News Komoditi & Global ( Rabu, 27 Agustus 2025 )
News Komoditi & Global
( Rabu, 27 Agustus 2025 )
Harga Emas Global Menguat di Tengah Gejolak The Fed
Harga emas naik 0,5% ke US$3.382,19 per troy ounce akibat pemecatan gubernur The Fed oleh Trump, meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan minat pada emas.
Harga emas naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan di tengah melemahnya kepercayaan investor terhadap bank sentral AS setelah Presiden Donald Trump memecat salah satu gubernur Federal Reserve (The Fed). Melansir Reuters pada Rabu (27/8/2025) harga emas di pasar spot menguat 0,5% menjadi US$3.382,19 per troy ounce pada pukul 13.50, level tertinggi sejak 11 Agustus. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember naik 0,5% di level US$3.433 per troy ounce. “Semalam muncul kabar bahwa Trump memecat salah satu gubernur The Fed yang dituduh melakukan penipuan hipotek. Itu memberi sedikit dorongan pada emas, karena The Fed belakangan memang menjadi faktor utama penggerak harga emas,” ujar Bob Haberkorn, analis pasar di RJO Futures. Trump sebelumnya mengatakan ia memecat Gubernur The Fed Lisa Cook atas dugaan penyalahgunaan dalam pengajuan kredit perumahan, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berpotensi menguji batas kewenangan presiden terhadap independensi bank sentral jika dibawa ke pengadilan. Adapun pekan lalu, Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan kemungkinan pemangkasan suku bunga pada rapat bulan depan, dengan alasan meningkatnya risiko terhadap pasar tenaga kerja. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas lebih dari 87% terjadinya pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Saat Pasar Nantikan Kepastian Suku Bunga The Fed Imbas Trump Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook, Harga Emas Melesat Bursa Asia Melemah Ikuti Dolar AS usai Trump Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook “Jika Powell bernada lebih dovish dalam rapat mendatang dan membuka peluang pemangkasan lanjutan tahun ini, emas berpotensi melanjutkan reli,” tambah Haberkorn. Dari sisi data ekonomi, pesanan barang tahan lama AS pada Juli tercatat turun 2,8%, lebih baik dari perkiraan penurunan 4% dan dibandingkan kontraksi 9,4% pada Juni. Investor kini menanti rilis data PDB AS pada Kamis serta inflasi PCE pada Jumat. Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, biasanya lebih diminati ketika suku bunga rendah, sementara daya tariknya sebagai aset lindung nilai meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi. Selain emas, harga perak spot naik tipis 0,1% menjadi US$38,52 per troy ounce. Harga platinum melemah 0,1% menjadi US$1.340,88 per troy ounce, sedangkan paladium melonjak 1,5% ke level US$1.102,65 setelah sempat menyentuh posisi terendah sejak 9 Juli.
Harga Minyak Dunia Lesu, Tertekan Isu Tarif AS hingga Konflik Ukraina
Harga minyak global turun akibat ketidakpastian tarif AS, konflik Ukraina, dan gangguan pasokan Rusia.
Harga minyak dunia melemah seiring dengan sikap investor yang mencermati perkembangan terkait tarif impor Amerika Serikat (AS), perang di Ukraina, serta potensi gangguan pasokan bahan bakar Rusia. Melansir Reuters pada Rabu (27/8/2025), harga minyak mentah jenis Brent melemah US$1,58 atau 2,3% menjadi US$67,22 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga turun US$1,55 atau sekitar 2,4% ke level US$63,25 per barel. Tamas Varga, analis di PVM Oil Associates mengatakan, dengan besarnya ketidakpastian di pasar minyak akibat konflik Ukraina dan perang tarif, investor cenderung enggan mengambil posisi jangka panjang. Dia menambahkan, harga minyak jenis Brent kemungkinan akan bergerak dalam kisaran US$65–US$74 dalam waktu dekat. Reli minyak pada Senin didorong oleh kekhawatiran pasokan setelah serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia serta potensi sanksi tambahan AS terhadap minyak Rusia. Serangan balik Ukraina menyusul gempuran Rusia terhadap fasilitas gas dan listrik Ukraina telah mengganggu produksi dan ekspor minyak Moskow, bahkan menyebabkan kelangkaan bensin di sejumlah wilayah Rusia.
Harga Minyak Mentah Melesat, Sanksi AS hingga Serangan Ukraina Jadi Pemicu BPS Wanti-wanti Lonjakan Harga Beras, Bawang Merah hingga Minyak Goreng Rusia juga merevisi naik rencana ekspor minyak mentah dari pelabuhan barat sebesar 200.000 barel per hari pada Agustus dari jadwal awal, setelah serangan drone Ukraina memukul operasi kilang dan membuka ruang lebih besar bagi pengiriman minyak mentah, menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut. Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia jika tidak ada kemajuan menuju kesepakatan damai dalam dua pekan ke depan. Namun, seorang sumber menyebut pejabat AS dan Rusia turut membahas sejumlah kesepakatan energi di sela-sela negosiasi perdamaian bulan ini. Sementara itu, ekspor India berpotensi dikenakan tarif AS hingga 50%, salah satu yang tertinggi pernah diberlakukan Washington. “Fokus perdagangan pekan ini adalah kemungkinan tarif AS terhadap India bisa naik dua kali lipat menjadi 50% paling cepat besok… yang akan semakin mempersempit aliran ekspor Rusia yang sudah terganggu akibat serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia,” tulis analis Ritterbusch and Associates dalam catatan risetnya.
Wall Street Ditutup Menguat, Ditopang Nvidia dan Eli Lily
Wall Street ditutup menguat didorong penguatan saham Nvidia dan Eli Lilly. Sementara keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memecat Gubernur Federal Reserve, Lisa Cook, memperdalam kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve.
Selasa (26/8/2025), indeks S&P 500 ditutup menguat 0,41% ke level 6.465,94, indeks Nasdaq Composite naik 0,44% menjadi 21.544,27 dan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,30% ke 45.418,07.
Tujuh dari 11 indeks sektor pada indeks S&P 500 menguat, dipimpin oleh sektor industri yang naik 1,03%, diikuti oleh kenaikan 0,76% di sektor keuangan.
Pada sesi ini, saham Nvidia naik 1,1% menjelang laporan kuartalannya pada Rabu malam, yang akan menunjukkan bagaimana kinerja perusahaan paling berharga di dunia tersebut di tengah perang dagang yang sedang berlangsung antara Washington dan Beijing.
Laporan produsen chip tersebut juga dapat memicu, atau meredam, reli saham-saham terkait AI di Wall Street.
Sentimen lain datang setelah Trump, pada Senin malam, mengatakan ia akan mencopot Gubernur The Fed Lisa Cook atas dugaan penyimpangan dalam perolehan pinjaman hipotek, yang menambah kekhawatiran tentang independensi bank sentral dari politik.
Indeks berjangka S&P 500 sempat merosot sebelum pasar saham pulih karena investor berfokus pada ekspektasi yang tidak berubah bahwa bank sentral akan mulai memangkas suku bunga pada bulan September.
"Komunitas pasar keuangan semakin mengkhawatirkan independensi tersebut. Hal itu merupakan kekhawatiran nyata dalam jangka panjang. Namun dalam jangka pendek, seberapa besar pengaruhnya terhadap arah kebijakan suku bunga dalam enam hingga 12 bulan ke depan? Saya pikir sudah jelas bahwa kita akan mendapatkan kebijakan moneter yang lebih longgar dalam enam hingga 12 bulan ke depan," kata Bill Merz, kepala Riset Pasar Modal di U.S. Bank Wealth Management, Minneapolis.
Meskipun tekanan inflasi masih berlanjut, pasar telah memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk pertemuan kebijakan The Fed pada bulan September, didorong oleh sinyal dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell, data yang menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, dan perombakan di bank sentral.
Morgan Stanley menjadi perusahaan pialang terbaru yang memperkirakan penurunan suku bunga pada bulan September, tetapi laporan inflasi dan ketenagakerjaan penting yang akan datang dapat mendorong investor untuk menilai kembali ekspektasi.
Sementara itu, saham Eli Lilly melonjak hampir 6% setelah perusahaan farmasi tersebut mengatakan pil eksperimentalnya dapat mengurangi berat badan sebesar 10,5% pada pasien diabetes.
Saham Advanced Micro Devices naik 2% setelah Truist Securities menaikkan peringkat saham chip tersebut dari "tahan" menjadi "beli".
Lalu ada saham EchoStar yan melonjak 70% ke rekor tertinggi setelah raksasa telekomunikasi AT&T mengatakan telah setuju untuk membeli lisensi spektrum nirkabel tertentu dari perusahaan komunikasi satelit tersebut senilai sekitar $23 miliar.
Presiden China Xi Jinping Gelar Pertemuan Besar SCO, Sambut Putin dan Modi di Tianjin
Presiden China Xi Jinping akan menjamu lebih dari 20 pemimpin dunia pada forum keamanan regional di China pekan depan.
Acara ini dipandang sebagai unjuk kekuatan solidaritas Global South di tengah era Presiden AS Donald Trump, sekaligus memberi Rusia yang sedang dihantam sanksi kesempatan untuk mencetak kemenangan diplomatik baru.
Selain Presiden Rusia Vladimir Putin, para pemimpin dari Asia Tengah, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara dijadwalkan hadir dalam KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) yang digelar di kota pelabuhan Tianjin pada 31 Agustus–1 September 2025.
Momen penting dalam KTT kali ini adalah kunjungan pertama Perdana Menteri India Narendra Modi ke China dalam lebih dari tujuh tahun, di tengah upaya kedua negara meredakan ketegangan pascainsiden bentrok mematikan di perbatasan pada 2020.
Tahun lalu, Modi terakhir kali duduk satu panggung dengan Xi dan Putin dalam KTT BRICS di Kazan, Rusia, ketika sebagian besar pemimpin Barat memilih menjauh dari Putin akibat perang di Ukraina.
Pihak Kedutaan Rusia di New Delhi bahkan menyebut Moskow berharap dapat segera menggelar pembicaraan trilateral dengan China dan India.
“Xi akan memanfaatkan KTT ini sebagai panggung untuk menunjukkan seperti apa wujud tatanan internasional pasca-Amerika, sekaligus membuktikan bahwa segala upaya Gedung Putih sejak Januari untuk melawan China, Iran, Rusia, hingga India tidak membuahkan hasil,” ujar Eric Olander, Pemimpin Redaksi The China-Global South Project.
Menurut Kementerian Luar Negeri China, KTT tahun ini akan menjadi yang terbesar sejak SCO berdiri pada 2001, menandai peran blok tersebut sebagai “kekuatan penting dalam membangun tipe baru hubungan internasional.”
Awalnya hanya beranggotakan enam negara Eurasia, SCO kini berkembang menjadi 10 anggota tetap dan 16 negara mitra dialog maupun pengamat.
Mandatnya pun meluas, dari isu keamanan dan kontra-terorisme hingga kerja sama ekonomi dan militer.
Agenda Ekspansi, tapi Efektivitas Dipertanyakan
Para analis menilai ekspansi menjadi agenda utama, meski SCO dinilai belum memberikan hasil konkret dalam kerja sama nyata.
Bagi Beijing, nilai tambah terbesarnya adalah “optik solidaritas Global South” menghadapi AS di tengah kebijakan Washington yang semakin tidak menentu.
“Visi SCO dan implementasinya masih kabur. Namun platform ini punya kekuatan besar dalam membangun narasi,” jelas Manoj Kewalramani, Ketua Program Indo-Pasifik di Takshashila Institution, Bangalore.
Meski begitu, efektivitas SCO masih terbatas. Friksi antaranggota inti, khususnya India dan Pakistan, terus menghambat.
Pada pertemuan menteri pertahanan SCO Juni lalu, India menolak menandatangani pernyataan bersama karena tidak memuat serangan 22 April terhadap turis Hindu di Kashmir yang memicu bentrokan terburuk dalam beberapa dekade.
India juga menolak bergabung dalam kecaman SCO terhadap serangan Israel ke Iran.
Namun, tren rekonsiliasi dengan China serta tekanan tarif dari pemerintahan Trump mendorong ekspektasi bahwa Xi dan Modi akan memanfaatkan KTT ini untuk mempererat hubungan.
Menurut Olander, India kemungkinan akan “menelan gengsi” dan menyingkirkan perbedaan di SCO demi menjaga momentum détente dengan China, salah satu prioritas Modi saat ini.
Pertemuan Simbolis, Dampak Nyata Terbatas
Analis memperkirakan China dan India akan mengumumkan langkah bertahap seperti penarikan pasukan perbatasan, pelonggaran hambatan dagang dan visa, kerja sama di bidang iklim, hingga peningkatan interaksi antarpemerintah dan masyarakat.
Walau tidak banyak terobosan kebijakan yang diharapkan, daya tarik SCO bagi negara-negara Global South disebut tetap signifikan.
“KTT ini soal optik. Optik yang sangat kuat,” tegas Olander.
Modi dijadwalkan pulang setelah KTT, sementara Putin akan tetap berada di China untuk menghadiri parade militer Perang Dunia II di Beijing, sebuah kunjungan luar negeri yang terbilang panjang bagi dirinya.
Petinggi The Fed New York: Era Suku Bunga Rendah Belum Berakhir
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyatakan bahwa era suku bunga rendah yang persistens tampaknya belum berakhir, berdasarkan analisisnya terhadap data ekonomi terkini.
Komentar Williams disampaikan dalam teks pidato yang dipersiapkan untuk konferensi di Mexico City.
Ia membahas konsep R-Star, yaitu perkiraan suku bunga yang netral bagi perekonomian, tanpa memberikan pandangan langsung soal kebijakan moneter.
Williams menekankan faktor jangka panjang yang memengaruhi suku bunga, seperti tren demografi global dan pertumbuhan produktivitas, yang menurutnya mendorong R-Star turun dan belum menunjukkan tanda pembalikan.
“R-Star yang disesuaikan dengan pertumbuhan untuk AS, kawasan Euro, Inggris, dan Kanada berada di sekitar 0,5%, mirip dengan periode sebelum pandemi,” katanya pada Senin (25/8/2025).
Ia menyebut era R-Star rendah tampak jauh dari selesai. Meski beberapa peristiwa dalam beberapa tahun terakhir, seperti inflasi tinggi akibat pandemi, membuat estimasi R-Star menjadi menantang, Williams memperkirakan tekanan ekonomi yang menurunkan R-Star tetap ada.
Williams juga mengingatkan bahwa pembuat kebijakan sebaiknya tidak terlalu percaya pada estimasi tepat seperti R-Star, mengingat ketidakpastian faktor ekonomi yang menjadi dasar perhitungannya.
Berupaya Rombak The Fed, Trump Pecat Salah Satu Petinggi
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memecat Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, Senin (25/8). Trump berkilah, Cook diduga menyalahgunakan informasi dalam pengajuan kredit properti.
Dalam surat pemecatannya, Trump menuduh Cook melakukan penipuan dan tindakan kriminal. Dalam pernyataan di media sosial Truth Social, Trump menyebut Cook melaporkan dua properti sebagai tempat tinggal utama, di Michigan dan di Georgia.
Di AS, pajak untuk properti yang bukan tempat tinggal utama lebih tinggi. Satu orang hanya bisa memiliki satu tempat tinggal utama. Menurut Trump, ini cukup jadi alasan untuk memecat Cook.
Kasus janggal
Namun, Cook membalas pernyataan Trump melalui pengacaranya, Abbe Lowell. Trump disebut tidak memiliki wewenang hukum memberhentikan Cook dan tidak ada alasan sah yang bisa dijadikan dasar pemecatan.
Cook menegaskan dirinya akan terus bertugas. "Permintaan Trump tak memiliki dasar atau otoritas hukum sah. Kami akan menempuh langkah hukum untuk menghentikan upaya ini," ujar Cook, dikutip Reuters, kemarin.
Secara hukum UU Federal Reserve memang memperbolehkan pemecatan dengan alasan cukup. Tapi, para ahli hukum menyebut hal ini menjadi masalah, karena terkait batas kekuasaan eksekutif atas lembaga independen.
Peter Conti-Brown, pakar sejarah The Fed dari University of Pennsylvania, menekankan transaksi hipotek Cook terjadi sebelum diangkat menjadi gubernur The Fed dan telah diperiksa dalam proses konfirmasi Senat.
"Semua catatan telah diketahui saat proses seleksi. Menggunakan hal yang terjadi sebelum menjabat sebagai alasan pemecatan tidak sesuai dengan semangat dari aturan pemecatan dengan alasan sah," ujar Conti-Brown.
Langkah Trump tersebut mengguncang pasar keuangan. Kurva yield obligasi AS melebar, mencerminkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter. Imbal hasil obligasi jangka pendek turun, menandakan ekspektasi penurunan suku bunga.
Jika Cook benar diberhentikan, Trump memiliki kesempatan menunjuk satu anggota The Fed. Sebelumnya, ia menunjuk Christopher Waller di masa jabatan pertamanya. Saat ini, Trump mengusulkan Stephen Miran untuk mengisi kursi kosong.
Ekspor India Terancam Tarif Tambahan 25% dari AS akibat Impor Minyak Rusia
Eksportir India bersiap menghadapi gangguan besar setelah Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) mengumumkan akan memberlakukan tarif tambahan 25% atas seluruh produk asal India mulai Rabu (waktu setempat).
Dengan kebijakan baru ini, bea masuk atas barang asal India yang masuk ke pasar AS bisa mencapai 50%, salah satu yang tertinggi yang pernah diterapkan Washington.
Langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump mengumumkan sanksi tambahan terhadap India sebagai hukuman atas meningkatnya impor minyak mentah dari Rusia.
Menurut pemberitahuan DHS, tarif baru berlaku untuk barang yang masuk ke AS untuk konsumsi, atau yang dikeluarkan dari gudang penyimpanan sejak pukul 12:01 a.m. EDT (09:31 a.m. IST) pada hari Rabu.
Dampak Awal pada Rupee dan Pasar Saham
Mata uang rupee India melemah 0,2% menjadi 87,75 per dolar AS pada perdagangan awal, meskipun greenback cenderung melemah terhadap mata uang utama lainnya. Sementara itu, indeks acuan NSEI dan BSESN masing-masing terkoreksi sekitar 0,7%.
Pejabat Gedung Putih, termasuk Penasihat Perdagangan Peter Navarro dan Menteri Keuangan Scott Bessent, menuduh India secara tidak langsung mendanai perang Rusia di Ukraina melalui lonjakan pembelian minyak Rusia. Menurut Washington, hal itu harus segera dihentikan.
Ketergantungan India pada Minyak Rusia
Data menunjukkan bahwa porsi minyak Rusia dalam total impor India kini mencapai 42%, melonjak dari di bawah 1% sebelum perang Ukraina. Bessent menilai India “meraup untung besar” dari kondisi ini, sesuatu yang dianggap tidak bisa diterima oleh AS.
Kementerian Perdagangan India belum memberikan komentar resmi, namun seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa pemerintah tidak berharap ada penundaan atau keringanan tarif dari AS.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah menyiapkan bantuan finansial bagi eksportir dan mendorong diversifikasi pasar ke kawasan China, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Eksportir Minta Bantuan Pemerintah
Kelompok eksportir memperkirakan kenaikan tarif ini bisa berdampak pada hampir 55% dari total ekspor barang India ke AS senilai $87 miliar. Negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, dan China diperkirakan akan mendapat keuntungan dari kondisi ini.
“Pelanggan di AS sudah menghentikan pesanan baru. Dengan tarif tambahan ini, ekspor bisa turun 20-30% mulai September,” kata Pankaj Chadha, Presiden Engineering Exports Promotion Council.
Pemerintah India berjanji memberi subsidi pinjaman bank serta dukungan diversifikasi pasar untuk meredam kerugian eksportir. Namun, Chadha menilai ruang untuk mengalihkan penjualan ke pasar lain atau domestik masih terbatas.
Sektor berlian India juga menghadapi tekanan ganda: permintaan lemah dari China serta ancaman tarif tinggi di AS, pasar yang menyerap hampir sepertiga dari ekspor perhiasan dan permata India senilai $28,5 miliar per tahun.
Risiko Terhadap Perekonomian India
Analis swasta memperingatkan, jika tarif 50% berlangsung lama, hal itu bisa membebani pertumbuhan ekonomi India serta menekan laba korporasi, bahkan berpotensi memicu penurunan proyeksi kinerja perusahaan terbesar di Asia.
Firma riset Capital Economics memperkirakan, pemberlakuan penuh tarif AS bisa memangkas pertumbuhan ekonomi India hingga 0,8 poin persentase baik tahun ini maupun tahun depan.
Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menilai tekanan AS tidak seimbang, karena pembelian minyak Rusia oleh negara besar lain seperti China dan Uni Eropa tidak dipermasalahkan.
Sementara itu, sumber di industri penyulingan menyatakan bahwa perusahaan India akan tetap membeli minyak berdasarkan pertimbangan ekonomi, karena belum ada arahan resmi pemerintah.
Politik Dagang dan Diplomasi
Sebelumnya, setelah lima putaran perundingan, India optimistis bisa mencapai kesepakatan dagang dengan AS, bahkan sempat yakin tarif bisa dibatasi maksimal 15%. Namun, kombinasi kesalahan kalkulasi politik dan miskomunikasi membuat kesepakatan tersebut gagal, meski nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai lebih dari $190 miliar.
Perdana Menteri Narendra Modi menegaskan tidak akan mengorbankan kepentingan petani India meski ada konsekuensi berat dalam hubungan dagang. Di sisi lain, Modi juga tengah menyiapkan kunjungan bersejarah ke China pada akhir bulan ini—yang akan menjadi kunjungan pertamanya dalam tujuh tahun—sebagai upaya memperbaiki hubungan dengan Beijing.
Jepang Akan Perketat Syarat Visa bagi Pengusaha Asing
Pemerintah Jepang berencana memperketat persyaratan visa bagi pengusaha asing yang ingin mendirikan usaha di Negeri Sakura.
Berdasarkan dokumen Kementerian Kehakiman yang dirilis Selasa (26/8/2025), syarat modal minimum akan dinaikkan enam kali lipat menjadi ¥30 juta (setara US$204.000) serta kewajiban mempekerjakan setidaknya satu pegawai penuh waktu di Jepang.
Kebijakan baru ini muncul setelah pemilu majelis tinggi pada Juli lalu, di mana partai oposisi berhaluan anti-imigrasi meraih dukungan signifikan hingga berkontribusi pada hilangnya mayoritas koalisi partai berkuasa.
Dalam rancangan aturan tersebut, Kementerian Kehakiman akan meminta masukan publik hingga 24 September, sebelum diadopsi pada Oktober mendatang.
Visa yang dikenal dengan nama business and management visa memungkinkan warga negara asing mendirikan dan mengelola bisnis di Jepang.
Pemegang visa ini dapat tinggal hingga lima tahun dan memperpanjang masa tinggalnya, termasuk membawa serta anggota keluarga.
Sebelumnya, syarat pengajuan visa cukup dengan modal minimal ¥5 juta atau mempekerjakan dua pegawai penuh waktu disertai rencana bisnis yang layak.
Visa ini awalnya dirancang untuk menarik wirausahawan asing dan meningkatkan daya saing internasional Jepang.
Pemegang visa juga dapat mengajukan izin tinggal permanen setelah 10 tahun, dengan syarat minimal lima tahun memiliki status visa kerja yang memenuhi ketentuan.
Data imigrasi menunjukkan, hingga akhir 2024 terdapat sekitar 41.600 orang pemegang visa jenis ini, naik 11% dibanding tahun sebelumnya.
Warga negara China mendominasi lebih dari setengah jumlah tersebut.
Serangan Terbaru Trump ke The Fed Bikin Investor Cemas, tapi Pasar Tetap Tenang
Investor global dibuat terkejut pada Selasa (26/8/2025) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melancarkan serangan terhadap independensi The Fed.
Kekhawatiran pun muncul terkait politisasi kebijakan moneter dan dampaknya terhadap kepercayaan pasar.
Trump mengumumkan pemecatan Gubernur The Fed Lisa Cook. Langkah ini mengejutkan pasar, meski sebelumnya Trump sudah memberi sinyal menjadikan Cook sebagai target, sekaligus bagian dari tekanannya terhadap Ketua The Fed Jerome Powell agar segera memangkas suku bunga.
“Ini retakan lain pada fondasi Amerika Serikat dan daya tariknya sebagai tempat investasi,” ujar Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com, Melbourne.
Menurut Rodda, pemecatan Cook bukanlah upaya menjaga integritas The Fed, melainkan langkah Trump untuk menempatkan orang-orang pilihannya di bank sentral.
“Pada akhirnya, ini menyangkut kepercayaan terhadap institusi,” tambahnya.
Cook sendiri membantah wewenang Trump untuk memecatnya. Namun, pernyataan Trump bahwa pemecatan berlaku “segera” hanya dua pekan sebelum rapat kebijakan The Fed menambah kekhawatiran investor.
Meski begitu, respons pasar terbilang jinak. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek turun tipis.
Sementara yield obligasi 30 tahun naik 4,7 bps ke level 4,936% akibat ekspektasi pelonggaran moneter yang dipaksakan bisa memicu inflasi. Indeks dolar melemah 0,1%, dan kontrak berjangka S&P 500 hanya turun 0,07%.
“Orang menunggu apakah hal ini benar-benar terjadi. Namun pada saat yang sama, sangat sulit menjual aset AS hanya karena isu kredibilitas,” ujar Tohru Sasaki, Kepala Strategi di Fukuoka Financial Group, Tokyo.
Sasaki menambahkan, faktor lain yang perlu diperhitungkan investor adalah kesepakatan dagang Trump, yang mendorong negara-negara Eropa, Jepang, dan Korea Selatan untuk menanamkan ratusan miliar dolar di AS.
“Dengan investasi besar itu, dolar dan saham AS tetap akan mendapat dukungan,” jelasnya.
Keistimewaan AS Mulai Terkikis
Kampanye Trump untuk mengendalikan arah kebijakan moneter dinilai telah menggerus kepercayaan investor terhadap obligasi pemerintah AS sebagai aset aman.
Dampaknya juga terasa pada keunggulan dolar sebagai mata uang global utama.
Keunggulan ini sebelumnya memungkinkan AS membiayai utang nasional jumbo yang kini mencapai US$36 triliun, dengan sekitar US$26 triliun dipegang investor internasional per akhir 2024.
Namun, sejak Trump menjabat, arus modal asing mulai meninggalkan pasar AS. Data LSEG Lipper menunjukkan dana ekuitas global di luar AS kebanjiran aliran modal. Sementara investor terus menjual reksa dana berbasis AS sejak Mei lalu.
Indeks dolar bahkan sudah tergerus 9% sepanjang tahun ini. Meski indeks saham AS sempat mencetak rekor tertinggi bulan ini, kinerjanya tertinggal dibanding bursa lain yang melesat berkat euforia teknologi dan kecerdasan buatan.
Data The Fed menunjukkan, bank sentral dan manajer cadangan devisa asing juga ramai-ramai melepas kepemilikan surat utang AS. Pada pekan yang berakhir 20 Agustus saja, penjualan mencapai US$35,6 miliar.
“Pasar belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan Trump menarget pejabat The Fed lain. Saat ini yang sudah dipertimbangkan adalah peluang pemangkasan suku bunga pada September dan mungkin penurunan lebih lanjut tahun ini,” jelas Shoki Omori, Kepala Strategi Desk di Mizuho Securities.
Menurut Omori, arah dolar dan imbal hasil obligasi AS akan sangat bergantung pada seberapa agresif Trump kembali menekan The Fed ke depan.
AS dan Rusia Bahas Potensi Kesepakatan Energi di Tengah Negosiasi Damai Ukraina
Pejabat pemerintah Amerika Serikat dan Rusia dilaporkan membahas sejumlah kesepakatan energi di sela-sela perundingan bulan ini yang bertujuan mencapai perdamaian di Ukraina.
Menurut lima sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, ide-ide ini diajukan sebagai insentif agar Kremlin bersedia mengakhiri perang dan agar Washington melonggarkan sanksi terhadap Rusia.
Upaya Insentif Melalui Proyek Energi
Rusia sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022 menghadapi pembatasan investasi internasional di sektor energi, termasuk larangan melakukan kesepakatan besar. Dalam perundingan terbaru, beberapa opsi yang dibahas antara lain:
Exxon Mobil berpotensi kembali ke proyek minyak dan gas Sakhalin-1 di Rusia.
Rusia kemungkinan membeli peralatan AS untuk proyek LNG, termasuk Arctic LNG 2, yang saat ini berada di bawah sanksi Barat.
Ide lain adalah AS membeli kapal pemecah es bertenaga nuklir dari Rusia, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 15 Agustus.
Meski demikian, tidak ada pejabat yang bersedia berbicara terbuka karena pembicaraan bersifat rahasia.
Peran Pertemuan Tingkat Tinggi
Diskusi ini berlangsung saat utusan AS Steve Witkoff mengunjungi Moskow awal bulan Agustus, bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin serta utusan investasi Rusia, Kirill Dmitriev. Menurut dua sumber, isu yang sama juga sempat dibicarakan dalam rapat internal Gedung Putih bersama Presiden Donald Trump.
Pembahasan singkat mengenai kesepakatan ini juga terjadi dalam KTT Alaska pada 15 Agustus. Seorang sumber menyebut Gedung Putih ingin menghasilkan “headline besar” berupa kesepakatan investasi setelah pertemuan tersebut.
“Trump merasa sudah mencapai sesuatu bila ada kesepakatan besar yang bisa diumumkan,” kata salah satu sumber yang mengetahui jalannya diskusi.
Strategi Tekanan dan Tarik-Ulur
Meski menjajaki peluang kerja sama energi, Trump tetap menekan Rusia dengan ancaman sanksi tambahan apabila tidak ada kemajuan dalam pembicaraan damai. Ia juga mengancam akan memberlakukan tarif keras terhadap India, salah satu pembeli utama minyak Rusia—langkah yang dapat mempersempit pasar ekspor energi Moskow.
Sebelumnya, Trump dan tim keamanan nasionalnya juga pernah mengeksplorasi cara menghidupkan kembali aliran gas Rusia ke Eropa, namun rencana itu tertahan karena Uni Eropa berkomitmen penuh untuk menghapus ketergantungan energi Rusia pada 2027.
Kini, fokus pembicaraan bergeser ke kesepakatan bilateral AS–Rusia, terlepas dari sikap tegas Uni Eropa dalam mendukung Ukraina.
Isu Sakhalin-1 dan Arctic LNG 2
Menariknya, pada hari yang sama dengan KTT Alaska, Putin menandatangani dekret yang memungkinkan investor asing, termasuk Exxon Mobil, untuk kembali memperoleh saham di Sakhalin-1. Namun, syaratnya adalah para pemegang saham asing tersebut harus mendorong pencabutan sanksi Barat.
Exxon sendiri hengkang dari Rusia pada 2022 dengan kerugian $4,6 miliar setelah pemerintah Rusia menyita kepemilikan 30% mereka di proyek Sakhalin-1.
Sementara itu, proyek Arctic LNG 2 milik Novatek masih kesulitan beroperasi di bawah sanksi. Proyek ini memerlukan kapal pemecah es kelas Arktik, yang saat ini diblokir oleh pembatasan Barat.
Meski begitu, sejak April 2025, pabrik LNG tersebut kembali memproses gas meski dengan kapasitas rendah, dan beberapa kargo berhasil diekspor menggunakan kapal yang terkena sanksi.
Washington disebut berupaya mendorong Rusia untuk membeli teknologi AS ketimbang Cina, sebagai bagian dari strategi jangka panjang memisahkan hubungan Moskow–Beijing.
Dimensi Geopolitik: Mengimbangi Cina
Langkah AS ini juga dinilai sebagai bagian dari upaya melemahkan kemitraan strategis Rusia–Cina. Kedua negara mendeklarasikan hubungan “tanpa batas” hanya beberapa hari sebelum invasi Ukraina dimulai.
Presiden Xi Jinping dan Putin sudah lebih dari 40 kali bertemu dalam satu dekade terakhir, dan dalam beberapa bulan terakhir Putin kembali menegaskan bahwa Cina adalah sekutu utama Rusia.
Presiden Korsel Bertemu Trump: Tenang, Tanpa Drama dan Penuh Sanjungan
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, berhasil menghindari apa yang ia sebut sebagai "momen Zelenskiy" setelah bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada Senin (25/8).
Pertemuan tingkat tinggi ini awalnya dikhawatirkan akan berujung pada konfrontasi, namun justru berakhir relatif mulus dan penuh sanjungan.
Kekhawatiran "Momen Zelenskiy"
Kekhawatiran terbesar Korea Selatan adalah kemungkinan terulangnya insiden pada Februari lalu, ketika Trump secara terbuka menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dalam pertemuan Oval Office terkait bantuan militer dan perang melawan Rusia.
Namun, situasi berbeda terjadi kali ini. Lee Jae Myung menuturkan bahwa dirinya sudah mengantisipasi gaya negosiasi Trump, bahkan bercanda bahwa ia siap menghadapi situasi sulit setelah membaca buku Trump, The Art of the Deal.
"Staf saya sempat khawatir bahwa kami akan menghadapi 'momen Zelenskiy'. Tetapi saya sudah tahu hal itu tidak akan terjadi," ujar Lee di sebuah acara di Center for Strategic and International Studies (CSIS) setelah pertemuan.
Awal yang Penuh Ketegangan
Beberapa jam sebelum pertemuan, Trump menulis di media sosial Truth Social: “WHAT IS GOING ON IN SOUTH KOREA? Seems like a Purge or Revolution.” (Apa yang sedang terjadi di Korea Selatan? Sepertinya ada pembersihan atau revolusi).
Pernyataan tersebut merujuk pada krisis politik di Seoul yang melibatkan penggeledahan oleh penyidik di sebuah pangkalan militer gabungan AS-Korsel. Namun, dalam diskusi tertutup, Lee berhasil menjelaskan situasi tersebut sehingga Trump melunakkan nada bicaranya dan menyebut postingannya hanya sebagai “kesalahpahaman” dan “rumor”.
Fokus pada Hubungan dengan Korea Utara
Di ruang Oval Office, suasana yang tercipta justru bersahabat. Trump menegaskan kembali hubungan baiknya dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dan menyatakan dukungannya terhadap pendekatan Lee terhadap isu Semenanjung Korea.
“Pertemuan berakhir tanpa drama,” kata Cheong Seong-chang, Wakil Presiden Sejong Institute di Seoul.
Namun, sejumlah analis menilai bahwa justru karena menjaga pertemuan tetap cair, beberapa kepentingan strategis Korea Selatan tidak tersampaikan, termasuk permintaan izin pengolahan ulang bahan bakar nuklir dan revisi regulasi AS di bidang industri perkapalan.
Isu Biaya Pertahanan Masih Menggantung
Meski pertemuan berjalan lancar, pertanyaan besar masih tersisa mengenai berapa banyak yang akan dibayar Korea Selatan untuk menanggung biaya penempatan 28.500 tentara Amerika di wilayahnya. Selain itu, detail perjanjian tarif perdagangan yang dinegosiasikan secara terburu-buru juga masih belum difinalisasi.
Menurut Jun Kwang-woo dari Institute for Global Economics, baik Washington maupun Seoul tampaknya sengaja menghindari isu-isu sensitif, termasuk sikap Korea Selatan terkait ketegangan antara China dan Taiwan.
Pola Negosiasi Trump
Para analis menilai Trump kembali menggunakan pola negosiasi khasnya: mengguncang lawan terlebih dahulu, lalu mencari titik temu di tahap akhir.
“Formula dasar Trump selalu dimulai dengan memberi tekanan besar, lalu pada akhirnya mencapai kesepakatan yang bisa diterima,” kata Yang Uk dari Asan Institute for Policy Studies.
Lee pun mengakui dirinya sudah mempelajari gaya tersebut. "Karena pentingnya aliansi Korea–AS, saya yakin Trump tidak akan melukai hubungan ini," ujarnya.
Caterpillar dan Bank Israel Kena Blacklist Dana Norwegia, Risiko Pelanggaran HAM
Dana kekayaan Norwegia senilai US$2 triliun, yang merupakan dana terbesar di dunia, mengumumkan pada Senin (25/8/2025) bahwa pihaknya telah melepas investasi di grup alat berat asal AS, Caterpillar, serta lima bank Israel karena alasan etika.
Lima bank yang dimaksud adalah Hapoalim, Bank Leumi, Mizrahi Tefahot Bank, First International Bank of Israel, dan FIBI Holdings, menurut pernyataan dana tersebut.
Keenam perusahaan ini dikeluarkan “karena adanya risiko yang tidak dapat diterima bahwa perusahaan-perusahaan tersebut berkontribusi pada pelanggaran serius hak-hak individu dalam situasi perang dan konflik,” kata dana yang dikelola oleh Bank Sentral Norwegia itu.
Sebelum divestasi, dana ini memegang saham 1,17% di Caterpillar senilai US$2,1 miliar per 30 Juni. Sementara saham di lima bank Israel tersebut bernilai gabungan US$661 juta.
Caterpillar
Dewan Etika dana tersebut menilai bahwa “tidak ada keraguan bahwa produk Caterpillar digunakan untuk melakukan pelanggaran hukum kemanusiaan iternasional secara luas dan sistematis.”
Bulldozer buatan Caterpillar disebut digunakan oleh otoritas Israel untuk menghancurkan properti warga Palestina secara ilegal di Gaza dan Tepi Barat.
Dewan menambahkan bahwa “perusahaan juga tidak mengambil langkah-langkah untuk mencegah penggunaan tersebut.”
Dengan rencana pengiriman kembali mesin ke Israel, Dewan Etika menilai ada risiko yang tidak dapat diterima bahwa Caterpillar berkontribusi pada pelanggaran hak individu dalam situasi perang atau konflik.
Bank-bank Israel
Awalnya, Dewan Etika meninjau praktik bank-bank Israel yang membiayai pembangunan rumah bagi pemukim Israel di wilayah Tepi Barat.
Dewan menyatakan semua bank yang dikeluarkan telah “dengan menyediakan layanan keuangan yang menjadi prasyarat bagi aktivitas pembangunan di pemukiman Israel di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, berkontribusi pada pemeliharaan pemukiman Israel.”
Hampir 700.000 pemukim Israel tinggal di antara 2,7 juta warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Banyak pemukiman berada di dekat wilayah Palestina, dan beberapa perusahaan Israel melayani kedua pihak.
Pengadilan tertinggi PBB tahun lalu memutuskan bahwa pemukiman Israel di wilayah yang direbut pada 1967 ilegal, meskipun Israel menolak keputusan tersebut dengan alasan sejarah dan ikatan agama dengan wilayah tersebut.
Negosiator Utama China Bertolak ke AS untuk Lanjutkan Perundingan Dagang
Senior negosiator China Li Chenggang dijadwalkan melakukan perjalanan ke Washington pekan ini untuk menggelar perundingan dagang dengan Amerika Serikat (AS), menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (25/8/2025).
Li Chenggang, yang merupakan tangan kanan negosiator utama Beijing He Lifeng, dijadwalkan bertemu Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer serta sejumlah pejabat senior Departemen Keuangan AS. WSJ juga melaporkan Li akan mengadakan pertemuan dengan kalangan pelaku usaha AS.
Baik Kementerian Perdagangan China maupun Gedung Putih belum memberikan komentar resmi atas laporan tersebut.
Jika terkonfirmasi, kunjungan Li ini akan menjadi putaran keempat perundingan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia sejak Mei lalu, setelah sebelumnya digelar di Jenewa, London, dan Stockholm.
Dalam pembicaraan kali ini, Li diperkirakan akan menyoroti pembelian kedelai serta mendesak AS untuk melonggarkan pembatasan ekspor teknologi ke China.
Beijing juga diyakini akan menuntut pemerintahan Trump agar mencabut tarif sebesar 20% terkait fentanyl, sebagai bagian dari negosiasi yang mencakup kedelai dan pesawat Boeing.
AS dan China sebelumnya memperpanjang gencatan tarif selama 90 hari pada dua pekan lalu.
Kesepakatan itu berhasil menunda pengenaan tarif ratusan persen yang berpotensi menciptakan embargo dagang penuh antar kedua negara.
Saat ini, AS masih mempertahankan tarif 30% terhadap barang impor asal China, sementara Beijing memberlakukan tarif 10% untuk produk asal AS.