News Komoditi & Global ( Senin, 16 Maret 2026 )

News  Komoditi & Global

                                     ( Senin,   16 Maret 2026  )

Harga Emas Global  Jatuh saat Kekhawatiran Inflasi yang Dipicu Minyak Membebani

 

Harga Emas (XAU/USD) anjlok ke sekitar $4.980 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Logam mulia ini menghadapi beberapa tekanan jual meskipun terjadi konflik geopolitik yang intens di Timur Tengah. Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa mereka memprakirakan konflik di Iran akan berakhir dalam beberapa minggu atau "lebih cepat." Sementara itu, militer Israel mencatat bahwa mereka merencanakan kampanye mereka untuk terus berlanjut setidaknya selama tiga minggu ke depan.

Selama akhir pekan, pasukan AS menargetkan setiap lokasi militer di Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak Iran yang kritis. Iran telah mengancam akan membalas terhadap fasilitas-fasilitas minyak yang terkait dengan AS di wilayah tersebut.

Meskipun perang umumnya diprakirakan akan mendorong harga Emas, ketegangan yang semakin meningkat saat ini telah menyebabkan kenaikan biaya minyak. Hal ini, pada gilirannya, telah memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan membuat pasar percaya bahwa Federal Reserve (The Fed) AS akan menunda penurunan suku bunga, yang berdampak negatif bagi emas yang tidak berimbal hasil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Pembaruan Kekhawatiran Terhadap Pasokan

 

Harga Minyak Mentah naik sekitar 3% pada pembukaan mingguan, dengan minyak West Texas Intermediate (WTI) melayang di sekitar $99. Perang Iran meningkat selama akhir pekan, setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap pusat minyak utama Iran di Pulau Kharg, karena hampir 90% ekspor minyak Iran dikirim dari sana. Tanggapan Teheran sangat besar, menyerang berbagai negara tetangga dan mengklaim keberadaan AS di daerah tersebut.

Kekhawatiran berputar di sekitar penguasaan Selat Hormuz, jalur utama bagi produsen-produsen minyak Timur Tengah menuju laut. Presiden AS, Donald Trump, meminta negara-negara sekutu untuk membantunya melindungi Selat, dan ada laporan yang mengisyaratkan pengumuman dari Gedung Putih mengenai masalah ini dalam beberapa hari mendatang.

Selain itu, Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan bahwa dia memprakirakan perang Iran berakhir dalam "beberapa minggu ke depan," dengan pasokan minyak pulih dan biaya energi menurun setelahnya, lapor Guardian pada hari Minggu.

Namun, gangguan pasokan minyak tidak hanya terus berlanjut, tetapi diprakirakan akan memburuk, yang mengarah ke harga minyak mentah yang lebih tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perang Ancam Krisis Keuangan Dunia, Ini Aset yang Bisa Diborong

 

Ketegangan geopolitik yang memicu konflik bersenjata dinilai berpotensi memperbesar risiko krisis keuangan global. Investor dan penulis buku keuangan Robert Kiyosaki menyebut kondisi tersebut dapat memicu tekanan pada sektor perbankan dan pasar keuangan, sehingga mendorong investor memburu sejumlah aset tertentu yang dinilai lebih aman.

Dalam unggahan di media sosial X, Kiyosaki menyatakan dirinya memperkuat investasi pada aset berbasis komoditas dan kripto sebagai langkah menghadapi potensi gejolak ekonomi global.

“Minggu lalu saya menggunakan jutaan dolar uang tunai untuk membeli lebih banyak sumur minyak, emasperak, dan Bitcoin,” tulis Robert Kiyosaki, dikutip Minggu (15/3/2026).

Ia menilai ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Selat Hormuz, berpotensi mendorong kenaikan harga energi dunia. Gangguan terhadap jalur distribusi minyak global dapat meningkatkan nilai komoditas energi.

“Saya yakin selama Iran terus menembaki kapal tanker minyak di Selat Hormuz… harga minyak dari sumur minyak saya di Texas akan terus naik,” tulisnya.

Menurut Kiyosaki, konflik geopolitik yang meluas dapat berdampak pada stabilitas sektor keuangan global. Ia menyebut sejumlah indikator menunjukkan tekanan mulai muncul pada lembaga keuangan dan pasar kredit.

“Dana kredit swasta mulai panik ketika investor menarik uang mereka. Bank-bank besar dan institusi keuangan ternama juga sedang menghadapi masalah,” tulisnya.

Ia juga merujuk pandangan analis ekonomi Jim Rickards yang menyatakan Amerika Serikat telah memasuki fase yang disebut sebagai “Depresi Baru”. Menurut Kiyosaki, kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap sistem ekonomi global.

Di tengah potensi krisis tersebut, Kiyosaki menilai sebagian investor besar memilih memperkuat posisi kas untuk menghadapi penurunan harga aset di pasar. Ia menyinggung langkah investor Warren Buffett yang disebut menjual saham dan obligasi untuk memperbesar cadangan kas.

“Karena ia menyimpan likuiditas untuk membeli aset-aset bernilai ketika harga jatuh setelah krisis,” tulis Kiyosaki.

Kiyosaki menilai strategi tersebut memungkinkan investor membeli aset bernilai dengan harga lebih murah ketika pasar mengalami koreksi tajam.

Ia menambahkan dalam periode krisis keuangan, aliran dana investor biasanya berpindah dari sektor yang melemah menuju aset lain yang dinilai lebih aman atau memiliki potensi kenaikan nilai.

“Selalu ingat aturan utama saat terjadi kepanikan di perbankan… uang selalu berpindah ke tempat lain,” tulisnya.

Menurut Kiyosaki, investor perlu memahami arah perpindahan dana global ketika tekanan terjadi pada sektor perbankan, bisnis, maupun pasar tenaga kerja.

“Tugas Anda adalah mencari tahu ke mana uang yang keluar dari bank, bisnis, dan pekerjaan akan mengalir,” tulisnya.

Meski demikian, Kiyosaki mengakui prediksi tersebut tetap memiliki kemungkinan tidak terjadi.

“Apakah saya bisa salah? Ya,” tulisnya.

Ia menyatakan tetap memiliki sumber arus kas dari bisnis dan properti yang dimilikinya jika prediksi tersebut tidak terbukti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perang Iran Masuki Pekan Kedua, Ribuan Tewas dan Harga Minyak Menembus US$100

 

Perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memasuki pekan kedua pada Jumat (13/3/2026), menewaskan ribuan orang, mengganggu kehidupan jutaan lainnya, dan mengguncang pasar keuangan global.

Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menyampaikan pernyataan pertamanya melalui televisi pada Kamis (12/3/2026) menegaskan akan menutup Selat Hormuz dan menyerukan negara-negara tetangga untuk menutup pangkalan AS di wilayah mereka, jika tidak ingin menjadi target Iran.

“Saya pastikan bahwa kami tidak akan mengabaikan balas dendam atas darah para syuhada kalian,” kata Khamenei.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar konferensi pers pertamanya sejak serangan udara AS-Israel dimulai pada 28 Februari mengeluarkan ancaman terselubung untuk menyingkirkan Khamenei dan membela aksi militer tersebut.

“Saya tidak akan merinci semua tindakan yang kami lakukan. Kami menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim, meskipun saya tidak bisa memastikan sepenuhnya apakah rakyat Iran akan melakukannya dari dalam,” ujarnya.

Ketegangan ini mendorong harga minyak naik sekitar 9% ke level US$100 per barel pada Kamis, dan menekan indeks saham AS. S&P 500 mencatat penurunan persentase terbesar dalam tiga hari terakhir, sementara saham Asia juga tertekan pada Jumat.

Untuk menstabilkan pasar energi global, AS mengeluarkan izin sementara selama 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang terdampar di laut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kenaikan sementara harga minyak ini akan membawa manfaat jangka panjang bagi ekonomi AS.

Namun, komentar Presiden Donald Trump yang menyebut AS akan mendapat “banyak keuntungan” dari kenaikan harga minyak menuai kritik dari Partai Demokrat, yang menuduh Trump terlalu mementingkan orang kaya dan kurang peduli pada dampak perang terhadap warga biasa.

Di Iran, warga melaporkan peningkatan kehadiran aparat keamanan, menunjukkan kontrol tetap ketat. Meski ada sebagian masyarakat yang merayakan kematian pemimpin senior sebelumnya, belum terlihat adanya aksi protes terorganisir.

Di Irak, Komando Pusat AS sedang melakukan upaya penyelamatan setelah pesawat pengisian bahan bakar militer KC-135 jatuh, meski insiden ini bukan akibat tembakan musuh atau kesalahan pihak sendiri.

Kelompok bersenjata yang didukung Iran, Islamic Resistance in Iraq, mengklaim telah menembak jatuh pesawat tersebut.

Di Teluk, dua kapal tanker terbakar setelah diserang perahu Iran yang membawa bahan peledak, sementara kapal-kapal lain juga menjadi target.

Iran menyatakan strategi mereka kini bertujuan memberi tekanan ekonomi jangka panjang untuk memaksa AS mundur, bahkan menyebut dunia harus bersiap menghadapi harga minyak hingga US$200 per barel.

Menteri Energi AS, Chris Wright, menilai kemungkinan itu kecil, tetapi tidak sepenuhnya menutup kemungkinan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AS Merilis Pengecualian Sanksi 30 hari untuk Pembelian Minyak Rusia di Laut

 

  Amerika Serikat mengeluarkan pengecualian 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak dan produk minyak bumi Rusia yang terdampar di laut. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut, langkah ini dilakukan untuk menstabilkan pasar energi global yang terguncang oleh perang Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak turun pada Jumat (13/3/2026) pagi di Asia setelah pengumuman pengecualian dari AS.

Langkah ini merupakan upaya terbaru pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengendalikan harga energi setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran dan tanggapan selanjutnya dari Teheran memperluas ketegangan regional dan melumpuhkan pengiriman melalui Selat Hormuz, mengganggu aliran minyak dan gas vital Timur Tengah dan mendorong harga energi lebih tinggi.

Pada hari Rabu, Washington mengumumkan akan melepaskan 172 juta barel minyak dari cadangan minyak strategis dalam upaya untuk mengekang harga minyak yang meroket setelah perang di Iran.

Pelepasan itu merupakan bagian dari komitmen yang lebih luas oleh Badan Energi Internasional (IEA) yang beranggotakan 32 negara untuk melepaskan 400 juta barel minyak.

IEA menyatakan pada Kamis pagi bahwa perang di Timur Tengah "menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah." 
Izin yang dikeluarkan oleh Washington pada hari Kamis mengizinkan pengiriman dan penjualan minyak mentah dan produk minyak bumi Rusia yang dimuat di kapal mulai 12 Maret dan berlaku hingga tengah malam waktu Washington pada 11 April, menurut teks izin yang diposting di situs web Departemen Keuangan.

Langkah ini mencerminkan kekhawatiran Gedung Putih bahwa lonjakan harga minyak setelah hampir dua minggu serangan AS dan Israel terhadap Iran akan merugikan bisnis dan konsumen AS menjelang pemilihan paruh waktu November, ketika rekan-rekan Republik Trump berharap untuk mempertahankan kendali Kongres.

Bessent, dalam sebuah pernyataan pada X yang dirilis beberapa jam setelah harga minyak acuan melonjak di atas US$ 100 per barel, mengatakan bahwa langkah tersebut dirancang secara sempit dan jangka pendek dan tidak akan memberikan manfaat finansial yang signifikan bagi pemerintah Rusia.

“Kenaikan sementara harga minyak adalah gangguan jangka pendek dan sementara yang akan menghasilkan manfaat besar bagi negara dan ekonomi kita dalam jangka panjang,” kata Bessent dalam pernyataan tersebut, menggemakan pernyataan Trump.

Pada hari Kamis, terdapat sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia yang berada di perairan di 30 lokasi berbeda di seluruh dunia, lapor Fox News, menambahkan bahwa lisensi AS akan menyediakan pasokan sekitar lima hingga enam hari dengan memperhitungkan kehilangan minyak harian dari Selat.

Meskipun pencabutan sanksi diharapkan dapat meningkatkan pasokan minyak dunia, hal itu juga dapat mempersulit upaya Barat untuk mengurangi pendapatan Rusia dari perang di Ukraina dan membuat Washington berselisih dengan sekutunya.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, setelah berpartisipasi dalam panggilan telepon dengan para pemimpin G7 pada hari Rabu untuk membahas dampak perang Iran terhadap pasar minyak dan gas, mengatakan bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melonggarkan sanksi terhadap Rusia.

Pada hari Kamis, utusan presiden Rusia Kirill Dmitriev mengatakan bahwa ia telah membahas krisis energi saat ini dengan delegasi AS yang termasuk utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, dalam sebuah pertemuan di Florida. 
Departemen Keuangan AS sebelumnya mengeluarkan pengecualian 30 hari pada tanggal 5 Maret khusus untuk India, yang memungkinkan New Delhi untuk membeli minyak Rusia yang tertahan di laut. 
 

Trump juga telah memerintahkan Perusahaan Keuangan Pembangunan Internasional AS untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan untuk perdagangan maritim di Teluk dan mengatakan Angkatan Laut AS dapat mengawal kapal-kapal di wilayah tersebut.

Upaya lain yang dilakukan untuk mengendalikan harga adalah, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk sementara waktu menangguhkan aturan pengiriman yang dikenal sebagai Undang-Undang Jones untuk memastikan produk energi dan pertanian dapat bergerak bebas antar pelabuhan AS, kata Gedung Putih.

Penangguhan aturan tersebut akan memungkinkan kapal asing untuk membawa bahan bakar antar pelabuhan AS, yang berpotensi menurunkan biaya dan mempercepat pengiriman.

"Presiden mengambil setiap tindakan yang dia bisa untuk menurunkan harga... dan Anda akan melihat lebih banyak lagi di hari-hari mendatang," kata Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller kepada program "Primetime" Fox News pada hari Kamis.

Trump mengatakan sebelumnya pada hari Kamis bahwa Amerika Serikat akan menghasilkan uang yang signifikan dari harga minyak yang melonjak akibat perang, yang memicu kritik dari beberapa anggota parlemen yang menuduhnya hanya peduli pada orang kaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dolar AS Berpeluang Catat Kenaikan Mingguan Kedua di Tengah Perang Iran

 

Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan menguat pada perdagangan Jumat (13/3/2026) dan berpotensi mencatat kenaikan mingguan kedua sejak pecahnya perang yang melibatkan Iran.

Gejolak pasar global membuat mata uang AS kembali menjadi aset safe haven utama bagi investor.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, sempat menyentuh level tertinggi sejak November.

Penguatan ini didorong oleh status dolar sebagai aset aman sekaligus posisi Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih.

Pada awal perdagangan Asia, indeks dolar turun tipis 0,04% ke level 99,63. Meski demikian, indeks tersebut masih berada di jalur kenaikan sekitar 0,8% sepanjang pekan ini.

Sementara itu, euro diperdagangkan di dekat level terlemahnya sejak November. Mata uang Eropa itu naik tipis 0,13% ke US$1,1525.

Yen Jepang menguat 0,17% ke level 159,08 per dolar setelah sebelumnya sempat menyentuh 159,43 per dolar pada Kamis, yang merupakan posisi terlemah sejak 14 Januari.

Level tersebut juga membuat pelaku pasar waspada terhadap potensi intervensi dari otoritas Jepang.

Poundsterling juga menguat 0,11% ke level US$1,3356.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.

Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan Iran akan terus melawan dan mempertahankan penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz sebagai tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Iran juga meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan tersebut.

Di tengah lonjakan harga minyak, Amerika Serikat bahkan mengizinkan penjualan sebagian produk minyak Rusia yang sebelumnya terkena sanksi akibat konflik di Ukraina.

Gavin Friend, ahli strategi pasar senior di National Australia Bank, mengatakan fokus pasar kini bergeser dari diversifikasi aset menuju kekhawatiran terhadap kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

 “Untuk saat ini pasar memiliki fokus baru. Bukan lagi diversifikasi, melainkan inflasi dan pertumbuhan yang lebih rendah. Kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan rendah ini akan menjadi masalah semakin lama krisis berlangsung,” ujarnya.

Sementara itu, International Energy Agency pada Rabu (11/3) menyepakati pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah rekor sebesar 400 juta barel.

Namun, volume tersebut diperkirakan hanya mampu menutup sekitar 20 hari pasokan minyak yang hilang akibat gangguan di Selat Hormuz, dan membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk benar-benar mencapai pasar.

Pelaku pasar juga mencermati rapat kebijakan moneter pekan depan di Federal Reserve dan European Central Bank untuk melihat bagaimana bank sentral merespons potensi guncangan harga energi.

Berdasarkan data LSEG, pasar swap kini memperkirakan Bank Sentral Eropa berpotensi menaikkan suku bunga paling cepat pada Juni.

Sementara itu, The Fed diperkirakan baru akan memangkas suku bunga pada September, mundur dari ekspektasi sebelumnya pada Juli.

Di pasar kripto, Bitcoin naik 1,81% ke US$71.464,23, sementara Ether menguat 2,48% ke US$2.114,22.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yuan China Menguat ke Level Tertinggi Setahun terhadap Mata Uang Mitra Dagang Utama

 

 Yuan China menguat pada perdagangan Jumat (13/3/2026), mencapai posisi terkuat dalam setahun terhadap mata uang mitra dagang utamanya.

Sebelum pasar dibuka, People's Bank of China menetapkan kurs tengah resmi di 6,9007 per dolar AS, melemah 48 pip atau 0,07% dibandingkan penetapan sebelumnya, dan 119 pip lebih lemah dari perkiraan Reuters sebesar 6,8888.

Berdasarkan panduan resmi pada Jumat, indeks CFETS yuan yang berbobot perdagangan naik menjadi 100,15, level tertinggi sejak 3 Maret 2025, menurut perhitungan Reuters berdasarkan data resmi.

Indeks CFETS tercatat naik sekitar 2,2% sejak awal tahun hingga saat ini.

Penguatan indeks CFETS terjadi karena yuan melemah lebih sedikit dibanding mata uang non-dolar lainnya, meski dolar AS menguat akibat meningkatnya aversi risiko global terkait ketegangan di Timur Tengah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trump Sebut AS Bisa Untung dari Lonjakan Harga Minyak, Picu Kritik dari Politisi

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan negaranya berpotensi memperoleh keuntungan besar dari lonjakan harga minyak yang dipicu perang dengan Iran.

Pernyataan tersebut menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen yang menilai Trump hanya memikirkan kepentingan kalangan kaya.

Harga minyak melonjak lebih dari 9% hingga mencapai US$100 per barel setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran meluas.

Dua kapal tanker minyak terbakar di sebuah pelabuhan Irak setelah diduga diserang perahu bermuatan bahan peledak milik Iran, sementara puluhan kapal tanker lainnya tertahan karena jalur pelayaran Selat Hormuz ditutup.

Dalam unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia akan diuntungkan ketika harga minyak naik.

“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh melampaui negara lain. Jadi ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang,” tulis Trump.

Meski demikian, ia menegaskan menghentikan Iran memperoleh senjata nuklir jauh lebih penting.

Pernyataan tersebut langsung mendapat kritik dari Senator Partai Demokrat Mark Kelly. Ia menilai masyarakat pekerja Amerika justru menjadi pihak yang paling dirugikan akibat perang tersebut.

“Satu-satunya pihak yang diuntungkan dari lonjakan harga bensin adalah perusahaan minyak besar. Tapi tidak heran Trump senang, karena dia hanya peduli pada orang kaya,” tulis Kelly di platform X.

Komentar serupa juga disampaikan anggota DPR dari Partai Demokrat, yaitu Mark Pocan dan Don Beyer.

Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Gedung Putih Kush Desai menyebut pernyataan para politisi tersebut sebagai “konyol”.

Ia mengatakan harga minyak dan gas akan turun kembali setelah gangguan jangka pendek akibat konflik berakhir.

Menurut Desai, pernyataan Trump hanya menegaskan bahwa Amerika Serikat kini menjadi produsen minyak dan gas terbesar di dunia sekaligus eksportir bersih energi berkat kebijakan dominasi energi pemerintahannya.

Di sisi lain, harga bensin di Amerika Serikat terus meningkat pada hari ke-13 sejak perang pecah. Kenaikan tersebut tetap terjadi meski lebih dari 30 negara anggota International Energy Agency, termasuk AS, sepakat melepas cadangan minyak strategis global sebesar 400 juta barel.

Pemerintah AS juga mempertimbangkan untuk sementara waktu mencabut aturan pelayaran domestik yang dikenal sebagai Jones Act.

Kebijakan ini bertujuan memastikan distribusi energi dan produk pertanian antar pelabuhan di AS tetap lancar.

Jika aturan tersebut ditangguhkan, kapal asing dapat mengangkut bahan bakar antar pelabuhan AS sehingga biaya logistik berpotensi turun dan distribusi lebih cepat.

Senator Partai Republik Thom Tillis mengatakan meskipun pemerintah mungkin melihat dampak perang dalam jangka panjang, banyak warga Amerika saat ini harus menghadapi tekanan anggaran rumah tangga akibat kenaikan harga energi.

Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan harga minyak kemungkinan kecil mencapai US$200 per barel, meskipun konflik masih berlangsung.

“Saya akan mengatakan itu tidak mungkin, tetapi fokus kami saat ini adalah operasi militer dan menyelesaikan masalahnya,” kata Wright kepada CNN ketika ditanya kemungkinan harga minyak mencapai US$200 per barel.

Angka tersebut sebelumnya disebut oleh pejabat Iran sebagai potensi harga jika konflik terus meningkat.

Harga minyak Brent sendiri pernah mencapai rekor sekitar US$147 per barel pada 2008, dipicu ketegangan antara Barat dan Iran terkait program nuklirnya, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran inflasi.

Namun kali ini, analis menilai harga minyak dapat tetap tinggi karena penutupan Selat Hormuz yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, bahkan menyatakan jalur pelayaran tersebut harus tetap ditutup sebagai alat tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah AS menyatakan fokus utamanya saat ini adalah menjaga keamanan aliran energi global sambil mencari solusi praktis untuk mengatasi gangguan pasokan energi dalam jangka pendek.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Korea Selatan Pertimbangkan Voucher Energi, Tingkatkan Tenaga Batubara dan Nuklir

 

Korea Selatan sedang mempertimbangkan untuk memberikan voucher energi tambahan untuk mensubsidi rumah tangga yang rentan, jika kenaikan harga bahan bakar global setelah krisis Timur Tengah mendorong kenaikan biaya listrik.

Mengutip Reuters, Jumat (13/3/2026), Pemerintah Korea Selatan juga bersiap untuk meningkatkan pembangkit listrik tenaga nuklir dan batu bara jika harga minyak tetap tinggi dan pasokan gas alam cair (LNG) terganggu.

“Pemerintah akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk meminimalkan beban pada rakyat, seperti menstabilkan pasokan dan permintaan energi, manajemen harga, dan mendukung masyarakat yang rentan (terhadap kenaikan biaya energi),” kata Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan pada hari Jumat.

Korea Selatan hampir sepenuhnya bergantung pada impor untuk energinya, membeli sekitar 70% minyak dan 20% LNG dari Timur Tengah, menurut data Asosiasi Perdagangan Internasional Korea.

Untuk mengurangi ketergantungan pada LNG, Kementerian Iklim dan Energi mengatakan minggu ini bahwa mereka akan mempercepat pengaktifan kembali reaktor nuklir yang sedang dalam perawatan. Dua unit diharapkan kembali beroperasi paling cepat pada bulan Maret dan empat unit lagi pada pertengahan Mei.

Pemerintah juga mengatakan bahwa produksi listrik tenaga batubara dapat ditingkatkan secara fleksibel selama periode ketika dampak debu halus terhadap kualitas udara rendah, jika terjadi kekurangan pasokan LNG.

Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk memperluas anggaran saat ini untuk voucher energi bagi kelompok berpenghasilan rendah dan kelompok rentan lainnya dalam anggaran tambahan yang sedang disusun, kata seorang pejabat pemerintah kepada Reuters.

Korea Selatan telah memiliki anggaran voucher energi tahun lalu sekitar 500 miliar won ($335,93 juta), yang berlaku hingga Mei, dan sekitar 500 miliar won lagi dalam anggaran voucher energi tahun ini.

Pemerintah akan memantau dana tersebut dan mempertimbangkan dukungan tambahan.

Korea Selatan mulai membatasi harga bahan bakar domestik pada hari Jumat untuk mengatasi kenaikan biaya energi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rusia Tegaskan Iran Berhak untuk Membela Diri Sesuai Piagam PBB

 

Rusia menegaskan hak Iran untuk membela diri dan menyerukan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan agresi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia, Maria Zakharova mengatakan, Rusia akan terus mengambil langkah-langkah untuk meredakan situasi di Timur Tengah.

"Kami menganggap penting untuk menegaskan kembali hak Republik Islam Iran, dan juga semua negara lain, untuk membela diri sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB," kata Zakharova dalam sebuah konferensi pers, Kamis (12/3/2026).

"Kami menganggap serangan terhadap target sipil dan infrastruktur di Iran, negara-negara Arab tetangga, dan di mana pun tidak dapat diterima. Kami menyerukan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan agresi militer dan kembali ke meja perundingan," ujar Zakharova.

Dia menambahkan bahwa konflik atas Iran dapat memiliki konsekuensi lingkungan dan radiologis bagi Timur Tengah.

Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.

AS dan Israel awalnya mengklaim serangan mereka itu diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, mereka segera memperjelas bahwa serangan itu dilakukan karena mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei itu sebagai tindak pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kemlu Rusia mengutuk operasi AS-Israel itu dan menyerukan segera dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pesan Tegas dari Ali Larijani untuk Trump: Perang tidak Dapat Dimenangkan Hanya dengan Cuitan!

 

 

Semangat Iran untuk membalas agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel terus menggelegak. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ari Larijani pada Kamis (12/3/2026) mengatakan bahwa negara Republik Islam itu akan membuat Presiden AS Donald Trump membayar atas agresi terhadap Iran.

"Trump mengatakan dia mencari kemenangan cepat. Meskipun memulai perang itu mudah, perang tidak dapat dimenangkan hanya dengan beberapa cuitan (Trump). Kami tidak akan menyerah sampai membuat Anda menyesal atas kesalahan perhitungan yang serius ini," tulisnya di X.

Trump mengatakan pada Rabu (11/3/2026) bahwa Iran 'hampir berada di ujung jalan'. Dia juga mengancam akan menghancurkan kapasitas listrik Iran dalam waktu satu jam, tetapi berharap langkah tersebut tidak perlu dilakukan.

Iran telah menyerang wilayah Israel dan target militer AS di Timur Tengah sebagai balasan atas operasi militer gabungan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.

Agresi militer tersebut di hari pertama menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran selatan hingga menewaskan hampir 200 siswi. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Amerika Serikat dan Israel awalnya mengeklaim serangan "pencegahan" tersebut diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran, tetapi segera memperjelas tujuannya bahwa mereka ingin melihat penggantian kekuasaan di Iran.

Iran memperkirakan jumlah korban tewas akibat serangan brutal AS-Iran mencapai lebih dari 1.200 orang.

Pemerintah Iran akan menjadikan sekolah putri yang dibom di Kota Minab, Iran selatan, sebagai monumen peringatan untuk para korban agresi AS-Israel, kata Wakil Menteri Warisan Budaya dan Pariwisata Ali Darabi, Kamis (12/3/2026). Sekolah tersebut terkena serangan pada hari pertama Operasi Epic Fury gabungan AS-Israel.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, setidaknya 171 siswi wafat. PBB menyerukan pertanggungjawaban atas serangan mematikan tersebut. Sementara, New York Times kemudian melaporkan bahwa sekolah tersebut terkena rudal Tomahawk AS.

"Kompleks ini akan menjadi 'Museum Peringatan Para Martir Siswa' untuk melestarikan kenangan mereka," kata menteri tersebut seperti dikutip portal informasi Pemerintah Iran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Turki Ingatkan AS-Israel tidak Provokasi Perang Saudara di Iran

 

Turki mengingatkan Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel untuk tak memperburuk agresi militer ke Republik Islam Iran dengan upaya menciptakan perang saudara di negara itu. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan menegaskan segala upaya untuk menumbangkan pemerintahan Para Mullah di Teheran melalui provokasi perang saudara kesukuan maupun agama, bakal membuat Timur Tengah (Timteng) semakin terbakar.

Fidan mengatakan, Turki akan melakukan segala cara untuk menghalangi segala bentuk provokasi dan rencana dari eksternal dalam membuat situasi di Iran menjadi perang saudara kesukuan, ataupun berbasis keyakinan. “Kami sepenuhnya menentang rencana apapun untuk memprovokasi perang saudara di Iran,” begitu kata Fidan seperti dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (12/3/2026).

Fidan menyampaikan pernyataan tegas tersebut saat melangsungkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul di Ankara, Kamis (13/3/2026). Kedua Menlu itu membahas banyak hal, termasuk mencari solusi penghentian perang antara AS-Zionis dengan Iran yang sudah berlangsung selama 13 hari.

Fidan menyampaikan pesan dari Presiden Erdogan agar komonitas internasional mengambil berbagai peran diplomatik untuk menyetop peperangan tersebut. Turki, kata Fidan, sejak awal menilai serangan yang dilakukan Zionis-AS terhadap Iran sebagai aksi pelanggaran hukum internasional yang nyata.

Namun, Turki juga menyesalkan aksi pembalasan yang dilakukan militer Iran yang berdampak langsung ke wilayah negara-negara di Teluk Arab. “Tindakan provokasi perang, dan serangan terhadap Iran ini tidak adil dan melanggar hukum. Tetapi serangan Iran terhadap negara-negara Teluk (Arab), juga sama salahnya,” ujar Fidan.

Turki berkali-kali mendesak AS-Israel, pun Iran menyetop peperangan, dan berunding untuk perdamaian. Tetapi, kata Fidan, muncul sejumlah skenario atas ambisi AS-Zionis yang belum berhasil dalam menumbangkan pemerintahan di Teheran. Di antaranya, pemanfaatan sentimen kesukuan, maupun pemahaman agama sebagai alat untuk memunculkan pemberontakan sipil atas pemerintahan di Teheran.

“Kami sepenuhnya akan sangat menentang rencana dari siapapun yang bertujuan untuk memprovokasi perang saudara di Iran dan memicu konflik etnis atau agama untuk mencapai tujuan,” ujar Fidan.

“Tidak boleh ada masalah apapun dalam integritas teritorial Iran, dan tujuan seperti perubahan rezim melalui cara-cara provokasi etnis dan agama tidak boleh dilakukan. Kawasan ini, harus kembali normal dengan segera,” sambung Fidan.

Perang Zionis-AS dengan Iran sudah memasuki hari ke-13 pada Kamis (12/3/2026). Serangan AS-Zionis yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) hingga kini sudah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei yang syahid bersama isteri, anak, menantu, dan cucunya pada serangan Zionis-AS pertama.

Serangan AS-Zionis juga menewaskan 160 anak sekolah perempuan. Sementara, korban luka-luka tercatat sudah mencapai 10 ribu orang.

Iran yang sejak awal mendapatkan serangan itu bertahan, namun tetap melakukan perlawanan balasan dengan menyerang wilayah-wilayah penjajahan Zionis Israel di Palestina. Militer Iran juga menyerang pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di negara-negara Teluk Arab, seperti di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirate Arab, Arab Saudi, Yordania, di Irak. Peperangan semakin meluas setelah faksi bersenjata Hizbullah di Lebanon ikut membantu Iran menyerang Israel. Dan penjajah Zionis juga turut membombardir Lebanon sampai ke pusat ibu kota di Beirut.

Hingga hari ke-13 peperangan itu, Zionis-AS belum melakukan pengerahan pasukan darat untuk masuk ke Iran. Presiden AS Donald Trump dalam beberapa kali kesempatan memang menyampaikan tak akan mengerahkan pasukan daratnya untuk masuk ke wilayah dan melanjutkan peperangan dengan Iran. Padahal sebelum hari pertama peperangan, AS sudah memobilisasi prajurit-prajurit tempurnya sebanyak 50 ribu personel ke kawasan Timur Tengah. Israel pun belum melakukan serangan darat masuk ke Iran, meskipun militer zionis masuk ke wilayah Lebanon dengan melakukan kontak tembak degan Hizbullah.

Akan tetapi, belakangan sempat muncul skenario dari AS yang mengerahkan Badan Intelijen Luar Negeri (CIA) untuk melobi kelompok bersenjata Suku Kurdi untuk masuk ke wilayah Iran melakukan serangan darat. CIA melobi kelompok bersenjata Suku Kurdi yang berbasis di wilayah Iran, pun yang berada di wilayah berbatasan dengan Irak. Suku Kurdi di Iran, merupakan kelompok minoritas yang selama ini dicap sebagai oposisi oleh militer Iran. Dan Suku Kurdi di Irak, merupakan faksi bersenjata yang punya catatan kelam dengan militer Iran.

AS memprovokasi kelompok bersenjata Suku Kurdi di Iran dan Irak untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran. Dan Zionis juga mengandalkan Suku Kurdi dengan harapan terwujud wilayah bamper baru bagi Israel di Iran. Dan Suku Kurdi sendiri berpuluh-puluh tahun menghendaki pembentukan negara Kurdistan yang terbentang dari sebagian wilayah Iran, dan Irak sampai ke wilayh perbatasan antara Suriah dan Turki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post