News Komoditi & Global ( Selasa, 17 Maret 2026 )
News Komoditi & Global ( Selasa, 17 Maret 2026 )
Harga Emas Global Melemah, Kekhawatiran Inflasi Akibat Konflik Timur Tengah Tekan Pasar
Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (16/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat konflik di Timur Tengah dapat membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama.
Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.993,42 per ons troi pada pukul 13.31 ET (17.31 GMT). Logam mulia ini bahkan sempat menyentuh level terendah sejak 19 Februari di awal sesi perdagangan.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup turun 1,2% di level US$ 5.002,20 per ons.
Penurunan harga emas terjadi meskipun dolar AS melemah dari posisi puncak 10 bulan.
Melemahnya dolar biasanya membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Menurut Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, kenaikan harga energi dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dan berpotensi menahan bank sentral untuk memangkas suku bunga.
“Jika harga minyak lebih tinggi, inflasi juga meningkat. Dalam kondisi tersebut, bank sentral tidak akan seagresif enam bulan lalu dalam menurunkan suku bunga, dan itu menjadi sentimen negatif bagi emas,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang. Haberkorn bahkan memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$ 6.000 per ons troi, mengingat tingginya ketidakpastian global.
Sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, emas biasanya berkinerja kurang baik ketika suku bunga tinggi.
Hal ini karena biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih besar.
Dari sisi geopolitik, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki pekan ketiga juga masih membayangi pasar energi global.
Penutupan Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, turut memicu lonjakan harga energi.
Meski harga minyak sempat turun pada Senin, komoditas tersebut masih naik lebih dari 60% sepanjang tahun ini.
Pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda penting pekan ini, termasuk rilis data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat, keputusan kebijakan moneter Federal Reserve, pidato Ketua The Fed Jerome Powell, serta data klaim pengangguran mingguan.
Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu.
Selain itu, bank sentral AS juga tengah bersiap menghadapi transisi kepemimpinan baru setelah Kevin Warsh dinominasikan oleh Presiden Donald Trump.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot relatif stabil di US$ 80,52 per ons troi. Sementara itu, platinum melonjak 3,9% menjadi US$ 2.103,42 per ons troi dan palladium naik 3,1% ke level US$ 1.598,80 per ons troi.
Harga Minyak Dunia Naik seiring dengan Meningkatnya Kekacauan Timur Tengah
West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di sekitar $94,20 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Selasa. Harga WTI naik saat perang di Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Para trader menunggu rilis laporan American Petroleum Institute (API), yang akan dipublikasikan pada hari Selasa.
Militer Israel mengatakan pada hari Selasa bahwa ia telah mendeteksi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah Israel. Mereka mendesak orang-orang di daerah yang terkena dampak untuk segera menuju tempat perlindungan. Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penutupan sementara dan penuh ruang udara negara tersebut sebagai "tindakan pencegahan luar biasa." Kementerian pertahanan UEA sebelumnya mengatakan bahwa mereka merespons ancaman rudal dan drone yang masuk dari Iran.
Serangan balasan Iran di seluruh wilayah terhadap kapal, infrastruktur, dan pelabuhan yang dilalui tanker minyak meningkatkan kekhawatiran bahwa perang ini akan berubah menjadi konflik regional yang berkepanjangan. Hal ini, pada gilirannya, dapat mendorong harga WTI dalam jangka pendek.
Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) akan mempertimbangkan pelepasan lebih banyak cadangan minyak ke pasar global untuk mendinginkan harga minyak yang meningkat. IEA mengatakan bahwa mereka akan melepaskan rekor 400 juta barel minyak. Pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara yang dikoordinasikan melalui IEA dapat menambah pasokan secara temporer ke pasar dan mencegah lonjakan tajam harga minyak.
Wall Street Ditutup Naik, Saham AI Jadi Motor Penguatan
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Senin (16/3/2026), didorong oleh reli saham-saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).
Sentimen pasar juga terbantu oleh pelemahan harga minyak di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah.
Melansir Reuters, indeks utama Wall Street kompak mencatat kenaikan. Indeks S&P 500 naik 1,01% ke level 6.699,38, mencatatkan kenaikan harian terbesar dalam lebih dari sebulan.
Indeks Nasdaq menguat 1,22% menjadi 22.374,18, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,83% ke 46.946,41.
Kenaikan pasar dipimpin oleh saham-saham teknologi, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan AI.
Seluruh 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 ditutup di zona hijau, dengan sektor teknologi informasi memimpin kenaikan sebesar 1,39%, diikuti sektor consumer discretionary yang naik 1,34%.
Saham perusahaan teknologi besar menjadi pendorong utama penguatan.
Saham Meta Platforms melonjak 2,3% setelah laporan menyebutkan perusahaan media sosial tersebut berencana memangkas setidaknya 20% tenaga kerja untuk menekan biaya pembangunan infrastruktur AI yang mahal sekaligus meningkatkan efisiensi melalui penggunaan pekerja berbasis AI.
Sementara itu, saham Nvidia naik 1,6% setelah CEO Jensen Huang memperkenalkan, komponen baru dalam konferensi pengembang tahunan perusahaan.
Perusahaan manufaktur asal Taiwan, Foxconn, yang memproduksi server AI menggunakan chip Nvidia, juga merilis proyeksi pendapatan kuartalan yang kuat.
Di sektor semikonduktor, saham Micron Technology melonjak 3,7% setelah mengumumkan rencana pembangunan fasilitas manufaktur kedua di Taiwan.
Saham Tesla juga naik 1,1% setelah CEO Elon Musk menyatakan proyek Terafab perusahaan untuk memproduksi chip AI akan diluncurkan dalam tujuh hari.
Di sisi lain, penurunan harga minyak turut memberikan sentimen positif bagi pasar. Harga minyak melemah setelah pemerintah AS menyatakan tidak keberatan jika sejumlah kapal dari Iran, India, dan China melintasi Selat Hormuz.
"Berita bahwa kapal tanker minyak Iran akan bergerak melalui Selat Hormuz merupakan kabar positif bagi stabilitas ekonomi global," kata Terry Sandven, Chief Equity Strategist di U.S. Bank Wealth Management.
Meski demikian, ia menilai ketidakpastian tetap tinggi karena belum jelas kapan konflik di Timur Tengah akan berakhir.
Pergerakan harga energi juga diperkirakan menjadi perhatian utama bank sentral global pekan ini.
Pasar secara luas memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada akhir pertemuan dua hari yang berakhir Rabu.
Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama sebesar minimal 25 basis poin baru akan terjadi setelah Oktober, mundur dari ekspektasi sebelumnya pada Juli.
Selain itu, data ekonomi menunjukkan produksi industri AS pada Februari naik 0,2%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan kenaikan 0,1%.
Di sektor lain, saham maskapai Delta Air Lines naik 3,5% dan operator kapal pesiar Norwegian Cruise Line Holdings melonjak 5,1%, terdorong oleh penurunan harga minyak.
Saham perusahaan kripto Strategy Inc juga naik 5,6% seiring reli harga Bitcoin sekitar 3%.
Sementara itu, peritel diskon Dollar Tree menguat 6,4% setelah memberi sinyal berpotensi mendapat manfaat dari kebijakan tarif yang lebih menguntungkan dalam waktu dekat.
Meski demikian, kinerja saham AS sepanjang tahun ini masih tertahan. Indeks S&P 500 tercatat masih turun sekitar 2% sejak awal 2026, meski pasar AS relatif lebih kuat dibandingkan bursa global berkat pemulihan saham teknologi dan posisi Amerika Serikat sebagai eksportir bersih minyak.
Trump Frustasi, Sekutu Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap sejumlah sekutu utama setelah mereka menolak permintaan Washington untuk mengirim kapal perang guna mengawal tanker energi di Selat Hormuz.
Penolakan ini memperlihatkan retaknya koordinasi di antara negara-negara Barat di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda mereda.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati kawasan tersebut.
Namun, jalur ini kini praktis terganggu setelah Iran menutup akses menggunakan drone dan ranjau laut.
Kondisi ini memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan tekanan inflasi, termasuk bagi negara-negara importir energi.
Sejumlah sekutu dekat Washington seperti Jerman, Spanyol, dan Italia menyatakan belum memiliki rencana untuk mengirim kapal militer ke kawasan tersebut.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki mandat hukum untuk terlibat.
“Kami tidak memiliki mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, atau NATO sebagaimana disyaratkan dalam hukum dasar kami,” ujar Merz di Berlin dilansir dari Reuters.
Ia juga menyoroti bahwa Jerman tidak diajak berkonsultasi sebelum AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump mengaku kecewa terhadap sikap sekutu lama AS.
“Ada yang sangat antusias, tapi ada juga yang tidak. Beberapa adalah negara yang sudah kami bantu selama bertahun-tahun, kami lindungi dari ancaman luar, tapi mereka tidak terlalu bersemangat,” kata Trump.
Menurutnya, tingkat komitmen sekutu menjadi faktor penting dalam menentukan langkah lanjutan Washington.
Di sisi lain, Israel menyatakan telah menyiapkan rencana operasi militer setidaknya untuk tiga pekan ke depan dengan target ribuan titik di Iran.
Juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Nadav Shoshani, mengatakan serangan difokuskan pada: Infrastruktur rudal balistik, fasilitas nuklir, dan aparat keamanan Iran.
“Kami ingin memastikan rezim ini dilemahkan semaksimal mungkin,” ujarnya.
Serangan udara Israel juga dilaporkan menargetkan fasilitas yang terkait dengan program antariksa Iran di Teheran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan akan menyerang fasilitas industri milik AS di kawasan Timur Tengah.
Iran juga mengancam akan menargetkan fasilitas minyak dan gas di negara-negara yang menjadi basis serangan AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa Teheran tidak meminta gencatan senjata dan belum melakukan komunikasi dengan Washington.
Iran bahkan menuding negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS turut mendorong agresi terhadap rakyat Iran.
Serangan drone Iran mulai berdampak langsung ke infrastruktur energi dan transportasi regional:
Bandara Bandara Internasional Dubai sempat ditutup sementara akibat serangan ke fasilitas bahan bakar
Terminal minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab, terdampak meski sebagian operasi kembali berjalan
Arab Saudi mencegat puluhan drone dalam waktu singkat
Selain itu, sirene serangan udara terus berbunyi di Tel Aviv, menandakan Iran masih memiliki kemampuan serangan jarak jauh.
Meski sempat melonjak di atas US$100 per barel, harga minyak global mulai terkoreksi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa sebagian tanker, termasuk dari India dan China, masih dapat melintasi Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar untuk sementara, mendorong penguatan indeks saham global.
Negara-negara Barat seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris memperingatkan bahwa operasi darat besar-besaran Israel berpotensi memicu krisis kemanusiaan dan konflik berkepanjangan.
Di tengah ketegangan ini, warga sipil di Iran dan Israel terus menjadi korban, sementara ketidakpastian geopolitik kian membebani prospek ekonomi global.
Pekerja Samsung Ancam Mogok, Pasokan Chip Global Berisiko Terganggu
Rencana aksi mogok kerja pekerja Samsung Electronics berpotensi mengganggu produksi chip semikonduktor global. Serikat pekerja terbesar perusahaan tersebut tengah melakukan pemungutan suara terkait rencana mogok pada Mei mendatang.
Jika aksi tersebut benar-benar terjadi, pasokan chip dunia dapat semakin tertekan di tengah lonjakan permintaan semikonduktor untuk pusat data kecerdasan buatan (AI).
Kondisi ini berpotensi berdampak pada berbagai industri, mulai dari otomotif, komputer hingga smartphone.
Pemimpin Samsung Electronics Labour Union (SELU) Choi Seung-ho mengatakan, gangguan produksi sangat mungkin terjadi apabila mogok kerja berlangsung.
“Jika kesepakatan tidak tercapai, kami berencana melakukan mogok selama 18 hari mulai 21 Mei,” ujar Choi dilansir dari Reuters Selasa (17/3/2026).
Aksi tersebut diperkirakan dapat mempengaruhi sekitar setengah dari output kompleks semikonduktor Samsung di Pyeongtaek, yang berada di selatan Seoul.
Seorang juru bicara Samsung menyatakan perusahaan akan terus melanjutkan dialog dengan para pekerja secara terbuka untuk mencari solusi terbaik.
Ketidakpuasan pekerja meningkat dalam beberapa bulan terakhir, terutama terkait kesenjangan kompensasi dengan pesaing utama seperti SK Hynix.
Menurut serikat pekerja, industri chip tengah menikmati pertumbuhan pesat, tetapi manfaatnya dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh karyawan.
Dalam tiga bulan terakhir, lebih dari 100 anggota serikat disebut telah meninggalkan Samsung untuk bergabung dengan perusahaan lain, termasuk SK Hynix.
Perusahaan tersebut sebelumnya menyetujui reformasi kompensasi, termasuk menaikkan batas bonus dan mengalokasikan 10% laba operasional sebagai dana bonus.
Serikat pekerja Samsung menuntut kenaikan gaji pokok sebesar 7%, penghapusan batas bonus kinerja sebesar 50% dari gaji tahunan, serta pembentukan skema bonus berbasis laba operasional yang dinilai lebih transparan.
Sekitar 90.000 pekerja yang tergabung dalam serikat dari total 125.000 karyawan Samsung di Korea Selatan berhak mengikuti pemungutan suara yang berlangsung hingga Rabu. SELU sendiri memiliki sekitar 66.000 anggota, termasuk sekitar 51.000 pekerja di divisi chip.
Di sisi lain, Samsung menyatakan telah menawarkan proposal kompensasi yang belum pernah diberikan sebelumnya, termasuk kenaikan gaji 6,2% serta bonus khusus untuk mencapai kesepakatan upah tahun 2026.
Namun perusahaan menilai penghapusan batas bonus dapat menyulitkan pembiayaan investasi masa depan di industri semikonduktor yang sangat padat modal dan bersifat siklikal.
“Jika satu aksi mogok saja menghentikan jalur produksi dan merusak kepercayaan pelanggan, dampaknya bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk pulih,” kata seorang pejabat perusahaan yang enggan disebutkan namanya.
Ketegangan hubungan industrial ini terjadi setelah Chairman Samsung Jay Y. Lee pada 2020 berjanji mengakhiri reputasi perusahaan sebagai perusahaan dengan kebijakan “tanpa serikat pekerja”.
Menurut Seo Ji-yong, profesor administrasi bisnis di Sangmyung University, Samsung selama ini relatif minim pengalaman dalam mengelola hubungan industrial dibandingkan konglomerat Korea Selatan lain seperti Hyundai Motor.
“Jika manajemen tetap bertahan pada pendekatan lama dan mengabaikan tuntutan pekerja, perselisihan ini bisa menghambat momentum kinerja Samsung,” ujarnya.
Padahal, Samsung mencatat laba kuartal IV 2025 tertinggi sepanjang sejarah. Para analis bahkan memperkirakan laba operasional perusahaan tahun ini dapat melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi lebih dari 200 triliun won.
Di tengah persaingan industri chip yang semakin ketat, CEO Tesla, Elon Musk, juga diketahui mulai membidik talenta semikonduktor Korea Selatan untuk mendukung pengembangan chip AI bagi mobil otonom dan robot humanoid.
Bantah Trump, Menlu Araghchi: Iran tak Tertarik Bicara Akhiri Perang dengan AS
Menter Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Iran tak tertarik membuka komunikasi dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataannya ini merespons klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Teheran ingin membuat kesepakatan mengakhiri perang.
"Kami stabil dan cukup kuat. Kami hanya mempertahankan rakyat kami," kata Araghchi dalam wawancara dalam program CBS, Face The Nation, Ahad (15/3/2026).
"Kami tidak melihat adanya alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami berbicara dengan mereka dan mereka memutuskan menyerang kami. Ada pengalaman tidak baik berbicara dengan Amerika," ujarnya, menambahkan.
Trump pada Sabtu (14/3/2026) mengatakan bahwa, Iran menginginkan sebuah kesepkatan, namun ia tidak siap untuk menerima dalam syarat dan kondisi yang ada sekarang tanpa memberikan detailnya. Merespons klaim Trump itu, Araghchi mengatakan, "Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami tidak pernah meminta bahkan untuk bernegosiasi."
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright pada Ahad mengatakan, perang melawan Iran akan berakhir dalam beberapa pekan. Pernyataan itu memberikan perkiraan waktu paling pasti dari pemerintah AS sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.
"Konflik ini akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan," kata Wright kepada ABC News, seraya menambahkan bahwa konflik itu "bisa lebih cepat dari itu."
Wright mengatakan warga AS akan terus merasakan dampak kenaikan harga bensin selama beberapa pekan lagi. Namun, kondisi diperkirakan akan membaik setelah konflik berakhir, meski dia mengatakan "tidak ada jaminan sama sekali dalam perang."
Dia menggambarkan gangguan jangka pendek tersebut sebagai risiko yang harus dihadapi. Pernyataan Wright muncul ketika serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran membalas serangan dengan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Iran juga menutup Selat Hormuz.
Frustasi dengan Langkah Iran Tutup Selat Hormuz, Trump Minta Bantuan China, Peringatkan NATO
Donald Trump mulai frustasi dengan langkah Iran menutup Selat Hormuz. Penutupan Selat membuat harga minyak dunia melambung tinggi.
Trump telah meminta sekutunya untuk membantu membuka Hormuz. Namun permintaan Presiden AS itu seperti bertepuk sebelah tangan. Belum ada sekutu yang mengonfirmasi untuk membantu, termasuk Inggris dan Prancis.
Tak digubris, Trump pun mengumbar ancamannya kepada sekutu NATO. Ia memperingatkan bahwa NATO menghadapi masa depan yang sangat buruk jika sekutu AS itu tak mau membantu membuka Selat Hormuz.
Presiden AS mengatakan kepada Financial Times dalam sebuah wawancara pada Ahad, bahwa ia juga dapat menunda pertemuan puncaknya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping akhir bulan ini. Trump telah meminta bantuan Beijing membantu membuka blokade jalur air penting tersebut.
“Sangatlah tepat jika pihak-pihak yang diuntungkan dari Selat tersebut membantu memastikan tidak terjadi hal buruk di sana,” kata Trump, seraya berpendapat bahwa Eropa dan Tiongkok sangat bergantung pada minyak dari Teluk, tidak seperti AS.
“Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO,” katanya mengingatkan.
Komentar Trump, yang disampaikan dalam percakapan telepon selama delapan menit dengan FT, muncul sehari setelah ia meminta Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk bergabung dalam upaya untuk membuka jalur sempit yang dilalui seperlima minyak dunia.
Iran pada dasarnya menutup selat tersebut setelah AS dan Israel melancarkan perang mereka lebih dari dua minggu lalu. Penutupan tersebut memicu kekhawatiran akan guncangan harga minyak baru bagi ekonomi global.
Upaya AS untuk membuka jalur air tersebut sebagian besar gagal. Harga minyak internasional mencapai US$106 per barel pada Ahad malam, naik sekitar 45 persen sejak awal perang.
Meskipun telah memperingatkan, Trump pesimis bahwa sekutu AS akan mengindahkan permohonannya untuk bantuan.
“Kita punya sesuatu yang disebut NATO,” kata Trump, yang sering mengkritik aliansi tersebut. “Kita sudah sangat baik. Kita tidak harus membantu mereka dengan Ukraina. Ukraina berjarak ribuan mil dari kita… Tapi kita membantu mereka. Sekarang kita akan lihat apakah mereka membantu kita. Karena saya sudah lama mengatakan bahwa kita akan ada untuk mereka tetapi mereka tidak akan ada untuk kita. Dan saya tidak yakin mereka akan ada di sana.”
Ketika ditanya untuk menyebutkan bantuan spesifik yang dibutuhkannya? Trump mengatakan, "apa pun yang diperlukan”.
Ia menambahkan bahwa sekutu harus mengirimkan kapal penyapu ranjau yang jumlahnya jauh lebih banyak dimiliki Eropa daripada AS.
Trump mengisyaratkan bahwa ia menginginkan tim komando Eropa atau bantuan militer lainnya untuk melenyapkan warga Iran yang “mengganggu” di Hormuz dengan drone dan ranjau laut.
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump.
Trump mengatakan ia juga mengharapkan China untuk membantu membuka blokade selat sebelum ia melakukan perjalanan ke Beijing pada akhir bulan ini untuk pertemuan puncak dengan Xi Jinping. Ini adalah perjalanan pertamanya ke China pada masa jabatan keduanya.
“Saya pikir China juga harus membantu karena China mendapatkan 90 persen minyaknya dari Selat [sic],” kata Trump. M
“Kami ingin tahu sebelum itu. [Dua minggu] adalah waktu yang lama.” Ia menambahkan bahwa perjalanannya ke China mungkin juga akan ditunda. “Kita mungkin akan menunda,” kata Trump.
Ia tidak mengatakan berapa lama.
Komentar Trump muncul ketika Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu dengan Menteri Keuangan China, He Lifeng, di Paris untuk membahas rencana pertemuan puncak di Beijing pada akhir Maret.
Xi mengundang Trump untuk mengunjungi China ketika kedua pemimpin bertemu di Korea Selatan pada akhir Oktober dan mencapai gencatan senjata dalam perang dagang dan teknologi AS-China. Beijing tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menunda KTT tersebut meskipun terjadi perang di Iran, yang merupakan pemasok minyak utama bagi China.
Setelah berbicara dengan Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, Trump mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap respons Inggris sejauh ini.
“Inggris mungkin dianggap sebagai sekutu nomor satu, yang paling lama mengabdi, dan ketika saya meminta mereka untuk datang, mereka tidak mau datang,” katanya.
“Dan begitu kita pada dasarnya melenyapkan kapasitas bahaya dari Iran, mereka berkata, ‘Oh, baiklah, kita akan mengirim dua kapal,’ dan saya berkata, ‘Kita membutuhkan kapal-kapal ini sebelum kita menang, bukan setelah kita menang.’ Saya sudah lama mengatakan bahwa NATO adalah jalan satu arah.”
Ia mengklaim bahwa AS dan Israel telah menghancurkan kapasitas militer Iran dalam dua minggu terakhir. “Mereka tidak memiliki angkatan laut, tidak ada senjata anti-pesawat, tidak ada angkatan udara, semuanya telah hilang. Satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah membuat sedikit masalah dengan memasang ranjau di air – gangguan, tetapi gangguan itu dapat menyebabkan masalah.”
Namun, sekutu Eropa telah dirugikan dalam perang ini. Seorang tentara Prancis tewas pada hari Kamis dalam serangan pesawat tak berawak Iran di Irak. Sebuah pesawat Italia hancur pada hari Minggu di sebuah pangkalan di Kuwait.
Trump juga memperingatkan bahwa AS siap melancarkan serangan baru ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, dan dapat menargetkan infrastruktur minyaknya.
“Anda lihat kami menyerang Pulau Kharg, semuanya kecuali pipa-pipanya kemarin,” katanya, merujuk pada serangan bom yang diumumkannya pada hari Jumat. “Kita bisa menyerangnya dalam lima menit. Dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya.”
Ketika ditanya apakah Rusia membantu Iran dengan data satelit untuk menargetkan sistem pertahanan anti-rudal AS dan Israel, Trump berkata: “Saya tidak tahu pasti. Tetapi Anda juga bisa berpendapat bahwa kami membantu Ukraina sampai batas tertentu. Sulit untuk mengatakan: ‘Anda menargetkan kami, tetapi kami telah membantu Ukraina.’”
Ali Larijani Ungkap Konspirasi Habiskan Iran dengan Skema Seperti Serangan WTC 2001
Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, telah memperingatkan tentang apa yang ia sebut sebagai kemungkinan konspirasi untuk menyalahkan Iran atas serangan teroris besar.
Ia menggambarkan konspirasi seperti kejadian serangan menara kembar World Trade Centre (WTC) yang menjadikan alasan bagi AS untuk menginvasi Afghanistan.
"Saya telah mendengar bahwa anggota jaringan Epstein yang tersisa telah merancang konspirasi untuk menciptakan insiden serupa dengan 9/11 dan menyalahkan Iran untuk itu. Iran pada dasarnya menentang skema teroris semacam itu dan tidak memiliki perang dengan rakyat Amerika," tulis Larijani di X.
Pernyataan Larijani muncul pada saat Amerika Serikat dan Israel terlibat dalam perang dengan Iran.
Konflik tersebut meningkat setelah AS dan Israel melakukan serangan gabungan terhadap Iran bulan lalu. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu perang yang lebih luas di Timur Tengah.
Sebagai tanggapan, Iran telah melancarkan serangan terhadap Israel dan pangkalan militer AS yang terletak di negara-negara Teluk. Israel dan AS juga terus menyerang target Iran. Menurut laporan, perang tersebut telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar di Iran.
Pentagon mengatakan bahwa pasukan AS dan Israel telah menyerang lebih dari 15.000 target di seluruh Iran sejak perang dimulai. Media AS juga melaporkan bahwa Pentagon telah mengerahkan kapal serbu amfibi USS Tripoli ke wilayah tersebut, bersama dengan sekitar 2.500 Marinir.
Secara terpisah, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS telah menyerang lokasi-lokasi tempat Iran membangun drone yang digunakan untuk menyerang aset AS dan Israel.“Iran memiliki sedikit sekali kekuatan tempur yang tersisa. Kami telah menghancurkan kemampuan manufaktur mereka,” katanya, Senin.
“Demikian pula, jumlah drone telah berkurang drastis, sekitar 20 persen dari yang mereka miliki. Mulai kemarin, kami menyerang tempat-tempat di mana mereka memproduksinya,” tambah Trump.
Serangan 11 September 2001 tetap menjadi salah satu tragedi paling mematikan dalam sejarah modern. Hampir 3.000 orang tewas setelah 19 pembajak yang terkait dikaitkan dengan Alqaidah menguasai empat pesawat penumpang di Amerika Serikat.
Dua pesawat, American Airlines Penerbangan 11 dan United Airlines Penerbangan 175, menabrak Menara Utara dan Selatan World Trade Center di New York City, dengan selang waktu 17 menit.
Dampak tabrakan tersebut menyebabkan menara terbakar, menjebak orang-orang di lantai atas dan menyelimuti kota dengan asap. Dalam waktu dua jam, kedua menara runtuh.
Pesawat ketiga, American Airlines Penerbangan 77, menabrak Pentagon, markas besar militer AS di dekat Washington, DC.
Pesawat keempat, United Airlines Penerbangan 93, jatuh di sebuah ladang di Shanksville, Pennsylvania, setelah penumpang berusaha mengalahkan para pembajak. Diyakini bahwa para pembajak bermaksud menargetkan Gedung Capitol AS.
Duel Bayangan CIA, Mossad, dan VEVAK di Balik Perang Iran-AS-Israel
Di lorong-lorong sempit Kota Rey, selatan Teheran, matahari sore itu tak lebih terik dari biasanya. Tapi bagi dua pria yang tengah melangkah gontai dengan borgol di pergelangan tangan, dunia terasa runtuh dalam satu hentakan. Di sekitar mereka, petugas kepolisian Iran mengangkut barang bukti yang membuat bulu kuduk merinding: lebih dari 200 kilogram bahan peledak, 23 drone, sebuah peluncur, dan peralatan kendali canggih.
Ahad, 15 Juni tahun lalu, Iran kembali membuktikan apa yang selama ini menjadi rahasia umum: perang melawan musuh-musuhnya tidak pernah berhenti di medan tempur terbuka. Ia berlangsung setiap saat, di ruang-ruang sunyi yang tak terlihat mata.
Dua agen Mossad yang ditangkap di distrik Rey itu, menurut juru bicara kepolisian Saeed Montazer al-Mahdi, bukan sekadar kurir biasa. Mereka adalah ujung tombak operasi Israel yang dirancang untuk meledakkan sesuatu dari dalam, bukan hanya dengan bom, tapi dengan kepanikan yang ditimbulkannya.
Penangkapan itu, kata pejabat Iran, bukan yang pertama. Setahun sebelumnya, di provinsi Alborz, utara Teheran, dua agen Mossad lain juga telah lebih dulu meringkuk di sel tahanan. Mereka terlibat dalam pembuatan bom dan bahan peledak, sebuah pengingat bahwa perang bayangan ini telah berlangsung lama, jauh sebelum dunia menyadarinya.
Setahun kemudian, tepatnya pada Ahad (15/3/2026), Kepala keamanan Iran Ahmad Reza Radan berdiri di depan kamera dengan wajah datar. Ia mengumumkan sesuatu yang jika di negara lain akan menjadi gempa politik: sekitar 500 orang telah ditahan sebagai "mata-mata" yang bekerja untuk musuh dan media anti-Iran.
Dari jumlah itu, sekitar 250 orang disebut secara khusus memberikan data intelijen yang digunakan dalam operasi militer terhadap Iran. Mereka, kata Radan, tidak hanya mengirimkan informasi strategis, tapi juga berupaya mengganggu ketertiban umum di dalam negeri.
Bayangkan: setengah ribu manusia yang mungkin lahir dan besar di Iran, yang mungkin setiap hari melewati jalan-jalan Teheran yang sama, tiba-tiba menjadi mata-mata bagi musuh. Ini bukan cerita film spionase Hollywood. Ini adalah realitas pahit dari sebuah negara yang sejak revolusi 1979 merasa terus dikepung.
Dan pengepungan itu, bagi Iran, tidak pernah terasa sekonkret sekarang.
Semua bermula pada 28 Februari, ketika langit ibu kota Iran mendadak memerah oleh ledakan. Pesawat-pesawat tempur Israel dan Amerika Serikat menjatuhkan bom-bom mereka ke sejumlah target di jantung Republik Islam Iran.
Serangan itu bukan operasi terbatas. Ia menghantam beberapa wilayah, termasuk Teheran. Dan ketika debu mulai reda, jumlah korban membuat dunia menarik napas dalam-dalam: lebih dari 1.300 orang tewas. Di antaranya adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sosok yang selama tiga dekade lebih menjadi simbol perlawanan Teheran terhadap Barat.
Iran membalas. Rudal-rudal balistik menghujani wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah. Tapi serangan balasan itu, meski dahsyat, tak mampu menyembunyikan satu fakta: pukulan pertama telah merenggut nyawa ribuan warga sipil, termasuk anak-anak sekolah di Kota Minab yang tak pernah tahu apa itu politik.
Korps Pengawal Revolusi Islam mengumumkan bahwa mereka telah berhasil melancarkan serangan rudal terhadap salah satu kantor pusat intelijen israel, Mossad di Tel Aviv.
Di tengah puing-puing yang masih berasap, suara-suara diplomatik mulai terdengar. Tapi nada yang muncul bukan gema perdamaian.
Presiden Donald Trump, dalam pernyataannya kepada wartawan, mengatakan operasi militer terhadap Iran belum dapat dinyatakan selesai. "Kami masih berbicara dengan mereka, tetapi saya rasa mereka belum siap," katanya, merujuk pada kemungkinan dialog diplomatik.
Sementara di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara dengan nada yang tak kalah tegas. Dalam wawancara dengan CBS News, ia menegaskan: "Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta perundingan."
Dua pernyataan yang saling membentur. Dua dunia yang berbicara dalam bahasa yang sama sekali berbeda.
Tapi di sela-sela ketegangan itu, ada satu hal yang tak bisa diabaikan: Selat Hormuz. Jalur energi paling strategis di dunia itu menjadi pusat perhatian. Araghchi mengungkap bahwa sejumlah negara telah meminta jaminan keamanan bagi kapal-kapal mereka yang melintas di sana. Militer Iran, katanya, telah mengizinkan beberapa kapal internasional melintas dengan perlindungan tertentu.
Tapi perlindungan itu, seperti ditegaskan berulang kali para pejabat Iran, hanya berlaku bagi mereka yang tidak membantu musuh. Bagi kapal-kapal Amerika, Israel, dan sekutu-sekutunya, Selat Hormuz adalah tembok yang tak bisa ditembus.
Di balik semua yang terlihat, rudal yang melesat, pesawat yang menjatuhkan bom, para diplomat yang saling beradu pernyataan, ada pertarungan lain yang tak pernah masuk ke layar kaca. Pertarungan antara tiga lembaga intelijen paling disegani di kawasan: CIA, Mossad, dan VEVAK.
Masing-masing membawa DNA yang berbeda. CIA adalah mesin intelijen strategis global. Dengan dukungan teknologi satelit canggih, pengumpulan sinyal intelijen (SIGINT), serta kemampuan analisis data berskala besar, badan intelijen Amerika ini mampu memetakan ancaman dari jarak ribuan kilometer.
Mossad, sebaliknya, adalah organisasi operasi clandestine yang agresif. Keunggulannya bukan pada teknologi semata, tapi pada jaringan agen manusia, human intelligence (HUMINT), yang mampu menembus wilayah musuh secara mendalam. Operasi-operasi Mossad di Iran dalam beberapa tahun terakhir sering disebut sebagai contoh bagaimana pengawasan dan analisis data dapat menembus sistem keamanan negara yang relatif tertutup.
Sementara VEVAK, Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran, berperan sebagai benteng kontra-intelijen. Fokus utamanya adalah deteksi infiltrasi asing, pembongkaran jaringan mata-mata, serta pengamanan stabilitas internal. Penangkapan 500 orang yang diumumkan Radan, termasuk dua agen Mossad di Rey, adalah bukti kerja VEVAK di lapangan.
Tiga lembaga ini bertarung dalam senyap. Operasi intelijen yang disiapkan selama bertahun-tahun dapat menentukan keberhasilan satu operasi militer hanya dalam hitungan menit. Sebuah data tentang lokasi persembunyian pemimpin tertinggi, misalnya, bisa mengubah peta perang dalam semalam.
Perang intelijen hari ini tidak lagi hanya bergantung pada agen rahasia yang bergerak dalam bayangan. Teknologi kini menjadi tulang punggung utama.
Pengawasan satelit, analitik data besar, perang siber, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan telah mengubah lanskap spionase global. Drone-drone yang disita dari dua agen Mossad di Rey bukan sekadar mainan terbang. Mereka adalah mata-mata modern yang bisa merekam, memetakan, dan jika
Di era digital, perang intelijen tak lagi mengenal batas geografis. Seorang analis di Langley, Virginia, bisa memantau pergerakan pasukan Iran melalui layar komputernya. Seorang operator Mossad di Tel Aviv bisa mengirim malware yang melumpuhkan fasilitas nuklir Iran tanpa meninggalkan kursinya.
Tapi seperti ditunjukkan penangkapan di Rey dan Alborz, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia di lapangan. Dan manusialah yang paling mudah dilacak, paling mudah digagalkan, paling mudah dipenjara.
Di tengah semua ini, Iran bergerak di dua jalur sekaligus: bertahan dan menyerang. Bertahan dengan menangkap mata-mata di dalam negeri. Menyerang dengan rudal balistik ke wilayah musuh.
Pernyataan Araghchi bahwa Iran "tidak pernah meminta gencatan senjata" bukan sekadar retorika nasionalisme. Ia adalah cerminan dari keyakinan bahwa negeri para mullah ini telah melalui masa-masa yang jauh lebih sulit, perang delapan tahun dengan Irak, sanksi ekonomi berkepanjangan, pembunuhan berantai terhadap ilmuwan nuklirnya, dan masih berdiri.
Tapi harga dari keteguhan itu mahal. Lebih dari 1.300 nyawa melayang dalam serangan 28 Februari. Ratusan keluarga di Teheran, di Minab, di kota-kota lain, kini hidup dengan kursi kosong di meja makan mereka. Dan di sel-sel tahanan, ratusan "mata-mata" menanti nasib yang tak pasti.
Di luar sana, di perairan Selat Hormuz, kapal-kapal tanker masih ragu berlayar. Harga minyak dunia melambung. Negara-negara miskin mulai menghitung ulang anggaran pangan mereka. Dan di koridor-koridor gelap kekuasaan, agen-agen intelijen dari tiga negara terus bergerak, mengumpulkan informasi, menyusun strategi.
Perang di Timur Tengah, kata para pengamat, tak pernah benar-benar usai. Ia hanya berganti bentuk. Kadang berupa rudal yang melesat di langit malam. Kadang berupa bom yang meledak di pasar. Kadang berupa agen rahasia yang tertangkap di pinggiran kota.
Tapi yang paling menentukan, seperti ditunjukkan sejarah, bukanlah siapa yang paling banyak menembakkan rudal. Tapi siapa yang paling akurat membaca peta, siapa yang paling cepat mengolah informasi, siapa yang paling dalam menyusup ke pikiran musuh.
Itulah perang bayangan. Perang yang tak pernah tidur. Perang yang, hingga hari ini, terus berkecamuk di lorong-lorong sunyi Timur Tengah.
Garda Revolusi Iran Tantang Trump Adu Kekuatan Angkatan Laut di Selat Hormuz
Presiden Donald Trump telah memperingatkan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Eropa tentang masa depan yang sangat buruk jika mereka menolak permohonan Washington untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.
Teheran sebelumnya bersikeras bahwa jalur energi maritim yang penting itu tetap terbuka untuk semua orang – kecuali negara-negara 'bermusuhan.
“Sangatlah tepat jika pihak-pihak yang diuntungkan dari Selat tersebut membantu memastikan tidak terjadi hal buruk di sana,” kata Trump, seraya berpendapat bahwa Eropa dan Tiongkok sangat bergantung pada minyak dari Teluk, tidak seperti AS.
“Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO,” katanya.
Merespons hal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menantang Trump untuk mengirimkan kapal perang AS untuk mendukung klaimnya yang berulang kali bahwa angkatan laut Iran pada dasarnya telah hancur.
"Bukankah Trump mengatakan bahwa angkatan laut Iran telah dihancurkan? Jika demikian, biarkan dia mengirimkan kapalnya ke Teluk Persia jika dia berani," kata seorang juru bicara IRGC.
Sejumlah negara sekutu Trump telah menyatakan menolak untuk bergabung dalam perang melawan Iran, termasuk mengirim kapal tempur ke Selat Hormuz.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan kepada parlemen bahwa Tokyo tidak berencana untuk mengirimkan kapal angkatan laut untuk mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.
“Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum,” kata Takaichi.
Australia juga tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz meskipun ada seruan dari Presiden AS Donald Trump agar sekutu membantu mengamankan jalur air penting tersebut, kata menteri transportasi negara itu pada Senin.
Menteri Transportasi Catherine King mengatakan kepada ABC bahwa Australia tidak diminta untuk mengerahkan kapal. Sebagai gantinya, Australia, akan berkontribusi dengan menyediakan pesawat untuk membantu upaya pertahanan di Uni Emirat Arab.
“Yah, kami sudah sangat jelas tentang kontribusi kami terkait permintaan tersebut, dan sejauh ini, itu untuk UEA – jelas menyediakan pesawat untuk membantu pertahanan, terutama mengingat jumlah warga Australia yang berada di daerah itu – tetapi kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz,” katanya.
Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini mengatakan sebagian besar persenjataan yang dimiliki oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) masih utuh, dan persenjataan yang lebih canggih disimpan sebagai cadangan.
Nani mengatakan kepada stasiun televisi IRIB bahwa Iran telah menembakkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone terhadap target AS dan Israel sejak awal perang pada 28 Februari.
Ia menambahkan bahwa kemampuan ofensif Iran telah meningkat secara signifikan sejak perang 12 hari AS dan Israel terhadap Iran tahun lalu.
“Rudal yang saat ini digunakan berasal dari satu dekade lalu,” kata Naini.
“Banyak rudal yang telah kami produksi sejak perang 12 hari hingga perang Ramadan belum dikerahkan,” katanya.
Iran menegaskan tidak akan pernah menyerah atas agresi yang dilakukan oleh Amerika dan Israel.