News Komoditi & Global ( Kamis, 15 Januari 2026 )
News Komoditi & Global
( Kamis, 15 Januari 2026 )
Harga Emas Global Melemah dipicu Aksi Beli di China dan Ketidakpastian Global
Harga emas di pasar spot terkoreksi tipis pada awal perdagangan Kamis (15/1/2026) setelah melesat ke rekor tertinggi pada sesi sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau melemah 0,22% atau 10,29 poin ke level US$ 4.616,29 per troy ounce pada pukul 07.21 WIB. Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS terpantau melemah 0,31% atau 14,5 poin ke level US$4.621,30 per troy ounce. Adapun harga perak si pasar spot juga melemah 0,27% atau 0,25 poin ke level US$92,90 per troy ounce, setelah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$93 pada perdagangan Rabu (14/1/2026). Reli di pasar logam mengantarkan emas dan perak ke level tertinggi pada Rabu, seiring tembaga dan timah ikut mencetak rekor. Aksi beli agresif di China dan rotasi portofolio yang lebih luas ke komoditas menjadi penopang utama sektor ini. Melansir Bloomberg, kekhawatiran pasar terkait potensi tarif AS atas perak, platinum, dan paladium mereda sementara. Presiden Donald Trump menahan diri dari pengenaan bea baru atas impor mineral kritis, meski tetap membuka opsi. Di sisi lain, logam melanjutkan awal tahun yang spektakuler didorong arus masuk dana ke komoditas sebagai alternatif “panas” di tengah ketidakpastian global, pembelian masif di China, serta meningkatnya permintaan aset aman menyusul ketegangan geopolitik dan tekanan pemerintahan Trump terhadap Federal Reserve AS. Perdagangan “debasement”, ketika investor menjauhi obligasi dan mata uang pemerintah karena kekhawatiran lonjakan utang, menjadi fondasi reli, terutama pada logam mulia. Pelemahan relatif dolar AS membuat komoditas berdenominasi dolar lebih terjangkau. Sepanjang tahun lalu, emas melonjak 65% dan perak hampir 150%, menorehkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Chief investment officer Lotus Asset Management Ltd Hao Hong mengatakan pergerakan awal harga emas kerap menjadi penanda merosotnya kepercayaan terhadap mata uang fiat “Ketika segala sesuatu diukur dengan emas sebagai tolok ukur, mayoritas aset tampak murah saat ini, sehingga menciptakan dorongan yang sangat kuat bagi komoditas, terutama logam,” jelasnya seperti dikutip Bloomberg, Kamis (15/1/2026). Aktivitas spekulatif yang tinggi di China mempercepat reli, dengan lonjakan volume transaksi di Bursa Berjangka Shanghai sejak akhir Desember dan total minat terbuka pada enam logam dasar mencapai rekor. Data perdagangan terbaru menunjukkan ekspor China melesat, menambah sinyal ketahanan ekonomi, seiring aktivitas pabrik yang lebih sibuk dan kinerja pasar saham yang impresif.
Harga Minyak Dunia Anjlok dipicu Pernyataan Donald Trump soal Iran
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari US$ 1 pada perdagangan awal sesi Asia hari ini.
Kamis (15/1/2026) pukul 06.45 WIB, harga minyak mentah WTI untuk kontrak pengiriman Februari 2026 diperdagangkan pada US$ 60,78 per barel, turun US$ 1,24, atau 2%, dari penutupan sesi sebelumnya.
Pelemahan harga minyak WTI terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembunuhan dalam penindakan Iran terhadap protes nasional mereda, mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan dan kemungkinan tindakan militer terhadap Iran.
WTI sempat ditutup lebih dari 1% lebih tinggi pada hari Rabu, kemudian kehilangan sebagian besar kenaikan tersebut setelah pernyataan Trump mengurangi kekhawatiran tentang potensi serangan AS terhadap Iran dan gangguan pasokan.
Trump mengatakan pada Rabu sore bahwa ia telah diberitahu bahwa pembunuhan dalam penindakan Iran terhadap protes nasional sedang mereda dan ia percaya saat ini tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar.
Wall Street Tertekan: Nasdaq Ditutup Melemah, Terseret Saham Teknologi & Perbankan
Wall Street kembali ditutup melemah, dipimpin oleh penurunan indeks Nasdaq, karena investor beralih ke area yang lebih defensif, sementara saham perbankan memperpanjang koreksi baru-baru ini setelah beberapa hasil kuartalan yang beragam.
Rabu (14/1/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 42,36 poin atau 0,09% menjadi 49.149,63, indeks S&P 500 melemah 37,14 poin atau 0,53% ke 6.926,60 dan indeks Nasdaq Composite melemah 238,12 poin atau 1,00% ke 23.471,75.
Pada sesi ini, sektor perbankan pada indeks S&P 500 melemah, dengan saham Wells Fargo turun 4,6% setelah perusahaan tersebut gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal keempat.
Saham Citigroup dan Bank of America juga turun, meskipun perusahaan-perusahaan tersebut melampaui perkiraan Wall Street untuk laba kuartal keempat.
Sektor keuangan, termasuk bank-bank, yang mengalami penguatan tajam pada tahun 2025, telah jatuh minggu ini di tengah kekhawatiran atas usulan pembatasan suku bunga kartu kredit oleh Presiden AS Donald Trump, yang menurut para eksekutif JPMorgan dapat menekan konsumen dan merugikan keuntungan sektor keuangan.
"Setelah kenaikan yang bagus, dan pendapatan yang biasa-biasa saja atau medioker, Anda melihat aksi ambil untung dan konsolidasi" di sektor perbankan, kata Michael O'Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading di Stamford, Connecticut. "Secara umum, orang-orang masih optimis terhadap grup ini."
Selain itu, rencana pembatasan kartu kredit mungkin tidak akan pernah terlaksana, tetapi "tidak ada eksekutif bank yang dapat mengesampingkannya."
O'Rourke menambahkan, di sektor teknologi, investor berupaya untuk beralih dari saham-saham megacap yang mahal ke saham-saham bernilai dan yang lebih defensif.
Sektor keuangan pada indeks S&P 500 turun bersamaan dengan sektor teknologi S&P 500. Sementara kelompok yang lebih defensif termasuk barang konsumsi pokok naik.
Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000, yang telah jauh melampaui tolok ukur S&P 500 sejauh tahun ini, mencapai rekor penutupan tertinggi, bersamaan dengan indeks industri S&P 500.
Pada sesi ini, saham Broadcom dan Fortinet turun setelah Reuters melaporkan, mengutip tiga orang yang diberi informasi tentang masalah tersebut, bahwa otoritas China telah memerintahkan perusahaan domestik untuk berhenti menggunakan perangkat lunak keamanan siber yang dibuat oleh lebih dari selusin perusahaan dari AS dan Israel.
Sebaliknya, saham energi naik, dengan harga minyak naik di tengah kekhawatiran tentang gangguan pasokan Iran. Harga minyak kemudian turun di akhir hari.
Investor juga mencermati data pada Rabu pagi yang menunjukkan harga produsen di AS sesuai dengan perkiraan pada bulan November, tetapi penjualan ritel melampaui ekspektasi. Sebuah laporan pada hari Selasa menunjukkan harga konsumen bulan Desember naik sesuai proyeksi.
Suku bunga secara luas diperkirakan akan tetap stabil hingga paruh pertama tahun ini, termasuk pada pertemuan Federal Reserve bulan Januari, dengan para pedagang memperkirakan setidaknya dua kali penurunan sebelum akhir tahun, menurut data LSEG.
Ancaman Iran Nyata, Ini 9 Lokasi Pangkalan Militer AS yang ada di Timur Tengah
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melontarkan ancaman untuk menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Ancaman ini mencuat menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyerukan rakyat Iran untuk terus melakukan aksi protes, memicu kekhawatiran eskalasi konflik di wilayah yang menjadi pusat jaringan pangkalan militer strategis Washington.
Berikut ini adalah sejumlah pangkalan militer utama di Timur Tengah.
Bahrain
Bahrain menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy’s Fifth Fleet). Wilayah tanggung jawab armada ini mencakup Teluk Persia, Laut Merah, Laut Arab, serta sebagian Samudra Hindia.
Qatar
Pangkalan Udara Al Udeid seluas 24 hektare (59 acre), yang terletak di kawasan gurun di luar ibu kota Doha, merupakan markas depan Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/ CENTCOM). Komando ini mengendalikan operasi militer AS di wilayah yang sangat luas, mulai dari Mesir di barat hingga Kazakhstan di timur.
Sebagai pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah, Al Udeid menampung sekitar 10.000 personel militer. Pada Januari lalu, CENTCOM menyatakan bahwa bersama mitra regional, mereka membuka sel koordinasi baru bernama MEAD-CDOC di Al Udeid untuk memperkuat sistem pertahanan udara dan rudal terintegrasi. Sel ini bertujuan meningkatkan koordinasi serta pembagian tanggung jawab pertahanan udara dan rudal di kawasan Timur Tengah.
Kuwait
Kuwait menjadi lokasi sejumlah instalasi militer besar Amerika Serikat, termasuk Camp Arifjan, yang berfungsi sebagai markas depan Angkatan Darat AS untuk kawasan Tengah (U.S. Army Central).
Selain itu, terdapat Pangkalan Udara Ali Al Salem, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari perbatasan Irak dan dikenal dengan julukan “The Rock” karena lokasinya yang terpencil dan lingkungannya yang keras.
Camp Buehring, yang didirikan saat Perang Irak 2003, berperan sebagai titik transit bagi unit Angkatan Darat AS yang dikerahkan ke Irak dan Suriah, sebagaimana tercantum dalam situs resmi Angkatan Darat AS.
Uni Emirat Arab
Pangkalan Udara Al Dhafra, yang terletak di selatan ibu kota Abu Dhabi dan digunakan bersama Angkatan Udara Uni Emirat Arab, merupakan pusat penting Angkatan Udara AS.
Pangkalan ini mendukung berbagai misi utama, termasuk operasi melawan kelompok Islamic State (ISIS) serta misi pengintaian di kawasan, menurut Komando Pusat Angkatan Udara AS.
Sementara itu, Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, meskipun bukan pangkalan militer resmi, merupakan pelabuhan persinggahan terbesar Angkatan Laut AS di Timur Tengah dan secara rutin menjadi tempat sandar kapal induk AS serta kapal perang lainnya.
Irak
Amerika Serikat mempertahankan kehadiran militernya di Pangkalan Udara Ain Al Asad di Provinsi Anbar bagian barat. Pangkalan ini mendukung pasukan keamanan Irak dan berkontribusi dalam misi NATO, menurut keterangan Gedung Putih.
Pada 2020, pangkalan tersebut menjadi sasaran serangan rudal Iran sebagai balasan atas pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani oleh AS.
Di wilayah semi-otonom Kurdistan Irak utara, Pangkalan Udara Erbil berfungsi sebagai pusat kegiatan pasukan AS dan koalisi untuk latihan militer dan simulasi pertempuran.
Berdasarkan laporan Library of Congress tahun 2024, pangkalan ini mendukung upaya militer AS melalui penyediaan lokasi aman untuk pelatihan, berbagi intelijen, serta koordinasi logistik di Irak utara.
Arab Saudi
Pasukan Amerika Serikat di Arab Saudi, yang jumlahnya mencapai 2.321 personel pada 2024 menurut surat resmi Gedung Putih, beroperasi dalam koordinasi dengan pemerintah Arab Saudi. Mereka menyediakan kemampuan pertahanan udara dan rudal, serta mendukung pengoperasian pesawat militer AS.
Sebagian pasukan ditempatkan sekitar 60 kilometer di selatan Riyadh, tepatnya di Pangkalan Udara Prince Sultan, yang mendukung aset pertahanan udara Angkatan Darat AS, termasuk sistem rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).
Yordania
Pangkalan Udara Muwaffaq al Salti, yang berlokasi di Azraq sekitar 100 kilometer di timur laut ibu kota Amman, menjadi markas 332nd Air Expeditionary Wing dari U.S. Air Forces Central. Menurut Library of Congress, satuan ini menjalankan berbagai misi di kawasan Levant.
Turki
Turki dan Amerika Serikat mengelola secara bersama Pangkalan Udara Incirlik di Provinsi Adana, Turki selatan. Pangkalan ini menyimpan hulu ledak nuklir AS dan telah digunakan untuk mendukung koalisi internasional dalam memerangi ISIS di Suriah dan Irak.
Incirlik juga menjadi lokasi penempatan sekitar 1.465 personel militer Amerika Serikat di Turki.
Digoyang Tarif Donald Trump, China Malah Cetak Rekor Surplus Dagang
China melaporkan kinerja ekspor yang kuat pada tahun 2025 dengan surplus triliunan dolar yang memecahkan rekor.
Ketahanan China terhadap ketegangan tarif yang kembali meningkat sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025 lalu telah mendorong perusahaan-perusahaan China untuk mengalihkan fokus mereka ke Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin untuk mengimbangi tarif bea masuk tinggi AS.
Dengan Beijing yang mengandalkan ekspor untuk mengatasi kemerosotan pasar properti yang berkepanjangan dan permintaan domestik yang lesu, surplus yang memecahkan rekor ini berisiko semakin mengganggu perekonomian yang khawatir tentang praktik perdagangan dan kelebihan kapasitas China. Serta ketergantungan mereka yang berlebihan pada produk-produk utama China.
Surplus perdagangan tahunan China tahun 2025 mencapai US$ 1,189 triliun - angka yang setara dengan PDB salah satu dari 20 ekonomi terbesar di dunia seperti Arab Saudi -. Demikian data bea cukai China yang dirilis Rabu (14/1/2026), seperti dilansir Reuters.
Pengiriman ekspor China tumbuh 6,6% pada bulan Desember 2025, dibandingkan dengan peningkatan 5,9% pada bulan November 2025. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan peningkatan sebesar 3,0%.
Sementara impor naik 5,7%, setelah kenaikan 1,9% pada bulan sebelumnya dan melampaui perkiraan kenaikan 0,9%.
Surplus ekspor bulanan melebihi US$ 100 miliar sebanyak tujuh kali tahun lalu, sebagian didukung melemahnya yuan, naik dari hanya sekali pada tahun 2024. Ini menggarisbawahi bahwa tindakan Trump hampir tidak memengaruhi perdagangan China telah membatasi pengiriman barang ke AS.
Ekonom memperkirakan China akan terus mendapatkan pangsa pasar global tahun ini, dibantu oleh perusahaan-perusahaan China yang mendirikan pusat produksi di luar negeri yang menyediakan akses tarif lebih rendah ke Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta oleh permintaan yang kuat untuk chip kelas bawah dan elektronik lainnya.
Sebagai andalan ambisi industri global China, industri otomotif China mencatatkan peningkatan ekspor keseluruhan sebesar 19,4% menjadi 5,79 juta kendaraan tahun lalu, dengan pengiriman kendaraan listrik murni meningkat 48,8%. Tiongkok kemungkinan akan tetap menjadi eksportir otomotif terbesar di dunia untuk tahun ketiga setelah pertama kali melampaui Jepang pada tahun 2023.
Meskipun gencatan senjata tarif dagang selama setahun yang disepakati Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir Oktober 2025, bea masuk yang ditetapkan AS sebesar 47,5% untuk barang-barang China jauh di atas rata-rata sekitar 35%. Namun, gencatan tarif dagang itu, menurut para analis memungkinkan perusahaan-perusahaan China untuk mengekspor ke AS dengan keuntungan.
China Larang Penggunaan Perangkat Lunak Keamanan Siber AS dan Israel, Ini Alasannya
Otoritas China memerintahkan perusahaan-perusahaan domestik untuk menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan sekitar selusin perusahaan asal Amerika Serikat dan Israel dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan nasional, menurut dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut.
Seiring meningkatnya ketegangan perdagangan dan diplomatik antara China dan Amerika Serikat, serta persaingan ketat kedua negara dalam perebutan supremasi teknologi, Beijing semakin gencar menggantikan teknologi buatan Barat dengan produk dalam negeri.
Sejumlah perusahaan AS yang perangkat lunak keamanan sibernya dilarang digunakan antara lain VMware yang dimiliki Broadcom, Palo Alto Networks, dan Fortinet. Sementara dari Israel, larangan tersebut mencakup Check Point Software Technologies, kata para sumber.
Reuters belum dapat memastikan berapa banyak perusahaan China yang telah menerima pemberitahuan larangan tersebut, yang menurut sumber diterbitkan dalam beberapa hari terakhir.
Otoritas China menyatakan kekhawatiran bahwa perangkat lunak tersebut berpotensi mengumpulkan dan mengirimkan informasi rahasia ke luar negeri. Para sumber menolak disebutkan namanya karena sensitifnya isu ini.
Hingga artikel ini diterbitkan, regulator internet China, Cyberspace Administration of China (CAC), serta Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Keempat perusahaan yang disebutkan juga belum menjawab pertanyaan dari Reuters.
Amerika Serikat dan China, yang saat ini terikat dalam gencatan senjata dagang yang rapuh, tengah mempersiapkan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada April mendatang.
Bahkan sebelum Trump kembali berkuasa pada awal tahun lalu, dinamika politik seputar vendor keamanan siber asing telah lama menjadi isu sensitif.
Di tengah perselisihan antara Barat dan China terkait ambisi Beijing membangun industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI), para analis China menilai pemerintah semakin khawatir bahwa peralatan buatan Barat dapat diretas oleh kekuatan asing.
Karena itu, China berupaya menggantikan perangkat komputer dan perangkat lunak pengolah kata buatan Barat dengan produk lokal. Beberapa penyedia keamanan siber terbesar di China antara lain 360 Security Technology dan Neusoft.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan AS dan Israel yang menghadapi larangan tersebut sebelumnya berulang kali menuduh adanya operasi peretasan oleh China, tuduhan yang selalu dibantah oleh Beijing.
Bulan lalu, Check Point menerbitkan laporan mengenai dugaan operasi peretasan yang dikaitkan dengan China terhadap sebuah “kantor pemerintahan Eropa” yang tidak disebutkan namanya.
Sementara pada September lalu, Palo Alto Networks merilis laporan yang menuding adanya upaya peretasan oleh China yang menargetkan diplomat di berbagai negara.
Perusahaan-perusahaan tersebut telah membangun kehadiran bisnis yang signifikan di China selama bertahun-tahun.
Fortinet, misalnya, memiliki tiga kantor di China daratan dan satu kantor di Hong Kong. Situs resmi Check Point mencantumkan alamat dukungan di Shanghai dan Hong Kong. Broadcom memiliki enam lokasi di China, sementara Palo Alto Networks mencatat lima kantor lokal di China, termasuk satu di Makau.
Menurut para analis, perusahaan keamanan siber kerap diisi oleh mantan personel intelijen dan biasanya bekerja erat dengan lembaga pertahanan nasional masing-masing negara.
Selain itu, perangkat lunak keamanan siber memiliki akses luas ke jaringan perusahaan dan perangkat individu, yang secara teoritis dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk aktivitas spionase atau sabotase.
Di Balik Ancaman Trump, Ini Harta Karun Mineral Greenland yang Diperebutkan Dunia
Menteri luar negeri Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu (14/1/2026), di tengah meningkatnya ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland.
Wilayah otonom Denmark tersebut dipandang strategis bagi AS, tidak hanya karena lokasinya di kawasan Arktik, tetapi juga karena kekayaan sumber daya mineralnya yang besar.
Survei pada 2023 menunjukkan, 25 dari 34 mineral yang dikategorikan sebagai “bahan baku kritis” oleh Komisi Eropa ditemukan di Greenland.
Meski demikian, eksploitasi minyak dan gas alam dilarang di Greenland demi alasan lingkungan.
Sementara itu, pengembangan sektor pertambangan masih terhambat oleh regulasi yang ketat serta penolakan dari masyarakat adat.
Berikut gambaran deposit mineral utama Greenland, berdasarkan data Otoritas Sumber Daya Mineral Greenland:
Tiga deposit terbesar berada di wilayah selatan Provinsi Gardar.
Beberapa perusahaan yang terlibat antara lain Critical Metals Corp (deposit Tanbreez), Energy Transition Minerals (proyek Kuannersuit yang terhenti akibat sengketa hukum), serta Neo Performance Materials.
Logam tanah jarang merupakan komponen kunci magnet permanen untuk kendaraan listrik (EV) dan turbin angin.
Endapan grafit dan batuan grafit tersebar di berbagai lokasi. Perusahaan GreenRoc telah mengajukan izin eksploitasi untuk proyek grafit Amitsoq.
Grafit alami banyak digunakan dalam baterai kendaraan listrik dan industri baja.
Tembaga
Sebagian besar deposit tembaga baru dieksplorasi secara terbatas.
Wilayah timur laut dan tengah-timur Greenland dinilai paling prospektif.
Perusahaan 80 Mile yang terdaftar di London tengah mengembangkan deposit Disko–Nuussuaq, yang juga mengandung nikel, platinum, dan kobalt.
Nikel
Jejak endapan nikel cukup melimpah.
Perusahaan tambang global Anglo American memperoleh izin eksplorasi di Greenland barat sejak 2019, termasuk untuk pencarian nikel.
Seng
Seng terutama ditemukan di wilayah utara, dalam formasi geologi yang membentang lebih dari 2.500 kilometer.
Proyek Citronen Fjord, yang mengandung seng dan timbal, pernah digadang-gadang sebagai salah satu cadangan seng terbesar yang belum dikembangkan di dunia.
Emas
Wilayah paling prospektif untuk emas berada di sekitar Sermiligaarsuk Fjord di selatan.
Perusahaan Amaroq Minerals mulai mengoperasikan tambang emas Nalunaq di wilayah Kujalleq pada tahun lalu.
Berlian
Sebagian besar berlian kecil dan batu terbesar ditemukan di wilayah barat Greenland, meskipun indikasi keberadaan berlian juga ditemukan di kawasan lain.
Bijih Besi
Deposit bijih besi terdapat di Isua (barat daya), Itilliarsuk (barat tengah), serta di wilayah barat laut sepanjang Lauge Koch Kyst.
Titanium dan Vanadium
Endapan titanium dan vanadium ditemukan di wilayah barat daya, timur, dan selatan.
Titanium digunakan untuk keperluan komersial, medis, dan industri, sementara vanadium terutama dipakai dalam pembuatan baja paduan khusus serta sebagai katalis industri kimia.
Tungsten
Mineral ini banyak ditemukan di wilayah tengah-timur dan timur laut Greenland, dengan deposit yang telah dinilai juga terdapat di bagian selatan dan barat.
Tungsten digunakan dalam berbagai aplikasi industri.
Uranium
Pada 2021, partai berhaluan kiri Inuit Ataqatigiit yang saat itu berkuasa melarang penambangan uranium.
Kebijakan ini secara efektif menghentikan pengembangan proyek Kuannersuit, yang memiliki uranium sebagai produk sampingan dari penambangan logam tanah jarang.
Perundingan AS dan Denmark Tak Ngaruh, Trump Ngotot Akan Caplok Greenland
Pertemuan tingkat tinggi antara para pejabat Amerika Serikat (AS) dan Denmark di kompleks Gedung Putih pada hari Rabu tidak mengubah pendirian Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland. Sikap Trump ini memaksa negara-negara NATO Eropa mengerahkan pasukan ke pulau otonom Denmark itu sebagai langkah antisipasi. Trump menegaskan kembali pandangannya bahwa apa pun yang kurang dari kendali penuh AS atas Greenland adalah "tidak dapat diterima." Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan dengan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan bahwa masih ada "ketidaksepakatan mendasar" dengan Trump, yang mengatakan bahwa Amerika harus menguasai Greenland untuk melindunginya dari China dan Rusia. Baca Juga: 3 Negara NATO Kerahkan Tentara ke Greenland, Waswas Dicaplok AS "Kami tidak berhasil mengubah posisi Amerika," kata Rasmussen, seperti dikutip dari The New York Times, Kamis (15/1/2026). "Jelas bahwa presiden memiliki keinginan untuk menaklukkan Greenland," katanya lagi. Eskalasi krisis mungkin telah dihindari, untuk saat ini, oleh apa yang disebut Rasmussen sebagai kesepakatan antara kedua pihak untuk membentuk "kelompok kerja" mengenai masalah ini, yang menurutnya akan berkumpul dalam beberapa minggu mendatang. Namun, tidak jelas apakah kompromi dimungkinkan. Tuntutan Trump untuk kepemilikan Greenland tampaknya tidak dapat didamaikan dengan desakan Denmark bahwa mereka tidak akan menjual atau menyerahkan wilayah yang jarang penduduknya itu. Denmark telah menguasai Greenland selama berabad-abad, termasuk sebagai koloni, meskipun saat ini pulau itu sebagian besar memiliki pemerintahan sendiri. Pemerintah Denmark terus memberikan subsidi ekonomi dan keamanan kepada pulau berpenduduk sekitar 56.000 jiwa itu dan mendukung jalur bertahapnya menuju kemerdekaan. Pada Rabu pagi, Trump mengunggah di media sosial: "Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk tujuan Keamanan Nasional." "Apa pun yang kurang dari itu tidak dapat diterima," lanjut Trump. Orang nomor satu AS itu mengatakan dia mungkin akan menggunakan kekuatan militer untuk memperoleh pulau terbesar di dunia tersebut. Rasmussen, pada gilirannya, mengatakan pada hari Rabu bahwa kepemilikan Amerika “sama sekali tidak diperlukan” untuk memastikan pertahanan Greenland. Denmark, kata dia, bersama dengan sekutunya, telah mengambil langkah-langkah untuk menunjukkan keseriusannya. Kementerian Pertahanan Denmark telah mengumumkan bahwa mereka akan melakukan latihan militer tambahan di pulau itu yang menampilkan pesawat, kapal, dan tentara dari militer mereka sendiri dan sekutu NATO mereka. Setidaknya tiga negara anggota—Jerman, Prancis, dan Swedia—mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka akan berkontribusi pada latihan tersebut. Beberapa perwira militer Swedia tiba di Greenland pada hari Rabu, kata Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson dalam pengumuman di X. Sedangkan Kementerian Pertahanan Jerman mengatakan 13 tentara pengintai Jerman akan tiba pada hari Kamis untuk kunjungan tiga hari, Swedia dan Jerman mengatakan pengerahan tersebut atas undangan pemerintah Denmark dan terkait dengan latihan militer yang dipimpin Denmark bernama Operasi Ketahanan Arktik. Pada saat yang sama, tidak ada tanda-tanda bahwa upaya Trump untuk membujuk warga Greenland agar mendukung persatuan dengan Amerika Serikat dengan janji-janji manfaat ekonomi telah membuahkan hasil. Berdiri di samping Rasmussen di luar Kedutaan Denmark di Washington setelah bergabung dengannya di Gedung Putih, Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt mengatakan bahwa tanah airnya menyambut baik kerja sama yang lebih besar dengan Washington. "[Tetapi] itu tidak berarti bahwa kami ingin dimiliki oleh Amerika Serikat," katanya. Pada hari Jumat pekan lalu, Trump mengatakan bahwa dia bertekad untuk mengakuisisi Greenland "apakah mereka suka atau tidak." Baik Departemen Luar Negeri AS maupun Gedung Putih tidak memberikan ringkasan pertemuan atau detail tentang kelompok kerja tersebut. Ketika dimintai informasi lebih lanjut, seorang petugas pers Gedung Putih mengutip unggahan Truth Social pagi hari dari Trump. Rasmussen berbicara dengan nada muram setelah pertemuannya dengan Vance dan Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Trump. Vance telah menunjukkan antusiasme publik yang lebih besar untuk memperoleh Greenland daripada Rubio. Vance telah melakukan kunjungan pada bulan Maret ke Pituffik, sebuah Pangkalan Angkatan Luar Angkasa AS yang kecil di Greenland. Itu adalah satu-satunya yang tersisa dari kehadiran militer Amerika yang lebih besar di Greenland pada masa Perang Dingin. Rasmussen mengatakan dia menyambut pertemuan di kompleks Gedung Putih sebagai kesempatan untuk "menurunkan ketegangan" dalam perdebatan yang sebagian besar terjadi melalui pernyataan publik dan unggahan media sosial. "Kami sepakat bahwa masuk akal untuk mencoba duduk bersama di tingkat tinggi untuk mengeksplorasi apakah ada kemungkinan untuk mengakomodasi kekhawatiran presiden sementara pada saat yang sama kami menghormati garis merah Kerajaan Denmark," ujarnya. Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Rabu bahwa dia belum diberi pengarahan tentang pertemuan tentang Greenland sebelumnya, tetapi dia menegaskan kembali pandangannya bahwa Denmark tidak dapat mempertahankan pulau itu secara memadai. "Jika kami tidak masuk, Rusia akan masuk dan China akan masuk, dan tidak ada yang bisa dilakukan Denmark tentang itu," katanya. "Tetapi ada banyak hal yang dapat kami lakukan. Anda mengetahuinya minggu lalu dengan Venezuela," ujarnya. Penyebutan Venezuela patut diperhatikan mengingat banyak analis percaya bahwa Trump mungkin merasa semakin berani dalam kebijakan luar negerinya karena keberhasilan operasi militer AS baru-baru ini, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari. Namun demikian, gagasan bahwa Trump mungkin secara paksa merebut wilayah dari sekutu NATO lainnya telah mengejutkan para pemimpin Eropa dan sangat mengguncang aliansi tersebut, yang dalam sejarah 75 tahunnya belum pernah menyaksikan konflik bersenjata langsung antara dua anggotanya. Diplomasi intensif untuk meredakan kebuntuan akan terus berlanjut. Rasmussen dan Motzfeldt berencana untuk bertemu beberapa anggota Kongres AS pada Rabu sore dan kemudian menjamu anggota lainnya untuk makan malam di Kedutaan Besar Denmark. Senator Chris Coons, dari Partai Demokrat, dijadwalkan untuk memimpin delegasi bipartisan senator dan parlemen ke Denmark akhir pekan ini. “Pada saat meningkatnya ketidakstabilan internasional, kami perlu mendekatkan diri kepada sekutu kami, bukan menjauhkan mereka,” kata Coons dalam sebuah pernyataan. Bahkan beberapa sekutu dekat Trump pun skeptis terhadap rencananya di Greenland, termasuk Senator John Kennedy, seorang Republikan dari Louisiana. “Bahkan siswa kelas sembilan yang cukup cerdas pun tahu bahwa menyerang Greenland adalah tindakan yang sangat bodoh,” kata Kennedy kepada CNN pekan lalu. “Sekarang, Presiden Trump tidak sebodoh itu, begitu pula Marco Rubio. Mereka tidak berencana untuk menyerang Greenland.” Sebagai sedikit penghiburan bagi Kopenhagen, Trump tidak sampai mengkritik para pemimpin Denmark. “Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Denmark,” katanya kepada wartawan pada hari Rabu. Dalam tiga bulan terakhir saja, Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui penjualan senjata senilai hampir USD7 miliar ke Denmark. Para pakar mengakui pentingnya Greenland bagi persaingan militer dan ekonomi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, China, dan Rusia di Arktik, di mana pencairan es telah membuka jalur pelayaran baru dan peluang untuk ekstraksi sumber daya. Namun banyak yang menyebut pembicaraan Trump tentang penaklukan pulau itu oleh Rusia atau China sebagai hal yang berlebihan dan mempertanyakan apakah Trump, mantan taipan properti, termotivasi oleh kesempatan untuk memperluas wilayah Amerika secara dramatis. Perjanjian tahun 1951 antara Amerika Serikat dan Denmark memberi Amerika hak abadi untuk mempertahankan pangkalan militer di Greenland. Tetapi Trump mengatakan itu tidak cukup. “Kepemilikan sangat penting,” katanya dalam wawancara baru-baru ini dengan The New York Times. Trump tidak menjelaskan mengapa demikian, selain menyebutnya sebagai “apa yang saya rasa dibutuhkan secara psikologis untuk sukses.”
Riyadh Tak Izinkan AS Gunakan Wilayah Udara Arab Saudi untuk Serang Iran
Kerajaan Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udara dan daratnya digunakan militer Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Iran. Riyadh telah memberi tahu hal itu kepada Teheran. Dua sumber yang dekat dengan pemerintah kerajaan mengungkap pemberitahuan tersebut kepada AFP pada hari Rabu, ketika Washington mengancam Teheran dengan kemungkinan serangan militer. Baca Juga: Iran Tutup Wilayah Udaranya, Serangan AS Dilaporkan Segera Terjadi Pesan Riyadh itu disampaikan ketika AS memperingatkan bahwa mereka dapat merespons tindakan keras pemerintah Iran terhadap protes, sementara Teheran mengatakan akan menyerang aset-aset militer AS di Timur Tengah jika terjadi serangan baru. “Arab Saudi telah memberi tahu Teheran secara langsung bahwa mereka tidak akan menjadi bagian dari tindakan militer apa pun yang dilakukan terhadapnya, dan bahwa wilayah dan wilayah udaranya tidak akan digunakan untuk tujuan itu,” kata sebuah sumber yang dekat dengan militer Arab Saudi kepada AFP. Sekadar diketahui, AS memiliki aset militer di Teluk, termasuk di Arab Saudi. Sementara itu, kantor berita Reuters melaporkan bahwa serangan militer AS terhadap Iran akan segera terjadi. Menurut laporan tersebut, serangan itu dapat terjadi hanya dalam beberapa jam saja. Reuters mengutip seorang pejabat militer Barat yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan: "Semua sinyal menunjukkan bahwa serangan AS akan segera terjadi." Namun, sumber tersebut menambahkan: "Itulah cara pemerintahan ini bertindak untuk membuat semua orang tetap waspada, dengan ketidakpastian sebagai bagian dari strategi." Menurut laporan tersebut, yang mengutip dua pejabat Eropa yang tidak disebutkan namanya, “Intervensi militer AS dapat terjadi dalam 24 jam ke depan.” Reuters juga mengutip seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya yang menyatakan bahwa Trump tampaknya telah memutuskan untuk menyerang Iran, meskipun cakupan aksi militer potensial tersebut masih belum jelas. Sedangkan di Iran, otoritas berwenang telah menutup wilayah udara negara itu sejak hari Rabu untuk sebagian besar penerbangan. Langkah ini diambil Teheran di tengah protes yang meluas dan kekhawatiran akan serangan udara AS. Menurut situs pelacakan penerbangan, FlightRadar24, Kamis (15/1/2026), Peringatan Pemberitahuan kepada Misi Udara (NOTAM) dikeluarkan oleh Teheran tepat setelah pukul 17.00 ET. Dalam NOTAM tersebut, Iran melarang semua penerbangan kecuali penerbangan internasional ke dan dari Iran dengan izin. Peta lalu lintas udara di atas Iran dan wilayah sekitarnya menunjukkan banyak penerbangan dialihkan di sekitar wilayah udara Iran. Hanya lima pesawat yang terlihat di atas wilayah udara Iran pada saat NOTAM dikeluarkan, menurut situs pelacakan penerbangan tersebut.