News Komoditi & Global ( Senin, 1 September 2025 )

News  Komoditi & Global

                                   (  Senin,   1  September  2025  )

 

Harga Emas Global Menguat, Pasar Cermati Sentimen The Fed dan Data Ketenagakerjaan AS

 

 Harga emas naik 0,09% di tengah ketidakpastian kebijakan The Fed dan data tenaga kerja AS. Investor fokus pada potensi pemangkasan suku bunga.

Harga emas terpantau menguat seiring dengan sikap pelaku pasar yang menimbang arah kebijakan The Fed dan ketidakpastian terkait tarif impor Presiden AS Donald Trump menjelang rilis data tenaga kerja pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (1/9/2025), harga emas di pasar spot terpantau naik 0,09% pada level US$3.450,88 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex tercatat turun 0,12% pada level US$3.512,00 per troy ounce. Adapun, harga emas terpantau menguat 2,3% sepanjang pekan lalu.  Sidang darurat terkait upaya Trump memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook berakhir tanpa keputusan pada Jumat lalu. Putusan akhir mengenai kelanjutan tugas Cook diperkirakan baru keluar paling cepat Selasa (2/9/2025). Hasil sidang tersebut dipandang krusial bagi masa depan independensi The Fed. Kekhawatiran melemahnya otoritas moneter independen berpotensi menggerus kepercayaan investor terhadap AS, sekaligus meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai seperti emas. Hakim belum memberi sinyal arah putusan dalam gugatan bersejarah tersebut. Di sisi lain, pengadilan banding federal memutuskan bahwa tarif global yang diberlakukan Trump melanggar hukum darurat, memperkuat putusan Pengadilan Perdagangan Internasional pada Mei lalu. 

Namun, hakim tetap membiarkan tarif tersebut berlaku selama proses hukum berjalan, membuka kemungkinan pembatasan hanya bersifat parsial. Harga emas sempat menyentuh rekor sekitar US$3.500 per troy ounce pada April lalu setelah Trump mengumumkan rencana awal tarif impor. Sejak itu, harga bergerak dalam kisaran terbatas seiring meredanya permintaan aset aman setelah Trump melunakkan sebagian rencana tarifnya. Namun, arus masuk dana ke instrumen exchange-traded funds (ETF) masih menopang dukungan jangka panjang bagi emas. Fokus investor pekan ini tertuju pada laporan tenaga kerja AS, yang dapat memperkuat atau menggagalkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga bulan ini. 

Survei Bloomberg memperkirakan AS hanya menambah 75.000 lapangan kerja sepanjang Agustus dengan tingkat pengangguran naik tipis, menambah indikasi pelemahan pasar tenaga kerja. Data AS pada Jumat lalu menunjukkan inflasi masih tinggi meski sesuai ekspektasi. Presiden The Fed San Francisco Mary Daly menyatakan bank sentral siap memangkas suku bunga dalam waktu dekat, dengan menilai tekanan inflasi akibat tarif bersifat sementara. Pasar saat ini menilai peluang pemangkasan suku bunga pada September cukup besar. Sementara itu, harga perak bertahan di bawah US$40 per troy ounce, paladium menguat, dan platinum relatif stagnan.

 

 

 

Harga Minyak Dunia Melemah Tipis di Awal September, Pasar Waspada Tekanan Geopolitik

 

Harga minyak dunia turun tipis di awal September 2025 akibat potensi kelebihan pasokan dan ketegangan geopolitik, dengan fokus pada tekanan AS terhadap India terkait impor minyak Rusia.

Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan awal September ini setelah mencatat pelemahan sepanjang Agustus 2025, saat pasar mencermati potensi kelebihan pasokan dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Melansir Bloomberg, Senin (1/9/2025), harga minyak berjangka Brent kontrak November melemah 0,25% ke level US$67,31 per barel pada pukul 08.23 WIB, setelah bulan lalu terkoreksi lebih dari 6%. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober tercatat melemah 0,27% ke level US$63,84 per barel. Perhatian investor tertuju pada India, yang tengah ditekan AS untuk menghentikan impor minyak mentah Rusia setelah AS menjatuhkan tarif sekunder terhadap negara Asia Selatan itu. Perdana Menteri India Narendra Modi dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin di sela-sela KTT regional di China. Sejak awal tahun, harga minyak sudah merosot sekitar 10%. Tekanan datang dari derasnya pasokan tambahan OPEC+, termasuk Rusia, serta kekhawatiran bahwa perang dagang yang dipimpin AS akan menekan permintaan energi global. OPEC+ akan menggelar pertemuan virtual pada 7 September untuk menentukan langkah berikutnya, sementara Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan pasar minyak mentah berpotensi menghadapi surplus terbesar tahun depan.

Harga Minyak Melemah, Pasar Cermati Turunnya Permintaan dan Pasokan OPEC Reaksi Trump atas Serangan Rusia Picu Rebound Harga Minyak Mentah Kazakhstan Bidik Komoditas Balikpapan, Minyak Sawit dan Perikanan Jadi Primadona Langkah Washington terhadap India menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk menekan Rusia dan mengakhiri perang di Ukraina. Meski demikian, AS belum memberlakukan tarif serupa pada China. Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro menegaskan pada akhir pekan bahwa India “memperkuat mesin perang Rusia” dan menyebut negara itu “tak ubahnya mesin pencuci uang Kremlin.” Di pasar keuangan AS, hedge fund memangkas posisi spekulatif beli pada minyak mentah ke level terendah dalam 18 tahun, menambah sinyal meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan ekonomi sekaligus risiko kelebihan pasokan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Arah Wall Street Pekan Ini: Investor Menanti Data Ketenagakerjaan AS

 

 Investor menanti data ketenagakerjaan AS yang lemah, yang dapat memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September.

Rilis data pasar tenaga kerja AS akan menguji keyakinan investor atas pemangkasan suku bunga dan tren reli saham Wall Street dalam sepekan ke depan. Melansir Reuters pada Senin (1/9/2025), data ketenagakerjaan bulan lalu yang jauh lebih lemah dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan September mendatang, sebagai upaya menopang pasar tenaga kerja meski risiko inflasi masih membayangi. Menurut Jack Janasiewicz, Lead Portfolio Strategist di Natixis Investment Managers Solutions, laporan ketenagakerjaan yang kembali lemah pada Agustus berpotensi memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi. Namun, di sisi lain, pasar bisa menilai hal itu sebagai alasan untuk mendorong pemangkasan suku bunga lebih agresif. “Penurunan suku bunga kemungkinan lebih dominan ketimbang perlambatan moderat di pasar tenaga kerja, yang pada akhirnya akan menopang perekonomian dan pasar saham,” ujarnya. Laporan ketenagakerjaan menjadi rilis ekonomi utama pertama bulan ini. Survei Reuters memperkirakan penambahan 75.000 tenaga kerja pada Agustus, setelah bulan sebelumnya hanya tercatat 73.000 dengan revisi turun signifikan pada dua bulan sebelumnya. Alex Grassino, Global Chief Economist di Manulife Investment Management, menilai indikator lain seperti tingkat pengangguran dan upah per jam kemungkinan menunjukkan pesan serupa: pasar tenaga kerja AS telah mendingin. Wall Street Tergelincir, Saham Dell dan Nvidia Jadi Penekan Utama Wall Street Cetak Rekor Baru, Optimisme Sektor AI Jadi Pendorong Utama Wall Street Perkasa, Indeks S&P 500 Cetak Rekor jelang Rilis Kinerja Nvidia Ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada September semakin menguat setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan risiko di pasar kerja meningkat. Data LSEG pada Jumat menunjukkan probabilitas 89% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 16–17 September mendatang. “Itu membutuhkan kekuatan yang sangat luas dalam laporan untuk membuat The Fed mempertimbangkan kembali langkah pemangkasan suku bunga, dan kemungkinan itu cukup rendah,” kata Drew Matus, Chief Market Strategist di MetLife Investment Management. Matus menambahkan, “Laporan yang moderat sekalipun tidak akan menghentikan The Fed untuk memangkas suku bunga.” Futures suku bunga Fed juga mencerminkan ekspektasi pemangkasan sekitar 55 basis poin hingga akhir tahun atau setara lebih dari dua kali penurunan standar. Saham AS terus menguat sejak menyentuh titik terendah tahun ini pada April. Investor mengabaikan kekhawatiran bahwa tarif impor yang diterapkan Presiden Donald Trump akan menyeret ekonomi ke jurang resesi. Saham teknologi dan sektor lain pun mendapat dorongan dari optimisme atas potensi bisnis kecerdasan buatan (AI). Namun, pada perdagangan Jumat (29/8/2025), indeks saham terkoreksi karena penurunan di saham terkait AI memperburuk pelemahan sektor teknologi. Menjelang laporan keuangan Broadcom pada Kamis depan, indeks S&P 500 tercatat naik 1,9% sepanjang Agustus, mendorong kenaikan sepanjang tahun menjadi sekitar 10%, mendekati level tertinggi sepanjang masa. Meski demikian, pasar kini memasuki periode yang secara historis rawan. Berdasarkan Stock Trader’s Almanac, dalam 35 tahun terakhir, September tercatat sebagai bulan terburuk bagi S&P 500 dengan rata-rata penurunan 0,8%. Indeks bahkan turun di 18 dari 35 kali perdagangan September, menjadikannya satu-satunya bulan yang lebih sering mencatat penurunan. Gejolak di Internal The Fed Selain data ekonomi, perkembangan di internal The Fed turut menjadi perhatian pasar setelah Trump bergerak memecat Gubernur The Fed Lisa Cook dalam upayanya merombak jajaran dewan bank sentral. Cook lantas mengajukan gugatan pada Kamis lalu dengan alasan Trump tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikannya. Kontroversi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran atas kredibilitas dan independensi The Fed dalam menjalankan kebijakan moneter di tengah tekanan politik. Meski begitu, Grassino menilai risiko tersebut untuk sementara masih tercermin wajar di pasar. “Banyak hal yang sebelumnya dianggap kepastian oleh pelaku pasar tradisional kini mulai dipertanyakan. Kondisi itu memperluas risiko-risiko ekstrem yang mungkin terjadi,” ungkapnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senapan Penembak Massal Gereja AS Bertuliskan 'Bunuh Trump' dan 'Bakar Israel'

Robin Westman (23) menggunakan tiga senjata saat melakukan penembakan massal di Gereja Katolik Annunciation di Minneapolis, Amerika Serikat (AS), pada Rabu. Dua anak tewas di bangku gereja dan 17 lainnya terluka saat menghadiri Misa Katolik. Westman mengumbar puluhan tembakan dengan senapan laras panjang, senapan laras pendek, dan pistol. Dia kemudian ditemukan tewas di tempat parkir akibat apa yang diyakini para pejabat setempat sebagai tembakan yang dilakukan sendiri. Catatan pengadilan menunjukkan nama Westman diubah dari Robert pada tahun 2020 karena Westman diidentifikasi sebagai perempuan.

Gereja AS Diberondong Tembakan saat Misa Katolik, 2 Anak Tewas, 17 Luka Di kanal YouTube berjudul "Robin W", setidaknya ada dua video yang diunggah sebelum administrator situs menghapus kanal tersebut. Salah satu video, yang berdurasi sekitar 10 menit dan direkam dengan ponsel, menunjukkan tumpukan senjata, amunisi, dan magazine berisi peluru. "Bunuh Donald Trump", "Bunuh Trump sekarang", "Israel harus jatuh", dan "Bakar Israel" tertulis di magazine-magazine tersebut. Ada juga tulisan "Nuklir India", "Di mana Tuhanmu?" dan "Untuk anak-anak" di beberapa magazine. Menteri Dalam Negeri AS Kristi Noem mengonfirmasi keaslian video tersebut, dengan mengatakan bahwa "pembunuh yang sangat sakit hati" menuliskan kata-kata "Untuk Anak-Anak" dan "Di Mana Tuhanmu?" serta "Bunuh Donald Trump" pada magazine senapan. "Tingkat kekerasan ini tidak terpikirkan," tulis Noem di X, Kamis (28/8/2025). Para pejabat mengatakan Westman membeli senjata-senjata tersebut secara legal, tidak memiliki catatan kriminal yang diketahui, dan bertindak sendiri. Presiden Donald Trump memerintahkan pengibaran bendera AS setengah tiang di seluruh negeri sebagai tanda berkabung. Penembakan di Gereja Katolik Annunciation, yang merupakan bagian dari sekolah Katolik, dilaporkan merupakan insiden penembakan ke-146 di AS sejak Januari. Sementara itu, surat terakhir Westman telah ditemukan, di mana dia menulis permintaan maaf kepada keluarganya. "Saya tidak mengharapkan pengampunan, dan saya tidak mengharapkan permintaan maaf apa pun. Saya harus memikul beban yang berat. Tetapi kepada keluarga saya dan orang-orang terdekat saya, saya sungguh meminta maaf atas dampak tindakan saya terhadap kehidupan Anda. Ketahuilah bahwa saya sangat peduli kepada Anda semua, dan sungguh menyakitkan bagi saya untuk membawa badai kekacauan ini ke dalam hidup Anda. Ini akan memengaruhi lebih banyak orang daripada mereka yang terlibat langsung," bunyi surat tulisan tangan Westman. Surat itu kemudian berlanjut dengan ucapan terima kasih kepada orang tua karena telah membesarkan Westman menjadi "orang baik" dan mengajari mereka empati, pengorbanan diri, dan karakter yang baik, tetapi juga menyalahkan dunia karena membuatnya "membenci hidup." "Tolong jangan berpikir kalian telah gagal sebagai orang tua. Saya telah dirusak oleh dunia ini dan telah belajar membenci hidup ini. Hidup adalah cinta, hidup adalah penderitaan," lanjut surat itu. "Saya lelah dengan penderitaan yang diberikan dunia ini. Tolong lanjutkan hidupmu dan teruslah berikan kasih sayangmu kepada saudara-saudari, dan seluruh dunia. Mereka mungkin tidak memaafkanmu, tetapi kamu harus melupakanku. Lupakan hidupku dan penderitaan yang telah kubawa," imbuh surat Westman. Penembak itu kemudian meminta maaf kepada saudara-saudarinya, "karena selamanya telah menodai sisa hidup kalian." "Karier, kehidupan, hubungan kalian, semuanya akan jungkir balik. Tolong pertahankan dirimu, bukan diriku. Ganti nama kalian jika perlu," paparnya. "Dan, untuk teman-teman, Westman percaya untuk memberikan kenangan kalian tentang saya sesuka kalian... Sayangnya, dunia ini terlalu banyak penderitaan yang harus saya hadapi sehingga saya tidak bisa menutupinya dengan sisi-sisi baik kehidupan."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dewan Keamanan PBB Menuntut Diakhirinya Bencana Kelaparan di Gaza, AS Menentang Sendiri

 

Para anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) kecuali Amerika Serikat (AS) telah menyerukan diakhirinya segera bencana kelaparan di Jalur Gaza dan mendesak Israel menghentikan ekspansi militernya dan gencatan senjata. Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu (27/8/2025) mengenai perkembangan di Timur Tengah, para anggota menyuarakan keprihatinan mendalam atas bencana kelaparan yang secara resmi diumumkan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Gaza. “Penggunaan bencana kelaparan sebagai senjata perang dilarang berdasarkan hukum humaniter internasional,” tegas pernyataan tersebut. DK PBB memperingatkan sekitar 41.000 anak berisiko meninggal dunia akibat kekurangan gizi. Para anggota selanjutnya menuntut “gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen,” beserta pembebasan segera dan tanpa syarat para tawanan Israel yang ditahan oleh Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas. Oposisi AS Sebaliknya, Amerika Serikat membela tindakan Israel. Perwakilan AS menolak apa yang ia sebut sebagai "kebijakan kelaparan palsu" di Gaza, dan menepis temuan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang didukung PBB. Ia mengatakan badan tersebut "tidak lulus uji (kredibilitas dan integritas)," namun tetap mengakui kelaparan merupakan masalah serius dan kebutuhan kemanusiaan di Gaza masih mendesak. IPC secara resmi menyatakan bencana kelaparan di Gaza Jumat lalu, melaporkan lebih dari setengah juta orang telah terdampak, dan krisis diperkirakan akan menyebar ke Deir al-Balah dan Khan Yunis dalam beberapa pekan mendatang. Perkembangan ini bertepatan dengan kampanye militer Israel yang sedang berlangsung untuk merebut Kota Gaza. Selama lebih dari dua minggu, pasukan Israel telah melakukan pengeboman, pembongkaran, dan penyerbuan di permukiman Shuja'iyya, Zaytoun, dan Sabra, serta di kamp Jabaliya di utara, yang menyebabkan ribuan warga Palestina mengungsi. Sejak Oktober 2023, Israel yang didukung Amerika Serikat, telah melancarkan kampanye pemusnahan terhadap penduduk Gaza melalui pembunuhan massal, kelaparan, penghancuran, dan pemindahan paksa, yang bertentangan dengan banding internasional dan putusan Mahkamah Internasional. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 62.000 orang telah tewas dan 158.000 lainnya terluka sejak perang dimulai. Setidaknya 313 warga Palestina, termasuk 119 anak-anak, telah meninggal karena kelaparan saja, lapor kementerian tersebut pada hari Rabu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ternyata Ini Alasan Israel Menggila di Tepi Barat

 

Israel menggencarkan serangan dan penangkapan di seantero wilayah Tepi Barat. Aksi itu ternyata dilakukan menjelang rapat kabinet soal pencaplokan lebih banyak wilayah Palestina sebelum pengakuan berbagai negara September nanti.

Serangan Israel ke Tepi Barat ditingkatkan di Ramallah, awal pekan ini. Di Ramallah, pasukan Israel merampok toko penukaran uang dan mencuri ratusan ribu dolar AS. Mereka juga melakukan penangkapan dan menindak secara brutal warga yang melawan dengan melempar batu.

Belakangan, Nablus jadi sasaran serangan Israel. Puluhan warga yang melawan terluka sementara puluhan penangkapan dilakukan. Israel juga menghancurkan banyak bangunan di wilayah tersebut.

Pada Kamis, pasukan pendudukan Israel menggerebek enam sekolah di kota Hebron pada  dan menahan beberapa guru. Koresponden WAFA mengatakan pasukan Israel menggerebek dan menggeledah enam sekolah di lingkungan Sheikh dan wilayah selatan Hebron, menyita foto dan buku pelajaran pendidikan, serta menahan guru selama penggerebekan.

Otoritas penjajahan Israel juga mengeluarkan dua perintah militer untuk menyita tanah milik warga Palestina dari desa Jinsafut, sebelah timur Qalqilya. Menurut Departemen Arsip Pemukiman di Kegubernuran Qalqilya, kedua perintah militer tersebut bertujuan untuk menyita sekitar 16 dunam tanah Palestina untuk pembangunan ruas jalan pemukiman baru.

Satu perintah bertujuan untuk menghubungkan koloni ilegal Yakir ke koloni Karnei Shomron, sementara perintah lainnya berupaya menghubungkan koloni Immanuel ke pos terdepan Karnei Shomron.

Sementara pasukan militer serta pemukim ilegal beraksi, kabinet diperkirakan akan membahas pencaplokan wilayah tertentu di Tepi Barat pada pekan depan. Rencana ini di tengah meningkatnya seruan untuk melakukan aneksasi di kalangan anggota parlemen sayap kanan Israel.

Menurut berita Channel 12, diskusi tersebut akan diadakan sehubungan dengan rencana pembangunan pemukiman yang baru-baru ini disetujui dan dipelopori oleh Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang akan mencakup sekitar 3.400 unit rumah yang dibangun di kawasan E1 Tepi Barat yang kontroversial antara Yerusalem dan pemukiman Ma’ale Adumim.

Tidak ada saran bahwa pemungutan suara akan diadakan mengenai masalah aneksasi dalam pertemuan yang dijadwalkan pada Ahad. Kantor Perdana Menteri tidak menanggapi permintaan komentar mengenai diskusi yang dilaporkan dijadwalkan atau isu-isu dalam agenda kabinet.

Tekanan internasional selama bertahun-tahun telah berhasil menghalangi Israel untuk melakukan pembangunan di E1, dengan para kritikus berargumentasi bahwa rencana tersebut akan membelah Tepi Barat menjadi dua, memisahkannya dari Yerusalem Timur dan menggagalkan prospek solusi dua negara antara Israel dan Palestina.

Rencana yang dilaporkan untuk mempertimbangkan pencaplokan bagian-bagian Tepi Barat akan semakin memperburuk hubungan Israel dengan beberapa sekutu Barat, seiring dengan janji Prancis dan negara-negara lain untuk mengakui negara Palestina di Majelis Umum PBB bulan September ini.

Situs berita Ynet melaporkan pada Kamis pagi bahwa Netanyahu telah mengadakan pembicaraan tertutup dengan para menteri senior mengenai masalah kedaulatan di Tepi Barat. Meskipun pemerintah telah mempertimbangkan langkah serupa di masa lalu tanpa hasil, rincian pertemuan tertutup para pejabat senior minggu lalu menunjukkan bahwa “iklim politik mungkin menciptakan peluang yang jarang terjadi untuk langkah seperti itu,” klaim outlet tersebut.

Di antara pejabat senior yang menurut laporan tersebut menghadiri pertemuan tersebut adalah Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, Penasihat Keamanan Nasional Tzachi Hanegbi dan Sekretaris Kabinet Yossi Fuchs.

Sementara itu, Prancis sedang mempertimbangkan untuk membuka kedutaan besar di wilayah yang dikuasai Otoritas Palestina di Tepi Barat. Hal ini bersamaan dengan pembukaan kedutaan Palestina di Prancis, Ofer Bronchtein, penasihat lama Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk urusan Israel-Palestina, mengatakan kepada Channel 12.

Bronchtein mengatakan langkah tersebut – yang sedang dipertimbangkan pada saat meningkatnya ketegangan diplomatik antara Yerusalem dan Paris – akan menjadi langkah alami menyusul janji Perancis untuk mengakui negara Palestina. Kedutaan Besar Perancis kemungkinan besar akan berlokasi di Ramallah, tempat PA bermarkas.

Pemerintah Israel menentang pembentukan negara Palestina dan menolak pengakuan negara tersebut sebagai “hadiah untuk teror.” Bronchtein menegaskan kembali pandangannya bahwa negara Palestina adalah kepentingan Israel, dengan alasan bahwa pembantaian yang dipimpin Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023 tidak akan terjadi jika ada negara Palestina, dan mengklaim stabilitas yang diberikan oleh negara tersebut akan mencegah serangan tersebut. Kedutaan Besar Prancis di Israel tidak menanggapi permintaan komentar atas pernyataan Bronchtein.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pilu Anak-anak Gaza Kelaparan hingga Menangis Pun Tak Bisa

 

Kondisi anak-anak di Gaza, Palestina, yang kelaparan sungguh memilukan. Untuk menangis pun anak-anak di Gaza bahkan tidak bisa.
Dirangkum detikcom dilansir kantor berita AFP, Kamis (28/8/2025) hal tersebut diungkapkan kepala badan amal internasional, Save the Children yang berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang konflik Israel-Palestina. Menurut Inger Ashing, kepala NGO tersebut, kelaparan -- yang dinyatakan oleh PBB pekan lalu terjadi di Gaza -- bukan sekadar istilah teknis semata.
"Ketika tidak ada cukup makanan, anak-anak menjadi sangat kekurangan gizi, dan kemudian mereka meninggal secara perlahan dan menyakitkan. Secara sederhana, inilah yang dimaksud dengan kelaparan," kata Ashing.
Ia kemudian menjelaskan apa yang terjadi ketika anak-anak meninggal karena kelaparan selama beberapa minggu, karena tubuh pertama-tama mengonsumsi lemaknya sendiri untuk bertahan hidup dan ketika lemak itu habis, tubuh benar-benar mengonsumsi dirinya sendiri dengan memakan otot dan organ vital.
"Namun, klinik kami hampir senyap. Sekarang, anak-anak tidak memiliki kekuatan untuk berbicara atau bahkan menangis kesakitan. Mereka terbaring di sana, kurus kering, benar-benar merana," kata Ashing.
Ia mengatakan kelompok-kelompok bantuan sebelumnya telah memperingatkan dengan lantang bahwa kelaparan akan datang, karena Israel mencegah makanan dan kebutuhan pokok lainnya memasuki Gaza.
"Setiap orang di ruangan ini memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk bertindak menghentikan kekejaman ini," kata Ashing.
Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi mendeklarasikan bencana kelaparan di Gaza pada hari Jumat lalu, menyalahkan apa yang disebutnya sebagai penghalangan sistematis bantuan oleh Israel selama lebih dari 22 bulan perang.
Sebuah lembaga pemantau kelaparan yang didukung PBB, Integrated Food Security Phase Classification Initiative (IPC), mengatakan kelaparan telah berdampak pada 500.000 orang di wilayah Jalur Gaza, termasuk di Kota Gaza.
IPC memproyeksikan bahwa kelaparan akan meluas hingga mencakup sekitar dua pertiga wilayah Gaza pada akhir September mendatang. Israel kemudian mendesak IPC untuk mencabut laporan itu, menyebutnya "direkayasa."
Setelah pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu lalu, 14 anggota -- semuanya kecuali Amerika Serikat yang merupakan sekutu utama Israel --mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan "kekhawatiran dan kesedihan mendalam" atas deklarasi kelaparan tersebut, dan menyatakan bahwa mereka mempercayai pekerjaan dan metodologi IPC.
"Penggunaan kelaparan sebagai senjata perang jelas dilarang berdasarkan hukum kemanusiaan internasional. Kelaparan di Gaza harus segera dihentikan," demikian bunyi pernyataan bersama tersebut.

 

 

 

 

Meski Diprotes Massal, Israel Lanjutkan Serangan di Kota Gaza

 

 

Tank-tank Israel semakin merangsek masuk di pinggiran Kota Gaza pada hari Rabu (27/08), memaksa lebih banyak warga Palestina mengungsi, sementara militer Israel bersiap melaksanakan rencana pemerintah Israel untuk menaklukkan Gaza dan merebut apa yang mereka sebut sebagai "benteng terakhir Hamas."
Sehari sebelumnya, puluhan ribu warga Israel kembali turun ke jalan untuk mendesak pemerintah menyetujui kesepakatan untuk memulangkan 50 sandera yang tersisa. Para pengunjuk rasa saat mereka berbaris menuju Lapangan Sandera di pusat kota Tel Aviv.
Area ini telah menjadi simbol perjuangan untuk memulangkan para sandera yang disandera selama serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.
Di antara para pengunjuk rasa pada hari Selasa (24/08) adalah Naama, seorang mahasiswa psikologi yang kehilangan salah satu teman dekatnya dalam serangan militan di festival musik Nova.
"Saya di sini untuk mendukung keluarga-keluarga, dan itu minimal yang bisa saya lakukan. Saya tidak punya kendali atas apa yang terjadi. Selama dua tahun, ini bagaikan roller coaster antara harapan dan keputusasaan," ujar Naama, yang menolak menyebutkan nama belakangnya, kepada DW di alun-alun.
Ia mengatakan ia ingin percaya bahwa pemerintah Israel sedang melakukan segala yang mereka bisa untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 22 bulan, "karena jika saya tidak percaya ini, saya tidak akan bisa bangun pagi-pagi. Saya sangat berharap mereka tidak menutup mata terhadap apa yang terjadi di sini."
'Hari Disrupsi' bertujuan untuk mengakhiri perang di Gaza
Protes hari Selasa (24/08) diselenggarakan oleh Forum Keluarga Sandera dan Hilang, yang mewakili mayoritas keluarga, dan dijadwalkan bertepatan dengan rapat Kabinet Keamanan Israel.
Namun, media Israel melaporkan bahwa rapat tersebut bahkan tidak membahas kesepakatan gencatan senjata yang baru-baru ini disetujui oleh Hamas, melainkan ditunda lebih awal agar para menteri dapat menghadiri jamuan makan malam perayaan untuk menghormati legalisasi 17 permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.
Beberapa anggota kabinet koalisi sayap kanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menuduh para pengunjuk rasa "membantu Hamas" dan merugikan negara dengan aksi demonstrasi mereka.
"Para perusuh yang melayani Hamas telah kembali," tulis Hanoch Milwidsky, seorang anggota parlemen senior dari partai Likud pimpinan Netanyahu, di X, bersamaan dengan video pengunjuk rasa membakar ban di jalan raya.
Di sebuah kios yang menjual kaus dan pin untuk mendukung para sandera, Dan Perlman, seorang relawan, berusaha terdengar optimistis. "Kita semua di sini memiliki secercah harapan bahwa keadaan akan berubah, meskipun ada banyak kekecewaan. Ibu saya, yang telah menjadi relawan di sini sejak hari ketiga, mungkin lebih optimistis daripada saya. Saya tidak. Saya pikir sungguh gila jika situasi ini terus berlanjut selamanya," katanya.
Israel belum tanggapi kesepakatan gencatan senjata
Einav Zangauker, ibu dari sandera Matan Zangauker yang masih ditahan Hamas, mengatakan kepada kerumunan yang berkumpul di Tel Aviv bahwa "seluruh bangsa ini terbebani oleh pemerintah ini." Ia mengkritik Netanyahu karena melanjutkan "kampanyenya untuk menggagalkan kesepakatan" potensi gencatan senjata dengan Hamas.
Para mediator internasional mengatakan mereka masih menunggu tanggapan resmi dari Israel terkait perjanjian gencatan senjata yang didukung AS saat ini, yang disetujui Hamas pekan lalu. Seorang perwakilan Kementerian Luar Negeri Qatar, yang telah mengoordinasikan perundingan antara kedua belah pihak, mengatakan "upaya untuk mengulur waktu dengan memindahkan lokasi atau taktik lain sudah jelas bagi komunitas internasional, dan sudah saatnya bagi Israel untuk memberikan jawaban serius atas apa yang telah disepakati sebelumnya."
Netanyahu baru-baru ini tampaknya telah bergeser dari mengejar kesepakatan parsial, yang akan membebaskan 10 sandera hidup dan 18 sandera mati dengan imbalan tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Kini, ia tampaknya hanya bersedia membahas kesepakatan komprehensif untuk membebaskan seluruh 50 sandera.
Namun, pada saat yang bersama,an Netanyahu juga telah memerintahkan militer Israel untuk mempercepat persiapan serangan daratnya di Kota Gaza. Ia telah mengabaikan peringatan dari kepala stafnya bahwa serangan skala besar di Kota Gaza akan membahayakan nyawa sekitar 20 sandera yang diyakini masih hidup, yang membuat marah banyak kerabat dan mantan sandera.
"Saya tidak bersedia mengorbankan siapa pun demi ambisi mesianis untuk menghancurkan Hamas," kata mantan sandera Gadi Moses dalam sebuah wawancara dengan Radio Angkatan Darat pada hari Selasa. Ia mengatakan kondisi Hamas tidak berubah sejak Oktober 2023, dan bahwa pemerintah Israel harus menyetujui kesepakatan tersebut. "Mereka [Hamas] tidak mundur dari posisi mereka. Mereka terus mengatakan hal yang sama: Akhiri pertempuran dan tinggalkan Gaza."
Lebih dari 62.000 warga Palestina tewas dalam perang Gaza
Rencana terbaru tentara Israel untuk menyerbu Kota Gaza akan menjadi bencana bagi warga Palestina yang telah berjuang melawan kelaparan, pengungsian, dan pemboman terus-menerus. Meskipun invasi penuh dilaporkan direncanakan pada pertengahan September, Israel terus menyerang Gaza dalam beberapa hari terakhir, dengan tank-tank menyerbu beberapa permukiman di Kota Gaza di tengah kemarahan global yang intens atas serangan ganda Israel terhadap rumah sakit Khan Younis pada hari Senin (23/08) yang menewaskan 20 orang, termasuk tenaga medis dan lima jurnalis.
Di antara para pengunjuk rasa, minoritas kecil juga mengadvokasi diakhirinya penderitaan warga Palestina di Gaza. Namun, jajak pendapat terbaru oleh pusat aChord menunjukkan bahwa 42% publik Yahudi setuju dengan klaim pemerintah bahwa tidak ada orang tak bersalah di Gaza, sementara 34% sebagian setuju dengan hal ini.
"Jumlah korban Palestina sekarang di atas 62.000, di antaranya banyak anak-anak," ujar Maya Rosenfeld, seorang sosiolog di Universitas Ibrani Yerusalem yang ikut serta dalam demonstrasi lain akhir pekan lalu di Yerusalem, kepada DW. "Jika kita telah mencapai titik ini dan hal ini belum menyebabkan sebagian besar masyarakat Israel turun ke jalan demi rakyat Palestina, saya tidak yakin transformasi seperti itu akan terjadi dalam waktu dekat."
Dalam beberapa pekan terakhir, puluhan ribu warga Israel telah menerima surat panggilan untuk bertugas di militer cadangan mulai 2 September dan seterusnya. Belum jelas berapa banyak yang akan merespons, mengingat mereka telah menjalani beberapa tugas di Gaza, di perbatasan Israel dengan Lebanon atau Suriah, atau di Tepi Barat yang diduduki selama 22 bulan terakhir.
"Begitu banyak orang memiliki anak di militer dan hampir mustahil bagi mereka untuk menganggap anak-anak mereka sebagai pelaku genosida," kata Rosenfeld, merujuk pada perdebatan internasional yang menggambarkan perang di Gaza sebagai genosida. "Dan mereka percaya bahwa mungkin setelah semua ini berakhir, mereka akan dapat kembali ke kehidupan normal mereka seolah-olah tidak terjadi apa-apa."
Dan Cohen, yang juga ikut serta dalam protes hari Sabtu lalu, mengatakan penting baginya untuk mengingatkan pemerintah bahwa mereka seharusnya melayani rakyat, bukan sebaliknya.
Saat berbicara dengan DW, seorang pengunjuk rasa sayap kanan mengangkat sebuah spanduk di dekatnya dalam bahasa Ibrani bertuliskan, "Pendudukan, deportasi, pemukiman" — sebuah slogan yang menggaungkan kebijakan yang dipromosikan oleh beberapa anggota kabinet Netanyahu untuk warga Palestina di Gaza. Namun, jajak pendapat secara konsisten menunjukkan bahwa hingga 80% publik Israel mendukung kesepakatan dan diakhirinya perang — sebagian besar karena khawatir akan dampaknya terhadap masyarakat dan ekonomi Israel. Namun, tidak semua orang turun ke jalan.
"Suara dan tuntutan kami untuk mengakhiri perang, untuk mengakhiri penderitaan, untuk membawa kembali para sandera adalah suara yang sangat penting, tidak hanya di luar Israel, tetapi terutama di dalam Israel," kata Cohen. "Suara-suara ini digaungkan oleh banyak orang di dalam ruangan dan dalam percakapan di rumah, kami menyuarakannya di jalan dan memastikan orang-orang akan melihatnya."
Serangan dari Yaman
Sementara itu militer Israel mengatakan telah mencegat sebuah pesawat tanpa awak yang diluncurkan dari Yaman pada hari Kamis (26/08) , setelah sirene berbunyi di permukiman dekat Jalur Gaza.
Tidak ada yang langsung mengaku bertanggung jawab atas pesawat tanpa awak tersebut, tetapi pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran telah berulang kali meluncurkan rudal dan pesawat tanpa awak ke Israel sejak serangan sekutu Palestina mereka, Hamas, pada Oktober 2023 ke Israel memicu perang Gaza.
"Setelah sirene infiltrasi pesawat musuh berbunyi beberapa saat yang lalu di permukiman dekat Jalur Gaza, sebuah UAV yang diluncurkan dari Yaman berhasil dicegat oleh (angkatan udara Israel)," demikian pernyataan militer Israel.
Pada hari Rabu (26/07) juga, militer Israel mengatakan telah mencegat sebuah rudal yang ditembakkan dari Yaman. Rudal tersebut kemudian diklaim oleh pemberontak Huthi.
Houthi, yang mengaku bertindak untuk mendukung Palestina, menghentikan serangan mereka selama gencatan senjata dua bulan di Gaza yang berakhir pada bulan Maret, tetapi melanjutkannya setelah Israel melanjutkan operasi besar. Israel telah melancarkan beberapa serangan balasan di Yaman, menargetkan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Huthi dan bandara di ibu kota Sanaa yang dikuasai pemberontak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

India dan China Sepakat Jadi Mitra, Bukan Rival, di Tengah Tekanan Barat

 

Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa kedua negara adalah mitra pembangunan, bukan rival.

Kesepakatan itu tercapai dalam pertemuan bilateral di sela-sela KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Tianjin, Minggu (31/8/2025).

Pertemuan ini menjadi kunjungan pertama Modi ke China dalam tujuh tahun terakhir, dengan agenda utama memperkuat kerja sama dagang di tengah ketidakpastian global akibat tarif tinggi.

Latar Belakang Geopolitik

Kesepahaman Modi dan Xi muncul beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif hingga 50% atas barang India, sebagian sebagai respons terhadap pembelian minyak Rusia oleh New Delhi.

Kebijakan tersebut merusak hubungan AS–India yang selama ini dibangun untuk menyeimbangkan pengaruh Beijing di kawasan.

Menurut analis, India dan China kini semakin mencari ruang untuk menyelaraskan posisi menghadapi tekanan dari Barat, sembari menunjukkan solidaritas Global South bersama Rusia, Iran, Pakistan, dan negara-negara Asia Tengah.

Fokus Hubungan Dagang dan Perbatasan

Dalam pertemuan itu, Modi menekankan komitmen India untuk memperbaiki hubungan dengan China, termasuk mengurangi defisit perdagangan bilateral yang kini mencapai US$99,2 miliar.

“Kami berkomitmen membangun hubungan berdasarkan saling menghormati dan kepercayaan,” kata Modi melalui video di akun resminya di X.

Ia juga menekankan pentingnya stabilitas di perbatasan Himalaya, yang sempat memanas akibat bentrokan 2020 dan berujung pada pengerahan militer selama lima tahun.

Xi menegaskan hal senada. Menurutnya, kedua negara harus memandang satu sama lain sebagai peluang pembangunan, bukan ancaman.

“Kita tidak boleh membiarkan isu perbatasan mendefinisikan keseluruhan hubungan China–India,” ujar Xi, dikutip Xinhua.

Normalisasi Bertahap

Sekretaris Luar Negeri India Vikram Misri menyebut situasi di perbatasan “bergerak menuju normalisasi” setelah tercapainya kesepakatan patroli bersama pada Oktober tahun lalu.

Selain itu, kedua pemimpin membahas situasi ekonomi global, tantangan perdagangan adil, serta isu terorisme di forum multilateral.

Langkah nyata juga mulai terlihat, antara lain: rencana pemulihan penerbangan langsung India–China yang terhenti sejak 2020, pencabutan pembatasan ekspor China atas rare earth, pupuk, dan mesin pengebor terowongan, dan pelonggaran aturan visa turis dan izin ziarah ke situs Hindu–Buddha di Tibet.

Tantangan Jangka Panjang

Meski ada sinyal positif, sejumlah hambatan tetap membayangi hubungan bilateral. India masih khawatir atas rencana pembangunan bendungan raksasa China di Tibet yang dapat mengurangi aliran air Sungai Brahmaputra hingga 85% di musim kering.

Selain itu, isu lama seperti keberadaan Dalai Lama di India dan hubungan erat China dengan Pakistan masih menjadi sumber sensitivitas politik.

Namun, banyak pihak menilai pertemuan Modi–Xi kali ini memberi tanda adanya keinginan kedua belah pihak untuk menstabilkan hubungan, seiring dinamika geopolitik global yang kian tajam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemberontak Houthi Gerebek Kantor PBB di Yaman, Setidaknya 11 Staf Ditahan

Kelompok pemberontak Houthi yang berafiliasi dengan Iran melakukan penggerebekan ke sejumlah kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di ibu kota Yaman, Sana’a, pada Minggu (31/8/2025).

Sedikitnya 11 staf PBB ditahan, demikian pernyataan resmi lembaga internasional itu.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan, pasukan Houthi secara paksa memasuki kantor World Food Programme (WFP), menyita sejumlah properti PBB, serta berusaha menerobos kantor-kantor PBB lainnya di Sana’a.

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah serangan udara Israel di Sana’a pada Kamis (28/8) yang menewaskan perdana menteri pemerintahan Houthi serta beberapa menteri lainnya.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg dalam pernyataan terpisah menjelaskan bahwa 11 staf tersebut ditahan di dua lokasi, yakni Sana’a dan kota pelabuhan Hodeidah.

Beberapa badan PBB lain yang memiliki kantor di kedua kota tersebut antara lain UNICEF, UNDP, dan kantor UNHCR.

Grundberg menambahkan, penahanan terbaru ini menambah daftar panjang staf PBB yang ditahan oleh Houthi.

Sebelumnya, terdapat 23 staf PBB lain yang masih ditahan sejak 2021, dan satu di antaranya dilaporkan meninggal dunia dalam tahanan pada tahun ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kim Jong Un Tinjau Lini Produksi Rudal Baru, KCNA: Tingkatkan Kesiapan Tempur Korut

 

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un meninjau lini produksi rudal baru sekaligus proses otomatisasi pembuatan rudal, demikian dilaporkan media pemerintah KCNA pada Senin (1/9/2025).

Kunjungan Kim pada Minggu (31/8) tersebut berlangsung menjelang rencananya bertolak ke Beijing untuk menghadiri parade militer bersama Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Korea Utara hingga kini masih berada di bawah sanksi internasional yang ketat akibat program nuklir dan rudal balistiknya, yang dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Namun, para analis dan pejabat internasional menilai efektivitas sanksi itu mulai berkurang seiring menguatnya dukungan ekonomi, militer, dan politik dari Rusia serta China.

Menurut KCNA, Kim menegaskan bahwa proses produksi yang telah dimodernisasi akan membantu meningkatkan kesiapan tempur satuan-satuan utama rudal Korea Utara.

Selama beberapa waktu terakhir, Korea Utara diketahui telah mengirimkan personel militer, amunisi artileri, serta rudal ke Rusia untuk mendukung Moskow dalam perang melawan Ukraina.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menteri Perdagangan India: New Delhi Tak akan Tunduk kepada AS karena Tarif

Menteri Perdagangan India menegaskan, negaranya bermaksud merebut pasar baru dan tidak akan tunduk atau terlihat lemah di hadapan AS.

Ini merupakan pernyataan publik pertamanya sejak tarif tinggi 50% AS untuk barang-barang India mulai berlaku.

Mengutip Reuters, berbicara di sebuah acara industri konstruksi di New Delhi pada hari Jumat, Piyush Goyal mengatakan India selalu siap jika ada yang ingin memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan negaranya. Namun, ia menambahkan, India "tidak akan tunduk atau terlihat lemah".

"Kami akan terus bergerak bersama dan merebut pasar-pasar baru," tegasnya.

Pernyataan tersebut muncul ketika tarif tinggi atas banyak impor India ke AS mulai berlaku minggu ini sebagai hukuman atas pembelian besar-besaran minyak Rusia oleh New Delhi.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya AS untuk menekan Moskow agar mengakhiri perang lebih dari tiga tahun di Ukraina.

Sejak kembali ke Gedung Putih tahun ini, Presiden AS Donald Trump telah menggunakan tarif sebagai alat kebijakan yang luas, di mana pungutan tersebut mengacaukan perdagangan global.

Serangan tarif terbaru dari Trump telah menegangkan hubungan AS-India. New Delhi sebelumnya mengkritik pungutan tersebut sebagai kebijakan yang tidak adil, tidak dapat dibenarkan, dan tidak masuk akal.

Perundingan perdagangan antara kedua negara tersendat terkait pasar pertanian dan susu.

Trump menginginkan akses AS yang lebih besar, sementara Perdana Menteri India Narendra Modi bertekad untuk melindungi para petani India, sebuah blok pemilih yang besar.

AS adalah tujuan ekspor utama India pada tahun 2024, dengan pengiriman senilai US$ 87,3 miliar.

Para analis telah memperingatkan bahwa bea masuk sebesar 50% serupa dengan embargo perdagangan dan kemungkinan akan merugikan perusahaan-perusahaan kecil.

Eksportir tekstil, makanan laut, dan perhiasan dilaporkan telah membatalkan pesanan AS di tengah kerugian dari pesaing seperti Bangladesh dan Vietnam, yang meningkatkan kekhawatiran akan PHK besar-besaran.

Goyal mengatakan pada hari Jumat bahwa pemerintah akan merilis beberapa langkah dalam beberapa hari mendatang untuk mendukung setiap sektor dan meningkatkan ekspor.

"Saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa ekspor India tahun ini akan melampaui angka 2024-25," tegasnya.

Sementara itu, beberapa hari setelah tarif AS terhadap India mulai berlaku, Pengadilan Banding AS untuk Sirkuit Federal di Washington, DC, sebagian besar telah menguatkan keputusan bulan Mei yang menyatakan Trump telah melampaui kewenangannya dalam mengenakan tarif universal kepada semua mitra dagang AS.

Trump telah menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional untuk membenarkan langkah tersebut, dengan mengklaim bahwa defisit perdagangan dengan negara lain merupakan "darurat nasional".

Namun, pengadilan banding mempertanyakan logika tersebut dalam keputusan hari Jumat, dengan menolak tarif menyeluruh tersebut.

Pemerintahan Trump diperkirakan akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung, dan oleh karena itu pengadilan banding menyatakan bahwa kebijakan tarifnya dapat tetap berlaku hingga 14 Oktober.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post