dan kontrol persenjataan

China enggan bahas arsenal

China meningkatkan kehadiran militernya di sekitar Taiwan dalam beberapa tahun terakhir, namun kebijakan AS tidak akan berubah, kata pejabat itu.

Para penasihat Trump juga menyampaikan kekhawatiran yang meningkat terkait model AI canggih yang dikembangkan di China. Mereka menilai kedua negara perlu memiliki “saluran komunikasi” untuk mencegah konflik yang bisa timbul akibat penggunaan AI.

“Bentuknya seperti apa masih belum ditentukan, tapi kami ingin memanfaatkan kesempatan pertemuan para pemimpin ini untuk membuka pembicaraan, dan melihat apakah perlu membentuk saluran komunikasi terkait isu AI,” kata pejabat itu.

Washington juga sejak lama berharap membuka pembicaraan dengan Beijing mengenai senjata nuklir, namun China masih enggan membahas persenjataannya. Pemerintah China secara pribadi menyampaikan kepada AS bahwa mereka “tidak tertarik duduk bersama membahas kontrol senjata nuklir atau hal serupa untuk saat ini,” kata pejabat tersebut.

Pertemuan terakhir Trump dan Xi terjadi pada Oktober di Korea Selatan, ketika mereka sepakat menghentikan sementara perang dagang yang sengit. Saat itu AS menerapkan tarif tiga digit terhadap barang China, dan Beijing mengancam membatasi pasokan global rare earth.

Pada Februari, Mahkamah Agung AS menyatakan Trump tidak memiliki kewenangan untuk menerapkan banyak tarif impor global. Namun Trump bersumpah akan memberlakukan kembali sebagian tarif lewat jalur hukum lain.

Tabel 2: Potensi Kesepakatan Dagang AS-China

Sektor

Potensi Kesepakatan

Bentuk Realisasi

Pesawat

Pembelian pesawat Boeing

Pengumuman pembelian oleh China

Pertanian

Pembelian produk pertanian AS

Komitmen impor tambahan

Energi

Pembelian energi AS

Kontrak impor energi

Investasi

Pembentukan Board of Investment

Forum investasi bilateral

Perdagangan

Pembentukan Board of Trade

Forum negosiasi perdagangan

Rare earth

Perpanjangan truce rare earth

Kesepakatan pasokan berkelanjutan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post