News Komoditi & Global ( Jumat, 30 Januari 2026 )
News Komoditi & Global
( Jum’at, 30 Januari 2026 )
Harga Emas Global Ambruk Usai Cetak Rekor Tertinggi, Investor Ambil Untung
Harga emas dunia terkoreksi pada Kamis (29/1/2026) setelah investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menyusul pencapaian rekor tertinggi sepanjang masa.
Meski demikian, kinerja emas masih berada di jalur penguatan bulanan terbaik sejak dekade 1980-an, di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,3% ke level US$5.330,20 per troy ounce pada pukul 13.30 waktu AS. Sebelumnya, harga sempat berbalik arah dan anjlok lebih dari 5% ke posisi terendah harian US$ 5.109,62, setelah menyentuh rekor tertinggi di US$ 5.594,82 pada sesi yang sama.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup melemah 0,3% di level US$ 5.318,40 per troy ounce.
“Terjadi aksi jual yang cukup tajam setelah logam mulia mencetak rekor tertinggi baru,” ujar Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.
Meski terkoreksi, harga emas spot masih melonjak sekitar 24% sepanjang Januari dan naik 7% dalam sepekan terakhir. Kuatnya reli ini mendorong UBS merevisi naik proyeksi harga emas menjadi US$ 6.200 per troy ounce untuk tiga kuartal pertama tahun ini, sebelum diperkirakan turun ke US$ 5.900 pada akhir 2026.
Permintaan emas juga semakin meluas, mulai dari investor kripto hingga bank sentral. Direktur Utama GoldSilver Central, Brian Lan, menilai logam mulia kini menjadi sorotan utama karena investor cenderung memburu aset dengan potensi imbal hasil tinggi.
Ketegangan geopolitik turut menopang sentimen emas. Presiden AS Donald Trump menekan Iran untuk kembali berunding soal kesepakatan nuklir, sementara Teheran mengancam akan melakukan pembalasan terhadap AS, Israel, dan sekutunya.
Dari sisi korporasi, CEO grup kripto Tether mengungkapkan rencana alokasi 10%–15% portofolio investasinya ke emas fisik. Di saat yang sama, kepemilikan SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar dunia, mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun.
Dari kebijakan moneter, bank sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga pada Rabu (28/1/2026). Pasar kini menanti pengumuman Trump terkait pengganti Ketua The Fed Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang.
Pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya baru akan dilakukan pada Juni.
Sementara itu, harga perak spot turun 2,1% ke US$ 114,14 per troy ounce setelah sempat menyentuh US$ 121,64. Meski melemah, harga perak telah melonjak lebih dari 60% sepanjang bulan ini, didorong defisit pasokan dan aksi beli spekulatif.
Analis Marex, Guy Wolf, menilai pasar perak, platinum, dan paladium relatif kecil dibandingkan emas atau indeks S&P 500, sehingga rentan terhadap arus spekulasi yang membuat harga terlepas dari fundamental permintaan fisik.
Harga platinum spot turun 3,2% ke US$2.602,85 per troy ounce, setelah mencetak rekor US$ 2.918,80 awal pekan ini. Sementara itu, paladium melemah 3,7% ke level US$ 1.996,65 per troy ounce.
Harga Minyak Dunia Melonjak 3% ke Level Tertinggi Lima Bulan, Pasar Cemas AS Serang Iran
Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% dan mencapai level tertinggi dalam lima bulan pada Kamis (29/1/2026), dipicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan global jika Amerika Serikat (AS) menyerang Iran, salah satu produsen minyak terbesar OPEC.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$ 2,31 atau 3,4% dan ditutup di level US$ 70,71 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 2,21 atau 3,5% ke US$ 65,42 per barel.
Kenaikan tersebut mendorong Brent ke posisi tertinggi sejak 31 Juli, sedangkan WTI mencatatkan penutupan tertinggi sejak 26 September. Secara teknikal, kedua harga acuan minyak tersebut sudah masuk area jenuh beli (overbought).
Lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, termasuk serangan terbatas ke aparat keamanan dan pemimpin negara tersebut.
Langkah itu disebut bertujuan mendorong perubahan rezim, menyusul penindakan keras terhadap gelombang protes nasional di Iran yang menewaskan ribuan orang.
Di sisi lain, pemerintah Iran dilaporkan melakukan penangkapan massal untuk meredam aksi lanjutan. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar akan respons Iran, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz—jalur penting yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari.
“Perhatian utama pasar adalah dampak lanjutan jika Iran membalas, terutama bila Selat Hormuz ditutup,” kata analis PVM John Evans.
Iran tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC pada 2025, di bawah Arab Saudi dan Irak.
Uni Eropa pun memperburuk tekanan dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap individu dan entitas Iran yang terlibat dalam penindakan terhadap demonstran, serta menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris.
Analis Citi menilai meningkatnya risiko serangan terhadap Iran telah mendongkrak “premi geopolitik” dalam harga minyak.
Namun, di sisi lain, ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan kenaikan harga.
Upaya perdamaian perang Rusia-Ukraina dinilai dapat membuka peluang peningkatan ekspor minyak Rusia, yang merupakan produsen minyak terbesar ketiga dunia. Jika tercapai, tambahan pasokan ini berpeluang menekan harga energi global.
Selain itu, Kazakhstan menyatakan ladang minyak raksasa Tengiz akan kembali beroperasi normal dalam waktu dekat. Sebelumnya, gangguan produksi di Kazakhstan sempat mengurangi pasokan global secara signifikan.
Di Amerika Serikat, produksi minyak juga mulai pulih setelah badai musim dingin sempat memangkas produksi hingga 2 juta barel per hari.
Dari sisi makroekonomi, dolar AS masih berada di dekat level terlemahnya sejak Februari 2022.
Pelemahan dolar membuat harga minyak lebih terjangkau bagi pembeli global, sehingga ikut menopang harga. Sikap The Fed yang cenderung menahan suku bunga juga dipandang positif bagi pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi.
Sementara itu, selisih harga Brent terhadap WTI melebar menjadi US$ 5,30 per barel, tertinggi sejak April 2024. Kondisi ini dinilai mendorong eksportir AS meningkatkan pengiriman minyak ke pasar internasional karena secara ekonomi semakin menguntungkan.
Wall Street Tertekan, Saham Teknologi Turun karena Kekhawatiran Belanja AI
Indeks utama Wall Street ditutup bervariasi dengan kecenderungan melemah pada Kamis (29/1/2026).
Tekanan terbesar datang dari saham teknologi, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan belanja kecerdasan buatan (AI) raksasa teknologi yang dinilai belum memberikan hasil sepadan.
Melansir Reuters, indeks S&P 500 turun 10,41 poin atau 0,15% ke level 6.967,62. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi anjlok lebih dalam, turun 179,39 poin atau 0,75% ke 23.678,05.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru menguat tipis 21,05 poin atau 0,04% ke posisi 49.036,65.
Tekanan pasar dipicu laporan kinerja emiten teknologi besar, terutama Microsoft. Saham perusahaan perangkat lunak tersebut melemah setelah pendapatan cloud-nya tidak memenuhi ekspektasi pasar.
Investor khawatir belanja besar Microsoft untuk pengembangan AI, termasuk kemitraannya dengan OpenAI, belum menghasilkan imbal balik yang cepat.
Pelemahan Microsoft ikut menyeret indeks S&P 500. Saham perangkat lunak lain seperti SAP, ServiceNow, Salesforce, Oracle, Adobe, hingga Datadog juga tertekan.
SAP terpukul oleh prospek bisnis cloud yang hati-hati, sementara laporan keuangan ServiceNow menambah sentimen negatif di sektor ini.
Managing Director dan Co-CIO Paleo Leon, John Praveen, menilai pasar mulai mempertanyakan efektivitas investasi AI. “Microsoft mengecewakan dan ada kekhawatiran nyata bahwa investasi AI justru bisa menggerus bisnis perusahaan perangkat lunak,” ujarnya.
Menurut Praveen, investor juga cenderung mengurangi eksposur saham dan memilih bersikap defensif di tengah berbagai ketidakpastian global.
Mulai dari arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve, siapa calon ketua bank sentral berikutnya, hingga risiko politik seperti potensi penutupan pemerintahan AS dan ketegangan geopolitik.
Kekhawatiran serupa disampaikan CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield. Ia menilai AI berpotensi mengganggu model bisnis sejumlah perusahaan software jika teknologi tersebut menggantikan layanan yang selama ini mereka tawarkan.
“Terlepas dari benar atau tidaknya, saham-saham itu sudah terlanjur dihantam pasar,” katanya.
Di kelompok saham berkapitalisasi besar, Tesla turut melemah setelah mengumumkan rencana menggandakan belanja modal ke level tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor teknologi menjadi yang terburuk. Sebaliknya, sektor layanan komunikasi tampil kuat setelah saham Meta Platforms melonjak. Induk Facebook tersebut mencatatkan proyeksi pendapatan yang optimistis, meski juga menaikkan belanja modal tahun ini hingga 73%.
Di tengah tekanan sektor teknologi, saham IBM justru menguat setelah laba kuartal keempatnya melampaui ekspektasi analis.
Sementara itu, indeks energi melonjak seiring kenaikan tajam harga minyak. Harga minyak Brent menembus level tertinggi hampir enam bulan, didorong kekhawatiran pasar terhadap potensi serangan militer AS ke Iran.
Dari sisi kinerja emiten lain, saham Caterpillar dan Mastercard menguat setelah membukukan laba kuartalan yang lebih tinggi. Saham Lockheed Martin juga reli usai memproyeksikan laba 2026 di atas perkiraan pasar.
Southwest Airlines mencuri perhatian dengan lonjakan saham setelah memperkirakan laba tahunan yang lebih kuat dari ekspektasi, menjadikannya salah satu penguat terbesar di S&P 500.
Di sisi lain, saham perusahaan tambang mineral tanah jarang melemah menyusul laporan bahwa pemerintahan Donald Trump akan menarik dukungan terhadap kebijakan batas bawah harga mineral kritis. Saham USA Rare Earth, MP Materials, Critical Metals, dan United States Antimony kompak turun.
Pemerintah AS Terancam Shutdown Lagi, Donald Trump Negosiasi dengan Senat AS
Pemerintahan federal Amerika Serikat (AS) terancam mengalami penutupan lagi alias shutdown. Namun, Presiden AS Donald Trump dan Senator Partai Demokrat Chuck Schumer berusaha mencapai kesepakatan guna menegosiasikan pembatasan baru terhadap agen imigrasi federal, yang berpotensi mencegah penutupan pemerintahan.
New York Times pada Rabu (28/1/2026), mengutip pejabat yang mengetahui masalah tersebut melaporkan, Senat AS akan memisahkan undang-undang yang mendanai Departemen Keamanan Dalam Negeri dari paket enam RUU pengeluaran yang diperlukan untuk mendanai militer, program kesehatan, dan lembaga federal lainnya hingga akhir tahun fiskal.
Reuters tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut. Gedung Putih dan juru bicara Schumer tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Senat AS akan mengesahkan RUU tersebut sebelum batas waktu tengah malam Jumat. Kongres AS juga akan mempertimbangkan perpanjangan jangka pendek operasi keamanan dalam negeri untuk menghindari kesenjangan layanan di Badan Keamanan Transportasi, Penjaga Pantai, dan Badan Manajemen Darurat Federal, tulis New York Times.
Laporan ini muncul setelah, Partai Demokrat di Senat AS menyerukan pembatasan baru pada agen imigrasi sebelumnya pada hari itu, membuka jalan bagi penutupan sebagian pemerintah AS akhir pekan ini.
Partai Demokrat telah menyatakan bahwa mereka tidak akan menyetujui perpanjangan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri hingga September 2026 tanpa batasan baru pada tindakan keras imigrasi Trump.
Agen ICE dan Patroli Perbatasan telah mendapat kritik luas setelah agen-agen tersebut menewaskan warga negara AS kedua di Minneapolis Sabtu lalu selama operasi penegakan hukum imigrasi.
Menurut laporan New York Times, RUU sementara tersebut akan memberikan waktu untuk pembicaraan guna menyusun RUU pengeluaran keamanan dalam negeri baru yang akan mencakup pembatasan baru pada taktik petugas penegakan hukum imigrasi.
The Fed Tahan Suku Bunga, Powell: Inflasi Masih Tinggi tapi Terkendali
Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan menahan suku bunga acuannya pada Rabu (28/1/2026) waktu setempat di tengah kondisi ekonomi yang dinilai solid serta meredanya risiko terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja.
Sikap ini mengisyaratkan bahwa pemangkasan suku bunga berikutnya masih akan menunggu waktu.
Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan, perekonomian AS kembali menunjukkan ketahanan yang kuat, sementara risiko lonjakan inflasi maupun pelemahan pasar kerja telah berkurang dibandingkan sebelumnya.
“Ekonomi kembali mengejutkan dengan kekuatannya,” ujar Powell dalam konferensi pers usai pertemuan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
FOMC memutuskan dengan suara 10 banding 2 untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%.
Powell menegaskan bank sentral masih berada pada posisi yang tepat untuk menilai apakah dan kapan penyesuaian kebijakan moneter diperlukan.
“Ada banyak kombinasi kondisi yang bisa membuat kami bergerak, termasuk pelemahan pasar tenaga kerja atau inflasi yang kembali mendekati target 2%,” katanya.
Sejak pertemuan terakhir pada Desember lalu saat The Fed melakukan pemangkasan suku bunga ketiga secara beruntun risiko kenaikan inflasi dan penurunan lapangan kerja disebut telah menyusut, meski belum sepenuhnya hilang.
“Kebijakan kami saat ini berada di posisi yang baik,” tambah Powell.
Meski demikian, dua pejabat The Fed, yakni Gubernur Christopher Waller dan Gubernur Stephen Miran menyampaikan, perbedaan pendapat dengan memilih pemangkasan suku bunga sebesr 25 basis poin.
Keputusan kebijakan ini berlangsung di tengah sorotan politik, menyusul tekanan Presiden Donald Trump yang berulang kali mengkritik The Fed karena dinilai tidak memangkas suku bunga secara agresif.
Powell menolak berkomentar lebih jauh terkait tekanan tersebut, namun menegaskan pentingnya menjaga independensi bank sentral dari kepentingan politik.
Dalam pernyataan resminya, FOMC tidak memberikan petunjuk waktu pasti terkait pemangkasan suku bunga selanjutnya.
Penyesuaian kebijakan ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk dan prospek ekonomi secara keseluruhan.
Inflasi di AS hingga kini masih berada sekitar satu poin persentase di atas target The Fed sebesar 2% dan dinilai “agak tinggi”.
Powell mengatakan tekanan harga tersebut sebagian dipicu oleh kebijakan tarif impor yang diberlakukan pemerintahan Trump tahun lalu, meski dampaknya diperkirakan akan memudar pada pertengahan tahun ini.
Jika tekanan inflasi tidak mereda sesuai harapan, hal itu berpotensi menjadi tantangan besar bagi pemimpin The Fed berikutnya, mengingat trauma lonjakan harga pascapandemi COVID-19 masih membekas di kalangan pembuat kebijakan.
Namun Powell menilai ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali, sehingga The Fed memiliki ruang untuk bersikap lebih sabar.
Dari sisi tenaga kerja, The Fed mencatat pertumbuhan lapangan kerja masih rendah, tetapi menghapus pernyataan sebelumnya yang menyebut risiko penurunan pasar kerja meningkat. Langkah ini mengindikasikan kekhawatiran terhadap perlambatan tajam mulai mereda.
Pasar tenaga kerja AS dinilai relatif seimbang, dengan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja sejalan dengan berkurangnya pasokan tenaga kerja akibat kebijakan imigrasi yang lebih ketat. Tingkat pengangguran AS tercatat turun menjadi 4,4% pada Desember lalu.
Di pasar keuangan, indeks saham utama AS bergerak melemah tipis dan ditutup relatif datar setelah pengumuman kebijakan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,25%, sementara yield obligasi dua tahun bertahan di kisaran 3,57%.
Pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed berikutnya baru akan terjadi pada Juni 2026.
Defisit Perdagangan AS Melebar November 2025, Catat Kenaikan Hampir dalam 34 Tahun
Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) melebar tajam pada November 2025, mencatat kenaikan terbesar dalam hampir 34 tahun, didorong lonjakan impor barang modal yang diduga terkait dengan maraknya investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kondisi ini berpotensi membuat ekonom menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal keempat.
Departemen Perdagangan AS melalui Bureau of Economic Analysis dan Biro Sensus melaporkan, defisit perdagangan melonjak 94,6% menjadi US$56,8 miliar. Kenaikan persentase ini merupakan yang terbesar sejak Maret 1992.
Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan defisit hanya akan naik ke US$40,5 miliar.
Rilis data ini sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan AS selama 43 hari.
Nilai impor AS melonjak 5,0% menjadi US$348,9 miliar. Impor barang naik 6,6% menjadi US$272,5 miliar, dengan impor barang modal melesat US$7,4 miliar hingga mencetak rekor tertinggi.
Lonjakan tersebut terutama ditopang peningkatan impor komputer dan semikonduktor, meskipun impor aksesori komputer justru turun US$3,0 miliar.
Impor barang konsumsi juga mencatat rekor tertinggi, naik US$9,2 miliar, didorong peningkatan impor produk farmasi.
Namun, pergerakan impor produk farmasi terpantau sangat fluktuatif, yang diduga berkaitan dengan kebijakan tarif AS. Sementara itu, impor pasokan industri turun US$2,4 miliar.
Di sisi lain, ekspor AS turun 3,6% menjadi US$292,1 miliar pada November. Ekspor barang anjlok 5,6% ke level US$185,6 miliar, terutama akibat penurunan ekspor pasokan industri dan material sebesar US$6,1 miliar.
Penurunan ini mencerminkan melemahnya ekspor emas non-moneter, logam mulia lainnya, serta minyak mentah yang turun US$1,4 miliar.
Ekspor barang konsumsi juga turun US$3,1 miliar seiring merosotnya pengiriman produk farmasi. Secara keseluruhan, defisit perdagangan barang melebar 47,3% menjadi US$86,9 miliar.
Untuk sektor jasa, impor tercatat menurun, sementara ekspor jasa justru mencapai rekor tertinggi.
Memburuknya defisit perdagangan pada November berpotensi meredam ekspektasi bahwa perdagangan luar negeri akan kembali memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal keempat.
Sebelumnya, perdagangan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua dan ketiga 2025.
Bank Sentral AS wilayah Atlanta (Atlanta Fed) saat ini memproyeksikan PDB AS tumbuh pada laju tahunan 5,4% pada kuartal keempat.
Namun, sejumlah bank besar Wall Street, termasuk Goldman Sachs, memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada jauh di bawah level 3,0%.
Inggris–China Buka Babak Baru, Starmer Bertatap Muka dengan Xi Jinping
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping pada Kamis (29/1/2026) dalam upaya memperbaiki dan mereset hubungan bilateral yang sempat memburuk setelah bertahun-tahun diwarnai ketidakpercayaan dan ketegangan.
Pertemuan tersebut menjadi agenda terpenting dalam kunjungan Starmer selama empat hari ke China.
Keduanya akan menggelar pertemuan sekitar 40 menit di Aula Besar Rakyat di Beijing, dilanjutkan dengan jamuan makan siang bersama.
Selain Xi, Starmer juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri China Li Qiang serta Ketua Parlemen China Zhao Leji.
Starmer, yang memimpin pemerintahan Partai Buruh berhaluan tengah-kiri, menjadikan perbaikan hubungan dengan China sebagai salah satu prioritas utama, di tengah upaya pemerintahannya mendorong pertumbuhan ekonomi Inggris yang sejauh ini belum sesuai target.
Kunjungan ini merupakan yang pertama dilakukan perdana menteri Inggris ke China sejak 2018.
Lawatan tersebut berlangsung di tengah ketegangan hubungan Inggris dengan sekutu lamanya, Amerika Serikat, menyusul pernyataan kontroversial Presiden Donald Trump, termasuk ancamannya untuk mengambil alih Greenland.
Profesor Studi China di King’s College London Kerry Brown memperkirakan sejumlah kesepakatan kerja sama Inggris–China akan diumumkan untuk menunjukkan membaiknya hubungan kedua negara.
“Pertemuan ini harus terlihat sebagai sebuah keberhasilan,” ujar Brown.
“Kedua pihak tidak menginginkan pertemuan yang diwarnai perdebatan soal isu-isu yang mereka tidak sepakati.”
Sejumlah negara Eropa dan Barat lainnya juga tengah meningkatkan diplomasi dengan Beijing sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump.
Kunjungan Starmer dilakukan tak lama setelah Perdana Menteri Kanada Mark Carney menandatangani kesepakatan ekonomi dengan China untuk mengurangi hambatan perdagangan, yang menuai kritik keras dari Trump.
Di sisi lain, China juga menunjukkan keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Inggris. Media pemerintah China, Xinhua, menyebut hubungan kedua negara berada pada “momen penting”.
“China siap menjadikan kunjungan ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan politik, memperdalam kerja sama praktis, serta bersama-sama berkontribusi bagi perdamaian, keamanan, dan stabilitas dunia,” tulis Xinhua dalam tajuk rencananya.
Starmer mengadopsi kebijakan keterlibatan baru dengan China setelah hubungan bilateral memburuk di era pemerintahan Konservatif sebelumnya.
Saat itu, London membatasi sebagian investasi China dengan alasan keamanan nasional serta menyoroti pengetatan kebebasan politik di Hong Kong.
Dalam pertemuan dengan delegasi pebisnis beberapa jam setelah tiba di China pada Rabu (28/1), Starmer menyatakan sudah waktunya Inggris membangun hubungan yang “matang” dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Ia bahkan menyempatkan diri makan malam di sebuah restoran China terkenal di Beijing yang sebelumnya juga pernah dikunjungi mantan Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan berbincang santai soal pelafalan kata terima kasih dalam bahasa Mandarin, “xie xie”, sebagaimana terlihat dalam video yang diunggah di Weibo.
Sebagai contoh kerja sama konkret, kantor Perdana Menteri Inggris menyebut Starmer dan Xi akan mengumumkan kolaborasi untuk memberantas jaringan perdagangan manusia yang menyelundupkan migran ilegal.
Kesepakatan tersebut akan difokuskan pada upaya mengurangi penggunaan mesin buatan China untuk perahu kecil yang digunakan menyeberangkan migran ke Eropa.
Otoritas Inggris dan China akan berbagi intelijen untuk mengidentifikasi jalur pasokan penyelundup serta bekerja sama dengan produsen China agar bisnis legal tidak disalahgunakan oleh kejahatan terorganisasi.
Starmer menegaskan ia akan tetap mengangkat isu hak asasi manusia dalam pertemuannya dengan Xi, termasuk kasus Jimmy Lai, taipan media Hong Kong berkewarganegaraan Inggris yang divonis bersalah pada Desember lalu atas pelanggaran undang-undang keamanan nasional.
Namun, kehadiran lebih dari 50 pemimpin bisnis yang ikut dalam rombongan Starmer menunjukkan bahwa penguatan hubungan ekonomi menjadi fokus utama kunjungan ini.
“Semua yang Anda lakukan di sini, dan semua yang saya lakukan di sini, bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di dalam negeri,” ujar Starmer kepada para pelaku usaha.
Negara-Negara Asia Perketat Skrining Bandara Usai India Konfirmasi Kasus Virus Nipah
Sejumlah negara di Asia memperketat pengawasan kesehatan di pintu masuk internasional setelah India mengonfirmasi dua kasus infeksi virus Nipah, penyakit langka namun mematikan yang belum memiliki vaksin.
Pakistan dan Vietnam termasuk di antara negara yang segera meningkatkan skrining di bandara, pelabuhan laut, dan perbatasan darat untuk mencegah potensi penyebaran lintas negara.
Otoritas kesehatan Pakistan memerintahkan peningkatan skrining terhadap seluruh pelaku perjalanan yang masuk ke wilayahnya guna mendeteksi tanda-tanda infeksi virus Nipah. Langkah ini diambil menyusul laporan kasus di India yang memicu kewaspadaan di berbagai negara Asia.
Departemen Border Health Services Pakistan dalam pernyataannya menegaskan bahwa penguatan langkah pencegahan dan pengawasan di perbatasan menjadi sangat penting.
Seluruh pelaku perjalanan diwajibkan menjalani pemindaian suhu tubuh (thermal screening) dan penilaian klinis di seluruh titik masuk negara, termasuk bandara, pelabuhan laut, dan perbatasan darat.
Selain itu, setiap pelaku perjalanan juga diminta memberikan riwayat perjalanan selama 21 hari terakhir untuk memastikan apakah mereka pernah berada di wilayah terdampak Nipah atau kawasan berisiko tinggi.
Meskipun tidak ada penerbangan langsung antara Pakistan dan India, mobilitas antar kedua negara memang sudah sangat terbatas, terutama setelah konflik besar yang terjadi pada Mei tahun lalu.
Langkah serupa juga diterapkan di sejumlah negara Asia lainnya, seperti Thailand, Singapura, Hong Kong, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam yang memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara internasional.
Di Vietnam, Departemen Kesehatan Hanoi memerintahkan skrining ketat terhadap penumpang yang tiba di Bandara Internasional Noi Bai, khususnya mereka yang datang dari India dan negara bagian Benggala Barat, lokasi dua tenaga kesehatan yang terkonfirmasi terinfeksi virus Nipah pada akhir Desember lalu.
Penumpang diperiksa menggunakan pemindai suhu tubuh untuk mendeteksi potensi kasus. Langkah ini dinilai penting untuk memungkinkan isolasi dini serta investigasi epidemiologi secara cepat jika ditemukan kasus yang dicurigai.
Sebelumnya, otoritas kesehatan di Ho Chi Minh City juga telah memperketat kontrol kesehatan di seluruh perlintasan perbatasan internasional.
Kementerian Kesehatan India menyampaikan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi dan melacak 196 orang yang memiliki kontak erat dengan dua pasien tersebut. Hingga kini, seluruh kontak tersebut tidak menunjukkan gejala dan hasil tes dinyatakan negatif.
Virus Nipah merupakan infeksi virus langka yang sebagian besar menular dari hewan, terutama kelelawar pemakan buah (fruit bats), ke manusia. Dalam beberapa kasus, penularan antarmanusia dapat terjadi, namun biasanya memerlukan kontak yang cukup lama dan intens dengan penderita.
Infeksi virus Nipah dapat menyebabkan demam tinggi dan peradangan otak (ensefalitis). Tingkat kematian akibat virus ini sangat tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%, tergantung pada kemampuan sistem kesehatan setempat dalam mendeteksi dan menangani kasus secara cepat, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Virus ini pertama kali diidentifikasi lebih dari 25 tahun lalu saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura. Para ilmuwan meyakini virus ini telah beredar di populasi kelelawar selama ribuan tahun.
WHO mengategorikan Nipah sebagai patogen prioritas karena potensi wabahnya yang mematikan dan belum tersedianya vaksin. India sendiri secara rutin melaporkan kasus sporadis, terutama di negara bagian Kerala di selatan, yang dianggap sebagai salah satu wilayah dengan risiko Nipah tertinggi di dunia.
Data dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) mencatat bahwa hingga Desember 2025 terdapat 750 kasus infeksi Nipah terkonfirmasi secara global, dengan 415 kematian. CEPI saat ini tengah mendanai uji coba vaksin yang diharapkan dapat membantu menekan penyebaran virus tersebut di masa depan.
Peningkatan kewaspadaan di berbagai negara Asia mencerminkan kekhawatiran serius terhadap potensi penyebaran lintas negara, meskipun penularan virus Nipah antarmanusia relatif sulit terjadi tanpa kontak erat dalam waktu lama.
Klaim Pengangguran AS Turun Tipis, Pasar Tenaga Kerja Masih Tahan Banting
Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran turun tipis pada pekan lalu, tetap mencerminkan tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang relatif rendah.
Namun, lemahnya perekrutan tenaga kerja mulai memicu kekhawatiran rumah tangga terhadap kondisi pasar tenaga kerja.
Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (29/1/2026) melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian turun 1.000 menjadi 209.000 klaim, setelah disesuaikan secara musiman, untuk pekan yang berakhir pada 24 Januari. Data pekan sebelumnya direvisi naik 10.000 menjadi 210.000 klaim.
Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan klaim pengangguran berada di level 205.000. Data klaim tersebut juga mencakup libur nasional Martin Luther King Jr. Day pada Senin pekan lalu.
Klaim pengangguran biasanya berfluktuasi di sekitar hari libur nasional. Data kali ini juga tercatat tidak stabil akibat tantangan penyesuaian musiman pada periode akhir tahun dan pergantian tahun.
Volatilitas diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, menyusul badai musim dingin yang melanda sebagian besar wilayah AS dengan salju dan suhu beku.
Secara historis, klaim pengangguran masih berada di level rendah, seiring perusahaan menahan diri untuk melakukan PHK sambil mencermati kondisi ekonomi yang terus berubah, terutama terkait kebijakan tarif impor.
Meski United Parcel Service (UPS) dan Amazon.com mengumumkan pemangkasan tenaga kerja pekan ini, dampaknya terhadap data klaim diperkirakan terbatas.
Pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa PHK berskala besar dari kedua perusahaan tersebut tidak memicu lonjakan signifikan klaim pengangguran.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pada Rabu (28/1) bahwa indikator pasar tenaga kerja menunjukkan kondisi yang “mulai stabil setelah periode pelemahan bertahap”.
Bank sentral AS sendiri mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75%.
Jumlah penerima tunjangan pengangguran berkelanjutan yang mencerminkan tingkat perekrutan turun 38.000 menjadi 1,827 juta orang pada pekan yang berakhir 17 Januari.
Namun, data klaim berkelanjutan juga terdampak persoalan penyesuaian musiman. Selain itu, sebagian penerima kemungkinan telah kehabisan masa manfaat tunjangan yang umumnya dibatasi hingga 26 minggu di sebagian besar negara bagian.
Data klaim berkelanjutan ini mencakup periode survei rumah tangga yang digunakan pemerintah untuk menghitung tingkat pengangguran Januari.
Tingkat pengangguran AS tercatat turun ke 4,4% pada Desember dari 4,5% pada November, dan diperkirakan masih bertahan di level tinggi bulan ini.
Laporan Conference Board menunjukkan indikator ketenagakerjaan memburuk pada Januari.
Ekonom menilai lemahnya perekrutan dipicu oleh ketidakpastian kebijakan tarif, operasi penegakan imigrasi yang mengurangi pasokan dan permintaan tenaga kerja, serta kehati-hatian perusahaan dalam perekrutan di tengah investasi besar-besaran pada teknologi kecerdasan buatan (AI).
Laporan ketenagakerjaan AS yang sangat dinantikan untuk Januari dijadwalkan rilis pekan depan.
Namun, rilis tersebut berpotensi tertunda apabila pemerintah kembali mengalami penutupan sebagian (partial shutdown), mengingat Kongres menghadapi tenggat pendanaan pada 30 Januari.
Exxon dan Chevron Disorot Soal Peluang Venezuela di Tengah Laba Melemah
Exxon Mobil dan Chevron diperkirakan akan menghadapi lebih banyak pertanyaan dari analis terkait peluang investasi di Venezuela ketimbang kinerja laba kuartalan saat keduanya menggelar paparan kinerja pada Jumat (29/1/2026).
Perhatian pasar tertuju ke Venezuela setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap dan disingkirkan awal bulan ini oleh Amerika Serikat.
Peristiwa geopolitik ini membuka peluang baru—meski penuh tantangan—bagi perusahaan migas raksasa Amerika Serikat untuk kembali mengakses cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengumumkan visinya untuk menggelontorkan investasi baru senilai US$100 miliar guna meningkatkan sekaligus mengendalikan produksi minyak Venezuela melalui keterlibatan perusahaan-perusahaan AS.
Perkembangan ini terjadi di tengah ketegangan dagang AS-China yang kembali memanas, perundingan damai Rusia-Ukraina pada kuartal IV-2025, serta gejolak politik di Iran yang memicu kekhawatiran potensi respons militer AS.
Kombinasi faktor tersebut membuat harga minyak dunia bergerak fluktuatif sepanjang akhir tahun lalu.
Exxon dan Chevron dijadwalkan melaporkan kinerja kuartal IV dan setahun penuh pada Jumat. Sementara itu, raksasa migas Eropa seperti Shell, TotalEnergies, dan BP baru akan menyampaikan laporan kinerjanya bulan depan.
Chevron menjadi sorotan utama terkait Venezuela karena menjadi satu-satunya perusahaan migas besar asal AS yang saat ini masih beroperasi di negara tersebut.
Stephanie Link, Chief Investment Strategist di Hightower Advisors—salah satu pemegang saham besar Exxon dan Chevron—menilai isu Venezuela kemungkinan besar akan menjadi topik pembahasan bagi seluruh perusahaan migas, bukan hanya Chevron.
Analis TD Cowen, Jason Gabelman, memperkirakan produksi minyak Venezuela saat ini menyumbang sekitar 1%–2% terhadap arus kas operasional Chevron. Jika produksi berhasil ditingkatkan dalam beberapa tahun ke depan, kontribusinya berpotensi bertambah 1%–2% lagi.
Namun, analis Bank of America Global Research, Jean Ann Salisbury, menilai masih terlalu banyak ketidakpastian untuk bisa mengukur nilai jangka panjang Venezuela bagi bisnis Chevron.
“Kami melihat Chevron berada pada posisi kunci karena telah memiliki personel, relasi, dan mekanisme pembayaran di negara tersebut. Namun, diperlukan visibilitas yang jauh lebih jelas sebelum bisa menilai nilainya secara pasti,” tulis Salisbury dalam catatan risetnya.
Para analis juga menilai kecil kemungkinan perusahaan akan memaparkan rencana rinci terkait Venezuela dalam waktu dekat, mengingat proyek migas berskala besar membutuhkan waktu pengembangan yang panjang.
Sementara itu, Exxon diperkirakan akan menghadapi pertanyaan terkait akses eksplorasi di Blok Stabroek, Guyana, yang berbatasan dengan Venezuela.
Sekitar 30% wilayah ladang minyak produktif di Blok Stabroek belum bisa dieksplorasi akibat sengketa wilayah antara Guyana dan Venezuela. Exxon memimpin konsorsium pengelola blok tersebut dengan kepemilikan 45%, sedangkan Chevron memegang 30%.
CEO Exxon Darren Woods sebelumnya menyebut Venezuela sebagai negara yang “tidak layak investasi” dalam sebuah forum di Gedung Putih. Ia menegaskan Exxon membutuhkan jaminan perlindungan investasi setelah asetnya pernah disita dua kali di masa lalu.
Di sisi lain, ladang minyak terbesar Kazakhstan, Tengiz, yang menjadi aset penting bagi Chevron dan juga melibatkan Exxon, sempat mengalami penghentian produksi bulan ini. Gangguan terjadi setelah jalur ekspor utama ladang tersebut diserang drone laut Ukraina.
Exxon sebelumnya telah memberi sinyal bahwa penurunan harga minyak mentah dapat memangkas laba sektor hulu kuartal IV hingga US$1,2 miliar dibanding kuartal sebelumnya.
Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun LSEG, Exxon diperkirakan mencatat laba disesuaikan US$1,68 per saham, naik tipis 1 sen dibanding periode sama tahun lalu.
Sebaliknya, Chevron diperkirakan membukukan laba disesuaikan US$1,46 per saham, turun 29% secara tahunan.
Harga minyak Brent rata-rata berada di level US$63,08 per barel sepanjang Oktober–Desember, turun 7,5% dibanding kuartal sebelumnya, di tengah kekhawatiran pasar akan kelebihan pasokan global.
Di sisi lain, harga gas alam AS melonjak 32% menjadi rata-rata US$4,04 per MMBtu pada kuartal IV, didorong cuaca dingin dan meningkatnya permintaan ekspor gas alam cair (LNG).
Selain kinerja keuangan, investor juga akan mencermati panduan prospek bisnis perusahaan sepanjang 2026 serta kebijakan pengembalian dana kepada pemegang saham.
“Saya tidak memperkirakan adanya perubahan pada rencana dividen atau buyback untuk 2026, tetapi panduan manajemen di area ini akan sangat penting untuk didengar,” ujar Stephanie Link.
Belanja Modal Tesla Naik Lebih dari Dua Kali Lipat, Fokus ke Robot dan Mobil Otonom
Tesla berencana meningkatkan belanja modalnya lebih dari dua kali lipat. Ini rekor tertinggi belanja modal Tesla melampaui US$ 20 miliar pada tahun ini. Namun, sebagian besar investasi tersebut tidak lagi diarahkan ke bisnis tradisional mobil listrik yang dikemudikan manusia.
Produsen mobil listrik yang tahun lalu kehilangan posisi teratas penjualan global EV dari rival asal China, BYD, kini mengalihkan fokus investasi ke lini bisnis yang masih belum terbukti, seperti kendaraan sepenuhnya otonom dan robot humanoid. Hal ini terungkap dari pernyataan para eksekutif Tesla dalam paparan kinerja keuangan pada Rabu.
Menegaskan pergeseran strategi tersebut, CEO Elon Musk mengatakan Tesla akan menghentikan produksi SUV Model X dan sedan Model S. Ruang produksi di pabrik California akan dialihkan untuk pembuatan robot humanoid Optimus.
Dalam unggahan terpisah di media sosial X, Musk menyebut robot Optimus juga akan diproduksi dalam skala lebih besar di Gigafactory Texas. “Ini akan menjadi tahun dengan belanja modal yang sangat besar,” tulis Musk. “Kami melakukan investasi besar untuk masa depan yang epik.”
Chief Financial Officer Tesla, Vaibhav Taneja, mengatakan sebagian besar belanja modal akan digunakan untuk membangun lini produksi Cybercab—kendaraan otonom tanpa setir dan pedal—truk Tesla Semi yang telah lama dijanjikan, robot Optimus, serta fasilitas produksi baterai dan pemurnian litium.
Meski masih sangat bergantung pada penjualan mobil listrik konvensional, valuasi Tesla jauh melampaui produsen otomotif lainnya dan lebih sebanding dengan perusahaan teknologi besar. Nilai tersebut bertumpu pada keyakinan investor bahwa Musk mampu merealisasikan ambisi robotaksi dan robot humanoid, yang didukung oleh investasi besar Tesla di bidang kecerdasan buatan (AI).
Dengan langkah ini, Tesla bergabung dengan Meta Platforms, Microsoft, dan Alphabet yang juga berencana menaikkan belanja modal secara signifikan tahun ini untuk membiayai perangkat keras dan pusat data pendukung AI.
Chief Operating Officer REX Financial, Scott Acheychek, menilai bisnis mobil Tesla kini bukan lagi fokus utama. “Cerita besarnya adalah transisi model bisnis yang sedang berlangsung,” ujarnya, seraya menekankan pergeseran Tesla ke teknologi kendaraan otonom.
Saham Tesla turun sekitar 1% pada perdagangan awal Kamis.
Analis Zacks Investment Research, Andrew Rocco, menyebut belanja lebih dari US$20 miliar ini sebagai “pengeluaran yang diperlukan”.
“Jika Optimus ingin menjadi produk terlaris, maka sistem AI-nya harus dilatih seoptimal mungkin,” ujarnya. Rocco menambahkan, rencana belanja besar ini memberinya keyakinan bahwa target waktu Musk yang kerap dinilai longgar dapat benar-benar dipenuhi.
Nilai belanja modal tahun ini jauh melampaui US$ 8,5 miliar pada tahun lalu dan melampaui rekor sebelumnya sebesar US$ 11,3 miliar pada 2024.
Taneja menyebut Tesla memiliki lebih dari US$ 44 miliar dalam bentuk kas dan investasi untuk mendanai ekspansi tersebut. Ia juga mengisyaratkan peningkatan belanja belum tentu berhenti tahun ini, dengan opsi pendanaan tambahan melalui utang atau cara lain.
Musk sendiri mengatakan sebagian proyek investasi ini dilakukan bukan karena ambisi semata, melainkan karena kebutuhan mendesak.
“Bukan untuk bersenang-senang, tapi karena terpaksa. Sangat sulit membangun semua ini,” ujar Musk, merujuk pada investasi di pemurnian katoda dan litium.
China Hapus Kebijakan yang Bikin Krisis Properti, Tapi Industri Properti Belum Pulih
China telah menghapus kebijakan batasan pinjaman bagi pengembang properti. Aturan yang dikenal sebagai kebijakan tiga garis merah ini sebelumnya memicu krisis utang sektor properti, yang kemudian menghantam ekonomi China.
Menurut laporan Reuters, mengutip pemberitaan China Real Estate Business, media yang dikelola Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan dan Pedesaan China, kebijakan tiga garis merah tersebut pada dasarnya telah berakhir.
Tiga garis merah tersebut merujuk pada tiga batasan yang tidak boleh dilampaui pengembang jika ingin mendapat pinjaman baru. Ketiganya yakni batasan rasio utang terhadap kas, batasan rasio utang terhadap aset, dan batasan rasio utang terhadap ekuitas. Aturan tersebut diberlakukan sejak 2020.
Menurut sumber pengembang kepada Reuters, aturan tersebut tampaknya telah dilonggarkan sebelum tahun ini. Tapi, para analis juga mengatakan, tantangan pendanaan untuk industri yang masih sangat bermasalah ini akan terus berlanjut, bahkan tanpa adanya batasan tersebut.
Selain itu, Reuters melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, pihak berwenang juga mengizinkan bank memberikan perpanjangan hingga lima tahun untuk pinjaman bagi proyek properti tertentu. Langkah ini diambil untuk membantu meringankan tekanan pembiayaan pada sektor properti
Ide di balik kebijakan tiga garis merah tersebut adalah untuk mengekang para pelaku sektor ini agar tidak membuat pinjaman tanpa batas. Tetapi kebijakan tersebut malah menjadi bumerang hingga menyebabkan krisis likuiditas sejak pertengahan 2021, dan banyak pengembang gagal membayar utang mereka.
Salah satunya China Evergrande, yang dulunya merupakan pengembang terbesar di negara itu. Perusahaan ini sekarang dalam proses likuidasi.
Selain itu ada Country Garden, yang baru-baru ini menyelesaikan restrukturisasi utang luar negerinya. China Vanke, pengembang peringkat atas lainnya yang sedang menghadapi masalah, baru-baru ini mendapatkan persetujuan kreditur untuk menunda beberapa pembayaran, sehingga mencegah potensi gagal bayar.
Kemerosotan di sektor properti, yang dulunya menyumbang sekitar seperempat dari produk domestik bruto (PDB) China, telah menghantam perekonomian dengan keras. Kepercayaan pembeli rumah dan investor merosot karena banyak apartemen yang belum selesai dibangun.
Liu Shui, analis China Index Holdings, sebuah perusahaan analisis real estat, mengatakan, aturan tiga garis merah tersebut tidak lagi memenuhi tujuan yang dimaksud, mengingat perubahan dalam industri.
“Para pengembang telah meninggalkan model ekspansi berbasis utang dan tidak lagi memprioritaskan skala di atas segalanya, melainkan fokus pada pengembangan berkualitas tinggi," kata Liu.
Analis Citi mengatakan dalam riset, penghapusan kebijakan tersebut kemungkinan tidak akan membawa masuknya dana baru ke sektor ini. Alasannya, sebagian besar pengembang swasta masih bergulat dengan perpanjangan atau restrukturisasi utang.
"Meskipun demikian, kami melihat langkah ini sebagai sinyal yang mungkin menunjukkan bahwa pengurangan utang dan kapasitas sektor properti telah tercapai, dari segi sentimen," tambah analis Citi.