News Komoditi & Global ( Jumat, 10 April 2026 )

News  Komoditi & Global

                                     (  Jum’at,   10 April 2026  )

Harga Emas Global Menguat setelah Donald Trump Mengumumkan Gencatan Senjata Dua Minggu dalam Perang di Timur Tengah

 

Emas spot menunjukkan beberapa tanda kehidupan pada hari Kamis, setelah secara temporer membangkitkan antusiasme pembeli di tengah berita perang. Pasangan aset XAU/USD mencapai $4.857 setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata dua minggu dalam perang di Timur Tengah, mengklaim perundingan diplomatik sedang berlangsung. Gencatan senjata tersebut mencakup Israel, tetapi tidak termasuk Lebanon. Serangan yang berlanjut antara Lebanon dan Israel entah bagaimana membawa kembali penghindaran risiko, memberikan dukungan kepada Dolar AS.

Sentimen berbalik lagi, menjadi positif dalam perdagangan sesi Amerika saat ini, atas berita yang menunjukkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah membuka negosiasi dengan Lebanon. Greenback berbalik turun, dan XAU/USD mendekati tertinggi mingguan yang disebutkan sebelumnya.

Selain itu, AS merilis beberapa data yang mengecewakan. Estimasi final Produk Domestik Bruto (PDB) Kuartal IV menunjukkan PDB riil tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 0,5%, turun dari estimasi pendahuluan 0,7% dan sebelumnya 4,4%. Klaim tunjangan pengangguran mingguan, sementara itu, meningkat menjadi 219 ribu untuk minggu yang berakhir 4 April, lebih buruk dari prakiraan 210 ribu dan lebih tinggi dari angka minggu sebelumnya sebesar 203 ribu. Angka-angka suram ini menambah pelemahan luas Dolar AS.

Perhatian tetap pada berita terkait perang, sementara para investor menunggu rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS bulan Maret yang dijadwalkan pada hari Jumat. Inflasi, yang diukur dengan IHK, diprakirakan naik 3,3% YoY, naik dari 2,4% yang tercatat pada bulan Februari. Angka sesuai prakiraan kemungkinan akan memberikan peringatan dan memicu spekulasi kenaikan suku bunga AS di depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Naik Usai Serangan ke Fasilitas Energi Arab Saudi

 

Harga minyak dunia menguat pada perdagangan awal Jumat (10/4/2026), menyusul serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi serta meningkatnya premi risiko akibat penutupan jalur strategis Selat Hormuz.

Melansir Reuters mengutip data pasar, harga minyak jenis Brent crude naik 83 sen atau 0,87% ke level US$96,75 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,04 atau 1,06% menjadi US$98,91 per barel.

Analis pasar IG, Tony Sycamore menyebut, sentimen pasar yang sempat membaik setelah pengumuman gencatan senjata oleh Donald Trump kini mulai memudar.

“Gelombang awal optimisme cepat berubah menjadi keraguan mendasar,” ujarnya.

Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat (AS) sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan. Namun, bentrokan dilaporkan masih terjadi meski kesepakatan telah diumumkan.

Pelaku pasar kini memantau ketat pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz, menjelang pembicaraan damai yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan.

Para analis menilai Pakistan akan mendorong kesepakatan damai yang lebih permanen, namun memiliki keterbatasan untuk memaksa pembukaan kembali jalur vital tersebut.

Iran dilaporkan mengusulkan pengenaan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz dalam kerangka kesepakatan damai.

Usulan ini mendapat penolakan dari negara-negara Barat serta badan pelayaran di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari setelah serangan udara oleh AS dan Israel ke Iran telah membuat jalur distribusi minyak dan gas tersebut praktis terhenti.

Presiden Stratas Advisors John Paisie memperingatkan, harga minyak Brent crude berpotensi melonjak hingga US$190 per barel jika aliran melalui Selat Hormuz tidak pulih.

“Jika Iran mulai membuka kembali arus pasokan, harga akan lebih terkendali, meski tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum perang,” jelasnya.

Di sisi lain, serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi dilaporkan telah memangkas produksi sekitar 600.000 barel per hari (bph) dan menurunkan kapasitas aliran di pipa East-West Pipeline hingga 700.000 bph.

Analis JPMorgan menilai situasi ini mengubah dinamika pasar dari sekadar gangguan sementara menjadi guncangan pasokan yang nyata.

Dalam catatannya, sekitar 50 infrastruktur energi di kawasan Teluk telah rusak akibat serangan drone dan rudal selama hampir enam minggu konflik berlangsung.

Selain itu, sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak global juga dilaporkan tidak beroperasi akibat eskalasi tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup Menguat, Pembicaraan Damai di Timur Tengah Meningkatkan Sentimen

 

Wall Street ditutup menguat karena negosiasi yang sedang berlangsung menuju resolusi damai untuk konflik Timur Tengah selama enam minggu membantu meredakan kekhawatiran atas Gencatan senjata AS-Iran yang rapuh.

Kamis (9/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 275,88 poin atau 0,58% menjadi 48.185,80, indeks S&P 500 menguat 41,85 poin atau 0,62% ke 6.824,66 dan Nasdaq Composite menguat 187,42 poin atau 0,83% ke 22.822,42.

Dari 11 sektor utama di indeks S&P 500, saham energi mengalami penurunan terbesar. Sementara, sektor barang konsumsi non-esensial mencatat kenaikan persentase terbesar.

Saham barang konsumsi non-esensial mendapat dorongan setelah CEO Amazon.com, Andy Jassy, ...mengatakan bahwa layanan kecerdasan buatan di unit komputasi awannya menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$ 15 miliar. Alhasil, saham Amazon ditutup naik 5,6%.

Ketiga indeks saham utama Amerika Serikat (AS) ditutup menguat setelah pulih dari penurunan sebelumnya karena Israel berupaya melakukan pembicaraan dengan Lebanon.

"Ada peningkatan pengakuan bahwa pemerintahan ini lebih banyak gertakan daripada tindakan nyata, dan bersedia membuat pernyataan besar tentang kehancuran dunia," kata Oliver Pursche, wakil presiden senior di Wealthspire Advisors, di New York.

"Dari perspektif investor, Anda harus memutuskan apakah akan mengabaikan semuanya atau hanya mencairkan dana dan menunggu selama dua tahun ke depan."

Dalam dua sesi, S&P 500 telah kembali di atas rata-rata pergerakan 100 hari dan 200 hari, dua level teknis kunci.

Harga minyak mentah berfluktuasi sepanjang sesi perdagangan karena pasar menunggu Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur pengiriman seperlima minyak dunia. Kontrak berjangka WTI bulan depan ditutup naik 3,66%, tetapi tetap di bawah US$ 100 per barel.

Indeks Volatilitas Pasar CBOE, yang disebut "indeks ketakutan," turun ke titik terendah sejak dimulainya perang. Departemen Perdagangan mengeluarkan laporan PDB dan PCE, yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi lebih lambat dari perkiraan pada kuartal keempat, sementara harga konsumen tetap tinggi.

Risalah dari pertemuan moneter terbaru Federal Reserve AS menunjukkan para pembuat kebijakan semakin mempertimbangkan potensi kenaikan suku bunga untuk melawan dampak inflasi dari perang Iran yang berkepanjangan.

Saham-saham perangkat lunak jelas berkinerja buruk pada hari itu, merosot 2,2%, sementara saham ritel dan chip berkinerja lebih baik, masing-masing naik 4,1% dan 2,1%.

Saham Constellation Brands melonjak 8,5% setelah perusahaan tersebut membukukan penurunan penjualan kuartal keempat yang lebih kecil dari perkiraan.

Saham Applied Digital turun 8% setelah kerugian bersih operator pusat data tersebut pada kuartal ketiga melebar dibandingkan tahun sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 

Gencatan Senjata Iran-AS Retak, Israel Terus Menyerang, Apa yang Terjadi?

 

 

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang baru berjalan hitungan hari mulai menunjukkan retakan serius. Di saat Washington dan Teheran sama-sama mengklaim kemenangan, realitas di lapangan justru memperlihatkan sebaliknya: konflik belum benar-benar berhenti, bahkan berpotensi meluas.

Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam percakapannya dengan Presiden Donald Trump menyambut gencatan senjata tersebut sebagai peluang penting menuju perdamaian. Namun, ia juga mengingatkan bahwa momentum dua pekan ini sangat rapuh dan dapat runtuh jika tidak dikelola secara hati-hati.

Di atas kertas, gencatan senjata tampak menjanjikan. Iran bahkan mengajukan proposal 10 poin yang mencakup penghentian agresi, pengakuan hak pengayaan uranium, hingga pencabutan sanksi. Namun, di balik kerangka diplomasi itu, ketegangan justru terus meningkat.

Masalah utama bukan hanya pada isi kesepakatan, tetapi pada perbedaan persepsi antar pihak. Seorang pejabat senior AS menyebut proposal Iran tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang disepakati Washington.

Perbedaan tafsir ini menjadi sinyal awal bahwa diplomasi berjalan di atas fondasi yang belum solid. Bahkan sebelum negosiasi lanjutan dimulai, rasa saling percaya sudah tergerus, sebagaimana diberitakan TRT World.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka mempertanyakan komitmen Amerika. Ia menyebut dasar kesepakatan telah dilanggar dan menilai pembicaraan lanjutan menjadi “tidak masuk akal”.

Tiga hal yang dipersoalkan Teheran cukup serius: serangan yang masih berlangsung di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone, serta penolakan hak Iran dalam pengayaan uranium.

Jika benar, ini bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan indikasi bahwa gencatan senjata belum sepenuhnya menjadi kesepakatan bersama, tetapi masih sebatas kesepahaman yang dipaksakan.

Di tengah upaya meredakan konflik, langkah Israel justru memperumit situasi. Serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk di pusat kota Beirut, menjadi titik balik yang memperlihatkan rapuhnya kesepakatan.

Lebih dari 250 orang dilaporkan tewas dalam satu hari, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir.

Israel berargumen bahwa operasinya di Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata Iran-AS. Pernyataan ini didukung oleh pejabat Amerika, yang secara implisit memisahkan konflik menjadi beberapa medan berbeda.

Di sinilah letak persoalan mendasar: apakah gencatan senjata ini benar-benar menghentikan perang, atau hanya memindahkan medan tempurnya?

Ketegangan tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga di jalur ekonomi strategis. Penutupan kembali Selat Hormuz, meski sementara, menunjukkan bahwa Iran masih memegang kartu penting dalam permainan ini.

Langkah ini langsung memicu kekhawatiran global, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi dunia. Gedung Putih bahkan menyebut tindakan itu sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.

Dengan kata lain, konflik ini tidak hanya soal keamanan kawasan, tetapi juga stabilitas ekonomi global.

Di tengah situasi yang tidak menentu, sejumlah pihak internasional masih mencoba menjaga optimisme. Perdana Menteri Shehbaz Sharif mendesak semua pihak menahan diri, sementara pemimpin Eropa dan tokoh dunia menyerukan penyelesaian damai.

Bahkan, Paus Leo menyebut momen ini sebagai “harapan nyata”. Namun, harapan itu tampak berdiri di atas realitas yang rapuh.

Di Teheran, warga mulai kembali beraktivitas, meski bayang-bayang ketakutan belum sepenuhnya hilang. Ketenangan yang muncul lebih menyerupai jeda, bukan kepastian.

Gencatan senjata Iran-AS saat ini lebih tepat dibaca sebagai jeda strategis, bukan solusi permanen.

Perbedaan tafsir, pelanggaran di lapangan, serta keterlibatan aktor lain seperti Israel menunjukkan bahwa konflik ini belum menemukan titik temu yang utuh.

Jika diplomasi gagal menyatukan kepentingan yang saling bertabrakan, maka dua pekan masa tenang ini berpotensi menjadi awal dari eskalasi baru yang lebih luas.

Dan pada titik itu, dunia tidak lagi bertanya siapa yang menang, melainkan seberapa besar kerugian yang harus ditanggung bersama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Kembali Bunuh Jurnalis Aljazeera di Gaza

 

Tentara Israel membunuh dua warga sipil Palestina, termasuk jurnalis Mohammed Wishah, koresponden Aljazeera Mubasher di Gaza pada Rabu malam. Israel dengan menargetkan kendaraan mereka di Jalan Al-Rashid, sebelah barat Kota Gaza.

Jurnalis Muhammad Rabah melaporkan dari Gaza, Kantor Media Pemerintah mengkonfirmasi kematian Mohammed Samir Weshah. Kantor itu mencatat bahwa pembunuhannya meningkatkan jumlah jurnalis yang menjadi syuhada oleh pendudukan Israel menjadi 262 di Jalur Gaza sejak awal perang genosida.

Pembunuhan ini terjadi ketika pasukan Israel, sejak 10 Oktober, terus melanggar perjanjian gencatan senjata dan deeskalasi di Jalur Gaza. Pelanggaran tersebut mengakibatkan 738 warga sipil syahid dan 2.035 orang luka-luka, sedangkan 759 jenazah korban telah ditemukan.

Secara kumulatif, sejak dimulainya serangan pada 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas meningkat menjadi 72.317, dengan total 172.137 korban luka dilaporkan, menurut Kementerian Kesehatan.

Aljazeera melansir, serangan udara yang menewaskan Wishah menyebabkan mobil terbakar,. Israel telah menargetkan jurnalis di Jalur Gaza sejak awal perang genosida terhadap warga Palestina di Gaza pada Oktober 2023.

Dalam sebuah pernyataan, Jaringan Media Aljazeera mengatakan pihaknya “mengutuk keras kejahatan keji yang menargetkan dan membunuh koresponden Aljazeera Mubasher, Mohammed Wishah”.

Sebuah kendaraan hancur terbakar menyusul serangan udara Israel di jalan Al Rashid, barat daya Kota Gaza, 8 April 2026. Penargetan Israel menyebabkan terbunuhnya koresponden Al Jazeera Mohammed Wshah.

“Ini merupakan pelanggaran baru dan mencolok terhadap semua hukum dan norma internasional, dan mencerminkan kebijakan sistematis yang terus menerus menargetkan jurnalis dan membungkam suara kebenaran,” katanya.

“Aljazeera berduka atas korespondennya Mohammed Wishah, yang bergabung dengan Jaringan tersebut pada tahun 2018, Aljazeera menegaskan bahwa pembunuhannya bukanlah tindakan acak tetapi kejahatan yang disengaja dan ditargetkan yang dimaksudkan untuk mengintimidasi jurnalis dan mencegah mereka menjalankan tugas profesionalnya,” lanjut pernyataan itu.

Ibrahim al-Khalili dari Aljazeera, melaporkan dari Kota Gaza, mengatakan fakta bahwa Wishah terbunuh saat melakukan perjalanan di jalan utama di Kota Gaza menunjukkan “situasinya menjadi jauh lebih mengerikan mengingat pelanggaran ‘gencatan senjata’ yang dilakukan militer Israel”.

“Sudah hampir enam bulan sejak ‘gencatan senjata’ yang ditengahi AS diberlakukan, dan pelanggaran Israel terus berlanjut – menargetkan jurnalis seperti Wishah, yang telah meliput perang genosida sejak hari pertama,” katanya.

Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan militer Israel telah melakukan sekitar 2.000 pelanggaran sejak “gencatan senjata” berlaku. Kantor tersebut juga mengatakan pembunuhan Wishah adalah contoh “penargetan dan pembunuhan sistematis terhadap jurnalis Palestina” oleh Israel.

Mereka meminta Federasi Jurnalis Internasional, Persatuan Jurnalis Arab dan badan-badan media di seluruh dunia untuk “mengutuk kejahatan sistematis terhadap jurnalis dan pekerja media Palestina di Jalur Gaza.”

Kantor tersebut mengimbau komunitas internasional dan organisasi terkait untuk “menghentikan serangan yang berulang-ulang ini,” mengadili mereka yang bertanggung jawab di pengadilan internasional, dan “menerapkan tekanan yang serius dan efektif untuk menghentikan kejahatan genosida” dan melindungi jurnalis di Gaza.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Terus Bantai Warga Lebanon, Iran Tutup Lagi Selat Hormuz

 

 

Menanggapi serangan Israel baru-baru ini di Lebanon, para pejabat Iran menyerukan tindakan tegas untuk melawan agresi guna mendukung Lebanon dan rakyatnya. Iran menyatakan Selat Hormuz dapat ditutup kembali sampai serangan terhadap Lebanon berhenti.

Ibrahim Rezaei, juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, mengatakan hal itu dalam sebuah postingan di X. “Sebagai tanggapan terhadap agresi brutal Israel di Lebanon, pergerakan kapal di Selat Hormuz harus segera dihentikan, dan serangan yang kuat dan tegas harus dilancarkan untuk mencegah serangan lebih lanjut oleh entitas Israel.”

Dalam lansiran dari pihak Iran dan Pakistan sebagai penengah, penghentian serangan Israel ke Lebanon dan semua sumbu perlawanan jadi syarat gencatan senjata. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden AS Donald Trump menyatakan Lebanon tak masuk dalam kesepakatan.

Serangan brutal Israel ke Lebanon dilakukan tak lama setelah Trump mengumumkan gencatan senjata kemarin. Setidaknya 150 serangan diluncurkan Israel ke seantero Lebanon, menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai sedikitnya 1.165 orang.

Skala pembunuhan dan kehancuran akibat serangan itu “mengerikan”, kata Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk. Ia mendesak masyarakat internasional untuk “mengakhiri mimpi buruk ini”.

Utusan Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahraini, menekankan pentingnya Israel menegakkan gencatan senjata di Lebanon. Ia menambahkan bahwa Teheran akan melakukan negosiasi perdamaian dengan Washington dengan hati-hati karena kurangnya kepercayaan.

“Mengingat kurangnya kepercayaan, Teheran akan berhati-hati dalam melakukan negosiasi ‘perdamaian’ dengan Washington, dan pada saat yang sama tetap waspada secara militer.”

Ia lebih lanjut memperingatkan mengenai konsekuensi dari serangan terus menerus Israel ke Lebanon. “Kami memperingatkan bahwa kelanjutan serangan akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut dan konsekuensi yang parah.”

Iran juga bersiap menarik diri dari perjanjian gencatan senjata jika Israel terus melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan terhadap Lebanon, kata sebuah sumber kepada Kantor Berita Tasnim. “Iran saat ini sedang mempelajari kemungkinan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata dengan berlanjutnya pelanggaran entitas Israel dan agresinya terhadap Lebanon.”

Laporan tersebut mencatat bahwa penghentian perang di semua lini, termasuk terhadap “kekuatan Perlawanan” di Lebanon, telah diterima oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari rencana gencatan senjata selama dua minggu. Namun, sumber tersebut menambahkan, “Sejak pagi ini, dengan terang-terangan melanggar gencatan senjata, entitas Israel telah melakukan serangan brutal terhadap Lebanon.”

Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran mengidentifikasi target untuk membalas agresi Israel di Lebanon, kata sumber Tasnim, lebih lanjut memperingatkan. “Jika Amerika Serikat tidak dapat mengendalikan anjing gilanya di wilayah tersebut, Iran akan membantunya dalam masalah ini, khususnya melalui kekerasan.”

Selain itu, seorang pejabat senior Iran juga mengatakan kepada Press TV bahwa “Iran akan menghukum Israel atas agresinya terhadap Lebanon dan pelanggaran gencatan senjata.”

Sedangkan Kantor Berita Fars melaporkan bahwa lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dihentikan setelah serangan Israel, meskipun dua kapal tanker sebelumnya telah menerima izin jalur aman setelah persyaratan Teheran diterima dan gencatan senjata mulai berlaku.

 “Kami telah menutup Selat Hormuz, dan saat ini, hanya kapal Iran dan kapal yang berasal dari Iran yang melewatinya.” “Hanya dua kapal tanker minyak yang mendapat manfaat dari gencatan senjata dan melewati Selat Hormuz sebelum ‘Israel’ melanggar perjanjian tersebut,” ujar sumber di Angkatan Laut Iran.

Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan ketentuan gencatan senjata sudah eksplisit. Washington harus memilih antara menjunjung perjanjian atau membiarkan aksi militer lanjutan melalui Israel.

Dalam sebuah postingan di X pada hari Rabu, Araghchi menekankan kerangka gencatan senjata mencakup Lebanon, di mana Israel harus menghentikan serangan.

Dia menambahkan bahwa situasi di Lebanon diawasi secara ketat secara internasional, dengan mengatakan “dunia melihat pembantaian di Lebanon,” dan menekankan bahwa “keputusan ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya.”

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Amerika Serikat akan ikut bertanggung jawab atas setiap pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel. “Tanggung jawab atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan entitas Zionis juga berada di tangan Amerika Serikat,” ujarnya pada IRNA.

Dia menambahkan bahwa Washington telah berkomitmen untuk memastikan kepatuhan di semua lini. “Seperti yang secara eksplisit dinyatakan dalam postingan awal oleh Perdana Menteri Pakistan, Amerika Serikat berjanji bahwa Amerika Serikat dan sekutunya akan mematuhi gencatan senjata di semua lini, termasuk Lebanon.”

 

 

 

 

 

 

 

 

Terungkap: Pentagon Ancam Vatikan, Singgung Pembunuhan Paus

 

 

Kritik berulang Paus Leo XIV terhadap nafsu perang Presiden AS Donald Trump dilaporkan memicu kemarahan Departemen Pertahanan AS alias Pentagon. Seorang pejabat pentagon dilaporkan memanggil utusan Vatikan untuk AS dan mengancamnya dengan menyinggung masa-masa pembunuhan paus pada abad ke-14.

Pada Senin, The Free Press melaporkan bahwa setelah pidato tahunan Paus Leo XIV kepada korps diplomatik Vatikan pada Januari, di mana ia mengkritik negara-negara yang memicu konflik di seluruh dunia, Departemen Pertahanan AS mengundang Kardinal Christophe Pierre untuk bertemu. Saat itu, Pierre sedang menjabat sebagai utusan pribadi Paus Leo untuk Amerika Serikat.

Permintaan Pentagon untuk bertemu dengan pejabat Vatikan adalah hal yang “belum pernah terjadi sebelumnya,” menurut laporan itu. Menurut para pejabat Vatikan dan AS yang diberi pengarahan mengenai pertemuan tersebut, Pentagon mengkritik pernyataan Paus pada bulan Januari, dan menafsirkannya sebagai serangan permusuhan terhadap kebijakan Trump.

Salah satu pejabat Vatikan mengatakan kepada The Free Press bahwa Pentagon sangat marah dengan kritikan Paus terhadap "Doktrin Donroe" – pembaruan Trump terhadap Doktrin Monroe, yang menyerukan agar AS menjadi pengendali yang tidak tertandingi di Belahan Barat.

Pentagon dilaporkan menanggapi pernyataan Paus yang mengatakan bahwa “diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi berdasarkan kekuatan, baik oleh individu atau kelompok sekutu.” Kritik itu menyusul serangan AS terhadap Venezuela dan penangkapan pemimpinnya Nicolas Maduro pada Januari itu. Presiden tersebut dibesarkan dalam keyakinan Katolik meski kemudian menunjukkan kecenderungan beragama yang sinkretis.

Wakil Menteri Pertahanan Bidang Kebijakan Elbridge Colby kemudian melakukan pertemuan tertutup dengan Kardinal Pierre, untuk memberikan ceramah yang pahit atas kritik Paus pada Januari.

"Amerika Serikat," kata Colby, "memiliki kekuatan militer untuk melakukan apapun yang diinginkannya di dunia. Gereja Katolik sebaiknya memihak AS."

Salah satu pejabat AS yang hadir pada pertemuan tersebut menyinggung tentang masa kepausan Avignon pada abad ke-14. Masa itu dimulai saat Raja Philip IV dari Perancis ingin menggunakan keuangan gereja untuk membiayai perangnya dengan Inggris.

Paus Boniface VIII memprotes, sehingga menimbulkan perseteruan. Pada tahun 1303, Paus Boniface VIII menindaklanjuti dengan putusan yang mengucilkan raja Perancis dan kerajaannya. Sekutu Italia raja Perancis kemudian menyerbu kediaman kepausan dan memukuli Paus Bonifasius VIII sampai wafat. Serangan itu memaksa kepausan untuk pindah dari Roma ke Avignon, sebuah wilayah di dalam Perancis.

Setelah pertemuan pada Januari, Paus Leo yang merupakan kelahiran AS itu dilaporkan menolak undangan Trump untuk menghadiri acara peringatan 250 tahun negara tersebut.

Bukannya menghabiskan tanggal 4 Juli di AS, Paus malah akan mengunjungi Lampedusa, sebuah pulau kecil di Mediterania yang telah menjadi pintu masuk bagi para migran Afrika yang berusaha mencapai Eropa. Seorang pejabat Vatikan yang berbicara kepada The Free Press mengatakan Paus tidak berencana mengunjungi AS selama Trump masih menjabat.

“Paus mungkin tidak akan pernah mengunjungi Amerika Serikat di bawah pemerintahan ini,” kata pejabat tersebut.

Penolakan Paus terhadap Trump terus berlanjut sejak pertemuan itu. Setelah Trump membuat postingan Truth Social yang mengancam akan memusnahkan seluruh peradaban Iran – sebuah ancaman yang tidak ditindaklanjuti – Paus mengeluarkan pernyataan yang menyebut kata-kata presiden tersebut “benar-benar tidak dapat diterima.”

"Hari ini, seperti yang kita semua tahu, ada juga ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima," kata Paus kepada wartawan di Italia pada hari Selasa, hanya beberapa jam sebelum Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran telah tercapai.

Seorang juru bicara Departemen Pertahanan mengatakan kepada Newsweek bahwa karakterisasi Free Press terhadap pertemuan tersebut "sangat dibesar-besarkan dan menyimpang".

“Pertemuan antara pejabat Pentagon dan Vatikan merupakan diskusi yang penuh hormat dan masuk akal,” kata juru bicara tersebut. “Kami sangat menghormati dan menyambut baik kelanjutan dialog dengan Takhta Suci.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump: Militer AS di Sekitar Iran, Akan Beraksi Jika Iran Gagal Penuhi Kesepakatan

 

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kapal dan pesawat militer AS akan tetap berada di sekitar Iran dan mengancam bahwa AS akan mulai menembak lagi kecuali Teheran sepenuhnya mematuhi kesepakatan yang dicapai dengan Washington.

“Semua kapal, pesawat, dan personel militer AS, beserta amunisi dan persenjataan tambahan, akan tetap berada di dan sekitar Iran, sampai kesepakatan yang sebenarnya dipatuhi sepenuhnya tercapai,” kata Trump di platform Truth Social miliknya seperti dilansir Reuters, Kamis (9/4/2026).

“Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat tidak mungkin, maka penembakan akan dimulai, lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya,” tambah presiden.

Iran sebelumnya mengatakan pada hari Rabu bahwa akan "tidak masuk akal" untuk melanjutkan pembicaraan guna mencapai kesepakatan perdamaian permanen dengan Amerika Serikat setelah Israel membombardir Lebanon dengan serangan terberatnya pada hari Rabu, menewaskan ratusan orang.

Kedua pihak tampaknya memiliki perbedaan pendapat yang jauh mengenai program nuklir Iran, dengan Trump mengatakan Iran telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium, dan Ketua Parlemen Iran Mohammed Bager Qalibaf mengatakan bahwa Iran diizinkan untuk melanjutkan pengayaan uranium berdasarkan ketentuan gencatan senjata.

"Sudah disepakati sejak lama, dan terlepas dari semua retorika palsu yang menyatakan sebaliknya - Tidak ada senjata nuklir dan, Selat Hormuz akan terbuka & aman," tambah Trump dalam unggahan Truth Social-nya pada Rabu malam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk, Trump: Militer AS Tetap Berada di Sekitar Iran

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa kapal dan pesawat militer AS akan tetap berada di sekitar Iran dan mengancam bahwa AS akan mulai "menembak" lagi kecuali Teheran sepenuhnya mematuhi kesepakatan yang dicapai dengan Washington.

“Semua kapal, pesawat, dan personel militer AS, beserta amunisi dan persenjataan tambahan, akan tetap berada di dan sekitar Iran, sampai kesepakatan yang sebenarnya dipatuhi sepenuhnya tercapai,” kata Trump di platform Truth Social miliknya seperti dikutip Reuters, Rabu (8/4/2026) malam.

“Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat tidak mungkin, maka ‘penembakan’ akan dimulai, lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya,” tambah Trump.

Iran sebelumnya mengatakan pada hari Rabu bahwa akan "tidak masuk akal" untuk melanjutkan pembicaraan guna mencapai kesepakatan perdamaian permanen dengan Amerika Serikat setelah Israel membombardir Lebanon dengan serangan terberatnya pada hari Rabu (8/4/2026). Di mana, serang tersebut menewaskan ratusan orang.

Kedua pihak tampaknya memiliki perbedaan pendapat yang jauh mengenai program nuklir Iran, dengan Trump mengatakan Iran telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammed Bager Qalibaf mengatakan bahwa Iran diizinkan untuk melanjutkan pengayaan uranium berdasarkan ketentuan gencatan senjata.

"Sudah disepakati sejak lama, dan terlepas dari semua retorika palsu yang menyatakan sebaliknya - TIDAK ADA SENJATA NUKLIR dan, Selat Hormuz AKAN TERBUKA & AMAN," tambah Trump dalam unggahan Truth Social-nya pada Rabu malam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Veteran Angkatan Darat AS Didakwa Membocorkan Informasi Rahasia ke Jurnalis

 

 Seorang veteran Angkatan Darat AS didakwa pada Rabu (8/4/2026) atas tuduhan memberikan informasi rahasia kepada seorang jurnalis untuk sebuah buku yang menuding adanya perdagangan narkoba, pembunuhan, dan korupsi di pangkalan militer tempatnya bekerja, demikian pernyataan Departemen Kehakiman AS.

Melansir Reuters, Courtney Williams, 40 tahun, asal Wagram, North Carolina, didakwa oleh juri agung federal atas “diduga mentransmisikan informasi pertahanan nasional yang bersifat rahasia kepada pihak yang tidak berwenang, termasuk seorang jurnalis,” kata Departemen Kehakiman dalam pernyataan resmi. Jaksa menuduh Williams melanggar ketentuan dalam Espionage Act AS.

Kasus ini muncul di tengah kekhawatiran para pendukung kebebasan berbicara terkait sikap agresif pemerintahan Trump terhadap kebocoran informasi oleh pegawai pemerintah yang kecewa dengan kebijakan dan tindakan AS.

Williams bekerja dari 2010 hingga 2016 di unit militer khusus di pangkalan Angkatan Darat AS di Fort Bragg, North Carolina, dan memiliki izin keamanan “Top Secret/Sensitive Compartmented Information,” menurut Departemen Kehakiman.

Jaksa menuduh antara 2022 dan 2025, Williams berkomunikasi berulang kali melalui telepon dan pesan teks dengan seorang jurnalis yang mencari informasi untuk artikel dan buku tentang unit tersebut.

Williams dan jurnalis itu menghabiskan lebih dari 10 jam dalam panggilan telepon dan bertukar lebih dari 180 pesan.

Walau dokumen pengadilan tidak menyebut nama jurnalis, Seth Harp menulis buku yang diterbitkan tahun lalu berjudul The Fort Bragg Cartel: Drug Trafficking and Murder in the Special Forces dan artikel pendamping yang menamai Williams sebagai sumber informasi, dengan pernyataan tertentu yang dikaitkan padanya.

Departemen Kehakiman menilai, beberapa pernyataan tersebut mengandung “informasi rahasia pertahanan nasional.”

Jaksa juga menuduh Williams membuat pengungkapan informasi pertahanan tanpa izin melalui akun media sosialnya.

Perwakilan Williams belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

Harp menilai Williams sebagai “whistleblower berani yang menyingkap diskriminasi gender dan pelecehan seksual yang merajalela di Delta Force Angkatan Darat AS.”

Harp menyebut tuduhan terhadap Williams “samar dan lemah,” karena Williams ingin disebutkan namanya dalam karyanya.

Departemen Kehakiman mengutip pesan Williams kepada jurnalis saat buku tersebut diterbitkan, yang menunjukkan kekhawatirannya tentang banyaknya informasi rahasia yang diungkap.

Ia juga mengirim pesan kepada orang lain yang tidak diidentifikasi, menyatakan takut bisa ditangkap karena pengungkapan itu.

Williams menandatangani perjanjian non-disclosure informasi rahasia saat bergabung dengan unit militer khusus pada 2010 dan kembali saat meninggalkan posisinya, menurut gugatan yang diajukan.

Pemerintahan AS sebelumnya, meski jarang, juga menuntut sumber kebocoran ke media yang bertujuan mengungkap kesalahan pemerintah, mulai dari kasus Pentagon Papers selama Perang Vietnam hingga log perang Irak pada abad ini.

 

 

 

 

 

Astronot Artemis II Bakal Gelar Konferensi Pers Pertama dari Luar Angkasa

 

 Empat astronot yang sedang kembali dari sisi jauh Bulan dalam misi Artemis II NASA akan menggelar konferensi pers pertama mereka dari luar angkasa pada Rabu (8/4/2026) waktu setempat.

Kru Artemis II, yang terbang dengan kapsul Orion sejak diluncurkan dari Florida pekan lalu, mencapai Bulan awal pekan ini.

Mereka melintasi sisi jauh Bulan yang gelap sebelum menjadi manusia yang menempuh jarak terjauh dari Bumi dalam sejarah.

 “Sistem Orion berjalan normal, semua kru dalam kondisi sehat, dan kami sedang menempuh perjalanan pulang dari Bulan,” kata Debbie Korth, wakil manajer program Orion, kepada wartawan dilansir dari Reuters.

Astronot NASA Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan astronot Kanada Jeremy Hansen merupakan gelombang pertama dalam rangkaian misi multimiliar dolar di bawah program Artemis.

Program ini bertujuan membawa manusia kembali ke permukaan Bulan pada 2028, sebelum China, sekaligus membangun kehadiran jangka panjang AS dengan basis bulan yang mendukung misi potensial ke Mars.

Di Bumi, puluhan ilmuwan lunar memantau misi ini dari ruang-ruang dekat Mission Control Center NASA di Houston, mencatat dan mendiskusikan audio langsung maupun terekam dari kru Artemis II di Orion.

Astronot dijadwalkan kembali ke Bumi pada Jumat sekitar pukul 20.00 ET (Sabtu 00.00 GMT), mendarat di lepas pantai San Diego, California, menutup misi hampir 10 hari mereka. Mereka akan mencapai kecepatan puncak hingga 38.365 km/jam saat memasuki atmosfer Bumi.

Pada Senin, keempat astronot ini mencapai jarak rekor sekitar 252.000 mil dari Bumi, melampaui 4.000 mil dari rekor sebelumnya yang dipegang Apollo 13 selama 56 tahun.

Rekor itu tercapai selama flyby lunar enam jam, di mana mereka mengamati permukaan Bulan dari sekitar 6.400 km di atasnya.

Biasanya, kemajuan ilmu lunar bergantung pada satelit orbit Bulan dan observasi dari Bumi.

Namun, flyby enam jam ini memungkinkan aliran data ilmiah langsung dari mata manusia, serta interaksi langsung antara tim di Bumi dan kru di luar angkasa sejauh 252.000 mil.

“Bulan adalah ‘piring saksi’ terbentuknya Tata Surya kita,” kata spesialis misi Artemis II, Christina Koch, sebelum peluncuran.

Para ilmuwan melihat misi Artemis II sebagai langkah awal penting untuk membuka misteri pembentukan Tata Surya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Imbal Hasil Obligasi Jepang Naik Kamis (9/4), Saat Ketidakpastian Gencatan AS-Iran

 

 Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) rebound pada Kamis (9/4/2026) seiring meningkatnya ketidakpastian terkait gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Melansir Reuters, imbal hasil JGB 10-tahun naik 3,5 basis poin menjadi 2,4%.

 “Optimisme terhadap prospek perang di Timur Tengah memudar, dengan keraguan mengenai dibukanya kembali Selat Hormuz,” kata Naoya Hasegawa, kepala strategi obligasi di Okasan Securities.

Sementara itu, imbal hasil JGB 20-tahun naik 5 bps menjadi 3,315%, dan imbal hasil 30-tahun meningkat 5,5 bps menjadi 3,65%.

Perlu diingat, imbal hasil bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.

Sentimen investor tertekan setelah Israel melancarkan serangan terbesar hingga saat ini di Lebanon pada Rabu, menewaskan ratusan orang dan memicu ancaman balasan dari Iran.

Teheran juga menyatakan bahwa melanjutkan negosiasi untuk kesepakatan damai permanen dengan AS akan “tidak masuk akal.”

Imbal hasil sebelumnya turun tajam setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata dua minggu dengan Iran.

“Penurunan imbal hasil pada sesi sebelumnya terbatas karena penjualan besar-besaran sebelumnya minggu ini, sebagian karena pasar memperkirakan Bank of Japan akan menaikkan suku bunga terlepas dari nasib perang di Timur Tengah,” kata Hasegawa.

Pandangan pasar terhadap kenaikan suku bunga awal BOJ masih terbagi: harga minyak yang melonjak akibat konflik di Timur Tengah dan yen yang melemah menekan inflasi, tetapi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membebani ekonomi.

Pada Kamis, investor menantikan hasil lelang obligasi lima tahun, menyusul penjualan obligasi 10-tahun yang mengecewakan pekan lalu.

Imbal hasil obligasi lima tahun naik 1,5 bps menjadi 1,800%, yang dianggap menarik bagi investor yang ingin menambah portofolio obligasi di awal tahun fiskal baru, kata Hasegawa.

Sementara itu, imbal hasil obligasi dua tahun naik 1 bps menjadi 1,385%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Goldman Sachs & ANZ Pangkas Prediksi Harga Minyak 2026 Usai Gencatan Senjata AS-Iran

 

Goldman Sachs memangkas perkiraan harga minyak Brent dan minyak mentah AS (WTI) untuk kuartal kedua 2026 masing-masing menjadi US$ 90 dan US$ 87 per barel. Pemangkasan ini setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu.

Sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dan WTI akan bergerak rata-rata US$ 99 dan US$ 91 per barel.

Harga minyak Brent telah turun lebih dari 11% sepanjang minggu ini, seiring harapan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata sementara dengan Iran. Namun, harga kembali naik pada Kamis karena kekhawatiran pasokan dari kawasan penghasil minyak utama di Timur Tengah mungkin tidak sepenuhnya pulih, seiring keraguan atas keberlangsungan gencatan senjata dan pembatasan akses Selat Hormuz yang masih berlangsung.

Sementara itu, ANZ mencatat bahwa gangguan pasokan minyak telah secara signifikan memperketat keseimbangan minyak global, menggeser pasar dari surplus di awal tahun menjadi defisit yang besar. “Kami melihat risiko nyata bahwa 1 juta–2 juta barel per hari kapasitas produksi dapat hilang atau terbatas secara permanen, terutama dari lapangan matang, sistem ekspor yang terbatas, serta produsen yang menghadapi sanksi atau masalah pendanaan,” tulis ANZ.

ANZ menambahkan bahwa pasar kemungkinan memerlukan harga di atas US$ 100 per barel secara berkelanjutan untuk menahan permintaan dan mendorong pengurangan stok, jika pemulihan pasokan terhenti pada level minggu ini, meninggalkan defisit lebih dari 4 juta–5 juta barel per hari.

Berbagai perkiraan harga minyak dari bank dan lembaga keuangan lain untuk 2026 juga menunjukkan ketidakpastian yang tinggi akibat konflik dan gangguan pasokan. Misalnya, Morgan Stanley memprediksi harga Brent tetap di atas US$ 80 per barel sepanjang 2026 jika konflik berlanjut hingga akhir Juni, sementara UBS memperingatkan potensi kenaikan harga minyak hingga US$ 150 per barel atau lebih jika Selat Hormuz tetap tertutup selama beberapa minggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Laba Uniqlo Pecah Rekor, Meski Krisis Timur Tengah Guncang Pasar

 

Pemilik merek pakaian Uniqlo, Fast Retailing, melaporkan kenaikan laba kuartalan sebesar 29,4% menjelang krisis Timur Tengah yang mengguncang pasar global dan rantai pasokan, Kamis (9/4/2026. Perusahaan juga meningkatkan proyeksi laba tahunannya berkat pertumbuhan internasional yang kuat.

Fast Retailing mencatat laba operasi sebesar ¥ 189,8 miliar (sekitar US$1,19 miliar) untuk tiga bulan hingga Februari, naik dari ¥ 146,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini melampaui rata-rata perkiraan analis sebesar ¥ 161,6 miliar, menurut data dari LSEG.

Perusahaan kini menaikkan proyeksi laba operasi tahunan menjadi ¥ 700 miliar, dari sebelumnya ¥ 650 miliar, menempatkan Fast Retailing pada jalur untuk mencatat lima tahun berturut-turut laba rekor.

Kuartal kedua berakhir tepat sebelum dimulainya serangan udara AS-Israel terhadap Iran, konflik yang memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu rantai pasokan global. Investor kini menunggu bagaimana krisis Iran akan memengaruhi biaya produksi Uniqlo, yang dikenal dengan pakaian fleece murah dan pakaian sehari-hari berbahan poliester.

Pemasok poliester berbasis Jepang, Teijin Frontier, pekan ini mengumumkan akan menaikkan harga serat poliester sebesar 20% akibat kenaikan harga minyak. Di Eropa, pengecer besar seperti H&M dan jaringan supermarket Inggris Co-op telah memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah yang berkepanjangan bisa mendorong kenaikan harga dan menurunkan permintaan konsumen.

Fast Retailing dianggap sebagai indikator belanja konsumen di Jepang dan China daratan, di mana perusahaan memiliki hampir 900 toko. Dari satu toko di Hiroshima pada 1984, Uniqlo kini memiliki lebih dari 2.500 lokasi di seluruh dunia, dengan ekspansi cepat ke Eropa dan Amerika Utara, di luar Tiongkok yang menjadi pasar luar negeri terbesar.

Penjualan domestik Fast Retailing didukung oleh lonjakan wisatawan akibat yen yang melemah, sementara pertumbuhan di China melambat akibat sentimen konsumen yang lemah, memicu penutupan toko dan restrukturisasi. Selain tekanan dari tarif yang berubah-ubah di Amerika Serikat tahun lalu, perusahaan kini menghadapi kenaikan biaya akibat konflik Timur Tengah.

Tadashi Yanai, pendiri Fast Retailing dan orang terkaya di Jepang, memiliki ambisi jangka panjang menjadikan perusahaannya sebagai merek pakaian nomor satu dunia. Yanai dijadwalkan memberikan keterangan pada rapat laba, bersama Daisuke Tsukagoshi, presiden merek Uniqlo yang dipandang sebagai calon penerus memimpin konglomerat ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post