News Komoditi & Global ( Selasa, 10 Maret 2026 )

News  Komoditi & Global  (  Selasa,   10 Maret 2026  )

Harga Emas Global  Naik Tipis di Tengah Permintaan Safe-Haven

 

Harga Emas (XAU/USD) diperdagangkan dengan kenaikan ringan di dekat $5.140 selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Selasa. Risiko-risiko geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah memberikan beberapa dukungan bagi logam mulia meskipun ada tekanan jual baru-baru ini.

Presiden AS, Donald Trump, mengisyaratkan bahwa perang Iran akan segera berakhir karena perang di Timur Tengah telah memasuki hari ke-11. Namun, Selat Hormuz tetap efektif ditutup, yang telah menyebabkan produsen-produsen besar di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, mengurangi output. Ketidakpastian dan kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan terus mendorong aset-aset safe-haven seperti logam kuning dalam waktu dekat.

Di sisi lain, perang di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi meningkat di AS, yang meningkatkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) AS akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya berdampak negatif bagi harga Emas yang tidak berimbal hasil. The Fed diprakirakan akan mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan mendatang pada 17-18 Maret. Banyak ekonom memprakirakan pemotongan suku bunga berikutnya tidak akan terjadi hingga Juni atau Juli 2026.

Para pedagang akan memantau dengan cermat data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk bulan Februari, yang akan dirilis pada hari Rabu. IHK umum diprakirakan akan menunjukkan peningkatan sebesar 2,4% YoY di bulan Februari, sementara IHK inti diproyeksikan menunjukkan kenaikan sebesar 2,5% selama periode yang sama. Tanda-tanda inflasi lebih tinggi di AS dapat mengangkat Dolar AS (USD) dan membebani harga komoditas berdenominasi USD.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harga Minyak Dunia Anjlok setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump Mengisyaratkan bahwa Perang di Timur Tengah dapat Segera Berakhir

 

Harga minyak mentah jenis Brent turun lebih dari 7% di awal perdagangan sesi Asia hari ini.

Sentimen datang setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa perang di Timur Tengah dapat segera berakhir, meredakan kekhawatiran tentang gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak global.

Selasa (10/3/2026) pukul 07.30 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 anjlok US$ 7,25 atau 7,3% menjadi US$ 91,71 per barel.

Padahal, harga Brent mencapai level tertinggi sesi di US$ 119,50 pada hari Senin (9/3/2026).

Harga tersebut merupakan harga intraday tertinggi bagi Brent sejak Juni 2022, sebanding dengan rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 147,50 per barel untuk Brent.

Harga turun dari rekor tertinggi intraday tersebut karena berbagai alasan, termasuk kekhawatiran tentang inflasi dan berita bahwa AS dan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) lainnya sedang mempertimbangkan untuk memanfaatkan cadangan minyak strategis.

Tak lama setelah penutupan perdagangan, harga minyak berbalik turun menyusul berita tentang percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Harga turun lebih lanjut dalam perdagangan pasca-penutupan, anjlok lebih dari 5%, setelah Reuters melaporkan bahwa sumber-sumber mengatakan pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan pelonggaran lebih lanjut sanksi terhadap minyak Rusia untuk membantu mengendalikan harga energi global.

Sebelumnya, Putin mengatakan Moskow siap memasok minyak dan gas alam ke Eropa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street Ditutup Menguat, Ditopang Harapan Konflik di Timur Tengah Mereda

 

Wall Street berhasil pulih dari aksi jual tajam dan ditutup menguat pada awal pekan usai mencatat rebound di jam terakhir setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa perang AS-Israel melawan Iran mungkin akan segera berakhir.

Senin (9/3/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 239,25 poin atau 0,5% menjadi 47.740,80, indeks S&P 500 menguat 55,97 poin atau 0,83% ke 6.795,99 dan indeks Nasdaq Composite naik 308,27 poin atau 1,38% menjadi 22.695,95.

Sembilan dari 11 sektor utama di indeks S&P 500 menguat, dengan saham teknologi menikmati kenaikan persentase terbesar. Saham sektor keuangan dan energi adalah dua sektor yang mengakhiri sesi perdagangan di wilayah negatif.

Indeks Semikonduktor Philadelphia pulih, dengan produsen chip SanDisk, Broadcom, dan Nvidia naik antara 2,7% dan 11,7%.

Saham sektor perumahan, perbankan, dan kedirgantaraan/pertahanan jelas berkinerja buruk pada sesi kali ini.

Ketiga indeks acuan mengalami pemulihan di akhir sesi setelah Trump mengatakan perang tersebut "jauh lebih cepat" dari perkiraan awalnya selama empat hingga lima minggu.

Di awal sesi, harga minyak mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 karena pasokan yang terbatas akibat gangguan pengiriman saat perang melawan Iran memasuki hari kesepuluh.

Kenaikan harga energi dapat menyebar menjadi lonjakan inflasi yang lebih luas pada saat banyak konsumen AS kesulitan untuk membeli barang. Namun, harga minyak mentah turun setelah sumber-sumber mengatakan pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia.

Pergerakan intraday pasar saham saat investor mencerna berita utama telah menambah volatilitas pada hari perdagangan dalam beberapa minggu terakhir.

"Masih ada banyak sekali ketidakpastian di luar sana mengenai durasi konflik, serta durasi penutupan Selat Hormuz," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi CFRA Research di New York.

"Sekali lagi hari ini, melihat pembalikan relatif dalam pergerakan harga menunjukkan bahwa investor mencari setiap kesempatan untuk kembali masuk ke pasar ekuitas."

Kekhawatiran yang meningkat tersebut, dikombinasikan dengan laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan pada hari Jumat, meningkatkan kemungkinan stagflasi ekonomi, yang akan menjebak Federal Reserve AS di antara dua sisi mandat gandanya - stabilitas harga dan lapangan kerja penuh.

Namun demikian, pasar keuangan sebagian besar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah hingga paruh pertama tahun ini, menurut alat FedWatch CME.

"Laporan ketenagakerjaan yang lemah tersebut bersamaan dengan kenaikan harga energi ... menunjukkan potensi stagflasi," kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth di Fairfield, Connecticut.

"Federal Reserve akan terjebak di antara dua pilihan sulit."

Harapan akan de-eskalasi konflik Timur Tengah yang semakin meluas sebelumnya meredup setelah Iran memilih Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi, sebuah pilihan yang dianggap tidak dapat diterima oleh Trump, yang telah menyerukan "penyerahan" tanpa syarat dari Iran.

Di bidang ekonomi, akhir pekan ini, Indeks Harga Konsumen Departemen Tenaga Kerja, laporan kedua Departemen Perdagangan tentang PDB kuartal keempat, dan laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi yang lebih luas semuanya berpotensi menggerakkan pasar.

Jumlah saham yang turun melebihi jumlah saham yang naik dengan rasio 1,06 banding 1 di NYSE. Terdapat 105 rekor tertinggi baru dan 204 rekor terendah baru di NYSE.

Penunjukan Mojtaba Khamenei Tamparan Keras untuk Trump

 

 

Terpilihnya putra Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dinilai sebagai pukulan telak terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Keputusan Majelis Ahli tersebut mementahkan salah satu tujuan Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerang Iran.

Kedua pimpinan menyatakan serangan ke Iran adalah juga untuk mengganti rezim negara tersebut. Washington dan Tel Aviv menghendaki pemerintahan Iran yang lebih lunak dan akomodatif terhadap kepentingan AS dan Israel.

Yang ia dapatkan sekarang setelah membunuh Ali Khamenei, adalah putra keduanya yang lebih dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan sempat bergabung bersama Batalyon Habib dalam Perang Iran-Irak selapa 1980-an.

“Ini adalah kesalahan nyata Donald Trump yang sebelumnya mengatakan dia tidak menginginkan Mojtaba Khamenei (sebagai pemimpin tertinggi,” kata Barbara Slavin dari Stimson Institute dikutip Aljazirah.

Penunjukan Mojtaba, kata dia, juga membuat serangan AS-Israel ke Iran menjadi lebih tidak masuk akal. Terlebih, dalam serangan ke Iran, AS dan Israel juga membunuh hampir semua anggota keluarga Mojtaba.

 “Mereka membunuh (Ali) Khamenei) dan membuat ia diganti putranya, seseorang yang akan marah, tentu saja, atas pembunuhan ayah, ibu, istri, dan salah satu anaknya dalam serangan Israel seminggu yang lalu.”

Slavin mencatat Mojtaba telah memerintah bersama ayahnya selama bertahun-tahun. Mengingat ancaman nyata yang dihadapi Republik Islam, tampaknya cukup logis untuk menempatkan [dia] di sana karena dia mengenal semua orang dan mengetahui semua hal”.

Hamid Reza Gholamzadeh, direktur lembaga pemikir DiploHouse di Teheran, mengatakan Ali Khamenei, tidak memiliki peran dalam memilih putranya untuk menggantikannya. Gholamzadeh mengklaim bahwa Ali Khamenei pada awalnya menentang gagasan tersebut dan mengatakan bahwa tanggung jawab penunjukan tersebut sepenuhnya berada di tangan Majelis Ahli.

“Itu tidak ada hubungannya dengan ayahnya,” kata Gholamzadeh kepada Aljazirah. “Majelis Pakar bertanggung jawab melakukan revisi teknis terhadap tokoh-tokoh yang mungkin dan yang paling sesuai dengan kriteria berdasarkan konstitusi, dan mereka telah memilihnya,” ujarnya.

Meski begitu, Mojtaba Khamenei “sangat dekat dengan ayahnya” dan karena itu sadar akan tantangan yang dihadapi Iran, kata analis tersebut. “Posisi pemimpin sebenarnya tidak perlu memiliki pengalaman eksekutif,” tambah Gholamzadeh. “Intinya adalah, semakin baik dia mengetahui situasinya, semakin baik dia mengetahui tantangan-tantangan kekuasaan eksekutif dalam praktiknya.”

Sedangkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyambut baik pemilihan pemimpin tertinggi baru oleh Majelis Ahli Iran. Ia mengatakan penunjukan Mojtaba Khamenei menandai “era baru martabat dan kekuatan” bagi bangsa.

 “Pilihan berharga ini merupakan wujud keinginan bangsa Islam untuk mengkonsolidasikan persatuan nasional; kesatuan yang, seperti penghalang kokoh, telah membuat bangsa Iran tahan terhadap konspirasi musuh,” kata Pezeshkian dalam sebuah pernyataan, menurut kantor berita Fars.

Sebelumnya, angkatan bersenjata Iran, IRGC dan para pemimpin tertinggi Iran, termasuk Mohammed-Bagher Qalibaf dan Ali Larijani, telah berjanji setia kepada pemimpin tertinggi baru.

Sedangkan the Times of Israel melaporkan bahwa Presiden AS menolak mengomentari penunjukan Mojtaba. Padahal ia sebelum penunjukan semalam berkoar-koar tak akan membiarkan calon pengganti Khamenei tanpa persetujuan AS.“Kita lihat saja apa yang terjadi,” ujarnya singkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rusia Tetap Bantu Info Intelijen untuk Iran Meski Utusan Trump Beri Peringatan

 

Amerika Serikat (AS) mengingatkan Rusia agar tidak membagi informasi intelijen kepada Iran. Menurut Washington, langkah Moskow menyediakan intelijen untuk Iran dalam perang melawan AS dan Israel tidak dapat diterima.

Pesan itu dinyatakan oleh utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, yang berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One.

"Saya nyatakan itu dengan tegas," kata Witkoff. Dia berharap Rusia menerima peringatannya.

Adapun, Donald Trump mengatakan, Washington tidak mendapatkan konfirmasi bahwa Moskow membantu Iran dengan informasi intelijen. Namun, jika benar demikian, kata Trump, hal itu tidak mengubah kondisi di lapangan.

"Kami tidak tahu. Tapi situasi tidak baik. Jika mereka menerima informasi, itu tidak banyak membantu mereka," kata Trump.

Laporan Washington Post dilansir Anadolu pada Jumat (6/3/2026), mengungkap bahwa Rusia menyediakan informasi intelijen kepada Iran terkait titik-titik aset militer AS di Timur Tengah. Itulah mengapa rudal dan drone Iran sejauh ini sangat akurat menghantam aset militer AS yang mereka targetkan.

Sumber anonim Washington Post menyebutkan bahwa Rusia menyediakan informasi sejak perang dimulai Sabtu pekan lalu, yakni lokasi aset militer AS, termasuk kapal-kapal dan jet tempur diparkir. "Itu terlihat seperti sebuah upaya (bantuan) yang cukup komprehensif," ujar salah satu sumber.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menlu Iran Tegaskan Permintaan Gencatan Senjata dari AS-Israel akan Ditolak, Ini Alasannya

 

 Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancaranya dengan televisi NBC pada Ahad (8/3/2026) mengatakan bahwa, Iran kali ini dipastikan menolak jika Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali meminta gencatan senjata. Araghchi menegaskan bahwa kondisi kali ini berbeda dengan perang 12 hari pada Juni 2025 lalu.

Araghchi mengulang memori pada Juni tahun lalu di mana Israel menyerang Iran dan Presiden AS Donald Trump lalu mengunggah kalimat "menyerah tanpa syarat" pesan di media sosial. Namun yang terjadi saat itu, kata Araghchi, Iran melawan dan setelah perang berlangsung 12 hari, yang terjadi adalah Israel meminta "gencatan senjata tanpa syarat".

"Jadi kami tidak pernah menyerah, dan kami terus melawan selama mungkin diperlukan, kami terus mempertahankan diri kami. Dan kami mempertahankan wilayah kami, rakyat kami, dan martabat kami. Dan martabat kami tidak untuk dijual," kata Araghchi.

Presenter NBC kemudian bertanya kepada Araghchi, syarat apa yang diajukan Iran untuk membuat perang ini berakhir. Araghchi menjawab, Iran belum berada pada titik itu (gencatan senjata).

"Jelas saat ini berbeda dari sebelumnya. Terakhir kami menerima gencatan senjata, tapi saat ini cukup berbeda. Dan alasannya jelas. Terakhir kali mereka menyerang kami, mereka melakukan agresi terhadap kami, membunuh rakyat kami, mereka menghancurkan infrastruktur kami dan mereka meminta gencatan senjata dan kami terima dengan niat baik karena kami hanya mempraktikkan aksi membela diri. Dan itu ternyata tidak membawa perdamaian," kata Araghchi.

"Dan tahun ini mereka kembali menyerang kami. Dan sekarang mereka meminta gencatan senjata lagi? Ini tidak akan berhasil seperti ini. Jadi harus ada penyetopan perang secara permanen. Jika tidak, saya pikir kami akan terus melawan," kata Aragahchi menegaskan.

Presenter NBC pun kembali bertanya kepada Araghchi, "Apakah Iran akan setuju pada gencatan senjata untuk kembali ke meja negosiasi, untuk mengakhiri konflik militer?"

Araghchi menjawab, "Mereka harus menjelaskan mengapa mereka memulai agresi ini sebelum kita pada titik menimbang gencatan senjata. Tentu tidak ada yang mau meneruskan perang. Ini bukan perang kami, ini bukan perang kami yang pilih tapi ini perang yang diterpakan kepada kami oleh AS dan Israel. Mereka memulai perang ini tak terprovokasi, ilegal, dan apa yg kami lakukan adalah aksi pembelaan diri yang sah dan kami punya hak untuk melakukan itu."

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Ahad (8/3/2026) mulai menggunakan rudal generasi baru pada gelombang serangan ke-28 Operasi Janji Setia 4. Rudal-rudal generasi baru, menurut IRGC digunakan untuk menargetkan kota-kota di Israel dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah.

Dalam sebuah pernyataan dikutip Al Mayadeen, IRGC mengatakan mengerahkan rudal Kheibar generasi terbaru, dilengkapi dengan hulu ledak sangat berat. Serangan dilaporkan menargetkan Bir al-Sabe' dan Tel Aviv, dan juga infrastruktur di Pangkalan Udara Al-Azraq, Yordania.

Masih menurut pernyataan IRGC, skala dan kedalaman serangan militer Iran terhadap musuh-musuhnya akan berkembang lebih besar pada beberapa jam dan hari ke depan, sebagai response Iran terhadap agresi AS dan Israel. Sementara, pejabat Iran mensinyalkan kesiapan mereka untuk melanjutkan perang, di mana komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, mendeklarasikan bahwa Iran akan terus menekan "hingga musuh-musuh menyerah dan menyesal".

Aliabadi mengatakan, persenjataan Iran saat ini lebih canggih dan mereka menikmati fleksibilitas dan tingkat presisi tinggi rudal dan drone. Aliabadi menambahkan, bahwa "musuh-musuh bilang mereka tahu jumlah rudal yang kami punya, dan kami bilang kepada mereka untuk terus menghitung mereka di medan perang."

Sebuah dokumen rahasia berisi laporan asesmen intelijen menyimpulkan bahwa serangan militer skala besar pun tak akan bisa menggulingkan Republik Islam Iran. Laporan yang didapat oleh Washington Post dilansir Al Mayadeen, pada Sabtu (7/3/2026) itu menyebutkan bahwa struktur ulama dan mliter di Iran sangat kokoh dan mampu mempertahankan sistem pemerintahan bahkan dalam kondisi tekanan hebat dari pihak luar.

Temuan ini terungkap di tengah pemerintahan Donald Trump yang mensinyalkan kemungkinan perang panjang dengan Iran, di mana beberapa pejabat menyatakan bahwa perang " baru saja dimulai". Menurut tiga orang yang mengetahui dokomen rahasia itu, kalangan intelijen AS meragukan tujuan Trump "membersihkan" kepemimpinan Iran dan menggantinya dengan pemimpin pilihannya.

Asesmen lengkap disusun oleh Dewan Intelijen Nasional (NIC) AS sepekan sebelum AS dan Israel melancarkan serangan. NIC menguji sejumlah skenario termasuk serangan terbatas pada pemimpin senior dan juga serangan yang lebih luas menyasar institusi pemerintahan dan kepemimpinan politik Iran.

Dari dua skenario itu, para analis intelijen menyimpulkan bahwa ulama Iran dan kepemimpinan militer akan pasti merespons pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dengan mengaktivasi mekanisme konstitusional untuk memastikan keberlanjutan kekuasaan. Laporan itu juga mengasesmen bahwa oposisi yang terfragmentasi di Iran kemungkinan tidak bisa mengambil alih kontrol kekuasaan dalam kondisi sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Laporan: Iran Revisi Strategi Perang, Aset Ekonomi AS Segera Jadi Target Serangan

 

 

Iran dilaporkan telah mengembangkan daftar target potensial termasuk aset ekonomi AS untuk diserang. Menurut laporan Fars News dilansir Anadolu, Senin (9/3/2026), Teheran merevisi target-targetnya sehingga tak lagi fokus pada aset militer AS dan Israel di Timur Tengah.

Menurut pejabat yang dikutip Fars News, perubahan target serangan Iran sebagai respons atas serangan dari AS dan Israel yang "saat ini termasuk ancaman langsung terhadap rakyat Iran."

Pada Sabtu (8/3/2026), AS dan Israel melancarkan serangan menargetkan fasilitas minyak di dalam kota dan sekitar Teheran. Serangan itu mengakibatkan kerusakan signifikan, termasuk depot minyak di Shahran Oil Depot.

Dilansir Al Jazeera, asap tebal terlihat membumbung di langit Teheran setelah serangan udara tersebut. Serangan itu menargetkan empat fasilitas penyimpanan minyak dan satu pusat transfer produksi minyak.

Kantor berita Fars melaporkan serangan pada Sabtu memicu kebakaran besar setelah menghantam empat fasilitas penyimpanan minyak serta pusat transfer produksi minyak di Teheran dan Provinsi Alborz. Media pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai “serangan dari Amerika Serikat dan rezim Zionis”.

Fasilitas yang menjadi sasaran antara lain gudang minyak Aghdasieh di timur laut Teheran, kilang minyak Teheran di bagian selatan kota, depot minyak Shahran di barat Teheran, serta depot minyak di Kota Karaj.

Sejumlah saksi menyebutkan minyak dari depot Shahran sempat bocor hingga ke jalan-jalan di sekitar lokasi. Setidaknya empat pengemudi truk tangki dilaporkan tewas dalam serangan di Teheran dan Alborz, menurut laporan Fars. Meski demikian, pihak berwenang menyatakan tidak terjadi kekurangan distribusi bahan bakar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran Mulai Gunakan Rudal Generasi Baru pada Ahad, Sasar Tel Aviv dan Pangkalan Udara Yordania

 

 

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Ahad (8/3/2026) mulai menggunakan rudal generasi baru pada gelombang serangan ke-28 Operasi Janji Setia 4. Rudal-rudal generasi baru, menurut IRGC digunakan untuk menargetkan kota-kota di Israel dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah.

Dalam sebuah pernyataan dikutip Al Mayadeen, IRGC mengatakan mengerahkan rudal Kheibar generasi terbaru, dilengkapi dengan hulu ledak sangat berat. Serangan dilaporkan menargetkan Bir al-Sabe' dan Tel Aviv, dan juga infrastruktur di Pangkalan Udara Al-Azraq, Yordania.

Masih menurut pernyataan IRGC, skala dan kedalaman serangan militer Iran terhadap musuh-musuhnya akan berkembang lebih besar pada beberapa jam dan hari ke depan, sebagai response Iran terhadap agresi AS dan Israel. Sementara, pejabat Iran mensinyalkan kesiapan mereka untuk melanjutkan perang, di mana komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, mendeklarasikan bahwa Iran akan terus menekan "hingga musuh-musuh menyerah dan menyesal".

Aliabadi mengatakan, persenjataan Iran saat ini lebih canggih dan mereka menikmati fleksibilitas dan tingkat presisi tinggi rudal dan drone. Aliabadi menambahkan, bahwa "musuh-musuh bilang mereka tahu jumlah rudal yang kami punya, dan kami bilang kepada mereka untuk terus menghitung mereka di medan perang."

Aliabadi lebih jauh mengatakan, AS dan Israel selalu salah menghitung, dan Iran mengingatkan mereka berulang kali bahwa Iran akan merespons dengan keras setiap agresi musuh. "Kami berharap musuh paham bahwa kami adalah bukan rakyat penuh slogan tapi aksi."

Menurut Aliabadi, angkatan bersenjata Iran telah memperbaiki kekurangan di perang 12 hari pada Juni tahun lalu, dan musuh saat ini mengetahui skala kekuatan militer Iran. Mengomentari kumpulan massa di berbagai kota di Iran mendukung angkatan bersenjata Iran, Aliabadi mengatakan, "Ini adalah masa yang akan menjadi sejarah, dan kemenangan tentunya menjadi milik Iran dan rakyatnya."

Sebelumnya, IRGC mengumumkan bahwa mereka menghantam pusat penyulingan minyak milik Israel di Haifa dengan rudal Kheibar Shekan, pada Ahad. Menurut IRGC dikutip Al Mayadeen, serangan itu sebagai balasan serangan Israel yang menyasar pangkalan penyimpanan minyak Iran di Teheran.

Pernyataan IRGC dikeluarkan bersamaan dengan gelombang ke-27 Operasi Janji Setia 4 yang mana serangan dilancarkan dengan luncuran rudal dan drone terhadap target-target milik AS dan Israel. Menurut IRGC, dengan rudal Kheibar Shekan, pusat penyulingan minyak di Haifa sukses ditarget.

Adapun serangan drone, menurut keterangan IRGC, juga sukses menghantam target militer AS yang berlokasi di arena Marina, dekat gedung Warner Bros di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kheibar Shekan adalah salah satu rudal canggih yang menjadi andalan Iran saat ini. Menurut Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, Iran adalah negara dengan stok rudal balistik terbanyak di Timur Tengah.

Rudal-rudal Iran memiliki jarak jelajah hingga maksimal 2.000 kilometer (km), yang menurut ahli cukup untuk memberikan perlindungan lantaran angka itu mencakup jarak antara Iran dan Israel.

Rusia Pastikan Ada di Pihak Iran, Isyaratkan akan Beri Bantuan Militer Jika Diminta

 

Rusia meyampaikan sikap geopolitiknya atas situasi peperangan yang dimotori Zionis Israel-Amerika Serikat (AS) dengan menyarang Republik Islam Iran. Duta Besar Rusia di Inggris, Andrei Kelin menegaskan, posisi Moskow tidak netral dan memastikan mendukung Iran yang menjadi korban ketidakadilan atas invansi Zionis-AS.

“Kami (Rusia) tidak netral. Tidak. Kami tidak netral. Kami mendukung Iran. Dan tentu saja, dan seperti yang selalu saya sampaikan, kami memandang negatif apa yang dilakukan terhadap Iran,” kata Kelin dalam sesi wawancara bersama Sky News dan dikutip dari Aljazirah English, pada Ahad (8/3/2026).

Kelin juga menyampaikan sikap simpati Rusia atas negara-negara di Teluk Arab yang terkena dampak langsung dari agresi militer Zionis-AS ke Negeri Para Mullah itu. Kelin menyampaikan ada banyak faktor yang membuat Rusia berada di sisi dan mendukung Iran. Selain karena Iran negara sahabat Rusia yang dikatakan Kelin sebagai tetangga yang baik, pemerintahan di Teheran juga selama ini menjadi korban ketidakadilan AS.

“Anda tahu, bahwa kami semua bersimpati kepada Iran. Mereka adalah tetangga kami. Dan kami selalu memiliki hubungan yang sangat baik. Dan kami melihat bahwa tindakan militer yang diambil terhadap Iran, sama sekali tidak adil. Karena itu, Rusia mendukung Iran,” ujar dia.

Namun, kata Kelin, Iran dalam masa-masa perang melawan agresi Zionis-AS ini, belum sekalipun menyampaikan permintaan resmi agar Rusia membantu secara militer. Iran menyampaikan kepada Rusia, mereka masih dapat bertahan dan melawan dengan kemampuannya sendiri.

“Tetapi seperti yang sudah pernah kami umumkan, bahwa Iran tidak meminta apapun dari kami, tidak meminta apapun, atau pertolongan apapun,” ujar Kelin.

Akan tetapi, sebagai negara sahabat, Rusia memastikan mendukung Iran. Sebab, kata Kelin, begitu banyak cacat logika yang dilakukan Zionis-AS terhadap Iran. Pemerintahan di Moskow, kata Kelin, tak habis pikir atas AS yang selalu menyudutkan dan menyalahkan Iran, tetapi tak melihat bahwa Israel dan AS yang melakukan agresi terhadap Iran.

“Kami tidak memahami logika seperti ini. Logika dari negara-negara barat, Amerika Serikat dan yang lain (Israel) saat ini yang harus menyalahkan Iran, tetapi tidak ada yang mengatakan bahwa AS dan Israel yang telah memulai permusuhan dan penyerangan. Iran hanya menanggapi serangan itu. Jadi ini, sangat tidak adil bagi Iran,” ujar dia.

Rusia memang menyayangkan situasi runyam saat ini yang sudah membakar negara-negara Timteng. Akan tetapi, kata Kelin, harus tetap melihat bahwa agresi Zionis-AS terhadap Iran itulah yang mengancam negara-negara Teluk Arab ke dalam peperangan. Posisi bertahan Iran, dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di negara-negara Arab, menurut Kelin, dampak dari ambisi perang Zionis-AS terhadap Iran.

“Kami juga bersimpati kepada negara-negara sahabat kami yang berada di Teluk Persia, kepada semua emir (pemimpin-pemimpin negara Arab). Kami tentu saja juga memiliki kepentingan di sana,” ujar Kelin.

Perang Zionis-AS dengan Iran sudah memasuki hari ke-8. Serangan berbalas serangan masih terjadi melalui udara. Zionis-AS baru-baru ini kembali membombardir Iran, dengan menargetkan pusat-pusat penyimpanan stok bahan bakar, dan titik-titik komando militer.

Militer Iran, Korps Garda Revolusi Islam masih terus bertahan dengan menembakkan misil dan rudal-rudal berdaya ledak besar ke wilayah penjajahan Zionis di Palestina, juga ke aset-aset militer AS yang berada di Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, termasuk di Uni Emirates Arab, juga di Yordania. Peperangan saat ini, pun turut menyeret Lebanon yang merupakan salah satu wilayah basis militer Iran di dekat Israel.

China dilaporkan mulai beralih mendukung Iran dengan memberikan bantuan finansial, suku cadang pengganti, dan komponen terkait rudal. Mengutip tiga sumber yang mengetahui masalah itu, laporan tersebut menyebutkan Beijing sejauh ini menghindari keterlibatan langsung dalam konflik antara Iran dan AS-Israel, tetapi para pejabat AS memantau tanda-tanda bahwa posisi China mungkin berubah.

China adalah pembeli utama minyak mentah Iran dan secara terpisah telah mendesak Teheran untuk memastikan navigasi yang aman melalui Selat Hormuz bagi kapal komersial, sebut laporan itu. Seorang sumber intelijen mengatakan kepada CNN bahwa China sangat berhati-hati memberikan dukungan karena konflik tersebut bisa mengancam ketahanan energinya.

CNN juga melaporkan bahwa Rusia diduga telah berbagi citra satelit dan intelijen penargetan lainnya dengan Iran, termasuk data mengenai posisi dan pergerakan pasukan AS. Badan Intelijen Pusat (CIA) menolak mengomentari laporan tersebut.

Pekan lalu, enam tentara AS tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan drone Iran di Kuwait. Iran telah meluncurkan ribuan drone serang dan ratusan rudal ke fasilitas militer AS, kedutaan besar, dan sasaran sipil, sementara serangan AS dan Israel menghantam lebih dari 2.000 lokasi di Iran.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam sejak AS-Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu, yang menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, dan sejumlah pejabat militer senior.

Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh kawasan, serta beberapa kota di Israel. Serangan tersebut terus meningkat.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Ahad (8/3/2026) mengumumkan bahwa mereka menghantam pusat penyulingan minyak milik Israel di Haifa dengan rudal Kheibar Shekan. Menurut IRGC dikutip Al Mayadeen, serangan itu sebagai balasan serangan Israel yang menyasar pangkalan penyimpanan minyak Iran di Teheran.

Pernyataan IRGC dikeluarkan bersamaan dengan gelomabang ke-27 Operasi Janji Setia 4 yang mana serangan dilancarkan dengan luncuran rudal dan drone terhadap target-target milik AS dan Israel. Menurut IRGC, dengan rudal Kheibar Shekan, pusat penyulingan minyak di Haifa sukses ditarget.

Adapun serangan drone, menurut keterangan IRGC, juga sukses menghantam target militer AS yang berlokasi di arena Marina, dekat gedung Warner Bros di Dubai, Uni Emirat Arab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Donald Trump–Xi Jinping Diprediksi Tanpa Terobosan, Fokus Jaga Stabilitas

 

Rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Trump ke China pada akhir Maret 2026 dinilai kecil kemungkinan menghasilkan terobosan besar dalam hubungan bisnis dan investasi antara kedua negara.

Pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas hubungan ekonomi dua raksasa dunia yang sempat memanas dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah sumber yang mengetahui persiapan pertemuan tersebut mengatakan, baik Washington maupun Beijing belum menunjukkan tanda-tanda kesepakatan baru yang signifikan.

Para pemimpin bisnis AS juga belum dipastikan ikut dalam delegasi resmi yang mendampingi Trump.

Direktur John L. Thornton China Center di Brookings Institution, Ryan Hass, menilai ekspektasi terhadap kunjungan ini terus menyusut. “Ambisi tentang apa yang bisa dicapai dari kunjungan ini tampaknya semakin kecil dari hari ke hari,” ujarnya.

Pertemuan ini akan menjadi tatap muka pertama Trump dan Xi sejak keduanya menyepakati gencatan perang dagang pada Oktober lalu. Namun proses persiapannya dinilai tidak biasa karena dilakukan sangat mendadak.

Beijing disebut frustrasi dengan perencanaan Washington yang baru dimulai dalam beberapa pekan terakhir, padahal kunjungan kenegaraan biasanya disiapkan berbulan-bulan.

Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 31 Maret hingga 2 April. Meski pemerintah China belum secara resmi mengonfirmasi agenda tersebut, Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan pembahasan mengenai pertemuan kedua pemimpin sudah masuk agenda diplomatik.

 “Kedua pihak perlu melakukan persiapan menyeluruh agar perbedaan yang ada bisa dikelola dengan baik,” kata Wang Yi.

Sejauh ini, fokus utama pertemuan lebih pada menjaga stabilitas hubungan dagang. Pemerintah AS ingin memastikan China tetap membeli produk pertanian AS, pesawat buatan Boeing, serta memasok mineral tanah jarang yang dibutuhkan industri AS.

Di sisi lain, China berharap ada jaminan keamanan bagi investasi perusahaan-perusahaan mereka di Amerika Serikat. Permintaan ini muncul setelah Washington memaksa divestasi aplikasi video pendek TikTok di AS.

Isu tarif juga masih menjadi potensi sumber ketegangan. Bulan lalu, Mahkamah AS membatalkan tarif 10% terkait fentanyl yang sebelumnya diberlakukan Trump terhadap China.

Namun pemerintah AS memberi sinyal akan memberlakukan kembali tarif tersebut melalui dasar hukum lain.

Meski begitu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menegaskan pertemuan puncak ini bukan ditujukan untuk memicu konflik baru. “Tujuan pertemuan ini bukan untuk bertarung soal perdagangan, tetapi menjaga stabilitas hubungan,” katanya.

Salah satu kemungkinan kesepakatan yang sedang dibahas adalah pembelian sekitar 500 pesawat berbadan sempit dari Boeing oleh China. Namun kesepakatan itu masih dinegosiasikan dan pengirimannya diperkirakan baru rampung pada dekade 2030-an karena antrean produksi Boeing yang panjang.

Dengan berbagai ketidakpastian tersebut, pertemuan Trump dan Xi diperkirakan lebih bersifat menjaga hubungan tetap stabil, ketimbang membuka babak baru kerja sama ekonomi antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

 

 

Eropa Jadi Raja Impor Senjata Global, Siapa yang Mendominasi Ekspor Senjata Dunia?

 

Eropa menjadi kawasan pengimpor senjata terbesar di dunia dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini terjadi karena meningkatnya kekhawatiran terhadap ancaman Rusia serta menurunnya kepercayaan terhadap komitmen keamanan Amerika Serikat.

Reuters melaporkan, data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis Senin (9/3/2026) menunjukkan negara-negara Eropa meningkatkan impor senjata secara drastis pada periode 2021–2025 dibandingkan 2016–2020.

Lonjakan tersebut terjadi karena dua faktor utama: membantu Ukraina menghadapi invasi Rusia serta memperkuat kembali kemampuan militer mereka setelah puluhan tahun minim investasi di sektor pertahanan.

Menurut Direktur Program Transfer Senjata SIPRI, Mathew George, peningkatan aliran senjata ke Eropa mendorong kenaikan transfer senjata global hampir 10%.

Secara keseluruhan, Eropa menyumbang sekitar 33% dari total impor senjata global, naik tajam dari posisi 12% pada periode lima tahun sebelumnya.

Meski berusaha meningkatkan produksi senjata dalam negeri, negara-negara Eropa masih terus membeli persenjataan dari Amerika Serikat, terutama pesawat tempur dan sistem pertahanan udara jarak jauh.

Sementara itu, impor senjata oleh negara-negara Timur Tengah justru turun sekitar 13%. Meski demikian, Saudi Arabia dan Qatar tetap menjadi dua dari empat pembeli senjata terbesar di dunia.

Peneliti senior SIPRI, Pieter Wezeman, menjelaskan penurunan tersebut terutama karena pesanan besar yang sebelumnya dilakukan oleh Arab Saudi masih dalam tahap integrasi.

Namun sebelum konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran terjadi, negara-negara di kawasan tersebut sebenarnya sudah memesan sejumlah sistem senjata baru yang belum tercatat dalam data terbaru.

Konflik yang sedang berlangsung diperkirakan akan kembali meningkatkan pembelian senjata, terutama sistem pertahanan udara dan anti-rudal.

Menurut Wezeman, negara-negara di kawasan tersebut kemungkinan akan mengganti sistem yang sudah digunakan dalam konflik sekaligus membeli perlengkapan tambahan untuk meningkatkan perlindungan mereka.

Dalam hal pemasok senjata, United States semakin memperkuat dominasinya dengan pangsa 42% dari ekspor senjata global, naik dari sebelumnya 36%.

France menjadi pemasok terbesar kedua dengan pangsa 9,8%, sementara pangsa Russia turun drastis menjadi 6,8% dari sebelumnya 21% setelah invasi ke Ukraina pada 2022.

Secara keseluruhan, negara-negara Eropa menyumbang 28% ekspor senjata global, sekitar empat kali lebih besar dibanding Rusia dan lima kali lebih besar dari China.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iran Pilih Jalur Konfrontasi Dibanding Kompromi Melawan AS, Ini Buktinya

 

Kepemimpinan ulama di Iran memilih jalur konfrontasi dibanding kompromi dengan menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi. Sejumlah pejabat kawasan menilai keputusan ini merupakan sinyal penolakan langsung terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik yang kini telah memasuki pekan kedua.

Reuters memberitakan, penunjukan Mojtaba oleh Assembly of Experts memperkuat dominasi kelompok garis keras di Teheran. Langkah ini dinilai berpotensi mengubah arah perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel serta memicu dampak geopolitik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute, mengatakan pergantian tersebut pada dasarnya mempertahankan pola kepemimpinan sebelumnya.

“Menunjuk Mojtaba berarti menggunakan pola yang sama. Ini menjadi pukulan besar bagi Amerika Serikat yang sudah melakukan operasi besar dengan risiko tinggi, tetapi pada akhirnya hanya menggantikan seorang pemimpin berusia 86 tahun dengan putranya yang juga garis keras,” ujarnya.

Dalam sistem politik teokrasi Iran yang kompleks, pemimpin tertinggi memiliki kewenangan tertinggi dalam negara. Posisi ini mengendalikan kebijakan luar negeri, program nuklir, serta memberikan arahan bagi presiden dan parlemen yang dipilih melalui pemilu.

Sejumlah analis menilai pemilihan Mojtaba, ulama yang dikenal sangat konservatif, mengirim pesan tegas bahwa kepemimpinan Iran menolak kompromi dan melihat konfrontasi sebagai satu-satunya jalan.

Keputusan ini juga terjadi setelah keluarga Mojtaba, termasuk istrinya, ibunya, dan beberapa anggota keluarga lain, dilaporkan tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.

Para pengamat menilai Mojtaba kemungkinan akan bergerak cepat untuk memperkuat kekuasaan di tengah tekanan besar dari dalam negeri maupun konflik yang semakin meluas.

Langkah tersebut diperkirakan akan memperbesar peran Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), memperketat kontrol domestik, serta meningkatkan tindakan represif terhadap oposisi.

“Dunia mungkin akan merindukan era ayahnya,” kata seorang pejabat kawasan yang dekat dengan pemerintah Iran kepada Reuters.

“Mojtaba kemungkinan tidak punya pilihan selain menunjukkan tangan besi. Bahkan jika perang berakhir, represi di dalam negeri bisa semakin keras.”

Situasi ini muncul setelah Iran sebelumnya sudah menghadapi gelombang ketidakpuasan publik yang besar—terbesar sejak Revolusi Islam 1979.

Sebelum perang meletus, negara itu juga menghadapi tekanan ekonomi berat seperti inflasi tinggi, melemahnya nilai mata uang, dan meningkatnya kemiskinan.

Seorang sumber di Iran mengatakan masa pemerintahan Mojtaba kemungkinan akan ditandai oleh kontrol internal yang jauh lebih ketat serta kebijakan luar negeri yang lebih agresif.

Peneliti Middle East Institute, Paul Salem, menilai Mojtaba bukan sosok yang akan mendorong kompromi dengan Amerika Serikat.

“Tidak ada tokoh yang muncul sekarang yang siap untuk berkompromi. Ini adalah pilihan garis keras dalam momen yang juga sangat keras,” katanya.

Di kalangan ulama Iran, yang sering menyebut Amerika sebagai “Great Satan”, kematian Ali Khamenei dipandang sebagai bentuk kemartiran.

Para ulama menggambarkan pemimpin yang tewas tersebut sebagai tokoh heroik dan bahkan membandingkannya dengan Imam Hussein, simbol pengorbanan dalam tradisi Syiah.

Alan Eyre, mantan diplomat Amerika Serikat dan pakar Iran, menilai Mojtaba bahkan bisa lebih keras dibanding ayahnya.

“Dia bahkan lebih garis keras daripada ayahnya dan merupakan kandidat yang didukung Garda Revolusi. Dia juga punya banyak alasan untuk melakukan balasan,” kata Eyre.

Namun situasi ini juga membawa risiko besar. Israel sebelumnya telah memperingatkan bahwa siapa pun pengganti Khamenei bisa menjadi target serangan.

Sementara itu, Trump menyatakan perang kemungkinan hanya akan berakhir setelah kepemimpinan militer dan elite pemerintahan Iran berhasil dilumpuhkan.

Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 56 tahun, dikenal sebagai ulama berpengaruh yang sejak lama menentang kelompok reformis di Iran yang ingin memperbaiki hubungan dengan Barat.

Hubungannya yang erat dengan para ulama konservatif dan Islamic Revolutionary Guard Corps membuatnya memiliki pengaruh kuat dalam struktur politik dan keamanan negara.

Selama bertahun-tahun ia disebut berperan sebagai penjaga gerbang kekuasaan ayahnya dan oleh sebagian analis bahkan dianggap sebagai “pemimpin tertinggi bayangan”.

Mojtaba menempuh pendidikan agama di kota Qom, pusat studi teologi Syiah di Iran, dan memiliki gelar ulama Hojjatoleslam.

Pada 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba dengan alasan ia mewakili pemimpin tertinggi Iran dalam kapasitas resmi meski tidak pernah memegang jabatan pemerintahan formal.

Seorang sumber dari negara Teluk yang memahami dinamika pemerintahan kawasan mengatakan penunjukan Mojtaba merupakan pesan langsung bagi Washington.

“Ini memberi tahu Trump dan Amerika Serikat bahwa Iran tidak akan mundur. Mereka akan terus bertempur sampai akhir,” katanya.

Paul Salem bahkan membandingkan situasi Iran saat ini dengan Irak pada masa Saddam Hussein setelah 1991 atau Suriah di bawah Bashar al-Assad setelah 2012—negara yang mampu bertahan dari perang dan isolasi internasional, tetapi terus mengalami ketidakstabilan.

“Mereka menggandakan sikap keras. Di dalam negeri, situasinya bisa sangat buruk dan berpotensi sangat tidak stabil,” ujar Salem.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post