News Komoditi & Global ( Kamis, 19 Februari 2026 )

News  Komoditi & Global

                                (  Kamis,   19  Februari  2026  )

Harga Emas Global Menguat, di Tengah Ketegangan Geopolitik

 

Harga emas melonjak lebih dari 2% pada Rabu (18/2/2026), seiring investor mencermati meningkatnya risiko geopolitik, meskipun risalah rapat Federal Reserve (The Fed) bulan Januari menunjukkan perbedaan pandangan pejabat bank sentral terkait arah suku bunga ke depan.

Melansir Reuters, harga emas spot naik 2,4% menjadi US$4.992,11 per ons troi pada pukul 14.18 waktu setempat (1918 GMT). Sehari sebelumnya, harga emas sempat merosot lebih dari 2% ke US$4.841,74 per ons, level terendah dalam sepekan.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup menguat 2,1% ke level US$5.009,50 per ons.

“Ada kekhawatiran terkait ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, baik antara Iran dan Amerika Serikat maupun konflik lainnya,” ujar Edward Meir, analis Marex.

Namun demikian, ia menambahkan bahwa sepanjang Februari, harga emas bergerak dalam rentang yang relatif sempit sehingga belum terlihat arah pergerakan yang benar-benar jelas.

Di sisi geopolitik, perundingan damai selama dua hari antara Rusia dan Ukraina di Jenewa berakhir tanpa terobosan.

Gedung Putih juga menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran di Jenewa hanya menghasilkan kemajuan terbatas, dengan sejumlah perbedaan yang masih harus dibahas lebih lanjut dalam beberapa pekan mendatang.

Risalah rapat The Fed menunjukkan para pejabat hampir sepakat mempertahankan suku bunga bulan lalu. Namun, terdapat perbedaan pandangan mengenai prospek ke depan.

Beberapa pejabat memperingatkan kemungkinan kenaikan suku bunga kembali jika inflasi tetap tinggi, sementara yang lain mendiskusikan kapan dan apakah pemangkasan suku bunga perlu dilakukan.

Tai Wong, pedagang logam independen, menilai emas berpotensi kembali menembus level US$5.000 per ons meskipun risalah The Fed bernada sedikit hawkish.

“Mayoritas pasar saat ini tidak melihat adanya perubahan suku bunga setidaknya hingga Juni,” ujarnya.

Data terbaru menunjukkan inflasi konsumen Januari lebih lemah dari perkiraan, namun pertumbuhan lapangan kerja melampaui ekspektasi dan tingkat pengangguran menurun.

Investor kini menantikan laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis Jumat, indikator inflasi pilihan The Fed, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut terkait arah inflasi dan implikasinya terhadap kebijakan suku bunga.

Sebagai aset safe haven yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 5,2% menjadi US$77,24 per ons troi setelah sehari sebelumnya turun lebih dari 4%.

Platinum naik 3,5% ke US$2.078,28 per ons troi, sementara paladium menguat 1,2% menjadi US$1.702,75 per ons troi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Naik, Geopolitik Panaskan Pasar

 

Harga minyak dunia ditutup melonjak lebih dari 4% pada Rabu (18/2/2026), seiring pelaku pasar memperhitungkan potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta berakhirnya perundingan damai Rusia-Ukraina di Jenewa tanpa terobosan berarti.

Melansir Reuters, minyak mentah Brent ditutup naik US$2,93 atau 4,35% menjadi US$70,35 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,86 atau 4,59% menjadi US$65,19 per barel.

Keduanya mencatat penutupan tertinggi sejak 30 Januari, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan.

Kenaikan semakin tajam menjelang akhir sesi, dengan harga sempat melonjak lebih dari US$3, menyusul laporan media bahwa Israel meningkatkan status siaga di tengah indikasi kemungkinan serangan terhadap Iran oleh AS dan Israel, menurut Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.

“Pergerakan besar harga minyak hari ini sepenuhnya didorong oleh faktor geopolitik. Pasar terus bereaksi terhadap perkembangan terkait pertemuan AS-Iran serta Rusia-Ukraina,” ujar Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

“Pasar kini memasukkan premi risiko tambahan atas potensi gangguan pasokan.”

Pada Selasa, harga minyak sempat melemah setelah Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Teheran dan Washington telah mencapai kesepahaman terkait prinsip dasar perundingan nuklir.

Namun pada Rabu, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa Iran dan Rusia akan menggelar latihan angkatan laut di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada Kamis.

Media pemerintah Iran sebelumnya juga melaporkan bahwa sebagian Selat Hormuz jalur vital distribusi minyak global ditutup sementara karena alasan keamanan saat Garda Revolusi melakukan latihan militer.

Penutupan disebut berlangsung beberapa jam, meski tidak dijelaskan apakah jalur tersebut telah sepenuhnya dibuka kembali.

Analis komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, menyatakan bahwa Iran memahami taktik negosiasi Presiden AS Donald Trump dan menyadari bahwa lonjakan harga minyak hingga US$150 per barel akibat gangguan ekspor melalui Selat Hormuz adalah hal yang paling tidak diinginkan Washington.

“Iran masih memiliki waktu untuk bernegosiasi dengan tenang,” tulisnya dalam sebuah catatan.

Sementara itu, konsultan politik Eurasia Group memperkirakan terdapat peluang 65% terjadinya serangan militer AS terhadap Iran sebelum akhir April.

“Pasar memantau peningkatan pergerakan peralatan militer AS ke kawasan tersebut, yang memberi sinyal bahwa potensi konflik semakin dekat,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital.

Di sisi lain, perundingan damai selama dua hari antara Rusia dan Ukraina di Jenewa berakhir tanpa terobosan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menuduh Moskow menghambat upaya mediasi AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung empat tahun.

Presiden Trump sebelumnya mendesak Ukraina untuk menyepakati kesepakatan yang berpotensi mengandung konsesi sulit, sementara pasukan Rusia terus menyerang infrastruktur energi Ukraina dan mencatat kemajuan di medan perang.

Zelenskiy menggambarkan perundingan tersebut sebagai “sulit.”

Menurut Kilduff, jika pembicaraan benar-benar gagal, pasar dapat melihat penurunan signifikan ekspor minyak Rusia ke pasar global, yang akan menjadi faktor pendukung kenaikan harga minyak.

Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute (API) yang dijadwalkan rilis Rabu, serta data resmi dari Energy Information Administration (EIA) pada Kamis.

Analis yang disurvei Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS meningkat pada pekan lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup, Saham Nvidia dan AI Jadi Pendorong Utama

 

 Wall Street ditutup menguat pada Rabu (18/2/2026), didorong oleh kenaikan saham Nvidia, Amazon, dan sejumlah emiten teknologi besar lainnya setelah meredanya kekhawatiran investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).

Melansir Reuters, indeks S&P 500 naik 0,56% menjadi 6.881,31 poin. Nasdaq Composite menguat 0,78% ke 22.753,64 poin, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 0,26% menjadi 49.662,66 poin.

Nasdaq sempat melonjak hingga 1,4% sebelum memangkas kenaikannya pada sesi perdagangan sore.

Delapan dari 11 sektor dalam S&P 500 ditutup menguat, dipimpin oleh sektor energi yang naik 2%, diikuti sektor consumer discretionary yang naik 1%.

Volume perdagangan di bursa AS relatif tipis, dengan 16,8 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan rata-rata 20,7 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan sebelumnya.

Saham Nvidia naik 1,6% setelah perusahaan tersebut mengumumkan telah menandatangani kesepakatan multi-tahun untuk memasok jutaan chip AI generasi saat ini dan mendatang kepada Meta Platforms. Saham Meta turut menguat 0,6%.

Sementara itu, saham perusahaan penyimpanan data seperti Sandisk, Western Digital, dan Seagate Technology Holdings naik antara 1,7% hingga 4,4%.

Kenaikan ini menambah penguatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir yang didorong oleh tingginya permintaan teknologi penyimpanan untuk kebutuhan AI.

Saham-saham terkait AI sebelumnya sempat tertekan pada awal bulan ini akibat kekhawatiran investor terhadap valuasi yang tinggi serta ketidakpastian mengenai seberapa cepat investasi AI dapat mendorong pertumbuhan pendapatan.

Saham Amazon menguat 1,8% dan Microsoft naik 0,7% pada perdagangan Rabu.

“Pada titik tertentu, pelemahan saham teknologi pasti akan menarik minat beli. Emiten-emiten ini masih memiliki pertumbuhan tinggi. Sebelumnya mahal, namun kini valuasinya menjadi lebih menarik,” ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, Louisville, Kentucky.

“Masih banyak investor yang ingin memiliki eksposur ke sektor teknologi dalam beberapa tahun ke depan.”

Perusahaan perangkat lunak juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sebelumnya muncul kekhawatiran bahwa kemajuan AI dapat meningkatkan persaingan dan menekan margin laba.

Indeks sektor perangkat lunak dan layanan dalam S&P 500 naik 1,1% setelah sempat melemah pada awal bulan.

Kenaikan sektor ini didukung oleh saham Cadence Design Systems yang melampaui estimasi pendapatan kuartal keempat.

Sebaliknya, saham Palo Alto Networks turun 6,8% setelah memangkas proyeksi laba tahunannya.

Risalah rapat Federal Reserve pada 27–28 Januari yang dirilis Rabu menunjukkan para pejabat bank sentral hampir sepakat untuk mempertahankan suku bunga, meskipun terdapat perbedaan pandangan terkait arah kebijakan selanjutnya.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 50% untuk pemangkasan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan The Fed bulan Juni mendatang, menurut CME FedWatch Tool.

Data ekonomi terbaru menunjukkan belanja bisnis yang solid serta pertumbuhan ekonomi AS yang tetap kuat pada kuartal keempat.

Dari sisi emiten, saham Analog Devices naik 2,6% setelah memproyeksikan kinerja kuartal kedua di atas ekspektasi Wall Street.

Global Payments melonjak lebih dari 16% setelah memproyeksikan laba tahunan yang disesuaikan melampaui perkiraan analis.

Sementara itu, Moderna naik sekitar 6% setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan akan meninjau kembali vaksin influenza perusahaan tersebut, membatalkan keputusan sebelumnya yang menolak permohonan tersebut.

 

 

 

Dewan HAM PBB: File Epstein Tunjukkan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

 

 

Jutaan berkas terkait dengan terpidana pelaku kejahatan seks anak Jeffrey Epstein menunjukkan adanya “jaringan kriminal global” yang melakukan tindakan yang memenuhi ambang batas hukum kejahatan terhadap kemanusiaan. Demikian ungkap panel ahli independen yang ditunjuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Para ahli mengatakan kejahatan yang diuraikan dalam dokumen yang dikeluarkan oleh departemen kehakiman AS dilakukan dengan latar belakang keyakinan supremasi, rasisme, korupsi, dan kebencian terhadap wanita yang ekstrim. Kejahatan tersebut, kata mereka, menunjukkan komodifikasi dan dehumanisasi terhadap perempuan dan anak perempuan.

 “Betapa seriusnya skala, sifat, karakter sistematis, dan jangkauan transnasional dari kekejaman terhadap perempuan dan anak perempuan, sehingga beberapa dari mereka mungkin memenuhi ambang batas hukum kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata mereka dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters pada Rabu.

Para ahli mengatakan tuduhan yang terkandung dalam berkas tersebut memerlukan penyelidikan yang independen, menyeluruh dan tidak memihak. Mereka juga mengatakan penyelidikan juga harus dilakukan mengenai bagaimana kejahatan semacam itu bisa dilakukan dalam waktu yang begitu lama.

Departemen Kehakiman AS tidak segera menanggapi permintaan komentar oleh Reuters. Sebuah undang-undang, yang disetujui oleh Kongres dengan dukungan bipartisan yang luas pada bulan November, mengharuskan semua dokumen terkait Epstein dipublikasikan.

Dalam dokumen yang dibuka belakangan, terungkap jejaring hubungan pengusaha Yahudi tersebut dengan tokoh-tokoh terkemuka di berbagai negara. Dokumen-dokumen itu telah memicu goncangan politik setidaknya di AS, Inggris, Norwegia, dan India.

Dalam email-emailnya yang dibocorkan, Epstein bersama rekan-rekan Yahudinya kerap menggunakan istilah merendahkan “goyim” untuk orang-orang non-Yahudi. Perempuan dan anak-anak digambarkan sebagai komoditas dalam dokumen-dokumen itu.

Epstein yang terungkap punya hubungan erat dengan mantan perdana menteri Israel Ehud Barak juga kerap berkomunikasi soal rekayasa politik di berbagai negara. Dalam salah satu rekaman yang dibocorkan, mereka bicara soal upaya pemindahan jutaan warga Rusia ke Israel untuk mengubah demografi di entitas Zionis itu menghadapi pertumbuhan komunitas Arab dan Yahudi dari Timur Tengah.

Para ahli PBB juga menyuarakan keprihatinan tentang “kegagalan kepatuhan yang serius dan kesalahan redaksi” yang mengungkap informasi sensitif korban. Lebih dari 1.200 korban teridentifikasi dalam dokumen yang telah dirilis sejauh ini.

“Keengganan untuk mengungkapkan informasi sepenuhnya atau memperluas penyelidikan telah membuat banyak penyintas merasa trauma dan menjadi sasaran apa yang mereka gambarkan sebagai ‘gaslighting institusional’,” kata para ahli.

Rilis dokumen tersebut oleh Departemen Kehakiman telah mengungkap hubungan Epstein dengan banyak orang terkemuka di bidang politik, keuangan, akademisi dan bisnis – baik sebelum dan sesudah dia mengaku bersalah pada tahun 2008 atas tuduhan prostitusi, termasuk merayu seorang gadis di bawah umur.

Dia ditemukan tewas di sel penjaranya pada tahun 2019 setelah ditangkap lagi atas tuduhan federal atas perdagangan seks anak di bawah umur. Kematiannya dinyatakan sebagai bunuh diri, meski kecurigaan bahwa ia dibunuh terus mengemuka.

 

 

 

 

 

 

Aktivis Zionis Bakar Alquran Saat Umat Islam Hendak Rayakan Ramadhan

 

 

Seorang pemukim ekstremis Israel membakar salinan kitab suci umat Muslim, Alquran, di lokasi yang tidak disebutkan di Yerusalem, beberapa hari sebelum dimulainya bulan suci Ramadan. Video pembakaran itu beredar pada Selasa sebagaiman dilaporkan Anadolu dan dilansir Middle East Monitor.

“Seorang aktivis Zionis religius dari neo-Nazi membakar Alquran dengan wajah terbuka,” kata anggota Knesset Arab Ahmad Tibi di perusahaan media sosial AS X.

Ia mengatakan bahwa ekstremis Israel tersebut tidak akan dihukum karena berdarah Yahudi.

Dalam rekaman yang dibagikan oleh Tibi, pemukim Israel ilegal tersebut terdengar berkata: “Apa yang terjadi? Kita di sini sekarang merayakan dan membakar kitab yang sangat suci bagi umat Muslim, surah demi surah, semua surah. Selamat untuk kita.”

“Rakyat Israel sedang membasmi kejahatan. Selamat untuk kita. Saya sangat menghargai Alquran, tetapi hanya jika seperti ini,” kata pemukim yang tidak disebutkan namanya itu, sambil membakar kitab suci tersebut.

Tidak ada komentar langsung dari otoritas Israel atau kelompok-kelompok Yahudi mengenai insiden tersebut. Namun video ini terjadi ketika otoritas keagamaan di negara-negara Muslim akan mengamati jatuhnya bulan Ramadan, bulan tersuci dalam kalender lunar Islam, pada Selasa malam.

Pada hari yang sama otoritas di Saudi telah mengumumkan bahwa pelaksanaa bulan suci Ramadhan akan jatuh pada Rabu (18/2/2026).

- Liga Arab pada Selasa (16/2) mengutuk keras keputusan penjajah Israel untuk mengubah lahan di Tepi Barat menjadi "tanah negara", menyebutnya sebagai langkah eskalasi yang berbahaya dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan resolusi legitimasi internasional.

Melalui sebuah pernyataan, Liga Arab menekankan bahwa keputusan tersebut batal demi hukum dan bertujuan untuk memaksakan realitas baru di lapangan sebagai persiapan pencaplokan wilayah Palestina yang diduduki.

Hal itu dinilai memperkuat kebijakan pemukiman ilegal dan juga merusak prospek untuk mencapai perdamaian yang adil dan langgeng berdasarkan solusi dua negara sesuai dengan resolusi PBB dan Inisiatif Perdamaian Arab.

Liga Arab menegaskan bahwa semua kebijakan yang bertujuan untuk mengubah status quo hukum dan sejarah wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum, memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berdampak terhadap keamanan dan stabilitas di kawasan.

Organisasi itu juga menegaskan kembali dukungannya yang teguh terhadap hak-hak sah rakyat Palestina, terutama hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan pembentukan negara merdeka sesuai perbatasan 4 Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

 

 

 

 

 

Iran dan Rusia Gelar Latihan Militer Angkatan Laut Bersama, Sinyal Peringatan Buat AS?

 

 

Iran dan Rusia akan menggelar latihan angkatan laut di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada  Kamis, demikian dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Fars. Latihan itu dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melakukan latihan militer di Selat Hormuz di tengah ancaman militer AS.

“Latihan untuk membangun konvergensi dan koordinasi dalam tindakan bersama  melawan aktivitas yang mengancam keamanan dan keselamatan maritim (...) serta memerangi terorisme maritim. Ini adalah beberapa tujuan utama dari latihan bersama ini,” kata seorang komandan angkatan laut Iran, Hassan Maghsoodloo, menurut berita Fars.

Komandan itu tidak menyebut secara pasti siapa pihak yang mengancam. Namun ini sepertinya menjadi sinyal peringatan buat AS yang telah menggerakkan kekuatan militer ke Timur Tengah, termasuk pengerahan kapal induk dan jet tempur.

Donald Trump berulangkali sesumbar bakal menyerang Iran termasuk mengganti rezim Teheran yang kini berkuasa.

Pekan lalu, Trump mengatakan USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, dikirim dari Laut Karibia ke Timur Tengah untuk bergabung dengan kapal perang dan aset militer lainnya yang telah dibangun AS di wilayah tersebut.

Ford yang penempatan barunya pertama kali dilaporkan oleh The New York Times, akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan kapal perusak rudal yang menyertainya, yang telah berada di wilayah tersebut selama lebih dari dua minggu.

Pasukan AS telah menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati Lincoln pada hari yang sama pekan lalu ketika Iran mencoba menghentikan kapal berbendera AS di Selat Hormuz.

Peringatan AS membuat Teheran bersiaga. Iran menutup sebagian Selat Hormuz yang strategis untuk tindakan keamanan selama latihan militer oleh Garda Revolusi. Demikian dilaporkan media pemerintah pada Selasa.

 

Televisi pemerintah melaporkan sebagian Selat Hormuz akan ditutup untuk menghormati prinsip-prinsip keselamatan dan navigasi. Ini adalah pertama kalinya Iran menutup sebagian selat tersebut sejak AS mulai mengancam Iran dengan tindakan militer.

Iran dilaporkan menembakkan rudal ke Selat Hormuz dalam latihan. Kantor berita semi-resmi Tasnim, yang dekat dengan Garda Revolusi paramiliter, mengatakan rudal yang diluncurkan di dalam Iran dan di sepanjang pantainya telah mengenai sasarannya di Selat Hormuz.

Iran telah mengumumkan bahwa Garda Revolusi memulai latihan pada Senin pagi di Selat Hormuz, Teluk Arab, dan Teluk Oman, yang merupakan jalur pelayaran internasional yang penting. Ini adalah kali kedua dalam beberapa pekan terakhir Iran mengadakan latihan tembak langsung di Selat Hormuz.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meningkatkan peringatannya kepada AS atas peningkatan kekuatan militernya di Timur Tengah.

“Tentu saja kapal perang adalah alat yang berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya daripada kapal perang adalah senjata yang dapat menenggelamkan kapal perang ke dasar laut,” kata Khamenei, seperti yang dilaporkan oleh televisi pemerintah Iran.

Ia juga memperingatkan AS bahwa memaksakan hasil pembicaraan terlebih dahulu adalah pekerjaan yang salah dan bodoh.

Negara-negara Arab Teluk telah memperingatkan bahwa serangan apa pun dapat memicu konflik regional lain di Timur Tengah yang masih terguncang akibat perang Israel-Hamas di Jalur Gaza.

Pemerintahan Trump berupaya mencapai kesepakatan untuk membatasi program nuklir Iran dan memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. Iran mengatakan bahwa mereka tidak mengejar senjata dan sejauh ini menolak tuntutan agar mereka menghentikan pengayaan uranium atau menyerahkan pasokan uraniumnya.

AS dan Iran tengah dalam pertemuan selama berbulan-bulan ketika Israel melancarkan perang 12 hari melawan Iran pada Juni lalu dan langsung menghentikan pembicaraan tersebut.

AS mengebom situs nuklir Iran selama perang itu, kemungkinan menghancurkan banyak sentrifugal yang memutar uranium hingga mendekati kemurnian tingkat senjata nuklir. Serangan Israel menghancurkan pertahanan udara Iran dan juga menargetkan persenjataan rudal balistiknya.

Iran bersikeras bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai. Sebelum perang Juni, Iran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen, sebuah langkah teknis yang singkat dari tingkat senjata nuklir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran Tutup Selat Hormuz, AS Kirimkan Jet Tempur

 

 

Iran menutup sementara Selat Hormuz selama beberapa jam pada Selasa sebagai bagian dari latihan militer skala besar yang dilakukan oleh pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sementara pesawat-pesawat tempur AS mulai dikerahkan ke wilayah sekitar Iran.

Langkah-langkah ini dilakukan kedua negara berbarengan dengan perundingan yang dilangsungkan di Jenewa, Swiss, terkait program nuklir Iran. Sejauh ini, ancaman perang kedua negara belum sepenuhnya nihil.

Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tangsiri mengatakan keputusan untuk menutup jalur laut secara permanen berada di tangan para pemimpin politik senior, namun menegaskan bahwa angkatan bersenjata siap untuk melakukannya “kapan saja” jika diperintahkan.

Televisi Iran menggambarkan manuver tersebut dirancang untuk menguji kesiapan dan meninjau prosedur operasional dalam menanggapi ancaman yang dirasakan. Latihan tersebut menekankan kemampuan respons cepat terhadap rencana musuh.

Jalur perairan strategis ini, yang menjadi jalur transit sebagian besar pasokan energi global, telah lama menjadi pusat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Pengumuman tersebut disampaikan di tengah peningkatan kekuatan militer regional dan saling ancaman antara kedua belah pihak.

Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Aljazirah bahwa latihan sedang dilakukan mengenai berbagai skenario untuk melawan serangan Amerika terhadap Iran, sementara penumpukan militer Amerika di Timur Tengah terus berlanjut.

Selat Hormuz

Pejabat Iran itu menambahkan bahwa penerapan ancaman baru-baru ini yang dibuat oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei terhadap Washington sudah siap secara operasional dan dapat dijangkau.

Kantor berita Iran Mehr mengutip komandan angkatan laut Garda Revolusi yang mengatakan bahwa pasukannya siap menutup Selat Hormuz jika para pemimpin senior Iran memutuskan untuk melakukannya.

Sebaliknya, Axios mengutip data pelacakan penerbangan dan seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa “militer AS telah memindahkan lebih dari 50 pesawat militer, termasuk pesawat tempur siluman F-35 dan F-22 serta pesawat tempur F-16, ke wilayah Timur Tengah dalam beberapa jam terakhir.”

Selain kapal induk USS Abraham Lincoln, Washington memutuskan untuk mengirim kapal induk USS Gerald Ford ke wilayah tersebut, dan ada laporan rencana pengiriman kapal induk ketiga.

Perkembangan ini terjadi meskipun ada jaminan dari para pejabat AS dan Iran bahwa kemajuan telah dicapai dalam perundingan tidak langsung putaran kedua antara kedua negara, yang berlangsung pada hari Selasa di kedutaan Oman di Jenewa, Swiss.

Selama perundingan, Iran menuntut pencabutan sanksi sebagai imbalan karena membiarkan program nuklirnya terus berlanjut di bawah pembatasan yang mencegah negara itu memproduksi bom nuklir. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat menuntut agar Iran sepenuhnya menghentikan kegiatan pengayaan uraniumnya dan membuang persediaan uranium yang telah diperkaya dari negara tersebut.

Pemerintahan AS juga berupaya untuk memasukkan program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di wilayah tersebut ke dalam agenda perundingan, sementara Teheran menegaskan tidak akan membahas masalah apa pun selain program nuklir.

Sebelumnya pada Selasa, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, menanggapi pernyataan presiden AS sebelumnya, mengatakan bahwa tentara terkuat di dunia dapat menerima pukulan yang akan mencegahnya bangkit kembali, mengisyaratkan kemampuan tentara Iran untuk menenggelamkan kapal induk AS.

Dia menambahkan bahwa jenis dan jangkauan rudal Iran adalah urusan internal Iran dan tidak ada hubungannya dengan Amerika Serikat. Dia menekankan bahwa negaranya mempunyai hak untuk memiliki industri nuklir untuk tujuan damai, dan mengatakan bahwa Washington bukanlah tempat untuk membahas masalah ini.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran melanjutkan manuvernya untuk hari kedua di Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa mereka menggunakan sistem pertahanan dan ofensif serta senjata yang secara akurat mengenai sasaran mereka.

Unit rudal dan drone berpartisipasi dalam latihan tersebut. Garda Revolusi mengumumkan pembatasan pengiriman di Selat Hormuz selama latihan tersebut.

Garda Revolusi sebelumnya telah mengumumkan bahwa manuvernya di Selat tersebut bertujuan untuk menguji kesiapan dan meninjau rencana operasional untuk melawan ancaman, dengan meningkatnya kehadiran militer AS di wilayah tersebut dan pengerahan kapal induk tambahan.

Baru-baru ini, ada indikasi bahwa pengiriman senjata Rusia dan Tiongkok telah tiba di Iran sejak apa yang dikenal sebagai “perang 12 hari” pada bulan Juni lalu. Pengiriman ini diangkut dengan pesawat militer besar dan mencakup berbagai peralatan pertahanan dan ofensif.

 

 

Setelah Tepi Barat, Yordania jadi Sasaran Israel Selanjutnya

 

 

Langkah-langkah perluasan penjajahan yang dilakukan Israel di Tepi Barat kian menjadi-jadi belakangan. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa entitas Zionis tersebut selangkah lagi mencaplok wilayah di tepi timur sungai Yordan.

Kekhawatiran di Yordania mencapai puncaknya pada Ahad, menyusul persetujuan kabinet Israel atas langkah-langkah untuk mendaftarkan sebagian besar wilayah Tepi Barat yang diduduki sebagai “tanah negara” di bawah Kementerian Kehakiman Israel.

Langkah tersebut, yang digambarkan oleh Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich sebagai “revolusi permukiman”, secara efektif mengabaikan status wilayah pendudukan sejak tahun 1967, dan memperlakukan wilayah tersebut sebagai tanah kedaulatan Israel.

Bagi Yordania, aneksasi birokratis ini merupakan sinyal terakhir bahwa status quo sudah mati. Dengan operasi “Tembok Besi” yang dilakukan militer Israel yang menghancurkan kamp-kamp pengungsi di Jenin dan Tulkarem, lembaga politik dan militer Yordania tidak lagi mempertanyakan apakah pemindahan paksa akan dilakukan, namun bagaimana cara menghentikannya.

“Pemindahan ini bukan lagi sekadar  ancaman; melainkan sudah mengarah pada eksekusi di lapangan,” Mamdouh al-Abbadi, mantan wakil perdana menteri Yordania, mengatakan kepada Aljazirah. “Kami melihat penerapan praktisnya… Tanah air alternatif (Yahudi) adalah sesuatu yang akan terjadi; setelah Tepi Barat ini, musuh akan pindah ke Tepi Timur, ke Yordania.”

Ketakutan di Amman bukan hanya soal invasi militer, tapi soal “transfer lunak”, yang membuat kehidupan di Tepi Barat tidak begitu tak tertahankan sehingga memaksa eksodus bertahap ke Yordania.

Keputusan pada Ahad  untuk mengalihkan kewenangan pendaftaran tanah ke Kementerian Kehakiman Israel dipandang di Yordania sebagai langkah penting dalam proses ini. Dengan menghapus daftar tanah Yordania dan Ottoman yang telah melindungi hak milik warga Palestina selama satu abad, Israel membuka jalur hukum untuk perluasan permukiman besar-besaran.

Al-Abbadi, seorang tokoh veteran dalam politik Yordania, menunjuk pada perubahan simbolis namun berbahaya dalam nomenklatur militer Israel.

“Ada brigade baru di tentara Israel, bernama Brigade Gilead,” kata al-Abbadi. "Apa itu Gilead? Gilead adalah wilayah pegunungan dekat ibu kota, Amman. Ini berarti Israel melanjutkan praktik strategis mereka dari Sungai Nil hingga Efrat."

Dia berpendapat bahwa Perjanjian Wadi Araba tahun 1994 secara efektif batal demi hukum di mata kepemimpinan Israel saat ini.

“Ideologi Smotrich bukan hanya pandangan satu orang; itu sudah menjadi doktrin negara,” kata al-Abbadi, memperingatkan bahwa konsensus Israel telah berubah secara permanen. "Merekalah yang membunuh perjanjian Wadi Araba bahkan sebelum perjanjian itu lahir... Jika kita tidak bangun, strateginya adalah 'kita atau mereka'. Tidak ada pilihan ketiga."

Ketika jalur diplomasi semakin sempit, pertanyaan beralih ke opsi militer Yordania. Lembah Yordan, sebidang tanah subur yang memisahkan kedua tepian sungai, kini menjadi garis depan dari apa yang oleh para ahli strategi Yordania disebut sebagai “pertahanan eksistensial”.

Mayor Jenderal (pensiunan) Mamoun Abu Nowar, seorang ahli militer, memperingatkan bahwa tindakan Israel sama dengan “perang yang tidak diumumkan” terhadap kerajaan tersebut. Ia menyarankan jika tekanan pengungsi terus berlanjut, Yordania harus siap mengambil tindakan drastis.

“Yordania dapat menyatakan Lembah Yordan sebagai zona militer tertutup untuk mencegah pengungsian,” kata Abu Nowar kepada Aljazirah. “Hal ini dapat menyebabkan konflik dan menyulut konflik di kawasan ini.”

Meskipun mengakui perbedaan dalam kemampuan militer, ia menolak gagasan bahwa Israel dapat dengan mudah menguasai Yordania, dengan alasan tatanan sosial yang unik di kerajaan tersebut.

“Pedalaman Yordania, dengan suku dan klannya… ini adalah tentara kedua,” kata Abu Nowar. “Setiap desa dan setiap gubernuran akan menjadi garis pertahanan Yordania… Israel tidak akan berhasil dalam konfrontasi ini.”

Namun, dia memperingatkan bahwa situasinya tidak stabil. Karena Tepi Barat berpotensi meledak menjadi konflik agama, ia memperingatkan akan terjadinya “gempa regional” jika garis merah dilanggar. “Tentara kami profesional dan siap menghadapi semua skenario, termasuk konfrontasi militer,” tambahnya. “Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini.”

Yang memperparah kecemasan Yordania adalah perasaan ditinggalkan oleh sekutunya: Amerika Serikat. Selama beberapa dekade, “pilihan Yordania” – stabilitas Kerajaan Hashemite – merupakan landasan kebijakan AS.

Namun Oraib al-Rantawi, direktur Pusat Studi Politik Al-Quds, berpendapat bahwa “taruhan strategis” ini telah gagal. Dia menunjuk pada “pergeseran paradigma” yang dimulai pada masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump, yang membuat Washington memindahkan jangkar regionalnya dari Amman dan Kairo ke ibu kota Teluk, “terpesona oleh gemerlapnya uang dan investasi”.

Al-Rantawi mencatat bahwa bahkan di bawah pemerintahan Biden, dan sekarang dengan kembalinya Trump, AS telah menunjukkan kesediaan untuk mengorbankan kepentingan Yordania demi Israel. “Ketika diuji – memilih di antara dua sekutu – Washington pasti akan memilih Israel tanpa ragu-ragu,” kata al-Rantawi.

Menghadapi isolasi ini, suara-suara di Amman menyerukan perombakan radikal terhadap aliansi Yordania. Kerajaan itu secara tradisional menjaga perdamaian dengan Otoritas Palestina (PA) di Ramallah sambil menghindari Hamas dan faksi perlawanan lainnya, sebuah kebijakan yang menurut al-Rantawi merupakan kesalahan strategis.

“Yordania melakukan blunder dalam diplomasinya,” jelas al-Rantawi, dengan menegaskan hubungan eksklusif dengan Otoritas Palestina yang melemah di Ramallah.

Dia membandingkan posisi Yordania dengan posisi Qatar, Mesir, dan Turki, yang mempertahankan hubungan dengan kelompok Palestina Hamas dan dengan demikian mempertahankan pengaruhnya.

“Kairo, Doha, dan Ankara tetap menjalin hubungan dengan Hamas, yang memperkuat kehadiran mereka bahkan dengan AS,” katanya. “Jordan melepaskan peran ini secara sukarela… atau karena salah perhitungan.”

Al-Rantawi berpendapat bahwa keengganan ini berasal dari ketakutan internal terhadap menguatnya Ikhwanul Muslimin di Yordania, namun dampaknya adalah hilangnya pengaruh regional pada saat Amman sangat membutuhkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Tegaskan Ogah Mundur dari Gaza

 

 

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pada Selasa bahwa pasukan Israel akan tetap berada di dalam Jalur Gaza dan tidak akan mundur dari posisi mereka saat ini. Ia  menyatakan Israel “tidak akan bergerak satu milimeter pun” dari apa yang disebut “Garis Kuning.”

Garis tersebut menandai wilayah timur Gaza tempat pasukan Israel dikerahkan kembali selama tahap pertama rencana gencatan senjata yang didukung oleh Presiden AS Donald Trump. Berdasarkan perjanjian tahap kedua, yang dimulai bulan lalu, Israel diperkirakan akan mulai melakukan penarikan bertahap.

Katz mengkondisikan penarikan apapun atas pelucutan senjata sepenuhnya kelompok Perlawanan Palestina, Hamas. "Kami tidak akan pernah membiarkan Hamas tetap tinggal - tidak dengan senjata dan tidak dengan terowongan. Slogannya sederhana: sampai terowongan terakhir," katanya pada konferensi yang diselenggarakan oleh surat kabar Israel Yedioth Ahronoth.

Dia menegaskan kembali posisinya secara eksplisit. “Kami tidak akan bergerak satu milimeter pun dari Garis Kuning sampai Hamas dilucuti, dari senjata, dari terowongan, dan dari hal-hal lainnya.”

Palestine Chronicles melaporkan, pernyataan tersebut menyusul pernyataan Sekretaris Kabinet Israel Yossi Fuchs, yang memperingatkan Hamas akan diberikan waktu 60 hari untuk melucuti senjatanya atau Israel akan melanjutkan perang.

Gencatan senjata yang dimaksudkan untuk mengakhiri genosida Israel selama dua tahun di Gaza pada bulan Oktober 2025 mencakup ketentuan untuk penempatan kembali Israel, rekonstruksi, perluasan bantuan kemanusiaan, dan pembentukan badan administratif pemerintahan di Gaza. Komentar Katz mengindikasikan Israel menunda penarikan sampai kondisi politik dan militer terpenuhi.

Katz juga menekankan kelanjutan keselarasan strategis dengan Washington, dan menyebut Amerika Serikat sebagai “sekutu besar” yang mendukung Israel selama “konflik multi-front,” sambil mengakui perbedaan pendapat yang “memiliki dampak.”

Dia lebih lanjut mengumumkan rencana ekspansi militer jangka panjang, dengan mengatakan Kementerian Pertahanan bermaksud meluncurkan inisiatif “Perisai Israel”, yang menambah sekitar 350 miliar shekel (sekitar 95 miliar dolar AS) untuk belanja militer selama dekade berikutnya.

“Tidak ada keamanan tanpa perekonomian, dan tidak ada perekonomian tanpa keamanan,” katanya.

Sementara, pejabat senior Hamas Mahmoud Mardawi menolak ultimatum pelucutan. Berbicara kepada Aljazirah, Mardawi mengatakan Hamas tidak menerima informasi tersebut dari mediator dan menyebut pernyataan tersebut “hanya ancaman tanpa dasar dalam negosiasi yang sedang berlangsung.”

Bahkan ketika negosiasi berlanjut, pasukan Israel melancarkan serangan baru di Gaza pada hari Selasa. Serangan udara menghantam wilayah Khan Yunis dan Rafah di Gaza selatan di mana pasukan Israel masih dikerahkan. Penembakan artileri dilaporkan terjadi di sebelah barat Rafah, sementara ledakan terjadi di dekat Beit Lahia di utara ketika pasukan Israel menghancurkan bangunan di wilayah yang mereka kendalikan.

Sumber-sumber medis melaporkan warga Palestina terluka akibat tembakan di daerah Mawasi dan seorang lainnya terluka akibat tembakan pesawat tak berawak di Gaza tengah.

Serangan tersebut menambah ratusan pelanggaran yang dilaporkan sejak gencatan senjata mulai berlaku. Otoritas kesehatan Gaza mengatakan lebih dari 600 warga Palestina syahid dan lebih dari 1.600 orang terluka dalam serangan pasca-gencatan senjata.

Pengeboman yang sedang berlangsung terjadi ketika rekonstruksi dan penyediaan bantuan sebagian besar terhenti, dan sebagian besar wilayah Jalur Gaza masih tidak dapat dihuni setelah perang menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil.

Kapal angkatan laut Israel melepaskan tembakan keras ke arah garis pantai Kota Gaza sebelum mengejar kapal penangkap ikan dan menangkap dua nelayan – yang diidentifikasi sebagai Ahmad Subhi Saadallah dan Mohammed Khamis Saadallah.

Penangkapan ikan tetap menjadi salah satu dari sedikit sumber makanan bagi keluarga di Gaza, dan serangan angkatan laut yang berulang kali telah sangat membatasi akses ke laut. Pembatasan juga berlanjut di penyeberangan Rafah. Menurut pihak berwenang Gaza, hanya sebagian kecil dari pelancong yang disetujui yang diizinkan lewat sejak pembukaan kembali sebagian awal bulan ini.

Sekitar 925 orang telah menyeberang dalam dua pekan – sekitar sepertiga dari jumlah yang dijadwalkan. Sementara itu, para pejabat memperkirakan sekitar 22.000 warga Palestina yang terluka dan sakit sangat membutuhkan perawatan di luar negeri karena runtuhnya sistem layanan kesehatan.

 

 

 

 

 

AS Tuduh China Lakukan Uji Ledakan Nuklir Bawah Tanah, Ini Respons Beijing

 

Seorang pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) pada Selasa mengungkapkan dugaan baru terkait uji ledakan nuklir bawah tanah yang diklaim dilakukan China pada Juni 2020.

Asisten Sekretaris Negara AS, Christopher Yeaw, menyampaikan dalam acara di lembaga pemikir Hudson Institute di Washington bahwa sebuah stasiun seismik jarak jauh di Kazakhstan mendeteksi sebuah “ledakan” dengan magnitudo 2,75 yang berlokasi 720 km dari tempat uji coba nuklir Lop Nor di Tiongkok barat pada 22 Juni 2020.

“Saya telah meninjau data tambahan sejak itu. Kemungkinan besar ini adalah ledakan tunggal, bukan apa pun selain ledakan,” kata Yeaw, menambahkan bahwa data tersebut tidak konsisten dengan ledakan tambang.

“Ini juga sama sekali tidak konsisten dengan gempa bumi,” lanjut Yeaw, yang merupakan mantan analis intelijen dan pejabat pertahanan serta memiliki gelar doktor di bidang teknik nuklir. “Ini adalah apa yang Anda harapkan dari uji ledakan nuklir.”

Namun, Organisasi Perjanjian Pelarangan Uji Nuklir Komprehensif (Comprehensive Test Ban Treaty Organization / CTBTO), yang bertugas mendeteksi ledakan nuklir, menyatakan bahwa data yang tersedia belum cukup untuk mengonfirmasi tuduhan Yeaw dengan keyakinan penuh.

Jubir Kedutaan Besar China di Washington menolak tuduhan tersebut, menyebutnya “sepenuhnya tidak berdasar” dan sebagai upaya “untuk membuat alasan melanjutkan uji coba nuklir AS.”

“Ini manipulasi politik yang bertujuan mengejar hegemoni nuklir dan menghindari tanggung jawab China dalam perlucutan senjata nuklir,” kata juru bicara Liu Pengyu melalui pernyataan email.

“China mendesak AS untuk menegaskan kembali komitmen lima negara pemilik senjata nuklir untuk menahan diri dari uji nuklir, menjaga konsensus global menentang uji nuklir, dan mengambil langkah nyata untuk melindungi rezim pelucutan dan nonproliferasi nuklir internasional,” tambah Liu.

Presiden AS Donald Trump mendorong China untuk bergabung dengan AS dan Rusia dalam negosiasi perjanjian pengganti New START, kesepakatan terakhir pembatasan senjata nuklir strategis antara AS dan Rusia yang berakhir pada 5 Februari 2026.

Kedaluwarsa perjanjian ini memicu kekhawatiran bahwa dunia memasuki percepatan perlombaan senjata nuklir.

China, yang menandatangani tetapi belum meratifikasi perjanjian internasional 1996 yang melarang uji nuklir, membantah melakukan ledakan nuklir bawah tanah setelah tuduhan AS muncul awal bulan ini. Uji nuklir bawah tanah resmi terakhir China dilakukan pada 1996.

Stasiun seismik PS23 di Kazakhstan merupakan bagian dari sistem pemantauan global yang dioperasikan oleh CTBTO. Sekretaris Eksekutif CTBTO, Robert Floyd, mengatakan stasiun PS23 merekam “dua peristiwa seismik kecil” yang berjarak 12 detik pada 22 Juni 2020.

“Sistem pemantauan CTBTO dapat mendeteksi peristiwa yang konsisten dengan ledakan uji nuklir dengan hasil setara 500 ton TNT atau lebih besar,” kata Floyd.
“Kedua peristiwa ini jauh di bawah level tersebut. Oleh karena itu, dengan data ini saja, tidak mungkin menilai penyebab peristiwa dengan keyakinan,” tambahnya.

Yeaw menekankan bahwa China kemungkinan mencoba menyembunyikan uji coba dengan metode decoupling, di mana perangkat nuklir diledakkan di dalam ruang bawah tanah besar untuk mengurangi magnitudo gelombang kejut yang menyebar melalui batuan sekitar.

Seperti China, AS juga menandatangani tetapi belum meratifikasi perjanjian pelarangan uji nuklir. Berdasarkan hukum internasional, kedua negara wajib mematuhi kesepakatan tersebut.

AS terakhir kali melakukan uji nuklir bawah tanah pada 1992 dan sejak itu mengandalkan program multimiliar dolar yang menggunakan alat canggih dan simulasi superkomputer untuk memastikan kepala nuklir berfungsi dengan baik.

China menolak ajakan Trump untuk merundingkan perjanjian tiga pihak pengganti New START, dengan alasan bahwa persenjataan nuklir strategisnya masih jauh lebih kecil dibandingkan Washington dan Moskow, dua kekuatan nuklir terbesar dunia.

Menurut Pentagon, China kini memiliki lebih dari 600 hulu ledak operasional dan sedang melakukan ekspansi besar terhadap kekuatan nuklir strategisnya, dengan proyeksi memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak pada 2030.

 

 

 

 

 

 

Lagarde Disebut Akan Mundur Lebih Cepat dari Jabatan Presiden Bank Sentral Eropa

 

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, disebut berencana mengakhiri masa jabatannya lebih cepat dari jadwal, sebelum pemilihan presiden Prancis pada 2027. Informasi ini dilaporkan Financial Times (FT), Selasa (17/2/2026).

Masa jabatan Lagarde sejatinya berakhir pada Oktober 2027. Namun, laporan FT menyebutkan, langkah mundur lebih awal ini dimaksudkan agar Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang tidak bisa mencalonkan diri kembali, masih memiliki peran dalam proses penentuan pengganti Lagarde.

Kanselir Jerman Friedrich Merz juga disebut diharapkan ikut menjadi penentu utama dalam proses tersebut.

Menurut sumber FT yang mengetahui rencana ini, Lagarde belum memutuskan waktu pasti pengunduran dirinya.

Kekhawatiran muncul karena pemilu presiden Prancis 2027 berpotensi dimenangkan kelompok sayap kanan, yang dikhawatirkan dapat mempersulit konsensus dalam memilih pemimpin baru lembaga keuangan terpenting di Eropa tersebut.

Menanggapi kabar ini, juru bicara European Central Bank menegaskan belum ada keputusan apa pun.

“Presiden Lagarde sepenuhnya fokus pada mandatnya dan belum mengambil keputusan terkait akhir masa jabatannya,” kata ECB. Pernyataan ini berbeda dengan sikap tahun lalu, ketika ECB menyebut Lagarde bertekad menuntaskan masa jabatannya.

Pasar keuangan merespons kabar ini dengan relatif tenang. Nilai tukar euro dan imbal hasil obligasi nyaris tidak bergerak, menandakan investor tidak melihat potensi perubahan besar dalam arah kebijakan moneter ECB.

Laporan FT ini muncul tak lama setelah Gubernur Bank Sentral Prancis menyatakan akan mundur lebih awal, sehingga Macron dapat menunjuk penggantinya sebelum pemilu.

Meski pemilihan presiden ECB secara formal dilakukan oleh para pemimpin negara zona euro, praktik selama ini menunjukkan dukungan Prancis dan Jerman menjadi kunci.

Sejumlah nama mulai disebut sebagai kandidat potensial pengganti Lagarde. Di antaranya mantan gubernur bank sentral Belanda Klaas Knot, manajer umum Bank for International Settlements Pablo Hernandez de Cos, serta Presiden Bundesbank Joachim Nagel.

Anggota Dewan ECB Isabel Schnabel juga pernah menyatakan minat, meski aturan Uni Eropa berpotensi menghalanginya.

Meski demikian, dinamika pemilihan dinilai sulit diprediksi. Nama Lagarde sendiri baru mencuat menjelang penunjukannya tujuh tahun lalu.

Jika mundur dalam waktu dekat, Lagarde akan meninggalkan ECB dalam kondisi relatif stabil. Inflasi berada di target, suku bunga dinilai netral, dan pertumbuhan ekonomi zona euro berada di level potensial.

Dengan sebagian besar keputusan ECB diambil melalui konsensus, pergantian pimpinan diperkirakan tidak akan langsung mengubah kebijakan.

Saat ini, pasar memperkirakan ECB akan menahan suku bunga sepanjang tahun. Namun, ketidakpastian global yang tinggi tetap berpotensi mengubah arah kebijakan ke depan.

 

 

 

 

 

 

Trump: Jepang Gelontorkan US$36 Miliar untuk Proyek Energi dan Berlian di AS

 

Pemerintahan Presiden Donald Trump pada Selasa (17/2/2026) mengumumkan tiga proyek investasi senilai total US$36 miliar yang didanai oleh Jepang. Proyek tersebut mencakup fasilitas ekspor minyak di Texas, pembangkit listrik tenaga gas alam di Ohio, serta pabrik berlian industri sintetis di Georgia.

Pengumuman ini menjadi realisasi awal dari komitmen investasi Jepang senilai US$550 miliar di Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan dagang terbaru antara kedua negara. Dalam perjanjian tersebut, tarif impor produk Jepang ke AS dipangkas menjadi 15%.

Presiden Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui platform Truth Social, meski tidak merinci secara mendalam struktur pendanaan masing-masing proyek.

Menteri Perdagangan Howard Lutnick menyatakan bahwa proyek terbesar berada di Portsmouth, Ohio, dengan nilai investasi mencapai US$33 miliar. Pembangkit listrik tenaga gas alam ini disebut akan menjadi fasilitas pembangkit berbahan bakar gas terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

Fasilitas tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 9,2 gigawatt listrik per tahun—cukup untuk memasok seluruh kebutuhan rumah tangga di negara bagian Ohio. Proyek ini akan dioperasikan oleh SB Energy, anak usaha dari SoftBank Group, perusahaan investasi teknologi asal Jepang.

Peningkatan kapasitas baseload listrik ini dinilai strategis, terutama di tengah lonjakan permintaan energi dari pusat data (data center) yang mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Gedung Putih juga mengonfirmasi bahwa Jepang akan berinvestasi dalam proyek Texas GulfLink, fasilitas ekspor minyak mentah laut dalam senilai US$2,1 miliar yang berlokasi di lepas pantai Texas.

Menurut Lutnick, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan ekspor minyak mentah AS senilai US$20–30 miliar per tahun. Selain memperkuat kapasitas ekspor kilang domestik, fasilitas ini juga diyakini akan semakin mengukuhkan posisi Amerika Serikat sebagai pemasok energi terbesar di dunia.

Proyek Texas GulfLink dikembangkan oleh Sentinel Midstream, yang menyatakan merasa terhormat menjadi mitra terpercaya Departemen Perdagangan AS dan Pemerintah Jepang dalam inisiatif ini.

Meski Presiden Trump sempat menyebut adanya proyek gas alam cair (LNG) dalam investasi Texas, pernyataan resmi Menteri Perdagangan dan lembar fakta Gedung Putih tidak secara eksplisit mencantumkan proyek LNG tersebut.

Proyek ketiga berlokasi di Georgia, berupa pabrik manufaktur berlian industri sintetis bertekanan tinggi senilai sekitar US$600 juta. Fasilitas ini akan dioperasikan oleh Element Six, unit usaha dari De Beers Group, produsen berlian terbesar di dunia.

Pabrik ini ditargetkan mampu memenuhi 100% kebutuhan domestik AS untuk grit berlian sintetis—material penting dalam manufaktur canggih dan produksi semikonduktor. Saat ini, Amerika Serikat masih sangat bergantung pada pasokan dari China untuk komoditas tersebut.

Investasi ini dinilai strategis dalam memperkuat rantai pasok industri teknologi tinggi AS sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pemasok asing.

Belum jelas berapa porsi pendanaan langsung yang akan berasal dari entitas Jepang serta ketentuan pembiayaan detail lainnya. Namun, berdasarkan kesepakatan sebelumnya antara AS dan Jepang, keuntungan proyek akan dibagi 50:50 hingga biaya investasi awal Jepang kembali.

Setelah itu, pembagian keuntungan akan berubah menjadi 90% untuk AS dan 10% untuk Jepang.

Pengumuman ini menyusul pertemuan antara Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan Menteri Ekonomi serta Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa pekan lalu. Akazawa sebelumnya menyatakan masih ada sejumlah isu yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan diumumkan secara resmi.

Dalam unggahannya, Presiden Trump menekankan bahwa skala besar proyek-proyek tersebut tidak terlepas dari kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahannya.

“Skala proyek-proyek ini sangat besar, dan tidak mungkin terwujud tanpa satu kata yang sangat penting: TARIF,” tulis Trump di Truth Social.

Dengan nilai investasi mencapai puluhan miliar dolar AS, proyek-proyek ini berpotensi memperkuat sektor energi, manufaktur canggih, serta posisi Amerika Serikat dalam peta perdagangan dan industri global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post