News Komoditi & Global ( Kamis, 13 Agustus 2026 )
News Komoditi & Global
( Kamis, 13 Agustus 2026 )
Harga Emas Global Tembus Level Tertinggi, Pasar Pangkas Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed
Harga emas menguat ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada Rabu (12/8/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai ekspektasi pasar. Kondisi ini memperkuat harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga pada September. Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,9% menjadi US$ 4.406,64 per ons troi pada pukul 13.30 waktu AS. Harga emas bahkan sempat menanjak lebih dari 1% ke US$ 4.467,50 per ons troi, level tertinggi sejak 5 Juni. Posisi emas juga berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari yang berada di US$ 4.387,22. Baca Juga: Harga Emas Turun Tertekan Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,6% menjadi US$ 4.467,50 per ons troi. Penguatan emas terjadi setelah inflasi konsumen AS pada Juli hanya naik 0,1% secara bulanan, sesuai dengan perkiraan pasar. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penurunan 0,4% pada Juni, tetapi belum cukup kuat untuk meningkatkan tekanan terhadap The Fed agar menaikkan suku bunga. Analis Marex Edward Meir mengatakan data inflasi tersebut menjadi katalis positif bagi emas, ditambah pelemahan dolar AS dan faktor teknikal. "Data CPI cukup mendukung emas karena sesuai ekspektasi, ditambah dolar yang melemah," kata Meir. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 40%, turun dari 46% sebelum data inflasi AS dirilis. Baca Juga: Harga Emas Tembus Level Tertinggi dalam 2 Bulan, Pasar Menanti Data Inflasi AS Sebelumnya, The Fed pada 29 Juli mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, meski tiga dari 12 anggota pemungutan suara memilih kenaikan suku bunga. Ekspektasi suku bunga menjadi salah satu penentu utama pergerakan emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan daya tarik emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil. Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati data Producer Price Index (PPI) AS yang dijadwalkan terbit Kamis (13/8). Data tersebut akan menjadi indikator tambahan bagi pasar dalam membaca arah kebijakan The Fed. Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali menjadi faktor yang perlu diperhatikan. AS dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap pelayaran pada Selasa. Situasi tersebut membuat prospek berakhirnya konflik Iran kembali meredup. Jika konflik kembali memanas, harga minyak berpotensi naik mendekati US$100 per barel. Kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi dan kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, yang berpotensi menahan laju emas. Baca Juga: Harga Emas Turun, Kekhwatiran Inflasi Menekan Prospek Penurunan Suku Bunga The Fed Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,3% menjadi US$65,49 per ons troi setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni. Platinum naik 0,9% menjadi US$1.759,50 per ons troi, sedangkan palladium menguat 0,5% menjadi US$1.367,23 per ons troi. Teaser: Harga emas menembus level tertinggi dua bulan setelah inflasi AS sesuai ekspektasi. Pasar kini memangkas taruhan kenaikan bunga The Fed.
Harga Minyak Dunia Melemah saat Persediaan Minyak Naik Jauh Lebih Besar dari Prakiraan
West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di sekitar US$82,45 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Kamis. WTI melemah di tengah peningkatan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari prakiraan. Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar perundingan AS-Iran untuk mendapatkan dorongan baru.
Persediaan minyak mentah AS naik lebih besar dari yang diprakirakan pekan lalu. Menurut Energy Information Administration (EIA) AS, stok minyak mentah di AS untuk pekan yang berakhir 7 Agustus melonjak 17,422 juta barel, dibandingkan dengan kenaikan 2,479 juta barel pada pekan sebelumnya. Konsensus pasar memprakirakan penurunan 1,4 juta barel.
Para pedagang menunggu tanda-tanda kemajuan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz. Seorang pejabat senior Iran menyatakan AS dan Iran masih berselisih soal upaya menyepakati akhir permanen perang di Timur Tengah, seraya mengatakan bahwa belum ada kemajuan dalam perundingan untuk menghidupkan kembali kesepakatan interim yang disepakati pada bulan Juni dan menetapkan kerangka waktu untuk melaksanakannya.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pada hari Rabu bahwa Washington memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz. Iran membantah klaim Trump, menegaskan bahwa jalur perairan penting itu masih diblokir. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dapat mendorong harga WTI dalam jangka pendek.
Ahli strategi energi Rabobank memperingatkan bahwa harapan akan solusi diplomatik cepat untuk gangguan pengiriman di Selat Hormuz mungkin keliru. Mereka berpendapat bahwa "kesepakatan jangka pendek untuk membuka Selat Hormuz bagi pengiriman komersial kecil kemungkinannya karena kedua belah pihak memiliki sangat sedikit titik temu," seraya mencatat bahwa pengaturan semacam itu "tidak menawarkan solusi permanen untuk titik-titik krusial yang menjadi inti seluruh konflik." Sebaliknya, Rabobank memprakirakan setiap kesepakatan hanya akan menjadi "celah waktu 60 hari lainnya untuk transit bebas melalui Hormuz sementara negosiasi lanjutan dimulai kembali," menegaskan pandangan mereka bahwa risiko geopolitik di sekitar titik-titik sempit utama akan tetap menjadi pendorong penting volatilitas Brent dan WTI.
Wall Street Menguat, Investor Cermati Data Inflasi dan Laporan Laba Perusahaan
Indeks Utama Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Investor mencermati data inflasi yang sesuai perkiraan, sementara laporan laba yang positif dari beberapa perusahaan infrastruktur AI memberikan dukungan tambahan. Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan indeks Dow Jones Industrial Average naik 5,6 poin, atau 0,01% ke level 53.797,47. S&P 500 naik 37,3 poin, atau 0,48% ke level 7.765,46, sementara Nasdaq Composite naik 235,0 poin, atau 0,89%, menjadi 26.680,469. Data Departemen Tenaga Kerja menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) naik 3,4% pada bulan Juli dibandingkan tahun sebelumnya, sesuai dengan perkiraan 3,4% dari para ekonom yang disurvei oleh Reuters. Baca Juga: IHSG Rebound Jelang Rilis MSCI, Simak Proyeksi dan Sentimen yang Perlu Dicermati Secara bulanan, IHK naik 0,1%, sejalan dengan ekspektasi kenaikan 0,1%. Para pedagang kini memperhitungkan kemungkinan sebesar 55% bahwa Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan September, menurut alat FedWatch milik CME. Sebelum data tersebut dirilis, pandangan mereka terbagi antara kemungkinan kenaikan suku bunga dan tidak adanya perubahan. Angka inflasi menjadi sorotan utama karena tingginya harga energi akibat konflik di Timur Tengah telah meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Sikap tegas Ketua The Fed, Kevin Warsh, terkait panduan kebijakan (forward guidance) yang terbatas juga membuat investor lebih fokus pada data ekonomi untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan bank sentral. "Angka-angka yang mencerminkan kondisi masa lalu ini menempatkan The Fed tepat pada posisi yang mereka inginkan. Mereka tidak perlu melakukan apa pun. Ini adalah narasi yang mereka harapkan: kita melihat adanya sedikit perlambatan, namun tidak terjadi keruntuhan ekonomi," ujar Luke Rahbari, CEO Equity Armor Investments. "Namun... situasi perang di Timur Tengah sering kali mengalami pasang surut, ditambah dengan fluktuasi tajam harga minyak dan bensin, sehingga situasi ini bisa berubah drastis dari hari ke hari." Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah, Harapan Damai AS-Iran Memudar Situasi di Timur Tengah tetap tidak menentu setelah AS dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran melaporkan serangan terpisah terhadap kapal-kapal pada hari Selasa, di tengah memudarnya harapan akan berakhirnya perang. Saham CoreWeave melonjak 19,2% dalam perdagangan pre market setelah perusahaan cloud AI tersebut menaikkan perkiraan belanja modal tahunan dan mencatatkan kinerja yang melampaui estimasi laba kuartal kedua. Saham penyedia infrastruktur AI lainnya juga mengalami kenaikan, termasuk operator pusat data IREN dan Applied Digital, yang masing-masing naik lebih dari 8%. Saham perusahaan cloud Nebius Group melonjak 16,7%. Saham Super Micro Computer naik 9,2% setelah produsen server AI tersebut memproyeksikan pendapatan tahun fiskal 2027 di atas ekspektasi Wall Street.
Investor Khawatir Strategi Komunikasi The Fed Berubah pada Era Kevin Warsh
Investor mulai mempertanyakan kemampuan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh untuk mengubah pola komunikasi kebijakan moneter yang telah dibangun selama puluhan tahun tanpa memicu gejolak di pasar keuangan. Sejumlah pelaku pasar menyambut upaya terbaru The Fed untuk mengurangi ketergantungan pasar terhadap komunikasi bank sentral. Namun, sebagian investor menilai pasar telah bertahun-tahun menggunakan panduan The Fed sebagai acuan dalam menentukan valuasi obligasi hingga menyusun strategi manajemen risiko. Perhatian investor kini tertuju pada simposium tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, yang akan digelar pada akhir Agustus. Forum tersebut akan menjadi salah satu kesempatan penting bagi Warsh untuk menunjukkan apakah dirinya akan melanjutkan strategi komunikasi yang lebih terbatas. "Tujuan bank sentral bukanlah membuat pasar modal menjadi lebih menarik dengan menghilangkan sumber transparansi dan informasi," kata Alex Morris, Chief Executive Officer F/m Investments. Baca Juga: Bank of America Siapkan US$250 Miliar untuk Infrastruktur Digital dan Energi AS "Begitu Anda mulai memberikan transparansi, sulit bagi pasar untuk menerima bahwa Anda akan menariknya kembali," lanjutnya. The Fed Pangkas Panduan Kebijakan Sejak Warsh menjabat sebagai Ketua The Fed pada 2026, bank sentral Amerika Serikat tersebut mulai menerapkan strategi komunikasi yang lebih sederhana. The Fed mengurangi penggunaan forward guidance, memperpendek pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC), serta lebih menekankan kondisi ekonomi saat ini dibandingkan memberikan sinyal mengenai arah suku bunga di masa mendatang. Belakangan, The New York Times melaporkan bahwa Warsh mengusulkan kemungkinan pengurangan jumlah pertemuan rutin The Fed yang digunakan untuk menetapkan kebijakan moneter. Jika diterapkan, langkah tersebut akan mengakhiri praktik yang telah berlangsung selama hampir setengah abad. Juru bicara The Fed menolak memberikan komentar mengenai kemungkinan pengurangan jumlah pertemuan maupun strategi komunikasi bank sentral yang lebih terbatas. Warsh sebelumnya berpendapat bahwa pasar telah terlalu bergantung pada panduan bank sentral dan seharusnya memberikan perhatian lebih besar terhadap fundamental ekonomi. Namun, investor menilai ketergantungan tersebut juga tidak terlepas dari kebijakan The Fed sendiri yang selama sekitar 50 tahun terus meningkatkan transparansi, antara lain melalui konferensi pers rutin, proyeksi ekonomi, serta pernyataan kebijakan yang semakin terperinci. Investor Khawatir Risiko Pasar Meningkat Kekhawatiran investor bukan semata-mata mengenai potensi meningkatnya volatilitas pasar. Berkurangnya informasi dari pembuat kebijakan juga dinilai dapat menyulitkan investor dalam menentukan harga risiko. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi sekaligus meningkatkan biaya pinjaman. "Ada banyak kebingungan yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang. Ekspektasi inflasi jangka panjang juga meningkat setelah pertemuan The Fed terakhir," kata Angelo Kourkafas, Senior Global Investment Strategist di Edward Jones. "Dalam kasus ini, lebih sedikit informasi tidak selalu lebih baik bagi pasar, karena pasar masih berusaha mengetahui bagaimana The Fed yang baru akan merespons data yang masuk," ujarnya. Baca Juga: Bursa China Menguat Tipis Rabu (12/88), Sektor Teknologi dan Properti Jadi Penopang Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 20 bulan. Steven Zeng, US Rates Strategist di Deutsche Bank, menilai pengurangan panduan The Fed menghadirkan konsekuensi yang perlu diperhitungkan. Menurut dia, lebih sedikit pertemuan dan komunikasi dapat mengurangi apa yang disebutnya sebagai "kebisingan yang tidak membantu" serta membuat setiap keputusan kebijakan menjadi lebih berarti. Imbal Hasil Obligasi Berpotensi Naik Investor kemungkinan akan meminta kompensasi lebih besar karena berkurangnya visibilitas terhadap pemikiran The Fed. "Selama masa transisi menuju kerangka baru, imbal hasil obligasi kemungkinan akan lebih tinggi sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan," kata Zeng. Prospek tersebut menjadi sangat penting bagi pasar Treasury. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang mencerminkan ekspektasi investor terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah kebijakan moneter di masa depan. Sejumlah investor menilai komunikasi The Fed telah begitu melekat dalam pembentukan harga di pasar sehingga pengurangannya dapat mengubah cara investor menilai surat utang pemerintah AS. Bahkan investor yang terbuka terhadap pengurangan panduan The Fed mengakui bahwa pasar kemungkinan akan semakin bergantung pada data ekonomi untuk membaca arah kebijakan bank sentral. "Tidak buruk bagi pasar jika jumlah pertemuan dan panduan kebijakan dikurangi," kata Vishal Khanduja, Head of the Broad Markets Fixed Income Team di Morgan Stanley Investment Management. Namun, Khanduja mengatakan investor akan menghadapi kesulitan ketika pernyataan dan tindakan pembuat kebijakan tidak sejalan. Dalam kondisi ketika sinyal resmi semakin sedikit, pasar tidak memiliki banyak pilihan selain memperkirakan arah kebijakan secara langsung berdasarkan data inflasi, ketenagakerjaan, dan pertumbuhan ekonomi. Data Inflasi AS Jadi Ujian Berikutnya Data inflasi Amerika Serikat menjadi salah satu indikator penting yang akan diperhatikan pasar untuk membaca arah kebijakan The Fed. "Pasar Treasury akan menjadi lebih volatil di sekitar rilis data-data penting ini karena data kemudian menjadi satu-satunya kekuatan panduan utama mengenai seperti apa kebijakan di masa depan," kata Khanduja. Putin Murka, Rusia Ancam Balas jika Eropa Sita Kapal Dagang Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist di Ameriprise, menilai pembaruan kebijakan secara berkala tetap diperlukan untuk menjaga ekspektasi pasar tetap sejalan dengan arah yang diinginkan pembuat kebijakan. Meski demikian, menurut dia, The Fed masih dapat mengurangi jumlah konferensi pers tanpa harus mengubah jadwal pertemuan kebijakan dan publikasi pernyataannya. Tantangan yang lebih besar bagi The Fed adalah meyakinkan pasar untuk menerima tingkat transparansi yang lebih rendah setelah bank sentral tersebut menghabiskan waktu puluhan tahun membangun sistem komunikasi yang lebih terbuka. "Sepertinya setiap ketua The Fed selalu mengawali masa jabatannya dengan sangat buruk, kemudian mereka harus menemukan cara untuk menjalankannya," kata Eric Kuby, Chief Investment Officer North Star Investment Management. Perubahan strategi komunikasi tersebut pada akhirnya akan menjadi ujian bagi Warsh. Jika pasar kesulitan membaca arah kebijakan The Fed, ketidakpastian dapat tercermin dalam kenaikan imbal hasil obligasi dan biaya pendanaan. Sebaliknya, jika komunikasi yang lebih sederhana mampu membuat pasar kembali berfokus pada fundamental ekonomi, strategi tersebut dapat memperkuat peran data ekonomi dalam menentukan ekspektasi kebijakan moneter.
Bank of America Siapkan US$250 Miliar untuk Infrastruktur Digital dan Energi AS
Bank of America berencana menggelontorkan dana hingga US$250 miliar untuk mendukung proyek digital dan infrastruktur di Amerika Serikat (AS) hingga Juli 2027. Inisiatif tersebut ditujukan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan puluhan ribu lapangan kerja. Bank of America menyampaikan rencana tersebut pada Rabu (12/8/2026) melalui program "Critical Infrastructure Finance Initiative". Program ini diluncurkan setelah perayaan ulang tahun ke-250 Amerika Serikat. Pendanaan tersebut akan mencakup pembiayaan melalui pasar perdana, investasi, layanan pasar modal, serta berbagai layanan perbankan dan konsultasi. Langkah Bank of America menunjukkan semakin besarnya minat institusi keuangan utama AS untuk memanfaatkan pertumbuhan investasi domestik, khususnya di sektor pusat data kecerdasan buatan (AI), pertambangan mineral kritis, serta modernisasi infrastruktur energi. Baca Juga: Bursa China Menguat Tipis Rabu (12/88), Sektor Teknologi dan Properti Jadi Penopang Rencana tersebut juga diumumkan hanya beberapa hari setelah Morgan Stanley menyatakan akan memfasilitasi pembiayaan sekitar US$1,5 triliun selama satu dekade untuk proyek teknologi dan infrastruktur. Fokus pada Tiga Sektor Infrastruktur Dalam pelaksanaannya, aktivitas keuangan Bank of America akan difokuskan pada tiga kategori utama. Pertama, infrastruktur digital, termasuk pusat data dan fasilitas komputasi. Kedua, infrastruktur energi dan kelistrikan, yang mencakup pembangkit listrik energi terbarukan serta penyimpanan energi. Ketiga, infrastruktur inti, seperti transportasi dan jaringan gas alam. Co-head of Global Capital Solutions Bank of America Karen Fang mengatakan kebutuhan pembangunan infrastruktur AS membutuhkan mobilisasi modal dalam skala besar. "Memenuhi kebutuhan infrastruktur Amerika yang terus berkembang membutuhkan mobilisasi modal dalam skala besar di berbagai sektor yang semakin saling terhubung," kata Fang. Ia menambahkan, pembiayaan proyek-proyek tersebut membutuhkan solusi pendanaan yang terintegrasi, baik melalui pasar publik maupun swasta. Baca Juga: Putin Murka, Rusia Ancam Balas jika Eropa Sita Kapal Dagang "Pelaksanaan proyek-proyek ini membutuhkan solusi pembiayaan terintegrasi yang mencakup modal di tingkat korporasi dan proyek, baik di pasar publik maupun swasta," ujar Fang. Berlaku hingga Juli 2027 Bank of America menyatakan nilai US$250 miliar tersebut akan dihitung berdasarkan aktivitas yang memenuhi kriteria program selama periode 18 bulan. Periode tersebut dimulai pada 1 Januari 2026, yang menandai dimulainya tahun ke-250 Amerika Serikat, hingga 4 Juli 2027. Program ini menempatkan sektor infrastruktur digital, energi, dan infrastruktur inti sebagai sasaran utama pembiayaan Bank of America. Perkembangan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan investasi AS untuk menopang ekspansi teknologi AI sekaligus memperbarui jaringan energi dan infrastruktur nasional. Dengan meningkatnya kebutuhan pusat data dan komputasi AI, kebutuhan listrik dan infrastruktur pendukung juga ikut meningkat. Kondisi tersebut membuka peluang pembiayaan yang besar bagi perbankan dan lembaga keuangan di AS dalam beberapa tahun mendatang.
Putin Murka, Rusia Ancam Balas jika Eropa Sita Kapal Dagang
Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa Rusia akan memberikan respons setimpal jika negara-negara Eropa menyita kapal dagang milik Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan Putin pada Rabu (12/8/2026), seperti dilaporkan kantor berita pemerintah Rusia, TASS. Ancaman itu muncul ketika Uni Eropa (UE) meningkatkan tekanan terhadap apa yang disebut sebagai shadow fleet Rusia, yakni armada kapal yang dituding digunakan untuk menghindari sanksi. UE sebelumnya memperluas sanksi terhadap ratusan kapal dan menahan sejumlah kapal beserta awaknya untuk menjalani pemeriksaan. Sejumlah pemerintah Eropa juga disebut tengah mempertimbangkan langkah penegakan hukum maritim yang lebih ketat terhadap kapal-kapal yang dicurigai menghindari sanksi. TASS mengutip pernyataan Putin mengenai rencana tersebut. "Tentu saja, ini tidak lebih dari pembajakan dan banditisme. Dan jika hal ini benar-benar diterapkan, kami akan dipaksa untuk merespons secara setimpal," ujar Putin, menurut laporan TASS. Baca Juga: Korea Utara Kembali Uji Rudal Balistik Jelang Latihan Militer AS-Korea Selatan Putin juga menegaskan bahwa tindakan balasan Rusia tidak akan terbatas pada wilayah perairan tempat kapal Rusia disita. "Tindakan itu akan terjadi di mana pun kami anggap perlu dan tepat," katanya, seperti dikutip TASS. Pernyataan Putin menambah ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa terkait penegakan sanksi terhadap aktivitas pelayaran yang berkaitan dengan Rusia. Putin Soroti Aktivitas NATO di Asia-Pasifik Putin menyampaikan pernyataan tersebut dari Pulau Sakhalin, wilayah Rusia di Timur Jauh, ketika dirinya mengamati latihan militer. Dalam kesempatan tersebut, Putin juga menyoroti aktivitas NATO di kawasan Asia-Pasifik serta perkembangan keamanan di wilayah Arktik. Menurut TASS, Putin menuduh NATO mulai memperluas pengaruhnya ke kawasan Asia-Pasifik dan menciptakan ketegangan di wilayah Arktik. Baca Juga: Bursa Asia Menguat Rabu (12/8), Saham Korea Selatan Naik 3,7% Jelang Data Inflasi AS "NATO sedang membuat terobosan ke kawasan tersebut, blok-blok militer-politik baru sedang dibentuk, dan sistem persenjataan baru yang menimbulkan ancaman terhadap Rusia sedang dikerahkan atau direncanakan untuk dikerahkan," kata Putin, menurut TASS. Ketegangan terkait kapal dagang Rusia menjadi bagian dari meningkatnya tekanan negara-negara Barat terhadap Moskow. Sementara itu, Rusia secara konsisten mengecam langkah-langkah penyitaan atau penahanan kapal yang dianggap berkaitan dengan kepentingan Rusia sebagai tindakan ilegal. Perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan risiko ketegangan di jalur pelayaran Eropa apabila negara-negara Barat memperluas tindakan terhadap kapal yang diduga terkait dengan shadow fleet Rusia.
Korea Utara Kembali Uji Rudal Balistik Jelang Latihan Militer AS-Korea Selatan
Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistik ke arah perairan di lepas pantai timur Semenanjung Korea pada Rabu (12/8/2026). Peluncuran tersebut dilakukan hanya beberapa hari sebelum Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) menggelar latihan militer gabungan yang telah lama dikecam Pyongyang. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) mengatakan rudal tersebut diluncurkan dari wilayah Wonsan, Korea Utara, sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Peluncuran ini terjadi enam hari setelah Korea Utara menembakkan rudal balistik lain dari wilayah yang sama. Latihan militer gabungan Korea Selatan dan AS, yang dikenal dengan nama Ulchi Freedom Shield, dijadwalkan berlangsung pada 17-27 Agustus 2026. Latihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan kedua negara dalam menghadapi perkembangan kemampuan nuklir dan persenjataan Korea Utara. Peneliti senior Korea Institute for National Unification di Seoul, Hong Min, menilai peluncuran rudal tersebut kemungkinan merupakan bagian dari agenda pengembangan persenjataan Korea Utara yang telah direncanakan. Namun, menurut dia, waktu peluncuran juga dapat dipilih secara sengaja untuk mengirimkan pesan politik menjelang latihan militer AS dan Korea Selatan. Baca Juga: Bursa Asia Menguat Rabu (12/8), Saham Korea Selatan Naik 3,7% Jelang Data Inflasi AS "Meski itu merupakan uji coba senjata yang sedang dikembangkan, memilih kapan melakukan uji coba tersebut membutuhkan keputusan politik," kata Hong. Hingga Rabu sore, belum ada pernyataan resmi dari Korea Utara mengenai peluncuran rudal dari Wonsan tersebut. Namun, Pyongyang pada hari yang sama mengkritik ambisi nuklir Korea Selatan dan Jepang. Korea Utara Telah 11 Kali Uji Rudal Balistik pada 2026 Korea Selatan mengatakan Korea Utara juga meluncurkan rudal balistik dari Wonsan pada 6 Agustus 2026. Namun, Pyongyang tidak memberitakan peluncuran tersebut melalui media pemerintah. Hong memperkirakan uji coba pada 6 Agustus kemungkinan tidak mencapai sasaran yang diinginkan. Rangkaian uji coba persenjataan Korea Utara sepanjang tahun ini mencakup rudal balistik jarak pendek, roket artileri, serta berbagai jenis senjata taktis lainnya. Berdasarkan penilaian Korea Selatan, peluncuran pada Rabu merupakan uji coba rudal balistik yang diduga sebagai yang ke-11 dilakukan Korea Utara sepanjang 2026. Otoritas pertahanan Korea Selatan dan Jepang memperkirakan rudal tersebut terbang sekitar 700 kilometer. JCS Korea Selatan belum mengategorikan rudal itu sebagai rudal balistik jarak pendek. Otoritas terkait masih melakukan analisis lebih mendalam untuk menentukan jenis rudal yang digunakan. Ketidakjelasan tersebut membuka kemungkinan bahwa rudal yang diluncurkan merupakan jenis persenjataan lain. Secara umum, rudal balistik dengan jangkauan antara 300 kilometer hingga 1.000 kilometer dikategorikan sebagai rudal jarak pendek. Hong mengatakan jarak tempuh, lintasan, dan lokasi peluncuran menunjukkan kemungkinan rudal tersebut merupakan jenis rudal hipersonik. Namun, dia juga tidak menutup kemungkinan rudal tersebut merupakan rudal yang diluncurkan dari kapal selam. Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Turun Rabu (12/8), Saham BHP dan CBA Jadi Beban Korea Selatan dan Jepang Kecam Peluncuran Korea Selatan dan Jepang langsung mengecam peluncuran rudal terbaru Korea Utara. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan Tokyo telah menyampaikan protes keras kepada Korea Utara melalui jalur diplomatik di Kedutaan Besar Jepang di Beijing. "Jepang menyampaikan protes keras kepada Korea Utara melalui jalur diplomatik di Kedutaan Besar Jepang di Beijing dan mengecam keras tindakan tersebut," kata Koizumi kepada wartawan. Kantor Keamanan Nasional Korea Selatan juga menggelar rapat darurat. Pemerintah Seoul menyatakan keprihatinan atas berlanjutnya peluncuran rudal balistik Korea Utara setelah uji coba pada 6 Agustus. Seoul mendesak Pyongyang menghentikan tindakan provokatif yang dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Militer Korea Selatan juga menyatakan tetap mempertahankan kesiapsiagaan untuk memberikan respons "secara luar biasa" terhadap setiap provokasi berdasarkan postur pertahanan gabungan dengan AS. Komando Indo-Pasifik AS mengatakan pihaknya terus melakukan konsultasi erat dengan sekutu dan mitra. Berdasarkan penilaian awal, peluncuran rudal tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel maupun wilayah AS atau sekutunya. Korea Utara Soroti Rencana Kapal Selam Nuklir Korea Selatan Ketegangan di Semenanjung Korea meningkat ketika Korea Utara juga menyoroti rencana Korea Selatan mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang menangani urusan Korea Selatan mengatakan rencana tersebut berpotensi meningkatkan ketidakstabilan di kawasan dan menjadi "tantangan serius" terhadap keamanan Korea Utara. Menurut pernyataan tersebut, Pyongyang membutuhkan kemampuan untuk menghadapi pergerakan militer negara-negara lawannya melalui serangan balasan yang membuat "kelangsungan hidup dan pemulihan mereka menjadi mustahil". Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pyongyang tetap menempatkan pengembangan kemampuan militer dan strategi pencegahan sebagai bagian penting dalam menghadapi Korea Selatan dan AS. Baca Juga: Saham Eropa Stabil, Harga Minyak Naik Jelang Rilis Data CPI AS Dalam komentar terpisah, kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, menuduh Jepang berupaya mengembangkan senjata nuklir dengan kedok penggunaan energi atom untuk tujuan damai. KCNA mengaitkan tuduhan tersebut dengan program tenaga nuklir Jepang serta perdebatan di kalangan politisi Jepang mengenai kemungkinan pengembangan persenjataan nuklir. Rudal Korea Utara Disebut Digunakan Rusia Perkembangan tersebut terjadi di tengah perhatian internasional terhadap kerja sama militer Korea Utara dan Rusia. Pada Selasa (11/8/2026), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan Rusia menggunakan rudal balistik Korea Utara dalam serangan yang menewaskan tujuh pekerja di sebuah pabrik baja di Kota Zaporizhzhia, Ukraina bagian tenggara. Tuduhan tersebut menambah sorotan terhadap peran persenjataan Korea Utara dalam konflik Rusia-Ukraina, sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan rudal Pyongyang memiliki implikasi yang lebih luas di luar Semenanjung Korea. Peluncuran terbaru Korea Utara kini menjadi perhatian menjelang pelaksanaan Ulchi Freedom Shield. Latihan gabungan AS dan Korea Selatan tersebut berpotensi kembali meningkatkan ketegangan dengan Pyongyang, yang selama ini menganggap latihan militer kedua negara sebagai ancaman terhadap keamanannya.
PBB: Tepi Barat di Tubir Ledakan Besar
Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyampaikan peringatan soal potensi ledakan konflik menyusul aksi brutal tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat belakangan. Serangan-serangan itu terang-terangan dilakukan di wilayah yang diakui komunitas internasional sebagai wilayah Palestina.
Dalam pidatonya pada Selasa waktu setempat di hadapan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai Timur Tengah, termasuk isu Palestina, Alakbarov menyatakan bahwa hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina syahid di Tepi Barat sepanjang tahun 2026, termasuk 18 anak di bawah umur.
Ia menambahkan bahwa pada tahun 2026 saja, 3.800 warga Palestina—yang hampir separuhnya adalah anak-anak—telah kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan oleh pemukim, pembongkaran bangunan, dan penggusuran.
"Kekerasan oleh pemukim telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," tegasnya, seraya mencatat bahwa PBB telah mendokumentasikan lebih dari 1.430 insiden tahun ini yang berdampak pada sekitar 260 komunitas Palestina.
"Polanya jelas," ujarnya: warga Palestina dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka di berbagai wilayah Tepi Barat sebelum para pemukim mengambil alih lahan yang telah dikosongkan tersebut. Ia mencatat bahwa serangan oleh pemukim Israel, yang sebelumnya terkonsentrasi di Area C, kini semakin sering dilaporkan terjadi di Area B dan bahkan Area A.
DK PBB menggelar sidang ini—sidang kedua dalam kurun waktu dua minggu di tengah meningkatnya kekerasan yang berdampak pada warga Palestina di Tepi Barat—atas permintaan anggota Dewan dari Eropa, yang didukung oleh Bahrain, China, Pakistan, dan Federasi Rusia.
Sementara itu, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Hannan Sulieman, menceritakan kisah seorang nenek di Tepi Barat yang merasa takut untuk keluar rumah setelah sebuah granat dilemparkan ke dapur rumahnya saat cucu-cucunya berada di dalam.
"Ruang-ruang mendasar bagi masa kanak-kanak—rumah, ruang kelas, jalanan, dan lingkungan masyarakat—kian menjadi tempat yang tidak aman," ia memperingatkan.
Antara Januari 2024 dan Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur—"lebih dari satu anak setiap minggunya," ujarnya sebagai gambaran situasi.
Lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka, dengan hampir separuhnya terluka akibat peluru tajam. Dalam periode yang sama, 3 anak Israel tewas dan 15 lainnya terluka.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa 355 anak Palestina dari Tepi Barat sedang ditahan dalam tahanan militer Israel—"jumlah tertinggi dalam delapan tahun terakhir." Ia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk melindungi anak-anak, mengakhiri pengungsian paksa keluarga-keluarga Palestina, melindungi akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, serta menjamin keamanan operasi kemanusiaan.
"Anak-anak di Tepi Barat memiliki hak yang sama dengan anak-anak di mana pun," ujarnya, seraya menambahkan: "Hak untuk hidup, belajar, dilindungi, dan membayangkan masa depan yang bebas dari kekerasan dan ketakutan."
Putin Sampaikan Belasungkawa, Kolombia Berjuang Hadapi Dampak Gempa Dahsyat
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella menyampaikan terima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas dukungan dan belasungkawa menyusul gempa bumi dahsyat yang mengguncang wilayah barat Kolombia, Senin (10/8/2026). Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 181 orang dan menyebabkan ribuan lainnya terluka.
“Presiden Vladimir Putin, saya menerima pesan Anda atas nama Kolombia yang saat ini dengan tegar menghadapi dampak dari tragedi yang menyedihkan ini. Ucapan Anda bagi mereka yang kehilangan orang-orang terkasih serta bagi warga Kolombia yang saat ini berjuang untuk pulih diterima dengan penuh penghargaan. Terima kasih telah mengingat Kolombia di masa sulit ini,” kata de la Espriella melalui platform X.
De la Espriella mengatakan rakyat Kolombia bersatu menghadapi dampak bencana tersebut. Pemerintah kini memusatkan perhatian pada operasi pencarian dan penyelamatan sekaligus memenuhi kebutuhan warga di sejumlah wilayah yang mengalami kerusakan berat.
Gempa bermagnitudo 7,4 mengguncang Kolombia pada Senin. Pusat gempa berada di dekat San Jose del Palmar, Departemen Choco, di wilayah barat negara tersebut. Guncangan kuat dirasakan di sejumlah kota besar, termasuk Cali, Pereira, Manizales, dan Quibdo, serta sejumlah negara tetangga.
Data korban terus berkembang seiring berlangsungnya proses evakuasi. Hingga Selasa (11/8/2026), sedikitnya 181 orang dilaporkan meninggal dunia dan 2.595 orang mengalami luka-luka. Tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap warga yang dilaporkan hilang atau diduga terjebak di bawah reruntuhan.
Operasi pencarian kini berpacu dengan waktu. Tim penyelamat berupaya memaksimalkan periode kritis 72 jam pertama setelah gempa untuk menemukan korban yang kemungkinan masih bertahan hidup di bawah bangunan yang runtuh.
Kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah kota di bagian barat Kolombia. Cali, Pereira, Manizales, dan Quibdo termasuk wilayah yang mengalami dampak berat, dengan bangunan runtuh dan infrastruktur publik mengalami gangguan.
Di sejumlah wilayah terdampak, gempa turut mengganggu pasokan listrik, air, dan gas. Kerusakan juga memengaruhi operasional sejumlah bandara sehingga penerbangan sempat terganggu ketika pemerintah memusatkan sumber daya pada penanganan darurat.
Pemerintah Kolombia telah menetapkan keadaan darurat nasional untuk mempercepat mobilisasi sumber daya dan penanganan korban. Pemerintah juga mengerahkan tambahan personel keamanan ke kawasan terdampak serta menyiapkan dukungan bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
Bantuan internasional mulai mengalir ke Kolombia. Amerika Serikat antara lain menjanjikan bantuan darurat lebih dari 15 juta dolar AS, sedangkan Meksiko mempersiapkan pengiriman personel dan bantuan. El Salvador juga dilaporkan menyiapkan sekitar 100 ton bantuan untuk masyarakat terdampak.
Di tengah operasi penanganan bencana tersebut, Rusia turut menyampaikan solidaritas. Kedutaan Besar Rusia di Kolombia mempublikasikan pesan Putin pada Selasa (11/8/2026) yang berisi belasungkawa kepada de la Espriella serta keluarga para korban.
Putin juga menyampaikan harapan agar masyarakat yang terluka akibat bencana tersebut dapat segera pulih.
“Mohon terima belasungkawa terdalam saya atas banyaknya korban jiwa dan kerusakan parah yang disebabkan oleh gempa bumi yang melanda wilayah barat Kolombia,” demikian pesan Putin.
Pesan tersebut mendapat respons langsung dari de la Espriella. Bagi pemerintah Kolombia, dukungan internasional datang ketika operasi pencarian dan penanganan pengungsi masih berlangsung di berbagai wilayah terdampak.
Gempa tersebut menjadi ujian besar bagi pemerintahan de la Espriella yang baru memulai masa pemerintahannya. Selain menghadapi tingginya jumlah korban, pemerintah harus mengoordinasikan pencarian, layanan kesehatan, pengungsian, keamanan, serta pemulihan infrastruktur secara bersamaan.
Sejumlah kota juga menghadapi risiko gempa susulan. Pemerintah mengimbau masyarakat tidak kembali memasuki bangunan yang telah mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman karena struktur bangunan dapat semakin rentan apabila terjadi guncangan lanjutan.
Wilayah barat Kolombia memang memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi. Posisi geografis Kolombia berada pada kawasan dengan aktivitas tektonik kompleks, sehingga sejumlah wilayahnya, termasuk kawasan di sekitar Quibdo, Pereira, Armenia, Manizales, dan Cali, memiliki sejarah aktivitas seismik.
Bencana kali ini juga kembali mengingatkan pada gempa besar yang mengguncang kawasan penghasil kopi Kolombia pada Januari 1999. Kawasan tersebut secara geologis termasuk wilayah dengan ancaman seismik tinggi dan memiliki sejumlah pusat perkotaan yang padat.
Saat ini, perhatian pemerintah tetap diarahkan pada penyelamatan korban. Tim SAR, petugas medis, aparat keamanan, dan relawan terus menyisir bangunan yang runtuh, sementara rumah sakit di kawasan terdampak menangani korban luka yang terus berdatangan.
Pemerintah Kolombia menegaskan penanganan darurat akan dilanjutkan bersamaan dengan pendataan kerusakan. Setelah fase penyelamatan selesai, tantangan berikutnya adalah menyediakan tempat tinggal bagi warga terdampak serta memulihkan fasilitas publik dan aktivitas ekonomi di kota-kota yang mengalami kerusakan terparah.
Intel Turki: Trump Ngumpet di Truk Katering Karena Dibohongi Israel
Para pejabat Turki menduga bahwa laporan intelijen Israel—yang menyebutkan Iran berencana membunuh Presiden AS Donald Trump saat KTT NATO di Ankara bulan lalu—merupakan taktik untuk menggagalkan perundingan dengan Teheran. Informasi palsu itu memaksa Trump melarikan diri dengan menaiki truk katering.
Middle East Eye mengutip para para pejabat Turki yang menyatakan keyakinan mereka bahwa laporan intelijen Israel tersebut kemungkinan besar hanyalah taktik pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Tujuannya untuk menampilkan diri sebagai pihak yang melindungi Trump, menggagalkan perundingan dengan Iran, serta merusak hubungan yang tampak erat antara Trump dan Erdogan.
Dalam pertemuannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Trump berulang kali menyatakan bahwa perang dengan Iran telah berakhir dan mengungkapkan harapan terkait negosiasi, menurut keterangan seorang sumber yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Sikap itu sangat bertolak belakang dengan agenda Netanyahu, yang mendesak dimulainya kembali perang, termasuk serangan yang lebih berat terhadap infrastruktur energi Iran serta kampanye pembunuhan baru yang menargetkan para pemimpin Iran.
Dalam pertemuan dengan kepala negara Turki sehari sebelum dugaan rencana pembunuhan itu, Trump juga mengisyaratkan kesiapannya untuk mencabut sanksi yang dijatuhkan terhadap Turki akibat pembelian sistem rudal S-400 buatan Rusia pada tahun 2019, serta menjual jet tempur F-35 kepada Ankara.
Netanyahu sendiri sangat menentang penjualan F-35 ke Ankara dengan alasan bahwa hal itu akan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut dan mengikis "Keunggulan Militer Kualitatif" Israel.
"Tentu saja, kami menanggapi laporan tersebut dengan sangat serius dan berupaya membantu rekan-rekan kami dari Amerika semaksimal mungkin," ujar seseorang yang mengetahui masalah ini kepada MEE. "Namun, bagi kami sangat jelas bahwa laporan itu sama sekali tidak benar."
Meskipun jaringan Iran sebelumnya pernah menculik atau membunuh para pembangkang Iran di Turki, Teheran tidak pernah berani melancarkan operasi canggih di sana yang melibatkan sarana lebih dari sekadar senjata api biasa.
Kronologi
Sekitar pukul 14.00 pada tanggal 8 Juli, para wartawan mendengar kabar bahwa aparat keamanan Turki mengerahkan unit-unit tambahan secara tidak biasa ke Bandara Ankara, tempat pesawat kepresidenan AS, Air Force One, diparkir.
Ankara sedang dalam status pengamanan ketat (lockdown) untuk penyelenggaraan KTT NATO pada 7-8 Juli. Jalan-jalan diblokir, trotoar ditutup, pegawai negeri diberikan cuti administratif selama sepekan, dan kota itu pun tampak lengang.
Pemerintah Turki bahkan telah menyiapkan Pangkalan Udara Etimesgut milik Angkatan Udara Turki—yang secara resmi dikenal sebagai Bandara Ankara—untuk acara tersebut, sehingga para kepala negara dapat mencapai lokasi KTT dalam waktu 10 menit.
Di tengah langkah-langkah pengamanan ekstensif tersebut, para pejabat AS memberitahu rekan sejawat mereka di Turki bahwa mereka telah menerima laporan intelijen dari Israel yang mengindikasikan Iran mungkin menargetkan Trump.
Sumber-sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada MEE bahwa laporan tersebut memperingatkan adanya kemungkinan unit operasi rahasia Iran menargetkan pesawat Air Force One baru milik Trump di dekat Bandara Ankara.
"Pihak Iran diduga dapat menargetkan pesawat tersebut dari radius satu kilometer menggunakan rudal panggul yang dikenal sebagai MANPADS," ujar salah satu sumber kepada MEE.
Berbeda dengan Bandara Esenboga—bandara internasional yang melayani ibu kota Turki—Bandara Ankara dikelilingi oleh bangunan-bangunan sipil, yang beberapa di antaranya berjarak hanya 500 meter dari landasan pacu. Jarak yang dekat ini mendorong pejabat Turki untuk mengambil langkah-langkah pencegahan tambahan.
Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa Dinas Rahasia AS (US Secret Service) ingin mengambil langkah perlindungan lebih lanjut. Para pejabat awalnya memindahkan lokasi keberangkatan Trump dari Bandara Ankara ke Bandara Esenboga, tempat bangunan sipil berada lebih jauh dari perimeter bandara.
Mereka kemudian memutuskan untuk kembali menggunakan pesawat Air Force One yang lama karena pesawat tersebut dilengkapi sistem pertahanan udara yang tidak dimiliki oleh pesawat yang baru.
Ancaman upaya Iran untuk mencelakai Trump dianggap kredibel oleh banyak pejabat AS, mengingat Iran dilaporkan pernah mencoba merancang serangan serupa sebanyak dua kali sebelumnya.
Pada Juli 2024, seorang warga negara Pakistan bernama Asif Merchant ditangkap terkait dugaan rencana pembunuhan terhadap politisi AS, yang kemungkinan termasuk Trump. Kemudian, pada November 2024, Departemen Kehakiman mengumumkan dakwaan terhadap warga negara Afghanistan, Farhad Shakeri, dengan tuduhan bahwa pemerintah Iran telah memerintahkannya untuk menyusun rencana pembunuhan Trump. Iran telah membantah menargetkan Trump maupun pejabat Amerika lainnya.
Dinas Rahasia menanggapi laporan terbaru ini dengan sangat serius; menurut laporan The Washington Post, Trump dipindahkan secara diam-diam setelah sempat menaiki pesawat Air Force One yang lama. Ia dilaporkan dipindahkan dengan tergesa-gesa menggunakan kendaraan katering menuju pesawat pemerintah AS lainnya yang turut serta dalam rombongan, yaitu sebuah pesawat C-32.
Gaza Ikut Jadi Syarat Dibukanya Selat Hormuz, Iran: AS Harus Akhiri Perang di Semua Kawasan
Sekretaris Dewan Keamanan Iran, Mohsen Rezaei pada Selasa (11/8/2026) mengatakan, bahwa Iran mengajukan beberapa syarat pembukaan kembali Selat Hormuz kepada Amerika Serikat (AS) melalui mediator. Akhir perang di Gaza ikut dimasukkan ke dalam syarat yang diajukan ke AS.
"Amerika harus mengakhiri perang, mengembalikan aset Iran yang dibekukan, dan perang di seluruh kawasan, termasuk Lebanon dan Gaza, harus berakhir. Syarat-syarat ini beserta ketentuan lainnya telah disampaikan kepada mereka melalui mediator," kata Rezaei, sebagaimana dikutip penyiar Press TV.
Pada 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung sejak 28 Februari. Namun, pada 8 Juli Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata yang telah mereka sepakati tidak berlaku lagi, dan sejak saat itu pasukan AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeklaim bahwa serangan-serangan itu sebagai tanggapan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Pasukan Iran kemudian melakukan balasan dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS yang berada di negara Timur Tengah.
Pada 12 Juli, Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga intervensi AS di kawasan tersebut berakhir, menyusul gelombang baru aksi saling serang antara pihak yang bertikai. Keesokan harinya, Trump mengatakan AS akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz dan memberlakukan kembali blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (11/8/2026) mengatakan negaranya memiliki tiga cara untuk menghadapi Iran, termasuk eskalasi dan tekanan ekonomi. Sementara terkait Selat Hormuz, Trump mengeklaim AS mengontrol sepenuhnya.
"Kami memiliki tiga strategi. Melakukan apa yang saya lakukan sekarang ... menghantam mereka dengan sangat keras ... Atau mengalahkan mereka secara ekonomi, bagaimana pun kami sudah melakukan itu," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan pembawa acara radio dan TV AS, Wayne Allyn Root.
Pada Ahad (9/8/2026), Trump mengakui bahwa pemerintahannya telah mengurangi upaya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran dan menjalankan proses tersebut secara hati-hati, dengan harapan tekanan ekonomi akan memberikan dampak terhadap mereka.
Sedangkan pada awal Agustus, Trump mengumumkan bahwa pihaknya telah membatalkan serangan terhadap Iran mengingat adanya kemungkinan kesepakatan damai yang mencakup pembukaan Selat Hormuz dan kesepakatan tentang program nuklir.
Media Iran: Tujuh Tentara AS Tewas dalam Bentrokan di Kapal Induk USS Lincoln
Tujuh personel Angkatan Laut AS dilaporkan media Iran tewas dan beberapa lainnya terluka dalam bentrokan hebat di atas kapal induk USS Abraham Lincoln. Insiden ini disebut mencerminkan meningkatnya keresahan di kalangan awak kapal serta tekanan yang kian memuncak di dalam tubuh militer AS akibat masa penugasan yang berkepanjangan.
Menurut Kantor Berita Tasnim semalam yang mengutip sumber militer, insiden tersebut bermula ketika seorang penasihat bagi Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, naik ke kapal induk itu untuk menanggapi keluhan yang kian meningkat dari para awak kapal. Keluhan ini muncul menyusul protes dari keluarga mereka terkait lamanya masa penugasan kapal tersebut.
Penasihat itu dilaporkan disambut dengan sorakan cemoohan dan lemparan botol air saat berbicara di hadapan para personel yang berkumpul. Konfrontasi tersebut kemudian memuncak menjadi perkelahian antar-awak kapal yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya, yang mengakibatkan tujuh personel tewas dan beberapa lainnya terluka, menurut sumber tersebut.
Sejauh berita itu dilansir media-media Iran, belum ada konfirmasi dari pihak militer AS soal kejadian tersebut. Laporan itu juga belum bisa diverifikasi secara independen.
Sementara media pemerintah Iran Press TV melaporkan, suasana di atas kapal induk itu dilaporkan masih tegang dan tidak menentu. Kapal Abraham Lincoln telah menjalani penugasan selama 263 hari dan saat ini beroperasi di Samudra Hindia, dengan misi utama menegakkan blokade laut ilegal terhadap Iran. Kapal induk ini telah berada di laut selama 208 hari berturut-turut—masa penugasan tanpa henti terlama bagi kapal induk AS mana pun di era modern—kecuali untuk singgah sebentar di Oman pada bulan Juli.
Laporan mengenai kekerasan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait kondisi kehidupan dan kerja yang dihadapi oleh sekitar 5.000 pelaut dan Marinir di kapal induk tersebut. Para personel dilaporkan telah memprotes pasokan makanan yang tidak memadai; porsi makan bahkan dikurangi hingga hanya tersisa setengah cangkir nasi dan dua potong daging.
Fasilitas binatu kapal induk juga tidak beroperasi selama dua minggu, sementara keberadaan jamur di area kamar mandi telah menyebabkan infeksi jamur pada sejumlah awak kapal. Keluarga para personel militer telah menyuarakan kekhawatiran mengenai kelelahan, kesehatan mental, serta dampak dari tempo operasional yang berkepanjangan terhadap kemampuan awak kapal dalam menjalankan tugas mereka dengan aman.
Dalam sebuah pertemuan di San Diego pada hari Kamis, sekitar 200 kerabat mendesak Penjabat Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, untuk menanggapi kondisi di kapal induk tersebut serta ketidakjelasan jadwal kepulangan para awak kapal. Laporan kematian di kapal Abraham Lincoln ini menyusul insiden serius lainnya yang melibatkan kapal USS Gerald R. Ford.
Pada tanggal 12 Maret 2026, kebakaran terjadi di area tempat tinggal yang menampung sekitar 600 awak kapal, yang mengakibatkan 200 personel mengalami luka-luka. Kapal Gerald R. Ford kemudian membawa para korban luka ke fasilitas angkatan laut di Pulau Kreta, Yunani, sebelum akhirnya terpaksa kembali ke Amerika Serikat.
Sementara media AS Military Times melaporkan, keluarga para pelaut mengungkapkan kabar soal banyaknya tentara AS yang mencoba bunuh diri melompat dari USS Lincoln.
Salah satunya, Annabelle Loma hanya sempat berbicara beberapa kali dengan suaminya sejak pria itu mencoba melompat dari kapal induk saat menjalani penugasan saat ini. Komunikasi sulit dilakukan, dan suaminya kini sedang menjalani penundaan tugas karena alasan medis.
Loma, yang tinggal di San Diego, mengatakan bahwa suaminya telah berulang kali dipaksa bekerja melampaui batas kemampuannya sebelum ia mencoba melompat dari kapal induk tersebut.
"Dia ketakutan," ujar Loma. "Dia mengira akan diberhentikan secara tidak hormat; hanya karena dia mengalami kelelahan ekstrem, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja. Itu tidak adil, itu tidak benar. Bukan hal itu yang seharusnya dia cemaskan saat ini.”
Loma mengatakan bahwa awalnya ia menerima telepon dari ombudsman kapal setelah insiden tersebut, namun belum mendengar kabar apapun dari pihak Angkatan Laut dalam beberapa minggu terakhir.
Sekitar 5.000 pelaut dan Marinir kapal Lincoln masih menjalani penugasan yang dimulai pada 21 November. Kapal induk tersebut telah dikerahkan selama lebih dari delapan bulan untuk mendukung operasi militer AS di Timur Tengah yang ditujukan terhadap Iran. Penugasan yang semula diperkirakan akan berakhir pada bulan Mei itu telah diperpanjang tanpa adanya pengumuman resmi mengenai tanggal kepulangan.
Dalam insiden terpisah di atas kapal Lincoln, seorang pelaut yang sedang berjaga melihat rekan sesama pelaut bersiap untuk melompat ke laut dan melakukan tindakan pencegahan, menurut istri pelaut tersebut, Maria Rodriguez.
Rodriguez mengatakan suaminya berseru kepada pelaut itu sebelum berhasil menjangkaunya, lalu memegang lengan pelaut tersebut dan menariknya ke atas geladak. Suaminya mengatakan bahwa pelaut itu belum sampai jatuh ke laut saat ia berhasil menjangkaunya.
Tiga pelaut lainnya mendengar seruan itu dan berlari datang untuk membantu. Suami Rodriguez menceritakan kejadian itu kepadanya beberapa hari setelah peristiwa tersebut terjadi.
Secara terpisah, Stars and Stripes melaporkan pada hari Selasa bahwa para pelaut menceritakan sebuah insiden di mana petugas jaga mencegah seorang awak kapal melompat ke laut. Stripes melaporkan bahwa seluruh awak kapal diberitahu mengenai insiden tersebut melalui pengumuman di seluruh kapal.