News Komoditi & Global ( Jumat, 28 November 2025 )
News Komoditi & Global
( Jum’at, 28 November 2025 )
Harga Emas Global Menguat dalam Perdagangan Tenang di Tengah Meningkatnya Keyakinan Penurunan Suku Bunga The Fed
Emas (XAU/USD) tetap kuat selama sesi Amerika Utara pada hari Kamis di tengah sesi perdagangan dengan volume rendah karena pasar AS tetap tutup untuk memperingati hari libur Thanksgiving. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di $4.158, hampir tidak berubah.
XAU/USD tetap kuat dalam likuiditas Thanksgiving yang tipis saat ekspektasi pelonggaran Fed meningkat
Pada hari Kamis, harga bullion tampaknya berkonsolidasi di tengah kurangnya berita. Namun, pembukaan kembali pemerintah AS baru-baru ini membuka pintu untuk data ekonomi, yang sejauh ini meyakinkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap solid dan inflasi terhenti serta mungkin melanjutkan jalur penurunannya.
Ini meningkatkan peluang pelonggaran tambahan oleh Federal Reserve (Fed), seperti yang ditunjukkan oleh Alat FedWatch CME dengan peluang 85% untuk pemotongan 0,25% menjadi 3,50%-3,75%.
Fed yang dovish memberikan tekanan pada imbal hasil obligasi Treasury AS, dengan imbal hasil T-note 10 tahun terjun di bawah 4%. Namun, perundingan damai antara Rusia dan Ukraina dapat mengurangi permintaan untuk status safe-haven Emas.
Sebaliknya, ketegangan Jepang-China meningkat setelah pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang mendukung kemerdekaan Taiwan. Risiko geopolitik yang meningkat dapat mendorong harga Emas lebih tinggi, bersamaan dengan Fed yang memangkas suku bunga.
Penggerak pasar harian: Emas tetap kuat meskipun data pekerjaan AS kuat
Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS naik sebesar 216 ribu pada minggu yang berakhir 22 November, di bawah perkiraan kenaikan 225 ribu dan turun dari angka sebelumnya 222 ribu. Klaim pengangguran mencapai level terendah sejak April, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja solid, meskipun mendingin.
Inflasi di AS sedikit menurun saat Indeks Harga Produsen Inti (PPI) untuk September turun. Penjualan Ritel menunjukkan tanda-tanda bahwa rumah tangga mengurangi pengeluaran.
Ekspor Emas fisik dari Hong Kong ke China turun, menunjukkan bahwa bullion mungkin tetap tertekan dalam jangka pendek.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Tengah Volume Sepi saat Libur Thanksgiving
Harga minyak naik pada Kamis (27/11/2025), dengan volume perdagangan yang tipis akibat libur Thanksgiving di Amerika Serikat, sementara pelaku pasar menimbang peluang keberhasilan pembicaraan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Melansir Reuters, minyak mentah Brent ditutup naik 21 sen atau 0,2% menjadi US$ 63,34 per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 45 sen atau 0,8% ke US$ 59,10 per barel pada pukul 13.46 ET (18.46 GMT).
Pasar bergerak antara harapan dan skeptisisme terkait upaya damai terbaru di Ukraina, kata analis komoditas SEB, Ole Hvalbye.
Delegasi AS dan Ukraina dijadwalkan bertemu pekan ini untuk merumuskan formula yang dibahas dalam pertemuan di Jenewa guna menghadirkan perdamaian dan memberikan jaminan keamanan bagi Kyiv, menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.
Kedua pihak berupaya mempersempit perbedaan terkait rencana Presiden Donald Trump untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Kyiv tetap berhati-hati menerima kesepakatan yang dinilai terlalu menguntungkan Rusia, termasuk tuntutan konsesi wilayah.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan garis besar rancangan rencana damai yang dibahas AS dan Ukraina dapat menjadi dasar perjanjian mengakhiri perang.
Ia menambahkan, apabila pasukan Ukraina menarik diri dari area kunci, pertempuran akan berhenti, tetapi Rusia akan mencapai tujuannya dengan kekuatan bila itu tidak terjadi.
“Volatilitas geopolitik masih berlanjut dan harapan gencatan senjata potensial Rusia–Ukraina telah meredam kekhawatiran pasokan akibat sanksi baru AS terhadap produsen utama Rusia,” tulis Barclays dalam sebuah catatan.
Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) kemungkinan mempertahankan level produksi pada pertemuan Minggu mendatang, serta menyepakati mekanisme untuk menilai kapasitas produksi maksimum anggota, menurut dua delegasi dan satu sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Delapan negara OPEC+, yang telah menaikkan produksi secara bertahap sepanjang 2025, diperkirakan tetap menahan kenaikan itu pada kuartal I 2026, menurut para delegasi.
Harga minyak juga didukung oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada Desember.
Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan minyak.
“Kita mendekati akhir tahun dengan likuiditas yang semakin tipis tanpa katalis baru, kecuali The Fed memberi kejutan hawkish pada pertemuan FOMC 10 Desember,” kata analis pasar senior OANDA, Kelvin Wong.
“Harga WTI kemungkinan bergerak dalam rentang US$ 56,80–US$ 60,40 hingga akhir tahun,” ujarnya.
Trump Tekan PM Takaichi untuk Redam Ketegangan Jepang–China Soal Taiwan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi agar tidak memperburuk ketegangan dengan China, menurut sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut. Permintaan itu disampaikan Trump dalam upaya mempertahankan gencatan perang dagang yang rapuh antara Washington dan Beijing.
Pernyataan Takaichi di parlemen awal bulan ini memicu perselisihan diplomatik terbesar antara Jepang dan China dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengatakan bahwa serangan China terhadap Taiwan yang mengancam Jepang dapat menjadi dasar bagi Jepang untuk melakukan respons militer.
Komentar tersebut membuat Beijing murka dan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang hendak mengunjungi Jepang.
Trump minta Jepang tidak memperpanjang ketegangan
Menurut dua sumber pemerintah Jepang yang mengetahui panggilan telepon pada Selasa lalu, Trump menyatakan keinginannya agar tidak terjadi eskalasi lanjutan di antara kedua negara.
Namun, Trump tidak mengajukan tuntutan konkret terhadap Takaichi dan tidak meminta pencabutan pernyataan tersebut. Pemerintah Jepang sendiri menegaskan bahwa ucapan Takaichi mencerminkan kebijakan pemerintah yang sudah lama.
Dalam konferensi pers rutin, Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara menolak mengomentari detail “pertukaran diplomatik” tersebut.
Trump Seimbangkan Urusan Dagang dan Isu Taiwan
Panggilan telepon itu berlangsung setelah Trump berbicara dengan Presiden China Xi Jinping, yang menegaskan bahwa “kembalinya Taiwan ke China” merupakan bagian utama visi Beijing atas tatanan dunia, menurut laporan Xinhua.
Trump berencana melakukan kunjungan ke Beijing pada April mendatang. Ia tidak merinci apakah isu Taiwan dibahas secara khusus, tetapi menekankan bahwa hubungan AS dan China berada dalam kondisi “sangat kuat”, dan kedua negara hampir menyelesaikan kesepakatan dagang besar.
“Hubungan Amerika Serikat dengan China sangat baik, dan itu juga baik bagi Jepang, sekutu dekat kami,” kata Trump dalam pernyataan resmi.
“Kami telah menandatangani perjanjian dagang yang luar biasa dengan Jepang, China, Korea Selatan, dan negara-negara lainnya, dan dunia dalam keadaan damai. Mari kita jaga seperti itu!”
Di Jepang, sejumlah pejabat khawatir Trump mungkin melonggarkan dukungan terhadap Taiwan demi mencapai kesepakatan dagang dengan China—sesuatu yang menurut mereka dapat mendorong keberanian Beijing dan meningkatkan risiko konflik di kawasan yang semakin termiliterisasi.
Menurut Kazuhiro Maejima, profesor politik AS di Universitas Sophia, “Bagi Trump, yang paling penting adalah hubungan AS–China. Jepang kerap diperlakukan sebagai alat atau kartu untuk mengelola hubungan tersebut.”
Diamnya Trump Bikin Tokyo Resah
Kurangnya pernyataan publik Trump membuat para pejabat Jepang semakin gelisah.
Meski duta besar AS untuk Jepang telah menegaskan dukungan Washington kepada Tokyo terhadap “tekanan” China, dua anggota parlemen senior Partai Demokrat Liberal (LDP) mengatakan mereka berharap ada dukungan yang lebih eksplisit dari Trump sendiri.
Jepang menjadi tuan rumah konsentrasi terbesar pasukan militer AS di luar negeri—termasuk kapal induk dan pasukan marinir yang menjadi penghalang strategi militer China. Washington juga mendukung penguatan pertahanan Jepang dalam beberapa tahun terakhir, sesuatu yang turut membuat Beijing tidak senang.
“Kami butuh pernyataan langsung dari Trump,” kata salah satu legislator LDP. Diamnya sang presiden dapat dianggap sebagai lampu hijau bagi Beijing untuk menekan Jepang lebih jauh, tambahnya.
China tambah tekanan retorik
Media resmi Partai Komunis China, People’s Daily, menyerukan AS untuk “mengendalikan Jepang” guna mencegah tindakan yang “menghidupkan kembali militerisme”. Editorial tersebut mengingatkan peran Jepang sebagai musuh bersama dalam Perang Dunia II.
Kementerian Pertahanan China juga memperingatkan bahwa Jepang akan membayar “harga yang menyakitkan” jika melampaui batas terkait Taiwan. Peringatan itu disampaikan setelah Jepang berencana menempatkan sistem rudal pertahanan udara di pulau Yonaguni, yang hanya berjarak 110 km dari Taiwan.
Komentar Takaichi Sulit Ditarik Kembali
Menanggapi isi pembicaraan telepon dengan Trump, kantor PM Takaichi hanya merujuk pada ringkasan resmi yang menyebutkan bahwa keduanya membahas hubungan AS–China, tanpa rincian tambahan.
Kantor perdana menteri juga membantah laporan Wall Street Journal yang menyebut Trump meminta Takaichi untuk tidak memprovokasi Beijing terkait isu kedaulatan Taiwan.
Komentar spontan Takaichi di parlemen sebelumnya menjadi perubahan besar dari strategic ambiguity yang dipegang para pendahulunya, yang biasanya menghindari membahas secara terbuka skenario militer terkait Taiwan.
Kini, karena pernyataan itu sudah menjadi konsumsi publik, para pejabat menilai akan sulit menariknya kembali, sehingga semakin mempersulit upaya meredakan ketegangan. Sengketa ini dikhawatirkan dapat menghantam perekonomian dan membawa hubungan China–Jepang ke dalam masa konfrontasi berkepanjangan.
Inflasi Inti Tokyo Naik 2,8% di November, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Menguat
Core consumer price index (CPI) atau inflasi inti di Tokyo kembali meningkat pada November 2025.
Data resmi yang dirilis Jumat (28/11) menunjukkan inflasi inti di ibu kota Jepang naik 2,8% secara tahunan (YoY), berada di atas target 2% Bank of Japan (BOJ) dan juga sedikit lebih tinggi dari proyeksi pasar sebesar 2,7%.
Kenaikan ini sama dengan capaian pada Oktober, menandakan tekanan inflasi Jepang masih cukup kuat dan berpotensi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Indikator inflasi inti Tokyo mengukur harga-harga konsumen dengan pengecualian komoditas pangan segar yang volatil.
Sementara itu, indeks inflasi lain yang menghilangkan komponen pangan segar dan juga bahan bakar, metrik yang diawasi ketat BOJ untuk melihat tekanan inflasi berbasis permintaan juga naik 2,8% YoY, sama seperti bulan sebelumnya.
BOJ sebelumnya telah mengakhiri program stimulus besar-besaran selama satu dekade dan mulai menaikkan suku bunga jangka pendek ke 0,5% pada Januari, setelah menilai ekonomi Jepang berada di jalur menuju pencapaian inflasi berkelanjutan di atas level 2%.
Namun Gubernur BOJ Kazuo Ueda tetap berhati-hati dalam menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Ia menilai masih terdapat ketidakpastian yang besar, termasuk dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian Jepang.
Hong Kong Berduka: Kebakaran Terparah Sejak 1948 Renggut 83 Jiwa
Polisi Hong Kong menangkap para pimpinan sebuah perusahaan konstruksi pada Kamis (27/11/2025) atas dugaan pembunuhan tidak berencana (manslaughter) terkait kebakaran terbesar di kota itu dalam hampir 80 tahun.
Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 83 orang, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
Hingga dini hari Jumat, petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api yang telah berkobar lebih dari 24 jam, melalap kompleks perumahan Wang Fuk Court di distrik Tai Po, Hong Kong bagian utara.
Kompleks tersebut sedang dalam proses renovasi dan diselimuti perancah bambu serta jaring hijau.
Deputy Director of Fire Services, Derek Armstrong Chan, mengatakan sebagian besar korban ditemukan di dua blok bertingkat tinggi dari delapan menara dalam kompleks tersebut.
Ia menyebut beberapa penghuni berhasil ditemukan dalam kondisi hidup, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut. South China Morning Post melaporkan satu korban selamat ditemukan di tangga darurat.
Petugas penyelamat menghadapi panas ekstrem, asap tebal, serta runtuhan perancah saat berupaya menjangkau penghuni yang terjebak di lantai atas.
"Kami perkirakan api dapat dipadamkan sepenuhnya malam ini," kata Chan.
“Kami akan terus menyemprot air untuk menurunkan suhu.”
Sementara itu, banyak keluarga masih mencari anggota keluarga mereka.
Seorang perempuan membawa foto kelulusan putrinya sambil mencari anaknya di pusat penampungan.
“Anak saya dan ayahnya masih belum keluar,” kata Ng, 52 tahun, sambil menangis.
Penangkapan Terkait Dugaan Kelalaian
Polisi menahan dua direktur dan seorang konsultan teknik dari Prestige Construction, perusahaan yang mengerjakan renovasi kompleks tersebut.
Mereka dituduh menggunakan material tidak aman yang memperparah penyebaran api.
“Kami memiliki alasan kuat bahwa pihak yang bertanggung jawab telah menunjukkan kelalaian serius sehingga menyebabkan kebakaran menyebar tak terkendali dan memicu banyak korban,” ujar Police Superintendent Eileen Chung. Pihak Prestige belum memberikan komentar.
Dokumen tender, daftar karyawan, 14 komputer, dan tiga ponsel disita dari kantor perusahaan tersebut.
Kebakaran Terparah Sejak 1948
Korban tewas tercatat mencapai 83 orang hingga tengah malam, menjadikannya kebakaran paling mematikan di Hong Kong sejak 1948 saat 176 orang tewas dalam kebakaran gudang.
Pemerintah menyebut ada 279 orang yang masih hilang, meski angka tersebut belum diperbarui selama 24 jam terakhir.
Paus Leo mengirim telegram belasungkawa untuk korban, sementara Pemimpin Hong Kong John Lee mengumumkan pembentukan dana bantuan HK$300 juta (US$39 juta).
Sejumlah perusahaan besar termasuk Xiaomi, Xpeng, Geely, serta yayasan milik Jack Ma dan Tencent mengumumkan donasi untuk membantu korban.
Pada malam kedua setelah insiden, puluhan warga mengungsi di pusat perbelanjaan terdekat.
Banyak yang memilih bermalam di luar pusat evakuasi agar tempat tersebut dapat digunakan warga yang lebih membutuhkan.
Kompleks Padat Penghuni dan Permasalahan Keselamatan
Kompleks Wang Fuk Court terdiri dari delapan menara dengan total 2.000 unit yang dihuni oleh lebih dari 4.600 orang.
Kawasan Tai Po merupakan wilayah suburban yang telah berkembang sejak lama dan menjadi rumah bagi sekitar 300.000 penduduk.
Polisi juga menemukan material busa yang menutup jendela di salah satu bangunan yang tidak terdampak, dipasang sebagai bagian dari pekerjaan pemeliharaan.
Pemerintah Hong Kong sedang membahas untuk mengganti perancah bambu dengan perancah metal demi meningkatkan keselamatan.
Presiden China Xi Jinping menyerukan upaya maksimal untuk memadamkan api dan meminimalkan korban, menurut CCTV.
Pemerintah Hong Kong dan Beijing bergerak cepat menunjukkan perhatian mereka, di tengah kekhawatiran bahwa tragedi ini dapat memicu ketidakpuasan publik.
Sebuah aplikasi daring menampilkan laporan warga yang hilang, termasuk daftar unit per lantai.
Beberapa entri menunjukkan catatan seperti “ibu mertua usia 70-an hilang” hingga “27th floor, room 1: he is dead”. Reuters belum dapat memverifikasi informasi tersebut.
Salesforce: Penjualan Online AS saat Thanksgiving Diperkirakan Naik 6%
Penjualan online di Amerika Serikat (AS) selama libur Thanksgiving diperkirakan naik 6% dibanding tahun lalu menjadi US$ 8,6 miliar, berdasarkan data Salesforce pada Kamis (27/11/2025).
Kenaikan ini menunjukkan konsumen memanfaatkan diskon besar dari para peritel di tengah ketidakpastian ekonomi yang dipicu tarif impor.
Hingga pukul 14.00 ET (1900 GMT), belanja Thanksgiving di AS sudah 5,8% lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu, mencapai US$ 2,6 miliar, menurut data tersebut.
Thanksgiving dan sehari setelahnya, Black Friday, menjadi penanda dimulainya musim belanja akhir tahun, periode krusial yang biasanya menyumbang sekitar sepertiga dari total penjualan dan laba tahunan peritel di AS.
Tahun ini, musim belanja dibuka dengan latar belakang ketidakpastian ekonomi dan volatilitas yang meningkat akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump terhadap barang impor, yang telah menaikkan biaya bagi peritel maupun konsumen.
Sejumlah laporan terbaru dari peritel AS menunjukkan bahwa konsumen tetap bersedia membeli hadiah, elektronik, pakaian, dan lainnya jika ditawarkan diskon menarik, meski sentimen konsumen secara keseluruhan masih lemah.
Secara global, total belanja mencapai US$ 13,1 miliar hingga hari Thanksgiving, dan penjualan digital diperkirakan mencapai US$ 36 miliar pada akhir Kamis, menurut Salesforce.
Black Friday hari terbesar untuk belanja online setiap tahunnya diproyeksikan menghasilkan US$ 78 miliar penjualan online global dan US$ 18 miliar di AS.
Awal pekan ini, peritel elektronik Best Buy menyebut permintaan tinggi untuk komputer, laptop, dan smartphone yang didiskon, sementara peritel pakaian seperti Gap dan Abercrombie & Fitch juga menyampaikan pandangan optimistis.
Beberapa proyeksi penjualan liburan sebelumnya memperkirakan musim belanja tahun ini akan lesu, dengan data Mastercard menunjukkan penjualan lebih banyak digerakkan oleh promosi karena konsumen mencari nilai terbaik.
Pada September lalu, Salesforce memproyeksikan pertumbuhan penjualan online AS selama musim liburan 2025 akan melambat dibanding tahun sebelumnya, dengan total belanja online periode 1 November hingga 31 Desember diperkirakan naik 2,1% menjadi US$ 288 miliar, versus kenaikan 4% menjadi US$ 282 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
OPEC+ Diperkirakan Akan Mempertahankan Kebijakan Produksi Minyak untuk Kuartal I-2026
Mengutip Reuters, Kamis (27/11/2025) menurut dua delegasi dari kelompok tersebut dan seorang sumber yang mengetahui perundingan OPEC+ mengatakan kepada Reuters bahwa delapan negara OPEC+ yang telah secara bertahap meningkatkan produksi pada tahun 2025 diperkirakan akan mempertahankan kebijakan mereka untuk menghentikan kenaikan produksi pada kuartal pertama tahun 2026, kata kedua delegasi tersebut.
OPEC+, yang merupakan gabungan dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, memproduksi sekitar separuh minyak dunia dan telah membahas angka kapasitas produksi selama bertahun-tahun sebagai acuan target produksi para anggotanya.
Seluruh anggota OPEC+ diperkirakan akan menyepakati mekanisme kapasitas dalam pertemuan terpisah pada hari Minggu, kata sumber-sumber tersebut, yang semuanya berbicara dengan syarat anonim.
OPEC mengatakan pada bulan Mei bahwa penilaian kapasitas ini akan digunakan sebagai acuan untuk baseline produksi tahun 2027.
Otoritas OPEC, Saudi, dan Rusia tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Para menteri dijadwalkan mengadakan empat pertemuan daring pada hari Minggu, dimulai dengan para menteri OPEC saja pada pukul 13.00 GMT, kata kedua delegasi tersebut.
Pertemuan ini akan dilanjutkan dengan pertemuan Komite Pemantauan Bersama Tingkat Menteri (JMMC), yang terdiri dari seluruh menteri OPEC+, dan diakhiri dengan pertemuan delapan anggota.
OPEC+ membahas isu kapasitas pada bulan September di tingkat teknis. Diskusi dasar sebelumnya seringkali menegangkan karena menentukan besaran pemotongan produksi yang akan disumbangkan oleh masing-masing anggota. Angola keluar dari grup pada tahun 2024 karena ketidaksepakatan mengenai target produksinya.
OPEC+ telah membatasi pasokan selama bertahun-tahun hingga April ketika delapan anggota mulai meningkatkan produksi untuk memulihkan pangsa pasar. Pemotongan mencapai puncaknya pada bulan Maret, mencapai 5,85 juta barel per hari, hampir 6% dari total produksi dunia.
Kedelapan anggota tersebut—Arab Saudi, Rusia, UEA, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman—telah menaikkan target produksi sekitar 2,9 juta barel per hari dari April hingga Desember, dan menyepakati jeda kuartal pertama pada pertemuan terakhir mereka.
Para menteri OPEC+ juga diperkirakan tidak akan mengubah target produksi di seluruh grup untuk tahun 2026, yang mencakup pemotongan sebesar 2 juta barel per hari yang disepakati oleh sebagian besar anggota hingga akhir tahun depan, tambah sumber tersebut.
Dolar AS Menuju Pelemahan Mingguan Terbesar dalam Empat Bulan Jelang Thanksgiving
Dolar Amerika Serikat bergerak melemah dan mendekati penurunan mingguan terbesar dalam empat bulan pada perdagangan Kamis (27/11/2025), seiring volume transaksi yang menipis menjelang libur Thanksgiving di AS.
Situasi ini membuat para investor mulai mencermati prospek tahun depan, ketika AS tampak semakin sendirian dalam siklus pemangkasan suku bunga.
Di pasar Asia, yen Jepang menguat 0,2% ke posisi ¥156,11 per dolar, didukung perubahan nada yang semakin hawkish dari para pejabat Bank of Japan.
Dengan pasar AS tutup, likuiditas perdagangan valuta asing menurun, sehingga pergerakan harga menjadi lebih mudah berfluktuasi.
“Ini bisa menjadi lingkungan yang menarik bagi otoritas Jepang untuk melakukan intervensi di pasar dolar/yen,” kata Francesco Pesole, analis valas ING.
“Namun, kemungkinan mereka tetap lebih memilih intervensi setelah data yang bersifat negatif bagi dolar, dan perlambatan pergerakan pasangan tersebut mungkin telah mengurangi urgensi,” tambahnya.
Euro menurun tipis, pasar memantau perkembangan pembicaraan damai Ukraina
Euro turun 0,05% ke US$1,1590, setelah sempat menyentuh level tertinggi 1,5 pekan di US$1,1613. Para pelaku pasar kini menunggu perkembangan negosiasi terkait potensi kesepakatan damai Ukraina, yang berpotensi mengangkat nilai mata uang tunggal tersebut.
Utusan AS, Steve Witkoff, dijadwalkan melakukan perjalanan ke Moskow pekan depan untuk berbicara dengan para pemimpin Rusia. Namun, seorang diplomat senior Rusia menegaskan bahwa Moskow tidak akan memberikan konsesi besar.
Dolar Selandia Baru melesat, didukung sikap hawkish bank sentral
Dolar Selandia Baru (NZD) melonjak ke level tertinggi tiga pekan di US$0,5728, menguat sekitar 2% sejak bank sentral mengambil sikap hawkish sehari sebelumnya.
Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) memangkas suku bunga pada Rabu, tetapi menyatakan bahwa opsi menahan suku bunga sebelumnya sempat dipertimbangkan, dan mengindikasikan siklus pelonggaran moneter kemungkinan telah berakhir.
Data ekonomi yang solid pada Kamis memperkuat sentimen tersebut:
Penjualan ritel meningkat pada kuartal III
Kepercayaan bisnis naik ke level tertinggi dalam satu tahun
Pasar kini memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga pada Desember 2026, berbanding terbalik dengan ekspektasi pemangkasan lebih dari 90 basis poin oleh Federal Reserve hingga akhir tahun depan.
“Tanda-tanda pemulihan ekonomi Selandia Baru benar-benar mulai tumbuh pesat,” ujar Imre Speizer, analis Westpac.
Dolar Australia Menguat, Diuntungkan Imbal Hasil Obligasi Tertinggi di G10
Dolar Australia (AUD) juga menguat setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada Rabu memperkuat pandangan bahwa siklus penurunan suku bunga Australia telah selesai.
Obligasi Australia kini menawarkan imbal hasil:
3-year yield: 3,86%
10-year yield: 4,5%
Keduanya merupakan yang tertinggi di antara negara-negara G10, membuat AUD dinilai relatif murah.
AUD diperdagangkan di US$0,6536, berada di tengah rentang perdagangan yang bertahan dalam 18 bulan terakhir. Namun analis dari Societe Generale, Kit Juckes, menilai bahwa pergerakan AUD belakangan lebih berkorelasi dengan yuan China dibandingkan imbal hasil obligasi—dan ini dapat mendukung kenaikan lanjutan seiring penguatan yuan beberapa sesi terakhir.
Di sisi lain, PBOC lewat mekanisme fixing menahan yuan di level stabil 7,08 per dolar pada Kamis.
Pound Inggris ikut menguat
Pound sterling naik ke level tertinggi sejak akhir Oktober di US$1,3265, dan tengah menuju penguatan mingguan terbesar sejak Agustus, didorong reaksi positif pasar terhadap anggaran Inggris yang dinilai mengurangi kekhawatiran soal kondisi fiskal negara tersebut.
Indeks dolar AS naik tipis 0,1% ke 99,62, namun masih menuju penurunan mingguan terbesar sejak Juli, setelah sempat menyentuh level tertinggi enam bulan pekan lalu.
“Pasar akan segera mulai memikirkan perdagangan besar untuk 2026, dan saya sangat ragu bahwa posisi ‘long USD’ akan menjadi salah satunya,” kata Brent Donnelly, Presiden Spectra Markets.
Donnelly menambahkan bahwa jika Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih dan pendukung pemangkasan suku bunga, ditunjuk sebagai Ketua Federal Reserve yang baru, hal itu akan menjadi sentimen negatif bagi dolar.
Ia juga menilai bahwa setelah Jumat, “permintaan USD dari korporasi dan institusi besar akan selesai.”
Nilai Pasar Saham AS Naik US$2 Triliun Hanya dalam Tiga Hari
Pasar saham Amerika Serikat mencatat rebound yang sangat kuat, menghapus aksi jual singkat pada pekan lalu dengan aliran dana masuk bernilai triliunan dolar.
Data menunjukkan nilai pasar saham AS bertambah lebih dari US$2,1 triliun hanya dalam kurang dari tiga sesi perdagangan. Indeks S&P 500 melonjak lebih dari 250 poin dari level terendah hari Jumat, menembus puncak 20 November dan kini hanya berjarak sedikit di atas 2% dari rekor tertingginya.
Pada penutupan perdagangan Selasa, indeks acuan tersebut berada di posisi 6.765, naik hampir 1% dalam sehari.
Saham Teknologi Pimpin Rebound pasar
Kenaikan tajam pasar saham AS banyak didorong oleh reli perusahaan teknologi besar.
Saham Alphabet melesat setelah perusahaan merilis model AI Gemini 3 dan memperluas infrastruktur AI dan cloud. Pengembangan tersebut meningkatkan keyakinan investor bahwa Alphabet mampu bersaing lebih kuat dengan para pemimpin AI lainnya.
Apple turut memberi dukungan stabil melalui investasi manufaktur di AS serta percepatan pengembangan AI dan chip silikon, memperkuat posisinya sebagai jangkar kepercayaan di sektor teknologi.
Sementara itu, Nvidia (NASDAQ: NVDA), sebelumnya pemimpin saham AI mengalami pendinginan setelah muncul kekhawatiran bahwa Meta (NASDAQ: META) mungkin beralih ke chip AI buatan Google. Meski saham Nvidia tertekan, reli kuat dari Alphabet, Apple, dan raksasa teknologi lainnya membuat penguatan pasar tetap solid.
Momentum Diperkuat Sektor AI dan Saham Sensitif Suku Bunga
Rebound tajam ini menegaskan kekuatan fundamental pasar di tengah volatilitas baru-baru ini. Momentum penguatan kembali terkonsentrasi pada:
teknologi,
kecerdasan buatan (AI),
sektor sensitif suku bunga.
Boom AI masih menjadi pendorong utama, disokong oleh kinerja keuangan kuat perusahaan mega-cap teknologi dan meningkatnya belanja korporasi pada infrastruktur AI. Kondisi ini terus menarik minat investor meskipun valuasi saham sudah relatif tinggi.
Inflow Asing Melonjak
Salah satu pendorong signifikan yang menjaga reli tetap kuat adalah masuknya dana asing secara masif.
Dalam 12 bulan terakhir, investor global tercatat mengalirkan US$647 miliar ke saham-saham AS, sebuah rekor baru. Arus dana ini mencerminkan keyakinan internasional terhadap:
kinerja laba korporasi AS,
kedalaman pasar modal Amerika,
dan dominasi negara tersebut dalam teknologi canggih.
Nasdaq dan S&P 500 Catat Kinerja Tahun-Berjalan yang Solid
Secara keseluruhan, Nasdaq dan S&P 500 mencatat kenaikan signifikan sepanjang tahun, didorong oleh laporan keuangan yang kuat dan permintaan konsumen yang tetap tangguh.
Walaupun sejumlah sektor mengalami rotasi, breadth atau keluasan reli pasar menunjukkan perbaikan dibandingkan awal tahun, mengindikasikan penguatan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Rusia Siapkan Piala Dunia Tandingan untuk Negara yang Tak Lolos ke World Cup 2026
Menjelang penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Rusia dilaporkan tengah menjajaki penyelenggaraan turnamen sepak bola internasional tandingan bagi negara-negara yang tidak lolos ke ajang resmi tersebut, termasuk Yunani.
Mengutip greekcitytimes, inisiatif yang oleh sejumlah media Eropa dan Amerika Selatan disebut sebagai “World Cup for the Excluded” atau “Piala Dunia untuk yang Tersingkir” ini bertujuan menjaga sorotan publik terhadap sepak bola Rusia, sekaligus memberi tekanan politik terhadap FIFA.
Langkah tersebut dipandang sebagai upaya membuka jalan bagi kembalinya Rusia ke panggung olahraga global.
Rusia Masih Terisolasi dari Kompetisi Internasional
Rusia telah dilarang mengikuti kompetisi internasional sejak invasinya ke Ukraina pada 2022. Tim nasional dan klub-klub Rusia kini hanya bertanding dalam “gelembung sepak bola regional”, melalui laga persahabatan tanpa eksposur global maupun pengakuan resmi.
Sanksi dari FIFA dan UEFA tidak hanya menghalangi partisipasi dalam turnamen besar, tetapi juga menghentikan aliran pendapatan dari kompetisi internasional.
Rusia Hubungi Serbia, Yunani, Chile hingga China
Menurut laporan sejumlah media, Federasi Sepak Bola Rusia telah menghubungi Serbia, Yunani, Chile, Peru, Venezuela, Nigeria, Kamerun, dan China untuk kemungkinan berpartisipasi.
Stasiun radio Chile, ADN Deportes, mengonfirmasi bahwa Rusia aktif menyusun rencana turnamen tersebut. Bahkan muncul laporan bahwa beberapa pertandingan bisa digelar di kota-kota di Amerika Serikat, langkah yang dinilai sangat simbolis mengingat Piala Dunia resmi juga berlangsung di Amerika Utara.
Tantangan Logistik dan Diplomatik
Meski ambisius, rencana ini menghadapi tantangan besar. Hambatan visa dan pembatasan masuk bagi beberapa tim ke wilayah AS menjadi persoalan utama. Selain itu, sensitivitas diplomatik seputar konflik Rusia–Ukraina dapat mempersulit kolaborasi lintas negara.
Kendati demikian, otoritas Rusia tetap optimistis. Mereka menilai dinamika geopolitik yang terus berubah dapat membuka peluang agar turnamen tersebut dapat terlaksana setidaknya dalam format tertentu.
Sepak Bola sebagai Instrumen Soft Power Rusia
Para analis menilai rencana ini bukan sekadar proyek olahraga, tetapi juga bentuk soft power Rusia. Melalui sepak bola, Moskow berupaya mempertahankan pengaruh internasional dan mengirimkan pesan politik di tengah isolasi global.
Jika benar terealisasi, “Piala Dunia untuk yang Tersingkir” akan menjadi ajang paralel yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus mencerminkan semakin eratnya hubungan antara geopolitik dan dunia sepak bola modern.