News Komoditi & Global ( Rabu, 3 Juni 2026 )

News  Komoditi  &  Global

                                     (  Rabu,   3  Juni  2026  )

Harga Emas Global Turun  di Tengah Memudarnya Harapan Perdamaian Iran

 

Harga Emas (XAU/USD) jatuh ke sekitar $4.465 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Logam mulia ini melanjutkan penurunan di tengah ketidakpastian seputar kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Iran dilaporkan mengancam akan sepenuhnya menarik diri dari perundingan damai pada hari Senin terkait serangan Israel di Lebanon. Presiden AS, Donald Trump, mengamankan gencatan senjata baru antara Israel dan Hezbollah, kemudian menegaskan bahwa perundingan dengan Iran tetap aktif.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan pada hari Selasa bahwa AS tidak akan mencabut sanksi terhadap Iran sebagai imbalan atas pembukaan penuh Selat Hormuz, menambahkan bahwa setiap pelonggaran sanksi bergantung pada Iran menyerahkan uranium yang diperkaya.

"Optimisme seputar negosiasi antara AS dan Iran yang bertujuan mengakhiri kebuntuan di Selat Hormuz memudar selama akhir pekan," kata Ricardo Evangelista, analis ActivTrades. "Akibatnya, harga energi rebound, menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi hawkish Federal Reserve," tambahnya.

Para pedagang bersiap untuk menghadapi data ketenagakerjaan AS untuk bulan Mei, yang akan dirilis pada hari Jumat nanti. Laporan ini dapat membantu memengaruhi jalur kebijakan Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Data ini diprakirakan menunjukkan penambahan 85.000 pekerjaan pada bulan Mei dan tidak ada perubahan pada Tingkat Pengangguran saat ini sebesar 4,3%. Setiap tanda pelemahan di pasar tenaga kerja AS dapat membebani Dolar AS (USD) dan mendukung harga komoditas berdenominasi USD dalam waktu dekat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Menguat  saat Iran Luncurkan Rudal ke Arah Kuwait, Bahrain

 

 

West Texas Intermediate (WTI) menguat untuk tiga hari berturut-turut, diperdagangkan di sekitar $92,90 per barel selama perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Harga minyak mentah melonjak di tengah pembaruan kekhawatiran pasokan setelah eskalasi baru permusuhan di Timur Tengah, ditandai dengan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain yang berdekatan.

Menurut militer Amerika Serikat (AS), rudal-rudal tersebut gagal mengenai target-targetnya, sehingga pasukan Amerika melakukan serangan balasan ke Pulau Qeshm Iran. Menambah kehati-hatian pasar adalah ketidakpastian mendalam seputar negosiasi perdamaian AS-Iran. Sementara Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa perundingan masih berlangsung, laporan media negara dari Iran menimbulkan keraguan signifikan terhadap kemajuan perundingan.

Kebuntuan diplomatik berpusat pada tuntutan Presiden Trump pada komitmen tertulis yang eksplisit dari Teheran mengenai konsesi terkait nuklir tertentu. Meskipun Iran sebelumnya telah memberikan jaminan lisan tentang bagian dari program nuklirnya, AS menuntut kerangka kerja awal yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri konflik.

Dengan terobosan diplomatik yang tidak terlihat, para analis energi khawatir bahwa persediaan minyak mentah global harus ditarik ke level-level yang sangat rendah dan berbahaya. Taruhannya sangat tinggi, karena Iran secara efektif telah melumpuhkan sebagian besar pengiriman non-Iran yang melalui Teluk Persia sejak awal perang. Dengan memutus sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global, ditambah dengan blokade balasan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, konflik ini telah mendorong harga energi naik lebih dari 50%, membuat ekonomi global sangat rentan terhadap gangguan yang berkepanjangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Menguat, Antusiasme Terhadap AI Mengatasi Kekhawatiran di Timur Tengah

 

 

Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada Selasa (2/6/2026), karena selera risiko yang didorong antusiasme terhadap AI mengimbangi ketegangan yang muncul dari pembicaraan AS-Iran untuk membuka Kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 228,91 poin, atau 0,45% ke level 51.307,79, S&P 500 naik 9,94 poin, atau 0,13% ke level 7.609,90 dan Nasdaq Composite naik 7,09 poin, atau 0,03% ke level 27.093,90. Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor utilitas mencatat kenaikan terbesar, sementara layanan komunikasi mencatat penurunan terdalam. Baca Juga: Wall Street Dibuka Turun Selasa (2/6) Setelah Cetak Rekor, HPE Naik Berkat Ledakan AI Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 20,51 miliar saham, dengan rata-rata 19,93 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. Saham Hewlett Packard Enterprise melonjak 19,5% setelah pembuat server AI tersebut memajukan target keuangan jangka panjangnya selama dua tahun.  Sebagai bukti lebih lanjut dari pengembangan AI, Alphabet mengatakan pihaknya berencana untuk mengumpulkan US$ 80 miliar dalam penawaran ekuitas, termasuk investasi dari Berkshire Hathaway, untuk mendanai ekspansi infrastruktur AI yang mahal. Sahamnya turun 3,9%.  Saham Marvell Technology melonjak 32,5% setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut pembuat chip tersebut sebagai perusahaan triliun dolar berikutnya di konferensi Computex di Taipei. Nvidia menginvestasikan US$ 2 miliar di Marvell pada bulan Maret. Saham-saham berkapitalisasi kecil telah menjadi beberapa penerima manfaat terbesar dari antusiasme yang berkelanjutan seputar saham kecerdasan buatan, yang memberikan dorongan kenaikan. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE naik 5,9%. "Pasar tampak agak tenang di permukaan, tetapi banyak hal terjadi di balik layar, dan itu menggambarkan sebagian besar tahun ini," kata Mike Dickson, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments di Charlotte, Carolina Utara.  "Ada beberapa dispersi besar dalam keseluruhan ekosistem infrastruktur AI." Baca Juga: Wall Street Terus Catat Rekor, Investasi di Pasar Saham AS Bisa Jadi Opsi Alternatif "Pasar bisa saja mengalami reli yang panas dan cepat di mana momentum terus menang," tambah Dickson.  "Saya sama sekali tidak akan terkejut jika pada akhir musim panas ini pasar berada jauh lebih tinggi." Teheran sedang mempelajari proposal AS untuk menghentikan perang, tetapi belum melakukan kontak dengan Washington selama beberapa hari, menurut media Iran,  Media Iran juga mengatakan Iran mengambil pendekatan tegas, mengingat apa yang mereka anggap sebagai sejarah ketidakpatuhan AS dan ketidakpercayaan timbal balik.  Bersamaan dengan itu, Israel terus melancarkan serangan terhadap Lebanon, meskipun Teheran telah memperingatkan bahwa serangan tersebut mengancam untuk menggagalkan gencatan senjata yang rapuh. Perang tersebut telah menyebabkan harga minyak mentah melonjak, menghidupkan kembali kekhawatiran tentang inflasi dan meningkatkan kemungkinan bahwa Federal Reserve AS dapat menaikkan suku bunga pada akhir tahun.  Pejabat Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, mengatakan pada hari Selasa bahwa kenaikan tersebut mungkin diperlukan jika tekanan inflasi yang sudah tinggi terus meningkat.  Di bidang ekonomi, sebuah laporan dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan lonjakan tak terduga dalam lowongan pekerjaan, yang didorong oleh sektor jasa profesional dan bisnis yang fluktuatif.  Baca Juga: Tekanan Rebalancing MSCI Mereda, IHSG Berpeluang Pulih Dalam Jangka Pendek Sebaliknya, perekrutan, pemecatan, dan pengunduran diri semuanya menurun, menunjukkan perlambatan dalam perputaran pasar tenaga kerja di tengah ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah dan efek inflasi. Para analis menantikan laporan ketenagakerjaan bulan Mei yang akan dirilis pada hari Jumat, yang diperkirakan akan menunjukkan bahwa ekonomi AS menambah 85.000 pekerjaan bulan lalu, sebuah perlambatan bulanan sebesar 26,1%. Tingkat pengangguran diperkirakan akan tetap stabil di 4,3%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Balas Amerika, IRGC: Rudal Jelajah Iran Hantam Kapal Kargo Pro-Zionis

 

 

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang kapal kargo raksasa MSC Sariska, yang berafiliasi dengan Zionis-Amerika. Kapal kargo itu dihantam rudal jelajah dalam operasi balasan setelah serangan AS terhadap kapal komersial Iran di Laut Oman.

Departemen hubungan masyarakat Angkatan Laut IRGC mengumumkan pada Selasa bahwa serangan itu merupakan tanggapan langsung terhadap gempuran agresif terhadap kapal kargo Iran Lian Star dan pengkhianatan militer AS.

"Sebagai tanggapan atas serangan agresif oleh tentara AS yang teroris dan pembunuh anak-anak terhadap kapal Iran Lian Star di Laut Oman, Angkatan Laut IRGC melakukan operasi balasan dan menyerang MSC Sariska dengan rudal jelajah," kata pernyataan itu, seperti yang dilaporkan oleh Sepah News, dikutip media Iran, Press TV.

MSC Sariska, kapal berbendera Panama, menjadi sasaran di dekat perairan Irak dan mengalami ledakan besar. Angkatan Laut IRGC memperingatkan agresi lebih lanjut oleh tentara AS di wilayah tersebut akan ditanggapi dengan tegas.

Pada Jumat, sebuah pesawat AS menembakkan rudal AGM-114 Hellfire ke ruang mesin kapal kargo Lian Star sehingga melumpuhkan kapal tersebut.

Lian Star adalah kapal komersial yang beroperasi di perairan internasional ketika menjadi sasaran.

Iran menuduh Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme di sektor maritim.Pertukaran kata-kata ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di perairan strategis Laut Oman dan Teluk Persia.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang agresi terhadap Iran pada 28 Februari. Mereka membunuh Pemimpin Revolusi Islam dan menyerang infrastruktur sipil dan militer.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan telah berlaku sejak awal April, tetapi Washington terus memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Iran telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak akan mentolerir pelanggaran kedaulatan apa pun dan bahwa setiap tindakan agresi akan dibalas dengan respons proporsional dan tegas.

Angkatan Laut IRGC menegaskan telah mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz dan telah memperingatkan bahwa setiap campur tangan oleh pasukan militer asing akan dibalas dengan pembalasan segera.

Komando militer pusat Iran memperingatkan warga di wilayah utara yang diduduki Israel untuk meninggalkan permukiman mereka jika Tel Aviv melaksanakan ancamannya menyerang pinggiran selatan Beirut, ibu kota Lebanon.

Dalam pernyataannya pada Senin, Markas Pusat Khatam al-Anbiya menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam membombardir Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, serta wilayah ibu kota Lebanon lainnya, dan telah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi penduduk setempat.

"Kami memperingatkan penduduk wilayah utara dan permukiman militer di wilayah pendudukan," kata juru bicara markas tersebut, Ali Abdollahi.

"Jika tidak ingin terdampak, mereka harus meninggalkan daerah itu apabila ancaman tersebut dilaksanakan," katanya.

Netanyahu, Senin, memerintahkan serangan militer terhadap Dahiyeh dan Beirut sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai "pelanggaran berulang" oleh Hezbollah terhadap gencatan senjata di Lebanon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aksi Barbar Israel di Lebanon, Media AS: Trump Marah ke Netanyahu 'Kau Benar-Benar Gila!

 

 

Presiden AS Donald Trump mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas eskalasi Israel di Lebanon. Demikian dilaporkan Axios pada Senin, mengutip dua pejabat Amerika dan sumber ketiga yang diberi tahu tentang percakapan telepon tersebut.

Trump diduga menuduh Netanyahu membahayakan negosiasi AS dengan Iran. Ia menuntut agar Israel menghentikan serangan yang direncanakan ke Beirut, dalam apa yang digambarkan Axios sebagai salah satu percakapan telepon terburuk antara kedua pemimpin sejak Trump kembali menjabat.

 “Kau benar-benar gila. Kau akan dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini,” seorang pejabat meringkas pernyataan Trump kepada Netanyahu.

Sumber kedua yang diberi tahu tentang percakapan telepon tersebut mengatakan Trump 'marah' dan berteriak kepada Netanyahu: “Apa yang kau lakukan?”

Presiden AS  dikabarkan menekankan hak Israel untuk membela diri. Tetapi ia menyampaikan kekhawatiran bahwa Netanyahu telah meningkatkan eskalasi secara tidak proporsional dalam beberapa hari terakhir. Hal itu terlihat dengan meningkatnya korban sipil dan seluruh bangunan dihancurkan di Lebanon.

Israel telah mengintensifkan kampanye pengebomannya di Lebanon dalam beberapa hari terakhir, terhadap apa yang mereka sebut sebagai memburu target Hizbullah.

IDF telah bergerak lebih dalam ke selatan negara itu, merebut Kastil Beaufort, benteng Tentara Salib berusia 900 tahun dan titik strategis penting di kawasan tersebut.

Teheran telah mengancam akan menghentikan pembicaraan dengan AS menyusul serangan tersebut.

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri dan memperingatkan bahwa respons Teheran dapat melampaui penghentian negosiasi.

“Jika agresi Israel terhadap Lebanon berlanjut, kami tidak hanya akan menghentikan jalur negosiasi, tetapi kami akan berkonfrontasi langsung dengan musuh,” tulis Ghalibaf di X.

Trump menulis di Truth Social bahwa ia telah berbicara dengan Bibi Netanyahu dan memintanya untuk tidak melakukan serangan besar-besaran ke Beirut, Lebanon.

Trump juga meminta pemimpin Israel itu menarik pasukannya kembali. Trump juga mengklaim bahwa perwakilan dari kepemimpinan Hizbullah telah setuju untuk berhenti menembaki Israel.

Netanyahu mengatakan ia memberi tahu Trump bahwa Israel akan menyerang Beirut jika Hizbullah tidak berhenti menyerang negaranya.

“Posisi kami tetap sama,” tulis Netanyahu, berjanji untuk melanjutkan operasi di Lebanon selatan “sesuai rencana.”

 

 

 

 

 

 

Gaza Masuk Syarat Gencatan Senjata Iran, Perlawanan Palestina Bangkit

 

 

Iran akhirnya menyertakan penghentian agresi Israel ke Gaza sebagai syarat dilanjutkannya perundingan gencatan senjata dengan AS. Kelanjutan genosida di Gaza, disebut pihak Iran sebagai bagian dari serangan terhadap republik Islam tersebut.

Pihak Iran pada Senin mengumumkan pihaknya menghentikan semua komunikasi dengan AS kecuali Israel menghentikan perluasan serangan militernya di Lebanon selatan, kata kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.

 “Mengingat berlanjutnya kejahatan rezim Zionis di Lebanon dan mempertimbangkan bahwa Lebanon adalah salah satu prasyarat gencatan senjata dan bahwa gencatan senjata ini kini telah dilanggar di semua lini, termasuk Lebanon, tim perunding Iran menghentikan 'pembicaraan dan pertukaran teks melalui mediator.'” bunyi lansiran Tasnim.

Iran juga menuntut diakhirinya “operasi militer yang agresif dan brutal di Gaza dan Lebanon” dan menyerukan “penarikan total Israel dari wilayah pendudukan di Lebanon.”

Pengumuman Iran datang tak lama setelah militer Israel memperingatkan penduduk di pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh, untuk meninggalkan wilayah tersebut sebelum rencana serangan udara. Menyusul ancaman Iran, Presiden AS Donald Trump menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menghentikan serangan.

The Palestine Chronicles melansir, kelompok perlawanan Palestina menyambut baik keputusan Iran mengaitkan dimulainya kembali perundingan dengan diakhirinya perang dan agresi Israel di semua lini, termasuk Gaza dan Lebanon.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan semalam, faksi-faksi tersebut menggambarkan posisi Iran sebagai “sikap berprinsip” dan mengatakan hal itu mencerminkan dukungan lama Teheran terhadap rakyat Palestina, perlawanan mereka, dan wilayah yang lebih luas dalam menghadapi agresi yang didukung Israel dan AS.

Dalam pernyataannya, faksi perlawanan Palestina mengatakan posisi Iran merupakan kelanjutan dari “posisi otentiknya” terhadap rakyat Palestina dan masyarakat di wilayah tersebut. Mereka juga menyerukan apa yang mereka gambarkan sebagai “rakyat bebas” untuk bergerak mendukung rakyat Palestina dan Lebanon dalam menghadapi genosida dan agresi Israel-AS yang sedang berlangsung.

Faksi-faksi tersebut mengatakan bahwa agresi tersebut menargetkan “manusia dan batu,” dan menganggapnya sebagai bagian dari rencana ekspansionis Israel yang lebih luas.

Tasnim lebih lanjut melaporkan bahwa tidak akan ada pembicaraan sampai tuntutan Iran dan Perlawanan dipenuhi. Badan tersebut juga mengatakan bahwa Front Perlawanan dan Iran telah memasukkan agenda mereka untuk menutup sepenuhnya Selat Hormuz dan mengaktifkan front lain, termasuk Bab al-Mandeb, sebagai bagian dari tindakan yang bertujuan untuk menghukum Israel dan para pendukungnya.

Sebelumnya pada Senin, badan intelijen Garda Revolusi Iran dilaporkan menyatakan bahwa Teheran menganggap “melintasi garis merah di Lebanon dan Gaza” sama dengan konfrontasi langsung dengan Iran. Menurut laporan tersebut, intelijen Garda Revolusi mengatakan bahwa tindakan tersebut menimbulkan kerugian pada keamanan nasional Iran dan Poros Perlawanan.

Mereka menambahkan bahwa Iran bertekad untuk mengambil tindakan pencegahan, termasuk kemungkinan pembukaan front baru sebagai bagian dari operasi pertahanannya, sambil mempertahankan apa yang digambarkannya sebagai persamaan Selat Hormuz.

Penghentian agresi Israel ke Gaza dalam cakupan gencatan senjata sebelumnya tak masuk dalam syarat gencatan senjata Iran dengan AS. Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyatakan pada Republika bahwa kondisi saat itu berbeda.

 “Pertama, dalam teks sepuluh syarat Iran disebutkan bahwa perdamaian menyeluruh untuk seluruh kawasan, yakni Gaza dan wilayah lainnya juga harus tercakup. Kedua, pada saat itu tidak ada serangan terhadap Gaza. Pada saat itu Lebanon berada di bawah serangan, oleh karena itu penekanan hanya pada Lebanon,” ujarnya. Bagaimanapun, kata dia. syarat penghentian perang di semua front kala itu mencakup agresi ke Gaza.

Sementara belakangan, serangan Israel di Gaza kembali meningkat. Pada hari Idul Adha, Israel menyerang Gaza dan membunuh lebih dari 30 orang. Total sekitar 900 warga Gaza telah dibunuh IDF sejak gencatan senjata Oktober tahun lalu.

Tak hanya itu, Israel juga kini menguasai 60 persen wilayah Gaza. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memerintahkan pencaplokan 70 persen wilayah Gaza pekan lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran Ancam Serang Israel Utara Jika IDF Serang Beirut

 

Komando militer pusat Iran telah memperingatkan penduduk Israel utara untuk segera meninggalkan rumah mereka jika Israel melancarkan ancamannya untuk menyerang pinggiran selatan Beirut. Seruan ini mengindikasikan rencana serangan balasan Iran ke wilayah tersebut.

Dalam pernyataan yang disiarkan oleh layanan berita pemerintah IRNA, komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya mengatakan peringatan itu merupakan tanggapan terhadap perintah pemindahan paksa oleh militer Israel di Dahiyeh, Lebanon.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan militer Israel untuk menyerang “sasaran teroris di distrik Dahiyeh di Beirut”. Netanyahu telah menegaskan kembali hal ini dalam sebuah video yang diposting di X.

“Tidak akan ada situasi di mana Hizbullah menyerang kota-kota kita dan warga kita serta markas terorisnya di Beirut, di Dahiyeh, tetap berada di luar batas.”

Dia menambahkan bahwa dia telah menginstruksikan pasukan Israel untuk terus “memperdalam” invasi mereka ke Lebanon selatan, dengan mengatakan bahwa mereka “menghancurkan benteng Hizbullah”. “Hizbullah sedang dalam pelarian,” klaim Netanyahu.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menegaskan kembali bahwa gencatan senjata antara Teheran dan Washington “harus merupakan gencatan senjata di semua lini, termasuk di Lebanon”. 

"Pelanggaran di satu sisi merupakan pelanggaran gencatan senjata di semua lini. AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi pelanggaran apa pun," tulis Araghchi di X. Komentar diplomat tertinggi tersebut muncul setelah Netanyahu mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan militernya untuk menyerang pinggiran selatan Beirut.

Uni Eropa juga menyerukan agar Israel menghentikan perluasan serangannya di Lebanon setelah Netanyahu mengatakan dia memerintahkan serangan lebih lanjut di pinggiran selatan Beirut.

“Kami menyerukan Israel untuk menghentikan eskalasi militernya di Lebanon dan menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon,” kata juru bicara Uni Eropa Anouar El Anouni.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beri Peringatan Netanyahu, Iran Pastikan tak akan Ragu Bantu Lebanon Melawan Agresi Ilegal Israel

 

 

 

Iran menyatakan akan ragu untuk membantu Lebanon melawan agresi ilegal Israel terhadap negara tersebut. Pernyataan tersebut disampaikan usai Kepala Otoritas Israel, Benjamin Netanyahu, pada Senin (1/6/2026) memerintahkan militer untuk melancarkan serangan udara di ibu kota Lebanon, Beirut, dalam eskalasi terbaru meskipun gencatan senjata di Lebanon masih berlaku.

“Kami telah menegaskan dan terus menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian integral dari setiap gencatan senjata dan setiap kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers yang dikutip kantor berita IRNA.

Adapun ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari. Teheran membalas dengan serangan yang menargetkan Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan. Sejak itu, kedua pihak terus saling bertukar proposal dalam upaya melanjutkan perundingan langsung dan mengakhiri konflik.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pihaknya telah melakukan “serangan pertahanan diri” terhadap lokasi radar dan drone Iran di kota Goruk dan Pulau Qeshm akhir pekan ini. Sementara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Teluk.

Dalam postingan di X, CENTCOM mengatakan AS menanggapi “tindakan agresif Iran” termasuk penutupan drone MQ1 di perairan internasional. Dikatakan bahwa pasukan AS melenyapkan “pertahanan udara Iran, sebuah stasiun kendali darat, dan dua drone serang satu arah yang jelas-jelas merupakan ancaman terhadap kapal-kapal yang transit di perairan regional”.

Korps Garda Revolusi Islam mengatakan mereka telah menyerang sebuah pangkalan udara yang digunakan untuk menyerang menara telekomunikasi di Pulau Sirik, yang terletak di provinsi Hormozgan selatan, menurut kantor berita Fars.

“Menyusul agresi tentara AS terhadap menara komunikasi di Pulau Sirik di Provinsi Hormozgan satu jam yang lalu, pesawat tempur Pasukan Dirgantara IRGC menargetkan pangkalan udara tempat agresi berasal dan target yang diperkirakan telah dihancurkan,” kata laporan itu.

IRGC tidak merinci lokasi fasilitas tersebut. Sebelumnya, kami melaporkan bahwa sistem pertahanan udara telah diaktifkan di Kuwait, dan sirene berbunyi di seluruh negeri.

Sedangkan Staf Umum Angkatan Darat Kuwait mengatakan pertahanan udaranya “saat ini menghadapi serangan rudal dan drone musuh”. Jika terdengar suara ledakan, itu adalah hasil dari pertahanan udara yang mencegat proyektil tersebut, tambah militer.

Menteri Luar Negeri Iran Araghchi mengatakan bahwa Teheran terus bertukar pesan dengan AS mengenai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Komentarnya muncul setelah media AS melaporkan bahwa Trump menyerukan persyaratan yang lebih ketat dalam perjanjian awal. Inilah yang kami ketahui tentang usulan kesepakatan tersebut:

Perjanjian ini akan memperpanjang gencatan senjata antara Iran dan AS selama 60 hari lagi, dan negosiasi dilanjutkan untuk mengakhiri konflik secara permanen. Menurut laporan media AS, MoU tersebut akan menyatakan bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz akan “tidak dibatasi” – yang berarti tidak akan ada tarif tol dan tidak ada “pelecehan” – dan bahwa Iran akan memiliki waktu 30 hari untuk menghapus semua ranjau.

Blokade laut AS yang sedang berlangsung di pelabuhan-pelabuhan Iran juga akan dicabut “sebanding dengan pemulihan pelayaran komersial” melalui selat tersebut. AS juga akan mengesampingkan sejumlah sanksi terhadap Iran sehingga memungkinkan negara itu menjual minyak secara bebas.

MoU tersebut akan mencakup komitmen Iran untuk tidak membuat senjata nuklir. Isu pertama yang akan dibahas dalam jangka waktu 60 hari ini adalah program pengayaan uranium Iran, dan cara membuang persediaan uranium Iran yang telah diperkaya secara tinggi. MoU tersebut berisi mekanisme bagi Iran untuk menerima bantuan kemanusiaan.

Selain itu, AS akan berkomitmen untuk membahas keringanan sanksi dan pencairan aset Iran di luar negeri. Menurut laporan tersebut, perang Israel terhadap Lebanon, yang menduduki sebagian besar wilayah selatan negara itu, juga akan berakhir berdasarkan perjanjian tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Perluas Pencaplokan Lebanon, Suriah, dan Gaza

 

 

Israel memperluas ofensif daratnya di Lebanon selatan melalui sejumlah poros serangan untuk membangun zona penyangga yang mereka deklarasikan sendiri. Langkah ini menandai eskalasi terbaru di tengah gencatan senjata yang secara resmi masih berlaku antara kedua pihak.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk mengintensifkan dan memperluas operasi militer terhadap Lebanon, sebuah langkah yang dapat semakin mempersulit upaya untuk mengurangi ketegangan di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan terbarunya, Netanyahu mengatakan dia telah menginstruksikan militer Israel untuk memperluas cakupan operasinya di Lebanon. Pengumuman tersebut muncul pada saat kontak dan diskusi antara pejabat Israel dan Lebanon dilaporkan sedang berlangsung.

Sementara Teheran terus bersikeras bahwa diakhirinya aksi militer Israel di berbagai bidang, terutama di Lebanon, harus menjadi komponen utama dari setiap potensi perjanjian dengan Washington.

Perdana Menteri Israel juga mengindikasikan bahwa operasi militer di Lebanon selatan akan terus berlanjut di masa mendatang, dan menggambarkan misi tersebut sebagai misi yang “membutuhkan waktu” untuk diselesaikan.

Dia menambahkan bahwa dia telah mengarahkan militer untuk mengintensifkan serangan terhadap posisi Hizbullah. Netanyahu lebih lanjut mengklaim bahwa pasukan Israel telah membunuh sekitar 700 anggota Hizbullah selama bulan Mei dan mengatakan jumlah total korban Hizbullah sejak Maret telah mencapai sekitar 8.000 orang.

Angka-angka ini belum diverifikasi secara independen. Laporan dari Kementerian Kesehatan Lebanon, banyak dari korban serangan Israel adalah perempuan, anak-anak, dan petugas medis.

Pemimpin Israel juga menunjuk pada kehadiran militer Israel di kawasan Kastil Beaufort (Qalaat al-Shaqif) di Lebanon selatan, dan menggambarkannya sebagai bagian dari strategi keamanan yang lebih luas. Menurut Netanyahu, Israel secara bersamaan melakukan operasi di beberapa bidang, termasuk Lebanon, Suriah, dan Gaza, di mana Israel telah menetapkan apa yang disebutnya sebagai zona penyangga keamanan.

Pakar militer Lebanon sekaligus purnawirawan brigadir jenderal, Hassan Jouni, mengatakan militer Israel kini bergerak di berbagai jalur operasi secara bersamaan. Menurut dia, serangan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam strategi militer Israel di Lebanon.

“Ada eskalasi dalam manuver darat yang dilakukan tentara Israel dengan bergerak melalui beberapa poros sekaligus,” kata Jouni kepada Aljazirah.

Ia menjelaskan, Kastel Beaufort yang berada di puncak bukit dan mengawasi Wadi al-Slouqi serta Sungai Litani kini menjadi titik sentral operasi Israel. Kawasan itu telah lama menjadi target militer Israel dan dalam beberapa bulan terakhir pasukan Israel terus berupaya menembus wilayah tersebut hingga akhirnya berhasil menguasainya.

“Hari ini mereka telah menyelesaikan penguasaan atas Kastel Beaufort dan mengibarkan bendera di sana,” ujarnya.

Menurut Jouni, operasi lain di kota perbukitan Ghandouriyeh dilakukan untuk mengamankan zona penyangga di antara dua jalur pegunungan, sementara poros Dibbin di bagian timur berfungsi sebagai wilayah penahan.

Ia menilai perang saat ini merupakan benturan dua strategi besar. Israel berupaya mencegah Hizbullah meluncurkan drone dan roket ke wilayah utara Israel, sementara Hizbullah berusaha mempertahankan tekanan militer terhadap kawasan utara Israel.

Pasukan Israel kini dilaporkan telah mencapai pinggiran Kota Nabatieh di Lebanon selatan dan menguasai Kastel Beaufort meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat masih berlaku sejak April lalu. Para analis memperingatkan langkah tersebut menunjukkan Israel tengah menyiapkan fondasi bagi penguasaan jangka panjang atas wilayah Lebanon.

Serangan terbaru ini menjadi penetrasi terdalam Israel ke wilayah Lebanon dalam lebih dari 25 tahun. Saat ini Israel disebut menguasai sekitar 2.000 kilometer persegi wilayah Lebanon, atau hampir seperlima luas negara tersebut. Militer Israel bahkan bergerak jauh melampaui Sungai Litani, batas yang sebelumnya diklaim sebagai tujuan operasi mereka terhadap Hizbullah.

Pasukan Israel telah mencapai kota Zawtar al-Sharqiyah dan Choukine di sekitar Nabatieh, yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis kuat Hizbullah. Media resmi Lebanon juga melaporkan serangan udara Israel di Deir ez-Zahrani yang menewaskan sejumlah warga.

Perluasan operasi ini terjadi ketika pejabat Israel dan Lebanon masih menjalani perundingan yang dimediasi Amerika Serikat untuk mencapai penyelesaian permanen konflik. Namun Hizbullah menolak pembicaraan tersebut selama serangan Israel terus berlangsung.

Sementara itu, perkembangan di Lebanon juga semakin terkait dengan negosiasi yang lebih luas antara Washington dan Teheran. Sejumlah pejabat Iran menegaskan bahwa penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan merupakan syarat penting bagi kemajuan diplomasi antara kedua negara.

Sejak perang kembali memanas pada Maret lalu, Lebanon mengalami kerusakan luas. Serangan udara dan operasi darat Israel menghancurkan permukiman, jalan utama, jaringan listrik, stasiun air, hingga jembatan penting yang menghubungkan Lebanon selatan dengan wilayah lain. Organisasi kemanusiaan melaporkan banyak desa rata dengan tanah, akses bantuan terputus, dan warga terisolasi akibat rusaknya infrastruktur vital.

Kelompok pemantau konflik ACLED mencatat sedikitnya 268 aksi penghancuran terhadap infrastruktur sipil, dengan lebih dari separuh terjadi justru setelah gencatan senjata diumumkan pada April. Wilayah Nabatieh menjadi salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah.

Dampak kemanusiaannya juga sangat besar. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat perang. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan lebih dari 3.370 orang tewas sejak konflik meningkat kembali pada Maret, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka. Pada 8 April saja, serangan besar-besaran Israel yang dijuluki “Rabu Hitam” di Lebanon menewaskan sedikitnya 357 orang dan melukai lebih dari 1.200 lainnya.

Profesor hubungan internasional dari Lebanese American University, Imad Salamey, mengatakan Nabatieh memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai militer.

“Nabatieh adalah salah satu pusat politik, ekonomi, dan sosial utama komunitas Syiah Lebanon. Kota ini merupakan penghubung penting antara Lebanon selatan, Lembah Bekaa, dan Beirut,” ujarnya.

Menurut dia, jika Israel menguasai Nabatieh, hal itu akan menunjukkan bahwa tujuan operasi telah bergeser dari sekadar mendorong Hizbullah ke utara Sungai Litani menjadi upaya yang lebih luas untuk menghancurkan infrastruktur teritorial dan sosial kelompok tersebut.

Analis Lebanon lainnya, Souhayb Jawhar, menilai penguasaan atau pengepungan Nabatieh akan menjadi titik balik besar dalam konflik.

“Ini akan mengubah perang dari sekadar konflik perbatasan menjadi perang yang menyasar jantung politik dan sosial Lebanon selatan,” katanya.

Ia memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat memperluas gelombang pengungsian, melemahkan institusi negara di wilayah selatan, serta membuka jalan bagi tatanan keamanan baru yang berpotensi mengubah peta kekuasaan di Lebanon selatan.

Ketua Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, mengutuk “agresi brutal” Israel di Lebanon dan menyerukan penghentian segera pertempuran tersebut. Dalam sebuah pernyataan di X, Aboul Gheit mengatakan bahwa pasukan Israel telah merambah wilayah Lebanon, menghancurkan desa-desa dan situs bersejarah di selatan, dan menargetkan warga sipil, yang menyebabkan pengungsian.

Dia menambahkan bahwa tindakan tersebut melanggar kedaulatan Lebanon dan hukum internasional. Aboul Gheit mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memaksa Israel menghentikan aksi militernya dan menerapkan sepenuhnya Resolusi 1701, resolusi tahun 2006 yang menyerukan penghentian permusuhan dan penarikan Israel dari Lebanon selatan.

 

Prancis Tahan Kapal Tanker, Rusia Tuding Pembajakan Internasional

 

 

Kremlin mengecam penahanan kapal tanker Tagor oleh otoritas Prancis di Samudra Atlantik. Rusia menyebut tindakan tersebut ilegal dan hampir menyerupai pembajakan internasional.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Senin (1/6/2026) mengatakan Moskow menolak tuduhan Prancis yang menyatakan kapal tanker itu berlayar dari Murmansk, Rusia, dengan menggunakan bendera palsu.

"Kami menganggap tindakan tersebut ilegal; tindakan tersebut hampir merupakan pembajakan internasional. Kami sepenuhnya menolak klaim bahwa tindakan tersebut dilakukan sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional," kata Peskov.

Sebelumnya, Pemerintah Prancis menyatakan militer mereka menahan kapal tanker Tagor di Samudra Atlantik pada Senin. Penahanan dilakukan setelah muncul dugaan bahwa kapal tersebut menggunakan identitas bendera yang tidak sah.

Sementara itu, Kedutaan Besar Rusia di Paris menyatakan telah meminta informasi resmi kepada otoritas Prancis terkait kemungkinan adanya warga negara Rusia di atas kapal yang ditahan tersebut. Namun hingga kini, Kementerian Luar Negeri Prancis belum memberikan tanggapan.

Berdasarkan informasi awal yang diperoleh pihak Rusia, kapten kapal tanker Tagor diketahui merupakan warga negara Rusia.

Peskov menegaskan pemerintah Rusia akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin keselamatan pengiriman kargo maritimnya. Menurut dia, insiden penahanan kapal tersebut menjadi preseden negatif bagi keamanan pelayaran internasional.

Otoritas Prancis menyatakan penahanan kapal tanker Tagor dilakukan karena adanya dugaan pelanggaran terkait identitas pelayaran kapal tersebut. Menurut keterangan yang disampaikan pihak berwenang Prancis, kapal itu diduga berlayar dengan menggunakan bendera yang tidak sesuai atau bendera palsu.

Tagor diketahui berangkat dari Murmansk, pelabuhan utama Rusia di kawasan Arktik yang menjadi salah satu pusat ekspor energi negara tersebut. Dugaan penggunaan identitas bendera yang tidak sah memicu pemeriksaan oleh otoritas maritim Prancis sebelum akhirnya kapal tersebut ditahan oleh Angkatan Laut Prancis di Samudra Atlantik.

Dalam praktik pelayaran internasional, setiap kapal wajib terdaftar pada suatu negara dan berhak mengibarkan bendera negara tersebut sebagai penanda identitas hukum. Status bendera kapal menjadi faktor penting karena menentukan yurisdiksi, standar keselamatan, hingga kepatuhan terhadap berbagai ketentuan internasional.

Hingga kini, pemerintah Prancis belum membeberkan secara rinci bukti yang mendasari tuduhan penggunaan bendera palsu terhadap Tagor. Namun, Paris menegaskan tindakan penahanan dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku dan berdasarkan kewenangan yang dimiliki otoritas maritimnya.

Sebaliknya, Rusia menolak tuduhan tersebut. Kremlin menilai penahanan kapal tanker itu tidak memiliki dasar yang kuat dan menyebut tindakan Prancis sebagai langkah yang melanggar hukum internasional. Perbedaan pandangan inilah yang kemudian memicu ketegangan diplomatik baru antara Moskow dan Paris.

Penahanan kapal tanker Tagor juga memicu perhatian pemerintah Rusia terhadap nasib awak kapal yang berada di atas kapal tersebut. Berdasarkan informasi awal yang diperoleh Moskow, kapten kapal yang ditahan oleh Angkatan Laut Prancis disebut merupakan warga negara Rusia.

Hingga kini belum ada rincian resmi mengenai jumlah awak kapal maupun kewarganegaraan seluruh kru yang berada di atas kapal tanker tersebut. Ketidakjelasan informasi itu mendorong otoritas Rusia untuk segera meminta penjelasan dari pemerintah Prancis.

Kedutaan Besar Rusia di Paris menyatakan telah mengajukan permintaan resmi kepada otoritas Prancis guna memperoleh informasi terkait kemungkinan keberadaan warga negara Rusia di atas kapal yang ditahan. Permintaan itu juga mencakup kondisi para awak kapal serta akses konsuler apabila terdapat warga Rusia yang terdampak oleh tindakan penahanan tersebut.

Namun, menurut pihak kedutaan, hingga saat ini belum ada tanggapan resmi yang diterima dari Kementerian Luar Negeri Prancis. Situasi tersebut menjadi salah satu sumber kekhawatiran Moskow, terutama terkait perlindungan hak-hak warga negaranya yang mungkin berada di atas kapal.

Kasus ini tidak hanya menyangkut sengketa mengenai status kapal tanker Tagor, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi isu diplomatik apabila terbukti terdapat warga Rusia yang ditahan atau mengalami pembatasan akses komunikasi setelah kapal tersebut diamankan oleh otoritas Prancis.

Insiden penahanan kapal tanker Tagor menambah daftar panjang ketegangan antara Rusia dan Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Hubungan kedua negara terus menghadapi berbagai gesekan, mulai dari isu keamanan Eropa, konflik di Ukraina, hingga penerapan sanksi ekonomi terhadap Moskow.

Sebagai salah satu kekuatan utama di Eropa, Prancis selama ini mendukung berbagai kebijakan Uni Eropa yang bertujuan meningkatkan tekanan terhadap Rusia. Paris juga berperan aktif dalam upaya memperketat pengawasan terhadap aktivitas ekonomi dan maritim yang diduga berkaitan dengan upaya Moskow menghindari sanksi Barat.

Di sisi lain, Rusia menilai sejumlah langkah yang diambil negara-negara Barat, termasuk Prancis, sebagai bentuk tekanan politik yang melampaui prinsip-prinsip kerja sama internasional. Moskow berulang kali menuduh negara-negara Eropa menggunakan instrumen hukum, ekonomi, dan keamanan untuk membatasi kepentingan Rusia di berbagai kawasan.

Penahanan kapal tanker Tagor berpotensi memperburuk hubungan kedua negara yang sudah berada dalam kondisi sensitif. Pernyataan keras Kremlin yang menyebut tindakan Prancis sebagai tindakan ilegal bahkan "hampir merupakan pembajakan internasional" menunjukkan tingginya tensi diplomatik yang menyertai kasus tersebut.

Pengamat menilai respons lanjutan dari Paris dan Moskow akan menentukan apakah insiden ini hanya berakhir sebagai sengketa maritim atau berkembang menjadi persoalan diplomatik yang lebih luas. Jika tidak segera diselesaikan melalui jalur komunikasi resmi, kasus Tagor berisiko menambah ketegangan dalam hubungan Rusia dengan negara-negara Eropa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Citra Satelit Ungkap Kehancuran 20 Pangkalan AS di Teluk Akibat Balasan Iran

 

 

Serangan balasan Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah ternyata menimbulkan kerusakan yang jauh lebih besar daripada yang selama ini diakui Washington. Analisis citra satelit menunjukkan sedikitnya 20 pangkalan AS di delapan negara mengalami kerusakan signifikan akibat serangan rudal dan drone Iran sejak akhir Februari lalu.

Iran menargetkan fasilitas militer di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman. Serangan tersebut merupakan respons atas gelombang serangan AS dan Israel terhadap wilayah Iran dan Lebanon dalam tiga bulan terakhir.

Berdasarkan analisis citra satelit yang dikutip BBC Verify, sedikitnya 20 pangkalan dan fasilitas militer AS di delapan negara Timur Tengah terkena serangan sejak akhir Februari. Namun sejumlah analis memperkirakan jumlah sebenarnya dapat mencapai 28 fasilitas karena tidak semua lokasi dapat dianalisis secara terbuka akibat pembatasan citra satelit dan alasan keamanan militer.

Pentagon mengklaim telah menyerang lebih dari 13 ribu sasaran di Iran sejak dimulainya Operasi Epic Fury. Namun, serangan balasan Teheran tampaknya mampu menimbulkan kerugian besar bagi infrastruktur militer AS di kawasan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan operasi tersebut membuktikan bahwa Timur Tengah tidak lagi menjadi wilayah aman bagi pangkalan-pangkalan militer Amerika.

"Amerika tidak lagi memiliki tempat yang aman di kawasan ini untuk melakukan campur tangan dan mempertahankan pangkalan militernya," kata Khamenei dalam sebuah pernyataan.

Selama ini Gedung Putih berulang kali menyatakan kemampuan militer Iran telah nyaris dilumpuhkan. Namun sejumlah analis menilai kerusakan yang terlihat di berbagai fasilitas AS menunjukkan serangan Iran jauh lebih presisi dan efektif dibandingkan yang diakui pejabat Amerika.

Seorang pejabat pertahanan AS menolak mengomentari temuan tersebut dengan alasan keamanan operasional.

Pemerintah AS bahkan berupaya membatasi analisis independen terhadap konflik dengan meminta Planet Labs, salah satu penyedia citra satelit terbesar dunia, menghentikan sementara publikasi citra baru dari Iran dan sebagian besar wilayah Timur Tengah. Perusahaan itu menyatakan langkah tersebut dilakukan agar data satelit tidak digunakan pihak yang dianggap mengancam personel NATO dan negara sekutu.

Meski demikian, BBC Verify menggunakan citra satelit dari sejumlah penyedia internasional lain serta arsip gambar lama untuk menelusuri dampak serangan Iran. Hasilnya menunjukkan kerusakan pada sejumlah fasilitas penting militer AS.

Salah satu kerugian terbesar adalah rusaknya tiga sistem pertahanan rudal balistik Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Pangkalan Udara Al Ruwais dan Al Sader di UEA serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

Amerika diketahui hanya memiliki delapan baterai THAAD yang aktif di seluruh dunia. Setiap unit bernilai sekitar satu miliar dolar AS dan memerlukan sekitar 100 personel untuk mengoperasikannya. Satu rudal pencegat THAAD bahkan bernilai sekitar 12,7 juta dolar AS.

Mantan Kepala Angkatan Pertahanan Irlandia, Laksamana Madya Mark Mellett, mengatakan sistem tersebut merupakan inti jaringan pertahanan udara regional yang sangat kompleks dan tidak dapat digantikan dengan cepat.

Kerusakan besar juga terlihat di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi. Analisis citra satelit menunjukkan pesawat pengisian bahan bakar udara dan pesawat pengintai AS mengalami kerusakan berat. Sejumlah kawah ledakan dan bangkai pesawat terlihat jelas dalam foto-foto satelit.

Salah satu pesawat yang rusak diidentifikasi sebagai pesawat pengintai E-3 Sentry. Media AS memperkirakan biaya penggantian satu unit pesawat tersebut dapat mencapai 700 juta dolar AS.

Serangan Iran juga menghantam Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait. Analisis citra satelit menunjukkan hancurnya bunker penyimpanan bahan bakar, hanggar pesawat, serta fasilitas akomodasi pasukan.

Di Camp Arifjan, perusahaan intelijen pertahanan Janes mengidentifikasi kerusakan luas pada perangkat komunikasi satelit militer.

Besarnya kerugian yang dialami AS masih sulit dihitung secara pasti. Namun, Pentagon pada Mei lalu memperkirakan biaya Operasi Epic Fury telah mencapai 29 miliar dolar AS. Sebagian besar anggaran tersebut diperkirakan akan digunakan untuk memperbaiki atau mengganti peralatan yang rusak akibat konflik.

Laporan itu juga menyebut sedikitnya 42 pesawat militer AS mengalami kerusakan atau hancur sejak Februari. Di antaranya pesawat tempur F-15 dan F-35, 24 drone MQ-9 Reaper, serta pesawat serang A-10.

Berbeda dengan persenjataan mahal yang digunakan militer AS, Iran dilaporkan mengandalkan drone murah yang dapat diproduksi dan diganti dengan cepat.

Para pakar menilai strategi Iran berkembang sepanjang konflik berlangsung. Jika pada tahap awal Teheran meluncurkan serangan massal untuk membanjiri sistem pertahanan udara lawan, beberapa hari kemudian taktik tersebut berubah menjadi serangan yang lebih terarah dan presisi terhadap sasaran bernilai tinggi.

Meski demikian, sejumlah klaim mengenai tingkat kerusakan yang dialami fasilitas militer AS masih belum dapat diverifikasi sepenuhnya secara independen. Pentagon hingga kini belum merilis rincian lengkap mengenai seluruh pangkalan yang terdampak maupun jumlah pasti kerugian akibat serangan Iran.

Analis Stimson Center, Kelly Grieco, mengatakan gelombang serangan awal Iran dirancang untuk melumpuhkan pertahanan udara melalui jumlah rudal dan drone yang sangat besar.

"Namun dalam hitungan hari, Iran beralih ke serangan yang lebih kecil tetapi jauh lebih presisi. Mereka menghemat persediaan rudal dan drone untuk menghantam target-target bernilai tinggi, di mana bahkan ledakan yang meleset sedikit pun tetap dapat menimbulkan kerusakan besar," ujarnya.

Analis dari MAIAR menilai militer AS sempat menunjukkan sikap terlalu percaya diri pada fase awal perang. Menurut mereka, Washington gagal memindahkan sejumlah pesawat dari jangkauan rudal dan drone Iran meskipun pola serangan Teheran terus berkembang.

Khamenei menegaskan negara-negara di kawasan tidak akan lagi menjadi perisai bagi pangkalan militer Amerika.

"Pangkalan-pangkalan Amerika tidak lagi aman. Hari demi hari, posisi mereka di kawasan akan semakin melemah," katanya.

Pernyataan tersebut muncul ketika gencatan senjata antara AS dan Iran kembali berada dalam kondisi rapuh. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis lalu mengumumkan telah menyerang salah satu pangkalan Amerika di kawasan sebagai balasan atas serangan baru AS di Iran selatan.

Grieco memperingatkan bahwa jika gencatan senjata runtuh dan perang kembali pecah, pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk berpotensi menghadapi ancaman yang lebih besar.

Menurut dia, konflik selama beberapa bulan terakhir telah menguras stok sistem pertahanan udara milik AS dan negara-negara sekutunya dalam jumlah besar.

"Tidak ada cara cepat untuk mengganti persediaan tersebut. Jika Iran kembali melancarkan serangan besar, jumlah rudal pencegat yang tersedia akan jauh lebih sedikit dibandingkan saat konflik dimulai," ujarnya.

 

 

 

 

Share this Post