News Komoditi & Global ( Rabu, 4 Maret 2026 )
News Komoditi & Global ( Rabu, 4 Maret 2026 )
Harga Emas Global Turun saat Kekhawatiran Inflasi Membebani di Tengah Konflik Timur Tengah
Harga Emas (XAU/USD) menghadapi beberapa tekanan jual di dekat $5.100 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Logam mulia ini jatuh di tengah pembaruan permintaan Dolar AS (USD) dan prospek pemotongan suku bunga AS yang semakin redup. Laporan Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Jasa ISM AS akan dipublikasikan pada hari Rabu.
Kekhawatiran inflasi muncul kembali seiring dengan kenaikan harga minyak, yang menyebabkan pasar mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Greenback naik ke level tertinggi tiga bulan, membuat Emas berdenominasi USD menjadi lebih mahal bagi para pembeli internasional. Pasar secara luas memprakirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tidak berubah hingga musim panas, meskipun Presiden AS, Donald Trump, telah mendorong penurunan suku bunga.
"Penurunan pada Emas tampaknya didorong oleh pelarian dana menuju likuiditas - pelarian dana menuju uang tunai. Kami punya dolar yang kuat dan imbal hasil obligasi yang diperdagangkan lebih tinggi," kata Bob Haberkorn, kepala strategi pasar di RJO Futures.
Namun, potensi penurunan logam kuning ini mungkin bersifat sementara, dan aliran pelarian dana menuju aset aman didorong oleh risiko geopolitik. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan semua personel telah teridentifikasi setelah sebuah drone mengenai area konsulat AS di Dubai, menurut CNN. AS sebelumnya menutup kedutaan di Arab Saudi, Kuwait, dan Lebanon serta memperingatkan warga Amerika untuk meninggalkan beberapa negara di kawasan tersebut. Sementara itu, tentara Israel melakukan invasi darat baru ke selatan Lebanon untuk menghancurkan Hezbollah dan meningkatkan serangan udara di negara tersebut.
Harga Minyak Dunia Melonjak saat Konflik Timur Tengah, Penutupan Selat Hormuz Mengancam Pasokan Minyak
West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di sekitar $74,50 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. WTI melonjak ke level tertinggi sejak Juni 2025 seiring dengan meluasnya konflik antara AS, Israel, dan Iran yang secara serius mengganggu pasokan energi global.
Pasukan Israel dan AS menyerang target di seluruh Iran pada hari Selasa, mendorong serangan balasan Iran di sekitar Teluk saat konflik menyebar ke Lebanon. Seorang komandan di Korps Pengawal Revolusi Islam (Islamis Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran mengatakan bahwa Selat Hormuz ditutup dan Iran akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pada Selasa malam bahwa angkatan laut AS akan menawarkan jaminan kepada kapal-kapal di Teluk setelah Iran sebagian besar berhasil menutup Selat Hormuz. Trump menambahkan bahwa militer AS akan menemani kapal-kapal melewati Selat Hormuz jika diperlukan. Risiko gangguan pasokan minyak di Timur Tengah dapat mendorong harga WTI dalam waktu dekat.
Menurut laporan mingguan American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah di AS untuk minggu yang berakhir 27 Februari meningkat sebesar 5,6 juta barel, dibandingkan dengan kenaikan 11,4 juta barel pada minggu sebelumnya. Konsensus pasar adalah 2,19 juta barel.
Para pedagang bersiap untuk menghadapi rilis laporan dari Energy Information Administration (EIA), yang akan dirilis nanti pada hari Rabu. Penurunan stok minyak mentah yang lebih besar dari yang diprakirakan mengindikasikan permintaan lebih kuat dan dapat mengangkat harga WTI, sementara peningkatan yang lebih besar dari yang diprakirakan menandakan permintaan lebih lemah atau pasokan berlebih, yang mungkin membebani harga WTI.
Wall Street Ditutup Melemah, Konflik Timur Tengah Memicu Kekhawatiran Inflasi
Indeks utama Wall Street ditutup melorot pada akhir perdagangan Selasa (3/3/2026), lantaran investor khawatir tentang berlanjutnya konflik Timur Tengah.
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 403,51 poin, atau 0,83%, menjadi 48.501,27, S&P 500 kehilangan 64,99 poin, atau 0,94%, menjadi 6.816,63 dan Nasdaq Composite kehilangan 232,17 poin, atau 1,02%, menjadi 22.516,69.
Penjualan meluas dan indeks Volatilitas CBOE mencatat level penutupan tertinggi sejak November. Meskipun demikian, indeks-indeks ditutup jauh di atas titik terendah hari itu, dengan S&P 500 berakhir turun 0,9% setelah jatuh lebih dari 2% di awal sesi.
Investor khawatir tentang dampak konflik, yang kini memasuki hari keempat, terhadap inflasi karena harga minyak melanjutkan kenaikan tajam. Pasukan Israel dan AS menyerang target di seluruh Iran, memicu serangan balasan Iran di sekitar Teluk saat konflik menyebar ke Lebanon.
"Tampaknya ada anggapan bahwa mungkin (perang Iran) akan berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan orang 24 jam yang lalu, karena konflik ini menyebar dan mulai berpotensi berdampak pada infrastruktur energi," kata Chuck Carlson, kepala eksekutif Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.
Namun, Selasa menandai hari kedua di mana indeks memangkas kerugian awal yang tajam.
Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital, mengatakan reaksi pasar terhadap konflik tersebut sejauh ini sangat tenang, yang menunjukkan toleransi investor terhadap risiko tetap relatif utuh.
Ia mencatat bahwa saham-saham perangkat lunak, yang baru-baru ini mengalami penurunan, menunjukkan kinerja yang lebih baik. Indeks perangkat lunak dan jasa S&P 500 naik 1,6%.
Sebagai sinyal yang berpotensi bearish, S&P 500 ditutup di bawah rata-rata pergerakan 100 hari untuk pertama kalinya sejak 20 November.
"Investor bergulat dengan volatilitas dan berita, dan mereka melihat portofolio mereka dan berkata, wah, ini bisa menjadi lebih buruk... Ini adalah ketakutan akan keadaan yang memburuk," kata Oliver Pursche, wakil presiden senior dan penasihat di Wealthspire Advisors di Westport, Connecticut.
"Tetapi saran kami kepada klien adalah untuk mundur selangkah dan menunggu dan melihat."
Saham Blackstone turun 3,8% setelah dana kredit andalannya, BCRED, mengalami lonjakan permintaan penarikan.
Ancaman Teheran untuk menyerang kapal apapun yang mencoba melintasi Selat Hormuz, dikombinasikan dengan penghentian produksi oleh beberapa produsen minyak dan gas Timur Tengah, telah mendorong kenaikan tarif pengiriman global dan harga minyak mentah serta gas alam.
Selat Hormuz, yang merupakan titik rawan kritis, mengangkut sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Presiden Donald Trump pada hari Selasa mengatakan bahwa ia telah memerintahkan International Development Finance Corporation (IDFC) AS untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan untuk perdagangan maritim yang melewati Teluk, menambahkan bahwa Angkatan Laut AS dapat mulai mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz jika perlu.
Investor khawatir bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempersulit keputusan kebijakan bank sentral yang sudah tertekan oleh kenaikan harga akibat tarif. Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik untuk sesi kedua berturut-turut.
Laporan: 787 Warga Sipil Iran Tewas Akibat Serangan AS-Israel
Jumlah korban jiwa akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah meningkat menjadi 787 orang. Demikian laporan Aljazirah, mengutip data yang disampaikan Bulan Sabit Merah Iran pada Selasa (3/3/2026).
Militer Israel dan AS mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu. Operasi ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa di sejumlah wilayah Iran. Pemimpin tertinggi negara republik Islam tersebut, Ayatullah Ali Khamenei, juga dilaporkan syahid usai kediamannya di Teheran menjadi sasaran serangan udara AS-Israel.
Sebelumnya, serangan gabungan Washington dan Tel Aviv pada Sabtu (28/2/2026) lalu menarget sebuah sekolah putri Shadjareh Tayebeh di Iran selatan. Menurut keterangan media setempat, sebanyak 165 orang kehilangan nyawa akibat serangan tersebut.
The Guardian melansir, video dan foto-foto setelah kejadian tersebut, yang telah diverifikasi keasliannya dan memiliki geolokasi ke lokasi tersebut, menunjukkan ratusan orang berkumpul di sekitar bangunan yang sebagian runtuh dan berasap, dengan puing-puing berserakan di jalan dan para lelaki menggali di dalamnya untuk mencari korban. Jeritan terdengar di latar belakang.
Dalam beberapa gambar, tas sekolah dan buku pelajaran ditarik dari puing-puing. Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, mengatakan AS "mengetahui laporan mengenai kerugian warga sipil akibat operasi militer yang sedang berlangsung. Kami menanggapi laporan ini dengan serius dan sedang menyelidikinya."
Di Washington DC, Presiden AS Donald Trump menyatakan, operasi militer negaranya bersama dengan Israel terhadap Iran bisa berlangsung sekira empat pekan. Ia juga mengakui konsekuensi dengan durasi perang tersebut akan ada korban jiwa dari kalangan militer AS.
"Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat pekan atau kurang," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Daily Mail, dilansir Selasa (3/3/2026).
Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh Reuters/Ipsos menunjukkan, hanya satu dari empat warga AS yang menyetujui serangan militer negaranya terhadap Iran. Agresi yang dilakukan bersama Israel tersebut telah menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran konflik.
Berdasarkan survei tersebut, hanya 27 persen responden AS yang menyatakan setuju terhadap serangan yang dimulai sejak Sabtu (28/2/2026) dini hari dan menewaskan pemimpin Iran tersebut. Sebaliknya, sebanyak 43 persen responden menyatakan tidak setuju. Adapun 29 persen lainnya mengaku ragu-ragu.
Jajak pendapat yang berakhir pada Ahad (1/3/2026) ini juga mengungkapkan bahwa 56 persen warga AS menilai Presiden Donald Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk memajukan kepentingan AS. Pandangan ini dianut oleh 87 persen pendukung Partai Demokrat, 60 persen pemilih independen, dan secara mengejutkan didukung oleh 23 persen pendukung Partai Republik.
Petinggi Rusia Ungkap Kesalahan Besar AS Membunuh Ayatollah Ali Khamenei, Singgung Perang Dunia
Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan bahwa Presiden AS Donald Trump dapat memicu Perang Dunia III dengan operasi penggulingan 'rezim' terhadap negara lain.
Dalam sebuah wawancara dengan TASS yang diterbitkan pada Senin, Medvedev, yang sekarang menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, ditanya apakah Perang Dunia III telah dimulai.
“Secara teknis, tidak, tetapi jika Trump melanjutkan tindakan gilanya dalam perubahan rezim kriminal, itu pasti akan dimulai. Dan peristiwa apa pun bisa menjadi pemicunya. Apa pun,” katanya.
Menurutnya, serangan terhadap Iran adalah bagian dari perang yang lebih luas oleh AS dan sekutunya untuk mempertahankan dominasi global.
Medvedev memandang Trump telah melakukan 'kesalahan besar' dengan membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Pembunuhan itu menempatkan semua warga Amerika dalam risiko.
"Setelah kematiannya, tidak diragukan lagi bahwa Iran akan melipatgandakan upayanya untuk mengembangkan senjata nuklir,” kata Medvedev.
Ketika ditanya apakah Iran mampu bertahan menghadapi konflik dan kematian para pemimpinnya? ia tak menampik biaya pembangunan kembali akan besar. Namun ia yakin Republik Islam akan berhasil.
“Hal itu membutuhkan konsolidasi sosial yang tinggi. Dan Amerika telah menyediakan konsolidasi ini,” katanya.
Ketika ditanya apakah Rusia berisiko diserang di tengah negosiasi suatu hari nanti seperti yang dialami Iran? Medvedev menjawab bahwa hanya ada satu jaminan hal itu tidak akan terjadi. “AS takut pada Rusia dan mengetahui biaya konflik nuklir.”
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan, negaranya siap terlibat dalam perang jangka panjang. Pernyataan tersebut dia tujukan langsung kepada Amerika Serikat (AS).
"Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang jangka panjang," tulis Larijani lewat akun X pribadinya, Senin (2/3/2026).
Dia menekankan, negaranya tak memulai perang yang kini tengah berlangsung. Oleh sebab itu Iran siap membela diri dengan sengit apapun konsekuensinya. "(Iran) akan membuat musuh-musuhnya menyesal atas miskalkulasi mereka," ujar Larijani.
Pernyataan Larijani muncul saat Iran masih melancarkan serangan balasan terhadap AS dan Israel. Pada Sabtu (28/2/2026) pekan lalu, AS dan Israel diketahui melancarkan serangan udara gabungan ke sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan mereka turut membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pascaserangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan. Iran membidik fasilitas dan pangkalan militer AS yang berada di beberapa negara Teluk Arab. Mereka pun menembakkan rudal ke wilayah Israel, termasuk ibu kota Tel Aviv.
Militer AS telah mengumumkan bahwa terdapat empat tentaranya yang terbunuh serangan Iran. “Pada pukul 7:30 pagi ET (1130 GMT), 2 Maret, empat anggota militer AS telah tewas dalam pertempuran,” kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan lewat akun X-nya.
Sebelumnya dilaporkan bahwa hanya tiga tentara AS yang tewas terhantam serangan Iran. “Anggota militer keempat, yang terluka parah selama serangan awal Iran, akhirnya meninggal akibat luka-lukanya,” ungkap CENTCOM.
Dubes Iran: Kami tak Serang Negara Arab, Musuh Kami AS dan Israel
Republik Islam Iran menyayangkan sikap sejumlah negara Arab yang menyudutkan Teheran, menyusul serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk. Iran menegaskan, serangan tersebut bukan ditujukan kepada negara-negara tetangga, melainkan kepada militer AS yang menggunakan wilayah mereka sebagai basis operasi.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan, langkah militer yang ditempuh Teheran merupakan bentuk perlawanan atas serangan yang lebih dahulu dilancarkan AS bersama Israel dari pangkalan-pangkalan di kawasan tersebut.
“Kami tidak menyerang tetangga-tetangga kami. Musuh kami adalah Amerika Serikat dan Zionis Israel,” ujar Boroujerdi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, dalam sejarah Republik Islam Iran tidak pernah ada catatan agresi terhadap negara-negara Arab di kawasan. Namun, ia menilai AS selama ini memanfaatkan wilayah negara-negara Teluk untuk membangun pangkalan militer yang digunakan untuk mengintimidasi Iran.
Boroujerdi menyebutkan bahwa dari pangkalan-pangkalan militer AS di wilayah Arab itulah rudal-rudal ditembakkan ke Iran bersama Israel. Karena itu, Teheran merasa memiliki hak untuk membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS yang menjadi titik awal serangan.
“Kami menggunakan hak kami untuk menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan yang menjadi sumber serangan terhadap Iran. Kami tetap memiliki hubungan yang sangat baik dengan negara-negara tetangga. Namun mereka membiarkan AS menggunakan pangkalannya untuk menyerang kami,” kata dia.
Perang terbuka antara Iran melawan Israel dan AS pecah sejak Sabtu (28/2/2026). Serangan awal dilakukan dengan pemboman ke Ibu Kota Teheran yang berujung pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, beserta sejumlah jenderal dan pejabat tinggi militer Iran.
Serangan gabungan AS-Israel kemudian meluas ke 24 provinsi di Iran. Hingga hari ketiga, Senin (2/3/2026), jumlah korban jiwa dilaporkan mencapai sedikitnya 550 orang, dengan mayoritas korban merupakan warga sipil.
Iran menyatakan tetap bertahan dan melakukan perlawanan. Selain membalas ke wilayah pendudukan Israel, Teheran juga meluncurkan drone dan rudal berdaya ledak besar ke sejumlah pangkalan militer AS yang berada di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, serta Arab Saudi.
Langkah tersebut memicu reaksi keras dari beberapa negara Arab yang wilayahnya menjadi lokasi pangkalan militer AS. Sejumlah negara bahkan mengancam akan membantu AS dan Israel dalam operasi militer terhadap Iran.
Meski demikian, Teheran kembali menegaskan bahwa sasaran utamanya adalah militer AS dan Israel, bukan negara-negara Arab di kawasan.
Konflik Timur Tengah Hantam Saham Penerbangan, Permintaan Maskapai Asia Meledak
Saham maskapai Asia tetap berada di bawah tekanan pada Selasa (3/3/2026) seiring eskalasi perang AS-Israel melawan Iran.
Sementara lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran biaya bahan bakar.
Harga minyak yang melonjak di tengah konflik meningkatkan risiko kenaikan biaya avtur dan dapat menggerus profitabilitas industri penerbangan.
CEO Qantas Airways Vanessa Hudson mengatakan, perusahaan memiliki lindung nilai (hedging) bahan bakar yang “cukup baik”, namun lonjakan harga minyak tetap berdampak signifikan bagi industri. Saham Qantas turun hingga 3,9% untuk hari kedua berturut-turut.
CFO Japan Airlines Yuji Saito menyatakan, maskapai akan menyesuaikan fuel surcharge untuk penerbangan internasional, meski belum merinci waktunya. Saham Japan Airlines turun 3,5% pada perdagangan awal.
Korean Air anjlok hampir 8% setelah perdagangan dibuka kembali usai libur nasional. Saham Cathay Pacific turun lebih dari 2%.
Maskapai besar China seperti Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines masing-masing turun 3%–5% di bursa Hong Kong dan Shanghai.
CEO Macquarie Group Shemara Wikramanayake mengatakan, konflik ini kemungkinan memengaruhi ketersediaan dan harga minyak secara global.
Sejumlah pusat penerbangan utama di Teluk, termasuk Dubai bandara internasional tersibuk di dunia untuk lalu lintas internasional tetap ditutup untuk hari keempat.
Penutupan ini menyebabkan puluhan ribu penumpang terlantar dan menjadi ujian terbesar bagi industri penerbangan sejak pandemi COVID-19.
Di tengah gangguan maskapai Timur Tengah, maskapai Asia justru mengalami lonjakan pemesanan dan kenaikan harga tiket.
Pengecekan Reuters menunjukkan:
Penerbangan Hong Kong–London milik Cathay Pacific tidak memiliki kursi kelas ekonomi hingga 11 Maret, dengan harga sekali jalan mencapai HK$21.158 sebelum kembali normal di akhir bulan.
Qantas tidak menawarkan tiket ekonomi rute Sydney–London via Perth atau Singapura hingga 17 Maret, dengan harga sekali jalan sekitar A$3.129. Opsi lebih awal tersedia melalui rute tidak biasa seperti Los Angeles atau Johannesburg dengan harga tinggi.
Maskapai China mencatat lonjakan tajam harga rute China–Inggris. Tiket pulang-pergi ekonomi yang biasanya di bawah 10.000 yuan kini melonjak drastis. Air China hanya menawarkan kelas bisnis seharga 50.490 yuan untuk penerbangan langsung tertentu. China Eastern menawarkan tiket Shanghai–London seharga 38.108 yuan di kelas bisnis.
Kursi ekonomi mulai tersedia kembali pada Kamis, namun harga tetap beberapa kali lipat lebih tinggi dari biasanya.
Situasi ini menunjukkan dampak ganda konflik Timur Tengah terhadap industri penerbangan: tekanan biaya akibat lonjakan minyak, sekaligus lonjakan permintaan dan harga tiket bagi maskapai di luar kawasan konflik.
Warga AS di Iran Terancam, Aktivis Khawatir Jadi Alat Tawar di Tengah Eskalasi Perang
Sedikitnya enam warga negara atau penduduk tetap Amerika Serikat saat ini ditahan di Iran, menurut kelompok advokasi tahanan.
Mereka dikhawatirkan berisiko dijadikan alat tawar politik di tengah eskalasi perang antara AS, Israel, dan Iran.
Kelompok pembela tahanan memperingatkan bahwa ribuan warga negara ganda AS-Iran dan pemegang green card diyakini masih berada di Iran, meski pemerintah AS berulang kali mengeluarkan peringatan agar tidak bepergian ke negara tersebut karena risiko penangkapan.
“Sejarah rezim Iran dalam memanfaatkan warga Amerika untuk tujuan politik sudah lama terjadi,” ujar Ryan Fayhee dari Foley Foundation dilansir Reuters Senin (2/3/2026).
“Saya membayangkan setiap warga Amerika berpotensi berada dalam risiko.”
Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda, sehingga pemerintah asing tidak dapat memberikan perlindungan diplomatik atau layanan konsuler kepada warga yang juga memegang kewarganegaraan Iran.
Sumber yang mengetahui isu tersebut mengatakan Departemen Luar Negeri AS tidak mengetahui secara pasti berapa banyak warga Amerika yang saat ini berada di Iran.
Presiden Donald Trump menjadikan pembebasan warga Amerika yang ditahan secara tidak sah di luar negeri sebagai prioritas kebijakan luar negeri.
Gedung Putih menyebut lebih dari 70 warga Amerika telah dibebaskan sejak awal masa jabatan keduanya pada Januari 2025.
Namun, belum ada pernyataan jelas mengenai langkah perlindungan bagi warga yang ditahan sejak dimulainya serangan terhadap Iran akhir pekan lalu.
Beberapa jam sebelum serangan AS-Israel dimulai, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menetapkan Iran sebagai negara sponsor penahanan tidak sah (wrongful detention) pertama berdasarkan perintah eksekutif yang ditandatangani Trump.
Penetapan itu berpotensi memicu larangan penggunaan paspor AS untuk perjalanan ke dan dari Iran, kecuali Teheran menghentikan praktik penyanderaan dan membebaskan seluruh warga Amerika yang ditahan.
Menurut Elizabeth Richards dari Foley Foundation, sedikitnya enam warga negara ganda AS-Iran atau penduduk tetap sah AS diketahui ditahan di Penjara Evin di Teheran, fasilitas yang dikenal sebagai penjara bagi tahanan politik dan warga asing.
Beberapa di antaranya adalah:
Shahab Dalili, pemegang green card yang ditangkap pada 2016 dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas tuduhan bekerja sama dengan pemerintah asing.
Reza Valizadeh, jurnalis warga ganda AS-Iran yang ditangkap pada 2024 setelah kembali ke Iran untuk mengunjungi orang tuanya dan divonis 10 tahun penjara atas tuduhan “kolaborasi dengan pemerintah musuh”.
Kamran Hekmati, pengusaha perhiasan berusia 70 tahun yang ditangkap tahun lalu dan divonis karena mengunjungi Israel, meski menurut kuasa hukumnya kunjungan terakhir terjadi 13 tahun sebelum penangkapannya.
Aktivis menyebut Iran kerap menambahkan tuduhan spionase untuk memberi sinyal bahwa pembebasan tahanan hanya mungkin terjadi melalui pertukaran dengan Washington.
Dengan meningkatnya aksi militer di kawasan, para advokat memperingatkan risiko bagi warga Amerika di Iran meningkat secara signifikan.
“Ketika terjadi aksi militer seperti ini, tingkat risiko bagi mereka melonjak secara eksponensial,” ujar Kieran Ramsey, mantan pejabat FBI yang kini aktif dalam advokasi pembebasan sandera.
Dolar Rengkuh Kembali Posisi sebagai Aset Safe Haven, Ini Buktinya
Dolar Amerika Serikat kembali menguat tajam setelah serangan militer AS ke Iran memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penguatan ini memberi sinyal kepada investor bahwa dolar masih berfungsi sebagai aset safe haven global ketika ketidakpastian meningkat.
Penguatan dolar terjadi setelah beberapa bulan muncul keraguan terhadap perannya sebagai aset lindung nilai saat krisis. Keraguan itu muncul ketika dolar gagal menguat selama aksi jual pasar global tahun lalu yang dipicu oleh kebijakan tarif perdagangan AS.
Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, pada Senin, dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang utama dunia. Indeks dolar bahkan naik hampir 1%, mencatat kenaikan harian terbesar dalam tujuh bulan terakhir.
Strategis valuta asing di Scotiabank, Eric Theoret, mengatakan kondisi pasar saat ini mencerminkan sentimen risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar.
Ia juga menyinggung peristiwa yang disebut “Liberation Day” pada 2 April 2025, ketika pemerintah AS mengumumkan tarif besar-besaran yang memicu aksi jual pasar global, termasuk terhadap dolar.
Dalam beberapa bulan terakhir, status dolar sebagai safe haven memang sempat ditantang oleh mata uang lain seperti euro, yen Jepang, serta emas.
Namun menurut analis, kekuatan dolar masih didukung oleh kedalaman dan likuiditas pasar keuangan Amerika Serikat. Pasar obligasi pemerintah AS tetap menjadi tempat utama investor global memarkir dana dalam jumlah besar saat krisis.
“Jika investor ingin mengurangi risiko dalam skala besar, pasar obligasi pemerintah AS adalah satu-satunya pasar yang cukup dalam untuk menampung arus dana tersebut,” kata Theoret.
Lonjakan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS otomatis meningkatkan permintaan terhadap dolar.
Chief Investment Officer di Mercer Advisors, Don Calcagni, mengatakan kurangnya alternatif global membuat investor tetap kembali ke dolar saat volatilitas meningkat.
“Saya tidak terlalu terkejut jika dolar masih menunjukkan performa sebagai aset safe haven,” ujarnya.
Analis juga menilai kegagalan dolar menjadi aset lindung nilai pada krisis tahun lalu disebabkan karena sumber ketidakpastian berasal dari Amerika Serikat sendiri, yaitu kebijakan tarif perdagangan Washington.
Peneliti di Macro Hive, Benjamin Ford, mengatakan saat itu investor lebih memilih aset di luar Amerika Serikat karena ketidakpastian justru datang dari kebijakan ekonomi AS.
Namun ketika krisis berasal dari konflik geopolitik internasional, seperti ketegangan di Timur Tengah, daya tarik dolar sebagai safe haven cenderung kembali muncul.
Pandangan serupa disampaikan oleh ahli strategi makro Amerika di BNY, John Velis, yang menilai bukti terbaru menunjukkan dolar masih memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai global.
Meski demikian, sebagian analis menilai perdebatan mengenai kekuatan dolar sebagai safe haven belum sepenuhnya selesai.
Head of FX Strategy di Rabobank, Jane Foley, mengatakan penguatan dolar saat ini memang memberikan keyakinan bahwa karakter safe haven masih ada, namun masa depannya tetap menjadi perdebatan.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar juga didukung status Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih, yang membuat ekonominya relatif lebih tahan terhadap lonjakan harga minyak dibanding negara importir energi.
Namun manajer portofolio di State Street Global Advisors, Aaron Hurd, menilai dolar mungkin tidak akan selalu sekuat ini jika guncangan ekonomi tidak terkait dengan energi atau masalah likuiditas pasar.
Dalam jangka pendek, arah dolar juga diperkirakan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak.
Menurut Ford dari Macro Hive, jika harga minyak terus naik dan selera risiko investor menurun, dolar kemungkinan akan tetap menguat.
Namun jika harga minyak turun, investor mungkin kembali beralih ke aset safe haven tradisional lainnya seperti franc Swiss dan yen Jepang.
Kongres AS Terbelah soal Aksi Militer ke Iran, Voting War Powers Digelar Pekan Ini
Partai Republik membela keputusan Presiden Donald Trump melancarkan serangan terhadap Iran sebagai panglima tertinggi.
Sementara itu, Partai Demokrat menilai pemerintah belum menyampaikan alasan yang meyakinkan dan berencana mengajukan voting terkait kewenangan perang (war powers) pekan ini.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Dan Caine memberikan pengarahan tertutup kepada pimpinan Kongres, dua hari setelah pasukan AS dan Israel memulai pemboman terhadap Iran.
Rubio sebelumnya menyatakan terdapat ancaman yang segera (imminent threat) terhadap Amerika Serikat, karena Washington mengetahui rencana Israel menyerang Iran dan memperkirakan Teheran akan membalas dengan menyerang pasukan AS.
Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan, keputusan Trump merupakan langkah sulit namun perlu, mengingat Israel bertekad bertindak dengan atau tanpa dukungan AS.
“Dalam pandangan saya, saat ini militer dan panglima tertinggi sedang menyelesaikan operasi yang terbatas cakupannya, terbatas tujuannya, dan mutlak diperlukan untuk pertahanan kita,” ujar Johnson dilansir dari Reuters Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan operasi tersebut diyakini akan segera berakhir.
Partai Republik menilai ancaman terhadap pasukan AS akibat potensi serangan balasan Iran sudah cukup untuk membenarkan tindakan presiden.
Sebaliknya, Demokrat berpendapat Konstitusi AS memberikan kewenangan menyatakan perang kepada Kongres, bukan presiden.
Mereka menilai Trump tidak seharusnya memulai kampanye militer yang berpotensi berlangsung berminggu-minggu tanpa persetujuan legislatif.
Senator Demokrat dari Virginia Mark Warner mengatakan dalam sepekan terakhir pemerintah menyampaikan berbagai alasan berbeda untuk menyerang Iran mulai dari menghentikan program nuklir, mengakhiri pengembangan rudal balistik, mengganti rezim, hingga menenggelamkan armada laut Iran.
“Saya berdiri teguh bersama Israel. Tetapi ketika kita berbicara tentang menempatkan tentara Amerika dalam bahaya dan sudah ada korban jiwa, harus ada bukti ancaman langsung terhadap kepentingan Amerika. Saya rasa standar itu belum terpenuhi,” ujar Warner.
Hingga Senin malam, enam personel militer AS dilaporkan tewas dalam konflik tersebut.
Pejabat pemerintahan Trump dijadwalkan kembali ke Capitol Hill pada Selasa untuk memberikan pengarahan kepada seluruh anggota Senat dan DPR.
Pekan ini, anggota parlemen diperkirakan akan melakukan voting atas resolusi war powers yang dapat membatasi Trump melanjutkan serangan tanpa deklarasi perang resmi dari Kongres.
Meski Konstitusi memberi Kongres kewenangan menyatakan perang, Partai Republik yang memegang mayoritas tipis di DPR dan Senat sejauh ini berhasil menggagalkan upaya Demokrat untuk memaksa presiden meminta persetujuan legislatif atas aksi militer terhadap Iran.
Perdebatan ini memperlihatkan ketegangan politik domestik di tengah eskalasi konflik luar negeri yang semakin luas.
Perang Iran Ancam Produksi Exxon Mobil, TotalEnergies, dan Shell
Exxon Mobil, TotalEnergies, dan Shell termasuk perusahaan energi global yang dinilai paling rentan terhadap gangguan produksi minyak dan gas akibat perang AS-Israel dengan Iran, menurut sejumlah analis dalam catatan riset yang dirilis Minggu (1/3/2026) dan Senin (2/3/2026).
Serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengguncang sektor energi global.
Konflik tersebut memaksa penutupan sejumlah ladang minyak dan gas di kawasan serta secara efektif menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital antara Iran dan Oman yang dilalui tanker minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG) dari produsen utama Timur Tengah menuju pasar global.
Analis Jefferies memperkirakan sekitar 29% total produksi TotalEnergies berada di Timur Tengah, sementara kawasan tersebut menyumbang sekitar 20% produksi minyak dan gas Exxon serta 20% produksi Shell.
Meski risiko gangguan meningkat, lonjakan harga energi berpotensi menopang keuntungan perusahaan.
Kontrak berjangka minyak Brent ditutup naik sekitar 7% menjadi US$77,74 per barel pada Senin, sementara harga gas alam acuan Eropa melonjak sekitar 40%.
Salah satu dampak paling signifikan diperkirakan terjadi pada portofolio LNG Exxon. Sekitar 60% bisnis LNG perusahaan asal AS itu terkonsentrasi di Timur Tengah, menurut analis TD Cowen.
Ketiga perusahaan tersebut merupakan mitra dari perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, yang menghentikan produksi LNG pada Senin setelah serangan drone Iran terhadap fasilitasnya. Qatar menyumbang sekitar 20% pasokan LNG global.
Exxon diperkirakan akan terbantu oleh dimulainya produksi proyek Golden Pass LNG di Texas bulan ini, menurut analis Barclays Betty Jiang.
Selain kepemilikan LNG di kawasan, TotalEnergies juga memproduksi minyak dan gas di Uni Emirat Arab, sementara Shell memiliki kehadiran signifikan di Oman.
Situasi ini menempatkan raksasa energi global dalam posisi dilematis: menghadapi potensi gangguan operasional di satu sisi, namun di sisi lain menikmati lonjakan harga komoditas akibat ketidakpastian geopolitik.