News Komoditi & Global ( Rabu, 15 April 2026 )
News Komoditi & Global
( Rabu, 15 April 2026 )
Harga Emas Global Melonjak Didorong Pelemahan Dolar dan Harapan Negosiasi AS-Iran
Harga emas dunia melonjak sekitar 2% pada perdagangan Selasa (14/4/2-26), didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya harapan akan dimulainya kembali perundingan antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran inflasi.
Melansir Reuters, harga emas spot tercatat naik 2% ke level US$ 4.831,78 per ons troi pada pukul 13.34 waktu setempat. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 1,7% ke US$ 4.850,10 per ons troi.
Optimisme pasar muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan untuk mengakhiri konflik Iran berpotensi dilanjutkan di Pakistan dalam beberapa hari ke depan.
Pernyataan ini muncul setelah negosiasi sebelumnya gagal dan mendorong Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Analis pasar menilai, arah harga emas ke depan sangat bergantung pada perkembangan perundingan tersebut.
“Arah pasar emas akan ditentukan oleh bagaimana jalannya pembicaraan di Pakistan dan sejauh mana progres yang dicapai menjelang akhir pekan. Jika ada kabar positif, logam mulia berpotensi melanjutkan kenaikan,” ujar Bob Haberkorn dari RJO Futures.
Selain faktor geopolitik, pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak turut menjadi katalis positif bagi emas.
Dolar yang lebih lemah membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi investor global.
Di sisi lain, data menunjukkan harga produsen AS pada Maret naik lebih rendah dari ekspektasi, seiring biaya jasa yang stagnan. Meski demikian, lonjakan harga energi akibat konflik Iran masih memicu tekanan inflasi.
Sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya diminati saat ketidakpastian meningkat.
Namun, kenaikan suku bunga dapat menekan daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Federal Reserve sebesar 33% pada tahun ini, turun dibandingkan ekspektasi sebelum konflik yang memperkirakan dua kali penurunan suku bunga.
Analis Commerzbank menilai selama pasar tidak mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga oleh The Fed, harga emas kemungkinan tidak akan mengalami penurunan signifikan.
Kenaikan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot melonjak 5,2% menjadi US$ 79,48 per ons troi. Platinum naik 1,3% ke US$ 2.096,91, sementara paladium menguat 0,7% ke US$ 1.585,21 per ons troi.
Harga Minyak Dunia Turun seiring meningkatnya harapan dimulainya kembali perundingan damai antara Iran & AS
Harga minyak dunia kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (15/4), seiring meningkatnya harapan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Melansir Reuters, harga Brent Crude turun 0,55% menjadi US$ 94,27 per barel, setelah sebelumnya anjlok 4,6%.
Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1,1% ke level US$ 90,24 per barel, usai merosot 7,9% pada sesi sebelumnya.
Penurunan ini dipicu optimisme pasar bahwa negosiasi antara AS dan Iran dapat segera dilanjutkan, yang berpotensi membuka kembali pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan damai bisa kembali digelar di Pakistan dalam waktu dekat, setelah perundingan sebelumnya gagal dan memicu blokade terhadap pelabuhan Iran.
Meski ada harapan diplomasi, kondisi di lapangan masih belum stabil. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global masih membatasi arus pengiriman energi.
Lalu lintas kapal di kawasan tersebut masih jauh di bawah normal, hanya sebagian kecil dari sekitar 130 kapal yang biasanya melintas sebelum konflik terjadi.
Bahkan, kapal perang AS sempat menghentikan dua tanker yang mencoba keluar dari Iran, menegaskan ketatnya implementasi blokade.
Analis menilai, pasar minyak saat ini masih mencerminkan ketidakpastian tinggi, bukan pemulihan penuh pasokan.
“Pasar masih memperhitungkan risiko gangguan pasokan, bukan kembali ke keseimbangan,” tulis analis The Schork Group.
Selain itu, potensi berkurangnya pasokan juga muncul setelah pemerintah AS dikabarkan tidak memperpanjang pengecualian sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia.
Pelaku pasar kini menantikan data resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA).
Survei Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS naik tipis, sementara persediaan bensin dan distilat justru menurun.
Sumber pasar juga menyebut stok minyak AS telah meningkat selama tiga pekan berturut-turut.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi geopolitik serta dinamika pasokan global yang masih rapuh.
Wall Street Ditutup Naik, Harapan Perundingan AS-Iran Dorong Sentimen
Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/4), didorong optimisme baru terkait potensi perundingan antara Donald Trump dan Iran, serta kinerja emiten yang solid di awal musim laporan keuangan.
Indeks Nasdaq Composite melonjak hampir 2%, sementara S&P 500 naik sekitar 1% dan mendekati rekor penutupan tertingginya. Adapun Dow Jones Industrial Average turut menguat meski dengan kenaikan yang lebih terbatas.
Melansir Reuters, secara rinci, indeks S&P 500 naik 81,14 poin atau 1,18% ke level 6.967,38, mendekati rekor penutupan 6.978,60 pada Januari lalu.
Nasdaq melonjak 455,35 poin atau 1,96% menjadi 23.639,08, menandai kenaikan selama 10 hari berturut-turut.
Sementara Dow Jones naik 317,74 poin atau 0,66% ke posisi 48.535,99, tertinggi sejak awal Maret.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, hanya tiga yang melemah, dengan sektor energi mencatat penurunan terbesar sebesar 2,2% seiring turunnya harga minyak.
Sebaliknya, sektor teknologi menguat, dipimpin saham perangkat lunak yang naik 1,6% serta indeks semikonduktor yang mencetak rekor penutupan untuk kelima kalinya berturut-turut.
Sentimen positif datang dari pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa pembicaraan untuk mengakhiri konflik Iran berpotensi dilanjutkan di Pakistan dalam beberapa hari ke depan.
Hal ini muncul setelah negosiasi sebelumnya gagal dan mendorong Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Di sisi lain, U.S. Department of State menyatakan bahwa Israel dan Lebanon sepakat untuk memulai negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati bersama, usai pertemuan yang difasilitasi AS di Washington.
Pasar yang selama ini sensitif terhadap dinamika geopolitik Timur Tengah merespons positif setiap sinyal de-eskalasi.
Fluktuasi harga minyak yang tajam sebelumnya telah memengaruhi ekspektasi inflasi, sehingga perkembangan kawasan tersebut menjadi perhatian utama investor.
“Belum ada resolusi final, tetapi investor tidak ingin melewatkan momentum rebound,” ujar Burns McKinney dari NFJ Investment Group.
Dari sisi makro, data inflasi turut memberikan sentimen tambahan. Harga produsen di AS pada Maret naik lebih rendah dari ekspektasi, seiring biaya jasa yang stagnan. Kondisi ini memperkuat harapan bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
Menurut kepala strategi pasar Ameriprise Financial Anthony Saglimbene, pasar mulai meninggalkan fase ketidakpastian ekstrem.
“Pasar mulai menjauh dari skenario terburuk, baik terkait konflik Iran, kekhawatiran disrupsi AI, inflasi, maupun kebijakan bank sentral. Dengan valuasi yang membaik, investor kini cenderung memanfaatkan koreksi untuk masuk,” jelasnya.
Di tengah musim laporan keuangan, sejumlah emiten mencatat hasil positif. Saham BlackRock melonjak 3% setelah mencatat kenaikan laba kuartal I, didorong arus masuk dana ke produk ETF dan peningkatan biaya kinerja.
Sementara itu, saham Citigroup naik 2,6% dan menyentuh level tertinggi sejak 2008, setelah melaporkan laba yang melampaui ekspektasi pasar.
Namun, respons pasar terhadap kinerja perbankan tidak merata. Saham JPMorgan Chase mendapat sambutan yang lebih moderat, sedangkan Wells Fargo melemah akibat pendapatan bunga yang di bawah ekspektasi.
Di sektor kesehatan, saham Johnson & Johnson naik 0,9% setelah merilis laporan keuangan.
Sementara itu, sektor penerbangan turut mencuri perhatian. Saham United Airlines naik 2%, sedangkan American Airlines melonjak 8% setelah muncul laporan potensi merger yang dapat mengubah peta industri.
Di sisi lain, saham Globalstar melesat 9,6% setelah mencapai kesepakatan akuisisi dengan Amazon.
Total volume perdagangan di bursa AS mencapai 17,96 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 19,10 miliar saham.
China Kecam Amerika Serikat Soal Blokade Iran, Sebut Picu Ketegangan Baru
Pemerintah China melalui kementerian luar negerinya mengecam langkah Amerika Serikat yang memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, dengan menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan “berbahaya dan tidak bertanggung jawab”.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun pada Selasa (14/4/2026) mengatakan, langkah AS justru akan memperburuk situasi dan meningkatkan ketegangan di kawasan.
Menurut Guo, meskipun pihak-pihak terkait telah menyepakati gencatan senjata sementara, Amerika Serikat tetap meningkatkan pengerahan militer serta menerapkan blokade yang ditargetkan. Ia menilai tindakan tersebut berpotensi memperparah konflik, merusak kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh, serta membahayakan keselamatan pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
China juga mendesak semua pihak untuk menghormati gencatan senjata, tetap berkomitmen pada dialog dan perundingan damai, serta mengambil langkah konkret untuk meredakan ketegangan regional.
Selain itu, China menyerukan agar jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat segera kembali normal guna menjaga stabilitas perdagangan dan keamanan kawasan.
Perang Iran Mengubah Prospek Pasar Minyak Global IEA
Badan Energi Internasional (IEA) memangkas perkiraan pertumbuhan pasokan dan permintaan minyak global secara tajam, dengan mengatakan bahwa keduanya sekarang diperkirakan akan turun dari level tahun 2025 karena perang di Timur Tengah mengganggu aliran minyak dan membebani ekonomi global.
Mengutip Reuters, Selasa (14/4/2026), Badan Energi Internasional (IEA) kini memperkirakan permintaan minyak global akan turun sebesar 80.000 barel per hari pada tahun 2026, dibandingkan dengan proyeksi kenaikan tahunan sebesar 640.000 barel per hari dalam laporan bulanan sebelumnya.
"Penurunan permintaan akan meluas karena kelangkaan dan harga yang lebih tinggi terus berlanjut," kata IEA.
IEA menambahkan bahwa pengurangan konsumsi minyak terbesar sejauh ini berasal dari Timur Tengah dan Asia-Pasifik.
Lembaga pengawas yang berbasis di Paris ini memperkirakan pasokan minyak global akan turun sebesar 1,5 juta barel per hari tahun ini, anjlok dari proyeksi kenaikan 1,1 juta barel per hari bulan lalu.
Serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, kata IEA, dengan kehilangan 10,1 juta barel per hari pada bulan Maret.
Kapal Tanker China Terobos Blokade AS di Selat Hormuz, Ini Dampaknya!
Sebuah kapal tanker China yang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat (AS) melewati Selat Hormuz pada Selasa (14/4/2026).
Berdasarkan data LSEG, MarineTraffic dan Kpler, kapal tanker China itu melewati Selat Hormuz meskipun ada blokade AS di titik rawan tersebut.
Kapal tanker Rich Starry akan menjadi yang pertama berhasil melewati Selat Hormuz dan keluar dari Teluk sejak blokade dimulai, menurut data LSEG, MarineTraffic, dan Kpler.
Kapal tanker dan pemiliknya, Shanghai Xuanrun Shipping Co Ltd, dikenai sanksi oleh Amerika Serikat (AS) karena berurusan dengan Iran.
Perusahaan tersebut tidak dapat dihubungi segera untuk memberikan komentar.
Rich Starry adalah kapal tanker jarak menengah yang "membawa sekitar 250.000 barel metanol di dalamnya," menurut data tersebut. Kapal tersebut memuat kargo di pelabuhan terakhirnya, Hamriyah, Uni Emirat Arab, menurut data tersebut.
Kapal tanker milik China tersebut memiliki awak berkebangsaan China, menurut data yang ada.
Kapal tanker lain yang juga dikenai sanksi AS, Murlikishan, turut menuju Selat Hormuz pada hari Selasa, menurut data LSEG. Kapal tanker handysize kosong tersebut diperkirakan akan memuat bahan bakar minyak di Irak pada tanggal 16 April, menurut data Kpler.
Kapal tersebut, yang sebelumnya dikenal sebagai MKA, telah mengangkut minyak Rusia dan Iran.
AS dan Iran Berpeluang Lanjutkan Perundingan Damai di Islamabad Pekan Ini
Tim negosiasi dari Amerika Serikat dan Iran berpeluang kembali melanjutkan pembicaraan di Islamabad dalam pekan ini, menyusul belum tercapainya terobosan dalam pertemuan tingkat tinggi terakhir kedua negara.
Mengutip Reuters, Selasa (14/4/2026), lima sumber menyebutkan bahwa belum ada tanggal pasti yang ditetapkan, namun kedua pihak membuka kemungkinan untuk kembali berunding pada akhir pekan, antara Jumat hingga Minggu.
Pertemuan sebelumnya di ibu kota Pakistan berlangsung beberapa hari setelah pengumuman gencatan senjata, dan menjadi kontak langsung pertama antara pejabat AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade, sekaligus yang paling tinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Seorang sumber yang terlibat dalam pembicaraan menyebutkan bahwa proposal telah diajukan kepada kedua pihak untuk mengirim kembali delegasi guna melanjutkan negosiasi.
Dua sumber dari Pakistan menyatakan pemerintah setempat saat ini tengah berkomunikasi dengan kedua negara untuk menentukan waktu pertemuan berikutnya, yang kemungkinan digelar pada akhir pekan ini. Seorang pejabat senior pemerintah Pakistan mengatakan bahwa Iran telah memberikan respons positif untuk melanjutkan putaran kedua perundingan.
Dalam perundingan sebelumnya, delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara pihak Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf.
Pembahasan mencakup sejumlah isu krusial, termasuk situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi global. Iran diketahui telah membatasi akses di selat tersebut, sementara Amerika Serikat berkomitmen untuk membukanya kembali.
Selain itu, agenda perundingan juga meliputi program nuklir Iran serta sanksi internasional terhadap Teheran.
Usai pertemuan terakhir, Vance menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan proposal final kepada Iran.
"Kami meninggalkan tempat ini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya," ujarnya kepada wartawan.
Kapal Tanker Terkait Iran Tetap Melintas di Selat Hormuz Meski Diblokade AS
Sejumlah kapal tanker yang terkait dengan Iran tetap melintas di Selat Hormuz meskipun Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap kapal yang berlabuh di pelabuhan Iran.
Berdasarkan data pelayaran pada Selasa (14/4/2026), sebuah kapal tanker ketiga yang terkait Iran memasuki kawasan Teluk pada hari pertama penuh penerapan blokade oleh AS. Kebijakan ini diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada Minggu, setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Namun demikian, kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz tersebut tidak menuju pelabuhan Iran, sehingga tidak termasuk dalam cakupan blokade.
Kapal tanker berbendera Panama, Peace Gulf, dilaporkan menuju pelabuhan Hamriyah di Uni Emirat Arab. Berdasarkan data industri, kapal ini umumnya mengangkut nafta Iran—bahan baku petrokimia—ke pelabuhan di Timur Tengah non-Iran untuk kemudian diekspor ke Asia.
Sebelumnya, dua kapal tanker yang dikenai sanksi oleh AS juga telah melintasi jalur sempit tersebut.
Kapal tanker jenis handy, Murlikishan, dilaporkan menuju Irak untuk memuat bahan bakar minyak pada 16 April. Kapal ini sebelumnya dikenal sebagai MKA dan diketahui pernah mengangkut minyak Rusia dan Iran.
Sementara itu, kapal tanker lain, Rich Starry, diperkirakan menjadi kapal pertama yang berhasil melintasi Selat Hormuz dan keluar dari Teluk sejak blokade diberlakukan. Kapal ini membawa sekitar 250.000 barel metanol yang dimuat dari pelabuhan Hamriyah.
Rich Starry dimiliki oleh perusahaan pelayaran asal China, Shanghai Xuanrun Shipping Co Ltd, yang telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat karena berbisnis dengan Iran.
Pemerintah China mengkritik kebijakan blokade tersebut. Kementerian Luar Negeri China menyebut langkah AS sebagai tindakan “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang berpotensi memperburuk ketegangan geopolitik.
Namun, Beijing tidak secara langsung mengonfirmasi apakah kapal-kapal miliknya turut melintasi Selat Hormuz di tengah situasi tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Ketegangan di kawasan ini, termasuk blokade dan sanksi, meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Pendapatan Minyak Rusia Naik Tajam Maret 2026, Terdorong Lonjakan Harga Global
Pendapatan Rusia dari ekspor minyak mentah dan produk olahan kembali meningkat pada Maret 2026 setelah sempat turun ke level terendah sejak awal konflik Ukraina pada Februari lalu. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga energi global di tengah eskalasi perang Iran, menurut laporan International Energy Agency.
Lembaga yang berbasis di Paris tersebut menyebutkan bahwa pendapatan ekspor minyak dan produk minyak Rusia hampir dua kali lipat, dari US$ 9,75 miliar pada Februari menjadi sekitar US$ 19 miliar pada Maret.
Kinerja ini menjadi krusial bagi anggaran negara Rusia, mengingat sektor energi merupakan sumber utama pendapatan pemerintah untuk mendukung peningkatan belanja militer.
IEA melaporkan bahwa ekspor minyak mentah Rusia naik sekitar 270.000 barel per hari (bph) menjadi 4,6 juta bph pada Maret. Peningkatan ini terutama didorong oleh pengiriman melalui jalur laut, di tengah terhentinya operasional pipa Druzhba pipeline.
Aliran minyak melalui pipa Druzhba menuju Hongaria dan Slovakia yang melintasi wilayah Ukraina masih terhenti sejak serangan terhadap infrastruktur tersebut pada akhir Januari.
Di sisi produksi, output minyak Rusia juga meningkat menjadi 8,96 juta bph dari sebelumnya 8,67 juta bph pada Februari.
Meski mencatat pemulihan, IEA memperingatkan bahwa Rusia kemungkinan akan kesulitan meningkatkan produksi lebih lanjut dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh kerusakan infrastruktur energi dan pelabuhan akibat serangan drone Ukraina.
Iran Alokasikan Pendapatan Minyak untuk Rekonstruksi Pasca Serangan AS-Israel
Penjualan minyak Iran dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan tetap menunjukkan kinerja positif di tengah konflik yang berlangsung. Pemerintah Iran menyatakan sebagian pendapatan dari ekspor minyak akan dialokasikan untuk memperbaiki kerusakan sektor industri akibat serangan selama perang.
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad pada Selasa (14/4/2026) mengatakan bahwa operasional sektor energi tetap berjalan stabil berkat upaya para pekerja di lapangan. Ia menegaskan bahwa aktivitas ekspor minyak tidak pernah terhenti selama konflik.
“Para pekerja minyak berhasil menjaga operasional di seluruh fasilitas selama konflik, memastikan ekspor minyak tidak terhenti bahkan satu hari pun,” ujarnya.
Paknejad juga menyoroti peran penting pusat ekspor utama seperti Pulau Kharg yang tetap beroperasi normal di tengah tekanan geopolitik.
Selain menjaga volume ekspor, Iran juga mencatat kenaikan harga jual minyak mentahnya. Pada bulan lalu, pemerintah menyebut harga minyak Iran meningkat signifikan seiring ketegangan di pasar energi global.
Kondisi ini memberikan tambahan ruang fiskal bagi pemerintah untuk membiayai pemulihan infrastruktur industri yang terdampak konflik.
Menkeu Inggris Kritik Keras Strategi Perang AS, Tidak Ada Exit Plan Jelas
Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menyampaikan kekecewaan dan kemarahannya terhadap Amerika Serikat terkait penanganan konflik dengan Iran. Ia menilai Washington tidak memiliki rencana keluar (exit plan) maupun tujuan yang jelas dalam perang tersebut.
Dalam wawancara dengan media Inggris, Reeves menegaskan bahwa konflik tersebut bukanlah perang yang diinginkan oleh Inggris. Ia juga mengkritik keputusan AS yang dinilai terburu-buru tanpa strategi yang matang.
"Ini adalah perang yang tidak kami mulai. Ini adalah perang yang tidak kami inginkan. Saya merasa sangat frustrasi dan marah karena Amerika Serikat memasuki perang ini tanpa rencana keluar yang jelas, tanpa gagasan yang jelas tentang apa yang ingin mereka capai," ujar Reeves.
Menurutnya, ketiadaan arah kebijakan yang jelas telah memperburuk situasi di kawasan, termasuk berdampak pada jalur energi global.
"Dan akibatnya, Selat Hormuz sekarang telah tertutup," tambahnya.
Penutupan Selat Hormuz—yang merupakan jalur utama distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia—telah memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas energi dan ekonomi.
Maskapai Eropa Desak Uni Eropa Ambil Langkah Darurat Imbas Perang Iran
Sejumlah maskapai penerbangan di Eropa mendesak Uni Eropa untuk segera mengambil langkah darurat guna mengatasi dampak perang Iran terhadap sektor aviasi. Permintaan ini mencakup penanganan penutupan wilayah udara hingga potensi krisis bahan bakar pesawat (jet fuel) yang kian mengkhawatirkan.
Dalam dokumen yang diperoleh Reuters, kelompok industri Airlines for Europe meminta Uni Eropa mengeluarkan serangkaian kebijakan respons krisis. Di antaranya adalah pemantauan pasokan bahan bakar jet di tingkat regional, penangguhan sementara pasar karbon untuk sektor penerbangan, serta penghapusan sejumlah pajak penerbangan.
Sektor penerbangan Eropa terdampak signifikan sejak konflik antara AS-Israel dan Iran dimulai pada 28 Februari lalu. European Union Aviation Safety Agency bahkan telah melarang maskapai Eropa melintasi wilayah udara sejumlah negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Qatar, hingga 24 April.
Penutupan wilayah udara ini memaksa maskapai mengubah rute penerbangan, meningkatkan biaya operasional, serta memperpanjang waktu tempuh perjalanan.
Selain itu, industri penerbangan juga menghadapi ancaman kekurangan bahan bakar jet akibat terganggunya distribusi energi global. Penutupan Selat Hormuz—jalur utama sekitar 20% pasokan minyak dunia—menjadi pemicu utama potensi krisis ini.
Kelompok industri bandara Airports Council International Europe bahkan memperingatkan bahwa Eropa dapat menghadapi kekurangan sistemik bahan bakar jet dalam waktu tiga minggu ke depan.
Sebagai respons, A4E mendorong Brussels untuk mempertimbangkan pembelian bersama bahan bakar jet (kerosin) di tingkat Uni Eropa. Model ini sebelumnya telah diterapkan untuk gas alam setelah Rusia memangkas pasokan energi ke Eropa pada 2022, meskipun belum pernah digunakan untuk minyak atau bahan bakar penerbangan.
Selain itu, A4E juga meminta penyesuaian aturan cadangan energi darurat. Saat ini, negara-negara Uni Eropa diwajibkan memiliki cadangan minyak selama 90 hari, namun belum ada ketentuan khusus terkait cadangan bahan bakar jet.
Industri juga meminta kejelasan regulasi terkait slot penerbangan, khususnya agar penutupan wilayah udara akibat konflik dapat dikategorikan sebagai kondisi “force majeure” atau penggunaan slot yang dibenarkan.
European Commission menyatakan akan mengajukan paket kebijakan pada 22 April untuk meredam dampak perang Iran terhadap pasar energi. Namun, belum ada kepastian apakah kebijakan tersebut akan mencakup langkah spesifik terkait bahan bakar jet.
Korsel Siapkan Langkah Darurat Hadapi Dampak Ketegangan di Selat Hormuz
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz membuat prospek dampak perang Iran sulit diprediksi secara optimistis. Ia menilai harga minyak yang tinggi serta gangguan rantai pasok kemungkinan akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Dalam rapat kabinet pada Selasa, Lee menyatakan pemerintah perlu mengantisipasi gangguan berkepanjangan di pasar energi dan bahan baku global, serta memperkuat sistem respons darurat.
“Untuk sementara waktu, kesulitan dalam rantai pasok energi dan bahan baku global serta tingginya harga minyak akan terus berlanjut,” ujar Lee.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan rantai pasok alternatif, restrukturisasi industri jangka menengah hingga panjang, serta percepatan transisi menuju ekonomi pasca-plastik sebagai proyek strategis nasional prioritas.
Selain itu, Lee meminta kementerian terkait segera merealisasikan anggaran tambahan yang telah disahkan sebagai respons terhadap perang tersebut.
Dalam rapat tersebut, para menteri memaparkan langkah-langkah untuk meredam dampak ekonomi konflik, termasuk dukungan impor minyak mentah, pengawasan terhadap penimbunan bahan baku petrokimia dan pasokan medis, serta perluasan bantuan keuangan bagi perusahaan terdampak.
Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan menyebut gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz masih memengaruhi pasokan. Bahkan jika jalur tersebut kembali normal, pengiriman kargo dari Timur Tengah ke Korea Selatan diperkirakan memerlukan waktu sekitar 20 hari.
Pemerintah juga memprioritaskan kelancaran perjalanan tujuh kapal tanker minyak tujuan Korea Selatan yang saat ini tertahan di kawasan Teluk.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Cho Hyun menyampaikan pihaknya telah mengirim pejabat ke Republik Kongo, Aljazair, dan Libya guna mengamankan pasokan energi. Kepala Staf Presiden Kang Hoon-sik juga diketahui melakukan perjalanan ke sejumlah negara, termasuk Kazakhstan, sejak pekan lalu.
Lee turut menyerukan agar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik mengambil langkah berani menuju perdamaian, dengan berlandaskan pada prinsip perlindungan hak asasi manusia universal serta pelajaran dari sejarah.
Di sisi lain, Kementerian Energi Korea Selatan mengumumkan akan mulai menerapkan sistem tarif listrik musiman dan berbasis waktu penggunaan yang telah direvisi. Kebijakan ini bertujuan mengalihkan konsumsi listrik dari jam puncak malam ke siang hari, saat produksi energi surya lebih tinggi. Tarif baru bagi pengguna industri besar akan mulai berlaku pada 16 April, sementara diskon akhir pekan untuk pengisian kendaraan listrik akan dimulai pada 18 April.