News Komoditi & Global ( Selasa, 19 Mei 2026 )
News Komoditi & Global
( Selasa, 19 Mei 2026 )
Harga Emas Global Naik Tipis Ditopang Dolar AS, Tertekan Minyak dan Yield Obligasi
Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Senin (18/5/2026), ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Namun, kenaikan harga emas tertahan lonjakan imbal hasil obligasi dan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi akibat perang Iran. Harga emas spot tercatat naik 0,2% menjadi US$ 4.548,14 per ons hingga akhir perdagangan AS, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS pengiriman Juni ditutup melemah 0,1% ke posisi US$ 4.558 per ons. Penguatan emas terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS sekitar 0,3% terhadap mata uang utama dunia. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang selain dolar AS. Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis dari Posisi Terendah 1,5 Bulan, Peluang Rebound Mulai Terlihat Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan pelemahan dolar menjadi faktor utama yang menopang harga emas di tengah tekanan pasar yang masih tinggi. Meski demikian, ia menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi membatasi ruang penguatan logam mulia dalam jangka pendek. “Indeks dolar AS turun ke titik terendah sesi dan itu menjadi sentimen positif bagi emas. Tetapi kenaikan imbal hasil obligasi bisa menahan bahkan menekan harga logam mulia dalam waktu dekat,” ujarnya. Tekanan terhadap emas datang dari melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah global. Investor khawatir kenaikan harga energi akibat konflik Iran dapat memicu inflasi lebih tinggi dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun bahkan naik ke level tertinggi sejak Februari 2025. Kondisi tersebut membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil sehingga investor cenderung beralih ke aset berbunga ketika suku bunga dan yield obligasi meningkat. Baca Juga: Harga Emas Naik, Didorong Pelemahan Dolar AS dan Kekhawatiran Inflasi yang Mereda Di sisi lain, harga minyak dunia juga kembali melonjak sekitar 2% dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, harga minyak sempat turun setelah muncul laporan media Iran mengenai kemungkinan pelonggaran sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran. Namun sentimen itu tidak bertahan lama karena pasar kembali fokus pada risiko pasokan. Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar 55%. Sebaliknya, harga emas spot justru turun sekitar 13,8% pada periode yang sama. Di tengah volatilitas pasar, sejumlah bank investasi mulai memangkas proyeksi harga emas jangka pendek karena permintaan investor dinilai mulai melemah. Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis pada Rabu (29/4) Pagi JPMorgan Chase menjadi salah satu lembaga besar pertama yang menurunkan proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 menjadi US$ 5.243 per ons, dari sebelumnya US$ 5.708 per ons. Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,4% menjadi US$ 77,04 per ons. Sementara platinum turun tipis 0,1% menjadi US$ 1.972,10 per ons dan paladium melemah 0,2% ke level US$ 1.409,75 per ons.
Harga Minyak Dunia Naik Tembus Level Tertinggi Dua Pekan Dipicu Perang Iran
Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% ke level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan Senin (18/5/2026), dipicu kekhawatiran gangguan pasokan global akibat perang Iran dan belum pulihnya jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kenaikan harga terjadi di tengah pasar yang bergejolak, setelah kekhawatiran krisis pasokan mengalahkan sentimen positif dari kabar bahwa Amerika Serikat 9AS) bersedia mencabut sanksi minyak Iran selama proses negosiasi berlangsung. Mengutip Reuters, kontrak minyak Brent pengiriman Juli ditutup naik US$ 2,84 atau 2,6% menjadi US$ 112,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni melonjak US$ 3,24 atau 3,1% ke level US$ 108,66 per barel.
Negosiasi AS-Iran Buntu, Harga Minyak Tembus Level US$ 109,97 per Barel Level tersebut menjadi penutupan tertinggi Brent sejak 4 Mei dan tertinggi WTI sejak 7 April 2026. Lonjakan harga minyak dipicu memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai yang dapat mengakhiri penutupan hampir total Selat Hormuz. Jalur strategis itu dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga gangguan distribusi memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas energi global. Dalam perdagangan intraday, harga WTI sempat melonjak lebih dari US$ 4 per barel sebelum berbalik turun lebih dari US$ 2 karena volatilitas tinggi menjelang berakhirnya kontrak Juni pada Selasa (19/5/2026). Volume transaksi juga relatif tipis, hanya sekitar 55.000 kontrak, jauh di bawah rata-rata perdagangan harian tahun ini yang mencapai 359.000 kontrak. Setelah pasar tutup, harga minyak sempat melemah usai Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menunda serangan terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung Selasa. Baca Juga: Bergerak Naik Turun, Harga Minyak Catat Kenaikan Tinggi Pekan Ini Pekan lalu, harga Brent dan WTI sudah lebih dulu melesat lebih dari 7% karena meningkatnya kekhawatiran perang berkepanjangan di Timur Tengah akan mengganggu pasokan energi global. Kepala Badan Energi Internasional atau IEA, Fatih Birol, memperingatkan stok minyak komersial dunia kini terus menipis akibat konflik dan tertutupnya Selat Hormuz untuk pelayaran energi. Menurut Birol, pelepasan cadangan strategis memang telah menambah sekitar 2,5 juta barel minyak per hari ke pasar global. Namun ia menegaskan kapasitas cadangan tersebut tidak tidak terbatas. “Kami melihat kemajuan menuju solusi diplomatik AS-Iran mulai melambat dibanding pertengahan Maret saat harga WTI berada di kisaran saat ini,” tulis analis Ritterbusch and Associates dalam catatan risetnya. Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan AS dalam proposal terbaru disebut bersedia mencabut sanksi minyak Iran selama masa perundingan berlangsung. Sumber Reuters dari Pakistan juga menyebut mediator perdamaian negara tersebut telah menyampaikan proposal revisi dari Iran kepada pemerintah AS untuk mengakhiri konflik Timur Tengah. Namun sumber itu mengingatkan waktu kedua pihak untuk mencapai kompromi semakin sempit. Situasi geopolitik yang belum stabil membuat pelaku pasar mulai mengkhawatirkan dampak ekonomi global yang lebih luas. Capital Economics memperingatkan, bila Selat Hormuz tetap tertutup dalam beberapa pekan ke depan, dunia berisiko menghadapi perlambatan ekonomi hingga lonjakan inflasi. Baca Juga: Harga Minyak Mendekati Level Tertinggi 7 Bulan, Kekhawatiran Iran-AS Meningkat Perusahaan riset tersebut memperkirakan kondisi itu dapat memangkas pertumbuhan ekonomi di berbagai negara utama, memicu resesi moderat di sebagian wilayah Eropa, serta mendorong inflasi Inggris dan zona euro menembus 5%-6%. Capital Economics juga memperkirakan bank-bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve AS, akan kembali menaikkan suku bunga jika krisis energi berkepanjangan. Dampak perang Iran mulai terasa di Asia, terutama di Tiongkok. Data resmi menunjukkan pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu kehilangan momentum pada April 2026. Produksi industri melambat dan penjualan ritel turun ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun akibat tingginya biaya energi dan lemahnya permintaan domestik. Baca Juga: Harga Minyak Dekati Level Tertinggi Dua Pekan, Dipicu Meningkatnya Risiko Geopolitik Volume pengolahan minyak mentah Tiongkok pada April juga tercatat turun ke level terendah sejak Agustus 2022 karena terganggunya operasi kilang akibat krisis pasokan global. Sementara itu, Departemen Keuangan AS memutuskan memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari untuk pembelian minyak Rusia yang diangkut melalui jalur laut. Kebijakan itu ditujukan membantu negara-negara yang rentan terhadap krisis energi setelah pasokan minyak dari kawasan Teluk terganggu.
Wall Street Mixed, Yield dan Harga Minyak Melemah Redakan Tekanan Pasar
Indeks saham Amerika Serikat (AS) bergerak mixed pada perdagangan Senin (18/5/2026) di tengah meredanya tekanan dari pasar obligasi dan penurunan harga minyak dunia. Pergerakan pasar dipengaruhi turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi 4,573%, setelah sebelumnya sempat menyentuh 4,631%, level tertinggi sejak Februari 2025.
Berikut Jadwalnya Penurunan yield tersebut menjadi sentimen positif bagi saham, terutama sektor teknologi dan pertumbuhan (growth stocks) yang sensitif terhadap biaya modal. Di sisi lain, harga minyak Brent turun hampir 2% setelah laporan menyebut AS mengusulkan pelonggaran sementara sanksi minyak Iran, yang meredakan kekhawatiran gangguan pasokan global. Senior Portfolio Manager Dakota Wealth Robert Pavlik mengatakan, pergerakan yield menjadi faktor kunci bagi saham-saham berbasis pertumbuhan seperti sektor kecerdasan buatan (AI). “Yield adalah faktor utama karena saham growth dihargai berdasarkan proyeksi laba masa depan. Saat yield naik, valuasi saat ini tertekan,” ujarnya.
Melansir Reuters pada pukul 10:02 waktu New York, Dow Jones Industrial Average naik 0,28% ke 49.665,42. Sementara S&P 500 hanya naik tipis 0,04% ke 7.411,61, dan Nasdaq Composite melemah 0,14% ke 26.189,22. Sektor consumer services dan keuangan menjadi penopang penguatan, sedangkan teknologi dan energi justru menjadi penekan indeks. Sebelumnya, Wall Street sempat reli kuat dalam beberapa pekan terakhir, dengan S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi berkat optimisme terhadap kecerdasan buatan, meski di tengah kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi.
Saham Chip Bangkit & Yield Obligasi Mereda Saat ini, pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, dengan probabilitas sekitar 38,8% pada Januari, menurut CME FedWatch Tool. Fokus investor pekan ini tertuju pada laporan kinerja NVIDIA Corporation yang akan dirilis Rabu, di tengah ekspektasi tinggi setelah sahamnya naik 36% dari titik terendah Maret. Selain itu, Walmart juga akan merilis laporan yang akan memberi gambaran daya tahan konsumsi masyarakat AS di tengah tekanan inflasi dan harga energi. Di sisi korporasi, saham Dominion Energy melonjak 10,5% setelah NextEra Energy mengumumkan akuisisi senilai US$66,8 miliar, sementara saham Regeneron Pharmaceuticals anjlok 11,5% usai uji klinis obatnya gagal mencapai target utama.
Iran Ancam Teluk Oman Jadi Kuburan Kapal Jika AS tak Akhiri Blokade
Iran mengancam akan melawan Amerika Serikat atas blokade angkatan lautnya di Teluk Oman. Iran memperingatkan bahwa Laut Oman dapat berubah menjadi "kuburan" bagi kapal-kapal AS jika ketegangan terus meningkat.
"Saran saya kepada AS adalah mundurlah sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda. Jika tidak, maka yang kami pahami adalah bahwa blokade laut merupakan tindakan perang dan meresponsnya adalah hak alami kami," kata Anggota Dewan Kemaslahatan Iran Mayjen Mohsen Rezaei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Ahad (17/5/2026).
Rezaei menambahkan, pertahanan Iran tidak boleh diartikan sebagai sikap menerima terhadap tekanan atau ancaman.
"Jika kami telah bersabar hingga sekarang, maka itu bukan berarti kami menerimanya," kata dia.
Dia juga mempertanyakan alasan di balik masih adanya militer AS di kawasan Teluk. Menurut Rezaei, Washington tidak lagi memiliki pembenaran seperti yang dulu digunakan untuk mempertahankan perannya di kawasan tersebut.
"Amerika datang ke sini dan membawa kapal-kapal perangnya. Siapa musuh mereka? Dulu mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi," katanya.
Rezaei mengatakan Selat Hormuz selama ini tetap terbuka untuk perdagangan. Dia menegaskan yang ditolak adalah kampanye militer asing dan bukan lalu lintas komersial di jalur perairan tersebut.
"Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup bagi penumpukan militer dan segala upaya yang mengganggu keamanan," tegasnya.
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari hingga memicu serangan balasan oleh Teheran dan gangguan di Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi perundingan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
Sejak 13 April, AS memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis tersebut.
Israel Tangkap 100 Aktivis Global Sumud, Termasuk Jurnalis Republika
Israel dilaporkan menangkap sekitar 100 aktivis setelah mencegat armada bantuan kemanusiaan yang tengah menuju Jalur Gaza di perairan internasional. Jurnalis Republika Bambang Noroyono yang berada di kapal Boralize ikut ditangkap.
Jika Anda menemukan video ini mohon disampaikan kepada pemerintah Republik Indonesia bahwa saya saat ini dalam penculikan tentara Zionis Israel saya mohon agar pemerintah Republik Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajahan Zionis Israel,” kata Bambang Noroyono dalam video SOS-nya yang ia kirimkan Senin pagi waktu Turki.
Dikirimnya video SOS tersebut merupakan protokol peserta Armada Global Sumud. Video itu hanya dilansir jika yang bersangkutan dicegat IDF kapalnya dan berpotensi ditangkap.
Koalisi Global Sumud Flotilla menyatakan kapal-kapal militer Israel mulai melakukan intersepsi terhadap armada tersebut. Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, mereka menyebut pasukan Israel telah menaiki kapal pertama pada siang hari.
“Kapa-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan Israel menaiki kapal pertama kami di siang bolong,” demikian pernyataan Global Sumud Flotilla.
Media Israel melaporkan para aktivis yang ditangkap akan dibawa ke Pelabuhan Ashdod, pelabuhan terbesar Israel, setelah operasi selesai dilakukan. Empat kapal perang Israel disebut terlibat dalam operasi tersebut dan memerintahkan seluruh kapal dalam armada untuk mematikan mesin.
Menurut laporan media Israel, armada bantuan itu dicegat di lepas pantai Siprus.
Seorang aktivis yang berada di atas kapal mengatakan kepada koresponden bahwa armada tersebut tetap bertekad melanjutkan perjalanan menuju Gaza meski menghadapi intersepsi militer.
Sementara itu, media Israel menyebut operasi pengambilalihan seluruh kapal dalam armada diperkirakan berlangsung selama beberapa jam dan kemungkinan berlanjut hingga esok hari.
Panitia flotilla menyebut protokol intersepsi telah diaktifkan oleh kapal Ozgurluk pada Senin pagi waktu setempat menyusul adanya pergerakan kapal-kapal yang dianggap mencurigakan di sekitar armada. Dalam pernyataan kepada keluarga dan kerabat peserta flotilla, panitia menyebut situasi masih terus dipantau dan informasi lebih lanjut akan disampaikan setelah ada konfirmasi resmi.
“Telah terjadi aktivitas kapal-kapal dan protokol intersepsi telah diaktifkan. Kami akan memberi pembaruan segera setelah informasi terkonfirmasi,” demikian pernyataan panitia. Jurnalis Republika, Thoudy Badai ada di atas kapal tersebut.
Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) sebelumnya mewakilkan partisipasinya kepada sembilan relawan dan wartawan untuk ikut dalam kelanjutan misi pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Sembilan partisipan dari Indonesia itu akan bergabung dengan sekitar 500-an relawan dan aktivis kemanusian dari 30-an negara untuk melanjutkan misi pelayaran menembus blokade Gaza, Palestina.
Dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai turut serta dalam misi kemanusian itu. Angkat jangkar serempak digelar sore ini melalui Dermaga Albatros, di kawasan Pelabuhan Marmaris, Turki. Ada sebanyak 54 kapal kemanusian yang membentangkan layar serampak dari perairan selatan Turki itu.
Steering Committee Global Sumud Flotilla Maimon Herawati mengatakan, jumlah kapal akan bertambah menjadi 60.
"Insya Allah masih ada enam kapal dari teman-teman Freedom Flotilla Coalition yang juga ikut bergabung dalam kelanjutan misi ini. Jadi sekitar 60an kapal yang berlayar untuk menembus blokade ilegal di Gaza," kata Maimon saat dijumpai Republika di Marmaris, Turki, Kamis (14/5/2026).
Dua wartawan Republika turut berlayar di Kapal BoraLize dan Kapal Ozgurluk. Sedangkan partisipan Indonesia lainnya berada terpisah di kapal-kapal yang membawa bantuan kemanusian untuk masyarakat di Gaza, Palestina itu.
Selain dua dari Republika, para partisipan lainnya di antaranya Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Aras Asad Muhammad, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo Nugroho dan Rahendro Herubowo.
Militer Israel dilaporkan mulai melakukan serangan dan intersepsi terhadap armada kemanusiaan Global Sumud yang tengah menuju Jalur Gaza.
Harian Israel Yedioth Ahronoth melaporkan tentara Israel terlihat berada di dekat salah satu kapal yang berlayar menuju Gaza. Rekaman keberadaan pasukan Israel di sekitar kapal tersebut juga disebut telah beredar.
Armada Global Sumud terdiri dari 54 kapal yang berlayar dari distrik Marmaris di pesisir Mediterania Türkiye pada Kamis lalu dalam upaya terbaru untuk menembus blokade Israel terhadap Gaza.
Blokade Israel terhadap Jalur Gaza telah diberlakukan sejak musim panas 2007 dan hingga kini masih menjadi sorotan internasional di tengah konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Penasihat Trump Dilaporkan Lobi UEA Agar Lancarkan Serangan Darat ke Satu Pulau di Iran
Beberapa penasihat yang dekat dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mendorong Uni Emirat Arab (UEA) agar meningkatkan keterlibatannya dalam perang Iran. Seperti dilaporkan The Telegraph dilansir The Cradle, Ahad (17/5/2026), UEA diminta Washington agar menduduki sebuah pulau strategis Iran di Teluk Persia.
Pulau yang dimaksud dalam laporan itu adalah Pulau Lavan, yang merupakan tuan rumah bagi salah satu dari empat terminal minyak terbesar Iran yang berfungsi sebagai pangkalan ekspor minyak dan gas. "Ayo ambil alih mereka!" ujar seorang mantan pejabat keamanan Trump kepada Telegraph.
Pulau Lavan pun dilaporkan sudah pernah diserang oleh UEA. Seperti dilaporkan The Wall Street Journal pada Senin (11/5/2026), salah satu target serangan tersebut adalah sebuah kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, menurut sumber anonim yang mengetahui masalah tersebut.
Kilang Iran itu dihantam pada awal April, saat Presiden AS Donald Trump hendak mengumumkan gencatan senjata dengan Iran. Serangan itu menyebabkan kebakaran besar dan membuat fasilitas tersebut berhenti beroperasi, tambah laporan itu.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke UEA dan Kuwait. Salah satu sumber mengatakan bahwa AS secara diam-diam menyambut keterlibatan Emirat dalam perang tersebut.
Pada awal April lalu, media milik Iran, melaporkan bahwa UEA telah ikut serta dalam perang melawan Iran. Stasiun televisi milik negara Iran, IRIB, menyatakan dalam sebuah unggahan di perusahaan media sosial milik Amerika, X, bahwa ada dua dokumen yang membuktikan keterlibatan UEA dalam perang melawan Iran.
Bukti keterlibatan itu berupa penghancuran drone Wing Loong-2 buatan China pada Rabu (1/4/2026), yang diklaim hanya dimiliki oleh Arab Saudi dan UEA, serta keberadaan jet tempur Mirage 2000 milik UEA untuk intersepsi di atas Pulau Jask, Iran, pada Ahad (22/3/2026).
Meski demikian, klaim tersebut tidak dapat dikonfirmasi secara independen oleh Anadolu. Selain itu, tidak ada respons langsung dari UEA terkait laporan tersebut.
Menurut peneliti dari Institut Royal United Services, Burcu Ozcelik kepada The Telegraph, perang Iran telah "mengakselerasi sebuah blok hubungan AS-Israel-UEA. Ozcelik mengutip Anwar Gargash, penasihat presiden UEA dan pengkritik keras Iran, yang mengatakan bahwa pengaruh Israel akan "menjadi semakin menonjol di Teluk, tidak berkurang," sebagai akibat dari perang.
Berdasarkan laporan baru-baru ini, media Israel menyebut bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pejabat tinggi militer dan intelijen Israel berkujung ke Abu Dhabi untuk berkoordinasi langsung terkait perang Iran. Namun, UEA telah secara resmi membantah laporan itu.
Adapun, New York Times (NYT) pada Jumat pekan lalu melaporkan bahwa Pentagon merencanakan untuk menyerang Iran kembali, yang mana saat ini gencatan senjata masih berlangsung sejak 8 April. "Kami memiliki sebuah rencana eskalasi jika diperlukan," kata Menteri Perang AS Pete Hegseth kepada Kongres AS pekan lalu.
Dua pejabat dari Asia Barat berbicara dalam status anonim kepada NYT mengatakan bahwa, AS dan Israel terlibat dalam "persiapan intens" untuk kemungkinan melanjutkan perang kemungkinan pada awal pekan ini. Opsi untuk melanjutkan perang termasuk sebuah kampanye serangan bom yang lebih intens terhadap situs-situs militer Iran, menguasai Pulau Kharg di Teluk Persia, dan menerjunkan pasukan komando ke wilayah Iran untuk mengambil uranium yang diperkaya yang diyakini saat ini tertimbun di bawah tanah.
Di tengah ancaman AS, Iran menegaskan tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi lanjutan untuk mengakhiri perang kecuali lima tuntutan mereka dipenuhi. Menurut Fars News Agency, Republik Islam Iran menuntut sebuah akhir permusuhan di semua front, khususnya di Lebanon; pencabutan sanksi ekonomi; pelepasan aset-aset finansial Iran yang pernah disita; kompensasi kerusakan akibat perang; dan pengakuan atas kadulatan kontrol Iran terhadap Selat Hormuz.
Elon Musk: Mobil Otonom Tanpa Pengemudi Akan Semakin Banyak Digunakan di AS Tahun Ini
CEO Elon Musk memperkirakan bahwa mobil tanpa pengemudi atau kendaraan otonom akan semakin banyak digunakan di Amerika Serikat pada tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin melalui sambungan video dalam ajang Smart Mobility Summit yang digelar di Tel Aviv. Musk mengatakan bahwa saat ini sudah ada kendaraan otonom yang beroperasi di tiga kota di Texas tanpa pengawas keselamatan, dan teknologi tersebut akan diperluas ke lebih banyak wilayah di AS sepanjang tahun ini. “Dalam lima tahun ke depan, dan tentu dalam 10 tahun ke depan, kemungkinan sekitar 90% dari seluruh jarak tempuh akan dilakukan oleh kecerdasan buatan di dalam mobil otonom,” ujar Musk. Baca Juga: Trump: Pemotongan Suku Bunga Mungkin Tertunda hingga Perang Iran Berakhir Ia menambahkan bahwa dalam satu dekade mendatang, aktivitas mengemudi secara manual akan menjadi hal yang sangat terbatas dan tidak lagi umum dilakukan. Menurutnya, kepemilikan mobil pribadi dengan pengemudi manusia akan menjadi segmen yang semakin kecil seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan di sektor transportasi. “Jadi, dalam 10 tahun ke depan, kemungkinan besar mengemudi sendiri akan menjadi aktivitas yang sangat niche,” tambahnya. Pernyataan ini kembali menegaskan pandangan optimistis Musk terhadap masa depan teknologi kendaraan otonom, yang selama beberapa tahun terakhir terus dikembangkan dan diuji di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Trump: Pemotongan Suku Bunga Mungkin Tertunda hingga Perang Iran Berakhir
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui bahwa kebijakan pemangkasan suku bunga kemungkinan harus ditunda hingga konflik dengan Iran berakhir. Hal tersebut disampaikan dalam wawancara dengan majalah bisnis Fortune yang dipublikasikan pada Senin. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa kondisi geopolitik saat ini menjadi faktor utama yang memengaruhi arah kebijakan ekonomi, termasuk keputusan terkait suku bunga. “Anda tidak bisa benar-benar melihat angka-angka tersebut sampai perang berakhir,” ujar Trump, menekankan bahwa data ekonomi tidak dapat dinilai secara optimal selama konflik masih berlangsung. Baca Juga: Uni Eropa Susun Aturan Baru untuk Kurangi Ketergantungan Industri terhadap China Trump juga menyebut Iran sangat ingin mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Namun, ia mengkritik pendekatan yang dianggap tidak konsisten dalam proses negosiasi. “Iran ‘sangat ingin menandatangani’ kesepakatan gencatan senjata dengan AS. Namun mereka membuat kesepakatan, lalu mengirimkan Anda sebuah dokumen yang tidak memiliki hubungan dengan kesepakatan yang telah Anda buat,” kata Trump kepada Fortune.
Rusia Klaim Hancurkan 3.124 Drone Ukraina dalam Sepekan Terakhir
Rusia mengklaim telah mencegat dan menghancurkan sedikitnya 3.124 drone milik Ukraina sepanjang pekan terakhir. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita pemerintah Rusia, RIA Novosti, dengan mengutip data dari Kementerian Pertahanan Rusia. Berdasarkan kompilasi data yang dilakukan RIA, jumlah drone terbanyak yang berhasil ditembak jatuh terjadi pada 13 Mei dan 17 Mei 2026. Pada 13 Mei, Rusia mengklaim menghancurkan 572 drone Ukraina, sementara pada 17 Mei jumlahnya melonjak menjadi 1.054 unit. Sebagian besar drone tersebut dilaporkan ditembak jatuh di wilayah Rusia bagian Eropa, yang selama beberapa waktu terakhir menjadi sasaran serangan udara jarak jauh Ukraina. Baca Juga: Uni Eropa Susun Aturan Baru untuk Kurangi Ketergantungan Industri terhadap China Serangan drone intensif ini menandai meningkatnya eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina, terutama di wilayah-wilayah strategis yang berada jauh dari garis depan pertempuran. Sementara itu, pejabat setempat pada Minggu menyebut sedikitnya empat orang tewas akibat serangan drone terbesar Ukraina ke ibu kota Rusia dalam lebih dari satu tahun terakhir. Tiga korban di antaranya dilaporkan berada di wilayah Moskow.
Perang Iran Picu Lonjakan Harga Solar, Anggaran Sekolah di AS Tertekan
Lonjakan harga bahan bakar diesel sejak pecahnya perang Iran menambah tekanan besar terhadap anggaran distrik sekolah di Amerika Serikat. Kenaikan biaya energi membuat operasional bus sekolah hingga generator listrik menjadi semakin mahal dan dinilai tidak akan mampu ditanggung dalam jangka panjang. Distrik sekolah di berbagai wilayah, mulai dari Yakima di Negara Bagian Washington hingga Waco di Texas, kini terpaksa menggunakan dana cadangan darurat demi menjaga layanan transportasi siswa tetap berjalan. Sementara di Alaska yang terpencil, pejabat setempat berupaya keras memastikan pasokan bahan bakar cukup untuk menjaga listrik tetap menyala. "Ini bukan lagi sekadar beban kecil yang menjadi pemicu terakhir, melainkan sudah seperti tumpukan jerami besar," ujar Superintendent Yakima, Trevor Greene. Tekanan tersebut menjadi salah satu dampak lanjutan dari perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah mengganggu aliran sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, harga bahan bakar mengalami salah satu kenaikan tercepat dalam sejarah. Lonjakan harga energi tersebut mengguncang ekonomi global dan mulai menjadi tantangan politik bagi Donald Trump menjelang pemilu sela November, saat Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis di Kongres AS. Harga Diesel Melonjak Tajam Operator bus sekolah di AS merupakan konsumen besar diesel dengan konsumsi mencapai lebih dari 800 juta galon per tahun, menurut data American School Bus Council. Sejak Desember, harga diesel untuk armada di AS melonjak 67% menjadi US$ 5,52 per galon. Berdasarkan analisis perusahaan teknologi manajemen armada Samsara, kenaikan tersebut dapat menambah biaya operasional bus sekolah hingga sekitar US$ 1,8 miliar per tahun. Direktur Eksekutif Association of School Business Officials International, James Rowan, mengatakan lonjakan harga yang cepat membuat sekolah kesulitan menyusun anggaran secara akurat. Baca Juga: Produksi Batubara China Turun 1% pada April 2026, Pasokan Masih Ketat "Distrik sekolah dapat merencanakan biaya yang lebih tinggi, tetapi perubahan harga yang sangat cepat membuat penyusunan anggaran secara akurat menjadi sangat sulit," katanya. Menurut survei terhadap 188 pejabat sekolah yang dilakukan oleh School Superintendents Association atau AASA pada awal Mei, hampir sepertiga distrik sekolah di AS kini mengalihkan dana dari program lain untuk menutupi kenaikan biaya bahan bakar. Sementara hampir seperlima lainnya menggunakan dana cadangan atau dana darurat. Pangkas Rute hingga Tunda Perawatan Untuk menghemat pengeluaran, banyak distrik sekolah mulai menggabungkan rute bus, menerapkan kebijakan anti-idling atau larangan mesin menyala saat berhenti, mengubah strategi pembelian bahan bakar, menunda pekerjaan perawatan, hingga memangkas pengeluaran administrasi dan staf. Distrik Sekolah Yakima di Washington mencatat harga diesel yang mereka bayarkan naik 64% dibanding tahun lalu menjadi US$ 6,30 per galon. Dengan harga tersebut, distrik harus mengeluarkan tambahan biaya sekitar US$ 213.000 per tahun untuk mengoperasikan 60 bus sekolah. Menurut Greene, beban itu sangat berat bagi distrik yang didominasi sektor pertanian dan memiliki tingkat kemiskinan mencapai 86%. Sementara itu, distrik sekolah kini membeli diesel secara bertahap saat harga sedikit turun, alih-alih mengisi penuh tangki penyimpanan berkapasitas 30.000 galon. Di Minnesota barat laut, Superintendent Thief River Falls Public Schools, Christopher Mills, mengatakan biaya diesel untuk mengangkut sekitar 800 siswa naik sekitar 30% sejak perang Iran dimulai. Ia memperingatkan bahwa jika harga terus naik, sekolah berpotensi mengurangi layanan pendukung bagi siswa. Alaska Hadapi Ancaman Listrik Padam Tekanan lebih besar terjadi di Distrik Sekolah Yupiit di Alaska Barat Daya. Di wilayah tersebut, diesel bukan hanya digunakan untuk transportasi, tetapi juga untuk pemanas ruang kelas dan generator listrik komunitas. "Jika mereka tidak dapat menghasilkan listrik, maka kami tidak bisa menjalankan sekolah," kata Superintendent Yupiit School District, Scott Ballard. Baca Juga: China Komitmen Beli Produk Pertanian AS Senilai US$ 17 Miliar hingga 2028 Distrik yang melayani sekitar 550 siswa itu hanya memiliki waktu singkat setiap tahun untuk memasok bahan bakar karena wilayahnya tertutup es dalam sebagian besar waktu. Kini para pemimpin distrik dihadapkan pada pilihan sulit, yakni mengunci harga bahan bakar yang sudah naik hampir 66% dibanding tahun lalu atau berharap harga turun dalam waktu dekat. Sekolah Besar Mulai Beralih ke Energi Bersih Sebagian distrik sekolah besar di AS relatif lebih terlindungi dari gejolak harga diesel. Distrik sekolah New York City, yang terbesar di AS berdasarkan jumlah siswa, mengalihdayakan sekitar 60% layanan transportasi murid kepada kontraktor sehingga risiko kenaikan harga bahan bakar sebagian ditanggung pihak ketiga. Sementara itu, Los Angeles Unified School District telah bertahun-tahun mengurangi ketergantungan pada bus berbahan bakar diesel. Dari sekitar 1.300 armada bus yang dimiliki, sekitar 70% kini menggunakan bahan bakar alternatif atau baterai listrik. Pihak distrik menyatakan investasi besar pada transportasi bersih membantu mengurangi dampak kenaikan harga diesel terhadap anggaran transportasi sekolah.
Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada perdagangan Senin (18/5/2026). Penguatan dolar didorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak, serta aksi jual obligasi global yang menekan minat investor terhadap aset berisiko. Mengutip Reuters, euro terakhir diperdagangkan di level US$ 1,1609, sementara poundsterling berada di posisi US$ 1,3305. Keduanya melemah lebih dari 0,1% terhadap dolar AS. Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko turun 0,4% ke level US$ 0,7121. Sementara itu, dolar Selandia Baru relatif stabil di posisi US$ 0,5827. Adapun indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, menguat tipis ke level 99,393. Penguatan dolar terjadi seiring kenaikan harga minyak dunia. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik lebih dari 1% hingga menembus level US$ 110 per barel setelah sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab dilaporkan diserang. Di sisi lain, upaya mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran juga dinilai mengalami kebuntuan. Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global Analis Barclays dalam catatannya menyebut kondisi pasar saat ini mendukung reli dolar AS berlanjut pada pekan ini. "Tampaknya kondisi aset berisiko dan pasar obligasi sedang memburuk, dan situasi saat ini mendukung reli dolar AS untuk berlanjut pekan ini," tulis Barclays. Barclays juga menilai tanda-tanda bahwa Selat Hormuz akan tetap mengalami gangguan dalam jangka lebih panjang turut memberikan tekanan kenaikan terhadap harga minyak. Menurut mereka, dolar AS berpotensi menguat 0,5% hingga 1% setiap kali harga minyak naik 10%. Di saat yang sama, aksi jual obligasi global terus membebani sentimen pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di level tinggi di tengah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dari Timur Tengah dapat memicu inflasi lebih lanjut. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terakhir berada di level 4,607%, sementara obligasi tenor dua tahun berada di 4,085%, mendekati level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Christopher Wong, analis valuta asing dari OCBC, mengatakan dolar AS masih berpeluang melanjutkan penguatan selama yield obligasi tetap tinggi dan pasar memperkirakan kebijakan bank sentral AS akan tetap agresif. Baca Juga: Sidang Pemakzulan Sara Duterte Dimulai, Politik Filipina Kian Memanas "Dalam jangka pendek, dolar AS kemungkinan tetap diminati saat terjadi pelemahan jika imbal hasil obligasi tetap tinggi dan pasar terus memperkirakan respons The Fed yang lebih hawkish," ujar Wong. Pelaku pasar pekan ini juga akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan data awal Purchasing Managers' Index (PMI) AS. Kedua indikator tersebut diperkirakan memberikan gambaran mengenai tingkat kekhawatiran Federal Reserve terhadap inflasi yang masih tinggi serta ketahanan aktivitas ekonomi AS di tengah kondisi keuangan yang semakin ketat. Sementara itu terhadap yen Jepang, dolar AS diperdagangkan di level 158,84 yen, naik tipis 0,04% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di AS. Pelemahan yen kembali memicu kewaspadaan investor terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Di pasar China, yuan offshore diperdagangkan di level 6,8163 per dolar AS menjelang rilis data aktivitas ekonomi China yang dijadwalkan keluar pada Senin waktu setempat.