News Komoditi 05 Oktober 2026
Harga emas spot dunia pekan ini berpotensi mengalami technical rebound dan bergerak naik ke kisaran US$ 4.153 hingga US$ 4.180-an per troy ons setelah tertekan tajam sepanjang September. Berdasarkan laporan terbaru dari Bloomberg dan Reuters, sentimen pendorong utama datang dari rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) yang melambat tajam secara tak terduga, yang seketika memangkas ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan Oktober menjadi hanya 20%. Melemahnya prospek pengetatan moneter ini memberikan angin segar bagi emas selaku aset tanpa imbal hasil, meskipun para analis memperingatkan bahwa bias hawkish The Fed secara jangka panjang masih membayangi pasar.
Meskipun mendapatkan dorongan positif dari data domestik AS, ruang penguatan logam mulia diproyeksikan masih tertahan oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan ketegangan geopolitik global. Bloomberg Technoz mencatat bahwa secara teknikal indikator Stochastic RSI sudah menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold), yang membuka peluang emas untuk menguji level resisten terdekat di US$ 4.162 hingga pivot poin krusial di US$ 4.306 per troy ons. Namun, investor tetap disarankan waspada karena jika eskalasi konflik di Timur Tengah (seperti perang Yaman-Houthi) memicu lonjakan harga minyak dan inflasi energi kembali, yield obligasi yang tetap bertengger di level tertinggi dua dekade berisiko menekan harga emas kembali ke zona bearish menuju level support kritis di US$ 4.082 per troy ons.
Harga minyak mentah dunia awal pekan ini ditutup bervariasi dengan Brent stabil di kisaran US$ 102,25 per barel dan WTI bertengger di kisaran US$ 91,11 per barel akibat meredanya kekhawatiran pasokan jangka pendek. Berdasarkan laporan terkini dari Bloomberg dan Reuters, penurunan harga dipicu oleh kesepakatan negara-negara G7 yang menyetujui permintaan Presiden AS Donald Trump untuk melepas hingga 100 juta barel cadangan minyak darurat dan pasokan diesel Eropa. Langkah ini berhasil meredam kepanikan pasar setelah China sempat mengumumkan moratorium ekspor bahan bakar olahan untuk bulan Oktober serta adanya serangan drone Ukraina ke fasilitas kilang minyak Rusia di wilayah Samara dan Volgograd.
Meskipun pelepasan cadangan darurat menahan lonjakan harga, tren pergerakan minyak ke depan diproyeksikan tetap membara karena ketatnya pasokan fisik akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Koalisi OPEC+ dalam pertemuan bulanan terbarunya sepakat untuk mempertahankan kuota pemangkasan produksi hingga November, sementara hambatan logistik dan biaya operasional yang tinggi membuat produsen shale oil AS frustrasi untuk menaikkan output. Karena lalu lintas tanker di Selat Hormuz masih terganggu oleh risiko geopolitik yang tinggi dan negosiasi gencatan senjata yang berjalan alot, para analis dari Barclays memproyeksikan harga Brent dapat kembali melesat menuju US$ 115 per barel pada kuartal keempat jika pasokan fisik global terus terkuras.