News Komoditi & Global ( Kamis, 9 Juli 2026 )
News Komoditi & Global
( Kamis, 9 Juli 2026 )
Harga Emas Global Melemah Setelah Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Telah Berakhir
Harga emas dunia melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) seiring lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dengan Iran telah "berakhir". Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,9% menjadi US$ 4.067,39 per ons troi pada pukul 14.10 EDT (18.10 GMT), setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 1 Juli. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup turun 1,8% ke level US$ 4.082,40 per ons troi. Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$ 1 per Barel, AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran "Faktor utama yang mendorong pergerakan hari ini adalah meningkatnya eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Dengan potensi berakhirnya gencatan senjata, hampir seluruh aset berisiko mengalami tekanan, termasuk emas," kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures. Ketegangan meningkat setelah Iran mengklaim menyerang sejumlah fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan militer AS terhadap sasaran di Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah kapal-kapal tanker di Selat Hormuz menjadi target serangan. Di saat yang sama, harga minyak mentah melonjak lebih dari 5%. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi dan mendorong bank sentral menaikkan suku bunga untuk menekan tekanan harga. Meskipun emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi, logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil tersebut cenderung kurang diminati ketika suku bunga berada pada level tinggi. Baca Juga: Gencatan Senjata Berakhir, Trump Siap Serang Iran Dengan Keras Malam Ini Kekhawatiran terhadap inflasi juga mengemuka dalam rapat kebijakan Federal Reserve bulan lalu. Risalah rapat The Fed menunjukkan para pejabat bank sentral khawatir tekanan harga semakin meluas dan mungkin memerlukan kenaikan suku bunga. Beberapa peserta rapat pada 16-17 Juni bahkan menilai terdapat alasan untuk segera menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September mencapai sekitar 69%, meningkat dari 62% sehari sebelumnya. Sementara itu, Bank of America dalam riset yang diterbitkan Selasa memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi US$ 4.360 per ons troi, seiring prospek kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih agresif (hawkish). Baca Juga: Denmark Tegaskan Siap Pertahankan Setiap Inci Wilayah NATO, Termasuk Greenland Meski demikian, bank tersebut masih memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$ 5.000 per ons troi setelah siklus pengetatan moneter berakhir. Adapun logam mulia lainnya juga ditutup melemah. Harga perak spot turun 2,9% menjadi US$ 58,25 per ons troi, platinum merosot 3,6% ke US$ 1.580,92 per ons troi, dan paladium turun 4,5% menjadi US$ 1.219,84 per ons troi.
Harga Minyak Dunia Meroket: Konflik Iran-AS Memanas Lagi!
Harga minyak melonjak lebih dari 6% dan mencapai level tertinggi dua minggu setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik dengan Iran "berakhir”. Hal ini memperbarui kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak Timur Tengah. Rabu (8/7/2026) pukul 16.45 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 melonjak US$ 4,57, atau 6,16% menjadi US$ 78,73 per barel. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 naik US$ 4,23, atau 6,01%, menjadi US$ 74,67 per barel. Harga minyak mentah acuan tersebut berada pada level tertinggi sejak 22 Juni. Keduanya naik sekitar 3% pada hari Selasa (7/7/2026) setelah AS mencabut izin umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah Iran. Baca Juga: Vietnam Kaji Penambahan PLTU di Tengah Ketidakpastian Pasokan LNG Global Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Iran untuk mengakhiri konflik telah "berakhir", menambahkan bahwa ia tidak ingin terlibat dengan Teheran. Kesepakatan yang ditengahi oleh Pakistan bulan lalu untuk memberikan jangka waktu 60 hari untuk negosiasi, mengalami tekanan setelah AS melancarkan serangan baru terhadap Iran. "Pasar kembali dipaksa untuk memperhitungkan risiko bahwa serangan baru terhadap pelayaran, atau keretakan yang lebih luas dalam hubungan AS-Iran, dapat memperlambat normalisasi arus melalui Selat Hormuz," kata analis Saxo Bank, Ole Hansen. Serangan udara AS tersebut merupakan tanggapan terhadap serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz, kata Komando Pusat AS pada hari Selasa. Garda Revolusi Iran kemudian mengatakan mereka menargetkan situs militer AS di Bahrain dan Kuwait pada Rabu pagi. Serangan tersebut memperbarui kekhawatiran tentang lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, yang membawa sekitar seperlima pasokan energi global sebelum perang dimulai pada akhir Februari. KEKHAWATIRAN PASOKAN KEMBALI MUNCUL "Pernyataan Trump bahwa MOU telah berakhir meningkatkan kemungkinan penutupan kembali Selat karena siklus eskalasi dimulai lagi," kata Sauk Kavoniv, kepala penelitian di MST Marquee. Setidaknya empat kapal tanker minyak dan gas telah berbalik arah dari upaya melintasi selat, data pelacakan kapal menunjukkan, karena serangan baru terhadap kapal meningkatkan kekhawatiran keselamatan. "Tantangan pasokan yang mendasar belum hilang, tetapi eskalasi terbaru telah mengganggunya," tambah Hansen. Baca Juga: China Longgarkan Pembatasan Ekspor Bahan Bakar Setelah AS dan Iran menandatangani gencatan senjata bulan lalu, harga minyak anjlok ke level sebelum perang dan para pedagang mengumpulkan posisi short yang besar dalam kontrak berjangka minyak, bertaruh harga akan turun lebih jauh. Sejak awal konflik, berbagai negara telah mengurangi persediaan mereka untuk menutupi kekurangan pasokan. "Menurut saya, harga yang lebih dekat ke $80 per barel lebih konsisten dengan fundamental pasar saat ini daripada $70," kata Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB. Sementara itu, China telah mencabut pembatasan ekspor bahan bakar olahan untuk sisa bulan Juli dan mengizinkan kilang swasta untuk melanjutkan pengiriman setelah penghentian selama empat bulan, kata sumber perdagangan pada hari Rabu, karena kilang terbesar di dunia kembali normal setelah gangguan akibat perang Iran.
Wall Street Berakhir Beragam Rabu (8/7), Ancaman Serangan ke Iran Bayangi Pasar
Indeks saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Indeks S&P 500 berakhir di zona merah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri perang dengan Iran telah "berakhir", sehingga memicu kekhawatiran baru di pasar. Baca Juga: Hari Ini (9/7) Perdagangan Perdana IPO Saham PRDL, Cek Simulai ARA & ARB Melansir Reuters, Indeks S&P 500 turun 0,28% ke level 7.482,71. Sementara itu, Nasdaq Composite justru naik 0,20% ke 25.870,65, sedangkan Dow Jones Industrial Average merosot 1,09% ke 52.348,39. Di sektor semikonduktor, indeks PHLX Semiconductor menguat 2,23% dipimpin oleh Broadcom yang melonjak 4,8%. Kenaikan saham Broadcom terjadi setelah Apple mengumumkan rencana menggelontorkan lebih dari US$ 30 miliar sebagai bagian dari kesepakatan pasokan chip yang dicapai awal pekan ini dengan Broadcom. Baca Juga: Diversifikasi Bisnis Perkokoh Fundamental BUMI "Setiap kali Apple mengumumkan penggunaan produk atau teknologi sebuah perusahaan, dampaknya sangat positif, apalagi ada sekitar 2,5 miliar perangkat Apple yang digunakan di seluruh dunia," kata Art Hogan, Chief Market Strategist di B. Riley Wealth. Saham Nvidia juga naik 3,65% setelah The Information melaporkan bahwa China berencana mengizinkan perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka di negara tersebut membeli sejumlah terbatas chip H200 buatan Nvidia. Sebaliknya, saham-saham teknologi berkapitalisasi besar bergerak melemah. Microsoft dan Alphabet masing-masing turun lebih dari 1%, sementara Meta Platforms kehilangan 2%. Di luar sektor teknologi, SpaceX turun 0,8% ke US$ 148,38, menjadi penutupan terendah sejak perusahaan antariksa tersebut melantai di bursa pada 12 Juni. Sebanyak sembilan dari 11 sektor dalam S&P 500 ditutup melemah. Sektor industri memimpin penurunan dengan koreksi 3,41%, disusul sektor material yang turun 2,45%. Baca Juga: Wall Street Merana: Pernyataan Trump Tentang Iran Membebani Pasar Saham AS Dalam pernyataannya saat menghadiri KTT NATO di Turki, Trump mengatakan tidak tertarik melanjutkan pembicaraan dengan Iran dan memperingatkan bahwa Washington kemungkinan akan melancarkan serangan tambahan pada Rabu malam waktu setempat. Pernyataan tersebut menjadi pukulan terbaru bagi upaya diplomasi yang selama ini silih berganti antara ancaman eskalasi dan harapan tercapainya perdamaian, sehingga membuat investor kembali diliputi ketidakpastian. "Yang menjadi kunci adalah durasinya. Berapa lama konflik ini akan berlangsung? Jika kita melihat kerusakan terhadap infrastruktur Iran, pasar kemungkinan harus merespons lebih serius karena besar kemungkinan akan ada aksi balasan dari Iran," ujar Rob Haworth, Senior Investment Strategist di U.S. Bank Wealth Management. Harga minyak dunia melonjak setelah pernyataan Trump. Minyak mentah Brent ditutup naik 5,2%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat seiring aksi jual di pasar obligasi. Baca Juga: OJK Wajibkan Sertifikasi Influencer Kripto, Industri Nilai Tingkatkan Kredibilitas Lonjakan harga minyak tersebut memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi dan berpotensi memperumit arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed). Saham-saham sektor perjalanan yang sensitif terhadap kenaikan harga energi ikut tertekan. United Airlines dan Delta Air Lines masing-masing turun lebih dari 1%. Operator kapal pesiar juga melemah, dengan Carnival turun 3,9% dan Norwegian Cruise Line terkoreksi 1,9%. Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3%, seraya memperingatkan risiko yang masih ditimbulkan oleh konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, risalah rapat kebijakan Federal Reserve bulan lalu menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pejabat bank sentral terhadap inflasi. Para pelaku pasar kini memperkirakan The Fed berpeluang menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang, berdasarkan proyeksi CME FedWatch.
Timur Tengah Kembali Membara! Serangan Drone Iran Menarget Militer AS
Tentara Iran telah melakukan serangan drone terhadap titik-titik berkumpul militer AS di Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Itu memperluas respons militer Republik Islam terhadap serangan udara Amerika di wilayah Iran. Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu, Kantor Hubungan Masyarakat Angkatan Darat Republik Islam Iran mengatakan operasi tersebut diluncurkan sebagai tanggapan terhadap “serangan AS yang bermusuhan” terhadap wilayah militer dan sipil di Iran selatan dan pelanggaran perjanjian gencatan senjata 14 poin.
"Menyusul agresi permusuhan musuh Amerika terhadap wilayah militer dan sipil di selatan negara itu dan pelanggaran nota kesepahaman 14 pasal, pesawat tak berawak Angkatan Darat Republik Islam Iran, sejak pagi hari ini (Rabu), menargetkan titik-titik berkumpul pasukan musuh Amerika di 'Pangkalan Sheikh Isa' di Bahrain," demikian bunyi pernyataan tersebut, dilansir Press TV. Angkatan Darat memperingatkan bahwa pelanggaran lebih lanjut akan ditanggapi dengan serangan yang lebih luas, menyatakan bahwa "konsekuensi dari pelanggaran dan pelanggaran gencatan senjata yang terang-terangan dan berulang oleh Amerika yang kriminal" akan ditanggung oleh pasukan AS, dan bahwa "semua pangkalan Amerika di wilayah tersebut akan menjadi target yang sah bagi pesawat tak berawak Angkatan Darat." Pengumuman itu datang beberapa jam setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan telah menyerang 85 fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait dan menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak MQ-9 Amerika di atas provinsi Bushehr. Serangan-serangan itu digambarkan oleh IRGC sebagai "respons awal" terhadap agresi udara AS terhadap pangkalan pesisir dan stasiun sipil di provinsi Hormozgan dan Mahshahr. Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan telah menyerang 85 target militer AS di Bahrain dan Kuwait dengan rudal dan drone sebagai respons awal terhadap agresi Amerika terhadap wilayah Iran. Pada Rabu pagi, media Iran melaporkan beberapa ledakan di dekat Kabupaten Sirik dan Pulau Qeshm di Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Seorang anggota IRGC gugur saat menghadapi drone AS yang agresif di kota pelabuhan selatan Mahshahr, demikian diumumkan oleh Wilayah Angkatan Laut Ketiga IRGC. Pasukan tersebut mengidentifikasinya sebagai Mohammad Reza Khozini dan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia gugur "akibat pecahan peluru" selama pertempuran dengan drone musuh. Seorang koresponden dari Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) juga mengatakan bahwa proyektil musuh telah "melukai beberapa orang" di pelabuhan perikanan dan perdagangan Sirik. Ini bukan pertama kalinya Amerika Serikat menargetkan wilayah Iran sejak tercapainya MoU antara Teheran dan Washington pada bulan Juni. Angkatan Bersenjata Iran telah menanggapi setiap kejadian dengan serangan balasan yang tegas terhadap target-target strategis dan sensitif Amerika di seluruh wilayah tersebut. Hal ini terjadi pada saat negara tetangga Irak mengadakan prosesi pemakaman besar-besaran untuk Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Iran dan AS Saling Serang, Trump: Gencatan Senjata Berakhir
Presiden AS Donald Trump mengatakan perjanjian gencatan senjata dengan Iran "berakhir", mengecam kepemimpinan negara itu sebagai "sampah" dan "orang gila" setelah terjadi baku tembak baru. Berbicara menjelang KTT NATO di Turki, presiden mengatakan para negosiator AS dapat melanjutkan pembicaraan "jika mereka mau" tetapi mengatakan dia melihatnya sebagai "buang-buang waktu". Harga minyak naik menjadi USD78 (£58) per barel setelah komentar Trump, meskipun harga masih jauh di bawah harga tertinggi yang terlihat selama penutupan penuh Selat Hormuz. AS dan Iran kembali terlibat pertempuran pada Selasa malam hingga Rabu, dalam baku tembak terburuk sejak mereka menandatangani kesepakatan sementara pada bulan Juni yang menyerukan diakhirinya konflik dan jalur aman bagi kapal melalui selat tersebut. "Saya rasa ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi, mereka sampah... mereka dipimpin oleh orang-orang sakit dan mereka orang-orang yang kejam dan brutal," kata Trump, dilansir BBC. "Kita membuat kesepakatan. Mereka [Iran] keluar, berbicara kepada pers, mereka mengatakan 'kami bahkan tidak pernah membicarakannya'. Ada yang salah dengan mereka. Mereka gila. Sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir." Gelombang serangan baru dimulai setelah tiga kapal tanker minyak diserang di Selat Hormuz, dengan Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka telah melancarkan serangan "kuat" sebagai tanggapan. Pada hari Rabu, Iran mengatakan telah menargetkan situs militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan AS. AS juga mengatakan telah mencabut penangguhan sementara sanksi terhadap penjualan minyak Iran. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh AS melanggar Nota Kesepahaman (MoU) mereka tentang masalah ini, dan masalah lainnya, termasuk serangan di Iran selatan dan "melanggar kesepakatan Iran di Selat Hormuz". "Era intimidasi dan pemerasan telah berakhir. Itu tidak akan membawa ke mana-mana. Kami tidak akan menyerah," katanya. Kepala NATO Mark Rutte menggambarkan serangan Amerika sebagai "benar-benar diperlukan", mengatakan bahwa Iran "pada dasarnya melanggar gencatan senjata". Ini bukan pertama kalinya serangan terjadi setelah MoU ditandatangani pada 17 Juni. AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran pada 26 Juni setelah sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo di Selat Hormuz. Serangan AS lebih lanjut terjadi pada 27 Juni, menyusul serangan terhadap kapal kargo. Pada tanggal 29 Juni, kedua belah pihak telah sepakat untuk "menghentikan operasi militer". Sebagian dari 14 poin MoU tersebut adalah "penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini". Iran setuju untuk menggunakan "upaya terbaiknya untuk memastikan jalur aman bagi kapal-kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari". Kedua belah pihak melanjutkan negosiasi mengenai syarat-syarat pengakhiran perang secara permanen, tetapi pembicaraan dihentikan sementara selama upacara pemakaman almarhum Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama serangan AS-Israel di Iran. Upacara pemakaman berlangsung di Irak pada hari Rabu, dengan upacara terakhir dan pemakaman dijadwalkan di Mashhad di timur laut Iran pada hari Kamis. Tidak jelas kapan pembicaraan akan dilanjutkan setelah serangan terbaru ini, karena Trump menanggapi pertanyaan tentang negosiasi lebih lanjut dengan komentar: "Saya tidak peduli". "Terus terang, saya tidak ingin membuang waktu saya dengan mereka. Sekarang, saya akan membiarkan para negosiator hebat kita terus berbicara jika mereka mau, tetapi saya tidak melihat kemungkinan itu," kata Trump. "Sejauh yang saya ketahui, berurusan dengan mereka hanya membuang waktu. Mereka pembohong." Trump juga menyebut utusan khususnya, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, menyebut mereka "orang baik" yang bisa bernegosiasi jika mereka mau. Keduanya sebelumnya berperan dalam perundingan perdamaian. "Saya akan berbicara dengan para negosiator kita, jika mereka ingin bernegosiasi, mereka orang baik - Steve Witkoff, Jared Kushner - tetapi mereka harus kembali kepada saya, sejauh yang saya ketahui itu hanya membuang waktu."
Trump Luapkan Kemarahan ke NATO, Ini 4 Pemicunya
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia "sangat kecewa dengan NATO" pada hari pertama KTT para pemimpin aliansi pertahanan bersama di Turki yang mengungkap ketegangan atas pengeluaran pertahanan Eropa, perang Rusia-Ukraina, dan masa depan Greenland. Trump tiba di Ankara pada hari Selasa untuk KTT tersebut bersama para pemimpin NATO lainnya. Sesi utama akan berlangsung pada hari Rabu. KTT ini berlangsung pada saat yang rapuh bagi aliansi berusia 77 tahun ini, yang telah menyaksikan Trump menabur perselisihan atas Iran, Greenland, dan komitmen Washington untuk melindungi anggota lainnya. Setelah mengkritik sekutu NATO selama konferensi pers dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Trump mengatakan bahwa jika KTT tersebut "tidak diadakan di Turki, di mana teman saya kebetulan adalah pemimpin yang sangat kuat, orang yang sangat kuat, mungkin saya tidak akan hadir". Trump Luapkan Kemarahan ke NATO, Ini 4 Pemicunya 1. NATO Tidak Mendukung Perang Iran Trump juga menyebut negara-negara Eropa yang menurutnya tidak mendukung selama perang AS-Israel melawan Iran, dengan mengatakan, “Kita tidak diperlakukan dengan baik karena kita melakukan sesuatu di Iran.” “Mengapa kita menghabiskan ratusan miliar dolar ketika mereka tidak ada untuk kita? Kita selalu ada untuk mereka,” katanya. “Italia menolak kita, dan Jerman menolak kita, dan Prancis menolak kita.” Presiden AS memandang Ankara dengan lebih positif, mengomentari “kecocokan” antara AS dan Turki, berjanji untuk mencabut sanksi dan mengatakan bahwa ia akan segera memutuskan tentang potensi penjualan F-35. “Kita memiliki hubungan yang sangat baik,” katanya. 2. Anggota NATO Hemat dalam Pengeluaran Pertahanan Agenda NATO tahun ini yang utama adalah janji para anggota – sebagian didorong oleh tekanan dari Trump – untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka. Namun, hanya lima anggota NATO yang diproyeksikan akan memenuhi target aliansi untuk menghabiskan 3,5 persen dari produk domestik bruto mereka untuk pertahanan inti pada tahun 2026, menurut data NATO terbaru yang diterbitkan sebelum KTT tersebut. Angka tersebut berasal dari kesepakatan yang dicapai di Den Haag tahun lalu, yang meningkatkan target pengeluaran untuk item inti, seperti senjata dan tentara, dari sebelumnya 2 persen. Para anggota juga berjanji untuk menghabiskan 1,5 persen lagi dari PDB untuk item terkait pertahanan yang lebih luas, seperti meningkatkan keamanan siber. Pada malam KTT Ankara, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menuntut "rencana yang jelas, konkret, dan kredibel" untuk pengeluaran pertahanan sambil menegaskan bahwa bukti sejauh ini "mengesankan". Dalam pidatonya di forum industri pertahanan pada hari Selasa, Rutte menunjuk pada ancaman dari Tiongkok, Korea Utara, dan Iran – selain Rusia, yang industri pertahanannya "bekerja tanpa henti" untuk memasok perang di Ukraina. "Kita harus tetap waspada," kata Rutte. "Negara-negara ini semakin bekerja sama." Analis Alexandru Hudisteanu mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pendekatan "agresif" Trump "membangkitkan kesadaran warga Eropa" bahwa mereka perlu mengeluarkan lebih banyak dana. Namun, data NATO menunjukkan bahwa beberapa negara anggota diperkirakan hanya akan menghabiskan sekitar 2 persen dari PDB mereka. 3. Tak Sepakat dengan Penjualan Greenland Presiden AS juga kembali memicu ketegangan atas Greenland, dengan mengatakan kepada wartawan bahwa wilayah tersebut “harus dikendalikan oleh Amerika Serikat, bukan oleh Denmark”. Trump telah bersikeras selama berbulan-bulan bahwa mengambil alih wilayah otonom Denmark itu sangat penting bagi keamanan AS, menyebabkan ketegangan dengan Kopenhagen dan di seluruh Eropa. Berbicara di Ankara setelah pernyataan Trump, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan dia mengharapkan sekutu untuk menghormati kedaulatan Denmark dan menerima bahwa Greenland tidak untuk dijual. “Sudah menjadi posisi Amerika Serikat yang terkenal bahwa mereka ingin memiliki dan mengambil alih Greenland. Saya berharap bahwa hal ini juga diketahui di mana-mana bahwa ini tidak akan terjadi,” kata Frederiksen. Tidak ada rencana untuk membahas Greenland, Arktik, atau Kutub Utara selama KTT tersebut, tambahnya. Menteri Luar Negeri Greenland Mute Egede menulis di Facebook bahwa masa depan Greenland harus diputuskan oleh rakyatnya. “Begitulah selalu keadaannya,” katanya. “Dan begitulah keadaannya akan selalu.” 4. Perang Rusia-Ukraina NATO diperkirakan akan menjanjikan dukungan militer lebih lanjut untuk Ukraina, karena Presiden Volodymyr Zelenskyy mendesak aliansi tersebut untuk meningkatkan bantuan bagi pertahanan udara negara itu setelah eskalasi mematikan serangan Rusia di Kyiv. Zelenskyy – yang telah memperbarui seruannya agar Ukraina diizinkan bergabung dengan aliansi – menulis di Facebook pada hari Selasa bahwa ia telah menandatangani perjanjian baru dengan Estonia, Belanda, dan Denmark.
AS dan Iran Saling Serang, Jutaan Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei di Irak
Jutaan pelayat berkumpul di kota-kota suci Irak, Najaf dan Karbala, untuk upacara pemakaman Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei , dengan otoritas Irak melaporkan kehadiran jutaan orang, termasuk tokoh-tokoh politik senior Irak yang turut serta dalam upacara tersebut. Prosesi pemakaman resmi dimulai pukul 06.00 waktu setempat pada hari Rabu di Najaf setelah salat jenazah dilakukan di atas jenazah Ayatollah Khamenei di makam Imam Ali (AS). Melansir Press TV, prosesi pemakaman bergerak dari tempat suci melalui Jembatan Kufa dan persimpangan Thawrat al-Ashreen menuju Lapangan al-Sadreen sebelum jenazah melanjutkan perjalanan ke Karbala. Hashd al-Shaabi, Pasukan Mobilisasi Populer Irak, mengatakan lebih dari 2,3 juta orang telah ikut serta dalam prosesi pemakaman di Najaf dan jumlahnya terus meningkat seiring kedatangan pelayat dari seluruh Irak. Secara terpisah, televisi Al Mayadeen, mengutip pemerintah provinsi Karbala, melaporkan bahwa pihak berwenang telah mencatat 7 juta pelayat di Karbala. Sejak sebelum fajar, pelayat membanjiri Najaf dari seluruh Irak, yang menurut laporan menggambarkan pertemuan tersebut sebagai "jutaan orang" dan "belum pernah terjadi sebelumnya." Jalan-jalan menuju kota tersebut sangat padat karena peserta datang dari provinsi-provinsi termasuk Basra, Muthanna, dan Maysan, sementara kerumunan tambahan memasuki Najaf dari arah timur. Rute pemakaman sepanjang enam kilometer dipenuhi oleh para pelayat yang membawa potret Ayatollah Khamenei dan mengibarkan bendera Irak, Iran, dan Hizbullah. Suasana di Najaf dipenuhi duka cita saat elegi dan nyanyian bergema di seluruh kota sementara kendaraan yang disiapkan khusus untuk membawa jenazah Ayatollah Khamenei perlahan bergerak melewati kerumunan yang padat menuju rute prosesi utama. Pasukan keamanan dan panitia penyelenggara bekerja untuk mengelola kerumunan dan menjaga ketertiban selama upacara. Sebelumnya pada hari Rabu, salat jenazah diadakan untuk Ayatollah Khamenei dan anggota keluarganya di makam Imam Ali (AS) di Najaf sebelum prosesi resmi dimulai. Jenazah diangkut ke Karbala setelah upacara di Najaf. Di Karbala, jenazah dibawa ke makam Imam Hussein (AS) dan saudaranya yang gugur, Abbas (AS), untuk upacara perpisahan. Menurut laporan, tenda-tenda duka telah didirikan di sepanjang rute pemakaman dan spanduk-spanduk hitam telah dikibarkan di jalan-jalan dan alun-alun kota Najaf. Meskipun upacara pemakaman di Najaf dan Karbala diperkirakan hanya berlangsung beberapa jam, laporan mengatakan skala acara tersebut menjadikannya salah satu yang terbesar dalam sejarah modern kedua kota tersebut, yang secara rutin menjadi tuan rumah bagi jutaan peziarah selama bulan-bulan Islam Muharram, Safar, Sya'ban, dan Ramadan. Koresponden mengatakan semua jalan menuju Najaf mengalami kemacetan lalu lintas yang luar biasa karena warga Irak dan pengunjung asing terus berdatangan untuk menghadiri upacara tersebut. Di antara mereka yang hadir adalah Ammar al-Hakim, pemimpin Gerakan Kebijaksanaan Nasional Irak. Mantan Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki, yang memimpin koalisi Negara Hukum Irak, mengatakan menghadiri pemakaman Ayatollah Khamenei dan memperingati warisannya adalah "sebuah kewajiban." “Mengenang warisan Imam Sayyed Ali Khamenei yang gugur sebagai syahid, pemimpin besar bangsa Islam, dan berpartisipasi dalam pemakamannya adalah sebuah kewajiban karena beliau adalah pemimpin besar yang tetap teguh, tabah, berdiri teguh menghadapi tantangan, dan membawa kemenangan bagi bangsa Iran,” kata Maliki dalam pernyataan yang dimuat oleh Kantor Berita Irak. “Segala sesuatu yang dilakukan rakyat Irak hari ini melalui partisipasi mereka dalam pemakaman Imam Khamenei yang gugur sebagai syahid dan melalui posisi dukungan mereka lainnya, betapapun besar atau berharganya, tetap tidak cukup dibandingkan dengan keagungan tokoh besar ini, tokoh yang membentuk masa depan yang cerah tidak hanya bagi bangsa Iran tetapi juga bagi banyak negara di kawasan ini,” katanya. Maliki mengatakan Ayatollah Khamenei “tetap teguh, melawan, dan berdiri teguh melawan kekuatan-kekuatan besar yang dikenal karena kekuatan militer mereka yang luar biasa hingga kemenangan diraih,” menambahkan bahwa “bangsa Iran, melalui kesabaran, ketekunan, dan keteguhan hati meskipun menghadapi semua tantangan dan kerugian yang dideritanya, muncul sebagai pemenang.” "Kita melihat hasil dari semua ini dalam keberhasilan Republik Islam Iran, baik dalam negosiasi politik maupun di medan perang," katanya. Maliki menambahkan bahwa pesan Irak adalah bahwa "Republik Islam Iran tidak sendirian, tetapi memiliki teman-teman yang berdiri di sisinya dan mendukungnya," dan bahwa Iran "berdiri di pihak kebenaran" dan memiliki pendukung di seluruh dunia "meskipun beberapa bangsa, karena keadaan politik yang mereka alami, tidak dapat secara terbuka menyatakan dukungan tersebut." Sepanjang pagi, kerumunan orang memenuhi jalan-jalan Najaf dalam upacara perpisahan bersejarah yang dihadiri oleh jumlah pelayat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Prosesi resmi tersebut mengikuti upacara penyambutan di Bandara Internasional Najaf untuk jenazah Ayatollah Khamenei yang dihadiri oleh pejabat senior Irak dan tokoh politik serta agama terkemuka. Sebagai pengakuan atas peristiwa tersebut, Perdana Menteri Irak Ali Faleh Al-Zaidi menyatakan hari Rabu sebagai hari libur nasional resmi di seluruh Irak bertepatan dengan upacara pemakaman Pemimpin yang gugur dan keluarganya. Pemakaman yang berlangsung beberapa hari dimulai pada hari Jumat dengan jenazah Ayatollah Khamenei disemayamkan di Mosalla Imam Khomeini Teheran dan para pejabat asing serta tokoh agama memberikan penghormatan terakhir. Acara tersebut berlanjut pada hari Sabtu dan Minggu dengan perpisahan publik dan doa bersama. Pada hari Senin, jutaan orang memadati jalan-jalan Teheran saat iring-iringan jenazah melewati ibu kota Iran. Jutaan pelayat berkumpul di Masjid Jamkaran Suci di Qom pada hari Selasa untuk melaksanakan salat jenazah bagi Pemimpin yang gugur. Upacara pemakaman terakhir dijadwalkan akan berlangsung pada hari Kamis di kota Mashhad, Iran timur laut, di mana Ayatollah Khamenei akan dimakamkan di makam Imam Reza (AS), Imam Syiah kedelapan, sesuai dengan wasiat Pemimpin yang gugur. Ayatollah Khamenei dibunuh, bersama beberapa anggota keluarganya, pada tanggal 28 Februari, hari pertama perang agresi 40 hari yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Iran. Majelis Pakar kemudian menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam yang baru.
Trump Sebut MoU dengan Iran Sudah Berakhir
Perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran terancam batal. Ini setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan di KTT NATO di Ankara bahwa menurutnya nota kesepahaman dengan Iran sudah berakhir.
Ini ia sampaikan menyusul serangan yang dilakukan AS ke Iran pada Rabu pagi. "Buang-buang waktu saja berurusan dengan mereka," ujar Trump dilansir Aljazirah, kemarin. "Itu (MoU) sudah berakhir."
Ia juga sesumbar soal serangan AS ke Iran pada Rabu. "Tadi malam kami melancarkan serangan yang sangat dahsyat terhadap orang-orang yang sangat berbahaya dari Iran. Mereka sakit, ada yang tidak beres dengan mereka."
Presiden Trump, yang beberapa minggu lalu sempat melontarkan pujian bagi para pemimpin Iran, kali ini melontarkan pernyataan yang sangat keras. "Ada yang tidak beres dengan mereka. Mereka sakit. Mereka orang-orang jahat. Mereka pemain kotor," ujarnya.
Meski menyatakan MoU tak berlaku, Trump juga menyatakan negosiatornya masih terus bekerja. "Saya mungkin akan membiarkan para negosiator hebat saya terus berunding."
Presiden AS juga melontarkan kritik keras terhadap negara-negara anggota NATO dalam KTT NATO di Ankara, menyoroti apa yang ia sebut sebagai kurangnya dukungan mereka bagi AS selama konflik dengan Iran.
Kepala NATO, Mark Rutte, yang duduk di samping Trump, menyatakan bahwa 5.000 pesawat lepas landas dari bandara-bandara Eropa sebagai bentuk dukungan terhadap operasi AS di Iran. “Eropa merupakan satu landasan besar bagi proyeksi kekuatan Amerika Serikat".
Trump menepis pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa Inggris tidak mengizinkan penggunaan seluruh pangkalan militernya, sementara Italia dinilai "sangat buruk" dalam memberikan dukungan berupa penyediaan pangkalan bagi AS.
Harga minyak melonjak dan bursa saham turun setelah Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman yang mendasari gencatan senjata dengan Iran "sudah berakhir". Harga minyak mentah Brent naik 6 persen menjadi 78 dolar AS per barel, sementara bursa saham Eropa turun 1,6 persen pada hari itu. Nilai tukar dolar menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah meningkat seiring para investor mempertimbangkan risiko kembali melonjaknya inflasi.
Pada Rabu pagi, Amerika Serikat mengumumkan telah melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran sebagai respons atas dugaan serangan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran mengecam langkah Washington dan menegaskan akan mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan nasionalnya.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya telah memulai "serangkaian serangan kuat" terhadap Iran. Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan memberikan "biaya yang mahal" kepada Iran atas dugaan penargetan kapal-kapal dagang yang diawaki warga sipil di perairan internasional.
Dalam pernyataannya di platform X, CENTCOM menyebut serangan AS dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. Washington menilai tindakan tersebut tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di wilayah selatan Iran. Kantor berita Fars melaporkan asap hitam terlihat di belakang pasar ikan di Bandar Abbas setelah proyektil menghantam dermaga perikanan dan membakar beberapa kapal nelayan.
Media-media Iran juga melaporkan ledakan di sejumlah lokasi, termasuk di sekitar Sirik, Pulau Qeshm, dan Bandar Abbas. Televisi pemerintah Iran menyebut sedikitnya enam ledakan terdengar di Pulau Qeshm, pulau terbesar di sekitar Selat Hormuz yang memiliki posisi strategis dalam pengawasan jalur pelayaran tersebut.
Selain itu, sedikitnya tujuh ledakan dilaporkan terjadi di kawasan Pelabuhan Sirik yang juga berada di jalur strategis Selat Hormuz. Media pemerintah Iran menyebut proyektil menghantam dermaga komersial di Sirik, dermaga perikanan di Desa Ziyarat, serta memicu beberapa ledakan di area pelabuhan.
Otoritas Iran menyatakan bahwa serangan AS yang terjadi semalam menghantam sejumlah wilayah di Provinsi Khuzestan, menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya.
Serangan tersebut mengenai lokasi-lokasi di kota Mahshahr, Pelabuhan Imam Khomeini, dan Hamidieh di provinsi bagian barat daya itu, menurut seorang pejabat keamanan provinsi yang dikutip oleh kantor berita Tasnim.
Situasi di Selat Hormuz dilaporkan kembali memanas setelah sebelumnya hanya terjadi konfrontasi terbatas pascapenandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait pengelolaan kawasan tersebut.
Di sisi diplomatik, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Amerika Serikat melanggar Pasal 10 dalam MoU setelah mencabut pengecualian sementara terhadap sanksi penjualan minyak Iran. Dalam pernyataannya, Teheran menyebut keputusan Departemen Keuangan AS sebagai pelanggaran nyata terhadap nota kesepahaman yang ditandatangani pada 18 Juni.
Iran menilai pencabutan kebijakan tersebut, yang dilakukan kurang dari 20 hari setelah penandatanganan MoU, menunjukkan itikad tidak baik Washington dan menjadi bukti bahwa pemerintah AS tidak dapat dipercaya. Teheran juga menuduh AS berulang kali melanggar isi nota kesepahaman, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui tindakan Israel di Lebanon.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa pada Rabu dini hari, "militer AS yang bertindak sebagai teroris, dalam pelanggaran nyata terhadap Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB, melakukan agresi militer terhadap sejumlah pusat pemantauan dan pengawasan di pesisir selatan Iran." Pihaknya mencatat bahwa serangan-serangan ini "merupakan pelanggaran mencolok terhadap Ayat 1 Nota Kesepahaman tentang Pengakhiran Perang, yang mengamanatkan penghentian operasi militer".
Pernyataan tersebut juga menyoroti "kewajiban hukum internasional bagi semua pemerintah, khususnya negara-negara tetangga yang terletak di pesisir selatan Teluk Persia, untuk mencegah pihak agresor menggunakan wilayah dan fasilitas mereka guna melakukan tindakan agresif terhadap Republik Islam Iran."
Ditambahkan pula bahwa setiap kerja sama dalam melakukan kejahatan agresi terhadap Iran merupakan bentuk keterlibatan dan partisipasi dalam kejahatan tersebut.
Sembari mengingatkan Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal mengenai tanggung jawab mereka, kementerian tersebut menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran "tidak akan ragu untuk mempertahankan integritas wilayah, kedaulatan nasional, dan keamanan nasional Iran dari agresi militer AS sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB, serta akan menargetkan sumber dan asal-usul agresi tersebut", demikian bunyi pernyataan itu.
Sementara itu, Iran juga membantah tuduhan Qatar terkait dugaan serangan terhadap kapal pengangkut LNG yang berafiliasi dengan Qatar di Selat Hormuz. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut tuduhan tersebut membingungkan dan menegaskan Iran tetap berkomitmen menjaga keselamatan pelayaran di jalur strategis tersebut sesuai ketentuan dalam nota kesepahaman.
NATO Kini Cari Dana ke Investor Swasta untuk Perang
NATO meluncurkan inisiatif baru untuk menggalang modal swasta guna membiayai industri pertahanan dan keamanan di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat agar negara-negara anggota menaikkan belanja militer. Langkah ini diambil ketika banyak negara Eropa menghadapi keterbatasan anggaran untuk memenuhi target pengeluaran pertahanan yang semakin tinggi.
Inisiatif bertajuk "Call to Action" itu diumumkan pada Selasa (8/7) dalam Forum Industri Pertahanan NATO yang untuk pertama kalinya digelar bersamaan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki.
Melalui inisiatif tersebut, NATO mengajak lembaga-lembaga keuangan komersial untuk meningkatkan penyaluran pinjaman dan investasi ekuitas bagi industri pertahanan dan keamanan guna mempercepat produksi persenjataan serta pengembangan teknologi militer.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan kebutuhan aliansi terhadap kemampuan militer terus meningkat sehingga diperlukan sumber pendanaan yang lebih besar untuk memperluas kapasitas industri pertahanan dan mendorong inovasi.
"Pendanaan swasta di sektor ini memang meningkat, tetapi masih jauh dari cukup," ujar Rutte saat menyampaikan pidato dalam forum tersebut.
Menurutnya, NATO ingin memperluas skema investasi bersama antara sektor publik dan swasta sehingga beban pembiayaan pengembangan industri pertahanan tidak sepenuhnya ditanggung oleh anggaran pemerintah negara-negara anggota.
Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, setiap negara anggota NATO diharapkan membangun mekanisme pembiayaan domestik yang mampu menarik partisipasi investor swasta dalam mendukung industri pertahanan nasional.
Sejumlah lembaga keuangan besar Barat, seperti Barclays, Citi, dan Deutsche Bank, telah bergabung dalam kerangka pendanaan tersebut. NATO menyebut berbagai institusi keuangan yang terlibat telah memobilisasi dana sekitar 217 miliar dolar AS untuk investasi di sektor keamanan dan pertahanan.
Langkah NATO menggandeng sektor swasta ini muncul ketika aliansi berupaya membangun kembali stok persenjataan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi industri militernya. Upaya tersebut juga berlangsung di tengah desakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar seluruh anggota NATO menaikkan belanja pertahanan dari 2 persen menjadi 5 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Dengan kondisi fiskal banyak negara Eropa yang semakin terbatas, NATO kini semakin mengandalkan pasar keuangan dan modal swasta sebagai sumber pembiayaan baru untuk mempercepat ekspansi kemampuan militernya.
Peningkatan Kebutuhan Belanja
Peralihan NATO ke pendanaan swasta tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan belanja pertahanan yang jauh melampaui kemampuan anggaran banyak negara anggotanya. Sejak perang Rusia-Ukraina pecah, negara-negara NATO berupaya mempercepat produksi amunisi, rudal, sistem pertahanan udara, hingga berbagai teknologi militer baru untuk memperkuat kesiapan tempur aliansi.
Di sisi lain, banyak negara Eropa masih menghadapi tekanan fiskal akibat tingginya utang publik, perlambatan ekonomi, dan meningkatnya beban belanja sosial. Kondisi tersebut membuat pemerintah kesulitan menyediakan tambahan anggaran dalam waktu singkat untuk memenuhi target belanja pertahanan yang terus meningkat, terlebih setelah Amerika Serikat mendorong kenaikan target pengeluaran militer menjadi 5 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Melalui skema investasi publik-swasta, NATO berharap dapat mempercepat aliran modal ke industri pertahanan tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah. Keterlibatan lembaga keuangan komersial dinilai dapat membantu memperluas kapasitas produksi, mempercepat inovasi teknologi militer, serta memastikan rantai pasok industri pertahanan tetap mampu memenuhi kebutuhan keamanan aliansi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Peningkatan Kemampuan Militer
Masuknya modal swasta ke industri pertahanan NATO berpotensi mempercepat peningkatan kapasitas produksi senjatadan teknologi militer negara-negara anggota. Jika sebelumnya ekspansi industri pertahanan sangat bergantung pada siklus anggaran pemerintah yang memerlukan persetujuan politik, skema pembiayaan baru ini memungkinkan perusahaan pertahanan memperoleh akses pendanaan yang lebih cepat untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan inovasi.
Bagi Rusia, langkah tersebut kemungkinan akan dipandang sebagai upaya NATO memperkuat kemampuan militernya dalam jangka panjang, bukan sekadar merespons konflik di Ukraina. Kondisi itu berpotensi mendorong Moskow mempercepat modernisasi persenjataan, meningkatkan produksi industri pertahanan, serta memperdalam kerja sama militer dengan negara-negara mitra seperti Belarus, Iran, dan Korea Utara, sehingga persaingan strategis dapat semakin meningkat.
Di tingkat global, keterlibatan sektor keuangan dalam pembiayaan industri pertahanan diperkirakan akan mempercepat perlombaan teknologi militer, mulai dari sistem pertahanan udara, rudal jarak jauh, hingga kecerdasan buatan untuk kebutuhan pertahanan. Sejumlah pengamat menilai dinamika tersebut dapat mengubah keseimbangan militer dunia, ketika persaingan kekuatan tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya anggaran negara, tetapi juga oleh kemampuan menarik investasi swasta untuk mendukung pengembangan industri pertahanan.
China Salip AS di Fintech, Kini Kuasai Paten Teknologi Keuangan Dunia
China semakin mengukuhkan dominasinya dalam inovasi teknologi keuangan (fintech) global. Dalam satu dekade terakhir, negara tersebut menjadi pemimpin dunia, tidak hanya dari sisi jumlah permohonan paten, tetapi juga kualitas inovasi yang dihasilkan.
Temuan itu terungkap dalam survei yang dirilis Nikkei pada Selasa. Survei tersebut disusun bersama perusahaan riset berbasis di Tokyo, Patent Result, dengan menganalisis permohonan paten fintech di 118 negara dan wilayah sepanjang periode 2016-2025.
Hasil survei menunjukkan, jumlah permohonan paten fintech secara global mencapai sekitar 120 ribu dalam kurun 10 tahun hingga 2025. Angka tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan dekade sebelumnya, mencerminkan pesatnya perkembangan inovasi di sektor keuangan digital.
China menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang lebih dari 38 persen dari seluruh permohonan paten fintech dunia. Pangsa tersebut menjadi yang tertinggi secara global, sementara jumlah pengajuan paten dari perusahaan-perusahaan China melonjak sekitar sepuluh kali lipat dibandingkan dekade sebelumnya.
Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan pangsa sekitar 17 persen, disusul Korea Selatan sebesar 9 persen dan Jepang sebesar 8 persen.
Dominasi China juga terlihat pada tingkat korporasi. Delapan dari 10 perusahaan dengan jumlah permohonan paten fintech terbanyak berasal dari China. Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) menempati posisi pertama dunia, diikuti Bank of China, China Construction Bank, serta raksasa teknologi Tencent, yang seluruhnya masuk dalam jajaran 10 besar.
Survei tersebut juga menunjukkan keunggulan China tidak hanya terletak pada kuantitas inovasi. Berdasarkan penilaian terhadap nilai dan daya saing paten, China menempati peringkat pertama dalam kualitas paten fintech. Amerika Serikat dan Jepang masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga.
Temuan ini memperlihatkan semakin kuatnya posisi China dalam perlombaan inovasi teknologi keuangan global, sekaligus menegaskan pergeseran pusat pengembangan fintech dari negara-negara Barat menuju Asia, terutama China.
Ekosistem Inovasi
China sulit dikejar dalam industri fintech bukan semata-mata karena banyaknya perusahaan teknologi, melainkan karena ekosistem inovasi yang dibangun secara terintegrasi antara pemerintah, sektor perbankan, perusahaan digital, dan lembaga riset. Selama lebih dari satu dekade, Beijing menjadikan transformasi digital sebagai bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan daya saing ekonomi, sehingga investasi pada kecerdasan buatan (AI), komputasi awan, blockchain, hingga sistem pembayaran digital berkembang secara bersamaan.
Keunggulan lain terletak pada besarnya pasar domestik. Dengan lebih dari satu miliar pengguna internet dan ratusan juta pengguna layanan pembayaran digital, perusahaan-perusahaan China memiliki akses terhadap data transaksi dalam skala yang sangat besar. Kondisi ini memungkinkan pengembangan teknologi baru berlangsung lebih cepat karena inovasi dapat langsung diuji dan disempurnakan melalui jutaan transaksi setiap hari.
Perbankan nasional juga memainkan peran penting. Berbeda dengan banyak negara yang inovasi fintech didominasi perusahaan rintisan (startup), di China bank-bank besar milik negara justru menjadi motor utama pengembangan teknologi. Hal ini tercermin dari dominasi Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), Bank of China, dan China Construction Bank dalam daftar pemegang paten fintech terbanyak di dunia. Kolaborasi antara lembaga keuangan konvensional dan perusahaan teknologi mempercepat lahirnya inovasi yang dapat langsung diterapkan dalam layanan keuangan.
Selain itu, budaya perlindungan hak kekayaan intelektual di sektor teknologi juga semakin kuat. Perusahaan-perusahaan China berlomba mengamankan hasil riset mereka melalui paten, bukan hanya untuk melindungi inovasi, tetapi juga memperkuat posisi dalam persaingan global. Karena itu, keunggulan China kini tidak lagi hanya diukur dari jumlah paten, melainkan juga kualitas dan daya saing teknologi yang dihasilkan.
Kombinasi antara dukungan kebijakan pemerintah, skala pasar yang sangat besar, kemampuan riset, serta sinergi antara bank dan perusahaan teknologi membuat China membangun keunggulan yang sulit ditandingi dalam waktu singkat. Bagi banyak negara, mengejar posisi tersebut membutuhkan investasi jangka panjang, ekosistem inovasi yang matang, dan strategi nasional yang konsisten.
Dampaknya Terhadap Amerika
Dominasi China dalam paten fintech menjadi sinyal bahwa persaingan teknologi global kini tidak lagi hanya berlangsung di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), atau kendaraan listrik, tetapi juga merambah sektor jasa keuangan digital. Selama beberapa dekade, Amerika Serikat menjadi pusat inovasi teknologi dunia melalui perusahaan-perusahaan di Silicon Valley. Namun, melonjaknya kapasitas riset dan inovasi China menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan teknologi mulai bergeser ke Asia.
Bagi Amerika Serikat, tantangan terbesar bukan hanya kehilangan keunggulan dalam jumlah paten, melainkan potensi berkurangnya pengaruh terhadap standar teknologi keuangan global. Negara atau perusahaan yang menguasai lebih banyak teknologi inti berpeluang lebih besar menentukan standar interoperabilitas, keamanan siber, sistem pembayaran digital, hingga pengembangan mata uang digital bank sentral (CBDC). Pengaruh tersebut pada akhirnya dapat memperkuat posisi ekonomi sekaligus geopolitik suatu negara.
Persaingan ini juga diperkirakan akan mendorong Washington meningkatkan investasi pada riset dan pengembangan fintech, sekaligus mempererat kolaborasi antara sektor swasta, lembaga keuangan, dan universitas. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS telah menjadikan persaingan teknologi dengan China sebagai salah satu prioritas strategis, sehingga sektor fintech berpotensi menjadi arena kompetisi berikutnya setelah AI dan industri semikonduktor.
Di sisi lain, meningkatnya inovasi China dapat mempercepat terbentuknya dua ekosistem teknologi keuangan global yang berkembang secara paralel. Negara-negara mitra Beijing kemungkinan akan lebih banyak mengadopsi teknologi dan platform keuangan asal China, sementara sekutu Washington cenderung mengembangkan sistem yang berbasis pada standar Barat. Jika tren ini berlanjut, kompetisi fintech tidak hanya akan menjadi perlombaan bisnis, tetapi juga bagian dari perebutan pengaruh ekonomi dan teknologi dalam tatanan global yang semakin multipolar.
Posisi Indonesia di Tengah Persaingan Fintech Global
Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan fintech di kawasan Asia Tenggara, didukung oleh populasi yang besar, tingkat adopsi internet yang terus meningkat, serta pesatnya penggunaan pembayaran digital. Dalam beberapa tahun terakhir, layanan dompet digital, pembayaran berbasis kode QR, pembiayaan digital, hingga bank digital berkembang pesat dan mendorong semakin luasnya inklusi keuangan di berbagai daerah.
Namun, dibandingkan dengan China maupun Amerika Serikat, kekuatan Indonesia masih lebih banyak berada pada sisi adopsi teknologi daripada penciptaan teknologi inti. Sebagian besar perusahaan fintech nasional berfokus pada pengembangan layanan berbasis kebutuhan pasar domestik, sementara jumlah paten, investasi riset, dan inovasi teknologi fundamental masih relatif terbatas. Hal ini membuat Indonesia lebih sering menjadi pengguna inovasi global daripada penentu arah perkembangan teknologi keuangan dunia.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Dengan bonus demografi, ekonomi digital yang terus tumbuh, dan dukungan regulasi dari pemerintah serta otoritas keuangan, Indonesia memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas riset di bidang kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, blockchain, analisis data, dan teknologi pembayaran. Kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan sektor perbankan juga akan menjadi faktor penting dalam melahirkan inovasi yang memiliki nilai tambah tinggi.
Persaingan antara China dan Amerika Serikat juga membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk mengambil posisi sebagai mitra teknologi yang terbuka bagi berbagai pihak. Dengan menjaga keseimbangan hubungan ekonomi, Indonesia dapat memanfaatkan alih teknologi, investasi, dan kerja sama riset dari kedua negara tanpa harus terjebak dalam rivalitas geopolitik mereka. Pendekatan ini berpotensi mempercepat penguatan ekosistem fintech nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri keuangan digital Indonesia di tingkat regional maupun global.
Masa depan Indonesia dalam persaingan fintech tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah pengguna layanan digital, tetapi juga oleh kemampuannya menghasilkan inovasi sendiri. Semakin kuat investasi pada riset, perlindungan kekayaan intelektual, dan pengembangan talenta digital, semakin besar peluang Indonesia bertransformasi dari sekadar pasar fintech menjadi salah satu pusat inovasi teknologi keuangan di Asia.
Trump di Depan Erdogan: Mengapa AS Terus Membayar, Eropa tak Membantu?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras kepada sejumlah sekutu NATO karena dinilai tidak memberikan dukungan terhadap operasi AS terkait konflik Iran. Pernyataan itu disampaikan Trump setibanya di Ankara, Turki, pada Selasa (7/7), untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO.
Menjawab pertanyaan wartawan sebelum bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Kompleks Kepresidenan, Trump secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya kepada sejumlah negara Eropa.
"Italia, Prancis, dan Jerman mengecewakan kita," kata Trump. Ia kemudian mempertanyakan komitmen para sekutu tersebut terhadap kerja sama keamanan transatlantik.
"Lalu mengapa kita menghabiskan ratusan ribu dolar, dan mereka tidak datang membantu kita?" ujar Trump.
Kritik Trump muncul setelah sejumlah negara Eropa dilaporkan enggan mengerahkan kapal perang untuk mendukung upaya AS menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Menurut Trump, negara-negara Eropa selama ini menikmati payung keamanan Amerika Serikat, tetapi tidak menunjukkan dukungan ketika Washington menghadapi krisis.
Sementara itu, dalam pertemuan bilateral dengan Trump, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan Ankara terus berupaya mendorong stabilisasi hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Erdogan menegaskan Turki mendukung langkah-langkah diplomatik guna meredakan ketegangan di kawasan dan mencegah konflik yang lebih luas.
Retaknya Solidaritas NATO di Timur Tengah
Pernyataan Donald Trump memperlihatkan bahwa perbedaan kepentingan di dalam NATO semakin sulit disembunyikan. Jika selama ini aliansi tersebut relatif solid dalam merespons perang di Ukraina, situasinya berbeda ketika konflik bergeser ke Timur Tengah, khususnya menyangkut Iran.
Sejumlah negara Eropa memilih bersikap lebih hati-hati terhadap eskalasi militer. Mereka khawatir keterlibatan langsung di Selat Hormuz justru memperluas konflik dan mengganggu stabilitas kawasan yang selama ini menjadi jalur utama pasokan energi dunia. Bagi banyak negara Eropa, diplomasi dinilai lebih menguntungkan dibandingkan memperbesar risiko konfrontasi bersenjata.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa ancaman yang dipersepsikan Washington tidak selalu dipandang sama oleh para sekutunya. Amerika Serikat melihat kebebasan navigasi di Selat Hormuz sebagai kepentingan strategis yang harus dipertahankan dengan kekuatan militer. Sebaliknya, sebagian negara Eropa lebih memilih menjaga jarak agar tidak terseret dalam konflik yang berpotensi berlangsung panjang.
Kondisi tersebut juga memperkuat kritik lama Trump bahwa negara-negara Eropa masih terlalu bergantung pada payung keamanan Amerika Serikat. Sejak masa jabatan pertamanya, Trump berulang kali menilai beban pertahanan NATO tidak dibagi secara adil dan meminta sekutu meningkatkan kontribusi terhadap keamanan bersama.
Di sisi lain, sikap negara-negara Eropa menunjukkan bahwa solidaritas NATO memiliki batas ketika kepentingan nasional masing-masing mulai dipertaruhkan. Aliansi itu memang dibangun untuk menghadapi ancaman terhadap negara anggotanya, tetapi tidak selalu memiliki kesepakatan yang sama dalam merespons konflik di luar wilayah NATO.
Perbedaan sikap terkait Iran berpotensi menjadi ujian baru bagi kohesi aliansi. Jika Washington terus mendorong keterlibatan militer yang lebih besar sementara negara-negara Eropa tetap memilih jalur diplomasi, maka perbedaan strategi tersebut dapat memperlebar jarak politik di antara para anggota NATO pada saat organisasi itu berupaya mempertahankan citra persatuan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Dampaknya bagi Strategi Militer AS
Minimnya dukungan militer dari sejumlah sekutu Eropa membuat Amerika Serikat berpotensi menanggung beban operasi yang lebih besar di Timur Tengah. Tanpa kehadiran armada negara-negara NATO, Washington harus mengerahkan lebih banyak kapal perang, pesawat pengintai, serta sistem pertahanan udara untuk menjaga jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Situasi tersebut juga meningkatkan biaya operasi militer AS. Kehadiran armada dalam waktu lama membutuhkan dukungan logistik, rotasi personel, pengisian amunisi, hingga perlindungan terhadap pangkalan dan kapal induk yang beroperasi di kawasan. Semakin sedikit negara yang terlibat, semakin besar pula sumber daya yang harus disediakan Washington.
Di tingkat strategis, kondisi ini dapat memaksa Pentagon meninjau kembali pembagian kekuatan militernya di berbagai kawasan. Selama beberapa tahun terakhir, AS berupaya mengalihkan fokus pertahanan ke kawasan Indo-Pasifik untuk menghadapi meningkatnya kemampuan militer China, sembari tetap mempertahankan komitmen terhadap NATO di Eropa. Konflik baru di Timur Tengah berisiko memecah konsentrasi tersebut.
Apabila ketegangan dengan Iran berlangsung dalam jangka panjang, Amerika Serikat menghadapi tantangan menjalankan tiga prioritas keamanan sekaligus: mendukung Ukraina di Eropa, mempertahankan pencegahan terhadap China di Indo-Pasifik, dan menjaga stabilitas di Timur Tengah. Ketiga kawasan itu sama-sama menuntut kehadiran militer, kemampuan logistik, serta anggaran pertahanan yang besar.
Bagi Washington, dukungan sekutu bukan semata soal jumlah kapal perang atau personel yang dikerahkan. Kehadiran negara-negara NATO juga menjadi simbol legitimasi politik bahwa operasi yang dilakukan merupakan bagian dari kepentingan keamanan bersama, bukan aksi sepihak Amerika Serikat. Karena itu, keengganan sebagian sekutu untuk terlibat dapat mengurangi daya tekan diplomatik sekaligus memperkuat persepsi bahwa beban keamanan global masih bertumpu pada Washington.
Dalam jangka panjang, perbedaan sikap tersebut dapat mendorong Amerika Serikat mengevaluasi kembali pola pembagian tanggung jawab di dalam NATO. Tekanan agar negara-negara Eropa mengambil peran yang lebih besar kemungkinan akan kembali menguat, sejalan dengan tuntutan pemerintahan Donald Trump agar sekutu tidak hanya menikmati perlindungan keamanan Amerika, tetapi juga ikut menanggung risiko dan biaya ketika krisis internasional terjadi.
Alasan Eropa Menolak Terlibat di Selat Hormuz
Keengganan sejumlah negara Eropa mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz tidak berarti mereka mengabaikan pentingnya jalur pelayaran tersebut. Bagi negara-negara Eropa, kawasan itu tetap menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Namun, mereka menilai keterlibatan militer secara langsung justru berisiko mempercepat eskalasi konflik dengan Iran.
Sejak awal meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, banyak negara Eropa lebih mengutamakan pendekatan diplomatik dibandingkan konfrontasi militer. Mereka khawatir pengerahan armada perang akan dipersepsikan sebagai dukungan terhadap operasi ofensif Amerika Serikat, sehingga mempersempit ruang negosiasi dan meningkatkan kemungkinan bentrokan terbuka di kawasan.
Pertimbangan politik domestik juga menjadi faktor penting. Sejumlah pemerintahan di Eropa menghadapi tekanan publik agar tidak menyeret negaranya ke dalam konflik baru setelah bertahun-tahun mengalokasikan anggaran besar untuk mendukung Ukraina. Membuka front militer baru di Timur Tengah dinilai dapat memicu kritik politik sekaligus menambah beban fiskal.
Di sisi lain, Eropa masih harus memusatkan perhatian pada keamanan benua sendiri. Ancaman yang berasal dari perang Rusia-Ukraina, penguatan pertahanan NATO di sisi timur, serta kebutuhan meningkatkan kesiapan militer membuat banyak negara memilih memprioritaskan sumber daya pertahanannya di kawasan Eropa daripada mengirim armada ke Teluk Persia.
Bagi para pemimpin Eropa, menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz memang merupakan kepentingan bersama. Namun, mereka memandang tujuan tersebut tidak harus selalu dicapai melalui operasi militer yang dipimpin Washington. Pilihan untuk memperkuat jalur diplomasi, meningkatkan pengawasan maritim, atau memberikan dukungan logistik dinilai lebih sejalan dengan kepentingan strategis mereka.
Perbedaan pendekatan inilah yang kemudian memunculkan friksi dengan Amerika Serikat. Washington melihat pengerahan kekuatan militer sebagai bentuk nyata solidaritas sekutu, sedangkan sebagian negara Eropa memandang kehati-hatian justru menjadi cara terbaik untuk mencegah konflik yang lebih luas. Perbedaan persepsi tersebut memperlihatkan bahwa, meski tetap berada dalam satu aliansi, anggota NATO tidak selalu memiliki kalkulasi strategis yang sama ketika menghadapi krisis di luar kawasan Eropa.