News Komoditi & Global ( Selasa, 27 Januari 2026 )
News Komoditi & Global
( Selasa, 27 Januari 2026 )
Harga Emas Global Menguat, Ketegangan Geopolitik Picu Perburuan Aset Aman
Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Senin (26/1/2026), menembus level US$ 5.100 per ons.
Lonjakan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven). Kenaikan tajam juga terjadi pada perak dan platinum yang sama-sama menyentuh rekor baru.
Harga emas spot naik sekitar 2% ke US$ 5.077,22 per ons pada siang hari waktu New York, setelah sempat menyentuh rekor US$ 5.110,50. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup menguat 2,1% di level US$ 5.082,50 per ons.
Penguatan emas terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang masih tinggi. Presiden Sprott Inc, Ryan McIntyre, mengatakan harga emas terus ditopang oleh meningkatnya risiko global.
Selain itu, bank sentral di berbagai negara tetap agresif membeli emas untuk mendiversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Arus dana investor ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas fisik juga kembali meningkat signifikan.
Sentimen pasar kian memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan mengenakan tarif 100% terhadap Kanada jika negara itu melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.
Pernyataan ini menambah daftar ketegangan geopolitik yang menjadi katalis penguatan harga logam mulia sepanjang tahun ini.
Kepala riset BullionVault, Adrian Ash, menilai pergerakan harga logam mulia saat ini sangat dipengaruhi dinamika politik AS.
Menurutnya, gelombang investor ritel baru, terutama dari Asia dan Eropa, berbondong-bondong menambah kepemilikan emas dan perak sebagai lindung nilai.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati peluang intervensi mata uang terkoordinasi antara AS dan Jepang, serta agenda rapat Federal Reserve pekan ini yang diperkirakan menahan suku bunga.
Namun, perhatian investor teralihkan oleh tekanan politik terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, termasuk penyelidikan kriminal oleh pemerintahan Trump dan dorongan untuk menurunkan suku bunga.
Prospek penurunan suku bunga menjadi sentimen positif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik hampir 18%, setelah melonjak 64% sepanjang 2025.
Tahun lalu, emas juga mencatat sejarah dengan menembus level US$ 3.000 dan US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya.
Sejumlah analis masih melihat ruang kenaikan lanjutan. Societe Generale memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$ 6.000 per ons pada akhir tahun, meski menilai proyeksi tersebut bisa jadi masih konservatif.
Morgan Stanley juga menilai reli dapat berlanjut dengan target optimistis di kisaran US$ 5.700 per ons.
Lonjakan tajam juga terjadi pada perak. Harga perak spot mencetak rekor baru di US$ 117,69 per ons dan terakhir naik 10,2% ke US$ 113,46. Harga perak telah menembus level psikologis US$ 100 sejak akhir pekan lalu, didorong aksi beli investor ritel dan ketatnya pasokan fisik.
Analis UBS Giovanni Staunovo menyebut momentum perak masih kuat, meski harga tinggi berpotensi menekan permintaan industri.
Sementara itu, harga platinum spot naik 1,8% ke US$ 2.816,38 per ons setelah sempat menyentuh rekor US$ 2.918,80. Palladium juga melonjak 5,9% ke US$2.127,68 per ons, tertinggi sejak 2022.
Harga Minyak Dunia Turun Tipis, Pasar Cermati Dampak Badai Dingin dan Risiko Geopolitik
Harga minyak dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin (26/1/2026), setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 2%.
Pelemahan terjadi seiring pelaku pasar menilai dampak badai musim dingin terhadap produksi minyak di Amerika Serikat, sekaligus mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Minyak mentah Brent ditutup turun 29 sen atau 0,4% ke level US$ 65,59 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 44 sen atau 0,7% ke US$60,63 per barel.
Meski terkoreksi, kedua patokan harga tersebut masih mencatat kenaikan mingguan sekitar 2,7% dan ditutup pada level tertinggi sejak 14 Januari pada akhir pekan lalu.
Badai musim dingin yang melanda AS akhir pekan kemarin sempat mengganggu produksi minyak secara signifikan. Analis dan pelaku pasar memperkirakan produsen minyak AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari, setara sekitar 15% dari total produksi nasional.
Gangguan produksi diperkirakan mencapai puncaknya pada Sabtu, dengan Cekungan Permian menjadi wilayah terdampak paling besar, kehilangan sekitar 1,5 juta barel per hari.
Namun, kondisi mulai membaik pada Senin. Produksi yang dihentikan di Permian diperkirakan menyusut menjadi sekitar 700.000 barel per hari dan diproyeksikan pulih sepenuhnya pada 30 Januari.
Di sektor gas, tercatat sekitar dua lusin gangguan di fasilitas pengolahan gas dan stasiun kompresor di Texas. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan lebih dari 200 gangguan yang terjadi saat badai ekstrem pada 2021.
Dari sisi pasokan global, Kazakhstan bersiap melanjutkan produksi di ladang minyak terbesarnya. Meski demikian, sumber industri menyebut volume produksi masih rendah dan status force majeure untuk ekspor CPC Blend masih berlaku.
Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) menyatakan terminal Laut Hitam mereka telah kembali beroperasi penuh setelah pemeliharaan di salah satu titik sandar selesai.
Pelaku pasar juga tetap waspada terhadap risiko geopolitik. Ketegangan AS-Iran kembali menekan sentimen setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya memiliki “armada” yang bergerak menuju Iran, meski berharap tidak perlu digunakan.
Peringatan tersebut direspons keras oleh pejabat senior Iran yang menyebut setiap serangan akan dianggap sebagai perang total.
Menurut Dennis Kissler, Senior Vice President Trading di BOK Financial, harga minyak masih bergerak dalam fase menunggu kejelasan arah kebijakan AS terhadap Iran.
Selain itu, perkembangan pembicaraan damai Ukraina-Rusia-AS serta sikap OPEC yang cenderung mempertahankan kebijakan produksi saat ini juga menjadi faktor penekan harga.
OPEC+ diperkirakan akan melanjutkan penundaan kenaikan produksi untuk Maret dalam pertemuan mendatang, menurut sejumlah delegasi OPEC+.
Di sisi lain, Rystad Energy memperingatkan produksi shale oil AS berpotensi turun hingga 400.000 barel per hari pada 2026 jika negara-negara OPEC meningkatkan pangsa pasar dan harga minyak jatuh ke kisaran US$ 40 per barel.
Wall Street Ditutup Menguat Jelang Musim Laporan Keuangan dan Rapat The Fed
Indeks saham utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (26/1/2026), seiring investor bersiap menghadapi gelombang laporan keuangan emiten berkapitalisasi besar serta rapat kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang digelar pekan ini.
Melansir Reuters, indeks S&P 500 naik 34,52 poin atau 0,50% ke level 6.950,13. Nasdaq Composite menguat 102,54 poin atau 0,44% ke 23.603,78. Sementara Dow Jones Industrial Average melonjak 307,91 poin atau 0,63% ke 49.406,62.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan untuk hari keempat berturut-turut. Keduanya juga mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan, sekaligus membukukan reli terpanjang sejak Desember. Penguatan pasar terutama ditopang saham-saham raksasa teknologi.
Sejumlah emiten berkapitalisasi jumbo seperti Apple, Microsoft, Alphabet, Broadcom, dan Meta menjadi pendorong utama kinerja S&P 500.
Fokus investor kini tertuju pada laporan keuangan Apple, Meta, Microsoft, dan Tesla yang dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan. Laporan ini dinilai akan menjadi ujian penting bagi reli pasar yang selama ini ditopang optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI).
Investor menanti bukti nyata bahwa belanja besar di sektor AI mulai menghasilkan keuntungan. Di tengah valuasi saham teknologi yang sudah tinggi, proyeksi kinerja ke depan menjadi krusial karena sedikit saja kekecewaan berpotensi memicu koreksi.
“Pasar teknologi dan komunikasi terlihat bergerak positif menjelang rilis kinerja perusahaan-perusahaan besar,” kata Chief Investment Officer Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli.
Menurutnya, ekspansi laba korporasi yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi membuat investor tetap berhati-hati namun cenderung optimistis menyambut musim laporan keuangan.
Data LSEG mencatat, dari 64 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga Jumat lalu, sekitar 79,7% berhasil melampaui ekspektasi analis.
Dari sisi sektoral, jasa komunikasi menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi di S&P 500. Sebaliknya, sektor konsumer non-primer tertahan, terutama akibat pelemahan saham Tesla.
Sektor material juga menguat seiring lonjakan harga emas yang menembus level USD 5.000 per ons untuk pertama kalinya, mendorong saham perusahaan tambang seperti Newmont.
Perhatian pasar juga tertuju pada rapat The Fed yang dimulai Selasa dan berakhir Rabu waktu setempat. Pelaku pasar memperkirakan lebih dari 97% peluang bank sentral akan menahan suku bunga. Meski begitu, investor akan mencermati sinyal arah kebijakan suku bunga ke depan.
Namun, keputusan The Fed berpotensi dibayangi isu politik setelah Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan terkait Ketua The Fed Jerome Powell.
Presiden Donald Trump juga menyatakan calon ketua The Fed berikutnya bisa segera diumumkan, sehingga memicu kekhawatiran soal independensi bank sentral.
Di luar indeks utama, pergerakan saham individual cukup beragam. Saham Intel kembali tertekan setelah anjlok tajam pada akhir pekan lalu akibat proyeksi laba dan pendapatan yang di bawah perkiraan.
Saham maskapai JetBlue juga melemah di tengah gangguan besar jadwal penerbangan akibat badai musim dingin di wilayah timur AS.
Sementara itu, saham perusahaan pengelola penjara seperti GEO Group dan CoreCivic turun setelah senator Partai Demokrat menyatakan penolakan terhadap rancangan anggaran Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.
Sebaliknya, saham USA Rare Earth melonjak setelah muncul kabar pemerintah AS akan mengambil 10 persen saham perusahaan tersebut melalui paket investasi utang dan ekuitas.
Saham CoreWeave juga menguat setelah Nvidia mengumumkan rencana investasi senilai USD 2 miliar di perusahaan infrastruktur cloud tersebut.
Badai Musim Dingin Landa AS, 850.000 Rumah Padam Listrik & 10.000 Penerbangan Batal
Badai musim dingin besar melanda Amerika Serikat (AS) pada Minggu (25/1/2026), memicu pemadaman listrik massal, pembatalan ribuan penerbangan, serta gangguan perjalanan di wilayah timur dan selatan negara itu.
Dampaknya terasa luas, dari listrik hingga transportasi udara dan infrastruktur.
Data PowerOutage.us mencatat lebih dari 850.000 pelanggan di berbagai negara bagian kehilangan pasokan listrik.
Pemadaman terparah terjadi di Tennessee dengan sekitar 290.000 pelanggan, disusul Mississippi, Texas, dan Louisiana yang masing-masing mencatat lebih dari 100.000 pelanggan terdampak.
Negara bagian lain yang ikut terkena dampak antara lain Kentucky, Georgia, Virginia, dan Alabama.
Gangguan juga meluas ke sektor penerbangan. Situs pelacak penerbangan FlightAware melaporkan lebih dari 10.200 penerbangan di AS dibatalkan pada Minggu, setelah sekitar 4.000 penerbangan dibatalkan sehari sebelumnya.
Di Washington, Bandara Nasional Ronald Reagan bahkan menyatakan seluruh penerbangan pada Minggu dibatalkan.
Maskapai besar ikut menyesuaikan operasional. Delta Air Lines menyatakan hanya mengoperasikan jadwal terbatas, bergantung pada kondisi hujan es dan badai yang terus berubah.
Maskapai ini juga memindahkan tim ahli dari bandara-bandara wilayah dingin untuk membantu proses penghilangan es dan penanganan bagasi di sejumlah bandara selatan.
Dari sisi cuaca, Badan Meteorologi Nasional AS memperkirakan salju lebat masih akan turun dari Lembah Ohio hingga wilayah Timur Laut, dengan ketebalan mencapai 45 sentimeter di sebagian New England.
Sementara itu, wilayah Tenggara dan Mid-Atlantic diperkirakan diguyur hujan dan hujan es. Setelah badai berlalu, suhu diprediksi turun drastis dengan angin dingin ekstrem yang berpotensi memperpanjang gangguan perjalanan dan merusak infrastruktur.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah federal dan negara bagian bergerak cepat. Presiden Donald Trump menyetujui status darurat federal di 12 negara bagian, termasuk Carolina Selatan, Virginia, Tennessee, Georgia, hingga Mississippi.
Total 17 negara bagian dan Distrik Columbia telah menetapkan status darurat cuaca.
Pemerintah juga mengambil langkah di sektor energi. Departemen Energi AS mengeluarkan perintah darurat untuk mengizinkan penggunaan pembangkit cadangan di Texas serta memberi kelonggaran operasional jaringan listrik di wilayah Mid-Atlantic guna mencegah pemadaman bergilir.
Operator jaringan listrik di berbagai wilayah meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga stabilitas pasokan.
Perusahaan utilitas Dominion Energy memperingatkan badai ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar berdampak pada operasionalnya di Virginia, terutama karena wilayah tersebut menampung pusat data berskala besar.
Khamenei Sembunyi di Bunker: Iran Siaga Penuh Hadapi AS?
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan berpindah ke bunker bawah tanah yang diperkuat dengan jaringan terowongan di Teheran. Langkah ini diambil setelah para pejabat keamanan dan militer senior Iran memperingatkan meningkatnya kemungkinan serangan Amerika Serikat.
Laporan tersebut disampaikan media oposisi Iran, Iran International, pada Sabtu sore waktu setempat.
Melansir The Jerusalem Post, menurut laporan itu, Masoud Khamenei, yang merupakan putra ketiga Ayatollah Khamenei, kini mengambil alih pengelolaan tugas-tugas harian pemimpin tertinggi Iran. Ia disebut menjadi saluran utama komunikasi antara Khamenei dan cabang eksekutif pemerintahan rezim Iran.
Penilaian Iran bahwa risiko serangan Amerika Serikat meningkat muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kapal-kapal perang Amerika sedang bergerak menuju perairan dekat Iran.
“Kami memiliki banyak kapal yang bergerak menuju Iran,” kata Trump pada Jumat. Ia menambahkan bahwa dirinya “berharap kapal-kapal itu tidak perlu digunakan.”
Masih pada hari yang sama, seorang pejabat senior Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dianggap sebagai “perang total”. Pernyataan ini merupakan pesan yang berulang kali disampaikan Teheran dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, pada Selasa, kantor berita Iranian Students News Agency (ISNA), mengutip komisi keamanan nasional parlemen Iran, melaporkan bahwa setiap serangan terhadap Ayatollah Khamenei akan memicu deklarasi jihad.
Pada Minggu sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan bahwa serangan AS terhadap Khamenei “sama artinya dengan perang terbuka melawan bangsa Iran”.
Spekulasi soal kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap rezim Iran sempat mereda pekan lalu, ketika Trump memberi sinyal mundur dengan menyebut bahwa pembunuhan dalam penindakan keras Iran terhadap demonstrasi nasional mulai berkurang dan tidak ada rencana eksekusi massal.
Namun, laporan mengenai kekerasan aparat Iran terhadap para pengunjuk rasa terus bermunculan, meskipun negara itu memberlakukan pembatasan dan pemadaman internet.
Sebagai respons, Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Jumat menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran atas tindakan kerasnya terhadap demonstran.
Sementara itu, kelompok pemantau hak asasi manusia berbasis di AS, HRANA, melaporkan bahwa hingga Sabtu dini hari jumlah korban tewas akibat kerusuhan di Iran telah mencapai 5.137 orang, meski angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi.
Taiwan Waspadai Perubahan yang Dinilai Abnormal di Kepemimpinan Militer China
Taiwan tengah memantau perubahan yang disebut abnormal dalam jajaran kepemimpinan militer China setelah salah satu jenderal paling seniornya, Zhang Youxia, resmi menjalani penyelidikan, kata Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo, Senin (26/1/2026).
China mengumumkan pada Sabtu lalu bahwa Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat di bawah Presiden Xi Jinping, bersama pejabat tinggi lainnya, Liu Zhenli, sedang diselidiki karena dugaan pelanggaran serius terhadap disiplin dan hukum.
Zhang dikenal sebagai sekutu militer terdekat Xi dan merupakan salah satu dari sedikit perwira senior China yang memiliki pengalaman tempur, termasuk dalam konflik perbatasan dengan Vietnam pada 1979.
“Kami akan terus memantau secara dekat perubahan abnormal di tingkat atas partai, pemerintahan, dan militer China,” ujar Koo di hadapan awak media di parlemen.
Ia menegaskan, sikap militer Taiwan didasari fakta bahwa China tidak pernah menyingkirkan opsi penggunaan kekuatan terhadap Taiwan.
Koo menambahkan, kementeriannya tidak menilai perubahan pimpinan tunggal sebagai indikator cukup untuk menarik kesimpulan.
Taiwan akan mengandalkan berbagai metode intelijen, pemantauan, pengintaian, dan kerja sama berbagi informasi untuk memahami kemungkinan niat Beijing.
“Yang kami inginkan adalah pemahaman komprehensif terhadap seluruh indikator — baik militer maupun non-militer — yang mencerminkan niat dan tindakan China, lalu membuat penilaian menyeluruh,” katanya tanpa merinci lebih lanjut.
China, yang menilai Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, rutin mengirim pesawat tempur dan kapal perang ke wilayah udara dan perairan sekitar pulau tersebut, yang dilihat Taipei sebagai kampanye intimidasi agar pemerintah Taiwan menerima klaim kedaulatan Beijing.
China juga tidak pernah menolak penggunaan kekuatan untuk menguasai Taiwan, dan gelar latihan perang terakhir di sekitar pulau dilakukan pada akhir bulan lalu.
Pemerintah Taiwan menegaskan, hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri.
India Akan Memangkas Tarif Mobil Jadi 40% dalam Kesepakatan Dagang Dengan Uni Eropa
India berencana untuk memangkas tarif mobil impor dari Uni Eropa menjadi 40% dari sebelumnya 110%, menurut sumber yang dilansir Reuters, Minggu (25/1/2026).
Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi telah setuju untuk segera mengurangi pajak atas sejumlah mobil dari blok 27 negara dengan harga impor lebih dari 15.000 euro ($17.739), menurut dua sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut kepada Reuters.
Pajak ini akan diturunkan lebih lanjut menjadi 10% dari waktu ke waktu, imbuh sumber tersebut, sehingga memudahkan akses ke pasar India bagi produsen mobil Eropa seperti Volkswagen, Mercedes-Benz, dan BMW.
Sumber-sumber tersebut menolak untuk disebutkan namanya karena pembicaraan bersifat rahasia dan dapat mengalami perubahan di menit-menit terakhir. Kementerian Perdagangan India dan Komisi Eropa menolak berkomentar.
India dan Uni Eropa pada Selasa (27/1/2026P diperkirakan akan mengumumkan kesimpulan dari negosiasi panjang untuk pakta perdagangan bebas, setelah itu kedua pihak akan menyelesaikan detailnya dan meratifikasi apa yang disebut sebagai "induk dari semua kesepakatan".
Pakta ini dapat memperluas perdagangan bilateral dan meningkatkan ekspor barang-barang India seperti tekstil dan perhiasan, yang telah terpukul oleh tarif AS sebesar 50% sejak akhir Agustus.
India adalah pasar mobil terbesar ketiga di dunia berdasarkan penjualan setelah AS dan China, tetapi industri otomotif domestiknya telah menjadi salah satu yang paling terlindungi.
New Delhi saat ini mengenakan tarif 70% dan 110% pada mobil impor, tingkat yang sering dikritik oleh para eksekutif, termasuk CEO Tesla, Elon Musk.
New Delhi telah mengusulkan pengurangan bea impor menjadi 40% segera untuk sekitar 200.000 mobil bermesin pembakaran per tahun, kata salah satu sumber, langkah paling agresifnya hingga saat ini untuk membuka sektor ini.
Sumber tersebut menambahkan bahwa kuota ini dapat berubah sewaktu-waktu.
Kendaraan listrik baterai akan dikecualikan dari pengurangan bea impor selama lima tahun pertama untuk melindungi investasi oleh pemain domestik seperti Mahindra & Mahindra dan Tata Motors di sektor yang masih baru ini, kata kedua sumber tersebut.
Setelah lima tahun, kendaraan listrik akan mengikuti pemotongan bea impor serupa.
Pajak impor yang lebih rendah akan menjadi dorongan bagi produsen mobil Eropa seperti Volkswagen, Renault, dan Stellantis, serta pemain mewah Mercedes-Benz dan BMW yang memproduksi mobil secara lokal di India tetapi kesulitan untuk berkembang lebih jauh sebagian karena tarif yang tinggi.
Pajak yang lebih rendah akan memungkinkan produsen mobil untuk menjual kendaraan impor dengan harga lebih murah dan menguji pasar dengan portofolio yang lebih luas sebelum berkomitmen untuk memproduksi lebih banyak mobil secara lokal, kata salah satu dari dua sumber tersebut.
Produsen mobil Eropa saat ini memegang kurang dari 4% pangsa pasar mobil India yang mencapai 4,4 juta unit per tahun, yang didominasi oleh Suzuki Motor Jepang serta merek lokal Mahindra dan Tata yang bersama-sama memegang dua pertiga.
Dengan pasar India yang diperkirakan akan tumbuh menjadi 6 juta unit per tahun pada tahun 2030, beberapa perusahaan sudah mulai merencanakan investasi baru.
Renault kembali hadir di India dengan strategi baru karena berupaya meraih pertumbuhan di luar Eropa, di mana produsen mobil Tiongkok semakin kuat, dan Volkswagen Group sedang menyelesaikan tahap investasi selanjutnya di India melalui merek Skoda.
Presiden Xi Jinping Sebut China dan India Sebagai Tetangga, Sahabat, dan Mitra
Presiden China Xi Jinping menyatakan bahwa hubungan antara China dan India adalah tetangga yang baik, sahabat, dan mitra,saat menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden India Droupadi Murmu dalam peringatan Hari Republik India, menurut laporan resmi Xinhua pada Senin (26/1/2026).
Xi mengatakan, sepanjang tahun lalu, hubungan China-India terus membaik dan berkembang, yang memiliki makna besar dalam menjaga dan mendorong perdamaian serta kemakmuran dunia, seperti dikutip Xinhua.
Presiden China menegaskan, menjadi tetangga yang baik, sahabat, dan mitra adalah pilihan yang tepat bagi kedua negara.
Xi menggambarkan hubungan kedua negara sebagai naga dan gajah menari bersama, dan berharap kedua pihak dapat memperluas pertukaran, meningkatkan kerja sama, serta menangani kekhawatiran masing-masing untuk mendorong hubungan yang sehat dan stabil.
China dan India, sebagai negara tetangga di Asia dengan senjata nuklir, memiliki perbatasan sepanjang 3.800 km yang sebagian besar belum ditandai dengan jelas dan telah menjadi sengketa sejak 1950-an.
Hubungan kedua negara sempat tegang setelah bentrokan pada 2020, yang menewaskan 20 tentara India dan empat tentara China dalam pertempuran jarak dekat, sehingga perbatasan Himalaya dijaga ketat oleh kedua pihak.
Hubungan mulai membaik pada tahun lalu melalui serangkaian kunjungan bilateral tingkat tinggi.
Penerbangan langsung antara kedua negara kembali dibuka pada 2025, bersamaan dengan meningkatnya arus perdagangan dan investasi, terutama di tengah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang lebih konfrontatif.
CEO JPMorgan: Perang Dunia III Sudah Dimulai? Ini Dampaknya ke Ekonomi
CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, kembali memantik perdebatan global setelah menyebut bahwa Perang Dunia III sejatinya sudah dimulai. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam pertemuan tahunan Institute of International Finance di Washington DC pada Oktober 2024.
Money Wise melaporkan, menurut Dimon, ancaman perang dan proliferasi senjata nuklir saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan perubahan iklim.
“Perang Dunia III sudah dimulai. Kita sudah melihat pertempuran di berbagai negara yang saling terkoordinasi,” ujar Dimon.
Meski pernyataan itu menuai kontroversi, satu hal yang tak bisa dipungkiri: ketegangan geopolitik global terus meningkat sejak komentar tersebut dilontarkan.
Saat itu, Dimon menyoroti potensi konflik antara negara-negara Barat dengan China, Rusia, Iran, dan Korea Utara sebagai risiko utama, bahkan melampaui ancaman gejolak pasar keuangan global.
Ia juga mengungkapkan bahwa JPMorgan Chase telah menyusun berbagai skenario ekstrem untuk menghadapi kemungkinan konflik global.
“Skenario-skenario itu akan membuat Anda terkejut,” kata Dimon.
Memang, Perang Dunia III secara resmi belum terjadi. Namun sejak akhir 2024, eskalasi geopolitik justru semakin terasa, sebagian dipicu oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Dalam setahun terakhir, pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif besar-besaran tidak hanya kepada China dan Rusia, tetapi juga terhadap sekutu dekat seperti Kanada dan Uni Eropa.
AS bahkan menuai kritik internasional setelah Trump berulang kali menyatakan keinginan agar Amerika Serikat “memiliki” Greenland, demi mengamankan sumber daya mineral strategis. Setelah ketegangan berlarut-larut, Trump mengumumkan kerangka kesepakatan sementara dengan Sekjen NATO Mark Rutte usai World Economic Forum 2026.
Langkah ini mendapat penolakan keras dari banyak pemimpin dunia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa ancaman tarif tidak dapat diterima dan Eropa siap merespons secara bersama-sama. Sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan bahwa masa depan Greenland sepenuhnya hak rakyat Greenland dan Denmark.
Bahkan dari internal Partai Republik, kritik bermunculan. Anggota DPR AS Don Bacon menyebut ancaman terhadap Greenland sebagai tindakan “absurd” dan tidak pantas terhadap sekutu NATO.
Bukan hanya politisi yang khawatir. Laporan S&P Global tahun 2025 mencatat bahwa dunia yang selama puluhan tahun didorong globalisasi kini berubah menjadi dunia yang didominasi risiko geopolitik.
Ketidakpastian ini berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi global, inflasi, pasar keuangan, hingga rantai pasok.
Tak heran, banyak masyarakat merasa bingung menentukan langkah terbaik untuk melindungi keuangan mereka di tengah situasi yang semakin tak menentu.
Dalam kondisi geopolitik yang bergejolak, dampaknya bisa merembet hingga tabungan dan dana pensiun. Karena itu, bekerja sama dengan penasihat keuangan profesional dinilai penting untuk menjaga stabilitas jangka panjang.
Penasihat yang berstatus fidusia secara hukum wajib mengutamakan kepentingan klien, membantu menyusun strategi investasi yang lebih tahan guncangan pasar.
Saat ketidakpastian meningkat, banyak orang tergoda menyimpan uang tunai. Namun para investor kawakan justru mengingatkan sebaliknya.
Warren Buffett pernah mengatakan bahwa dalam perang besar, nilai uang justru cenderung turun. Inflasi yang biasanya menyertai konflik membuat uang tunai kehilangan daya beli.
Aset yang menghasilkan imbal hasil—seperti saham, obligasi, dan instrumen alternatif—dinilai lebih mampu melawan inflasi dibanding sekadar menyimpan uang tunai.
Tidak semua aset aman. Jamie Dimon sendiri memperingatkan risiko di sektor properti komersial, terutama gedung perkantoran dan proyek konstruksi tertentu yang terdampak krisis perbankan regional AS.
Sejak pandemi, banyak bisnis ritel fisik terpukul, sehingga berdampak langsung pada pendapatan pemilik properti. Karena itu, selektivitas menjadi kunci utama.
Di tengah kondisi ini, aset yang tahan krisis menjadi incaran. Namun, menemukan instrumen semacam itu membutuhkan keahlian dan analisis mendalam.
Bagi investor ritel, bekerja sama dengan platform atau manajer investasi berpengalaman dapat membuka akses ke aset berkualitas institusional yang sebelumnya hanya bisa dijangkau investor besar.
Pasar saham cenderung bereaksi keras terhadap isu perang, bahkan hanya dari rumor. Ketidakpastian adalah musuh utama pasar.
CEO Goldman Sachs David Solomon pernah memperingatkan potensi koreksi pasar saham sebesar 10–20% dalam 12 hingga 24 bulan.
Karena itu, diversifikasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Investor kelas dunia seperti Jeff Bezos dan Bill Gates tetap berinvestasi di saham, namun juga menyisihkan portofolio mereka ke aset alternatif yang pergerakannya tidak selalu sejalan dengan pasar saham.
Korea Selatan Membidik US$27 Miliar dari Proyek Kapal Selam Kanada
Delegasi Korea Selatan yang dipimpin Kepala Staf Kepresidenan Kang Hoon-sik bertolak ke Kanada pada Senin (26/1/2026) untuk melobi pemerintah setempat dalam upaya memenangkan kontrak besar pengadaan kapal selam.
Kang berangkat bersama Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan, jajaran eksekutif Hyundai Motor, serta perwakilan galangan kapal Hanwha dan HD Hyundai Heavy Industries.
Korea Selatan tengah bersaing ketat dengan TKMS asal Jerman dalam proyek pengadaan armada kapal selam baru Kanada.
Sumber industri memperkirakan nilai proyek tersebut melampaui US$12 miliar, menjadikannya salah satu proyek pengadaan pertahanan terbesar yang saat ini berjalan.
Sebelum keberangkatan, Kang mengakui persaingan tidak mudah, mengingat Jerman merupakan kekuatan besar di sektor manufaktur pertahanan.
“Mengingat kami bersaing dengan negara manufaktur besar seperti Jerman, prospeknya tentu tidak mudah,” ujar Kang kepada wartawan.
Meski demikian, ia menyatakan optimismenya dapat meyakinkan Kanada dengan keunggulan teknologi Korea Selatan.
“Saya berharap dapat menyampaikan secara langsung kinerja unggul kapal selam kami, serta komitmen pemerintah Korea Selatan untuk memperluas kerja sama industri dan keamanan antara kedua negara,” tambahnya.
Menurut Kang, apabila Korea Selatan berhasil memenangkan tender tersebut, proyek kapal selam Kanada berpotensi memberikan manfaat ekonomi lebih dari 40 triliun won atau sekitar US$27,6 miliar, sekaligus menciptakan sekitar 20.000 lapangan kerja di Korea Selatan.
Pekan lalu, CEO TKMS Oliver Burkhard mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan Jerman tersebut tengah berdiskusi dengan sejumlah perusahaan Norwegia dan Jerman untuk menawarkan paket investasi bernilai miliaran dolar AS kepada Kanada demi memenangkan tender tersebut.
Sementara itu, Hanwha Group juga menyatakan pada Jumat (24/1) bahwa mereka menargetkan penciptaan banyak lapangan kerja di Kanada hingga 2040, melalui kerja sama lintas sektor, termasuk di bidang kapal selam.
Komandan IRGC Ingatkan AS: Kami Lebih Siap dari Sebelumnya, Jari Sudah Berada di Pelatuk
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang pasukannya menjadi elemen penting dalam meredam kerusuhan buntut gelombang demonstrasi di Iran belakangan ini, menegaskan bahwa mereka pun dalam posisi "lebih siap dari sebelumnya, dan memposisikan jari di pelatuk". Hal itu ditegaskan Komandan IRGC Jenderal Mohammad Pakpour, Sabtu (25/1/2026) merespons ancaman dari Amerika Serikat (AS) yang diduga akan melancarkan serangan dalam waktu dekat.
Nournews, sebuah portal berita yang dekat dengan Dewan Keamanan Nasional Iran melaporkan lewat kanal Telegram mereka bahwa Pakpour mengingatkan Amerika Serikat agar menghindari kesalahan kalkulasi. Ia menegaskan, IRGC dan rakyat Iran saat berada dalam kondisi sangat siap untuk mengeksekusi instruksi dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pernyataan Pakpour dilontarkannya di tengah semakin merapatnya armada laut AS ke kawasan Teluk. Presiden AS sebelumnya telah berulang kali mengingatkan Teheran, dua garis merah yang tidak boleh ditabrak oleh Iran yakni membunuh para demonstran dan eksekusi massal pemerotes yang ditangkapi oleh aparat.
Trump pekan lalu mengeklaim bahwa dirinya membatalkan atau menunda menyerang Iran usai Teheran tak jadi mengeksekusi mati 800 demonstran yang ditahan. Namun, klaim Trump itu kemudian dibantah oleh Jaksa Tinggi Iran, Mohammad Movahedi, bahwa Iran tidak pernah berencana mengeksekusi mati tahanan tanpa melalui proses hukum.
Pada Kamis (22/1/2026), Trump menginformasikan Pentagon mengerahkan kapal-kapal perang mereka menuju kawasan Teluk untuk berjaga-jaga jika Ia nantinya memutuskan menyerang Iran. "Kami punya armada kapal besar menuju arah sana dan mungkin kami tidak akan menggunakannya," ujar Trump.
Tak hanya Jenderal Pakpour, para komandan militer senior Iran juga menegaskan pentingnya persatuan di antara angkatan bersenjata dan menyatakan kesiapan mempertahankan negara “hingga titik darah penghabisan” di tengah apa yang mereka sebut sebagai ancaman potensi serangan AS. Menurut kantor berita Fars, Komandan Pasukan Darat Angkatan Darat Iran, Ali Jahanshahi, mengatakan persatuan internal militer merupakan kunci untuk menghadapi ancaman eksternal.
“Persatuan di antara angkatan bersenjata adalah kunci untuk menggagalkan musuh dalam situasi krisis,” kata Jahanshahi. “Angkatan bersenjata harus bertindak sebagai satu kesatuan agar musuh merasa tidak berdaya saat menghadapinya.”
Ia menyatakan Pasukan Darat Angkatan Darat akan berdiri bersama Pasukan Darat IRGC untuk mempertahankan Iran, seraya menegaskan bahwa tidak ada pengorbanan yang akan dihindari demi melindungi wilayah negara.
Dalam pernyataan terpisah, Komandan Pasukan Darat Garda Revolusi Islam Brigadir Jenderal Mohammad Karami juga menekankan pentingnya soliditas, dengan mengatakan bahwa persatuan di antara angkatan bersenjata Iran telah menggagalkan rencana musuh.
“Sinergi yang ada di antara angkatan bersenjata merupakan aset berharga yang harus dijaga dan diperkuat dengan sungguh-sungguh,” kata Karami.
Apa Sentimen Negatif tentang PBB Gaya Baru Versi Trump?
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengkritik Presiden AS Donald Trump karena berupaya menciptakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru dan menjadi pemilik tunggal badan internasional tersebut. “Alih-alih memperbaiki” Perserikatan Bangsa-Bangsa, “apa yang terjadi? Presiden Trump mengusulkan untuk menciptakan PBB baru di mana hanya dia yang menjadi pemiliknya,” kata Lula dalam pidatonya di sebuah acara pada hari Jumat. Lula membunyikan alarm tentang tatanan dunia baru yang diciptakan Trump, memperingatkan bahwa komunitas internasional menghadapi momen politik yang "sangat kritis" dalam dinamika global, dengan multilateralisme dipaksa keluar demi unilateralisme AS. Ia memperingatkan bahwa "piagam PBB sedang dihancurkan" oleh Trump. Lula mengatakan Trump mengganti piagam PBB dengan "hukum rimba" mengacu pada penggunaan militer AS untuk menekan tuntutan Washington. Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva telah berbicara melalui telepon mengenai berbagai masalah, termasuk tarif yang baru-baru ini dikenakan oleh Amerika Serikat pada barang-barang dari kedua negara. Lula selanjutnya mengkritik Trump karena mencoba "menguasai dunia." Trump "ingin menjalankan dunia," katanya. "Setiap hari dia mengatakan sesuatu, dan setiap hari dunia membicarakan apa yang dia katakan," kata presiden Brasil itu, dilansir Press TV. “Sungguh luar biasa.” Alih-alih menggunakan cara diplomatik untuk mengejar kebijakan luar negeri, “hukum yang terkuat” semakin membentuk hubungan internasional antar negara, katanya. Lula juga mengatakan bahwa rencananya adalah untuk menjajaki kemungkinan pertemuan internasional untuk menegaskan kembali komitmen negara-negara di dunia terhadap multilateralisme dan mencegah “kekuatan senjata dan intoleransi negara mana pun di dunia” untuk menang. Untuk menyelamatkan apa yang tersisa dari tatanan dunia, kata Lula, ia telah meningkatkan kontak diplomatiknya dengan rekan-rekannya di Rusia, Tiongkok, India, Hongaria, Meksiko, dan negara-negara lain dengan harapan dapat melawan unilateralisme AS dengan menciptakan respons internasional untuk memperkuat multilateralisme di seluruh dunia.
Eropa Tak Mampu Menahan Tekanan Trump, Berikut 4 Penyebabnya Versi Rusia
Eropa saat ini dipimpin oleh “generasi lemah” politisi yang tidak mampu menahan “ketegasan” Presiden AS Donald Trump. Itu diungkapkan juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam sebuah wawancara. Eropa Tak Mampu Menahan Tekanan Trump, Berikut 4 Penyebabnya Versi Rusia 1. AS Hanya Mengutamakan Kepentingannya Sendiri Ia menambahkan bahwa pemimpin AS mendasarkan pendekatan politiknya pada prinsip-prinsip bisnis yang keras dan tanpa ampun, menggunakannya untuk membela kepentingannya sendiri dan kepentingan negaranya. Baca Juga : Badai Musim Dingin Hantam AS, Aliran Listrik ke Ratusan Ribu Rumah Terputus Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos pada hari Selasa, Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak menerima “hukum yang terkuat” dan tunduk pada “penundukan.” Ia menuduh AS merusak kepentingan perdagangan negara-negara Eropa dengan tuntutan maksimalis dan tarif yang secara terbuka bertujuan untuk melemahkan dan menundukkan mereka. Pidato tersebut disampaikan setelah ancaman Trump untuk memberlakukan tarif baru terhadap negara mana pun yang menentang rencana aneksasi Greenland-nya. 2. Trump Suka Kekerasan “Trump tetap menjadi pendukung penyelesaian segala sesuatu dengan kekerasan,” kata Peskov. “Menurut pandangan kami, ini tentang menundukkan orang lain – dan mereka yang tunduk akan terus tunduk.” “Pada saat yang sama, metode seperti itu ‘tidak sepenuhnya selaras dengan pendekatan kami terhadap dunia multipolar,’” tambahnya. 3. Eropa Terlalu Munafik Peskov percaya bahwa perubahan yang terlihat di dunia dalam beberapa tahun terakhir berasal dari standar ganda dan kemunafikan yang mendominasi Eropa selama beberapa dekade. Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Pavel Zarubin, ia mengatakan Eropa telah “dijadikan gempar” setelah Trump mempublikasikan korespondensinya dengan Macron, menambahkan bahwa tidak ada reaksi serupa setelah Macron sendiri mempublikasikan dialognya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. 4. Trump Mempermalukan Pemimpin Eropa Trump membagikan apa yang diklaimnya sebagai pesan pribadi dari rekan sejawatnya dari Prancis minggu lalu. Teks tersebut, yang diunggah ke akun Truth Social milik Trump, menunjukkan Macron mengungkapkan kebingungannya atas rencana AS terkait Greenland dan menawarkan untuk menjadi tuan rumah pertemuan darurat G7 di Paris. Pada Februari 2022, beberapa hari sebelum eskalasi konflik Rusia-Ukraina, stasiun televisi France 2 merilis sebuah film dokumenter yang memuat detail percakapan rahasia antara Macron dan Putin.